top of page

Hasil pencarian

9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penerbangan Terakhir Leo Wattimena

    SOEHARTO kenal betul dengan Leo Wattimena. Waktu dia menjabat sebagai Panglima Komando Mandala pembebasan Irian Barat, Leo adalah salah satu wakilnya. Dalam komando operasi itu, Leo punya tugas penting mengorganisasi pasukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Di kalangan AURI, Leo Wattimena bukan nama sembarangan. Dia dikenal sebagai penerbang ulung dengan jam terbang tinggi, Sebagai pilot tempur berpengalaman, Soeharto pun menaruh percaya kepada Leo. Kalau Leo terbang, seperti dituturkan pakar politik dan pertahanan Salim Said, biasanya Soeharto menanti di pangkalan udara sampai pesawat yang dikemudikan Leo mendarat kembali. “Tapi, hubungan Leo dengan Soeharto menjadi rusak waktu Gestapu (Gerakan 30 September/G30S),” ujar Salim Said dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian . Lantas apa yang terjadi dengan Leo dan Soeharto? Bombardir Markas Kostrad? Peristiwa Gerakan 30 September 1965 berimbas pada AURI yang disudutkan banyak pihak. Angkatan Darat sangat mencurigai AURI terlibat dalam gerakan tersebut. Akar perselisihan bermula dari surat perintah Menteri Panglima AU Laksamana Madya Omar Dani pada 1 Oktober yang menyiratkan dukungan terhadap gerakan. Selain itu, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang merupakan kawasan AURI disinyalir sebagai basis G30S. Hari yang menjadi prahara itu dikisahkan Omar Dani dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani  oleh Benedicta A. Surodjo dan JMV. Soeparno. Pada malam hari, 1 Oktober, Dani bersama Panglima Komando Operasi AURI, Komodor Leo Wattimena melakukan pemantauan situasi keamanan dari udara. Mereka  meninjau kawasan Halim sampai Madiun dengan pesawat Hercules C-130. Memasuki pergantian hari, Dani terasa lelah dan mengantuk setelah enam jam lamanya terbang. Dia meminta Leo untuk berkirim radiogram kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Dani berpesan agar Soeharto tidak perlu menggerakan pasukannya memasuki Pangkalan Halim untuk mengejar pasukan G30S. Karena itu pasukan AD dari Yon 454/Raiders Kostrad yang berusaha memasuki Halim pada sore hari telah dihalau oleh PGT (Pasukan Gerak Tjepat)-AURI. Jika bersikeras masuk, di Pangkalan Halim hanya ada pasukan PGT-AURI, anggota Pangkalan, dan kru pesawat yang sedang dikonsinyasi. Setelah menitipkan pesan itu, Dani tertidur sehingga tidak sempat memeriksa isi radiogram. Siapa nyana, Leo menerjemahkan maksud Dani dengan pesan radiogram yang singkat, padat, dan tegas. “Jangan masuk Halim. Kalau masuk Halim akan dihadapi,” demikian bunyi radiogram yang dikirimkan Leo ke markas Kostrad. Pesan yang sama juga dikirimkan ke Komandan Wing 002 PAU Abdurachman Saleh, Kolonel (Pnb.) Pedet Soedarman di Malang. Soedarman menangkap sinyal “siaga” dan segera mengirimkan dua pesawat bomber B-25 beserta sejumlah pesawat pemburu ke Pangkalan Halim. Menurut Humaidi, sejarawan yang meneliti AURI periode 1960-an, pesan gertakan yang dibuat oleh Leo Wattimena menarik untuk dipertanyakan. Pada intinya, surat itu adalah perintah Omar Dani secara lisan yang kemudian diterjemahkan oleh Leo. “Leo menerjemahkan perintah Omar Dani dengan tidak tepat sasaran,” tulis Humadi dalam Dari Halim ke Nirbaya: Pasang Surut AURI Dalam Politik 1962-1966 . Pesan radiogram itu pada akhirnya sampai ke markas Kostrad. Soeharto yang panik segera memindahkan markas Kostrad ke bilangan Senayan kemudian Gandaria. Dalam otobiografinya  Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya , Soeharto mencatat peristiwa itu sebagai ancaman serius yang pernah dialaminya. Didubeskan ke Vatikan Alasan Leo menafsirkan perintah Omar Dani sedemikian rupa memang sulit dipahami. Tapi, secercah terang dapat ditemui bila mengetahui persis sosok Leo Wattimena sebenarnya. Semangat korsa Leo terhadap korpsnya, AURI sangat kental. Seperti diakui koleganya, Ashadi Tjahyadi, “ Spirit de corps-nya  tinggi. Leo selalu penuh dedikasi,” dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia  suntingan Soemakno Iswadi. Prahara G30S telah menyeret AURI jadi bulan-bulanan angkatan lain. Leo Wattimena tentu mafhum bahwa AURI berada dalam situasi kritis. Gelagat ini diperlihatkan Leo yang sangat tertutup dan tidak pernah bercerita kepada keluarga perihal tugas dan kedinasannya di AURI. Seperti saat Angkatan Darat hendak menyerang kawasan Halim pada 1965, Leo hanya mengatakan kepada keluarganya kalau Halim akan diserang Malaysia. Ketika itu memang Indonesia sedang berkonflik dengan negara federasi Malaysia. Namun sejatinya, Leo sangat marah menyaksikan AURI dipojokkan di sana-sini. Leo bahkan pernah berseru, “Kalau mereka hantam AURI saya akan hajar habis-habisan kalau perlu berjibaku dengan menabrakan pesawat!” Ketika rezim berganti, terjadilah “pembersihan” dalam tubuh AURI. Omar Dani bahkan dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya selama hampir 30 tahun. Leo sendiri ditugaskan ke Vatikan, Italia sebagai duta besar pada 1969. Di Vatikan, Leo bekerja dengan tekun. Seperti dicatat dalam riwayat hidup Leo Wattimena yang disusun Kapten Heri Susanto dari Dispen AU, Leo berupaya menonjolkan ciri khas Indonesia di kompleks kedutaan. Leo juga sering mengenalkan kesenian Indonesia di Italia dengan pentas seni keliling daerah di Italia.    Tetapi, dengan “pengasingannya” ke negeri seberang itu, sesungguhnya memendam luka dalam batin seorang Leo. Dia menjadi sangat terpukul karena harus berpisah dengan cinta pertamanya, yaitu pesawat tempur P-51 Mustang. Bagaikan hilang separuh jiwa, sebab Leo bercita-cita menjadi penerbang bukannya duta besar. Pada 1970, Salim Said berkunjung ke Italia dan bersua dengan Leo Wattimena. Waktu itu Leo masih berharap dapat ditempatkan di Departemen Pertahanan dan Keamanan begitu pulang dari Jakarta selepas jadi dubes. Begitulah keinginan Leo dalam perbincangannya dengan Salim Said.   “Tapi, bagi Soeharto dia sudah selesai,” kata Salim Said. Menepi untuk Selamanya Setelah 21 tahun mengabdikan diri di AURI, Leo mengajukan permohonan pengunduran diri pada 15 Agustus 1971. Pangkat terakhirnya marsekal muda (jenderal bintang dua AU). Selepas pensiun, Leo seperti kehilangan orientasi. Tidak banyak yang diketahui apa yang dilakoni oleh Leo setelah pensiun tapi dia sempat bekerja di perusahaan kabel. Hingga suatu ketika, Kepala Staf AU (KSAU) Marsekal Ashadi Tjahyadi (periode 1977-1982), bertemu dengan Leo secara tidak sengaja di bilangan Blok M, Jakarta. Ashadi kemudian meminta sahabatnya itu untuk menjadi penasihat ahli KSAU. Namun, Leo rupanya tidak sanggup lagi bekerja dengan maksimal. Kondisi fisiknya terus menurun lantaran menderita penyakit asma. Kemana-mana, Leo mulai memakai tongkat untuk menopang tubuhnya yang kian gontai dan lemah. Tubuh gagah Leo tampak mulai kurus. Ketika dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Leo nekat kabur dengan bajaj lantaran tidak betah diopname.         “Kalau saya meninggal rawat anak-anak dengan baik,” itulah pesan terakhir Leo kepada sang istri, Corrie Dingemans. Pada 18 April 1976, pilot legendaris AURI bernama lengkap Leonardus Willem Johannes Wattimena itu wafat dalam usia 47 tahun. Kepergiannya itu ibarat "penerbangan" yang terakhir. Sesuai pesannya, jenazah Leo dikebumikan dengan pakaian lengkap berwarna jingga, khas para pilot AURI saat akan melakukan aksi penerbangan. Leo dimakamkan berdampingan dengan pusara sahabatnya sesama legenda Tim Mustang AURI, Komodor Udara Ignatius Dewanto, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.*

