Hasil pencarian
Cari di situs ini
10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sepakbola Tanpa Batas Gender
KEIKUTSERTAAN perempuan dalam sepakbola bukanlah kemarin sore. Di Tiongkok, sebuah lukisan di dinding kuno menggambarkan para perempuan sudah memainkan sepakbola sejak zaman Dinasti Donghan (25-220 Masehi). Setelah itu geliatnya seolah meredup, terlebih memasuki era Dinasti Qing (1644-1912) yang melarang sepakbola perempuan. Memasuki abad ke-18, para sejarawan mencium adanya aktivitas sepakbola perempuan di Skotlandia. Pertandingannya cukup unik, mempertemukan tim yang sudah menikah dengan yang belum. Pertandingan ini sekaligus menjadi ajang cari jodoh bagi para pria lajang.
- Lagu Sepeda dan Pak Kasur
TREN bersepeda di Jakarta tumbuh pesat sepanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar Transisi, Juni 2020. Institute for Transportation and Development Policy melaporkan peningkatan jumlah pesepeda di jalan utama Jakarta. Di luar jalan utama, pesepeda juga terlihat lebih banyak daripada masa sebelumnya. Jakarta serasa menjadi kota pesepeda.
- Tak ada Roti Bir pun Jadi
TUANGKAN ke dalam gelas, dan lihat sensasinya. Buih-buih busa menebal dan naik ke permukaan, sementara gelembung-gelembung kecil di antara cairan berwarna kekuningan berebut naik. Ketika menyesapnya, rasanya agak pahit di lidah dan kehangatannya menelusuri tenggorokan. Penemuan bir berkaitan erat peralihan dari tradisi hidup berpindah-pindah (nomaden) ke hidup menetap yang dikenal dengan sebutan Revolusi Neolithik. Saat itu, selain beternak, manusia mulai bercocok-tanam barley (sejenis tumbuhan semacam gandum), beras, dan gandum. Selain diolah jadi makanan, biji-bijian itu juga dipakai untuk membuat minuman sejenis bir. Epos Gilgamesh, puisi epos dari Babilonia yang ditulis pada 3.000 SM, menyebutnya sebagai evolusi dari manusia primitif ke “manusia berbudaya” lewat kisah Enkidu yang “meminum tujuh cangkir bir dan hatinya melambung. Dalam kondisi ini ia mencuci dirinya sendiri dan menjadi manusia.”
- Djojobojo Menentang Jepang
RAMALAN Jayabaya telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa. Mereka yakin pemerintah kolonial Belanda akan berakhir karena ramalan Jayabaya menyebutkan, “ayam jantan berbulu kekuning-kuningan, yang datang dari sebelah timur laut akan mengusir kerbau bule bermata biru.” Masyarakat Jawa yakin, tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional I, yang dimaksud ayam jantan berbulu kekuning-kuningan yang datang dari timur laut adalah Jepang. Tak heran jika kedatangan Jepang disambut dengan suka-cita oleh rakyat. Dan untuk menarik dukungan rakyat demi kepentingan perang, “Jepang juga ternyata menyebarkan selebaran dengan pesawat-pesawat udara yang dengan pandai mempergunakan ramalan Djojobojo untuk memberi janji kepada rakyat Indonesia,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Selebaran itu berbunyi: “Raja Djojobojo di Kediri pernah berkata bahwa bangsa kulit kuning akan datang menolong bangsa Jawa dan sekarang kamilah yang datang menolong...”
- Jejak Tionghoa di Pondok Cina
PAGI di hari Imlek, jalan utama penghubung dua provinsi Jawa Barat dan Jakarta lengang. Belum banyak warga berlalu-lalang, sehingga kendaraan bermotor dapat melaju kencang. Di kedua sisi jalan itu terdapat dua mall besar: Margo City dan Depok Town Square. Gapura merah menghiasi pintu masuk Depok Town Square. Di seberangnya, lampion-lampion tergantung di halaman Margo City. Ketika memasuki halamannya, orang akan menemukan sebuah rumah. Ia dulu sering disebut dengan nama “rumah tua Pondok Cina”. Rumah itu menjadi saksi bisu sejarah Pondok Cina yang tak bisa dilepaskan dari perkembangan kota Depok sejak masa Hindia Timur.
- Kala Musim Semi Tiba
ALKISAH, di negeri Tiongkok, hiduplah seekor raksasa Nian. Ia muncul dari pegunungan –ada juga yang menyebutkan dari dasar laut– setiap kali musim dingin berakhir dan melahap apa saja yang djumpainya. Hasil panen, hewan ternak, hingga manusia ludes. Agar selamat, setiap kali musim semi tiba, penduduk menaruh sesaji di depan pintu rumah untuk Nian. Prosesi itu tak berlanjut setelah penduduk menjumpai Nian lari ketakutan saat bertemu seorang bocah berpakaian merah. Penduduk berkesimpulan, Nian takut warna merah. Maka, menjelang musim semi, mulailah mereka menghias rumah dengan pernak-pernik berwarna merah, dari lentera hingga gulungan kertas. Mereka juga mengenakan Cheongsam –pakaian tradisional bernuansa merah.
