Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno dan Trauma PRRI
UNTUK kesekian kalinya sentimen terkait Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat mengorbit lagi. Disebutkan budayawan Minang Edy Utama yang dikutip BBC News Indonesia , Selasa (8/9/2020), luka lama itu menganga setelah Presiden Sukarno memerintahkan pasifikasi militer lewat “Operasi 17 Agustus”. Implikasinya hingga sekarang merembet kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), parpol penguasa pemerintahan saat ini yang dianggap representasi dari Sukarno. Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pengarahan pasangan calon Pilkada, 2 September 2020, masih mempertanyakan mengapa rakyat Sumbar (Sumatera Barat) belum menyukai PDIP. Namun, kerunyaman muncul setelah muncul pernyataan Ketua DPP PDIP yang merangkap Ketua DPR RI Puan Maharani di hari yang sama. “Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila,” kata Puan. Sontak sejumlah nada sumbang dari para aktivis dan politisi Minang menerjang PDIP. Hal tersebut membuat PDIP Sumbar memutuskan urung terjun ke pertarungan pemilihan gubernur (pilgub) Sumbar. Pernyataan Puan jadi bola liar lantaran tak disusul klarifikasi langsung. Ia membangkitkan lagi trauma PRRI yang disebutkan Edy berawal dari operasi militer yang dikerahkan Sukarno. Pernyataan Edy mendorong kita pada pertanyaan, benarkah luka lama PRRI itu gara-gara operasi militer perintah Sukarno? Baca juga: Kemenangan "Tentara Sukarno" di Hari Lebaran Sejarawan cum peneliti senior LIPI Profesor Asvi Warman Adam mempertanyakan fakta yang terkesan memojokkan Sukarno tersebut saat dihubungi Historia . “Saya ingin mempertanyakan kenapa semua kesalahan ditimpakan pada Sukarno? Mereka kan ditangkap itu dengan surat penangkapan dari (Jenderal AH) Nasution. Di sini ada PKI yang membuat (permainan politik) dan ada Angkatan Darat juga. Jadi jangan semua ditimpakan bahwa Hamka ditangkap Sukarno. Ada juga pihak-pihak yang bermain di bawahnya, kekuatan politik lain seperti Angkatan Darat dan PKI,” ujar Asvi . Pernyataan Asvi menunjukkan detail-detail dalam politik nasional era 1950-an tidak banyak diketahui publik saat ini. Akibatnya, opini yang berkembang di masyarakat cenderung “pukul rata” bahwa semua kesalahan ada di pundak Sukarno. “Tapi memang mereka bersikap negatif terhadap Sukarno. Memang PRRI berdampak sampai ketika orang-orang Sumbar tak punya kesempatan memimpin di Sumbar. Menimbulkan trauma bagi orang di Sumbar dan jelas kemarahan terhadap pemerintah pusat diidentikkan dengan Sukarno. Saat kecil, saya juga merasakan hal itu, bahkan dikatakan Jawa dan Sukarno adalah pemerintah pusat yang menghancurkan PRRI,” imbuh Asvi yang kelahiran Bukittinggi 65 tahun lampau itu. Kolonel Ahmad Husein (pojok kiri) dengan para petinggi Dewan Banteng, Desember 1956 (Foto: nationaalarchief.nl ) Senada dengan Asvi, George McTurnan Kahin dalam Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia menyatakan, keputusan mengerahkan kekuatan bersenjata untuk meredam PRRI di bawah Kolonel Achmad Husein sejatinya adalah hasil dari percampuran permainan politik pihak-pihak di sekitar Sukarno. Keputusan memilih opsi penggunaan militer sebagai solusi non-kompromis terhadap PRRI adalah buah dari tekanan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution dan Perdana Menteri (PM) Djuanda Kartawidjaja. “Sukarno berada di bawah tekanan dari beberapa penasihat terdekatnya dan dari para pemimpin PKI untuk tak mengambil jalan kompromi. Baik PM Djuanda dan KSAD Nasution juga meninggalkan cara-cara untuk rekonsiliasi dan mendesak aksi militer terhadap PRRI,” ungkap Kahin. Baca juga: Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI Kesaksian bahwa opsi militer dalam penyelesaian PRRI tidak pernah dikeluarkan Sukarno juga dikatakan pengusaha asal Minang Hasjim Ning. Hasjim, yang merupakan keponakan Bung Hatta sekaligus sahabat Sukarno, dua kali diutus Sukarno ke Padang untuk menemui Ahmad Husein. Namun dua upayanya itu semua gagal. Oleh karena itu, sehari sebelum memulai safari luar negerinya pada Februari 1958, Bung Karno menyempatkan mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian kasus PRRI. Menurut Hasjim, Hatta menyarankan agar penyelesaian PRRI hendaknya tidak dilakukan dengan penggunaan kekerasan dan itu dituruti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang. PM Djuanda, yang dituntut mundur kabinetnya oleh PRRI, mengambil tanggung jawab aksi militer setelah upaya damai pemerintah pusat berbalas proklamasi berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958, sebagai perwujudan ultimatum dalam Piagam Perjuangan untuk Menyelamatkan Negara. Ultimatum berisi: pemerintah pusat didesak dalam lima hari sejak 10 Februari agar PM Djuanda mengembalikan mandat kabinetnya kepada Sukarno dan agar Sukarno membentuk sebuah Zaken Kabinet Nasional yang bersih dari unsur-unsur anti-Tuhan. Ultimatum itu, lanjut Kahin, seolah jadi penolakan menohok bagi upaya-upaya Sukarno mendinginkan persoalan lewat cara persuasif. Dikatakan PM Djuanda kepada Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones, ultimatum itu sebagai penolakan PRRI menjadikan Sukarno pasrah menyetujui langkah represif sebagaimana desakan pihak-pihak di sekitarnya. Baca juga: Pesawat CIA dalam PRRI/Permesta Di sisi lain, manuver PRRI di Sumatera juga dibekingi Amerika Serikat. Oleh KSAD Nasution, fakta tersebut dicap sebagai pemberontakan, bukan sekadar gejolak daerah yang menuntut otonomi lebih luas. “Ada ultimatum, ada pergerakan bersenjata. Bahwa gerakan besenjata itu ada ditambah bantuan asing dari Amerika, itu jelas pemberontakan, tidak bisa dibantah lagi. Di situ juga ada perwira militer, ada Achmad Husein, ada Dahlan Djambek juga dan dibentuk Dewan Banteng. Jadi bahwa ada juga persoalan antara pimpinannya tentara di daerah dengan di pusat,” sambung Asvi. Nasihat Ninik-Mamak Tak Didengar Ultimatum PRRI membuat KSAD mengerahkan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk memadamkan pergolakan tersebut pada 17 April 1958 lewat “Operasi 17 Agustus” yang dikomandani Kolonel Ahmad Yani. Klimaks perang saudara di Sumatera Tengah itu disesalkan banyak tokoh pendiri bangsa asal Minang seperti Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta. Sjahrir sempat mengingatkan Sumitro Djojohadikusumo agar tak keliru mengambil sikap dalam mendukung PRRI. Sementara, Hatta sejak awal menentang opsi pasifikasi secara militer. Hal itu diwanti-wantinya kepada Jenderal Nasution. “Saya tidak setuju, bahwa tentara bisa melancarkan serangan terhadap para pemberontak. Itu adalah langkah yang salah,” kata Hatta, dikutip Dubes Howard Jones dalam bukunya, Indonesia, The Possible Dream. Hatta sendiri dua kali mengirim utusan untuk membujuk Husein agar tidak melanjutkan gerakannya itu. Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Husein adalah keliru. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti dengan penyelesaian politik. Bukan militer,” kata Hatta sebagaimana dikutip Hasjim Ning yang meminta masukan sesaat sebelum berangkat ke Padang diutus Presiden Sukarno menemui Husein. Pasukan Angkatan Perang Repubik Indonesia (APRI) dalam pasifikasi militer terhadap PRRI (Foto: Perpusnas RI) Sebagaimana Hasjim yang dua kali gagal membujuk Husein, dua utusan Hatta –yakni Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil– pun semua gagal. Djalil bahkan sempat ditahan pasukan Husein. Sementara, Bachtar Lubis yang diutus KSAD Nasution justru berbalik mendukung PRRI. Akibatnya, pemerintahan Djuanda-KSAD Nasution memilih opsi militer dalam penyelesaian soal PRRI. “Orang Minangkabau, biasanya sebelum berbuat apa-apa, bertanya kepada ninik - mamak (nenek-ibu). Tetapi apa yang dilakukan Ahmad Husein dan kawan-kawannya? Kata dan nasihat mamak sendiri tidak didengar, tetapi justru mamak Sumitro, mamak Syafruddin (Prawiranegara, PM PRRI), mamak (Kolonel Zulkifli) Lubis dan mamak (Kolonel Maluddin) Simbolon yang didengar. Inilah akibatnya,” kata Hatta menyesali penggunaan aksi militer untuk menumpas PRRI, dalam suratnya kepada Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto, dikutip Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik. Baca juga: Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI Surat Hatta tertanggal 2 Mei 1962 itu turut menggambarkan situasi, stigma, dan trauma yang melekat di masyarakat Minang sebagai imbas berdirinya PRRI dan aksi militer penumpasannya. Selain mengakibatkan penangkapan beberapa tokoh yang dianggap terlibat, penguasa militer di Sumbar mengetatkan aturan militer. Bahkan, ekses dari penumpasan PRRI menimpa orang-orang Minang di perantauan seperti yang dialami Hasjim. “Perang yang berlangsung di tanah kelahiranku menimbulkan banyak ekses yang macam-macam terhadap putra daerah Minangkabau yang menetap di Jakarta. Banyak di antara mereka yang ditahan dan diperiksa karena ada sangkaan bahwa mereka pendukung PRRI. Ada tindakan itu yang mempunyai dasar. Tapi banyak juga karena alasan dendam pribadi. Kejadian-kejadian tersebut menimbulkan juga berbagai persoalan bagiku. Banyak di antara mereka atau keluarga mereka yang datang mengadu kepadaku agar mengupayakan perlindungan. Sebaliknya, aku terkena juga oleh ejekan dan senda gurau yang memerahkan telingaku. Teman-teman yang bersimpati pada PRRI datang membawa ejekan,” kata Hasjim. Walau kemudian aturan-aturan militer itu perlahan hilang, sentimen dan trauma yang dialami orang Minang tidak seketika musnah. Sentimen dan trauma yang mengendap itu, menurut Asvi, kemudian ditimpakan kepada Sukarno dan di masa kini kepada PDIP sebagai representasi Sukarno. Solusi Menurut Asvi, jasa-jasa besar orang Minang terhadap berdirinya republik menjadi sejarah tersendiri yang tak bisa ditawar. Tan Malaka, misalnya, sudah menerbitkan buku tentang republik meski sedang terasing di luar negeri. Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta turut membidani kelahiran republik dan merawatnya ketika masih bayi lewat partisipasinya dalam kabinet dan parlemen. Namun, jalannya sejarah itu kemudian berubah. “Titik baliknya memang sejak 1956 ketika Hatta mundur sebagai wakil presiden dan dua tahun kemudian meletus PRRI. Mereka kemudian lebih banyak di luar pemerintahan, menjadi oposisi. Ketika Prabowo menjadi calon presiden (capres) tahun 2014 dan 2019, trauma PRRI itu dibangkitkan lagi. Prabowo anak Profesor Sumitro, tokoh PRRI. Dua kali orang Minang di Sumbar itu kalah. Kalau terantuk di lubang jangan sampai dua kali,” sambung Asvi. Baca juga: Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Solusinya, kata Asvi, orang Minang mesti terlibat di pemerintahan dan harus melepas stigma dan trauma PRRI itu. “Penting untuk menghilangkan trauma PRRI ketimbang memelihara atau bahkan menghidupkan kembali seperti kasus Prabowo waktu ikut Pilpres dua kali berturut-turut. Saya sendiri melakukan otokritik sebagai orang Minang yang tak berdomisili di Sumbar. Kenapa dua kali kalah dengan menggunakan sentimen PRRI?” paparnya. “Ketika Hatta mundur, praktis orang-orang Minang keluar dari pemerintahan. Mestinya orang Minang masuk kembali, jangan hanya jadi pemilik rumah makan (Padang). Jadi harus ikut kembali di pemerintahan, di partai politik yang besar. Jangan di luar yang bisanya hanya mencemooh,” tandas Asvi.
