top of page

Perang Tanding di Iwo Jima (1)

Demi menghentikan penyerbuan tentara AS, Divisi ke-109 Tentara Kekaisaran Jepang membuat terowongan bawah tanah di pulau kecil berpantai pasir hitam itu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Penggempuran pertahanan Jepang oleh marinir AS di Iwo Jima. (Wikimedia Commons).

17 Mar 2021
3 menit membaca

KETIKA kali pertama diluncurkan pada 2 Februari 2007, film Letters from Iwo Jima mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika Serikat (AS). Antusiasme itu semakin terlihat manakala setelah penayangan perdana tersebut banyak orang AS dan Jepang yang mengajukan izin untuk mengunjungi Pulau Iwo Jima. Demikian keterangan yang dilansir IMDb.com, situs mengenai konten film, televisi dan selebritas paling otoritatif dan populer di dunia.


Letters from Iwo Jima berkisah tentang pertempuran antara para prajurit Jepang dengan tentara AS di Pulau Iwo Jima pada Februari-Maret 1945. Namun berbeda dengan film padanannya, Flags of Our Fathers, film kolosal yang dikeluarkan Hollywood itu lebih melihat peristiwa tersebut dari sisi Jepang.


Dalam sejarah Perang Dunia II, pertempuran Iwo Jima memang merupakan bentrok paling alot di Pasifik. Menurut Mark Khan dalam The Battle of Iwo Jima: Raising the Flag, February—March 1945, itu sejenis perang tanding yang jatuhnya korban di kedua belah pihak nyaris sama besarnya.


R.S. Boender, orang Indonesia yang terlibat dalam Perang Pasifik (di pihak AS) mengakui bahwa dibandingkan palagan lainnya, pertempuran di Iwo Jima adalah yang tersulit. Mau tidak mau, militer AS harus mengakui kebrilyanan taktik perang Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi.


“Dia menciptakan medan bertangga dari beton yang tak bisa ditembus oleh kendaraan lapis baja, kecuali oleh jumlah pasukan yang berganda dengan semangat perang habis-habisan,” ungkap Boender dalam otobiografinya, Terhempas Prahara ke Pasifik (disusun oleh Hanna Rambe).


Iwo Jima merupakan pulau kecil. Luasnya  hanya 8 mil persegi. Kendati demikian, dalam pertarungan AS vs Jepang di Pasifik, pulau tersebut memiliki arti yang sangat penting karena merupakan pintu gerbang menuju Tokyo.


Saipan memang telah dikuasai oleh pasukan AS Desember 1944. Namun untuk melakukan operasi pemboman ke Tokyo, jarak Saipan-Tokyo masihlah terlalu jauh yakni sekira 1.200 mil. Dalam jarak sejauh itu, pesawat pemburu tidak akan berdaya melindungi pesawat pembom B-29, kecuali “para pemburu” itu dilepas dari sebuah kapal induk yang berlayar lebih dekat ke daratan Jepang.


“Kekurangan ini akan hilang sama sekali, kalau Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan juga berada dalam pengawasan Sekutu,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik.


Karena perhitungan itu pula, militer AS pada akhirnya memutuskan untuk menguasai Iwo Jima. Mereka kemudian mengirimkan tim intelijen dari laut dan udara untuk mengamati medan pulau yang pantainya berpasir hitam tersebut. Hasil pengamatan itu menyimpulkan bahwa Iwo Jima bisa dikuasai dalam lima hari.


Sementara itu pihak Jepang sendiri sangat paham jika Iwo Jima memang layak dipertahankan. Menurut salah satu eks staf Kuribayashi bernama Mayor Horie, ketika prajurit-prajurit AS mendarat di Saipan pada 15 Juni 1944, Jepang mulai memperkuat kedudukannya di Iwo Jima.


Lima belas hari kemudian, Daihonei (markas besar Kekaisaran) mengangkat Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi sebagai komandan Divisi ke-109, langsung di bawah kendali Tokyo. Hingga 1 Februari 1945, ada sekira 23.000 pasukan Jepang di Iwo Jima. Namun demikian, persedian logistik untuk mereka sangatlah minim.


“Ada persediaan beras untuk 70 hari dan makanan lain untuk 60 hari,” ungkap Horrie seperti dikutip oleh Walter Karig dan kawan-kawan dalam Battle Report (V).  


Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena di Iwo Jima, ketersediaan air layak minum sangatlah kurang. Bahkan untuk menghemat persediaan air bersih yang ada, untuk keseharian sebelum pertempuran terjadi, mereka terpaksa mengkonsumsi air hujan. Dengan kondisi seperti itu, wajar apabila kondisi fisik para prajurit Divisi ke-109 hampir 20% tidak memenuhi syarat  untuk pergi bertempur.


“Banyak yang sakit typhus,” ungkap Horrie.


Situasi itu menyebabkan sebagian perwira diam-diam menjadi pesimis akan memenangi peperangan. Mereka berpikir, jika Jepang tidak memiliki lagi armada laut dan udara, maka kemungkinan besar AS akan menguasai Iwo Jima  hanya dalam waktu sebulan. Maka muncullah ide gila itu: Iwo Jima lebih baik ditenggelamkan saja.


Ide itu ditentang habis oleh Kuribayashi. Dia berpendapat bahwa untuk menenggelamkan Iwo Jima diperlukan banyak bahan peledak yang sejatinya justru diperlukan guna melawan serbuan tentara AS. Maka keluarlah ketentuan dari sang jenderal yang menetapkan tiap serdadu Jepang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri. Mereka harus bertempur semaksimal mungkin dan merusak musuh sebanyak mungkin.


“Kami bermaksud membuat lubang di bawah tanah sepanjang 18.000 meter,” ujar Horrie.


Rencana itu pun dimulai sejak Desember 1944. Sayang, ketika para marinir AS mulai berdatangan ke Iwo Jima, terowongan bawah tanah itu baru selesai 5.000 meter saja!*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Perayaan Imlek sempat dilarang pada zaman Belanda dan Orde Baru. Kini dirayakan dengan semarak.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tetapi juga tren gaya hidup modern.
Indonesia lagi-lagi hanya jadi penonton Piala Dunia. Padahal, Indonesia nyaris tampil di Piala Dunia 1958.
Indonesia lagi-lagi hanya jadi penonton Piala Dunia. Padahal, Indonesia nyaris tampil di Piala Dunia 1958.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
Kota suci itu pernah merajut perdamaian antaragama di masa awal kekuasaan Arab Islam. Kini konflik peperangan mencabik-cabiknya.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Itaewon berkembang dari “desa orang asing” menjadi “zona internasional”. Disebut sebagai pintu gerbang menuju dunia.
Untuk kali kedua, Indonesia Week promosikan beragam budaya Indonesia. Bertepatan dengan enam dekade hubungan Indonesia-Jepang.
Untuk kali kedua, Indonesia Week promosikan beragam budaya Indonesia. Bertepatan dengan enam dekade hubungan Indonesia-Jepang.
transparant.png
bottom of page