- Koh Memulangkan Pram
AGUSTUS 1980, novel berjudul Bumi Manusia terbit di Jakarta. Novel ini mengisahkan seorang pribumi bernama Minke yang bertekad melepaskan diri dari keterjajahan kuasa kolonial dan feodalisme bangsanya sendiri. Penulisnya mengambil latar waktu awal abad ke-20 ketika Hindia Belanda baru saja melewati pergantian abad. Sebagai anak bupati, sejak kecil Minke akrab dengan budaya Jawa. Namun pendidikannya di HBS menumbuhkan benih-benih kritis dalam dirinya. Rasionalitasnya berkembang. Kegetirannya menebal. Dia yakin ada yang salah dengan kondisi pribumi dan kebudayaan Jawa. Sejak lulus HBS, dia coba berjuang mengubahnya bersama Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, perempuan yang dicintainya. Itulah gambaran ringkas novel karya Pramoedya Ananta Toer. Pram, panggilan akrabnya, menulis novel itu selama berada di penjara Pulau Buru. Pram ditangkap sejak 1969 untuk satu alasan yang tak pernah terbukti: terlibat PKI. Selain Bumi Manusia, dia juga menulis Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Keempat karya itu dikenal dengan sebutan Tetralogi Buru. Dan keempatnya dilarang pemerintah Orde Baru sejak Mei 1981 karena dituding mengandung gagasan pertentangan kelas.
- Celana Superpendek yang Menggoda
CATHERINE Bach, dengan kaki jenjang dan pinggul indahnya, tampil menggoda dalam serial televisi Amerika, The Duke′s of Hazzard, yang tenar pada 1970-an. Catherine berperan sebagai Daisy Mae Duke. Salah satu yang diingat banyak orang masa itu: tampilan seksi nan menggoda Catherine yang selalu hadir dalam balutan hotpants alias celana superpendek. Hotpants memungkingkan seorang perempuan tampil seksi. Ia mengekspos bagian-bagian tubuh yang cukup sensitif, terutama kaki dan paha, bahkan pantat. Hotpants berbeda dari short pants. Bila short pants hanya sebatas lutut, hotpants lebih pendek lagi yaitu sebatas pangkal paha. Hotpants pun lebih ketat ketimbang short pants.
- Fesyen dan Krisis Ekonomi
Tahun lalu bukanlah yang terbaik bagi ekonomi Inggris. Namun, Anda tentu ingat, gambaran suram itu seolah sama sekali tak tercermin ketika seantero Inggris larut dalam kemeriahan perhelatan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada 29 April 2011. Lihat betapa mewah gaun yang dikenakan Kate Middleton. Dan ternyata, dalam sejarah Inggris, hal semacam ini sudah biasa. Lisa Jardine, profesor Studi Renaisans di Queen Mary, University of London, mengatakan bahwa sejarah Inggris cenderung memberikan perhatian besar pada momen-momen kemegahan semacam itu, meski kondisi ekonominya bertentangan dengan citra yang ditampilkan.
- Akhir Riwayat Rumah Cantik
CAK Ipul mendadak kangen tanah air saat melihat foto di sebuah tabloid terbitan Indonesia. Ia kagum dengan kisah rumah indah bergaya art deco yang kerap digunakan syuting film berbagai keperluan. Saat itu Cak Ipul merantau ke Malaysia, mengadu nasib sebagai TKI. Bertahun kemudian, setelah pulang, dia tak menyangka kalau rumah indah yang dikaguminya lewat sebuah foto itu selalu dilintasinya saat menjajakan soto di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Satu hari, perempuan tua yang mendiami rumah tersebut memanggil Cak Ipul yang tengah lewat. Sari Sudhiono, demikian panggilan perempuan itu sebagaimana dikenal Cak Ipul, menawarkan tukang soto ini mangkal di trotoar depan rumahnya. “Tapi ibu minta tolong bukakan gerbang kalau ada tamu. Maklum, kaki ibu sudah tak kuat buat mondar-mandir terus,” demikian kata Sari, seperti ditirukan Cak Ipul.
- Goedhart, Tuan Baik Hati Antiagresi
KETIKA pendudukan Jerman pada 1940, Frans Johannes Goedhart ikut gerakan bawah tanah yang mengobarkan perlawanan melawan Jerman. Dia membuat stensilan Niuwsbrief van Pieter ‘t Hoen dengan memakai nama pena “Pieter ‘t Hoen”, sebuah pseudonim dari pamflet satir di Belanda pada abad ke-18. Dia lalu memperluas penyebaran stensilannya dengan mengubah namanya menjadi Het Parool. “Sebagai tanda perlawanan patriotik, koran Het Parool diberi subjudul vrij, onverveerd (bebas, berani),” tulis Jeroen Dewulf dalam Spirit of Resistance: Dutch Clandestine Literature During the Nazi Occupation.
- Sekuat Dupa, Sewangi Cleopatra
Ia mudah digunakan. Cukup semprot atau oleskan ke pakaian atau badan. Sesaat kemudian, ia bukan cuma memberikan keharuman tapi juga kesegaran dan kepercayaan diri bagi si pemakainya. Keberadaannya sudah ada sejak ribuan tahun silam, berbarengan dengan kosmetik-kosmetik awal lainnya. Dialah parfum, atau biasa kita sebut minyak wangi. “Sejarah parfum setua sejarah manusia,” tulis CJS Thompson dalam The Mystery and Lure of Perfume.





















