top of page

Sukmawati Sukarnoputri: Supersemar Merupakan Tes Kesetiaan

Supersemar bukan peralihan kekuasaan, tapi perintah pengamanan. Namun, Soeharto menggunakannya untuk merebut kekuasaan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukmawati Soekarnoputri. (Nugroho Sejati/Historia.ID).

  • 23 Mar 2024
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 11 Mar

SUPERSEMAR atau Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diberikan Presiden Sukarno kepada Letjen TNI Soeharto merupakan tes kesetiaan. Hal itu dinyatakan Sukmawati Soekarnoputri saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Membaca Sejarah: 51 Tahun Supersemar vs 19 Tahun Reformasi” yang diselenggarakan PARA Syndicate di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).


“Jadi, sebetulnya bagi Bung Karno ini suatu surat tes. Soeharto ini sebenarnya masih mau patuh atau tidak dengan pemerintah,” ujar Sukmawati.


Sukmawati mengatakan bahwa isi surat itu salah satunya adalah untuk tetap patuh dalam bertindak dan bermusyawarah dengan para panglima, bukan hanya dengan Angkatan Darat. Namun, pada praktiknya, Soeharto lebih memilih bertindak sendiri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page