top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dari 'Cacat' sampai 'Disabilitas'

    Setelah mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat, Omnibus Law kini mendapat kritikan dari para aktivis disabilitas. Musababnya, terdapat beberapa pasal dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang menggunakan kata "cacat". Ketua Aliansi Australia Indonesia Disability Reseach and Advocacy (AIDRAN) Slamet Thohari menyebut bahwa penggunakan kata "cacat" akan berimplikasi pada paradigma mengenai disabilitas. “Bahwa sebenarnya penyandang disabilitas itu tidak mampu, maka segala yang dilakukan oleh perusahaan atau korporat di dalam melaksanakan investasi di Indonesia itu adalah kebaikan. Ujungnya adalah charity  nanti,” kata Thohari kepada Historia . Menggunakan kata "cacat" tentu berbeda dengan "disabilitas". "Cacat" berkonotasi pada ketidakmampuan karena kekurangan seseorang baik secara fisik maupun mental. Sementara ‘disabilitas’ ialah orang yang tidak mampu karena diskriminasi serta tidak diberikan akses dan akomodasi. Sementara dalam UU Cipta Kerja, menurut Thohari, tidak memberikan berbagai prasyarat aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas pada perusahaan-perusahaan yang hendak berinvestasi di Indonesia. “Itu mencangkup perspektif dan perspektif itu bisa berimplikasi pada kebijakan dan kebijakan itu pasti nanti ujungnya adalah charity . Bukan lagi menjadi kewajiban seseorang (perusahaan,  red. ) memberikan aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi mereka,” jelas Thohari. Menghapus "Cacat" Kata ‘cacat’ kemungkinan telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Namun pada 1954, pemerintahan Sukarno mulai mencoba menghilangkan istilah cacat dan memperkenalkan istilah baru yakni "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani". Menurut Suharto, Pim Kuipers, dan Pat Dorsett dalam “Disability Terminology and The Emergence of ‘Diffability’ in Indonesia” yang termuat dalam jurnal Disability & Society , perubahan ini merupakan konsekuensi dari rezim Sukarno yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa yang menghargai kehalusan. Rezim Sukarno memang banyak menggunakan eufemisme untuk melunakkan nilai sesuatu yang dianggap kasar atau tidak sopan. Cara serupa juga digunakan untuk mengganti kata "gelandangan" dengan "tunawisma" dan "pelacur" diganti dengan "tunasusila". “Eufemisme ini juga diterapkan pada terminologi terkait disabilitas yang mengalami trial and error ,” tulis Suharto, Kuipers, dan Dorsett. Meski demikian, istilah "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani" ternyata masih terstigma sebagai aneh dan tidak berguna. Stigma ini terus berlanjut hingga masa Orde Baru berkuasa. Bahkan, mereka diasosiasikan dengan gangguan atau ketidakmampuan bertahan hidup. Pada masa ini, istilah "cacat" juga kadang-kadang muncul kembali dengan imbuhan "penderita" sehingga menjadi "penderita cacat". Pada 1992, kata "penyandang" muncul menggantikan kata "penderita". Namun masih digunakannya istilah "cacat" menggagalkan upaya menghilangkan stigma negatif dan melanggengkan gagasan kerusakan. “Pendukung disabilitas menganggap terminologi ini ofensif dan menstigmatisasi, karena ia menyamakan manusia dengan objek, seperti kursi yang rusak. Hal ini kemudian memicu ketidakpuasan banyak advokat disabilitas, terutama di Yogyakarta, yang kemudian mendorong pencarian terminologi baru yang lebih inklusif,” tulis Suharto, Kuipers dan Dorsett. Ratifikasi CRPD JIka sebelumnya perubahan kata lebih menggunakan eufemisme, kali ini transformasi sosial menjadi alasan perlunya terminologi baru. Para aktivis disabilitas kemudian mulai mencari istilah baru untuk menghapus istilah "cacat" yang diskriminatif. “Kalau orang-orang memberikan kita label buruk, itu akhirnya kita menjadi buruk. Padahal sebenarnya itu tidak ada. Itu hanya konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat. Maka kemudian teman-teman tahun 90-an hingga tahun 2000an perlahan-lahan mulai mengganti penyebutan dengan 'difabel', differently abled people ,” terang Slamet Thohari. Reformasi dan kemudian terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden keempat membuka peluang baru. Hak asasi manusia menjadi pendekatan baru dalam pembangunan nasional. Hal ini memberi angin sejuk bagi advokasi hak-hak disabilitas terutama terkait akses terhadap layanan dasar dan partisipasi dalam pembangunan nasional. Melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2011, pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD) atau Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Sejak itu, istilah "cacat" dihapus dan diganti dengan "penyandang disabilitas". “Akhirnya istilah itu disepakati menghapus semua kata 'cacat'. Semua undang-undang, turunan maupun undang-undang setelahnya akan menggunakan istilah 'penyandang disabilitas',” jelas Thohari. Istilah "disabilitas" diharapkan dapat mengubah stigma bahwa mereka bukan orang yang tidak normal, tidak mampu, kekurangan, lemah dan sebagainya. “Jadi disabilitas itu bukan kecacatan tapi hanya sesuatu yang menjadi bagian dari identitas. Seperti people with glasses, people with long hair dan seterusnya,” terang Thohari. Terkait UU Cipta Kerja, Thohari telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga ke Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Namun, hingga artikel ini terbit, ia belum mendapat respon apapun.

  • Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7

    KONSPIRASI. Mulai dari Martin Luther King Jr. hingga Robert Francis ‘Bobby’ Kennedy, pembunuhan yang mengakhiri hidup keduanya itu tak luput kontroversi. Dua tokoh kemanusiaan itu sama-sama jadi “martir” di tahun yang sama, 1968. King dibunuh pada 4 April, sementara Bobby pada 6 Juni. Cuplikan-cuplikan foto dan video tentang nahasnya kedua tokoh tersebut dijadikan gerbang masuk oleh sutradara Aaron Sorkin untuk menggambarkan iklim politik Amerika Serikat yang pada 1968 jadi salah satu titik krisis politik paling panas. Klimaksnya adalah kerusuhan di sela Konvensi Partai Demokrat di Chicago, 28 Agustus, yang berbuntut pada sebuah persidangan kontroversial yang juga jadi tajuk drama historis garapan Sorkin, The Trial of the Chicago 7 . Alur cerita lantas melompatkan ke lima bulan pasca-kerusuhan. Pada suatu pagi, Richard Schultz (diperankan Joseph Gordon-Levitt) bersama seniornya sesama jaksa penuntut Distrik Selatan Negara Bagian Illinois, Thomas Foran, menanti dengan sabar di sebuah ruang tunggu di Kementerian Kehakiman Amerika. Diiringi bertubi-tubi bunyi mesin ketik milik seorang sekretaris di hadapannya, jaksa Schultz yang terbengong segera tersadar kala seseorang mengganti sebuah foto besar di dinding ruangan. Foto Presiden Lyndon B. Johnson ditukar foto Richard Nixon, presiden terpilih pada Pilpres Amerika 1968. Setelah itu, jaksa Foran dan Schultz dipanggil ke ruangan jaksa agung federal yang baru, John N. Mitchell. Isu penting yang diobrolkan ketiganya adalah soal kerusuhan yang menurut Mitchell bukan hanya soal kericuhan yang dimulai oleh pihak Kepolisian Chicago, melainkan ada unsur konspirasi. Kasus tersebut ingin diajukan pemerintah federal via Kementerian Kehakiman untuk menjerat delapan aktivis yang – All-Star  dari kelompok-kelompok radikal kiri yang menggalang massa untuk melawan kebijakan Perang Vietnam yang terus digulirkan pemerintahan Presiden Johnson– diduga sebagai provokator dan dalang kerusuhan. Mitchell menganggap janggal sejumlah perusuh yang ditangkap tak diajukan ke muka hukum untuk diganjar lebih tegas, tapi hanya dinyatakan bersalah terkait masuk tanpa izin ke tempat tertentu hingga merusak sarana publik. Mitchell ingin perilaku seperti itu tak lagi terulang dan ia ingin para dalang kerusuhan diadili untuk dijadikan contoh. Begitulah argumentasi Mitchell pada Schultz dan Foran yang akan ditugasi sebagai ujung tombak pihak penuntut. Dakwaan pelanggaran hukum yang bakal jadi “senjatanya” adalah pasal 2101 ayat 18 dari “Undang-Undang Rap Brown” alias Civil Obedience Act of 1968 (UU Ketertiban Umum tahun 1968). Inti dari pasalnya adalah konspirasi lintas batas negara bagian untuk menciptakan kekerasan dengan ancaman pidana 10 tahun penjara. Adegan para aktivis HAM dan anti-Perang Vietnam yang diajukan ke pengadilan ( netflix.com ) Schultz sontak mengernyitkan dahi kala diserahkan tumpukan berkas berisi data delapan aktivis yang akan diajukan ke muka hukum, semisal Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen) dan Jerry Rubin (Jeremy Strong) yang mendirikan Yippies/Partai Pemuda Internasional, David Dellinger (John Carroll Lynch) sang pemimpin MOBE/Komite Mobilisasi Nasional untuk Mengakhiri Perang Vietnam, dan Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II) si ketua Partai Black Panther. Schultz keberatan lantaran jika tuntutan ini dibawa ke pengadilan, pemerintah justru akan dianggap mengekang hak kebebasan berpendapat. Namun Mitchell bersikeras agar Schultz dan Moran membawa kedelapan aktivis yang acap merongrong kepentingan pemerintah itu diseret ke pengadilan. Kedua jaksa yang ditugaskan itu juga diwajibkan untuk bisa mencari siapa dalang utamanya. Mitchell tak peduli dengan pernyataan awal bahwa provokator kerusuhan adalah pihak polisi. Ia ingin “membuktikan” sebaliknya bahwa dalang utamanya pasti dari kedelapan aktivis itu. Kasus itu akhirnya diajukan ke Pengadilan Negeri Chicago, Illinois, dipimpin Hakim Julius Hoffman (Frank Langella) dalam kasus “69 CR 180: United States of America vs David T. Dellinger, et al ”. Tujuh dari delapan terdakwa diwakili pengacara William Kunstler (Mark Rylance). Sidang pertama digelar pada 20 Maret 1969 dan bergulir secara maraton hingga 151 hari persidangan. Di pertengahan, terdakwa Bobby Seale diputuskan akan disidang secara terpisah hingga membuat julukan “Chicago Eight” berganti jadi “Chicago Seven”. Persidangan dagelan itulah yang ingin disampaikan sang sineas kepada penonton. Untuk mengetahui bagaimana intrik-intrik dan dinamika persidangannya berjalan, lebih baik Anda tonton sendiri The Trial of the Chicago 7. Walau sempat ditayangkan di beberapa bioskop di Amerika secara terbatas pada 25 September 2020 lantaran masih situasi pandemi COVID-19, film ini bisa disaksikan via platform daring Netflix mulai 16 Oktober 2020. Cerminan Alam Demokrasi Kekinian The Trial of the Chicago 7 bisa jadi pilihan menarik karena selain disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik 2020, film ini bisa mewakili keadaan sosial-politik yang terasa saat ini. Emosi penonton akan dibawa naik-turun oleh beragam adeganyang diiringi music scoring garapan komposer Daniel Pemberton yang kuat menghadirkan suasana era itu. Garansi itu bukan tanpa sebab. Sorkin sebelumnya gemar menggarap film drama biopik berbau isu sosial, baik sebagai penulis naskah maupun sutradara. A Few Good Men (1992), The American President (1995), Charlie Wilson’s War (2007), hingga The Social Network (2010) merupakan di antara karya-karyanya. Drama serial seperti The West Wing (1999-2006), dan The Newsroom (2012-2014) juga hasil garapannya. Tak heran bila lewat film ini Sorkin bisa menyelaraskan nuansa iklim politik pada 1968 dengan apa yang terjadi dalam demokrasi saat ini, terutama sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika ke-45 pada 2017. Pembangkang kaum sipil sebagai reaksi dari ancaman kriminalisasi bagi hak kebebasan berpendapat dan maraknya rekayasa dalam proses hukum menjadi nuansa yang kental mewarnai dua era berbeda tersebut. Satu adegan kontroversi Hakim Julius Hoffman (kanan) melarang belasan juri mendengarkan kesaksian mantan Jaksa Agung Amerika, Ramsay Clark (kiri) yang menjadi saksi kunci ( netflix.com ) Entah disengaja atau tidak, The Trial of the Chicago 7 rilis beberapa bulan pasca-banjir aksi protes “Black Lives Matter”, yang juga memicu kekerasan aparat, dan satu bulan jelang Pilpres Amerika (3 November 2020). Menariknya, perkara serupa tak hanya terjadi di Amerika. Di Hong Kong , Thailand, dan Indonesia demonstrasi massal juga pecah baru-baru ini. Dalam The Trial of the Chicago 7 , Sorkin mempersepsikan Trump seperti Walikota Chicago Richard M. Daley yang menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan, agar aksi massa yang digalang delapan aktivis tak mengganggu Konvensi Partai Demokrat di International Amphitheatre, 26-29 Agustus 1968. “ The Trial of the Chicago 7 memang tidak sepenuhnya dimaksudnya hanya tentang 1968. Filmnya juga dimaksudkan terkait yang terjadi hari ini. Aktivitas Jerry Rubin dan Abbie Hoffman juga paralel dengan isu-isu yang diedarkan di media sosial yang lebih deskriptif untuk membangkitkan pembangkangan di antara para pemuda yang awam. Kita ingin tahu bagaimana orang-orang yang menjadi oposan itu akhirnya terinspirasi untuk melawan pihak yang lebih kuat,” terang Sorkin dalam wawancaranya dengan Vogue , 25 September 2020. Greget The Trial of the Chicago 7 makin terasa dengan penampilan all-out semua aktornya. Selain penampilan apik perlawanan pengacara William Kunstler yang dimainkan Mark Rylance, Sorkin juga salut terhadap akting Jeremy Strong yang memerankan Jerry Rubin. “Saya tak tahu aktor lain yang sehebat dia (memerankan Kunstler, red. ). Namun saya juga tak tahu aktor lain sehebat Jeremy Strong. Dia mengajukan diri untuk bisa terkena gas air mata sungguhan dalam adegan kerusuhannya. Kebanyakan pemeran ekstra sebagai polisi dalam film juga dimainkan aparat Kepolisian Chicago yang sedang tak bertugas. Jeremy juga minta mereka bertindak kasar padanya secara betul-betul, bukan akting belaka,” imbuhnya. Meski begitu, The Trial of the Chicago 7 tak 100 persen akurat dalam fakta. Ada beberapa dramatisasi di dalamnya. Eksistensi Daphne O’Connor (Caitlin FitzGerald), agen FBI yang menyamar untuk menyusup ke kelompok para aktivis itu dengan berpura-pura jatuh cinta pada Jerry Rubin, misalnya. Adegan kerusuhan Chicago 1968 yang para ekstrasnya dimainkan polisi betulan ( netflix.com ) Faktanya, tokoh Daphne murni fiksi. Fakta historis juga menunjukkan tak ada sosok perempuan di antara para pemimpin kelompok aktivis itu. Daphne direkonstruksi dari sosok Robert Pierson, aparat Kepolisian Chicago. Sorking “menukar” sosok Pierson dengan Daphne untuk mengisi kekosongan tokoh perempuan agar filmnya tak terlalu maskulin. Dramatisasi juga dilakukan dalam adegan jalannya persidangan. Sebagian ada yang ditambahkan sebagai bumbu penguat agar dramanya bisa lebih terasa gregetnya. Contohnya adegan ketika Tom Hayden menyebutkan satu per satu dari 4.500 tentara Amerika yang tewas di Vietnam dalam persidangan terakhir sebelum vonis. Adegan itu tak ada dalam persidangan asli. “Di akhir film saya ingin Anda (penonton) merasakan harapan dengan sangat jelas. Bahwa pergerakan hak sipil pada 1960-an memang berjalan pedih dan tak semestinya harus dialami lagi, walau yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Seperti membangun sebuah rumah. Ketika hampir selesai, sekelebatan angin berhembus dan merobohkannya lagi,” tandas Sorkin. Sosok Pengacara Kontroversial Hal terpenting dari kekurangan The Trial of the Chicago 7 adalah latar belakang Kunstler (Mark Rylance), pengacara HAM paling kontroversial di era 1960-an. Bila latar belakang delapan terdakwa mendapat ruang, Sorkin tak menyediakan sedikit pun untuk Kunstler yang  sampai merelakan waktu, tenaga, dan emosinya dalam pengadilan itu tanpa dibayar. Sorkin hanya memberi secuil clue soal latar belakang Kunstler. Padahal, figur kelahiran New York, 7 Juli 1919 itu sejak tahun 1957 sudah menjadi pengacara bagi orang-orang yang dikriminalisasi. Saat itu ia membela William Worthy, aktivis cum koresponden suratkabar Baltimore Afro-American . Sejak saat itu Kunstler memantapkan diri untuk jadi pengacara HAM bagi para aktivis yang dikriminalisasi. Salah satu yang diadvokasinya adalah H. Rap Brown alias Hubert Gerold Brown alias Jamil Abdullah al-Amin, mantan anggota Partai Black Panther yang jadi ketua Komite Koordinasi Pelajar Anti-Kekerasan. Sosok pengacara HAM William Moses Kunstler (kiri) yang diperankan aktor kawakan Mark Rylance (Stanford University Library/netflix.com) Kunstler merasa makin “hidup” setelah terjun mengadvokasi perkara-perkara HAM, terutama setelah bertemu Dr. Martin Luther King Jr. pada 1961 di Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan. Di forum itu, King menyuarakan “Freedom Riders”, gerakan untuk menghapuskan pemisahan berdasarkan ras di bus-bus. “Fred Marks, salah satu teman dekat Kunstler, mengenang: ‘Ia benar-benar hidup dalam pergerakan HAM. Inilah yang sepanjang hidupnya ia selalu kejar. Pergerakan HAM menghadirkan energi tersendiri dalam hidupnya,’” tulis David J. Langum dalam William M. Kunstler: The Most Hated Lawyer in America . “Periode 1962-1965 Kunstler praktis hidup di atas pesawat, terbang dari selatan, kemudian kembali lagi ke New York, di manapun terjadi kriminalisasi terhadap aktivis. Kunstler menganggap dirinya sebagai pengacara keliling dalam tradisi kolonial Amerika. Kunstler juga sering berpartisipasi dalam kampanye-kampanye King di Albany, Georgia (1962-1963; Danville, Florida (1964), Birmingham, Alabama (1963); dan St. Augustine, Florida (1964).” William Kunstler (kanan) jadi salah satu kuasa hukum Dr. Martin Luther King Jr. sejak 1961 (Library of Congress) Di kota-kota itulah Kunstler mendampingi para aktivis yang ditangkap dan dimejahijaukan, hingga mengatur pembebasan bersyarat. Bersama istrinya, Lotte, Kunstler acap terlibat dalam aksi penggalangan dana untuk kampanye-kampanye HAM warga Afro-Amerika. “Berdasarkan reputasinya sebagai advokat HAM itulah, Dr. King memintanya menjadi anggota tim khusus kuasa hukum SCLC pimpinan King yang artinya, harus selalu siap kapanpun jasanya dibutuhkan. Permintaan itu jadi awal hubungan keduanya selama beberapa tahun sepanjang aktivitas King,” ungkap Leonard S. Rubinowitz dalam A Notorious Litigant and Frequenter Jails: Martin Luther King, Jr., His Lawyers and the Legal System. Pada 16 Desember 1961, King ditangkap bersama 700 aktivis pasca-berdemonstrasi di Albany yang berujung kerusuhan yang dipicu kekerasan aparat sehari sebelumnya. Kunstler mengadvokasinya namun gagal membebaskan King yang divonis kurungan 45 hari atau denda USD178 pada Juli 1962. King memilih dibui dan bahkan menolak uang jaminan pembebasan bersyarat. Latar belakang itu jadi penting buat memahami betapa geramnya Kunstler dalam persidangan “The Chicago Seven”. Protes-protes kerasnya membuatnya beberapa kali masuk catatan tindakan penghinaan di muka sidang. Ilustrasi terdakwa Bobby Seale yang dirantai di kursinya dalam ruang sidang, karya Howard Brodie (Library of Congress) Ledakan kemarahan Kunstler terakhir yakni kala melihat terdakwa Bobby Seale disiksa petugas keamanan yang diperintah hakim untuk “penertiban persidangan” pada 30 Oktober 1968. Setelah disiksa, Seale kembali didudukkan di kursi terdakwa dengan disekap mulutnya serta tangan dan kakinya dirantai ke kursinya. Hakim merasa terganggu atas protes-protes Seale. Seale protes karena persidangan berjalan tanpa pengacaranya, Charles R. Garry, yang absen karena sedang naik meja bedah. Permintaan Seale untuk membela diri pun ditolak hakim. “Yang Mulia, apakah kita bisa menghentikan penyiksaan era abad pertengahan yang terjadi di ruang sidang ini? Saya pikir ini memalukan. Ini bukan lagi pengadilan yang beradab. Melainkan ini adalah ruang penyiksaan abad pertengahan!” kata Kunstler dalam The Trial of the Chicago 7: The Official Transcript yang dirangkum Mark L. Levine dkk. Data Film: Judul: The Trial of the Chicago 7 | Sutradara: Aaron Sorkin | Produser: Stuart M. Besser, Matt Jackson, Marc Platt, Tyler Thompson | Pemain: Sacha Baron Cohen, Eddie Redmayne, Joseph Gordon-Levitt, Frank Langella, Mark Rylance, John Carrol Lynch, Jeremy Strong, Michael Keaton, Yahya Abdul-Mateen II | Produksi: Paramount Pictures, DreamWorks Pictures, Cross Creek Pictures, Marc Platt Productions | Distributor: Netflix | Durasi: 130 Menit | Rilis: 16 Oktober 2020 (Netflix)