  • Doa Habib untuk Ratu Belanda

    “Kita doakan Habib Rizieq Allah panjangkan umurnya. Jadi mimpin insyaallah di Indonesia. Yang kedua Allah pendekkan umur Megawati dan Pak Jokowi. Al-Fatihah,” itulah doa Habib Idrus dalam acara Maulid Nabi Muhammad Saw. di markas Front Pembela Islam, Petamburan, Jakarta. Karuan doa ini jadi bahan debat publik. Sebab doa tersebut dianggap kurang pantas. Lebih dari seratus tahun lalu, seorang habib bernama Sayyid Usman bin Yahya juga pernah bikin geger karena doanya di Masjid Pekojan, Batavia, pada 2 September 1898. Dia mendoakan Ratu Wilhelmina panjang umur, sejahtera, dan sehat senantiasa. Dia juga berdoa semoga Kerajaan Belanda bersinar terang dan rakyat Hindia Belanda dikaruniai hasil bumi, perkebunan, dan tambang. Kemudian Habib Usman bin Yahya meminta pemerintah Hindia Belanda turut menyebarluaskan doa ini ke luar Batavia. “Ke antero Jawa, dan menurut Java-Bode  yang menurunkan berita tentang doa ini sehari setelahnya, juga sampai ke Madura,” ungkap Nico J.G. Kaptein dalam “The Sayyid and The Queen: Sayyid Uthman on Queen Wilhelmina’s Inauguration on the Throne of the Netherlands in 1898”, termuat di Journal of Islamic Studies , Volume 9, Nomor 2, 1998. Doa Habib Usman bin Yahya mendapat kecaman keras dari sejumlah umat Islam di Pekojan, Jawa, dan Singapura. “Terus-menerus menulis secara kotor dalam surat kabar berbahasa Arab. Mereka terus merusak nama baik Sayid Usman dengan surat selebaran khusus yang dicetak di Surabaya,” sebut Snouck Hurgronje dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda Jilid IX. Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Belanda dalam bahasa Arab. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822-1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration ). Snouck membaca beberapa surat dan berita di surat kabar tentang keberatan sejumlah orang terhadap doa Habib Usman bin Yahya. Sebagian mereka menyebut Habib Usman bin Yahya “berlagak beragama di hadapan orang-orang seagama”. Lainnya mempertanyakan “kesalehan apa yang masih tersisa dari dirinya?” Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda mencatat, tak sedikit pula yang menyebut doa Habib Usman bin Yahya sebagai “Khutbah penjilat”. Habib Usman bin Yahya adalah ulama terkemuka di Batavia sepanjang abad ke-19. Dia lahir pada 2 Desember 1822. Dia mempelajari ilmu-ilmu agama meliputi fikih (hukum-hukum Islam), tasawuf, akhlak, tauhid, tata bahasa Arab, tafsir, dan hadis dari berbagai guru di Makkah, Madinah, Mesir, Aljazair, dan Istanbul.   Sepulangnya ke Batavia pada 1862, Habib Usman bin Yahya membuka pengajaran keagamaan kepada masyarakat. Namanya mulai kesohor. Berkat keluasan dan kedalaman ilmu fikihnya, dia mendapat gelar Mufti Betawi. Dia agak berat menerimanya lantaran merasa belum cukup mempunyai ilmu. Tapi karena banyak orang terus mendatanginya dan bertanya banyak kepadanya, dia menerima gelar itu. Dia beberapa kali mengeluarkan fatwa terkait masalah kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, Habib Usman bin Yahya juga mempunyai dasar ketika dia mendoakan Ratu Belanda.   Dalam fatwanya pada 24 September 1898, seperti dikutip dari Nico Kaptein, Habib Usman bin Yahya menyatakan doa kepada penguasa non-muslim diperbolehkan sepanjang penguasa tersebut mengizinkan dan menjamin umat muslim untuk menjalankan ibadahnya. Habib Usman bin Yahya juga menerangkan tugas Kerajaan Belanda dan pemerintah Hindia Belanda adalah menjaga kehidupan, harta benda, dan agama umat muslim di Hindia Belanda. Karena itu, doa untuk Kerajaan Belanda dan pemerintah Hindia Belanda dapat dipandang sebagai bentuk dukungan dan sarana spiritual untuk mewujudkan tugas itu. Habib Usman bin Yahya mengakui tidak mudah untuk membuat keputusan tersebut. Dia sadar posisinya sebagai mufti ibarat jembatan bagi dua pihak: umat muslim dan pemerintah Hindia Belanda. Dia menjembatani dua kepentingan berbeda dari dua kelompok itu. “Kadang menempatkan Sayid Usman dalam keadaan serba salah,” tulis Aqib Suminto. Poster berisi puisi pujian untuk Ratu Wilhelmina yang dibuat oleh anak Habib Usman bin Yahya dalam perayaan 25 tahun penobatan Ratu Wilhelmina pada 1923. Doa Habib Usman bin Yahya untuk Ratu Belanda dalam bahasa Arab. (Nico J.G. Kaptein, Arnoud Vrolijk, dan Liesbeth Ouwehand dalam Sayyid 'Uthman of Batavia [1822- 1914] A Life in the Service of Islam and the Colonial Administration ) Tapi di sisi lain, Habib Usman bin Yahya memandang posisinya memiliki peluang untuk membangun hubungan baik antara dua kelompok itu. Itu diperlukan untuk menjamin adanya kemakmuran bagi umat muslim di Hindia Belanda. Doa untuk Ratu pun sebenarnya bukan inisiatif Habib Usman bin Yahya. Permintaan atas doa tersebut datang dari F.W.M Hoogenstraaten, Residen Batavia. Tapi Snouck Hurgronje telah memperingatkan bahwa doa semacam itu tak perlu karena akan mengundang kasak-kusuk di kalangan umat muslim dan citra buruk bagi pemerintah Hindia Belanda. Habib Usman bin Yahya tak menggubris peringatan itu. Alasannya, “Kalau ia menolak memenuhi permintaan dari kepala daerah, akan menimbulkan kesan keliru padanya,” tulis Snouck, menirukan tanggapan Habib Usman bin Yahya. Pada akhirnya, peringatan Snouck terbukti benar. Umat muslim tak hanya menyerang Habib Usman bin Yahya, tapi juga pemerintah Hindia Belanda. “Doa tersebut telah mengakibatkan arus pernyataan-pernyataan yang menghina terhadap pemerintah Belanda,” sebut Snouck. Habib Usman bin Yahya tampil terdepan membela pemerintah Hindia Belanda. Dia menghadapi cercaan dan serangan itu dengan argumentasi yang berlandaskan ilmu agama. Tak semua orang menerimanya. Tapi tak sedikit pula yang membelanya. “Hukum shara sudah haruskan/ kepada raja kita doakan supaya umurnya Allah panjangkan/ kedua tetap kerajaan yan didudukkan; governemen juga punya kuasa/ yang diperintahkan kampung dan desa-desa.” Begitu syair dukungan bagi Habib Usman bin Yahya dari Abdullah al-Misri, penyair Palembang yang menetap di Kampung Petamburan pada 1898. Meski pernah melakukan hal kontroversial, nama Habib Usman bin Yahya tetap dihormati sebagai ulama terkemuka Betawi. Makamnya di Duren Sawit, Jakarta Timur, selalu penuh peziarah hingga hari ini.

  • Mata-mata CIA dari Indonesia Dieksekusi Mati di Korea Utara

    SALAH satu mata-mata perempuan terkenal di dunia adalah Mata Hari. Lahir di Belanda pada 7 Agustus 1876 dengan nama Margaretha Geertruida Zelle. Ayahnya Belanda, Adam Zelle, sedangkan ibunya keturunan Belanda-Jawa, Antje van der Meulen.

