top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Budisucitro, Buangan Digul Nomor 1

    Pada Januari 1926, tiga orang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) diburu pemerintah kolonial Belanda. Mereka menghilang dan kemudian diketahui melarikan diri ke Singapura. Ketiga pemimpin itu adalah Musso, Soegono, dan Budisucitro. Nama terakhir kemudian ditangkap pasca gagalnya pemberontakan PKI. Dia dibuang ke Boven Digul dengan nomor deportasi 1. Di kamp Tanah Merah, selain terkenal sebagai buangan nomor 1, Budisucitro juga cukup terhormat. Bersama Aliarcham, ia seringkali menjadi perwakilan para tahanan dalam berbagai persoalan. Misalnya ketika tunjangan 30 sen perhari hendak dicabut, Budisucitro, Aliarcham, dan Said Ali, dikirim untuk menanyakan keputusan itu. Adu debat dengan kontrolir membuahkan hasil, tunjangan tidak jadi dicabut. Peran Budisucitro berlanjut. Pada 24 hingga 27 Januari 1928, diadakan kongres untuk membentuk Centrale Raad Digoel  (CRD) atau Dewan Pusat Digul. CRD berisi 21 anggota yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan langsung. Pemilihan tersebut baru rampung pada 27 Februari 1928. Budisucitro berada di urutan kedua dengan mendapat 462 suara, sedangkan urutan pertama dipegang oleh Aliarcham dengan 515 suara. CRD kemudian membentuk komisi , sebuah tim yang akan menyusun Anggaran Dasar CRD. "Terpilih Aliarcham, Soenarjo dan Budisucitro," tulis Mas Marco Kartodikromo dalam Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel . Sejak awal masa pembuangan, telah terjadi perpecahan karena perdebatan tentang siapa yang bertanggungjawab terhadap gagalnya pemberontakan. Perpecahan membelah kaum buangan menjadi dua. Mereka yang tetap "keras" terhadap kolonialisme dan mereka yang mulai "jinak". Sebagai mantan pemimpin PKI, Budisucitro tentu saja mengambil sikap tegas terhadap kolonial. Bersama Mas Marco Kartodikromo, Thomas Najoan dan pemimpin PKI yang lain, ia dipindahkan ke Gudang Arang, lalu ke Tanah Tinggi. "Ketika pada suatu saat pertentangan hebat merobek-robek Tanah Merah, pemerintah Belanda memandang Budisucitro menjadi ancaman, maka ia pun dibuang ke Tanah Tinggi di hulu," tulis Molly Bondan dalam Spanning The Revolution . Gudang Arang letaknya beberapa puluh kilometer di hulu Sungai Digul. Sementara Tanah Tinggi juga terletak di tepi Sungai Digul. Dibuang ke Tanah Tinggi berarti menjalani kehidupan yang lebih berat dan lebih sepi dari kamp Tanah Merah. Tempat ini ternyata berhasil membuat para pembangkang menyerah. "Di Tanah Tinggi, Budisucitro tanpa disangka-sangka menyerah dan pulang ke Tanah Merah. Begitu pula dengan Najoan dan Marco. Padahal, Budisucitro, Najoan, dan Marco termasuk pimpinan PKI yang keras," tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan . Begitu kembali dari Tanah Tinggi, Budisucitro diangkat menjadi kepala kampung. Jabatan barunya mengubah penampilannya pula. Ia terlihat memakai jas putih, celana putih, lengkap dengan lars dan helm. Sejak itu pula ia mulai tidak disukai sebagian besar orang buangan. Musababnya, pajak pendapatan mulai ditarik dari para tahanan. "Kamu tidak akan pernah dipulangkan jika tidak mau membayar," kata Budisucitro untuk menakut-nakuti tahanan yang enggan membayar. Mereka yang berkeinginan dipulangkan ke kampung halaman kemudian akan berusaha mencari uang dan membayar kepada Budisucitro. Budisucitro kemudian menyerahkan sen demi sen kepada pemerintah kolonial. Padahal, ia tidak mendapat bayaran sepeser pun atas pekerjaannya itu. Semakin hari Budisucitro menjadi pembicaraan dan cemoohan karena dianggap telah berkhianat terhadap partainya dahulu. Bahkan, mereka menjulukinya "Stalin Setalen" yang artinya Stalin 25 sen. Rumah Budisucitro berada di lokasi yang strategis, di sisi persimpangan jalan, tempat bertemunya jalan dari dermaga dengan jalan yang membelah Kampung B dan Kampung C. Di sebelah kirinya adalah rumah yang diberikan kepada Bung Hatta ketika Bung Hatta dibuang ke Digul pada 1935. "Barangkali inilah alasannya, mengapa rumah itu disediakan untuk Bung Hatta; cocok bagi penguasa yang mau memata-matainya," tulis Molly Bondan. Di Digul, Kadirun, mertua M.H. Lukman, mendirikan Malay-English School,  sekolah bagi anak-anak Digul. Sekolah ini kemudian dimatai-matai oleh Budisucitro. Budisucitro mengumpulkan laporan tentang kejadian-kejadian kecil hingga pertemuan-pertemuan sambil lalu. Ia kemudian menyusun laporan sebagai bukti bahwa beberapa tahanan tengah merencanakan pemberontakan. Budisucitro bahkan mendesak pemerintah untuk membuang mereka ke Tanah Tinggi. Budisucitro tampaknya telah benar-benar berubah. Tindakannya menunjukan bahwa ia telah berhasil dijinakkan dan bahkan mengabdi pada pemerintah kolonial. Perubahan sikapnya itu akhirnya membuahkan hasil bagi dirinya sendiri. Buangan nomor 1 itu dipulangkan ke Jawa dengan kapal Albatros pada 19 Maret 1938. "Sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Budisucitro masuk Partai Sosialis Amir Sjarifuddin, barangkali ia takut masuk Partai Komunis baru karena para anggotanya yang lama tentu masih ingat pada pengkhiatannya ketika di Digul," sebut Molly Bondan. Pada 1948, menurut surat kabar yang dibaca Mohammad Bondan, suami Molly, Budisucitro ditembak mati oleh Tentara Nasional Indonesia di daerah Pati, Jawa Tengah. Saat itu diduga Budisucitro hendak meloloskan diri dari Madiun, di mana ia terlibat pemberontakan. Menurut Koesalah Soebagyo Toer dalam Tanah Merah yang Merah, Budisucitro sempat menjadi anggota Badan Eksekutif Keresidenan Pati, dengan Residen Milono. Peristiwa Madiun membuatnya dipenjara di Blora hingga kemudian ditembak mati oleh Polisi Istimewa di utara markas kepolisian. "Ia ditembak di kepala hingga batok kepalanya tersingkap. Korban-korban penembakan waktu itu diketahui sebelumnya oleh penghuni penjara, karena pembuat nisan dengan namanya adalah mereka," tulis Koesalah berdasarkan wawancara dengan Sarmidi, seorang mantan pejuang kemerdekaan.

  • Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad

    PERDANA Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melepaskan jabatannya pada Senin, 24 Februari 2020. Koalisi Pakatan Harapan yang ia bentuk bersamaAnwar Ibrahimpada 2018 pun turut bubar.“Dr. M”, julukan Mahathir, juga mundur dari kursi tertinggi Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM),kendaraan politikyang didirikannya pada 2016. Mahathir memang bukan termasuk jajaran “Bapak Pendiri Bangsa” negeri jiran. Namun 22 tahun pemerintahannya begitu sarat kontroversi, membuatnya dikenang bak “Macan dari Negeri Jiran”. Didikan Keras Zaman Sulit Keras dan kontroversial. Dua karakter itu melekat pada sosoknya sepanjang 22 tahun memimpin Malaysia. Dua karakter itu jelas buah dari pertautan sifat pribadinya dan pendidikan serta lingkungan tempat masa kecilnya bertumbuh. Dalam memoarnya, A Doctor in the House , ia mengisahkan garis keluarganya. Ia lahir pada 10 Juli 1925 dari pas angan Mohamad Iskandar asal Penang dan Wan Tempawan yang masih kerabat dengan Kesultanan Kedah . Mahathir lahir sebagai anak kesembilan dari 10 bersaudara di rumah sederhana di perkampungan Seberang Perak, Alor Setar yang merupakan ibukota Kesultanan Kedah. Meski bukan bangsawan, Iskandar punya kedudukan lumayan tinggi. Kesultanan Kedah mendatangkannya khusus dari Penang Free School pada 1908 untuk mengepalai sekolah menengah (SMP, red. ) berbahasa Inggris pertama di Kedah, Government English School (kini Kolej Sultan Abdul Hamid). Sekolah itu merupakan sekolah khusus kaum elit dan aristokrat Kedah. Namun besarnya keluarga membuat biaya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi Iskandar besar pula. Akibatnya Mahathir dan saudara-saudaranya hanya bisa memulai pendidikan dasardi sekolah rakyat. “Orangtua saya tak mampu belikan sepatu, oleh karenanya saya bersekolah tanpa sepatu. Selepas sekolah selalu berlanjut belajar mengaji Al-Quran,” kataMahathir di memoarnya. Selepas mengaji punMahathir dan saudara-saudaranya harus langsung pulang karena sang ayah sudah menunggu mereka untuk mengajarkan bahasa Inggris pada petang. Pasalnya, anak-anak Iskandar tak mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Harapan Iskandar, agar mereka bisa masuk GES yang ia dirikan lewat jalur selektif, semacam beasiswa. Masa kecil Mahathir Mohamad yang penuh perjuangan sebagai anak dari keluarga kelas menengah (Foto: cronkitehhh.jmc.asu.edu ) Namun dari beberapa anak Iskandar, hanya Mahathir yang bisa lulus. Saudari-saudari Mahathir pun tak diterima GES yang saat itu baru membuka asrama putri. “Dia (ayah) sangat kesal karena dia sendiri jadi pejabat pemerintah dan dia diundang ke Kedah untuk membangun sebuah sekolah. Akan tetapi sekolah putri yang dihadirkan kemudian di sekolah itu, menolak menerima saudari saya,” sa mbu ng Mahathir. Meskiberjasa ikut membangun sekolah itu, Iskandar dianggap sekadar bawahan dan pegawai pemerintah non-bangsawan. Ibunda Mahathir walau punya gelar “Wan”, hubungan kekerabatannya dengan kesultanan terbentang jauh. Keluarga Iskandar pun dianggap keluarga biasa dari kalangan “proletar”, sebagaimana yang diingat Tunku Abdul Rahman, pangeran Kedah yang menjadi perdana menteri pertama Malaysia. “Dia (Mahathir) bukan siapa-siapa. Ayahnya hanya pegawai bawahan biasa di Kedah. Saya tidak bergaul dengan ayahnya. Kami punya perkumpulan di Kedah, seperti perkumpulan pegawai dan perkumpulan anggota kerajaan dan lain-lain. Mereka punya perkumpulan pegawai bawahan sendiri,” ujar Tunku Abdul Rahman, dikutip Barry Wain dalam salah satu biografi Mahathir, Malaysian Maverick: Mahathir Mohamad in Turbulent Times. Biografi yang dituliskan jurnalis politik asal Australia itu juga menyebutkan latarbelakang keluarga Mahathir yang sensitif dan tak diungkap di memoar Mahathir. “Mohamad Iskandar adalah ‘Melayu Penang’, atau lebih tepatnya Jawi Peranakan, yang artinya orang lokal yang terlahir muslim dengan darah India. Iskandar, ayah Mohamad, adalah imigran dari selatan India yang merantau ke British Malaya dan menikahi orang Melayu,” tulis Wain. Mahathir Mohamad (kedua dari kanan) saat meneruskan sekolah pada 1946 setelah sempat terhenti di masa perang (Foto: mtholyoke.edu ) Latarbelakang leluhurnya itu tak pernah Iskandar kisahkan secara terang-benderang kepada keluarganya, termasuk Mahathir. Sebaliknya, Mahathir juga tak pernah bertemu kakek dari garis ayahnya lantaran Iskandar sudah wafat sebelum Mahathir lahir. “Mohamad Iskandar tak mengenal saudaranya dari India, juga tak bicara bahasa India. Walau beberapa anggota keluarga berspekulasi bahwa Iskandar berasal dari Kerala, Mahathir sendiri justru tak yakin kakeknya merupakan imigran, karena tak ada catatan tertulis tentang sosoknya dan ayahnya (Mohamad Iskandar) tak pernah menyebut tentangnya. Mahathir juga tak pernah membicarakan tentang keluarganya secara terbuka ke publik,” sambung Wain. Kedai Kopi hingga Panggung Politik Usia Mahathir baru sekira 16 tahun ketika Jepang mendepak Inggris dan menggantikan kolonialis lama itu menduduki Semenanjung Malaya. Seperti kebanyakan pemuda Melayu, hidup Mahathir mesti berbelok tajam dari mimpi awalnya akibat pendudukan Jepang. “Saya tak pernah menyangka Jepang akan menginvasi Malaya, namun runtuhnya Prancis di Eropa membuat Jepang bisa menempatkan pasukan di Indocina Prancis. Inggris yang khawatir , memperkuat Alor Setar dengan pasukan East Surrey Regimental dan juga pasukan Gurkha,” k at a Mahathir dalam memoarnya. Seme n tara, pemerintahan Kesultanan Kedah menerapkan kebijakan ARP (Air Raid Precautions). Mahathir di barisan pelajar turut serta masuk Auxiliary Fire Service. Ia dilatih mengatasi kebakaran untuk antisipasi pemadaman api jika terjadi pemboman oleh Jepang. Namun ketika Jepang masuk Malaya via Kelantan pada 8 Desember 1941, pasukan Inggris malah mundur. “Dengan invasi Jepang, roda pemerintahan (kesultanan) Kedah berhenti berputar dan semua saudaraserta saudara ipar saya yang bekerja di pemerintahan tiba-tiba harus menganggur. Para pedagang Cina melarikan diri dan kemudian penjarahan marak terjadi,” sambungnya. Banyak kawan Mahathir kemudian bergabung ke Heiho atau barisan tentara pembantu Jepang. Beberapa milisi, sebagaimana di Indonesia, pun bertumbuhan.Antara lainKesatuan Melayu Muda (KMM). Seingat Mahathir, ia pernah mendengar kabar bahwa Sukarno yang kelak jadi presiden pertama Indonesiasempat melawat ke Malaya bertemu para petinggi KMM guna membicarakan rencana mendirikan Indonesia Raya sebagai bentuk kolaborasi KMM dengan Heiho Malaya serta Heiho Indonesia. “Namun mayoritas rakyat Malaya tak mendukung pergerakan itu dan malah menginginkan Sekutu menang perang terhadap Axis (Jerman-Italia-Jepang). Saya sendiri sudah sibuk terbelit kemiskinan. Dengan modal seadanya saya dan saudara-saudara saya memilih berjualan pisang di jalanan Pekan Melayu,” lanjut Mahathir. Mahathir Mohamad di masa muda kala merintis karier di politik di Partai UMNO pada 1969 (Foto: Twitter @officialchedet) Di jalan itu pula Mahathir bertemu lagi dengan kawan-kawan sekolahnya.Mereka  lantas mengajak Mahathir buka usaha bareng. Tak pikir dua kali, Mahathir berkenan, mengingat usahanya menjajakan pisang dengan menggelar lapak di jalanan tak menguntungkan dan butuh upaya lain untuk membantu mencari nafkah keluarga. Bersama dua kawannya , Mahathir pun membuka kedai kopi di Pasar Pekan Rabu, semacam Pasar Rebo di Jakarta yang hanya buka di hari Rabu. Selain menjajakan kopi, mereka juga menjajakan pisang goreng sebagai teman ‘ngopi’ para pelanggan dan minuman cendol sebagai menu lainnya . Usaha itu berjalan hingga Perang Dunia II usai. Nasib Mahathir berbalik 180 derajat usai Perang Dunia II. Setahun usai perang, ia menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah untuk kemudian melanjutkan studi medis lewat beasiswa ke King Edward VII College of Medicine (kini Yong Loo Lin School of Medicine) di Singapura. Di masa kuliah itulah Mahathir mulai terjun ke politik. Ia jadi aktivis anti-pendatang dengan ikut berunjuk rasa terhadap pemerintahan Malayan Union yang memberi kewarganegaraan kepada orang-orang non-Melayu. Ia mulai bergabung dengan UMNO. Pada pemilu pertama di Malaysia, 1959, ia sudah menduduki kursi ketua UMNO cabang Kedah. Mahathir baru bisa masuk lingkaran pemerintahan pada 1973 setelah ditunjuk sebagai anggota senat di Dewan Negara oleh Perdana Menteri Abdul Razak Hussein. Setahun kemudian,iamenjabat sebagai menteri pendidikan; wakil perdana menteri pada 1976 merangkap menteri perdagangan dan industri, serta menteri pertahanan. Menyusul mundurnya Perdana Menteri Hussein Onn dengan alasan kesehatan, nama Mahathir diajukan Tengku Razaleigh dan Ghazali Shafie sebagai suksesor. Pasalnya, di antara dua kandidat UMNO, Mahathir dan Ghafar Baba, yang fasih bahasa Inggris dan punya pendidikan lebih tinggi adalah Mahathir. Pertemuan Mahathir Mohamad dengan Soeharto di Malaysia, Juni 1993 (Foto: Repro "Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President") Per 16 Juli 1981, Mahathir resmi memegang jabatan perdana menteri. Indonesia jadi negara pertama yang dikunjunginya karena kekagumannya terhadap program-program pembangunanPemerintahan Soeharto. “Saya selalu mengikuti perkembangan berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintahan beliau. Maka kunjungan luar negeri saya yang pertamakali setelah saya dilantik (perdana menteri) menggantikan Datuk Hussein Onn pada 1981 adalah kepada Presiden Soeharto,” tutur Mahathir yang dikutip Mahpudi dkk dalam Pak Harto: The Untold Stories .