  • Ketika Sukarni Berkerudung

    Pada 1952, Sukarni selaku ketua Partai Murba mengajak Husein Yusuf, jurnalis Suara FONI yang pernah menjabat sebgai Ketua Umum Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Kalimantan Timur, ke Balikpapan untuk napak tilas. Sukarni akan menemui teman-teman lamanya ketika bekerja di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Lebih-kurang tiga tahun Sukarni tinggal di Kalimantan, tempat dia berkenalan dengan Yusuf. Selama di Kalimantan, ia pindah-pindah tempat untuk menghindari endusan dan penangkapan aparat PID. Aktivitas politiknya di Indonesia Muda (IM) dan Parindra yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dianggap pemerintah kolonial amat meresahkan. Akibat aktivitas politiknya itu, kata Sukarni kepada Yusuf, dia dijadikan target penangkapan. “Dari informasi yang didapatnya Belanda telah siap untuk menangkapnya, dan akan mengasingkannya ke Boven Digul di Nieuw Guinea (sekarang Irian Jaya),” kata Yusuf dalam testimoninya, “Maidi di Kalimantan”, yang terhimpun di buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya . Pengejaran itu membuat Sukarni harus sering berpindah tempat dan juga mengganti identitas. Dengan penyamaran itu dia akhirnya mencapai Banjarmasin. Di Banjarmasin, Sukarni menggunakan nama samaran Maidi. Maidi berdagang soto untuk menghidupi dirinya dan menghindari endusan aparat kolonial. Setelah berdagang soto, Maidi berdagang es. Setelah itu, Maidi pindah ke Murungpudak dan bekerja sebagai kuli di BPM. Pekerjaan itu membawanya ke Sangasanga dan Maidi memutuskan menetap di sana. Dia kemudian berganti profesi menjadi jongos di rumah manajer area BPM. Dari sinilah mungkin Maidi mendapat info atau “katabelece” sehingga bisa ke Balikpapan dan bekerja sebagai kuli ukur di Dinas Topografi milik BPM. Maidi yang berpenampilan lusuh kerap dihina kawan-kawannya. Mereka menganggap Maidi takkan bisa membaca buku-buku berbahasa Belanda. Namun, ejekan itu tak pernah diambil hati oleh Maidi. Dia malah bergaul karib dengan mereka sehingga tugas-tugasnya pun lebih ringan dikerjakan. Karena kepandaiannya baca-tulis bahasa Belanda, jabatan Maidi pun diangkat menjadi calon juru ukur ( leerling opnemer ). Namun, karier itu bukan yang utama bagi Maidi. Baginya yang terpenting adalah menghindari penangkapan sambil terus menambah kader perjuangan. Maka kawan-kawannya yang terdekat kemudian dijadikan kader olehnya meski Maidi tak mau membuka identitasnya. Jumlah kadernya terus bertambah seiring bertambahnya tempat di Kalimantan yang dikunjunginya untuk memetakan tempat-tempat yang potensial kandungan minyaknya sehubungan dengan pekerjaannya. Maka ketika Maidi ditangkap aparat PID pada 1940, kawan-kawannya banyak yang kaget. Mereka tak pernah menyangka Maidi yang selama ini diejek itu merupakan orang hebat yang “licin”. Mereka baru kembali bertemu Maidi yang sudah berterus terang sebagai Sukarni pada 1952. “Semua kawan-kawan seperjuangannya pada pertemuan tersebut meminta maaf kepada Sukarni atas perlakuan mereka kepadanya. Mereka selalu menghina dan mengejek Sukarni,” kata Yusuf. Alih-alih sakit hati atau pongah menerima maaf mereka, Sukarni justru berterimakasih. Sukarni menganggap mereka telah membantunya sehingga penyamarannya lama diketahui oleh aparat kolonial. “Andaikata Saudara-saudara tidak menghina dan mengejek saya, mungkin penyamaran saya dapat diketahui oleh Belanda dan kemudian saya segera akan ditangkap. Jadi Saudara-saudara telah membantu saya dan menyelamatkan saya. Dan karena itu saya mengucapkan terima kasih,” kata Sukarni dikutip Yusuf. Kawan-kawan Sukarni itu tak pernah tahu bahwa sebelum penyamaran Maidi ada penyamaran-penyamaran Sukarni sebelumnya. Sebelum ke Kalimantan, Sukarni menjadi pedagang tembakau di pantura Jawa Barat yang biasa menjajakan dagangannya di pelabuhan. Karena berhasil mengambil hati seorang juragan kapal, dia kemudian diizinkan menumpang kapal si juragan ke Banjarmasin. Sebelumnya lagi, Sukarni menyamar sebagai orang Madura untuk mencapai Surabaya dari Jakarta. Penyamaran Sukarni dimulai setelah penggerebekan kantor pusat IM oleh PID pada 1936. Sukarni selaku ketua IM berhasil lolos dan kemudian keluar dari Jakarta.   “Dia meninggalkan Jakarta pakai kerudung menyamar seperti wanita, wajahnya yang ‘ayu’ itu membantu penyamarannya. Dia berlagak sebagai sepasang suami-istri dengan Sudjono,” kata Nyonya Soetarman, rekan Sukarni di IM, dalam testimoni di buku yang sama, “Gara-Gara Sukarni Saya Dikejar-Kejar PID”.

  • Persahabatan Omar Dani-Sri Mulyono Herlambang

    Ketika diajak semobil oleh Presiden Sukarno keliling Bogor, sekitar 8 Oktober 1965, Menpangau Laksdya Omar Dani duduk bersebelahan dengan Menteri Negara Laksda Sri Mulyono Herlambang. Di Istana Batu Tulis, tempat perjalanan itu berakhir, Dani dan Herlambang teringat rencana lama yang gagal.  "He, lahan di sebelah itu kan tanah yang tidak jadi kita beli karena harganya terlalu tinggi itu kan?" kata Dani membuka obrolan. "Ya...ya...! Untung tidak jadi. Kalau jadi, kan kita menjadi tetangga Presiden," jawab Herlambang sebagaimana dikutip Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Kisah santai seperti itu yang menjadi bagian dari persahabatan Dani-Herlambang hilang setelah G30S pecah. Dani maupun Herlambang sejak itu lebih sering berurusan dalam soal serius. Keduanya lalu sama-sama menjadi pesakitan. Dani dan Herlambang bersahabat sejak keduanya sama-sama menjadi bagian dari 60 calon penerbang dan navigator AURI yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Taloa Academy of Aeronautics (TAA) di Bakersfield, California, pada 1950. Karier keduanya terus menanjak selulusnya dari TAA. Dani bahkan belum 40 tahun ketika dipilih Presiden Sukarno menjadi panglima Angkatan Udara menggantikan Laksamana Udara Suryadi Suryadarma. Posisi tersebut membuat Dani makin leluasa mendorong Herlambang mengembangkan kariernya. “Sejak Omar Dani ditunjuk oleh Presiden untuk menggantikan Laksamana Udara Suryadarma sebagai Men/KSAU pada Januari 1962, Omar Dani berhasrat untuk meng-‘ groom’ , mempersiapkan S.M. Herlambang untuk menggantikannya empat tahun kemudian,” tulis Benedicta-Soeparno. Ketika Dani meminta Herlambang menjadi Deputi Operasi-nya, Herlambang menolak karena merasa belum siap. Dani lalu mempercayakan tugas-tugas politik kepada Herlambang. Selain ikut dalam perundingan tingkat atas dengan Belanda soal Irian Barat, Herlambang diikutsertakan dalam berbagai urusan diplamasi, termasuk ketika Waperdam I Soebandrio safari ke Afrika. “Sewaktu Bung Karno menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 1965 di Aljazair, Pak Herlambang dan Pak Boediardjo juga ikut ke sana,” kata Dani, dikutip Aristides Katoppo dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Herlambang akhirnya menerima jabatan Deputi Operasi Menpangau setelah malang-melintang di urusan politk. Jabatan itu baru dilepaskannya ketika dia diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Negara, Mei 1965. Di posisi inilah Herlambang menjadi “jembatan” antara Dani dan presiden karena menurut Dani, sejak Juni 1965, untuk menemui presiden sangat sulit. “Saya dengar, misalnya dari Bambang Soepeno sewaktu menjabat di Kotrar (Komando Retooling Aparatur), dia juga merasa begitu. Tetapi untung masih ada Pak Herlambang di sana,” kata Dani, dikutip Katoppo dkk. Maka segala urusan AURI yang berkaitan dengan presiden Dani percayakan kepada Herlambang. Termasuk ketika Dani mengajukan pengunduran diri karena situasi politik memburuk akibat G30S dan AURI dipojokkan, surat pengunduran dirinya disampaikan melalui Herlambang. Herlambang pula yang membawa jawaban presiden bahwa permohonan mundur Dani ditolak. Pada 13 Oktober 1965, keduanya bersama beberapa petinggi AURI berdiskusi dalam “Musyawarah AURI” untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang ada. Keduanya sama-sama menginap di Tanah Abang Bukit, Mabes AURI, malam setelah musyawarah itu. Dalam obrolan sebelum tidur di ruang tamu Menpangau, Dani sempat mengutarakan perasaannya. “Kok saya merasa akan disuruh ke luar negeri oleh Bung Karno. Kalau benar, saya kira kau yang akan dipilih Bung Karno untuk mengganti saya,” kata Dani, dikutip Benedicta-Soparno. “Masak, saya kan sudah menteri?” kata Herlambang. “Soalnya bukan itu. Bung Karno sudah mengenalmu sejak kau dan Santo jadi VIP pilot pribadi Bung Karno pada pesawat ‘Dolok Martimbang’, dan Bung Karno percaya padamu, maka dijadikan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden. Aku yakin kaulah yang akan dipilih untuk menggantikanku.” Apa yang dikatakan Dani terbukti. Herlambang esoknya memberitahu Dani bahwa surat perintah pergi ke luar negeri untuk Dani telah ditandatangani presiden. Keesokannya, 15 Oktober 1965, Herlambang ditunjuk menjadi Menpangau ad interim . Atas upaya Herlambang, Dani diperkenankan presiden untuk berpamitan. Upacara pelepasan Dani, 19 Oktober 1965, juga diadakan oleh Herlambang. Namun setelah itu, keadaannya berbeda. Tak ada lagi tawa Herlambang dalam hari-hari Dani.  Sepulang dari Kamboja, negeri terakhir yang dikunjungi Dani dalam “safari” luar negerinya, Dani langsung dikenai tahanan rumah di Cibogo. Sementara, Herlambang juga ditahan selepas jabatan Menpangaunya diserahkan kepada Rusmin Nuryadin pada Maret 1966. Keduanya baru bertemu tanpa bisa bicara di Instalasi Rehabilitasi Nirbaya. Dani lebih dulu menjadi penghuni Nirbaya (24 Mei 1966). Saat di Nirbaya itulah pada suatu sore di awal Juni 1966, Dani dikagetkan dengan kedatangan sebuah sedan AURI. Sedan itu menuju Blok Nusa, blok paling selatan di kamp penahanan itu. Jaraknya sekitar 100 meter dari Blok Amal yang ditempati Dani. Antara Blok Nusa dan Amal terdapat Blok Bakti. Dani tak tahu siapa gerangan orang AU yang mengikutinya menjadi tahanan politik di Nirbaya itu. Namun setelah berupaya keras mengenali penghuni baru berbaju penerbang yang jaraknya amat jauh itu mendekat ke arahnya, Dani akhirnya yakin penghuni baru itu adalah Herlambang. Dani yang gembira sekaligus trenyuh langsung melambaikan tangan dan mendapat balasan lambaian tangan Herlambang. Sebagai tahanan yang diisolasi, Dani langsung diperintahkan oleh CPM penjaga kamp agar kembali ke kamarnya begitu kepergok melambaikan tangan kepada Herlambang. Komunikasi jarak jauh tanpa lambaian tangan yang Dani lakukan dengan Herlambang setiap jam 9 pagi mulai esoknya pun akhirnya diketahui penjaga. Tak lama kemudian, petugas memasangi kawat pembatas blok dengan anyaman bambu. Pandangan matapun tak bisa menembusnya.  “Maka setelah itu, Omar Dani tidak bisa melihat kawannya, Sri Muljono Herlambang lagi. Jadi terbentuklah Omar Dani yang sepi. Isolasi tersebut telah membuat kidung sunyi itu menjadi semakin menyayat,” Benedicta dan Soeparno.