  • Umat Islam Indonesia di Mata Hasyim Asy'ari

    SELAMA sepekan terakhir, muslim Indonesia tengah menjadi sorotan publik karena berbagai hal. Mulai dari perselisihan antara artis Nikita Mirzani dengan seorang pemuka agama; dugaan penghinaan Ust. Maaher At-Thuwailibi terhadap Habib Luthfi Bin Yahya; polemik kedatangan Habib Rizieq Shihab; hingga isi ceramah tokoh Front Pembela Islam (FPI) itu saat memperingati maulid Nabi Muhammad Saw yang dianggap kurang pantas. Perihal ceramah Rizieq, banyak kalangan, termasuk pemuka agama yang menyayangkannya. Menurut mereka, acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti kisah-kisah seputar kenabian Rasulullah SAW, serta kebaikan-kebaikan yang perlu dicontoh oleh umatnya saat ini. Tidak malah menjadikannya ajang mengumbar kebencian. “Saya tadinya menyangka saat beliau sudah lama di tanah suci dan sekembali dari sana akan lebih menjaga lisan dan memelihara tutur kata,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily seperti dikutip RRI. Berbagai peristiwa itu pun membuat publik bertanya-tanya tentang kondisi umat Islam Indonesia. Banyak yang menilai umat Muslim di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi tidak baik. Namun kondisi serupa ternyata pernah juga terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Kala itu, umat Islam Indonesia terpecah, terbagi ke dalam dua golongan: tradisionalis dan modernis. Keduanya memiliki keyakinan, serta pandangan akan ajaran Islam yang berbeda. Golongan tradisionalis masih mencampurkan urusan agama dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun. Ajaran Islam di kalangan ini didapat dari ulama-ulama terdahulu, yang telah berkembang sejak Islam pertama masuk ke Nusantara. Sementara golongan modernis mendapat pengaruh tokoh-tokoh dari Timur Tengah, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan sebagainya. Kalangan itu memiliki pandangan baru, yakni Islam harus terbebas dari adat istiadat, sehingga kegiatan-kegiatan di luar Al-Qur’an dan sunah Rasul harus dihilangkan. “Pemikiran pembaharuan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh di atas tentu sangat memengaruhi pemikiran umat Islam di Indonesia. Akan tetapi, tidak semua pemikiran tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat. Salah satu dampak yang dapat dilihat, yaitu banyaknya di antara kepercayaan dan amalan Muslim tradisional dianggap sebagai bid’ah . Tidak hanya itu, pengetahuan dan posisi kyai sebagai rujukan dalam prakti beragama juga dikritik,” ungkap Afriadi Putra dalam “Pemikiran Hadis KH. M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadis di Indonesia” dimuat Wawasan  Vol. 1 No. 1 Tahun 2016. Kyai Asy’ari sendiri dianggap sebagai salah seorang golongan Islam modernis paling awal di Indonesia. Dia mempelajari Islam di Mekah sejak 1893, dan mendapat kesempatan berguru kepada banyak ulama terkemuka di jazirah Arab. Pemikirannya tentang Islam dan kebebasan pun semakin terbuka. Sekembalinya dari Mekah, Kyai Asy’ari melakukan banyak pembaharuan terhadap ajaran Islam dan menggaungkan perjuangan melawan penjajahan. Berdakwah Melalui Kitab Kyai Asy’ari mempunyai metode berdakwah yang unik, yakni melalui penulisan kitab. Karena itu tidaklah aneh jika dia banyak  melahirkan karya kitab selama hidupnya. Sekira tahun 1920-an hingga 1930-an, Kyai Asy’ari menulis sebuah kitab bernama Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah fi Hadith al Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Bayan Mafhūm al-Sunnah wa al-Bid’ah . Kitab itu berisi hadis-hadis tentang kematian dan tanda-tanda hari kiamat, serta penjelasan tentang sunah dan bid’ah . Menurut Afriadi, kitab tersebut merupakan kunci untuk mempelajari pemikiran Kyai Asy’ari. Meski termasuk dalam golongan Islam modernis, Kyai Asy’ari tidak langsung menganggap ajaran tradsionalis salah atau bid’ah . Seperti diceritakan Lathiful Khuluk dalam Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari , disaat kaum modernis menilai pendirian madrasah sebagai bid’ah  karena tidak diajarkan, Kyai Asy’ari menilainya sebagai bid’ah yang baik dan dianjurkan. Maka melalui kitab Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah , dan kitab-kitab lainnya ,  Kyai Asy’ari mencoba menjawab keberagaman dan perbedaan dalam ajaran yang dianut umat Muslim Indonesia kala itu. Di dalam kitab-kitab karyanya juga Kyai Asy’ari memberikan pandangan tentang ajaran-ajaran Sunah , yang tidak selamanya buruk bagi umat Islam di Indonesia. “KH. Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan madzhab merupakan keuntungan bagi umat Islam dan tanda kebaikan Tuhan. Lebih lanjut, para sahabat Nabi pun mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai masalah agama. Perbedaan di antara mereka tidak mengurangi kualitas mereka karena mereka masih dianggap sebagai generasi umat Islam terbaik. Para Rasul juga dikirim dengan dibekali berbagai macam hukum yang semuanya menuju ke tujuan yang sama,” tulis Khuluk. Menjaga Persatuan Umat Pada 1926, Kyai Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi itu menjadi jalan baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran tentang ajaran Islam yang baik dan dapat diterima masyarakat Indonesia. Sejak pertama berdiri, NU dianggap sebagai wadah yang menyatukan kalangan modernis dan tradisionalis. Sebagaimana pendapat Kyai Asy’ari, imbuh Khuluk, yang dipakai sebagai dalil kaidah fiqh yang dipegang oleh NU: “menjaga tradisi yang baik, dan membangun inovasi yang lebih baik”. Dikisahkan Syaifruddin Jurdi dalam Kekuatan-Kekuatan Politik Indonesia , pada 1936, dalam kongres NU ke-11 di Banjarmasin, Kyai Asy’ari pernah menyampaikan pidato tentang kebersamaan di dalam keberagaman umat muslim Indonesia. Pada kesempatan itu dia meminta seluruh peserta kongres, yang datang dari berbagai kalangan, untuk mengesampingkan semua pertikaian dan perbedaan, serta membuang semua perasaan ta’assub (fanatik) dalam berpendapat. Kyai Asy’ari menyerukan kalangan tradisional dan modernis untuk bersatu demi kekuatan Islam yang solid. Pada kesempatan lain, Kyai Asy’ari juga mengingatkan agar umat Islam bersikap toleran terhadap pendapat orang lain, dan tidak menganggap pendapat pribadi yang paling benar. Hal itu semata dilakukan untuk menjaga tali persaudaraan antar umat muslim. Juga demi terciptanya kebaikan, serta menghindarkan diri dari kehancuran. “Jadi, kesamaan dan keserasian pendapat mengenai penyelesaian beberapa masalah adalah prasyarat terciptanya kemakmuran. Ini juga akan dapat mengokohkan rasa kasih sayang. Adanya persatuan dan kesatuan telah menghasilkan kebajikan dan keberhasilan. Persatuan juga telah mendorong kesejahteraan negara, peningkatan status rakyat, kemajuan dan kekuatan pemerintah, serta telah terbukti sebagai alat untuk mencapai kesempurnaan,” ujar Kyai Asy’ari seperti dikutip Khuluk. Kyai Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga pesantren dengan ajaran Islam yang kuat sejak kecil. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah pendiri pesantren Keras. Sementara kakeknya, kyai Usman adalah pendiri pesantren Gedang di Jombang. Hasyim Asy’ari sendiri mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang pada 1899 dan merupakan ayah dari Wahid Hasyim, sekaligus kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia wafat pada 25 Juli 1947.*

  • Pengalaman Mantan Direktur CIA di Indonesia

    JOHN O. Brennan diterima di Georgetown University di Washington D.C., tetapi memutuskan untuk kuliah ilmu politik di Fordham University di Bronx. Pada musim semi tahun pertama, dia diundang sepupunya, Tom Brokaw, untuk menghabiskan musim panas bersamanya di Indonesia. Tom bekerja sebagai petugas Food for Peace USAID di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Tom yang membayar tiket pesawat pulang-pergi. Tawaran untuk melepaskan diri dari kebosanan musim panas New Jersey terlalu bagus untuk dilewatkan.

