top of page

Hasil pencarian

9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan "Menteri Pertahanan RI"

    Dua hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden Republik Indonesia (RI) sebagai anggota kabinet, mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu sama sekali tak memberikan kabar. Dirinya hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” ungkap sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu sejatinya sempat diisi oleh seorang pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun karena situasi komunikasi saat itu yang serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak banyak orang yang tahu. Termasuk oleh para pejuang Indonesia yang tengah siap-siap menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya. Kamis pagi, 25 Oktober 1945, Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Soerjo menerima laporan dari para pembantu bidang ekonomi di Kegubernuran bahwa tentara Inggris mulai mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak. Dengan perlindungan beberapa kapal perang, mereka menurunkan sekitar 6.000 prajurit Brigade 49 Infanteri India di bawah pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby. Melalui dua perwira utusannya, Mallaby menyampaikan undangan lisan kepada Gubernur Soerjo untuk melakukan pertemuan di atas kapal Inggris. Namun, Gubernur Soerjo tidak dapat memenuhi undangan itu karena sedang sibuk dengan tugas yang lain. Mendapat jawaban demikian, utusan Inggris langsung  meninggalkan ruang kerja gubernur tanpa permisi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikap tidak sopan kedua perwira Inggris itu direspons secara dingin oleh Gubernur Soerjo. Kepada pembantunya yang ikut menyaksikan kepongahan dua utusan itu, Soerjo menyatakan bahwa pemerintah Jawa Timur tidak harus selalu menuruti kemauan pihak Inggris. “Jangan khawatir, kita sudah menang karena mereka sudah berperilaku buruk dan kasar,” kata Gubernur Soerjo seperti dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya. Usai melakukan penolakan, Gubernur Soerjo lantas mengadakan rapat kilat. Diputuskan, dia akan memberi mandat kepada Mayor Jenderal drg. Moestopo selaku pimpinan BKR Jawa Timur untuk berunding dengan pihak Inggris sekaligus memberikan hak kepadanya mengatasnamakan pemerintah Jawa Timur. “Rapat tersebut juga menyatakan tak keberatan bila Moestopo menggunakan nama 'Menteri Pertahanan add interim' sesuai dengan surat tertulis yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Mr. Gatot (Tarunamihardja) tertanggal 13 Oktober 1945,” ungkap Moehkardi dalam Sebuah Biografi: R. Mohammad dalam Revolusi 1945 Surabaya. Berbekal surat mandat itu, Moestopo yang didampingi oleh Mohammad Jasin, komandan Polisi Istimewa, dan Soetomo alias Bung Tomo, pemimpin BPRI, kemudian mendatangi Mallaby di markasnya. Dengan sikap penuh percaya diri, ketiga utusan kaum republik itu menyarankan Mallaby untuk tidak seenaknya mendaratkan pasukannya mengingat Surabaya merupakan wilayah hukum RI. “Lantas kepada siapa kami harus mendapatkan izin untuk mendaratkan pasukan kami?” tanya Mallaby. “Kepada Menteri Pertahanan Republik Indonesia!” jawab Moestopo. “Di mana kami bisa menemuinya?” “Menteri yang anda tanyakan itu sekarang duduk di depan anda,” ujar Moestopo. Mallaby terlihat kaget sejenak. Namun dia cepat menguasai diri dan langsung mengubah sebutan “Mr” kepada Moestopo menjadi “Your Excellency”. Kendati demikian, perundingan tetap berjalan alot. Alih-alih menuruti saran dan keinginan para pejuang Surabaya, Mallaby bersikeras untuk mendaratkan pasukannya tanpa syarat sama sekali.

  • Diego Maradona dalam Kenangan

    SEJAK menyapa dunia enam dekade silam, hidup Diego Maradona senantiasa berkalang perjuangan. Di hari-hari terakhirnya, bintang legendaris Argentina yang dipuja jutaan penggila sepakbola sejagat itu mesti berjuang melawan penyakitnya, termasuk menjalani operasi otak pada 12 November 2020. Maka ketika maestro sepak bola eksentrik nan sarat kontroversi itu mengembuskan nafas terakhir di kediamannya di Buenos Aires, Argentina, pada Rabu (25/11/2020) waktu setempat akibat serangan jantung, banyak pihak berduka. Presiden Argentina Alberto Fernández mengumumkan tiga hari berkabung nasional sebagai bentuk penghormatan. Megabintang Lionel Messi yang acap disebut-sebut sebagai reinkarnasi Maradona, jadi satu di antara jutaan pelaku sepakbola yang terpukul. “Hari yang menyedihkan bagi semua orang Argentina dan bagi sepakbola. Dia meninggalkan kita namun takkan pernah dilupakan karena Diego adalah keabadian. Saya selalu teringat momen-momen indah bersamanya,” ungkap Messi di akun Instagram -nya @leomessi, Kamis (26/11/2020). Sebagaimana Pelé di Brasil, Maradona dikultuskan orang Argentina dan bahkan dunia sebagai dewa sepakbola. Di hampir semua klub yang pernah dibelanya, Maradona tak pernah absen berjasa memberi beraneka gelar. Boca Juniors diberinya titel Primera Division pada 1981, Barcelona dihadiahinya Copa del Rey dan Supercopa de España 1983, dan Napoli dibawanya dua kali juara Serie A (1986-1987 dan 1989-1990). Persembahan tertingginya diberikan pada negerinya, Argentina, yakni trofi Piala Dunia 1986. Koleksi gelar individunya berlimpah. Sebagai pemain, Maradona adalah sosok yang punya skill  lengkap dan di atas rata-rata kendati posturnya hanya 165 cm. Visi bermainnya, kepemimpinan, kontrol bola, dribbling yang selalu jadi keunggulannya, gocekan, hingga tendangan bola matinya semua nyaris setara. Lionel Andrés Messi Cuccittini (kiri) salah satu megabintang Argentina yang berduka. ( fifa.com ). Bola Pelipur Lara Kebintangan Maradona bukan diraih dalam sekedipan mata. Ia dirintis melalui jalan terjal nan panjang. Seperti kebanyakan bintang sepakbola asal Amerika Selatan, Diego Armando Maradona datang dari keluarga melarat. Lahir pada 30 Oktober 1960 di perkampungan kumuh Villa Fiorito di selatan ibukota Buenos Aires, kehadiran Maradona jadi harapan baru buat keluarganya, terutama sang ayah, Diego ‘Chitoro’ Maradona. Maradona kecil adalah anak kelima tetapi jadi anak lelaki pertama kebanggaan ayahnya. Perkenalan Maradona pada sepakbola terjadi saat dia dihadiahi bola di ulangtahun ketiganya. Kado itu senantiasa jadi obat penghibur di tengah himpitan ekonomi keluarganya. Bola tersebut jadi wahana bermain dia dengan sepupunya Beto dan temannya, El Negro, di sebuah lahan terbengkalai dekat rumahnya setiap siang  selepas pulang sekolah –di Remedios de Escalada de San Martín– hingga malam menjelang. “Jam tujuh malam kami baru beristirahat dan minta minum ke rumah warga terdekat lalu lanjut main lagi. Jika orangtua kami mencari, mereka pasti tahu harus ke mana. Setiap hari, termasuk Sabtu dan Minggu. Kalau ibu sudah marah dan mengambil bolanya, saya akan mengambil apapun untuk dijadikan bola. Kadang buah jeruk, kadang juga kertas bekas atau pakaian yang dibentuk jadi bola,” kenang Maradona dalam otobiografinya, Yo Soy el Diego ( I Am the Diego ). Itu jadi hal paling menyenangkan di masa kecilnya karena jika menggambarkan perkampungan kumuh Fiorito dengan satu kata, lanjut Maradona, tak lain adalah “perjuangan hidup.” Keluarga Maradona hanya bisa makan ketika punya uang. Jika tidak, mereka harus tidur dengan perut kosong. “Kami sangat kedinginan di musim dingin dan kebalikannya di musim panas. Rumah kami punya tiga kamar: dua ruang tidur dan satu ruang makan yang menjadi pusat semua kegiatan, mulai dari mengerjakan PR, memasak dan makan. Saat hujan kami harus selalu menghindari kebocoran: Anda akan merasa lebih basah ketimbang di luar rumah,” tambahnya. Maradona tatkala menseriusi karier di sepakbola sejak usia delapan tahun. (Twitter @Cornejas). Kekurangan membuat keluarga mereka, termasuk Maradona, mesti bekerja keras. Antara lain dalam hal menyediakan air. “Kami bahkan tak punya keran air. Tapi karena itulah saya mulai latihan fisik angkat beban. Kami biasa memikul dua kaleng oli bekas untuk jadi tampungan air yang kami ambil di satu-satunya pancuran air di jalanan agar kami bisa minum, mandi, dan memasak,” sambung Maradona. Di usia delapan tahun, Maradona kian menekuni sepakbola dengan bergabung pada tim amatir junior Estrella Roja. Kebetulan tim itu dilatih ayahnya. Penampilan Maradona di tim tersebut acap mengundang decak kagum, termasuk dari tim-tim lawan. Ia bahkan sampai bisa bersahabat dengan Gregorio ‘Goyo’ Carrizo, kapten tim musuh bebuyutan Estrella Roja, Tres Banderas. “Diegito (panggilan kecil Maradona) luar biasa. Tapi Chitoro, saya tak percaya dia belum bermain untuk tim yang lebih baik dari Estrella Roja,” ujar ayah Goyo mengungkapkan kekagumannya kepada ayah Maradona, Chitoro, dikutip Matt dan Tom Oldfield dalam Classic Football Heroes: Maradona. Dari Argentinos Juniors (kiri), Maradona melebarkan sayapnya ke Boca Juniors. (Twitter @rivermuseo). Goyo dan Chitoro itulah yang kemudian membujuk dan meyakinkan Francisco Cornejo, pencari bakat klub Argentinos Juniors, untuk melihat sendiri talenta Maradona. Cornejo yang mulanya memandang remeh Maradona, akhirnya kagum bukan kepalang ketika Maradona menjalani trial dan latih tanding dengan anak-anak yang lebih tua. “Saat Diego datang ke Argentinos Juniors untuk uji coba, saya terkesima dengan talentanya dan tak percaya dia baru berusia delapan tahun. Sejak saat itu kami memutuskan mendedikasikan diri membangun masa depannya,” kata Cornejo. Itu jadi titik balik Maradona. Ia mulai merintis kariernya di tim muda Argentinos Juniors untuk kategori U-9. Pada 1976, Maradona sudah tampil di tim senior klub berjuluk El Bicho itu. Setahun kemudian, namanya sudah dipanggil ke timnas U-20 dan timnas senior Argentina. Dua Pembalasan Dendam Namun, keinginan Maradona untuk melakoni debutnya di Piala Dunia 1978 di negeri sendiri terhalang keputusan pelatih Timnas Argentina César Luis Menotti. Bertolak dari tiga faktor: masalah hamstring Maradona dalam sesi latihan, indisipliner, dan kesiapan mental yang belum matang di usia 17 tahun, Menotti akhirnya mencoret nama Maradona dari skuad Piala Dunia. Meski tak pernah banyak bicara soal pencoretan itu, Maradona mengaku terpukul oleh pencoretan itu. Dia tak bisa memaafkan “ El Flaco ” Menotti. “Saya pikir, saya siap bermain di Piala Dunia 1978. Saat saya tahu tidak terpilih, saya menangis hebat. Saya tak pernah dan tak akan mau memaafkan Menotti gara-gara itu. Tetapi saya tak pernah membencinya. Tidak memaafkan bukan berarti membenci. Namun terlepas hal itu saya juga takkan pernah melupakan bimbingan-bimbingannya yang bijak kepada saya selama ini,” sambung Maradona. Maradona (kanan) menyarangkan dua gol ke gawang Indonesia di penyisihan grup Piala Dunia Junior 1979. ( fifa.com ). Kekecewaan itu melecut Maradona untuk membuktikan bahwa dirinya tak pantas dibuang hanya karena usia. “Dendamnya” itu bisa dia balaskan di Piala Dunia Junior 1979 di Jepang. Di turnamen itu pula Maradona dan Menotti memulai rekonsiliasinya. “Menotti telah meninggalkan saya di Piala Dunia 1978 dan setahun kemudian saya mulai memperlihatkan kepadanya betapa ia melakukan sebuah kesalahan yang besar,” cetus Maradona lagi. Rekonsiliasi itu ikut mendongkrak kepercayaan diri Maradona. Sedari babak penyisihan, Maradona memimpin tim junior Argentina hingga partai puncak. Total enam gol ia lesakkan. Dua gol pertamanya disarangkan ke gawang Timnas Indonesia di babak Grup B dan gol terakhirnya dibuatnya guna menyegel kemenangan 3-1 atas Uni Soviet di final. Kesumat kedua yang dengan puas dibalaskan Maradona adalah kala berhasil mencetak dua gol fenomenal ke gawang Inggris di perempatfinal Piala Dunia 1986. Gol pertama adalah gol “Tangan Tuhan”. Gol kedua tercatat sebagai gol terbaik abad ke-20, di mana Maradona men- dribble bola sendirian dari tengah lapangan mengecoh enam pemain lawan, termasuk kiper Peter Shilton, sebelum menyontek bola masuk. Gol kontroversial "tangan Tuhan" di Piala Dunia 1986. ( fifa.com ). Namun, gol “Tangan Tuhan” senantiasa jadi kontroversi dan polemik hingga bertahun-tahun kemudian. Meski diakuinya gol dari umpan lambung itu dibelokkan ke gawang Shilton dengan tangannya, Maradona takkan pernah menyesalinya. Baginya, gol culas itu jadi pembalasan Maradona terhadap Perang Malvinas (Perang Falkland dalam versi Inggris) empat tahun sebelumnya. Perang rebutan wilayah antara Argentina dan Inggris itu berakhir getir buat Argentina karena kalah dan kehilangan nyaris seribu serdadunya. “Saya tak pernah bicara tentang permintaan maaf. Seandainya sejarah bisa diubah, akan saya lakukan tapi saya takkan minta maaf karena itulah pertandingan bola yang disaksikan 100 ribu orang di Stadion Azteca di mana ada 22 pemain, dua hakim garis, dan satu wasit. Shilton pun baru tahu (gol ‘Tangan Tuhan’, red) setelah diberitahu para beknya,” tutur Maradona kepada suratkabar Clarín , 2 Februari 2008. “Jadi sejarah sudah tertulis dan tak bisa diubah. Saya tak perlu minta maaf pada Inggris. Buat apa dan untuk menyenangkan siapa? Saya memang tahu golnya tercipta dari tangan saya. Saya tak merencanakannya tetapi terjadi begitu saja. Saat wasit menyatakan gol, itu jadi perasaan yang membahagiakan, seperti sebuah dendam simbolis terhadap Inggris,” tambahnya. Kolase kiprah Maradona di Barcelona, Napoli, Sevilla & Newell's Old Boys (Twitter @sscnapoli , fifa.com , fcbarcelona.com ). Tetapi kemudian Maradona mulai menapaki jurang seiring kariernya di Barcelona dan kemudian Napoli. Di Barcelona ia mulai jadi pecandu kokain. Kecanduannya kian parah ketika di Napoli karena dekatnya hubungan Maradona dengan mafia Camorra. Puncaknya, Maradona dinyatakan positif doping saat baru membawa Argentina memulai Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Setelah gantung sepatu pada 1997, karier Maradona dilanjutkan sebagai pelatih namun tak semoncer kiprahnya sebagai pemain. Ketika menukangi Timnas Argentina pada 2008-2010, Maradona malah sempat jadi sasaran cemoohan media Argentina dan fans tim Tango. Kendati begitu, nama harum Maradona tak meluntur. Banyak bintang sepakbola kini, termasuk Cristiano Ronaldo, yang menjadikannya sebagai bintang pujaan terbaik. Bukti masih harumnya nama Maradona ditunjukkan oleh banyaknya pelayat yang memberikan penghormatan terakhir kepadanya baik saat upacara pemakaman kenegaraan di Casa Rosada (kediaman resmi Presiden Argentina) maupun saat penguburan di Pemakaman Bella Vista. Maradona adalah olahragawan kedua yang diberi upacara pemakaman kenegaraan setelah legenda balap Juan Manuel Fangio pada 17 Juli 1995. “Maradona adalah orang paling bertanggung jawab atas inspirasinya bagi banyak bintang sepakbola, termasuk diriku,” kata Ronaldo, bintang Brasil yang juga pernah membintangi Barcelona, dalam ucapan selamatnya kepada Maradona kala memasuki usia 60 tahun.