  • Kunjungan Sukarno ke Maroko

    Presiden Sukarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 2.40 siang tanggal 2 Mei 1960. Disambut oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Abdullah Ibrahim, para menteri, pembesar sipil dan militer, serta korps diplomatik. Pasuka n berkuda dari suku Berber dikerahkan di dekat bandara. Mereka menembakkan bedil sebagai tanda gembira. Rakyat menyambut di sepanjang jalan dari bandara sampai kota Rabat. “Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuka dengan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat,” kata H. Imrad Idris dalam Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat . Imrad bergabung dalam misi khusus yang mempersiapkan kunjungan Sukarno ke Maroko. Sebelum memasuki kota Rabat, iringan mobil berhenti untuk upacara adat. Kepada Sukarno disajikan buah korma dan susu. Setelah memasuki kota Rabat, iringan diatur agar melewati bagian-bagian kota yang dihuni rakyat. Rakyat berjejal di tepi jalan mengelu-elukan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V. Baca juga:  Di Balik Nama Ahmad Sukarno Sesampainya di bagian baru kota Rabat, iringan mobil berhenti. “Kali ini untuk mempersilakan Presiden Sukarno menggunting pita peresmian nama jalan atas namanya, yakni sharia Al-Rais Ahmed Sukarno . Jalan ini berdekatan dengan Kantor Pos Pusat,” kata Imrad. Sebelum kedatangan rombongan Sukarno, sebuah jalan lain di tengah kota Rabat telah diganti namanya menjadi zankat Jakarta . Di Casablanca, sebuah bunderan diberi nama rondpoint de Bandung . Sukarno kemudian menuju ke Istana Dar-es-Salaam untuk menginap. Besoknya, Sukarno disertai sebagian besar rombongan, dengan pesawat Constellation Royal Air Maroc berangkat ke kota Marrakech, 260 km di selatan Rabat. Sukarno didampingi Putra Mahkota Moulay Hassan. Penyambutan di Marrakesch sama dengan di Rabat, dimulai dengan upacara adat, kemudian keliling kota dan melihat gedung-gedung bersejarah. Presiden Sukarno menyampaikan pidato dalam  Banquet Royal di Istana Dar-es-Salaam, 3 Mei 1960. (Repro  Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat ).  Malamnya, Sukarno dan 16 anggota rombongan dijamu Raja Mohammed V dalam acara Banquet Royal di Istana Dar-es-Salaam. “Dalam jamuan resmi ini Raja Mohammed V menyambut Presiden Sukarno sebagai seorang pahlawan revolusi kemerdekaan dunia Islam dan seorang pemimpin perjuangan Indonesia yang tangguh,” kata Imrad. Dalam pidato balasan, Sukarno menegaskan pentingnya kedudukan negara-negara Asia dan Afrika dalam stabilitas perdamaian dunia. Dia berharap peristiwa-peristiwa yang mulai bergolak di Afrika mendapatkan perhatian dan penilaian yang tepat. Menurutnya, tanpa keadilan politik dan sosial terhadap negara-negara Afrika yang baru merdeka tidak akan dapat terlaksana pengertian yang baik antara negara-negara itu dengan dunia luar. Baca juga:  Orang Somalia Lebih Mengenal Soekarno Raja Mohammed V menganugerahkan Bintang Mahkota (Orde du Trone) kepada Sukarno. Sebaliknya, Sukarno menganugerahkan Bintang Sakti kepada Raja Mohammed V. Sukarno juga menyerahkan bantuan sebesar $10.000 dolar untuk korban gempa bumi di kota Agadir pada 25 Februari 1952 yang menewaskan lebih dari separuh penduduknya. Kunjungan Sukarno ini yang pertama ke Maroko. Kendati demikian, rakyat Maroko terutama anak-anak muda telah mengenal Sukarno karena pidatonya di pembukaan Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955. “Melalui Presiden Sukarno, Indonesia sudah dikenal luas di Maroko,” kata Imrad. Baca juga:  Revolusi Amerika dalam Pidato Sukarno di KAA Pidato Sukarno telah memberi semangat dan harapan kepada perjuangan rakyat Maroko untuk merdeka. Kepada Imrad, seorang mahasiswa Maroko mengatakan, “Bagi saya pidato Presiden Sukarno di Konferensi Asia Afrika menambah keyakinan saya untuk lebih gigih meneruskan perjuangan bangsa kami yang waktu itu sedang melalui taraf yang sulit sekali.” Seorang pemuda Maroko bercerita, “Saya bersama beberapa teman sedang ada di restoran ketika mendengar berita tentang pembukaan Konferensi Asia Afrika. Serentak kami berpekik: Vive Bandung! tanpa menyadari agen-agen polisi pemerintah masih merajalela. Segera seorang Prancis berpakaian preman mendatangi kami, tetapi kami semua sempat melarikan diri.” Presiden Mali Modibo Keita, Presiden Sukarno, dan Raja Hassan II, di Nouasseur, Casablanca, Maroko, 11 September 1961. (Repro  Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat ). Indonesia membentuk Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara sebagai wujud konkret mendukung kemerdekaan Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Panitia ini diketuai oleh Mohammad Natsir, Sekretaris Jenderal Hamid Algadri, Bendahara I.J. Kasimo, anggota A.M. Tambunan dan Arudji Kartawinata. Panitia menyediakan kantor bagi utusan dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair, di Jalan Cik Ditiro No. 56 Jakarta Pusat. Mereka antara lain Taieb Slim dan Tahar Amira dari Tunisia; Lakhdar Brahimi dan Muhammad Ben Yahya, Muhammad Yazid, dan Husen Ait Ahmad dari Aljazair; dan Allal al-Fassi dari Maroko. Baca juga:  Sokongan Indonesia untuk Kemerdekaan Afrika Utara “Allal al-Fassi adalah pemimpin besar partai Islam, Istiqlal, dan karismanya di masa itu setaraf karisma Bung Karno di masa lampau,” kata Hamid Algadri dalam Suka-Duka Masa Revolusi . “Mereka ini –sesudah negeri masing-masing merdeka– menduduki tempat-tempat penting dalam pemerintahan.” Akhirnya, perjuangan mereka dan rakyat masing-masing negara berhasil merebut kemerdekaan dari Prancis. Maroko dan Tunisia merdeka pada 1956, sedangkan Aljazair merdeka pada 1962. Sukarno kembali mengunjungi Maroko pada 11 September 1961 setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Sukarno bersama Presiden Mali Modibo Keita mengunjungi beberapa negara (Austria, Maroko, Amerika Serikat, dan Jepang) untuk menyampaikan hasil KTT Non-Blok. Mereka disambut oleh Raja Hassan II, pengganti Raja Mohammed V yang meninggal pada 26 Februari 1961. Baca juga:  Orang Afrika: Mengapa Sukarno Disingkirkan? Sementara itu, menurut Tanti Widyastuti, Minister Consuler Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Rabat, Raja Mohammed V memberikan hadiah kepada Presiden Sukarno berupa pembebasan visa bagi warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko. “Sampai sekarang warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko dibebaskan dari visa selama tiga bulan. Ini merupakan bukti kedekatan hubungan antara Maroko dengan Indonesia yang telah terjalin sejak lama,” kata Tanti dikutip kabar24.bisnis.com . Hubungan diplomatik yang baik itu ditindaklanjuti dengan kerja sama perdagangan dengan ditandatanganinya kesepakatan kota kembar antara Sumatra Barat dengan Fes Boulmane pada 11 Oktober 2014.

