top of page

Hasil pencarian

9830 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Yang Pertama dari Kedokteran Indonesia

    Penghormatan setinggi-tingginya ditujukkan untuk seluruh tenaga medis Indonesia. Di tengah semakin mewabahnya virus Covid-19, peran mereka sebagai garda terdepan sangat dibutuhkan. Tanpa kenal lelah, para tenaga medis ini berjuang menyelamatkan nyawa pasien-pasiennya. Meski nyawa mereka juga bisa ikut terancam. Apresiasi bagi petugas medis ini juga datang dari istana. Diberitakan laman resmi Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, setkab.go.id, Presiden Joko Widodo menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh petugas medis yang telah bekerja keras merawat para pasien terpapara virus tersebut. “Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinveksi Covid-19,” ucap Presiden. Kapan dan di mana pun profesi dokter serta tenaga medis akan selalu dibutuhkan. Keberadaan mereka menjadi penjaga keseimbangan suatu negara. Di Indonesia, profesi tersebut telah ada selama lebih dari seratus tahun. Bermula dari masa Hindia-Belanda, pemeran utama dunia kesehatan ini pun akhirnya terlahir. Berikut serba pertama soal dokter di Indonesia. Dokter Lulusan Belanda Pertama Mas Asmaoen (Repro Di Negeri Para Penjajah) Namanya mungkin terdengar asing di telinga masyarakat. Mas Asmaoen, merupakan lulusan pertama asal Indonesia yang meraih gelar dokter di Belanda. Dilahirkan pada 1880 di Surakarta, Mas Asmaoen sempat mengenyam pendidikan di STOVIA (sekolah dokter untuk bumiputra) sebelum akhirnya diizinkan menempuh kuliah kedokteran di Belanda. Kesempatan untuk melanjutkan studi di Belanda tidaklah mudah. Hanya para siswa yang bettul-betul pintar mampu mendapat akses terbatas tersebut. Pada 1904, Menteri Urusan Daerah Jajahan Dirk Fock mengeluarkan izin studi kedokteran di Belanda bagi lulusan STOVIA. Abdul Rivai menjadi yang pertama mendapatkannya. Mas Asmaoen juga menggunakan kesempatan itu untuk mendaftar. Bersama Mas Boenjamin, Mas Asmaoen mencatatkan namanya di fakultas kedokteran Universitas Amsterdam. Keduanya merupakan mahasiswa yang cemerlang sejak di STOVIA. Menurut Hans Pols dalam Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies , kendati Abdul Rivai yang pertama masuk Universitas Amsterdam, tetapi Mas Asmaoen yang pertama lulus. “Karena Rivai sibuk menulis untuk majalah Bintang Hindia, Asmaoen menjadi bumiputra pertama yang menerima gelar dokter Belanda,” ungkapnya. Setelah lulus, Mas Asmaoen sempat beberapa bulan bekerja di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Begitu mendapat kesempatan pulang ke Hindia Belanda, dia bekerja sebagai perwira kesehatan di pasukan kolonial. Mas Asmaoen memperoleh kewarganegaraan Belanda, dan menikahi seorang perempuan Belanda kelahiran Surabaya, Adriana Asmaoen-Punt. “Dia diangkat menjadi perwira kesehatan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia menjadi orang Indonesia pertama dalam kedudukan itu,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Para Penjajah . Karir Mas Asmaoen di KNIL tidak lama. Dia mendapat penolakan dari perwira Belanda karena latar belakangnya sebagai bumiputra. Dia kemudian dipindahkan ke Irian, tapi di sana jatuh sakit. Menurut Poeze, Asmaoen tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di Indonesia. Terlalu lama tinggal di Belanda membuatnya sulit beradaptasi. Mas Asmaoen meninggal dunia pada 1916 (sumber lain menyebut tahun 1917). Dokter Perempuan Pertama Marie Thomas di ruang persalinan ( javapost.nl ) Sejak secara resmi menjalankan fungsinya sebagai sekolah pada 1902, STOVIA tidak menerima murid perempuan. Hanya para murid laki-laki yang boleh mengenyam pendidikan dokter di sana. Namun peraturannya perlahan berubah semenjak Marie Thomas mendapat izin berstudi di sekolah khusus bumiputra tersebut. Diterimanya perempuan kelahian Likupang, Manado, tahun 1896 itu tidak lepas dari peran Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Negeri Belanda. Diceritakan sejarawan Belanda Liesbeth Hessleink dalam “Marie Thomas (1896-1966), de eerste vrouwelijke arts in Nederlands-Indie”, dimuat Javapost.nl , kesempatan Marie Thomas datang pada 18 April 1912. Itu terjadi saat Aletta Jacobs singgah di Batavia dalam kegiatan tur keliling dunia. Di Hindia Belanda ini Aletta bertemu dengan Gubernur Jenderal AWF Idenburg. Pada pertemuan itu, Aletta menyampaikan keinginan agar perempuan bumiputra memperoleh kesempatan mendapat pendidikan kedokteran. Sehingga tidak hanya laki-laki saja yang berkarir di dunia medis. Tidak berlangsung lama, harapan Aletta berbuah hasil. Peraturan baru segera dikeluarkan pejabat pemerintah Hindia Belanda terkait masalah tersebut. Melalui beasiswa dari sebuah yayasan yang bergerak mengeluarkan dana pendidikan bagi dokter perempuan, Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Indlandsche Arsten (SOVIA), Marie Thomas mendaftar ke Stovia. Memasuki pertengahan tahun 1912, dirinya tercatat sebagai mahasiswa STOVIA. Lulus tahun 1922, Marie Thomas memulai karirnya di Centraal Burger Ziekenhuis (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), Batavia. Marie Thomas menjadi spesialis Indonesia pertama dalam bidang ginekologi dan kebidanan. Sekolah Dokter Pertama Suasana di kelas anatomi, Stovia (Repro Healers on the Colonial Market) Permulaan abad ke-19, epidemi penyakit menular merebak di seluruh wilayah Hindia Belanda. Pemerintah ketika itu kesulitan menghentikan penyebarannya karena penyakit berkembang di kalangan bumiputra. Sementara rumah sakit yang tersedia hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa saja. Akibatnya penyebaran itu tidak dapat dibendung dan mulai menyerang semua kalangan. Demi terhindar dari dampak yang lebih buruk, Kepala Dinas Kesehatan Umum Hindia Belanda Williem Bosch melayangkan usulan kepada pemerintah agar kalangan bumiputra diperbolehkan menerima pendidikan menjadi dokter. Para lulusannya akan disebar menekan penyakit di banyak daerah, dan diproyeksikan mengganti peran dukun sebagai tenaga medis tradisional. Usulan itu makin mendesak ketika wilayah Jawa Tengah diserang epidemi penyakit tahun 1847. Pada 1 Januari 1851, setelah melalui serangkaian perdebatan, usulan Bosch dapat direalisasikan. Pemerintah kemudian membuka sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda dengan nama resmi School ter Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen. Dikenal luas di masyarakat dengan sebutan Sekolah Dokter Jawa. Gedung untuk pendidikan menempati salah satu bagian rumah sakit militer. Direktur pertamanya dijabat oleh P. Bleeker, seorang iktiologis dengan reputasi interasional. Di dalam bukunya, Healers on the Colonial Market , sejarawan Liesbeth menyebut tidak ada pelajaran khusus yang ditujukan untuk kondisi umum masyarakat lokal. Sebagian besar pengajarnya bahkan hampir tidak punya pengalaman menangani pasien bumiputra. Tahun pertama, para murid sekolah dokter ini mempelajari dasar-dasar ilmu pengobatan, kimia, geologi, botani, zoologi, anatomi, psikologi, dan otopsi. Tahun berikutnya mereka diajari pembedahan dan operasi pada jenazah. “Seluruh alumni Sekolah Dokter Jawa, termasuk mereka yang membuka praktik dokter sendiri, disupervisi oleh dokter Eropa yang bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan,” ungkap Liesbeth. Kehadiran para dokter dari kalangan bumiputra ini terbukti mampu menjaga penularan penyakit secara masif di masyarakat. Mereka juga menjadi agen yang memperkenalkan pengobatan modern Barat kepada masyarakat awam. Atas kesuksesan itu, tahun 1875 program pendidikan dokter Jawa direformasi. Durasinya diperpanjang dari tiga menjadi tujuh tahun. Jumlah siswa yang diterima bertambah dari 50 menjadi 100. Bahasa pengantarnya pun berganti menjadi bahasa Belanda. Pada 1902, bersamaan dengan kebijakan politik etis, revisi pendidikan ikut mengalami perubahan. Nama sekolah berganti menjadi School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA). “Istilah dokter Jawa berubah jadi Inlandsche Arts atau dokter bumiputra. Kemudian pada 1913, sekolah membuka pendaftaran bagi seluruh ras tanpa terkecuali maka gelar tersebut diubah menjadi Indische Arts atau dokter Hindia,” ungkap Liesbeth.