  • Gotong Royong dalam Menghadapi Pandemi

    SELAMA masa pandemi banyak orang menanggung kesulitan hidup. Dari kehilangan pekerjaan, pemotongan pendapatan, sampai kerugian usaha. Sejumlah orang berinisiatif untuk mengurangi kesulitan sesamanya. Salah satu yang fenomenal adalah konser amal Didi Kempot Covid-19. Hasilnya dana Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada yang membutuhkan. Pada masa lalu, praktik mengatasi kesulitan bersama ini kerap tersua dalam sejarah Hindia Belanda. Misalnya terjadi saat wabah misterius sejenis tifus merebak di Jawa pada 1848. Menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market,  saat itu pemerintah kolonial memberlakukan karantina bagi para penderita. Segala kebutuhan mereka menjadi tanggungan pemerintah. Pemerintah kolonial berupaya menyediakan segala kebutuhan untuk penduduk dan para tenaga medis. Contohnya dengan menyediakan selimut dan obat kina. Penduduk pun ikut membantu mencukupi kebutuhan tetangganya yang terkena penyakit. Kejadian serupa terulang pada akhir dekade 1910-an. Kali ini, Hindia Belanda dilanda pandemi Flu Spanyol. Meski awalnya banyak yang meremehkan penyakit ini, pemerintah dan masyarakat akhirnya bergerak bersama untuk mengatasi pandemi. Pemerintah mulai mengatur kegiatan masyarakat selama pandemi. Salah satunya kewajiban memakai masker. Di masyarakat, cara-cara kultural dilakukan untuk pencegahan pandemi. Ini terjadi karena informasi tentang Flu Spanyol belum tersebar luas dan jelas. Cara kultural itu antara lain dengan menggelar doa bersama dan arak-arakan. Penyelenggaraan itu dilakukan dengan melibatkan banyak orang. Tanpa bayaran sepeserpun. Meski cara-cara itu justru bisa memperparah penyebaran, contoh ini menegaskan adanya keinginan masyarakat untuk bergotong royong menghadapi pandemi dan masa-masa sulit. Setelah pandemi Flu Spanyol, masyarakat Hindia Belanda diuji lagi oleh resesi ekonomi pada 1930-an. Jumlah pengangguran dan gelandangan di kota besar meningkat. Di desa-desa, petani juga kelimpungan. Gotong Royong Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah kemudian bergerak mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk meringankan masyarakat. Antara lain mengubah besaran pajak, membuka kursus keterampilan, dan menyalurkan bantuan langsung tunai. Gerak masyarakat muncul lewat praktik gotong royong. Mereka saling membantu mengatasi kesulitan. Bantuan bisa dari perorangan atau lewat organisasi dan koperasi; bisa pula dari sesama pekerja kepada pekerja lain yang dirumahkan. Di kampung, koperasi dan para pemilik warung atau toko kelontong memberikan kelonggaran kredit barang kepada penduduk yang dikenal baik. Sementara itu di kota, orang kaya kerap mendermakan sejumlah hartanya untuk para pengangguran. “Sebenarnya, masyarakat Indonesia di perkotaan jauh lebih dermawan dalam mendukung para pengangguran, tetapi dukungan diberikan pada tingkat personal, atau komunal melalui organisasi sukarela yang tidak berhubungan dengan pemerintah,” catat John Ingleson dalam Tangan dan Kaki Terikat . John Ingleson melanjutkan, organisasi pergerakan nasional dari berbagai paham ikut pula turun tangan menggalang dana untuk membantu masyarakat. Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah, Amelia Fauzia, dalam Filantropi Islam: Sejarah Kontestasi Masyarakat Sipil dan Negara di Indonesia  mencatat bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah getol menggalang semangat filantropi pada masa krisis melalui penyaluran zakat. Filantropi merupakan sebentuk gotong royong. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut praktik gotong royong terus berkembang memasuki abad ke-20 ketika kehidupan masyarakat kian sulit. Tak hanya di desa, tapi juga di kota-kota. “Selama dua atau tiga puluhan tahun pertama abad ini, maka timbullah kesan bahwa terdapat variasi yang banyak sekali dari bentuk gotong royong seperti yang berlaku di pelbagai daerah,” ungkap Sartono dalam “Kedudukan dan Peranan Sistem Gotong Royong dalam Perkembangan Masyarakat Indonesia”, termuat dalam  Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah . Bentuk-bentuk Budaya Gotong Royong Sartono mencontohkan bentuk-bentuk gotong royong itu antara lain slametan, sambatan , sumbangan, sinoman , dan krama atau seka . Slametan  biasanya berbentuk acara syukuran bersama warga atas tercapainya panen dan peringatan hari keagamaan. Bentuk ini tersua di Jawa dan Sumatra. Sambatan lazimnya muncul di daerah transmigrasi seperti Sumatra Selatan. Di wilayah ini tanah terhampar luas, tetapi penduduknya jarang. Mereka membentuk kelompok kecil yang disebut regu. “Ke dalam para anggota saling membantu, tetapi ke luar mereka menyediakan tenaga untuk membantu dengan ganti kerugian atau imbalan,” catat Sartono. Sambatan terdiri dari tiga jenis. Sambatan pembangunan desa, sambatan mendirikan rumah, dan sambatan  pertanian. Sumbangan menjadi praktik gotong royong paling umum pada awal abad ke-20. Sumbangan bisa dilakukan secara berkelompok atau perorangan. Saat masa sulit, di Yogyakarta organisasi berbasis Katolik dan Kristen Protestan getol menyediakan bantuan bagi kaum miskin dan penganggur terdampak. “Di antara mereka adalah Yayasan Bantuan Kemiskinan Yogyakarta (Vereniging Jogjasche Armenzong), Yayasan St. Elizabeth (St. Elizabethvereniging), Dewan Bantuan Kemiskinan Kristen Protestan (Diaconie der Protestansche Gemeente)…” ungkap Ben White dalam “Pengalaman Tiga Resesi: Yogyakarta Masa 1930-an, 1960-an dan 1990-an”, termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Organisasi tersebut bernaung dalam satu payung besar organisasi bernama Komite Umum Bantuan Kaum Miskin (Algemeene Armenscommissie) yang berdiri pada September 1935. Bantuan organisasi tersebut berupa uang tunai, pangan, dan tempat menginap gratis bagi orang-orang yang memenuhi syarat. Sartono menyebut bahwa sinoman sebenarnya bentuk gotong royong lama di Jawa Timur abad ke-19. Berbentuk perkumpulan tradisional, sinoman memiliki anggota pengurus seperti ketua dan juru tulis. Sinoman bertujuan saling membantu terkait kematian anggota atau keluarga perkumpulan, perkawinan, khitanan, dan pembangunan rumah. Satu sinoman dapat beranggota 25 sampai 20 orang. Gotong royong berbentuk krama atau seka muncul secara khusus di Bali pada awal abad ke-20. Salah satu contoh yang paling terkenal ialah krama subak . “Subak merupakan perkumpulan penggarap sawah yang mendapat air dari satu empul (bendungan) atau satu aliran air,” terang Sartono. Jenis krama lain meliputi krama desa, krama banjar , dan seka kelompok kesenian (gong, barong, joged janger). Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Tadjuddin Noer Effendi, dalam “Budaya Gotong Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini” Jurnal Pemikiran Sosiologi , Vol. 2 No. 1, Mei 2013, menyebutkan, gotong royong terus tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini tak lekang dihantam pandemi atau krisis ekonomi. Perubahan sosial dan ekonomi masyarakat tak menggerus gotong royong. Tadjuddin menyatakan kebertahanan gotong royong menghadapi zaman karena “gotong royong suatu paham yang dinamis, yang menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu-membantu.” Karena itulah, gotong royong tak hanya menjadi milik masyarakat perdesaan atau dunia pertanian. Ia juga kaprah dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Gotong Royong Kaum Buruh Serikat buruh tak ketinggalan pula ambil peran mempraktikkan gotong royong. Ini tampak dalam laku lampah Perserikatan Pekerja Pegadaian Hindia (PPPH). Serikat ini memiliki jumlah anggota yang besar dan termasuk serikat buruh terbesar di Hindia Belanda. Mereka memiliki 3.000 anggota. Dari jumlah itu, hampir setengahnya mengalami pemecatan pada masa krisis. Dalam masa krisis, PPPH meminta para anggota yang masih bekerja untuk menyisihkan uang bagi korban resesi. Dari penggalangan dana itu, PPPH menyalurkan bantuan sebesar 30 gulden kepada anggotanya yang di-PHK selama 1931. Tapi jumlah bantuan merosot menjadi 7,5 gulden untuk tiap orang memasuki 1932. Penyebabnya penerimaan dana sumbangan dari anggota PPPH berkurang akibat resesi berkepanjangan. Resesi menyulitkan anggota lainnya untuk mengeluarkan dana sumbangan. Selain membantu para anggotanya sendiri, PPPH menjalin kerja sama dengan serikat buruh dan organisasi lainnya untuk memudahkan ekonomi orang-orang di luar PPPH. “Membuat undian kooperatif yang terorganisir dan mengadakan malam kebudayaan, serta pertandingan sepakbola untuk membantu para pengangguran,” tulis John Ingleson. Di Bangka, para buruh Tambang Timah Bangka atau Bangka Tin Winning Bedrijft (BTW) berkebangsaan Eropa dan Indo berbuat serupa PPPH. Mereka mengumpulkan bantuan keuangan dan material untuk sesama pekerja Eropa dan Indo yang di-PHK. Caranya dengan menggelar berbagai pertunjukan hiburan di kota-kota di Bangka. “Upaya ini sangat berhasil sehingga bisa menggalang bantuan bagi orang Eropa yang menganggur di Batavia dan para korban bencana alam di Jawa,” catat Erwiza Erman dalam “Antara Lada dan Timah: Pengalaman Krisis di Bangka” termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis . Selain itu, para pekerja yang masih berpenghasilan mencoba bersama-sama menerapkan laku prihatin atau hidup sederhana sebagai bentuk solidaritas dalam masa sulit. Hal berbeda ditempuh oleh Pekerja Serikat Seluruh Indonesia (PSSI) di Surabaya pada 1931. Mereka tidak menyalurkan dana bantuan secara langsung untuk para penganggur, melainkan menggunakan dana tersebut untuk membuka lapangan kerja baru. Pembukaan itu hasil bahu-membahu antar anggota serikat dengan kemampuan berbeda. “Para ketua perserikatan mengakui bahwa skema tersebut hanya dapat membantu sejumlah kecil pengangguran di perkotaan, namun merupakan bagian penting dalam kerja bantuan mereka,” sebut John Ingleson. Gagasan Gotong Royong Sukarno-Hatta Bersamaan dengan masa resesi itu, Sukarno menulis dua artikel berjudul “Demokrasi Politik dan Demokrasi-Ekonomi” dan “Sekali lagi tentang Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi”. Dia mengemukakan gagasan dan sistem demokrasi dan ekonomi yang bertumpu pada semangat gotong royong. Bukan pada persaingan sesama rakyat jelata. Dua artikel tadi menjadi bentuk kritik atas kapitalisme yang kala itu telah dianggap sebagai biang kerok resesi ekonomi. Kelak semangat gotong royong ini kembali diulang oleh Sukarno dalam pidato di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Semangat gotong royong ini dijembarkan secara luas di berbagai macam bidang seperti politik, sosial, dan budaya melalui penggalian terhadap sejarah dan tradisi bangsa. Selama masa resesi itu pula, Mohammad Hatta juga berupaya mengembangkan praktik gotong royong di bidang ekonomi. Dia menulis gagasan tentang sistem ekonomi koperasi di koran Daulat Ra’jat pada 1933. Dalam pandangan Hatta, sistem ekonomi kapitalisme mempunyai banyak celah dan merugikan orang. Salah satunya resesi ekonomi. Karena itu, Hatta melihat kembali sistem ekonomi yang bertumpu pada asas gotong royong, tradisi turun-temurun yang hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia. Resesi ekonomi di Hindia Belanda berangsur hilang sejak 1937. Tapi tak semua wilayah mengakhiri resesi pada waktu bersamaan. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, kesukaran ekonomi masih tetap berlangsung. Jepang pun berupaya meraih simpati rakyat dengan menyentuh akar tradisi, yaitu mempropagandakan gotong royong. Namun, Jepang gagal karena melakukan penindasan sehingga menimbulkan antipati rakyat. Melalui sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Sukarno berpidato tentang Pancasila yang intinya adalah gotong royong. Pidato ini juga menjadi ikhtiarnya mengembalikan makna gotong royong yang sesuai sejarah dan tradisi bangsa Indonesia. Gotong royong untuk mewujudkan kemakmuran bersama sekaligus menjadi solusi ketika menghadapi masa sulit.*

