Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI
Ketika sejumlah kolonel di daerah mulai mengeluarkan tuntutan kepada pemerintah pusat pada akhir 1956, Presiden Sukarno berupaya turun tangan mengatasinya lantaran kabinet Ali Sastroamidjojo II maupun Djuanda yang menggantikannya tak kunjung dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tindakan Kolonel A. Husein di Padang merupakan bentuk protesnya terhadap pemerintah pusat yang dianggap oleh sejumlah perwira daerah sebagai mengabaikan kepentingan daerah. Sentralisasi pembangunan, pembubaran Divisi Banteng, makin menguatnya PKI setelah Pemilu 1955 dan diperparah oleh mundurnya Moh. Hatta dari kursi wakil presiden menjadi alasan di balik protes tersebut. Begitu mendengar kabar Kolonel A. Husein mengambilalih pemerintahan Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Muljohardjo, presiden segera mengutus Hasjim Ning, sahabatnya yang merupakan keponakan Bung Hatta. “Katakan pada A. Husein bahwa dia telah aku pandang anakku sendiri. Tindakannya mengambil oper pemerintahan dari tangan gubernur dapat membahayakan negara. Karena mungkin jadi panglima atau komandan militer lainnya akan melakukan hal yang sama. Katakan juga kepadanya bahwa aku tidak bisa melupakan budi baik istrinya, Des,” kata presiden sebagaimana dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Hasjim pun langsung bertolak ke Padang esok harinya. Sesampainya di kampung halaman, Hasjim langsung menuju kediaman Husein di Jalan Hatta (kini Jalan A. Yani). Dia disambut hangat tuan rumah. “Dugaanku, melihat kedatanganku A. Husein menyangka aku datang sebagai ‘Raja Mobil’ yang ingin membantu gerakannya. Dan menahan aku agar menginap di rumahnya saja. Mungkin ia menyangka bahwa kedatanganku akan menyampaikan rencana besar lainnya untuk mengambil kesempatan berusaha seperti yang ia lakukan,” sambung Hasjim. Lepas pukul 22.00 WIB, Hasjim pun membicarakan tujuannya menemui Husein adalah diutus Presiden Sukarno. Hasjim menyampaikan semua yang dipesankan Sukarno kepada Husein di depan istri Husein agar menimbulkan kesan bahwa Husein tetap diperhatikan Sukarno, bukan seperti yang selama ini dianggapnya sendiri ditelantarkan pusat. Husein tak menyangka tujuan kedatangan Hasjim itu. Kepada Hasjim, Husein menjelaskan panjang lebar. “Ah, Bung Hasjim, tidak ada pikiranku, apalagi mengangan-angankan untuk memisahkan Sumatera Tengah dari Republik Indonesia. Kami hanya menuntut keadilan dan hak-hak kami kepada pemerintahan Ali. Bukan kepada Bung Karno,” kata Husein. Pembicaraan dilanjutkan Husein dengan menjelaskan program-program Dewan Banteng –bekas Divisi Banteng yang dibubarkan MBAD– yang didirikannya. Husein lalu menitipkan semua penjelasan itu kepada Hasjim agar disampaikan kepada presiden. Permintaan Husein itu membingungkan Hasjim. “Bagaimana aku harus menyampaikan pada Bung Karno bahwa Pak Husein tetap menjunjung tinggi pribadinya selaku presiden?” kata Hasjim bertanya pada Husein. “Aku akan mengirim surat padanya. Surat dari seorang anak kepada bapaknya,” jawab Husein. Begitu Hasjim kembali ke Jakarta sepekan kemudian, surat A. Husein telah lebih dulu tiba ke presiden. Situasi tetap tak mereda meski Kabinet Ali II telah digantikan Kabinet Djuanda. Bercampur dengan konflik internal Angkatan Darat, di mana sejumlah panglima daerah kecewa terhadap kebijakan tour of duty yang diterapkan KSAD AH Nasution, tuntutan daerah makin menguat. Posisi mereka kian kuat setelah beberapa tokoh politik pusat, seperti M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara, dan perwira MBAD Kolonel Zulkifli Lubis bergabung. Puncaknya, mereka mengultimatum pemerintah pusat. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Kendati tuntutan itu secara resmi dijawab Djuanda-KSAD Nasution dengan pemecatan para perwira daerah pembangkang, sejumlah pihak termasuk Nasution secara pribadi mengirim utusan untuk penyelesaian informal. Presiden kembali mengutus Hasjim menemui Kolonel Husein, PM Djuanda mengutus Mr. Hardi, KSAD Nasution mengutus Bachtar Lubis, Bung Hatta mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Namun tak satupun dari utusan itu yang berhasil. Bachtar Lubis bahkan menyeberang ke kubu Husein. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Maka sebelum memulai safarinya ke sejumlah negara Eropa esok harinya, presiden menyempatkan diri mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian PRRI. Meski mengkritik cara penyelesaian PRRI yang diambil Sukarno sebagai bertele-tele, Hatta dengan senang menyambut kedatangan Sukarno. Hatta tetap memandang Sukarno presiden yang sah dan gerakan Husein sebagai tindakan salah karena merupakan putsch militer. Saran Hatta bahwa cara penyelesaian PRRI hendaknya menjauhi penggunaan kekerasan lalu diikuti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim. Namun sepeninggal presiden, PM Djuanda dan KSAD Nasution menjawab tuntutan daerah dengan operasi militer berbekal UU Keadaan Darurat Perang. PRRI pun ditumpas oleh pasukan yang dipimpin Kolonel A. Yani. Di Eropa, setelah mendiskusikan dengan Jakarta lewat telegram dan mengirim kurir, presiden akhirnya menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan Wakasad Gatot Subroto bahwa PRRI/Permesta harus segera diselesaikan dengan melakukan amnesti dan abolisi. Pada 1961, para petinggi PRRI/Permesta termasuk A. Husein menyerahkan diri ke Jakarta. “Akan tetapi pada suatu pagi, Bung Karno berkata kepadaku, ‘Hasjim, jij tahu, teman jij itu tidak setuju dengan amnesti abolisi itu. Maunya bertempur terus.’ Aku tidak tanyakan siapa yang dimaksud Bung Karno dengan istilah teman jij . Ia itu adalah Jenderal AH Nasution, yang sama-sama mendirikan IPKI dengan aku dahulu,” kata Hasjim.
- Awal Invasi Narkotika ke Indonesia
Baru-baru ini, model papan atas Catherine Wilson berurusan dengan pihak berwajib karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Perempuan yang akrab dipanggil Keket itu terciduk setelah polisi menemukan sepaket sabu-sabu dikediamannya. Saat diperiksa, Keket positif menggunakan metamfetamin, jenis psikotropika golongan II. Nama Catherine Wilson menambah daftar panjang selebritis tanah air yang terjerat kasus narkotika. Selebritis dan kehidupan bebas ibarat satu paket. Salah satu rupa gaya hidup bebas itu mewujud dalam pemakaian narkotika. Dari masa ke masa, cukup banyak seniman maupun artis yang dikenal sebagai pemakai narkotika. Tidak sedikit pula yang meninggal karena overdosis. Zat candu berbahaya ini terdiri dari narkoba, psikotropika, dan obat-obatan terlarang Di luar kebutuhan medis, narkotika adalah barang haram. Namun, sejak kapan penyalahgunaan narkotika mulai marak di Indonesia? “Masuknya narkoba modern ke Indonesia itu mulai awal tahun 70-an,” ujar Tama Bara Sakti, arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) kepada Historia . Generasi Bunga Situasi global pada dekade 1970-an melahirkan generasi yang disebut kaum hippies. Mereka dikenal sebagai generasi antikemapanan yang menolak nilai-nilai konservatif Amerika. Gelombang protes terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam pada 1960-an jadi momentum kemunculan hippies. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga ( flower generation ). Kaum hippies identik dengan gaya hidup bebas, seperti aktivitas seks bebas dan konsumsi obat-obatan terlarang. Love, Peace, and Freedom (Cinta, Perdamaian, dan Kebebasan) adalah semboyan hippies yang terkenal. Grup band pop Inggris The Beatles dan gitaris rock kesohor Amerika Jimi Hendrix adalah musisi yang mendukung dan berpenampilan ala hippies. Jimmi Hendrix bahkan meninggal akibat overdosis obat penenang jenis barbiturat pada 1970. Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya. Penetrasi kultur pop ini terutama menyasar kaum muda di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Menurut Ekspres , 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya sebatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin. Kepala kepolisian RI, Jenderal Hoegeng Iman Santoso turut prihatin menyaksikan anak-anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika. Hoegeng mengakui invasi narkotika di Indonesia bersumber dari situasi global yang menyerang kalangan muda. Selain itu, menurut Hoegeng ancaman narkotika tidak luput dari persoalan domestik. “Banyak anak-anak orang kaya yang mengalami broken home mencoba melarikan diri dari kepahitan hidup dengan jalan menjadi pecandu ganja, heroin, dan narkotika,” ujar Hoegeng kepada Abrar Yusra dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan yang disusun Ramadhan K.H. Lahirnya Undang-Undang Narkotika Menurut Hoegeng kekhawatiran terhadap ancaman narkotika cukup beralasan. Apalagi letak geografis Indonesia tidak jauh dari kawasan penghasil narkotika alami jenis ganja. Kawasan yang dimaksud Hoegeng adalah Indocina yang disebut-sebut sebagai segitiga emas daerah ganja. Lagi pula, Asia Tenggara merupakan daerah tropis dimana narkotika alami seperti ganja bisa tumbuh subur. Selain itu, pemasokan narkotika dilakukan lewat cara penyelundupan. “Mobilitas transportasi yang kian berkembang, memudahkan narkotika masuk ke Indonesia,” kata Tama, “bisa dilihat dari kasus-kasus tahun 70-an yang melibatkan pemalsuan paspor.” Peredaran narkotika ditengah masyarakat generasi muda meluas dengan cepat. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam jadi tempat rujukan transaksi narkotika meskipun ada juga pedagang rokok jalanan menyambi jualan ganja kecil-kecilan. Dari kota besar ke kota kecil. Dari kalangan menegah ke atas, lantas golongan ekonomi lemah pun jadi ikut-ikutan mencicip barang terlarang itu. Semuanya bermula dari rasa penasaran, coba-coba, lalu terjerumus pergaulan. Menurut berita Kompas , 10 Juli 1975, pecandu narkotika di Indonesia mencapai 5000 orang. Para pecandu itu menghabiskan uang sebesar 10,8 milyar rupiah untuk memuaskan candu mereka terhadap berbagai jenis narkotika. Karena kelangkaannya narkotika menjadi barang yang mahal. Pada masa itu 1 kilogram morfin, narkotika semisintesis yang lebih dikenal dengan nama putaw dihargai sebesar 15 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis untuk menebus candu. Sebagai bandingan, harga sekilogram beras pada tahun 1975 senilai 45 rupiah. Memasuki 1976, kepolisian menggelar operasi besar-besaran untuk memberantas penyalahgunaan narkotika. Langkah awal dilakukan lewat “Operasi Gurita” pada 21 April–3 Juni. Namun, upaya itu masih belum cukup menekan laju peredaran narkotika. Hingga pertengahan 1976, jumlah korban narkotika di Jakarta saja mencapai 10.000 orang. Sayangnya, belum ada pisau hukum yang cukup tajam untuk menguliti kasus-kasus penyalahgunaan narkotika. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah meregulasi narkotika ke dalam undang-undang. Maka pada 26 Juli 1976, pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. Dengan adanya undang-undang itu, pemerintah memberikan wewenang pengolahan narkotika hanya kepada otoritas kesehatan dan medis. Menteri kesehatan, misalnya dapat memberikan izin khusus kepada apotek, dokter, rumahsakit, maupun lembaga ilmu pengetahun dan pendidikan yang memerlukan bahan narkotika untuk kepentingan pengobatan. Sementara itu bagi mereka yang tidak berwenang, si penyalahguna narkotika dapat dipidana bahkan dengan ancaman hukuman mati. “Penegakan hukum (kasus penyalagunaan narkotika) bisa dilakukan jika ada dasarnya. Dengan adanya Undang-Undang Narkotika itu, aparat hukum leluasa melakukan penindakan,” pungkas Tama.
