top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Umat Islam Indonesia di Mata Hasyim Asy'ari

    SELAMA sepekan terakhir, muslim Indonesia tengah menjadi sorotan publik karena berbagai hal. Mulai dari perselisihan antara artis Nikita Mirzani dengan seorang pemuka agama; dugaan penghinaan Ust. Maaher At-Thuwailibi terhadap Habib Luthfi Bin Yahya; polemik kedatangan Habib Rizieq Shihab; hingga isi ceramah tokoh Front Pembela Islam (FPI) itu saat memperingati maulid Nabi Muhammad Saw yang dianggap kurang pantas. Perihal ceramah Rizieq, banyak kalangan, termasuk pemuka agama yang menyayangkannya. Menurut mereka, acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti kisah-kisah seputar kenabian Rasulullah SAW, serta kebaikan-kebaikan yang perlu dicontoh oleh umatnya saat ini. Tidak malah menjadikannya ajang mengumbar kebencian. “Saya tadinya menyangka saat beliau sudah lama di tanah suci dan sekembali dari sana akan lebih menjaga lisan dan memelihara tutur kata,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily seperti dikutip RRI. Berbagai peristiwa itu pun membuat publik bertanya-tanya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Banyak yang menilai umat Muslim di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi tidak baik. Namun kondisi serupa ternyata pernah juga terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Kala itu, umat Islam Indonesia terpecah, terbagi ke dalam dua golongan: tradisionalis dan modernis. Keduanya memiliki keyakinan, serta pandangan akan ajaran Islam yang berbeda. Golongan tradisionalis masih mencampurkan urusan agama dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Ajaran Islam di kalangan ini didapat dari ulama-ulama terdahulu, yang telah berkembang sejak Islam pertama masuk ke Nusantara. Sementara golongan modernis mendapat pengaruh tokoh-tokoh dari Timur Tengah, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan sebagainya. Kalangan itu memiliki pandangan baru, yakni Islam harus terbebas dari adat istiadat, sehingga kegiatan-kegiatan di luar Al-Qur’an dan sunah Rasul harus dihilangkan. “Pemikiran pembaharuan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh di atas tentu sangat memengaruhi pemikiran umat Islam di Indonesia. Akan tetapi, tidak semua pemikiran tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat. Salah satu dampak yang dapat dilihat, yaitu banyaknya di antara kepercayaan dan amalan Muslim tradisional dianggap sebagai bid’ah . Tidak hanya itu, pengetahuan dan posisi kyai sebagai rujukan dalam prakti beragama juga dikritik,” ungkap Afriadi Putra dalam “Pemikiran Hadis KH. M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadis di Indonesia” dimuat Wawasan  Vol. 1 No. 1 Tahun 2016. Kyai Asy’ari sendiri dianggap sebagai salah seorang golongan Islam modernis paling awal di Indonesia. Dia mempelajari Islam di Mekah sejak 1893, dan mendapat kesempatan berguru kepada banyak ulama terkemuka di jazirah Arab. Pemikirannya tentang Islam dan kebebasan pun semakin terbuka. Sekembalinya dari Mekah, Kyai Asy’ari melakukan banyak pembaharuan terhadap ajaran Islam dan menggaungkan perjuangan melawan penjajahan. Berdakwah Melalui Kitab Kyai Asy’ari mempunyai metode berdakwah yang unik, yakni melalui penulisan kitab. Karena itu tidaklah aneh jika dia banyak  melahirkan karya kitab selama hidupnya. Sekira tahun 1920-an hingga 1930-an, Kyai Asy’ari menulis sebuah kitab bernama Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah fi Hadith al Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Bayan Mafhūm al-Sunnah wa al-Bid’ah . Kitab itu berisi hadis-hadis tentang kematian dan tanda-tanda hari kiamat, serta penjelasan tentang sunah dan bid’ah . Menurut Afriadi, kitab tersebut merupakan kunci untuk mempelajari pemikiran Kyai Asy’ari. Meski termasuk dalam golongan Islam modernis, Kyai Asy’ari tidak langsung menganggap ajaran tradsionalis salah atau bid’ah . Seperti diceritakan Lathiful Khuluk dalam Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari , disaat kaum modernis menilai pendirian madrasah sebagai bid’ah  karena tidak diajarkan, Kyai Asy’ari menilainya sebagai bid’ah yang baik dan dianjurkan. Maka melalui kitab Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah , dan kitab-kitab lainnya ,  Kyai Asy’ari mencoba menjawab keberagaman dan perbedaan dalam ajaran yang dianut umat Muslim Indonesia kala itu. Di dalam kitab-kitab karyanya juga Kyai Asy’ari memberikan pandangan tentang ajaran-ajaran Sunah , yang tidak selamanya buruk bagi umat Islam di Indonesia. “KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan madzhab merupakan keuntungan bagi umat Islam dan tanda kebaikan Tuhan. Lebih lanjut, para sahabat Nabi pun mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai masalah agama. Perbedaan di antara mereka tidak mengurangi kualitas mereka karena mereka masih dianggap sebagai generasi umat Islam terbaik. Para Rasul juga dikirim dengan dibekali berbagai macam hukum yang semuanya menuju ke tujuan yang sama,” tulis Khuluk. Menjaga Persatuan Umat Pada 1926, Kyai Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi itu menjadi jalan baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran tentang ajaran Islam yang baik dan dapat diterima masyarakat Indonesia. Sejak pertama berdiri, NU dianggap sebagai wadah yang menyatukan kalangan modernis dan tradisionalis. Sebagaimana pendapat Kyai Asy’ari, imbuh Khuluk, yang dipakai sebagai dalil kaidah fiqh yang dipegang oleh NU: “menjaga tradisi yang baik, dan membangun inovasi yang lebih baik”. Dikisahkan Syaifruddin Jurdi dalam Kekuatan-Kekuatan Politik Indonesia , pada 1936, dalam kongres NU ke-11 di Banjarmasin, Kyai Asy’ari pernah menyampaikan pidato tentang kebersamaan di dalam keberagaman umat muslim Indonesia. Pada kesempatan itu dia meminta seluruh peserta kongres, yang datang dari berbagai kalangan, untuk mengesampingkan semua pertikaian dan perbedaan, serta membuang semua perasaan ta’assub (fanatik) dalam berpendapat. Kyai Asy’ari menyerukan kalangan tradisional dan modernis untuk bersatu demi kekuatan Islam yang solid. Pada kesempatan lain, Kyai Asy’ari juga mengingatkan agar umat Islam bersikap toleran terhadap pendapat orang lain, dan tidak menganggap pendapat pribadi yang paling benar. Hal itu semata dilakukan untuk menjaga tali persaudaraan antar umat muslim. Juga demi terciptanya kebaikan, serta menghindarkan diri dari kehancuran. “Jadi, kesamaan dan keserasian pendapat mengenai penyelesaian beberapa masalah adalah prasyarat terciptanya kemakmuran. Ini juga akan dapat mengokohkan rasa kasih sayang. Adanya persatuan dan kesatuan telah menghasilkan kebajikan dan keberhasilan. Persatuan juga telah mendorong kesejahteraan negara, peningkatan status rakyat, kemajuan dan kekuatan pemerintah, serta telah terbukti sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan,” ujar Kyai Asy’ari seperti dikutip Khuluk. Kyai Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga pesantren dengan ajaran Islam yang kuat sejak kecil. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah pendiri pesantren Keras. Sementara kakeknya, kyai Usman adalah pendiri pesantren Gedang di Jombang. Hasyim Asy’ari sendiri mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang pada 1899 dan merupakan ayah dari Wahid Hasyim, sekaligus kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia wafat pada 25 Juli 1947.*

  • Pengalaman Mantan Direktur CIA di Indonesia

    JOHN O. Brennan diterima di Georgetown University di Washington D.C., tetapi memutuskan untuk kuliah ilmu politik di Fordham University di Bronx. Pada musim semi tahun pertama, dia diundang sepupunya, Tom Brokaw, untuk menghabiskan musim panas bersamanya di Indonesia. Tom bekerja sebagai petugas Food for Peace USAID di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Tom yang membayar tiket pesawat pulang-pergi. Tawaran untuk melepaskan diri dari kebosanan musim panas New Jersey terlalu bagus untuk dilewatkan.

