top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Utusan Mesir Terdampar di Singapura

Utusan Mesir yang membawa keputusan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dari negara-negara Liga Arab, sempat terdampar di Singapura.

20 Agu 2013

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ktut Tantri. Sultan Hamengkubuwono IX berjabat tangan dengan Abdul Mun'im, Maret 1947.

Ktut Tantri. Sultan Hamengkubuwono IX berjabat tangan dengan Abdul Mun'im, Maret 1947.


Mohamad Abdul Mun’im, konsul jenderal Mesir di Bombay, India, mengemban misi penting. Dia, bertindak atas nama Raja Farouk, membawa keputusan Liga Arab yang berisi anjuran kepada negara-negara anggota Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Namun, perjalanannya nyaris hanya sampai Singapura. Dia tak memperoleh visa.


Lalu dia mendengar Ktut Tantri (Muriel Pearson), perempuan Amerika yang kerap membantu perjuangan Indonesia di masa revolusi, berada di Singapura. Pada suatu malam, dia mendatangi penginapannya.


Pelayan rumah tempat Ktut Tantri menginap memberitahu ada “tamu asing” yang ingin bertemu. “Orangnya kelihatan terhormat. Berkulit gelap, berhidung mancung dan bengkok seperti paruh burung betet,” kata Ktut Tantri dalam memoarnya Revolusi di Nusa Damai.


Setelah memperkenalkan diri, Mun’im menunjukkan surat-surat tugasnya. “Konsulat Belanda di sini menganggap sepi surat-surat kepercayaan saya dan menolak memberikan visa. Inggris tidak mau membantu. Mereka malah tidak akan memberi izin keluar Singapura, apabila itu hendak dipakai untuk pergi ke Indonesia,” ujarnya.


“Tetapi kenapa Anda kini mendatangi saya, Mr Mun’im?” tanya Ktut Tantri.


“Saya mendapat kabar bahwa Anda pernah berlayar dari Jawa ke Singapura, menembus blokade Belanda,” ujar Mun’im. “Saya ingin tahu apakah bagi saya bisa diselenggarakan perjalanan yang sama, dengan arah sebaliknya. Saya perlu sekali datang ke Yogyakarta –dan kini saya harus melakukannya di luar pengetahuan Inggris dan Belanda.”


Ktut Tantri bersedia membantu Mun’im karena sadar pengakuan sedini itu dari Mesir serta negara-negara Arab akan menjadi dorongan semangat yang besar bagi Indonesia. Dia pun segera mencari sarana pengangkutan yang bisa menembus blokade Belanda. Sulitnya mencari tumpangan, membuat Ktut Tantri nyaris putus asa.


Ktut Tantri kemudian menemui seorang pengusaha berkebangsaan Inggris yang menaruh simpati terhadap perjuangan Indonesia. Dia akan menyewakan sebuah pesawat dari Manila, Filipina, dengan navigator berkebangsaan Amerika. Biaya penerbangan yang dikenakan kepada Ktut Tantri sebesar $10.000.


Napas Ktut Tantri tercekat. 10.000 sen saja dia tak punya. Uang Mun’im pun tak mencukupi. Tak ada cara lain kecuali meminta penangguhan pembayaran dua-tiga hari setelah pesawat kembali dari Jawa. Jaminannya: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Kesepakatan itu hitam di atas putih.


Pada hari yang sudah direncanakan Ktut Tantri dan Abdul Mun’im menyusup ke areal terminal. Pesawat yang ditunggu tiba tepat waktu. Sementara baling-baling pesawat masih berputar-putar, dua orang berkulit putih meloncat ke luar. Ktut Tantri memperkenalkan diri dan Abdul Mun’im sebagai pelayannya.


“Ktut Tantri dapat mengusahakan tempat baginya di pesawat yang diterbangkan oleh Bob Freeberg,” tulis Kustiniyati Mochtar dalam Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar Zaman Singapura 1945-1950. Sebelum Indonesia memiliki pesawat, Bob Freeberg melayani Republik untuk menembus blokade Belanda.


Mun’im pergi mengganti pakaian di belakang pesawat. Ketika kembali, dia mengenakan busana rapi ala diplomat. Ketika Bob datang dari kokpit ditatapnya Abdul Mun’im dengan heran.


“Bagaimana Anda tahu-tahu bisa ada di sini?” kata Bob. “Katanya hanya akan ada dua penumpang.”


Ktut Tantri menjelaskan bahwa Mun’im adalah utusan Raja Farouk dari Mesir dan Liga Arab untuk menyampaikan dukungan kepada Republik Indonesia. Ktut Tantri juga menjelaskan siapa dirinya dan apa tujuannya.


“Astaga!” kata Bob. “Ini benar-benar semangat pejuang kemerdekaan!”


Meski sempat dibuntuti beberapa pesawat tempur Belanda, dengan bermanuver Bob dapat meloloskan diri dan mendarat selamat di Yogyakarta. Pada 15 Maret 1947, Abdul Mun’im diterima secara resmi oleh Presiden Sukarno serta tokoh-tokoh Indonesia.


Secara resmi pemerintah Mesir menyampaikan pengakuan kedaulatan pada Juni 1947. Berturut-turut pada tahun yang sama: Lebanon (Juni), Suriah dan Irak (Juli), Afghanistan (September), dan Saudi Arabia (November). Israel, yang kerap memicu konflik di Timur Tengah, turut mengakui kedaulatan Indonesia pada Januari 1950.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

Dari Brussel ke Jalan Astrid di Kebun Raya Bogor. Raja dan Ratu Belgia dari berbagai masa punya cerita di Indonesia.
Riwayat Konglomerat Dasaad

Riwayat Konglomerat Dasaad

Jaringan bisnis Dasaad membentang di dalam dan luar negeri. Ia tercatat sebagai pengusaha Indonesia pertama yang membuka kantor cabang di Amerika Serikat.
Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot yang Kontroversial

Brigitte Bardot tak sekadar ikon perfilman yang dijuluki “Marylin Monroe-nya Prancis”. Ia juga “lokomotif sejarah perempuan”.
bottom of page