  • Ketika Islam Masuk ke Galuh

    Ketika Pakuan Pajajaran (terletak sekitar Bogor sekarang) jatuh akibat proses Islamisasi Kesultanan Banten pada 1579, keseimbangan kekuatan politik di wilayah Tatar Sunda menjadi goyah. Hilangnya pemerintahan di Pakuan Pajajaran berarti hilang pula pengaruh Hindu-Buddha di Jawa bagian barat. Islam pun menjadi kekuatan tunggal di tanah Pasundan. Imbas kejatuhan itu, para penguasa Sunda yang sebelumnya ada di bawah naungan Pakuan Pajajaran kembali terpecah. Mereka mulai membangun pemerintahan di tempat asalnya masing-masing, dengan harapan dapat kembali menghidupkan kekuatan Sunda seperti sedia kala. Seperti yang dilakukan Prabu Cipta Sanghyang di Galuh (1528-1595), putra Prabu Haur Kuning. Menurut sejarawan Nina H. Lubis dalam Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat, ketika Kesultanan Banten berhasil mengislamkan Pakuan Pajajaran, Kesultanan Cirebon juga bergerak masuk ke wilayah Galuh. Islam pun akhirnya berkembang di sana. Namun itu hanya sebatas kekuasaan di Kawali saja karena Prabu Cipta Sanghyang sempat memindahkan kekuasaannya ke Cimaragas, Ciamis, sehingga Galuh mampu menghindari arus islamisasi dari para ulama Cirebon. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama. Kuatnya pengaruh Islam di Ciamis membuat Galuh perlahan kehilangan tempat berlindung yang aman. “Islam dikembangkan dari Cirebon ke Galuh melalui Maharaja Kawali,” ungkap sejarawan dari Universitas Padjadjaran itu. Tim Peneliti Sejarah Galuh dalam Galuh Ciamis dan Tinjauan Sejarah , menyebut jika Islamisasi Kesultanan Cirebon dilakukan melalui jalur perkawinan. Kisahnya dimulai ketika putra mahkota Galuh, Ujang Ngekel, jatuh cinta kepada putri Maharaja Kawali bernama Tanduran di Anjung. Tetapi cinta Ujang Ngekel tidak mendapat restu penguasa Kawali karena ia masih menganut Hindu, sementara Kawali sendiri telah sepenuhnya Islam. Demi cintanya, Si Putra Mahkota pun bersedia masuk Islam. Melihat kesungguhan itu, Kawali akhirnya meminta Cirebon untuk mengislamkannya. Setelah masuk Islam Ujang Ngekel menikahi Tanduran di Anjung. Namun hal itu belum memberi pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di Galuh. Bahkan ketika ia naik takhta, dengan gelar Prabu Galuh Permana, menggantikan Prabu Sanghyang Cipta, Islam belum berkembang. Barulah pada masa Adipati Panakean, putra Prabu Galuh Permana, ajaran Islam mulai tumbuh pesat. Terutama setelah Mataram berhasil merangsak ke Galuh, dan secara luas ke Tatar Sunda. “Sejak akhir abad ke-16 M, Mataram berupaya menguasai Kerajaan Galuh,” tulis Mumuh Muhsin Z dalam makalah Ciamis atau Galuh , yang disajikan pada seminar sejarah “Menelusuri Nama Daerah Galuh dan Ciamis: Tuntutan dan Harapan”, 12 September 2012 di Ciamis. Pengaruh kuat Mataram di Galuh semakin terasa pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh ketika itu, Adipati Panakean, diangkat sebagai wedana Mataram. Status pemerintahan Galuh pun menjadi vasal Mataram. Dari hasil penelusuran Tim Peneliti Sejarah Galuh, berdasar sumber-sumber kolonial, didapati batas-batas Kerajaan Galuh yang jatuh ke tangan Mataram, yakni: Sungai Citanduy sebelah timur, perbatasan Sumedang di sebelah utara, Sungai Cijulang di selatan, dan Galunggung serta Sukapura di sebelah barat. Islamisasi Pertama Sebelum masuknya Cirebon dan Mataram, upaya islamisasi di Galuh telah lebih dahulu dilakukan oleh rakyatnya sendiri. Diungkapkan Rokhimin Dahuri dalam Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon  upaya itu datang dari putra kedua Raja Galuh, Bratalegawa, yang kemudian mendapat gelar Haji Purwa. Bratalegawa dikenal sebagai seorang saudagar Sunda yang sukses. Ia senang melakukan perjalanan niaga hingga ke luar negeri. Ketika sedang berdagang di India, Bratalegawa banyak berinteraksi dengan para pedagang Arab yang beragama Islam. Dalam penelitian Nina H. Lubis, dkk, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat  disebutkan bahwa lamanya interaksi menjadi sebab Bratalegawa mulai tertarik mengenal lebih dalam Islam. Meski ketika itu Haji Purwa masih menjadi penganut Hindu yang taat. “Ia diislamkan oleh saudagar Arab yang kebetulan bertemu di India,” tulis Nina. Bratelegawa kemudian menikahi seorang wanita Muslim dari Gujarat, Farhana binti Muhammad. Keduanya lalu memutuskan pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah kembali, Bratalegawa mengganti namanya menjadi Haji Baharudin al-Jawi. “Oleh karena ia merupakan haji pertama di Galuh, maka ia disebut Haji Purwa (pertama),” ungkap Rokhimin. Dari Mekah, Haji Purwa bersama keluarganya pergi ke Jawa Barat. Mereka tiba di Galuh pada 1337 M. Dibantu kawan Muslimnya dari Arab, Haji Purwa berusaha mengislamkan para penguasa Galuh, keluarganya sendiri. Namun upaya Haji Purwa itu mengalami kegagalan. Pengaruh Hindu yang masih terlalu kuat di Tatar Sunda membuat ia gagal meyakinkan Galuh untuk beralih menganut Islam. Setelah gagal mengislamkan Galuh, Haji Purwa memutuskan untuk keluar dari pusat kerajaan. Ia memilih tinggal di Caruban Girang (Cirebon Girang), yang ketika itu masih berada di bawah kekuasaan Galuh. Di sana secara perlahan ia menyebarkan Islam. Penyebaran Islam di Cirebon itu tidak mengalami kesulitan, utamanya di wilayah pesisir, karena penduduk di sana sudah banyak berinteraksi dengan para pedagang Muslim.

  • Sastra Dakwah tentang Hari Kiamat

    Jamaah calon haji dari Indonesia pada masa kolonial menempuh perjalanan laut hampir enam bulan untuk mencapai Mekkah. Dari Indonesia, mereka singgah dulu di Singapura. Di sini mereka biasanya membeli sejumlah bahan bacaan. Tema yang paling diminati adalah tentang hari kiamat. "Pas sebagai bacaan dalam perjalanan akbar menunaikan haji untuk mawas diri mengenang mati atau pelipur hati menghadapi kematian," kata Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Bacaan bertema kiamat itu tercetak dalam tulisan tangan. Mereka terbit antara masa 1900-1920-an. Aksaranya Arab dengan bahasa Melayu atau Jawa. Edwin menemukan buku kuno bertema kiamat ketika meriset di Perpustakaan Nasional Singapura, Oktober 2019–Januari 2020. Jumlah buku semacam itu ada belasan. Dalam kuliah umum di FIB-UI, Edwin hanya memaparkan dua karya bertema kiamat temuannya: Singir Kiyamat karya Sumardi dan Syair Ibarat dan Khabar Kiamat anggitan Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif al-Banjari. Edwin mengaku belum banyak menguliti karya lainnya. Tapi pembacaan terhadap dua karya tadi saja telah mengungkap banyak hal: bacaan jamaah calon haji sewaktu di perjalanan, pandangan orang tentang kiamat, jaringan penerbitan Hindia Belanda–Singapura–India, keberlanjutan tema kiamat dalam bentuk komik pada 1960-an, dan fungsi filologi. Edwin menjelaskan, isi dua buku kuno tentang kiamat itu serupa. "Pada intinya menjelaskan bahwa hidup di dunia dan segala materi di dunia ini hanyalah bersifat sementara," kata Edwin. Kedua pengarangnya tak banyak mengeksplorasi kemungkinan estetik dan penafsiran sufistik terhadap surga dan neraka. Penggambaran surga dan neraka dalam dua buku kuno termaksud begitu gamblang. Surga adalah tempat penghiburan dan kebahagiaan bagi orang-orang saleh yang mengamalkan ajaran agama, sedangkan neraka menjadi tempat penyiksaan dan kesengsaraan bagi pelanggar ajaran agama Islam. "Pesannya lebih diutamakan daripada keindahannya," kata Edwin. Karena itulah, Edwin menempatkan dua buku kuno termaksud ke dalam kategori sastra dakwah. Menurutnya, sastra dakwah menghalalkan cara untuk mencapai tujuannya. Ia tak ambil pusing soal keindahan dan bentuk. Edwin Paul Wieringa, guru besar filologi Indonesia dan kajian Islam dari Universitas Cologne, Jerman, dalam kuliah umum bertajuk "Dari Kudus ke Bombay dan ke Jawa Lagi: Sastra Keagamaan tentang Hari Kiamat" di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2020. Mengenai latar belakang pengarang dua buku kuno termaksud, Edwin menngukapkan bahwa Sumardi bukanlah seorang ulama. Dia mungkin seorang penduduk Kudus. Tapi Edwin tak tahu banyak soal lainnya. Sedangkan Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif al-Banjari berasal dari Martapura, Kalimantan. Dia sohor sebagai ulama dan penulis sejumlah kitab. Sebagian besar kitabnya terbit di Singapura. Singapura merupakan kota utama untuk percetakan dan penjualan kitab-kitab agama Islam dari Hindia Belanda selama masa kolonial. Para pengarang kitab dari Hindia Belanda selalu mengoper karyanya ke Singapura untuk dicetak dan dijual. Selain Singapura, kota favorit lainnya bagi pengarang kitab dari Hindia Belanda ialah Bombay di pesisir barat India. Tapi Bombay tidak menjual kembali kitab tersebut. Kitab itu justru dikirim ke Singapura dan dijual kembali untuk orang-orang Hindia Belanda yang pergi haji. Mengapa pengarang kitab dari Hindia Belanda jauh-jauh melempar karyanya ke dua kota ini? "Sebab kedua kota tersebut berada di bawah koloni Inggris yang lebih liberal terhadap pelaksanaan agama. Sedangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda lebih ketat dalam penerbitan buku-buku Islam," terang Edwin. Edwin mencatat, buku-buku terkait kiamat cetakan Bombay dan terbitan Singapura selalu menjadi yang terlaris di antara kitab-kitab keagamaan Islam. Hal pendukungnya ialah bentuk bukunya ringkas, harganya murah, dan temanya melintas zaman. Terbukti tema tentang kiamat terus bertahan. Bahkan pada 1960-an, tema ini diadaptasi ke dalam komik surga dan neraka. Komik itu menggunakan cara penggambaran dan penafsiran yang sama dengan dua buku kuno tadi. Gambar-gambarnya jelas sekali menunjukkan adegan penyiksaan di neraka dan suasana penghiburan di surga. Edwin juga menyatakan tema tentang hari kiamat masih digemari oleh generasi sekarang. Dengan demikian, peluang generasi sekarang mengenal buku-buku kuno terbuka lebar. Sebab buku-buku kuno ternyata telah memuat hal-hal yang dibicarakan oleh generasi sekarang. Tapi dia mengingatkan pembacaan generasi sekarang terhadap buku-buku kuno akan berbeda dan lebih sulit. "Membaca dan menilai teks dari zaman dahulu kala, yaitu bukan zamannya sendiri sangat sulit karena pengetahuan kita tidak begitu besar mengenai bahasa dan sistem kode yang terkandung dalam teks kuno," ujar Edwin. Karena itulah, Edwin memandang filologi dapat berperan untuk membantu pemahaman terhadap isi buku-buku kuno tersebut. Filologi ialah ilmu yang mempelajari teks-teks di dalam suatu bahasa tertentu. Ringkasnya, filologi membantu orang menafsirkan sebuah teks. Tidak hanya teks pada masa sekarang, tetapi juga pada masa lampau. Dengan filologi, generasi sekarang akan mampu mengungkap alam pikiran masyarakat pada masa lampau. Bagi Edwin, kerja mengungkap alam pikiran dan keadaan masyarakat pada masa lampau selalu menarik. "Saya tak habis mengerti mengapa ada orang yang tidak tertarik dengan filologi, ilmu bahasa, dan sastra," kata Edwin menutup kuliah.