  • Gotong Royong dalam Menghadapi Pandemi

    SELAMA masa pandemi banyak orang menanggung kesulitan hidup. Dari kehilangan pekerjaan, pemotongan pendapatan, sampai kerugian usaha. Sejumlah orang berinisiatif untuk mengurangi kesulitan sesamanya. Salah satu yang fenomenal adalah konser amal Didi Kempot Covid-19. Hasilnya dana Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada yang membutuhkan. Pada masa lalu, praktik mengatasi kesulitan bersama ini kerap tersua dalam sejarah Hindia Belanda. Misalnya terjadi saat wabah misterius sejenis tifus merebak di Jawa pada 1848. Menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market,  saat itu pemerintah kolonial memberlakukan karantina bagi para penderita. Segala kebutuhan mereka menjadi tanggungan pemerintah. Pemerintah kolonial berupaya menyediakan segala kebutuhan untuk penduduk dan para tenaga medis. Contohnya dengan menyediakan selimut dan obat kina. Penduduk pun ikut membantu mencukupi kebutuhan tetangganya yang terkena penyakit. Kejadian serupa terulang pada akhir dekade 1910-an. Kali ini, Hindia Belanda dilanda pandemi Flu Spanyol. Meski awalnya banyak yang meremehkan penyakit ini, pemerintah dan masyarakat akhirnya bergerak bersama untuk mengatasi pandemi. Pemerintah mulai mengatur kegiatan masyarakat selama pandemi. Salah satunya kewajiban memakai masker. Di masyarakat, cara-cara kultural dilakukan untuk pencegahan pandemi. Ini terjadi karena informasi tentang Flu Spanyol belum tersebar luas dan jelas. Cara kultural itu antara lain dengan menggelar doa bersama dan arak-arakan. Penyelenggaraan itu dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Tanpa bayaran sepeserpun. Meski cara-cara itu justru bisa memperparah penyebaran, contoh ini menegaskan adanya keinginan masyarakat untuk bergotong royong menghadapi pandemi dan masa-masa sulit. Setelah pandemi Flu Spanyol, masyarakat Hindia Belanda diuji lagi oleh resesi ekonomi pada 1930-an. Jumlah pengangguran dan gelandangan di kota besar meningkat. Di desa-desa, petani juga kelimpungan. Gotong Royong Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah kemudian bergerak mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meringankan masyarakat. Antara lain mengubah besaran pajak, membuka kursus keterampilan, dan menyalurkan bantuan langsung tunai. Gerak masyarakat muncul lewat praktik gotong royong. Mereka saling membantu mengatasi kesulitan. Bantuan bisa dari perorangan atau lewat organisasi dan koperasi; bisa pula dari sesama pekerja kepada pekerja lain yang dirumahkan. Di kampung, koperasi dan para pemilik warung atau toko kelontong memberikan kelonggaran kredit barang kepada penduduk yang dikenal baik. Sementara itu di kota, orang kaya kerap mendermakan sejumlah hartanya untuk para pengangguran. “Sebenarnya, masyarakat Indonesia di perkotaan jauh lebih dermawan dalam mendukung para pengangguran, tetapi dukungan diberikan pada tingkat personal, atau komunal melalui organisasi sukarela yang tidak berhubungan dengan pemerintah,” catat John Ingleson dalam Tangan dan Kaki Terikat . John Ingleson melanjutkan, organisasi pergerakan nasional dari berbagai paham ikut pula turun tangan menggalang dana untuk membantu masyarakat. Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah, Amelia Fauzia, dalam Filantropi Islam: Sejarah Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia  mencatat bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah getol menggalang semangat filantropi pada masa krisis melalui penyaluran zakat. Filantropi merupakan sebentuk gotong royong. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut praktik gotong royong terus berkembang memasuki abad ke-20 ketika kehidupan masyarakat kian sulit. Tak hanya di desa, tapi juga di kota-kota. “Selama dua atau tiga puluhan tahun pertama abad ini, maka timbullah kesan bahwa terdapat variasi yang banyak sekali dari bentuk gotong royong seperti yang berlaku di pelbagai daerah,” ungkap Sartono dalam “Kedudukan dan Peranan Sistem Gotong Royong dalam Perkembangan Masyarakat Indonesia”, termuat dalam  Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah . Bentuk-bentuk Budaya Gotong Royong Sartono mencontohkan bentuk-bentuk gotong royong itu antara lain slametan, sambatan , sumbangan, sinoman , dan krama atau seka . Slametan  biasanya berbentuk acara syukuran bersama warga atas tercapainya panen dan peringatan hari keagamaan. Bentuk ini tersua di Jawa dan Sumatra. Sambatan lazimnya muncul di daerah transmigrasi seperti Sumatra Selatan. Di wilayah ini tanah terhampar luas, tetapi penduduknya jarang. Mereka membentuk kelompok kecil yang disebut regu. “Ke dalam para anggota saling membantu, tetapi ke luar mereka menyediakan tenaga untuk membantu dengan ganti kerugian atau imbalan,” catat Sartono. Sambatan terdiri dari tiga jenis. Sambatan pembangunan desa, sambatan mendirikan rumah, dan sambatan  pertanian. Sumbangan menjadi praktik gotong royong paling umum pada awal abad ke-20. Sumbangan bisa dilakukan secara berkelompok atau perorangan. Saat masa sulit, di Yogyakarta organisasi berbasis Katolik dan Kristen Protestan getol menyediakan bantuan bagi kaum miskin dan penganggur terdampak. “Di antara mereka adalah Yayasan Bantuan Kemiskinan Yogyakarta (Vereniging Jogjasche Armenzong), Yayasan St. Elizabeth (St. Elizabethvereniging), Dewan Bantuan Kemiskinan Kristen Protestan (Diaconie der Protestansche Gemeente)…” ungkap Ben White dalam “Pengalaman Tiga Resesi: Yogyakarta Masa 1930-an, 1960-an dan 1990-an”, termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Organisasi tersebut bernaung dalam satu payung besar organisasi bernama Komite Umum Bantuan Kaum Miskin (Algemeene Armenscommissie) yang berdiri pada September 1935. Bantuan organisasi tersebut berupa uang tunai, pangan, dan tempat menginap gratis bagi orang-orang yang memenuhi syarat. Sartono menyebut bahwa sinoman sebenarnya bentuk gotong royong lama di Jawa Timur abad ke-19. Berbentuk perkumpulan tradisional, sinoman memiliki anggota pengurus seperti ketua dan juru tulis. Sinoman bertujuan saling membantu terkait kematian anggota atau keluarga perkumpulan, perkawinan, khitanan, dan pembangunan rumah. Satu sinoman dapat beranggota 25 sampai 20 orang. Gotong royong berbentuk krama atau seka muncul secara khusus di Bali pada awal abad ke-20. Salah satu contoh yang paling terkenal ialah krama subak . “Subak merupakan perkumpulan penggarap sawah yang mendapat air dari satu empul (bendungan) atau satu aliran air,” terang Sartono. Jenis krama lain meliputi krama desa, krama banjar , dan seka kelompok kesenian (gong, barong, joged janger). Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Tadjuddin Noer Effendi, dalam “Budaya Gotong Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini” Jurnal Pemikiran Sosiologi , Vol. 2 No. 1, Mei 2013, menyebutkan, gotong royong terus tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini tak lekang dihantam pandemi atau krisis ekonomi. Perubahan sosial dan ekonomi masyarakat tak menggerus gotong royong. Tadjuddin menyatakan kebertahanan gotong royong menghadapi zaman karena “gotong royong suatu paham yang dinamis, yang menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu-membantu.” Karena itulah, gotong royong tak hanya menjadi milik masyarakat perdesaan atau dunia pertanian. Ia juga kaprah dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Gotong Royong Kaum Buruh Serikat buruh tak ketinggalan pula ambil peran mempraktikkan gotong royong. Ini tampak dalam laku lampah Perserikatan Pekerja Pegadaian Hindia (PPPH). Serikat ini memiliki jumlah anggota yang besar dan termasuk serikat buruh terbesar di Hindia Belanda. Mereka memiliki 3.000 anggota. Dari jumlah itu, hampir setengahnya mengalami pemecatan pada masa krisis. Dalam masa krisis, PPPH meminta para anggota yang masih bekerja untuk menyisihkan uang bagi korban resesi. Dari penggalangan dana itu, PPPH menyalurkan bantuan sebesar 30 gulden kepada anggotanya yang di-PHK selama 1931. Tapi jumlah bantuan merosot menjadi 7,5 gulden untuk tiap orang memasuki 1932. Penyebabnya penerimaan dana sumbangan dari anggota PPPH berkurang akibat resesi berkepanjangan. Resesi menyulitkan anggota lainnya untuk mengeluarkan dana sumbangan. Selain membantu para anggotanya sendiri, PPPH menjalin kerja sama dengan serikat buruh dan organisasi lainnya untuk memudahkan ekonomi orang-orang di luar PPPH. “Membuat undian kooperatif yang terorganisir dan mengadakan malam kebudayaan, serta pertandingan sepakbola untuk membantu para pengangguran,” tulis John Ingleson. Di Bangka, para buruh Tambang Timah Bangka atau Bangka Tin Winning Bedrijft (BTW) berkebangsaan Eropa dan Indo berbuat serupa PPPH. Mereka mengumpulkan bantuan keuangan dan material untuk sesama pekerja Eropa dan Indo yang di-PHK. Caranya dengan menggelar berbagai pertunjukan hiburan di kota-kota di Bangka. “Upaya ini sangat berhasil sehingga bisa menggalang bantuan bagi orang Eropa yang menganggur di Batavia dan para korban bencana alam di Jawa,” catat Erwiza Erman dalam “Antara Lada dan Timah: Pengalaman Krisis di Bangka” termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Selain itu, para pekerja yang masih berpenghasilan mencoba bersama-sama menerapkan laku prihatin atau hidup sederhana sebagai bentuk solidaritas dalam masa sulit. Hal berbeda ditempuh oleh Pekerja Serikat Seluruh Indonesia (PSSI) di Surabaya pada 1931. Mereka tidak menyalurkan dana bantuan secara langsung untuk para penganggur, melainkan menggunakan dana tersebut untuk membuka lapangan kerja baru. Pembukaan itu hasil bahu-membahu antar anggota serikat dengan kemampuan berbeda. “Para ketua perserikatan mengakui bahwa skema tersebut hanya dapat membantu sejumlah kecil pengangguran di perkotaan, namun merupakan bagian penting dalam kerja bantuan mereka,” sebut John Ingleson. Gagasan Gotong Royong Sukarno-Hatta Bersamaan dengan masa resesi itu, Sukarno menulis dua artikel berjudul “Demokrasi Politik dan Demokrasi-Ekonomi” dan “Sekali lagi tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi”. Dia mengemukakan gagasan dan sistem demokrasi dan ekonomi yang bertumpu pada semangat gotong royong. Bukan pada persaingan sesama rakyat jelata. Dua artikel tadi menjadi bentuk kritik atas kapitalisme yang kala itu telah dianggap sebagai biang kerok resesi ekonomi. Kelak semangat gotong royong ini kembali diulang oleh Sukarno dalam pidato di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Semangat gotong royong ini dijembarkan secara luas di berbagai macam bidang seperti politik, sosial, dan budaya melalui penggalian terhadap sejarah dan tradisi bangsa. Selama masa resesi itu pula, Mohammad Hatta juga berupaya mengembangkan praktik gotong royong di bidang ekonomi. Dia menulis gagasan tentang sistem ekonomi koperasi di koran Daulat Ra’jat pada 1933. Dalam pandangan Hatta, sistem ekonomi kapitalisme mempunyai banyak celah dan merugikan orang. Salah satunya resesi ekonomi. Karena itu, Hatta melihat kembali sistem ekonomi yang bertumpu pada asas gotong royong, tradisi turun-temurun yang hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia. Resesi ekonomi di Hindia Belanda berangsur hilang sejak 1937. Tapi tak semua wilayah mengakhiri resesi pada waktu bersamaan. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, kesukaran ekonomi masih tetap berlangsung. Jepang pun berupaya meraih simpati rakyat dengan menyentuh akar tradisi, yaitu mempropagandakan gotong royong. Namun, Jepang gagal karena melakukan penindasan sehingga menimbulkan antipati rakyat. Melalui sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Sukarno berpidato tentang Pancasila yang intinya adalah gotong royong. Pidato ini juga menjadi ikhtiarnya mengembalikan makna gotong royong yang sesuai sejarah dan tradisi bangsa Indonesia. Gotong royong untuk mewujudkan kemakmuran bersama sekaligus menjadi solusi ketika menghadapi masa sulit.*

