Hasil pencarian
9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Saat Jakarta Sunyi karena Pendemi
Dalam catatan sejarah, negeri ini tak sekali ini menerima pandemi. Tahun 1918 Indonesia –dulu Hindia Belanda- dilanda oleh flu Spanyol yang menyebabkan kematian hingga 1,5 juta jiwa. Tahun sebelumnya, wabah penyakit pes sudah lebih dulu meluluhlantakkan mengganas di seantero Jawa. Jalan Sudirman yang sepi saat pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Toko-toko yang tutup di kawasan Senen Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Suasana sepi tempat berjualan pakaian di kawasan Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Sejak virus corona atau Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, dampaknya langsung terasa ke seluruh kota, terutama Jakarta. Jakarta hingga saat ini masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi. Mengacu dari laman corona-jakarta.co.id hampir 4 ribu orang terjangkit virus yang menyerang saluran pernapasan ini. Toko perabotan di Jakarta yang tutup saat pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Seorang pegawai toko tampak lesu saat tokonya tutup karena pendemi. (Fernando Randy/Historia). Kawasan Sarinah yang terpaksa tutup saat pendemi. (Fernando Randy/Historia). Seorang warga melintas ditengah tutupnya food court di Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Dengan makin meluasnya penyebaran virus korona akhirnya Presiden Joko Widodo mengeluarkan himbauan untuk mengkarantina diri. Mulai dari sekolah yang diliburkan hingga para pekerja yang diharapkan untuk bekerja dari rumah. Dengan kondisi tersebut banyak perubahan yang terlihat pada kota metropolitan seperti Jakarta. Kota yang biasanya hampir tidak pernah tidur, kini seakan berhenti berdetak. Kawasan Kuningan Jakarta yang tampak kosong dan sepi. (Fernando Randy/Historia). Kolam renang di Kuningan Jakarta yang tampak sepi. (Fernando Randy/Historia). Lampu gedung perkantoran yang tidak hidup semua dikarenakan para karyawan kerja dari rumah. (Fernando Randy/Historia). Kantor yang biasanya ramai di kawasan Sudirman, tampak sepi di tengah pendemi. (Fernando Randy/Historia). Mall-mall yang biasa ramai oleh warga kota, kini sepi. Tidak lagi terlihat para pekerja sibuk menawarkan dagangan toko mereka, aktifitas pun hanya terbatas pada gerai yang menjual kebutuhan pokok makanan. Jalanan pun lenggang, terlihat wajah lusuh para ojek online yang tetap berusaha mencari nafkah. Kedai kopi yang saban hari selalu penuh oleh pekerja Jakarta untuk memenuhi asupan kafein mereka kini melompong. Mal di Jakarta yang tutup karena pendemi Covid-19. (Fernando Randy/Historia). Sangking sepinya bahkan seorang pengunjung tidak malu untuk tertidur di mall. (Fernando Randy/Historia). Covid-19 membuat para pedangang merugi, tak jarang mereka hingga tertidur menunggu pembeli. (Fernando Randy/Historia). Walaupun tanda-tanda pendemi ini belum akan berakhir, dampak dari berhentinya segala aktifitas warga Jakarta pun ada sisi positifnya. Salah satunya adalah menurunnya polusi udara di Jakarta. Pembatasan ruang gerak masyarakat dalam bertransportasi nyatanya berdampak baik untuk kualitas udara kota ini.
- Awal Praktik Keislaman di Indonesia
Islamisasi sudah terjadi berabad-abad di Nusantara. Namun, bukan berarti praktik keislaman, khususnya salat dan puasa, sudah dilakukan bersamaan dengan proses itu secara masif. Jajang Jahroni, dosen Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan bukti-bukti Islamisasi paling tidak sudah muncul sejak abad ke-12 dan ke-13. Namun, ketika itu identitas keislaman masih terbatas pada syahadat, berkhitan, dan menghindari makan daging babi. Bukti Islamisasi dari nisan-nisan bertulisan Arab hanya menunjukkan bahwa sudah ada orang-orang yang dimakamkan secara Islam. "Harus dilihat sumber sejarah yang lain. Ketika melihat nisan,keislamannya seperti apa? Apakah salat dan sebagainya. Ini pertanyaan sulit," kata Jajang dalam diskusi "Tradisi dan Harmoni Ramadan pada Peradaban Nusantara" via zoom yang diselenggarakan Puslit Arkenaspada Rabu, 20 Mei 2020. Mengenal Islam Secara Bertahap Pada masa penyebaran Islam di Jawa, walisongo sudah mengenalkan aspek ketuhanan hingga syariat. Namun, itu baru dilaksanakan oleh beberapa kantung masyarakat muslim, khususnya di pesisir. "Ini masih proses konversi. Orang-orang Majapahit banyak yang masuk Islam dan menjadi santri walisongo. Yang melahirkan Demak itu kan orang-orang Majapahit juga," kata Jajang. Bagaimana dengan masyarakat yang belum menjadi sasaran dakwah? Jajang menduga mereka masih mempraktikkan agama lokal. "Orang masih campur-campur, saya kira," kata Jajang. "Semakin ke utara, di mana banyak walisongo berdakwah di sana semakin ortodoks." Jajang menyebutkan bahwa Islamisasi membutuhkan lembaga yang matang. Misalnya pendakwah. Kendati sudah ada pendakwah pada abad ke-13, jumlahnya masih terbatas. "Biasanya yang masuk Islam cukup rajanya saja. Raja masuk Islam rakyatnya ikutan. Raja itu makrokosmos. Raja pindah ke timur, semua pindah. Watak kerajaan sebelum Islam kan begini," kata Jajang. Sejumlah kesultanan Islam, kata Jajang, perlu dikecualikan. Kesultanan Banten adalah salah satu yang sudah menerapkan syariat Islam, termasuk berpuasa saat Ramadan walaupun masih terbatas. "Saat itu puasa masih elitis. Semakin jauh dari keraton , saya pikir orang tidak berpuasa," kata Jajang. Tubagus Najib, ahli arkeologi Islam, manambahkan bahwa pada awal Islam datang, yang didakwahkan bukan persoalan fikih yang syar'i. Namun tarekat yang banyak diminati masyarakat Nusantara. Di antara tarekat itu, kemungkinan rukun Islam belum dianggap perlu. Ketika itu, yang paling dianggap penting adalah pengenalan kepada Allah Swt. "Yang penting eling, ingat sama yang kuasa. Sunan Giri juga pernah menegur kenapa Sunan Kalijaga mengajarkannya begitu? Lalu dijawab oleh Sunan Kalijaga nanti ke depan ada yang meluruskan,” ujar Najib. Berpuasa karena Tuntutan