  • Henri van Kol, Meneer Belanda Penentang Kolonialisme Belanda di Nusantara

    Tak lama setelah lulus dari Politeknik di Delft dan diterima sebagai pegawai di Dinas Pekerjaan Umum, Henri Hubert van Kol mendapat tugas ke Hindia Belanda untuk menangani proyek irigasi. Dia berangkat pada 1876 menumpang sebuah kapal. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah sekaligus untuk melihat sendiri kondisi kehidupan rakyat di tanah jajahan. Penglihatan itu penting buat wawasannya dan “amunisi” bagi gerakan politiknya. Henri merupakan sosialis pertama yang menginjakkan kaki ke Hindia Belanda. Lahir di Eindhoven pada 23 Mei 1852 dari pasangan Christianus Adrianus Hubertus van Kol dan Maria Anna Schutjes, Henri merupakan sulung dari lima bersaudara. Kekayaan ayahnya sebagai pengusaha penyamakan kulit, hotel, dan perdagangan memungkinkannya punya kesempatan mendapat pendidikan layak. Selepas sekolah dasar, dia melanjutkan ke sekolah menengah pertama di Turnhout, Belgia. Dia kembali ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di Hogere Burger School di Roermond. Namun, masa berpindah-pindah untuk sekolah membuatnya melihat sendiri realitas kehidupan yang berbeda dari kehidupannya di keluarganya yang kaya. Kaya-miskin, kuat-lemah, dan beragam realitas kehidupan lain yang ditemukannya semasa sekolah itu amat mempengaruhi perkembangan jiwanya. Dan dalam banyak kesempatan, Henri cenderung membela yang lemah dan kecil. Tanpa takut, dia mewujudkan sikap itu ke dalam tindakan sehingga kerap menanggung konsekuensi. “Sejak kecil saya tertarik pada yang kecil dan lemah. Sebagai pemuda, saya melindungi banyak orang dari pemukulan oleh si kuat, dan sebagai pelajar, perjuangan melawan polisi yang menyiksa orang lain menempatkan saya di penjara,” ujarnya dalam sebuah pidato tahun 1893, dikutip Johanna M. Welcker dalam profil Henri-nya yang dimuat socialhistory.org . Di masa sekolah pula Henri berkenalan dengan sosialisme dari seorang kawannya. Dia membaca Der Volksstaat yang dieditori Wilhelm Liebknecht, buku Das Kapital Marx, dan bacaan-bacaan sosialis lain serta bermacam media cetak, terutama De Werkman yang kerap jadi media buatnya menumpahkan pendapat. Bersama dengan hasratnya yang selalu ingin menolong si lemah, bacaan-bacaan itu membentuk dirinya dalam merespon kehidupan. Maka itu kendati masih kuliah di Delft, pada 1871 dia bertolak ke Paris untuk membantu Komunard (komunis Paris) menguasai ibukota Prancis tersebut. Meski Komunard sempat dua bulan menguasai Paris, Henri pulang ke negerinya ketika melihat Komunard sudah mulai kalah. Di Belanda, Henri kian aktif berpolitik setelah menjadi anggota International Workingmen’s Association (IWA, sering disebut First Internasional) seksi Den Haag. Ketika Den Haag terpilih menjadi tuan rumah Kongres IWA kelima, September 1872, Henri ditugaskan menjadi penerjemah sekaligus guide Karl Marx dan keluarganya. Posisi itu membuatnya sehotel dengan Marx. Henri diperkenalkan Marx kepada Karl Liebknecht, Friedrich Engels, dan sejumlah sosialis terkemuka lain.  Di kampus, Henri lalu bergabung dengan kelompok pemikir bebas De Dageraad. Dia juga bergabung dengan Association Free Study (AFS). Pada 1875, AFS mengundang Multatuli yang novelnya, Max Havelaar , meledak di pasaran. Di tahun itu pula Henri mendapatkan insinyur hidrologinya. Setahun setelah kunjungan Multatuli itu, giliran Henri berangkat ke Hindia Belanda, tempat Multatuli menjadi asisten residen Lebak. Dia ditempatkan di Situbondo, Jawa Timur untuk menangani irigasi Pekalen Sampean. Di luar waktunya untuk urusan pekerjaan, Henri meluangkan waktu untuk memperdalam sosialisme lewat tulisan-tulisan yang dikirim oleh Profesor Pekelharing. Tak lama kemudian, dia melibatkan diri dalam permasalahan soal pembagian wewenang di pemerintah Hindia dengan menulis di De Locomotief menggunakan nama samaran Rienzi. Sejak itu, dia aktif menulis dan mengkritik kebijakan pemerintah, terutama tentang kebijakan kolonialnya, serta berdebat publik. Perdebatannya antara lain dengan Mina Kruseman di Soerabaiasch Handelsblad dari April 1879 hingga Januari 1880.    “Van Kol secara konsisten memperjuangkan kesejahteraan masyarakat pribumi dalam upaya mengendalikan ekses modal terburuk di koloni,” tulis Suzanne Moon dalam T echnology and Ethical Idealism: A History of Development in the Netherlands Indies . Pada 1881, buku pertama Henri, Christianity and Socialism , diterbitkan sebagai solusinya atas perdebatan Isaac Esser, misionaris anti-sosialis di Besuki, dengan masyarakat di Jember. Menurut Henri, kombinasi sosialisme dan Katolik menjadi kunci dalam penyelesaian problematika dunia. Tak lama setelah menikahi Jacoba Maria Petronella Nellia Porreij pada Juli 1883, Henri kembali ke Eropa karena masalah kesehatan dan menetap di Liege, Belgia. Dia tetap bergerak, termasuk berupaya menyatukan kubu sosialis berbahasa Prancis dengan kubu sosialis berbahasa Belanda. Henri kerap berkeliling untuk menyambangi sosialis di berbagai negara. Setelah kembali ke Hindia Belanda, Henri bergonta-ganti penempatan tugas, dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Di masa inilah dia aktif menulis artikel dan buku di samping berinvestasi dengan membuka perkebunan kopi Kayumas yang disokong sahabatnya Domela Nieuwenhuis. Selain menyumbangkan sebagian hasil keuntungan perkebunan itu untuk gerakan buruh di Belanda, mereka juga mendirikan sekolah dan bereksperimen dengan memperkenalkan Minggu sebagai hari istirahat bagi para buruh perkebunan. “Ini dianggap sebagai kemajuan sosial di mata orang Belanda,” tulis Margreet Schrevel dan Emile Schwidder dalam “A Socialist in the Dutch East Indies”, dimuat di laman iisg.nl . Alasan kesehatan membuat Henri kembali pulang ke Eropa, yang dijadikannya kesempatan untuk berkeliling ke berbagai tempat dan negara untuk melihat lebih dalam gerakan sosialis beserta beragam perbedaan di dalamnya. Sejak 1896 hingga 1912, dia jadi pengunjung setia Kongres Sosialis Internasional yang diadakan saban empat tahun sekali. Dia ikut mendirikan Partai Buruh Sosial-Demokratik Belanda (Sociaal-Democratische Arbeiders Partij/SDAP) pada Agustus 1894. Setelah jadi anggota parlemen, kritiknya terhadap politik kolonial pemerintah semakin nyaring. Di Tweede Kamer, dia antara lain mengkritik Perang Aceh yang menurutnya memalukan. Pada 1903, dia mengusulkan pemberian otonomi pada daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatra namun tak bersambut. “Henri Hubert van Kol, seorang anggota sosialis terkemuka di parlemen Belanda, berpendapat di Tweede Kamer (Majelis Rendah) bahwa pemerintah kolonial pertama-tama harus memperhatikan masyarakat adat, dan yang kedua barulah keuntungan kolonial,” tulis Suzanne. Kritik tajamnya berjalan seiring dengan kerajinannya menulis. Banyak bukunya dihasilkannya saat itu, antara lain Land and People of Java dan Land Ownership in Java . Pada 1902, dia kembali ke Hindia Belanda, yang dianggapnya sebagai rumah kedua, khusus untuk meneliti langsung kondisi rakyat di tanah jajahan. Dalam perjalanan ini dia bertemu RA Kartini, yang mendukung usulan kebijakan Henri agar diadakan pembiayaan untuk pelatihan guru di Belanda. Henri berkeliling ke berbagai tempat, sampai Maluku yang terjauh, dan menemui serta memfoto bermacam orang dan berbagai tempat seperti pasar, desa, dan pemandangan. Foto tersebut dia maksudkan untuk dipertunjukkan kepada rekan anggota parlemen agar mengetahui kondisi faktual rakyat di tanah jajahan. Hasil dari penelitiannya terbit setahun kemudian menjadi buku dengan judul Uit Onze Kolonien ( From Our Colonies ). Meski dalam buku ini dia “terpeleset” karena pendeskripsian yang cenderung stereotip tentang masyarakat-masyarakat yang ditemuinya, secara garis besar Henri memaparkan fakta-fakta tanah jajahan untuk menyerang politik kolonalisme negerinya. Selain ke Hindia Belanda, Henri juga berkeliling ke berbagai negeri. Hasil dari pengelanaannya adalah buku berjudul To the Antilles and Venezuela dan In the Coastal Countries of North Africa. The Maghreb . Begitu pula ketika dia ditugaskan ke Jepang pada 1915 untuk mempelajari industrialisasi di sana, dia menghasilkan dua jilid The Development of Large Industry in Japan , Japan: Impressions of Land and People , dan Old and New Japan: Handles from Life . Henri kemudian mendalami teosofi dan aktif dalam gerakan perdamaian, antara lain dia tuangkan lewat buku The Jews and the Peace dan The Colonial Mandates and the League of Nations . Dia menolak usulan revolusi yang –gagal pada 1918– diutarakan rekannya, Pieter Jelles Troelstra. Tak lama setelah mengundurkan diri dari Senat, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan pada 1925.