  • Pesona Sejarah Carnevale Venezia

    KECERIAAN jutaan warga dan turis di Venezia, Italiaberganti cemas. Topeng-topeng pesta marak warna nan berganti masker-masker medis. Carnevale di Venezia atau Karnaval Venesia yang termasyhur itu harus dihentikan sebelum perayaan puncaknya, 25 Februari 2020 di Piazza San Marco. Gegaranya,merebaknya kasus COVID-19 alias virus corona . Karnaval yang “11-12” dengan Karnaval Rio itu mestinya berlangsung pada18-25 Februari atau jelang ibadah puasa pra-Paskah dalam agama Katolik. Namunper Minggu (23/2/2020), pemerintah negara bagian maupun pemerintah regioni (semacam negara bagian) sepakat menghentikan karnaval dan memberlakukan lockdown (karantina) di 12 kota di utara Italia. Pemberlakuan karantina sementara yang diputuskan sampai 1 Maret 2020 itu tidak hanya berlaku untuk karnaval, namun juga untuk sejumlah aktivitas, seperti pameran fesyen Giorgio Armani atau laga-laga sepakbola Serie A yang dimainkan di utara Italia. “Kami harus memberlakukan tindakan drastis. Mulai malam ini Karnaval Venezia, juga gelaran-gelaran lain, termasuk olahraga, sampai 1 Maret akan dihentikan. Termasuk juga semua acara perkumpulan pribadi maupun publik harus dihindari. Sekolah-sekolah ditutup sampai akhir bulan ini,” ujar Presiden regioni VenetoLuca Zaia, dikutip Deutsche Welle , Minggu (23/2/2020). Karnaval Venezia yang sempat berjalan sebelum akhirnya dihentikan per Minggu, 23 Februari 2020 (Foto: Twitter @Venice_Carnival) Keputusan itu diambil setelah tiga dari 155 pasien terdampak virus corona tewas. Korban tewas terakhiradalah seorang lansia berusia 78 tahun, Adriano Trevisan, yang meninggal di rumahsakit di Padova, kota tetangga Venezia . Pesta Khas Venezia Selama berabad-abad, Karnaval Venezia yang khas dengan pesta topeng itu masih menyisakan misteri soal asal-usulnya. Marianne Mehling dalam Venice and the Veneto menyebutkarnaval itu  dipengaruhi tradisi Saturnalia di era Romawi Kuno sekira (500 SM) . Jika “dikonversi” ke kalender Masehi, perayaan Saturnalia lazimnya digelar sepanjang 17-23 Desember.Dalam kurun itu para budak Romawi dibebaskan sementara untuk ikut berpesta sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Saturnus. Perayaannya berupa pesta minuman, makanan, hingga berjudi. Namun dalam masa itu para penikmat perayaan belum mengenal tradisi pesta topeng. Menurut Elizabeth Horodowich dalam A Brief History of Venice, cikal-bakal karnaval berkenaan dengan pesta makanan dan minuman sebelum puasa pra-Paskah Katolikbaru eksis pada 1094. Kala itu Venezia sudah berbentuk republik (Repubblica di Venezia).Pemimpin Venezia Doge (Adipati) Vitale Faliero yang mencetuskan karnaval itu. “Tertulis dalam dokumen Doge Vitale Falierebahwa catatan pertama tentang karnaval terjadi pada 1094 dan perayaannya digelar terbuka untuk publik jelang puasa pra-Paskah,” sebut Horodowich. Ilustrasi Karnaval Venezia di masa-masa awal Republik Venezia (Foto: venezia.it ) Pesta semacam karnaval yang lebih besar dan jadi cikal bakal Karnaval Venezia, menurut James H. Johnson dalam Venice Incogito: Masks in the Serene Republic, baru terjadi pada 1162, selepas Republik Venezia menang perang atas Ulrich II von Treven, Patriark Aquileia. Ulrich II ingin menguasai Venezia sehubungan dengan kampanye perluasan wilayah kekuasaan Kaisar Frederick Barbarossa (Frederick I),  dari Germania ke Italia. Upaya Ulrich memicu Doge Vitale II Michiel memberi perlawanan sengit dengan mengirim armadanya ke Grado, basis kekuatan Ulrich II. Ulrich lantas terkepung dan ditawan. Beruntung nasibnya diselamatkan Paus Aleksander III yang turun tangan memediasi perdamaian. Sri Paus meminta Doge Vitale membebaskan Ulrich dengan imbalan selusin babi ternak dan 300 potong roti yang akan dikirimkan rutin setiap tahun. “Kekalahan Ulrich pada 1162 kebetulan bertepatan dengan masa-masa jelang puasa pra-Paskah menjadi anugerah tersendiri bagi para pemimpin kota (Venezia). Persembahan (dari Sri Paus) itu kemudian dijadikan jamuan setiap kali digelarnya perayaan di Alun-Alun San Marco dengan disemarakkan pesta dansa,” tulis Johnson. Ilustrasi Carnevale di Venezia oleh pelukis Pietro Longhi yang dibuat tahun 1751 (Foto: Museo dell' Settecento Veneziano) Tetapi perayaan itu belum dilengkapi pesta topeng dan parade kostum mewah nan glamor. Topeng baru dikenakan para kaum aristokrat maupun golongan menengah pada 1296 ketika pemerintah republik mengesahkan Karnaval Venezia sebagai hari libur publik. “Sejak saat itu Karnaval Venezia dikenal luas karena pesta topengnya, parade kostum, pertunjukan musik dan seni, serta hiburan malam yang lantas jadi daya tarik orang asing datang ke Venezia,” imbuhnya. Topeng dan Larangan Karnaval Penggunaan topeng merupakan hal paling khas dari Karnaval Venesia. Dengan topeng, para peserta karnaval seolah mendapatkan kebebasan tak terbatasuntuk bersenang-senang, baik berjudi atau bercinta terlarang tanpa harus takut diketahui siapapun. Dari sini pula konon kelegendaan Giacomo Casanova bermula. Casanova merupakan petualang cinta ternama di abad ke-18 yang dengan kharismanya mampu bikin banyak kaum hawa ‘kelepek-kelepek’. Dia tak peduli sang mangsanya masih gadis atau istri orang. Penggunaan topeng juga menghilangkan batas-batas kelas antara kaum bangsawan maupun rakyat jelata sepanjang karnaval. Lebih jauh, penggunaan topeng juga menciptakan lapangan pekerjaan baru: mascherari alias pembuat topeng. Mereka membuat topeng bervariasi,mulai dari berbahan porselain, kayu, hingga plastik di zaman modern. Adegan Giacomo Casanova tengah merayu seorang wanita di Karnaval Venezia dalam film "Casanova" yang rilis 2005 (Foto: IMDb) Variasi bentuk topeng juga bermacam-macam.Yang paling khas antara lain bauta  atau topeng sederhana dan tak banyak corak namun menutupi 100 persen wajah. Selain itu ada colombina , semacam topeng setengah muka yang hanya menutupi mata, hidung, dan bagian atas pipi. Jenis yang juga jamak disenangi para penikmat karnaval adalah moretta (topeng gelap) atau servetta mutta (topeng pelayan bisu). Topeng ini lazimnya berwarna hitam yang nyaris menutupi seluruh wajah, kecuali sisi lingkar luarnya. T openg ini hanya dilengkapi sepasang lubang mata tanpa lubang untuk hidung dan mulut. Cara p em akai an nya pun bukan seperti topeng lain dengan karet atau tali, melainkan digigit sisi dalamnya bak topeng reog Ponorogo. Maka d ar i itu topeng ini dinamakan topeng pelayan bisu. Tak ketinggalan,adatopeng Medico Della Peste . Topeng ini berbentuk paruh burung, mengadopsi masker atau topeng ahli medis Prancisabad ke-17Charles de Lorme. De Lorme biasa menggunakan topeng berparuh saat menangani para korban wabah pes, kemudian diikuti para dokter di Jerman hingga Belanda. Karnaval Venesia akhirnya memancing perhatian para bangsawan dalam maupun luar negeri. Sejumlah aristokrat Eropa meluangkan waktu mereka untuk datang ke Venezia. Namun masa-masa indah itu berakhir pada akhir abad ke-18. Karnaval Venezia digelar terakhir kalinya pada Februari 1797 di era Republik Venezia, lantaran pada Mei di tahun yang sama republik itu dikuasai Jenderal (kemudian kaisar) Napoléon Bonaparte. Empat varian topeng paling populer: Bauta, Colombiana, Moretta, dan Medico Della Peste Seiring mundurnya Doge Ludivico Manin dan runtuhnya Republik Venezia, berakhir pula kejayaan karnaval. Kekuasaan Venezia lantas diserahkan Napoléon ke Kekaisaran Austria dalam rangka Perjanjian Campo Formio, 17 Oktober 1797. Di bawah kekuasaan Austria, karnaval apapun dilarang. “Perhelatan karnaval secara terbuka terus diberlakukan di masa kekuasaan Austria, hingga kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Italia pada 1866. Di masa itu karnaval sempat dibolehkan digelar meski tak secara terbuka dan khusus untuk event pribadi bangsawan tertentu, sampai kemudian diktator Benito Mussolini total melarangnya pada 1930-an,” ungkap Daniel Shafto dalam Carnival . Butuh waktu lama bagi sebagian warga Venezia untuk menghidupkan tradisi itu lagi pasca-Perang Dunia II, mengingat Italia turut luluh-lantak. Pada 1967, beberapa tokoh di Venezia coba menghidupkannya kembali dalam rangka pesta kostumserta pesta topeng pribadi. Pada 1979, pemerintah Italia akhirnya membuka mata akan tradisi ratusan tahun itu dan menyatakan Karnaval Venezia sebagai warisan Italia untuk dilestarikan. Karnaval itupun mulai digelar lagi dalam skala kolosal pada Februari 1980 dengan ditambah agenda yang dijadikan tradisi baru, yakni La Maschera Più Bella alias Kontes Topeng Terindah.

