top of page

Istri Jenderal Minta Panser

Khawatir akan keselamatan sang suami, Nyonya Djamin Gintings bersikeras meminta kendaraan lapis baja.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor Jenderal TNI Djamin Gintings bersama istrinya, Likas Tarigan. (Repro Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir).

  • 5 Agu 2019
  • 2 menit membaca

HATI Likas Tarigan ketar-ketir begitu mendengar sejumlah jenderal teras TNI AD di jajaran Staf Umum AD (SUAD) menghilang pada 1 Oktober 1965.  Pasalnya, suami Likas yakni Mayor Jenderal TNI Djamin Gintings yang termasuk perwira tinggi SUAD  (menjabat Asisten II/Operasi dan Latihan Menpangad) juga saat itu tak jelas keberadaannya . Berita dari radio dan televisi memberikan kabar simpang siur, salah satunya adalah bahwa para jenderal itu diculik oleh pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 Septebmer.


“Aku bertanya dalam hati, di mana suamiku kini berada? Hubungan telepon terputus di mana-mana,” kenang Likas dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit: Biografi Likas Tarigan Jamin Gintings karya Hilda Unu Senduk.


Djamin Gintings ketika itu sedang kunjungan kerja mendampingi rombongan Menteri Luar Negeri Soebandrio di Medan. Untuk memastikan suaminya aman, Likas bergegas ke lapangan terbang Kemayoran. Tujuannya adalah menitipkan sepucuk surat kepada pilot pesawat terbang yang menuju Medan. Isi surat itu singkat saja: “Apa kabar Abang di sana? Kami sehat dan selamat di sini. Selamatkanlah dirimu.”


Di Bandara Kemayoran ada satu pesawat yang siap lepas landas. Tanpa pikir panjang, Likas nekat mengejar pesawat ke landasan pacu. Seorang tentara yang mengenalinya turun dari pesawat. Kepada prajurit itulah Likas menitipkan suratnya.


Kendati demikian, batin Likas belum cukup tenang. Selanjutnya dia menghubungi Mayor Jenderal TNI Pranoto Reksosamudra, Asisten III/Personalia Menpangad. Pranoto coba menenangkan istri koleganya itu. Kata Pranoto, “Sepanjang pengetahuan saya, Jamin tidak mendapat bahaya. Tapi saya tidak tahu di mana dia berada. Sudahlah, Ibu tenang saja di rumah.”


Likas masih belum puas sebelum mendengar kabar suaminya selamat. Kali ini dia menelepon Brigadir Jenderal TNI Josep Muskita yang menjabat wakil Asisten II, wakilnya Djamin Gintings. Dalam sambungan telepon itu terjadilah percakapan antara keduanya.


“Pak, saya minta panser,”  kata Likas tegas.


“Untuk apa, Bu,” tanya Muskita heran.


“Saya mau ke rumah Bapak Soebandrio,” jawab Likas.


“Ibu tahu, Soebandrio itu siapa?” ujar Muskita.


“Dia kan Menteri Luar Negeri.” Likas mulai tidak sabar dengan tanya jawab yang sedang berlangsung.


“Ibu mau apa ke sana?” sanggah Muskita penuh khawatir.


“Saya mau menanyakan suami saya. Ke mana ditaruhnya suami saya. Siapkan panser,” perintah Likas.


Muskita coba membujuk. “Belum pulang saja Bapak itu, Bu,” katanya.


Likas tetap kekeh. Pantang menyerah dia  menghadapi anak buah suaminya yang satu itu. “Justru itulah yang akan saya tanyakan. Saya mau ke rumah Bapak Soebandrio menanyakan suami saya. Siapkan panser, Pak,” ujar Likas mengulangi permintaannya.


Muskita bingung. Tapi supaya menentramkan suasana, dia janji mengupayakan panser yang diminta. Likas sendiri tdak tahu persis mau diapakan nanti panser tersebut. Namun yang pasti, dengan kendaraan lapis baja itu, dia ingin menyelamatkan suaminya. Sembari menanti, Likas makin tidak sabar.


“Tiba-tiba telepon berdering. Dari suamiku! Puji Tuhan, suamiku selamat,” seru Likas.


Secara singkat, Djamin mengabarkan bahwa dirinya berhasil pulang kembali ke Jakarta. Djamin telah lebih dahulu menelepon Muskita. Dari Muskita, Djamin kemudian mengetahui istrinya meminta panser. Tentu saja panser yang diminta tidak akan dikirim. Karena sekalipun istri jenderal tertinggi, bukan porsinya mengeluarkan perintah mengerahkan persenjataan berat.


Setiba di Jakarta, Djamin singgah sebentar di rumahnya melepas rindu kepada anak dan istri tercinta. Kemudian sebuah panser menjemput Djamin untuk membawanya ke Markas Besar AD. Di sana, rencana disiapkan untuk menghancurkan Gerakan 30 September. Setelah hari-hari operasi penumpasan, Djamin Gintings diangkat sebagai Inspektur Jenderal AD.  

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
An Italian general and national hero was commanding his ship when the Aceh War broke out. Alas, in the waters off Aceh, he contracted cholera and met his demise.
bg-gray.jpg
Henk Ngantung sebagai perancang lambang Kostrad diakui secara resmi oleh Soeharto. Dia juga menjadi warga kehormatan Kostrad. Namun, setelah peristiwa 1965, jasanya seakan dilupakan.
bg-gray.jpg
Ketimbang D.N. Aidit atau Adam Malik, A.K. Jusuf pernah dianggap murid terpandai oleh Sutan Sjahrir. Riwayat pemuda impulsif itu berujung tragis pasca menculik sang mentor.
bg-gray.jpg
Saksi bisu perlawanan dari zaman ke zaman. Tempat singgah bagi aktivis.
Masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, lebih mengenal karya-karyanya ketimbang namanya.
Masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, lebih mengenal karya-karyanya ketimbang namanya.
Ketika sosok Bung Karno hidup kembali dalam sesi foto virtual. Salah satu cara insan industri kreatif untuk tetap berkarya saat pendemi.
Ketika sosok Bung Karno hidup kembali dalam sesi foto virtual. Salah satu cara insan industri kreatif untuk tetap berkarya saat pendemi.
Rambut gimbal awalnya terkait spiritualitas. Lalu jadi simbol pemberontakan dan antikemapanan, sebelum jadi sekadar tren fesyen.
Rambut gimbal awalnya terkait spiritualitas. Lalu jadi simbol pemberontakan dan antikemapanan, sebelum jadi sekadar tren fesyen.
Kisah gubernur pertama Sumatera yang mengemban jabatan bukan karena kemauannya sendiri.
Kisah gubernur pertama Sumatera yang mengemban jabatan bukan karena kemauannya sendiri.
Berawal dari tim buruh pabrik, kini Bayer Leverkusen kembali di ambang torehan “treble”. Sempat diejek dengan julukan “Neverkusen”.
Berawal dari tim buruh pabrik, kini Bayer Leverkusen kembali di ambang torehan “treble”. Sempat diejek dengan julukan “Neverkusen”.
Kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi bikin aksi massa pertama para pemuda gagal. Ada yang ditangkap massa.
Kurangnya koordinasi dan adanya miskomunikasi bikin aksi massa pertama para pemuda gagal. Ada yang ditangkap massa.
transparant.png
bottom of page