- Kontestasi Ideologi dalam Pakaian Perempuan Indonesia
Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, upaya pencarian identitas kebangsaan menjadi isu penting di banyak sektor. Kaum perempuan juga tak luput dari tugas-tugas “revolusioner” itu. Pakaian menjadi salah satu senjatanya. Sejarawan University of Michigan Charley Sullivan menjelaskan mengenai dinamika perempuan Indonesia dalam berpakaian tersebut dalam dialog sejarah “Pakaian Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa” di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa 8 September 2020. Pada masa awal Indonesia berdiri, terang Charley, muncul pertanyaan bagi kaum wanita tentang bagaimana menjadi modern tetapi tetap menjadi bangsa Indonesia yang “timur”. Dari pertanyaan itu, mode kemudian membentuk sejarahnya sendiri. Charley menyebut, sejarah mode bukan hanya tentang busana dan make up atau bahkan bukan karena pilihan perempuan itu sendiri. Tetapi, terkait pula dengan makna sosial yang lebih umum dan posisi serta tingkat sosial wanita sebagai kaum. “Dan in relationship to the state . In relationship ke negaranya,” jelas Charley. Dalam disertasinya, Years of Dressing Dangerously: Modern Women, National Identity and Moral Crisis in Sukarno’s Indonesia, 1945-1966 , Charley menyebut bahwa majalah-majalah perempuan saat itu memiliki peranan penting dalam hal ini. Wacana mengenai pakaian apa yang pantas serta mewakili citra Indonesia menjadi diskusi terbuka di media-media tersebut. Diskusi tersebut misalnya, penggunaan kain batik pada era Sukarno terus dikonstruksi media sebagai simbol modernitas, kebanggaan kulturil dan sumber berkembangnya ekonomi nasional. Batik dan kemudian kebaya selain dianggap modern juga menjadi negasi dari gaya busana Barat. Charley menyebut, saat itu perempuan memiliki tugas berat yang beriringan dengan politik anti-kolonialisme dan imperialisme Sukarno serta era konfrontasi yang memuncak di tahun 1960-an. Pakaian perempuan menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat, khususnya Amerika Serikat. “Dalam hal-hal mode pakaian, kecantikan ini, (perempuan) sudah punya duty . Satu pekerjaan yang sangat keras dan yang sangat sulit pada kaum wanita,” kata Charley. Tetapi memasuki era Orde Baru, makna-makna itu berubah. Cara berpakaian tidak lagi terkait dengan hal-hal revolusioner. Rezim Soeharto cenderung mengembalikan peran perempuan ke ranah domestik. Gaya berpakaian kemudian diatur dalam kerangka stabilitas negara. Aktivis gerakan perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa Orde Baru, meski berbeda visi, juga menjadikan tubuh perempuan sebagai arena pertarungan ideologi. Contohnya adalah pelarangan penggunaan jilbab di Indonesia. “ Ada pelarangan jilbab dengan alasan katanya membatasi pengaruh fundamentalisme Islam dan gelombang arabisasi. Dan juga ada stereotype negatif yang dibangun bahwa, dan ini jelas klaim Barat juga, penggunaan jilbab itu sebagai salah satu ciri dari ekstremisme,” jelas Tunggal. Meski cukup berhasil, sambungnya, pelarangan itu juga memunculkan perlawanan. Di era 1980-an, menggunakan jilbab merupakan satu bentuk perlawanan terhadap Orde Baru. Senada dengan Tunggal, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Neng Dara Affiah menyebut bahwa tiap ada pelarangan, muncul pula perlawanan. Pada masa Orde Baru, memakai jilbab adalah protes terhadap narasi tunggal tentang identitas kebangsaan. Namun hal ini berbalik pasca-reformasi ketika pemakai jilbab mendominasi. “Pemakaian kebaya sekarang ini justru protes dan pengimbangan terhadap dominasi orang-orang yang memakai jilbab,” kata Neng. Zaman dulu dapat dilihat dengan jelas bagaimana orang berpakaian menunjukkan identitasnya. Misal, dari kalangan santri memakai jilbab, sedangkan di luar santri ada yang tidak berjilbab dan ada yang berkerudung terbuka. Namun, sambung Neng Dara, hal itu kini berubah. Jilbab tidak lagi hanya menunjukkan identitas keagamaan. Jilbab juga telah dipakai untuk kepentingan politik praktis. “Bahkan pola masyarakat yang tadinya dijuluki abangan, priyayi dan santri, sekarang itu sudah sumir sekali perbedaannya,” jelas Neng Dara. Neng Dara menyebut bahwa perubahan cara berpakaian di dalam masyarakat dari satu generasi ke generasi selalu berubah-ubah. Perubahan itu berkaitan dengan banyak hal, baik perubahan sosial di masyarakat itu sendiri maupun perubahan politik tingkat nasional maupun global. “Ada dinamika sosial yang tidak stagnan. Dia berubah-ubah, tentang pakaian dan identitas atau makna di saat kaum perempuan berpakaian itu. Makna dalam kaitan identitas keberagamaan, makna dalam identitas kebangsaan atau jati diri bangsa,” katanya. Dinamika tersebut, menurut Tunggal, kemudian menjadi faktor munculnya permasalahan baru di masa kini. Dari tahun ke tahun semakin banyak peraturan daerah (perda) yang diskrimintaif terkait pakaian perempuan. Hingga 2012, ada 342 perda diskriminatif dan 72 di antaranya mengatur pakaian perempuan. Angka terus naik di tahun 2019 menjadi 421 perda diskrimintaif, termasuk di dalamnya peraturan tentang cara berpakaian perempuan. Perda-perda tersebut selain mengatur cara berpakaian juga mengatur hal-hal terkait aktivitas perempuan. Semua peraturan tersebut dibuat berbasis interpretasi tunggal ajaran agama. “Hal menarik juga belakangan selain ada state yang mencoba mengatur cara berpakaian perempuan, tapi juga ada kelompok-kelompok lain yang mencoba melakukan pengaturan cara berpakaian perempuan,” jelas Tunggal.
