top of page

Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika

Bagaimana isu sensitif bertiup kencang dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno ketika membuka Konferensi Asia Afrika, 18 April 1955. Tampak dibelakangnya Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id.

4 Mei 2021
4 menit membaca

Diperbarui: 5 Jun

KETIKA hadir di perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), raut wajah Bung Hatta tampak merenggut. Agak aneh memang kalau dalam suatu momen maha penting itu Bung Hatta malah bermuka muram. Sebagai ajudan, Mayor Soegih Arto menangkap suasana “mendung” yang ditampilkan wakil presiden. Sang mayor lantas bertanya, ada apa gerangan dengan Bung Hatta.


“Bung Hatta menanyakan apakah saya sudah mendengar mengenai Hospitality Committee,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto.


Isu Hospitality Comitee (HC) berkaitan dengan kartu akses yang dikeluarkan Panitia Ramah Tamah bagi delegasi negara peserta untuk menikmati fasilitas khusus. Menurut Hatta, panitia itu telah mengorganisasi dan menyediakan perempuan untuk menghibur para anggota delegasi. Hatta kemudian meminta Soegih Arto agar memanggil Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page