top of page

Polemik “Bersiap” dan Meremehkan Sudut Pandang Indonesia

Dalam polemik “bersiap” di Belanda menunjukkan bahwa pendapat orang Indonesia harus dicurigai dan bermuatan politik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Orang-orang Tionghoa korban pembunuhan pada masa revolusi dimakamkan secara massal di pabrik pengalengan dekat Malang, Jawa Timur, Juli 1947. (Nationaal Archief via nrc.nl).

30 Jan 2022
4 menit membaca

Diperbarui: 22 Jul

DEBAT yang kini tengah berkecamuk di Belanda tentang istilah “bersiap” beralih menjadi diskusi politik budaya tentang jati diri Belanda. Sudah waktunya menunjuk konteks sejarah kekerasan itu.


Apa yang masih bisa ditambah lagi setelah ribut-ribut soal istilah “bersiap”? Keributan ini diawali dengan terbitnya artikel dalam harian NRC Handelsbald yang ditulis oleh salah satu penggagas pameran Revolusi! di Rijksmuseum, sejarawan Indonesia Bonnie Triyana. Dalam artikel itu dia menjelaskan bahwa istilah “bersiap” tidak begitu tepat. Kemudian muncul diskusi tentang sensor, rasisme, dan wokeness. Dalam minggu-minggu belakangan ini, istilah “bersiap” tidak pernah begitu sering bergema.


Istilah “bersiap” muncul cukup lama setelah peristiwanya dan beredar di kalangan kolonial Belanda untuk menjuluki fase pertama revolusi Indonesia. Pada bulan-bulan itu banyak orang Belanda/Indo (berdarah campuran Indonesia Belanda) yang diancam dan dibunuh oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Saksi mata menuturkan pelbagai kisah mengerikan tentang mutilasi dan pembunuhan. Dalam beberapa tahun belakangan beredar jumlah korban yang mencapai puluhan ribu orang, tapi tanpa ada bukti. Secara keseluruhan diperkirakan lima sampai enam ribu orang tewas, mungkin lebih, mungkin kurang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Tragedi Kanjuruhan jadi momen kelam bagi sepakbola dunia, kata Presiden FIFA. Akankah jadi momen pembelajaran untuk berbenah total jua?
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
Guru besar bidang pertahanan dan pakar politik militer ini angkat suara soal polemik penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang dianggap berbau komunis..
Laporan tentang kekerasan terhadap perempuan terus meningkat tiap tahun. Berbagai usaha telah dilakukan, tapi payung hukum belum ada.
Laporan tentang kekerasan terhadap perempuan terus meningkat tiap tahun. Berbagai usaha telah dilakukan, tapi payung hukum belum ada.
Depresi Besar dan Perang Dunia II membuat masyarakat AS mendaur ulang karung untuk dijadikan pakaian. Menjadi tren dan diminati hingga memunculkan karung beraneka warna, motif, dan ukuran.
Depresi Besar dan Perang Dunia II membuat masyarakat AS mendaur ulang karung untuk dijadikan pakaian. Menjadi tren dan diminati hingga memunculkan karung beraneka warna, motif, dan ukuran.
transparant.png
bottom of page