  • Mereka yang Berjuang Dulu dan Sekarang

    Selain Agustus, bulan yang identik dengan perjuangan bangsa Indonesia adalah November. Bulan kesebelas dalam kalender tersebut merupakan bulan yang akan selalu dikenang oleh bangsa kita. Alasannya tentu saja adalah peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.  Perang tersebut membuat Sekutu kocar kacir. Bahkan, jenderal mereka A.W.S Mallaby tewas. Perang yang diakui oleh pasukan Inggris sebagai perang terdahsyat mereka pasca Perang Dunia II tersebut memakan ribuan korban dari kedua belah pihak. Untuk mengenang mereka yang gugur, maka Presiden Sukarno menentapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Kiri: Ratusan demonstran pro-RMS saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 1950. ( geheugendelpher ). Kanan: Ribuan mahasiswa dan buruh saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, setelah 75 tahun merdeka ternyata perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti. Mungkin saat ini kita tidak berperang dengan senjata seperti masa lalu, namun pada kenyataannya musuh yang dihadapi pun tidak kalah dahsyat. Bila dulu para pejuang kita berjuang melawan para penjajah, saat ini kita berperang dengan berbagai masalah kehidupan. Kiri: Potret seorang tukang becak di sekitar Klaten tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang tukang becak saat menunggu penumpang di Jogjakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Pemandangan aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta sekitar tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Buruh angkut di pelabuhan Jakarta tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Buruh angkut di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 2020. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mulai dari kemiskinan yang belum ada solusi, banjir yang sampai saat ini terus menghantui berbagai kota di Indonesia, hingga berbagai seruan demonstrasi akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah. Para pejuang bangsa tentu bukan saja orang yang menjaga keamanan negeri ini, namun juga ada dalam diri berbagai manusia, contohnya adalah para atlet yang berjuang mengharumkan nama bangsa di setiap pertandingan, pemimpin bangsa yang terus memperjuangan kehidupan negara dan kelas pekerja yang terus bekerja agar mendapat kehidupan yang layak. Mereka semua yang bejuang dulu dan kini, pada kenyataannya hanya berbeda waktu dan zaman saja, namun selebihnya semua sama. Mereka semua berjuang untuk sebuah kehidupan di negeri ini. Kiri: Warga saat menyusuri banjir dengan membawa barang di Surabaya tahun 1947. (National Archief). Kanan: Warga membawa barang mereka saat banjir di Kelapa Gading, Jakarta, tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang penjual telur di pasar tradisional di Jawa tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang pedagang bawang putih di pasar Yogyakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang pedagang berpose dengan sepedanya sekitar tahun 1940. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Tukang kopi keliling saat menjajakan jualanya di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Para peserta lomba lari di kawasan Deca Park tahun 1948. (RG Jonkman). Kanan: Para atlet muda yang berlomba di Velodrome Rawamangun. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang anak tertidur pulas di depan pagar bambu. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang anak penjual koran tertidur di kawasan Menteng. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Membuka Tabir P.V. Gopalan, Kakek Kamala Harris

    EUFORIA kemenangan pasangan Joe Biden-Kamala Harris dari Partai Demokrat atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik di Pilpres Amerika Serikat pekan lalu terasa sampai ke Desa Thulasendrapuram, Negara Bagian Tamil Nadu di India selatan. Desa tersebut merupakan tempat kelahiran kakek Kamala dari garis ibu, Painganadu Venkataraman Gopalan. “Kami tak melepas pandangan dari televisi dan segenap keluarga sangat bahagia ketika beritanya tiba. Kami sangat senang dia telah menuliskan sejarah baru,” tutur Dr. Sarala Gopalan, tante Kamala, kepada The Hindu , Senin, 9 November 2020. Selain menjadi perempuan pertama yang terpilih jadi wakil presiden (wapres), Kamala juga tercatat jadi wapres pertama berdarah Afro (Jamaika) dari pihak ayahnya, Donald Jasper Harris; dan India dari pihak ibunya, Shyamala Gopalan. “Ibunya menjadi sumber inspirasi yang besar bagi Kamala. Kakak saya selalu percaya kepadanya, bahwa dia harus mengejar cita-cita besar. Jika kami menjadi perempuan tangguh dalam keluarga, tak lain berkat ayah saya PV Gopalan. Di 1950-an ketika kakak saya, Shyamala, mendapat beasiswa studi di Amerika, ayah mendukungnya. Keluarga lain mungkin ragu mengirim anak gadis 18 tahun pergi sendirian ke luar negeri,” lanjutnya. Dalam memoar yang ditulisnya pada 2019, The Truths We Hold: And American Journey , Kamala juga mengagungkan sosok kakeknya itu. Disebutkan Kamala, P.V. Gopalan termasuk salah satu tokoh pejuang kemerdekaan India. “Kakek saya P.V. Gopalan telah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan, di mana dia dan nenek saya lama tinggal di Zambia yang juga baru merdeka untuk membantu para pengungsi,” tulis Kamala. Kendati begitu, banyak yang meragukan klaim Kamala. Tak terkecuali internal keluarganya sendiri. Siapa sebenarnya P.V. Gopalan? Bersama Joe Biden, Kamala Harris memenangi Pilpres Amerika Serikat 2020. (Instagram @kamalaharris). Di Bawah Panji Kolonial Tak banyak catatan yang menguraikan kisah hidup Gopalan sejak lahir di Thulasendrapuram tahun 1911. Bahkan Central Bureau of Investigation (CBI) atau semacam FBI di Amerika sejak lama kesulitan melacak jejak-jejak masa kecilnya. Hanya sedikit informasi yang tersedia, mengenai pendidikan layak Gopalan yang dimungkinkan karena ia berasal dari keluarga kasta tertinggi. “Tak banyak yang bisa diketahui tentang pendidikannya. Seperti kebanyakan orang Brahmana tradisional di masa itu, sepertinya dia pindah ke ibukota Delhi untuk mencari pekerjaan di pemerintahan,” tulis Raghava Krishnaswami Raghavan, Direktur CBI periode 1999-2001, di kolomnya yang dimuat CNN News18 , 17 Agustus 2020. “Karena di masa itu hampir tidak ada sektor swasta yang mau menerima orang-orang muda dari desa untuk dipekerjakan. Sebaliknya di pemerintahan pusat di Delhi, justru selalu menyambut hangat para lulusan muda, terutama dari kawasan selatan karena orang-orang Madras (Tamil, red .) dikenal sebagai orang-orang yang lembut, patuh, dan loyal, ditambah pengetahuan yang solid akan bahasa Inggris,” lanjutnya. Gopalan kemudian diterima menjadi birokrat di Imperial Secretariat Service (Badan Kesekretariatan) di pemerintahan kolonial British India. Lantas pada 1930-an, Gopalan dikirim bertugas ke Semenajung Malaya (kini Malaysia) untuk menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah berbahasa Inggris di Malaka, Lorong Panjang English School. Menyongsong pengangkatan George VI sebagai raja Inggris pada 1937, Gopalan turut menyiapkan buklet “Coronation Souvenir” yang disebarkan di Malaka. “Buklet pemahkotaan untuk kawasan Malaka dibuat seorang guru dan kepala sekolah asal Tamil P.V. Gopalan, di mana dalam bukletnya menyatakan: ‘Tidak satupun warna kulit, suku, maupun gelombang besar akan memecah-belah persemakmuran (Inggris),’” ungkap Lynn Hollen Lees dalam Planting Empire, Cultivating Subjects: British Malaya, 1786-1941. P.V. Gopalan yang lahir dari kasta Brahmana menduduki jabatan tinggi di pemerintahan kolonial British India. (Wikipedia). Dalam buklet itu Gopalan bersama birokrat asal Tamil lain, Sangara Pillai Rajaratnam, mengajak semua masyarakat di Melaka sebagai salah satu unsur dari wilayah kolonial British Malaya yang kosmopolitan untuk tidak terprovokasi menjelang pengangkatan George VI. Pasalnya, sejak 1935 muncul bibit-bibit perpecahan akibat isu penentangan terhadap para elit lokal yang jadi kepanjangan tangan para bangsawan Inggris. “Tentu saja Gopalan dan Rajaratnam paham bahwa hal-hal yang berbau Inggris selalu didefinisikan secara sempit oleh masyarakat lokal. (Sejarawan) Anthony Stockwell menggambarkan perilaku sosial orang-orang Eropa di Malaya sebagai ‘tribalisme putih’ berdasarkan keyakinan akan inferioritas kultur dan biologis orang Asia,” sambung Lees. Oleh karena Gopalan berada di Malaya pada 1930-an, maka klaim Kamala Harris bahwa kakeknya bagian dari pergerakan nasional untuk memerdekakan India pun beraroma dusta. Aroma dusta bahkan diperkuat oleh pernyataan, Balachandran Gopalan, adik kandung Shyamala Gopalan, yang mengatakan bahwa ayahnya, PV Gopalan, bukan bagian dari para tokoh perjuangan kemerdekaan India. “Tidak ada catatan bahwa dia (Gopalan) terlibat dalam hal lain selain seorang pegawai negeri semata. Jika dia melakukan advokasi terbuka untuk mengakhiri kekuasaan Inggris, dia akan dipecat,” terang Balachandran kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Keistimewaan Kasta Brahmana Ketika para tokoh lain bergelut melawan kolonialisme Inggris, Gopalan justru selangkah demi selangkah melejitkan kariernya sebagai abdi kolonial. Pasca-India merdeka, karena statusnya sebagai mantan birokrat kolonial berkasta Brahmana, Gopalan kembali masuk ke pemerintahan, yakni di Direktorat Perhubungan Darat, Kementerian Transportasi Gopalan. Dia terakhir menjadi diplomat di Zambia. Menukil arsip “Gazette of India, 1956, No. 34”, Gopalan dengan status birokrat Golongan I bertugas di Direktorat Perhubungan Darat hingga 30 Desember 1955 dan mulai 31 Desember secara efektif dimutasi ke Kementerian Rehabilitasi. Dalam tugas barunya inilah kemudian Gopalan jadi Direktur Urusan Pengungsi di Zambia. “Waktu itu hampir semua tokoh muda direkrut sebagai asisten di sejumlah kementerian. Seperti paman saya yang juga berasal dari golongan elit. Setiap asisten, kecuali dia terlalu medioker atau indisipliner, pasti akan mendaki tangga jabatan dan pensiun sebagai joint-secretary (menteri bersama),” sambung Raghavan.  “Beberapa orang yang dipromosikan, seperti dari suku Gopalan, mendapat keistimewaan penempatan di luar negeri di pengujung kariernya. Ini yang jadi faktor Gopalan bisa ke Zambia menjadi Direktur Urusan Pengungsi. Seperti tipikal semua birokrat asal selatan India, ia tak pernah teralihkan selain berkonsentrasi pada pekerjannya, mendapatkan uang dari gaji dan reputasi,” tambahnya. Pernyataan itu turut diamini Tanvi Kohli dalam kolomnya, “Kamala Harris’s American Journey: Caste, Global Mobility, and State Power” yang dimuat Jamhoor , 1 November 2020. Menurutnya, reputasi dan melejitnya karier Gopalan tak semata-mata diraih secara mandiri, melainkan juga memanfaatkan status kastanya. “Keluarga (Kamala) Harris mengilustrasikan bagaimana kasta, kelas, dan mobilitas global erat berkaitan dengan pekerjaan di pemerintahan, pendidikan kelas tinggi, jaringan sosial dan kesempatan untuk bermigrasi. Kakek Harris, P.V. Gopalan adalah pegawai pemerintahan sejak era kolonial –sebuah posisi yang memungkinkan untuk putrinya pindah ke Amerika,” tulis Kohli. Kamala Harris (tengah) saat mengunjungi kakeknya, PV Gopalan (kiri) & neneknya Rajam Ayyar (kanan) ke India pada 1972. (Instagram @kamalaharris). Banyaknya pengalaman Gopalan sebagai birokrat didapatnya dari Kesekretariatan Negara di era British India, lalu Kesekretariatan Pusat pasca-kemerdekaan. Di Zambia, Gopalan bertugas pada masa krisis pengungsi yang diakibatkan imperialisme Inggris yang di mana sebelumnya membawa banyak orang dari Rhodesia (kini Zimbabwe) ke Zambia untuk dijadikan pekerja pertambangan di Matabeleland. Krisis yang mengakibatkan pengungsian itu berakar dari kemerdekaan Zambia, 24 Oktober 1964. Kemerdekaan itu diperoleh dari gerakan yang banyak dibantu para pendatang Rhodesia sebelum dan sesudah Perang Dunia II. “Inggris melakukan langkah perhitungan dengan mendorong petisi dan sanksi embargo terhadap Zambia di PBB, seraya membiayai perang gerilya yang mengakibatkan kehancuran masif dan krisis pengungsi. Ironisnya kemudian seorang birokrat dari bekas koloni Inggris lainnya dikirim untuk mengurusi pengungsi. Itu tak terlepas dari kasta dan status kelas Gopalan yang memfasilitasi kariernya mendaki tangga jabatan ke posisi yang tinggi di pemerintahan India,” urai Kohli. Pada era 1980-an setelah pensiun, Gopalan menghabiskan sisa umurnya bersama istrinya, Rajam Ayyar, dengan beristirahat di apartemen mewah di kawasan eksklusif Besant Nagar, Chennai. Pada Februari 1998, di usia antara 86-87 tahun, Gopalan tutup usia.