Sosial Sejak kapan muslim Indonesia berpuasa secara masif? Menurut Jajang, salat lima waktu dan puasa Ramadan baru dilaksanakan secara masif pada abad ke-19 ketika pemahaman Islam sudah semakin mantap. "Jadi, baru 100 tahun lebih orang Islam Nusantara berpuasa secara masif. Belum lama," kata Jajang. Puasa Ramadan menjadi identitas keislaman yang penting. Berpuasa bukan hanya persoalan agama, tetapi juga budaya. Seakan ada kebutuhan orang muslim, bahwa ketika Ramadan, mereka akan berusaha untuk berpuasa. Entah itu hanya pada awal atau akhir Ramadan. "Ada tekanan sosial luar biasa. Jadi orang berpuasa karena mungkin merasa nggak enak sama orangtuanya atau nggak enak sama keluarga," kata Jajang. Sama halnya dengan hari raya Idul f itri, banyak orang yang terdorong untuk datang ke lapangan melaksanakan salat id. "Mungkin hari-hari biasanya dia nggak salat (lima waktu, red. )," kata Jajang. Hal itu diamati Snouck Hurgronjedi Aceh pada abad ke-19. Dalam catatannya, Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial , ia menulis bahwa pada bulan puasa banyak orang bersemangat melaksanakan salat tarawih. Namun, mereka mengabaikan kewajiban agama sehari-hari. "Penilaian berlebihan yang populer mengenai tarawih ini dijelaskan melalui hubungannya dengan bulan puasa," tulis Snouck. Menurut Snouck, puasa memiliki tempat yang lebih luhur dalam penilaian masyarakat dibandingkan dalam penilaian hukum. Ada banyak orang yang tak pernah melakukan seumayang menjadi pelaku puasa yang taat. "Setiap ibadah yang secara khusus berkaitan dengan bulan penebusan ini, baik itu wajib maupun sunah, akan dengan penuh semangat dilakukan selengkap mungkin," tulis Snouck. Snouck menyebut di Jawa juga begitu. Mereka yang ikut tarawih berjamaah adalah orang yang tidak melaksanakan salah Jumat. Tidak pula melakukan salat wajib harian di masjid atau langgar. Jajang mengatakan penanda lain masifnya praktik keislaman adalah semakin banyaknya orang Nusantara pergi haji. "Ini butuh dana besar. Banyak orang Islam Jawa yang kaya, misalnya karena tanam paksa. Dia punya lahan disewakan ke Belanda. Dia pilih pergi haji," kata Jajang. Hal itu berhubungan dengan kemudahan lalulintas ke Timur Tengah. Semakin banyak orang Nusantara yang belajar Islam di Timur Tengah. Semakin banyak pula pesantren yang tumbuh, khususnya pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. "Akhir abad ke-19 terjadi Islamisasi besar-besaran. Banyak orang naik haji dan banyak yang studi Islam ke Timur Tengah terutama Makkah," kata Jajang. "Ulama-ulama besar di Nusantara produk pada periode itu, generasi abad ke-19 dan awal abad ke-20. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan, misalnya." Kondisi itu berlanjut. Setelah abad ke-20 organisasi Islam bermunculan. Praktik keislaman menjadi lebih masif lagi. "Jadi, Islamisasi itu memiliki tahapan. Orang dulu belajar Islam terbatas, makanya ada tahap-tahap itu," kata Jajang. Hingga 1970-an, orang melaksanakan puasa Ramadan dengan cara yang bersahaja. Penuh dengan simbol-simbol budaya dan sosial. Berpuasa pada saat Ramadan adalah ajang mempererat silaturahim. Sementara puasa menjadi identitas baru terjadi pada dekade terakhir, yaitu pada 1980 dan 1990-an. Sebagian kelompok muslim tak ragu untuk mengedepankan simbol-simbol Islam di ruang publik. "Puasa tak pelak dijadikan simbol keislaman pada periode ini. Muncul jargon 'hormati orang yang berpuasa'," kata Jajang. "Waktu saya kecil nggak ada itu." Sekelompok Islam kemudian menjadikan Ramadan sebagai bulan amar makruf nahi munkar yang diwujudkan dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. "Mengg e ruduk tempat-tempat yang dianggap maksiat, karena dianggap menodai kesucian bulan Ramadan," kata Jajang. Terjadi pula kapitalisasi Ramadan. Misalnya, muncul banyak tayangan bertema Ramadan di televisi atau media lainnya. Pada akhirnya, Ramadan dan tradisi berpuasa telah menciptakan ruang kultur sosial yang baru. Misalnya, acara buka puasa bersama, perhelatan Ramadan Jazz, juga berbagai kuliner khas Ramadan. "Bukan cuma kalangan kaum muslim tapi nonmuslim juga," kata Jajang. "Ini memperkaya tradisi keislaman Nusantara." Tidak Merusak Tradisi Oleh karena itu, menurut Najib, anggapan ajaran Islam telah merusak tradisi lokal adalah salah besar. "Dalam pandangan orientalis memang seperti itu. Snouck mengatakan tradisi dan Islam, seakan tradisi ini lawan ajaran Islam. Ini salah besar," tegas Najib. Dalam pandangan Islam, kata Najib, tradisi pada dasarnya boleh kecuali yang dilarang. Sementara syariat pada prinsipnya tidak boleh kecuali yang dianjurkan. "Sesungguhnya tradisi Nusantara memiliki kecenderungan pada hal positif dan kreativitas," kata Najib. "Artinya tradisi kita selalu menerima hal-hal baik." Masuknya Islam ke Nusantara justru memunculkan harmoni di antara keduanya. Misalnya, kalimat syahadat yang harus diucapkan ketika seseorang masuk Islam telah melahirkan budaya sekaten. "Sekaten dari kata syahadatain yang dirayakan pada bulan Muharam di Jawa," kata Najib . Arsitektur masjid pun tak lepas dari bentuk-bentuk budaya lokal. Misalnya, bentuk atap masjid yang beratap tumpang. "Bentuk atap masjid yang tiga susun itu saya kira sejak sebelum Islam sudah ada. Waktu Islam datang ditafsirkan menurut Islam sebagai simbol iman, Islam, ihsan. Jadi pas. Tidak ada yang merasa tersinggung atau tersaingi," kata Jajang. Di manapun di Nusantara, Jajang melihat Islam dan budaya lokal selalu saling mengisi. Pun di negara-negara lain yang terdapat komunitas Islam. "Islam di mana-mana justru masuk ke budaya lokal, tidak menegasikan budaya lokal," kata Jajang. Kendati begitu proses seleksi juga terjadi. Budaya lokal yang cocok dan sesuai dengan ajaran Islam diambil. Sementara yang dianggap tak sesuai ditinggalkan. Itu pun dilakukan secara perlahan, sehingga masyarakat lokal lambat laun menerima kehadiran Islam dengan baik. "Ini melahirkan mozaik yang sangat cantik," ujar Jajang.
