top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Aksi Brutal KNIL di Enrekang

    HARI-hari ini Ricky Lambogo merasa senang sekaligus getir. Terhadap keputusan Pengadilan Sipil Den Haag pada 30 September 2020 yang mewajibkan Pemerintah Kerajaan Belanda untuk minta maaf kepada ayahnya Malik Abubakar (78), dia merasa bersyukur. "Sebagai manusia tentunya kami akan memaafkan," ungkap salah satu cucu tokoh pejuang Sulawesi Selatan, Kapten Andi Abubakar Lambogo itu. Namun, pembayaran ganti rugi sebesar  €874.80 (sekira Rp15.000.000)  yang mengiringi permohonan maaf itu sungguh membuat Ricky merasa getir sekaligus bertanya-tanya. Pikirnya, bagaimana bisa kematian tragis sang kakek di tangan militer Belanda pada 1947 dihargai dengan uang sejumlah tersebut. "Saya sempat berpikir, apakah ini dalam rangka menghina atau apa?" ujarnya. Ricky memang layak geram. Dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) di Sulawesi Selatan, Andi Abubakar Lambogo bukanlah nama sembarangan. Dalam suatu wawancara yang pernah saya lakukan pada 2013, tokoh pejuang kemerdekaan Sulawesi Selatan H. Maulwi Saelan menyebut kawan seperjuangannya tersebut sebagai seorang patriot. "Kematiannya memang mengenaskan, tapi itulah salah satu risiko yang harus dihadapi seorang patriot. Saya rasa Kapten Abubakar sudah memperhitungkan semuanya," ujar eks pengawal Presiden Sukarno itu. Kematian Kapten Abubakar berawal dari adanya rencana Wakil Kepala Staf Divisi Hasanuddin Mayor M. Saleh Lahade dan Komandan Seksi IV Kapten Andi Odang untuk meresmikan Resimen III Divisi Hasanuddin di Palopo. Diputuskan kedua pemimpin itu akan dikawal oleh Batalyon I Resimen I yang dipimpin oleh Kapten Andi Abubakar Lambogo. "Kapten Abubakar saat itu bertugas di Enrekang," ungkap Andi Sapada dalam Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan Jilid IV yang disusun oleh Markas Besar LVRI. Dalam perjalanan melalui jalur Masseurengpulu-Tana Toraja-Palopo, rombongan Lahade kerap bersirobok dengan grup-grup patroli pasukan KNIL. Tak jarang pertemuan itu menimbulkan bentrok yang sengit antar kedua pihak. Namun untunglah, pada akhirnya rombongan Lahade bisa sampai dengan selamat di Palopo. Pada 12 Maret 1947, rombongan Lahade berjumpa dengan rombongan Andi Selle Mattola, pejuang Republik dari Suppa. Selle kemudian mengajak Lahade untuk menuju basisnya di Suppa. Menurut Jupri dalam "Abu Bakar Lambogo dalam Perjuangan Rakyat Enrekang, 1945-1947" tesis pascasarjana di Pendidikan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Makassar (UNM), Lahade mengiyakan ajakan Selle. Namun karena tetiba sakit, Kapten Abubakar meminta izin untuk tidak ikut dan memilih bertahan sementara di Maiwa bersama pasukannya. Kesaksian Nawa (salah seorang eks anak buah Kapten Abubakar yang sempat diwawancari Jupri pada 10 November 2018), rombongan Abubakar lantas bermalam di Salu Wajo. Tanpa disadari oleh mereka, satu unit pasukan KNIL sudah menguntit pergerakan Abubakar dan anak buahnya sejak dari Maiwa. Kamis subuh, 13 Maret 1947, saat Abubakar dan beberapa anak buahnya tengah mandi, secara mendadak pasukan KNIL melakukan serangan. "Pasukan tidak sempat melakukan perlawanan dan terpencar kemana-mana," ungkap Nawa seperti dikutip Jupri dalam tesisnya. Akibat serbuan mendadak itu, banyak anggota Batalyon I Resimen I gugur dan tertangkap. Setelah ditelanjangi, mereka kemudian digiring ke pos KNIL di Enrekang dan diikat di tiang listrik selama sehari semalam sambil disiksa secara brutal tiada henti. Kapten Abubakar sendiri tertembak di paha dalam insiden itu. Dalam keadaan terluka dia kemudian dibawa ke markas besar KNIL di Enrekang bersama salah satu anak buahnya. Keesokan harinya, para prajurit Batalyon I yang ditahan di pos KNIL kemudian diangkut ke markas besar KNIL Enrekang. Para prajurit KNIL mengatakan bahwa mereka akan dipertemukan dengan komandannya di sana. Alangkah geram dan sedihnya para prajurit Batalyon I ketika sampai di Enrekang, mereka hanya menemukan kepala Kapten Abubakar yang sudah terpenggal dan terpajang di atas sebilah bayonet pada sepucuk senjata api tepat di pintu gerbang Pasar Enrekang. Tidak cukup itu, mereka kemudian dipaksa satu persatu untuk mencium potongan kepala tersebut. Saelan sangat mafhum upaya itu dilakukan oleh militer Belanda untuk melemahkan perlawanan para pemuda. Namun, dia mengecam aksi KNIL tersebut sebagai aksi brutal yang tidak bisa dibenarkan secara kemanusiaan. Menurut Saelan, seharusnya pihak militer Belanda minimal memperlakukan seorang pemimpin pasukan musuh secara manusiawi, alih-alih mengobati luka-lukanya. Apa yang menyebabkan pasukan KNIL di Enrekang bersikap begitu brutal? Bisa jadi itu terkait dengan peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Menurut Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia , selama September 1946, para pejuang gerilya Sulawesi Selatan melakukan aksi pembersihan besar-besaran terhadap sekira 1.000 orang pribumi yang bekerja sama dengan pihak Belanda atau dianggap pro-Belanda. "Pembunuhan itu, yang menunjukkan kemiripan dengan kasus Bersiap di Jawa, sampai betul-betul kelewatan, bahkan perempuan dan anak-anak yang diduga sebagai 'kolaborator' juga tidak selamat," ungkap Limpach. Catatan-catatan intelijen Belanda juga mengungkap praktik-praktik brutal tersebut. Seorang perwira KNIL bernama G.J. Horsthuis menyebut cara pembunuhan dilakukan seperti menyembelih seekor kerbau: menekan korban di tanah dan memotong lehernya dengan badik. Menurut Limpach, metode ekstrem dari kelompok-kelompok milisi itu membangkitkan kesan mendalam pada orang-orang Belanda bahwa mereka tengah berhadapan dengan teror berskala luas.*

