top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Baret Merah Berhasil Mengorek Informasi Gerombolan Bersenjata

    Enam hari setelah tiba di Pontianak pada 15 November 1972, Komandan Satgas 42/Kopassandha Mayor Sintong Panjaitan mengambil-oper tugas dari Satgas 32. Sebagaimana satgas yang digantikannya, Satgas 42 ditempatkan di bawah Kodam XII/Tanjungpura untuk tugas operasi penumpasan gerombolan komunis bersenjata –Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) maupun Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku)– yang semasa Dwikora merupakan sekutu militer Indonesia dalam menghadapi Malaysia. “Sejak tahun 1965, Mako RPKAD telah menempatkan pasukannya di Kalimantan Barat secara bergantian. Setelah terjadinya peristiwa penyerangan gudang senjata di Pangkalan Udara Sintang II, operasi penumpasan gerombolan komunis di Kalimantan Barat semakin ditingkatkan,” tulis Hendro Subroto dalam  Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Sintong segera putar otak mencari konsep operasi yang tepat agar operasinya tidak berlarut-larut. Dia merapatkannya dengan jajaranya. Upaya mereka makin keras lantaran dia tak mendapat informasi memadai mengenai kekuatan lawan. Alhasil, mereka terpaksa memulai semua perencanaan operasi tempur dari nol. Dari pembelajaran terhadap fakta-fakta yang ada, Sintong menyimpulkan berlarut-larutnya operasi sebelumnya  karena beberapa kelemahan. Salah satu yang terpenting yakni operasi terbentur pada garis batas negara Indonesia-Malaysia. Akibatnya, pengejaran yang dilakukan terhadap lawan acapkali gagal karena lawan berhasil menyeberang ke wilayah Malaysia –begitupun sebaliknya, militer Malaysia kerap gagal menangkap buruannya karena keburu menyeberang ke wilayah Indonesia. Bertolak dari situ, Sintong  mengubah konsep daerah operasi dari yang awalnya sejajar dengan garis batas negara menjadi tegak lurus. Untuk itu, kerjasama dengan Tentera Diraja Malaysia tetap dilanjutkan. “Kerjasama di bidang operasi keamanan sepanjang daerah perbatasan ini telah terjelma sejak permulaan tahun 1967 yang dirintis oleh Pangdam XII Brigjen Ryacudu dan dilaksanakan dengan baik dan berhasil sekali oleh Panglima Brigjen A.J. Witono. Panglima Brigjen Soemadi yang sekarang, lebih memperluas serta mengintensifkan kerjasama operasi pemulihan keamanan perbatasan ini dengan pihak Malaysia,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam Tanjungpura dalam Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura . Dengan kesepakatan yang diambil bersama komandan BIM 3 Brigadir Tunku Nazaruddin, pasukan Sintong maupun pasukan Nazaruddin dapat bebas melintasi batas negara ketika mengejar buruan sekalipun mereka menyeberangi batas kedua negara. Sebagai lanjutan dari kesepakatan itu, Satgas 42 dan BIM 3 menggelar Operasi Garu. “Pengendalian operasi berada di bawah satu tangan, yaitu di tangan Sintong sebagai Komandan Operasi Garu dengan nama sandi Rajawali 1,” tulis Hendro.   