- Dari Sekolah Liar hingga Anarkisme
PARTAI Komunis Indonesia (PKI) tidak serta-merta berdiri. Lewat Sarekat Islam (SI), organisasi bumiputra terbesar saat itu, aktivis PKI bergerak dan melakukan konsolidasi anggota di tingkat basis. Pada kongres 1921, SI melarang keanggotaan rangkap. Akibatnya, para aktivis PKI mesti keluar. Organisasi terbagi menjadi dua: SI Putih dan SI Merah. SI Putih dipimpin Haji Agus Salim dan Abdoel Moeis (di Yogyakarta), sementara SI Merah dipimpin Semaoen dan Alimin (di Semarang).
- Alfiah Muhadi, Pendakwah Perempuan yang Peduli Nasib Kaumnya
ALFIAH Muhadi sedang hamil tua kala clash II terjadi di Yogyakarta. Lantaran tidak bisa ikut berjuang langsung, ia sebisanya membantu para gerilyawan dengan mengumpulkan bekal untuk bertahan di pedalaman. Bersama suami ia beberapakali menyamar sebagai penjual buah atau pedagang sayur. Namun karna rumahnya hanya berjarak 300 meter dari pos tantara Belanda, kegiatannya tercium. Rumah Alfiah digerebek, suaminya ditangkap dan ditahan bersama pejuang lain. Alfiah tak tahu di mana suaminya ditahan. Ia berusaha mencari tahu agar upaya pembebasan suaminya bisa dilakukan. “Namun usahaku sia-sia. Baru setelah Yogyakarta dapat direbut kembali dan suasana sudah tenang, kami dapat berkumpul kembali,” kata Alfiah dalam kumpulan memoar perempuan, Sumbangihku Bagi Ibu Pertiwi. Kebersamaan yang kembali terjalin itu hanya bertahan selama empat tahun. Pada 1953 suaminya meninggal. Alfiah lantas membesarkan anaknya seorang diri sembari terus aktif dalam gerakan perempuan. Memperjuangkan nasib perempuan menjadi ketertarikan Alfiah sejak kecil. Alih-alih mendaftar sebagai guru selulusnya dari Sekolah Guru Muhammadiyah (Mualimat) Yogyakarta pada 1937, perempuan kelahiran Karanganyar, Kebumen itu malah masuk organisasi perempuan Aisyiyah dan Pemuda Putri Indonesia (PPI). Kala itu, banyak perempuan masih buta huruf dan keadaan sosial-ekonomi mereka memprihatinkan. Menurut Alfiah, penjajahan yang begitu lama tidak memberi kesempatan bagi perempuan rakyat bawah untuk memperbaiki keadaan. “Hubungan antara perempuan kalangan biasa dengan perempuan kaum atas hampir tak ada. Kalaupun ada, hubungan itu bersifat feodal,” kata Alfiah. Alfiah menganggap kultur feodal itu juga membuat perempuan sulit mengembangkan diri. Ia pun berusaha menguarangi masalah ini. Alfiah kemudian bekerjasama dengan Wanita Taman Siswa untuk mengajar perempuan di Yogyakarta agar terbebas dari buta huruf dan sikap rendah diri akibat hidup di lingkungan feodal. “Sedikit demi sedikit terlihat hasilnya, meskipun tidak secara total. Yang penting pula timbul rasa menghargai antar sesama,” kata Alfiah. Kepeduliannya pada nasib perempuan juga ia suarakan kala mengisi pidato pada Kongres ke-28 Aisyiyah di Medan. Pidato Alfiah berjudul “Harapan Dunia Kepada Kaum Wanita”. Menurutnya, negara akan menjadi baik bila kaum perempuannya baik dan terdidik. Alfiah ditugasi Aisyiyah mengisi ceramah di cabang-cabang Aisyiyah, khususnya wilayah Kedu dan Banyumas. Pada 1939 ia pernah berdakwah di daerah Banyumas bersama Jendral Sudirman yang kala itu merupakan pemimpin Hizbul Wathon, organisasi kepanduan Pemuda Muhammadiyah. Didampingi istri Surdirman, beberapakali ia naik dokar keluar-masuk desa untuk memberikan ceramah. “Dakwahku di Banyumas seiring dengan keluarga Sudirman,” kata Alfiah. Untuk dakwahnya di daerah Kedu, Puworejo, dan Kutoarjo, Alfiah seringkali bersama Sarbini dan istrinya, Juffrow Salami, yang bekerja sebagai guru di HIS Muhammadiyah Kutoarjo. Dalam setiap dakwahnya Alfiah selalu menyampaikan tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Bahwasannya perempuan dan lelaki sama-sama hamba Allah yang hadir di muka bumi dengan tanggung jawab masing-masing. “Mengapa hal itu kutekankan, karena pada saat itu masyarakat mempunyai anggapan bahwa perempuan hanya menjadi kanca wingking , teman di belakang suaminya,” kata Alfiah. Selain aktif berdakwah dan terjun langsung dalam upaya pemberantasan buta huruf, Alfiah juga terlibat dalam mengelola majalah Suara Aisyiyah bagian Karanganyar bersama rekannya Hayinah Mawardi. Namun aktivitas itu berubah semasa pendudukan Jepang lantaran semua organisasi perempuan yang ada harus dilebur dalam Fujinkai. Setelah kemerdekaan, Alfiah pindah ke Yogyakarta mengikuti suaminya. Mereka tinggal di Ngadiwinatan. Pada 1957, Alfiah bergabung dengan Balai Kesejahteraan Rumah Tangga di Yogykarta. Ia bertugas memberikan penyuluhan tentang perkawinan menurut ajaran Islam bahwa suami tidak semestinya berlaku sewenang-wenang terhadap istri dan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Di samping itu, ia juga memberikan kursus keterampilan pada anak perempuan. Ketika Menteri Agama mendirikan Badan Penyuluh Pernikahan dan Penasihat Perceraian (BP4), Alfiah