  • Meruwat untuk Mengusir Kekuatan Jahat

    Warga di Madiun, Jawa Timur, menggelar atraksi kesenian Dongkrek untuk mengusir pagebluk. Di antaranya ada yang menggunakan topeng genderuwoberwarna-warni. Dengan diringi musik, mereka berkeliling ke sudut-sudut sejumlah desa. Dalam Kesenian Dongkrek Internasilisasi Nilai dan Ketahanan Budaya , sejarawan IKIP PGRI Madiun, Muhammad Hanif, dkk. menjelaskan ritual ini sudah ada sejak 1867 dan terus berjaya hingga 1902. Kesenian ini lahir pada masa Raden Sosro Widjoyo, yang bergelar Raden Ngabehi Lho Prawiro Dipoero III menjabat sebagai Palang Caruban atau sekarang Kecamatan Mejayan. Palang setara dengan jabatan lurah kepala. Pada 1866, daerah Caruban diserang pagebluk yang menelan banyak korban. Raden Prawiro Dipoero berusaha mencari jalan keluar. Ia bermeditasi dan bertapa di wilayah Gunung Kidul Caruban. Saat bertapa, ia diganggu segerombolan genderuwo . Ia mengalahkan genderuwo itu dengan cemeti yang didapatkan nya dari seorang kakek sakti saat bertapa. Bahkan, Raden Prawiro Dipoero membuat genderuwo itu membantunya mengusir wabah penyakit. Ia bersama abdinya dan genderuwo berjalan keliling kawasan Mejayan. Mereka menggiring keluar roh halus pembawa wabah yang menyerang wilayah mereka. Setelah krisis pangan dan wabah berlalu Raden Prawiro Dipoera membuat topeng menyerupai sosok genderuwo. Ia menjadikanya topeng seremonial untuk diarak keliling kampung setahun sekali pada tengah malam. Ini sebagai ritual tolak bala atau mencegah agar wabah tak muncul kembali. Keyakinan adanya roh atau hantu jahat yang mendatangkan musibah bagi manusia sudah ada sejak lama. “Dalam prasasti ada kata hanitu atau hantu, ‘lenyaplah segala hanitu ’. Artinya sebagai suatu yang mengancam. Dalam keyakinan itu penyakit dianggap sebagai kekuatan jahat yang perlu disirnakan. Jadi nonmedis,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia. Mengusir Pengaruh Jahat Hari Lelono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan dengan tujuan sama, umumnya masyarakat Jawa menggelar upacara bersih desa. Ada juga yang menyebutnya ruwatan. Bersih desa berasal dari pengertian orang Jawa yang berarti membersihkan hal buruk. Tujuannya agar manusia terhindar dari bermacam gangguan, baik alam maupun roh jahat. Sementara ruwatan berasal dari kata ruwat, artinya luwar atau lepas. “Jadi, bersih desa atau dusun dan ruwatan berarti melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor,” jelas Hari Lelono dalam “Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana” , terbit di Berkala Arkeologi Vol. 35 , 2015 . Ruwatan bisa dilakukan terhadap alam semesta sebagai tempat hidup manusia, serta segala isinya seperti bumi, sungai, laut, danau. Pun ruwatan bisa dilakukan terhadap manusia secara individu maupun kelompok. Pada masa lalu, khususnya masyarakat Jawa dan Bali,mengenal upacara bhumisuddha. Artinya upacara kurban pemberian ( suddha ) bumi dari segala pengaruh jahat. Menurut Hari, pada masa Bali Kuno, sekira abad ke-10, dikenal upacara kurban yang disebut Haywahaywan dan pamahayu, yang berarti cantik, damai, dan sejahtera. “Selanjutnya masyarakat Jawa sekarang mengenal kata-kata mutiara: mamayu hayuning bawana . Maksudnya mempercantik dunia,” kata Hari. Upacara bhumisuddha tak berbeda jauh dengan ruwatan bumi. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bersih desa. “Bersih itu suddha, desa itu bhumi. Atau slametan sedekah bumi,” jelasnya. Ritual ini juga biasanya diiringi dengan persembahan “kurban” kepada Sang Penguasa Alam. Kurbannya berupa sesajian dengan segala macam perlengkapannya. Biasanya kegiatan ini dilakukan setelah musim panen,supaya masyarakat punya dana yang cukup untuk melakukan prosesinya. Hari menyebut masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur, biasanya melakukan upacara terpusat di Candi Sanggar, Dusun Wonogriyo. Mereka percaya di sana tempat tinggal roh-roh leluhur cikal bakal desa atau danyang . Karenanya pada waktu-waktu tertentu, mereka harus melakukan upacara menghormati para danyang. Tujuannya agar mereka selalu dijaga dan dihindarkan dari gangguan roh-roh jahat penyebab bencana. “Bencana itu baik berupa bencana alam maupun musibah seperti penyakit, kematian, dan pengaruh jahat lainnya,” jelas Hari. Roh Jahat Kegiatan menangkal roh jahat pembawa petaka pada masa kuno, dipahatkan pada pendopo Candi Panataran di Blitar, Jawa Timur. “Ada gambaran seorang tokoh memberikan sesajian yang dimaksudkan untuk menangkal gangguan yaitu hantu. Artinya ada tempat-tempat tertentu untuk menyirnakan penyebab petaka, disebut hantu jahat,” jelas Dwi. Arkeolog Setyawati Suleman dalam Batur Pendopo Panataran , menjelaskan bahwa dalam pendopo Candi Panataran itu seorang tokoh dengan tutup kepala tekes tampak sedang membawa sajian dalam bentuk tumpeng kepada Durga di pekuburan yang penuh dengan hantu. Ia berjumpa dengan hantu yang badannya setengah terkubur di tanah. Di atas relief ini terdapat tulisan yang oleh J.L.A Brandes, ahli purbakala Belanda, dibaca sebagai hanja hanja nngah . I nskripsi ini cocok dengan adegan tadi, yang berarti hantu berbadan setengah. Pada adegan ini tampak pula tangan besar yang terulur ke atas, ini adalah hantu tangan. Ia disebut dengan tetangan dalam kisah Sudhamala. Di atasnya kepala Bhuta tengah meringis.  Soal hantu, ada inskripsi singkat lain yang ditemukan di relief pendopo ini. Tertulis hanja hanja kasturi. Mungkin yang dimaksud adalah hantu wangi. Kendati adegan di bawahnya tak memperlihatkan adegan yang ada hantunya.  Dwi juga menyebutkan kisah Sudhamala yang ditemukan pada relief di dinding Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar dan di Candi Tegowangi di Kediri. Di sana ada adegan Sadewa, salah satu dari tokoh Pandawa, yang berhasil meruwat raksasi bernama Durga Ranini, penguasa Setra Gandamayu tempat para jin dan setan. Setelah diruwat, Ranini kembali ke wujudnya semula, Batari Uma yang canti k jelita. “Dalam Sudhamala ada Ranini penguasa Setra Gandamayu, yang digambarkan sebagai kekuatan jahat. Lalu setelah diruwat, murkanya diredakan,” jelas Dwi. Ada pula relief Angling Dharma pada dinding Candi Jago di Malang. Angling Dharma pada ujung cerita meruwat seorang resi dari wujudunya yang seperti raksasa. Kondisinyakembali stabil saat sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Paling Mudah Dicerna Dwi mengatakan segala bencana yang terjadi pada masyarakat kuno selalu dianggap sebagai murka alam atau murka ilahi. Karenanya masyarakat perlu meredakan murkanya. “Karena berkaitan dengan keyakinan jadi dilakukannya juga berdasarkan keyakinan tertentu,” jelas Dwi. Pada perkembangannya, menurut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, kemarahan roh-roh orang mati yang tak puas tetap merupakan penjelasan yang lebih cepat dan lebih mudah bagi suatu bencana yang terjadi. Itu bila dibandingkan dengan pandangan tentang kejahatan dari kitab-kitab suci yang ada. “Sekalipun agama-agama kitabiah berhasil mengurangi pengaruh roh-roh halus, orang tetap saja ada yang sakit, sial, dan mati,” katanya. Bagaimanapun, kata Hari Lelono, kepercayaan mempunyai fungsi salah satu n ya untuk mengurangi kegelisahan. “Dengan religi manusia bisa mendapat ketenangan untuk menghadapi hal-hal di luar jangakauan pikirannya, seperti kematian, penyakit, bencana, dan lainnya,” katanya.