- Inggris Menjarah Keraton Yogyakarta
Keturunan Sultan Hamengkubuwono II menuntut pemerintah Inggris mengembalikan harta Keraton Yogyakarta yang dijarah saat penyerangan Inggris pada 1812 yang disebut Geger Sepoy atau Geger Sepehi. Menurut mereka, totalnya mencapai 57.000 ton emas. Tuntutan itu disampaikan Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional Sultan Hamengkubuwono II, Fajar Bagoes Poetranto. "Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7), dikutip Kumparan.com . Jumlah 57.000 ton emas dipertanyakan oleh Poltak Hotradero, kepala divisi riset di Bursa Efek Indonesia. Poltak mencuit lewat akun twitter -nya: “Emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah manusia cuma 190 ribu ton. Gimana bisa seperempatnya ada di Jawa?” Sejarawan Inggris, Peter Carey mengungkapkan, Inggris mengerahkan ribuan pasukan menyerang Keraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812. Kedatangan mereka ke keraton tidak terdeteksi karena fajar belum datang. Serangan hanya berlangsung tiga jam, dari pukul 05:00 sampai 08:00. Keraton Yogyakarta ditaklukkan dan Sultan Hamengkubuwono II ditangkap lalu diasingkan ke Pulau Pinang (Penang, Malaysia, red .). Inggris hanya kehilangan 23 orang dan 78 orang terluka. Sedangkan di pihak Keraton Yogyakarta jatuh ribuan korban jiwa. Menurut Peter Carey, tentara Inggris-Sepoy menjarah keraton besar-besaran. Peti berisi harta benda dari keraton hilir mudik diangkut dengan gerobak melalui alun-alun sampai empat hari lamanya. Barang jarahan diangkut ke kepatihan. Lalu semua yang berharga seperti manuskrip dibawa ke Rustenburg (keresidenan). Hasil jarahan dibagikan di antara para perwira. Total nilai jarahan itu sekarang lebih dari 120 juta dolar AS. Peter Carey pun menyebut Inggris sebagai pencuri aset Indonesia nomor wahid. Bahkan, penjarahan dilakukan pada korban yang dihabisi secara brutal sebagaimana terungkap dalam babad Bedhah ing Ngayogyakarta (1816) karya Pangeran Panular, putra Sultan Hamengkubuwono I dari istri selir. Dalam babad itu disebutkan bahwa Pangeran Sumodiningrat, keturunan sultan pertama dan panglima pasukan Yogyakarta, dibunuh pasukan yang dipimpin oleh John Deans, sekretaris Keresidenan Yogyakarta. Pakaian Sumodiningrat dilucuti dan badannya dimutilasi. "Lehernya ditebas. Anak buah John Deans lalu mempreteli semua pakaian dan perhiasan yang dipakai Sumodiningrat," kata Peter Carey. Barang jarahan lainnya di antaranya dua set gamelan yang dibeli oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Harga seperangkat gamelan kala itu berkisar 1.000–1.600 dolar Spanyol. Di samping itu, Raffles pernah menghadiahkan Prasasti Sangguran (982) kepada Gubernur Jenderal di India, Lord Minto, karenanya disebut Minto Stone. Raffles menerimanya dari Kolonel Colin Mackenzie. Lebih dari 200 tahun prasasti itu berada di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto di Skotlandia dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Satu lagi, Prasasti Pucangan (1041) atau Calcutta Stone disimpan tak terawat di Museum India. Kemungkinan Mackenzie menemukan prasasti itu di wilayah Mojokerto pada Maret 1812 lalu membawanya ke Surabaya melalui Kali Mas. Prasasti itu termasuk barang-barang yang dibawa Mackenzie ke India pada Juli 1813. Pemerintah Indonesia telah berusaha membawa pulang prasasti itu sejak tahun 2004 , tapi belum berhasil. Inggris juga membawa naskah-naskah kuno milik Keraton Yogyakarta. Manuskrip itu kemudian didigitalisasi oleh British Library. Pada 5 Maret 2019, pemerintah Inggris mengembalikan 75 manuskrip kepada Keraton Yogyakarta, tapi versi digitalnya. "Jadi 75 naskah Jawa kuno sudah dipulangkan secara digital ke Indonesia. Secara fisik mungkin sulit karena dalam koleksi British Library," kata Moazzam Malik, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, dikutip Kumparan.com . Sementara itu, pada November 2019, Belanda mengembalikan 1.499 benda bersejarah koleksi Museum Nusantara, Delft, kepada Indonesia. Yang menarik perhatian adalah pengembalian keris milik Pangeran Diponegoro yang secara simbolis diserahkan langsung oleh raja dan ratu Belanda kepada Presiden Joko Widodo. Pengembalian barang bersejarah hasil jarahan, pemberian, dan pembelian itu yang terbesar sepanjang sejarah. Pengembalian barang-barang bersejarah itu dipicu oleh dekolonisasi yang dicetuskan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pidatonya di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017. Macron mencetuskan gagasan dekolonisasi itu dalam rangka membuka lembaran baru dalam hubungan internasional di kawasan Afrika. Salah satu poinnya bahwa benda-benda bersejarah Afrika sudah semestinya dikembalikan para mantan kolonialis. Macron menjanjikan Prancis akan mengembalikannya dalam jangka waktu lima tahun. Belanda merespons gagasan dekolonisasi itu. "Wacana repatriasi kali ini datang dari Belanda karena di Eropa muncul banyak desakan mengenai repatriasi benda-benda budaya milik negara-negara koloni, baik itu Prancis, Inggris, maupun Belanda," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.id . Dalam rangka dekolonisasi, akankah pemerintah Inggris menanggapi tuntutan dari keturunan Sultan Hamengkubuwono II agar mengembalikan harta jarahan yang katanya sebanyak 57.000 ton emas?
- Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah
SERUAN adzan berkumandang dari menara Hagia Sophia di Istanbul, Turki, untuk pertamakali dalam 86 tahun pada Jumat siang, 24 Juli 2020. Bangunan megah dan bersejarah berusia 1483 tahun di tepi Selat Bosphorus itu resmi kembali jadi masjid usai ditetapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan 14 hari sebelumnya. Hagia Sophia dibangun tahun 537 sebagai katedral umat Kristen Ortodoks Yunani kala Istanbul masih bernama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Pada 1204, ia beralih fungsi menjadi katedral Katolik Romawi di rezim Kaisar Baldwin I. Seiring jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada 29 Mei 1453 dan adanya kebutuhan Sultan Mehmed II untuk melaksanakan shalat Jumat di hari itu, katedral itu diubah fungsinya menjadi masjid. Hampir semua simbol Nasrani berupa relic , atribut, dan ornamen ditanggalkan dan diganti simbol-simbol keislaman, kecuali mozaik di langit-langit kubah yang dijadikan mihrab oleh Mehmed II. “Kebanyakan mural-mural dan mozaik-mozaik di gereja-gereja ditutupi lapisan cat putih. Akan tetapi untuk alasan tertentu, Sultan memberi perintah bahwa mozaik Bunda Maria di langit-langit kubah diberi pengecualian. Sampai ratusan tahun kemudian mozaik itu sekadar ditutupi tirai,” tulis Franz Babinger dalam Mehmed the Conqueror and His Time , sebagaimana saat ini ketika Hagia Sophia kembali dijadikan masjid, mozaik-mozaik itu kembali ditutupi tirai, khususnya di waktu-waktu shalat. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Shalat Jumat untuk kali pertama didirikan di Hagia Sophia setelah 86 tahun (Foto: istanbul.gov.tr ) Menurut Babinger , mozaik bergambar Bunda Maria tengah memangku Yesus Kristus dari abad kesembilan itu dibiarkan seperti sediakala oleh Mehmed sebagai salah satu “nilai tawar” agar Gennadius Scholarius yang sempat ditahan, berkenan menjadi patriark dan pemimpin umat minoritas Ortodoks Yunani. Keputusan politis itu diambil lantaran Mehmet II menganggap dari sekian pemuka Ortodoks yang ada di Konstantinopel, Gennadius dikenal sebagai salah satu penentang Nasrani dari Barat. Dengan menjadikan Gennadius sebagai patriark, Mehmet II bisa sedikit lebih tenang dan mencegah munculnya pergerakan bawah tanah orang-orang Nasrani yang bersatu antara Ortodoks dan Katolik Roma. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Begitu Kesultanan Utsmaniyah runtuh pada 1935, masjid itu ditutup kemudian dijadikan museum oleh Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Atatürk. Pengalihfungsian bangunan itu menjadi masjid kembali disayangkan sejumlah pihak. Beberapa bahkan mengecam penetapan Erdoğan itu yang isunya sudah berdengung sejak Juni. “Apa yang bisa saya katakan sebagai agamawan dan Patriark (Ortodoks) Yunani di Istanbul? Alih-alih menyatukan, sebuah warisan dunia berusia 1.500 tahun itu justru memecah-belah kita. Saya terguncang dan bersedih,” ucap Uskup Agung Ortodoks Yunani Bartholomew I, dikutip The Washington Post , 24 Juni 2020. Mozaik Bunda Maria dan Yesus Kristus di langit-langit kubah Hagia Sophia (Foto: hagiasophiaturkey.com ) Senada, dalam peringatan Hari Laut Internasional, Paus Fransiskus juga kecewa atas keputusan para pengambil kebijakan Turki terkait Hagia Sophia. “Lautan membawa pikiran saya lebih jauh, ke Istanbul. Saya memikirkan Santa (Hagia) Sofia…saya sangat terluka,” cetus Paus, dilansir Crux Now , 12 Juli 2020. Keputusan Erdoğan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid sangat politis. Ia mengesampingkan keteladanan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin al-Khattab, yang menjadi khalifah kedua pasca-wafatnya nabi. Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja Jurnalis dan pemerhati politik Islam Mustafa Akyol dalam kolomnya di The New York Times , 20 Juli 2020 bertajuk “Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?”, menguraikan, keputusan Erdoğan bisa membuka bab baru dari cerita lama Islam versus Nasrani. Padahal di masa lalu, orang-orang pemeluk monoteisme seperti Nasrani dan Yahudi selalu dianggap sekutu dan sahabat oleh nabi. “Jadi ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang masih sekelompok kecil dipersekusi di Makkah oleh para penyembah berhala, beberapa dari mereka mendapat suaka di kerajaan Nasrani di Ethiopia. Ketika Rasulullah memerintah di Madinah, Beliau menyambut para pemeluk Nasrani dari Kota Najran untuk beribadah di masjidnya,” ungkap Akyol. “Beliau juga membuat perjanjian dengan mereka yang isinya: ‘Tidak boleh ada pelarangan terkait peribadahan mereka. Tidak akan ada uskup yang dicabut dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biaranya, maupun pendeta dari parokinya’,” lanjutnya. Baca juga: Özil dan Perkara Peranakan Muslim Turki Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan di Hagia Sophia sebelum penetapan status dari museum menjadi masjid (Foto: Twitter @RTErdogan) Teladan Rasulullah menghargai agama lain kembali dicontohkan Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah Abu Bakar “Al-Siddiq” itu memerintah dalam kurun 10 tahun (634-644 M). Menurut Profesor Daniel J. Sahas, peneliti sejarah Islam dari Universitas Waterloo, Ontario, dalam “The Face to Face Encounter between Patriarch Sophronius of Jerusalem and the Caliph Umar Ibn al-Khattab: Friends or Foes?” yang dimuat dalam The Encounter of Eastern Christianity with Early Islam , Khalifah Umar datang ke Yerusalem seorang diri atas permintaan Patriark Sophronius. Itu terjadi setelah ia menolak menyetujui kapitulasi yang ditawarkan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima pasukan Muslim yang sebelumnya mengepung Yerusalem. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Sang patriark memberi syarat bahwa ia bersedia menyerahkan Yerusalem jika Khalifah Umar sendiri yang datang dan menerima penyerahan tanpa syarat itu. Permintaan Sophronius, disebutkan Sahas, bukan tanpa alasan. Permintaan itu sebagai simbol ketidaksenangannya terhadap Abu Ubaidah yang sempat mengancam akan menghancurkan setiap rumah ibadah jika Yerusalem harus direbut secara paksa. “Alasan lainnya adalah Sophronius ingin melihat sendiri kualitas seorang Umar yang berjuluk AmirulMukminin . Lainnya adalah Sophronius ingin penyerahan Yerusalem dilakukan dengan proses seremonial resmi, mengingat pentingnya kesucian Yerusalem. Umar yang menerima kabar permintaan itu ketika berada di Suriah, menyanggupi dan datang dengan menunggang unta,” tulis Sahas. Ilustrasi Khalifah Umar (kanan memegang tongkat) saat masuk ke gerbang kota Yerusalem di salah satu episode seri TV "Omar" (Foto: Youtube Qatar Television) Khalifah Umar kemudian berkemah di Bukit Zaitun (3,5 km timur dari kota tua Yerusalem) dan di situlah kapitulasi Yerusalem ditandatangani pada Februari 638. Menurut catatan Patriark Euthychius yang dituliskan pada tahun 876 dan dikutip Sahas, Patriark Sophronius turut mengantar Umar ke gerbang Yerusalem dan mengiringi sang Amirul Mukminin kala berkeliling ke sejumlah tempat suci di kota tua Yerusalem. “Setelah melewati gerbang, Umar mendatangi dan duduk di serambi Gereja Makam Kudus. Kala menjelang waktu s h alat (Dzuhur), Umar berkata: ‘Aku ingin shalat.’ Dan dia (Sophronius) menjawab: ‘Ya Amirul Mukminin , shalatlah di sini!’ Dan Umar berkata: ‘Aku tidak ingin s h alat di sini.’ Patriark lalu mengantarnya ke dalam gereja itu dan menggelar tikar di lantai gereja. Tetapi Umar berkata: ‘Aku juga tak ingin shalat di sini’,” kutip Sahas. “Lalu Beliau (Umar) keluar menuju gerbang timur gereja dan Beliau mendirikan shalat sendirian di atas rerumputan. Selepasnya, ia duduk bersama Patriark Sophronius. ‘Patriark, apa engkau tahu kenapa aku tak shalat di dalam gereja?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin. ’ Umar berkata: ‘Apabila aku shalat di dalam gereja, Engkau akan kehilangan gereja itu karena setelah kematianku, kaum Muslimin akan merebutnya dengan mengatakan: ‘Umar pernah shalat di sini.’ Tetapi berikanlah aku selembar perkamen untuk menuliskan sebuah dokumen!’” Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Dokumen yang dituliskan Khalifah Umar intinya berisi bahwa kaum Muslimin dilarang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat di tempat umat Nasrani beribadah. Kemudian, disebutkan F. E. Peters dalam Jerusalem: The Holy City in the Eyes of Chroniclers , Khalifah Umar meminta tempat untuk didirikan masjid di kompleks suci itu. “Sophronius berkata: ‘Aku akan memberikan AmirulMukminin sebuah tempat untuk mendirikan tempat ibadah, di mana para raja Romawi tak sanggup membangunnya. Tempat di mana terdapat sebuah batu yang dahulu (Nabi) Yakub berbicara pada Tuhan dan tempat di mana Yakub menyebutnya gerbang surga dan Bani Israil menyebutnya tempat paling suci (jejak-jejak Menorah). Tempatnya berada di tengah-tengah dunia’,” ungkap Peters. Ilustrasi Khalifah Umar (tengah) dalam seri "Omar" yang memilih tempat shalat di luar lingkungan gereja, tepatnya di timur Gereja Makam Kudus (Foto: Youtube Qatar Television) Sophronius kemudian menjelaskan bahwa tempat itu sudah terbengkalai dan kini tertutup pasir dan tanah oleh orang Romawi. Ia tak dijadikan gereja karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia takkan meletakkan batu di atas batu yang takkan bisa dihancurkan. Oleh karenanya, umat Nasrani meninggalkannya sebagai reruntuhan. Umar lalu mengambil tanah itu, membersihkannya menggunakan jubahnya sebelum melemparkannya ke Lembah Gehenna, dan diikuti kaum Muslimin sampai tempat itu bersih dan batunya tampak. Setelah batu itu dipindahkan, tempat itupun dibangun masjid yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Umar. Letaknya tak jauh dari gerbang timur Gereja Makam Kudus. Tetapi sejak 1193, masjidnya dipindah ke selatan gereja seiring berubahnya gerbang gereja ke arah yang sama sebagai imbas perbaikan usai beberapa kali hancur oleh konflik di abad ke-11. Salahuddin Menjaga Gereja Masjid Umar dibangun kembali pada 1193 oleh Emir Damaskus Al-Afdal bin Salahuddin, putra Sultan Salahuddin “Sang penakluk Yerusalem” dalam Perang Salib III (1187). Sebagaimana Khalifah Umar, Salahuddin al-Ayyub tak menistakan satupun gereja ketika Yerusalem sudah berada di bawah kekuasaannya. Salahuddin merebut Yerusalem dan masuk ke gerbang kota suci itu pada 2 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Mengutip Sir Walter Besant dan Edward Henry Palmer dalam Jerusalem, the City of Herod and Saladin, sang sultan sempat menutup semua gereja, termasuk Gereja Makam Kudus, untuk menggelar diskusi dengan para pengikutnya guna menentukan apa yang akan dilakukan terhadap situs-situs Nasrani. Sementara, sejumlah situs suci Islam ia perbaiki dan kembalikan fungsinya sebagai rumah ibadah. Salah satunya, Qubbat al-Sakhrah (Dome of the Rock), masjid yang dibangun pada 691 di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Salib emas yang dipasang para Ksatria Templar di masjid itu dicopot. Pun begitu dengan yang berada di Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar. Baca juga: Gereja Belanda Kutuk Tentara Belanda Ilustrasi Sultan Salahuddin dalam film "Kingdom of Heaven" yang memilih tak menghancurkan gereja-gereja di Yerusalem setelah direbutnya pada 1187 (Foto: Youtube Yubi) Sementara itu, umat Katolik bersama sisa-sisa pasukan Salib pergi setelah dijamin Salahuddin dengan bisa keluar hidup-hidup pasca-kapitulasi sehingga yang tersisa hanyalah budak-budak yang terbebas dan umat Kristen Ortodoks. Gereja-gereja yang mereka tinggalkan juga mendapat perhatian. “Gereja Makam Kudus jadi perhatian khusus. Banyak para pengikut Salahuddin menyarankannya untuk dihancurkan. Akan tetapi berkat pertimbangan matang sultan dan kisah keteladanan (Khalifah) Umar yang ia kemukakan, nasihat-nasihat pengikutnya (untuk menghancurkan gereja) tak ia jalankan,” tulis Sir Walter dan Palmer. Setelah tiga hari itu, Gereja Makam Kudus kembali dibuka dan Salahuddin mengizinkan umat Nasrani manapun untuk menziarahinya. Para penganut Kristen Ortodoks dan Koptik pun diperkenankan untuk tetap menjalani ritual-ritual di situs-situs suci mereka yang sebelumnya sebagian situs Ortodoks dikuasai umat Katolik Roma seiring berdirnya Kerajaan Yerusalem (1099-1187). “Kaisar Byzantium Isaac II mengirim surat untuk memberi ucapan selamat kepada Salahuddin dan memintanya mengembalikan semua gereja di kota (Yerusalem) kepada para agamawan Ortodoks dan semua kebaktian mereka bisa dilaksanakan dalam tata peribadatan Ortodoks Yunani. Permintaan itu dikabulkan Salahuddin, di mana semua urusan gereja diserahkan ke Patriark Konstantinopel,” singkap Maher Abu-Munshar dalam Islamic Jerusalem and its Christianity: A History of Tolerance and Tensions. Baca juga: Pandangan Westerling terhadap Islam
- Gandum Belum Umum
KIRAB gunungan mengawali Festival Panen Gandum yang digelar di Kebun Percobaan Salaran, Semarang, pada 8 September 2016. Acara ini memeriahkan panen gandum varietas dewata, berasal dari galur DWR-162 asal India, yang ditanam Pusat Studi Gandum Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bekerja sama dengan PT. Bogasari.
- Dari Cara Mengetahui Waktu hingga Zona Waktu
Bagaimana manusia pada masa lampau mengetahui waktu? Untuk mengetahui waktu, manusia biasanya menggunakan matahari. Seperti dilakukan Ibnu al-Shatir, astronom Arab, pada abad ke-14. Dia memanfaatkan sinar matahari yang menimpa benda tegak pada sebuah bidang landai. Bidang itu terbagi atas 12 sudut. Masing-masing menunjukkan pergerakan waktu karena bayangan benda tegak itu akan bergerak sesuai pergeseran matahari. Tiap pergeseran bayangan satu sudut, Shatir menghitungnya satu jam. Orang mengenal alat ini sebagai jam matahari. Prinsip jam matahari telah dikenal sejak 3500 SM. Kala itu, orang-orang Mesir Kuno membangun sebuah obelisk berupa jam matahari. Dari sinilah, Shatir mengembangkan prinsip jam matahari. Tapi obelisk ini hanya menunjukkan waktu siang. Untuk menyiasatinya, mereka kemudian menggunakan pasir dan air sebagai media penunjuk waktu malam. Bagaimana perhitungan waktu menurut Suku Maya di Meksiko? Perhitungan waktu atau penanggalan yang dipercaya oleh Suku Maya berlandaskan pada perputaran Tanah Suci selama 260 hari, tahun matahari 365 hari, dan satu putaran 18.980 hari. Perputaran tersebut terdiri atas 52 tahun matahari atau 73 tahun suci. Suku Maya yakin bahwa sejarah berulang-ulang dalam daur yang mereka sebut “katun”. Setiap katun mengikuti daur sebelumnya dan berakhir pada hari yang sama dalam perputaran 18.980 hari dan pada hari itu mulailah katun baru. Sistem perhitunganwaktu Suku Maya ini lebih rumit dibandingkan sistem kabisat. Disebut-sebut tahun 2012 menurut perhitungan ini akan terjadi kiamat karena hari dalam waktu penghitungan Suku Maya ini berakhir. Mungkin artinya bukanlah kiamat, tapi tahun ini menjadi perputaran baru daur waktu dengan katun yang baru. Bagaimana cara orang bangun tepat waktu sebelum ditemukan jam alarm? Masyarakat Mesir kuno pada 245 SM telah menggunakan jam mekanik pertama di dunia dengan media air. Caranya air dialirkan ke dalam bejana yang bagian dasarnya dilubangi. Air ditampung wadah yang diberi tanda untuk menunjukkan tingkat perubahan ketinggian air sekaligus menunjukkan waktu. Teknik ini kemudian dikembangkan Tiongkok dengan menambahkan gong atau lonceng sebagai penanda waktunya. Penduduk asli Amerika hingga abad ke-20 punya cara unik: jam biologis. Sebelum tidur, mereka meminum air berlebihan. Hasrat buang air menyebabkan mereka bangun lebih awal. Sementara itu, di Eropa pada era Revolusi Industri, bos-bos pabrik mempekerjakan seseorang untuk mengetuk jendela mess dengan tongkat panjang atau penembak kacang. Cara ini bertujuan membangunkan buruh dan memastikan mereka tiba di pabrik tepat waktu. Bagaimana manusia zaman dulu menentukan arah mata angin? Seorang pangeran dari Tiongkok menghadiahkan sebuah kereta kepada utusan raja muda dari sebelah selatan negeri Tiongkok pada 1000 SM. Kereta itu dilengkapi boneka kayu, dengan magnet di telunjuknya, yang selalu menunjuk ke selatan. Dengan kompas kuno itu, raja muda tak tersesat meski berada di rimba raya. Kompas ini perlahan menggantikan cara menentukan arah dengan melihat matahari atau konstelasi bintang. Orang lalu berpikir menggunakan alat serupa di laut. Orang Arab menyempurnakannya untuk pelayaran pada abad ke-8. Pedoman ini melengkapi alat navigasi lain yang lebih dulu dikenal: peta. Penemuan ini tersebar ke Eropa. Salah satu orang Eropa yang mengembangkan kompas ini adalah Flavio Gioja. Mulanya orang di sana tak percaya dengan sifat magnet pada pedoman. Mereka lebih percaya magnet diisi kekuatan setan. Berapa kali Indonesia mengalami perubahan pembagian zona waktu? Sejak merdeka, Indonesia tercatat mengalami beberapa kali perubahan pembagian zona waktu. Mulanya pengaturan zona waktu masih mengikuti Jepang. Barulah pada 1947, kala Belanda kembali menduduki Indonesia, zona waktu Indonesia berubah. Belanda membagi Indonesia menjadi tiga zona waktu yang berselisih masing-masing enam, tujuh, dan delapan jam dengan Greenwich Meridian Time (GMT). Melalui Keputusan Presiden RI No. 152 Tahun 1950, Indonesia memiliki enam zona waktu dengan selisih 30 menit pada tiap zona waktu. Keputusan ini berubah lagi pada 1963. Indonesia kembali dibagi atas tiga zona waktu dengan selisih 60 menit pada tiap zona waktu. Pada 1987, Keputusan Presiden menyangkut zona waktu dikeluarkan. Namun tak ada perubahan pembagian zona waktu dalam aturan itu. Hanya beberapa wilayah yang ditukar ke dalam zona tertentu. Peraturan tersebut bertahan hingga sekarang .