menjadi salah satu pengurus di Yogyakarta. Alfiah duduk sebagai seksi penerangan ketika Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB) didirikan pada 1957. Meski beberapa golongan agama Islam menolak KB, Alfiah berusaha menjelaskan tiga faktor yang menentukan baik tidaknya KB, yakni niat penggunaan, alat yang dipakai, dan syarat penggunaannya. Ia terus duduk di posisi seksi penerangan hingga kemudian PKB berubah menjadi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Atas keaktifannya di bidang sosial, pemerintah menganugerahinya penghargaan Satya Lancana Kebaktian Sosial berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 120/TK/Tahun 1996. Suara Aisyiyah Vol. 74 tahun 1997 menulis, penghargaan itu diserahkan Gubernur Kepala Daerah DIY Sri Pakualam VIII di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY pada 15 Agustus 1997.*
- Melacak Sejarah Halalbihalal di Masa Kolonial
HALALBIHALAL adalah salah satu tradisi penting umat Islam Indonesia saat merayakan Idul Fitri. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mengartikan halalbihalal sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang’. Menariknya, contoh kalimat yang dipakai untuk memudahkan pemahaman pembaca juga menekankan betapa Indonesianya tradisi ini bahkan dalam perspektif tradisi Muslim global: ‘--merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia’. Walau dalam tata bahasa Arab istilah halalbihalal tidak dikenal, istilah ini sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia dan berasosiasi dengan hari Lebaran.
- Semaun Si Propagandis
Sneevliet menemukan Semaun sebagai seorang pemuda berani yang berbakat memimpin kaum buruh. Dalam sebuah suratnya Semaun memanggil Sneevliet, “Mijn Goeroe” (guruku).
- Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani
USAI mengikuti Misi Yani keliling Eropa untuk membeli senjata, awal 1960-an, Hasjim Ning keponakan Bung Hatta yang pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, mampir ke Tokyo bersama Mayjen A. Yani (deputi II KSAD). Mereka dijemput istri masing-masing di sana. Keduanya lantas menginap di sebuah hotel yang sama di Tokyo. Saat di hotel itulah Hasjim mendapati istrinya, Ivonne, digoda seorang pria Jepang. Perkataan-menggoda pria itu didengar Hasjim maupun Yani. “Kurang ajar banget itu Jepang. Pukul saja, Pak Hasjim,” kata Yani yang geram, dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . “Kompor” Yani membuat dada Hasjim makin membara. Sejurus kemudian, dia langsung melayangkan tinjunya ke pria Jepang tadi sambil mengucapkan kalimat bakero omae . Si Jepang langsung tersungkur dan mengundang kedatangan security hotel. Hasjim pun menjelaskan dan si pria penggoda tadi langsung diusir security . Momen di Tokyo itu hanya satu dari sekian banyak kisah persahabatan Hasjim dengan Yani. Keduanya saling percaya bukan hanya urusan kerjaan namun juga urusan pribadi. “Aku mengenalnya sudah lama. Semenjak zaman penjajahan Belanda. Di Bogor,” kata Hasjim mengenang. Kedekatan itulah yang membuat Yani kerap meminta bantuan atau mengajak Hasjim dalam urusan-urusan penting. Salah satunya, mengikuti Misi Yani. “Khusus mengenai tugasku ialah untuk mengimpor kendaraan untuk keperluan militer, seperti jip dan truk, secara komersial dengan pembayaran lima tahun atas jaminan Bank Indonesia,” kata Hasjim. Saat Yani dirundung fitnah korupsi menjelang pengangkatannya sebagai KSAD karena kedapatan memiliki sebuah sedan Mercedes Benz baru, Hasjim membelanya. Kepada Presiden Sukarno, yang –ingin memastikan calon panglima AD-nya itu bebas dari skandal– memanggil Hasjim ke Istana, Hasjim pun menjelaskan duduk perkaranya. “Kepada Bung Karno aku terangkan bahwa Mercedes itu diperoleh A. Yani atas usaha aku dengan Suwarna yang menjadi dealer Mercedes di Indonesia. Dan persetujuan perwakilan Mercedes. Sehingga harganya memperoleh banyak korting,” kata Hasjim. Permasalahan yang dihadapi Yani pun clear . Beberapa waktu kemudian, Presiden Sukarno mengangkat Yani menjadi orang nomor satu di angkatan darat menggantikan Jenderal Nasution. Kepercayaan Yani pada Hasjim bahkan dibuktikan dengan sampai pernah mengajaknya ikut pendaratan pasukan APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) di Sumatera Barat ketika Yani dipercaya KSAD AH Nasution memimpin Operasi 17 Agustus untuk memadamkan gerakan PRRI. “Operasi militer ini khusus untuk memadamkan pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah (Sumatera Barat dan Riau) dengan mengerahkan pasukan besar yang terdiri dari ketiga Angkatan Perang. Selain Kolonel A. Yani operasi ini dipimpin pula oleh Kolonel (L) John Lie dan Letnan Kolonel (U) Wiriadinata,” tulis sejarawan Payung Bangun dalam Kolonel Maludin Simbolon: Liku-Liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa . Sebagai “orang awak”, pengetahuan dan jaringan Hasjim tentu amat diperlukan Yani. Pengetahuan itu pula yang membuat Hasjim bisa mengeluarkan joke yang awalnya tak dipahami Yani ketika keduanya bertemu setelah operasi selesai. Yani membuka obrolan dengan mengomentari pertahanan pasukan PRRI yang rapuh. “Bagaimana itu orang awak, Pak Hasjim. Masa tidak satu pun tembakan mereka menyambut kami ketika mendarat. Padahal, aku mendarat naik drum kosong,” kata Yani. “Kabarnya, pada mulanya Pak Yani mau mendarat di pantai Pariaman pada waktu subuh. Tapi demi melihat banyaknya pasukan dengan meriam pantai terarah ke laut pada waktu subuh itu, Pak Yani lantas mengalihkan pendaratan ke pantai utara Padang,” jawab Hasjim sambil membanyol. “Itu tidak benar. Siapa yang bilang itu?” kata Yani serius karena tak paham maksud Hasjim membanyol. Hasjim hanya tertawa tahu Yani tak paham banyolannya. Banyolannya baru dipahami Yani dalam lain kesempatan ketika keduanya bertemu. “Kemudian aku buat joke bahwa ia membatalkan pendaratan di pantai Pariaman pada waktu subuh karena melihat pasukan meriam pantai PRRI telah menanti dengan jumlah yang sulit dihitung, sehingga ia mengalihkan pendaratan ke pantai utara Kota Padang. Padahal, yang dilihatnya itu hanyalah penduduk yang sedang buang air,” kata Hasjim. Yani yang akhirnya paham banyolan itupun langsung terpingkal-pingkal. “ Joke itu lama sekali terkesan padanya, sehingga sampai keluar air matanya karena tertawa. Cerita yang aku sampaikan itu hanyalah joke orang awak di Jakarta, tentang kebiasaan penduduk pesisir yang berak di tepi pantai waktu subuh, lalu dihubungkan dengan pendaratan A. Yani yang sukses itu."
- Disepelekan Tentara Belanda
Pada 1946, Kapten Soegih Arto diperintahkan pergi ke pos militer Belanda. Yang memberi perintah ialah Kolonel Hidayat Martaatmadja, wakil panglima Divisi Siliwangi. Hidayat menugaskan Soegih Arto mengantarkan surat tentang persiapan pertemuan antara Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) dengan militer Belanda terkait batas demarkasi. “Pada waktu itu saya menjadi komandan batalyon di Ciparay, Bandung Selatan,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto . Menurut pihak Belanda, Soegih Arto hanya boleh membawa 10 pengawal bersenjata. Tempat pertemuan ditentukan dekat jembatan Citarum, Dayeuhkolot. Di sana, Soegih Arto akan bertemu dengan seorang kapten Belanda. Dalam tugas tersebut, Soegih Arto memilih prajurit yang pendek-pendek dan wajahnya imut-imut. Mereka dipersenjatai dengan senapan Jepang yang panjang-panjang dan senapan mesin ringan Jepang. Bisa dibayangkan bagaimana anak buah Soegih Arto yang cungkring-cungkring itu menenteng senjata laras panjang. Ketika tiba di tempat yang ditentukan, Soegih Arto dan anak buahnya menyaksikan para prajurit Belanda (sebagian besar totok) sudah siap dengan mengenakan pakaian loreng-loreng. Kapten Belanda mengajak Soegih Arto bicara dalam bahasa Belanda. Soegih Arto hanya menggeleng-geleng. Isyarat bahwa dirinya tidak berbahasa Belanda. Mengetahui perwira paling senior di pihak TRI tidak dapat berbahasa Belanda, pasukan Belanda jadi meremehkan TRI. Padahal sejatinya Soegih Arto mengerti bahasa Belanda. Menurut Soegih Arto, pasukan Belanda jadi bebas berkomentar menilai keadaan para anak buahnya. Kadang-kadang komentar itu bernada lucu sehingga Soegih Arto sukar menahan tawa. Pasukan Belanda memandang sebelah mata tentara Indonesia seperti tentara ingusan. Memang ada beberapa prajurit yang tidak bersepatu. “ Hebben wij tegen deze snotneuzen noeten vech zen? Ah, te erg, zeg! (Masa kita harus berkelahi melawan anak-anak ingusan ini? Ah, keterlalun!),” demikian kata pasukan Belanda ditirukan Soegih Arto. Meski disepelakan, Soegih Arto menjalankan tugasnya dengan baik. Beberapa hari kemudian terjadilah perundingan antara TNI dengan Belanda di Dayeuhkolot. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Kolonel Hidayat dan seorang anggotanya Letnan Kolonel Soetoko. Adapun Soegih Arto berposisi sebagai pengawal. Sementara itu, delegasi Belanda dipimpin oleh seorang mayor bernama Bayetto. Ketika Kolonel Hidayat mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Mayor Bayetto pura-pura tidak melihat. Sang mayor kemudian mempersilakan delegasi Indonesia duduk. Soegih Arto mengingat betul sambutan dingin Mayor Bayetto. Bertahun-tahun kemudian, setelah pengakuan kedaulatan mereka bersua kembali. Pada 1952, Soegih Arto ditugaskan bersekolah di Belanda. Menuntu ilmu di Hogere Krigsschool Den Haag itu, Soegih Arto merasa tidak asing dengan salah satu pengajarnya. Memorinya kembali pada perundingan di Dayeuhkolot tahun 6 tahun silam. “Kebetulan sekali mayor yang tidak mau bersalaman dan berkulit hitam itu ternyata guru sejarah di Hogere Krigsschool Den Haag,” kenang Soegih Arto.