  • Krisis Barang pada Zaman Jepang

    PANDEMI Covid-19 menyebabkan beberapa barang langka di pasaran. Contohnya masker dan cairan pembersih tangan. Belakangan barang kebutuhan pokok semisal gula ikut langka. Kekhawatiran muncul dari masyarakat terhadap ketersediaan barang kebutuhan pokok. Tapi pemerintah meyakinkan tidak akan ada kelangkaan barang kebutuhan pokok.

  • Tragedi Pesawat Angkatan Udara di Mata Utami Suryadarma

    SEBAGAI bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut andil dengan mengerahkan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Angkatan Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut logistik kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian diberitakan detik.com , 22 Maret 2020. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI itu diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.” Apa yang dilakukan para personil TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas mengangkut obat-obatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. Kejadian itu selalu diingat  Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian menuliskannya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air.  Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan.  Adisutjipto dan dokter karbol –julukan yang melekat pada Abdulrahman Saleh karena kebiasaannya semasa sekolah kedokteran di Batavia mengepel asrama menggunakan karbol– akan berangkat ke Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan bantuan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Mereka akan terbang menggunakan pesawat DC-3 Dakota bernomor registrasi VT-CLA. Pertemuan berjalan akrab seperti biasa ketika kedua bawahan Suryadarma itu membahas masalah AURI dan perjuangan dengan sang KSAU. Ketika kunjungan selesai, kedua perwira muda AURI itu berpamitan seperti biasa mereka bertemu sebelumnya. Semua berjalan seperti biasa setelah itu. Adisutjipto dan dokter kadet berangkat ke Singapura, sementara Suryadarma mengurusi AURI dan Utami bersumbangsih dengan membantu perjuangan di garis belakang bersama gerakan perempuan. Namun, pada 29 Juli 1947 sore Utami mendapati kejanggalan di atas langit Yogyakarta. “Kita semua mendengar bunyi deruman sebuah pesawat Dakota. Suamiku heran karena biasanya pesawat kita yang datang dari luar negeri, mendarat di Yogyakarta pada malam hari kalau hari sudah sungguh-sungguh gelap. Saat itu sore hari yang masih terang-benderang,” ujarnya. Kejanggalan itulah yang membuat Suryadarma, kata Utami, segera berlari ke mobilnya untuk menuju Lanud Maguwo (kini Lanud Adisucipto) yang letaknya tak terlalu jauh dari kediaman KSAU. Kedua anak Suryadarma-Utami, yakni Priyanti dan Erlangga, ikut dengan ayah mereka. Utami menunggu di rumah dengan hati cemas. Kecemasannya seketika berubah menjadi kesedihan ketika suami bersama kedua anaknya tiba dari Maguwo petang itu. Suryadarma mengabarkan bahwa pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar sore itu ternyata Dakota yang –disewa AURI dari Kalingga Air milik Bidju Patnaik, pengusaha India yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto dan dokter karbol dan pesawat itu baru saja jatuh ditembak pesawat Belanda. “Dakota VT-CLA mengeluarkan asap; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat itu kehilangan keseimbangan dan tembakan masih gencar dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh melayang membentur tanggul sawah,” kata saksi bernama Soma Pawiro sebagaimana dikutip Irna Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . “Hatiku tersayat-sayat rasanya,” kata Utami mengingat keadaan saat dia mendengar kabar pilu itu. “Untuk petama kalinya saya menyaksikan suamiku menangis sekembalinya dari Maguwo.” Malam itu juga Suryadarma –yang sebelum pulang ikut membawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– dan Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, dan Pangsar Jenderal Soedirman sudah ada di rumahsakit ketika mereka tiba. Suryadarma amat terpukul oleh kejadian itu, kata Utami. Selain kehilangan sahabat sekaligus bawahan-bawahan yang cakap, dia sebagai pemimpin AURI yang masih seumur jagung kehilangan pencetak-pencetak kader penerbang-penerbang baru. Praktis hanya tinggal Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi yang dapat diandalkannya untuk terus menjalankan roda kehidupan AURI. Sama dengan suaminya, Utami juga terpukul oleh kejadian tersebut. “Sebelumnya saya merasa ngeri melihat janazah para korban, tetapi rasa itu hilang ketika saya melihat wajah Adisoetjipto dan dr Karbol. Wajah mereka berdua utuh sepenuhnya, meskipun ada sedikit luka terbakar. Namun saya tidak dapat menahan airmata yang bercucuran. Baru beberapa hari yang lalu mereka berdua datang berpamitan ke rumah, karena akan berangkat ke Singapura untuk tugas penting ini. Sekarang mereka sudah kembali dari menjalankan tugas, tetapi mereka telah tidak bernyawa. Bagaimana saya tidak sedih dan bagaimana saya dapat menahan airmata mengingat itu semua,” kata Utami.

  • Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua

    SIAPAPUN akan takjub bila mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu memasuki pintu gerbang Rowobendo, Anda akan disambut pemandangan rimbunan pohon mahoni di kanan-kiri jalan. Begitu indah. Bak lukisan atau sebuah tempat nun jauh di masa lalu. Tapi ini awal dari perjalanan yang akan mengejutkan Anda. Alas Purwo punya objek wisata yang terbilang lengkap dan mempesona. Dari pantai pasir putih hingga padang savana. Dari situs sejarah yang menggelitik hingga goa-goa yang beraroma mistik. Anda bisa menunggangi ombak, meneliti hewan liar, dan masih banyak lagi. Alas Purwo memiliki keanekaragaman hayati dan satwa yang mengagumkan. Pada masa Hindia Belanda, kawasan hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam (1920) lalu suaka margasatwa (1936). Statusnya kemudian meningkat jadi taman nasional (1992) dan juga ditetapkan sebagai kawasan lindung nasional (2008). Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, keberadaan TNAP seluas sekitar 43.420 hektar adalah sebuah berkah. Pesona alamnya dimanfaatkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Salah satunya dengan menggelar sejumlah event yang memadukan olahraga dan wisata ( sport tourism ). Akhir November 2019, misalnya, digelar Alas Purwo Geopark Green Run yang diikuti sekitar 500 pelari dari dalam maupun luar negeri. Para peserta melewati lebatnya pepohonan mahoni lalu menyusuri pinggiran Pantai Trianggulasi yang berpasir putih. “Jadi kini akses ke hutan-hutan sudah beres, termasuk jalanan di Alas Purwo. Sekarang sudah mulus. Setelah kemarin sukses dengan Ijen Green Run, ada ide menggelar jungle run ,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ijen Green Run, yang digelar sejak 2016, memanjakan para pelari dengan kesegaran dan keindahan alam kaki Gunung Ijen. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Hutan Tua Alas Purwo adalah hutan tua, bahkan dianggap yang tertua, di Pulau Jawa. Dalam bahasa Jawa, Alas Purwo punya arti “hutan pertama” atau “hutan permulaan”. Maka, ia dikaitkan dengan mitos awal mula penciptaan Pulau Jawa. Sejumlah penelitian arkeologi memang terus dilakukan. Beberapa penelitian menemukan banyak goa yang mirip dengan goa hunian manusia prasejarah di wilayah karst lainnya. Karst adalah bagian yang mendominasi Alas Purwo. Menurut Obyek dan daya Tarik Wisata Taman Nasional Alas Purwo , hutan lindung ini memiliki sekira 40 goa alami. Beberapa di antaranya menjadi tempat laku spiritual atau semedi seperti Goa Istana, Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Mangleng, dan Goa Kucur. Masyarakat sekitar percaya bahwa Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Kerajaan Majapahit yang menghindar dari serbuan Mataram. Mereka juga yakin hutan ini masih menyembunyikan Keris Sumelang Gandring, salah satu pusaka Majapahit . Di tengah Alas Purwo  juga terdapat Situs Kawitan yang merupakan situs peninggalan Majapahit. Situs Kawitan, dalam bahasa Jawa juga berarti permulaan atau nenek moyang, ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk sekitar pada 1960-an. Karena diyakini sebagai tempat suci, di dekat situ didirikan Pura Giri Selaka. Sampai saat ini banyak umat Hindu mendatangi Pura untuk upacara keagamaan Pagerwesi yang diadakan setiap 210 hari sekali. Kesan mistis dan sakral itu, alih-alih dihilangkan, malah dipakai Pemkab Banyuwangi untuk mempromosikan Alas Purwo sebagai destinasi wisata. “Semakin tersembunyi semakin dicari, semakin mistis semakin diminati. Itulah Alas Purwo,” ujar Anas kepada kumparan.com . Hal itu pula yang memunculkan gagasan dari benak Anas untuk menggelar Festival Kejawen dalam waktu dekat. Tapi sebenarnya, jauh dari kesan mistis, Alas Purwo terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Karena lokasinya berbatasan dengan Samudera Hindia, TNAP diberkahi deretan pantai eksotis seperti Pantai Parang Ireng, Pantai Ngagelan, Pantai Pancur, hingga Pantai Plengkung. Anda bisa bermain di tepi pantai, melihat konservasi penyu, atau berselancar di atas ombak setinggi enam meter. Jika tertarik dengan konservasi satwa liar, datanglah ke Sadengan, sebuah padang rumput atau savana yang luas. Awalnya tempat pengamatan banteng, Sadengan kini difungsikan sebagai “Wildlife Research Station”. Di sana Anda bisa mengamati burung merak, rusa, dan banteng Jawa. Ada juga pemandangan hamparan mangrove di sepanjang Sungai Segara Anakan di kawasan Bedul. B angunan Sanggrahan yang megah dengan motif rumah Osing, suku asli Banyuwangi. Masih banyak lagi. Bukan hanya rekreasi dan pariwisata, Alas Purwo cocok untuk tujuan penelitian hingga ilmu pengetahuan. Ia menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna. Hewan yang ikonik adalah banteng Jawa, lutung budeng, dan penyu. Sementara tumbuhan khas dan endemik adalah bambu manggong ( Gigantochloa manggong ) dan sawo kecik ( Manilkara kauki ). Pohon sawo kecil Alas Purwo pernah diminta khusus oleh Siti Hartienah Soeharto atau Ibu Tien untuk diukir fragmen Rama Tambak dari kisah Ramayana. Kini, batang sawo kecik berukir itu bisa disaksikan di Museum Purna Bhakti Pertiwi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Dengan semua itu, tak heran jika TNAP –bersama Gunung Ijen di Banyuwangi– ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pendidikan dan kebudayaan, pada 2016. Selain itu, TNAP –selain Blue Fire di Gunung Ijen dan Pulau Merah d Banyuwangi– ditetapkan sebagai situs Taman Bumi atau Geological Park (Geopark) Nasional 2018. Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Konsep Sport Tourism Dengan segala pesonanya, Alas Purwo kini menjadi salah satu destinasi favorit di Banyuwangi. Kunjungan wisatawan tercatat terus meningkat. Keberhasilan itu tak lepas dari upaya Pemkab Banyuwangi untuk memoles Alas Purwo. Pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana untuk mendukung pengelolaan kawasan digiatkan. Dari kantor balai hingga akses jalan di dalam kawasan. Jalan rusak berganti mulus. Bangunan tua nan usang berganti modern dan kokoh. Pasokan listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga sudah masuk. Tak bisa diabaikan inovasi dari Pemkab Banyuwangi dengan menggelar sejumlah event sport tourism . Misalnya balap sepeda Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) dengan titik start di Alas Purwo hingga melewati rute mendaki ke Gunung Ijen. TdBI digelar sejak 2012 dan jadi kejuaraan balap sepeda resmi Federasi Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International). Setiap tahun event yang diadakan di Alas Purwo, terutama sport tourism , makin bertambah. Pada 2019, selain Alas Purwo Geopark Green Run, Banyuwangi mengadakan ajang kompetisi bersepeda sekaligus berlari dengan nama Banyuwangi Savana Duathlon. Lalu, pada Banyuwangi Festival 2020, meluncurkan Alas Purwo Food Festival (Juni) serta World Surf League (WSL) Championship Tour  (Juni) di Pantai Plengkung (G-Land) dan Banyuwangi International Geopark Walk (November). Yang membanggakan tentu saja terpilihnya Banyuwangi sebagai salah satu tuan rumah WSL Championship Tour. Ini adalah liga selancar paling bergengsi di dunia. Biasanya digelar April-Desember setiap tahunnya di berbagai pantai di dunia. Tahun ini terpilih Australia, Amerika Serikat, Brazil, Hawaii, Tahiti, Afrika Selatan, Portugal, hingga Prancis. ”Banyak daerah di belahan dunia lain yang sangat berminat menjadi tuan rumah. Kami bersyukur, justru Banyuwangi dipilih WSL,” kata Bupati Anas. Terpilihnya Banyuwangi tak lepas dari perhatian pemerintah daerahnya dalam mengembangkan sport tourism . Selain itu, G-Land punya ombak bagus dan berada di kawasan TNAP yang elok. Nah, kurang apa lagi. Setelah badai Covid-19 atau Corona berlalu, Alas Purwo bisa jadi pilihan berlibur yang menyenangkan. Yuk, siapkan dari sekarang.