  • Sejarah Kolam Renang Pertama di Indonesia

    KOLAM renang telah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kolam renang pertama berada di Bandung, Jawa Barat, berawal dari kolam ikan sederhana yang dibangun pada 1904. Kolam renang Cihampelas itu terletak di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan  (Jalan Taman Hewan), yang menghubungkan Lembangweg  (Jalan Cihampelas) dan Ghyselsweg  (Jalan Tamansari). "Kolam renang Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann, Tuan Homann," tulis Sudarsono Katam Kartodiwirio dan ‎Lulus Abadi dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe . Kolam renang Cihampelas dibangun untuk melayani tamu-tamu hotel. Pada masanya termasuk lengkap dengan tiga buah kolam berstandar internasional. Kolam renang Cihampelas sempat menjadi tempat berlatih Perkumpulan Berenang Bandung (Bandoengse Zwem Bond) yang berdiri pada 1917. Kolam renang itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda dan Eropa. Plang larangan bagi pribumi sungguh menyakitkan. Mantan Jaksa Agung Letjen TNI (Purn.) Soegih Arto menjadi saksinya pada masa kecil. "Saya masih ingat waktu di Bandung guru olahraga setengah mati mencari kolam renang untuk pelajaran berenang," kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . "Di kolam renang Centrum," lanjut Soegih Arto, "jelas tidak mungkin, karena tertulis dengan huruf besar VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS  atau terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah DILARANG UNTUK ANJING DAN ORANG PRIBUMI. Begitulah derajat bangsa kita sewaktu dijajah Belanda, padahal ini sudah tahun 1940." Akhirnya, berkat seorang anggota Volksraad  (Dewan Rakyat), para siswa diperbolehkan berenang di kolam renang Cihampelas. "Alangkah gembiranya kami, karena naik derajat setingkat di bawah bule, sedikit di atas anjing. Asyik juga berenang dengan bule-bule, apalagi wanitanya yang berbadan putih padat. Sayang pada waktu itu belum ada bikini," kata Soegih Arto. Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution juga punya pengalaman berenang di kolam renang Cihampelas. Saat itu, dia sedang mengikuti pendidikan militer CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren) di Bandung tahun 1940. "Tiap akhir minggu kami berenang di Cihampelas. Saya belum pernah sebelumnya berenang di dalam kolam renang, apalagi dengan cara gaya tertentu. Saya berenang di kali di masa kecil, karena itu harus mulai lagi belajar dari mula pangkal," kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda . Kolam renang Tjihampelas di Bandung, 1930-1935. (Tropenmuseum). Menurut Sudarsono Katam dan ‎Lulus Abadi, selain kolam renang Cihampelas, kolam renang lain di Bandung adalah kolam renang Centrum (sekarang bernama kolam renang Tirta Merta), yang dibangun pada 1920 dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia, karya arsitek C.R. Wolff Schoemaker. Letak kolam ini di Bilitonstraat  (sekarang Jalan Belitung). Kolam renang lainnya berada di kompleks Dago Teehuise (Dago Tea House) dan di Cimindi cukup dikenal masyarakat Bandung, tetapi telah ditutup sejak akhir tahun 1950-an. Pada 1950-an, kolam renang Cihampelas dan Centrum menjadi tempat berlatih atlet-atlet renang daerah dan nasional. Bahkan, renang menjadi olahraga pertama yang melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bandung untuk menghadapi Olimpiade Roma 1960 dan Asian Games 1962 di Jakarta. "Sistem pelatnas ini kemudian diikuti oleh cabang-cabang lain sebelum akhirnya Sukarno menyetujui pelatnas Asian Games dipusatkan di kota kembang tersebut," tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Saat itu, M.F. Siregar ditunjuk sebagai pelatih kepala cabang olahraga air yang terdiri dari renang, polo air, dan loncat indah. "Sejak tahun 1950-an, Siregar punya kebiasaan meninggalkan rumah pukul 04.30 pagi untuk melatih renang dan polo air di klub Tirta Merta maupun di pelatnas renang yang saat itu dilaksanakan di Bandung, dan di perkumpulan renang Tirta Taruna dan pelatnas di Jakarta," tulis Brigitta dan Primastuti. Sayangnya, kolam renang Cihampelas barakhir nahas. Setelah sempat terbengkalai, akhirnya kolam renang pertama di Indonesia itu dibongkar untuk dijadikan hotel. Penghancuran itu disayangkan sejumlah pihak di antaranya Irsan Sutedja, mantan atlet renang dan anggota Komisi Teknik Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) KONI Jawa Barat. "Sejak tahun 1959," kata Irsan dikutip detik.com , "saya berlatih mengawali karier saya sebagai atlet renang di kolam Centrum dan Cihampelas itu."*

  • Krakatau Semakin Memukau

    Kritikus musik Indonesia mengatakan banyak musik bagus dari era 1980 dan 1990-an. Era ini ditandai oleh kehadiran beragam grup musik dengan karya berumur panjang. Salah satu grup musik itu Krakatau.  Krakatau menghibur para penggemar mereka di Jakarta Selatan. (Fernando Randy/Historia). Krakatau muncul dari prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono, dan Donny Suhendra. Semuanya kelahiran Jawa Barat. Karena itu, mereka menamai grup musiknya sebagai Krakatau. Sebuah gunung berapi di barat Jawa. Pemain Bass Pra Budi Dharma salah satu pendiri Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Donny Suhendra dan Dwiki Darmawan, pendiri Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Krakatau beraliran jazz dan sering gonta-ganti personel. Sekarang personelnya adalah Trie Utami pada vokal, Dwiki dan Indra Lesmana pada piano serta keyboard , Pra Budi pada bass, Donny pada gitar, dan Gilang Ramadhan pada drum.  Aksi Trie Utama membawakan lagu Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Krakatau telah menciptakan sejumlah album bermusikalitas. Daya musikalitas ini diperoleh dari tempaan menahun para personelnya. Hingga mereka mempunyai kemampuan bermusik di atas rata-rata orang kebanyakan. Sempat vakum, kini Krakatau lahir kembali. (Fernando Randy/Historia). Serupa sebuah gunung berapi, ada masanya Krakatau begitu aktif. Lain waktu justru begitu tenang. Tak ada aktivitas. Misalnya pada tahun 2006, mereka vakum. Penyebabnya, alasan klasik grup-grup musik: jenuh dan sibuk dengan urusan masing-masing. Indra Lesmana, salah satu anggota Krakatau yang cukup bersinar di kancah musik Indonesia. (Fernando Randy/Historia). Waktu untuk kembali aktif datang juga. Krakatau bergemuruh kembali. Kali ini dengan nama Krakatau Reunion. Mereka membuat konser intim pada 2019. Disebut konser intim karena penontonnya tak banyak. Hanya 30 orang terpilih yang dapat menyaksidengarkannya dalam sebuah rumah yang diubah menjadi studio di Jakarta Selatan.  Gilang Ramadhan, salah satu drummer  terbaik Indonesia yang bergabung bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). "Dengan adanya konser intim ini, kami ingin memberitahu bahwa kami akan kembali menggunakan nama Krakatau," ujar Gilang Ramadhan di sesela konser. Meski lama tak tampil bersama, semangat bermusik Krakatau terasa masih sangat besar. Trie Utami seolah tidak pernah kehabisan energi. Katanya, mungkin karena endapan energi dari masa lalu. Ekspresi Trie Utami saat tahu bahwa dirinya sering dikerjain anggota Krakatau lainnya. (Fernando Randy/Historia). Perempuan yang akrab disapa Mbak Iie itu bercerita tentang masa lalu Krakatau. "Dulu saya paling sering dikerjain. Disuruh nyanyi teriak dengan nada tinggi saat di studio rekaman. Suara saya dibilang kurang tinggi terus. Sampai mau habis. Pas saya lihat kebelakang, ternyata mereka ketawa-ketawa. Nyiksa bener, ya."  Indra Lesmana saat beraksi bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Lama tak latihan bersama membuat personel Krakatau sering lupa tempo. Tapi ini bukan masalah besar. Mereka justru menjadikannya bahan candaan. "Semakin melegenda, semakin pelupa. Jadi kami tidak ingin disebut seperti itu karena tak mau lupa caranya bermain musik," kata Indra Lesmana.  Donny Suhendra sedang menyetel gitarnya. (Fernando Randy/Historia). Lagu dan logo Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Pernyataan tersebut itu langsung ditimpali Gilang. Menurutnya, kata legenda akan melenakan mereka. "Terkadang yang di kepala ini juga bukan hanya tentang musik. Banyak hal lain yang menjadi pikiran kami. Kami memang tidak ingin disebut legenda karena bisa semakin menjadi pelupa," kata Gilang. Dwiki Dharmawan benar-benar menghayati lagu-lagu Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Salah satu tato dan aksesoris ular milik vokalis Krakatau, Trie Utami. (Fernando Randy/Historia). Walau Krakatau enggan menyandang atribut legenda, orang-orang kadung menisbatkan legenda kepada mereka. Sebagai penghargaan atas karya album sebanyak sepuluh selama mereka mengusung nama Krakatau. Semuanya berkualitas tinggi. Gilang Ramadhan usai tampil bersama Krakatau. (Fernando Randy/Historia). Tapi Krakatau merasa belum waktunya berhenti total. Mereka masih ingin terus berkarya bersama. "Mungkin seperti Gunung Krakatau sesungguhnya yang pernah meletus, kami juga pernah bubar. Namun semangat bermusik kami tetap sama, seperti halnya Gunung Anak Krakatau yang berdiri kukuh di sana," tutup Indra Lesmana. Bangku kosong di salah satu sudut studio tempat Krakatau berlatih. (Fernando Randy/Historia).

  • Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS.