- Setelah Siliwangi (Diisukan) Takluk
Soempena masih ingat peristiwa itu. Ketika dirinya baru saja akan berangkat memimpin satu seksi pasukan untuk menghajar iring-iringan konvoi militer Belanda di jalur Purwakarta-Karawang pada 23 Juli 1947, tetiba seorang petugas perhubungan dari brigade induk tergopoh-gopoh datang menemuinya. Dalam wajah berduka dia memberitahu Soempena untuk membatalkan pencegatan. “Itu perintah siapa?!” hardik Soempena. “Panglima Divisi barusan mengumumkan di radio: kita harus menghentikan perlawanan karena Belanda terlalu kuat buat kita!” jawab sang petugas. Begitu mendengar itu, sang komandan seksi tersebut langsung lemas. Baginya kabar itu sangat sulit dipercaya. Namun apa boleh buat sebagai bawahan dia harus menuruti perintah atasan tertingginya itu. Sementara itu, Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution sendiri saat itu tengah berkeliling Jawa Barat untuk mengkoordinasi pasukannya. Dari bagian intelijen, Nasution sudah mafhum bahwa Belanda akan mematahkan Perjanjian Linggarjati dengan melakukan agresi ke wilayah-wilayah Republik. Begitu tiba di wilayah Ciwidey, Nasution sangat terkejut ketika Komandan Batalyon 26 (Siluman Merah) Kapten Achmad Wiranatakusumah menyodorkan dua salinan radiogram mengatasnamakan Panglima Divisi Siliwangi. Isinya: perintah kepada Batalyon 26 dan Batalyon 22 untuk menyerah kepada Belanda karena sudah tidak ada gunanya lagi untuk bertempur. Sementara itu salinan radiogram satu lagi berisi perintah agar Siliwangi menangkapi semua anggota badan perjuangan dan kelaskaran terutama pimpinan mereka Mayor Jenderal Djokosujono. Mereka dianggap sebagai para pengkhianat dan pengacau perjanjian damai. “Saya jelaskan bahwa kawat-kawat itu palsu sama sekali, sudah terang (militer Belanda) telah menggunakan cara perang psikologis. Mereka menggunakan zender yang lebih kuat dari zender kita dengan tujuan untuk mengacaukan kita,” ungkap Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid V: Agresi Militer Belanda I. Dalam kenyataannya, persoalan bukan hanya sekadar “lebih besar-nya zender milik militer Belanda dibanding milik TNI”. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Sejarah Kodam Siliwangi, adanya perintah palsu itu juga karena telah bocornya sandi-sandi rahasia Siliwangi ke intelijen militer Belanda. Isu takluknya Siliwangi, ternyata “dimakan” juga oleh Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Menurut Nasution, isu bahwa “Panglima Divisi Siliwangi telah kapitulasi” beredar bukan hanya di kalangan para pejabat sipil RI dan para jenderal di MBT saja, namun juga sudah sampai ke pergunjingan isteri-isteri para menteri. “Mereka bilang saya telah berkhianat dan saat itu tengah ditahan dalam sel di Markas Besar,” kenang Nasution. Sejarawan Robert B. Cribb menyebut isu kekalahan Siliwangi yang selalu dibangga-banggakan sebagai “contoh tentara Republik yang modern”, harus diakui sama sekali bukan berita yang enak didengar oleh kalangan TNI di Jawa Tengah. “Berita kekalahan itu menjadikan mereka semakin yakin bahwa sejatinya yang lebih penting untuk menghadapi Belanda adalah mental berperang,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People's Militia and the Indonesian Revolution 1945-1949 . Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman (yang langsung percaya akan berita takluknya Siliwangi) langsung bergerak cepat. Dia mengangkat Mayor Jenderal Soedibjo sebagai Komandan Pertempuran Jawa Barat. Nasution sendiri merasa maklum akan tindakan atasannya itu. “Di tangan Presiden, Menteri dan Panglima Besar (memang sebelumnya) sudah bertimbun-timbun pula laporan yang menyebutkan bahwa saya adalah agen NICA,” ungkapnya. Guna membangkitkan kembali semangat perlawanan, pada 2 Agustus 1947, Soedirman mengucapkan suatu pidato yang ditujukan kepada rakyat dan “sisa-sisa” TNI di Jawa Barat. “Ambillah insiatif dan hancurkan musuh yang sangat ganas itu! Jangan bimbang! Percayalah kepada keadilan Tuhan dan kekuatan kita sendiri. Lebih baik negeri ini tenggelam dalam lautan api, daripada dijajah kembali!” Diputuskan pula oleh Soedirman bahwa sebagai pendukung, kekuatan pro Republik di Jawa Barat akan dibantu oleh pasukan-pasukan resmi dari Jawa Tengah. Sejarah mencatat, baik Soedibjo maupun pasukan-pasukan itu tak pernah tiba di Jawa Barat. Yang terjadi kemudian, secara “diam-diam” Soedirman mengirimkan para eks gerilyawan Lasjkar Rakjat (LR) pimpinan Sutan Akbar untuk kembali ke Jawa Barat. Mereka ditugaskan untuk membentuk unit baru bernama Divisi Gerilya Bamboe Runtjing sebagai pengganti Divisi Siliwangi. Seiring kesibukan di Yogyakarta, Nasution sendiri cepat mengkonsolidasikan kembali kekuatan divisi-nya. Rupanya para komandan lapangan di seluruh Jawa Barat masih menaruh kepercayaan yang tinggi kepada eks tentara KNIL itu. Sementara itu, tujuan utama lain dari Operasi Produk yakni menghancurkan kekuatan TNI sama sekali tak terpenuhi. Alih-alih mencapai hasil maksimal, kekuatan TNI secara kilat malah mulai berhasil memukul balik posisi militer Belanda. Seorang Komandan Batalyon militer Belanda bernama Letnan Kolonel J. Flink dari Divisi C mengakui situasi itu. Sebulan lebih setelah Operasi Produk, memang pasukannya bisa mempertahankan kondisi kemanan. Namun mulai 31 Agustus 1947 keadaan berubah. “Batalyon saya mulai mendapat serangan-serangan gencar dan sistematis. Akibatnya, kami tidak hanya mengalami kekalahan demi kekalahan tapi juga meningkatnya kerugian personil di atas tingkat yang normal,” katanya seperti dikutip Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948 . Apa yang dikatakan oleh Flink memang bukan isapan jempol semata. Sejak kota-kota besar di Jawa dan Sumatera dikuasai oleh militer Belanda, praktis kedudukan para serdadu Belanda terkunci. Jangankan melakukan pembersihan secara total, untuk berpindah dari pos satu ke pos lainnya, mereka harus melewati penghadangan-penghadangan maut yang tak jarang menimbulkan kerugian besar. “Otomatis mereka hanya bisa menunggu. Insiatif serangan justru jadi berpindah ke tangan kita,” ungkap Nasution. Lantas bagaimana dengan Divisi Gerilja Bamboe Runtjing? Alih-alih menjadi mitra Siliwangi dalam menghadapi militer Belanda, yang ada konflik lama di antara mereka malah semakin terpupuk. Harapan Sutan Akbar sendiri yang memimpikan para eks LR akan memimpin revolusi di barat Jawa sama sekali tak terwujud.