  • Mereka yang Berjuang Dulu dan Sekarang

    Selain Agustus, bulan yang identik dengan perjuangan bangsa Indonesia adalah November. Bulan kesebelas dalam kalender tersebut merupakan bulan yang akan selalu dikenang oleh bangsa kita. Alasannya tentu saja adalah peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.  Perang tersebut membuat Sekutu kocar kacir. Bahkan, jenderal mereka A.W.S Mallaby tewas. Perang yang diakui oleh pasukan Inggris sebagai perang terdahsyat mereka pasca Perang Dunia II tersebut memakan ribuan korban dari kedua belah pihak. Untuk mengenang mereka yang gugur, maka Presiden Sukarno menentapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Kiri: Ratusan demonstran pro-RMS saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 1950. ( geheugendelpher ). Kanan: Ribuan mahasiswa dan buruh saat melakukan unjuk rasa di Jakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, setelah 75 tahun merdeka ternyata perjuangan bangsa Indonesia tidak berhenti. Mungkin saat ini kita tidak berperang dengan senjata seperti masa lalu, namun pada kenyataannya musuh yang dihadapi pun tidak kalah dahsyat. Bila dulu para pejuang kita berjuang melawan para penjajah, saat ini kita berperang dengan berbagai masalah kehidupan. Kiri: Potret seorang tukang becak di sekitar Klaten tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang tukang becak saat menunggu penumpang di Jogjakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Pemandangan aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta sekitar tahun 1947. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Aktivitas kapal di pelabuhan Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Buruh angkut di pelabuhan Jakarta tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Buruh angkut di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 2020. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mulai dari kemiskinan yang belum ada solusi, banjir yang sampai saat ini terus menghantui berbagai kota di Indonesia, hingga berbagai seruan demonstrasi akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah. Para pejuang bangsa tentu bukan saja orang yang menjaga keamanan negeri ini, namun juga ada dalam diri berbagai manusia, contohnya adalah para atlet yang berjuang mengharumkan nama bangsa di setiap pertandingan, pemimpin bangsa yang terus memperjuangan kehidupan negara dan kelas pekerja yang terus bekerja agar mendapat kehidupan yang layak. Mereka semua yang bejuang dulu dan kini, pada kenyataannya hanya berbeda waktu dan zaman saja, namun selebihnya semua sama. Mereka semua berjuang untuk sebuah kehidupan di negeri ini. Kiri: Warga saat menyusuri banjir dengan membawa barang di Surabaya tahun 1947. (National Archief). Kanan: Warga membawa barang mereka saat banjir di Kelapa Gading, Jakarta, tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang penjual telur di pasar tradisional di Jawa tahun 1940-an. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang pedagang bawang putih di pasar Yogyakarta tahun 2019. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang pedagang berpose dengan sepedanya sekitar tahun 1940. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Tukang kopi keliling saat menjajakan jualanya di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Para peserta lomba lari di kawasan Deca Park tahun 1948. (RG Jonkman). Kanan: Para atlet muda yang berlomba di Velodrome Rawamangun. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kiri: Seorang anak tertidur pulas di depan pagar bambu. (Cas Oorthuys/Geheugen Delpher). Kanan: Seorang anak penjual koran tertidur di kawasan Menteng. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Membuka Tabir P.V. Gopalan, Kakek Kamala Harris