  • Kakek Donald Trump Korban Pandemi

    SEPERTI halnya di Indonesia, gejolak pandemi COVID-19 (virus corona) masih meningkat di Amerika Serikat. Menukil data WHO , per Minggu (4/10/2020), kasus positif sudah mencapai lebih dari 7,2 juta jiwa dengan 207 ribu di antaranya menginggal. Presiden Donald Trump turut masuk di daftar nama yang terjangkit. Trump dan istrinya, Melania Trump, dilaporkan positif COVID-19 pada Jumat, 2 Oktober, dua hari setelah melakoni debat Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika di Cleveland, Ohio. Kini, Trump masih menjalani perawatan dan karantina di fasilitas kesehatan militer, Walter Reed Army Medical Center, Washington DC. “Para dokter, perawat dan semua yang bertugas di Walter Reed Medical Center yang hebat dan orang-orang dari institusi-institusi lain yang bergabung, merupakan orang-orang yang luar biasa!!! Progres yang menakjubkan telah dilakukan selama enam bulan terakhir memerangi wabah ini. Dengan pertolongan mereka, saya merasakan kondisi yang baik!” kicau Trump di akun Twitter -nya @realDonaldTrump, Minggu (4/10/2020). Presiden Amerika Donald John Trump dan ibu negara, Melania Trump dilaporkan positif Covid-19. (Twitter @FLOTUS). Benarkah Trump dan ibu negara bakal baik-baik saja, seperti kicauan akun resminya di atas? Pasalnya dokter Sean Conley dari tim kesehatan Gedung Putih menyatakan Trump masih harus melewati masa kritis perkembangan virus SARS-CoV-2 di tubuhnya. “Saya mulai merasa optimis. Namun Anda takkan tahu apa yang akan terjadi dalam periode dua hari ke depan. Masa-masa itu akan jadi ujian sesungguhnya. Jadi kita lihat saja dua hari lagi untuk memastikannya,” tutur dokter Conley, disitat ABC News , Minggu (4/10/2020). Banyak warga Amerika, terutama para pendukung Partai Republik, berharap dan mendoakan Trump. Tentu akan jadi kehilangan yang besar jika Trump bernasib sama seperti kakeknya, Frederick Trump, 102 tahun silam yang tutup usia di tengah-tengah pandemi Flu Spanyol yang merajalela di Amerika Serikat. Kakek Trump Imigran Jerman Lahir dengan nama Friedrich Trump di Kallstadt, Bavaria, Jerman pada 14 Maret 1869, kakek Trump merupakan anak pasangan Christian Johannes Trump dan Katharina Kober. Mereka berasal dari minoritas Protestan di antara mayoritas Katolik di Bavaria. Demikian versi Gwenda Blair dalam The Trumps: Three Generations That Built an Empire. Namun versi Frederick Christ Trump Sr., putra Friedrich sekaligus ayah Donald Trump, lain lagi. Menurutnya, nenek moyang Trump berasal dari Karlstad, Swedia, bukan Kallstadt, Jerman. Klaim ini ditegaskan oleh Donald Trump sendiri lewat otobiografinya yang dituliskan bersama Tony Schwartz, The Art of the Deal . “Fred Trump lahir di New Jersey tahun 1905. Ayahnya yang datang ke sini (Amerika) dari Swedia sejak kecil, memiliki sebuah restoran yang lumayan sukses, namun dia juga seorang peminum berat, dan dia meninggal saat ayah saya berusia 11 tahun,” aku Trump di otobiografinya. Namun, Trump “meralatnya” lewat kicauan Twitter -nya tanggal 6 September 2015 kala bicara soal isu imigran. “Kakek saya tak datang jauh-jauh dari Jerman untuk melihatnya diambilalih oleh para imigran. Takkan pernah terjadi dalam pengawasan saya,” kata Trump. Terlepas dari soal itu, Friedrich kecil hidup dengan ekonomi pas-pasan. Sejak usia delapan tahun Friedrich sudah ditinggal mati sang ayah karena penyakit paru-paru kronis. Untuk membiayai ekonomi keluarga dan menutup utang biaya perawatan sang ayah, sang ibu dibantu lima dari enam anaknya menjadi buruh tani di sebuah ladang anggur. Friedrich Trump di tahun 1887 atau dua tahun setelah bertolak dari Jerman ke Amerika. (Repro Donald Trump The Rise of a Rule Breaker ). Di usia 14 tahun, Friedrich dikirim ibunya untuk meninggalkan pekerjaan buruh kasar menjadi pegawai magang di sebuah tempat pemangkas rambut. Dua tahun kemudian menjelang usia wajib militer, Friedrich mengepak koper dan merantau ke Amerika. “Alasan apa yang mendorong Friedrich Trump meninggalkan Jerman ke Amerika masih buram. Mungkin dia terkesan melihat banyaknya iklan tentang perusahaan-perusahaan Amerika yang tersebar di koran-koran lokal; atau mungkin karena ingin menyusul kakaknya yang bermigrasi ke New York setahun sebelumnya,” tulis Sidney Plotkin dalam Veblens America: The Conspicuous Case of Donald J. Trump. Friedrich bertolak ke Amerika membonceng kapal SS Eider pada 7 Oktober 1885. Setibanya di New York 12 hari kemudian, Friedrich menumpang di rumah kakak perempuannya, Katharina, dan suaminya Fred Schuster. Friedrich diterima bekerja sebagai pegawai pemangkas rambut milik sesama imigran Jerman. Namun pada 1891, ia pindah ke Seattle. Berbekal tabungan 600 dolar Amerika hasil enam tahun jadi pemangkas rambut dan bantuan dana dari keluarganya, Friedrich mencoba peruntungan di bisnis restoran dengan membuka “The Dairy Restaurant” di wilayah dengan sejumlah kasino dan rumah bordil. Catatan Imigrasi Amerika tahun 1885, terdapat nama Fried. Trumpf (Friedrich Trump) di urutan 133. ( usa.gov ). Restoran itu bukan restoran dengan sajian makanan biasa. Ia bak rumah bordil dengan suguhan beragam minuman keras plus ruangan-ruangan khusus untuk disewa para pekerja seks komersil (PSK) dan pelanggan-pelanggan mereka. Friedrich lalu mengubah namanya menjadi Fred, kependekan dari Frederick, untuk bisa lebih menyesuaikan diri dengan para pelanggannya. Setahun berselang, ia mengajukan kewarganegaraan Amerika lantaran status kewarganegaraan Jermannya dicabut gegara dianggap mangkir dari wajib militer. Perintis Kerajaan Properti Korban Pandemi Fred memulai bisnis propertinya setelah menjual The Dairy Restaurant yang merugi pada 14 Februari 1893. Ia melirik peluang bisnis properti di Monte Cristo, Washington seiring munculnya demam tambang emas. Fred ogah latah mencari emas, namun ia berambisi membuka restoran lagi dan hotel di dekatnya mengingat Monte Cristo bakal didatangi lebih banyak pemburu emas. Namun Fred kehabisan modal untuk membeli propertinya karena sebelum menuju Monte Cristo, ia menginvestasikan dana penjualan aset The Dairy Restaurant dan uang warisan ibunya dengan membeli 16 hektar lahan seharga 200 dolar di Dataran Tinggi Pine Lake, dekat kota Sammamish, Washington. Pembelian lahan pada 24 Februari 1893 itu menjadi titik nol kerajaan bisnis yang kelak dilanjutkan sang cucu Donald Trump. “Areanya sudah memancing banyak minat para spekulan lahan, di mana tersebar bocoran info bahwa karena lahannya berpotensi jadi lahan bisnis kayu hutan, atau lahannya kaya akan mineral atau karena akan jadi jalur keretaapi, lahan ini akan jadi sangat bernilai. Ini menjadi bab pembuka yang baru bagi kehiupan Frederick Trump,” ungkap Blair. “Sebelumnya lahan itu milik (perusahaan) Northern Pacific Railroad yang mengklaimnya setelah mendapat banyak subsidi dari pemerintah federal selama tiga dekade sebelumnya. Namun karena bangkrut, lahan-lahannya dijual dan Trump bisa membelinya dengan harga murah seharga 200 dolar atau lima dolar per ekarnya,” lanjutnya. Hotel Arctic yang didirikan Fred Trump di Bennett, Kanada pada 1898. (Royal BC Museum and Archives). Setelah itu, Fred melirik Monte Cristo karena tergiur dengan sebuah lahan dekat stasiun keretaapi. Sayangnya, ia kekurangan modal lantaran lahan itu dibanderol seribu dolar per ekarnya oleh Nicholas Rudebeck, pemiliknya yang juga imigran Jerman. Skenario licik pun dilancarkan Fred. Diungkapkan Plotkin, Fred mengajukan Gold Placer Claim atau Klaim Patok Tambang Emas, aturan dalam konstitusi federal Amerika yang memberikan hak mineral di atas sebuan lahan publik. Fred menskenariokan bahwa dia menemukan emas di bawah timbunan lahan milik Rudebeck itu sehingga diperbolehkan mengklaim lahan itu tanpa membayar sepeser pun. “Di masa itu ia bukan satu-satunya yang menipu. Monte Cristo adalah kota yang dipenuhi klaim-klaim lahan ilegal. Demi mendapatkan sesuatu tanpa modal apapun di Monte Cristo, banyak orang yang memanfaatkan klaim patok emas itu, tak peduli akan rasa kekhawatiran bakal dipersekusi,” imbuh Plotkin. Dengan memanfaatkan modal 125 dolar, ia memulai pembangunan properti di lahan yang ia klaim. Ia memulainya dengan membeli lima ribu kaki kubik kayu dari Monte Cristo Mining Company untuk membangun pondok penginapan yang potensial bagi para pemburu emas. “Dengan pundi-pundi keuntungan dari properti penginapan itu, akhirnya ia bisa memiliki lahan itu secara legal pada Desember 1894. Itulah batu pijakan Kerajaan Trump yang sudah didirikan pada 1893 dengan bisnis yang mulanya tidak 100 persen legal,” singkap Thomas Pentzek dalam King of Debt: Businessman Donald J. Trump . Fred Trump yang menikahi Elisabeth Christ pada 1902. (Archiv Roland Freund). Dari situ, gurita bisnisnya merambah ke Kanada. Ia membuka sebuah restoran di Klondike. Bermitra dengan Ernest Levin, ia kemudian mendirikan hotel besar The New Arctic di Bennett pada Mei 1898. Kota-kota itu  juga tengah demam perburuan emas. Fred menyempatkan diri mudik ke Jerman pada 1901. Di kampung halamannya, Fred melepas masa lajang dengan mempersunting Elisabeth Marie Christ, gadis tetangga adiknya, pada 1902. Elisabeth kemudian dibawanya ke Amerika. Tiga tahun berselang, Elisabeth melahirkan Frederick Christ Trump, ayah Donald Trump. Fred Trump terus memperluas kerajaan propertinya. Tak hanya di pesisir barat Amerika dan Kanada, kerajaan itu juga merambah New York. Real estate pertamanya ia bangun di Jamaica Avenue kawasan Woodhaven. Namun ketika Perang Dunia I berkecamuk, Fred terpaksa “tiarap” lantaran derasnya isu anti-Jerman di Amerika dan Kanada. “Pada 29 Mei 1918, saat tengah jalan-jalan dengan putranya di Jamaica Avenue, Fred Trump tiba-tiba sakit parah dan sepulangnya ia tak bisa lagi bangkit dari tempat tidur. Keesokannya (30 Mei 1918) ia meninggal. Diagnosa pertamanya ia mengalami pneumonia. Lima hari kemudian hal yang sama dialami kakak iparnya, Fred Schuster. Baru pada akhir musim panas penyebabnya menjadi jelas bahwa mereka berdua menjadi korban di awal pandemi Flu Spanyol,” sambung Blair. “Fred Trump mengingatnya: ‘Saat jalan-jalan, ayah tiba-tiba bilang merasa sakit. Kami pun pulang dan dia naik ke tempat tidur. Kemudian dia meninggal. Hanya seperti itu kejadiannya. Sangat tiba-tiba. Buat saya itu seperti mimpi. Saya sedih melihat ibu tak berhenti menangis’,” tambahnya. Fred Trump bersama keluarganya di tahun 1912, empat tahun sebelum kematiannya karena pandemi Flu Spanyol. (Archiv Roland Freund). Flu Spanyol di Amerika mulai muncul pada Maret 1918 di kalangan militer. Bulan-bulan berikutnya pandemi akibat virus H1N1 itu mulai menyebar di tengah masyarakat sipil. Presiden Woodrow Wilson pun tak luput dari terjangannya. Hingga 1919, total kematian di Amerika mencapai 657 ribu jiwa dan kakek Donald Trump salah satunya. Sepeninggalnya, Fred mewariskan harta senilai USD31.359 (USD588.207 kurs 2020) dalam bentuk uang, aset, maupun saham. Bisnis propertinya lantas dilanjutkan istri dan putranya dengan mendirikan Elizabeth Trump & Son pada 1923. Lima dekade berselang, tongkat estafet bisnisnya dilanjutkan Donald Trump dengan mengubah nama perusahaan menjadi The Trump Organization.