- Ketika Orang Jerman Dibuat Kagum Orang Indonesia
Ketika memulai tugasnya sebagai perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken di Indonesia pada akhir 1963, Horst Henry Geerken kaget lantaran menemukan banyak hal baru. Udara panas dan bau rokok kretek di hampir tiap tempat yang disinggahinya amat mengganggunya. Namun, hal yang paling sulit dipahaminya adalah kebiasaan “ngaret”, istilah untuk menamakan sikap tidak tepat waktu, orang Indonesia. Bukan perkara mudah baginya untuk bisa menyesuaikan diri dengan kultur tersebut. “Di mata saya, jam karet melambangkan ketidakpedulian terbesar sehingga pada awalnya, saya sulit mengerti karakter orang Indonesia yang satu ini. Jam karet adalah idealisme orang Indonesia. Bagi kami, hal ini membuat pekerjaan jauh lebih sulit dan makan waktu. Salah satu aspek positifnya adalah kelenturan di mana beberapa masalah dapat diatasi dengan lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain,” ujarnya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . Namun, Geerken akhirnya bisa beradaptasi dan mengatasi semua kendala itu. Dari 18 tahun masa tinggalnya di Indonesia untuk mengerjakan beragam proyek pemerintah Indonesia, Geerken berubah menjadi pengagum Indonesia. Dia kagum pada kekayaan alam Indonesia, pada tradisi-budayanya yang amat beragam, dan senang pada orang Indonesia yang umumnya ramah, sopan, setia, dan berselera humor tinggi. “Di mana-mana di negara kepulauan ini, baik di kota besar maupun kota kecil, kita selalu berjumpa dengan orang-orang yang selalu punya bahan tertawaan. Sulit mencari orang Indonesia yang tidak punya selera humor,” ujarnya. Humor berkesan didapatnya ketika berkenalan dengan Ir. Gunung Marpaung, kepala penerbangan sipil di Jakarta, saat mengerjakan proyek bandara internasional Tuban (kini Bandara Internasional Ngurah Rai) di Bali pada awal 1964. Pria berdarah Batak itu memperkenalkan dirinya berdarah Jerman meski berkulit gelap dan postur tubuhnya seperti orang Melayu kebanyakan. Pernyataan itu mengejutkan Geerken yang jelas tak paham arah omongan Marpaung sebagai banyolan “gaya Medan”. Dia baru paham ketika Marpaung menjelaskan lebih lanjut. “Kakek saya makan misionaris Jerman,” kata Marpaung, dikutip Geerken. Kesan baik yang didapat Geerken juga datang dari tingginya penguasaan orang-orang Indonesia pada pekerjaan dan kreativitasnya. Itu antara lain dilihatnya dari seorang pembantu di rumahnya yang bertugas sebagai koki. Meski tak pernah membaca resep, pembantu itu hapal begitu banyak cara memproses masakan dan cepat menguasai ketika diajarkan menu baru. Kemampuan para dukun mengobati juga amat mengagumkan Geerken, yang antara lain didapatnya dari cerita seorang dokter di Kedubes Jerman yang mengalami kecelakaan mobil. Luka-luka sang dokter sembuh begitu diobati seorang dukun atas saran kawannya yang Indonesia. “Setelah pulang, dokter itu bercerita panjang lebar tentang pengobatan ajaib ini. Luka itu tak kelihatan lagi 24 jam kemudian. Dia bisa meneruskan perjalanannya tanpa kesulitan. Katanya, hal ini mustahil dengan pengobatan Barat yang ortodoks,” ujar Geerken. Kreativitas orang Indonesia amat dikagumi Geerken. Yang paling berkesan adalah ketika dia bersama Sudjono, supir Geerken, ke Bali menggunakan mobil. Di tengah perjalanan, tangki mobil mereka bocor setelah menghantam batu besar. Alih-alih bingung, Sudjono bersikap tenang sambil berkata “tidak apa-apa” dan turun dari mobil. Sudjono lalu mengambil sebuah pisang dari pohon yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Pisang tersebut lalu diremasnya berbarengan dengan sepotong sabun sehingga bentuknya berubah menjadi seperti permen karet. Adonan itulah yang digunakan Sudjono untuk menambal tangki bahan bakar mobil. Hasilnya, ajaib, tangki tak bocor lagi bukan hanya bertahan sampai bengkel terdekat namun hingga mencapai Bali dan kembali lagi ke Jakarta. “Orang Indonesia memang genius dalam soal improvisasi. Saya terus saja terkaget-kaget dengan keahlian dan kemampuan mereka mengatasi masalah yang paling sulit dengan cara yang paling sederhana,” kata Geerken.
- Romantika Cinta Gus Dur dan Nuriyah
Sejak remaja Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak pernah lepas dari buku. Dari sekian waktu yang dijalani, dia lebih memilih menghabiskan untuk membaca. Itulah yang membuat Gus Dur, meski sudah berusia 20-an, belum pernah berkencan, apalagi mempunyai pacar. Fokusnya teralihkan oleh alam pikir yang liar, hasil kebebasan membaca beragam buku. Ditambah dia pun "menggilai" sepakbola dan film. Gus Dur dikenal sebagai pria serius, tapi pemalu. Melihat sifatnya itu, K.H. Fatah, paman Gus Dur merasa khawatir. Apalagi keponakannya itu telah mendapat tawaran kuliah di Kairo, Mesir. Makin jauh saja dia dengan romantika percintaan yang seharusnya dirasakan oleh remaja seusianya. Sang paman menganjurkan agar Gus Dur mencari istri terlebih dahulu sebelum berangkat ke Kairo. “Soalnya, kalau menunggu pulang dari luar negeri, kamu hanya akan mendapat wanita tua dan cerewet,” ujar K.H. Fatah kepada Gus Dur seperti ditulis M. Hamid dalam Gus Gerr: Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa . Gus Dur cukup tertegun dengan ucapan sang paman. Rupanya dia juga khawatir jika perkataan itu menjadi kenyataan. Untungnya K.H. Fatah tidak cuma memberi saran saja. Sejak awal dia memang berniat mencarikan calon buat keponakannya. Lalu disodorkan putri seorang pedagang terkenal di Jombang, H. Abdullah Syukur, bernama Sinta Nuriyah. Gus Dur tidak menolak. Sayangnya, Nuriyah tidak langsung menerima Gus Dur. Ada keraguan dalam diri si gadis tentang calon pendamping hidupnya itu. Gus Dur pun mau tidak mau terbang ke Kairo masih dengan status lajangannya. Kepada Greg Barton, Gus Dur mengenang jika selama menghabiskan tahun-tahun di Kairo dia terus berkorespondensi dengan Nuriyah. Surat yang datang secara teratur membuktikan bahwa Gus Dur tidak benar-benar ditolak. Dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , Barton menyebut kalau keduanya mulai yakin satu sama lain menjelang tahun 1966. Bahkan demi meyakinkan dirinya, Nuriyah sempat pergi ke “tukang ramal”. Dia ingin memastikan jika pemuda yang dipilihnya itu benar-benar tepat untuknya. “Jangan mencari-cari lagi. Yang sekarang ini akan menjadi teman hidup Anda,” ujar Nuriyah, menirukan perkataan si “tukang ramal”, kepada Barton. Meski begitu, Nuriyah masih belum sepenuhnya yakin. Gus Dur sebenarnya bukanlah satu-satunya pemuda yang tertarik kepadanya. Banyak pemuda lain yang menaruh hati dan bahkan berusaha meminangnya. Tetapi pribadi yang halus, serta pikiran yang tajam, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya, menjadi Gus Dur memiliki nilai lebih di mata Nuriyah. Dan dia menyukai sisi Gus Dur tersebut. Pertengahan tahun 1966, seperti biasa Gus Dur mengirimi Nuriyah sepucuk surat. Namun isi surat kali ini amat berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Gus Dur mencurahkan segenap perasaan sedih karena kegagalan studinya di Mesir. Mengungkapkan rasa putus asa, dan segala hal yang telah dialaminya di negeri itu. “Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tetapi paling tidak Anda berhasil dalam kisah cinta,” kata Nuriyah. Surat balasan Nuriyah menjadi obat bagi Gus Dur. Kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan. Tanpa menunggu Gus Dur segera menulis surat kepada ibunya di Jombang untuk meminang Nuriyah. Pernikahan Unik Tahun 1968, Nuriyah diterima di Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sebelum memulai studi dan mondok di Kota Pelajar itu, orang tua Nuriyah memutuskan agar putrinya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu dengan Gus Dur. Namun ada sedikit kendala. Gus Dur saat itu belum pulang ke tanah air. Dia baru setengah jalan menempuh studi di Baghdad, Irak. Setelah berembuk, permasalahan jarak itu akhirnya dapat dipecahkan. Kedua keluarga pun sepakat melangsungkan pernikahan bulan September (sumber lain menyebut Juli) tahun itu juga. Lalu bagaimana dengan Gus Dur yang terpaut jarak lebih dari 12.000 kilometer dari Indonesia? Di sinilah keunikan pernikahannya. “Pemecahan masalah ini malah menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak bagi mereka yang tidak tahu apa rencana ini sebenarnya,” ungkap Barton. Gus Dur tidak bisa meninggalkan studinya. Dia juga tidak bisa seenaknya pulang ke tanah air. Sebab tidak bisa hadir langsung sebagai mempelai pria, sosok Gus Dur diwakilkan oleh Kiai Bisri Syansuri, kakeknya. Para tamu mendadak heboh ketika melihat seorang kiai berusia 80 tahun bersanding di pelaminan dengan seorang pengantin perempuan belia. “Walaupun secara teknis Gus Dur dan Nuriyah telah menikah, mereka menganggap pernikahan itu tak lebih daripada sekedar pertunangan. Mereka sepakat bahwa mereka akan hidup bersama hanya setelah keduanya menyelesaikan studi mereka masing-masing,” lanjut Barton. Pada 1971, setelah gagal melanjutkan studi di Eropa, Gus Dur pulang ke Jawa. Pasangan yang selama tiga tahun terakhir menjalani hubungan jarak jauh itu pun akhirnya bertemu. September 1971 mereka mengadakan resepsi pernikahan dan memulai hidup berumah tangga. Nuriyah pun kerap menemani Gus Dur dalam banyak kegiatan, seperti berkunjung secara teratur ke Jombang.