    EUFORIA kemenangan pasangan Joe Biden-Kamala Harris dari Partai Demokrat atas pasangan Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik di Pilpres Amerika Serikat pekan lalu terasa sampai ke Desa Thulasendrapuram, Negara Bagian Tamil Nadu di India selatan. Desa tersebut merupakan tempat kelahiran kakek Kamala dari garis ibu, Painganadu Venkataraman Gopalan. “Kami tak melepas pandangan dari televisi dan segenap keluarga sangat bahagia ketika beritanya tiba. Kami sangat senang dia telah menuliskan sejarah baru,” tutur Dr. Sarala Gopalan, tante Kamala, kepada The Hindu , Senin, 9 November 2020. Selain menjadi perempuan pertama yang terpilih jadi wakil presiden (wapres), Kamala juga tercatat jadi wapres pertama berdarah Afro (Jamaika) dari pihak ayahnya, Donald Jasper Harris; dan India dari pihak ibunya, Shyamala Gopalan. “Ibunya menjadi sumber inspirasi yang besar bagi Kamala. Kakak saya selalu percaya kepadanya, bahwa dia harus mengejar cita-cita besar. Jika kami menjadi perempuan tangguh dalam keluarga, tak lain berkat ayah saya PV Gopalan. Di 1950-an ketika kakak saya, Shyamala, mendapat beasiswa studi di Amerika, ayah mendukungnya. Keluarga lain mungkin ragu mengirim anak gadis 18 tahun pergi sendirian ke luar negeri,” lanjutnya. Dalam memoar yang ditulisnya pada 2019, The Truths We Hold: And American Journey , Kamala juga mengagungkan sosok kakeknya itu. Disebutkan Kamala, P.V. Gopalan termasuk salah satu tokoh pejuang kemerdekaan India. “Kakek saya P.V. Gopalan telah menjadi bagian dari pergerakan untuk memenangkan kemerdekaan India. Pada akhirnya dia menjadi diplomat senior di pemerintahan, di mana dia dan nenek saya lama tinggal di Zambia yang juga baru merdeka untuk membantu para pengungsi,” tulis Kamala. Kendati begitu, banyak yang meragukan klaim Kamala. Tak terkecuali internal keluarganya sendiri. Siapa sebenarnya P.V. Gopalan? Bersama Joe Biden, Kamala Harris memenangi Pilpres Amerika Serikat 2020. (Instagram @kamalaharris). Di Bawah Panji Kolonial Tak banyak catatan yang menguraikan kisah hidup Gopalan sejak lahir di Thulasendrapuram tahun 1911. Bahkan Central Bureau of Investigation (CBI) atau semacam FBI di Amerika sejak lama kesulitan melacak jejak-jejak masa kecilnya. Hanya sedikit informasi yang tersedia, mengenai pendidikan layak Gopalan yang dimungkinkan karena ia berasal dari keluarga kasta tertinggi. “Tak banyak yang bisa diketahui tentang pendidikannya. Seperti kebanyakan orang Brahmana tradisional di masa itu, sepertinya dia pindah ke ibukota Delhi untuk mencari pekerjaan di pemerintahan,” tulis Raghava Krishnaswami Raghavan, Direktur CBI periode 1999-2001, di kolomnya yang dimuat CNN News18 , 17 Agustus 2020. “Karena di masa itu hampir tidak ada sektor swasta yang mau menerima orang-orang muda dari desa untuk dipekerjakan. Sebaliknya di pemerintahan pusat di Delhi, justru selalu menyambut hangat para lulusan muda, terutama dari kawasan selatan karena orang-orang Madras (Tamil, red .) dikenal sebagai orang-orang yang lembut, patuh, dan loyal, ditambah pengetahuan yang solid akan bahasa Inggris,” lanjutnya. Gopalan kemudian diterima menjadi birokrat di Imperial Secretariat Service (Badan Kesekretariatan) di pemerintahan kolonial British India. Lantas pada 1930-an, Gopalan dikirim bertugas ke Semenajung Malaya (kini Malaysia) untuk menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah berbahasa Inggris di Malaka, Lorong Panjang English School. Menyongsong pengangkatan George VI sebagai raja Inggris pada 1937, Gopalan turut menyiapkan buklet “Coronation Souvenir” yang disebarkan di Malaka. “Buklet pemahkotaan untuk kawasan Malaka dibuat seorang guru dan kepala sekolah asal Tamil P.V. Gopalan, di mana dalam bukletnya menyatakan: ‘Tidak satupun warna kulit, suku, maupun gelombang besar akan memecah-belah persemakmuran (Inggris),’” ungkap Lynn Hollen Lees dalam Planting Empire, Cultivating Subjects: British Malaya, 1786-1941. P.V. Gopalan yang lahir dari kasta Brahmana menduduki jabatan tinggi di pemerintahan kolonial British India. (Wikipedia). Dalam buklet itu Gopalan bersama birokrat asal Tamil lain, Sangara Pillai Rajaratnam, mengajak semua masyarakat di Melaka sebagai salah satu unsur dari wilayah kolonial British Malaya yang kosmopolitan untuk tidak terprovokasi menjelang pengangkatan George VI. Pasalnya, sejak 1935 muncul bibit-bibit perpecahan akibat isu penentangan terhadap para elit lokal yang jadi kepanjangan tangan para bangsawan Inggris. “Tentu saja Gopalan dan Rajaratnam paham bahwa hal-hal yang berbau Inggris selalu didefinisikan secara sempit oleh masyarakat lokal. (Sejarawan) Anthony Stockwell menggambarkan perilaku sosial orang-orang Eropa di Malaya sebagai ‘tribalisme putih’ berdasarkan keyakinan akan inferioritas kultur dan biologis orang Asia,” sambung Lees. Oleh karena Gopalan berada di Malaya pada 1930-an, maka klaim Kamala Harris bahwa kakeknya bagian dari pergerakan nasional untuk memerdekakan India pun beraroma dusta. Aroma dusta bahkan diperkuat oleh pernyataan, Balachandran Gopalan, adik kandung Shyamala Gopalan, yang mengatakan bahwa ayahnya, PV Gopalan, bukan bagian dari para tokoh perjuangan kemerdekaan India. “Tidak ada catatan bahwa dia (Gopalan) terlibat dalam hal lain selain seorang pegawai negeri semata. Jika dia melakukan advokasi terbuka untuk mengakhiri kekuasaan Inggris, dia akan dipecat,” terang Balachandran kepada LA Times , 25 Oktober 2019. Keistimewaan Kasta Brahmana Ketika para tokoh lain bergelut melawan kolonialisme Inggris, Gopalan justru selangkah demi selangkah melejitkan kariernya sebagai abdi kolonial. Pasca-India merdeka, karena statusnya sebagai mantan birokrat kolonial berkasta Brahmana, Gopalan kembali masuk ke pemerintahan, yakni di Direktorat Perhubungan Darat, Kementerian Transportasi Gopalan. Dia terakhir menjadi diplomat di Zambia. Menukil arsip “Gazette of India, 1956, No. 34”, Gopalan dengan status birokrat Golongan I bertugas di Direktorat Perhubungan Darat hingga 30 Desember 1955 dan mulai 31 Desember secara efektif dimutasi ke Kementerian Rehabilitasi. Dalam tugas barunya inilah kemudian Gopalan jadi Direktur Urusan Pengungsi di Zambia. “Waktu itu hampir semua tokoh muda direkrut sebagai asisten di sejumlah kementerian. Seperti paman saya yang juga berasal dari golongan elit. Setiap asisten, kecuali dia terlalu medioker atau indisipliner, pasti akan mendaki tangga jabatan dan pensiun sebagai joint-secretary (menteri bersama),” sambung Raghavan.  “Beberapa orang yang dipromosikan, seperti dari suku Gopalan, mendapat keistimewaan penempatan di luar negeri di pengujung kariernya. Ini yang jadi faktor Gopalan bisa ke Zambia menjadi Direktur Urusan Pengungsi. Seperti tipikal semua birokrat asal selatan India, ia tak pernah teralihkan selain berkonsentrasi pada pekerjannya, mendapatkan uang dari gaji dan reputasi,” tambahnya. Pernyataan itu turut diamini Tanvi Kohli dalam kolomnya, “Kamala Harris’s American Journey: Caste, Global Mobility, and State Power” yang dimuat Jamhoor , 1 November 2020. Menurutnya, reputasi dan melejitnya karier Gopalan tak semata-mata diraih secara mandiri, melainkan juga memanfaatkan status kastanya. “Keluarga (Kamala) Harris mengilustrasikan bagaimana kasta, kelas, dan mobilitas global erat berkaitan dengan pekerjaan di pemerintahan, pendidikan kelas tinggi, jaringan sosial dan kesempatan untuk bermigrasi. Kakek Harris, P.V. Gopalan adalah pegawai pemerintahan sejak era kolonial –sebuah posisi yang memungkinkan untuk putrinya pindah ke Amerika,” tulis Kohli. Kamala Harris (tengah) saat mengunjungi kakeknya, PV Gopalan (kiri) & neneknya Rajam Ayyar (kanan) ke India pada 1972. (Instagram @kamalaharris). Banyaknya pengalaman Gopalan sebagai birokrat didapatnya dari Kesekretariatan Negara di era British India, lalu Kesekretariatan Pusat pasca-kemerdekaan. Di Zambia, Gopalan bertugas pada masa krisis pengungsi yang diakibatkan imperialisme Inggris yang di mana sebelumnya membawa banyak orang dari Rhodesia (kini Zimbabwe) ke Zambia untuk dijadikan pekerja pertambangan di Matabeleland. Krisis yang mengakibatkan pengungsian itu berakar dari kemerdekaan Zambia, 24 Oktober 1964. Kemerdekaan itu diperoleh dari gerakan yang banyak dibantu para pendatang Rhodesia sebelum dan sesudah Perang Dunia II. “Inggris melakukan langkah perhitungan dengan mendorong petisi dan sanksi embargo terhadap Zambia di PBB, seraya membiayai perang gerilya yang mengakibatkan kehancuran masif dan krisis pengungsi. Ironisnya kemudian seorang birokrat dari bekas koloni Inggris lainnya dikirim untuk mengurusi pengungsi. Itu tak terlepas dari kasta dan status kelas Gopalan yang memfasilitasi kariernya mendaki tangga jabatan ke posisi yang tinggi di pemerintahan India,” urai Kohli. Pada era 1980-an setelah pensiun, Gopalan menghabiskan sisa umurnya bersama istrinya, Rajam Ayyar, dengan beristirahat di apartemen mewah di kawasan eksklusif Besant Nagar, Chennai. Pada Februari 1998, di usia antara 86-87 tahun, Gopalan tutup usia.