  • Kesedihan Haji Agus Salim

    TAK ada yang meragukan kiprah Haji Agus Salim sebagai seorang pejuang. Sejak aktif di Volksraad (1921-1924), dia telah dikenal kritis dan garang terhadap berbagai kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang dianggap menindas rakyat. Bahkan ketika merasa segala kritiknya tak disambut, dengan lantang dia berpidato bahwa Volksraad tak lebih sebagai “komedi omong yang disensor” dari sebuah parlemen gadungan. “Usai melakukan kritiknya itu, Haji Agus Salim lantas keluar dari Volksraad,” ujar Agustanzil Sjahroezah, salah seorang cucu dari Haji Agus Salim. Di lain waktu, Haji Agus Salim pernah balik mempermalukan orang-orang yang menghinanya. Alkisah, suatu hari beberapa aktivis muda Sarekat Islam (SI) Merah yang berhaluan komunis mendatangi sebuah rapat yang menghadirkan Haji Agus Salim sebagai pembicara utamanya. Tujuan mereka datang tak lain hanya ingin “mengacaukan” rapat tersebut. Maklum sebagai anak-anak muda, mereka lagi “genit-genitnya” secara intelektual. Setiap Haji Agus Salim yang memiliki jenggot kambing itu bicara, maka anak-anak muda kiri tersebut serempak menyahutinya dengan suara: “embeeekkk”. Satu kali didiamkan.Dua kali masih tidak diacuhkan. Begitu kali ketiga embikan berjamaah itu terdengar, tiba-tiba Haji Agus Salim  mengangkat tangan seraya berkata: “Tunggu sebentar. Bagi saya,adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun berkenan datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali, mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan, agar sementara, mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar menikmati rumput di lapangan. Sesudah pidato yang saya tujukan kepada manusia ini selesai, silakan mereka kembali masuk dan saya akan pidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Perlu diketahui, dalam Islam, kambing pun memiliki haknya sendiri. Karena saya menguasai banyak bahasa, maka saya akan memenuhi hak mereka.” Demi mendengar kata-kata Haji Agus Salim itu, orang-orang yang hadir di sana bergemuruh dalam tawa. Adapun anak-anak muda itu, alih-alih meninggalkan ruangan, mereka yang seolah-olah  menjadi “sekelompok  badut muda”  terpaksa harus “menikmati" ejekan masal itu dengan muka merah padam. Namun Haji Agus Salim yang cerdas, sangar dan jenaka pernah sangat bersedih. Itu terjadi pada akhir Januari 1946, saat Haji Agus Salim mendengar kabar anak ke-5-nya, Achmad Sjewket Salim gugur dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang. “ Paatje memang berduka sekali dengan meninggalnya Sjewket karena sebelumnya Sjewket yang selalu sakit-sakitan itu sudah dilarang untuk masuk Akademi Militer Tangerang,” ungkap a lmarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim. Ketika memimpin perjuangan diplomasi di Mesir pada 1947, Haji Agus Salim terlihat sering menggunakan sebuah jaket militer usang. Menurut diplomat senior M. Zein Hassan, kendati anggota delegasi Indonesia lainnya agak penasaran dengan kebiasaan orang tua tersebut, namun tak ada yang berani menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan. Hingga suatu malam, selagi semua anggota delegasi RI duduk di beranda atas Hotel Continental Cairo untuk menikmati cahaya bulan yang keperak-perakan, tetiba Haji Agus Salim menyanyikan secara lantang sebuah lagu perjuangan. “Kami yang hadir semuanya terdiam seperti terpukau,” ungkap M. Zein Hassan dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri . Situasi semakin hening begitu lagu selesai dinyanyikan, sejenak Haji Agus Salim terdiam lantas menangis tersedu-sedu, seolah ingin melepaskan segala sesak dada yang menekan dirinya. Lagi-lagi tak ada yang berani bertanya atau memulai pembicaraan. Keheningan itu mulai dipecahkan lagi oleh suara Haji Agus Salim sendiri. “Lagu itulah yang dinyannyikan anak saya, ketika pelor Jepang menembus dadanya,” kata Haji Agus Salim dalam nada parau. Sejurus kemudian, Haji Agus Salim kembali diam. Lalu saat beberapa detik berlalu, dia menghalau lagi keheningan sambil menunjuk jaket militer yang selalu dipakainya sehari-hari selama di Mesir. “Baju inilah yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid,” ujarnya. Sjewket, remaja 19 tahun yang telah tiada itu, memang selalu hidup dalam benak Haji Agus Salim . Bisa jadi dia sempat merasa menyesal karena tidak bisa meyakinkan putranya itu untuk tidak menjadi seorang prajurit. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein yang pernah mendengar langsung dari adik Sjewket, Islam Salim, Haji Agus Salim pernah menasehati Sjewket untuk berjuang lewat jalan lain. Toh perjuangan mempertahankan proklamasi tidak harus lewat menjadi seorang prajurit, kata Haji Agus Salim . “Tapi ya dasar pemuda yang sedang semangat-semangatnya ingin berjuang, Sjewket diam-diam mendaftarkan diri ke Akademi Militer Tangerang dan lulus hingga dia gugur bersama komandannya, Mayor Daan Mogot,” ungkap Rushdy. Mohamad Roem pernah melukiskan rasa cinta Haji Agus Salim kepada Sjewket. Ketika Haji Agus Salim sedang serius berdiskusi dengan para aktivis muda di rumahnya, tetiba datang Sjewket (yang saat itu berusia 4 tahun) mendekati Haji Agus Salim . Dalam bahasa Belanda, Sjewket kecil minta kepada ayahnya untuk menggaruk punggungnya yang terasa gatal. “Dengan wajah penuh kasih sayang, perhatian Haji Agus Salim langsung beralih kepada anaknya dan sesudah bertanya (juga dalam bahasa Belanda) sebelah mana yang gatal agar dapat digaruk dengan cepat, Haji Agus Salim menjalankan apa yang dimintakan,” ungkap Roem seperti tercuplik dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah.*

  • Presiden Soeharto Becanda di Papua

    AWAL Maret 1973, Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Papua. Itu adalah kali kedua Soeharto datang ke provinsi yang masih bernama Irian Barat itu, setelah kunjungan perdananya tahun 1969. Dalam kunjungan tersebut, Soeharto membawa sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Salah satu diantaranya ialah Jaksa Agung Soegih Arto.

