- 6 Jun 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 4 Agu
DI masa tuanya, Kolonel (Purn.) A.E. Kawilarang nyaris selalu bercerita kisah yang sama jika bertemu dengan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ibrahim Adjie. Kepada kawan seperjuangannya semasa bergerilya melawan tentara Belanda itu, Alex Kawilarang mengaku perutnya pernah “diselamatkan” oleh Adjie. Bagaimana ceritanya?
Syahdan, ketika mereka ditugaskan ke Sumatra Utara sekira awal 1949, Letkol Alex, Mayor Utaryo dan Mayor Adjie terdampar di kawasan tempat gembala, beberapa ratus meter dari Kampung Pernantin.
Karena merasa lapar, mereka lantas bergerak ke arah pasar. Setelah setengah jam berjalan-jalan, tampaklah oleh mereka sebuah kedai bubur kacang hijau yang banyak dikunjungi pembeli. Alex yang lebih antusias lantas mengajak kedua kawannya untuk singgah. Sayangnya, sejak Perjanjian Renville diberlakukan pada Februari 1948, wilayah tersebut dimasukan dalam kekuasaan Belanda, sehingga uang yang berlaku hanya “uang merah” alias “uang NICA”.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