  • Antara Habib Rizieq Shihab dan Ayatullah Khomeini

    Kehadiran kembali Habib Rizieq Shihab (HRS) di Indonesia pada 10 November 2020 menyedot perhatian masyarakat. Nikita Mirzani, salah satu selebritas, menyebut kedatangan HRS disambut gila-gilaan. Dia juga menyebut Habib sebagai tukang obat. Karuan aksinya beroleh tanggapan lebih keras dari pendukung HRS seperti Maaher at-Thuwailib. Maher mengatakan Nikita menghina Habib. Dia berjanji akan mengerahkan 800 orang untuk mengejar Nikita. Orang ini jugalah yang menyamakan HRS dengan Ayatollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran pada 1980-an. Di twitter -nya, dia bilang perbedaan HRS dan Khomeini hanya terletak pada Syiah dan Sunni. Benarkah begitu? Lahir 24 September 1902 di Khomein, Persia Tengah, Khomeini bernama lengkap Ruhollah Musavi Khomeini. Dia putra dari Mostafavi Musavi, seorang penentang Dinasti Qajar yang berkuasa ketika itu di Persia. Saat berumur lima bulan, Khomeini kehilangan ayah. Orang-orang bayaran dari Dinasti Qajar membunuhnya. Khomeini kecil telah terbiasa dengan hidup keras. Dia terbiasa dengan perang dan mempertahankan wilayahnya dari serangan orang-orang bayaran Dinasti Qajar. “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang… Saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh  (dianggap mampu bertanggung jawab, red .), saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami,” kata Khomeini seperti tersua dalam Imam Khomeini dari Lahir hingga Wafat  terbitan Islamic Culture and Relations Organization. Khomeini remaja kemudian hijrah ke kota Qom untuk mendalami ilmu agama pada 1921. Kota Qom adalah kota intelektual bagi orang-orang Syiah di Persia. Di sini para murid juga mempelajari filsafat dan irfan atau pengetahuan kebatinan tentang Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Khomeini mengajar di Najaf, sekarang menjadi bagian Irak. Selama menjadi pelajar di Qom dan pengajar di Najaf, Khomeini menyaksikan sejumlah perubahan politik dan sosial di negerinya. Kerajaan Rusia runtuh pada 1917 oleh Revolusi Bolshevik. Padahal kerajaan itu pendukung kuat Dinasti Qajar. Akibatnya, Dinasti Qajar kehilangan sokongan dan jatuh pada 1925. Reza Khan tampil menggantikan penguasa sebelumnya. Dia mendirikan dinasti baru bernama Pahlevi dengan sokongan Inggris. Reza Khan memimpin Persia dengan cara-cara tiran. Dia mirip pendahulunya, memberangus lawan-lawan politiknya. Termasuk pula kalangan agamawan. Protes menguar. Reza Khan mengeluarkan Revolusi Konstitusional yang membagi kekuasaan dalam tiga bidang: yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Langkah ini dinilai mampu membuat protes mereda. Tapi sebenarnya gerakan oposisi yang digalang kaum agamawan masih bergerak di bawah tanah. Pada 1935, Reza Khan mengubah nama Persia menjadi Iran. Menjelang Perang Dunia II, Reza Khan menjalin hubungan dengan Jerman. Kedekatan ini mengganggu hubungan Iran dengan Inggris dan Rusia. Keduanya memiliki sejumlah konsesi minyak di Iran dan berseberangan dengan Jerman. Karena kedekatan itu, Inggris dan Rusia bertindak menyingkirkan Reza Khan. Raja itu pun jatuh dan diganti oleh anaknya, Reza Pahlevi. Reza Pahlevi menginginkan Iran yang maju dan setara dengan negara-negara Barat. Dia sangat dekat dengan Amerika Serikat. Selama memerintah pada 1960-an, dia mendatangkan 60.000 orang Amerika Serikat. Terdiri dari ahli dan tenaga kerja asing. “Kedatangan mereka menyebabkan benturan kebudayaan yang terlalu brutal,” catat Nasir Tamara dalam Revolusi Iran . Reza Pahlevi juga menempuh cara-cara tiran dalam memerintah. Dia menutup sekolah dan universitas di Teheran. Tapi justru membangun kekuatan teror lewat polisi rahasia bernama SAVAK untuk menculik, menyiksa, dan membunuh lawan politiknya. Amnesti International mencatat setidaknya 100 ribu orang menjadi tahanan politik sepanjang pemerintahan Reza Pahlevi. Khomeini telah mengamati perubahan itu sejak dia masih remaja. Dia kerap berdiskusi dengan teman-temannya tentang kerusakan-kerusakan negerinya dan bagaimana memperbaikinya. “Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa diktator dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah (perguruan tinggi, red .),” ungkap tim Islamic Culture and Relations Organization. Nama Khomeini telah dikenal luas di kalangan kaum agamawan Iran sejak naiknya Reza Pahlevi sebagai penguasa pada 1940-an. Dari kaum agamawan, Khomeini turun membangun jaringan dengan masyarakat luas. Dia percaya sebelum membangkitkan peran ulama, hubungan spiritual ulama dan masyarakat harus kuat. Selain itu, Khomeini mulai rajin menulis buku dan artikel untuk membangun jiwa masyarakat. Beberapa buku dan artikelnya juga berisi kritik dan tinjauan atas Dinasti Pahlevi. Karena kritiknya, dia ditangkap dan ditahan rezim Reza Pahlevi selama delapan bulan pada 1964. Selepasnya dari tahanan, kritik Khomeini pada rezim Reza Pahlevi makin keras. Rezim menangkapnya lagi dan membuangnya ke Turki dan Irak. Selama masa pembuangan ini, Khomeini memberikan dukungan berupa uang dan pikirannya untuk orang-orang Palestina. Dari Irak pula, Khomeini tetap mengamati perkembangan di Iran. Rezim Reza Pahlevi makin menindas. Ratusan orang tewas setiap tahunnya karena menentang rezim Reza Pahlevi. Kritik-kritik Khomeini terungkap dalam kaset-kaset ceramahnya. Kaset-kaset itu tersebar luas di Iran dan mendapat tempat di kelompok opisisi, di luar kalangan Islam seperti anggota partai komunis Iran dan orang-orang nasionalis sekuler. Seluruh kelompok oposisi berbagai aliran berada di belakang Khomeini. Karena sepak terjangnya, nyawa Khomeini di Irak terancam. Tentara Irak mengepung rumahnya di Irak. Tapi dia berhasil lolos dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran Paris, Prancis, sejak 14 Mei 1978. Pemerintah Prancis meminta Khomeini menghentikan segala aktivitas politik. Tapi Khomeini tetap melancarkan ceramah-ceramahnya. Orang-orang di Iran mulai bergerak. Mereka turun ke jalan dan berteriak, “Hidup Khomeini, Mampuslah Shah.” Militer menembaki pemrotes. Banyak orang gugur, tapi benih-benih perlawanan malah tumbuh lebih banyak. Buruh, dokter, wartawan, petani, pelajar, dan mahasiswa mogok nasional. Amerika Serikat mulai mengendurkan dukungannya pada Reza Pahlevi. Menteri-menterinya juga mulai mengundurkan diri. Reza Pahlevi kehilangan dukungan. Dia pergi dari Iran pada 16 Januari 1979. Orang-orang Iran bersuka-cita atas kepergian itu. Mereka juga berharap Khomeini bisa segera kembali ke Iran. Pada 1 Februari 1979, Khomeini menjejakkan kakinya kembali di Iran. Dia disambut luas oleh gerakan perlawanan yang digalang sejak lama dan melibatkan berbagai kelompok. Nasir Tamara, wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sampai susah mengungkapkannya, “Penyambutannya sulit digambarkan dengan kata-kata… Betapa populernya Khomeini dan bahwa tak mungkin bagi orang lain untuk memerintah Iran tanpa persetujuannya.” Sementara itu, sepak terjang HRS muncul justru setelah jatuhnya rezim diktator Soeharto. Dia mendirikan Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, pada 17 Agustus 1998. FPI bergerak sebagai “hakim jalanan” dengan mengubrak-abrik tempat hiburan malam yang dianggap sarang maksiat. “FPI muncul sebagai kekuatan baru di jalanan, dengan citra berjuang bukan demi uang, wilayah kekuasaan, atau patronase politik, melainkan membela Islam,” sebut Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman. Sebagai ketua umum, nama HRS mulai kesohor. Tapi dia baru mendapatkan momen politiknya sejak kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. HRS juga belum banyak membuat buku. Selain itu, tak semua kelompok oposisi di Indonesia berada di belakangnya.       Dari sini, orang bisa melihat perbedaan besar antara sepak terjang HRS dan gerakan perlawanan Khomeini. Begitu pula dengan gambaran penyambutan keduanya.

