top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis)

    LAZIMNYA, festival budaya Islam tahunan rutin digelar setiap Oktober di sebuah bangunan kuno di puncak sebuah bukit kota Almonaster La Real, Provinsi Huelva, Spanyol. Namun pandemi COVID-19 membuat hajatan Jornadas de Cultural Islamica itu sementara dibatalkan. Bangunan yang dimaksud adalah Mezquita de Almonaster la Real alias Masjid Kastil Almonaster. Dinamakan Masjid Kastil Almonaster lantaran masjidnya berada di dalam kastil yang strukturnya tersusun dari sisa-sisa bebatuan era Romawi Kuno. Masjid itu dibangun di era kekasaan Abd al-Rahman III dari Kekhalifahan Qurtuba (Córdoba). Kala itu kotanya bernama Al-Munastir, berada dalam wilayah Andalusia. Pasca- Reconquista atau perebutan kembali Semenanjung Iberia (kini Spanyol dan Portugal) dari tangan Islam ke Katolik (711-1492 Masehi), masjid itu dijadikan kapel di bawah pengelolaan Gereja Nuestra Señora de la Concepción. Seperti halnya Masjid Agung Córdoba, Masjid Al-Munastir juga didirikan di atas bekas bangunan gereja. Baca juga: Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Diungkapkan Roger Collins dalam Spain: An Oxford Archaelogical Guide , kastilnya sendiri dibangun antara abad kesembilan dan ke-10 Masehi di atas bekas aula kemiliteran Romawi. Situs itu merupakan bekas biara yang dibangun orang-orang Visigoth (Jermanik Kuno) di abad keenam. “Nama Arab Al-Munastir menyiratkan eksistensi bangunan sebelumnya, yakni sebuah biara Kristen ( monasterio ) di zaman orang-orang Visigoth. Fragmen-fragmen bebatuan Romawi dan Visigoth di bangunannya jadi saksi tersendiri fase-fase situsnya,” tulis Collins. Sisi dalam Masjid Al-Munastir. ( mezquitadesevilla.com ). Masjid itu terletak dekat gerbang utama kastil, ditandai dengan adanya menara masjid yang tersusun dari batu-bata. Bentuk bangunannya sedikit berbeda, bukan kotak melainkan trapesium. Kemungkinan untuk mengatasi fondasi bangunan yang tanahnya berbukit. “Pertanda dibangunnya masjid adalah tembok batu-bata di bagian mihrab (tempat imam) dan pilar-pilar gaya Romawi yang menopang ruang shalat dengan lima saf . Terdapat penambahan struktur lengkung dari batu-bata di atasnya,” imbuhnya. Setelah dijadikan kapel pada abad ke-13, situs Almonaster La Real tak lagi difungsikan jadi rumah ibadah sejak 1931 lantaran dinyatakan sebagai monumen nasional. Sempat direnovasi dalam kurun 1970-1973, situs itu sejak 1999 rutin menggelar konferensi Islam dan festival Jornadas de Cultural Islamica setiap Oktober. Isu masjid yang dijadikan gereja sempat jadi pembenaran bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kala memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid. Erdoğan berdalih bahwa di Portugal dan Spanyol banyak masjid yang dijadikan gereja. Menyambung artikel sebelumnya, lima bangunan di Iberia berikut ini dibangun pertama kali sebagai masjid namun kemudian diubah menjadi gereja: Masjid Benteng Jerez de la Frontera Sisi luar dan interior masjid i kompleks Alcázar de la Frontera. ( andalucia.org ). Sebagaimana Masjid Al-Munastir, masjid ini dibangun di dalam Kompleks Benteng Alcázar di kota Jerez de la Frontera, Andalusia, Spanyol. Bentengnya dibangun pada abad ke-11, kala kota itu berada di bawah kekuasaan Taifa (kepangeranan) Arkasy, kepanjangan tangan dari Kekhalifahan Almohad. Nama Alcázar berakar dari bahasa Arab, al-Qasr , yang berarti benteng atau istana. Karakter masjid era Almohad, seperti dituturkan Collins, bercirikan bentuk kubahnya oktagonal (segi delapan). Luas masjid ini sekira 10 meter persegi. Baca juga:  Masjid Sukarno di Rusia “Pintu masuk masjidnya ada di bagian barat laut benteng yang lorongnya terdapat tiga bangunan lengkung dari batu-bata yang mengarah ke halaman kecil yang terdapat sebuah kolam air mancur dengan dasar keramik, serta sebuah menara masjid di sudut utara. Di sisi selatan aula shalat terdapat mihrab berbentuk persegi panjang yang atapnya berbentuk kubah,” tulis Collins. Benteng Jerez de la Frontera ini direbut Panglima Kerajaan Castilla Nuño González I de Lara pada 1261. Oleh Raja Castilla Alfonso X, masjid di dalam bentengnya kemudian diubah menjadi Kapel Santa Maria del Alcázar. Masjid Tórtoles Masjid Tórtoles yang eksterior bangunannya masih terpelihara. ( patrimonioculturaldearagon.es ). Terletak di kawasan Tórtoles, kota Tarazona, Zaragoza, Spanyol, sebuah masjid berbentuk persegi dengan struktur batu-bata jadi saksi bisu kelahiran kembali masyarakat Islam di tengah kota yang dikuasai mayoritas Nasrani. Kisah masjid ini berkelindan dengan dinamika politik yang melingkupinya. Disebutkan dalam laman resmi Fundación Tarazona Monumental, masjid itu  dibangun pada awal abad ke-15 dan diperluas dalam kurun 1447-1455 oleh Mahora Almorabid. Masyarakat muslim di Tarazona sudah berkembang sejak abad kedelapan. Mereka terusir pasca-dikuasainya daerah tersebut oleh Raja Alfonso I dari Aragon pada 1119. Kaum muslim Tarazona lantas mengungsi ke kawasan Tórtoles yang merupakan kota terbuka alias bebas dihuni siapapun. Tarazona lalu dijadikan kota militer. Baca juga: Hagia Sophia: Dari Gereja menjadi Masjid Masjid yang dibangun pada abad ke-15 itu terbilang kecil, hanya dapat menampung tiga saf shalat. Tanpa dilengkapi menara, masjid tersebut langit-langitnya berhias ukiran bergaya mudejar . Seiring meningkatnya jumlah populasi Nasrani di Tórtoles, masjid itu diambil paksa oleh kaum Nasranidan dikonversi menjadi Gereja de la Anunciación de la Virgen. Pada abad ke-17, gereja tersebut ditinggalkan sehingga bangunannya dijadikan gudang jerami hingga 1987. Bangunannya kemudian dijadikan situs cagar budaya. Pemerintah kota Tarazona dan Departemen Budaya dan Pariwisata Spanyol merestorasinya pada 1987, 1991-1995, dan 2016. “Bangunan ini penting karena hanya ada sedikit contoh yang tersisa dari masjid-masjid yang dibangun di masa Kristen,” tutur Kepala Perencanaan Strategis Pariwisata Tarazona Javier Bona, dikutip Heraldo , 7 April 2015. Masjid Al-Ta’ibin Kolase Alminar de San Juan de los Reyes, menara yang tersisa dari Masjid Al-Ta'ibin. ( albaicin-granada.com ). Menara San Juan de los Reyes yang menempel pada Gereja Nuestra Señora de la Encarnación di kota Árchez, Provinsi Málaga, Spanyol itu masih berdiri dengan tegap hingga kini. Tingginya 15 meter dengan bentuk persegi. Menara dengan beberapa ukiran khas bergaya Almohad dari periode Nasrid itu punya arsitektur berbeda dari gerejanya. Pasalnya ia awalnya adalah menara adzan dari sebuah masjid yang kemudian tak lagi eksis. Kisahnya mirip dengan Menara La Giralda yang jadi bagian Masjid Agung Sevilla. “Gerejanya dibangun pada 1520 namun tetap mempertahankan menara era abad ke-13 dari Masjid Al-Ta’ibin, di mana gereja itu menjadi gereja Kristen pertama di kawasan Granada,” ungkap Litellus Russel Muirhead dan John Hooper Harven dalam Southern Spain: With Gibraltar, Ceuta & Tangier. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Kota Árchez sejak tahun 711 berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang setelah keruntuhannya (abad ke-11) diteruskan Taifa Granada, lalu Emirat Granada sebagai kepanjangan tangan Dinasti Nasrid. Namun, tiada catatan kapan Masjid Al-Ta’ibin dibangun. Hanya menaranya saja yang diketahui dibangun pada masa Dinasti Nasrid (abad ke-13). Masjid Al-Ta’ibin kemudian dihancurkan pasca- Reconquista . Di situsnya kemudian dibangun gereja. Masjid San Juan Córdoba Menara yang bertahan dari sisa sebuah masjid di San Juan, Córdoba. ( tuttocordoba.com ). Di kawasan Córdoba yang jadi jantung Kekhalifahan Qurtuba semasa diperintah Khalifah Abd ar-Rahman III (pertengahan abad ke-10) tentu terhampar banyak masjid baru. Namun pasca- Reconquista , masjid-masjid itu berubah jadi reruntuhan. Sedikit peninggalannya yang tersisa adalah Alminar de San Juan atau Menara Masjid San Juan. Antonio Jesús García Ortega dalam Transformations of Mosques into Churches: Formalizing and Tracing in the Restructuring Processes of Toledo and Córdoba menyebut, menara itu bagian dari sebuah masjid yang juga dibangun dalam abad ke-10, sekira tahun 930 Masehi. Pada 1236 ketika Reconquista , masjidnya diratakan dengan tanah hingga tak menyisakan catatan tentang bentuk asli masjidnya. Baca juga:  Doa Silaban Ketika Merancang Masjid Istiqlal Gereja yang berdiri di sebelah menara itu sedikit-banyak menyerupai bentuk masjidnya. “Letak menaranya sendiri berada di sudut timur laut dan diperkirakan letak masjidnya berada di sisi selatan. Keberadaan gereja yang sekarang merupakan hasil dari rekonstruksi (masjid) yang tak bisa ditentukan tahun pendiriannya,” tulis Ortega. Meski tak dapat dipastikan, struktur masjid sedikit-banyak bisa dilihat dari struktur menaranya yang masih berdiri. Dibangun dari bebatuan persegi dengan berhias jendela berbentuk tapal kuda dari bahan batu-bata. Sejak 1236, sisa reruntuhan masjidnya dibangun Gereja San Juan de los Caballeros. Masjid Al-Ulya Minarete de Loulé, sisa peninggalan Masjid Al-Ulya. ( museumwnf.org ). Tidak seperti di Spanyol, menara bekas masjid yang dikonversi jadi menara lonceng gereja di Portugal merupakan hal langka. Salah satu yang masih bertahan adalah Minarete de Loulé di Provinsi Algarve. Menara setinggi 22,7 meter itu dipercaya sebagai bagian dari rumah ibadah umat muslim yang kini sudah lenyap, Masjid Al-Ulya, merujuk penamaan kota Loulé dalam bahasa Arab, al-Ulya . Diungkapkan Cláudio Torres dkk. dalam In the Lands of the Enchanted Moorish Maiden: Islamic Art in Portugal , Al-Ulya atau Loulé mulai dijamah masyarakat muslim sejak abad kedelapan. Pada abad ke-11, Al-Ulya dijadikan kota benteng oleh Kerajaan Niebla, salah satu kerajaan pecahan Kekhalifahan Córdoba (akhir abad ke-11 hingga awal abad ke-12). Baca juga: Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan “Kota bentengnya dibangun seluas lima hektar dan menunjukkan bahwa pusat kota Al-Ulya merupakan kota penting selama periode Niebla dan masjidnya dibangun dekat tembok kota sisi selatan,” ungkap Torres dkk. Diyakini, masjid itu dibangun di masa yang sama dengan dibangunnya kota benteng Al-Ulya. Pada 1249, kota benteng itu direbut Raja Portugal Afonso III. Masjid Al-Ulya pun diratakan dengan tanah yang lantas dibangun Igreja Matriz de São Clemente.