- Kolonel Jepang di Medan Area
Aceh, pertengahan 1946. Kota Lhok Nga dibekap sunyi. Tak ada sama sekali bulan atau bintang hadir di langit malam itu. Dari arah pemukiman penduduk, beberapa bayangan manusia mengendap-endap. Mereka tak lain para gerilyawan Indonesia pimpinan Pawang Leman, Alamsyah dan seorang pembelot Jepang bernama Kolonel Kuroiwa. Tim kecil pejuang Aceh itu tengah mengadakan operasi kontra sabotase yang akan dilakukan tentara Jepang. Dari informasi yang didapatkan dari Kuroiwa dikabarkan bahwa sebelum meninggalkan markas besar mereka di Lhok Nga, tentara Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu dan akan dikembalikan ke tanah airnya itu, akan meledakkan ribuan bom. “Bom-bom yang sengaja ditimbun oleh para tentara Jepang itu akan diledakkan melalui suatu knop yang dikendalikan oleh aliran listrik,” ungkap jurnalis senior Medan, Muhammad TWH. Aliran listrik dialirkan melalui perantara kabel panjang dan tersembunyi. Begitu semua tentara Jepang sudah menaiki kapal laut di pelabuhan, maka knop akan langsung ditekan dan meledaklah sebagian Lhok Nga. Begitulah kira-kira rencana jahat yang terbetik di kepala para tentara Jepang tersebut. Namun karena jasa Kuroiwa, rencana jahat itu pada akhirnya gagal total. Dengan dibimbing oleh Kuroiwa sendiri, gerilyawan Aceh berhasil memutus kawat utama yang menghubungkan knop dengan bom-bom itu. Bisa dibayangkan jika bom-bom itu berhasil diledakan, bukan hanya para gerilyawan namun juga penduduk sipil yang tak tahu apa-apa akan menjadi korban. “Orang-orang Lhok Nga sudah semestinya berterimakasih kepada Kolonel Kuroiwa,” ujar Muhammad TWH kepada saya. Kuroiwa lantas menjadi salah satu pemimpin gerilya yang sangat disegani di Aceh. Bekas perwira intelijen sekaligus artileri militer Jepang itu kemudian masuk Islam dan merubah namanya menjadi Mohammad Ali. Begitu kuat karisma kepemimpinan Kuroiwa hingga orang-orang Aceh menjulukinya sebagai “Geuchik Ali” yang artinya Lurah Ali. Menurut TWH yang pernah mewawancarai Kuroiwa, sebagai perwira intel, lelaki Jepang itu sangat mafhum betapa kuatnya tekad orang-orang Indonesia untuk merdeka. Secara pribadi dia juga menyesalkan Jepang yang gagal menunaikan janji memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. “Karena itu setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, dia tidak ragu-ragu memberikan segala-galanya untuk bangsa Indonesia,” ungkap TWH dalam bukunya Sumatera Utara Bergolak. Kuroiwa kemudian terlibat aktif dalam pengaturan pertahanan pejuang Indonesia terutama di wilayah-wilayah pantai Aceh. Bahkan saat ditugaskan ke palagan Sumatera Utara, dia tersohor sebagai pembimbing unit artileri paling tangguh yakni Pasukan Meriam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) pimpinan Letnan Dua Nukum Sanany. Di Sumatera Utara, Pasukan Meriam RIMA ditempatkan di front Medan Barat, tepatnya di Kampung Lalang. Menurut TWH, militer Belanda sendiri mengakui bahwa pertahanan pasukan di Kampung Lalang itu sangat kuat dan sulit ditaklukan. Itulah sebabnya pasukan Belanda yang hendak bergerak ke barat untuk masuk ke wilayah Aceh selalu gagal. Sebagai pelaksana lapangan, Kuroiwa kerap mengandalkan dua eks anggota pasukan artileri Jepang yakni Letnan Dua O. Higuchi alias Rusli dan Sersan Mayor Sawada alias Muhammad Sawada. Merekalah yang memimpin Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan pasukan Belanda di kota Medan. Ada suatu kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Kuroiwa jika usai membimbing Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan militer Belanda. Dengan cara menyamar, dia akan masuk ke kota Medan dan pergi ke titik-titik yang menjadi sasaran unit artilerinya. “Sekadar untuk memastikan peluru-peluru yang ditembakan anak buahnya jatuh ke sasaran yang betul atau tidak. Selain itu dia pun melakukan hal tersebut juga untuk memata-matai secara langsung situasi pertahanan Belanda di Medan,” ujar TWH. Namun ada sisi gelap Kuroiwa yang mungkin tak diketahui oleh TWH. Itu disebutkan oleh sejarawan Jepang Aiko Kurasawa. Menurut Aiko, sejatinya Kuroiwa adalah anggota Polisi Istimewa Jepang (bukan anggota pasukan artileri dan intelijen) yang dikenal bengis dan kejam. Sewaktu kekuasaan Jepang sedang kuat-kuatnya, banyak penduduk Aceh yang dibunuh atas perintah Kuroiwa. “Meskipun ada banyak tindakannya yang sadis pada zaman Jepang, penduduk (Aceh) sudah tidak mempermasalahkan hal itu kemudian,” demikian laporan seorang penyidik pusat bernama Kapten Machmud yang dinukil oleh Kurasawa dalam bukunya, Sisi Gelap Perang Asia . Kuroiwa sendiri kemudian mengidap penyakit TBC yang sangat parah. Dia kemudian dipindahtugaskan ke suatu pabrik senjata milik Republik di Aceh. Tahun 1953, pemerintah Jepang memanggilnya pulang dan dia mematuhi panggilan itu. Ema, istri Kuroiwa yang warga Indonesia menolak untuk ikut hijrah ke Jepang. Dia lebih memilih untuk membesarkan anak-anaknya di Indonesia.
- Kisah Jenderal Soemitro vs Kolonel Muammar Khadafi
SEKALI waktu pada tahun 1973, Jenderal Soemitro menerima panggilan dari Presiden Soeharto. Rupanya, Mitro diminta untuk mendampingi Menteri Luar Negeri Adam Malik ke Aljazair dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Aljazair. Sebagai panglima Kopkamtib yang bertanggung jawab atas keamanan di dalam negeri, Mitro merasa aneh dengan penugasan ke luar negeri. “Mengapa Pak Harto tidak berangkat sendiri memimpin delegasi ini?” kata Mitro seperti dicatat Heru Cahyono dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974. Menurut Mitro, “mungkin dari segi security dianggap belum aman bila Presiden meninggalkan Indonesia.” Maka mau tidak mau jadilah Mitro terbang ke Aljazair. Konferensi diselenggarakan dari tanggal 5 sampai 9 September 1973. Mitro berkedudukan sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Sepeninggal dirinya, Mitro melimpahkan kepemimpinan Kopkamtib kepada wakilnya yakni Laksamana Soedomo. Di Aljazair, Mitro mendapat pengalaman tidak terlupakan berurusan dengan pemimpin Libya, Kolonel Muammar Ali Khadafi. Saat itu, Khadafi baru berkuasa di Libya setelah melengserkan pemerintahan Raja Idris lewat kudeta. Dengan revolusi yang dijalankannya, Khadafi disebut-sebut pula sebagai pemimpin negara Islam di Afrika. Ketika konferensi berlangsung, Khadafi hadir lewat korespondensi jarak jauh. Pada saat itulah, Khadafi tetiba bertanya kepada delegasi Indonesia. Suatu pertanyaan yang bagi Mitro sangat menyakitkan dan tidak akan pernah terlupakan. “Apa benar di Indonesia ada sekitar dua ratus ribu orang Islam dipaksa menjadi Kristen?” demikian Khadafi bertanya dalam courtesy call kepada delegasi Indonesia. Sontak saja delegasi Indonesia terkejut mendengarnya. Mitro sendiri memendam dongkol dalam hati. “Anak kemarin sore, kurang ajar begini,” pikir Mitro. Adam Malik yang mendegar ucapan Khadafi langsung melirik ke arah Mitro. Dia berharap Mitro yang akan menjawab. “Anak masih muda begini, politikus kemarin sore, sudah kurang ajar mencampuri urusan dalam negeri orang lain,” Mitro membatin. Dalam emosi yang terkendali, Mitro bertanya dari mana Khadafi menerima informasi itu. Mitro menyampaikannya dalam bahasa Indonesia sebab ada penerjemah. Namun Khadafi tidak bersedia menjawab. Untuk mengklarifikasi berita yang diterima Khadafi, Mitro memberikan penjelasan. Katanya, Indonesia bukanlah negara Islam. Rakyat Indonesia terdiri dari berbagai pemeluk agama. Walaupun mayoritas beragama Islam tetapi di daerah tertentu seperti Batak Tapanuli, Manado, dan Maluku kebanyakan masyarakatnya beragama Kristen. “Bagaimana Tuan Khadafi menyalahkan seorang bayi yang lahir di lingkungan Kristen, sehingga otomatis ia menjadi Kristen? Dia tidak bisa dan tidak boleh dipaksa menjadi Islam. Itu bukan pula berarti Kristenisasi,” ujar Mitro. Lagi, Soemitro menyarankan agar Khadafi datang langsung ke Indonesia untuk melihat sendiri dari dekat, bukan hanya melihat dari jarak jauh. Khadafi meresponnya dengan bungkam. Di akhir penjelesannya, Mitro mengatakan, “Ini urusan dalam negeri kami, Tuan tidak usah campur tangan.” Penyataan ketus itu terucap lantaran Mitro kepalang tersinggung dengan Khadafi. Setelah konferensi berakhir, delegasi Indonesia kembali ke wisma. Pada malam hari, penerjemah Khadafi mendatangi Mitro untuk minta maaf. Dari penerjemah itu, Mitro kemudian mengetahui informasi yang diterima Khadafi berasal dari Indonesia sendiri. “Dari mana?” tanya Mitro. “Dari Opsus,” jawab si penerjemah tanpa ragu. Opsus sendiri merupakan lembaga intelijen tidak resmi pimpinan Mayjen Ali Moertopo yang kerap menggelar operasi khusus. Dalam benaknya, Mitro bergumam, “Mana mungkin Opsus berbuat setolol itu.” Tidak lama kemudian, Mitro mengundurkan diri karena peristiwa kerusahan Malapetaka 15 Januari 1974. Sementara itu, kebenaran kabar burung yang dilontarkan Khadafi itu belum sempat dikonfirmasi Mitro kepada Ali Moertopo. Sudah menjadi rahasia umum kala itu jika kedua jenderal tersebut mememiliki rivalitas yang kuat. Mitro wafat pada 1998, dan dikenal sebagai jenderal berpengaruh di masa awal Orde Baru. Khadafi sendiri baru lengser pada 2011 setelah gelombang revolusi “Arab Spring” menumbangkan diktator di suatu negara yang terletak di Afrika tersebut. Peristiwa itu pula yang mengakhiri hidup Khadafi di tangan rakyatnya sendiri.*
- Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika
SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Di hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu. Schmeling dag-dig-dug. Ia sengaja berperjalanan hampir tujuh ribu kilometer dari Hamburg hanya untuk bisa bertemu sang tuan rumah. “Tak lama kemudian saat pintu terbuka muncullah sosok bertubuh besar yang biasa dijuluki ‘Brown Bomber’. Dialah Joe Louis. Posturnya lebih gemuk dan rambutnya tak selebat dulu, seingat sang tamu,” ungkap Patrick Myler dalam Ring of Hate: Joe Louis vs Max Schmeling. Pertemuan Maximilian Adolph Otto Siegfried Schmeling (kiri) & Joseph 'Joe' Louis Barrow saat reuni pada 1954 (Foto: Library of Congress) Louis terkejut melihat Schmeling duduk di ruang tamu rumahnya dan kemudian berdiri. Namun, sekejap kemudian dua musuh lama itu saling mengumbar senyum tulus. Louis sontak menjatuhkan tas golfnya lalu mendekat untuk memeluk erat Schmeling. “Max, betapa senangnya bisa bertemu Anda lagi,” cetus Louis yang yang terakhir kali bertemu Schmeling 16 tahun sebelumnya. Bedanya, pertemuan ketiga di antara dua petinju legendaris itu tak terjadi di atas ring dan tidak dengan suasana penuh kebencian untuk saling “membunuh” gegara dikompori isu politik. Representasi Paman Sam vs Swastika Sebagaimana Muhammad Ali-Joe Frazier, Mike Tyson-Evander Holyfield, atau Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr., rivalitas antara Joe Louis dan Max Schmeling adalah cerita perseteruan terbesar di atas ring tinju. Faktor penyebabnya adalah isu politik antara Jerman Nazi dan Amerika sebagai tanah kebebasan pada 1930-an. Rivalitas bermula dari petualangan Schmeling pada 1928 untuk merintis reputasi di Amerika, kiblat tinju profesional. Pesatnya prestasi Schmeling membuahkan sabuk gelar dunia pertama kelas berat versi NBA (kini WBA) dua tahun berselang. Namun, pada 1932 ia kehilangan gelar itu usai dikalahkan Jack Sharkey. Pertemuan perdananya dengan Louis tak lepas dari ambisi Schmeling merebut gelar lagi yang pada 1936 tengah dipegang James Braddock. Untuk jadi penantang utama Braddock, Schmeling mesti lebih dulu berhadapan dengan Louis yang juga membidik gelarnya. “Pertarungan keduanya mengimplikasikan masa depan terkait relasi ras dan prestis dua negara kuat. Setiap petarung menanggung beban lebih daripada atlet lainnya di pundaknya,” tulis David Margolick dalam Beyond Glory: Joe Louis vs Max Schmeling, and a World on the Brink. “Louis merepresentasikan demokrasi dalam bentuk paling murni: bocah Negro yang meretas jalan menuju juara dunia dengan mengesampingkan ras atau warna kulit. Schmeling merepresentasikan sebuah negara yang tak mengakui gagasan dan idealisme itu,” tambahnya. Satu dari sekian ilustrasi promosi duel Louis vs Schmeling di suratkabar New York Evening Journal edisi 15 Juli 1935 Pertarungan itu lalu diwujudkan oleh Joe Jacobs, manajer Schmeling asal Hungaria yang berdarah Yahudi. Kesepakatannya dicapai pada 1935 dan laga dijadwalkan pada 19 Juni 1936 di Yankee Stadium, New York. Louis yang tengah berada di puncak kariernya, mengumbar kepercayaan diri mengingat statistik Schmeling yang sudah punya catatan tujuh kali kalahsepanjang karier profesionalnya. “Saya rasa dia tak terlalu tangguh. Dari foto-fotonya tampak dia bisa memukul dengan kedua tangannya tapi saya pikir meski ia bisa melayangkan pukulan, setidaknya takkan terlalu menyakiti saya,” tutur Louis, dikutip David L. Hudson Jr. dalam Boxing in America: An Autopsy. Dalam persiapannya di kamp milik Madame Bey di Lakewood, New Jersey, Schmeling tak hanya menggenjot fisik tapi juga mempelajari setiap gerakan Louis dari sejumlah rekaman film laga-laga Louis. Schmeling berupaya mencari celah dan kelemahan yang jarang dicermati lawan-lawan Louis sebelumnya. “Setiap kali setelah Joe melepaskan hook kiri pendeknya yang berbahaya, seringkali itu juga dia menurunkan tangan kirinya. Hal itu hampir luput dari pengamatan kecuali jika dipelajari dengan pengamatan yang sistematik. Kebiasaan ini berarti untuk sepersekian detik, sisi kiri wajah Louis akan terbuka untuk pukulan tangan kanan,” kata Schmeling dalam Max Schmeling: An Autobiography. Butuh 12 ronde bagi Max Schmeling menganvaskan Joe Louis pada duel jilid I pada 1936 (Foto: max-schmeling-stiftung.de ) Sementara, Louis yang over-‘pede’ justru tak berlatih sekeras Schmeling. Dalam Joe Louis: The Life of a Heavyweight, Lew Freedman menyebutkan Louis malah lebih sering main golf yang jadi hobi barunya ketimbang menguras keringat dengan pelatih Jack Blackburn di kamp latihannya. “Louis terlena dengan puja-puji yang dituliskan di koran-koran, bahwa dia petinju yang tak terkalahkan, seorang Superman-nya ring tinju. Untuk pertamakali dalam kariernya Louis tak mendengarkan pelatihnya. Tak banyak berdoa seperti sebelumnya. Kamp latihannya malah seperti kamp musim panas,” tulis Freedman. Dua Pukulan KO Hari-H duel Schmeling-Louis, 19 Juni 1936, di Yankee Stadium. Tiket terjual habis untuk 40 ribu penonton. Pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Arthur Donovan itu mulanya berjalan monoton. Schmeling melancarkan taktik counter-attack dan berusaha sabar menanti kans-kans di celah pergerakan Louis untuk melepaskan serangkaian jab yang diselingi pukulan cross ke dagu Louis. Ronde demi ronde, taktik Schmeling membuahkan luka di salah satu mata Louis. Di ronde ke-12, Louis mulai jadi bulan-bulanan Schmeling. Nafsu Louis untuk membalas kemudian justru menguras energinya. Walau stamina keduanya sudah menurun, Schmeling melihat satu kesempatan untuk menghabisi rivalnya. “Ketika Louis tengah mencoba melepaskan hook kirinya, Schmeling melontarkan pukulan ke sisi kanan tubuh Louis dan disusul pukulan kanan lagi ke rahang Louis. Louis terlempar ke tali ring tinju, Schmeling melepaskan pukulan lagi bertubi-tubi hingga Louis tersungkur ke kanvas,” lanjut Freedman. Hitungan ke-10 wasit Donovan di menit kedua lebih 29 detik pada ronde ke-12 menandai berakhirnya duel sengit tersebut dengan kemenangan KO Schmeling. Publik Jerman bereuforia. Schmeling pulang sebagai pahlawan. Sementara imbas kekalahan Louis meninggalkan kepedihan hebat di seantero Amerika yang memperparah situasi depresi ekonominya. “Kekalahannya (Louis) menjadi duka nasional. Di jalan-jalan saya melihat pria-pria dewasa menangis seperti anak-anak, para wanita terduduk di trotoar dengan menundukkan kepala. Di seluruh negeri di malam ketika Joe kalah KO, semua menangis,” kenang aktivis Afro-Amerika Langston Hughes yang menonton langsung duel itu dalam otobiografinya, The Collected Works of Langston Hughes. Bagi Schmeling, kemenangan itu mestinya jadi penentu bahwa dia berhak jadi penantang utama gelar melawan Braddock. Namun lantaran Schmeling diperalat Adolf Hitler sebagai simbol supremasi ras Arya Jerman Nazi, New York State Athletic Commission berpikir ulang untuk memberi lampu hijau duel Schmeling kontra Braddock di Amerika. Yankee Stadium yang berkapasitas 70 ribu penonton, venue duel Louis vs Schmeling pada 1936 dan 1938 (Foto: Repro "War in the Ring") Kalkulasi ekonomis juga jadi faktor yang jadi pertimbangan. Kian gencarnya anti-semitisme di Jerman terhadap Yahudi, duel Braddock-Schmeling bakal dihadapkan pada boikot lantaran sekira 75 persen penonton setia tinju di New York adalah orang Yahudi. Schmeling yang marah berupaya dengan segala cara untuk bernegosiasi agar Braddock mau bertarung di Jerman. “Promotor Walter Rothenburg juga menawarkan Braddock dan (manajer Joe) Gould uang pertarungan USD350 ribu di rekening bank non-Jerman, hak siar film dan radio, hak memilih wasit dan juri-juri Amerika. Namun Gould melunjak dan meminta bayaran lebih dan kebijakan yang lebih setara untuk orang-orang Yahudi di Jerman,” ungkap Randy Roberts dalam Joe Louis. Tuntutan balik manajer Braddock itu jelas ditolak promotor yang merupakan kolega dekat Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels. Akhirnya, Schmeling gagal berebut gelar dan Louislah yang akhirnya mendapat kans merebut gelar dari Braddock. Langkah Schmeling di jalur hukum juga tak membuahkan hasil. “Setelah kegagalan (melawan) Braddock, sudah jelas bagi saya. Seorang juara dunia Jerman di tahun 1931 mungkin masih bisa ditoleransi, namun juara dunia dari Jermannya Hitler tak bisa diterima oleh siapapun,” tutur Schmeling yang murka. Max Schmeling sempat protes lantaran tak mendapat haknya menjadi penantang gelar (Foto: ushmm.org ) Louis sukses menganvaskan Braddock di ronde kedelapan dalam duelnya pada 22 Juni 1937. Meski sudah melingkarkan sabuk gelar kelas berat NBA di pinggangnya, Louis mengaku belum bisa berpuas diri. Dia masih menyimpan dendam terhadap Schmeling. “Saya tak ingin siapapun menyebut saya seorang juara sampai saya bisa mengalahkan Schmeling,” kata Louis dikutip Hudson Jr. Baru setelah dua kali meladeni dua pertarungan wajib mempertahankan gelar, Louis bisa berkesempatan satu ring lagi dengan Schmeling. Pertarungan yang oleh sejumlah media disebut sebagai “Pertarungan Abad Ini” itu dijadwalkan dihelat 22 Juni 1938 di Yankee Stadium. Duel jelang Perang Dunia II itu sudah sarat politik. Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt sampai mengunjungi kamp latihan Louis. “Joe, kami semua mengandalkan otot-otot Anda demi Amerika,” kata Roosevelt. Dukungan Roosevelt membuat Louis paham bahwa duel itu takkan sekadar jadi duel tinju. “Seluruh negeri ini bergantung pada saya. Saya tak hanya bertarung demi dendam yang menodai rekor saya, namun juga demi Amerika terhadap penyerbu asing, Max Schmeling. Duel ini tak sekadar antara Joe Louis melawan Max Schmeling; duel ini adalah pertarungan USA melawan Jerman,” tutur Louis. Jika di duel pertama dimenangi Schmeling, pada pertarungan keduanya di 1938 dimenangi Louis dengan KO di ronde pertama (Foto: wbaboxing.com/loc.gov ) Schmeling juga insyaf bahwa kali ini teror publik di Yankee Stadium bakal lebih intimidatif terhadapnya. Maka Schmeling menyiapkan mentalnya lebih keras. Begitu hari-H, saat Schmeling masuk dari lorong ke ring, ia dilempari sampah dari tribun-tribun penonton. Mimpi buruk Schmeling dilengkapi dengan kekalahannya ketika ronde pertama baru bergulir dua menit empat detik. Louis sejak detik pertama yang terus menekan dan mencecar, mendapati salah satu pukulannya dengan telak mengenai ginjal Schmeling. Sontak Schmeling kolaps dan tak mampu bangkit lagi. Kemenangan KO tercepat di masa itu tersebut sekaligus jadi penebusan Louis. Setahun berselang, Perang Dunia II pecah. Louis mengajukan diri jadi sukarelawan di Angkatan Darat Amerika, sedangkan Schmeling masuk wajib militer jadi pasukan payung di Angkatan Udara Jerman Nazi sebagai ganti penolakannya masuk anggota Partai Nazi. Merenungi masa lalunya yang dibayang-bayangi panji swastika, Schmeling mengakui dia bersyukur kalah dari Louis. “Bayangkan jika saya kembali ke Jerman dengan kemenangan. Saya tak punya hubungan apapun dengan Nazi, tetapi mereka akan memberi saya medali. Setelah perang mungkin saya akan dianggap sebagai penjahat perang,” kenang Schmeling. Di Perang Dunia II, Louis mengabdi di AD Amerika & Schmeling di pasukan payung AU Jerman (Foto: National Archives/Bundesarchiv) Sejak saat itu mereka tak pernah lagi bersua hingga pada 1954 ketika Schmeling memberanikan diri mengunjungi kediaman Louis di Chicago. Setelah saling berpelukan, Schmeling dan Louis pun larut dalam perbincangan cair dan hangat sambil menyeruput kopi dan berlanjut makan malam bersama di sebuah restoran. “Schmeling ingin mengklarifikasi bahwa sejumlah pernyataan di media-media Jerman menyoal duel pada 1936 dan 1938 bukanlah pernyataan dari mulutnya, melainkan rekayasa propaganda Nazi. Seperti pernyataan ‘Orang kulit hitam akan selalu gentar menghadapi saya. Dia (Louis) petinju inferior,’ atau pernyataan ‘Hitler mengirim Schmeling ke Amerika untuk menghancurkan Louis berkeping-keping’,” sambung Myler. “Louis kemudian merespon untuk menenangkannya. ‘Lupakan semua itu. Sejak lama banyak orang mencoba hal yang sama. Mungkin saat itu saya percaya apa yang dituliskan di media. Namun sekarang saya lebih paham’,” lanjutnya. Seperti janji mereka saat makan malam itu usai, Schmeling dan Louis beberapakali lagi bereuni di luar ring tinju. Persahabatan yang terjalin kian hangat dan erat. Schmeling bahkan acap menyokong Louis kala tertimpa masalah finansial dan kesehatan. Persahabatan itu baru berakhir kala Louis wafat karena serangan jantung pada 12 April 1981, di mana pemakamannya di Arlington National Cemetery dibiayai penuh oleh Schmeling.
- Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor
Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, iseng membeli pakaian ke akun yang diduga melakukan penipuan. Kaesang memberikan alamat pengiriman ke Istana Kepresidenan Bogor. Warganet pun menanggapinya sehingga Istana Bogor menjadi trending topic . Kaesang meminta maaf sambil beralasan kalau dikirim ke rumah pribadi, tidak ada orang karena tidak ada yang menempati. “Maaf pak saya baru tau kalo saya gak boleh kirim paketan ke Istana Bogor. Lain kali saya marahin ibu saya karena beliau sering kirim kerupuk dari Solo ke Istana Bogor,” cuit Kaesang ( @kaesangp , 7/9/2020). Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan. Sejarahnya bermula ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) merasa gerah dengan panasnya Batavia. Ia jalan-jalan ke Bogor dan terpana oleh kawasan sejuk yang mengingatkan pada tempat kelahirannya. “Imhoff lalu menamakan daerah ini Buitenzorg, rangkaian kata buiten dan zorg yang artinya ‘keluar (dari zona) peduli’,” tulis Agus Dermawan T., kritikus dan kurator seni rupa, dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden . Sementara itu, sejarawan Saleh Danasasmita (1933–1986) memberikan penjelasan berbeda bahwa Imhoff sebenarnya tidak pernah merencanakan bangunan permanen di tempat itu.Ia merencanakannya di Cipanas. “Bangunan sederhana yang didirikannya pada lokasi Istana Bogor mulanyadimaksudkan untuk singgah beristirahat dalam perjalanan dari benteng Batavia ke Cipanas,” tulis Saleh dalam Sejarah Bogor Bagian 1 . Istana Bogor tahun 1971. (Arsip Nasional Belanda/Wikimedia Commons). Saleh menyebut Imhoff termasuk tipe kaum elite terpelajar Eropa Barat yang cenderung kepada liberalisme Prancis dan menganut romantisme ajaran filsuf Jean Jacques Rousseauyang menganjurkan manusia kembali ke alam. Oleh karena itu, mereka mencari daerah yang sebisa mungkin belum terjamah peradaban. “Mereka mencari tempat-tempat yang sepi dari urusan, mencari persembunyian di mana kesibukan tidak mungkin mengejarnya,” tulis Saleh. Mereka membangun vila sederhana yang mungil dan serasi dengan alam. Tempat-tempat semacam itu dinamakan sanssouci , sebuah kata Prancis yang berarti “tanpa kesibukan” atau “tanpa urusan”.Orang-orang Belanda menerjemahkannya menjadi buitenzorg . “Demikianlah bangunan sederhana yang didirikan Van Imhoff pada lokasi Istana Bogor yang sekarang diberinya nama Buitenzorg menurut mode yang sedang musim di negaranya,” tulis Saleh. Para gubernur jenderal sangat suka dengan Vila Buitenzorg itu sebagai tempat beristirahat darikesibukan, kesesakan, dan kepengapan udara benteng Batavia. Dengan Surat Keputusan Dewan Direksi VOC di Amsterdam tanggal 7 Juni 1745, Imhoff mengusulkan lahan di sekitar Buitenzorg sebagai eigendom dan para gubernur jenderal selanjutnya in officio . “ Dengan demikian tanah Buitenzorg itu dijadikan semacam tanah bengkok yang harus dibeli oleh tiap g ubernur jenderal baru kepada pejabat lama yang diganti,” tulis Saleh. Namun, penjelasan Agus Dermawan menunjukkan bahwa Vila Buitenzorg bukan bangunan sederhana. “Imhoff merancang bangunan di lahan seluas hampir 30 hektar.Sketsa planologi dan bentuk gedung ia buat sendiri. Bangunan yang digarap ditengarai meniru arsitektur Blenheim Palace, Istana Adipati (Duke, red .) Malborough di dekat Oxford, Inggris,” tulis Agus Dermawan. Namun, ada yang mengatakan bahwaImhoff mengadopsi arsitektur Sanssouci di Potsdam, dekat Berlin, Jerman, lantaran ia punya darah Jerman. “Sanssouci adalah nama istana Kaisar Frederick Agung di Jerman. Tentunya, si tuan tanah ingin hidup seperti seorang kaisar,” tulis Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe. Sanssouci, istana musim panas Kaisar Prusia Frederick Agung di Potsdam, Berlin, Jerman, sekitar tahun 1900. (Library of Congress/Wikimedia Commons). Menurut Agus Dermawan, Imhoff tak sempat menikmati hasilnya karena meninggal pada 1750. Proyeknya diteruskan Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Gedung cantik itu pun berdiri. Konsep Imhoff yang menstatuskan Vila Buitenzorg sebagai tempat istirahat dipertahankan. Itu sebabnya para gubernur jenderal yang berkuasa di Batavia berturut-turut memakai gedung ini sebagai tempat mengaso. Vila Buitenzorg mengalami perkembangan baik fisik maupun fungsi seiring pergantian gubernur jenderal. Pada 1809, Herman Willem Daendels memperluas dan menjadikannya istana resmi gubernur jenderal. Agus Dermawan menyebut ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa di Jawa (1811–1816), ia merenovasi sejumlah bangunan. Ia juga mendatangkan enam pasang rusa yang biasa hidup di perbatasan dari Nepal. Rusa-rusa itu beranak pinak jadi sekitar 700 ekor.Bahkan, ia membuka lahan baru berupa hutan buatan yang ditanami ribuan jenis pohon sebagai tempat penelitian botani, selain sebagai paru-paru kota. Hutan ini kemudian disebut Kebun Raya Bogor . Rusa yang bebas berkeliaran di Istana Bogor. (Wikimedia Commons). Renovasi istana itu berikutnya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Van der Capellen pada 1818. Sayangnya, istana itu hancur karena gempa bumi besar pada 1834. “Pada 1850, bekasnya direnovasi dengan gaya arsitektur neoklasik, yang memakai barisan tiang tebal dan fronton segitiga. Bangunan megah yang dikelilingi taman hijau yang luas dan menghadap ke utara ke arah Batavia ini tetap berfungsi sebagai rumah dinas gubernur jenderal Hindia Belanda,” tulis Olivier. Menurut Agus Dermawan ketika Jepang menduduki Indonesia dan Jenderal Imamura berdiam di istana itu, seluruh dinding luarnya dicat cokelat dan hitam agar tak terlihat pesawat musuh. Kolam-kolamnya dikeringkan agar tidak memantulkan cahaya. Tanaman dibiarkan tumbuh liar sebagai kamuflase seperti ladang tak terurus. Hikmahnya, ladang liar itu menyelamatkan rusa-rusa dari kematian. Presiden Sukarno mewarisi istana itu pada 1949. Ia mulai merenovasinya pada 1952. Sambil dibenahi, ia mengisi sudut-sudut ruangan dengan patung-patung keramik. Dinding-dindingnya dihiasi koleksi lukisan-lukisannya yang berkualitas hebat. “Spirit Sukarno ini dipertahankan sampai sekarang,” tulis Agus Dermawan. “Karena itu, mengunjungi Istana Bogor seperti memasuki istana seni dengan dominasi tema perempuan. Sukarno memang meneruskan konsep Imhoff.”
