Diperbarui: 15 Jun 2025
PULAU SAIPAN, 7 Juli 1944. Matahari belum penuh menampakan diri ketika dua tentara Jepang keluar dari sebuah gua. Begitu sampai di tepi pantai, salah satu dari mereka kemudian bersimpuh di atas pasir laut, lalu sambil merobek perutnya dengan sebilah tanto (pedang pendek khas Jepang) dia berseru: “Tenno heika banzaaii! (Jayalah Kaisar!) Ikut aku! Maju dan cari musuh!”
Untuk menuntaskan penderitaan lelaki yang tak lain adalah Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito (Panglima Divisi ke-43 Angkatan Darat Jepang) itu, sang ajudan kemudian melepaskan peluru dari sepucuk pistol ke dahi sang jenderal. Berakhirlah hidup seorang samurai yang bertanggungjawab atas keamanan Pulau Saipan tersebut.
Serangan Terakhir
Sejak penyerangan tentara Amerika Serikat (AS) ke Saipan pada 15 Juni 1944, kondisi tentara Jepang yang berada di pulau tersebut semakin tak menentu. Alih-alih mengalami kemajuan, sejengkal demi sejengkal tanah Saipan dapat dikuasai oleh pasukan AS.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