  • Ketakutan Bung Karno

    LETNAN J.B. Schussler masih ingat wajah Sukarno saat pertama kali melihatnya sebagai penawannya di serambi Istana Presiden Yogyakarta. Kendati berusaha tenang, namun komandan peleton Korps Pasukan Khusus (KST) KNIL itu menangkap kegelisahan dari bahasa tubuh pimpinan kaum republiken tersebut. “Yang pertama-tama ditanyakan oleh Sukarno dengan nada khawatir adalah apakah Kapten Westerling yang ditakuti itu adalah komandan kami?” kenang Schussler seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950.

  • Soebandrio, CIA, dan BVD

    PRESIDEN Sukarno memberikan amanat kepada para pemimpin dari tujuh partai politik di Guest House Istana Merdeka, Jakarta pada 27 Oktober 1965. Dia mengajak untuk menjaga keselamatan negara dan revolusi dengan mengawasi segala usaha dari nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) dan CIA.

  • Gerakan Kaum Intelektual di Ranah Minang

    Permulaan abad ke-20, kekuasaan Belanda masih mengakar kuat di seluruh wilayah Sumatra Barat. Kendati demikian, perlawanan rakyat pun tidak henti-hentinya dilakukan, baik oleh kaum tua maupun oleh kaum muda. Meski keduanya sama-sama bergerak untuk kebebasan ranah MInang dari belenggu penjajahan, ada perbedaan mendasar yang menghalangi kedua kelompok untuk bersatu, yakni pandangan tentang Islam. Kondisi itu tentu merugikan karena kekuatan rakyat untuk berjuang menjadi terpecah. Dituturkan Jajat Burhanuddin dalam Islam dalam Arus Sejarah Indonesia , kaum tua dikenal sebagai golongan Islam-Tradisionalis, sementara golongan muda acap dikaitkan dengan kelompok Islam-Reformis. Kaum tua percaya bahwa Islam sebagai agama tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adat istiadat. Sehingga dalam prakteknya, kelompok ini sering menggabungkan kepercayaan kepada Tuhan dengan kepercayaan kepada roh nenek moyang. Di sisi lain, kaum muda memisahkan kedua nilai tersebut. Mereka percaya bahwa Islam harus dijalankan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, tanpa sedikitpun memasukkan unsur adat di dalamnya. Gerakannya hampir serupa dengan kaum Padri. Mereka juga meyakini bahwa perubahan ke arah kemajuan di berbagai sektor kehidupan perlu dijalankan. Masyarakat tidak bisa hanya terkurung di dalam keyakinan adat istiadat semata. Keyakinan kaum muda itulah yang kemudian selalu dikaitkan dengan kemajuan intelektual di Minangkabau pada abad ke-20. “Di Minangkabau, gagasan tentang kemajuan adalah inti dari konflik-konflik kaum cendekiawan dalam beragam pokok masalah seperti adat dan agama. Retorika selama dua puluh tahun pertama abad kedua puluh membandingkan yang “muda” yang didefinisikan sebagai simbol kemajuan, dengan yang “tua” yang dipandang sebagai terbelakang dan konservatif,” kata Yuliandre Darwis dalam Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945) . Gesekan antara kaum muda dan kaum tua juga tidak hanya terjadi di ranah agama saja, tetapi sudah merambah kepada urusan sosial-politik di masyarakat. Alam pikir golongan tua oleh kaum muda dianggap sebagai kemunduran intelektual. Mereka yang masih memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain atas dasar status sosial, serta berpikir bahwa kekuasaan didapat secara turun temurun berdasarkan garis keluarga, dinilai dapat merusak tatanan kehidupan di Sumatra Barat. Untuk itu, kaum muda menyerukan berbagai gerakan pembaharuan, di antaranya dengan membangun sekolah dan menyebarkan dakwah melalui media massa. Sekolah Kaum Muda Gerakan untuk melakukan perubahan dari kaum muda diyakini sebagai gerakan Islam modern di Minangkabau. Ada begitu banyak tokoh yang terlibat di dalam gerakan reformis tersebut. Beberapa di antaranya merupakan murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seperti Syekh Djamil Djambek, Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), Haji Abdullah Ahmad, dan Syekh Thaib Umar. Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada yang sampai membuat sebuah sekolah untuk mempermudah penyampaian gagasan-gagasan reformis yang diyakini para kaum muda, seperti perlawanan, perjuangan, kebebasan, dan kemerdekaan. Abdul Karim Amarullah misalnya, mendirikan perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Sekolahnya itu merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan di Surau Jembatan Besi, yang mulanya mengajarkan pelajaran fiqih dan tafsir Al-Qur’an dengan cara-cara tradisional. Ketika Haji Rasul masuk sebagai pengajar, kurikulum yang ditekankan di sana berubah menjadi ilmu aplikatif. Para santri harus memiliki kemampuan menguasai bahasa Arab dan percabangannya. Hal itu dimaksudkan agar mereka mampu mempelajari sendiri kitab-kitab yang lambat laun akan mendekatkan mereka kepada dua sumber dalam Islam: Al-Qur’an dan Hadits. Perubahan-perubahan di dalam Sumatra Thawalib terus dilakukan. Bahkan dicatat Darwis, perubahan sistem pendidikan di sana memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun. Sistem pembagian kelas, penggunaan buku pelajaran, sarana dan prasarana sekolah, hingga kurikulum pendidikan, membuat Thawalib menjadi lembaga pendidikan yang berpengaruh di Minangkabau. “Sekolah Thawalib khusus mengajarkan teori dan aspek filosofi dalam Islam. Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan yang mampu berpikir mandiri dan bertindak sebagai pembaharu agama di masyarakat,” kata Sally White dalam Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independence Movement . Selain Thawalib, sekolah lain yang dinilai melambangkan kemajuan pendidikan modern di Minangkabau adalah Sekolah Diniyah. Lembaga pendidikan yang telah ada sejak 1915 di Padang Panjang itu didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunus. Sekolah Diniyah ini mengenalkan sistem pendidikan modern di Sumatra Barat. Menurut Sally, mereka mempelopori penggunaan buku teks, dan jenjang kelas untuk berbagai tingkatan usia. Sekolah Diniyah juga membuka cabang sekolah khusus untuk perempuan. Dikelola oleh Rahmah El Yunusiah, sekolah ini mengajarkan agar perempuan tidak kalah dari kaum pria dalam urusan pendidikan. Motto sekolah itu adalah “menjadikan perempuan pengajar di rumah, di sekolah, dan di masyarakat”. Mereka juga mengajarkan keterampilan untuk kaum putri. “Lembaga pendidikan yang dimotori oleh kaum muda ini mengembangkan cara belajar dan mengajar dengan meniru metode pendidikan modern. Metode pengajaran seperti ini tidak lagi hanya mengandalkan penjelasan dari guru melainkan juga menyebarluaskan penggunaan buku bacaan sebagai sumber ilmu yang lebi penting,” ungkap Sastri Sunarti dalam Kajian Lintas Media: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau . Majalah Pergerakan Tidak hanya membangun sekolah, para kaum muda ini juga menggunakan media yang sedang populer digunakan kelompok-kelompok pergerakan kala itu, yakni surat kabar dan majalah, sebagai sarana pembaharuan di Minangkabau. Mereka banyak menuangkan gagasan-gagasan tentang kemajuan, serta ilmu agama Islam di sana. Pada 1911, terbit majalah Islam pertama di Minangkabau, yaitu Al-Munir . Pelopornya adalah Haji Abdullah Ahmad. Al-Munir banyak menerbitkan berita, opini, serta tulisan-tulisan pendek dari tokoh-tokoh kaum muda. Majalah itu menjadi sarana pertama mereka menyebarluaskan ide-ide tentang kemajuan di ranah Minang. Al-Munir  juga banyak menyadur analisis sejumlah tokoh besar Timur Tengah, termasuk tentang kemunduran agama dan dunia Islam yang mengakibatkan dunia Barat mendominasi. “Artikel di majalah ini cukup beragam. Antara lain mencakup masalah-masalah duniawi sampai artikel-artikel yang bersifat filosofis tetapi masih berkaitan dengan masalah agama. Sebagai contoh adalah pengajian masalah-masalah tauhid,” tulis Darwis. Namun usia Al-Munir rupanya hanya seumur jagung. Pada 1916, penerbitannya terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya produksi. Selain itu, masih banyak tokoh pergerakan Minang yang tidak maksimal memanfaatkan sarana media massa ini. Sebagai penggantinya, dua tahun kemudian terbit majalah lain, yaitu Munirul Manar , yang penerbitannya dipimpin Zainuddin Labai El Yunusi. Serupa dengan Al-Munir , majalah Munirul Manar juga isinya tidak jauh dari ide ide pembaruan. Bahkan dari tataletak, corak, dan konten dalam majalah hampir seluruhnya sama. Perbedaan yang terlihat hanya pada isi mazhab yang dipakai ketika menjawab soal-soal agama. Jika Al-Munir hanya berlandaskan mazhab Syafi’I, Munirul Manar menjawabnya dengan hampir semua mazhab yang terdapat dalam Islam. Majalah Islam lain yang cukup berpengaruh di Minangkabau adalah Al-Bayan . Majalah ini diterbitkan pertama kali pada 1919 di Bukittinggi di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa Parabek. Majalah ini selanjutnya berada di bawah naungan Sumatra Thawlib, bersama majalah-majalah Islam lainnya seperti Al-Iman , Al-Ittiqan , Doenia Achirat , Al-Basyir , dan sebagainya. “Masyarakat pendukung majalah-majalah Islam yang terbit di Minangkabau ternyata cukup banyak dan beragam. Masyarakat pembacanya tidak hanya terbatas pada lingkungan Minangkabau sendiri, tetapi jauh lebih luas dari daerah itu. Para pendukung pers Islam ini bukan semata-mata orang-orang ahli dalam bidang agama tetapi juga berasal dari lapisan masyarakat yang awam tentang agama,” ungkap Darwis.

