- 19 Mar 2020
- 5 menit membaca
Diperbarui: 20 Apr
PUTRI Indumati mendekati Raja Awanti yang sudah menunggu penuh harap. Ia sudah berkhayal sang putri akan memilihnya di antara raja dan pangeran lainnya dalam sayembara itu. Namun, Putri Indumati berpaling. Dirinya tidak tertarik, tak ada tanda gairah sedikit pun. Meranalah raja negeri Awanti karena sudah diabaikan. Air matanya mengalir deras. Karena berduka, ia menulis puisi yang mengharukan pada sarung kerisnya.
Kisah itu ditulis Mpu Monaguna pada abad ke-13 dalam karyanya, Kakawin Sumanasantaka. Dalam penggalan kisah itu, Mpu Monaguna menggambarkan bahwa keris tak selalu berfungsi sebagai alat tikam. Raja negeri Awanti, raja yang berani di medan perang, menjadikan keris miliknya sebagai media meluapkan perasaan.
Guru Besar Arkeologi UGM, Timbul Haryono menjelaskan masyarakat Jawa, khususnya pada masa lalu, percaya bahwa keris berperan dalam seluruh perjalanan hidupnya, sejak lahir hingga mati.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