- Ekspedisi Awal ke Pedalaman Papua
Potensi alam Indonesia memang tak ada habisnya. Dengan luas daratan hampir 2 juta km² dan lautan lebih dari 3 juta km², ditambah keberadaan 17 ribu pulau, masih banyak tempat di Indonesia yang tidak terdokumentasi dengan baik. Bahkan di Papua, sebagai pulau terbesar di Indonesia, para peneliti kerap menemukan jenis flora-fauna baru. Artinya potensi alam di tanah Papua sangat terbuka untuk dieksplorasi. Ahmad Yunus dalam Meraba Indonesia: Ekspedisi Gila Keliling Nusantara , mencatat bahwa ekspedisi alam di tanah Papua dilakukan sejak abad ke-19. Saat itu eksplorasi dilakukan oleh tiga bangsa Eropa: Belanda, Inggris, dan Jerman. Belanda lebih banyak menjelajah wilayah sebelah barat sekitar tahun 1848; Jerman menguasai daratan sebelah utara; sementara Inggris di sebelah selatan. Kepentingan Belanda lebih politis ketimbang dua negara lain. Sebagai pemilik Hindia Belanda, aparat Raja Willem II itu melakukan ekspedisi di Papua demi kepentingan kerajaannya. Selama pertengahan abad ke-19, Belanda mengumpulkan banyak informasi terkait kondisi alam di pulau terbesar ke-2 di dunia tersebut. Pada masa itu juga naturalis besar Inggris, Alfred Russel Wallace, berhasil menjelajahi sebagian hutan Papua. Dia meneliti berbagai jenis burung, kupu-kupu, dan hewan lain sepanjang Juni-September 1860. “Sekitar seminggu saya pergi ke gunung mengumpulkan sampel, dan kembali untuk mempersiapkan perjalanan ke Papua. Saya pikir saya akan tinggal di tempat ini dua atau tiga tahun, karena ini adalah pusat dari daerah yang paling menarik dan hampir tidak dikenal,” tulis Wallace dalam Alfred Russel Wallace: Letters and Reminiscence Vol 1 . Pada 1909, tim ekspedisi dari Inggris memasuki wilayah selatan Carstenz. Menurut Anton Sujarwo dalam Wajah Maut Mountaineering Indonesia: Jejak Pendakian Gunung Nusantara , daerah yang dimasuki para ahli burung itu dipenuhi oleh rawa-rawa mematikan. Selama ekspedisi, setidaknya ada 16 orang anggota yang tewas dan lebih banyak yang jatuh sakit. Ekspedisi itu pun dianggap sebagai kegagalan. Pada 1912, Inggris kembali mengirim tim penjelajah, beranggotakan 200 orang lebih. “Tidak ada catatan terperinci mengenai sejauh mana keberhasilan ekspedisi ini mendaki Puncak Carstenz, namun yang jelas tiga orang anggota ekspedisi tewas dalam perjalanan ini,” terang Anton. Sekira tahun 1930-an, giliran Amerika Serikat yang mengirim ekspedisi besar ke tanah Papua. Penjelajahan para naturalis Negeri Paman Sam itu, kata Yunus, merupakan bagian dari penelitian ekologi mendalam yang dilakukan tim American Museum of Natural History, New York untuk mengungkap kekayaan flora-fauna di Papua, melengkapi laporan perjalanan para petualang Eropa sejak abad ke-19. “Mereka melakukan peneltian hingga Pegunungan Jayawijaya. Dari lembaga inilah kemudian lahir para peneliti yang ulung tentang burung-burung Papua di dunia,” terangnya. Dijelaskan Bruce Beehler, dkk dalam Ekologi Papua , perjalanan para ilmuwan AS itu dibiayai penuh oleh pewaris Standard Oil, Richard Archbold. Ekspedisinya pun dikenal sebagai Ekspedisi Archbold. Dia diketahui menaruh minat cukup besar terhadap bidang ekosistem dan flora-fauna. Sebagai seorang pakar mamalia, Richard memimpin langsung ekplorasi, yang disebut-sebut sebagai terbesar, di tanah Papua. AS melakukan tiga kali ekspedisi besar: Ekspedisi Archbold I (Maret 1933- Maret 1934), Ekspedisi Archbold II (Februari 1936- Maret 1937), dan Ekspedisi Archbold III (April 1938- Mei 1939). Tujuannya adalah meliput transek berdasarkan ketinggian di berbagai wilayah berbeda. Richard membawa serta kolektor dan ilmuwan berpengalaman yang ahli di bidang eksplorasi alam. Tim Archbold mencoba memetakan kondisi alam, serta keberadaan flora-fauna di Papua. Pada Ekspedisi Archbold III, tim AS bekerja sama dengan Belanda. Mereka mengirim pakar zoologi, pakar kehutanan dan botani, serta pakar entomologi. Ekspedisi Archbold III fokus menjelajah jajaran Pegunungan Nassau, mulai dari dataran tingi yang saat ini disebut sebagai Gunung Trikora sampai ke Dataran Plain. Sebagian besar rute perjalanan dilalui dengan pesawat amfibi baru, di samping perahu dan jalan darat. “Ekspedisi ini mencerminkan kebanggaan Belanda dan juga kondisi ekonomi yang membaik di Hindia Belanda,” tulis Beehler, dkk. Banyak hal ditemukan Richard dan tim dalam ekspedisi ketiganya itu. Satu di antaranya sebuah lembah yang dikelilingi pegunungan tinggi, yang oleh tim Richard dinamai “Grand Valley” atau “Lembah Baliem” dalam bahasa setempat. Dataran itu dihuni oleh suku Dani, penduduk asli Papua. Dicatat oleh Beehler, para penjelajah yang datang ke lembah Baliem pernah mengadakan kontak dengan orang-orang Dani. Ekspedisi alam di tanah Papua terus berlanjut setelah berakhirnya tiga ekspedisi Archbold. Mayoritas dipelopori oleh Kerajaan Belanda. Meski sempat berhenti akibat pecahnya perang, dan situasi kemerdekaan di Indonesia, beberapa eksepdisi masih tetap dilakukan setelah 1950-an. Bahkan misionaris dari Eropa sempat tinggal di pedalaman Papua untuk misi agama, sekaligus eksplorasi alam.
- Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI
Ketika mengunjungi pamannya, Bung Hatta, pada awal 1958, Hasjim Ning mendapat reaksi tak biasa dari Bung Hatta yang berpembawaan tenang. Bung Hatta naik pitam karena diberitahu bahwa Kolonel Ahmad Husein ingin memberontak. “Apa A. Husein sudah gila, mau berontak? Apa ia tidak tahu bahwa anak buahnya yang sudah rata-rata berusia 30 tahun itu tidak lagi seampuh pada waktu berusia 20 tahun? Apalagi mereka itu sudah berkeluarga semua,” kata Bung Hatta, dikutip Hasjim dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Apa yang dilakukan Husein merupakan respon lebih lanjut para perwira daerah terhadap jawaban yang diberikan pemerintah pusat tentang permintaan otonomi lebih luas dan pengembalian dwitunggal Sukarno-Hatta. “Pada tanggal 10 Februari 1958 mereka mengeluarkan sebuah ultimatum dari Padang yang menuntut supaya kabinet Djuanda mengundurkan diri dalam tempo lima hari, dan supaya dibentuk kabinet baru oleh Hatta dan Sultan Yogya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka akan membentuk pemerintah tandingan di Sumatera,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Tuntutan itu dijawab PM Djuanda-KSAD Nasution dengan memecat para perwira daerah yang membangkang. “Sikap yang diambil pemerintah pusat itu memaksa kaum pembangkang untuk melaksanakan ancaman mereka. Pada tanggal 15 Februari di Padang dibentuk Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri,” sambung Sundhaussen. Rumitnya masalah dan cara penanganan yang mesti diambil itulah isi obrolan Bung Hatta dan Hasjim. Di tengah obrolan itulah Hasjim dipanggil Presiden Sukarno untuk makan malam di Istana Bogor. Hasjim lalu diberi tugas. “Hasjim, temui Husein ke Padang. Katakan kepadanya bahwa aku mau bicara dengan dia di sini. Aku jamin tidak akan terjadi apa-apa atas dirinya. Takkan seorang pun yang boleh dan berani melakukan penangkapan atasnya. Karena dia adalah anakku. Katakan juga kepadanya, kalau pemerintah dan angkatan perang bertekad melakukan tindakan militer, akan sulit bagiku untuk mencegahnya. Ini suatu dilema bagiku. Katakan begitu,” kata Presiden Sukarno memberi perintah sebagaimana dikutip Hasjim. Hasjim tak bisa menolaknya meski tugas itu amat berat. Meski yang akan ditemuinya sesama orang Minang dan dia punya reputasi bagus di sana sekaligus dikenal sebagai keponakan Bung Hatta, Hasjim masih dibayangi kegagalan tugas serupa sebelumnya. Terlebih, utusan-utusan yang berulangkali dikirim Jakarta untuk bernegosiasi dengan A. Husein selalu gagal. Eni Karim, utusan resmi pemerintah pusat; Mr. Hardi, utusan PM Djuanda; Bachtar Lubis, kawan Hasjim yang diutus KSAD Nasution; Mr. Nazir Pamontjak; dan Mr. Zairin Zain merupakan sederet utusan Jakarta yang gagal itu. Maka sebelum berangkat ke Padang, Hasjim kembali menemui Bung Hatta untuk meminta petunjuk. Penjelasan Bung Hatta justru membuat nyalinya ciut. “Aku katakan, Hasjim tidak akan berhasil, karena Husein sedang merasa dirinya di atas angin. Ia pikir rakyat Sumatera Barat mendukungnya. Sebenarnya tidak. Rakyat Sumatera Barat menghendaki daerah otonomi yang lebih luas. Kalau Sukarno mau membicarakan otonomi itu, Husein tidak berarti apa-apa lagi. Karena ia memang tidak berarti apa-apa bagi rakyat,” kata Bung Hatta. Kendati mengkritik cara penyelesaian Sukarno, Hatta tetap menyalahkan Husein. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti penyelesaian politik, bukan militer,” sambung Hatta. Hatta sendiri sudah berupaya ikut menyelesaikan persoalan itu dengan mengutus Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil. Keduanya gagal. “Namun,” sambung Bung Hatta, “tidak ada salahnya kalau Hasjim mencoba. Hasjim harus tahu, aku orang partikelir. Beda dengan Sukarno, yang mengutus Hasjim. Karena ia presiden. Kalau Hasjim gagal, A. Husein telah betul-betul menentang pemerintah menurut konstitusi.” Hasjim akhirnya berangkat ke Padang. Di Bandara Kemyoran, dia ketemu Direktur BI Mr. Lukman Hakim. Hasjim dititipi pesan untuk Sjafruddin Prawiranegara yang jabatan resminya presiden Bank Indonesia. “Bung Hasjim, temui Pak Sjafruddin. Katakan kepada beliau, pergilah ke mana saja dalam rangka cuti atas tanggungan Bank Indonesia,” kata Lukman pada Hasjim. Tiba di Padang, Hasjim langsung mencoba menemui Husein namun gagal. Kata orang-orang yang ditemuinya, Husein berada di Bukittinggi. Maka Hasjim langsung menemui Wowo, perwakilan dari Djakarta Motor Company, perusahaan otomotif milik Hasjim, untuk diantar ke Bukittinggi. Hasjim dan Wowo berangkat selepas magrib diantar seorang driver . Dalam keadaan hujan lebat di daerah menjelang Kayutanam, Wowo menghentikan bus dari lawan arah untuk menanyai keberadaan Husein. “Sopir mengulangi pertanyaan itu kepada penumpang. Aku mendengar penumpang berteriak mengatakan bahwa A. Husein tidak ada di Bukittinggi,” kata Hasjim mengisahkan kelakuan supirnya. “Aku sudah mulai curiga pada Wowo. Dahulu ia seorang perwira, kini ia seorang pengusaha. Kok ia menanyakan A. Husein kepada orang banyak. Seolah-olah ia tidak memahami sekuriti militer lagi.” Kecurigaan Hasjim bertambah ketika tiba-tiba mobil yang ditumpanginya mogok dalam perjalanan setelahnya. Hasjim menganggap janggal tindakan Wowo yang, sebagai orang paham mesin, langsung mengatakan perjalanan tak bisa dilanjutkan alih-alih mengecek mesin mobil terlebih dulu. Lantaran dongkol, Hasjim menyerahkan perjalanan selanjutnya kepada Wowo yang kemudian memilih putar arah ke Padang. Setelah keduanya basah kuyup mendorong mobil agar mengarah ke Padang, perjalanan dilanjutkan dengan mobil bergerak di jalan menurun dalam kondisi mesin mati. Atas perintah Hasjim, supir memasukkan persneling ke gigi empat dan mesin pun hidup. Namun, mesin mobil hanya hidup sampai Lubuk Buaya. Kali ini, mobil mogok karena kehabisan bensin. “Aku bertambah dongkol. Masa untuk perjalanan jauh, Wowo tidak menyuruh tangki mobilnya diisi penuh,” kata Hasjim. Hasjim dan Wowo akhirnya menyewa bendi untuk mencapai Padang. Mobil dan supir mereka tinggalkan di tempat. Setelah itu Hasjim tak pernah mau ditemui Wowo meski Wowo dua kali berupaya menemuinya dengan mendatangi hotel. Hasjim berpaling kepada Ketua IPKI –partai politik yang Hasjim ikut dirikan bersama AH Nasution– Padang Mustafa Kamal untuk upayanya menemui Husein. Namun alih-alih membantu, Mustafa justru menasihati Hasjim. “Percuma saja menemui A. Husein. Bung bisa ditangkap dan dikenai tahanan rumah seperti Bujung Djalil yang diutus Bung Hatta baru-baru ini,” kata Mustafa, dikutip Hasjim. Atas saran Mustafa agar segera kembali ke Jakarta sebelum hari ultimatum Husein tiba, Hasjim akhirnya kembali ke Jakarta tanpa bisa menemui Husein. Sempat tanpa sengaja bertemu Sjafruddin Prawiranegara dan menyampaikan pesan dari Lukman Hakim, Hasjim menumpang pesawat Garuda Indonesia untuk kembali esoknya. “Aku pikir, nasihatnya itu benar juga. Ternyata, pada hari keberangkatanku itu A. Husein dan kawan-kawannya mengumumkan pembentukan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Jadi, aku benar-benar berangkat dengan pesawat terakhir,” kata Hasjim yang akhirnya membenarkan prediksi Bung Hatta sebelum berangkat.
- Sulitnya Menghadapi Wabah
KASUS penularan virus korona di Indonesia terus naik. Per Juli 2020, jumlah kasus di Indonesia sudah melampaui China. Syahrizal Syarif, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menilai tingginya kasus baru dikarenakan pemerintah tidak serius dalam menangani wabah dengan melonggarkan pembatasan wilayah di saat kondisi belum terkendali. "Harus ada langkah ekstrem dan berani dalam situasi yang sangat longgar saat ini," kata Syahrizal seperti dikabarkan Tempo . Syahrizal juga menilai pemerintah menganggap enteng pandemi yang seolah akan berakhir seiring waktu. Saran dari para ahli kesehatan dan wabah seperti karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan, pemeriksaan, dan pelacakan tidak dijalankan secara serius. Sikap pemerintah tersebut juga menyebabkan kelengahan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan covid. Beberapa bahkan mengaggap pandemi ini bukanlah situasi genting atau tidak separah yang diberitakan. Kondisi serupa juga terjadi dalam sejarah wabah yang terjadi di Indonesia. Kala wabah tifus menyerang Jawa, pemerintah kolonial tidak sepenuhnya mendengarkan saran dari ahli kesehatan. Gubernur Jenderal J.J. Rochussen mulanya meminta nasihat Kepala Dinas Kesehatan Koloni dokter Willem Bosch, 1847. Pada 13 April 1847, giliran Sekretaris Jenderal C. Visscher meminta Bosch memberi usulan langkah kesehatan yang bisa diambil pemerintah kolonial untuk menangani wabah. Bosch meresponnya dengan melakukan riset kesehatan tentang penyebab wabah. Bosch menemukan: wabah terjadi karena penduduk kurang gizi setelah gagal panen, musim yang tidak menguntungkan, akomodasi buruk, pakaian tidak memadai, dan makanan tidak mencukupi. Ia juga menekankan penduduk membutuhkan bantuan segera agar tak makin banyak korban. Bosch mengusulkan pemerintah memberi bantuan dana, pembagian selimut, karantina wilayah, dan penyediaan obat dan layanan kesehatan. Usulan Bosch pada 25 April 1847 diteruskan Gubernur Jenderal Rochussen kepada Menteri Koloni JC Baud. Namun dalam memonya, Rochussen berkomentar sinis pada usulan Bosch. Rochussen menilai usulan Bosch sebagai sebuah pemborosan besar-besaran. Rochussen menganggap enteng masalah wabah itu dan meyakini Bosch hanya melebih-lebihkan kondisi yang ada. “Saya ingin percaya bahwa epidemi memang terjadi dengan banyak nyawa hilang, tetapi saya tidak percaya bahwa wabah ini seburuk yang dikatakan orang,” kata Rochussen seperti ditulis Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market. Liesbeth mencatat, beberapa bupati menjalankan saran Bosch meski Rochussen berkomentar negatif. Sementara kala wabah pes menyerang Jawa, kenaifan penduduk tidak hanya berakibat pada rendahnya kepatuhan pada aturan karantina tetapi juga sempat memicu konflik dengan petugas medis. Dalam tesisnya “Dukun dan Mantri Pes”, Martina Safitry menceritakan kala wabah pes melanda pada awal abad ke-20, tiap desa terjangkit dijaga dua-tiga petugas atau polisi desa saat penduduk diungsikan ke barak karantina. Namun, penduduk sering kucing-kucingan dengan menyelinap keluar kamp karantina pada sore hari. Mereka menjaga rumah masing-masing pada malam hari agar tak kemalingan. Paginya, penduduk kembali ke kamp karantina. Penolakan juga terjadi kala petugas kesehatan hendak mendeteksi penyebab kematian penduduk. Biasanya aktivitas itu dilakukan dengan pengambilan jaringan limfa pada jasad korban oleh mantri. Jaringan limfa kemudian diteliti untuk menentukan penyebab kematian, pes atau bukan. Namun, ketidaktahuan warga seringkali menyulitkan mantri yang bertugas. Mereka menolak prosedur tersebut dan mengusir petugas kesehatan, bahkan melemparinya dengan batu. Menurut Liesbeth, petugas disinfektan bahkan ada yang dibunuh oleh warga. Mereka mengira petugas tersebut dikirim pemerintah kolonial untuk memasang sihir. Proses disinfektasi demi mencegah wabah dikira mereka sebagai ritual ilmu hitam untuk mencelakai desa. Keawaman penduduk terhadap layanan medis juga dijumpai dalam pencacaran di abad ke-19. Sebagaimana diceritakan Baha’Udin dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa” yang dimuat jurnal Humaniora Oktober 2006, para orang tua di Madiun enggan mencacarkan anaknya pada 1831. Kabar burung yang tersebar menyatakan bahwa vaksinasi hanya akal bulus residen yang ingin menjadikan anak-anak kampung sebagai makanan untuk buaya peliharaannya. Beredarnya kabar ini membuat para ibu langsung melarikan anak mereka dengan bersembunyi ke hutan. Penolakan vaksin juga terjadi di Pulau Bawean. Seluruh penduduk tidak mau menerima vaksin karena tidak disetujui ulama. Namun ada pula alasan penolakan layanan kesehatan yang bisa diterima akal. Beberapa warga meragukan efektivitas vaksin karena ada anak yang tetap tertular cacar meski sudah divaksin. Mereka tidak tahu di masa itu vaksin rentan rusak bila terpapar panas dan tidak segera digunakan. Maka meski para ilmuwan dan ahli kesehatan terus berupaya memperbarui vaksin dan memberikan layanan kesehatan, penolakan tetap hadir di depan mata.





