  • Uang Invasi Jepang

    Ketika Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, segala tatanan pemerintahan Belanda pun dilucuti. Di sektor perekonomian, secara bertahap Jepang membangun sistem keuangan, membubarkan bank-bank Belanda, hingga mencetak uang. Pada awalnya, Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan uang militer ( gunpyo ) –dikenal juga dengan istilah uang invasi. Hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 1 yang dikeluarkan Jepang pada 7 Maret 1942. Yang dimaksud uang militer adalah uang yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan: gulden untuk Hindia Belanda, straits dollar untuk Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, rupee untuk Burma, peso untuk Filipina, dan pound untuk Australia ( Australia Trust Territories ). Gulden Jepang kemudian juga dikenal sebagai "rupiah Jepang". Baca juga:  Mata Uang Zaman Kuno Keesokan harinya, terbit UU No. 2 yang menetapkan tiga mata uang kertas yang sah, yaitu f.10 (sepuluh rupiah), f.5 (lima rupiah), dan f.1 (satu rupiah) serta uang kecil (logam) meliputi 50 sen, 10 sen, 5 sen, dan 1 sen. Di luar tujuh macam uang tersebut dianggap tidak sah dan dilarang peredarannya. Selama itu, Jepang menegaskan mengenai larangan-larangan yang akan mengacaukan sistem perekonomian seperti mengganggu peredaran uang militer dan uang rupiah, menerima uang lain yang tidak sah, memalsu, mengubah atau membuang uang sah, mengacaukan persamaan harga uang dan menyimpan atau menyembunyikan uang pecahan satu rupiah ke bawah melebihi seratus rupiah. Bank Sirkulasi Untuk mencegah kekacauan di bidang ekonomi, Jepang menghentikan sementara waktu seluruh bank di wilayah kekuasaan Jepang. Segala urusan mengenai uang harus mendapat izin dari pemerintah Jepang. "Maka sekalian kuasa dari bank-bank harus menghadap selekas-lekasnya ke kantor pemerintah Balatentara untuk menerima keterangan dan menunggu perintahnya buat mengerjakan lagi," tulis Pasal 9 UU No. 2. Sebagai gantinya, Maklumat Gunseikan No. 1 dikeluarkan pada 15 Maret 1943. Isinya memberikan izin operasi bank-bank Jepang seperti Yokohama Syookin Ginko, Taiwan Ginko, Kanan Ginko, dan Mitsui Ginko. Bank-bank tersebut diperkenankan mengurusi wesel. Baca juga:  Merentang Sejarah Uang Sementara sebagai bank sentral, Jepang mendirikan Nanpo Kaihatsu Ginko yang mulai beroperasi pada Juli 1942 "dengan memimpin dan menjaga segala keperluan uang antara kantor-kantor bank serta dengan mengawas-awasi segala urusan keuangan," tulis Kan Po (Berita Pemerintah) No. 14 Tahoen ke II Boelan 3-2603 . Lalu, pada 3 Oktober 1942, Jepang juga membuka Syomin Ginko atau Bank Rakyat sebagai pengganti Algemeene Volkscredietbank. Bank inilah yang di kemudian hari menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). "Pembukaan bank tersebut, yang mempunyai cabang-cabang pada 68 tempat di seluruh Pulau Jawa, sudah tentu akan memperbaiki jalannya perekonomian dan peredaran uang, serta meringankan beban penghidupan rakyat," tulis Pengumuman Ginseikaku seperti disiarkan Kan Po (Berita Pemerintah) No.4 Tahoen ke I Boelan 10-2602. Uang Jepang senilai setengah rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Nasib bank-bank yang dihentikan sementara menjadi jelas pada Oktober 1942. Melalui UU No. 44 Osamu Seirei No. 13 Panglima Besar Bala tentara Dai Nippon secara resmi membubarkan sembilan bank. Lima bank merupakan bank Belanda yang meliputi De Javasche Bank, Nederlandsche Handel-Maatschappij N.V., Nederlandsch-Indische Handelsbank N.V., Nederlandsch-Indische Escompo Maatschappij N.V., dan Batavia Bank N.V. Baca juga:  Uang Kuno bukan Sembarang Uang Empat bank lainnya merupakan bank swasta yakni The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd., The Chartered Bank of India, Australia, and China Ltd., Bank of China, dan Oversea Chinese Banking Corporation Ltd. Kesembilan bank tersebut, meski telah dibubarkan, masih harus menyelesaikan urusan utang-piutang Menurut Erwien Kusuma dalam Dari De Javasche Bank Menjadi Bank Indonesia , untuk menggantikan peran De Javasche Bank, pemerintah Jepang menetapkan Nanpo Kaihatsu Ginko sebagai bank sirkulasi.Semua bank berada di bawah pengawasan Nanpo Kaihatsu Ginko. "Selain itu, tugas utama dari Nanpo Kaihatsu Ginko adalah juga sebagai likuidator yang terdiri dari orang-orang Jepang yang dibantu oleh beberapa anggota staf dan tenaga tata usaha dari bank-bank bersangkutan," tulis Erwien. Uang Jepang senilai sepuluh rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Cetak Uang Berdasarkan konvensi Den Haag tahun 1899 dan 1907, pihak yang menduduki suatu negara lain dilarang mengeluarkan uang sendiri. Jepang ikut meratifikasi tapi mengabaikan isi konvensi. Ini bermula dari beragam persoalan yang timbul di tengah masyarakat. Banyak uang yang beredar rusak. Uang kertas cobak-cabik sementara uang logamnya rompeng. Hal ini memunculkan aktivitas jual-beli uang. Untuk mengatasinya, pemerintah Jepang membuka penukaran uang rusak dengan uang baru di kantor-kantor keuangan. Namun, hal ini justru menimbulkan kesalahpahaman. Penduduk mengira mata uang lama sudah tak berlaku dan diganti dengan mata uang baru. Pemerintah harus dua kali kerja mengurusi penukaran uang rusak ini. Baca juga:  ORI, Uang Perjuangan dan Persatuan Pemerintah Jepang akhirnya menerbitkan mata uang baru berupa uang kertas dengan pecahan f.10 (sepuluh rupiah) yang berlaku sejak 15 Oktober 1944.Uang ini berwarna dasar kuning dengan gambar Gatotkaca di satu sisi serta gambar stupa Borobudur dan patung Buddha di sisi sebaliknya. Pada akhir 1944, Jepang kembali menerbitkan uang kertas baru. Pecahan kali ini adalah f.5 (lima rupiah) dan f.1 (satu rupiah). Pecahan lima rupiah berwarna dasar hijau muda dengan gambar rumah Gadang di satu sisi dan gambar perempuan Minang di sisi sebaliknya. Sementara pecahan satu rupiah berwarna dasar hijau tua dengan gambar petani di satu sisi dan pohon beringin dengan warna merah hitam (sepia) di sebaliknya. Dua uang kertas ini berlaku sejak 1 Januari 1945. Uang Jepang senilai seratus rupiah. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Lalu, pada Februari 1945, Jepang mengeluarkan lagi uang baru bernilai f.0,50 (lima puluh sen) yang mulai berlaku 20 Februari 1945. Uang sen ini kali ini bukan kertas melainkan logam. Warna dasarnya kuning-atal dengan gambar naga di satu sisi dan dihiasi ornamen di sisi baliknya. Tak lama setelah itu, Jepang mengeluarkan lagi uang kertas. Kali ini nominalnya cukup besar, f.100 (seratus rupiah), yang kemudian menjadi pecahan paling tinggi. Uang kertas ini berwarna dasar hijau muda, dilengkapi gambar Dewa Wisnu menunggang Garuda dan terdapat pula patung singa. Bagian sebaliknya berwarna dasar hijau abu-abu dengan gambar wayang pada bagian tengahnya. Baca juga:  Perang Uang Palsu Masa Revolusi Menurut Tim Penulis LP3ES dalam Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa , hingga akhir pendudukan Jepang, jumlah uang militer yang beredar diperkirakan mencapai lebih dari empat miliar rupiah. "Dari jumlah tersebut lebih kurang Rp2,4 miliar beredar di Jawa, sedangkan di Sumatra sekitar Rp1,6 miliar. Di Kalimantan dan Sulawesi juga beredar sejumlah uang invasi, hanya saja tidak diketahui jumlahnya," tulis Tim Penulis LP3ES. Uang Jepang masih dianggap sebagai uang sah pada awal kemerdekaan Indonesia bersama uang De Javasche Bank keluaran 1925-1941, dan uang pemerintah Hindia Belanda terbitan 1940-1941. Riwayat uang Jepang tamat karena pegaruh uang NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan pemerintah Indonesia menerbitkan ORI (Oeang Republik Indonesia) sejak Oktober 1946.

  • Pramoedya Ananta Toer Tentang Kota Jakarta

    “KAWAN, engkau sudah pernah dengar nama kampungku, bukan? Kebun Jahe Kober –500 meter garis lurus dari istana. Dan engkau pun sudah tahu juga, bukan? Got-gotnya diselubungi tai penduduk kampung.” Itulah pembuka cerita pendek Pramoedya Ananta Toer berjudul “Kampungku” yang termuat dalam buku Cerita dari Jakarta . Melalui “Kampungku”, Pramoedya mengabarkan kepada pembacanya tentang kehidupan warga kota Jakarta di sebuah kampung pada 1950-an. Tingkat kematian di kampung ini sangat tinggi. Ada saja orang mati setelah mengidap berbagai macam penyakit seperti tetanus, TBC, dan penyakit kotor. Meski cerita tersebut fiksi, gambaran Pramoedya tentang persoalan kampung di Jakarta mendekati akurat. Dalam Kotapradja Djakarta Raya  bikinan Kementerian Penerangan dan terbit pada 1952, tersua gambaran nyata tentang kehidupan kampung. Tak jauh berbeda dari gambaran dalam “Kampungku”. Kotapradja Djakarta Raya  memuat tingginya angka kematian, penularan penyakit, rendahnya fasilitas kesehatan, dan usaha-usaha pemerintah kota untuk memperbaiki kesehatan warga kampung di kota. Di dalamnya tersurat pula keterangan tentang penyakit khas warga kampung seperti TBC, Kolera, dan patek (frambusia). Selain “Kampungku”, Pramoedya juga menulis cerita lainnya tentang permasalahan kota seperti urbanisasi wilayah kampung, migrasi dari desa ke kota, pengangguran, dan pelacuran. Semuanya termaktub dalam buku Cerita dari Jakarta . Dia menulis cerita itu sepanjang 1947–1956 ketika tinggal di Jakarta. Kumpulan cerita bertema kota itu menunjukkan minat Pramoedya pada tetek bengek dan seluk-beluk masalah warga kota. Dia menggunakan sastra untuk menyampaikan kegundahannya terhadap masalah-masalah tersebut. Kemudian dia secara terbuka menyatakan gagasannya tentang kota lewat esainya, “Mari Mengubah Wajah Jakarta”. Terbit dalam majalah Republik  edisi 13 April 1957, esai Pramoedya menyoroti gagalnya pemerintah kotapraja dalam mewujudkan konsep kota ideal bagi warganya. Bagi Pramoedya, “Jakarta bukanlah kota dalam pengertian sosiologis dan ekonomis”. Pramoedya menyebut Jakarta sebagai “tumbukan desa-desa dan kampung yang dipaksa berfungsi sebagai kota dalam segi-segi sosiologis dan ekonomis”. Dia mencontohkan tempat tinggal tak layak huni. Satu keluarga hidup berjejal dalam satu ruang sempit. Padahal menurutnya, tempat tinggal harus mempunyai ruang privat dan khusus bagi setiap anggota keluarganya. Pramoedya menyebutnya “garis minim akomodasi”. Jika garis minim akomodasi itu tak terpenuhi, kehidupan keluarga akan kacau. “Kakek dan nenek kehilangan haknya untuk menempuh hidup tuanya dengan aman dan damai setelah puluhan tahun lamanya berjuang untuk penghidupannya,” catat Pramoedya. Sementara anak-anak bakal kehilangan ruang bergerak untuk bermain di dalam rumah. Akibatnya, mereka merambah daerah di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan asasinya tersebut. Yaitu dengan bermain di jalan raya. “Tumbuh tanpa kasih orang tua yang ditundung kesulitan perumahan ini, mereka pun kehilangan kasih terhadap orang tua dan lingkungannya,” sebut Pramoedya. Dalam esainya, Pramoedya juga mengkritik pembangunan kotabaru Kebayoran. Tadinya kota ini diniatkan untuk memenuhi kebutuhan perumahan pegawai kecil. Tapi nyatanya pembangunan itu justru merugikan orang tempatan di sekitar kotabaru tersebut. Bahkan Pramoedya menyebut ada indikasi korupsi dalam pembangunannya. “Memendekkan tinggi rumah-rumah batu dengan satu batu, serta mengganti eternitnya dengan kacang merah,” ungkap Pramoedya. Pramoedya mengajukan solusi atas masalah hunian ini. “Aku sendiri lebih setuju, bila kota tumbuhan ini terdiri atas gedung-gedung flat dari dua atau tiga tingkat,” kata Pramoedya. Masing-masing tingkat terbagi atas ruang makan, dapur, ruang tidur, dan tempat kerja. Pembangunan flat juga hendaknya menyertai kebutuhan taman bermain untuk anak-anak. “Dan jangan pula dilupakan kepentingan kanak-kanak yang selama ini jarang sekali teringat: kebun kanak-kanak, perpustakaan kanak-kanak, tempat kanak-kanak berhimpun –agar kanak-kanak ini tumbuh menjadi dewasa melalui masa anak-anak yang sesungguhnya,” kata Pramoedya. Usul Pramoedya ini sejalan dengan rencana Sudiro, walikota Jakarta 1953–1959, untuk membangun flat. Tapi rencana ini terbentur oleh protes anggota Dewan Perwakilan Kota Sementara. Baru pada 1980-an, flat pertama, atau disebut rumah susun (rusun) untuk warga jelata dibangun di Jakarta.*