- Kisah Pengkhianatan di Palagan Garut
Suasana Desa Parentas (masuk dalam Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya) mendadak ramai dini hari itu. Para penduduk dikejutkan oleh suara tembakan bersahutan dari arah Legok Dora yang merupakan basis Markas Besar Gerilja Galoenggoeng (MBGG), kelompok gerilyawan pro Indonesia di Garut-Tasikmalaya. “Kami kaget karena sebelum kejadian itu, wilayah desa kami aman-aman saja dan tak pernah terjamah tentara Belanda,” ungkap Kojo (92), penduduk Desa Parentas. Arsip Nasional Belanda bernomor akses 2.24.04.01 menyebut operasi militer di kaki Gunung Dora itu berlangsung pada 25-26 Oktober 1948. Tujuannya adalah memburu sejumlah “pimpinan teroris” yang terdiri dari eks tentara Jepang (empat di antaranya berkebangsaan Korea). Sebagai gugus tugas dipilihlah Batalyon ke-3 dari Resimen Infanteri ke-14 (3-14-RI). Operasi perburuan itu bisa dikatakan sangat sukses. Tim buru sergap 3-14-RI berhasil menewaskan 3 orang Jepang dan meringkus Guk Jae-man alias Shiro Yama alias Soebardjo, Masharo Aoki alias Aboe Bakar, Yang Chil Sung alias Yanagawa alias Komaroedin, Hasegawa Katsuo alias Oesman dan Djoeana Sasmita (Komandan MBGG). Namun menjelang siang, Soebardjo mencoba lari dan langsung dieksekusi. “(Soebardjo) tertembak mati…” tulis Djoeana dalam selembar catatan hariannya. Cukanglantaran digrebeknya basis MBGG di Gunung Dora sudah bisa dipastikan adalah karena pengkhianatan. Menurut Ojo Soepardjo, eks anggota MBGG, pembocor posisi basis pasukannya tak lain seorang kawan sendiri yang berhasil secara diam-diam direkrut oleh intelijen militer Belanda. “Begitu para komandan tertangkap, tiga hari kemudian orang itu juga berhasil kami ringkus dan langsung disembelih,” kenang Ojo yang pada beberapa bulan lalu baru saja wafat. Menurut Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia , sebelum Operasi Gunung Dora, pihak militer Belanda telah memberikan iming-iming hadiah sebesar 1.000 Gulden bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi keberadaan orang-orang Jepang dan Korea tersebut. “Alhasil seorang istri prajurit Indonesia melaporkannya,” ungkap Aiko. Namun ada versi lebih menarik terkait kasus pengkhianatan itu. Datangnya dari Kim Moon Hwan, peneliti sejarah asal Korea Selatan yang sudah hampir belasan tahun menelisik soal keberadaan orang-orang Korea dalam revolusi Indonesia. Dari salah seorang sumber lokal yang berhasil diwawancarai-nya pada 2012, Kim Moon Hwan mendapat informasi bahwa pelaku pengkhianatan itu adalah seorang gadis Garut sendiri bernama Eha. Menurut narsumbernya, Eha sejatinya adalah bagian dari kaum gerilyawan. Dia bahkan memiliki kedekatan dengan salah seorang eks tentara Jepang asal Korea yakni Yang Chil Sung alias Komarudin. “Namun tidak tahu bagaimana ceritanya, hubungan Yang Chil Sung dengan Eha menjadi tidak baik. Kata narasumber saya, Chil Sung menolak cinta Eha dan itu membuatnya sakit hati lalu membocorkan keberadaan basis MBGG di Gunung Dora,” ungkap Kim Moon Hwan kepada saya. Kalaupun cerita yang disampaikan oleh narasumber Kim Moon Hwan itu benar, sepertinya jaringan intelijen yang dibangun oleh militer Belanda tersebut melibatkan beberapa agen. Pertanyaannya, siapa agen yang langsung turun ke lapangan untuk menyertai operasi perburuan itu? Emen (93), salah seorang penduduk Kampung Pamengpeuk yang terletak di bawah Desa Parentas membenarkan adanya seorang penduduk lokal yang terlihat bersama rombongan tentara Belanda yang menangkap para gerilyawan MBGG. Bahkan menurutnya, ketika tentara Belanda sepulang dari Legok Dora melakukan aksi pembakaran rumah-rumah penduduk yang dicurigai memiliki hubungan dengan MBGG, dia melihat sendiri sang penduduk lokal itulah yang menunjukan rumah mana saja yang harus dibakar atau tidak. “Kami tahu dia orang Panyeredan (tetangga Pameungpeuk). Tak kami sangka ternyata dia anjing Belanda,”ujar Emen dalam nada geram. Seterusnya 4 gerilyawan MBGG yang menjadi tawanan tersebut dibawa ke Ciharus (markas tentara Belanda di wilayah Wanaraja). Dari sana mereka kemudian dipindahkan ke Jakarta. Menurut catatan harian Djoeana, mereka kemudian dipisahkan: Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman ditahan di Penjara Glodok sedangkan Djoeana dijebloskan ke Penjara Cipinang. * GARUT, Februari 1949, Bijzonder Krijgsgerecht (Pengadilan Militer Luar Biasa) dibawah Oditur Militer Letnan Kolonel W. Supheert telah memutuskan Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman dihukum mati sedangkan Djoeana hanya mendapat hukuman penjara seumur hidup. “Mereka dinyatakan bersalah karena dianggap telah melanggar kesepakatan Perjanjian Renville dengan secara sadar tetap tinggal di wilayah Jawa-Barat sambil menjalankan aksi-aksi mengacaukan keamanan. Mereka juga diyakini mempunyai rencana akan memimpin aksi gerakan penyerangan besar-besaran ke Garut dan Tasikmalaya pada 1 Januari 1949, atas instruksi dari Yogyakarta,” demikian menurut De Locomotief , 22 Februari 1949. Sejak vonis itu diputuskan, ketiga eks tentara Jepang itu tidak lagi dibawa ke Penjara Glodok, namun dititipkan di Penjara Garut. Menurut Yoyo Dasrio salah seorang jurnalis Garut yang sempat menelusuri kisah ini, dua hari menjelang hukuman mati dilangsungkan mereka bertiga membuat permintaan terakhir. “Saya dengar sendiri dari Lebe (penghulu agama Islam) yang mengurus mereka bertiga menjelang kematian, saat menjalani hukuman mati mereka ingin berpenampilan seperti bendera Republik Indonesia: memakai sarung merah dan baju serta celana berwarna putih,”ungkap Yoyo kepada saya pada 2015. Sabtu, 21 Mei 1949 (berdasarkan berita yang dilansir dari surat kabar Het Dagblad , 24 Mei 1949 dan Nieuwe Courant , 24 Juni 1949), Aboe Bakar, Komaroedin dan Oesman digiring ke kawasan komplek pemakaman Belanda (Kerkof) di Garut. Tepat di pinggir Sungai Cimanuk, mereka ditembak mati dalam penampilan seperti bendera Merah-Putih. Jasad mereka kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pasirpogor, sebelum pada 1975 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut.
- Cheng Ho dan Bajak Laut Buronan di Palembang
CHEN Zuyi, kepala negara Ku-Kang (Palembang) telah lama menjadi bajak laut. Cheng Ho atau Zheng He mengirim utusan yang membawa pesan Kaisar Yongle untuk memanggilnya. Chen Zuyi pura-pura menurut. Ternyata, ia berencana merampok Cheng Ho. Rencananya gagal dan ia ditangkap.
- Kolonel Djati Nyaris Ditembak Anak Buah "Benny" Moerdani
Setelah menolak tawaran menjadi wakil KSAD dari KSAD Mayjen AH Nasution, Kolonel Djatikusumo mendapat tugas khusus pada akhir 1957. Tugas tersebut terkait dengan kekisruhan di Sumatera menyusul perampasan jabatan gubernur Sumatera Tengah oleh Kolonel Ahmad Husein dari tangan Ruslan Muljohardjo pada Desember 1956. “Pada waktu itu saya adalah Direktur Zeni AD. Untuk mengatasi Sumatera, maka Nasution (sebagai KSAD, pen.) memerlukan seorang senior. Karena harus mengatasi Jamin Gintings, Simbolon, dan Ahmad Husein. Akhirnya saya dijadikan Koordinator Operasi-operasi militer di Sumatera. Jabatan ini tanpa besluit , karena resminya saya masih menjabat Direktur Zeni,” ujar Djatikusumo kepada Solichin Salam yang menuliskannya dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo, Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Selain mendapat tugas sebagai koordinator operasi militer di Sumatera, Djati juga mendapat tugas khusus lain. “Saya diberi tugas khusus membawa pasukan dari Medan ke Bukittinggi, mendampingi Mayor Raja Syahnan,” sambungnya. Djati pun bertolak ke Sumatera pada 1957 dengan membawa serta beberapa taruna Atekad. Keputusannya untuk memberi pengalaman tempur pada para taruna itu sempat mengundang pertanyaan dari KSAD. KSAD akhirnya memaklumi setelah diberi penjelasan. Di antara taruna Atekad yang ikut serta adalah Try Sutrisno (kelak menjadi wakil presiden). Try amat terkesan dengan model penugasan yang dibuat Djati. “Praktik lapangan yang paling berkesan adalah pelibatan para taruna Atekad dalam tugas operasi Sumatera Barat. Dari situ kami para taruna dapat menerapkan ilmu dan seni kepemimpinan prajurit, maupun merasakan dan menghayati secara langsung dinamika pelaksanaan operasi, dalam situasi dan kondisi yang sebenarnya. Penugasan operasi semasa taruna di dalam periode kepemimpinan Pak Djati merupakan pengalaman langka dan sangat berharga,” kata Try dalam testimoninya, “Pak Jati di Mata Saya”. Namun kehadiran Djati di Sumatera beriringan dengan makin menguatnya komplotan perwira daerah penentang pusat yang berujung pada pembentukan PRRI (Februari 1958). Maka ketika pasukan yang dipimpin Mayor Boyke Nainggolan menguasai Medan, Djati terpaksa menyingkir ke Pelabuhan Belawan. Keadaan genting itu membuat KSAD mengirim jawaban dengan melancarkan Operasi Tegas, Maret 1958, di bawah pimpinan Letkol Kaharuddin Nasution. Operasi tersebut berintikan tiga kompi, salah satunya Kompi A RPKAD di bawah pimpinan Letda “Benny” Moerdani yang beberapa hari sebelumnya berhasil merebut Lanud Simpang Tiga, Pekanbaru. Dalam operasi merebut Medan, TNI hanya mengerahkan dua kompi: satu, Kompi Benny, satu lagi kompi PGT AURI. Penerjunan dilakukan siang hari dan kedatangannya sengaja dibocorkan. Namun karena pembocoran itulah mungkin pasukan Boyke menyingkir. Maka ketika mengangkut Kompi Benny untuk penerjunan itu, pilot Kapten Udara Pribadi bingung melihat kota Medan sepi. Keadaan berbeda terlihat di Belawan dari udara. Di sana aktivitas berjalan ramai. Keretaapi masih beroperasi. Karena itulah Benny meminta diterjunkan di sana. Sebelum terjun, dia memberi perintah kepada anak buahnya agar menembak siapapun yang terlihat mengenakan baju hijau. “Dia tidak berani mengambil risiko. Sebab dia sadar, kali ini kemungkinan besar musuh sudah menghadang di bawah,” kata Julius Pour dalam biografi LB Moerdani, Tragedi Seorang Loyalis . Benar saja, ketika Benny dan pasukannya terus turun mendekati stasiun, tampak seorang pria mengenakan baju hijau sedang melambaikan tangan. Benny menajamkan pandangannya dan mendapatkan pria itu mengenakan seragam militer. Shooter Kopral Sihombing segera membidiknya. Namun, pelatuk senapan belum kunjung ditekan Sihombing. Seiring makin rendahnya parasut-parasut yang mengangkut pasukan Benny, sasaran semakin jelas terlihat. Benny buru-buru memerintahkan Sihombing agar jangan menembak. “Sekilas dia baru sadar, lelaki kurus dengan wajah bersih yang sedang melambai tersebut justru Kolonel Djatikusumo,” sambung Julius Pour. Maka selamatlah Djatikusumo.