  • Paul Breitner si Pemain Kiri

    PASCA-wafatnya Ricky Yacobi pada Sabtu, 21 November 2020, hampir semua media serempak menyematkan julukan “Paul Breitner dari Indonesia” kepadanya dalam obituari-obituari mereka. Namun, julukan yang populer di publik sepakbola Indonesia itu tak berlaku bagi eks-pemain dan pelatih Persiba Balikpapan berdarah Jerman, Timo Scheunemann. “Dia (Breitner) gelandang, beda dengan Bang Ricky. Tidak mirip sama sekali. Mungkin karena (gaya) rambut panjang,” ujar Timo singkat kepada Historia . Menurut Irfan Sudrajat, pemerhati sepakbola dari  TopSkor , publik mendekatkan Ricky Yacobi dengan Paul Breitner tak lain karena sama-sama punya spesialisasi tendangan jarak jauh. Utamanya lewat gol ikonik Ricky lewat tendangan voli ke gawang Uni Emirat Arab di perempatfinal Asian Games 1986. Breitner juga acap menorehkan gol dari jarak jauh semasa membela Bayern Munich, Real Madrid, serta Timnas Jerman Barat sepanjang kariernya pada 1970-1983. “Hal lainnya, jika melihat rekam pengakuan para mantan bintang Indonesia, dari sosoknya, baik itu postur, gayanya dengan rambut sedikit panjang, serta karakternya yang tegas dan keras seperti yang diungkapkan sejumlah legenda hidup, ada kesamaan. Tampaknya ketika itu mereka langsung teringat dengan Brietner ketika melihat Ricky Yacobi,” ungkap Irfan via pesan singkat. Irfan melihat fenomena penjulukan pemain dengan pemain lain tak lebih dari puncak kekaguman yang bersumber dari peran si pemain dalam sepakbola Indonesia. Ricky Yacobi hanya satu di antaranya. “Kita seringkali memberikan kesan terhadap seorang yang membuat kita kagum dari sudut pandang berbeda. Bagi generasi muda, untuk mengungkap julukan ‘Breitner-nya Indonesia’ saja, kita harus kembali ke era kariernya, suasananya, kesaksian para legenda hidup. Mungkin kita tidak akan benar-benar bisa mendapatkan poin yang tegas antara Ricky dan Brietner. Tapi kita semua senang dengan julukan itu dan bangga bahwa kita pernah memiliki Ricky Yacobi,” tandasnya. Mendiang Ricky Yacobi (kanan) yang acap disama-samakan dengan Paul Breitner. ( fifa.com /Instagram @rijacobi). Breitner di Persimpangan Kiri Jalan Sebagaimana karakter banyak pesepakbola Jerman, sikap tegas dan keras jadi ciri Breitner yang lahir di Kolbemoor, Bavaria, Jerman Barat (Jerbar) pada 5 September 1951. Karakter itu sudah ditunjukkannya sejak meniti karier di klub junior SV-DJK Kolbermoor dan ESV Freilassing pada 1957. Ditambah kecakapannya mengolah si kulit bundar, sikap itu membuatnya direkrut Bayern Munich pada 1970. Prestasi Breitner sepanjang berseragam Bayern (1970-1974 dan 1978-1983) bukan “kaleng-kaleng”. Ia turut mempersembahkan lima gelar Bundesliga, dan satu European Cup (kini Liga Champions). Prestasi itu dia pertahankan ketika di Real Madrid (1974-1977). Dua titel La Liga dan satu trofi European Championship (Euro) 1972 turut dia persembahkan. Di timnas (1968-1982), Breitner ikut serta membawa Jerbar menjuarai Piala Dunia 1974. Buat Breitner pribadi, FIFA mengakuinya sebagai satu dari tiga pemain yang mampu mencetak gol di dua final berbeda selain Vavá dan Pelé ( di kemudian hari ditambah Zinedine Zidane). Sejak remaja Che Guevara dan Mao Zedong jadi tokoh kiri yang diidolakan Paul Breitner. ( libertaddigital.com ). Namun di balik beragam gelar itu, kisah bek dan sayap kiri legendaris itu sarat kontroversi. Semua bersumber dari pemikirannya di luar sepakbola. Tumbuh di era 1960-an, Breitner mengaku tidak bisa bersikap apatis terhadap situasi politik di negerinya. Era di mana Breitner tumbuh diwarnai dengan tingginya tensi Perang Dingin, masifnya aksi 68er-Bewegung atau gerakan pelajar beraliran kiri pada 1968, munculnya teror Rote Armee Fraktion (RAF) sebagai dampak dari penentangannya terhadap otoritarianisme pemerintah federal Jerman Barat, dan reinkarnasi golongan sayap kanan seiring berdirinya Nationaldemokratische Partei Deutschlands (NDP). Realitas itu membuat Breitner bersimpati pada gerakan perlawanan. Dia bahkan mengidolakan dua tokoh revolusioner kiri, Mao Zedong dan Ernesto ‘Che’ Guevara. “Saat berusia 16 tahun, kematian Che Guevara memberikan dampak besar terhadap saya. Kejadian itu menjadi fase yang sangat penting bagi perkembangan (pemikiran) saya,” ujar Breitner saat diwawancara The New York Times awal 1970-an, dikutip ESPN , 2 Oktober 2012. Akibatnya, Breitner acap membawa simbol sikap politik kirinya ke lapangan. Menurut Michael Herron dalam Holding the Line: 25 Great Defenders and How They Changed Football , selainselalu memajang gambar Che Guevara di kamarnya, Breitner acap membawa buku saku merah Ketua Mao saat latihan. Dia tak peduli teguran dari ofisial klub maupun timnas. “Walau Breitner tak secara langsung terlibat aktivitas politik atau dengan partai politik apapun, dia selalu lantang melontarkan opini terkait isu-isu sosial. Hal ini menimbulkan kemarahan sejumlah fans Jerman, utamanya mereka yang menjadi klub rival Bayern,” tulis Herron. Di Timnas Jerman Barat, Paul Breitner turut berjasa meraih gelar Euro 1972 dan Piala Dunia 1974. ( uefa.com ). Hal itu antara lain ditunjukkannya ketika diwawancara Die Zeit, 7 Juli 1972 . Kepada reporter dia tak segan memberi jawaban provokatif. “Siapa yang paling Anda kagumi?” tanya reporter. “Mao (Zedong),” jawab Breitner. “Buku apa yang Anda baca?” “(Karl) Marx.” “Apa keinginan terbesar Anda?” “Kekalahan Amerika di (perang) Vietnam.” Breitner tak pernah menyesali sikap itu hingga masa senjanya. “Saya tertarik dengan gagasan-gagasan Mao dan Che Guevara tetapi saya bukan seorang Maois atau komunis. Sebagai anak muda saya harus punya minat untuk belajar, untuk berbuat kesalahan dan untuk melakukan hal yang lebih baik,” aku Breitner kepada The Sun , 7 Mei 2018. Jiwa Bebas Rambut gondrong dan brewok lebat bak tokoh revolusioner kiri idolanya, Che Guevara, menjadi cermin dari jiwa bebas Breitner. Jiwa bebas itu juga terbawa ke dalam sepakbola. Breitner kerap bentrok dengan para petinggi Bayern karena tak setuju dengan kebijakan mereka yang ingin para pemain bersikap penuh wibawa. Ulrich Hesse dalam Tor! The Story of German Football mengisahkan, ketika klub tengah menggelar pesta perayaan gelar juara Bundesliga musim 1972-1973, Breitner bereuforia seenak perutnya. Ia menari sambil bugil dekat kolam renang seiring dentuman musik di pesta itu. Kelakuannya itu terekam kamera fotografer dan tersebar luas. Presiden klub Wilhelm Neudecker yang dibuat malu langsung mendampratnya, mendenda besar, hingga melontarkan niatnya ingin menjualnya ke klub lain. Breitner jelas tak suka atas respon pimpinan. Dia memprotes, sebagaimana dikutip Hesse, “Di klub sialan ini, mereka bahkan tak bisa merayakan dengan bersenang-senang.” Sejak 1970 Paul Breitner membela Bayern Munich yang mendatangkan lima gelar Bundesliga. ( fcbayern.com ). Hasrat menjadi manusia bebas pula yang membuat Breitner pernah berusaha mangkir dari wajib militer Bundeswehr. Tindakan itu diambilnya sebagai protes karena sebelumnya Breitner mendapat jaminan dari manajer Bayern, Robert Schwan, bahwa dia takkan dipanggil wajib militer. “Schwan memastikan bahwa saya tak harus wajib militer ke Bundeswehr. Namun kemudian tiba-tiba saya diwajibkan dan saya menentangnya,” kenang Breitner kepada Bild , 3 September 2011. Penolakan wamil itu membuat Breitner berurusan dengan aparat. Urusan itu lebih dari sekadar pemanggilan ke kantor berwajib. “Saya tinggal satu apartemen dengan (rekan setim) Uli Hoeneß, dan ketika polisi militer datang jam dua pagi, Uli yang menahan mereka di pintu dan saya kabur ke gudang batubara bawah tanah untuk bersembunyi. Selama beberapa malam mereka selalu datang. Akhirnya mereka memasang poster ‘buronan’ bergambar saya dan saya bisa ditangkap di ketika di jalan. Jadi akhirnya saya memilih masuk barak,” tambahnya. Pada 1964 Breitner hengkang ke Real Madrid untuk kemudian turut menyabet dua gelar La Liga. ( realmadrid.com ). Breitner terpaksa ikut latihan dasar kemiliteran selama beberapa pekan. Itu mengakibatkannya harus absen di beberapa pertandingan Bundesliga. Tetapi kemudian manajemen Bayern bisa bernegosiasi untuk menariknya dari barak lantaran jelang satu pertandingan, Bayern tengah krisis pertahanan. “Setelah pertandingan, mood saya membaik dan saya menghampiri Robert Schwan untuk bicara bahwa dia harus mengatur beberapa hal dengan Bundeswehr –kalau tidak, saya akan bicara kepada pers tentang hal itu. Lantas esoknya semua urusannya sudah beres,” lanjut Breitner. Meski dikenal sebagai simpatisan kiri dan berjiwa bebas, keputusan Breitner tetap sering kontradiktif. Bukti paling nyata yakni ketika dia menerima pinangan Real Madrid pada 1974. Madrid dikenal sebagai klub kesayangan diktator Spanyol Francisco Franco, lawan politik utama kaum kiri. Di Madrid pula laku Breitner berubah menjauh dari laku ideal kaum kiri yang sama rata sama rasa. Dengan gaji 800 ribu dolar Amerika per tahun, jauh di atas 300 ribu deutsche mark yang diterimanya dari Bayern, taraf kehidupan Breitner melesat. Makin lama gaya hidupnya kian berdekatan dengan hedonisme dan kemauan pasar. Breitner membeli rumah dan mobil mewah, main film Montana Trap ( Potato Fritz ) pada 1976, hingga menjadi bintang iklan berbagai produk, mulai dari rokok hingga waralaba restoran cepat saji Amerika McDonald’s . Gagal jadi pelatih, Paul Breitner beralih jadi komentator pertandingan sepakbola di televisi di masa senja. ( fcbayern.com ). Kontradiksi dari sikap Breitner itu antara lain ditunjukkannya ketika, menjelang Euro 1982, menerima tawaran membintangi iklan produk kosmetik. Dia dibayar 150 ribu deutsche mark untuk mencukur brewoknya menggunakan produk dan alat kosmetik itu. Padahal, sebelumnya brewok itu bersama rambut gondrongnya jadi penanda bahwa ia sosok pemberontak. “Brewok saya bukan menjadi hal yang sangat penting buat saya. Saya memeliharanya hanya karena istri saya menyukainya,” kata Breitner berkilah. Semenjak gantung sepatu pada 1983, Breitner lama menghilang dari panggung sepakbola. Baru pada 1998 namanya mencuat lagi ketika ditunjuk jadi pelatih Timnas Jerman. Namun, karier kepelatihannya itu hanya berumur 17 jam karena dia bertikai hebat dengan sejumlah ofisial timnas. Sejak itu hingga kini, Breitner lebih sering muncul sebagai komentator di beberapa stasiun TV dan kolumnis suratkabar.