  • Muasal Logo Dolar

    PANDEMI corona atau Covid-19 mengakibatkan perekonomian dunia kacau. Kebijakan lockdown yang diambil banyak negara dan pemerintahan di bawahnya untuk memutus penyebaran wabah corona mengakibatkan aktivitas ekonomi berjalan amat lambat. “Covid-19 adalah ujian terbesar bagi kita sejak pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini adalah kombinasi antara penyakit yang menebar ancaman dan dampak ekonomi yang menyebabkan resesi dalam skala yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com, 2 April 2020. Dampak pandemi bagi perekonomian juga amat kentara dalam perekonomian Indonesia. “Resesi yang semakin pasti, bahkan mungkin sudah terjadi, membuat investor menerapkan ‘social distancing’ dari aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Seretnya arus modal ke pasar keuangan Tanah Air membuat Rupiah melemah,” sambungnya.

  • Roh Gunung dan Wabah Penyakit

    PADA suatu pagi, setelah seminggu terus-menerus hidup seperti dirundung malang, raja Lombok memanggil semua pejabat, pendeta dan pangeran yang ada di Mataram. Raja mengatakan, selama beberapa hari hatinya sangat sakit tanpa tahu penyebabnya. “Aku telah bermimpi semalam Roh Gunong Agong, muncul di hadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung,” kata raja. Para hadirin di hadapannya diperbolehkan untuk ikut mengiringi kepergiannya hingga mendekati puncak. Namun ia harus melanjutkan pendakian seorang diri agar Roh Gunung Agung yang bersemayam di puncak gunung mau muncul di hadapannya. “Ia akan mengatakan sesuatu yang penting bagiku,” ujar raja. Persiapan pun dilakukan. Rombongan kerajaan berangkat pagi-pagi. Empat hari berlalu sampai raja harus mulai mendaki gunung dengan hanya diikuti rombongan kecil pendeta dan pangeran serta pembantu. Begitu mendekati puncak, raja memerintahkan para pengikutnya berhenti. Ia akan meneruskan perjalanannya dengan ditemani dua bocah pembawa kotak sirih. Puncak gunung berada di tengah bebatuan dan di pinggir kawah yang berasap. Sampai di sana, raja meminta kotak sirihnya dan menyuruh dua bocah tadi duduk diam sambil melihat ke bawah gunung. Raja pun menemui sang Roh Gunung Agung seorang diri. Tiga hari kemudian raja memanggil para pendeta, pangeran, dan para pembesar di Mataram. “Roh Agung telah berseru kepadaku,” kata raja. “’O Raja! Banyak wabah penyakit dan bencana akan melanda bumi, melanda manusia, melanda kuda dan ternak. Tetapi karena kau dan rakyatmu mematuhiku serta talah datang mendaki gunungku yang agung, aku akan memberitahukan cara menghindarinya’.” Raja pun berkata, Roh Gunung Agung memerintahkan mereka untuk membuat 12 keris keramat. Bahannya dari jarum yang jumlahnya mewakili jumlah penduduk di tiap desa. Satu jarum mewakili satu penduduk. Bila suatu penyakit yang berbahaya muncul di suatu desa, maka salah satu keris akan dikirim ke desa itu. “Jika jumlah jarum yang dikirim tak sesuai dengan jumlah penduduk, keris yang dikirim tidak akan berkhasiat apa-apa,” jelas raja. Dengan segera semua kepala desa mengumpulkan jarum. Setelah semua desa mengumpulkan, raja membagi kumpulan jarum itu ke dalam 12 bagian yang sama banyaknya. Lalu ia perintahkan pandai besi terbaik di Mataram untuk menjadikannya keris. Tiap keris dibungkus dengan kain sutra. Semuanya disimpan sampai pada saat nanti dibutuhkan. Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menceritakan kisah itu dalam bukunya The Malay Archipelago . Wallace melakukan perjalanan ke Lombok pada 1856 di tengah ekspedisinya berkeliling Nusantara. Ada maksud tersembunyi di balik pembuatan keris itu. Raja Lombok sebenarnya ingin juga mendapatkan data jumlah penduduk untuk disesuaikan dengan perolehan upeti yang seharusnya ia terima. Kendati begitu, “sabda” Roh Gunung Agung tetap saja dipercayai. Kehadiran 12 keris keramat membawa arti besar. Bila wabah penyakit muncul di suatu daerah, salah satu keris dikirimkan. Bila wabah mereda, keris dikembalikan dengan upacara penghormatan. Kepala desa lalu akan bercerita kepada raja tentang tuah keris itu. Sembari mereka mengucapkan terima kasih. Bila penyakit tak hilang, semua orang yakin ada kesalahan dalam jumlah jarum yang diserahkan oleh kampung itu. Karena kesalahan itu, keris keramat tak mampu melawan penyakit yang melanda kampung. Maka harus dikembalikan kepala desa dengan berat hati. “Walaupun demikian rasa hormat terhadap keris itu tidak berkurang karena mereka yakin kegagalan itu disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri,” catat Wallace. Dari penuturan Wallace, peran Roh Agung Gunung begitu besar dalam menentukan sikap masyarakat Lombok menghalau wabah penyakit. Kendati dalam kisah itu tak jelas wabah penyakit apa yang menjangkit, rupanya orang Sasak masih memberikan penghormatan yang sama pada sang penguasa gunung. Mereka mengenal tradisi menjamu dewi penguasa Gunung Rinjani untuk menjinakkan penyakit, khususnya cacar. Tolak Bala Suku Sasak Lalu Wacana, dkk. dalam Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat menjelaskan, secara umum orang Sasak di Lombok mengenal upacara tolak bala untuk mengusir wabah penyakit. Ritualnya disebut metulak.   Metulak , kata dalam bahasa Sasak, yang artinya: tulak  (kembali) dan metulak (mengembalikan). “Arti kiasannya menolak bala, yang dalam bahasa Sasak bahla ,” jelas Lalu. Dalam sebutan lain tolak bala disebut tulak bahla. Bahla artinya wabah. “Maksud upacara metulak  ini adalah untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dijauhi dari segala marabahaya dan wabah yang dapat menimpa tanaman padi dan manusia,” tulisnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Baik itu karena umur, ilmu dan pengalamannya. Mereka harus memahami betul tata upacara metulak.   Tak diketahui pasti sejak kapan dimulainya upacara metulak dilakukan. “Dari beberapa orang informan hanya menerangkan bahwa tradisi ini telah berkembang sejak nenek moyang mereka,” jelas Lalu. Yang jelas, setidaknya ada enam peristiwa dalam hidup orang Sasak yang akan diiringi dengan prosesi metulak . Yaitu saat seseorang atau anggota keluarga tertimpa sakit, pendirian dan penempatan rumah baru, potong rambut bayi, menjelang keberangkatan haji, wabah penyakit cacar ( ngayah ) menyerang, dan padi mulai berisi. Dalam bentuk yang lebih sempit, dikenal pula upacara Besentulak. Ini pun upacara tolak bala. Tapi kalau besentulak terbatas untuk suatu keluarga yang mengadakan upacara itu saja. “Diadakan pula pada waktu wabah cacar sedang berjangkit. Wabah cacar dalam bahasa Sasak disebut ngayah,” jelas Lalu. Dalam Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat yang disusun Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, disebutkan kalau pada masa kolonial kesejahteraan rakyat kurang diperhatikan, terutama kesehatan. Dalam periode-periode tertentu penyakit epidemi selalu berulang, seperti cacar. Dewi Anjani Sang Penguasa Cacar Masyarakat Sasak punya perhatian khusus terhadap penyakit cacar. Mungkin karena wabah ini pernah menjadi yang paling ditakuti di wilayah Asia Tenggara. Ia menyebar termasuk sampai ke Nusantara. Hal itu banyak diungkap dalam catatan dari masa setelah abad ke-16. Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin menyebutkan, misalnya cerita dari abad ke-17 tentang didirikannya Ayutthaya pada abad ke-14. Kisah itu menyebutkan adanya janji bahwa kota itu bebas dari cacar. Lalu ada lagi Undang Undang Hukum Melaka yang disusun Kesultanan Malaka pada abad ke-15-16. Disebutkan bahwa penyakit kulit yang akut dibolehkan menjadi alasan perceraian atau penolakan pembelian seorang hamba sahaya. Bukti dari abad ke-16 dan ke-17 lebih banyak tersedia. Misalnya dalam catatan orang Portugis dan Spanyol yang menyebutkan penyakit cacar sebagai pembunuh penduduk di Maluku, Filipina, dan Ternate (1558), Ambon (1564), Balayan, Filipina (1592), dan Pegu (Birma Bawah) pada abad ke-17. Menurut Reid, di berbagai pusat penduduk dan perdagangan yang besar, cacar mungkin sudah menjadi endemik, terutama pada abad ke-16. Yang menjadi korban terutama anak-anak yang belum memiliki kekebalan. Penyakit itu bangkit setiap tujuh hingga sepuluh tahun. Sebaliknya, kata Reid, pada penduduk yang lebih terpencil, seperti di Borneo dan Filipina, cacar menjadi tamu yang tak begitu sering berkunjung. Namun tetap ditakuti. Penyakit ini menelan sebagian besar penduduk yang belum pernah kena. “Roh cacar banyak berperan dalam mitos rakyat, terutama di Borneo,” katanya. Di Lombok, kata Lalu, orang Sasak menganggap cacar sebagai rahmat Tuhan yang bersifat menguji iman dan ketakwaan umat manusia. Karenanya wabah ini tak dimusuhi, tetapi justru dijinakkan dengan jalan dijamu. Mereka mengenal upacara tolak bala yang disebut nemoe  artinya menjamu tamu. Ini berbeda dengan arti tolak bala yang berarti mengusir jenis penyakit lain selain cacar. Yang dijamu adalah Dewi Anjani. Ia adalah ratu, makhluk gaib terpenting yang bersemayam di Puncak Gunung Rinjani. “Menurut kepercayaan suku bangsa Sasak, dewi ini menguasai wabah penyakit cacar sebagai piaraannya,” kata Lalu.*