  • Senja di Atas Bukit Kapur

    MATAHARI sudah condong ke barat. Beberapa menit lagi senja tiba. Muda mudi telah bersiap dengan lensa kameranya. Lalu membidik siluet empat bangunan candi diterpa semburat jingga langit senja. Begitu mempesona dan memanjakan mata. Berdiri pada ketinggian 425 m di atas permukaan laut, kawasan Candi Ijo memang menawarkan panoroma yang indah. Pemandangan sawah. Barisan pegunungan kapur di kejauhan. Langit biru yang luas. Candi Ijo, kompleks percandian bercorak Hindu, berada di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Akses menuju candi ini tak mudah-mudah amat. Cukup curam. Tapi jangan khawatir. Jalannya sudah mulus beraspal. Lahan parkir juga sudah tersedia. Bahkan sudah ada beberapa tempat ngopi di dekat pintu masuk Candi Ijo. Candi ini dinamakan “Ijo” karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo. Puncak Gumuk Ijo berada seratus meter di belakang candi dan jauh lebih tinggi sehingga puncaknya terlihat jelas di belakang candi. Sebuah tempat yang tepat untuk menikmati Senja. Semakin petang angin semakin kencang. Senja mulai menghilang. Muda mudi pun kembali pulang. Di atas bukit kapur itu, kompleks Candi Ijo kembali sunyi. Bukan Poros Alam Semesta Berdasarkan data prasasti yang ditemukan, para ahli memperkirakan Candi Ijo didirikan tahun 850 hingga 900. Entah siapa inisiator pembangunan kompleks bangunan suci ini. Dalam jangka waktu itu di sebuah negeri bernama Mataram telah terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan, dari Rakai Pikatan ke Rakai Kayuwangi, lalu Dyah Tagwas, Rakai Panumwangan, Rakai Gurunwangi, Rakai Limus Dyah Dewendra, Rakai Watuhumalang, hingga Rakai Watukara Dyah Balitung. Keberadaan candi di atas bukit kapur dan jauh dari sungai juga terbilang kurang populer kala itu. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebut kebanyakan candi di wilayah Yogyakarta berdiri di daerah yang datar dan landai. Di daerah-daerah semacam itu keleluasaan orang untuk bergerak mudah diperoleh dibanding daerah-daerah yang memiliki lereng miring, agak curam, curam, dan sangat curam. Candi Ijo bersama Situs Ratu Boko, Candi Barong, dan Candi Miri menempati wilayah yang disebut Batur Agung. Wilayah ini termasuk dalam kawasan purbakala Siva Plateu yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan kapur Gunung Kidul. Sementara di dataran rendah, tak jauh dari aliran Kali Opak yang subur, ada Kompleks Candi Prambanan, Sewu, Bubrah, Lumbung, Plaosan, Sojiwan, dan Kalasan. Kata Mundarjito, makin tinggi kedudukan tempat makin sedikit terdapat situs. Sebaliknya,makin rendah ketinggiannya makin banyak terdapat situs. Besar kemungkinan hal itu berkaitan erat dengan jumlah keragaman vegetasi. Sejak dulu orang cenderung memilih kawasan dataran rendah yang memiliki jenis tanaman lebih bervariasi. “Daerah-daerah semacam itu potensial untuk bermukim dan bercocok tanam dengan baik seperti juga terjadi pada masa sekarang,” catatnya. Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), berpendapat serupa. Dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, Degroot menyebut lokasi Candi Ijo yang jauh dari dataran subur membedakannya dari banyak peninggalan candi di Jawa Tengah lainnya. Di sisi lain, keberadaan Candi Ijo di punggung bukit menyampaikan kesan yang berbeda dari candi-candi di puncak bukit. Candi Ijo bukanlah puncak Gunung Meru, gunung suci dalam kosmologi Hindu dan dianggap sebagai pusat alam semesta. Gunung ini merupakan tempat bersemayam para dewa. Sama seperti Ratu Boko, Dieng atau Gedong Songo, kata Degroot, “ada kemungkinan tempat ini mungkin merupakan tempat ziarah atau situs yang didedikasikan untuk praktik pertapaan.” Tata ruang Candi Ijo pun sama sekali berbeda. Kalau kata arkeolog Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia : Seri Jawa pola dan tata letak kompleks Candi Ijo mengingatkan pada pemujaan tradisi megalitik, jauh sebelum masuknya pengaruh India. Dibanding Candi Prambanan dengan tata letak konsentris, Candi Ijo tersusun pada 11 halaman berbentuk teras berundak dari barat ke timur. Di dalamnya ada 17 struktur bangunan. Teras paling suci sekaligus paling tinggi berada paling timur. Di sini terdapat empat candi yang biasa menjadi tempat wisatawan berfoto. Satu candi yang paling besar disebut candi induk. Napas Hindu terlihat pada keberadaan arca Agastya, Ganesa, dan Durga di dalam relung dindingnya. Sementara kalau masuk ke dalam bilik, terdapat sepasang lingga-yoni yang menjadi lambang Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Di hadapan candi induk, berjajar tiga candi perwara yang berukuran lebih kecil dan diduga dibangun untuk memuja Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan Dewa Siwa. Berdasarkan peninggalan-peninggalannya, Edi Sedyawati dkk memastikan bahwa kompleks Candi Ijo merupakan bangunan suci untuk pemujaan yang berlatar agama Hindu. Penanaman ribuan pohon di area Candi Ijo. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Gerakan Candi Darling Dari kejauhan, Candi Ijo dikelilingi pepohonan hijau. Tapi begitu memasuki areal kompleks candi, yang terlihat bangunan candi berdiri di tanah yang gersang. Apalagi jika musim kemarau. Hanya sedikit pepohonan rindang tumbuh di area ini, yang dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh dan beristirahat. Candi Ijo butuh penghijauan. Namun pemilihan tanamannya pun harus tepat. Menurut Bernadus Punta Patria Saksono dalam tugas akhirnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Komposisi Jenis Tingkat Tiang dan Pohon Penyusun Hutan Rakyat di Sekitar Kawasan Candi Ijo Yogyakarta”, pemilihan jenis tanaman harus memperhatikan jenis perakarannya agar tidak merusak situs tersebut. Tanaman hias yang punya nilai estetika bisa dipilih untuk memperindah sekaligus meningkatkan daya tarik dari candi tersebut. “Adapun tanaman penghias yang dapat ditanam dengan kondisi topografi miring serta untuk mempertahankan tapak agar tidak tererosi maka diberikan tanaman yang mampu menahan dan memperkokoh tanah. Tanaman tersebut dapat berupa angsana, flamboyan, bungur, johar, kupu-kupu, sikat botol, dan asoka,” catat Bernadus. Seribu tanaman perdu dan semak berbunga pun telah ditanam tahun lalu untuk mempercantik kawasan Candi Ijo. Di antaranya soka, ruellia, dan melati. Penanaman dilakukan melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) atas inisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di wilayah Yogyakarta.  “Selain akan mempercantik wilayah Situs Ratu Boko dan Candi Ijo, gerakan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mempelajari warisan sejarah yang ada di Indonesia,” ungkap Tri Hartini, ketua unit kerja situs Ratu Boko dan Candi Ijo Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, yang ikut mengapresiasi kegiatan ini.