  • Rak Buku dalam Kepala Bung Karno

    SEJAK bersekolah di Hogere Burger School Surabaya dan mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, Bung Karno mulai gemar membaca. Ia banyak mengoleksi buku terutama yang terkait pemikiran-pemikiran besar dunia. Buku adalah salah satu harta karun yang ditinggalkan Bung Karno ketika lengser dan harus meninggalkan istana. Bung Karno menata sendiri buku-bukunya di Istana Negara. Ia juga hafal di mana sebuah buku ia letakkan. Padahal, sekira 20 ribu buku dikoleksi Bung Karno di Istana Negara. Menurut Megawati Sukarnoputri dalam Pembukaan Pameran Daring & Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-Bukunya” di kanal Youtube  dan Facebook   Historia , Selasa, 24 November 2020, Bung Karno memiliki photographic memory  (ingatan visual) yang kuat terutama pada buku-buku koleksinya. “Beliau sangat ingat di mana buku ini adanya. Kami putra-putrinya tidak boleh menyentuh kecuali kalau mau melihat mesti ngomong  pada beliau. Beliau akan bilang oke  di rak nomor segini, di jajaran nomor 10 umpamanya,” jelas Megawati. Bung Karno sangat mencintai buku-bukunya merupakan fakta umum. Mantan menteri agama Saifuddin Zuhri salah satu saksinnya. Buku-buku, kata Saifuddin, memenuhi kamar Bung Karno dan hanya menyisakan sedikit tempat untuk tidur. Meski bertumpuk-tumpuk, Bung Karno sudah memberi nomor pada bukunya sehingga ia akan mengetahui jika ada yang berkurang atau berubah tempat. Megawati menambahkan, Bung Karno bahkan menaruh rak buku di toilet. Dalam rak dua tingkat, Bung Karno menaruh buku yang telah dibaca dan diberi komentar pada rak bagian atas. Sementara rak bagian bawah berisi buku yang hendak dibaca. Ketika Bung Karno dan keluarga harus meninggalkan istana, ia meninggalkan ribuan bukunya. Buku-buku itu tersebar di Istana Merdeka dan Istana Bogor. “Beliau mengatakan biarkan saja di situ,” ungkap Megawati. Kini, buku-buku itu diinventarisir dan ditata kembali oleh Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor. Ada sekitar 700 buku yang kini terdata. Melalui pameran daring “Bung Karno dan Buku-bukunya”, Balai Kirti dan Historia mencoba untuk menelusuri perjalanan intelektual Bung Karno dari bacaan-bacaannya. Pameran ini menyajikan 20 buku koleksi Bung Karno yang di dalamnya dibubuhi tanda tangan, catatan, maupun komentarnya terhadap isi buku. Mayoritas merupakan buku dari para pemikir besar dunia, baik dari spektrum kiri hingga kanan. Kurator pameran yang merupakan sejarawan sekaligus pemred Historia . ID , Bonnie Triyana, menyebut bahwa buku-buku itu berasal dari beragam bahasa: Jerman, Belanda, Prancis, dan Inggris. Hal ini karena Bung Karno memang membaca buku dari bahasa asli buku tersebut. Buku Der Weg Zur Macht karya ahli Marxisme Karl Kautsky misalnya. Buku ini tidak hanya berbahasa Jerman namun juga ditulis menggunakan huruf Jerman Gothic. “Dan Bung Karno membaca buku itu lalu memberi komentar dalam bahasa Belanda,” terang Bonnie Triyana. Buku lain, Geschiedenis van het Moderne Imperialisme karya JS Bartstra, punya cerita sendiri. Bung Karno memberi catatan bahwa buku ini merupakan pemberian teman-teman Bandung ketika ia dipenjara. Buku-buku koleksi Bung Karno menunjukkan bagaimana intelektualitas Bung Karno berkembang. Dari bacaan, Bung Karno menghasilkan banyak tulisan di berbagai surat kabar sejak 1930-an. “Jadi ini semacam perjalanan intelektual Bung Karno dari mulai dia membaca, mengelaborasi pikiran, ide-ide, gagasan besar di dunia ini dari spektrum kiri, kanan, mulai sosialis, marxisme sampai Islam,” sambung Bonnie. Namun, Bonnie melanjutkan, Bung Karno bukan orang yang hanya suka mengutip. Ketika membaca buku  The Spirit of Islam  karya Ameer Ali, misalnya, Bung Karno menyebut bahwa kita harus mengambil apinya, bukan abunya. “Dia baca, dia renungkan, dia endapkan, dia elaborasikan kemudian dia keluarkan itu sebagai sebuah ide yang genuine ,” kata Bonnie. Pameran daring "Bung Karno dan Buku-Bukunya" bisa diakses di laman balaikirti.kemdikbud.go.id . Pengunjung bisa melihat buku-buku karya penulis terkemuka sepeti Henriette Roland Host, penyair Belanda yang menginspirasi tokoh-tokoh perjuangan Indonesia hingga komunis Soviet Leon Trotsky.*

  • Buku dan Perjalanan Intelektual Sukarno

    Kendati sebagai anak bangsawan rendahan masih mendapatkan diskriminasi, Sukarno tetap beruntung karena sejak kecil berkesempatan mendapat pendidikan formal. Hal ini berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Dari sekolah pula Sukarno mulai mendapat akses terhadap buku. Sosok Sukarno tentu tidak semata dibentuk oleh pendidikan dan buku. Pengalaman pribadi, pertemuan dengan berbagai ide, pengalaman organisasi, serta situasi politik lokal maupun global juga ikut membentuknya. Namun, buku menjadi teman baik dalam petualangan intelektualitasnya. Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliatri dalam pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya ” di Facebook  dan Youtube   Historia , Selasa, 24 November 2020, di luar perpustakaan sekolah, Sukarno juga mendapat bacaan dari perpustakaan teosofi di mana ayahnya bergabung. Dengan meminjam kartu anggota ayahnya, ia bebas membaca buku apa saja. “Dia mengakses informasi terutama tentang sumber-sumber mengenai pemikiran-pemikiran orang-orang Asia,” sebut Rhoma. Banyak buku juga dia pinjam dari guru bahasa Jermannya, C Hartogh, dan mentornya di Bandung, D.G. Koch. Sukarno juga seringkali mendapat hadiah dari teman-temannya dan membaca buku di perpustakaan penjara seperti ketika dipenjara di Sukamiskin, Bandung. Sebagaimana tokoh bangsa lain yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Sukarno juga berupaya mengkonversi bacaannya dari berbagai buku menjadi ide serta realitas tindakan. Rhoma mencontohkan, satu buku yang banyak dibaca tokoh generasi 1928 adalah Also Sprach Zarathustra karya filsuf Friedrich Nietsche. Beberapa tokoh mengambil spirit pencerahan dan Ubermensch (Adi Manusia) dari Nietsche dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tan Malaka, misalnya, mengambil spirit ini secara personal meski tidak eksplisit. Sementara Ki Hajar Dewantara dan Sanusi Pane menerjemahkan spirit tersebut dengan kembali berpijak pada tradisi lokal. Sukarno mengambil gagasan tersebut dalam membangun sumber daya manusia di era Indonesia merdeka. Pengaplikasiannya masuk dalam cita-citanya membentuk manusia yang mempunyai jiwa dan mental kuat serta tanpa sekat rasial, salah satunya dengan cara kawin campur. Namun, Sukarno bukan pembebek satu gagasan. Ia seringkali mengkritisinya. Ketika membaca biografi Mahatma Gandhi karya Romain Rolland dan Mijn Ervarigen Uit De Gevangenis karya Gandhi, Sukarno mengambil spirit nasionalisme Gandhi. Namun, Sukarno merasa Indonesia tidak cocok dengan gerakan swadeshinya Gandhi. Dalam tulisannya di Suluh Indonesia Muda pada 1932, Sukarno menolak gagasan swadeshi sebagai upaya Indonesia merdeka. Meski banyak tokoh saat itu menggunakan gagasan swadeshi untuk mengobarkan semangat Indonesia merdeka, Sukarno justru menawarkan gagasan baru: kalau Indonesia mau merdeka, perlu adanya politieke massa actie yang berasas marhaenisme. “Ini artinya apa? bahwa Sukarno tidak mengambil mentah-mentah semua gagasan dari buku-buku yang dia baca,” jelas Rhoma. Menurut Rhoma, setidaknya ada empat tahap proses pembacaan Sukarno. Pertama , memahami berbagai gagasan sebagai pijakan berpikir dengan memisahkan gagasan dengan si pembuat. Kedua , tidak mengambil begitu saja gagasan secara mentah-mentah dan melakukan refleksi. Ketiga , menyesuaikan dengan situasi dan konteks yang ada. Keempat , membuat alternatif solusi sendiri atas situasinya sendiri. Sebagian besar buku yang dibaca Sukarno memang bertema politik. Wartawan senior Roso Daras menyebut hal ini terkait kepentingan Sukarno, tentang bagaimana memerdekakan bangsanya dari kolonialisme. “Tetapi bukan berarti beliau tidak menggemari bacaan-bacaan yang lain. Karena dari tulisan-tulisan yang ada dalam beberapa artikel, utamanya kumpulan tulisan-tulisan yang ada di buku Dibawah Bendera Revolusi, misalnya, itu hampir semua aspek dia kupas,” terang Daras. Sementara menurut Bonnie Triyana, pemimpin redaksi Historia sekaligus kurator pameran “Bung Karno dan Buku-bukunya”, Sukarno dan generasinya merupakan satu generasi yang kosmopolitan. Pada 1928, misalnya, mereka telah selesai pada persoalan rasialitas di mana hari ini isu tersebut justru muncul kembali. “Ini adalah hasil dari pembacaan, hasil dari penyerapan atas ilmu pengetahuan, wacana, dengan dialektikanya zaman waktu itu dan juga melahirkan pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, yang membuat kita menjadi sebuah bangsa,” jelasnya. Daras menyebut, meski Sukarno telah banyak melahirkan gagasan melalui buku-bukunya, masih ada gap yang jauh antara Sukarno dan generasi hari ini. Penyebabnya, dari tingkat literasi maupun tingkat kesulitan memahami tulisan Sukarno itu sendiri. “Perlu ada banyak tafsir (terhadap gagasan Sukarno) untuk mempersempit gap sehingga lebih mudah dipahami generasi sekarang,” ujar Daras.