  • Nasib Nahas Lukisan Vincent van Gogh

    BUKAN hanya warga Belanda yang menjadi korban pandemi virus corona  (SARS-COV-2) dengan di- lockdown , sebuah lukisan berharga karya pelukis Vincent van Gogh pun turut jadi “korban”. Lukisan yang dipajang di Museum Singer Laren itu hilang dicuri pada Senin (30/3/2020) dini hari waktu setempat atau tepat di peringatan ke-167 kelahiran sang seniman. “Saya merasa marah dan sedih. Utamanya di masa-masa sulit seperti ini, saya merasa bahwa benda seni bisa jadi penenang untuk menginspirasi dan menyembuhkan kami,” tutur Direktur Museum Jan Rudolph de Lorm kepada The New York Times , Senin (30/3/2020). Lukisan karya Van Gogh yang dicuri itu bertajuk De pastorie in Nuenen in het voorjaar  atau Taman Pendeta di Musim Semi. Lukisan berdimensi 25 cm x 57 cm itu tengah dipinjam Museum Singer Laren sejak 14 Januari dalam rangka pameran “Mirror of the Soul” yang mestinya bergulir hingga 10 Mei 2020. Pameran dan museum itu terpaksa ditutup menyusul kebijakan lockdown  dikeluarkan pemerintah Belanda sejak 13 Maret 2020. Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring itu dipinjam Museum Singer Laren dalam rangka pameran dari Museum Groninger sebagai pemiliknya sejak 1962. Lukisan itu dikembalikan pada 2023 dalam sebuah tas terpal IKEA. Lukisan di Awal Kiprah Van Gogh The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang dibuat dengan pena dan cat minyak di atas kertas pada papan kayu itu dikerjakan pada medio Mei 1884. Saat itu merupakan masa awal karya Van Gogh dikenal publik sejak ia menekuni seni rupa tiga tahun sebelumnya. “Lukisannya berasal dari masa-masa awal, sebelum ia berperjalanan ke Arles dan Paris. Jadi lukisannya memang lebih gelap dan belum terlalu dikenal sebagai salah satu mahakarya Van Gogh,” sambung Direktur Museum Groninger, Andreas Blühm, dikutip The New York Times. Van Gogh membuat The Parsonage Garden at Neunen in Spring  setelah pindah dari Den Haag, Sien Hoornik, Drenthe, dan tinggal bersama orangtuanya di Neunen, dekat Hervormde Kerk (Gereja Reformasi) tak jauh dari kota Eindhoven pada Desember 1883. Usianya baru 30 tahun ketika Van Gogh pindah. Ayahnya merupakan pendeta di gereja tersebut. Sejak tinggal di Neunen, Van Gogh banyak menciptakan lukisan bertema taman. Salah satunya,  The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang ia buat sekira Mei 1884 atau enam bulan sejak pindah ke Neunen. Van Gogh merupakan sosok penyuka taman dan hobi berkebun. “Dia sangat menyukai taman pendeta di tempat ayahnya dan ketika ia hanyut dalam pengaruh impresionisme, dia menuliskan dalam catatannya betapa banyaknya taman yang dia kunjungi selama 10 tahun masa-masa produktifnya. Termasuk juga taman rumahsakit Arles, taman pertanian Provençal dekat Arles, Taman Puisi di Arles, taman rumahsakit jiwa Saint-Paul, taman bunga milik Dr. Paul Gachet di Auvers, dan taman mawar milik seniman Charles Daubigny di Auvers,” tulis Derek Fell dalam Van Gogh’s Gardens. Vincent Willem van Gogh di usia antara 17-19 tahun (Foto: Van Gogh Museum) Lukisan  The Parsonage Garden at Neunen in Spring  hanya satu dari sedikitnya empat lukisan bertema taman dekat gereja tempat ayahnya menjadi pendeta di Neunen yang ia buat. Pasalnya Van Gogh melukiskan taman itu di masing-masing musim sepanjang tahun. “Salah satunya menggambarkan taman yang tertutup salju, menegaskan garis perspektif yang diciptakan oleh dinding yang membatasi taman dan lingkungan sekitarnya. Latar belakangnya terdapat menara gereja berwarna gelap yang menyembul dari lanskap yang datar di bawah langit berwarna gradasi biru dan kuning terang,” lanjut Fell menerangkan karya Van Gogh bertajuk The Parsonage Garden at Neunen in the Snow  (1885). Dalam The Parsonage Garden at Neunen in Spring, Van Gogh mendeskripsikan seorang wanita berpakaian gelap di tengah taman yang di belakangnya terdapat sisa bangunan menara gereja tua. Van Gogh melukiskannya dengan palet hijau dan coklat gelap, serta sedikit sentuhan gradasi warna merah, sebagai indikasi bahwa musim semi telah tiba menggantikan musim dingin. Selama dua tahun tinggal di Neunen, Van Gogh menciptakan delapan lukisan bertema taman gereja itu, termasuk The Parsonage Garden at Neunen in Spring  yang jadi karya ketiga sejak pindah pada Desember 1883. Di masa itu, ia mendapat tekanan emosional lantaran dalam kurun dua tahun itu, sering tercipta tensi tinggi antara dirinya dengan sang ayah dan sang adik, Theo, yang tinggal di Paris. “Sejak 1884 ia sering bersurat kepada Theo, bahwa dia akan mengirimkan lukisan-lukisannya untuk menebus pinjaman uang sebelumnya. Dia berharap Theo mau menjualkan lukisan-lukisannya di Paris dan hasilnya untuk membayar pinjaman uang, serta berharap ada keuntungan lebih yang juga bisa didapat Van Gogh,” tulis Susie Hodge dalam The Great Artists: Vincent van Gogh. Nahas, lukisan-lukisan Van Gogh itu tak laku. Para pedagang barang seni enggan membelinya lantaran belum terlalu mengenal nama Van Gogh. Sayangnya riwayat lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring  di kemudian hari tak begitu terang. Hanya disebutkan pada 1927, lukisan tersebut dimiliki seorang kolektor J.A. Fruin dan dipajang di Galeri Seni Oldenzeel, Rotterdam, sebelum dibeli Museum Groninger pada 1962. Lukisan yang nilainya berkisar 1-6 juta euro (Rp18-108 miliar) itu kemudian dicuri orang atau kelompok tak dikenal tepat di peringatan ulang tahun ke-167 Van Gogh. Itu bukan kali pertama terjadi pencurian terhadap lukisan Van Gogh. Pada 1991, Museum Van Gogh di Amsterdam dibobol maling yang membawa kabur 20 lukisan sang seniman. Total kerugiannya mencapai sekira USD500 juta (Rp8,3 triliun). Hingga kini, kabarnya masih gelap. Lalu pada 2002, museum yang sama kecolongan lagi dua lukisan, namun kemudian ditemukan di Napoli setelah kepolisian Italia menggerebek sarang pengedar narkoba.