  • Merentang Sejarah Uang

    Masihkah Anda membawa uang di dompet? Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan uang kartal (kertas dan logam) mengalami penurunan. Perkembangan teknologi mendorong masyarakat untuk memilih uang elektronik. Evolusi uang tengah berlangsung. Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginkan. Praktik barter telah dimulai sejak puluhan ribu tahun lalu. Namun, tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbullah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar. Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang. "Uang telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu dan merupakan salah satu penemuan manusia yang paling menakjubkan," tulis Solikin dan Suseno dalam Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian . Pada awalnya uang berfungsi sebagai alat penukar atau pembayaran. Seiring perkembangan peradaban manusia, uang juga berfungsi sebagai alat penyimpan nilai, satuan hitung, dan ukuran pembayaran yang tertunda. Tampilan uang pun terus mengalami evolusi. Dari awalnya berbentuk barter, kemudian ke kulit kerang, koin, kertas, plastik, dan kini dalam bentuk elektronik. Lalu bagaimana nasib uang kartal? Akankah uang punah dan hanya menjadi pelengkap museum? Sebelum hal itu terjadi, tak ada salahnya kita mengenal sejarah uang di Indonesia Bukti Tertua Museum Nasional memiliki koleksi dua uang logam (no. inv. 2087 dan no. inv. 2119) dari zaman Hindu-Buddha di Jawa yang terbuat dari perak. Bentuknya cembung, sisi depan bergambar pot bunga, dua tangkai bunga, dan garis-garis lekuk sekitarnya seperti ruang-asap. Sedangkan pada sisi belakang terdapat bunga lotus mekar terletak di dalam garis berbentuk persegi empat. "Menurut Candra Sengkala Memet , bahwa gambar-gambar tersebut mempunyai arti sebagai berikut: pot bunga berarti 9, bunga berarti enam dan ruang asap berarti 5. Dari angka-angka itu, diperkirakan mata uang ini digunakan sebagai alat tukar sekitar tahun 569 [Saka] atau tahun 647 AD (Masehi)," demikian disebut dalam Katalog Pameran Peringatan Ulang Tahun Ke-200 Museum Pusat . Uang logam perak itu menjadi bukti tertua penggunaan uang di Jawa. Selain mata uang perak, menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa , ditemukan juga mata uang emas. Paling awal berbentuk batangan, jumlahnya sedikit, dan ukurannya tidak tentu baik bentuk maupun berat. Ini mengindikasikan mata uang itu tak digunakan secara umum sebagai alat tukar. Sebagian besar mata uang emas yang ditemukan di Jawa Tengah berasal dari abad ke-9 dan ke-10 dan termasuk tipe piloncito (ukurannya kecil, gepeng seperti dadu dengan sudut-sudut membulat). "Mengingat mata uang Jawa pada masa awal menggunakan logam-logam mulia (emas dan perak) yang jumlahnya tentu terbatas," tulis Supratikno, "maka sebagian transaksi mungkin tidak menggunakan mata uang, melainkan dengan cara barter." Uang emas dengan motif biji wijen dari abad ke-9 ditemukan di belakang dinding sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan. ( kemdikbud.go.id ). Uang Kepeng Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2   mengungkapkan bahwa di Jawa, prasasti tak lagi menyebut mata uang Jawa (perak dan emas, red .) setelah sekira tahun 1300, kecuali hanya menyebut picis , mata uang tembaga dari Tiongkok. Bentuknya kecil bulat mempunyai lubang persegi di tengah agar dapat diikat sebanyak seribu. Menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya , kelebihan uang kepeng  itu tidak langsung tampak. Banyak orang mula-mula menggunakannya untuk memperoleh komoditas yang digemari, yaitu tembaga. Artinya, uang itu dibarter dengan komoditas seperti rempah-rempah. " Kepeng  Cina itu mulai tersebar bersamaan dengan majunya perniagaan [Dinasti] Sung dan secara khusus membanjiri Jawa yang peran perantaranya dalam jaringan niaga sedang menguat," tulis Lombard. Tingginya permintaan uang kepeng  di Jawa memicu penyelundupan dari Tiongkok dan pembuatan tiruannya dari logam campuran (perak, timah, timbal, dan tembaga). Di Jawa, uang tiruan ini disebut gobog  dengan lubang persegi di tengah-tengah dan garis tengah yang lebih besar. Reid menyebut tujuan pembuatan uang kepeng  tiruan di Jawa dan di tempat lain untuk menjaga persediaan karena hubungan langsung dengan Tiongkok menurun sekitar tahun 1500. "Bagaimanapun mata uang tembaga Cina dan mata uang timah tiruannya telah menjadi dasar penggunaan mata uang di Asia Tenggara pada tahun 1500," tulis Reid. Uang kepeng. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Uang Kerajaan dan Eropa Selain mata uang dari Tiongkok, kerajaan-kerajaan Islam juga mengeluarkan mata uang. Hermanu dalam Seri Lawasan: Uang Kuno , mendatanya. Misalnya, Kesultanan Pasai dan Aceh ( dirham dan mass dari emas dan keuh atau kasha dari timah), Banten ( kasha dari tembaga), dan Cirebon ( picis dari timah). Kedatangan bangsa Eropa membawa mata uang baru. Pada abad ke-16, Portugis mengedarkan mata uang yang terbuat dari perak, yaitu piastre Spanyol yang disebut juga mat , pasmat , real , atau dollar . Setelah Portugis, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menancapkan kaki di Nusantara. Pada masa jayanya, beredar bermacam-macam mata uang seperti rijksdaalder , dukat , stuiver , gulden , dan doit . Bahan yang digunakan adalah emas, perak, tembaga, nikel, dan timah. Bentuknya bundar pipih dengan ukuran diameter yang tidak sama. Mata uang tersebut dibuat di Negeri Belanda. "Kemungkinan kata 'duit' yang kita kenal sekarang ini berasal dari kata doit yang kemudian dalam bahasa Arabnya berbunyi doewit ," tulis Djani A. Karim dalam Mata Uang dalam Sejarah . Beredar pula mata uang dari emas dan perak dirham Jawi atau dukat Jawa yang dibuat di Batavia (Jakarta) dengan ditandai tulisan Arab. Bentuk dan ukurannya sama dengan mata uang lain yang dibuat dari tembaga dan timah. Uang tersebut, menurut Lombard, dibuat setelah tercapai kesepakatan antara Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Baron van Imhoff dan Sunan Mataram Pakubuwana II. Menjelang bubar, catat Hermanu, VOC membuat uang darurat dari potongan-potongan batang tembaga berbentuk segi empat yang dicetak di Batavia. Uang ini disebut bonk . Setelah VOC bubar, Hindia Belanda berada di bawah pemerintahan Republik Bataaf (1799-1806). Mata uang yang dikeluarkan bertuliskan Indiӕ Batavorum dengan satuan nilai gulden dan stuiver . Ketika Belanda diduduki Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) mengedarkan mata uang berinisial LN singkatan dari Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, yang menjadi raja Belanda. Bentuk uang itu bundar pipih dan terbuat dari tembaga. Inggris mengambil alih Hindia Belanda dengan Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jenderal (1811-1816). Raffles membuat mata uang rupee yang bentuknya bundar pipih dan terbuat dari emas, perak, tembaga, dan timah. Kedua sisinya tertera tulisan Jawa dan Arab. Mata uang ini dicetak di Batavia. Diperkirakan kata "rupiah", mata uang Republik Indonesia, berasal dari rupee yang ditulis dalam bahasa Arab dengan ucapan roepiyah . Selain rupee , beredar pula uang bertuliskan EIC (East India Company atau Kongsi Dagang India Timur). Uang kerajaan Islam. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Penyatuan Mata Uang Setelah Inggris hengkang, Belanda kembali menguasai Hindia Belanda. Pemerintah membentuk De Javasche Bank (DJB) pada 1828 untuk mengatur pembuatan dan peredaran uang. Bank ini mencetak uang kertas dan uang logam. Menurut Lombard, sejak pertengahan abad ke-18 berbagai usaha dilakukan untuk menyehatkan moneter dan menyatukan mata uang. Tapi baru satu abad kemudian penyederhanaan itu terlaksana. Pada 1854 diputuskan semua mata uang yang digunakan di Hindia Belanda diganti dengan mata uang yang beredar di Belanda. " Gulden , simbol kekuasaan ekonomi Eropa yang terus meningkat, sedikit demi sedikit menjadi uang yang harus digunakan di seluruh Nusantara," tulis Lombard. "Baru setelah tahun 1930 kesatuan mata uang menjadi kenyataan." Kesatuan mata uang pupus masa pendudukan Jepang. Pada awalnya Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan "gulden Jepang" yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan. Hingga akhirnya Jepang menerbitkan mata uang baru. Setelah Indonesia merdeka, tak adanya kesatuan mata uang masih berlangsung. Uang Jepang masih dianggap sebagai uang sah pada awal kemerdekaan Indonesia bersama uang DJB keluaran 1925-1941, dan uang pemerintah Hindia Belanda terbitan 1940-1941. Pemerintah Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) tapi juga harus berhadapan dengan "uang NICA" (Netherlands-Indies Civil Administration). Bahkan karena terhambatnya peredaran ORI, pemerintah memberi izin pemerintah daerah untuk menerbitkan mata uang sendiri yang dikenal dengan nama Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Penyeragaman mata uang baru terjadi setelah pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Menyusul terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), terbit uang RIS atau disebut juga "uang federal". Pada 17 Agustus 1950, pemerintah Republik Indonesia menyatakan RIS bubar. Bentuk pemerintahan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penggunaan mata uang RIS menyusul kemudian. Mata uang rupiah dalam bentuk uang kartal masih digunakan hingga saat ini. Uang kertas yang dikeluarkan De Javasche Bank tahun 1930-an. (Wikimedia Commons/National Numismatic Collection at the Smithsonian Institution). Masyarakat Tanpa Uang Era digital mendorong penggunaan uang elektronik. Pemerintah juga tak berpangku tangan. Bahkan, mendorong sistem keuangan digital lebih berkembang di Indonesia. Namun, bukan berarti uang kartal tidak dibutuhkan. Menurut Hatib Kadir, dosen antropologi Universitas Brawijaya, dalam kolomnya bertajuk "Punah dan Kotornya Uang 'Cash'" di detik.com , dari beragam fungsi uang, revolusi terbesar terjadi pada metode uang sebagai alat pembayaran karena caranya terus mengalami perubahan. "Sebagai alat bayar, uang pada saat ini beralih fungsi sebagai informasi. Ketika menerima gaji misalnya, kita tidak melihat uang kita karena langsung ditransfer di bank," tulisnya. Hatib Kadir menambahkan, perubahan penggunaan uang bertujuan memudahkan fungsi uang yang bahkan ada sejak zaman Mesopotamia. Teknologi semacam ponsel membantu untuk memudahkan hal tersebut.  "Penggunaan uang elektronik bukan seperti penemuan pesawat terbang yang canggih, namun sebenarnya ada hal yang tetap dalam uang. Ia merupakan konvensi, kesepakatan dan seperangkat relasi dalam organisasi yang kompleks di masyarakat. Nilai dan fungsinya tetap sama," tulisnya. Kendati demikian, uang kartal masih dibutuhkan. Indonesia akan tetap mencetak dan mengawasi uang kartal. Proporsinya memang berkurang tapi bentuk penggunaan uangnya saja yang bergeser. Namun, uang kartal juga bukan tanpa kelemahan. Biaya pengadaan dan pengelolaannya terbilang mahal. Belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran dan risiko keamanan seperti pencurian, perampokan dan pemalsuan uang. Karena itu pula Bank Indonesia terus mendorong masyarakat untuk memakai alat pembayaran nontunai demi terbentuknya cashless society atau masyarakat nontunai.

