top of page

Terites dari Kotoran Hewan yang Pahit Jadi Penganan Nikmat

Makanan unik khas suku Karo ini terlihat ekstrem karena diolah dari isi perut hewan pemamah biak. Tradisi kuliner yang sudah berlangsung sejak lama dan sarat nilai filosofis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pakan rumput dari perut sapi yang akan dioleh menjadi terites, makanan khas suku Karo. (Facebook/Jalan-jalan).

17 Feb 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 30 Apr

HENDRIK Cornelis Kruyt seorang misionaris Belanda pertama yang dikirim untuk mengabarkan Injil di Tanah Karo, Sumatera Utara. Dia datang ke sana pada tahun 1890. Pada suatu hari, Kruyt ikut serta dalam pesta jamuan makan besar masyarakat setempat. Siapa nyana pemandangan yang disaksikan Kruyt malah membuatnya jadi frustasi.


Seekor kerbau disembelih. kental dari darah tubuh hewan itu menyembur ke mana-mana. Kruyt kemudian melihat orang-orang menyendok dan menyimpan sisa-sisa rumput yang dicerna dalam perut kerbau. Perasan rumput itu dijadikan kuah yang disebut terites, atau dalam bahasa lokal yang lain juga disebut pagit-pagit yang artinya agak pahit. Meski terlihat menjijikkan, Kruyt mencoba memasang ekspresi muka datar. Namun, dalam hati, dia meringis.


“Memakan makanan kerbau yang masih ada di perut dan isi kedalaman setengah dan hampir seluruhnya empuk, sudah cukup untuk mengubah omnivora menjadi vegetarian selama satu menit. Aku benar-benar muak, tapi aku mampu tampil tenang sepenuhnya” tutur Kruyt seperti dikisahkan ulang Rita Smith Kipp dalam The Early Years of a Dutch Colonial Mission: The Karo Field .

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page