  • Moestopo vs Hatta di Tengah Pertempuran Surabaya

    Akhir Oktober 1945. Brigade Infanteri ke-49 Divisi India ke-23 pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby ada di ambang kehancuran. Menurut sejarawan militer Richard McMillan, para veteran Perang Dunia II itu seolah tak berkutik dalam kepungan arek-arek Suroboyo. Hingga hari ke-2 pertempuran), mereka telah membunuh ratusan serdadu Inggris, termasuk 16 perwira di dalamnya. “Karena suatu “pamer kekuatan”, 427 nyawa dari pasukan yang secara keseluruhan memiliki sekira 4.000 prajurit, melayang begitu saja…” ungkap McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia, 1945-1946 . Para pejuang Surabaya itu dipimpin oleh seorang dokter gigi bernama Moestopo. Lelaki kelahiran Kediri pada 1913 bukanlah orang sembarangan. Selain pernah menjadi salah satu lulusan terbaik sekolah calon perwira PETA di Bogor, dia pun termasuk daidancho (komandan batalyon) kharismatik di Jawa Timur. Moestopo dikenal rekan-rekan seperjuangan dan anak buahnya sebagai sosok komandan cerdas namun nyentrik. Salah satu “kegilaan” itu dia perlihatkan kala secara sepihak mengangkat dirinya sebagai “Menteri Pertahanan Republik Indonesia” saat berhadapan dengan para petinggi tentara Inggris di Surabaya. “Peristiwa itu menimbulkan sedikit kehebohan…” kata sejarawan militer Moehkardi yang pernah mewawancarai Moestopo pada 1970-an. Ketika Inggris semakin tak berdaya, mau tidak mau mereka akhirnya mengundang Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk menyelesaikan pertikaian antar dua pihak di Surabaya. Mereka berdua kemudian datang ke kota yang panas itu pada 29 Oktober 1945 dengan menggunakan pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF). Sebelum mendarat, Sukarno-Hatta mendengar dari berbagai pihak tentang sepakterjang Moestopo dan tidak sepakat dengan kekeraskepalaan sang pemimpin Pertempuran Surabaya itu yang tidak mau berunding dengan pihak Inggris. Hatta adalah orang yang paling jengkel kepada Moestopo. Begitu jengkelnya, saat bertemu Moestopo, Hatta memakinya sebagai “ekstrimis”. Soal itu dikisahkan oleh Roeslan Abdoelgani dalam Peristiwa 10 November dalam Lukisan . Ceritanya, saat Sukarno-Hatta tengah berada di Kegubernuran Jawa Timur, dengan mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala, Moestopo datang menemui mereka. Kepada sang presiden, Moestopo melaporkan kelicikan-kelicikan Inggris lengkap dengan memperlihatkan bukti-bukti menurut versinya. Di tengah sesi curhat tersebut, tetiba Bung Hatta diiringi Amir Sjarifuddin dan beberapa perwira Inggris masuk ke ruangan. Alih-alih menyambut Hatta dan Amir, Moestopo malah menepi ke suatu sudut di ruangan tersebut. Dia kemudian duduk di lantai dalam posisi bak orang yang tengah bersemedi.Demi melihat “manusia aneh” di ruangan tersebut, Bung Hatta bertanya kepada Bung Karno. “Siapa orang itu?” bisiknya seraya menunjuk Moestopo. Begitu dijawab oleh Bung Karno bahwa orang itu adalah Jenderal Major. drg. Moestopo, Hatta tak kuasa lagi menahan rasa kesalnya yang sudah menumpuk kepada orang yang dianggapnya kepala batu dan tak mau mengerti strategi politik pemerintah RI. “Lha, ini dia pemberontaknya, ekstrimisnya!” kata Hatta dalam nada sinis. Mendengar ejekan dan makian yang dilontarkan Hatta, wajah Moestopo langsung merah padam. Seperti yang dituturkan dalam buku kecil Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof. Dr. Moestopo , sang jenderal mengaku langsung mendatangi Hatta. Begitu berhadapan, dia langsung mengambil sikap sempurna layaknya seorang militer. “Memang, saya ekstrimis, saya pemberontak. Bukankah lebih baik menjadi pemberontak, mati dalam perjuangan, daripada dijajah bangsa asing lagi?!” jawab Moestopo. Belum puas dengan kata-kata itu, seraya mengambil ujung bendera merah putih yang berada di dekatnya, Moestopo berseru kepada Hatta: “Bung, silakan tembak saya di depan para opsir Inggris itu, biar mereka puas. Arahkan mulut senapan itu kepada saya dan semburkan pelurunya begitu saya selesai memberi hormat kepada Bung! Bagi saya, daripada dijajah kembali, lebih baik saya mati, Bung!” “Tidak!” tetiba Presiden Sukarno berteriak, “Hanya saya Presiden Republik Indonesia yang bisa membunuh Moestopo!” Selanjutnya, terjadilah perdebatan seru antara Hatta dengan Moestopo. Bung Karno lantas melerainya dan dengan nada lembut berkata kepada Moestopo: “Sekarang saudara Moestopo saya pensiunkan dan saya angkat menjadi Penasihat Agung Presiden Republik Indonesia di Jakarta!” “Lalu siapa yang menggantikan saya sebagai Menteri Pertahanan ad interim, penanggung jawab Revolusi Jawa Timur?! Siapa?!” tanya Moestopo. “Saya sendiri!” jawab Bung Karno. Moestopo memberi hormat secara militer lantas berbalik dan pulang menuju rumahnya di Gresik. Sejak itu, ia tak pernah terlihat lagi di front Surabaya.