- Tan Sam Cai, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon
“ DI sini ada kuburannya Tumenggung Aria Wira Tjoela. Ia Tan Sam Tjaij Kong orang Tiongkok yang dikasih pangkat dan gelaran nama Tumenggung Aria Wira Tjoela oleh kanjeng Sultan Kasepuhan dan dikasih tanah Sukalila. Wafatnya hari Senin tanggal 24 tahun Jawa 1739 dan dikubur tana Sukalila. Mufakatnya Major Tan Tjin Ki tanah kuburnya Tumenggung di perceel dan ditembok. ” Begitulah bunyi inskripsi pada sebuah nisan yang menempati lahan seluas 300m² di Jalan Sukalila Utara (belakang Pasar Pagi), Kota Cirebon, Jawa Barat. Warga Cirebon mungkin sudah tidak asing dengan makam berciri Tiongkok berukuran 5x5m tersebut. Pemiliknya adalah seorang Tionghoa Muslim yang pernah mengabdi di Kesultanan Cirebon bernama Tan Sam Cai Kong alias Syafi’I alias Tumenggung Arya Dipa Wira Cula. Nama Tan Sam Cai jarang disebutkan dalam catatan sejarah Cirebon. Keberadaannya seolah terabaikan, meski pernah berperan penting dalam pembangunan Kesultanan Cirebon. Namun arkeolog Rusyanti dalam penelitiannya Peran Tan Sam Cai Kong dalam Sejarah Cirebon menyebut jika peranan tokoh ini secara lisan cukup moncer di kalangan masyarakat Tionghoa Cirebon. Mereka yakin bahwa Sam Cai banyak berperan membantu sultan, khususnya pada masa Sunan Gunung Jati dan setelahnya. “Tokoh ini juga sering dikaitkan sebagai arsitek pembangunan Tamansari Gua Sunyaragi dan Bendaharawan ulung pada masanya. Sumber sejarah yang membahas tokoh ini tidak banyak dan dengan versinya masing-masing,” tulis Rusyanti. Di dalam catatan sejarawan M.C. Ricklefs, Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: Antara Historisitas dan Mitos , Sam Cai merupakan keponakan penghulu Tionghoa Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi alias Adipati Wirya Sanjaya –vasal Kesultanan Cirebon yang berkedudukan di Kadipaten dengan kekuasaan hingga Samudera Hindia. Tidak ada informasi jelas mengenai tempat dan waktu kelahiran Sam Cai, maupun silsilah keluarganya. Tetapi menurut Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara , dia pernah bekerja di bawah Tan Eng Hoat sebagai pengawal pribadi putrinya yang akan dijadikan permaisuri sultan pertama Cirebon. Berdasar catatan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari , Ricklefs menyebut jika Sam Cai digambarkan sebagai administrator yang baik. Dia masuk ke dalam lingkaran pejabat istana antara 1569 sampai 1585. Sam Cai pernah menjabat menteri keuangan Kesultanan Cirebon sepeninggalan Sunan Gunung Jati (1568). Satu catatan penting mengenai Sam Cai adalah dia dicap sebagai seorang yang murtad. Di dalam berbagai penelitian menyebut bahwa dirinya seorang Muslim. Tetapi dia tidak bisa melepaskan kebiasaan untuk pergi ke kelenteng. Sam Cai, kata Muljana, setia mengunjungi kelenteng Talang, dan membakar hio (dupa Cina). “Walaupun demikian, Tan Sam Cai sangat besar berjasa memperkuat Kesultanan Cirebon dengan keuangannya sehingga dia tetap dipertahankan,” tulis Slamet Muljana. Tahun 1585, Tan Sam Cai wafat. Ada dugaan dia diracun di kediamannya sendiri yang terletak di Sunjaragi. Akibat berselisih dengan Haji Kung Sem Pak alias Muhammad Murdjani, seorang penjaga pekuburan pembesar-pembesar Kesultanan Cirebon di Sembung, jasad Sam Cai ditolak dimakamkan di sana. Menurut Tan Ta Sen dalam Cheng Ho and Islam in Southeast Asia , atas permintaan sang istri, Nurleila binti Abdullah Nazir Loa Sek Cong, Sam Cai akhirnya dipusarakan di pekarangan rumahnya sendiri secara Islam. Meski telah dimakamkan secara Islam, masyarakat Tionghoa non-Muslim di Cirebon tetap mengadakan upacara naik arwah untuk Sam Cai di Kelenteng Talang. Namanya ditulis dengan huruf kanji Cina di atas kertas merah, agar selamanya tersimpan di Kelenteng Talang. “Dia menjadi setengah dewa dengan nama Sam Cai Kong yang plakatnya ditempatkan pada posisi paling menonjol di altar leluhur. Dia menjadi orang suci yang menjawab doa jika cukup banyak dupa dibakar untuknya. Jadi pembakaran dupa adalah untuk berkomunikasi dengan dewa atau roh dirinya,” ungkap Tan Ta Sen.*
- Horor Warsawa dari Mata Lensa Pewarta
SERIBU kata mungkin takkan cukup untuk menggambarkan horor di Polandia pada 13 September 1939. Namun satu gambar saja sudah berbicara ribuan makna. Julien Bryan percaya itu. Sambil menahan pedih sejauh mata memandang di sebuah perkebunan kentang di pinggiran Warsawa, Bryan susah-payah menekan nuraninya untuk membuka lensa kameranya. Di perkebunan dekat Jalan Ostroroga itu, mata Bryan menangkap sesosok jasad wanita. Darah kental mengucur dari dadanya. Sementara gadis cilik di sampingnya histeris tak tahu harus berbuat apa selain mencoba membangunkannya. Tangisnya begitu menusuk hati Bryan. Bryan insyaf tragedi semacam itu akan jadi pesan sangat kuat untuk para pemimpin di dunia Barat agar bertindak lebih dari sekadar menyatakan perang terhadap Jermannya Adolf Hitler. Sambil menguatkan hatinya, Bryan pun mengarahkan lensa kamera Leica-nya ke arah mereka. “Saat kami (Bryan dan penerjemah Stefan Radlinski serta dua perwira pengawal Polandia) berkendara ke perkebunan kecil di tepi kota (Warsawa), kami hanya terlambat beberapa menit untuk menjadi saksi mata kejadian tragis. Tujuh perempuan tengah memanen kentang saat tetiba pesawat-pesawat Jerman menjatuhkan bom-bomnya hanya 200 yard dari sebuah rumah kecil,” Bryan mengisahkan dalam bukunya, Siege . “Dua wanita di rumah itu tewas. Para pemanen kentang lainnya tiarap berharap tak terdeteksi (pesawat Jerman). Namun setelah mereka kembali bekerja, para pilot Nazi yang tak puas kembali lagi menyapu daratan dengan senapan mesinnya. Dua dari tujuh wanita itu tewas. Saat saya memotret jasad-jasad itu, seorang gadis kecil berlari dan mendekati salah satu jasad korban,” tambahnya. Kolase foto Kazimiera Mika yang meratapi kematian kakaknya di ladang kentang yang dijepret Julien Bryan. ( ushmm.org / ipn.gov ). Di kemudian hari, identitas sang gadis diketahui sebagai Kazimiera Mika. Sementara perempuan yang tergolek tak bernyawa di rerumputan dan tubuhnya sudah memerah adalah Andzia Mika, kakak Kazimiera. Dari ledakan tangisnya, Kazimiera diasumsikan Bryan tak pernah mengalami kengerian seperti hari itu sebelumnya. Saat Bryan mendekat, Kazimiera menatap Bryan dengan tatapan kosong walau air matanya tak berhenti mengalir. “Sang gadis melihat kami dengan kebingungan. Saya spontan merangkulnya erat, berusaha menenangkannya. Dia terus menangis. Saya pun dan dua perwira Polandia yang ikut bersama saya ikut menangis,” kenang Bryan. Baca juga: Josef Mengele Dokter Keji Nazi Keguncangan yang dialami Kazimiera hanya satu dari kengerian yang dialami anak-anak dan warga Warsawa lainnya di pekan kedua September itu. Sejak 1 September 1939, mesin-mesin perang Jerman Nazi menerobos perbatasan Polandia. Tidak hanya dengan 66 divisi di daratan, namun juga lebih dari dua ribu pesawat turut dikerahkan. PK. Ojong dalam Perang Eropa Jilid I menguraikan, Jerman untuk pertamakali melancarkan Blitzkrieg (serangan kilat) dengan skema menjepit dengan dua sayap pasukannya. Dari jurusan Prusia ada Heeresgruppe Nord (Angkatan Darat/AD Grup Utara) pimpinan Generaloberst (Kolonel-Jenderal) Fedor von Bock yang mengandalkan Tentara AD ke-3 dan ke-4. Dari jurusan Silesia ada Grup AD Selatan yang dikomando Generaloberst Gerd von Rundstedt. Adapun Reichsmarschall Hermann Goering mengirim ribuan pesawatnya untuk menguasai angkasa Polandia sebagai penyempurna Blitzkrieg. Adolf Hitler memantau invasi ke Polandia dari tepi Sungai Vistula. (Bundesarchiv). “Setelah hampir semua tentara Polandia terkurung, nasib Warsawa sudah nyata: jatuhnya soal waktu saja. Hitler memberi titah membombardir ibukota yang sudah tak berdaya itu. Hitler hendak mencapai suatu tujuan politik. Dia tak sudi melihat kota itu jatuh ke tangah Soviet Rusia (Uni Soviet, red .),” tulis Ojong. Nahas bagi Polandia. Pada 17 September, Soviet latah menginvasi Polandia dari timur. Sekira 800 ribu Tentara Merah membanjiri wilayah-wilayah timur Polandia yang otomatis menghanguskan Pakta Perdamaian Riga (1921) dan Pakta Non-Agresi Polandia-Soviet (1932). Dikeroyok Jerman dan Soviet, Polandia pun bertekuk lutut pada 6 Oktober. Akibatnya, Polandia ibarat kue yang dibagi dua oleh Berlin dan Moskow. Jurnalis Asing Satu-satunya Gambaran di atas merupakan garis besar yang jadi pengetahuan para pemimpin Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Namun mereka belum mengetahui kengerian yang tertinggal saat terjadinya dan setelah invasi Jerman itu. Ketidaktahuan mereka itu baru “lunas” setelah melihat foto-foto jepretan Bryan. Jurnalis foto perang asal Amerika yang sejak Perang Dunia I sering berkeliling Eropa itu kebetulan pada 1 September 1939 sedang berperjalanan dengan keretaapi dari Venezia (Italia) dan tiba di Warsawa 7 September 1939. Setibanya di Warsawa, Bryan menemukan kekacauan di mana-mana. Warga sipil, para diplomat negara-negara asing, dan bahkan para wartawan asing melarikan diri. Bryan tergerak mencari tahu lebih detail ke Kedutaan Amerika di Warsawa namun kantor kedutaan sudah kosong. Para stafnya sudah kabur hampir berbarengan dengan para pejabat pemerintahan pusat Polandia. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Presiden Polandia Ignacy Mościcki dan Panglima Pasukan Polandia Marsekal Edward Rydz-Śmigły menyingkir ke Zaleshiki dekat perbatasan Rumania sejak 6 September. Akibatnya, kekacauan sporadis terjadi di Warsawa yang hanya dijaga aparat kepolisian dan pemerintah kota. “Sejauh mata memandang, ada ratusan orang berjalan kaki, dengan sepeda, mendorong gerobak, dan bahkan kereta bayi yang diisi barang-barang pribadi dan makanan. Setiap pukul 5.30 petang Nazi selalu mengirimkan pesawat-pesawat pembom dan setiap pagi ada saja sudut kota yang dihancurkan. Mungkin semestinya saya juga berusaha keluar dari Warsawa secepatnya,” kata Bryan. Kehancuran kota Warsawa oleh pemboman pesawat-pesawat Luftwaffe (AU Jerman). ( nac.gov.pl ). Bryan akhirnya memilih bertahan untuk sementara di Warsawa. Selain para jurnalis propaganda Jerman, tiada jurnalis asing yang mau merelakan nyawa guna mendokumentasikan kebrutalan Jerman Nazi terhadap Warsawa dan warganya. Maka dari kedutaan, Bryan segera menemui Walikota Warsawa Stefan Starzyński dengan bermodalkan kamera foto Leica dan kamera video Bell & Howell. “Gambar-gambar yang Anda ambil mungkin bisa jadi bukti bahwa ini peristiwa penting. Agar dunia tahu apa yang telah terjadi di sini,” ujar Walikota Stefan kepada Bryan, dikutip Roger Moorhouse dalam Poland 1939: The Outbreak of World War II . Baca juga: Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani Selain memberikan surat izin untuk mengambil gambar jika di lapangan ditanya polisi dan tentara Polandia, Starzyński juga menyediakan sebuah mobil Adler Trumpf beserta sopir dan seorang penerjemah. Nyaris di setiap sudut yang terdapat objek memilukan, Bryan memerintahkan sopir untuk menghentikan mobil guna mengambil gambar foto maupun video. Kisah Kazimiera dan para wanita korban kekejaman pesawat Jerman di perkebunan kentang salah satunya. Horor-horor nirmanusiawi itu merupakan buah kebiadaban Hitler. Awalnya, beberapa jenderal Jerman hanya ingin mengepung Warsawa dan membiarkan kota itu menyerah tanpa pertumpahan darah. Aliran-aliran gas, listrik, dan air pun sempat diputus. Namun, Hitler memutuskan kota itu harus diluluhlantakkan. Maka pada 9 September mesin-mesin perang Jerman menyerang Warsawa dan melakukan pengepungan total pada 13 September. Julien Bryan saat memfilmkan situasi horor saat pengepungan Warsawa walau nyawa taruhannya. ( ushmm.org ). Teror dari pesawat-pesawat Jerman tak hanya datang dari tembakan senapan mesin secara acak, namun juga dari ratusan ton bom yang dijatuhkan. Pembom tukik Junkers Ju 86 “Stuka” jadi momok yang paling ditakuti. Bunyi lantang “siulan” mesinnya kian menambah teror bagi para korban. “Jasad-jasad tak bernyawa jadi pemandangan tak mengenakkan. Saya tak bisa lupa melihat para wanita yang tubuhnya hancur dan kadang tanpa kepala, tangan, atau kaki. Dalam fotografi biasanya kami memikirkan komposisi akan keindahan suatu pemandangan. Tapi tidak ada keindahan di sini,” ungkap Bryan. “Wanita dan anak-anak jadi korban bom-bom musuh. Saya tidak sedang membuat catatan perjalanan. Suka atau tidak, saya berada di Warsawa, membuat rekaman bersejarah tentang apa yang terjadi dalam perang modern. Orang-orang mungkin takkan percaya cerita saya jika lewat kata-kata. Namun semua orang akan percaya dengan gambar-gambar saya,” sambungnya. Baca juga: Reinhard Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi Selama mengambil gambar, Bryan berdiam di kantor Konsulat Jenderal Amerika bersama warga Amerika dan warga negara-negara asing netral. Itu berlangsung hingga 21 September, saat militer Jerman menetapkan gencatan senjata sementara untuk mengizinkan warga-warga negara netral keluar dari Warsawa. Momen itu jadi kesempatan Bryan untuk keluar. Namun, sebelum keluar ia lebih dulu menyembunyikan rol-rol film foto di kaleng masker gas dan rol-rol video di dadanya dengan direkatkan melingkar dan ditutupi pakaian berlapis. Pasalnya, jika tidak begitu, film-film itu akan disita militer Jerman yang hanya membolehkan para pengungsi warga asing keluar dari Warsawa dengan bawaan satu koper. “Ketika rombongan kami (pengungsi) mengarah ke utara, kami melewati lalu-lalang yang ramai dari dua arah: kebanyakan konvoi kendaraan senjata, amunisi dan truk-truk berisi tentara menuju Warsawa. Kami melintasi desa-desa Polandia yang sudah rata dengan tanah. Para serdadu Jerman berjaga-jaga di tempat-tempat itu,” papar Bryan yang dikutip Glenn Kurtz dalam Three Minutes in Poland. Kolase potret memilukan yang ditangkap mata kamera Julien Bryan dan dimuat di media-media di Amerika. ( ushmm.org ). Truk yang membawa Bryan dan para warga asing lain lantas diturunkan di Stasiun Nasielsk, 45 kilometer di utara Warsawa. Beruntung, sekira 300 dokumentasi penting Bryan tak ditemukan saat pemeriksaan oleh serdadu Jerman. Kondisi film-film itu aman hingga sampai di Königsberg, Prusia Timur (kini Kaliningrad, Rusia). Medio Oktober 1939, Bryan akhirnya menjejakkan kakinya di New York setelah melalui perjalanan panjang via Swedia dan Norwegia. Jutaan pasang mata publik Amerika akhirnya menyaksikan sendiri bukti kebrutalan invasi Jerman ke Polandia lewat puluhan foto Bryan yang dimuat Majalah Life edisi 23 Oktober 1939 dan majalah Look , 5 Desember 1939. Sementara, dokumentasi video pada 1940 digarap Bryan menjadi film berdurasi 10 menit bertajuk Siege . Di tahun yang sama, Bryan turut memperlihatkan dokumentasi film utuh berdurasi 80 menit kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt. Meski begitu, Amerika baru menyatakan perang terhadap Jerman Nazi pada 11 Desember 1941, bersamaan dengan deklarasi perang terhadap Jepang. Baca juga: Kolberg , Film Perang di Tengah Perang
- Secuil Kisah Penerjunan Pasukan Komando
Letnan II Benny Moerdani mesti menghadapi perjudian nasib di tengah gelap langit Pekanbaru pada dini hari 12 Maret 1958. Dalam pembukaan Operasi Tegas untuk merebut Pangkalan Udara Simpang Tiga yang dikuasai pasukan PRRI itu, dia mesti memimpin terjun pasukan Kompi A RPKAD (kini Kopassus). Lucunya, hanya Benny seorang yang belum pernah merasakan terjun. Benny tak sempat mendapat latihan terjun payung sebab saat rekan-rekannya mendapat latihan terjun di Margahayu, Jawa Barat, dia sakit. Sebulan terbaring di rumahsakit membuatnya kehilangan kesempatan meraih kualifikasi para. Maka kerisauan membalut hatinya begitu pesawat C-47 Skytrain mengudara mengangkut dia dan pasukannya menuju Pekanbaru. Briefing singkat oleh wakilnya, Letnan II Soeweno, di pinggir landasan sebelum terbang menjadi satu-satunya bekal Benny untuk terjun. Pada akhirnya Benny terjun juga. Meski hanya dibekali satu payung udara dan kondisi cuaca saat itu buruk, Benny dan pasukannya sukses mendarat di semak-semak pinggir runway lanud. Lantaran tak ada perlawanan dari pasukan lawan, mereka pun segera menguasai lanud tersebut. Benny lalu mengajak Soeweno untuk berfoto menggunakan kamera yang dibawa Letnan II Dading Kalbuadi, yang punya tugas tambahan sebagai juru dokumentasi. Dadinglah yang meminta Soeweno memasangkan wing penerjun kepada Benny. “Soeweno mengambil wing dari saku dan menyematkan ke dada Benny,” tulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. “Ben, kamu sekarang menjadi penerjun sungguhan. Selamat ya,” kata Soeweno dalam bahasa Jawa kepada Benny. Keanehan dalam operasi itu tak hanya soal penerjunan Benny yang baru mendapatkan wing usai terjun –berkebalikan dengan penerjunan pada umumnya. Ketika pasukan Benny –yang diterjunkan bersama dua kompi PGT– mendarat pun, tak ada perlawanan dari pasukan PRRI yang menguasai lanud tersebut. Bahkan, ketika para personil RPKAD mengecek lanud, tak satu pun serdadu PRRI di lanud itu menampakkan batang hidung. Benny dan anak buahnya justru dibuat bingung oleh barisan truk dan pick up berisi peti di pinggir landasan. Peti-peti itu ternyata berisi persenjataan modern dan uang. Mereka tak tahu asal peti-peti itu dan mengapa ditinggalkan begitu saja oleh pasukan lawan. Benny tak peduli pada keanehan yang ditemukannya itu. Dia tahunya menjalankan perintah. Maka begitu Wakil Komandan Operasi Tegas Letkol Udara Wiriadinata tiba dan memerintahkannya ke pusat kota Pekanbaru, Benny langsung berangkat meski tahu tak satupun anak buahnya pernah bertugas di sana. Benny berangkat menggunakan jip ditemani wakilnya Letda Soeweno, Letda Dading Kalbuadi, shooter Kopral Sihombing, dan liaison officer Sukma. Mereka mendahului pasukan yang berjalan kaki ke sasaran dengan rute melambung. Dalam perjalanan dari lanud ke pusat kota itu, mereka tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Jalan amat sepi. Mereka khawatir lawan sengaja membuat perangkap dengan keadaan itu. Maka demi keamanan, Soeweno memasangkan antena walkie talkie rampasan di jip untuk menakut-nakuti lawan bila bertemu di lanan, seolah jip itu memiliki dukungan keamanan dari pesawat AURI. “Kami pura-pura saja ngomong dengan mereka. Sebenarnya, cara pakainya saja, sama sekali belum kami pelajari. Tapi, yah....kami ngomong tidak karuan. Sebab memang tidak ada kontak,” kata Soeweno sebagaimana dikutip Julius Pour.






