    VICTORIA Sabrina , kapal pesiar milik Victoria Cruises yang berbasis di New York, akan melakukan pelayaran perdana Mei 2020 nanti di Sungai Yangtze, China. Kapal pesiar mewah ramah lingkungan sepanjang 150 meter itu akan jadi kapal pesiar terbesar di dunia yang beroperasi di sungai. Pelayaran kapal Amerika di Sungai Yangtze bukanlah hal baru. Pada 1920-an, tanker-tanker milik Standard-Vacuum Oil, perusahaan minyak terbesar Amerika, dan kapal-kapal kargo Amerika hilir-mudik di sungai terpanjang China itu. Setelah ditandatanganinya perjanjian dengan pemerintah Republik China pada 1930, kapal-kapal perang Amerika juga rutin melayari sungai itu. Kapal-kapal perang itu mengawal kapal tanker dan kapal kargo Paman Sam agar tak dibajak dan dirompak, di mana kejahatan itu di Sungai Yangtze meningkat sejak akhir 1920-an. Kapal perang Amerika bahkan pernah jadi korban dalam pelayaran di Sungai Yangtze, dikenal sebagai Insiden USS Panay . Gegara Pendudukan Jepang Insiden USS Panay berawal dari direbutnya Shanghai oleh Jepang dalam Perang China-Jepang Kedua, 1937. Kejatuhan Shanghai membuat Chiang Kai-shek, kepala pemerintahan Republik China, mencari cara untuk melawan agresi itu. Oleh para penasehat militernya yang berkebangsaan Jerman, Chiang disarankan mengambil taktik pancingan. Yakni, membiarkan pasukan Jepang maju dari Shanghai ke ibukota Nanking dan terus masuk ke pedalaman lewat Sungai Yangtze. Saat pasukan Jepang sudah masuk jauh ke pedalaman itulah baru pasukan China menggempur dari sisi kanan-kiri sungai. Chiang menyetujui saran itu. Dengan masuknya Jepang ke Nanking pada November 1937, pertempuran sengit pun pecah karena militer China di bawah pimpinan Tang Shengzi mati-matian mempertahankannya alih-alih menyatakan Nanking sebagai kota terbuka. Pertempuran itu kemudian dikenal sebagai Pembantaian Nanking, karena pasukan Jepang memperkosa perempuan dan membunuhi penduduk sipil. Kondisi mengerikan itu mendorong penduduk yang selamat berbondong-bondong mengungsi. Perwakilan-perwakilan negara asing juga mengevakuasi warganya sejak November. Pada 11 Desember, Inggris dan Amerika kembali mengevakuasi warganya. Amerika menggunakan tiga kapal tanker milik Standard-Vacuum Oil, SSMei Ping, SS Mei An, dan SS Mei Hsia , dengan pengawalan kapal perang USSPanay . Konvoi itu berangkat pukul 8.30 pagi waktu setempat. Selain mengangkut 54 kru, Panay saat itu mengangkut empat staf Kedutaan AS dan 10 jurnalis AS dan asing. Konvoi yang dipimpin Panay  itu mencapai titik 28 mil dari Nanking pada pukul 13.30 tanggal 12 Desember. Saat itulah beberapa pesawat pembom Yokosuka B4Y yang dikawal pesawat tempur A4N Nakajima Type 95 dari Grup Udara ke-13 AL Jepang pimpinan Letnan Okumiya Masatake terlihat terbang di atas mereka. Pesawat-pesawat itu ditugaskan ke Sungai Yangtze berdasar laporan intelijen yang menyatakan kapal-kapal Tiongkok yang dipenuhi tentara sedang bergerak naik ke Yangtze dari Nanking. Yakin akan keakuratan informasi intelijennya, pilot pesawat Yokosuka langsung melepaskan beberapa bomnya ke konvoi kapal Amerika di sungai. Satu bom berhasil mengenai satu kapal di konvoi itu yang terlihat sebagai kapal perang ( USS Panay ). Aksi Yokosuka langsung diikuti enam Nakajima menukik ke arah konvoi sambil memberondongkan senapan mesin dan menjatuhkan total 20 bom. USSPanay membalas serangan dengan menembakkan senapan mesin kaliber 30mm-nya meski saat itu lambungnya sudah sobek dan deknya terbakar. Namun tak satupun tembakan itu mengenai pesawat-pesawat Jepang tadi. Sebaliknya, kapal-kapal Amerika itu kembali didatangi pesawat-pesawat Jepang yang terus memberondong dan melepaskan bom-bomnya. “Setelah bombardir dan pemberondongan 20 menit terus-menerus itu, hasilnya amat menghancurkan. Kapal utama ( Panay , red .) dihajar di tengah sungai, dikelilingi peluru, terbakar, dan miring ke kanan. Dua kapal lain terdampar di tepi kanan Sungai Yangtze, yang lain di tepi kiri,” tulis Peter Harmsen dalam Nanjing 1937: Battle for a Doomed City . Meski sempat pergi, pesawat-pesawat Jepang itu kembali lagi karena Letnan Okumiya dimarahi atasannya lantaran tak menenggelamkan langsung kapal-kapal tadi. Kali ini mereka gagal menemukan kapal-kapal Amerika tadi dan hanya mendapati empat kapal lain yang berada lebih dekat dari kota Nanking. Okumiya langsung menjatuhkan bom 60 kilogramnya yang menghantam salah satu kapal. “Ketika dia berhenti (menyerang), dia melihat, dalam sepersekian detik, Union Jack di sisi lambung kapal. Dia menyadari kesalahannya,” sambung Harmsen. Bukan kapal Amerika, kali ini yang dihantam pesawat-pesawat Jepang merupakan kapal Inggris SS Wantung . “ SS Wantung berlayar dari Shanghai ke Wuhu untuk melakukan kerja penyelamatan di sana. Dia juga membawa muatan 100 ton kacang untuk Komite Zona Keamanan Internasional di Nanking,” tulis buku A Dark Page in History: The Nanjing Massacre and Post-Massacre Social . Kesalahan Okumiya segera disadari rekan-rekan pilotnya sehingga mereka tak jadi melepaskan tembakan dan bom. Pesawat-pesawat Jepang itu segera kembali ke pangkalan. Serangan kedua atas Panay membuat situasi di geladak kacau. Komandan Panay K apten James Joseph Hughes tertembak pahanya sehingga posisinya digantikan Letnan Arthur F. Anders. Personil militer lain yang tertembak yakni Pratu Charles Lee Ensminger dan Prajurit William Gorge Hulsebus. Sementara, penumpang sipil yang teridentifikasi tertembak adalah Sandro Sandri, kontributor suratkabar Italia La Stampa berusia 42 tahun, dan sekretaris Kedubes AS John H Paxton. Dokter kapal langsung menjadikan ruang mesin sebagai rumahsakit darurat. Sekira 45 korban serangan mengantri untuk mendapat perawatannya. Letnan Anders, yang tangannya tertembak dan lehernya terkena pecahan peluru, akhirnya memberi perintah lewat tulisan karena tak bisa bicara. Semua orang diperintahkannya meninggalkan kapal pada pukul 14.00 itu. Beberapa sekoci langsung membawa para kru dan penumpang ke sebuah pulau berilalang lebat, tempat para penumpang Panay bersembunyi. Dari rerimbunan ilalang, mereka melihat sebuah powerboat AL Jepang mendekati Panay sambil memberondong. Para serdadu Jepang itu lalu menaiki Panay dengan bendera Amerikanya yang masih berkibar. Lima menit kemudian mereka kembali ke powerboat dan pergi. Panay  akhirnya tenggelam pukul 15.45 dan sempat diabadikan oleh kamera beberapa jurnalis yang menumpanginya. Karena takut, para penumpang Panay bertahan di  yang dingin itu. Mereka baru menyeberang ke desa terdekat setelah keadaan aman. Namun, malamnya Pratu Ensminger dan Sandri tewas akibat luka-lukanya terlalu parah. Mereka semua akhirnya diselamatkan USS Oahu dan kapal Inggris HMS Ladybird . Berita serangan atas Panay pun sampai ke Tokyo dan Kedubes AS di Tokyo. Dubes AS untuk Jepang Joseph C. Grew pusing dan khawatir Amerika balas menyerang Jepang karena kasus Panay . Sebab, menurut FJ Bradley dalam He Gave the Order: The Life and Times of Admiral Osami Nagano,  “Amerika memindahkan skuadron B-17 Flying Fortress ke Pangkalan Clark di Filipina sebagai tanggapan terhadap Insiden Panay.” Grew tak ingin kasus peledakan kapal AS USS Maine di Havana tahun 1898 yang memantik Amerika berperang dengan Spanyol terulang pada Jepang. Pemerintah Jepang akhirnya meminta maaf kepada pemerintah Amerika dan setuju membayar kompensasi sebesar 2,2 juta dolar. Permintaan maaf itu membuat pemerintah Amerika akhirnya memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan Insiden Panay . Berbeda dari pemerintah Jepang yang bersikeras serangan terhadap Panay karena salah identifikasi oleh pilotnya, rakyat Jepang menunjukkan simpati luar biasa kepada para korban dan keluarga mereka. Surat belasungkawa dan permintaan maaf hingga donasi uang dari masyarakat Jepang beragam kalangan, mulai anak-anak hingga pensiunan angkatan laut, terus membanjiri Kedubes AS di Tokyo dan konsulat-konsulat AS di kota-kota besar Jepang. Salah seorang yang bersimpati adalah bocah dari Nagasaki yang mengirim uang dan surat bertuliskan “Kepada pelaut Amerika”. “Dalam sebuah surat dua hari kemudian, konsulat di Nagasaki melaporkan kepada Grew bahwa pada 21 Desember seorang bocah lelaki dari SD Shin Kozen membawa surat dan sumbangan dua yen ke konsulat dan ditemani oleh kakak laki-lakinya. Konsul melampirkan kontribusi dan surat anak itu baik asli maupun terjemahannya. Surat itu berbunyi, ‘Musim dingin telah tiba. Setelah mendengar dari kakak saya bahwa kapal perang Amerika telah tenggelam beberapa hari lalu, saya merasa sangat menyesal. Dilakukan tanpa niat, saya meminta maaf atas nama para prajurit. Mohon dimaafkan. Ini adalah uang yang saya tabung. Tolong serahkan kepada para pelaut Amerika yang teluka.’ Bocah itu tidak menyebutkan namanya dalam surat itu, juga tidak mengungkapkannya ketika mengunjungi konsulat,” tulis Trevor K. Plante, arsiparis di unit Old Military and Civil Records, National Archives and Records Administration, dalam artikel yang dimaut archives.gov , “Japanese Expressions of Sympathy and Regret in the Wake of the Panay Incident”. Baik kompensasi resmi maupun donasi sukarela rakyat Jepang akhirnya tuntas dilaksanakan. Donasi yang terus berjalan hingga Februari 1938 dan memusingkan Dubes Grew itu –karena berpendirian menolak donasi apapun di luar kompensasi resmi, Washington memerintahkan untuk mengembalikan donasi itu; sementara Grew tak ingin Amerika menolak donasi karena melukai hati para pemberi donasi– akhirnya menghasilkan pendirian lembaga Japan-America Trust pada April 1938. Lembaga inilah yang mengalokasikan uang donasi untuk membiayai keperluan yang berhubungan dengan persahabatan Amerika-Jepang. “Kedua belah pihak lega dengan hasil dari masalah kontribusi Panay. Pembentukan Japan-America Trust menghapus semua kebutuhan untuk mengembalikan uang (donasi), dan tidak ada bagian dari pemerintah atau warga negara Amerika lain yang diuntungkan dari donasi tersebut,” sambung Plante.*

  • Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi

    PEMERINTAH telah menyerahkan draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ke DPR pada pertengahan Februari 2020. RUU itu memuat revisi sejumlah pasal dalam hampir 80-an undang-undang di bidang ekonomi, pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, dan banyak lagi. Bersama penyerahan itu, salinan RUU mulai tersebar dan dibaca oleh masyarakat.