  • Gol Terakhir Ricky Yacobi

    DARI lapangan ke lapangan. Itulah yang dilakukan Ricky Yacobi nyaris sepanjang hayatnya hingga namanya harum sebagai sebagai bintang lapangan hijau. Di lapangan pula dia tumbang dan tutup usia pada Sabtu, 21 November 2020 di usia 57 tahun. Ricky tumbang kala tengah bermain bersama tim Medan Selection di Lapangan A, Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta dalam turnamen Trofeo Medan Selection. Menurut rekannya, Lody Hutabarat, sebagaimana dikutip dari Kumparan , Sabtu, 21 November 2020, Ricky mencetak gol dari luar kotak penalti kemudian belari ke arah rekan-rekannya guna selebrasi skor 1-1. Namun sebelum mencapai rekan-rekan setimnya, ia ambruk tak sadarkan diri karena serangan jantung. Walau segera dilarikan ke RSAL Dr. Mintohardjo, nyawa Ricky tak terselamatkan. Mantan kapten Arseto Solo itu dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Dunia sepakbola Indonesia pun berduka. Selain banjir ucapan belasungkawa dari berbagai insan sepakbola, Kemenpora sempat menggagas agar mengabadikan nama Ricky untuk menggantikan nama Lapangan ABC, Komplek Gelora Bung Karno. Pada 2018 Ricky Yacobi sempat menjabat Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI. ( kemenpora.go.id ). Anak Medan yang Merumput di Jepang Ricky Yacobi diidolakan banyak pesepakbola tanah air lantaran sebagai salah satu pionir orang Indonesia yang bermain di kompetisi asing. Salah satunya, Timo Scheunemann, eks-pemain dan pelatih Persiba Balikpapan dan Persema Malang. “Saya fans sejak saya masih SMA. Sebagai pemain Indonesia yang pertamakali bermain di Jepang, apalagi beliau striker seperti saya,” ujar pria berdarah Jerman itu kepada Historia . Ricky lahir di Medan, 12 Maret 1963. Kariernya dimulai dari level junior. Sepakbola jadi pilihan Ricky sejak dini, mengikuti jejak ayahnya, Yacob, yang pemain amatir di kompetisi lokal. Sejak akhir 1970-an Ricky mengasah skill- nya di berbagai klub amatir, mulai dari Putra Abadi, Srinaga, PS Teras, hingga Perisai. Dari Perisai yang dinaungi Direktorat Jenderal Pajak, Ricky kemudian ditarik ke PSMS Junior jelang Piala Suratin 1980. Dia tampil gemilang hingga membuahkan trofi. Ricky pun dipromosikan ke tim senior PSMS pada kompetisi Perserikatan 1980. Malang-melintang bersama tim “Ayam Kinantan” (julukan PSMS) dari 1980-1985, Ricky membawa PSMS dua kali juara Perserikatan (1983 dan 1985). Prestasi itu membuatnya digaet klub Galatama, Arseto Solo. Dari situ, Ricky mulai sering dipanggil ke timnas. Dia bahkan menjadi kapten timnas saat Indonesia saat merebut medali emas sepakbola SEA Games pada 1987. Ricky Yacobi (berdiri, pojok kanan) di Timnas Indonesia pada SEA Games 1987. (Repro  Rekaman Peristiwa '88 ). Setahun sebelumnya, Ricky ikut mengantarkan timnas Indonesia hingga babak semifinal Asian Games 1986 namun dikalahkan Korea Selatan 4-0.Meski hanya mencapai empat besar, itu jadi prestasi yang belum pernah terulang lagi. Nama Ricky kian berkibar karena gol spektakulernya kala Indonesia meladeni Uni Emirat Arab di perempatfinal. Konon, sejak saat itulah julukan Paul Breitner-nya Indonesia melekat padanya. “Ricky Yacobi pernah mencetak gol (lewat tendangan) voli lawan Uni Emirat Arab di Asian Games. Gol dari jarak jauh. Breitner juga punya spesialisasi ini. Sepertinya itu salah satu yang bisa mendekati mengapa Ricky Yacobi dijuluki Breitner dari Indonesia,” kata Irfan Sudrajat, pemerhati sepakbola dari harian TopSkor, kepada Historia melalui pesan singkat. Kiprah Ricky di klub senantiasa moncer bersama Arseto. Dituliskan Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso dalam biografi mantan manajer timnas IGK Manila, Panglima Gajah, Manajer Juara , puncak karier Ricky dijalani di musim 1991di mana dia membawa Arseto Solo juara Galatama. Ricky dua kali menjadi topskorer,  pada 1987 dan 1991. Ciamiknya penampilan Ricky membuatnya ditaksir klub Liga Jepang, Matsushita Electric (kini Gamba Osaka). Dia kemudian dikontrak selama setahun. “Saat saya main di Matsushita tahun 1989, Matsushita juga semiprofesional, karena banyak pemainnya adalah karyawan perusahaan. Beda dengan pemain Galatama, kerjaannya cuma main bola,” kata Ricky kepada Historia delapan tahun silam. Gagal bersinar di Jepang, Ricky Yacobi comeback  ke Arseto Solo pada 1990. (Instagram @rijacobi). Namun, justru di Negeri Sakura itulah karier Ricky mengalami antiklimaks. Cuaca dingin membuatnya tak betah. Dia juga beberapakali dibekap cedera. “Pernah saya waktu bertanding kaki saya dicocor sampai tidak bisa bangun,” ujarnya sambil menunjukkan bagian kakinya yang cedera itu. “Akhirnya saya absen cukup lama.” Seringnya cedera membuat Ricky hanya punya catatan enam kali tampil selama di Jepang. Torehan golnya pun hanya sebutir. Alhasil, dia balik ke tanah air untuk memperkuat Arseto Solo lagi pada 1990. Anehnya, sejak itu beberapa perilakunya berubah drastis. Akibatnya, namanya dicoret dari daftar skuad timnas untuk SEA Games 1991 di Manila, Filipina. “Ricky adalah kapten yang memberi andil besar mengantarkan Indonesia meraih emas SEA Games 1987, emas pertama dalam cabang sepakbola. Setahun sebelumnya gol tendangan voli di Asian Games dari jarak 30 meter untuk sekian tahun berikutnya dijadikan bagian dalam bumper pembuka tayangan program olahraga TVRI. Usianya 28 tahun dan dia top skor Galatama dan pemain yang kharismatik yang tak ada di timnas SEA Games 1991,” tulis Hardy dan Edy. Ricky Yacobi mengasuh bibit muda di SSB Ricky Yacobi. (Micha Rainer Pali/ Historia.id ). Keputusan mencoret Ricky berasal dari manajer tim, IGK Manila, setelah menganalisis yang terjadi pada Ricky dalam beberapa laga uji coba. Kala timnas menghadapi Malta di President’s Cup di Korea Selatan, 7 Juni 1991, Ricky punya peluang 100 persen menjebol gawang Malta namun justru tak mengkonversinya jadi gol. Manila pun menegur Ricky dan mendapat jawaban bahwa di hari itu ia tak boleh menyakiti hati orang lain. Kejadian itu memantapkan hati Manila untuk menyisihkan nama Ricky dari skuad. Keputusan berani Manila itu membuatnya diprotes keras Ketum PSSI Kardono. Namun Manila bersikukuh dan bahkan mengancam mengundurkan diri kalau Kardono memaksanya memasukkan lagi nama Ricky ke skuad. “Ricky sedang galau. Ia mengalami pergulatan spiritual. Lantas ia bertemu seorang guru agama. Kalau tak salah, gurunya itu bermukim di kawasan Tanah Abang,” kata Manila dikutip Hardy dan Edy. Penilaian Manila dibenarkan Ricky saat dihubungi Historia pada akhir Juli 2017. “Iya, saat itu saya memang lagi mencari sesuatu buat diri saya,” kata Ricky tanpa mau membeberkan ada apa dengan dirinya. Setelah itu, Ricky tak pernah lagi mengenakan seragam timnas. Dia gantung sepatu setelah membela PSIS Semarang pada 1995. Namun, perhatiannya tetap dicurahkan pada sepakbola usai pensiun. Dengan sponsor dari sebuah perusahaan, dia mendirikan SSB Ricky Yacobi pada 1996. Demi keberlanjutan sepakbola tanah air, Ricky tak memungut rupiah pada para anak usia 7-12 tahun yang ingin mengasah kemampuan di SSB-nya. “Yang di bawah ini mesti dibenahi dulu, disediakan wadah kompetisi. (Kompetisi, red .) ini, daerah-daerah ini, mesti dihidupkan kembali. Di situ kita bisa lihat mana anak yang bener-bener bagus,” kata Ricky yang pada 2018 diangkat menjadi direktur Pembinaan Usia Muda PSSI.