Dalam pertempuran di Gunung Kanyi, 3 Maret 1973, Kompi Para-Komando (Parako) yang dipimpin Kapten Muryono menewaskan anggota gerombolan bernama A Fong. Jasad A Fong, yang tewas mempertahankan bivak, tak sempat dibawa teman-temannya karena kondisi mereka terdesak. Informasi tersebut meyakinkan Sintong bahwa ada hal penting di balik bivak itu sehingga dipertahankan mati-matian oleh lawan. Dia segera memerintahkan Kepala Seksi 1/Intelijen Kapten Hendropriyono mendatangi bivak itu untuk mencari hal-hal penting. Benar saja. Hendro berhasil menemukan sebuah surat berbahasa Tiongkok yang dibungkus kantong plastik di salah satu tiang bivak. Surat itu ternyata berisi pertanyaan A Fong kepada istrinya soal kabar kedua anak lelaki dan kedua anak perempuannya. Berbekal informasi itu, Hendro segera menuju Desa Paloh guna mencari janda A Fong. Dia lalu mendapati janda beranak empat kendati belum tahu pasti itu orang yang dicarinya atau bukan. Setelah melaporkan pada Sintong dan mendapat restu, Hendro melakukan pendekatan pada perempuan itu. Kendati hubungan keduanya kian hari kian dekat, perempuan itu masih belum terbuka kepada Hendro, terutama soal suaminya. Jika ditanyakan keberadaan suaminya, perempuan itu hanya hanya menjawab bahwa suaminya merantau ke Pontianak. Hendro tak patah arang. Hubungan baik tetap dia jaga. Terlebih Sintong telah memerintahkan agar tidak menggunakan kekerasan dalam mengorek informasi agar tidak menyesatkan. Perhatian lebih pun diberikan Hendro kepada perempuan itu. Hendro bahkan sampai meminta Wa-Dan Satgas 42 Mayor Justam memberi santunan kepada perempuan tersebut. Perhatian berlebih itu tentu membuat si perempuan menjadi kian dekat dan terbuka. Saat itulah Hendro mengeluarkan “jurus” untuk mengorek identitas pasti si perempuan. Dia menceritakan kepada si perempuan bahwa ada seorang anggota gerombolan yang tewas di hutan ditembak kawan-kawannya karena hendak menyerah. Perempuan itu pun kaget dan penasaran mendengar cerita Hendro sehingga menanyakan siapa yang dimaksud. Dia lalu ditunjukkan sebuah foto oleh Hendro yang tak tahu pasti nama A Fong lantaran seringnya berganti nama. Si perempuan sontak menangis dan berteriak begitu melihat foto tadi. “Reaksi istri A Fong dapat memastikan bahwa janda beranak empat itu adalah istri gerombolan yang telah tertembak mati dalam pertempuran di Gunung Kanyi,” tulis Hendro Subroto. Hendro langsung melaporkan kepada Sintong bahwa orang yang dicarinya telah didapatkan. Setelah itu, dia terus membina hubungan baik dengan istri A Fong. Dari perempuan itulah Hendro kemudian mendapat banyak informasi berharga mengenai gerombolan. (Bersambung)

  • Di Balik Studi Hatta ke Belanda

    Pada 1921, Mohammad Hatta dinyatakan lulus dari Prins Hendrik Handels School di Batavia. Segera setelah itu, Hatta memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Dia merasa perlu mempersiapkan diri agar bisa membawa perubahan bagi bangsanya. Pilihan pun dijatuhkan ke Handels Hogeschool di Rotterdam, Belanda, mengambil jurusan ekonomi. Kepergian Hatta itu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa harus ke tempat orang-orang yang menjajah negerinya? Terlebih hubungan Belanda dan Minangkabau (tempat kelahiran Hatta) bisa dikatakan tidak pernah baik. Apalagi ketika masih kecil Hatta melihat dan merasakan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah Belanda terhadap pamannya, dan terhadap banyak orang di sekitarnya. Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik  menyebut kekhawatiran terbesar dari keputusan Hatta itu adalah kekhawatiran keluarganya andai arus sekularisasi, westernisasi, dan pengasingan terhadap budaya sendiri mempengaruhi pola pikir Hatta ketika kembali dari pengembaraannya di Belanda. Rupanya keputusan tersebut menimbulkan pertentang di dalam keluarga besar Hatta. Pihak ayah dan ibu memiliki pandangan berbeda tentang pendidikan lanjutan yang harus Hatta tempuh. Yang pertama ingin agar Hatta mendalami agama Islam. Malah sudah sejak lama mereka mempersiapkan segala kebutuhan untuk Hatta pergi ke Mekah dan Mesir. Sedangkan pihak ibu ingin agar dia melanjutkan pelajaran ke sekolah umum. Mulanya pihak keluarga ayah mengalah, membiarkan Hatta memasuki sekolah MULO. Alasannya karena sekolah itu dekat dari rumah. Sang ibu tidak tega jika anaknya yang masih kecil harus berjalan terlalu jauh. Kemudian pihak ayah kembali mengalah ketika Hatta memutuskan pergi ke PHS di Batavia, dengan alasan dasar pengajaran MULO lebih cocok diteruskan di tingkat menengah umum, dibanding pendiddikan agama di Mekah. “Seakan otomatis saja Hatta harus pergi ke Negeri Belanda, karena memang lanjutan studinya lebih tersedia di Rotterdam, bukan di Mekah, bukan pula di Mesir,” ungkap Deliar. Adanya sikap mengalah dari pihak ayah itu tidak berarti keluarga Hatta menerapkan sistem matrilineal. Malah sebaliknya, lingkungan hidup Hatta tidak terlalu menegakkan sistem berdasar garis ibu tersebut. Setiap membuat keputusan untuk tiap tingkat pendidikan, keluarga ayah di Batuhampar menerima dengan baik. Mereka mengakui bahwa ilmu pengetahuan, di mana pun dan apa pun yang dipelajari tidak akan membuat seseorang meninggalkan agama, asalkan dasar berpijaknya jelas. Malah mungkin saja ilmu pengetahuan itu menambah dalam rasa agamanya. Dari pihak ayah sebenarnya tidak semua mempersoalkan pendidikan apa yang ingin dia tempuh. Seperti pamannya, Haji Arsad bergelar Syekh Batuhampar, yang menyerahkan seluruhnya kepada minat Hatta. Dia hanya berpesan satu hal: jangan meninggalkan kewajiban agama Islam. Pamannya itu, disebutkan Bung Hatta dalam otobiografinya, Memoir , merupakan ulama terkemuka di Batuhampar, Sumatra Barat. “Yang menjadi masalah pokok baginya ialah agar Hatta, di mana pun ia berada, dan apa pun ilmu pengetahuan yang dituntutnya, tetap berdiri atas ajaran pokok Islam. Moral agama hendaknya mendasari jalan hidupnya. Tampaknya, inilah pula yang dijanjikan oleh Hatta kepada keluarga pihak ayahnya,” ungkap Deliar. Tentang westernisasi dan pengasingan budaya yang sempat menjadi kekhawatiran keluarganya tidak sepenuhnya terjadi. Kebiasaan sehari-hari, seperti makan dengan sendok dan garpu, berpakaian rapi di meja makan, atau bersepatu di dalam rumah, memang dilakukan Hatta. Tetapi itu lebih kepada kerapian dan kebersihan yang dia biasakan. Sekalipun tetap hidup di tanah air, kebiasaan seperti itu mungkin saja dikembangkan Hatta. Lagi pula hal-hal semacam itu hanya soal teknis saja, bukan merupakan prinsip hidup. “Bagi Hatta, pendiriannya beragama telah tidak memungkinkan ia menempatkan agama di luar kehidupan dunia. Pendiriannya ini pun telah tidak memungkinkan ia terpisah dari bangsanya yang memang sebagian besar menganut agama Islam. Maka dengan sendirinya pula ia tidak melepaskan diri dari pergolakan yang berkembang di Tanah Air,” tulis Deliar.