  • Kisah Widodo Cahyono Putro Mencetak Penerus Dirinya

    Widodo Cahyono Putro. Nama ini melegenda dalam dunia sepakbola Indonesia. Tendangan saltonya menyambut umpan Ronny Wabia berbuah gol dan membawa Indonesia unggul lebih dulu saat melawan tim kuat Kuwait pada Piala Asia 1996. Inilah kali pertama timnas Indonesia tampil di Piala Asia. Gol Widodo pun menyentak perhatian dunia. Widodo Cahyono Putro sang legenda hidup sepakbola Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo, lelaki kelahiran Cilacap, memulai perjalanan sebagai pemain sepakbola profesional bersama klub Warna Agung pada 1990. Dia striker langganan klub elite Indonesia dan sempat bermain untuk Petrokimia Putra. Setelah itu, dia membela Persija Jakarta dan berhasil membawa klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut meraih juara Liga Indonesia 2001. Widodo juga pemain langganan timnas. Debutnya bersama timnas di kejuaraan resmi berbuah manis: emas Sea Games Filipina pada 1991. Saat itu dia tampil bersama sejumlah pemain muda lainnya seperti Rochi Putiray dan Aji Santoso. Widodo kini melatih Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita berlatih di Sport Center Kelapa Dua. (Fernando Randy/ Historia.id ). Setelah gantung sepatu, Widodo menjadi pelatih beberapa klub. Dari Petrokimia Putra, Persepam Madura Utama, Sriwijaya FC, Bali United, sampai Persita Tangerang. Dia juga menjadi asisten pelatih timnas Indonesia untuk Pra Olimpiade, kualifikasi Piala Asia 2011, dan Sea Games 2011. Prestasinya memang belum sementereng ketika menjadi pemain. Widodo terus membangun tim Persita Tangerang di tengah ketidakpastian kompetisi Liga Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Belakangan kabar membanggakan datang untuk Widodo. Gol akrobatiknya ditetapkan sebagai gol terbaik sepanjang masa dalam sejarah gelaran Piala Asia. Dalam pemilihan yang diselenggarakan oleh AFC (Konfederasi Sepakbola Asia), gol itu mengungguli gol dari pemain Lebanon Abbas Chahrour ke gawang Irak.  Ketika dimintai komentarnya tentang penghargaan tersebut, Widodo menjawab simpel. "Gol itu sudah lama, 24 tahun. Sebetulnya tugas saya waktu mencetak gol sudah selesai. Gol itu bagi saya anugerah," ujarnya kepada Historia.id . Sampai sekarang dia masih tak percaya dirinya bisa membuat gol seindah itu. "Tidak percaya bisa bikin gol seperti itu. Semoga ini bisa dijadikan semangat baru dan inspirasi generasi mendatang," lanjut Widodo. Widodo saat memberikan masukan kepada para pemain Persita. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita Tangerang berlatih di Sport Center. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo berupaya mencetak penyerang tangguh bagi Persita dan Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tidak hanya pemain lokal, pemain asing pun menaruh hormat pada Widodo. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo saat memimpin latihan Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini pria berusia 49 tahun tersebut disibukkan melatih Persita Tangerang. Dalam melatih, Widodo menerapkan etos filosofi sepakbola menyerang. Dia tentu saja berharap mampu mencetak penyerang-penyerang tangguh bagi Persita dan timnas Garuda. Usai melatih hampir dua jam, Widodo mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia perihal golnya. "Terima kasih kepada netizen , penggemar bola, dan yang memvoting kemarin. Gol ini jadi sejarah, jadi gol terbaik sepanjang Piala Asia," katanya. Widodo berterima kasih kepada masyarakat Indonesia atas dukungannya sehingga golnya menjadi yang terbaik. (Fernando Randy/ Historia.id ). Stadion Sport Center kandang Persita tampak sunyi saat pendemi Covid-19 melanda. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Di Balik Kematian Cleopatra

    CLEOPATRA (69 SM–30 SM) terbujur di ranjang kematiannya yang legendaris, lengkap dengan mahkota dan perhiasan. Walau masih misterius, konon Cleopatra bunuh diri menggunakan gigitan ular Naja haje (asp) yang ia sarangkan di dadanya sendiri. Jauh sebelumnya Cleopatra memilih untuk memihak Marc  Antony yang merupakan ayah dari ketiga anaknya sekaligus sekutu politiknya dalam pertempuran Actium.  Setelah Julius Caesar dibunuh, Antony yang merupakan jenderal sekaligus administrator Julius Caesar, bertempur melawan ahli waris sang kaisar, Oktavianus. Namun, pasangan kekasih itu bersama pasukannya tak bertahan lama. Mereka kalah dalam perang saudara itu. Cleopatra meninggalkan pertempuran, melarikan diri ke Mesir. Antony yang berhasil melepaskan diri dari pertempuran mengikuti Cleopatra. Namun, ketika tiba giliran Alexandria diserang pasukan Oktavianus, Antony mendengar desas desus bahwa Cleopatra telah bunuh diri. Dengan pedangnya, Antony menyusul kekasihnya. Antony mati tepat ketika tiba berita bahwa rumor itu salah. Setelah menguburkan Antony dan bernegosiasi dengan Oktavianus, Cleopatra mengunci dirinya di kamar bersama dua pelayan perempuan. Mereka kemudian ditemukan sudah mati. "Ini artinya cara kematian Cleopatra tak pasti," tulis History.com . Akhir hidup Cleopatra yang misterius bertolak belakang dengan kenyataan bahwa ia merupakan salah satu tokoh perempuan paling dikenal dalam sejarah. Berbagai karya seni dan sandiwara mengabadikan namanya. Kematian Cleopatra dianggap sebagai salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah kuno. Namun, tak pernah ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar Cleopatra yang dikunci itu. Dipatuk Ular Kobra Adrian Tronson, profesor sejarah kuno Universitas New Brunswick, Kanada,   menyebut kisah kematian Cleopatra sebagai mitos budaya yang diwakili berkali-kali dalam karya seni dan sastra. "Saya percaya bahwa dasar sejarah ia melakukan bunuh diri dengan gigitan ular meragukan," tulis Tronson  dalam  "Vergil, the Augustans, and the Invention of Cleopatra’s Suicide-One Asp or Two" termuat di Vergilius 44 (1998). Di antara kisah hidup Cleopatra, kematiannya akibat gigitan ular bahkan yang paling banyak diabadikan dalam budaya populer. Baik sebelum maupun sesudah adanya pertunjukan Shakespeare tentang tragedi Antony dan Cleopatra. "Versi yang dengan sendirinya menjadi resmi," tulis Tronson. Kisah itu diterima luas, baik dalam budaya populer maupun wacana akademis, bahwa Cleopatra mengakhiri hidupnya di usia 39 tahun menggunakan gigitan ular kobra Mesir atau Naja haje. Mereka yang tak yakin telah meneliti catatan kuno tentang metode bunuh diri Cleopatra. Telah terbukti berulang kali bahwa tidak ada kepastian sejarah yang kuat atas kisah ini. Para peneliti banyak bergantung pada catatan kuno. Sumber informasi tertua berasal dari Strabo, sejarawan dan geograf Yunani yang hidup pada masa kematian Cleopatra. Bahkan, ketika itu ia kemungkinan berada di Alexandria. Sebagaimana dikutip Tronson, Strabo menulis bahwa Cleopatra ditawan oleh Oktavianus. Ia bunuh diri secara diam-diam di tahanan. Namun, agaknya Strabo tak yakin apakah itu dengan gigitan "asp" atau dengan salep beracun. "Jelas dari sumber Strabo bahwa setidaknya ada dua cerita yang beredar pada masanya," tulis Tronson. Sumber berikutnya dari Plutarch (46 M–119 M), penulis biografi asal Yunani. Dalam catatannya, ia tak yakin dengan kisah ular itu. "Tidak ada jejak reptil yang pernah ditemukan, meskipun katanya beberapa mengatakan mereka melihat jejak ular di dekat laut, di mana jedela kamar (Cleopatra, red. ) menghadap ke laut," catat Plutarch sebagaimana dikutip arkeolog Inggris, Joyce Tyldesley dalam Cleopatra: Last Queen of Egypt. Sementara itu, menurut Plutarch, Kaisar Octavianus agaknya percaya versi kematian oleh ular ini. Ia bahkan membawa gambaran Cleopatra yang dililit ular dalam perayaan kemenangannya. Penulis biografi lainnya yang sezaman dengan Plutarch adalah Suetonius. Sebagai sekretaris kekaisaran, ia memiliki akses ke sumber resmi dan arsip negara. Dalam tulisannya tentang Kaisar Augustus, ia secara singkat menyebut Cleopatra. Menurutnya, Oktavianus sebenarnya sangat menginginkan sang ratu tetap hidup. Kaisar Augustus I ini bahkan membawa masuk Psylli, pawang ular terkenal untuk menyembuhkan gigitan ular pada Cleopatra. "Versi ini sejalan dengan apa yang dikatakan Plutarch tentang kepercayaan Oktavianus yang terkenal pada cerita gigitan ular," tulis Tronson. Kemudian ada penulis dari abad ke-4, Orosius. Tronson menyebut sejarawan ini sepertinya menggantungkan keterangannya pada pendapat Suetonius. Namun, Orosius menambahkan bahwa gigitan ular terletak di lengan kiri Cleopatra. "Tetapi ini mungkin kesimpulannya sendiri," tulis Troson. Sengaja Dibunuh? Joyce Tyldesley tak percaya Cleopatra bunuh diri dengan gigitan ular. Cara ini tidak mudah karena seekor ular diperkirakan bisa membunuh tiga orang: Cleopatra dan dua dayangnya. Risiko kegagalannya tinggi. Pat Brown, profiler kejahatan dari Amerika, dalam The Murder of Cleopatra: History’s Greatest Cold Case juga berpikir sama. "Ketika saya berada di Mesir, Roma, dan Inggris bekerja dengan ahli Mesir Kuno, ahli racun, arkeolog, dan sejarawan dunia kuno, saya mulai mengumpulkan cerita lain yang lebih kredibel di balik kematian Cleopatra,” tulisnya. Brown tak membayangkan kalau Cleopatra yang berstatus sebagai tawanan Octivianus dibiarkan tanpa pengawasan di dalam kamarnya. Tak mungkin pula kalau tak dilakukan penyisiran menyeluruh untuk memastikan tak ada benda yang bisa digunakannya untuk berbuat sesuatu yang tak diinginkan. "Orang pasti berpikir akan ada penjaga yang kompeten yang ditempatkan di luar pintu dan mungkin satu atau dua penjaga di dalam pintu juga," tulis Brown. Sebelumnya, Plutarch menulis bahwa seekor ular disembunyikan di antara buah ara di dalam keranjang. Aneh kalau para penjaga tidak memeriksa keranjang itu ketika para dayang membawanya masuk ke kamar Cleopatra. "Seekor ular bukanlah sesuatu yang mungkin terlewatkan selama pencarian semacam itu," tulis Brown. François Pieter Retief, pensiunan dosen dan dekan kedokteran di University of the Free State, dan Louise Cilliers, peneliti kehormatan di Departemen Studi Yunani, Latin, dan Klasik, dalam "The Death of Cleopatra" termuat di Acta Theologica: No. 7 (2005): Supplementum  berpendapat bahwa ular besar tidak akan muat ke dalam keranjang buah ara. Mereka lebih akan setuju kalau sang ratu dan dua dayangnya mati akibat racun. Menurutnya,   kobra memang dapat menyebabkan kematian yang cepat meskipun luka gigitan kecil. Namun, untuk membunuh tiga orang dewasa, ular itu harus berukuran besar. Jika begitu, akan sulit untuk diselundupkan dalam keranjang kecil berisi buah ara dan luput dari pengawasan penjaga. "Kemungkinan besar keracunan membunuh dengan begitu cepat tiga wanita dewasa, Cleopatra dan pelayannya, Charmion, dan Iras," tulisnya. Namun, ada teori lain, yakni sang ratu sengaja dibunuh. Tersangka terkuat adalah Oktavianus. Pat Brown percaya ini. "Saya percaya tentang apa yang benar-benar terjadi masih tersembunyi di balik selubung propaganda dan sandiwara yang dimainkan oleh pembunuhnya, Octavianus dan agenda Kekaisaran Rowawi," tulis Brown. Dengan demikian, bagi sejarawan, kematian Cleopatra akan tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sementara budaya populer kemungkinan besar akan tetap terpesona oleh kisah romantis dan eksotis dari penguasa klan Ptolemeus terakhir di Mesir itu bersama jenderal Romawinya.*

