top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Kenapa Kata "Bersiap" Memancing Amarah Besar?

Ribut-ribut tentang satu pameran di Rijksmuseum bersumber dari salah paham tentang para korban revolusi Indonesia.

31 Jan 2022

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Perempuan dan anak-anak Belanda dalam kamp interniran di Cideng, Batavia, akhir 1945. (Beeldbank WO2/NIOD).

  • 31 Jan 2022
  • 3 menit membaca

Bulan depan dibuka pameran Revolusi! Indonesië onafhankelijk (Revolusi! Indonesia Merdeka). Sebelum itu sudah muncul ribut-ribut besar ketika Rijksmuseum mengumumkan menghindari istilah “bersiap”. Di Belanda, kata “bersiap”, menurut kurator Indonesia Bonnie Triyana, hanya dikait-kaitkan dengan kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh kalangan muda revolusioner Indonesia dan bernuansa rasisitis.


Pernyataan ini ditanggapi dengan amarah protes oleh wakil kalangan Indo (berdarah campur Indonesia Belanda) di Belanda. Mereka merasa dipojokkan sebagai kalangan rasis dan merasa bahwa penderitaan yang mereka alami telah digelapkan. Penggelapan ini tidak dilakukan oleh Rijksmuseum. Masalahnya, istilah “bersiap” membangkitkan kesan yang tidak tepat bahwa kekerasan pada awal revolusi Indonesia hanya diarahkan terhadap kalangan Indo dan Eropa.


Secara ringkas rangkaian peristiwa waktu itu begini: pada bulan September 1945 terjadi vakum kekuasaan di Jawa. Pasukan pendudukan Jepang mundur, pasukan Inggris pertama mulai mendarat, dan Republik yang baru diproklamasikan nyaris tidak punya waktu untuk membentuk pemerintahan dan pasukan sendiri. Kalangan revolusioner muda memanfaatkan kesempatan ini untuk memulai revolusi mereka sendiri di Jawa dan Sumatra.



Dalam luapan euforia revolusioner, dengan cepat meningkat keresahan dan rasa tidak percaya, apalagi ketika ternyata di antara pasukan Inggris juga menyelinap orang-orang Belanda yang bertugas mempersiapkan kembalinya kekuasaan kolonial. Dengan suasana penuh desas-desus, provokasi dan insiden, dalam waktu sebulan di seantero Jawa dilakukan penyerangan terhadap kalangan Indo dan Eropa, tetapi juga kalangan Tionghoa dan pejabat pamong praja.


Revolusi lokal yang berlangsung dengan kekerasan ini secara garis besar menunjukkan pola yang sama. Kaum muda mengambil inisiatif, mereka berhasil memperoleh senjata pasukan Jepang, dan mengarahkan amarah pada tiga pilar sistem kolonial lama: kalangan Indo dan Eropa, orang-orang Tionghoa, dan kaum bangsawan setempat serta pejabat pamong praja sebagai pemegang kekuasaan lama yang tidak langsung.


Masa kekerasan antara Oktober 1945 dan medio 1946 oleh pihak Belanda dinamai “periode bersiap”. “Bersiap” adalah seruan yang digunakan oleh anggota pandu sebelum Perang Dunia II, yang kemudian diambil alih oleh kaum muda Indonesia untuk saling mengingatkan adanya musuh atau untuk langsung beraksi. Dalam ingatan banyak orang Indo dan Eropa, seruan “bersiap” itu adalah pengumuman akan terjadinya kekerasan yang mengerikan.



Perlawanan meningkat, tatkala kalangan revolusioner berhadapan dengan pasukan Inggris di Bandung, Semarang, dan Surabaya, sedangkan di Aceh dan sekitar kota Medan, hampir semua kalangan bangsawan dibunuh. Dari Jakarta pimpinan Republik hanya bisa mengelus dada sambil mengkhawatirkan reputasi internasional Indonesia akan tercederai dengan berat.


Yang berhasil dilakukan oleh para pemimpin Republik adalah menampung orang-orang Eropa dari kamp Jepang di sekitar Semarang dan Surabaya ke dalam kamp interniran sehingga mereka terlindungi dari kaum muda revolusioner.


Jumlah korban secara keseluruhan dalam periode awal revolusi kemerdekaan ini mencapai lebih dari 40 ribu jiwa. Lebih dari lima ribu (12,5 persen) adalah orang-orang Indo dan Eropa. Yang terjadi bukanlah serangan eksklusif terhadap kaum Indo dan Eropa, tapi bayangan inilah yang tetap bercokol dalam benak Belanda.



Sejarawan Bonnie Triyana benar ketika mengungkap bahwa tidaklah tepat untuk mencap periode ini dengan istilah “bersiap” yang peka ini. Di Belanda,istilah ini berarti kekerasan biadab dengan korban eksklusif orang-orang Indo dan Eropa. Rijksmuseum menggunakan istilah ini, tetapi dengan sadar menempatkannya dalam konteks historis. Begitu pula kekerasan pada periode awal revolusi ditempatkan pada kerangka yang lebih luas.


Kalau direktur Rijksmuseum dalam wawancara pada harian NRC Handelsblad edisi Sabtu,15 Januari, membangkitkan kesan bahwa karena ribut-ribut ini Bonnie Triyana disingkirkan, pasti itu bukan sesuatu yang dikehendakinya. Bersama-sama sebaiknya mereka memusatkan perhatian pada konten pameran mendatang.


Penulis adalah mantan kepala peneliti di KITLV dan profesor emeritus sejarah Indonesia di Universitas Leiden.


Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di trouw.nl pada 18 Januari 2022. Alih bahasa oleh Joss Wibisono.


Baca juga tulisan Henk Schulte Nordholt yang lain:Penelitian tentang Kejahatan Perang Belanda di Indonesia

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR

Ahem Erningpraja getol ikut memperjuangkan agar buruh bisa berlebaran dengan ceria seperti sekarang.
Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai

Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai

Serangan AS ke sekolah Iran akibat kesalahan data intelijen. Hal fatal serupa pernah terjadi di Vietnam yang berujung pembantaian.
When Telenovela Stars Visited Indonesia

When Telenovela Stars Visited Indonesia

Several telenovela lead actors made a visit to Indonesia. They were welcomed by thousands of fans and left with unforgettable memories.
Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
The Bitter Life of Sutan Sjahrir

The Bitter Life of Sutan Sjahrir

Towards the end of his life, Sutan Sjahrir lived as a prisoner under medical care. As bitter as it was, that period was the only time his daughter ever experienced life as part of a complete family.
bottom of page