  • Yang Lucu dari Haji Agus Salim

    Saat menjadi anggota Volksraad (1921-1924) dan tinggal di Bogor, Haji Agus Salim (HAS) kerap bepergian. Itu dilakukan selain untuk mengikuti rapat juga kadang dia harus bertemu dengan rakyat untuk sekadar menyerap aspirasi. Kepergiannya itu bisa ke tempat yang jauh atau bisa saja hanya ke Batavia. “Tergantung kepentingan Patje (panggilan sayang keluarga HAS kepada HAS) sebagai anggota Dewan Rakyat,” ungkap almarhum Bibsy Soenharjo alias Siti Asia. Alkisah, suatu hari HAS harus pergi ke Jakarta. Sambil sekalian jalan-jalan, Zainatun Nahar alias Matje (istri dari HAS) mengajak anak-anak  untuk mengantarkan ayahnya hingga Stasiun Bogor. Singkat cerita, berangkatlah HAS ke Batavia lalu mereka pun pulang ke rumah. Karena merasa agak lelah, pulang dari stasiun Matje langsung ke kamar tidur. Namun saat memasuki kamar, dia langsung berteriak kaget karena didapatinya seseorang sudah terbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Setelah dibuka, “seseorang yang berselimut” itu ternyata adalah HAS. Rupanya dia tidak jadi mengambil jadwal kereta api hari itu dan untuk sekadar mengisengi Matje, HAS pulang mendahalui Matje dan anak-anak lalu secara diam-diam masuk rumah lewat jendela kemudian langsung berbaring di tempat tidur. Di lain kesempatan HAS bercengkarama dengan adik perempuanya dari luar kamar, persis di belakang jendela. HAS berdiri sambil bertopang dagu. Asyik benar dia menyimak dan ngobrol dengan lawan bicaranya hingga akhirnya sang adik merasa tidak enak dan mengajaknya masuk rumah. “Terimakasih,” jawab HAS. “Saya tadi duduk di kursi yang basah, dan sebetulnya tadi sedang berusaha mengeringkan celana. Nah, sekarang celana saya sudah mulai mengering…” Diceritakan dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim , George Mc. T. Kahin, Guru Besar di Yale University memiliki pengalaman yang agak lucu mengenai HAS. Kisahnya: saat diundang sebagai dosen tamu di universitas terkemuda Amerika Serikat tersebut, para mahasiswa Yale sangat terpukau dengan HAS. Bukan saja karena luasnya pandangan cakrawala pemikirannya namun juga dengan roko kretek-nya yang berbau khas. Begitu khasnya, hingga mahasiswa-mahasiswa Yale tidak terlalu sulit untuk mencari tempat HAS menyampaikan kuliahnya, kendati lingkungan Yale tentunya sangat luas. Bagaimana bisa? Rupanya bau kretek yang dihisap HAS menjadi “petunjuk” tempat berlangsungnya perkuliahan tersebut. Karena kecerdikannya, HAS kerap dipanggil oleh dunia pers sebagai The Old Fox (Srigala Tua). Sebutan itu sangat populis hingga di kalangan para pejabat pemerintahan republik.  Namun tak ada orang yang menyangka, julukan tersebut akan memicu terjadinya suatu kejadian lucu di tahun 1946. Ceritanya, sebelum meninggalkan Indonesia, tentara Inggris mengadakan pesta perpisahan. Dalam situasi yang sangat sentimental itu, ada beberapa perwira Inggris yang berinisiatif mengadakan toast tradisional Inggris yakni to the old folks at home. Karena tidak paham dengan tradisi tersebut dan adanya kesalahpahaman terhadap istilah itu (old folks bunyinya hampir sama dengan old fox), maka begitu disebut kata-kata itu: orang-orang Indonesia ramai-ramai bangkit sambil menjawabnya: Haji Agus Salim. HAS sendiri cuma senyum mesem saja menyaksikan peristiwa itu. Tahun 1927, Buya Hamka  yang tengah menimba ilmu di Mekah pernah dinasihati oleh HAS saat mereka bertemu di kota suci tersebut. HAS menyarankan Hamka supaya jangan terlalu lama tinggal di tanah Arab. Menurut HAS, Hamka harus mengikuti jejak  sang ayah: Syaikh Abdul Karim Amrullah yang jadi ulama besar timbul dari alam tanah air sendiri. Ada soal-soal agama yang timbul di Indonesia dan yang harus memecahkan masalahnya adalah orang Indonesia sendiri. “Kalau engkau terbenam bertahun-tahun di Mekah, pulangnya kau hanya akan menjadi tukang baca doa di pesta kendurian…” ujar HAS. Kendati dikenal memiliki kepahaman yang dalam mengenai pengetahuan agama Islam, namun tidak menjadikan HAS sebagai pribadi yang kaku. Saat kali pertama mengunjungi Amerika Serikat pada 1947, beberapa jurnalis muda setempat secara iseng menanyakan pendapat Haji Agus Salim mengenai new look , busana yang menjadi trend para gadis Amerika kala itu. Lantas bagaimana komentar HAS? “Rok-roknya memang bagus sekali, tetapi menurut pendapat saya, betis-betis di bawah rok-rok itu malahan yang lebih bagus…” ujarnya disambut tawa orang-orang yang mendengarnya.

  • Aksi Aneh Tjipto Mangoenkoesoemo

    PADA 1899, kegembiraan datang menghampiri keluarga Mangunkusumo. Putra mereka, Tjipto Mangoenkoesoemo, dinyatakan lolos masuk ke Stovia (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia. Sebagai anak dari kalangan rakyat biasa, terdaftar di sekolah bangsawan merupakan sebuah kebanggan. Keluarga Mangunkusumo pun menutup abad itu dengan kebahagian. Di Stovia, Tjipto termasuk golongan siswa terbaik. Dia memiliki ketajaman berpikir, keterampilan, serta pembawaan diri yang baik. Berkat kecintaannya kepada buku, Tjipto memiliki wawasan yang luas dan senang berdebat. Para guru pun mengakuinya. Namun dia juga dikenal sebagai seorang yang suka kebebasan dan benci dikekang. Berkat sifatnya itu Tjipto pernah meringkuk di ruang tahanan siswa –para siswa menyebutnya “kamar tikus”.

  • Pangan Zaman Perang

    SEPULANG dari tur politik di Jawa Tengah pada 1933, Sukarno berlibur beberapa hari ke Pangalengan di selatan Bandung. Selama liburan, dia menulis risalah berjudul Mencapai Indonesia Merdeka. Sukarno berharap “moga-moga risalah ini banyak dibaca oleh Marhaen” karena risalah ini tentang imperialisme yang mengeruk kekayaan alam Indonesia dan menyengsarakan kaum Marhaen.

  • Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Murid Gatot Soebroto yang Toleran terhadap Anak Buah

    PAHLAWAN Revolusi Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, Sutoyo menjalani pendidikan di HIS dan AMS di Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, Sutoyo mengikuti pendidikan di Kenkoku Gakuin atau Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. Ia kemudian menjadi Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo. Namun, Sutoyo mengundurkan diri pada 31 Maret 1944.  Karier kemiliteran Sutoyo diawali pada masa perjuangan kemerdekaan dengan bergabung ke  Badan Keamanan Rakyat. Setelah BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Letda Sutoyo di dalam TKR memilih bergabung dengan Polisi Tentara. Pada Januari 1946, Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi letnan satu dan diangkat menjadi ajudan Komandan Divisi V Gatot Soebroto. Dari Gatot Soebroto, Sutoyo mempelajari karakter kepemimpinan militer.  “Ayah sangat percaya, tidak ada satu pun prajurit yang jelek. Kesimpulan yang dipetiknya ketika mendampingi Jenderal Gatot Soebroto sebagai ajudan. Keyakinan Jenderal Gatot Soebroto inilah yang kemudian juga diyakininya dengan teguh,” ujar Nani Nurrachman Sutoyo, putri Sutoyo, dalam Saya, Ayah, dan Tragedi 1965. “Ayah diingat anak buahnya sebagai pemimpin yang tak alpa berada di tengah mereka. Ia senantiasa memberi instruksi dengan kebijaksanaan dan rasa toleransi yang tinggi. Ia memberi contoh dengan selalu hidup sederhana, namun selalu memerhatikan kesejahteraan anak buah. Ia paling tahu, sampai di mana batas kemampuan mereka, sehingga segala tugas yang dibebankan dapat terlaksana dengan baik dan sampai pada tujuannya,” lanjut Nani. Tak sampai setahun menjadi ajudan Gatot Soebroto, Sutoyo diangkat menjadi Kepala Bagian Organisasi Polisi Tentara Resimen II Purworejo dengan pangkat kapten. Jabatan ini diemban Sutoyo hingga Mei 1948.  Sutoyo lalu ditugaskan menjadi Kepala Staf Corps Polisi Militer di Yogyakarta dan sebulan setelahnya ditugaskan menjadi komandan CPM Detasemen III Surakarta. Saat itulah Sutoyo terlibat mengatasi pemberontakan PKI di Madiun pada September 1948.  Sesaat kemudian, Desember 1948, Sutoyo kembali turun ke medan pertempuran menghadapi Agresi Militer II Belanda yang dimulai dengan pendudukan ibukota Yogyakarta. Sutoyo juga meninggalkan Solo untuk bergerilya.  Sutoyo diangkat menjadi Kepala Staf Batalyon CPM Yogyakarta usai Perjanjian Roem-Royen (April 1949). Setelah ibukota pindah kembali ke ke Jakarta pada 17 Agustus 1950, Sutoyo ditarik ke Jakarta untuk menjabat Komandan Batalyon I CPM dengan pangkat mayor. Pada 1955-1956, Sutoyo diperbantukan di Staf Umum Angkatan Darat I dengan pangkat letnan kolonel. Ia kemudian dipercaya sebagai asisten Atase Militer di Kedutaan Besar Indonesia di London. Setelah kembali ke Tanah Air, Sutoyo mengikuti pendidikan Kursus C di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Bandung pada 1959-1960. Pada 1961, Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi kolonel dan diserahi jabatan Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat (Irkeh/Ojen AD). Pada waktu yang sama, Sutoyo juga menjabat Direktur Akademi Militer/Perguruan Tinggi Hukum Militer (AHM/PTHM).  Di masa itulah Sutoyo dipercaya Menko Hankam/KSAB Jenderal AH Nasution untuk membantunya dalam menjalankan Operasi Budhi. Operasi Budhi mulanya merupakan program yang dilancarkan Kolonel AE Kawilarang untuk mendisiplinkan Divisi Siliwangi. Saat itu mulai banyak politisi yang mengkritik tentara karena banyak kedapatan korupsi. Selain untuk membersihkan divisnya, menurut Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI, Operasi Budhi dijalankan Kawilarang untuk menangkis serangan-serangan PKI.  Kesuksesan Operasi Budhi di Jawa Barat mengesankan Nasution. “Pada tahun 1963 setelah melihat Siliwangi melancarkan ‘Operasi Budhi’ guna konsolidasi hasil-hasil pemulihan keamanan, maka saya tarik usaha itu ke tingkat nasional dengan skope yang lebih luas,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Julid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru. Untuk menjalankannya, Nasution menunjuk Sutoyo. Untuk itu Sutoyo kerap mengadakan rapat di rumahnya. Hal itu diingat oleh putri Sutoyo, Nani. “Sejauh pengamatannya pertemuan demi pertemuan memang sering terjadi di rumah, tetapi itu terjadi di sekitar tahun 1963 bukan di sekitar tahun 1965. Seingatnya peserta-pesertanya adalah Bapaknya sendiri dan sejumlah perwira dan dan staf. Pembicarannya pun hanya berkisar sekitar Operasi Budhi, bukan tingkat ‘Dewan Djenderal’,” ujar putra-putri Sutoyo dalam “Ilham Bagi Pembelajaran Manusia Berkarakter”, termuat di Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam.   Kerja keras para awak Operasi Budhi berhasil menyelematkan uang negara 11 milyar rupiah. Nas amat terkesan pada kinerja Sutoyo. “Kolonel Sutoyo, Inspektur Kehakiman banyak jasanya untuk menyusun program operasi ini,” sambung Nasution. Sutoyo mendapatkan kenaikan pangkat menjadi brigadir jenderal pada 1964. Jabatan Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat adalah jabatan terakhir Sutoyo di dunia kemiliteran Indonesia.  Pada sekitar pukul 04:00 WIB 1 Oktober 1965, pasukan berseragam Cakrabirawa menculik dan membawa Brigjen Sutoyo ke Lubang Buaya. Di sana, sekitar pukul 07:00 WIB, Sutoyo ditembak mati pasukan G30S. Jenazahnya bersama jenazah lima jenderal SUAD lain serta satu perwira AD dimasukkan ke sumur tua yang ditutup dengan batang pohon pisang, sampah, dan daun-daun.  “Semua berlangsung amat cepat. Ayah telah dibawa pergi oleh sepasukan tentara yang mengaku bagian dari pasukan pengawal Presiden Sukarno: Cakrabirawa. Ayah masih mengenakan pakaian tidur bermotif batik saat pergi dari rumah. Saat itu, belum tebersit sedikit pun, kami tidak akan pernah bertemu lagi dengannya,” tulis Nani.  Jenazah Sutoyo, lima jenderal lain, dan satu perwira pertama AD ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 dan baru berhasil diangkat keesokan harinya. Pada 5 Oktober 1965, tujuh jenazah itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.*

  • Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira

    CRISTIANO Ronaldo, megabintang Juventus berpaspor Portugal, dilaporkan positif terjangkit Covid-19 (virus corona). Tak hanya mengagetkan publik sepakbola internasional, kasus tersebut seolah membenarkan pendirian politikus Italia Vincenzo De Luca. Sebelumnya, De Luca membela keputusan Napoli yang tak hadir di jadwal Serie A kontra Juventus, 5 Oktober 2020, dengan harapan mencegah lebih banyak pemain tertular Covid-19. “Tidak ada yang berterimakasih kepada kami karena mencegah Cristiano Ronaldo dari tertular virusnya. Coba bayangkan jika Napoli datang dengan beberapa kasus positif di skuad mereka seperti Genoa. Jika Ronaldo tertular sepekan kemudian, kami akan mendapat kecaman dari semua halaman depan surat kabar,” ujar De Luca, di laman resmi  Juventus, Minggu (11/10/2020). FPF, induk sepakbola Portugal, mengabarkan dalam situs resminya , Selasa (13/10/2020), megabintang berusia 35 tahun itu mendapati hasil positif pada tes Covid-19 pascalaga penyisihan Grup 3 UEFA Nations League kontra Prancis (0-0) di Stade de France. “Cristiano Ronaldo dibebastugaskan dari tim nasional setelah mendapatkan hasil positif pada tes Covid-19, jadi dia takkan tampil menghadapi Swedia. Kondisi dia dalam keadaan baik, tanpa gejala, dan berada dalam isolasi,” demikian pernyataan FPF. Banyak yang mengharapkan pesepakbola berjuluk “CR7” itu bisa pulih sesegera mungkin sebagaimana sejumlah bintang lain, semisal Zlatan Ibrahimović (Swedia/AC Milan), yang sempat positif Covid-19 namun kini dinyatakan sembuh. Optimisme para penikmat bola bertolak dari gaya hidup sehat Ronaldo dan kondisi fisiknya yang di atas rata-rata pemain seusianya. Menukil Sport Bible , 5 Februari 2020, saat Ronaldo dibeli Juventus pada 2018, hasil pemeriksaan medisnya menyatakan di dalam tubuh Ronaldo terdapat tujuh persen lemak tubuh, 50 persen massa otot, dan overall kondisi fisik seperti pemain yang baru berusia 20 tahun. Ia bahkan bisa melompat lebih tinggi dari rata-rata para pemain NBA (kompetisi basket Amerika). Terbukti pada Desember 2019 lampau ia mampu menantang gravitasi. Ia mencetak gol fenomenal lewat sundulannya ke gawang Sampdoria. Gol itu ia ceploskan setelah melompat setinggi 2,56 meter di atas permukaan tanah. Bermodal fisik bugar laiknya pemain usia 20 tahun, diharapkan CR7 bisa lekas sembuh dari Covid-19. (Twitter @Cristiano). Bintang ber-DNA Afrika yang Sempat Tak Diinginkan Kebintangan Ronaldo bukanlah hasil dari usaha semalam. Ia merupakan hasil dari tempaan keras bertahun-tahun. Semua bermula dari kepindahan Maria Dolores dos Santos Viveiros (ibunya) dan José Dinis Aveiro (ayahnya) dari daratan Portugal ke Funchal di Pulau Madeiro pasca-Revolusi Anyelir, kup militer untuk menjatuhkan rezim totalitarian Estado Novo pada 1974. Di Funchal, mereka menempati sebuah rumah kecil di Jalan Quinta do Falcão nomor 27A, Desa Santo António. Ekonomi keluarga hanya ditopang Dinis. Dari berdagang ikan, Dinis kemudian menjadi pemecah batu, tukang kebun, lalu staf peralatan di sebuah klub divisi semenjana CF Andorinha de Santo António. Pada pertengahan 1984, Dolores mengandung anak keempatnya. Dengan ekonomi pas-pasan, kehamilan itu menjadi masalah buatnya sehingga dia memutuskan mengambil tindakan nekat. “Usia Dolores saat itu 30 tahun dan kehamilannya sama sekali tak direncanakan. Tidak ada cukup makanan untuk semua orang di rumah itu. Faktanya dia pernah mencoba untuk aborsi. Seorang tetangga menyarankan dia minum bir hitam yang direbus dan berlari sampai dia pingsan,” tulis jurnalis sepakbola Guillem Balague dalam Cristiano Ronaldo: The Biography . CR7 bersama sang ibu, Maria Dolores dos Santos Viveiros. (Twitter @Cristiano). Upaya tersebut gagal. Dolores pun mendatangi dokter. Namun, Tidak satupun dokter yang ia datangi mau membantunya aborsi. Akhirnya dia melihat tidak adanya alasan untuk menggugurkan kandungannya. “Kehamilan ini akan jadi kebahagiaan di rumah kami,” kenang Dolores, dikutip Balague. Dolores pun melahirkan bayi bungsunya pada 5 Februari 1985. Dolores menamainya Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Nama “Ronaldo” diambil dari Ronald Reagan, presiden ke-40 Amerika Serikat (1981-1989), yang merupakan figur pujaan Dolores dan Dinis sejak Reagan masih seorang aktor. Menurut Balague, di dalam tubuh Ronaldo mengalir DNA nenek moyang asal Afrika. Darah itu mengalir dari garis ayahnya. “Nenek buyut Cristiano dari garis ayah adalah Isabel Rosa Piedade yang lahir di Praia, ibukota Cape Verde (negara kepulauan di barat Afrika) tahun 1864. Saat 16 tahun dia bermigrasi ke Funchal, di mana dia menikahi José Aveiro. Isabel dan Jose punya putra bernama Humberto (Cirílo Aveiro) yang tak lain ayah dari José Dinis dan kakek Cristiano,” sebut Balague. “Silsilah Afrika itu yang mungkin jadi penjelasan tentang bawaan lahir kemampuannya sebagai pesepakbola. Singkatnya, serat-serat otot yang lazim dimiliki para sprinter kulit hitam (serat putih, tipe II, untuk kontraksi cepat yang memproduksi ledakan energi tanpa memerlukan oksigen) juga dimiliki Ronaldo sejak lahir,” imbuhnya. José Dinis Aveiro, ayah Cristiano Ronaldo yang mengalirkan DNA Afrika dari neneknya. (Instagram @cristiano/@katiaaveiroofficial). Metamorfosis Lebah Kecil Kehadiran Ronaldo perlahan menghadirkan kebahagiaan di keluarga Dinis-Dolores. Dua kakak Ronaldo yang masih sekolah diterima bekerja sebagai pelayan restoran. Dolores sendiri diterima bekerja di sebuah hotel di kota (Funchal). Tiada satupun dari mereka kekurangan makan sejak itu. Ronaldo menggemari sepakbola, terutama setelah beranjak usia lima tahun dia bisa menontong tayangan sepakbola di televisi. Ayah dan ibunya masing-masing punya tim idola sama-sama dari Pulau Madeira. “Tim favorit Dinis adalah Maritimo. Tim Primiera Liga lain di Madeira adalah (CD) Nacional yang jadi favorit ibunya. Sang ibu juga fan Sporting Lisbon, salah satu klub terbaik Portugal. Suasana di rumah jadi penuh tensi setiapkali terjadi Derby Madeira,” tulis Michael Part dalam Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner . Karena masih terlalu muda dibanding beberapa anak di lingkungannya, Ronaldo jarang diajak main bareng. Dia hanya menendang-nendang bola dari kaus kaki yang ia bentuk seperti bola kecil. Melihat itu, sang ayah membawakan bola bekas dari CF Andorinha untuknya. Sejak saat itu Ronaldo diajak main bareng oleh anak-anak di lingkungannya. “Saya biasa bermain di jalanan karena saat saya kecil tidak ada lapangan bola dekat rumah. Ketika saya berusia lima atau enam tahun dengan teman-teman biasa bermain di tengah jalan menggunakan dua pasang batu sebagai gawangnya. Kami pun harus berhati-hati dengan lalulintas jalannya. Kami juga harus mengambil batunya jika ada bus yang mau lewat dan meletakkannya lagi setelah itu. Begitu seterusnya,” kenang sang bintang dalam Cristiano Ronaldo karya Gail B. Stewart. Di sekolah ia termasuk anak yang mudah menyerap pelajaran. Mata pelajaran kesukaannya kala duduk di bangku kelas lima sekolah dasar adalah Ilmu Alam. “Pulau saya, Madeira, adalah pulau volkanik yang punya banyak varietas tumbuhan yang bisa berubah menjadi taman mempesona. Kelas-kelas Ilmu Alam begitu membuat saya tertarik dan semua perhatian saya terfokus pada pelajaran-pelajaran itu.” kata Ronaldo, dikutip Stewart. Namun, kecintaan Ronaldo pada sepakbola lebih besar. Ia pun sering bolos sekolah. “Saya menyesal tak belajar lebih rajin, namun saya harus membuat pilihan dalam hidup saya,” sambung Ronaldo yang akhirnya memilih putus sekolah. Ibunya memaklumi. Melihat bakat putra bungsunya, Dolores tak ambil pusing dengan protes guru-gurunya soal seringnya Ronaldo bolos sekolah. Dolores paham bahwa sepakbolalah yang akan jadi jalan hidup putranya di masa depan. CR7 "si Lebah Kecil" saat masih mengasah sepakbolanya di CF Andorinha (Repro Cristiano Ronaldo  oleh Gail B. Stewart/ museucr7.com ). Di usia tujuh tahun, Ronaldo mulai diasah di CF Andorinha, klub amatir tempat ayahnya bekerja. Di sini, Ronaldo mulai punya julukan “Abelhinha” alias si Lebah Kecil. “Julukannya karena dia bisa men- dribble bola secara cepat dengan langkah-langkah zig-zag dan karena dia punya tubuh yang kurus dan kecil. Hal ini yang membuatnya sempat gusar karena rekan-rekan setimnya mulai tumbuh besar, sementara badannya tetap kurus dan kecil. Hal ini juga yang menurut para pelatihnya jadi kelemahannya saat menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan kuat,” sambung Stewart. Selain mampu membawa bola dengan cepat, kelebihan lain Ronaldo adalah intuisi dan refleksnya. Kelebihan ini sudah ia latih secara mandiri sejak sering bolos sekolah. “Ketika teman-temannya menolak bolos sekolah untuk main bola, dia selalu menemukan cara melatih skill -nya sendiri. Dekat rumahnya ada sebuah sumur dengan tembok besar, sekitar 20 meter persegi. Itu sempurna untuk berlatih menendang bola ke tembok. Karena bola dengan cepat kembali mengarah padanya, dengan sendirinya refleksnya terlatih untuk mengontrol bola, seperti yang kemudian dia praktikkan terhadap lawan dalam pertandingan,” lanjutnya. Soal fisik, Ronaldo mengakalinya dengan meminta porsi makanan dua kali lipat dari sang ibu. Tapi bukannya tambah besar, tubuhnya malah meninggi. Buah dari semua kedisiplinan itu membuat karier Ronaldo terus menanjak.  Pada 1995, dia pindah ke CD Nacional, klub profesional idola ibunya, untuk lebih mengembangkan sayapnya. Tiga tahun ia berkostum CD Nacional. Dari sinilah titik balik karier sepakbolanya terjadi. Tiga hari trial yang dilakoni Ronaldo membuat dua pelatih akademinya, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva, terkesan. “Saya menoleh ke Osvaldo dan bilang, ‘Yang ini berbeda. Dia punya sesuatu yang istimewa.’ Dan kami bukan satu-satunya yang berpikiran sama. Di akhir sesi, semua peserta trial mengerubunginya. Mereka sudah tahu dia yang terbaik,” kenang Cardoso, dikutip Luca Caioli dalam Ronaldo: The Obsession for Perfection . “Dia bisa bermain dengan kedua kakinya, luar biasa sangat cepat dan saat di lapangan, bola ibarat menyatu dengan tubuhnya. Tapi yang membuat saya sangat terkesan adalah determinasinya. Kekuatan karakternya sangat kentara. Dia berani, tak kenal takut oleh pemain yang lebih tua. Bahkan dia sudah punya kualitas kepemimpinan dan hanya para pemain hebat yang memilikinya,” timpal Direktur Akademi Sporting CP Aurélio Pereira. Setelah itu, Ronaldo yang berusia 12 tahun direkrut Sporting Clube de Portugal (Sporting Lisbon). Mulai 17 April 1997 itulah Ronaldo memulai petualangan sepakbola profesionalnya. Ronaldo terpaksa meninggalkan keluarganya. CD Nacional jadi klub kedua CR7 kala meniti kariernya. ( maisfutebol.iol.pt / cdnacional.pt ). Di Balik Imej Arogan Tekad kuat plus kerja keras membuat Ronaldo akhirnya menjadi megabintang. Selain dipinang berbagai klub besar dan jadi andalan timnas Portugal, berbagai gelar individu telah direngkuhnya. Namun, tiada gading yang tak retak. Imej arogan jadi isu yang acap diusung para haters -nya. Predikat yang lekat pada dirinya hingga kini itu mulai eksis sejak ia berseragam Manchester United (MU). Sejatinya, Ronaldo seorang “family man”. Baginya keluarga nomor satu. Terhadap ayahnya yang pecandu minuman keras pun dia memberi perhatian. Sejak berkarier di MU, berulang kali ia membawa ayahnya ke rumahsakit untuk mengatasi kecanduannya. “Tapi pada akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan. Kondisi ginjal ayahnya terus memburuk. Saat kualifikasi Piala Dunia medio September 2006, ia mendapat kabar ayahnya wafat. Pelatih menyarankannya untuk pulang. Ronaldo menolak. ‘Ayah saya pasti ingin saya tetap bermain. Dia sudah melakukan segalanya dalam hidupnya agar saya bisa bermain sepakbola,” kata Ronaldo, dikutip David Fischer dalam Cristiano Ronaldo: International Soccer Star. Trauma akibat meninggalnya sang ayah membuat Ronaldo disiplin dalam gaya hidup sehat. Dia menjauhkan diri dari minuman keras. Kebajikan yang diajarkan sang ayah juga ikut membentuk karakter Ronaldo. Kecintaannya pada kemanusiaan merupakan salah satu kebajikan itu. Salah satu bukti tingginya rasa kemanusiaan Ronaldo adalah ketika dia mendengar kisah bocah Martunis yang jadi korban tsunami Aceh pada 2004. Ronaldo terharu mendengarnya dan setahun berselang datang ke Aceh lalu mengangkat Martunis sebagai anak. “Ayah saya mengajarkan bahwa saat Anda menolong orang lain, Tuhan akan membalasnya dua kali lipat. Dan itu yang terjadi pada saya,” cetus Ronaldo soal jamaknya kegiatan amal yang ia lakoni, dikutip Brian Doyle dalam Cristiano Ronaldo: World-Beater. Demi kemanusiaan itu pula Ronaldo rela menjual trofi Ballon d’Or yang diperolehnya tahun 2012. Hasil 1,5juta euro yang didapatnya lalu didermakannya. “Dia menggunakan uangnya untuk membantu membiayai sebuah sekolah di Jalur Gaza, Palestina. Sikap Ronaldo dalam donasinya bukan untuk membuat pernyataan politik terkait pihak mana yang ia dukung; dia hanya ingin membuat hidup anak-anak di Gaza lebih baik,” tandas Doyle.