  • Jenderal Choltitz Penyelamat Paris

    SUATU hari di tahun 1959, Pierre Léjévac tak menyangka akan kedatangan tamu istimewa. Kepala pelayan bar di Hotel Meurice, Paris itu mulanya sempat keheranan pada sang tamu, pria paruh baya berpostur pendek dan gempal yang celingukan memperhatikan suasana bar. Pierre pun menyapa tamunya dengan ramah dan menawarkan bantuan. Alih-alih menjawab dengan permintaan, sang tamu malah menceritakan kenangannya bahwa ia pernah tinggal di hotel itu selama beberapa pekan. Dia lalu meminta izin Pierre untuk melihat kamar lamanya di lantai empat. Pierre yang makin memperhatikan tamunya yang dilihatnya familiar, segera insyaf. Tamu berjas biru gelap rapi itu tak lain adalah Dietrich von Choltitz, mantan jenderal Jerman yang menjabat sebagai Gubernur Militer Prancis dari 7 Agustus-25 Agustus 1944. Maka begitu yakin tamunya merupakan sosok yang dikenal sebagai “penyelamat Paris”, Pierre segera mengontak manajer hotel. “Pak, Anda takkan mempercayai hal ini tapi Dietrich von Choltitz ada di sini dan dia ingin melihat kamarnya,” kata Pierre kepada manajernya via telefon, dikutip Donald dan Petie Kladstrup dalam Wine and War: The French, the Nazis, and the Battle for France’s Greatest Treasure . Sang manajer buru-buru mendatangi bar dan menyambut tamu lamanya itu. Dia langsung mengabulkan permintaan Choltitz dan mengantar sang jenderal ke kamar lamanya yang kebetulan sedang kosong. Di kamar itu, Choltitz langsung melempar pikirannya ke masa lalu dan selama 15 menit tak banyak bicara. Dia melangkah ke balkon sebagaimana kebiasaannya dulu. “Ah ya, (pemandangan) ini yang paling saya ingat,” katanya saat berdiri di balkon dengan view Taman Tuileries di seberang hotel. Setelah 15 menit bernostalgia, Choltitz kembali ke bar diantar manajer. “Kita harus mengenang momen kembalinya Anda, mon général, ” ujar sang manajer sambil menawarkan membuka botol sampanye. “Saya sudah melakukan hal yang saya inginkan dan sekarang saya harus pergi lagi,” Choltitz menolak secara halus. Maklum, hari itu Choltitz  juga punya agenda bertemu kawan lamanya, Pierre Taittinger, walikota Paris di masa Perang Dunia II. Hari itu jadi kali terakhir Choltitz menginjakkan kaki di Hotel Meurice. Tujuh tahun berselang, 5 November 1966, atau empat hari menjelang ulangtahunnya yang ke-72, ia mengembuskan nafas terakhir di Baden-Baden. Dietrich von Choltitz kala bernostalgia ke Paris 14 tahun pascaperang. ( choltitz.de ). Aristokrat Prusia Penentu Nasib Paris Lahir pada 9 November 1894, Choltitz berasal dari keluarga bangsawan Moravia-Silesia. Sejak kecil ia hidup sebagai aristokrat di kastil ayahnya yang seorang perwira di Tentara Kerajaan Prusia, Hans von Choltitz, di Graflich Wiese (kini Łąka Prudnicka, Polandia). Ketika tumbuh remaja, Choltitz dimasukkan ke sekolah kadet militer di Dresden dan lulus beberapa bulan sebelum Perang Dunia I pecah. Dia ditempatkan di Resimen ke-8 Prinz Johann Georg. Pascaperang, Choltitz meneruskan karier militernya, antara lain terlibat dalam pendudukan Sudetenland pada 1938. Choltitz saat itu sudah menyandang pangkat oberstleutnant (letnan kolonel). Memasuki masa Perang Dunia II, sepakterjang Choltitz merentang dari Invasi Polandia (1 September 1939), Pertempuran Rotterdam (10 Mei 1940), Operasi Barbarossa ke Uni Soviet (22 Juni 1941) sebagai komandan Resimen Linud ke-16 AD Jerman, Front Italia (Maret 1944) sebagai Deputi Panglima Korps Panser ke-76, hingga mengomandani Korps Infantri AD Jerman ke-85 di Normandia (Juni 1944). Seiring kian terdesaknya Jerman pasca-D Day (Invasi Sekutu ke Normandia), Choltitz mengemban tanggungjawab besar sebagai gubernur militer di kota Paris per 7 Agustus 1944. Penunjukan itu, diungkapkan David Schoenbrun dalam Soldiers of the Night: The Story of the French Resistance , dilakukan langsung oleh Hitler kala memanggil Choltitz ke Wolfsschanze, markas Hitler di Görlitz (kini Gierłoż, Polandia). Itu jadi momen kedua terakhir Choltitz bertemu führer . Hitler mempercayakan Choltitz untuk jadi panglima Paris yang akan jadi kota garis depan dan kota benteng. “Choltitz ditunjuk sebagai befehlshaber , panglima benteng Paris yang diberi wewenang dan tanggungjawab langsung kepada Hitler. Dia diperintah untuk membasmi semua tindakan terorisme dan mempertahankan posisi dengan meledakkan setiap jembatan, pertempuran dari jalan ke jalan dan dari rumah ke rumah,” tulis Schoenbrun. Kastil keluarga Jenderal Choltitz (kiri) & masa mudanya hobi berkuda. ( choltitz.de ). Penunjukan itu membuat Choltitz bimbang. “Dalam perjalanan pulang dengan keretaapi, Choltitz sadar bahwa dia telah ditunjuk oleh seorang tidak waras. Terlepas dari sifatnya yang loyal dan tradisi profesional sebagai perwira yang taat pada atasan, nurani dan keyakinan Choltitz mulai goyah pada misi barunya itu,” imbuhnya. Tanggungjawab Choltitz kian berat karena hanya punya pasukan berjumla h relatif  kecil, 20-25 ribu personil, yang kebanyakan bukan kombatan berpengalaman dari Divisi ke-48 dan Divisi ke-338 ditambah beberapa unit artileri dan tank. Sekitar 15 ribu di antaranya berbasis di pusat kota Paris dan sisanya di batas kota, di tepi Sungai Seine. Terang saja Jenderal Choltitz pesimis. Pendapatnya kepada Kepala Staf Komando Barat Jenderal Günther Blumentritt bahwa mempertahankan Paris adalah kesia-siaan belaka justru menuai hardikan. Pada 13 Agustus, Choltitz menghadap sendiri ke Panglima OB West Marsekal Günther von Kluge di Saint-Germain-en-Laye. Choltitz meminta pasukan tambahan, namun berujung kandas. “Dua hari kemudian Kluge mengadakan rapat militer untuk memaparkan perintah bumi hangus Paris dari Hitler. Rencana itu dipresentasikan Jenderal Blumentritt yang mengatakan strateginya sangat penting. Jika industri-industri di Paris tak dilumpuhkan, nantinya akan menjadi bumerang bagi Jerman dalam beberapa pekan. Termasuk sektor bahan bakar, listrik, dan sistem air minum,” ungkap Jean Edward Smith dalam The Liberaton of Paris: How Eisenhower, de Gaulle, and Von Choltitz Saved the City of Light. Surat penunjukan General der Infanterie Dietrich von Choltitz sebagai Gubernur Militer Paris ( choltitz.de ) Choltitz yang datang dalam rapat itu mengajukan keberatan. Dia lebih condong untuk mempertahankan Paris, bukan meratakannya dengan tanah. Rencana yang disampaikan Blumentritt menurutnya hanya bisa efektif jika pasukan Jerman sudah meninggalkan kota. Jika rencana tersebut dilakoni prematur, ibarat menyerahkan ribuan buruh ke tangan kelompok Resistance. Lagipula, kata Choltitz, “pasukan kita juga butuh air minum.” Kluge dan Blumentritt bersikeras tetap menjalankan perintah Hitler (membumihanguskan Paris). Bumi hangus itu kemudian tak hanya menyasar sejumlah infrastruktur vital, namun juga menyasar sejumlah situs sejarah dan budaya seperti Louvre, Notre Dame, dan bahkan Menara Eiffel, serta sejumlah jembatan bersejarah. Sesuai keputusan rapat, Choltitz dengan berat hati memerintahkan pasukannya untuk memasang peledak di sejumlah tempat itu, termasuk 65 jembatan di atas Sungai Seine. “Tetapi jangan ledakkan apapun tanpa persetujuan pribadi saya!” Choltitz memerintahkan Kapten Werner Ebernach, komandan sebuah unit yang bertanggungjawab atas peledakan, dalam memoar yang dituliskannya bersama putranya Timo von Choltitz, Brennt Paris? Adolf Hitler (1951, terj. Is Paris Burning? ). “Adalah tanggungjawab saya untuk menjaga ketertiban dengan pasukan yang ada dan memfasilitasi penarikan mundur pasukan yang melewati kota. Perintah meledakkan semua jembatan sepenuhnya jadi tanggungjawab saya yang membuat situasinya makin sulit. Di balik pertimbangan militer, ada niat saya untuk melindungi populasi sipil dan kota mereka yang indah. Saya harus melakukan segalanya untuk mencegah kehancuran Paris,” kata Choltitz. Jenderal Choltitz terduduk di mobil M3 Scout Car usai penyerahan Paris pada 25 Agustus 1944. (Wikimedia/equinoxia21). Namun, aktivitas kelompok-kelompok perlawanan bawah tanah makin meresahkannya. Terlebih setelah aksi mogok aparat Kepolisian Paris yang berujung kericuhan. Sejak 1943, Kepolisian Paris banyak disusupi kelompok bawah tanah pimpinan Henri Rol-Tanguy yang hanya manut pada Jenderal Charles de Gaulle, pemimpin pemerintah pelarian Prancis di Inggris. Untuk itulah Choltitz menggelar pertemuan dengan Walikota Taittinger pada 17 Agustus 1944 di markasnya, Hotel Meurice. Walikota mulanya mempertanyakan maksud pasukan Choltitz menempatkan sejumlah peledak di berbagai lokasi. Choltitz sekadar menjelaskan itu langkah preventif untuk melindungi rombongan pasukan Jerman yang tengah mundur dari Normandia. Choltitz juga mengemukakan soal kekacauan dalam ruang-ruang publik. Ia meminta Taittinger yang punya otoritas untuk bisa meredam. Taittinger hanya berjanji akan melakukan sebisanya lantaran kelompok-kelompok Resistance terdiri dari berbagai sel yang bergerak sendiri. Yang terbesar, pimpinan Rol-Tanguy, hanya patuh pada Jenderal de Gaulle. Sebagai niat baik dalam negosiasi itu, Choltitz menjanjikan akan mencegah Gestapo (Polisi Rahasia Jerman Nazi) mengeksekusi para tahanan, di samping melepaskan lebih dari empat ribu tahanan serta mencegah warga Paris kelaparan dengan membagikan ransum dari persediaan pasukan Jerman. Timbal-baliknya, ia minta aparat Paris membantu mengatur 40 ribu personil nonmiliter Jerman menyeberangi perbatasan Prancis-Jerman. Jenderal Choltitz "Sang Penyelamat Paris" (berdiri, pojok kiri) di kamp tahanan Trent Park, London, Inggris. (Bundesarchiv). Akan tetapi, pada 23 Agustus datang telegram dari Hitler yang berbunyi “Paris tidak boleh jatuh ke tangan Sekutu kecuali dalam kondisi reruntuhan.” Sementara, di sisi lain pikiran Choltitz dikacaukan oleh garis depan Sekutu yang sudah mencapai batas kota. Choltitz lantas menemui Konsul Jenderal Swedia di Paris Raoul Nordling. “Choltitz mengatakan satu-satunya hal yang bisa mencegah penghancuran Paris adalah kedatangan Sekutu dengan sangat cepat. Choltitz mengatakan: ‘Anda harus sadar bahwa apa yang akan saya katakan kepada Anda bisa diartikan sebagai pengkhianatan, karena saya ingin minta bantuan Sekutu’,” sambung Smith. Choltitz lalu memberi Raoul surat jalan agar bisa menembus area Sekutu agar bisa menyampaikan maksudnya untuk menyelamatkan Paris dari kehancuran. Itu artinya Choltitz menolak perintah Hitler; keluarganya di Baden-Baden turut terancam. Namun bila Sekutu yang mendahului merebut Paris, keluarganya bisa aman dari murka Hitler. Negosiasi yang lantas dilanjutkan Rolf Nordling, adik sang konsul jenderal, karena Raoul terkena serangan jantung, berjalan lancar. Choltitz yang menepati janjinya untuk melepas semua peledak yang sudah dipasang, menyerahkan diri pada 25 Agustus 1944. Atas izin Panglima Tertinggi Sekutu Jenderai Dwight Eisenhower, pasukan terdepan, Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis pimpinan Jenderal Philippe Leclerc, menerima penyerahan Choltitz dan Garnisun Paris secara tertulis di Kantor Kepolisian Paris. Namun Choltitz meminta pengumuman gencatan senjata dan penyerahan itu tak disiarkan lewat radio karena akan segera sampai ke telinga Hitler. “Oleh karenanya kendaraan-kendaraan militer Jerman dan Kepolisian Paris berkeliling kota dengan pengeras suara untuk mengumumkannya. Warga Paris pun dengan hangat menyambut gencatan senjata dan pembebasan kota yang diiringi pengibaran bendera Prancis di segenap penjuru kota,” tambah Smith. Upacara pemakaman Jenderal Choltitz yang dihadiri para perwira militer Bundeswehr dan Prancis. ( Süddeutsche Zeitung, 11 November 1966 ). Choltitz yang dijuluki “penyelamat Paris” kemudian ditahan dan diserahkan ke pihak Inggris, lalu diterbangkan ke kamp interniran Trent Park di utara London sebelum ke Kamp Clinton di Mississippi, Amerika Serikat. Choltitz, yang kemudian diduga terlibat dalam pembantaian Yahudi di Ukraina dan Prancis serta tindakan brutal dalam Pertempuran Sevastopol, dibebaskan pada 1947. “Ayah saya tergerak dan mendengarkan hati kecilnya untuk melestarikan ibukota Prancis demi generasi mendatang. Mungkin keputusannya dipengaruhi Pertampuran Normandia sebelum menjabat di Paris. Keputusannya didukung Konsul Jenderal Swedia di Paris,” kata Timo von Choltitz, dikutip Karen Farrington dalam Victory in Europe: D-Day to the Fall of Berlin. “Tetapi pemerintah Prancis sampai sekarang (2005) menolak menerima hal itu dan menyatakan Resistance yang membebaskan Paris dengan dua ribu senjata menghadapi tentara Jerman. Bagi pemerintah Prancis, ayah saya adalah babi Nazi namun setiap orang Prancis yang terdidik tahu apa yang dia lakukan buat mereka. Saya bangga pada memori ini,” lanjutnya. Meski beberapa pejabat Prancis enggan mengakui julukan “Penyelamat Paris”, militer Prancis justru sebaliknya. Sejumlah perwira tinggi militer Prancis datang ke Baden-Baden guna menghadiri pemakaman Choltitz yang wafat pada 5 November 1966 akibat penyakit kronis pada paru-paru. Empat hari berselang mereka bahkan memberikan upacara penghormatan militer dalam pemakaman yang dihadiri para perwira Bundeswehr dan Kementerian Pertahanan Jerman Barat, Kolonel Wagner, Kolonel d’Omezon, dan Kolonel de Ravinel dari Markas Komando Militer Prancis di Baden-Baden.    “Hidup seorang prajurit luar biasa telah berakhir. Hari ini kita menundukkan kepala bersama keluarga yang berduka, termasuk Bundeswehr. Di liang ini terbujur seorang perwira yang menjalankan tugasnya di masa perang. Kami, prajurit di Bundeswehr, hanya bisa berterimakasih atas apa yang dilakukan Jenderal von Choltitz di Paris. Kami akan selalu mengenangnya sebagai prajurit yang berani dan humanis,” ujar Mayjen Kohler dalam pidatonya mewakili Bundeswehr, dikutip suratkabar Süddeutsche Zeitung , 11 November 1966.

  • Rahasia Kennedy tentang Sukarno

    Di masa kepresidenan Sukarno, tahun 1961 barangkali menjadi titik balik hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Periode penuh kerikil dan subversi berhadapan dengan Presiden Dwight D. Eisenhower berakhir. John Fitzgerald Kennedy, senator muda dari Partai Demokrat menggantikannya. “Inilah orang yang mempunyai pikiran progresif,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang dituliskan Cindy Adams. Kennedy, menurut Sukarno punya kepribadian yang lebih luwes daripada pendahulunya. Dalam cita-cita politik, Sukarno mengakui antara dirinya dan Kennedy banyak kesamaan. Tapi, cara Kennedy memperlakukan dirinya merupakan pengalaman paling berkesan di hati Sukarno.