  • Kala Presiden Amerika Terpapar Virus Influenza

    MESKI tampak barang sepele namun masker nyatanya punya efek besar di masa pandemi Covid-19 (virus corona). Ketika kewajiban bermasker menjamur di mana-mana, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru tak memedulikannya. Alhasil Trump pun akhirnya terpapar COVID-19. Kendati sudah 7,5 juta warganya (per 2 Oktober 2020) positif terpapar, di mana di antaranya sudah lebih dari 212 ribu jiwa melayang, Trump jadi sedikit dari sejumlah pemimpin dunia yang bersikap santai dan enggan memakai masker bahkan sedari awal merebaknya pandemi. Selain kerap menyampaikan bahwa mengenakan masker bukan hal wajib bagi warganya, Trump juga pernah meledek mantan wakil presiden Joe Biden, yang acap disiplin memakai masker. “Saya tak mengenakan masker seperti dia (Biden). Dia memakainya setiapkali Anda melihatnya. Dia bisa bicara dengan jarak 200 kaki…dan dia muncul dengan masker terbesar yang pernah saya lihat,” kata Trump mengejek, dikutip Business Insider , Jumat (2/10/2020). Trump meledek Biden dalam sebuah ajang debat presiden jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika pada Selasa malam, 29 September 2020. Namun, sial bagi Trump. Dua hari setelahnya, Kamis, 1 Oktober 2020 waktu setempat, Trump dan istrinya Melanie Trump dilaporkan positif COVID-19. Kemungkinan besar Trump tertular dari salah satu penasihatnya, Hope Hicks. “Malam ini, @FLOTUS (ibu negara) dan saya telah dites positif COVID-19. Kami akan memulai karantina dan akan segera memulai proses pemulihan. Kami akan melaluinya bersama!” kicau Trump di akun Twitter -nya, @realDonaldTrump , Jumat (2/10/2020). Flu Spanyol Menyerang Presiden Amerika Hal menarik dari kisah Trump adalah, sejarah bak berulang. Pendahulu Trump, Woodrow Wilson, 101 tahun lampau juga jadi korban pandemi Flu Spanyol. Trump seolah tak belajar dari masa lalu lantaran situasinya nyaris serupa. Jika Trump santai menanggapi pandemi dan sibuk dengan agenda debat Pilpres, Wilson pun kala itu tak responsif menanggapi Pandemi Flu Spanyol yang merebak di kalangan militer lantaran disibukkan oleh agenda-agenda konferensi pasca- Perang Dunia I . Mirip Trump, Wilson terpapar setelah salah satu sekretarisnya positif mengidap Flu Spanyol. Sejarawan John M. Barry dalam The Great Influenza: The Story of Deadliest Pandemic in History mengungkapkan, pandemi Flu Spanyol sudah merebak di Amerika sejak awal 1918, atau beberapa bulan sebelum Perang Dunia I berakhir (November 1918). Kasus pertama yang tercatat muncul di kalangan militer, di mana Albert Gitchell, seorang koki militer di basis militer Angkatan Darat (AD) Kamp Funston, Kansas, jadi korban pertama yang positif Flu Spanyol. Gitchell menularkan sekira 522 personel lain. Sampai Maret 1918, virus itu sudah mencapai New York dan Washington DC. “Gelombang pertama (pandemi Flu Spanyol) terjadi pada Maret 1918, di mana salah satu penasihat Presiden Wilson, Kolonel Edward House, dilaporkan sakit di kediamannya hingga dua pekan. Ia sempat kembali ke Gedung Putih dan menghabiskan waktu istirahat untuk pemulihan selama tiga pekan di Gedung Putih,” tulis Barry. Ratusan tentara Amerika terjangkit virus Flu Spanyol di Kamp Funston. (National Museum of Health and Medicine). Kolonel House sempat pulih dan bahkan turut bertemu Perdana Menteri Prancis Georges Clemenceau pasca-berakhirnya perang, 30 November 1918. “Hari ini hari pertama saya bisa bertugas lagi selama lebih dari sepekan. Saya tertular influenza selama 10 hari dan melewatinya dengan penuh derita,” ujar House dikutip Barry. Pada awal April 1919, Presiden Wilson berperjalanan menyeberangi Samudera Atlantik untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Paris (1919-1920). Konferensi yang diikuti negara-negara pemenang Perang Dunia I itu kemudian membidani lahirnya Liga Bangsa-Bangsa (LBB), 10 Januari 2020. “Padahal Paris sejak Oktober (1918) berada di puncak pandemi dengan 4.574 oang meninggal karena flu. Bahkan Margaret, putri (Presiden) Wilson juga tertular pada Februari (1919) saat berada di Brussels, Belgia. Juga sejak Maret istri Wilson, sekretaris ibu negara, dilaporkan sudah jatuh sakit,” sambung Barry. Pada 2 April 1919, Presiden Wilson sudah berada di Paris untuk beradu gagasan tentang sejumlah perkara restorasi pasca-Perang Dunia I. Salah satunya terkait negara-negara yang kalah perang, seperti Jerman dan Turki. Walau konferensi itu sudah dibuka sejak 18 Januari 1919 dengan diwakili beberapa utusan Gedung Putih, pada April Presiden Wilson memerlukan datang sendiri karena alotnya negosiasi dengan dua koleganya, PM Clemenceau dan PM Inggris Lloyd George. Yang tak diketahui Wilson, sesampainya di Paris dia sebenarnya sudah tertular flu. Namun dokter pribadinya, Laksamana Muda Cary Travers Grayson, mengetahui gejala flunya baru tampak sehari setelahnya. “Pada kamis, 3 April 1919 – setelah menyambut kunjungan Raja Albert dari Belgia pada siang hari, Presiden (Wilson) undur diri dari rapat Dewan Empat Negara. Dengan jalan terhuyung-huyung ia menuju kamar tidurnya. Dokter pribadinya (Laksamana Grayson) menemukannya tengah menderita nyeri parah di punggung dan kepala, batuk-batuk, serta mengalami demam 103 derajat (Fahrenheit),” tulis Andrew Scott Berg dalam biografi sang presiden bertajuk Wilson. Presiden Amerika Thomas Woodrow Wilson (kanan) di Paris Peace Conference, April 1919. (Library of Congress). Tidak hanya mengalami batuk-batuk dan kesulitan bernapas selama malam itu, lanjut Berg, Presiden Wilson kemudian diketahui juga mengalami infeksi pada prostat dan kandung kemihnya. Kemungkinan besar virusnya juga menyebar hingga mengganggu otaknya. “Presiden Wilson tiba-tiba mengalami perubahan perilaku. Presiden Wilson mulai mengeluarkan perintah-perintah yang aneh dan tak masuk akal. Wilson juga seperti berhalusinasi karena sering menuduh para pekerja Prancis di kediamannya adalah para mata-mata pemerintah Prancis,” tambah Berg. Grayson awalnya mengira Presiden Wilson jatuh sakit karena diracun. Tetapi kemudian dalam diagnosa lanjutannya, terang sudah bahwa Presiden Wilson positif terpapar virus Flu Spanyol. “Presiden jatuh sakit karena flu berat semalam. Demamnya tinggi sampai 103 derajat (Fahrenheit/39 derajat Celcius) dan sempat mengalami diare. Itu gejala awal serangan flu. Malam itu yang terparah. Tetapi saya bisa mengendalikan batuk-batuknya yang parah walau kondisinya saat ini masih sangat serius,” tulis Grayson dalam telegram laporannya kepada Kepala Staf Gedung Putih Joseph Tumulty, dikutip Barry. Laksamana Muda Cary Travers Grayson (topi putih) dokter pribadi Presiden Wilson. (Library of Congress). Hingga empat hari Grayson merawat Presiden Wilson yang sempat kesulitan bangun dari tempat tidurnya, hingga bisa bangkit dan duduk di atas kasurnya di L’Hôtel du Prince Murat, Paris. Saat baru bisa bangkit dan duduk pun Presiden Wilson bahkan masih terus memikirkan “pertarungannya” di dewan rapat dengan PM Clemenceau dan PM George. “Lalu pada 8 April setelah suhu tubuhnya mereda, Wilson bersikeras untuk melanjutkan negosiasi. Tetapi karena belum bisa keluar (kamar hotel), Clemenceau dan Georgelah yang mendatanginya di kamar tidurnya. Walau kemudian pembicaraan ketiganya tak berjalan dengan baik,” tulis Barry lagi. Gedung Putih berupaya keras menutup rapat kabar Presiden Wilson sakit tertular Flu Spanyol di Paris dari pers. Laksamana Grayson saat meladeni pers di Paris sekadar menyatakan Presiden Wilson hanya sakit biasa karena cuaca hujan di Paris dan butuh istirahat semata. Sekembalinya ke Amerika, perlahan Presiden Wilson pulih dari Flu Spanyol kendati pada 25 September di tahun yang sama Wilson terserang stroke. Ia lebih beruntung jadi penyintas, tak seperti Presiden Brasil Rodrigues Alves, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Turki I bin Abdulaziz, dan PM Uni Afrika Selatan Louis Botha yang meninggal akibat Flu Spanyol. Dari sekitar 675 ribu warga Amerika yang meninggal karena pandemi Flu Spanyol sepanjang 1918-1919, salah satunya adalah Friedrich Trump, pebisnis kelahiran Bavaria, Jerman yang juga kakek Presiden Donald Trump.