  • Orang Utan dalam Catatan Masa Silam

    Kapal Eagle Galley berlayar dari Inggris ke Pulau Borneo (Kalimantan). Kapten Daniel Beeckman memimpin ekspedisi yang ditugaskan oleh Serikat Dagang Inggris (EIC). Tujuan perjalanan itu membuka kembali perdagangan Inggris dengan Kesultanan Banjarmasin untuk komoditas lada maupun produk tropis lainnya Pada 29 Juni 1714, rombongan Beeckman berlabuh di Banjarmasin di pesisir selatan Kalimantan. Selain lada, Beeckman juga menyaksikan banyak hewan khas wilayah tropis. Monyet, kera, dan babon ditemukan dalam berbagai jenis dan bentuk. Tetapi yang paling luar biasa adalah primata yang disebut “ Oran-ootan ” alias orang utan yang dalam bahasa penduduk lokal berarti manusia hutan. Dalam amatan Beeckman, panjang tubuh orang utan bisa mencapai enam kaki. Mereka berjalan tegak lurus, memiliki lengan yang lebih panjang ketimbang manusia. Giginya besar, tidak memiliki ekor maupun rambut, kecuali yang tumbuh di daerah tertentu. Baca juga:  Sarimin (Tak) Pergi Ke Pasar “Mereka sangat gesit dan kuat. Mereka akan melempar batu besar, tongkat dan kayu besar ke arah orang yang mengganggunya,” tutur Beeckman sebagaimana ditulis sejarawan University of Malaya Chin Yoong Fong dalam A Voyage to and from the Island of Borneo, in the East Indies. Penduduk setempat mengisahkan banyak cerita mengenai orang utan. Mereka percaya jika orang utan adalah keturunan manusia tetapi berubah menjadi binatang karena menghina Tuhan. Karena penasaran, Beeckman membeli seekor orang utan seharga enam dolar Spanyol. Orang utan itulah yang menemani Beeckman selama setahun ekspedisi dagangnya di Borneo. Penemuan Orang Utan Jauh sebelum kedatangan Beeckman, seorang dokter Belanda bernama Jacobus Bontius memberi nama “orang utan” pada hewan yang secara anatomi ini mirip manusia ini. Nama latinnya adalah Pongo pygmaeus . Sejak ditemukan tahun 1630 itulah orang utan jadi incaran. Bontius sendiri kemudian dikenal sebagai pelopor pengobatan tropis. Bobot tubuh orang utan pun hampir menyerupai manusia. Orang utan jantan bisa mencapai bobot 65 kg sedangkan betina 35 kg. Bagi orang utan jantan dewasa di Borneo, di wajahnya tampak berkelepak seperti sayap. Kelepak ini sebagai tonjolan ke samping kulit muka yang berisi jaringan lemak. Jadi dengan kelepak di pipi, wajah orang utan jadi tampak seram. Kapten Beeckman dalam laporan perjalanannya menuturkan rupa-rupa kecerdasan orang utan piaraannya. Meski tergolong masih kanak-kanak, orang utan itu sering membuka lemari berisi minuman keras, mengeluarkan sebotol lalu meminumnya banyak-banyak. Setelah puas meneguknya, ia kembali memasukannya ke tempat semula dengan sangat hati-hati. Ketika tidur, si orang utan berbaring seperti manusia dengan satu tangan di bawah kepalanya. Ia juga bisa mempelihatkan emosi dan bertingkah jenaka. Jika marah, ia akan mendesah, merajuk, dan menangis sampai mau dibujuk untuk berdamai.    Lukisan tentang orang utan di kebun binatang pribadi Pangeran Belanda Wilem V yang sedang memetik buah apel, 1777. ( Cultural Heritage Agency of the Netherlands ). Pada 1776, seekor orang utan betina dibawa ke Belanda untuk dipelihara di kebun binatang pribadi Pangeran Oranye (Willem V). Penanganannya yang masih amatiran menyebabkan hewan itu mati. Beruntung orang utan ini sempat dianalisis oleh ahli anatomi bernama Petrus Camper. Catatan lebih lengkap mengenai orang utan ditelaah oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace. Pada Maret 1855, Wallace mengadakan penelitian ke tambang Batubara di Simunjan, Sarawak, Borneo Utara. Ketika menengadah, Wallace melihat seekor hewan besar berbulu merah, bergantung dari dahan ke dahan dengan tangannya. Ia bergerak dari pohon ke pohon dan menghilang di hutan yang penuh rawa-rawa. Bersama orang suku Dayak pengiringnya, Wallace mulai memburu orang utan –yang bagi orang pribumi disebut “mias”- untuk diawetkan kemudian diteliti. Baca juga:  Mengapa Wallace Kalah Populer Dibandingkan Darwin? Dalam karya monumentalnya The Malay Archipelago (Kepulauan Nusantara) Wallace mencatat, orang utan betina punya kebiasaan melempar dahan dan ranting untuk bertahan dari ancaman. Sementara itu, orang utan jantan lebih percaya diri dengan kekuatan tubuh ataupun taringnya. Selain di Borneo, Wallace juga mencatat bahwa habitat orang utan terdapat pula di Pulau Sumatra tetapi populasi paling besar ada di Borneo.   “Agaknya suatu hutan perawan dan luas menjadi habitat yang cocok bagi mias (orang utan). Hutan sejenis membuat mereka bebas berkelana ke berbagai jurusan dengan aman,” tulis Wallace. Potret awal orang utan, 1922. Sumber: The Outline of Science/J. Arthur Thomson. Jadi Buruan Dengan keunikan anatomi maupun perilakunya, kehadiran orang utan semakin memikat perhatian manusia. Banyak dari para ilmuwan maupun zoologi yang menghubungkan anatomi orang utan dengan teori evolusi Charles Darwin. Orang utan maupun kawanan primata lainnya menjadi kajian untuk menguak teori asal-usul manusia. Hal ini menjadi celaka bagi populasi orang utan karena mereka menjadi buruan manusia. “Dengan penemuan yang agak kontroversial itu, berbagai kebun binatang di segala penjuru dunia minta agar koleksi hewannya bertambah dengan tamu yang lain dari yang lain ini,” tulis majalah Warnasari , No. 144, Januari 1991. Sejak tahun 1931, orang utan masuk kategori satwa yang dilindungi. Namun dari waktu ke waktu, perburuan orang utan meliputi banyak kepentingan. Mulai dari bahan penelitian, koleksi kebun binatang, hingga menjadi dagangan berharga tinggi di pasar gelap. Selain itu, bagi masyarakat tertentu yang menganggapnya berkhasiat, daging orang utan dicari sebagai konsumsi. Belum lagi kasus pembalakan hutan yang menyebabkan habitat asli orang hutan menjadi terancam.    “Musuh terbesar mereka ialah manusia,” tulis Wildan Yatim dalam Mengenal Orang Utan . Baca juga:  Orang Utan di Ambang Kepunahan Indonesia tercatat sebagai negara dengan populasi orang utan terbesar. Akan tetapi, populasi orang utan di hutan-hutan Indonesia kian susut. Di Sumatra, habitat orang utan Sumatra menghilang dengan sangat cepat. Sementara itu pada 2016, status orang utan Kalimantan telah berpindah dari klasifikasi “terancam punah” menjadi spesies “kritis terancam punah”. Peralihan status ini memperlihatkan bahwa populasi orang utan menuju ambang kepunahan sudah diambang pintu. (Bersambung).

  • Pertempuran Alot di Pantai Utara Papua

    SUDAH 75 tahun berlalu, Perang Dunia II masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi pemerintah Amerika Serikat (AS). Per 16 Oktober 2020, data DPAA (Dinas Pencarian Prajurit yang Hilang) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Amerika menyebut, 47.163 serdadu AS yang malang di front Pasifik belum ditemukan. Beberapa dari jumlah itu berada di wilayah Indonesia. Selain di Biak, tercatat 41 personil masih dalam status MIA ( missing in action ) di area yang kini menjadi Kabupaten Sarmi. Mereka hilang dalam Pertempuran Lone Tree Hill (Bukit Pohon Tunggal), 23 Mei-1 September 1944. Upaya pencarian prajurit Amerika yang hilang itu  jadi salah satu poin yang disepakati Menhan RI Prabowo Subianto dengan Menhan Amerika Mark Esper. Kesepakatan itu dituangkan dalam Memorandum of Intent (MOI) yang ditandatangani keduanya di Pentagon, 16 Oktober lalu. Lone Tree Hill di pesisir utara Papua (Repro  The War in the Pacific: The Approach to the Philippines ). Terseretnya wilayah Indonesia dalam Perang Pasifik merupakan imbas langsung dari strategi leapfrogging (loncat kodok) Jenderal Douglas MacArthur, panglima Sekutu Area Pasifik Barat Daya (SWPA). Strategi itu sebagai cara MacArthur mencari jalan untuk kembali merebut Filipina. Filipina dijadikan titik transit untuk mencapai Jepang. MacArthur bersaing dengan Panglima Area Samudera Pasifik Laksamana Chezter W. Nimitz yang punya strategi island-hopping (loncat pulau), untuk mencapai Jepang lebih dulu. Selain itu, leapfrogging sekaligus untuk memenuhi janjinya, “I Shall Return”, yang diucapkan kala menyingkir dari Filipina, 11 Maret 1942. Untuk itu mencapai Filipina itulah dia melancarkan kampanye di Papua Barat dengan dukungan kekuatan darat, laut, dan udara Inggris, Belanda, serta Australia. Baca juga: Yang Tercecer dari Pertempuran Biak Kampanye dimulai 22 April dengan pendaratan di Aitape. Dari sana, pasukan MacArthur loncat untuk merebut Hollandia (kini Jayapura) pada 6 Juni 1944, lalu ke Pulau Biak, Morotai, dan akhirnya Filipina. Dengan leapfrogging itu, MacArthur hanya menyasar titik-titik kekuatan Jepang yang dianggap paling lemah. Titik yang kuat akan dilewati. Untuk bisa merebut Biak, MacArthur butuh sejumlah lapangan terbang untuk basis pesawat-pesawat pembomnya. Untuk itu ia mempercayakan pada Panglima Tentara Angkatan Darat (AD) ke-6 Amerika Letjen Walter Krueger. Diungkapkan Kevin C. Holzimmer di artikelnya “Walter Krueger, Douglas MacArthur, and the Pacific War: The Wakde-Sarmi Campaign as a Case Study” dalam The American Experience in World War II , Krueger lalu membentuk Tornado Task Force (Gugus Tugas Tornado) dalam rencana Operasi Wakde-Sarmi. Operasi Wakde-Sarmi, kata Holzimmer, dipimpin Brigjen Jens A. Doe dan bertulangpunggungkan Resimen ke-163. Mereka menginvasi Pulau Wakde dan lapangan terbangnya. Sementara, Brigjen Edwin D. Patrick dengan Resimen ke-158 bergerak untuk merebut Bukit Pohon Tunggal dekat Lapangan Terbang Maffin di pesisir Sarmi. Letjen Walter Krueger (tengah) Panglima Tentara ke-6 AD Amerika. ( navy.mil ). Pertempuran Lone Tree Hill Lone Tree Hill (Bukit Pohon Tunggal) merupakan dataran setinggi 1.800 meter di atas permukaan laut di pesisir Teluk Maffin. Dataran itu disebut Bukit Pohon Tunggal oleh tentara Amerika lantaran di puncak bukitnya tampak sebuah pohon besar dikelilingi rerimbunan hutan tropis. “Di bawah bukit terdapat formasi batu karang dan gua yang dimanfaatkan (Jepang) sebagai halang rintang dan pertahanan alam. Sedangkan Pulau Wakde berada di sekitar 1000 yard sebelah barat (Teluk Maffin),” tulis Holzimmer. Baca juga: Gedoran Corregidor Kekuatan dua resimen Amerika dalam Operasi Wakde-Sarmi sekitar 10 ribu personil. Jumlah itu lebih besar dari kekuatan Jepang yang mempertahankan area Wakde-Sarmi. “Seksi intelijen MacArthur (G-2) memperkirakan area itu dipertahankan 6.060-6.750 serdadu dari Resimen Infantri ke-224 dan 225. Sayangnya laporan intelijen itu keliru karena nyata kemudian pasukan Jepang mencapai 11 ribu. Laporannya berdasarkan penafsiran semata terhadap hasil foto-foto pengintaian udara. Pasalnya jika dilakukan pengintaian darat, dikhawatirkan pihak Jepang akan tersadar niat dan sasaran Sekutu,” lanjut Holzimmer. Jenderal Jenderal Hatazō Adachi (kiri) & posisi pasukan Jepang di Lone Tree Hill. (Repro  The Second World War Volume III The Japanese War 1941–1945 ). Dua resimen pasukan Jepang yang dipimpin Letjen Hachiro Tagami di Wakde-Sarmi itu adalah sisa pasukan Divisi ke-36 pimpinan Jenderal Hatazō Adachi yang mundur dari Hollandia. Dari 11 ribu personil, 800 di antaranya jadi pasukan pertahanan di Pulau Wakde, sementara sisanya di sekitar Bukit Pohon Tunggal mengawal lapangan terbang Maffin. “Seperti di Pulau Wakde, di Sarmi pasukan Jepang selain memanfaatkan sistem terowongan di gua-gua sebagai sarang-sarang senapan mesin dan mortir, juga mengandalkan sejumlah pillbox dan parit yang disamarkan. Sistem pertahanan ini dipersiapkan sedemikian rupa hingga mampu bertahan meski digempur pemboman via udara maupun laut,” imbuhnya. Baca juga: Gedoran Jepang di Corregidor Pasukan Resimen ke-136 Amerika mendarat dan memulai Pertempuran Pulau Wakde pada 17 Mei. Dari Arare, Jenderal Patrick menggerakkan batalyon di Resimen ke-158 menuju Bukit Pohon Tunggal pada 23 Mei. Gerakan ofensif mereka tak menemukan perlawanan frontal. Perlawanan hanya berasal dari beberapa penembak runduk Jepang yang bersembunyi di rimbunnya hutan. “Di hari pertama saja Batalyon ke-3 sudah kehilangan delapan personil tewas, 12 terluka dan satu hilang, sementara mereka juga menewaskan enam serdadu Jepang dan satu yang ditawan,” tulis Robert Ross Smith dalam The War in the Pacific: The Approach to the Philippines. Pendaratan pasukan Resimen ke-158 di tepi Sungai Tor. ( navy.mil ). Dalam perjalanan menuju Bukit Pohon Tunggal, pasukan AS dibuat lelah oleh raid-raid dari unit-unit kecil Jepang. Akibatnya, mereka baru sampai di kaki bukit akhir Mei. Perlawanan Jepang terus berlanjut kala bukit itu direbut, hingga akhirnya Resimen ke-158 yang kelelahan harus digantikan pasukan Divisi ke-6. “Setiap hari kami terlibat baku tembak sejak bergerak hingga digantikan pasukan Divisi ke-6 pada Juni. Kebanyakan operasi kami dihabiskan untuk merebut sebuah lokasi bernama Bukit Pohon Tunggal,” kenang Letnan Harold Braun, komandan Kompi C, Batalyon ke-1, Resimen ke-158 dalam memoarnya, Braun’s Battlin’ Bastards. “Bukitnya menjadi sarang terowongan dan sarang senapan mesin yang membuatnya hampir mustahil untuk diserang karena sekelilingnya juga dilindungi hutan lebat. Kami harus merebutnya karena bukit itu jadi penghalan besar menuju lapangan terbang Maffin, salah satu target utama kami,” tambahnya. Urgensi Pasukan Pengganti Tiga hari setelah memulai ofensifnya, 26 Mei, resimen ke-158 menemui perlawanan paling sengit ketika sudah mendekati kaki bukit. Mereka gagal merebutnya meski telah menewaskan lebih dari 900 serdadu Jepang dan hanya kehilangan 70 nyawa pasukannya. Dua hari berselang, Jenderal Patrick mundur untuk sementara. Namun pada pada malam 30 Mei, resimen ke-158 mundur teratur setelah sebuah perimeternya dibanjiri ratusan pasukan bunuh diri Jepang. Dalam pertarungan brutal itu tak hanya senapan mesin yang meramaikan, namun juga pertarungan jarak dekat antar serdadu. Pasukan bunuh diri Jepang itu kemudian bisa dihancurkan. “Saat Patrick berharap bisa menyerang lagi setelah mundur, Jenderal Krueger justru membutuhkan pasukannya untuk operasi Biak dan Numfoor di kemudian hari. Maka Krueger menunjuk pasukan Divisi ke-6 di bawah Mayjen Franklin Sibert untuk menyelesaikan (Pertempuran Bukit Pohon Tunggal). Ofensif Divisi ke-6 dimulai pada 18 Juni yang juga mendapati perlawanan alot,” singkap Stanley Sandler dalam World War II in the Pacific: An Encyclopedia. Baca juga: Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang Pasukan Silbert melanjukan ofensif untuk merebut Bukit Pohon Tunggal dengan jalur tepi barat Sungai Tirfoam. Dia memecah pasukannya untuk mengapit bukit seraya menyisir gua-gua di rangkaian batu karang di bawah bukit. Setelah melalui hari-hari berat mengandaskan pertahanan ulet Jepang, dua batalyonnya berhasil mencapai puncak bukit pada 24 Juni. Sisa pasukan Jepang lalu mundur ke arah Gunung Saksin di selatan bukit yang menjadi markas pusat Jenderal Tagami. “Hingga tiba malam mulai tampak perlawanan Jepang di sektor utara bukit melemah dan pada tengah malam 24-25 Juni tidak ada lagi serangan balik berskala besar, meski posisi Batalyon ke-3 (Divisi ke-6 Amerika) di puncak bukit tetap diganggu serangan mortir, granat, dan senapan yang sporadis,” sambung Smith. Pasukan Divisi ke-6 yang menggantikan Resimen ke-158 di Pertempuran Bukit Pohon Tunggal. (United States Army Center Of Military History). Pasukan Amerika tetap mengejar pasukan Jepang yang mundur ke Bukit 225, Bukit 265, dan Gunung Saksin lantaran lokasi itu masih jadi penghalang Amerika untuk menguasai lapangan tebang Maffin. Lapangan terbang itu akhirnya direbut pada awal 9 Juli. Tugas pengawalan perimeter dan patroli kemudian dialihkan oleh Jenderal Krueger, dari Divisi ke-6 ke Divisi ke-31 pimpinan Mayjen John C. Persons pada 18 Juli. Divisi ke-6 kemudian dijadikan pasukan pelindung dan cadangan jelang invasi ke Morotai oleh Krueger. Baca juga: Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Pasifik Tugas patroli di perimeter barat dan timur lapangan terbang serta memburu sisa-sisa pasukan Jepang di pedalaman dilakukan Divisi ke-31 hingga Operasi Wakde-Sarmi dinyatakan berakhir oleh Krueger pada 1 September. Divisi ke-31 mengalami kerugian 39 personil tewas, 195 terluka, dan tiga lainnya hilang. “Selama periode 17 Mei-1 September, sebanyak 3.870 serdadu Jepang tewas dalam pertempuran dan 51 ditawan. Ribuan sisanya dari jumlah awal 11 ribu, meninggal karena sakit, kelaparan, atau terkubur di gua-gua yang dihancurkan Amerika di bawah Bukit Pohon Tunggal,” tambahnya. Sementara, Amerika baik dari pasukan Resimen ke-158, Divisi ke-6, maupun Divisi ke-31, mengalami kerugian total 400 personil tewas, 1.500 terluka, dan 41 serdadu dinyatakan hilang hingga saat ini.