- Mencari Jejak Kejayaan Blambangan
ALKISAH, Tawangalun pergi menyepi. Ia bersembah semedi di pertapaan kaki Gunung Raung. Sudah tujuh hari ia melakukan laku pembersihan diri. Sampai kemudian ia mendengar suara gaib menggema berbicara kepadanya. “Pulanglah Gusti Prabu.” Tawangalun diminta agar berjalan ke arah timur. “Jika kau bertemu dengan Macan Putih, tunggangilah.” Maka, Tawangalun turun dari pertapaannya. Ia tempuh perjalanan berhari-hari ke arah matahari terbit. Sampai kemudian dilihatnya sesosok macan putih menghadang. Teringat suara gaib dalam semedinya, ia mendekati macan itu lalu menungganginya. Mereka mengelilingi hutan yang luas hingga sampai ke tengah rimba Sudimara. Seakan tahu di situlah tujuan mereka, Tawangalun turun dari punggung macan. Binatang gaib itu pun tiba-tiba lenyap, tak berbekas. Pahamlah Tawangalun bahwa di tempat itulah ia harus membangun negerinya. Begitulah ia kemudian membuka Hutan Sudimara. Menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Blambangan yang baru, berjuluk Macan Putih. Kisah para penguasa di Macan Putih itu kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Babad Tawang Alun. Tawangalun adalah moyang para penguasa di Macan Putih di tanah pedalaman Banyuwangi. Sejarawan Belanda, H.J de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa mencatat kalau di sinilah tempat asal banyak bupati Banyuwangi dari abad ke-18 hingga ke-19. Kini sebuah desa bernama Macan Putih, di Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, dikaitkan dengan kisah itu. Sri Margana dalam disertasinya Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c. 1763-1813 menulis kalau pada 1805, beberapa puing bata masih dapat dilihat. Bekas bangunan kuno itu tadinya masih dilingkupi belantara. “Macan Putih, yang berlokasi di Dusun Malar (salah satu dusun di Desa Macan Putih, red. ), utara Rogojampi, kini tidak lebih dari gundukan tanah dan puing-puing batu bata. Bekas rumah Macan Putih dikelilingi oleh dinding bata besar,” catatnya. Kata Margana, puing itu bisa mengindikasikan kalau pada masa pemerintahan Tawangalun, Blambangan tumbuh dengan sejahtera. Banyak bangunan kota dan kuil didirikan, sebelum akhirnya dihancurkan Mataram. Penguasa Tawangalun Nama mirip dengan Tawangalun muncul dalam catatan seorang pertapa Sunda Kuno, Bujangga Manik. Pada sekira abad ke-14 atau awal abad ke-15, Bujangga Manik melakukan perjalanan melintasi Pulau Jawa dan Bali. Catatan perjalanannya dibahas J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa. Diceritakan dalam perjalanannya dari Gunung Raung, Bujangga Manik pergi ke Balungbungan. Di sana ia tinggal, melakukan tapa, hingga lebih dari setahun. Seusainya, Bujangga Manik pergi ke tepi pantai. Ia melihat sebuah kapal yang akan berlayar ke Bali. Artinya, Balungbungan letaknya tak jauh dari laut. Kata Noorduyn, Balungbungan yang tertulis di sana adalah Pelabuhan Blambangan yang ketika itu sudah terkenal. “Balambangan atau Balangbangan terletak di sebelah selatan Banyuwangi sekarang, di Teluk Pangpang,” katanya. “Pelabuhan ini tetap menjadi pelabuhan yang terpenting di pantai timur Jawa sampai 1774 dan kemudian diganti menjadi Banyuwangi.” Sekembalinya dari Bali, Bujangga Manik menumpang kapal besar. Kapal itu berlayar dari Bali ke Balungbungan. Dalam perjalanan pulang itu, Bujangga Manik melewati rute sepanjang pantai selatan Jawa. Ia pun melalui Padangalun. “Sebuah nama yang jelas mengingatkan pada Tawangalun, bandingkan bahasa Jawa padang yang berartiterang, terbuka, dan tawang, yang berarti terbuka, tidak terhalang,” jelas Noorduyn. Kata sejarawan Jember Zainollah Ahmad lewat bukunya Tahta di Timur Jawa , penyebutan itu pun memperkuat dugaan kalau nama Tawangalun diambil dari nama tempat ia memerintah. “Atau mungkin sebaliknya,” kata dia. Simpang Siur Tawangalun kalau menurut de Graaf dan Pigeaud adalah tokoh setengah legenda. Ia diperkirakan hidup pada abad ke-17. Pada masanya Kerajaan Blambangan dipercaya mencapai era kedamaian dan kejayaan. Sayangnya, kata Margana, tak banyak informasi yang ditemukan dalam arsip-arsip Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) soal kondisi Blambangan pada masa Tawangalun. Kecuali tahun-tahun terakhir pemerintahannya, yakni tepat sebelum kematiannya pada 1691. Untungnya sedikit manuskrip lokal, yang disusun setengah abad setelah kematiannya, masih tetap tersimpan dengan baik. Dapat dilihat pada Babad Blambangan. Babad Blambangan bukanlah satu manuskrip utuh, melainkan tersusun dari beberapa babad yang ditulis pada tahun berbeda-beda. Di dalamnya terdiri dari Babad Sembar, Babad Tawang Alun, Babad Mas Sepuh, Babad Bayu, dan Babad Notodiningratan. Aksara yang dipakai adalah aksara Jawa, Bali, Pegon, dan Latin. “Seperti dalam babad Jawa lainnya, perhatian utama penyusun adalah mencatat peristiwa politik dan informasi silsilah tentang dinasti yang berkuasa,” jelas Margana. Dalam Babad Blambangan, nama Tawangalun memiliki urutan silsilah yang tak sama antara sumber yang satu dan lainnya. Tidak sinkronnya penyebutan nama-nama penguasa di Blambangan dan peristiwa yang terjadi membuat penyusunan silsilah menjadi semakin sulit. Dalam penelusuran Zainollah Ahmad, Tawangalun disebut sebagai anak