  • Ketika Jenderal Nasution Minta Petunjuk Kancing Baju

    Karena dianggap telah melakukan pemberontakan, Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution memerintahkan menangkap Mayor Boyke Nainggolan. Di Medan, Mayor Boyke telah menguasai kota dengan melancarkan Operasi Sabang Merauke. Aksi pembangkangan Mayor Boyke itu merupakan operasi militer pertama yang mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Nasution sampai harus mendatangkan pasukan khusus dari kesatuan RPKAD (kini Kopassus). Pada 16 Maret 1958, segala persiapan untuk serangan balik sudah rampung. Pagi hari, tanggal 17 Maret, prajurit-prajurit RPKAD menjalankan operasi lintas udara di atas Belawan. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tercebur ke laut.    Sembari memantau pergerakan pasukan RPKAD menuju Medan, Nasution terhubung dengan Angkatan Udara (AURI) yang mengawasi dari udara. Komandan AURI setempat sempat melaporkan bahwa ada satu konvoi besar menuju Tanjung Morawa keluar kota. Ia minta perintah dari Nasution, ditembak atau tidak. Baca juga:  Aksi Pembangkangan Boyke Nainggolan “Saya hanya bisa mengadakan tembakan dengan menghitung-hitung kancing baju saya,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Nasution menjawab, “Mana saya tahu itu lawan atau kawan. Karena itu jangan tembak. Yang perlu dibungkem adalah stasiun RRI (cabang Medan), supaya tidak ada lagi mengudara pengumuman-pengumuman dari pemberontak!” Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. (Repro Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4 ). Rupanya Nasution salah perhitungan. Keesokan harinya, Gubernur Sumatra Utara Kumala Pontas melayangkan protes dari Medan. “RRI yang telah ada di tangan kita kok di bom!” gerutu sang gubernur. Sebaliknya, konvoi besar itu adalah Mayor Boyke Nainggolan dengan batalyon pendukungnya tengah menuju Pematang Siantar untuk bergabung dengan pasukan lain yang datang dari Tapanuli. Baca juga:  Perburuan Mayor Boyke Nainggolan Pada 18 Maret 1958, Nasution baru tiba di Medan dengan pesawat Catalina. Di lapangan udara yang sama, satu pesawat tempur jenis Mustang ikut mendarat setelah membantu pengintaian terhadap pasukan Boyke Nainggolan. Nasution menyadari ada pesawat tempur serupa yang tidak ikut mendarat. Kru AURI mengatakan pesawat itu jatuh antara Kabanjahe-Pematang Siantar. “Melihat pilotnya jalan dengan amat loyo, saya telah merasakan adanya musibah. Saya segera menyambutnya, dan langsung mendengar berita duka,” tutur Nasution. Menurut Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , pesawat itu jatuh akibat pertempuran singkat dengan pasukan Boyke Nainggolan di daerah Bangun Purba. “Akan tetapi banyak dari antara pemberontak yang menyerahkan diri,” ujar Maraden. Baca juga:  Boyke Nainggolan, Tragedi Opsir Terbaik Pada akhirnya, iring-iringan pasukan Boyke Nainggolan dapat melarikan diri sampai Tapanuli. Mereka selamat karena Nasution keliru sehingga terpaksa menerka lewat hitungan kancing baju. Menurut perhitungan Nasution, tidak sedikit korban yang jatuh andai pesawat bomber B-25 AURI langsung diperintahkan menggempur konvoi pasukan Boyke Nainggolan. Namun apa lacur. Petunjuk dari kancing baju tidak dapat memenangkan pertempuran. Dalam hal ini, sang mayor lebih beruntung dari si jenderal yang salah perhitungan.

  • S. Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Penentang Kuat PKI

    PAHLAWAN Revolusi Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya merupakan pedagang bernama Kromodihardjo. Parman menjalani pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Wonosobo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebried Lager Onderwijs (MULO setara SMP) Yogyakarta.  Pada 1937, Kromodihardjo meninggal dunia. Parman pun batal melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS setara SMA). Parman lalu membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo.  Setelah dua tahun membantu ibunya, Parman melanjutkan pendidikan di AMS dan setelahnya masuk Sekolah Tinggi Kedokteran (STOVIA) di Jakarta. Pendidikan kedokteran Parman terhenti karena invasi Jepang pada 1942.  Pada suatu hari pada masa pendudukan Jepang, Parman bertemu polisi militer Jepang di Wonosobo. Dari polisi militer itu Parman mendapatkan informasi bahwa pemerintah pendudukan Jepang membutuhkan penerjemah bahasa Inggris.  Kesempatan itu langsung diambil Parman yang punya keterampilan berbahasa Inggris. Meski bekerja di Kenpeitai, Parman memiliki cita-cita Indonesia merdeka. Ia pun membantu teman-temannya yang berjuang melawan Jepang secara sembunyi-sembunyi. Aktivitas itu membuat Jepang mencurigai Parman dan menangkapnya. Namun, tidak lama kemudian, Parman dibebaskan. Parman bahkan dikirim ke Jepang untuk mengikuti pendidikan Kenpei Kasya Butai. Sekembalinya dari Jepang, Parman kembali bekerja di Kenpeitai. Setelah Indonesia merdeka, Parman memilih masuk militer dengan bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat. Pada Desember 1945, Parman diangkat menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara Yogyakarta. Awal 1949, Parman turut bergerilya menghadapi Agresi Militer II Belanda. Setelahnya, Parman ditugaskan menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Saat itulah Parman berhasil mengungkap dan mengaggalkan rencana Angkatan Perang Ratu Adil pimpinan Raymond Westerling masuk ke Jakarta.  Diangkat menjadi Kepala Staf G pada Maret 1950, Parman dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Militer pada 1951. Sekembalinya dari AS, Parman bertugas di Kementerian Pertahanan. Pada masa inilah Parman terlibat dalam sekelompok perwira yang mendesak Presiden Sukarno agar membubarkan parlemen, 17 Oktober 1952. Peristiwa tersebut membuat posisi politik AD merosot di mata sipil dan di internal, hampir membuat perpecahan.  Di Tentara Teritorium (TT) V/Brawijawa, Jawa Timur, Panglima Kolonel Bambang Sugeng menjadi korban perpecahan itu. Keputusannya menunjuk Letkol Suwondo sebagai penggantinya untuk melaksanakan tugas harian karena kesehatan Bambang memburuk, justru berbuntut ricuh. Bambang tak mengetahui Suwondo terlibat Peristiwa 17 Oktober. Maka ketika dia mengetahuinya dan langsung mengambil alih kembali pimpinan serta memanggil Suwondo untuk meminta penjelasan, dia justru dilawan. Bahkan, dalam siaran radio Suwondo yang dikutip Edi Hartoto dalam Panglima Bambang Sugeng , Bambang termasuk yang kalau perlu ditangkap. Upaya kup di Brawijaya itu akhirnya dapat digagalkan KSAD. “Nasution segera mengutus dua orang pengikutnya, Letkol S. Parman dan Letkol Suprapto ke Jawa Timur dengan perintah untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu buat menyelesaikan krisis itu, tetapi mereka mendapati Divisi Brawijaya sudah begitu bersatu di bawah pengaruh B. Supeno sehingga mereka terpaksa kembali ke Jakarta tanpa dapat mempengaruhi situasi di Jawa Timur. Pada waktu yang bersamaan, markas divisi mengumumkan bahwa Suwondho telah dipecat oleh Markas Besar Angkatan Darat, dan bahwa komandan resimen yang paling senior, Letkol R. Sudirman, menggantikan Suwondho sebagai penjabat Panglima Divisi Brawijaya,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI . Namun, kedekatan Parman dengan Nasution membuatnya tidak disukai Presiden Sukarno. Setelah Nasution meletakkan jabatannya dan digantikan Kolonel Bambang Sugeng, nasib Parman mengikuti Nasution. Setelah PRRI, Parman yang dekat dengan Nasution kembali berhubungan baik dengan presiden. Parman akhirnya diangkat menjadi Atase Militer RI di London pada 1959. Tugas ini dijalaninya selama tiga tahun. Pada periode tersebut, sebagaimana dicatat Nasution dalam memoar berjudul Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama , Parman menjadi salah satu Atmil yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam Operasi C, diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia seiring beralihnya pimpinan AD dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Sebagaimana Yani, Parman menjadi perwira kepercayaan Sukarno. “Pak Parman sering ke Istana, sarapan dengan Bung Karno,” ujar Kolonel (purn.) Maulwi Saelan, wakil komandan Tjakrabirawa, kepada Historia . Kedekatan itu membuat Parman menjadi andalan presiden selain Yani dalam hal informasi di tubuh AD. Temasuk dalam kaitannya dengan persaingan Sukarno-Nasution, presiden juga pernah memanggil Parman dan menginterogasinya berjam-jam. Sebagaimana presiden, Yani juga mengandalkan Parman untuk urusan tersebut.  “Panglima AD (Pangad) Yani menugaskan Jenderal S. Parman dan Panjaitan untuk mengikhtiarkan agar pulih hubungan saya dengan Bung Karno karena diperlukan oleh AD,” kata Nasution.  Kemesraan hubungan dengan presiden diperlukan AD untuk menghadapi PKI dalam segitiga perpolitikan nasional saat itu yang bertumpu pada presiden di tengah. Parman merupakan salah satu perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI yang akan mempersenjatai buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara.  Di Seminar AD yang dihelat Menpangad Yani di Bandung (3-9 April 1965) untuk mereorientasi posisi politik AD, Parman menjadi peserta yang vokal. “Mayjen Soeprapto dan Mayjen Parman, serta Brigjen Suwarto beberapa kali berusaha untuk mengajukan soal posisi Angkatan Darat berhadapan dengan PKI dan pemerintah, tetapi Brigjen U. Rukman, dengan disokong Kolonel A. Sjukur, berhasil mencegah pembahasan mengenai soal itu,” tulis Sundhaussen. Parman, adik petinggi Politbiro CC PKI Ir. Sakirman, terus menjadi andalan Yani untuk mendapatkan informasi tak hanya soal kekuatan PKI namun juga soal isu Dewan Jenderal yang berhembus sejak awal 1965. Parman ikut Yani menghadap presiden untuk menjelaskan soal tersebut. Sehubungan dengan itu, Parman juga ditugaskan untuk menjalin kontak intensif dengan berbagai kedutaan.  “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV .   Jabatan Asisten I Menteri Panglima Angkatan Darat itu menjadi posisi terakhir Parman karena pada dini hari 1 Oktober 1965 dia menjadi korban penculikan kelompok Gerakan 30 September 1965. Parman diculik pasukan Pasopati di rumahnya dan dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, masih dalam keadaan hidup.  Pada 4 Oktober 1965, Parman ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di Lubang Buaya. Keesokan harinya, 5 Oktober, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama dengan korban G30S lain, termasuk Menpangad Yani.*