  • Antara Habib Rizieq Shihab dan Ayatullah Khomeini

    Kehadiran kembali Habib Rizieq Shihab (HRS) di Indonesia pada 10 November 2020 menyedot perhatian masyarakat. Nikita Mirzani, salah satu selebritas, menyebut kedatangan HRS disambut gila-gilaan. Dia juga menyebut Habib sebagai tukang obat. Karuan aksinya beroleh tanggapan lebih keras dari pendukung HRS seperti Maaher at-Thuwailib. Maher mengatakan Nikita menghina Habib. Dia berjanji akan mengerahkan 800 orang untuk mengejar Nikita. Orang ini jugalah yang menyamakan HRS dengan Ayatollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran pada 1980-an. Di twitter -nya, dia bilang perbedaan HRS dan Khomeini hanya terletak pada Syiah dan Sunni. Benarkah begitu? Lahir 24 September 1902 di Khomein, Persia Tengah, Khomeini bernama lengkap Ruhollah Musavi Khomeini. Dia putra dari Mostafavi Musavi, seorang penentang Dinasti Qajar yang berkuasa ketika itu di Persia. Saat berumur lima bulan, Khomeini kehilangan ayah. Orang-orang bayaran dari Dinasti Qajar membunuhnya. Khomeini kecil telah terbiasa dengan hidup keras. Dia terbiasa dengan perang dan mempertahankan wilayahnya dari serangan orang-orang bayaran Dinasti Qajar. “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang… Saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh  (dianggap mampu bertanggung jawab, red .), saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami,” kata Khomeini seperti tersua dalam Imam Khomeini dari Lahir hingga Wafat  terbitan Islamic Culture and Relations Organization. Khomeini remaja kemudian hijrah ke kota Qom untuk mendalami ilmu agama pada 1921. Kota Qom adalah kota intelektual bagi orang-orang Syiah di Persia. Di sini para murid juga mempelajari filsafat dan irfan atau pengetahuan kebatinan tentang Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Khomeini mengajar di Najaf, sekarang menjadi bagian Irak. Selama menjadi pelajar di Qom dan pengajar di Najaf, Khomeini menyaksikan sejumlah perubahan politik dan sosial di negerinya. Kerajaan Rusia runtuh pada 1917 oleh Revolusi Bolshevik. Padahal kerajaan itu pendukung kuat Dinasti Qajar. Akibatnya, Dinasti Qajar kehilangan sokongan dan jatuh pada 1925. Reza Khan tampil menggantikan penguasa sebelumnya. Dia mendirikan dinasti baru bernama Pahlevi dengan sokongan Inggris. Reza Khan memimpin Persia dengan cara-cara tiran. Dia mirip pendahulunya, memberangus lawan-lawan politiknya. Termasuk pula kalangan agamawan. Protes menguar. Reza Khan mengeluarkan Revolusi Konstitusional yang membagi kekuasaan dalam tiga bidang: yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Langkah ini dinilai mampu membuat protes mereda. Tapi sebenarnya gerakan oposisi yang digalang kaum agamawan masih bergerak di bawah tanah. Pada 1935, Reza Khan mengubah nama Persia menjadi Iran. Menjelang Perang Dunia II, Reza Khan menjalin hubungan dengan Jerman. Kedekatan ini mengganggu hubungan Iran dengan Inggris dan Rusia. Keduanya memiliki sejumlah konsesi minyak di Iran dan berseberangan dengan Jerman. Karena kedekatan itu, Inggris dan Rusia bertindak menyingkirkan Reza Khan. Raja itu pun jatuh dan diganti oleh anaknya, Reza Pahlevi. Reza Pahlevi menginginkan Iran yang maju dan setara dengan negara-negara Barat. Dia sangat dekat dengan Amerika Serikat. Selama memerintah pada 1960-an, dia mendatangkan 60.000 orang Amerika Serikat. Terdiri dari ahli dan tenaga kerja asing. “Kedatangan mereka menyebabkan benturan kebudayaan yang terlalu brutal,” catat Nasir Tamara dalam Revolusi Iran . Reza Pahlevi juga menempuh cara-cara tiran dalam memerintah. Dia menutup sekolah dan universitas di Teheran. Tapi justru membangun kekuatan teror lewat polisi rahasia bernama SAVAK untuk menculik, menyiksa, dan membunuh lawan politiknya. Amnesti International mencatat setidaknya 100 ribu orang menjadi tahanan politik sepanjang pemerintahan Reza Pahlevi. Khomeini telah mengamati perubahan itu sejak dia masih remaja. Dia kerap berdiskusi dengan teman-temannya tentang kerusakan-kerusakan negerinya dan bagaimana memperbaikinya. “Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa diktator dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah (perguruan tinggi, red .),” ungkap tim Islamic Culture and Relations Organization. Nama Khomeini telah dikenal luas di kalangan kaum agamawan Iran sejak naiknya Reza Pahlevi sebagai penguasa pada 1940-an. Dari kaum agamawan, Khomeini turun membangun jaringan dengan masyarakat luas. Dia percaya sebelum membangkitkan peran ulama, hubungan spiritual ulama dan masyarakat harus kuat. Selain itu, Khomeini mulai rajin menulis buku dan artikel untuk membangun jiwa masyarakat. Beberapa buku dan artikelnya juga berisi kritik dan tinjauan atas Dinasti Pahlevi. Karena kritiknya, dia ditangkap dan ditahan rezim Reza Pahlevi selama delapan bulan pada 1964. Selepasnya dari tahanan, kritik Khomeini pada rezim Reza Pahlevi makin keras. Rezim menangkapnya lagi dan membuangnya ke Turki dan Irak. Selama masa pembuangan ini, Khomeini memberikan dukungan berupa uang dan pikirannya untuk orang-orang Palestina. Dari Irak pula, Khomeini tetap mengamati perkembangan di Iran. Rezim Reza Pahlevi makin menindas. Ratusan orang tewas setiap tahunnya karena menentang rezim Reza Pahlevi. Kritik-kritik Khomeini terungkap dalam kaset-kaset ceramahnya. Kaset-kaset itu tersebar luas di Iran dan mendapat tempat di kelompok opisisi, di luar kalangan Islam seperti anggota partai komunis Iran dan orang-orang nasionalis sekuler. Seluruh kelompok oposisi berbagai aliran berada di belakang Khomeini. Karena sepak terjangnya, nyawa Khomeini di Irak terancam. Tentara Irak mengepung rumahnya di Irak. Tapi dia berhasil lolos dan tinggal di sebuah wilayah pinggiran Paris, Prancis, sejak 14 Mei 1978. Pemerintah Prancis meminta Khomeini menghentikan segala aktivitas politik. Tapi Khomeini tetap melancarkan ceramah-ceramahnya. Orang-orang di Iran mulai bergerak. Mereka turun ke jalan dan berteriak, “Hidup Khomeini, Mampuslah Shah.” Militer menembaki pemrotes. Banyak orang gugur, tapi benih-benih perlawanan malah tumbuh lebih banyak. Buruh, dokter, wartawan, petani, pelajar, dan mahasiswa mogok nasional. Amerika Serikat mulai mengendurkan dukungannya pada Reza Pahlevi. Menteri-menterinya juga mulai mengundurkan diri. Reza Pahlevi kehilangan dukungan. Dia pergi dari Iran pada 16 Januari 1979. Orang-orang Iran bersuka-cita atas kepergian itu. Mereka juga berharap Khomeini bisa segera kembali ke Iran. Pada 1 Februari 1979, Khomeini menjejakkan kakinya kembali di Iran. Dia disambut luas oleh gerakan perlawanan yang digalang sejak lama dan melibatkan berbagai kelompok. Nasir Tamara, wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan langsung peristiwa itu, sampai susah mengungkapkannya, “Penyambutannya sulit digambarkan dengan kata-kata… Betapa populernya Khomeini dan bahwa tak mungkin bagi orang lain untuk memerintah Iran tanpa persetujuannya.” Sementara itu, sepak terjang HRS muncul justru setelah jatuhnya rezim diktator Soeharto. Dia mendirikan Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta, pada 17 Agustus 1998. FPI bergerak sebagai “hakim jalanan” dengan mengubrak-abrik tempat hiburan malam yang dianggap sarang maksiat. “FPI muncul sebagai kekuatan baru di jalanan, dengan citra berjuang bukan demi uang, wilayah kekuasaan, atau patronase politik, melainkan membela Islam,” sebut Ian Wilson dalam Politik Jatah Preman. Sebagai ketua umum, nama HRS mulai kesohor. Tapi dia baru mendapatkan momen politiknya sejak kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada 2016. HRS juga belum banyak membuat buku. Selain itu, tak semua kelompok oposisi di Indonesia berada di belakangnya.       Dari sini, orang bisa melihat perbedaan besar antara sepak terjang HRS dan gerakan perlawanan Khomeini. Begitu pula dengan gambaran penyambutan keduanya.

  • Ketakutan Bung Karno

    LETNAN J.B. Schussler masih ingat wajah Sukarno saat pertama kali melihatnya sebagai penawannya di serambi Istana Presiden Yogyakarta. Kendati berusaha tenang, namun komandan peleton Korps Pasukan Khusus (KST) KNIL itu menangkap kegelisahan dari bahasa tubuh pimpinan kaum republiken tersebut. “Yang pertama-tama ditanyakan oleh Sukarno dengan nada khawatir adalah apakah Kapten Westerling yang ditakuti itu adalah komandan kami?” kenang Schussler seperti dikutip Lambert Giebels dalam bukunya, Soekarno: Biografi 1901-1950.

  • Soebandrio, CIA, dan BVD

    PRESIDEN Sukarno memberikan amanat kepada para pemimpin dari tujuh partai politik di Guest House Istana Merdeka, Jakarta pada 27 Oktober 1965. Dia mengajak untuk menjaga keselamatan negara dan revolusi dengan mengawasi segala usaha dari nekolim (neo kolonialisme dan imperialisme) dan CIA.