Minak Lumpat atau Sunan Rebut Payung. Keratonnya di Lamajang dan Kedawung. Di atas Minak Lumpat, secara berurutan dalam silsilah, ada Minak Lampor, Minak Gadru, dan Boma Koncar. Yang teratas adalah Lembu Miruda atau Panembahan Brahma (Bromo). Disebutkan pula ada dua Tawangalun, I dan II. Ada Pangeran Kedhawung dan Mas Kembar yang disebut Tawangalun I. Lalu Minak Sumendhi disebut Susuhunan Tawangalun II. “Dalam hal ini posisi silsilah Tawangalun sama dengan yang disebutkan dalam Babad Sembar ,” katanya. Sementara berdasarkan versi Babad Tawang Alun, Tawangalun disebutkan sebagai anak dari Tanpa Una (Pangeran Kedhawung I) atau Ki Mas Kembar. Menurut versi ini hanya ada satu Tawangalun, yaitu yang disebut dengan Pangeran Kedhawung II. Sementara Mas Wila (adik Tawangalun) dikenal pula sebagai Pangeran Kedhawung III. Saat menjadi raja, Tawangalun memiliki nama Susuhunan Macan Putih dan Mas Sanepa. Mas Sanepa inilah yang kemudian memerintah Keraton Macan Putih. Gelarnya Susuhunan Gusti Prabu Tawangalun. “Padahal gelar ini biasanya dipakai oleh raja atau wali dalam tradisi Islam. Sementara Tawangalun menganut ajaran Hindu,” kata Zainollah. Babad Tawang Alun dibuat pada 1832-1841. Ditulis pada masa Suranegara menjadi bupati di Surabaya. Namun keterangan lain, yaitu menurut Winarsih Arifin dalam Babad Blambangan , menyebut kalau Babad Tawang Alun dibuat antara 1826-1827. Ditulisnya di Banyuwangi. Masa Kejayaan Sebagaimana dijelaskan dalam Babad Tawang Alun, daerah asal Tawangalun adalah Kedawung. Moyangnya adalah Ki Mas Tanpa Una. Ki Mas Tanpa Una pun bergelar Pangeran Kedawung. Pemerintahan Ki Mas Tanpa Una berlangsung sekira 1651-1665. Ia bergelar Pangeran Kedawung dengan pusat pemerintahan di Kedawung. Menurut Zainollah, kini letaknya masuk wilayah Jember. Menurut Babad Tawang Alun, dari tahun ke tahun kekuasaan Ki Mas Tanpa Una, kehidupan rakyat membaik. Muncul kemudian generasi dari Pangeran Kedawung dengan putra sulungnya Raden Mas Tawangalun (1665-1691), Mas Wils, Mas Ayu Tanjung Sekar, Mas Ayu Melok, dan Mas Ayu Gringsing Retna. Ketika Ki Mas Tanpa Una wafat, Tawangalun sang Putra Mahkota menggantiakannya sebagai penguasa Blambangan di Kedawung. Saudaranya yang termuda, Mas Wils, diberinya jabatan sebagai patih. Namun empat tahun berikutnya, ia berontak terhadap kakaknya. Tawangalun pun lari dari istana dan mengungsi ke Bayu. Tempat yang kata Margana, 100 tahun kemudian menjadi markas para pemberontak Blambangan, Rempeg atau Jagapati. Di sana Tawangalun membangun sebuah keraton baru dan mendapatkan dukungan dari rakyat Blambangan. Namun, gangguan dari adiknya tak berhenti. Enam tahun kemudian, Mas Wils membawa pasukan menyerang dan mengepung Bayu. Buntutnya, Mas Wils yang harus tewas. Pusat pemerintahan pun dipindahkan kembali. Kali ini ke Macan Putih. Sejak itu, Blambangan kian maju pesat. Kekuasaannya menyatu hingga Lumajang. Tawangalun pun menguasai seluruh Kerajaan Blambangan. Sejak abad ke-16 pengaruh eksternal di kekuasaan Blambangan semakin kuat. Hingga pada akhir abad itu, kata Sri Margana, Blambangan jatuh ke dalam kekuasaan Raja Bali Gelgel. C. Lekkerkerker pun meyakini bahwa setelah tahun 1600, raja-raja Blambangan memiliki darah Bali. Pada waktu yang bersamaan, Kesultanan Mataram mulai menunjukkan kekuatannya di Jawa Timur. Pada 1625, Sultan Agung (1613-1646) mengirim ekspedisi militer ke Blambangan. 20.000 hingga 30.000 prajurit dilibatkan. Belum lagi VOC yang kemudian menancapkan pengaruhnya di Blambangan. Makin seringlah terjadi pergolakan perebutan takhta. Sepanjang 42 tahun, sejak 1655 sampai 1697, terjadi empat kali pemberontakan dan empat kali perpindahan ibukota. “Kedudukan istana di Kedawung dipindahkan ke Bayu pada 1655, lalu ke Macan Putih dan akhirnya ke Kutha Lateng,” jelas Zainollah. Kata dia, kuatnya pengaruh eksternal yang selalu mencampuri urusan suksesi Blambangan menyebabkan perang terus-menerus. Namun pada 1676, Tawangalun akhirnya memutuskan untuk membebaskan diri dari Mataram. “Ia menghentikan pemberian upeti serta kunjungan tahunannya ke Mataram,” kata Margana. Dalam kisah, Tawangalun dikenal memiliki wawasan luas. Ia merupakan penganut Hindu yang taat. Kendati begitu, ia tak melarang komunitas Islam berkembang. Ia hanya berkeinginan kuat untuk membendung dominasi asing yang makin kuat. Sepak terjang Tawangalun ini tercatat dalam arsip-arsip Belanda. Khususnya masa-masa terakhir kekuasaannya. Arsip Belanda misalnya mencatat prosesi pembakaran jenazah Prabu Tawangaun yang meninggal pada 1691. Proses ini juga direkam dalam Babad Blambangan. Berdasarkan penuturan babad, setelah tubuh Tawangalun dikubur di belantara Plecutan pada 1691 atau 25 hari sejak kematiannya, mayatnya dikremasi dalam sebuah acara ritual pengorbanan diri ( sati ) secara besar-besaran. Disebutkan sebanyak 271 orang dari 400 istri Tawangalun ikut bela sati. “Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki banyak istri, selir dan keturunannya yang kemudian tersebar,” kata Zainollah. Dalam waktu relatif singkat, Kerajaan Blambangan di bawah Tawangalun mencapai puncak kejayaannya. “Tampaknya, tidak ada satu hal pun yang membuat nama Tawangalun ternoda dalam pandangan rakyat Blambangan,” jelas Margana.