  • Perburuan Mayor Boyke Nainggolan

    AKSI Mayor Boyke Nainggolan di Medan menggegerkan sampai ke Jakarta. Lewat sandi “Sabang-Merauke, dia melancarkan operasi militer menguasai kota dan menggasak uang di Bank Indonesia cabang Medan. Kolonel G.P.H. Djatikusumo, Deputi KSAD untuk Sumatra Utara sampai melarikan diri ke Belawan mencari perlindungan di markas Angkatan Laut (ALRI). Setelah itu, Boyke dan pasukannya dari Batalyon Infantri 131 meninggalkan kota Medan. Rencananya, Boyke akan bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) bersama atasannya Kolonel Maludin Simbolon yang telah lebih dahulu membangkang. Boyke menggerakkan pasukannya sebagai perlawanan atas sikap pemerintah pusat yang dirasa semena-mena terhadap aspirasi daerah luar Jawa. Namun, Mayjen Abdul Haris Nasution yang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) terang-terangan menyebut Operasi Sabang Merauke (OSM) sebuah kudeta dan mencap Boyke Nainggolan sebagai pemberontak. “Kami perlu cepat bertindak, karena jika Mayor Boyke Nainggolan dapat bertahan beberapa hari, maka diperkirakan bahwa Resimen 3 Tapanuli akan memihak ke PRRI, mungkin juga Aceh menyusul, sehingga separuh Sumatra jadi PRRI,” ujar Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Sampai ke Tapanuli Nasution segera mengerahkan kekuatan penggempur. Pada 17 Maret 1958, sepasukan parakomando dari kesatuan RPKAD (kini Kopassus) diterjunkan ke Belawan. Selain itu, Batalyon 322/Siliwangi dibawah pimpinan Mayor Syafei turut didatangkan untuk menghadapi pasukan Boyke. Operasi ini diberi sandi “Sapta Marga”. Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa  yang diterbitkan Kodam Siliwangi, serangan balasan ke kota Medan dilakukan dari dua arah. Dari arah Belawan dibawah pimpinan Djatikusumo. Sementara itu, dari kota Brastagi di bawah pimpinan Letkol Djamin Gintings yang ditunjuk sebagai panglima Teritorium I/Bukit Barisan menggantikan Simbolon. Pukul 07.30 pagi kota Medan telah dikuasai oleh pasukan pemerintah. Di sisi lain, Boyke Nainggolan dengan pasukannya telah melarikan diri ke arah Tapanuli. Dalam pelariannya, mereka menghindari rute biasa, yaitu melalui Pematang Siantar dan Tebing Tinggi.  Di kota-kota itu terdapat kesatuan TNI dibawah pimpinan Mayor Manaf Lubis yang setia kepada pemerintah. Konvoi pasukan Nainggolan mengambil jalur memutar dari Lubuk Pakam, Galang, Bangun Purba, dan Saribu Dolok kemudian menyusuri daerah pinggiran Danau Toba sampai di Parapat. Sebagian lagi berpencar ke Langkat menuju Aceh. Sebelum mengambil jalur memutar, iring-iringan pasukan Boyke Nainggolan sempat dihadang pesawat-pesawat tempur AURI jenis Mustang. Nasution menuturkan, komandan AURI setempat melapor bahwa ada satu konvoi besar menuju Tanjung Morawa keluar kota. Ia minta perintah ditembak atau tidak. Karena ragu, Nasution memerintahkan jangan ditembak. Padahal, konvoi tersebut merupakan pasukan Nainggolan yang menuju Pematang Siantar.      “Setelah mengalami beberapa rintangan, seperti serangan udara dekat Saribu Dolok sewaktu salah satu pesawat AURI yang menyerang tertembak jatuh dan serangan tidak berarti beberapa kali sepanjang jalan Saribu Dolok-Parapat, rombongan OSM (Operasi Sabang Merauke) sampai dengan selamat di Parapat,” tulisa Payung Bangun dalam Kolonel Maludin Simbolon: Lika-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa . Pada 19 Maret 1958, Boyke Nainggolan dan sebagian pasukannya berhasil memasuki Tapanuli. Untuk sementara waktu, Nasution mengehentikan pengejaran. Sebelumnya,  Nasution telah berjanji tidak akan menjadikan Tapanuli sebagai arena pertempuran selama komandan setempat tidak berpihak kepada PRRI. Pusat Bersiasat Nasution kemudian menjalankan siasat agar tentaranya dapat memasuki Tapanuli. Nasution melalui Letkol Djamin Gintings memerintahkan Mayor Sahala Hutabarat, komandan Resimen III yang memegang wilayah operasi Tapanuli menangkap Boyke Nainggolan. Perintah itu dengan berat hati ditolak oleh Mayor Sahala. Dalam mengambil putusan itu, menurut Payung Bangun, Mayor Sahala dipengaruhi berbagai pertimbangan. Pertama, pasukannya dalam keadaan tidak utuh karena sebagian besar berada di Aceh menghadapi pemberontakan Daud Beureuh. Kedua, Mayor Sahala tidak ingin masyarakat Tapanuli terkena imbas kekerasan dari sengketa antara pusat dengan daerah. Ketiga, kebanyakan perwira yang terlibat dalam OSM merupakan kawan seperjuangan Mayor Sahala semasa perang kemerdekaan. Dengan adanya insubordinasi dari Mayor Sahala itu, maka Nasution melancarkan operasi militer ke wilayah Tapanuli. Pada 11 April 1958, sebanyak tiga batalion dikerahkan mengepung Tapanuli. Dari Sidikalang bertolak pasukan Mayor Palawi didampingi Letkol Djamin Gintings merebut garis Sidikalang-Dolok Sanggul-Siborong-borong-Tarutung. Dari Parapat, bergerak pasukan Siliwangi pimpinan Mayor Syafei merebut Parapat-Porsea-Balige-Siborong-borong-Tarutung. Dari Rantau Parapat, pasukan Mayor Raja Sjahnan didampingi Kolonel Djatikusumo merebut garis Rantau Prapat-Kota Pinang-Gunung Tua-Padang Sidempuan-Sibolga. Ketika pasukan yang dipimpin Djamin Gintings akan memasuki Tarutung, dijawab dengan perlawanan oleh Mayor Sahala dengan menjalankan taktik gerilya. Mayor Sahala pun dianggap resmi melawan pemerintah. Tiada pilihan lain, bersama pasukannya yang setia, Mayor Sahala menyatakan bergabung dengan PRRI. “Dan pada 23 April, Tarutung diduduki dan di kota itu menyerahkan diri pula pasukan-pasukan Batalyon 131 bersama Mayor Boyke Nainggolan,” tulis Nasution. Pada 27 April 1958, Tarutung, Sibolga, dan kota-kota besar lainnya di Tapanuli telah dikuasai oleh pemerintah pusat. Namun itu semua bukanlah akhir, justru awal babak baru perlawanan terhadap pusat. Dalam otobiografinya  Berjuang dan Mengabdi , Maraden Panggabean menyebut, “terjadilah kemudian perang gerilya dan anti-gerilya selama tiga setengah tahun di Tapanuli,”*

  • Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I)

    HAGIA Sophia atau Ayasofya dalam lidah orang Turki masih dipermasalahkan dunia Barat setelah bangunan berusia 1.438 tahun itu diubah kembali jadi masjid. Bangunan yang didirikan pada abad keenam Masehi sebagai katedral Ortodoks itu sempat jadi masjid pada abad ke-15, lalu diubah jadi museum pada 1935, hingga akhirnya pada 10 Juli 2020 dikembalikan menjadi masjid oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Salah satu pemimpin yang gencar mengecam tindakan Turki adalah Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis. Ia sampai meminta dukungan Amerika Serikat untuk menekan Turki agar membatalkan keputusan kontroversial itu. Mantan Wakil Presiden Amerika Joe Biden mengamininya kala bertemu di Thessaloniki, Yunani pada 7 Oktober 2020. “Hal yang penting di mana kemarin mantan Wapres Amerika dan calon presiden, Joe Biden, menyatukan suaranya dalam gelombang protes global terkait transformasi (Hagia Sophia) menjadi masjid. Dia menyerukan kepada Turki untuk mengembalikan bangunannya sebagai monumen untuk semua umat manusia,” ujar Mitsotakis, dikutip Greek City Times , Kamis (8/10/2020). Meski dibanjiri protes pada Agustus silam, Erdoğan membela diri bahwa yang dilakukannya terhadap Hagia Sophia bukan hal yang luar biasa lantaran negara-negara Eropa juga banyak mengubah masjid menjadi gereja. Seperti Masjid Agung Córdoba di Spanyol, misalnya. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah Mezquita-Catedral de Córdoba yang sudah dimasukkan UNESCO sebagai situs warisan dunia sejak 1984. ( islamicart.museumwnf.org ). Di Spanyol banyak masjid yang tak lagi berdiri atau hancur sejak era Reconquista (perebutan kembali Semenanjung Iberia dari Islam ke Kristen) dalam kurun 711-1492. “Dalam peradaban kita sekarang, penaklukan bukan lagi dalam bentuk pendudukan atau perampasan – melainkan menyebarkan ajaran Allah di tanah yang ditaklukkan,” cetus Erdoğan medio Agustus 2020, disitat Global Security Review , 1 Oktober 2020. Namun entah karena minim pengetahuan sejarah, Erdoğan tak memperdulikan fakta historis bahwa Masjid Agung Córdoba, sebagaimana Hagia Sophia, mulanya didirikan orang-orang Visigoth (Jermanik Kuno) sebagai gereja Katolik pada abad ketujuh. Fungsinya baru diubah jadi masjid seabad kemudian (784 Masehi) menyusul penaklukan Semenanjung Iberia (kini Portugal, Spanyol, dan Andorra) oleh Kekhalifahan Umayyah. Memang pada 1236, pasca- Reconquista , masjid itu diubah lagi jadi gereja katolik oleh Raja Castilla Fernando III. Di masa itu, hampir semua masjid peninggalan era Kekhalifahan Umayyah hingga masa KekhalifahanQurṭuba (Córdoba) dihancurkan. Hanya sedikit dari peninggalan-peninggalan itu yang menyisakan bangunan utuh. Berikut 10 bangunan yang didirikan sebagai masjid yang kemudian diubah menjadi gereja di Semenanjung Iberia pasca- Reconquista : Masjid Agung Sevilla La Giralda, menara lonceng sisa peninggalan Mezquita de Sevilla alias Masjid Agung Sevilla. La Giralda atau menara lonceng setinggi 104,1 meter di salah satu pusat kota Sevilla, Spanyol masih berdiri tegak hingga kini. Terletak tepat di sebelah Catederal de Santa María de la Sede, gaya arsitektur menara itu berbeda lantaran menara itu lahir dari  masa berbeda. La Giralda satu-satunya bukti bahwa lokasi itu pernah berdiri Masjid Agung Sevilla dan ia sendiri merupakan menara masjidnya. “Masjid Agung Sevilla didirikan tahun 829 selama masa kekuasaan Abd ar-Rahman II (Emir Córdoba keempat, red ). Bangunannya memiliki aula sholat seluas 16 x 13 meter persegi. Di dalamnya ditopang 11 pilar yang berjajar hingga arah tembok kiblat, serta berkolom-kolom hiasan dari batu marmer yang menyokong lengkungan batu-batanya,” tulis Michael Greenhalgh dalam Marble Past, Monumental Present: Building with Antiquities in the Mediaeval Mediterranean . Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Pada masa Kekhalifahan Almohad, abad ke-12, bangunannya direnovasi. Namun baru pada tahun 1248 masjid itu diubah menjadi katedral setelah Pengepungan Sevilla, Juli 1247-November 1248, sebagai salah satu bab Reconquista. Meski begitu, katedral tersebut sempat mangkrak. Pada 18 Oktober 1356, hampir seluruh sisa bangunannya runtuh akibat dampak gempa bumi berkekuatan 7,1 SR. Pada 1506, di tempat reruntuhannya dibangun sebuah katedral tepat di sebelah La Giralda. Masjid Al-Mardum Mezquita Cristo de la Luz/Masjid Al-Mardum yang sempat berubah menjadi Kapel Salib Kudus. ( castillalamancha.es ). Walau tak seluas Masjid Agung Cordoba, ia masih utuh berdiri di kota Toledo sejak akhir abad ke-10. Masjid Al-Mardum atau populer disebut Mezquita Cristo de la Luz namanya diambil dari dari nama gerbang kota Bab al-Mardum. Sejak tahun 932 Masehi, Tulaytula alias Toledo menjadi bagian dari Kekhalifahan Umayyah di bawah Khalifah Abd al-Rahman III. Bangunan masjid yang dibangun pada tahun 999-1000 Masehi (390 Hijriah) itu hanya berukuran 8 x 8 meter persegi dan tanpa menara masjid sebagaimana lazimnya masjid. “Tetapi motif-motif dekorasi Córdoba masih tampak, termasuk dua dekorasi melengkung yang ditopang barisan pilar yang memang seperti menirukan masjid lain. Strukturnya dibangun dengan bahan batu-bata. Sisi timur dan baratnya terdapat gerbang masuk dan mihrab -nya (tempat imam) berada di sisi selatan. Adapun sisi utaranya terdapat struktur atap melengkung yang terbuka sebagai tempat salat lantai dua,” ungkap Jonathan Bloom dan Sheila S. Blair dalam Grove Encyclopedia of Islamic Art & Architecture. Baca juga: Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan Tak seperti banyak masjid lain, Masjid Al-Mardum punya “akta kelahiran”. Hingga kini tembok depan sisi barat dayanya masih jelas menampakkan sebuah tulisan berbahasa Arab: “ Bismillah (dengan menyebut nama Allah), Ahmad bin Hadidi telah membangun masjid ini menggunakan hartanya sendiri hanya mengharapkan balasan surga dari Allah. Masjid ini berdiri berkat pertolongan Allah di bawah arahan arsitek Musa bin Ali dan selesai pada bulan Muharram tahun 390 Hijriah.” Setelah Toledo direbut Raja Castilla Alfonso VI pada 1085, Masjid Al-Mardum diubah menjadi kapel dan pada 1186, Raja Alfonso VIII mengalihkan kepemilikan bangunan kepada pasukan Ksatria Hospitalaria dari Ordo Santo Yohannes. Bangunannya tetap menjadi tempat peribadatan umat Katolik, Ermita de la Santa Cruz atau Kapel Salib Kudus. Masjid Al-Dabbagin Iglesia San Sebastián yang mulanya Masjid Al-Mardum. ( castillalamancha.es ). Selain Masjid Al-Mardum, di Toledo juga terdapat masjid dari era sama yang berubah jadi gereja, yakni Masjid Al-Dabbagin. Namun tempo pembangunan Masjid Al-Dabbagin tak seterang Al-Mardum. Bangunan Masjid Al-Dabbagin memiliki gaya arsitektur Mudéjar, bukan gaya Córdoba. Strukturnya masih utuh walau sudah tiga kali mengalami pengembangan bangunan pasca- Reconsquista . “Masjid Al-Dabbagin dibangun pada abad ke-10, di mana interiornya terdapat tiga aula sholat. Pada perkembangannya kemudian aulanya bertambah di sisi timur lautnya,” sebut Antonio Jesús García Ortega dalam Transformations of Mosques into Churches: Formalizing and Tracing in the Restructuring Processes of Toledo and Córdoba. Baca juga: Mula Kristen di Sri Lanka Ketika Toledo direbut Raja Léon dan Castilla, Alfonso VI, pada 1085, Masjid Al-Dabbagin diubah menjadi Gereja San Sebastián. Beberapa konstruksinya direnovasi pada akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13. Hanya menaranya yang masih asli dari era bangunan masjid. Ia berubah fungsi lagi pada 1916 dengan dijadikan aula musik dan museum. Keutuhan bangunannya membuat pemerintah Spanyol memasukkannya ke daftar Bien des Interés Cultural, semacam cagar budaya. Masjid Al-Mustimim Bagian luar dan dalam Mezquita de las Tornerías/Masjid Al-Mustimim. ( castillalamancha.es ). Tak jauh dari Masjid Al-Mardum, terdapat Masjid Al-Mustimim. Sejumlah pakar sepakat masjid ini dibangun pada pertengahan abad ke-11. “Karena ada tiga tulisan yang terukir di beberapa bagian bangunan. Satu ukirannya merujuk tahun 1032, ukiran kedua merujuk antara tahun 1932/1035, dan ketiga tahun 1075. Dari tiga sampel ini kita bisa simpulkan, terutama di ukiran kedua, bahwa hubus (landasan keagamaan) sudah berakar sejak awal abad kesembilan, di mana hal itu cukup membuktikan sudah terjadi Islamisasi secara besar-besara di kota Tulaytula (Toledo),” ungkap Sabine Panzram dalam The Power of Cities: The Iberian Peninsula from Late Antiquity to the Early Modern Period. Baca juga: Pandangan Westerling terhadap Islam Masjid ini diyakini didirikan di atas bekas sebuah bangunan untuk sistem saluran air era Romawi Kuno. Indikatornya merujuk pada temuan reruntuhan tangki air minum di lantai bawahnya. Sementara lantai dua yang kemudian dijadikan mihrab, diduga dijadikan tempat pertemuan atau tempat pemujaan Romawi Kuno. Saat Reconquista , masjid ini diduduki pasukan Raja Léon dan Castilla, Alfonso VI, (1805). Pada 1458, bangunannya diubah menjadi Gereja de las Tornerías meski pada 1505 beralihfungsi lagi menjadi penginapan, lalu kantor dagang karena lokasinya berada di jantung perekonomian kota Toledo. Kini, bekas masjid itu difungsikan sebagai Pusat Promosi Kerajinan Tangan Casilla la Mancha yang dikelola oleh Fundación Mezquita de las Tornerías. Masjid Aljama Martulah Igreja de Nossa Senhora da Anuncição yang mulanya Masjid Martulah. ( patrimoniocultural.gov.pt ). Tak seperti di Spanyol, di Portugal hampir semua masjid yang diubah menjadi gereja “wajahnya” ikut berubah. Satu di antara yang tak berubah adalah Igreja de Nossa Senhora da Anuncição (Gereja Kabar Sukacita kepada Santa Perawan Maria) di kota Mértola. Diungkapkan Robert M. Hayden dalam Antagonistic Tolerance: Competitive Sharing of Religious Sites and Spaces , di kota Mértola yang oleh pendatang Arab disebut Martulah, didirikan Masjid Aljama Martulah pada pertengahan abad ke-12, kala Mértola dikuasai Kekhalifahan Almohad. Ia dibangun di atas bekas reruntuhan bangunan pemujaan Romawi Kuno. Baca juga: Kisah Dua Paus dalam The Two Popes “Bentuk bangunannya mirip dengan gaya gereja-gereja pra-Katolik Roma di wilayah setempat. Pintu masuk utamanya terletak di sisi barat. Pada bagian interior terdapat struktur lengkungan gaya Moor dan di sisi utara dibangun tempat wudhu. Bangunan utamanya didesain dengan lima aula besar yang ditopang 20 pilar silinder, mirip seperti di Granada atau Maroko,” singkap Hayden. “Tetapi kekuasaan muslim tak bertahan lama di Mértola. Lewat sebuah kampanye besar Reconquista di pertengahan abad ke-13 yang dipimpin pasukan Ksatria Santiago, Mértola direbut dengan waktu singkat pada tahun 1238, menandakan berakhirnya rezim Islam di Mértola,” tambahnya. Masjid Aljama Mértola pun diambil alih dan ditukar guling menjadi gereja. Sejumlah atribut keagamaan Islam berganti atribut-atribut Nasrani. Menara masjid yang jadi tempat mengumandangkan adzan diubah jadi menara lonceng gereja. Sedikit perubahan struktur bangunan sekadar adanya penambahan dekorasi parapet atau sandaran tepi atap di atas bangunannya. Bersambung