  • Gerakan Kaum Intelektual di Ranah Minang

    Permulaan abad ke-20, kekuasaan Belanda masih mengakar kuat di seluruh wilayah Sumatra Barat. Kendati demikian, perlawanan rakyat pun tidak henti-hentinya dilakukan, baik oleh kaum tua maupun oleh kaum muda. Meski keduanya sama-sama bergerak untuk kebebasan ranah MInang dari belenggu penjajahan, ada perbedaan mendasar yang menghalangi kedua kelompok untuk bersatu, yakni pandangan tentang Islam. Kondisi itu tentu merugikan karena kekuatan rakyat untuk berjuang menjadi terpecah. Dituturkan Jajat Burhanuddin dalam Islam dalam Arus Sejarah Indonesia , kaum tua dikenal sebagai golongan Islam-Tradisionalis, sementara golongan muda acap dikaitkan dengan kelompok Islam-Reformis. Kaum tua percaya bahwa Islam sebagai agama tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adat istiadat. Sehingga dalam prakteknya, kelompok ini sering menggabungkan kepercayaan kepada Tuhan dengan kepercayaan kepada roh nenek moyang. Di sisi lain, kaum muda memisahkan kedua nilai tersebut. Mereka percaya bahwa Islam harus dijalankan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, tanpa sedikitpun memasukkan unsur adat di dalamnya. Gerakannya hampir serupa dengan kaum Padri. Mereka juga meyakini bahwa perubahan ke arah kemajuan di berbagai sektor kehidupan perlu dijalankan. Masyarakat tidak bisa hanya terkurung di dalam keyakinan adat istiadat semata. Keyakinan kaum muda itulah yang kemudian selalu dikaitkan dengan kemajuan intelektual di Minangkabau pada abad ke-20. “Di Minangkabau, gagasan tentang kemajuan adalah inti dari konflik-konflik kaum cendekiawan dalam beragam pokok masalah seperti adat dan agama. Retorika selama dua puluh tahun pertama abad kedua puluh membandingkan yang “muda” yang didefinisikan sebagai simbol kemajuan, dengan yang “tua” yang dipandang sebagai terbelakang dan konservatif,” kata Yuliandre Darwis dalam Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945) . Gesekan antara kaum muda dan kaum tua juga tidak hanya terjadi di ranah agama saja, tetapi sudah merambah kepada urusan sosial-politik di masyarakat. Alam pikir golongan tua oleh kaum muda dianggap sebagai kemunduran intelektual. Mereka yang masih memisahkan satu kelompok dengan kelompok lain atas dasar status sosial, serta berpikir bahwa kekuasaan didapat secara turun temurun berdasarkan garis keluarga, dinilai dapat merusak tatanan kehidupan di Sumatra Barat. Untuk itu, kaum muda menyerukan berbagai gerakan pembaharuan, di antaranya dengan membangun sekolah dan menyebarkan dakwah melalui media massa. Sekolah Kaum Muda Gerakan untuk melakukan perubahan dari kaum muda diyakini sebagai gerakan Islam modern di Minangkabau. Ada begitu banyak tokoh yang terlibat di dalam gerakan reformis tersebut. Beberapa di antaranya merupakan murid-murid Syekh Ahmad Khatib, seperti Syekh Djamil Djambek, Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), Haji Abdullah Ahmad, dan Syekh Thaib Umar. Di antara tokoh-tokoh tersebut, ada yang sampai membuat sebuah sekolah untuk mempermudah penyampaian gagasan-gagasan reformis yang diyakini para kaum muda, seperti perlawanan, perjuangan, kebebasan, dan kemerdekaan. Abdul Karim Amarullah misalnya, mendirikan perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Sekolahnya itu merupakan kelanjutan dari lembaga pendidikan di Surau Jembatan Besi, yang mulanya mengajarkan pelajaran fiqih dan tafsir Al-Qur’an dengan cara-cara tradisional. Ketika Haji Rasul masuk sebagai pengajar, kurikulum yang ditekankan di sana berubah menjadi ilmu aplikatif. Para santri harus memiliki kemampuan menguasai bahasa Arab dan percabangannya. Hal itu dimaksudkan agar mereka mampu mempelajari sendiri kitab-kitab yang lambat laun akan mendekatkan mereka kepada dua sumber dalam Islam: Al-Qur’an dan Hadits. Perubahan-perubahan di dalam Sumatra Thawalib terus dilakukan. Bahkan dicatat Darwis, perubahan sistem pendidikan di sana memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun. Sistem pembagian kelas, penggunaan buku pelajaran, sarana dan prasarana sekolah, hingga kurikulum pendidikan, membuat Thawalib menjadi lembaga pendidikan yang berpengaruh di Minangkabau. “Sekolah Thawalib khusus mengajarkan teori dan aspek filosofi dalam Islam. Tujuannya adalah untuk menghasilkan lulusan yang mampu berpikir mandiri dan bertindak sebagai pembaharu agama di masyarakat,” kata Sally White dalam Rasuna Said: Lioness of the Indonesian Independence Movement . Selain Thawalib, sekolah lain yang dinilai melambangkan kemajuan pendidikan modern di Minangkabau adalah Sekolah Diniyah. Lembaga pendidikan yang telah ada sejak 1915 di Padang Panjang itu didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunus. Sekolah Diniyah ini mengenalkan sistem pendidikan modern di Sumatra Barat. Menurut Sally, mereka mempelopori penggunaan buku teks, dan jenjang kelas untuk berbagai tingkatan usia. Sekolah Diniyah juga membuka cabang sekolah khusus untuk perempuan. Dikelola oleh Rahmah El Yunusiah, sekolah ini mengajarkan agar perempuan tidak kalah dari kaum pria dalam urusan pendidikan. Motto sekolah itu adalah “menjadikan perempuan pengajar di rumah, di sekolah, dan di masyarakat”. Mereka juga mengajarkan keterampilan untuk kaum putri. “Lembaga pendidikan yang dimotori oleh kaum muda ini mengembangkan cara belajar dan mengajar dengan meniru metode pendidikan modern. Metode pengajaran seperti ini tidak lagi hanya mengandalkan penjelasan dari guru melainkan juga menyebarluaskan penggunaan buku bacaan sebagai sumber ilmu yang lebi penting,” ungkap Sastri Sunarti dalam Kajian Lintas Media: Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau . Majalah Pergerakan Tidak hanya membangun sekolah, para kaum muda ini juga menggunakan media yang sedang populer digunakan kelompok-kelompok pergerakan kala itu, yakni surat kabar dan majalah, sebagai sarana pembaharuan di Minangkabau. Mereka banyak menuangkan gagasan-gagasan tentang kemajuan, serta ilmu agama Islam di sana. Pada 1911, terbit majalah Islam pertama di Minangkabau, yaitu Al-Munir . Pelopornya adalah Haji Abdullah Ahmad. Al-Munir banyak menerbitkan berita, opini, serta tulisan-tulisan pendek dari tokoh-tokoh kaum muda. Majalah itu menjadi sarana pertama mereka menyebarluaskan ide-ide tentang kemajuan di ranah Minang. Al-Munir  juga banyak menyadur analisis sejumlah tokoh besar Timur Tengah, termasuk tentang kemunduran agama dan dunia Islam yang mengakibatkan dunia Barat mendominasi. “Artikel di majalah ini cukup beragam. Antara lain mencakup masalah-masalah duniawi sampai artikel-artikel yang bersifat filosofis tetapi masih berkaitan dengan masalah agama. Sebagai contoh adalah pengajian masalah-masalah tauhid,” tulis Darwis. Namun usia Al-Munir rupanya hanya seumur jagung. Pada 1916, penerbitannya terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya produksi. Selain itu, masih banyak tokoh pergerakan Minang yang tidak maksimal memanfaatkan sarana media massa ini. Sebagai penggantinya, dua tahun kemudian terbit majalah lain, yaitu Munirul Manar , yang penerbitannya dipimpin Zainuddin Labai El Yunusi. Serupa dengan Al-Munir , majalah Munirul Manar juga isinya tidak jauh dari ide ide pembaruan. Bahkan dari tataletak, corak, dan konten dalam majalah hampir seluruhnya sama. Perbedaan yang terlihat hanya pada isi mazhab yang dipakai ketika menjawab soal-soal agama. Jika Al-Munir hanya berlandaskan mazhab Syafi’I, Munirul Manar menjawabnya dengan hampir semua mazhab yang terdapat dalam Islam. Majalah Islam lain yang cukup berpengaruh di Minangkabau adalah Al-Bayan . Majalah ini diterbitkan pertama kali pada 1919 di Bukittinggi di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa Parabek. Majalah ini selanjutnya berada di bawah naungan Sumatra Thawlib, bersama majalah-majalah Islam lainnya seperti Al-Iman , Al-Ittiqan , Doenia Achirat , Al-Basyir , dan sebagainya. “Masyarakat pendukung majalah-majalah Islam yang terbit di Minangkabau ternyata cukup banyak dan beragam. Masyarakat pembacanya tidak hanya terbatas pada lingkungan Minangkabau sendiri, tetapi jauh lebih luas dari daerah itu. Para pendukung pers Islam ini bukan semata-mata orang-orang ahli dalam bidang agama tetapi juga berasal dari lapisan masyarakat yang awam tentang agama,” ungkap Darwis.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page