  • Ketulusan Hati Johannes Leimena

    Untuk memproses secara hukum orang-orang yang terlibat G30S, dibentuklah Tim Pemerika Pusat (Teperpu). Sekali waktu, Ketua Pelaksana Harian Teperpu Kolonel Ahmad Tahir mendatangi kediaman Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena. Tahir menyampaikan permintaan untuk menayakan kesediaan Oom Jo – panggilan akrab Leimena – untuk memberikan keterangan kepada Teperpu. Leimena, sebagaimana dicatat Aco Manafe dalam Teperpu,  rupanya bersikap amat responsif. Sebelum dijelaskan untuk apa dia dimintai keterangan, Leimena sudah menjawab langsung. “Tentu. Sekarang? Saya siap,” ujar pejabat negara yang dikenal jujur dan sederhana itu. Demikianlah, keduanya bergegas ke mobil yang diparkir dan tadinya dikemudikan Tahir. Namun, ketika akan masuk mobil, Leimena bertanya ragu. “Apakah saya cukup begini saja?” tanya Leimena. “Memangnya kenapa, Pak?” tanya Tahir. “Maksudnya saya, apakah saya tak diperkenankan membawa perlengkapan sehari-hari lainnya?” kata Leimena. Tahir terdiam sambil menahan haru. Di balik kepolosannya, Leimena menyangka bahwa dirinya akan ditangkap lalu ditahan oleh Teperpu. Tahir pun menerangkan kembali niatannya untuk “membawa” Leimena. “Bapak tidak ditangkap, Pak. Percayalah! Sama sekali tidak ada alasan untuk itu,” jawab Tahir. Kedatangan Tahir hari itu hanya sekadar menanyakan kesediaan. Kalau Leimena bersedia meluangkan waktu, maka Teperpu akan membuatkan surat permintaan. “Jadi saya tidak ditangkap?” tanya Leimena. “Tidak, Pak,” ujar Tahir. Meski mendapat jawaban yang aman bagi dirinya, antusiasme Leimena tidak berkurang sama sekali. Mereka pun berangkat dan Leimena menjanlankan kewajibannya sebagai warga negara yang baik.

  • Asal-Usul Stigmatisasi Komunis di Indonesia

    BANDUNG, 4 Juli 1927, delapan orang berkumpul di sebuah rumah Regentsweg No. 22. Tujuh orang di antaranya bersepakat mendirikan sebuah partai baru: Partai Nasional Indonesia (PNI). Seorang di antaranya, yang paling tua, menolak ikut masuk ke dalam susunan pendiri partai. Dia cemas kalau partai baru tersebut bakal dituduh sebagai partai komunis kelanjutan PKI dan akan kembali dibubarkan oleh pemerintah kolonial.

  • Gubernur Jawa Barat di Tengah Badai G30S

    Kabar terbunuhnya enam perwira tinggi Angkatan Darat pada subuh 1 Oktober 1965 di Jakarta begitu menggemparkan. Seluruh daerah di Indonesia seketika memanas. Keadaan di Jawa Barat, yang secara geografis bersebelahan dengan Jakarta, tidak luput dari situasi tersebut. Tapi sedikit banyaknya keadaan di wilayah Pasundan masih bisa dikendalikan aparat dan pejabat setempat. Hampir tidak ada tindakan-tindakan agresif berskala masif seperti menimpa Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Namun rupanya ketika peristiwa 30 September itu terjadi, Gubernur Jawa Barat Mashudi sedang tidak bertugas. Dia diketahui tengah berada di Peking (Tiongkok) dalam rangka lawatan kenegaraan sebagai anggota MPRS. Mashudi bersama anggota MPRS lain, serta sejumlah perwira tinggi militer menghadiri undangan Perayaan Hari Nasional Tiongkok 1 Oktober di Lapangan Tiananmen. Kabar dari tanah air baru diterima Mashudi pada saat perayaan berlangsung. Perdana Menteri Chou En-Lai mengatakan kepada rombongan bahwa di Jakarta telah terjadi penggulingan pemerintah oleh kelompok yang menamakan diri Dewan Revolusi. Dewan yang menurut Victor M. Fic, dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi , memiliki fungsi “pembersihan” atas unsur-unsur penghalang kekuasaan baru pasca peristiwa 30 September. Dikisahkan Nina H. Lubis dalam “Tatar Sunda di Guncang Konflik Sosial Politik” dimuat Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional Bagian II: Konflik Lokal , Mashudi dan rombongan, yang seharunya tiba di tanah air pada 2 Oktober, sempat tertahan di Tiongkok karena penerbangan ke Jakarta ditutup. Namun pada 4 Oktober, atas bantuan Raja Norodom Sihanouk, mereka bisa kembali ke Indonesia melalui Phnom Penh, Kamboja. Tiba di Kemayoran, rombongan langsung dibawa ke Markas Kostrad guna mendapat penjelasan. Malamnya, Mashudi segera berangkat ke Bandung. “Mashudi, sebagai perwira tinggi AD, merasa terpukul dengan kematian Jenderal Ahmad Yani, atasannya, yang juga sudah dianggap saudara dan teman seperjuangan,” tulis Nina. “Para jenderal korban Lubang Buaya lainnya, ternyata juga kakak dan adik kelas sewaktu Mashudi menempuh pendidikan di AMS-B Yogyakarta.” Pada 5 Oktober, Mashudi mengadakan rapat pimpinan. Panglima Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie turut hadir dan memberi penjelasan terkait peristiwa yang sebenarnya terjadi di Jakarta. Dia mendapat informasi langsung dari Mayor Ali Rachman dari Batalion 328 Kodam VI Siliwangi, yang sebelum malam 30 September telah berada di Jakarta untuk mengikuti parade perayaan Hari ABRI 5 Oktober. Sang gubernur, imbuh Nina, pun merasa bersyukur karena para pimpinan di Jawa Barat tidak mengeluarkan pernyataan terkait dukungan kepada Dewan Revolusi. Hanya daerah Kuningan yang diketahui mencoba membentuk Dewan Revolusi Daerah sehingga bupatinya diamankan demi mencegah kegaduhan di Jawa Barat. Di Kuningan dan sekitarnya, berdasar data dalam Politik Tanpa Dokumen karya Muhidin M. Dahlan, keberadaan simpatisan PKI memang cukup besar. “Selanjutnya Gubernur Jawa Barat Brigjen TNI Mashudi mengeluarkan serangkaian tindakan yang berkaitan dengan aparatur pemerintahan. Mashudi secara maraton mengadakan rapat-rapat dengan para bupati/kepada daerah dan walikota. Ia langsung pula membuat pernyataan: mendukung pemerintah dan mengutuk Dewan Revolusi,” ungkap Nina. Melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat No. 149/X/B.IV/HUK/PENG/65 tanggal 26 Oktober 1965, Mashudi memberhentikan sementar waktu delapan anggota PKI yang duduk dalam DPRD-GR. Mereka adalah Suharna Affandi, Abbas Usman, Akhmad Suganda, Enok Rokhayati, Mustofa, Cece Suryadi, Sukra Prawira Sentana, dan Suhlan Sujana. Pada 2 November 1965, Mashudi kembali mengeluarkan Instruksi Gubernur Kepada Daerah Jawa Barat No. 211/Staf/T.U/65 tentang Pengamanan dan Pembersihan Aparatur Negara/Daerah dari unsur-unsur G30S. Di dalam instruksi itu gubernur menindak secara administratif aparatur daerah yang dicurigai terlibat PKI. Mereka dibedakan menjadi beberapa klasifikasi, sesuai dengan keterlibatan di dalam G30S, yaitu: golongan yang aktif/pasif ikut terlibat PKI; golongan yang dicurigai terlibat peristiwa G30S; golongan yang mendapat hasutan sehubungan dengan peristiwa G30S; golongan yang menghilang setelah peristiwa G30S; dan golongan yang meski tidak terlibat G30S, instansinya terindikasi terlibat. Bagi aparatur yang terbukti terlibat dalam peristiwa G30S, Mashudi memerintahkan walikota/bupati, serta pimpinan daerah tingkat 2 seluruh Jawa Barat untuk melakukan penahanan. Kemudian selama di dalam tahanan mereka akan diberikan indoktrinasi mengenai ideologi negara, juga diberikan pekerjaan yang bermanfaat. “Selanjutnya, Pangdam Mayjen Ibrahim Adjie mengeluarkan surat keputusan atas usul Gubernur Mashudi bahwa PKI di Jawa Barat sudah bubar. Menurut Mashudi, pimpinan PKI di Jawa Barat menyadari bahaya yang mengancam mereka, yaitu kalau-kalau terjadi tindakan penghakiman yang dilakukan rakyat seperti yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga mereka membubarkan diri,” tulis Nina.