  • Kisah Petempur Cilik dalam Revolusi Indonesia

    Dua lelaki kecil itu nampak di barisan terdepan para gerilayawan republik. Sikap tubuhnya gagah dengan masing-masing memegang senjata laras panjang, berdiri tegap tanpa alas kaki. Pemandangan dalam foto tua itu (kemungkinan) diambil oleh seorang fotografer dari Kementerian Penerangan Republik Indonesia, sesaat Divisi Siliwangi akan pergi berhijrah ke Jawa Tengah pada awal 1948. Bambang S. Santoso dalam blog-nya menyebut dua bocah perang tersebut merupakan anggota Kompi III Yon 33 Pelopor/ Langlangbuana, salah satu kesatuan yang berafiliasi ke Divisi Siliwangi. Dia mengetahui informasi tersebut berdasarkan keterangan sang ayah yakni Kolonel (Purn.) Loekito Santoso, yang pada zaman revolusi merupakan komandan kompi di kesatuan tersebut. Keterlibatan para bocah dalam revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) selama ini kisahnya hanya terketahui lamat-lamat saja. Beberapa film nasional memang pernah mengangkat sekilas peran mereka. Sebut saja dalam film  layar lebar  yang diproduksi  pada tahun 1982: Serangan Fajar  dan Pasukan Berani Mati . Satya Graha (89) adalah salah satu dari para bocah itu. Ketika kali pertama menjadi gerilyawan usianya baru 15 tahun. Dia menggabungkan diri dalam Divisi Ayam Jago pimpinan Mayor Jenderal Moestopo yang dikenal sebagai opsir republik yang sangat nyentrik. Berbagai pertempuran pun pernah diikutinya walau (diam-diam) dia mengaku merasa takut dan gemetaran juga. “Saya ingat kalau setiap bertempur, Pak Moes selalu berada di paling depan. Sambil menembakan senjatanya, dia tak henti berteriak-teriak dalam bahasa Belanda, mengejek para serdadu yang tengah kami hadapi,” ujar mantan jurnalis Indonesia terkemuka di era 1960-an itu. Suatu hari saat tengah beristirahat, dia dipanggil oleh Moestopo ke ruangan utama markas. Saat sampai di sana, alangkah terkejutnya Satya ketika melihat ibunya tengah adu omong dengan Moestopo. Begitu melihat kehadiran Satya, ibunya langsung mengajak dia pulang namun Satya bersikeras untuk bertahan. “Lha itu buktinya saya ndak memaksa, anak-nya kok yang mau ikut berjuang,” kata Moestopo kepada ibunya Satya. Barulah Satya saat itu paham bahwa ibunya dengan sang komandan dulu merupakan kawan sekolahan waktu SMP. Kendati dimarahi dan ditakuti, Satya tetap tak mau pulang ke rumah. Akhirnya tak ada yang bisa dilakukan sang ibu kecuali menyerahkan keputusan kepada anaknya sendiri. Namun sebelum pulang, sang ibu tak henti-nya mengingatkan Moestopo untuk menjaga anaknya. “Saya sempat malu juga kepada komandan, tapi ya gimana saat itu memang saya masih termasuk anak kecil,” kenang Satya. Kisah yang sama juga pernah dialami oleh J.A. Soetjipto (83). Pada 1949, saat dirinya masih berusia 12 tahun, perang melawan tentara Belanda lagi hebat-hebatnya di seluruh timur Jawa. Di desanya, Prambonwetan (masuk dalam wilayah Kabupaten Tuban), pertempuran-pertempuran antara pasukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan militer Belanda  kerap terjadi hampir setiap minggu. Gencarnya serangan dan patroli yang dilakukan militer Belanda sepertinya disebabkan keyakinan mereka bahwa wilayah Prambonwetan merupakan salah satu basis terkuat TNI di timur Jawa. Penilaian itu memang benar adanya. Selama 1949, Brigade Ronggolawe menempatkan satuan-satuan kecil dari Batalyon XVI pimpinan Mayor Basuki Rakhmat. “Di sana ada beberapa seksi pimpinan Sersan Sudjiman, Sersan Kemis dan Sersan Safii yang salah satu tugasnya melatih anak-anak muda setempat untuk menjadi tenaga tempur,” demikian disebutkan oleh buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe karya Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe. Kendati belum lulus Sekolah Rakjat (SR), Soetjipto sudah direkrut sebagai tenaga tempur. Dia bergabung dengan kelompok yang dipimpin oleh Sersan Sujiman. Sebenarnya kata “direkrut” tidak begitu tepat karena  bergabungnya Soetjipto ke kelompok tentara itu dilakukan secara sukarela. “Waktu itu saya merasa ikut berperang seperti main-main saja,” ujarnya. Kendati ke mana-mana menyandang sepucuk karaben, aura kebocahannya tetap tidak lepas dari wajah Soetjipto. Dia ingat pada suatu hari dibawa Sersan Sudjiman ke markas komando di sebuah dukuh bernama Manor. Di sana bertemulah dirinya dengan Mayor Basuki Rakhmat yang jadi terheran-heran melihat kehadirannya. “ Iki cah cilik melu-melu , ngapain?” tanya sang komandan. “Dia itu kecil-kecil juga ikut berjuang, Pak…” jawab Sersan Sudjiman sambil terkekeh. Mendengar penjelasan bawahannya, Mayor Rakhmat seolah masih tak percaya. Setelah menatap kembali Soetjipto, sambil tersenyum ia kemudian bilang: “ Yo wis , kamu sana main-main dulu, kami mau ngomong-ngomong dulu…” katanya. Sebagai petempur, Soetjipto tentu saja terlibat dalam sejumlah pertempuran. Namun dari sekian pengalaman tempurnya, hanya kejadian di perbatasan antara Prambonwetan dan Banjararum-lah yang hingga detik ini tak pernah bisa dilupakannya. “Di sanalah saya mengalami pertempuran yang demikian hebat dan mengerikan,” ungkapnya. Ceritanya pada Selasa, 23 Juli 1949 dia terlibat dalam suatu  rencana penyergapan terhadap satu seksi Marinir Belanda pimpinan seorang letnan satu bernama Leen Teeken. Operasi penyergapan itu sendiri dipimpin oleh seorang letnan muda bernama Noortjahjo. “Kami tunggu mereka di balik tanggul sebuah sungai kecil yang mengapit jalanan kampung lalu tanpa ampun menghancurkan pasukan musuh tersebut,” kenang Soetjipto. Akibat penyergapan itu, 3 orang tewas di pihak musuh dan tujuh lainnya berhasil ditawan. Tak ada korban jatuh sama sekali di pihak TNI dan rakyat. “Pertempuran itu berlangsung sangat brutal, dengan mata kepala saya sendiri saya meyaksikan kepala komandan Marinir Belanda itu ditembus serpihan-serpihan granat hingga  menyebabkan otaknya berhamburan dan tercecer di pematang sawah…” ungkap Soetjipto. Lima bulan setelah pertempuran itu, perang pun berakhir. Sebagai seorang anak petani, Soetjipto merasa bahwa hidupnya harus berubah. Dia kemudian kembali ke bangku sekolah dan berhasil masuk Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan dari sana dia meniti karir di Badan Pertanahan Nasional (BPN) hingga mencapai pensiun. “Walaupun saya pernah terlibat dalam perjuangan dahulu, namun sesungguhnya saya tak pernah merasa berjasa untuk negeri ini. Bukankah saat itu hampir semua orang berjuang?" ujarnya.

  • Bertahan di Tanah Tandus

    DIBANGUN di atas perbukitan kapur, Situs Ratu Boko terasa sunyi dan tenang. Udaranya sejuk. Pemandangan alam sekitarnya indah. Di kejauhan Gunung Merapi yang mencakar langit terlihat begitu jelas dan menawan. Sementara Candi Prambanan yang megah terlihat bagai miniatur dalam ruang pamer sebuah museum. Membuat siapapun yang berada di sana merasakan kedamaian. Kedamaian itu pulalah yang dicari Rakai Panangkaran, penguasa Mataram Kuno abad ke-8 dari Wangsa Syailendra. Karena ingin fokus pada kehidupan spiritual, dia mengundurkan diri sebagai raja lalu menyepi dan membangun wihara, tempat ibadah sekaligus tempat belajar, berkumpul, dan tinggal para pendeta Buddha, di Bukit Boko. Namun kemudian Bukit Boko pernah digunakan sebagai tempat tinggal penguasa daerah Walaing bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang menganut Siwa atau Hindu. Tampaknya Rakai Walaing kemudian mengubah tempat itu menjadi hunian yang lengkap dengan peribadatan agama Siwa. “Awalnya wihara, selanjutnya menjadi hunian umat beragama Hindu yang dilengkapi sarana peribadatan yakni miniatur candi dan candi pembakaran,” kata Andi Riana, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY), dalam diskusi daring “Menyelisik Keraton Prabu Boko” yang digelar BPCB DIY. Dari keterangan prasasti dan peninggalan-peninggalan yang ada, menunjukkan bahwa di dataran Ratu Boko pernah berkembang dua agama, yakni Hindu dan Buddha, antara abad ke-8 hingga 9. Peninggalan ajaran Budha antara lain arca Dhyani Budha, stupika-stupika (stupa kecil), bekas bangunan stupa, dan gua-gua meditasi. Sementara peninggalan Hindu misalnya arca Durga, Garuda, Ganesa, lingga, yoni, candi miniatur, dan fondasi bangunan yang disebut candi pembakaran. Lingkungan Tak Ideal Situs Ratu Boko terletak sekira 3 km di sebelah selatan kompleks Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta. Situs ini berdiri di atas bukit dengan ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks sekitar 25 hektar. Dibandingkan situs lainnya, Ratu Boko memiliki keistimewaan tersendiri. Peninggalan-peninggalan di sana bukan hanya berwujud bangunan suci tapi juga bangunan lain yang bersifat profan (duniawi) seperti keraton dan situs hunian. Saat digunakan sebagai hunian, kebutuhan para penghuninya pun semakin beragam dan kompleks. Kalau kata Andi Riana, tadinya penghuni wihara terbatas. Namun diperkirakan ada 100 orang yang menempati wilayah itu ketika sudah berubah fungsi. Saat itulah, dari tinggalan yang kini tersisa di Situs Ratu Boko, kita bisa melihat bagaimana masyarakat masa silam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Situs Ratu Boko berada di wilayah perbukitan yang terdiri tanah berbatu dan cadas. Lokasi yang sebenarnya tak ideal untuk hunian. Menurut arkeolog BPCB DIY Manggarsari Ayuati dalam “Situs Ratu Boko: Suatu Bentuk Efektivitas Pengelolaan Lingkungan Masa Lampau”, Buletin Narasimha No. 4/IV/2011, sifat lapisan batuan di kawasan Bukit Ratu Boko tak mudah lolos air. Padahal keberadaan air tak hanya penting untuk kebutuhan sehari-hari tapi juga kebutuhan ritual. Masyarakat di sana mungkin sudah menyadari. Solusinya, mereka membuat kolam-kolam penampungan air hujan di kawasan situs. Tri Hartini, ketua unit kerja Situs Ratu Boko dan Candi Ijo BPCB DIY, menjelaskan kolam dibuat dengan melubangi batuan induk. Dengan demikian air bisa bertahan selama setahun karena sifat batuannya tak mudah rembes. Ketinggian kolam pun dibuat tak sama. Tujuannya agar air pada satu kolam yang meluap akan mengalir dan mengisi kolam di sebelahnya yang lebih dalam. “Ini hukum Archimedes,” jelas Tri menyebut ahli matematika dan fisika dari Yunani yang tersohor. “Jadi walaupun di sana tidak ada sumber air, ini bukan jadi masalah. Air ini juga dikelola dengan baik sehingga tidak terbuang percuma,” katanya. Berbagai macam pohon dan ribuan bibit semak ditanam di area Ratu Boko untuk mengatasi gersang dan menambah keindahan. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Founfation) Mempercantik Ratu Boko Gersangnya wilayah Situs Ratu Boko masih terasa hingga kini ketika kawasan itu  telah menjadi objek wisata populer di Yogyakarta. Di siang hari, hawa panas menyergap. Untuk mengatasi gersang dan menambah keindahan, berbagai macam pohon dan ribuan bibit semak ditanam di area Ratu Boko setahun lalu melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Penanaman dilakukan dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Dari 1.350 perdu dan semak berbunga yang ditanam di Situs Ratu Boko, terdapat jenis bugenvill, tanjung, soka, dan kepel. Menariknya, dua tumbuhan di antaranya ternyata pernah ditanam pada masa Ratu Boko dihuni dulu. Nugrahadi Mahanani dalam skripsinya di Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada tahun 2013 berjudul “Vegetasi Lingkungan Situs Ratu Boko: Analisis Atas Pollen Sedimen” menulis kalau soka atau asoka ( Jonesia asoka Roxb ) adalah salah satu tanaman hias di Situs Ratu Boko. Nugrahadi mengidentifikasinya lewat analisis serbuk sari yang ditemukannya dalam sampel tanah di area sebelah barat daya Batur Pendopo dan sebelah barat Batur Miniatur Candi. Sementara tanjung agaknya menjadi tanaman yang umum dijumpai pada masa Jawa Kuno dan dipahatkan dalam relief sejumlah candi. Baik soka/asoka maupun tanjung juga disebut dalam prasasti abad ke-8 hingga 10 dan Kakawin Ramayana , kesusastraan Jawa Kuno yang dibuat sekitar tahun 870 M. “Selain akan mempercantik wilayah Situs Ratu Boko, gerakan ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan mempelajari warisan sejarah yang ada di Indonesia,” ungkap Tri Hartini yang ikut mengapresiasi Gerakan Siap Darling.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page