  • Pembangkangan Sipil Warga Kampung di Surabaya

    PENGESAHAN Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law pada 5 Oktober 2020 memancing protes keras di berbagai penjuru Indonesia. Bentuknya demonstrasi maraton di antero Indonesia. Tak jarang itu berujung pada kerusuhan, kekerasan, dan represi aparat. Bentuk protes lainnya ialah seruan pembangkangan sipil.

  • Sepenggal Kisah dari Kolonel Hidajat Martaatmadja

    Bukittinggi, 19 Desember 1948. Hawa dingin masih membekap pagi, ketika Mayor Chairun Basri (Kepala Intelijen Panglima Komandemen Sumatra) mendengar suara ketukan. Begitu pintu dibuka, nampaklah Kapten Islam Salim, ajudan Kolonel Hidajat Martaatmadja (Panglima Teritorium Sumatra). Setelah memberi hormat, dia menyampaikan pesan Hidajat supaya Chairun cepat datang menemui sang kolonel di markas besar. Ada rapat penting terkait rencana penyerbuan Belanda ke seluruh wilayah di Indonesia. Singkat cerita bertemulah mereka bertiga dengan staf lainnya di kantin markas. Baru saja rapat dibuka Kolonel Hidajat, tetiba terdengar raungan suara pesawat tempur musuh di langit Bukittinggi.Raungan bak suara ribuan tawon itu kemudian diikuti ledakan bom dan rentetan senjata otomatis. Markas Komandemen Sumatra dan Markas Komando Sumatra Barat yang posisinya berdampingan seketika porak poranda. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Kolonel Hidajat dan anak buahnya kecuali bertiarap di lobang-lobang perlindungan yang memang sudah tersedia sekitar markas. Ketika sebuah bom jatuh menimpa sebuah lubang perlindungan, baru saja Mayor Chairun meninggalkannya. “Beberapa korban jatuh. Saya terelak dari sebuah pemboman. Tuhan Maha Besar,” kenang Chairun seperti diceritakannya dalam buku Bunga Rampai Perjuangan dan Perngorbanan Jilid Pertama. Atas saran Chairun pula, Kolonel Hidajat beserta seluruh staf-nya kemudian mundur ke Pasaman, wilayah yang terletak di utara Sumatera Barat. Pasaman merupakan daerah yang strategis secara militer. Selain merupakan gudang beras, Pasaman pun adalah akses yang mudah untuk berhubungan dengan luar negeri, terutama Singapura, tempat suplai logistik dan persenjataan buat para gerilyawan republik. Pada 20 Desember 1948, rombongan Kolonel Hidajat memulai gerakan mundur dari Bukittinggi ke Pasaman. Usai melakukan konsolidasi antar pasukan, Kolonel Hidajat mulai merencanakan perjalanan untuk mengunjungi front-front terdepan di seluruh Sumatra. Jika dihitung dari segi jarak, maka perjalanan tersebut harus menempuh ribuan kilometer. “Semua itu harus dilakukan lewat jalan kaki, di sela-sela pertahanan dan kedudukan Belanda,” ungkap Chairun. Perjalanan dimulai dari arah selatan guna membangun komunikasi dengan Kolonel M. Simbolon. Mereka bergerak melalui rute Pekanbaru-Rengat-Jambi. Dalam perjalanan panjang itu, selain Mayor Chairun, Hidayat pun disertai oleh dua ajdudannya: Kapten Islam Salim dan Kapten Jusuf Ramli beserta beberapa orang prajurit. “Kami menempuh jarak panjang melalui hutan belantara, dengan rakit menyusuri sungai-sungai, naik-turun bukit silih berganti,” kenang Chairun. Sejak itu pula mereka harus berkawan akrab dengan berbagai marabahaya: mulai ancaman binatang buas (harimau, gajah dan beruang) hingga serangan tentara Belanda. Setiap malam mereka berkemah di tengah hutan belantara yang kadang minim sekali tertembus sinar bulan atau bintang. Suasana memang agak mencekam, namun di tengah semua itu, mereka masih sempat memikirkan isteri yang entah  di mana berada bersama anak-anak yang masih kecil. “Tapi semua beban dirasakan agak ringan, karena kita semua selalu berbagi…” kenang Chairun. Begitu sampai di Riau, Kolonel Hidajat langsung melakukan konsolidasi dengan kekuatan-kekuatan republik yang ada. Dari sana, dia bergerak ke wilayah Aceh dengan hanya disertai dua ajudannya. Perjuangan yang sangat berat, karena mereka harus kembali menempuh jarak kurang lebih 1000 km dalam situasi yang penuh ancaman buat jiwa mereka. * Yogyakarta, beberapa hari setelah Agresi II Belanda. Pagi baru memasuki beberapa jam, saat sebuah mobil sedan terbuka berhenti di depan rumah keluarga Hidajat Martatmadja. Seorang perwira pertama dari Dinas Intelijen Belanda (IVG) bernama Letnan Bakker kemudian menemui Ratu Aminah (isteri Hidajat). Dia menyatakan bahwa Aminah dipanggil oleh atasannya Kapten Vosfeldt untuk suatu keperluan pemeriksaan. Aminah menyanggupi. Namun dia minta izin untuk membawa Dewi, salah seorang putrinya yang sudah mulai beranjak besar. Permintaan itu diluluskan. Begitu sampai di markas IVG, Aminah diperiksa terlebih dahulu di ruangannya. Itu berlangsung selama kurang lebih tiga perempat jam. Selama itulah Dewi merasakan kekhawatiran yang sangat terhadap keselamatan ibunya. “Hatiku berdebar dan serasa panas dingin karena takut ibu akan dianiaya,” kenang Dewi seperti dikisahkan dalam bukunya, Hidajat: Father, Friend dan A Gentleman . Barulah dirinya merasa lega ketika dilihatnya sang ibu keluar dari ruangan Vosfeldt dalam keadaan utuh. Namun baru saja akan berkemas untuk pulang, tetiba Letnan Bakker memanggil Dewi untuk masuk ke ruangan sang kapten. “Apa perlunya?” tanya Ratu Aminah dalam bahasa Belanda. “Kapten hanya ingin berkenalan saja,” jawab Letnan Bakker. Di ruangan Vosfeldt, putri kolonel republik itu dipersilakan duduk di seberang meja kerjanya sang kapten. Dengan ramah, dia lantas bertanya dalam bahasa Belanda: berapa usia Dewi, hobi Dewi, apa masih sekolah dan jika masih di manakah dia bersekolah. Setelah dijawab semua pertanyaan itu, Vosfeldt menatap mata Dewi sambil berkata: “Segeralah tulis surat kepada ayahmu! Suruh ia kembali dari petualangannya di rimba Sumatra. Dan kamu akan bisa kembali ke sekolah secara normal dan meneruksan lagi hobimu main piano dan main tenis secara teratur.” Alih-alih langsung mengiyakan apa yang diperintahkan Vosfeldt, Dewi malah merasakan dirinya marah. Dengan air mata bercucuran karena menahan emosi, Dewi malah menjawab: “Nooit van m'n leven zal ik mijn vader schrijven om thuis te komen (Tak akan pernah saya menyurati ayah untuk pulang). Jika itu saya lakukan sama saja saya menyuruhnya untuk berhenti berjuang!” Vosfeldt agak terkejut mendengar jawaban itu. Setelah menatap Dewi sebentar, dia lantas memanggil Bakker untuk membawa Dewi ke luar rungannya dan mengantarkan kembali Aminah dan Dewi ke rumah mereka. * Pasca Perjanjian Roem-Royen. Indonesia dan Belanda akhirnya sepakat untuk menuju sebuah jalan damai. Gencatan senjata diberlakukan. Hidajat pun bisa pulang ke rumahnya di Yogyakarta. Segala hal yang terkait kejadian yang sudah-sudah selama Hidajat berjuang di Sumatra, dikisahkan oleh Aminah dan Dewi. Termasuk pengalaman Dewi kala diperiksa oleh Kapten Vosfeldt. Mendengar kisah menegangkan sekaligus mengharukan dari putrinya, Hidajat hanya tersenyum. “Anak Kiblik (Republik) ni ya…” Ada nada bangga dalam kata-kata Hidajat itu.