  • Sharon Stone dalam Bayang-bayang Simbol Seks

    FOUNDATION  memang bisa sedikit   menutupi kerut-kerut di wajahnya.   Namun, tulang pipinya yang begitu menonjol menunjukkan usianya sudah tak lagi muda, 62 tahun.   Begitulah Sharon Stone kini, yang masih tetap cantik dan ceria. Lama menghilang dari dunia entertainment , Sharon masih dilekati citra sebagai simbol seks. Itu diakuinya ketika berbincang secara daring di program “Mola Living Live” yang dipandu aktor Reza Rahadian dan sineas Rayya Makarim di   Mola TV , Sabtu, 7 November 2020. Sharon tak kuasa menghindari citra tersebut meski sekarang tampak kurang nyaman dengannya. Itu diperlihatkannya ketika menjawab pertanyaan Rayya, bagaimana sulitnya mendapat peran lain yang tidak mendefinisikan dia sebagai simbol seks dan berapa lama imej itu mengikuti kariernya.    “Selamanya, hahahaha…,” cetus Sharon. Citra simbol seks Sharon muncul setelah dia memerankan tokoh Catherine Tramell di Basic Instinct (1992). Peran itu pula yang membuat namanya meroket.. Sharon Stone berbagi kisah via daring. (Tangkapan layar Mola TV). Tak Disetujui Orangtua Lahir di Meadville, Pennsylvania, 10 Maret 1958, Sharon Vonne Stone merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Joseph William Stone II dan Dorothy Marie Lawson. Sharon tumbuh sebagai anak yang cerdas secara akademik. “Saya sudah bisa duduk di kelas dua sekolah dasar pada usia lima tahun. Pada umur 15, saya kuliah di perguruan tinggi (Tes IQ: 154).” kenang Sharon yang berkuliah di jurusan Seni dan Sastra Universitas Edinboro berkat beasiswa itu. Sebagai anak yang membanggakan kedua orangtuanya, Sharon membuat mereka terkejut ketika mulai terjun ke dunia hiburan sebagai model usai menjuarai kontes kecantikan Miss Crawford County, Pennsylvania saat masih berkuliah. Ayahnya yang seorang manajer pabrik dan ibunya yang seorang akuntan menyayangkan keputusan Sharon itu. “ Mereka (orangtua) sangat cemas dan takut. Mereka enggak bisa terima dengan baik keputusan saya. Menurut ayah saya, itu hanya menyia-nyiakan bakat dan kecerdasan saya, ” sambungnya. Potret-potret masa kecilnya bersama sang ibu, Dorothy Marie Lawson. (Instagram @sharonstone). Namun, orangtua Sharon pada akhirnya dengan berat hati menerima keputusan anaknya. Terlebih, keluarganya tengah diterpa prahara.Michael Stone, kakak Sharon, dipenjara akibat kasus narkoba. “Menurut ayah saya, saya dibolehkan pergi agar saya bisa ganti suasana dan keluar dari masalah keluarga. Kakak saya menjadi bandar kokain dan ditangkap. Jadi orangtua saya merasa karena krisis di keluarga itulah mereka mengizinkan saya pergi ke New York untuk mencari pekerjaan sembari tetap kuliah,” sa mbu ng nya. Di New York petualangan Sharon di dunia fesyen dimulai dengan bergabung di Ford Modeling Agency pada 1977. Sharon mulai sering menjadi bintangiklan. Beragam produk, mulai sampo hingga berlian, iklannya dia bintangi. Kemampuan ekonomi yang terus membaik seiring naiknya reputasi Sharon sebagai model juga mendorong Sharon sering berpindahtempat tinggal.Dari New Jersey, Sharon pindah ke New York, lalu Milan (Italia), dan akhirnya Paris (Prancis). Kolase masa ke masa Sharon Stone hingga terjun ke dunia modeling. (Instagram @sharonstone). Akan tetapi, capaian itu tak membuat Sharon puas. Sebab, satu impiannya, yakni dunia seni peran, belum berhasil digapainya. “Walau dia mulai terkenal di modeling dan punya bayaran besar dari agensi-agensi model, Sharon Stone memutuskan berhenti jadi model di usia 22 tahun dan mengejar karier yang selalu diimpikannya: akting. Faktanya keputusan itu diambil tiba-tiba setelah mengambil pekerjaan modeling di Paris,” tulis Brad Dunn dalam When They Were 22: 100 Famous People at the Turning Point in Their Lives. Setelah mengepak koper dan kembali ke New York, Sharon mendapat kesempatan mewujudka n mimpin ya dengan menjadi pemeran ekstra dalam film garapan Woody Allen, Stardust Memories . D i d ua film berikutnya, Deadly Blessing dan Les Un et les Autres , Sharon juga masih jadi figuran yang namanya ta k dicantumkan dalam credit . “Saya akui saat saya muda, saya tidak memilah-milah pekerjaan. Saya menemukan nilai-nilai dalam setiap pekerjaan. Saya hanya ingin bekerja dan bersyukur punya pekerjaan. Memang tidak semuanya bagus. Tapi kemudian butuh waktu lama untuk memvalidasi dan melindungi diri saya sebagai seorang profesional. Terlebih, sulit bagi perempuan saat itu untuk menolak tawaran apapun, ketika kita sangat mengharap mendapat peran,” aku Sharon. Berkatkerja kerasnya,perlahan nama Sharon mulai dikenal.Selangkah demi selangkah dia mendapat peran pendukung yang namanya mulai dicantumkan dalam credit film. Seperti di Irreconcilable Differences (1984), Police Academy 4: Citizens on Patrol (1987), dan Total Recall (1990) yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan disutradarai Paul Verhoeven. Melejit Berkat Basic Instinct Duabelas tahun berkarier di Hollywood, nama Sharon belum benar-benar populer. Kesempatan untuk mendongkrak popularitasnya diperoleh Sharon ketika dia dipilih Verhoeven untuk memerankan Catherine Tremmel, tokohdalam film Basic Instinct yang disutradarainya. Jalan yang dilalui Sharon untuk bisa memerankan tokoh sosiopat atau antisosial yang kemudian menjadi pembunuh berantai itu bukanlah jalan yang mulus. Aktor utama lainnya, Michael Douglas, yang memerankan Detektif Nick Curran, sempat mengusulkan kepada sutradara dan produser agar memilih aktris lainyang namanya sudah populer ketimbang Sharon. Kim Basinger, Julia Roberts, Greta Scacchi, hingga Meg Ryan merupakan nama-nama yang direkomendasi Douglas. “Saya butuh seseorang (aktris, red .) yang mau berbagi risiko dalam film ini. Saya tidak ingin sendirian membintanginya. Karena pasti akan ada banyak hal yang terjadi,” kenang Douglas saat diwawancara Jane Warren untuk The Express , 29 Maret 2011. Namun semua aktris rekomendasi Douglas itu menolak setelah melihat naskah film. Pun dengan Michelle Pfeiffer, Demi Moore dansederet nama lain yang diajukan pihak produser. Penolakan terjadi karena karakter Catherine sangat kontroversial dan akan banyak melakukan adegan “panas”. Maka meski telah menggelar serangkaian audisi panjang, Verhoeven akhirnya tetap menjatuhkan pilihan pada Sharon untuk film bergenre erotic thriller itu. “Saya menjalani audisi untuk peran itu selama delapan sampai sembilan bulan. Jadi ketika mendapatkan perannya, saya sudah sangat siap. Karena saya membongkar naskahnya ribuan kali. Saya simpan naskahnya di kulkas. Jadi ketika ingin ambil makanan, naskah itu seolah berkata: ‘Tidak! Kamu tidak boleh makan karena kamu harus membuka pakaian di film itu. Jadi tutuplah kulkasnya dan pergi ke (olahraga) treadmill,’ ” kata Sharon. Selain bolak-balik membuka naskah, Sharon juga mendalami perannya dengan berinisiatif melakukan observasi dan investigasi sendiri. “Saya mewawancara para pelaku (pembunuh berantai) di penjara. Saya juga menonton kembali film-film tentang pembunuhan berantai. Lalu saya banyak membaca tentang Joan of Arc dari buku Bernard Shaw dan karakter lain di (buku Darkness Visible ) William Styron. Saya ingin melihat hal-hal apa saja yang mendorong karakter-karakter di buku itu dalam segala tindakannya. Apa yang dilakukannya demi tujuan yang lebih besar atas restu kekuatan yang juga lebih besar di atas sana,” tambahnya. Ketenaran Sharon Stone yang melejit lewat film Basic Instinct.  (TriStar Pictures). Lebih lanjut Sharon mengatakan, “Saya juga ingin membangun trauma dalam karakternya (Tramell). Karena ketika melihat karakternya sangat halus, tak bercela, pasti sebenarnya mereka menutupi sesuatu. Tiada manusia yang sempurna. Jadi saya mencari pendalaman untuk karakter itu mengintimidasi lawannya,” lanjut Sharon. Terlepas dari kontroversi akibat adegan-adegan syur dan vulgar, Basic Instinct meledak di pasaran. Sharon sendiri mendapat nominasi Golden Globe sebagai aktris utama terbaik.Reputasi Sharon seketikameroket. Diajadi pujaan, bahkan simbol seks di mata publik. “Efeknya besar sekali dalam karier saya. Karena pada satu hari saya hanya aktris yang sedang berjuang, tiba-tiba, boom , jadi box office . Film itu jadi perubahan besar dalam hidup saya. Sebelumnya saya berperan di Total Recall tapi tidak ada yang ingat saya. Tapi setelah Basic Instinct , orang baru ingat kembali,” ujarnya. Setelah itu, Sharon merasa seperti terpenjara popularitas. Selama 10 tahun berikutnya ia sampai tak bisa ke mana-mana tanpa dikenali orang awam. Label sebagai simbol seks telah melekat pada dirinya, bahkansampai saat ini. “Saya 62 (tahun)! Orang-orang masih ingin melihat payudara saya. Benar-benar deh. Dewasalah! Saya sendiri tak pernah menganggap diri saya seksi. Saat berperan di Basic Instinct , saya mengeksplorasi dan bahkan berteman dengan sisi gelap saya. Saya menjadi pemberani terhadap diri saya sendiri. Saya pikir itu yang membuat orang melihat saya seksi,” cetusnya kepada Hollywood Unlocked , 16 September 2020. Sharon Stone turut membintangi film The Quick and the Dead.  (Instagram @sharonstone). Imej simbol seksitu merugikan Sharon. Publik selalu menginginkan karakter lebih vulgar dari Sharon. Imej itu juga menimbulkan kritik bagi para feminis. Akibatnya, beberapa film Sharon berikutnya gagal di pasaran.Publik seolah tak puas dengan karakter-karakter yang dimainkan Sharondi film Sliver (1993), Intersection (1994), The Quick and the Dead (1995), dan bahkan sekuel Basic Instinct 2 (2006).Di Intersection , Sharon bahkan dianugerahi Golden Raspberry Award untuk kategori Aktris Terburuk. “Publik tidak tertarik dengan Sharonsebagai seorang aktris, namun sebagai sesosok karakter. Lalu Sharon kembali mendaratkan pukulan bagi kaum perempuan dengan menembaki seorang pria chauvinis dengan pistol besarnya,” tulis Ben Thompson dalam ulasannya mengenai film The Quick and the Dead dalam majalah Sight & Sound edisi September 1995. Sharon menjadi bagian dari aktris yang dikiritik jurnalis cum feminis Suzanne Moore sehubungan dengan bermunculannya film-film yang menghadirkan simbol seks untuk mendongkrak imej perempuandi era 1990-an.Selain film yang dibintangi Sharon, film-film yang dikritik itu antara lain Pretty Woman (1990), yang dibintangi Julia Roberts; Batman Returns (1992), di mana Michelle Pfeiffer berperan sebagai Catwoman; Indecent Proposal (1993) yang dibintangi Demi Moore dan Robert Redford . Menurut Suzanne, film-film itu justru bertolak-belakang dengan nilai-nilai feminisme itu sendiri. “Apa maksudnya yang dilakukan simbol seks di era 1990-an, saya bertanya-tanya? Menjual diri kepada Robert Redford seharga sejuta dolar? Merangkak dengan kostum lateks ala Pfeiffer atau menyerahkan diri kepada klien terkaya seperti Julia Roberts di Pretty Woman ? Dalam konteks ini, tak diragukan lagi Stone berhasil hanya berdasarkan satu film. Apa yang ia jual kepada kita jauh lebih seksi daripada seks itu sendiri. Lebih seperti zat perangsang, sebuah fantasi akan suatu kekuatan,” kata Suzanne dikutip Jacinda Read dalam The New Avengers: Feminism, Feminity and the Rape-Revenge Cycle. Sosok filantropis Terlepas dari kariernya di dunia peran yang sudah membintangi 65 film, termasuk What About Love yang masih dalam tahap pascaproduksi (rencana rilis 2021) serta 29 drama seri televisi, Sharon merupakan sosok filantropi.Pada 2005,saat malaria merebakdi Tanzaniahingga UNICEF turun tangan, Sharon turut membantu dengan menggalang dana untuk membantu penyediaan jaring-jaring nyamuk rakyat Tanzania. Upayanya berhasil mendapatkan USD 250 ribu. Sharon juga vokal terhadap sejumlah isu HAM dunia.Pada Maret 2006, ia aktif mempromosikan perdamaian di Timur Tengah, khususnya terkait konflik Palestina-Israel.Sharon juga lantang memprotes China ketika pemerintah negeri itu melancarkan aksi-aksi persekusi, kekerasan, hingga penculikan menyusul demonstrasi besar di Tibet. Pada 2013, Sharon menerima Peace Summit Award di World Summit of Nobel Peace Laureates XIII setelah berhasil menggalang dana ratusan juta dolar bersama American Foundation untuk proyek riset AIDS. D u a tahun berikutnya dia menerima Pilosio Building Pace Award akibat berhasil menggalang dana p embangun an 28 sekolah di Afrika. Tak jarang Sharon Stone memanfaatkan ketenarannya untuk kemanusiaan. (Instagram @sharonstone). Proyek itu gagasannya datang tiba-tiba. Menurut Grant Schreiber dalam Real Leaders , pada 17 September 2015, sebelum penganugerahan Sharon di KTT Nobel 2013, Sharon didatangi seorang pengusaha di belakang panggung untuk diminta foto bersama. Sharon lantas menyatakan bersedia dengan syaratsi pengusaha mau membangun dua sekolah di Afrika. Pengusaha itu setuju. “Saat dia bilang bahwa namanya Joe, hal itu sangat dalam mem p engaruhi saya karena itu nama dari mendiang ayah saya dan saya tahu bahwa dia ingin saya datang malam ini dan mengatakan bahwa Joe akan membangun dua sekolah,” ujar Sharon dikutip Schreiber. Sharon langsung mengumumkannya di atas panggung usai menerima penghargaan Peace Summit Award.Dia juga menawarkan kepada pihak lain untuk berbuat serupa Joe. “Siapa lagi yang mau membangunkan sebuah sekolah bersama saya? Siapapun yang berjanji mau membangunkan sebuah sekolah, nantinya akan makan malam bersama saya,” kata Sharon di atas panggung. Dalam lima menit, sejumlah hadirin pun bersedia berdonasi.Alhasil, 28 sekolah baru dibangun di Afrika dan rampung pada 2015 sebelum Sharon menerima penghargaan Pilosio.