  • Profil Pahlawan Revolusi: DI Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga

    Masih ingat salah satu adegan dramatis dalam film Pengkhianatan G30S/PKI : seorang perwira tinggi ditembak mati oleh gerombolan penculik persis di depan anak dan istrinya. Namun sebelum tewas diberondong, sang jenderal  terlebih dulu berdoa dan melawan para penculiknya. Siapakah dia? Sosok jenderal yang digambarkan itu tak lain adalah Donald Icazus Panjaitan. Lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925, Pandjaitan dikenal sebagai perwira yang mahir berbahasa Jerman. Hal itu disebabkan karena tempat dia dibesarkan adalah lingkungan Rheinische Mission Geselchaft, sebuah kelompok zending yang berasal dari Jerman. Setelah lulus pendidikan dasar Hollandsche Inladsche School (HIS), Pandjaitan masuk sekolah menengah Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) tanpa tes. Itu terjadi karena nilai seluruh pelajaran yang pernah diikuti Panjaitan dianggap bagus.  Sejatinya, Pandjaitan ingin menempuh pendidikan lanjutan pertama di Hoogere Burger School (HBS). Namun karena orangtuanya hanya seorang pedagang kecil, keinginan itu terpaksa harus dipendam. Pandjaitan lantas memenuhi permintaan orang tuanya melanjutkan sekolah di MULO Tarutung.  Kala menjalani pendidikan di MULO itulah Panjaitan mendapatkan musibah. Sang ayah meninggal dunia lalu tak lama kemudian disusul oleh ibunya. Kendati bersedih, Pandjaitan muda memutuskan untuk terus belajar hingga selesai menempuh pendidikan di MULO Tarutung. Tak lama dari kelulusannya dari MULO Tarutung pada 1942, Hindia Belanda diserang militer Jepang. Pada Maret 1942 Hindia Belanda secara resmi menyerah kepada Jepang. Pandjaitan yang menganggur kemudian pindah ke Riau untuk bekerja sebagai kepala pembukuan perusahaan kayu milik Jepang pada 1943. Ketika tentara pendudukan Jepang membutuhkan tenaga prajurit guna memenangkan Perang Asia Timur Raya dan membuka rekruitmen bagi para pemuda Indonesia untuk menjadi anggota Gyugun (paramiliter sejenis PETA di Jawa), tanpa banyak pertimbangan Pandjaitan langsung mendaftar dan diterima. Dia ditempatkan di Pekanbaru. Usai kapitulasi Jepang terhadap Sekutu pada 14 Agustus 1945, tentara pendudukan Jepang di Sumatera membubarkan Gyugun lantas melucuti senjata para anggotanya. Mereka takut senjatanya diambilalih oleh para pemuda Indonesia. Upaya ini kemudian dilawan oleh para pemuda.  Setelah mengetahui proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta, Pandjaitan dan kawan-kawannya mengumpulkan kembali para anggota Gyugun dan membentuk Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang pada Desember 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ada tiga batalyon TKR di wilayah Riau saat itu, yakni di Pekanbaru, Bengkalis, dan Indragiri. Pandjaitan diangkat menjadi komandan batalyon TKR untuk wilayah Pekanbaru. Tak lama setelah diangkat menjadi kepala Organisasi/Pendidikan Divisi IX di Bukittinggi namun pangkatnya diturunkan menjadi kapten akibat kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (1948), Pandjaitan memimpin pasukannya melancarkan perang gerilya menyusul dilancarkannya agresi militer kedua oleh Belanda pada 19 Desember 1948. Dia terpaksa meninggalkan istrinya yang baru melahirkan di Bukittinggi.  Pandjaitan baru bertemu kembali dengan istrinya setelah Kapten Maraden Panggabean, yang istrinya merupakan adik kandung istri Pandjaitan, mempertumakannya di suatu malam di hutan yang menjadi tempat perkemahan Markas Komando Sumatera di Lubuksikaping. “Dia melompat dari tempat tidur, mengenakan pakaian dan berlari ke tempat kendaraan kami sambil berkata, ‘Mujizat Tuhan Mahabesar’,” kata Panggabean dalam otobiografinya, Berjuang dan Mengabdi . Agresi militer kedua Belanda yang membuat seluruh jajaran tinggi pemerintah RI, termasuk Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, ditawan memaksa Syafruddin Prawiranegara membentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, 22 Desember 1948. Syafruddin lalu memanggil Pandjaitan, yang menjabat posisi Kepala Staf IX Tentara dan Teritorial Sumatera, untuk menjadi pimpinan Pusat Perbekalan PDRI pada 15 Januari 1949.  Usai Agresi Militer Belanda II, Pandjaitan dipercaya menjadi Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium Sumatera Utara. Setelah KMB (23 Agustus-2 November 1949), Pandjaitan dipindahkan ke Medan untuk menduduki posisi Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium I Sumatera Utara, kemudian wakil Kepala Staf Tentara dan Teritorium Sumatera Selatan pada Oktober 1952. Baru pada Januari 1956 Pandjaitan mendapatkan kembali pangkat mayor.  Setelah mengikuti kursus atase militer pada April 1956 dan menjadi perwira di Atase Militer (Atmil) di Bonn, Jerman Barat, pada Oktober 1956 Letkol Pandjaitan diangkat menjadi atase militer Republik Indonesia di Bonn.  Semasa menjabat Atmil, Pandjaitan melancarkan misi-misi rahasia untuk mengintip kekuatan Belanda dalam rangka sengketa Irian Barat. Salah satu misi yang dibuat Pandjaitan adalah menyusupkan warga negara Jerman Barat bernama Felix Matternich ke Belanda untuk memotret kapal-kapal perang Belanda. Upaya yang dilakukan Pandjaitan itu merupakan Operasi C alias “operasi senyap” yang dilancarkan KSAD Jenderal AH Nasution.  “Para Atase Militer di Eropa Barat, Kartakusumah di Paris, S. Parman di London dan Panjaitan di Bonn merupakan pendukung usaha ini,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama . Pandjaitan dan Nasution memiliki kedekatan personal. Saat Nasution mampir ke Frankfurt, Jerman dari kunjungan utamanya ke Moskow, Rusia, Pandjaitan menjamunya dan memberi perhatian personal. “Atase Militer Letnan Kolonel Panjaitan mengingatkan saya. Katanya, ‘Saya melihat jenderal kini jauh lebih tua, dibanding waktu bertemu dulu. Saya mengharapkan agar jenderal juga memperhatikan diri jenderal,’” sambung Nasution. Melalui konferensi pers yang disediakan Pandjaitan pula Nasution menjelaskan misinya kali itu. “Oleh Atase Militer kita dipersiapkan konperensi pers. Saya jelaskan misi saya. Kalau dengan diplomasi tak berhasil mengembalikan Irian Barat, maka APRI harus siap membebaskannya,” kata Nasution. Pandjaitan bergaul karib dengan masyarakat setempat selama di Bonn. Dia antara lain, tulis Martin Sitompul dalam artikelnya di Historia.id berjudul “D.I. Pandjaitan Berkhotbah di Jerman”, pernah berceramah di gereja atas undangan Pendeta de Kleine, tokoh Gereja Protestan Jerman di Wuppertal-Barmen.  “Mungkin maksudnya agar masyarakat Jerman mengetahui dan bangga, bahwa ada perwira TNI yang berasal dari Tanah Batak, tempat Mission Zending bertugas menyebarkan agama Kristen di sana sejak sebelum penjajahan,” kata istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br. Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Dari Bonn, Pandjaitan lalu ditarik ke Jakarta dan diangkat menjadi perwira pembantu Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel pada Juli 1960.  Kinerja baik Pandjaitan membuatnya dipilih Menpangad Letjen A. Yani sebagai Asisten IV-nya ketika Yani naik menggantikan Nasution, 1962. Sama seperti Yani sebelumnya, pengangkatan Pandjaitan sempat mendapat pertanyaan besar dari Presiden Sukarno. Dikisahkan Marieke Pandjaitan br. Tambunan, Pandjaitan sampai dihadapkan pada presiden karena penjelasan Yani soal pilihannya itu tak bisa meyakinkan presiden.  Presiden, yang mendapatkan informasi ketidakloyalan Pandjaitan dari Biro Pusat Intelijen dan Chairul Saleh yang pada 1950-an tinggal di Jerman, bahkan memerlukan bertanya kepada pihak lain. Salah satunya Hasjim Ning, sahabatnya yang merupakan keponakan Bung Hatta, yang juga ditanyai soal rumor miring terhadap Yani menjelang pemilihannya menjadi Menpangad.  “Aku ditanyai Bung Karno pula persoalan itu, karena kebetulan pada waktu itu aku berada di Jerman Barat. Itu bohong saja, Pak. Makum, tentu ada orang yang tidak suka pada Panjaitan kalau ia menduduki pos yang penting,” kata Hasjim kepada Sukarno seperti ditulis dalam otobiografinya, Pasang-Surut Pengusaha Pejuang . Pandjaitan akhirnya diangkat menjadi Asisten IV Menpangad, pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal. Jabatan itu masih dipegangnya ketika pada dini hari 1 Oktober 1965 rumahnya digeruduk pasukan Gerakan 30 September pimpinan Letnan Kolonel Untung Syamsuri yang mengklaim ingin menyampaikan perintah presiden.  Setelah rumahnya berantakan diberondong pasukan penggeruduk, Pandjaitan turun menemui mereka dengan berpakaian lengkap. Di depan garasi saat berdoa, Pandjaitan dipukul kepalanya lalu diberondong pasukan penculik. Empat hari kemudian, saat dimakamkan di TMP Kalibata, Pandjaitan ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (anumerta) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/ Koti.  Menjelang akhir hidupnya, Pandjaitan memberi porsi waktu lebih besar untuk membaca buku-buku keagamaan. Ketika gugur, Pandjaitan telah merampungkan enam dari 12 jilid Church Dogmatics karya teolog Karl Barth. “Hasratnya untuk memahami dogma-dogma tersebut bukan karena dia seorang yang taat beragama, tetapi juga karena keinginannya untuk membantu para pendeta memberi khotbah-khotbah di daerah gerilya selama masa perang kemerdekaan,” tulis Mardanas Safwan dalam Mayor Jenderal Anumerta DI Panjaitan .

bottom of page