  • Mengingat Lagi Muarajambi

    Selama lima abad Kompleks Percandian Muarjambi ramai oleh pendatang. Para biksu dari berbagai tempat datang untuk belajar ajaran Buddha. Tiba-tiba ditinggalkan dan terlupakan. Tak berpenghuni selama ratusan tahun,situs Muarajambi di Muaro Jambi, Jambi itu baru ditemukan pada 1823 oleh S.C. Crooke. Ia adalah Perwira Angkatan Laut Inggris yang bertugas mengumpulkan data di wilayah Jambi. Ia kemudian melaporkan reruntuhan bangunan kuno dari bata dan arca-arca batu di Desa Muaro Jambi. Menurut Asyhadi Mufsi Sadzali, ketua Program Studi Arkeologi Universitas Jambi, baru pada 1970-an masyarakat kembali bermukim di sekitar percandian itu. "Perkampungan itu malah ada di seberangnya, di sisi lain Sungai Batang Hari. Artinya, wilayah ini yang punya sebaran candi begitu banyak itu sempat ditinggalkan ratusan tahun," kata Asyhadi dalam dialog sejarah "Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi"  live di kanal Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 20 Oktober 2020. Makanya, kata Asyhadi, jurang pemisah antara masyarakat hari ini dengan apa yang mereka lihat di Muarajambi lebih karena wilayah itu sudah terlalu lama ditinggalkan. "Bukan persoalan agama, tapi ada missing link ," kata Asyhadi. Oleh karena itu, Asyhadi menyebut hanya 40 persen masyarakat di sekitar situs yang peduli dengan bangunan-bangunan kuno itu. Ini terlihat dari bagaimana mereka ikut menjaga kebersihan dan keikutsertaan dalam pengelolaan pariwisata dan pelestarian. "Ini bukan semata-mata kesalahan masyarakat,"kata Asyhadi. "Rasa memilikinya saja yang belum tumbuh." Muarajambi Ramai Dikunjungi Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, mengatakan berdasarkan analisis penanggalan karbon yang sampelnya diambil dari Candi Kedaton dan sebelah timur Kolam Telago Rajo, percandian ini digunakan sejak abad ke-9-10. Penanggalan ini sesuai dengan banyaknya temuan keramik Tiongkok dari masa Dinasti Tang dan Sung. Khusus di Candi Kedaton, ada juga tulisan pendek yang terbaca pada permukaan bata. Secara paleografi, gaya tulisan ini pun berasal dari abad ke-9-10. "Inskripsi yang ditemukan di Candi Gedong, Tinggi, Kembar Batu juga dari abad ke-9-10. Tapi memang ada inskripsi di atas lembaran emas yang ditemukan di sumuran Candi Gumpung, paleografinya abad 8-9," kata Retno. Kendati demikian, Muarajambi kerap dihubungkan dengan Mahavihara yang didatangi I-Tsing sewaktu singgah ke Mo-lo-yeu pada abad ke-7. Dalam catatannya, dia menyebut bahwa ribuan biksu tinggal dan belajar ajaran Buddha di Mahavihara . Di dalam candi-candi Muarajambi, khususnya Candi Kedaton, terdapat halaman yang dibagi ke dalam ruang-ruang. Terdapat pula sumur dan berbagai temuan penyerta, seperti kuali dan pecahan-pecahan keramik. "Saya simpulkan Kedaton ini sebagai sebuah vihara, bukan hanya tempat beribadah tapi juga belajar," kata Retno. Namun, menurut Retno, ada sebagian yang tak sepaham dengan mereka yang mengidentifikasi Mo-lo-yeu sebagai Melayu di Jambi. Mereka menghubungkannya dengan Semenanjung Melayu di Kedah. "Apakah Melayu di situ sama dengan di Jambi? Ini sama dengan perdebatan di mana letak pusat Sriwijaya, di Jambi atau di Palembang. Nah, ini harus beradu bukti," kata Retno. Sementara itu, I-Tsing pun tak spesifik menyebut nama tempatnya belajar ketika singgah di Mo-lo-yeu. Tapi yang jelas, pada kali kedua ke Melayu (685), biksu asal Tiongkok ini menyebut wilayah itu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. "Sriwijaya itu seperti negara, ibu kotanya misalnya di Jakarta, pusat pendidikan bisa di Yogyakarta," kata Retno. Selain tempat beribadah dan belajar, temuan keramik Tiongkok di Muarajambi menunjukkan keramaian di sana kemungkinan berhubungan dengan komunitas pedagang. " Mahavihara di India pun lebih banyak yang didirikan oleh para saudagar dibandingkan oleh raja. Kalau di Muarajambi katakanlah lebih ramai, mungkin para pedagang lebih menguntungkan di sana," kata Retno. Penemuan keramik Tiongkok juga menjadi petunjuk penurunan keramaian di Muarajambi. Keramik yang paling sedikit ditemukan berasal dari masa Dinasti Ming. Artinya, kemungkinan sekira abad ke-14, Muarajambi mulai ditinggalkan. "Muarjambi yang dulunya ramai tiba-tiba ditinggalkan oleh pendukung budayanya. Itu dilihat dari kepadatan temuan keramik dari Dinasti Sung, dari Dinasti Yuan mulai tipis, Ming jarang ditemukan," kata Asyhadi. Namun, menurut Asyhadi, Muarajambi ditinggalkankemungkinan besar karena ikut hancur akibat serangan Kerajaan Cola ke Sumatra. Raja Rajendracola dari India Selatan mengirim armada laut untuk menginvasi Semenanjung Malaka dan Sumatra. "Rajendracola pernah menyerang Sumatra," kata Asyhadi. "Mungkin salah satunya yang dihancurkan Muarajambi."