  • Polemik Angkatan Kelima

    Memasuki tahun 1965, demam pengganyangan Malaysia semakin merajalela di seluruh Indonesia. Pendaftaran menjadi sukarelawan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) diikuti oleh hampir semua kalangan: dari rakyat biasa hingga mahasiswa. Latihan militer menjadi kebiasaan. Semangat bela negara pun mencapai puncaknya. “Sebagai pemuda, saat itu rasanya malu kalau kita tidak mengikuti seruan Bung Karno untuk ikut mengganyang Malaysia,” kenang Ishak (76), eks anggota Gerakan Pemuda Marhaen (GPM). Di tengah euphoria tersebut, tetiba Ketua CC PKI D.N. Aidit dipanggil ke Istana Negara pada 14 Januari 1965. Sebelum menghadap Presiden Sukarno, Ketua CC PKI D.N. Aidit berbicara kepada Bernhard Kalb dari Columbia Broadcasting System (media Amerika Serikat) bahwa partai-nya akan mengusulkan kepada Bung Karno untuk mempersenjatai 15 juta buruh dan tani. Demikian menurut kabar sore yang diberitakan oleh Warta Bhakti , 14 Januari 1965.5. Selanjutnya isu yang dilontarkan oleh PKI itu menggelinding bak bola salju yang tak terbendung. Berbagai pihak bereaksi: pro maupun kontra. Menurut Siswoyo sejatinya ide yang kemudian dikenal sebagai “usul pembentukan Angkatan Kelima” itu tidak didukung oleh kalangan kaum merah semata. “Adapun TNI AU justru mendukung. Sedang dari parpol yang memberi dukungan antara lain PKI dan PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia),”ungkap eks anggota Sekretariat CC PKI saat itu dalam otobiografinya, Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri: Memoar Anggota Sekretariat CC PKI (disusun oleh Joko Waskito). Jika AURI mendukung penuh, Angkatan Laut dan Angkatan Kepolisian terkesan berhati-hati. Sedangkan Angkatan Darat, malah sebaliknya: menentang keras pembentukan Angkatan Kelima. Ada dua versi terkait usul pembentukan Angkatan Kelima. Pertama, ide itu merupakan ide lama dari PKI. Menurut Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 , usul pembentukan Angkatan Kelima tersebut sejatinya merupakan inisiatif politik Aidit untuk melakukan semacam takeover atas suatu gagasan yang muncul sebelumnya pada kwartal terakhir tahun 1964. Kedua, ide tersebut datang dari Bung Karno sendiri. Saat berkunjung ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dia mendapat masukan politik dari Pemimpin RRT Mao Zedong dan Perdana Menteri Chou En-lai untuk mempersenjatai buruh dan tani. Itu wajib hukumnya, kata mereka. Supaya lebih menguatkan perjuangan melawan kaum neo kolonialis-imperialis dalam Operasi Dwikora, Bung Karno harus memiliki sejenis pasukan seperti Tentara Merah-nya Mao. Sebagai bentuk keseriusan RRT, Chou En-lai (dengan disetujui oleh Mao) berkomitmen memberikan 100.000 pucuk senjata Tjung secara cuma-cuma kepada Indonesia. Diharapkan dengan bantuan senjata-senjata itu, Indonesia bisa membentuk sedikitnya 10 divisi bersenjata dari kalangan buruh dan tani.  "Terkesan pada mulanya Soekarno tertarik sedikit saja meskipun memperlihatkan sikap cukup menyambut baik gagasan itu dan untuk seberapa lama belum menunjukkan sikap persetujuan yang jelas. Agaknya, Presiden Soekarno masih memperhitungkan juga faktor reaksi dan sikap Angkatan Darat nantinya," tulis Rum Aly. Angkatan Darat memang tak pernah menyetujui ide tersebut. Menurut Yayu Rulia Sutowiryo alias Ibu A. Yani dalam Ahmad Yani, Suatu Kenang-kenangan , Menpangad Letnan Jenderal Ahmad Yani sudah lama gerah dengan kampanye PKI “satu tangan pegang bedil, satu tangan pegang pacul”. Yani mencium PKI memiliki maksud politik yang tersembunyi di balik itu semua. “Tujuannya adalah untuk mengimbangi TNI/ABRI dan selanjutnya dijadikan alat untuk merebut kekuasaan,” ujar Yani seperti dikutip Yayu dalam bukunya. Yani menyatakan jika soal menghadapi nekolim pasalnya, alih-alih buruh dan tani, seluruh rakyat Indonesia pun pasti dipersenjatai. Dia mencontohkan Pertahanan Sipil (Hansip), Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR),  sebagai bentuk konkret organisasi buruh-tani yang dipersejatai. “Kalau yang saudara maksud buruh dan tani itu termasuk SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) dan BTI (Barisan Tani Indonesia), saya tidak setuju,” ujar Yani. PKI tentu saja menyanggah tuduhan Yani dan Angkatan Darat. Menurut Siswoyo, sebenarnya gagasan pembentukan Angkatan Kelima sudah dibahas lama dan melibatkan semua unsur Nasakom. Jadi matra baru itu tidak akan hanya berisi orang-orang komunis saja. Sebagai bukti, kata Siswoyo, PKI menyetujui jika jadi terbentuk, Angkatan Kelima itu akan dipimpin oleh seorang perwira non-PKI. “Bahkan inspeksi pasukan sudah dilakukan oleh Mayjen Achmadi, eks tokoh Tentara Pelajar Solo yang dicalonkan oleh Bung Karno sendiri sebagai Panglima Angkatan Kelima,” ungkap Siswoyo. Sejarah mencatat, ide Angkatan Kelima kandas seiring terjadinya Insiden Gerakan 30 September 1965. Alih-alih berhasil membentuk kekuatan alternatif layaknya Tentara Merah di Tiongkok, ratusan ribu buruh dan tani yang berafiliasi ke PKI malah menjadi tumbal perseteruan antara PKI dengan Angkatan Darat di pengujung tahun 1965.

  • Pesan Bung Karno untuk KAMI

    JAKARTA hari ini, 13 Oktober 2020, dibanjiri massa demonstran yang menolak pemberlakuan UU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR pada 5 Oktober 2020. Salah satu penggerak demonstrasi adalah Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Serupa dengan KAMI yang sekarang, 55 tahun yang lalu Kesatukan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) juga menjadi motor penggerak demonstrasi anti-pemerintah Sukarno yang gigih menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).

bottom of page