  • Santo Iker di Bawah Mistar

    MASIH ingat Iker Casillas? Penjaga gawang Real Madrid sepanjang era Galácticos (2000-2014) itu selalu menjadi pembeda dari rekan-rekannya yang garang kala menghadapi lawan. Casillas selalu tampil menawan dengan kharisma dan perilakunya yang jauh dari kata arogan. Bak santo, ia enggan mengekspresikan rasa sakitnya ke publik kala dibuang dari klub yang dibelanya selama 25 tahun pada 2015. Padahal Casillas punya saham dalam mendatangkan lima gelar La Liga, dua Copa del Rey, empat Supercopa de España, dan tiga gelar Liga Champions dalam titimangsa 2000-2014. Namun itulah Madrid dengan presidennya Florentino Pérez. Yang menguntungkan, bakal dibintangkan. Tapi sebanyak apapun prestasi yang disumbangkan seorang bintang, klub tak menganggapnya dan bakal membuang kalau tak lagi menguntungkan.  Casillas masih untung karena klub Portugal FC Porto mau menampungnya. Di Portugal, Casillas membuktikan belum habis. Ia membantu Porto mendulang gelar Primeira Liga musim 2017-2018. Sejak Mei 2019 Casillas mengidap penyakit jantung dan kini ia tutup buku untuk karier bermainnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sayangnya sejak Mei 2019 Casillas mulai jarang tampil gegara didiagnosa punya penyakit jantung. Tahun ini jadi tahun terakhir Casillas mentas di lapangan hijau, di usia 39 tahun. “Sebelum mengumumkan pencalonannya (Presiden RFEF), Casillas menemui saya untuk memberitahu keputusannya mengakhiri karier,” ujar Presiden FC Porto Jorge Nuno Pinto da Costa, dikutip Sportstar , 18 Februari 2020. Ramalan Sejak Masa Kehamilan Sebagai penerus estafet kiper hebat Spanyol, Casillas punya prestasi paling mentereng dibanding empat pendahulunya. Ricardo Zamora, Antoni Ramallets, Luis Arconada, sampai Andoni Zubizarreta belum pernah merasakan gelar yang didapat Casillas. Lahir di Madrid pada 20 Mei 1981 dengan nama Iker Casillas Fernandéz, Casillas merupakan putra dari pasangan José Luis Casillas dan María del Carmen Fernández González. Jose merupakan pegawai di Kementerian Pendidikan Spanyol dan Maria seorang penata rambut. Iker Casillas di masa jadul kala meniti karier di akademi Real Madrid "La Fábrica" (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sebagaimana dikisahkan Enrique Ortego dalam biografi Iker Casillas: La Humildad del Campeón , Casillas memiliki darah Basque. Kakeknya dari pihak ayah merupakan seorang perwira guardia civil , semacam polisi militer asal Bilbao. Ada kisah menarik tentang prediksi masa depan Casillas meski ia belum lahir ke dunia. “Suatu hari, seorang tukang sepatu dekat apartemen mereka meramalkan bahwa putra mereka akan jadi pemain hebat dan dia akan bermain untuk menaklukkan semua tantangan yang ada sekaligus mensejajarkan diri dengan para kiper hebat Basque,” tulis Jonathan Wilson dalam The Outsider: A History of the Goalkeeper. Prediksi tukang sepatu itu terbukti. Casillas bahkan sukses di tingkat internasional. Selain mengantarkan Spanyol merebut Piala Eropa 2008 dan 2012, Spanyol di masa Casillas akhirnya mampu mencicipi juara Piala Dunia pada 2010. “Casillas sebagai kapten di tiga sukses besar itu,” sambung Wilson. Momen paten Casillas di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 (Foto: uefa.com/fifa.com ) Fans Madrid dan timnas Spanyol menjulukinya San Iker alias Santo Iker atau Iker si Orang Suci. “Persahabatannya dengan Xavi (kapten Barcelona) sejak di timnas muda Spanyol menjadi faktor besar dalam meredakan perseteruan Madrid-Barcelona yang bisa merusak spirit skuad timnas, mengingat rivalitas kedua tim saat itu di bawah asuhan José Mourinho dan Pep Guardiola,” ungkap entrenador Spanyol di Piala Dunia 2010, Vicente del Bosque, dikutip Wilson. Ikon Abadi Madrid Namun sebelum sampai ke kegemilangan itu, Casillas merintisnya dengan susah-payah. Sebagai anak introvert , ia lebih sering bermain sepakbola dengan ayahnya ketimbang anak-anak sebayanya. Itu disebabkan karena ayahnya sering dimutasi sehingga Casillas tak pernah punya teman dekat yang bertahan lama. Dari bersepakbola dengan ayahnya itulah Casillas mulai menyukai posisi kiper gegara setiap bermain di taman dia yang selalu jadi penangkap bola yang ditendang ayahnya. Sang ayah yang melihat bakat Casillas lalu coba memasukkan Casillas ke program ujicoba Real Madrid saat mereka pindah ke Madrid. Setiap tahun Real Madrid menggelar serangkaian ujicoba terbuka untuk anak-anak. Casillas mengikutinya saat berusia 10 tahun dan dia lulus di tes pertama. Namun pada tes kedua yang merupakan tes sparring, Casillas kebobolan tujuh gol. “Meski timnya kalah 7-1, Kepala Seksi Pemain Muda Madrid Antonio Mezquito melihat potensi dalam diri Casillas dan memutuskan untuk mengajaknya masuk akademi muda Real Madrid, La Fábrica,” sambung Ortego dalam biografi Casillas. Di tahun 1990 itulah karier Casillas dirintis. Meski posturnya enggak tinggi-tinggi amat, tapi Kak Casillas punya refleks yang cekatan untuk menjaga kesucian gawangnya (Foto: realmadrid.com ) Tuhan seolah sudah menata hidup Casillas untuk cemerlang di bawah mistar. Enam tahun setelah masuk La Fábrica dan bahkan belum menembus Real Madrid C, Casillas sudah terpilih masuk skuad Timnas Spanyol U-15 dan pada 1997 sudah turut memenangi Euro (Piala Eropa) U-16 di Jerman. “Hal terhebat tentang Iker adalah cara natural yang dia punya untuk selalu menghadapi banyak tantangan. Kedewasaan memberi dia ketenangan saat sedang bermain. Ketenangan yang berbuah manis,” ujar eks kiper Madrid dan timnas Spanyol yang melatih Casillas di La Fábrica, Paco Buyo, dikutip Wilson. Alhasil, pada akhir November 1997 Casillas sudah dipanggil ke tim senior Real Madrid. Usianya masih 16 tahun dan bahkan belum resmi masuk Real Madrid C lantaran ia masih menyelingi titian kariernya dengan pendidikan SMA di Instituto Cañaveral de Móstoles. Casillas, sebagaimana dimuat laman UEFA , 9 Februari 2019, mengenang momen itu. Jelang pemanggilan itu, Casillas dan teman-temannya tengah larut dalam obrolan tentang Madrid. Tiba-tiba kepala sekolah (kepsek) masuk ke ruangan kelasnya dan meminta Casillas segera menyusul ibunya ke Bandara Madrid-Barajas. “Itu sebuah anekdot yang bagus. Pak kepsek bilang, ‘Iker, kamu sebaiknya cepat panggil taksi dan bergegas ke (bandara) Barajas karena Real Madrid baru saja menelepon ibumu dan ibumu menelepon kami. Segeralah kamu pergi karena kamu akan ke Norwegia’,” ungkap Casillas mengingat momen dadakan jelang laga Liga Champions kontra Rosenborg itu. Pemanggilan Casillas itu atas permintaan entrenador Jupp Heynckes. Pasalnya kala itu kiper utama Bodo Illgner dan kiper kedua Santiago Cañizares tengah cedera. Casillas dibutuhkan sebagai kiper cadangan untuk melapisi kiper Madrid lainnya, Pedro Contreras. Meski akhirnya tak dimainkan, Casillas sudah cukup girang jadi penonton di bangku cadangan. “Saya bisa berada di tempat yang sama dengan Fernando Morientes, Clarence Seedorf, Fernando Sanz, Predrag Mijatović, Davor Šuker, dan Raúl González. Suatu hal yang magis dan akan selalu saya ingat,” tambahnya. Penampilannya yang top markotop di final Liga Champions 2002 memastikan posisinya sebagai portero permanen Madrid seterusnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Usai lulus SMA, Casillas full menseriusi kariernya di Real Madrid C pada 1998, kemudian Real Madrid B sebagai kiper utama, hingga menembus tim utama Madrid. Debutnya di tim utama berlangsung pada 12 September 1999, kala Madrid bertandang ke Stadion San Mamés untuk menghadapi Athletic Bilbao di pentas La Liga. Tiga hari berselang, Casillas mencatatkan rekor sebagai pemain termuda di Liga Champions (18 tahun, 177 hari) kala dibawa pelatih Toshack meladeni Olympiakos Piraeus. Namun yang menjadi titik penting kariernya di Los Blancos adalah final Liga Champions musim 2001-2002 kontra Bayer Leverkusen di Stadion Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, 15 Mei 2002. Kala itu Casillas masuk di menit ke-68 menggantikan César Sánchez yang cedera. “Ia dengan reflek-reflek cepat dan penyelamatan-penyelamatannya yang tangkas, serta kecerdasannya untuk membaca antisipasi pemain lawan, membantu Madrid mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Sejak saat itu posisinya di bawah mistar tim utama Madrid menjadi permanen,” singkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorit Sport. Habis karier manis Casillas, sepah dibuang Real Madrid yang rasanya sakit tapi tak berdarah (Foto: realmadrid.com ) Sejak itulah nama Casillas senantiasa terpampang di starting eleven tiap laga Madrid, hingga mencetak 700 penampilan. Tak terhingga pula penghargaan pribadi yang ia sabet. Kegemilangan Casillas sempat bikin celamitan klub-klub kaya di Inggris dengan niat meminangnya. Beruntung, Casillas yang rupawan pilih setia pada Madrid. Sialnya, loyalitas Casillas justru dibalas Madrid dengan pembuangan. Pembuangan itu memang bukan tanpa alasan. Sejak 2013, penampilan Casillas mulai tak stabil setelah cedera parah. Akibatnya entrenador José Mourinho dan penggantinya, Carlo Ancelotti, memilih kiper lain ketimbang Casillas selepas ia pulih. Perlakuan Madrid melego Casillas ke FC Porto pada 11 Juli 2015 itu mendatangkan banjir kecaman. Sebaliknya, Casillas kebanjiran simpati. Salah satunya dari kiper legendaris Italia Gianluigi Buffon. “Anda akan selalu menjadi ikon Real Madrid. Tapi di atas itu semua, Anda adalah salah satu representasi terbaik seorang kiper. Semoga beruntung dalam petualangan baru, akan sangat aneh melihat Anda dengan seragam lain. Semangat Iker!” kata Buffon dinukil Marca , 13 Juli 2015.