  • Yang Tercecer dari Pertempuran Biak

    UNTUK pertama kali sejak dua dekade, Prabowo Subianto bisa masuk kembali Amerika Serikat (AS). Sejak tahun 2000, Prabowo kena “cekal” masuk Amerika. Larangan itu sekonyong-konyong dicabut pemerintah AS selepas Prabowo dilantik jadi menhan pada Oktober 2019. Dalam kapasitasnya sebagai menteri pertahanan (menhan) inilah ia bersua koleganya, Menhan AS Mark Esper di Pentagon (markas Kemenhan Amerika), Arlington County, Virginia, 16 Oktober 2020 guna membahas tiga hal. Menukil laman resmi kemenhan AS pada 16 Oktober 2020, tiga hal yang dibicarakan Esper dengan Prabowo yakni: dukungan modernisasi alutsista Indonesia, niat kerjasama keamanan maritim, dan kesediaan Indonesia membuka akses untuk mencari para kombatan Amerika yang masih hilang dari masa Perang Dunia II. “Menhan Esper dan Menhan Prabowo menandatangani Memorandum of Intent (semacam kesepakatan menuju perjanjian penuh, red. ) mempercepat upaya Defense Prisoner of War/Missing in Action Accounting Agency (DPAA/Dinas Tawanan Perang dan Prajurit yang Hilang) memulai kembali tugasnya di Indonesia untuk mencari sisa-sisa personel Amerika yang hilang di Indonesia selama Perang Dunia II,” ungkap Kemenhan AS. Menhan Amerika (kiri) Mark Thomas Esper & Menhan RI Prabowo Subianto menandatangani Memorandum of Intent. ( embassyofindonesia.org ). Sejak 1942, wilayah Indonesia jadi salah satu panggung terpenting dalam Perang Dunia II di front Pasifik antara Sekutu dan Jepang. Baik di darat, laut, maupun udara, pasukan Amerika terlibat dalam sejumlah pertempuran, mulai dari Laut Jawa, Laut Makassar, hingga Papua. Satu contoh terpenting adalah para awak kapal penjelajah berat USS Houston (CA-30). Setelah kapal itu karam oleh torpedo Jepang dalam Pertempuran Selat Sunda (28 Februari-1 Maret 1942), sekira 696 krunya masih hilang di dasar laut. Upaya untuk mengenang mereka sempat dilakukan dua kali oleh Angkatan Laut (AL) Amerika lewat upacara larung bunga di Selat Sunda pada Juni 2014 dan Maret 2019. “Kami senang dan merasa terhormat bisa mengenang mereka. Sampai sekarang banyak pahlawan perang Amerika yang hilang di sana,” tutur komandan kapal penyapu ranjau Amerika USS Chief (MCM-14) Mayor Laut Frederick Crayton saat hadir dalam diskusi bertajuk Defense of Java and the Dutch East Indies: World War II di @America, Jakarta, 26 Februari 2019. Di wilayah Indonesia timur, sejak 1944 pasukan Amerika sudah berada dalam posisi ofensif. Mereka terus mendesak pertahanan-pertahanan Jepang di pulau-pulau sekitar Papua. Salah satunya di Pulau Biak. Dalam situs resmi DPAA, per 16 Oktober 2020, total kombatan Amerika yang masih dinyatakan hilang (Missing in Action/ MIA) dalam Perang Dunia II mencapai 72.559 orang. Lebih dari setengahnya, 47.163, hilang di beragam front Pasifik. Di Pertempuran Pulau Biak, 13 personil AS tercatat masih MIA. Pertempuran Pulau Biak (27 Mei-17 Agustus 1944) merupakan satu dari rangkaian pertempuran dalam kampanye Sekutu di Papua Barat yang dikomando Jenderal Douglas MacArthur. Kampanye ofensif itu dimulai dengan pendaratan di Aitape dan Hollandia (kini Jayapura) pada 22 April, lalu dilanjutkan dengan Pertempuran Bukit Pohon Tunggal (Wakde-Sarmi) pada 17 Mei, dan Pertempuran Pulau Wakde pada 18 Mei sebelum Sekutu loncat ke Pulau Biak. Neraka di Pulau Biak Nyaris tak ada hal yang diketahui Kolonel Harold Riegelman tentang Pulau Biak. Perwira unit kimia dari Corps I Angkatan Darat (AD) Amerika itu ditugaskan ke Pulau Biak pada pertengahan Juni 1944. Ia harus mengevaluasi mengapa manuver ofensif dua divisi AD Amerika yang diturunkan hampir sebulan lalu tak jua mencapai tujuan strategisnya: membangun lapangan terbang guna menyokong kampanye ofensif ke Kepulauan Mariana. “Yang saya tahu tentang Biak hanyalah ia sebuah pulau satu derajat ke selatan dari garis Khatulistiwa, salah satu pulau Gugusan Schouten (kini Kepulauan Biak) yang terletak di utara Teluk Geelvink (Teluk Cendrawasih) yang menghadap ke arah ujung barat Papua,” tulisnya dalam Caves of Biak: An American Officer’s Experiences in the Southwest Pacific. Rencana serangan Divisi Infantri ke-42 AD Amerika ke Pulau Biak. ( army.mil ). Dari serangkaian pertempuran dalam Kampanye Papua Barat, Biak jadi satu dari sedikit sasaran yang akan direbut sepenuhnya oleh serdadu Amerika. Penyerbuan Biak tak seperti pertempuran-pertempuran lain yang turut mengikutsertakan pasukan Australia dan Selandia Baru. Dalam Pertempuran Biak, Australia sekadar membantu sokongan bombardir lewat kapal-kapalnya, seperti kapal penjelajah HMAS Australia , HMAS Shropshire , atau kapal perusak HMAS Warramunga. Jenderal McArthur, panglima Sekutu di Pasifik, menyerahkan tanggungjawab ofensif ke Biak ke pundak Panglima AD ke-6 Amerika Letjen Walter Krueger. Krueger lantas mengandalkan Komandan Korps I Letjen Robert Lawrence Eichelberger, atasan Riegelman, untuk merancang skema ofensif di lapangan. Jenderal MacArthur berharap operasi di Biak bisa rampung dalam kurun satu minggu. Tingginya kepercayaan diri MacArthur tak lepas dari laporan intelijen Sekutu yang menguraikan Biak hanya dipertahankan oleh sekira dua ribu serdadu Jepang. Dari laporan intelijen di darat dan pengintaian udara, disebutkan dua ribu personil Jepang itu hanya dipimpin kolonel AD Kozume Naoyuki dan Laksamana AL Sadatoshi Senda. Namun, menurut sejarawan militer Laksamana Samuel Eliot Morison, ada yang tak diketahui MacArthur dan stafnya. Jepang, kata Morison dalam New Guinea and the Marianas: March 1944-August 1944 , ternyata masih bisa mengirim ribuan pasukan bantuan dari Mindanao, Filipina ke Biak lewat Operasi KON yang dipimpin Laksamana Naomasa Sakonju. “Yang terlupakan oleh Sekutu saat mendarat di Biak pada 27 Mei adalah, hari itu menjadi perayaan ke-39 Pertempuran Tsushima. Peristiwa yang sangat dipuja AL Jepang. Saat Sekutu sudah mendarat di Biak pada 27 Mei, AL Jepang bereaksi ikut mempertahankan dengan niat menyambung kejayaan di Tsushima,” tulis Morrison. Kolase pendaratan amfibi tentara Amerika pasca-pengeboman via laut di Biak. ( awm.gov.au /US Army). Sesuai skema yang dibuat, pasca-bombardir pembuka dari laut, pasukan Sekutu mendarat di Biak pada 27 Mei 1944 di empat titik pendaratan Pantai Bosnek. Pasukan itu berkekuatan 12 ribu prajurit Divisi Infantri ke-41 AD yang merupakan pasukan baru gabungan dari garda nasional negara bagian Oregon, Montana, Washington, dan Idaho. Pasukan pendarat itu diikuti 12 tank medium M4 Sherman. Mereka tak menemui perlawanan berarti saat mendarat. Beberapa hari setelah pendaratan, para perwira Amerika baru insyaf bahwa jumlah pasukan Jepang jauh lebih banyak dari informasi awal yang mereka terima. Perlawanan alot baru ditemui pasukan Amerika kala mencapai Lapangan Terbang Mokmer (kini Bandara Frans Kaisiepo), 10 hari setelah pendaratan. Selain kekuatan pasukan Jepang (11 ribu) ternyata lima kali lipat lebih besar dari laporan awal intelijen (dua ribu), para serdadu Jepang dengan pandai menyembunyikan posisi mereka di dalam gua-gua yang mengarah ke lapangan terbang. Belum lagi tambahan ribuan pasukan bantuan yang datang sejak 31 Mei. “Rencana Operasi KON adalah mengantar 2.500 pasukan tambahan dari Brigade Amfibi ke-2 dari Mindanao ke Biak dengan kapal-kapal pendaratan. Laksamana Naomasa Sakonju juga mengirim kapal penjelajah Kinu , Myoko , dan Haguro ; kapal perusak Shikinami , Uranami , dan Shigure ; serta kapal tempur Fuso yang berangkat dari Zamboanga pada 31 Mei dan tiba di Biak pada 3 Juni,” sambung Morrison. Para serdadu Divisi ke-42 yang mendarat di Biak merupakan gabungan empat garda nasional. (Oregon Military Department). Pasukan Jepang, terutama 1.200 serdadu Resimen Infantri ke-222 di bawah Kolonel Kuzume, amat pandai memanfaatkan bentang alam. Unit-unit mortir dan meriamnya dengan baik menyamarkan diri di jaringan-jaringan gua di barat dan timur Pulau Biak. Merekalah yang membuat pasukan lawan berdarah-darah sehingga pertempuran berjalan alot. “Kuzume paham bahwa selama dia bisa ulet mempertahankan lembah dan bukit di utara Mokmer, dia bisa mencegah Hurricane Task Force (semacam pasukan zeni Amerika) untuk memperbaiki dan menggunakan lapangan terbang Borokoe dan Sorido. Ia tempatkan pasukan gabungan resimennya dan tentara AL Jepang di Kantung Ibdi dan rangkaian gua di timur pulau,” singkap Robert Ross Smith dalam The War in the Pacific: The Approach to the Philippines. Setelah 10 hari pertempuran tetap berjalan alot alias lewat dari target awal  seminggu yang diberikan, MacArthur pun tak puas. Ia memerintahkan Jenderal Krueger mengganti Fuller. Atas rekomendasi Eichelberger, Divisi ke-42 berganti pimpinan ke pundak Brigjen Jens Anderson Doe yang sebelumnya komandan Resimen Infantri ke-136 Divisi ke-42. Jenderal Doe segera merancang ofensif yang lebih agresif untuk menyisir setiap jaringan terowongan dan gua-gua di pedalaman Biak. Dia mengandalkan apa saja yang bisa digunakan, mulai dari pelontar api ( flame thrower ), granat, hingga bensin untuk menyulut api hingga ke perut gua. Efek ledakan granat yang dihimpun dalam sebuah tas bisa lebih mengerikan daripada bensin dan pelontar api. “Setelah sebuah gua meledak, seorang prajurit masuk untuk melihat dampaknya. Beberapa menit dia keluar dengan mengalami pusing dan muntah-muntah. ‘Ya Tuhan, pemandangan (di dalam) sudah seperti neraka. Potongan-potongan tubuh memenuhi dasar gua! Perut-perutnya menganga mengeluarkan isi-isi perutnya. Darah mengalir dari telinga, hidung, mulut, dan mata para jasad tentara Jepang. Sungguh menjijikkan!’” tulis Howard Oleck dalam Eye-Witness World War II Battles . Brigjen Jens Anderson Doe (tengah) yang jadi panglima pengganti pasukan pendaratan di Biak. ( awm.gov.au ). Pada 20 Juni, pasukan Amerika sudah bisa maju dan merebut landasan terbang Borokoe dan Sorido. Saat itu masih tersisa seribu pasukan Jepang yang bertahan di kubu terakhir dalam gua-gua di timur pulau. Beberapa dari mereka yang mulai putus asa lalu melancarkan serangan bunuh diri. “Suatu malam sekitar 200 tentara Jepang menyerang yang kemudian semuanya tumbang dengan senapan mesin. Seorang prajurit Amerika mengenang: ‘Itu seperti eksekusi massal. Bunuh diri massal dari pasukan yang memang ingin mati,’” tambah Oleck. Untuk mematahkan pertahanan Jepang yang keuletan, pasukan Amerika mempertimbangkan penggunaan senjata kimia, terutama senjata gas beracun yang dirampas dari gua-gua yang ditinggalkan pasukan Jepang. Riegelman mengisahkan soal itu dalam bukunya. “Bagaimana, perwira kimia, apa yang Anda dapatkan dari gua-gua itu?” tanya sang perwira senior. “Kami mendapat banyak gas yang tak digunakan oleh Jepang, Pak,” jawabnya. “Berapa banyak yang Anda dapatkan?” “Kami mengambil dengan jumlah banyak yang kebanyakan asap beracun.” “Apakah bisa gas itu dipakai untuk melawan Jepang, walau beberapa staf saya tak setuju?” “Pak, menurut saya staf Anda benar dan saya yakin Anda akan dibebastugaskan dalam 24 jam setelah Anda menggunakan gas. Walau pada akhirnya kita akan kehilangan lebih banyak waktu dan korban jika tak memakai gas,” jelas Riegelman. Salah satu rangkaian gua di timur Pulau Biak (kiri) & dua dari 200 serdadu Jepang yang menyerah pada Tentara Amerika. ( awm.gov.au /US Army). Pertimbangan memakai senjata kimia itu akhirnya tak lagi dijadikan isu. “Saya tak pernah menyangka akan mendapati suatu hari di mana saya harus menentang penggunaan gas terhadap Jepang, terutama senjata gas mereka sendiri. Tetapi saya pikir itu adalah tindakan yang benar,” kenang Riegelman. Lebih dari 700 personil Jepang yang tersisa tetap melakukan perlawanan sengit dengan mengandalkan alam. Sikap itu membuat banyak perwira Amerika kagum pada keteguhan hati dan keuletan strategi para personil pertahanan yang dipimpin Kolonel Kuzume. “Menyadari posisinya yang tanpa harapan, perwira yang berani ini (Kolonel Kuzume) mampu membangkitkan semangat resimennya (Resimen Infantri ke-222). Entah kemudian dia bunuh diri atau tewas dalam pertempuran, namun kematiannya menandakan berakhirnya pertahanan efektif dan ulet pasukannya,” tandas Morison. Seluruh Pulau Biak akhirnya bisa direbut pasukan Amerika pada 17 Agustus 1944. Namun, tujuan strategis MacArthur untuk bisa menggunakan Biak sebagai basis sokongan udara guna kampanye di Kepulauan Mariana tak tercapai. Lapangan-lapangan udara di Biak baru bisa digunakan pada September 1944 untuk menyokong ofensif via udara ke Kepulauan Palau dan Mindanao. Dalam 52 hari Pertempuran Pulau Biak, pihak Jepang kehilangan 4.700 prajuritnya dan 200 lainnya tertawan. Sisa pasukannya yang terluka sampai sekarang belum diketahui. Sementara, Amerika meski 438 prajuritnya tewas, namun lebih dari dua ribu serdadunya terluka. Sekira 14 personelnya hingga sekarang statusnya masih MIA alias hilang tanpa teridentifikasi.

  • Kisah Prabowo dan Gadis-gadis Inggris

    Di masa kanaknya, Prabowo Subianto mesti hidup berpindah dari satu negara ke negara lain. Sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo menjadi buronan pemerintah RI karena terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Berturut-turut, Prabowo bermukim di Singapura selama dua tahun, di Hongkong setahun, di Malaysia dua tahun, di Swiss dua tahun, dan di Inggris dua tahun.

bottom of page