  • Kejenakaan Haji Agus Salim

    DIKENAL sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka. Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri Haji Agus Salim, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari Haji Agus Salim adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri Haji Agus Salim tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun  itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing.  “ Patjee  (panggilan akrab keluarga untuk Haji Agus Salim) tak pernah memerintahkan atau memaksa kami untuk belajar. Kalaupun ia ingin memberitahu sesuatu, pasti dilakukannya dalam suasana santai dan penuh jenaka,” ujar perempuan sepuh yang menguasai secara baik beberapa bahasa Inggris, Belanda dan Jepang tersebut. Mantan diplomat sekaligus tokoh Masyumi Mohamad Roem, mengakui asyiknya belajar dari Haji Agus Salim. Berbeda dengan guru-guru pada umumnya, Haji Agus Salim selain jenaka juga selalu tak menampilkan dirinya sebagai seorang yang paling tahu. Materi pengajaran pun akan mengalir begitu saja laiknya momen obrolan biasa. “Dia selalu tanamkan kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut,” ungkap Roem dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah . Ada kejadian lucu yang selalu dikenang oleh Roem dari Haji Agus Salim. Ketika tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, jalan menuju rumah Haji Agus Salim selalu becek jika turun hujan. Situasi tersebut tak jarang  menjadikan para pemuda pergerakan yang kerap mengunjungi rumah Haji Agus Salim harus turun dari sepeda dan mengangkatnya ke atas guna menghindari lumpur yang memenuhi ban sepeda. Kondisi itu kadang menjadi bahan ejekan Haji Agus Salim jika para pemuda itu datang dalam kondisi sangat payah dan kotor karena harus menangani sepedanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mohamad Roem dan kawan-kawan, Haji Agus Salim sempat melontarkan leluconnya tentang itu: “Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik: manusia justru yang ditunggangi sepeda.” Bukan hanya orang Indonesia saja yang merasakan hal tersebut. Jeff Last, salah satu tokoh sosialis Belanda, termasuk manusia yang sangat mengagumi Haji Agus Salim. Jeff mengakui dari Haji Agus Salim bahwa ia mendapatkan penjelasan yang mengesankan tentang Islam. “Dalam kebijaksanaannya yang riang, beliau telah berhasil menghilangkan prasangka-prasangka yang bukan-bukan mengenai Islam yang saya peroleh ketika menjadi murid HBS Kristen,” tulis Jeff Last dalam buku  Seratus Tahun Haji Agus Salim . Begitu kagumnya Jeff kepada Haji Agus Salim hingga seusai orang tua tersebut menyampaikan ceramahnya di depan anak-anak muda marxis Belanda di Kijkduin pada 1929, ia nekat mengajak Haji Agus Salim untuk mengunjungi rumahnya di Jalan Baarsjes. Tanpa diduga Haji Agus Salim menyambut baik ajakan Jeff itu. Hanya dalam waktu semalam saja, Haji Agus Salim telah berhasil menarik hati seluruh keluarga Jeff. Haji Agus Salim dengan gayanya yang santai berbicara akrab dengan seluruh anggota keluarga Jeff dan bercanda dalam cerita-cerita jenaka dengan anak-anaknya Jeff. “Dalam waktu satu jam, ia telah berhasil menarik hati anak-anak saya,” kenang Jeff. Femke, salah satu putri Jeff sangat menyukai Haji Agus Salim. Begitu berkesannya Femke kepada Haji Agus Salim sampai dalam suatu kesempatan ia bertanya kepada ayahnya apakah Haji Agus Salim merupakan sinterklaas dari Indonesia? Kedekatan jiwa Haji Agus Salim dengan anak-anak menjadikan ia mudah sekali mengajarkan apapun kepada putra-putrinya. Ketika Jeff mengungkapkan rasa herannya atas kefasihan Islam (nama salah satu putra Haji Agus Salim) dalam berbahasa Inggris, ia bertanya kepada Haji Agus Salim: “Bagaimana mungkin anak itu menguasai bahasa Inggris begitu bagus tanpa bersekolah?” Menjawab pertanyaan itu, dalam nada santai seperti biasa, Haji Agus Salim menyatakan kepada Jeff: “Apakah kamu pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda tentunya akan ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan otomatis si Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.” Haji Agus Salim memang selalu istimewa di mata siapa pun. Uniknya, kendati dia seorang diplomat, sesepuh bangsa dan tentunya seorang yang sangat cerdas, tidak menjadikannya silau terhadap materi.  Sampai akhir hayatnya, mantan jurnalis itu tetap memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page