top of page

Persahabatan Kyai Mansur dengan Pendiri Muhammadiyah

KH Mas Mansur mendapat banyak pengetahuan Islam dari KH Ahmad Dahlan. Baginya Kiai Dahlan adalah guru sekaligus ayah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

  • 28 Feb 2020
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 25 Apr

NAMA KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur akan selalu terkenang dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin di Indonesia. Keduanya berperan penting dalam mensyiarkan gema Islam ke seluruh lapisan masyarakat sejak Indonesia masih berada di bawah kuasa kolonialisme Belanda. Melalui organisasi Islam Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur mampu membawa perubahan bagi umat Muslim di Indonesia.


Pertemuan dua tokoh penting Muhammadiyah ini terjadi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada 1915, atau tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Dikisahkan Sutrisno Kutoyo dalam biografi Pahlawan Nasional: Kyai Haji Mas Mansur, nama KH Ahmad Dahlan telah sering didengar KH Mas Mansur sejak ia tinggal di Mesir dan Mekah. Ketika pada 1915 berkesempatan kembali ke tanah air, KH Mas Mansur tidak langsung pulang ke rumahnya di Surabaya, tetapi memilih pergi ke Yogyakarta untuk menemui KH Ahmad Dahlan.


Pertemuan pertama tersebut memberi kesan yang amat mendalam bagi Mansur muda. Ketika itu usianya baru menginjak 20 tahun, sementara KH Ahmad Dahlan berusia 48 tahun. Bagi KH Mas Mansur, KH Ahmad Dahlan adalah sosok seorang ayah. Wajah yang tenang dan selalu dihiasi senyuman ketika berbicara membuat kiyai muda itu nyaman berbincang lama dengannya. Meski baru pertema bertemu, KH Mas Mansur merasa sosok pendiri Muhammadiyah itu memiliki budi pekerti tinggi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page