- Roem: Tidak Ada Waktu Membenci Sukarno
Periode 1960-an merupakan tahun-tahun terberat bagi perpolitikan Indonesia. Perubahan sikap Presiden Sukarno yang dianggap menjadi penyebabnya. Gelombang kehancuran pun begitu kentara saat pemerintah mulai menutup diri dari berbagai kritik. Juga saat mereka semakin reaktif terhadap berbagai tindakan yang dinilai bertentangan dengan kebijakan sang pemangku kekuasaan. Akibatnya, pada 1962, enam orang tokoh penting tersingkir dan dipenjarakan. Sebagian dari mereka adalah kawan yang pernah berjuang bersama Sukarno semasa kemerdekaan, yakni: Sutan Sjahrir, Prawoto, Mohammad Roem, Subadio Sastrosatomo, Anak Agung Gde Agung, dan Sultan Hamid. Bagi Roem, diceritakan dalam Bunga Rampai dari Sejarah , penangkapan tersebut cukup membuat ia dan kawan-kawannya tertekan. “Alasannya karena menurut “logika revolusi” harus ditarik garis yang tegas antara kawan dan lawan. Karena kami tidak dapat dipandang sebagai kawan maka kami dianggap musuh. Sangat sederhana berpikir menurut logika revolusi!” tegas Roem. Selama di balik jeruji, para tahanan politik ini ditempatkan di dalam blok yang sama. Ikatan emoisonal pun semakin terbangun di antara mereka. Satu sama lain sudah saling mengenal sifat-sifat, serta kebiasaan kawan senasibnya ini. Dan di antara semuanya, Roem cukup tertarik dengan kebiasaan Subadio yang beraktifitas pada pukul 12 malam. Bermodalkan rasa penasaran, Roem memberanikan diri bertanya kepada Subadio. Tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) itu lalu bercerita bahwa dia diberi pesan oleh ibunya agar jangan tidur sebelum jam 12 malam, atau jika sesuatu membuatnya terpaksa harus tidur, dia diminta untuk bangun meski hanya sebentar. Kemudian di luar kamar tidur, Subadio diminta untuk “memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan”. Roem terperangah. Hampir tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya saat Subadio berkata demikian. Dia tidak menyangka kawannya ini memiliki pandangan hidup seperti itu, mengingat sikap Sukarno kepadanya. Roem juga menyaksikan sendiri ucapannya bukan hanya sebatas di mulut saja, setiap malam Subadio benar-benar melaksanakan pesan sang ibu. Meski hanya sebuah kalimat sederhana, pesan ibu Subadio terukir begitu dalam di ingatan Roem. “Subadio seorang yang berbahagia, meskipun sudah matang dan dewasa, masih mempunyai seorang ibu, yang memberikan pandangan hidup. Tentu Subadio sendiri setuju, dalam pada itu sesuatu “pengasih” dari ibu, mempunyai nilai lebih, dari pada kalau sikap hidup itu hasil pemikiran sendiri,” ungkap Roem. Suatu hari dia berkesempatan bertemu ibu Subadio saat kunjungan ke penjara. Keduanya sempat saling menyapa dan berbincang. Selain pemikirannya, kepribadian ibu Subadio juga rupanya membuat Roem terkesan. Berbagai pertanyaan seketika timbul dibenaknya: apakah ibu Subadio memang tidak membenci Sukarno? atau Mengapa dia meminta putranya memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan? “Kesimpulan penulis, ialah bahwa Ibu Sastrosatomo (Subadio) tidak membela Sukarno, tapi prihati dan berusaha agar putranya jangan dihinggapi penyakit benci Sukarno. Dan kalimat yang ia berikan kepada putranya itu merupakan suatu latihan mental yang dikerjakan tiap hari, yang menurut penulis efeknya akan tepat,” tulis Roem. Lantas bagaimana dengan sikap Roem? Baginya ucapan ibu Subadio sangat menolongnya. Dia jadi sungguh-sungguh memikirkan kebenciannya kepada Sukarno, dan mempertimbangkan agar tidak membenci Sukarno atas segala dosa yang dibuatnya. Sebab kebencian, kata Roem, tidak memberi manfaat apapun. Tapi dia tidak mungkin bisa bersikap sejauh ibu Subadio di dalam memandang sosok Sukarno. Terkesan Tidak Membenci Pada Agustus 1967, Roem berangkat ke Belanda. Setiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, sejumlah wartawan telah menunggu kedatangan Roem. Mereka ingin meminta kabar terkini soal Indonesia dari sang diplomat. Terutama tentang perubahan situasi politik yang sedang terjadi di Tanah Air, dan kondisi Sukarno di dalam negeri. Setelah selesai memberi keterangan pers, Roem pamit melanjutkan perjalanannya. Ketika akan beranjak, seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang menohok. “Tuan Roem, mengapa anda tidak membenci Sukarno?” tanyanya. Roem terdiam. Dia sama sekali tidak ingin menceritakan kepada wartawan itu bahwa seorang perempuan yang bijaksana telah memberkati pikirannya dengan falsafah yang sangat baik. Sambil berpura-pura heran, Roem berbalik melontarkan pertanyaan. “Siapa bilang saya tidak membenci Sukarno? Saya sudah ditahan 4 tahun 4 bulan, tanpa diadili,” pungkas Roem. “Anda menjawab berbagai-bagai pertanyaan tentang Sukarno, dan tidak ada gejala-gejalanya bahwa anda membenci Sukarno,” jawab si wartawan. Karena sesi wawancara memang sudah selesai, dan beberapa kawan yang menjemput sudah lama menunggu, Roem segera mengakhiri percakapan itu. Sambil tertawa dia mengatakan: “Oh, saya tidak punya waktu untuk membenci Sukarno”. Para wartawan tertawa dan mereka berpisah.
- Sukarno dan Islam
Siapa meragukan ke-Islaman Sukarno? Sedari muda akrab dengan Ahmad Hassan dari Persis, pernah akan syahid ketika salat Idul Adha, dan naik haji setelah sukses melaksanakan Konferensi Asia Afrika
- Henk Sneevliet yang Ulet
Peletak dasar komunisme di Hindia Belanda dan dihukum mati oleh NAZI.





















