top of page

Yang Kita Lupakan dalam Peringatan Hari Pahlawan

Nasionalisme menggunakan kekuatan sejarah untuk menanamkan rasa cinta terhadap tanah air. Namun, narasi sejarah itu menjadi problematis, ketika ada fragmen-fragmen faktual yang terlupakan, yang keberadaannya bisa menggoyahkan sakralitas nasionalisme itu sendiri.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi oleh Betaria Sarulina dan M.A. Yusuf/Historia.ID

20 Des 2024
7 menit membaca

Diperbarui: 21 Nov 2025

UNTUK menjadi sebuah bangsa, orang-orang butuh disatukan. Dalam Kongres Pemuda I, seperti yang kita tahu, Tabrani ngotot agar Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan, bukannya bahasa Melayu seperti usulan Yamin. Kenyataannya, saat itu belum ada yang namanya Bahasa Indonesia. Tapi toh bahasa itu diciptakan untuk memberikan identitas, untuk membedakan antara “kita” dan “mereka” untuk mempersatukan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page