  • Arnold Mononutu, Putra Minahasa jadi Pahlawan Nasional

    ­ “Tulis, tulis di situ, pada biografiku, bahwa aku betul-betul bermental kolonial,” kata Arnold Mononutu kepada Ruben Nalenan ketika hendak menulis biografinya. Biografi berjudul Arnold Mononutu, Potret Seorang Patriot  itu kemudian terbit pada 1981 dan Nalenan menuliskan dengan jujur siapa Mononutu. Tanpa menutupi bagian-bagian minus dari sang tokoh, sesuai keinginan Mononutu sendiri. Begitulah Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Pria kelahiran Manado, 4 Desember 1896 ini menyadari bahwa ia pernah menjadi seorang yang sangat bermental kolonial. Ayahnya adalah elite Minahasa yang bekerja sebagai pegawai keuangan pemerintah Hindia Belanda. Beragam keistimewaan bisa dinikmatinya. Terutama soal pendidikan, Mononutu mendapat jalan yang lebar. Tamat dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia melanjutkan ke Middelbare Handels School di Jakarta hingga 1920. Ia kemudian ke Belanda untuk studi perbandingan kesusastraan Inggris, Belanda dan Prancis (1920-1924). Menurut Sunario dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur , Mononutu suka bergaul dengan orang-orang Belanda serta dansa-dansi dengan noni-noni. Kehidupan di Belanda awalnya memang membuai Mononutu. “Bahkan ia suka hidup ‘parlente’ seperti Alex Maramis, Latuharhary, yang di antara kami dapat julukan boulevardier (yang suka melancong sepanjang trotoar jalan raya), selalu memakai kaus tangan sambil memegang tongkat di tangannya,” tulis Sunario. Namun, lambat laun ia mulai memiliki perhatian terhadap politik. Selain  mulai sering mengunjungi ceramah dan kuliah Akademi Hukum Internasional di Vradespaleis, Den Haag, Mononutu bergaul dengan para pelajar seperti Ahmad Subardjo, Hatta, hingga Cipto Mangunkusumo. Mononutu juga sempat kuliah hukum internasional di Ecole Libre des Sciences Politique et Morales, Paris. Selama kuliah di Paris, ia menjabat sebagai wakil ketua Perhimpunan Indonesia (PI) cabang Paris. Peran penting yang dimainkannya selama periode ini adalah berusaha menjalin komunikasi dengan pelajar-pelajar Asia lain. Pasalnya, di Prancis mereka tidak menggunakan bahasa Inggris. Sementara, Mononutu menguasai tiga bahasa: Inggris, Belanda, dan Prancis. Setelah kembali ke Indonesia, pada 1927 Mononutu menjadi anggota Partai Nasional Indonesia. Ia turut bicara dalam rapat terbuka di Logegebouw yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Mononutu mengecam Belanda karena menahan empat mahasiswa Indonesia di Den Haag. Ia kemudian juga mengumpulkan bantuan dana untuk para mahasiswa di Belanda. Dalam Kongres Pemuda II, Mononutu turut dalam braintrus yang diadakan sebelum kongres. Sebagai tokoh Minahasa, Mononutu mewakili Persatuan Minahasa dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda itu. Pasca-kemerdekaan, Mononutu memimpin redaksi Menara Merdeka di Ternate sambil memimpin Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Indonesia Timur. Dalam Konferensi Meja Bundar, ia hadir sebagai Wakil Ketua Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) dan wakil dari Fraksi Progresif. Pada 18 Februari 1948, sebagai Ketua Misi Muhibah Parlemen NIT ke Yogyakarta, Mononutu menyatakan bahwa NIT berbulat tekad untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Menteri Penerangan RIS Arnold Mononutu (kiri) menyampaikan ucapan selamat kepada Moh. Roem yang dilantik sebagai perwakilan RIS di Komisaris Tinggi Belanda, 22 Januari 1950. (ANRI). Setelah Republik Indonesia Serikat berdiri, Mononutu dipercaya menjadi menteri penerangan Kabinet RIS. Peran Mononutu semakin penting mengingat Republik tengah menghadapi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), pemberontakan Andi Aziz, dan Republik Maluku Selatan pimpinan Dr. Soumokil. Ia kembali diangkat menjadi menteri penerangan dalam Kabinet Sukiman dan Kabinet Wilopo sebelum diangkat menjadi Duta Besar RI di RRT Pada 1953. Setelah itu, Mononutu menjadi anggota Konstituante. Di Konstituante, Mononutu aktif memperjuangakan hak-hak agama minoritas. Mohammad Natsir menyebutnya seorang Kristen yang nasionalis. Natsir sepaham dengan Mononutu mengenai desekulerisasi Pancasila. Sila pertama mesti sebagai dasar dari sila-sila yang lain sehingga membuat Pancasila tidak hanya bersifat materialistis. “Natsir menganggap tafsir Mononutu itu sebagai tafsir dan penilaian baru –malah yang paling terbaru– terhadap Pancasila, setelah berbagai penafsiran sejak tahun 1945,” tulis Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir. Namun, Mononutu dan Natsir bersilang pendapat terkait Islam sebagai dasar negara. Jika Islam menjadi dasar negara, Mononutu sangat khawatir hak-hak agama minoritas akan hilang. Diskriminasi juga akan terjadi terutama terkait kepemimpinan maupun jabatan di pemerintahan. Di masa Demokrasi Terpimpin, Mononutu menjadi anggota MPRS (1962) dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1964-1966). Sempat menjadi rektor Universitas Hasanuddin (1960-1965), Mononutu terakhir menjabat sebagai Pegawai Tinggi Utama Madya yang diperbantukan pada Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Mononutu meninggal dunia pada 5 September 1983 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Ia menjadi salah satu yang terakhir dari generasi Hatta dan kawan-kawan. Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020, Almarhum Mononutu mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo.

bottom of page