  • Dokter Pribumi Menolak Diskriminasi Gaji

    ABDUL Rivai kesal. Kualifikasi medis lokalnya hanya memungkinkan untuk mendaftar di posisi rendah dalam layanan medis kolonial. Gaji yang ia dapat bahkan kurang dari setengah gaji rekan-rekan Eropanya. Ia pun memprotes kebijakan diskriminatif pada dokter pribumi. Protes soal gaji juga pernah diutarakan dokter Tjipto Mangunkusumo. Tjipto tak hanya memprotes soal gaji dokter pribumi, tetapi juga gaji mantri Jawa. Protes gaji mantri dilakukan Tjipto saat dia dan dokter Eropa JT Terburgh, dibantu sepuluh mantri, ditugaskan menangani epidemi malaria yang melanda Jawa. Para mantri rupanya dibayar amat rendah. Mereka mengeluhkan hal itu pada Tjipto sebagai dokter pribumi sekaligus atasan mereka. Begitu mendengar hal itu, Tjipto langsung melapor ke pejabat Eropa setempat. Terburgh menyanggah Tjipto dengan mengatakan para mantri Jawa hanya mau bekerja jika dibayar di atas standar upah. Lebih jauh Terburgh menuduh Tjipto dan para mantri Jawa tidak paham dengan kerja kemanusiaan. Jelas saja Tjipto tidak terima dengan tuduhan itu. Pasalnya, ia merupakan salah satu dokter yang berani masuk ke kampung-kampung kala pes mewabah di Jawa Timur sementara para dokter Eropa ogah turun tangan. Tjipto pun mengancam akan mengundurkan diri kalau permintaan kenaikan gaji tidak dikabulkan. Benar saja, Tjipto mengundurkan diri ketika Terburgh menolak protesnya. Penilaian tentang dokter pribumi lulusan negeri jajahan lebih rendah dari lulusan Eropa membuat pemerintah kolonial menggaji mereka setengah atau lebih rendah dari para dokter Eropa. Para dokter pribumi juga ditempatkan di pedalaman atau bagian medis di mana dokter Eropa ogah menempati. Hans Pols dalam Nurturing Indonesia menyebut, penjajah Eropa umumnya berangggapan bahwa dokter dan pribumi terpelajar lain sebagai orang yang terlalu ambisius dan lupa akan tempatnya di sistem kolonial. Para dokter Eropa sangat memusuhi mereka, meski sebenarnya mereka sangat terbantu dengan kehadiran dokter pribumi. Pengalaman diskiminatif dan penyingkiran inilah yang memantik kesadaran politik para dokter pribumi. Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dengan gerakan nasionalis, semisal Tjipto, Bahder Djohan, dan Abul Rivai yang selain melancarkan protes soal diksriminasi gaji juga aktif dalam gerakan politik. Protes soal diskriminasi gaji mereka utarakan lewat Asosiasi Dokter Hindia ( Vereeniging van Inlandsche Geneeskundingen,  VIG) yang beridiri pada 1911. Resistensi terus tumbuh hingga mereka didukung oleh Sarekat Islam. Beberapa cabang mendukung usulan aksi mogok para dokter Jawa. Protes itu akhirnya didengar pemerintah kolonial. Pada minggu kedua November 1919, pemerintah mengirim banyak proposal anggaran 1920 ke Volksraad. Isinya antara lain mengenai usulan anggaran 1920, usulan dewan kabupaten, dan prinsip sistem remunerasi baru, dan proposal tentang kenaikan gaji untuk dokter di Hindia. Langkah Dewan Rakyat menaikkan gaji dokter pribumi berhasil meredakan gelombang protes. Dewan Rakyat juga meminta pemerintah untuk mengubah jumlah kenaikan gaji tahunan dan penggantian biaya perjalanan. Namun, rupanya kenaikan itu tak signifikan. Ketika Bahder Djohan lulus dari STOVIA dan menjadi dokter pada 1927, gaji dokter pribumi masih setengah dari gaji dokter Eropa. Sebagai Indische Arts, gaji Bahder hanya 250 gulden sebulan, sedangkan teman Belandanya mendapat 500 gulden meskipun keahlian dan diplomanya sama. Padahal, Bahder memegang banyak pekerjaan. Ia bertanggung jawab atas dua bangsal: III dan IV. Tiap bangsal dihuni 10-15 pasien. Belum lagi ketika ada pasien TBC atau lepra yang datang, dialah yang harus menangani. Gaji yang sedikit itu bahkan tidak cukup untuk membayar langganan jurnal medis Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie  (GTNI) yang cukup mahal. Kepincangan itu juga dialami rekan sejawat Bahder yang pribumi. “Hal ini terang sekali memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membedakan antara bangsanya sendiri dangan anak jajahannya meskipun memiliki pendidikan dan pekerjaan yang sama,” kata Bahder dalam otobiografinya, Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Menurut Bahder, masalah kepincangan gaji merupakan bentuk diskriminasi nyata di depan mata dan mencerminkan bagaimana pemerintah kolonial memandang petugas medis pribumi. Lebih jauh ia mengatakan, persoalan ini bukan semata soal uang, melainkan apresiasi kerja dan martabatnya.

  • Mata-Mata Pembunuh Sultan Demak

    Pada suatu hari di tahun 1549. Raja Jipang Arya Penangsang memberikan perintah kepada Ki Rangkud, seorang  kajineman  (telik sandi, mata-mata, atau polisi rahasia). "Hai Rangkud. Bunuhlah Kakanda Pangeran Prawata. Pakailah keris pusakaku ini." Ki Rangkud menyanggupi, menerima keris pusaka bernama Kyai Setan Kober, lalu berangkat. Ketika dia sampai di Demak, Sunan Prawata sedang sakit dan bersandar pada permaisurinya. "Siapakah kau ini?" tanya Sunan Prawata. Ki Rangkud menyampaikan maksud kedatangannya. "Saya utusan Pangeran Arya Penangsang, disuruh membunuh tuanku." "Silakan, tetapi biarlah aku sendiri saja yang kau bunuh," kata Sunan Prawata. Ki Rangkud menusukkan keris Kyai Setan Kober ke dada Sunan Prawata yang juga melukai istrinya. Sunan Prawata murka, mencabut kerisnya, Kyai Bethok, lalu melemparkannya ke Ki Rangkud. "Kulit Rangkud tergores sedikit (menurut Serat Kandha : kakinya). Tetapi, goresan sebuah keris sakti cukup membuat penjahat itu tewas. Sunan Prawata dan permaisurinya pun tewas," tulis H.J. de Graaf, ahli sejarah Jawa, dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati . Cerita pembunuhan Sunan Prawata itu terdapat dalam Babad Tanah Jawi . Menurut De Graaf, saudara perempuan Sunan Prawata, Ratu Kalinyamat, tidak tinggal diam atas pembunuhan kakaknya. Dia dan suaminya, Pangeran Kalinyamat, menghadap Sunan Kudus untuk meminta pelakunya diadili, karena Sunan Kudus adalah guru Arya Penangsang. Dalam perjalanan pulang, keduanya diserang oleh para kajineman  Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat terbunuh. Setelah itu, Ratu Kalinyamat bertapa di Gunung Danareja, dalam keadaan telanjang, hanya rambutnya yang terurai menjadi pakaiannya. Dia bersumpah tidak akan memakai kain sebelum Arya Penangsang mati. Dia juga akan mengabdi dan memberikan semua hartanya kepada siapa saja yang dapat membunuh Arya Penangsang. Dendam dan Kekuasaan De Graaf menguraikan bahwa Sultan Demak pertama, Raden Patah, digantikan oleh putranya yang tertua, Pangeran Sabrang Lor. Dia mati pada 1521 dalam usia muda dan tidak memiliki anak. Yang seharusnya menggantikannya adalah putra Raden Patah berikutnya, Pangeran Seda Lepen. Namun, malah digantikan oleh adiknya, Raden Trenggana, yang memegang kekuasaan sampai terbunuh pada 1546. Dia digantikan oleh putranya, Pangeran Prawata. Pangeran Seda Lepen dan putranya, Arya Penangsang, sakit hati karena hak mereka dilangkahi. Kemarahan Arya Penangsang memuncak ketika mengetahui bahwa sebelum menjadi sultan Demak, Pangeran Prawata memerintahkan Surayata untuk membunuh ayahnya, Pangeran Seda Lepen. Jadi, Sunan Prawata bukan hanya merebut kekuasaan, yang menurut hak harus diwariskan kepada Arya Penangsang, tetapi juga menyuruh orang membunuh ayahnya. "Maka, mudah dimengerti jika sejak itu Arya Penangsang akan menggunakan jalan apa pun, tidak hanya untuk membalas dendam, tetapi juga merebut kekuasaan," tulis De Graaf. Oleh karena itu, Arya Penangsang berusaha menghabisi keturunan dan kerabat Sultan Trenggana. Setelah berhasil membunuh Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat, dia berusaha membunuh Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggana. Arya Penangsang mengirim empat orang kajineman untuk membunuh Jaka Tingkir. Mereka berusaha menikam Jaka Tingkir yang sedang tidur. Jaka Tingkir menyingkapkan dodot -nya (pakaian panjang yang dipakai para raja yang juga digunakan sebagai selimut tidur) sehingga membuat mereka terjatuh. Jaka Tingkir mengampuni mereka bahkan memberinya uang (masing-masing 15 rial) dan pakaian. Kemungkinan Jaka Tingkir sengaja membiarkan mereka hidup agar menjadi pesan bagi Arya Penangsang. Setelah menerima laporan kegagalan kajineman , Arya Penangsang merasa khawatir. Dia meminta Sunan Kudus memanggil muridnya, Jaka Tingkir. Jaka Tingkir memenuhi panggilan itu. Arya Penangsang dan Jaka Tingkir sempat saling menghunus keris. Namun, Sunan Kudus menasihati dan menyuruh mereka pulang. Jaka Tingkir juga pernah akan dibunuh oleh kajineman  karena mengambil istrinya. Dia memintanya kepada Ratu Kalinyamat untuk dijadikan selir. "Adimas, jangankan dua puteri itu, negara Kalinyamat dan Prawata dan kekayaanku semua kuberikan. Asalkan kamu memenuhi permintaanku." "Mbakyu, jangan khawatir sampeyan. Arya Jipang mesti mati oleh saya," kata Jaka Tingkir. "Baik, Adimas, siapa yang kupercaya lagi selain dirimu?" Kajineman  yang istirnya dibawa Jaka Tingkir tak terima. Dia bersama teman-temannya menyerang Jaka Tingkir yang sedang tidur. Namun, tidak mempan. Jaka Tingkir bangun dan mengampuni mereka. Kajineman  pun merelakan istrinya. Jaka Tingkir menepati janjinya kepada Ratu Kalinyamat. Dia berhasil membunuh Arya Penangsang. Kerajaan Demak pun berakhir setelah Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaannya ke Pajang. * Tulisan ini direvisi pada 23 Februari 2020 .

bottom of page