  • Gambar Cadas Tertua Ditemukan di Sulawesi Selatan

    Penelitian arkeologi terbaru di Sulawesi Selatan mengungkap temuan yang kemungkinan adalah gambar cadas tertua di dunia. Gambar cadas ini berumur 45.500 tahun.  Gambar cadas itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi ( Sus celebensis) . Babi kutil Sulawesi merupakan babi hutan endemik di Kepulauan Indonesia. Tim arkeolog dari Griffith University yang mengungkapkan temuan ini. Penemuannya berawal ketika penelitian lapangan yang dipimpin oleh lembaga penelitian arkeologi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas). “Lukisan babi kutil Sulawesi kami temukan di gua kapur Leang Tedongnge yang sekarang menjadi lukisan karya seni paling awal di dunia, sejauh yang kita ketahui,” ujar Adam Brumm, profesor dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), melalui siaran pers yang diterima Historia  hari ini, Kamis (14/01/2021).   Babi dalam gambar itu memiliki jambul pendek dengan rambut tegak. Terdapat sepasang kutil wajah seperti tanduk di depan mata babi itu.  “Ciri khas babi kutil Sulawesi jantan dewasa,” kata Brumm. “Babi itu tampak mengamati perkelahian atau interaksi sosial antara dua babi kutil lainnya.” Gambar cadas yang berbentuk babi kutil Sulawesi. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Menurut Maxime Aubert, spesialis pertanggalan dari Griffith Center for Social Science and Cultural Research, babi adalah hewan yang paling sering digambarkan pada gambar cadas zaman es di pulau ini. Mungkinmereka punya nilai penting, baik sebagai makanan, maupun ide kreatif dan ekspresi seni. “Manusia telah berburu babi kutil Sulawesi selama puluhan ribu tahun,” kata Basran Burhan, arkeolog dari Sulawesi Selatan dan mahasiswa PhD Griffith University, pemimpin survei yang kemudian menemukan gua itu. Gambar babi ini dilukis menggunakan pigmen oker merah. Ia merupakan bagian dari panil gambar cadas yang terletak di atas langkan tinggi di dinding gua Leang Tedongnge.  Temuan Langka Tak mudah sampai ke kawasan ini. Leang Tedongnge berjarak 64 km dari Kota Makassar. Letaknya di lembah yang dikelilingi tebing kapur terjal. Lokasi di mana gambar cadas ini berada hanya bisa diakses melalui gua sempit pada musim kemarau.  “Karena dasar lembah benar-benar tergenang air di musim hujan. Komunitas Bugis yang tinggal di lembah tersembunyi ini mengklaim bahwa tempat itu belum pernah dikunjungi oleh orang barat,” kata Brumm. Pada kesempatan itu, tim peneliti juga telah mengambil sampel pertanggalan dari salah satu gambar kaki belakang babi kutil. Maxime Aubert menjelaskan bahwa sampel pertanggalannya dianalisis menggunakan metode uranium series di Radiogenic Isotope Fasility, University of Quensland.   “Di Leang Tedongnge, sampel popcorn (kalsium karbonat) yang tumbuh diatas pigmen gambar cadas diambil dari salah satu kaki belakang babi kutil,” jelasnya. “Jadi, setelah dipertanggalkan itu memberi kita umur minimum dari lukisan tersebut.” Deposit mineral inilah yang telah diambil secara hati-hati oleh Aubert. Hasil pertanggalan uranium series menghasilkan umur 45.500 tahun. Itu menunjukkan kalau panil gambar cadas itu sudah dilukis sebelum deposit mineral tersebut terbentuk. Gua Leang Tedongnge. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Sementara di gua lain pada kawasan itu, Leang Balangajia 1, juga terdapat gambar babi berkutil. Ini juga sudah dipertanggalkan dengan metode pertanggalan uranium series . Hasilnya gambar ini berumur 32.000 tahun yang lalu.  “Kami sekarang telah mengetahui beberapa contoh gambar cadas awal di Sulawesi,” ujar Aubert. Menurutnya, temuan gambar cadas kali ini sangat baik dari sisi kualitas. Pun luar biasa langka di dunia.  “Sebagai gambar cadas awal , penemuan gambar cadas ‘adegan’ atau gambar cadas yang bercerita dan dapat dikenali, sangat tidak umum,” kata Aubert.  Mulut Gua Leang Tedongnge. (Dok. Adhi Agus Octaviana). Pertanggalan gambar cadas beradegan tertua sebelumnya setidaknya berumur 43.900 tahun. Itu berupa penggambaran hibrid antara manusia-hewan yang berburu babi kutil Sulawesi dan anoa. Ditemukan oleh tim peneliti yang sama di kawasan gua gamping yang sama. Penemuan ini bahkan digolongkan oleh jurnal bereputasi Science sebagai salah satu dari 10 terobosan ilmiah 2020.  Adapun pakar gambar cadas Indonesia sekaligus peneliti Arkenas yang sedang menempuh PhD di Griffith University, Adhi Agus Oktaviana menjelaskan kalau pihaknya telah menemukan dan mendokumentasikan banyak motif gambar cadas di Sulawesi. Temuan-temuan itu masih menunggu penanggalan ilmiah.  “Kami berharap gambar cadas tertua di pulau ini menghasilkan penemuan-penemuan yang signifikan,” kata Adhi. Adhi menjelaskan pula kalau pertanggalan gambar cadas di Sulawesi kini merepresentasikan gambar cadas paling awal, jika bukan yang paling tua. Gambar-gambar ini mewakili tinggalan arkeologis sebagai bukti manusia modern di wilayah kepulauan Nusantara yang terletak di antara Asia dan Australia yang dikenal sebagai Wallacea.

  • Penerbang Amerika Pertama yang Hilang di Perang Pasifik

    SUDAH lebih dari sebulan kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AL-AS) USS Enterprise  (CV-6) berlayar di Samudera Pasifik Tengah   sejak pembokongan Jepang atas Pearl Harbor. Pada bulan pertama tahun 1942, USS Enterprise   –bertindak sebagai kapal komando Divisi Kapal Induk ke-2 AL   dengan panglima   Laksamana Madya William Halsey Jr.– sudah kesumat untuk membalas dendam. Di lambung kapal induk kelas   Yorktown itu dimuat senjata utama: 90 pesawat terbang. Salah satunya pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator yang diawaki Aviation Chief Machinist Mate (ACMM, setara sersan mayor) Harold Dixon, penembak A. J. ‘Tony’ Pastula, dan opsir radio Gene D. Aldrich. Sejak USS Enterprise  melepas jangkar dari Pearl Harbor pada 8 Desember 1941, Laksdya   Halsey memimpin Divisi Kapal Induk ke-2 menjelang misi raid  ke Kepulauan Marshall dan Gilberts. Seperti biasa, pesawat-pesawatnya saban hari diterbangkan untuk misi anti-kapal selam dan patroli, termasuk yang dilakoni Dixon dan krunya yang ditugaskan di Skadron Torpedo VT-6. Menjelang misi rutin pada Jumat petang, 16 Januari 1942, Dixon punya perasaan tak enak. Perasaan tak   enak   itu baru   pertamakali dialaminya dalam 22 tahun masa tugasnya sebagai penerbang AL. “Kebanyakan pelaut percaya akan hal takhayul. Lucunya beberapa hari sebelum 16 Januari seiring kapal kami berlayar ke selatan Pasifik, saya memiliki perasaan aneh bahwa sesuatu akan terjadi. Sulit untuk mengabaikan perasaan itu karena beberapa hal kecil yang aneh juga terjadi kepada saya,” kata Dixon mengenang yang dituangkannya di Majalah Life , 6 April 1942. Saat Dixon makan siang menjelang misi pada petangnya, misalnya, ia mengaku muncul dorongan dari hatinya untuk makan dua atau tiga kali lebih banyak. Saat selesai makan dan melewati kabin medis,   tiba-tiba ia diajak masuk ke kabin oleh salah seorang petugas medis. Tetapi Dixon tak mengungkapkan semua itu kepada Aldrich dan Pastula yang masih “hijau”. Kala waktu   menunaikan misi patroli tiba, Dixon setenang mungkin memimpin keduanya naik ke pesawat TBD Devastator mereka yang bernomor ekor 0335. Pastula dan Aldrich tak pernah menduga bahwa itu akan jadi misi yang berujung petaka yang membuat mereka menjadi penerbang pertama yang hilang di Perang Pasifik. Petaka itu bermula setelah mereka sudah tinggal landas dari geladak USS Enteprise . Semakin lama mereka terbang, situasimakin pelik. Diperparah cuaca buruk, Dixon berkali-kali sibuk memerhatikan kompas dan petanya lagi, hingga akhirnya ia mengakui telah tersesat. “Patroli di hari itu benar-benar sarat kejadian. Selain harus terbang pada petang hari, kumpulan awan yang menurunkan hujan membuat kami sulit melihat lautan, hingga entah bagaimana pesawat kami tersesat. Selama berjam-jam saya mencari arah kembali ke kapal (induk) sampai bahan bakar hampir habis. Tiada lain saya harus membawa pesawat mendarat di air,” sambung Dixon. Kapal Induk USS Enterprise  (atas) & kumpulan pesawat TBD Devastator dari Skadron Torpedo VT-6 di geladaknya jelang misi terbang. (U.S. Naval History and Heritage Command). Bertahan Hidup Kendatiberhasil mengumpulkan perlengkapan survival dan bisa mendaratkan pesawat di laut dengan selamat, Dixon mengakui nasib sial mereka terjadijustrupasca-keluar dari pesawat.Mayoritas perlengkapan surival vital seperti makanan, persediaan air, dan pistol suar justru gagal terselamatkan. Pasalnya, ketika Dixon berupaya membuka kaleng CO2 yang macet demi mengembangkan perahu karet, Aldrich dan Pastula yang diperintah membawa perlengkapan itu justru bergulat maut. Pastula membantu Aldrich melepas sabuk pengamannya agartidak terbawa tenggelam bersama pesawat. Mereka akhirnya hanya bisa berharap pada hujan untuk mendapatkan air tawar untuk diminum. Di saatkritis itulah keyakinan mereka diuji. Selain kegigihan untuk bertahan hidup, nasib mereka bergantung pada belas kasih Sang Pencipta. Terlebih mereka hanya bertiga di lautan itu. Optimisme mereka meningkat tatkala melihat sebuah pesawat terbang di atas mereka. “Kami berteriak sebisanya. Namun ketika pesawat itu berlalu, hati saya ikut tenggelam ke dasar laut. Saya mengerti prosedur itu. Laksamana (William Halsey Jr., red . ) yang saya kenal takkan mengambil risiko mengerahkan segenap armada hanya untuk menyelamatkan satu pesawat , ” lanjutnya. Optimisme mereka seketika berubah jadi pesimisme.Sebagaimana dikisahkan dalam Fly Navy: Discovering the Extraordinary People and Enduring Spirit of Naval Aviation karya Alvin Townley, setelah mereka terpaksa menahan dahaga dan lapar hampir satu pekan, hujan deras akhirnya turun. Dixon, Aldrich, dan Pastula buru-buru merentangkan pakaianuntuk menampung air hujan yang kemudian mereka peras lalu airnya mereka tampung di kantung air. Air persediaan itu harus dijatah untuk minum bertiga. Mereka berharap hujan turun lagi hujan sebelum persediaanair tandas. ACMM Harold Dixon (kanan) dan dua anak buahnya, Tony Pastula & Gene Aldrich. (Majalah Life , 6 April 1942). Selain air, masalah yang membelit mereka adalah tempat untuk tidur. “Kami segera tersadar tak bisa tidur. Perahunya hanya delapan kaki. Dimensi di dalamnya lebih kecil, 80x40 inci. Mustahil cukup ruang untuk kami bertiga beristirahat dengan nyaman,” ujar Dixon dikutip Townley. Keputusan segera diambil Dixon sebagai solusi. Secara bergiliran satu dari mereka mesti melek setiap empat jam sekali g un a mendapatkan ruang untuk merebahkan diri dua rek annya . Untuk urusan perut, Aldrich menjadi andalan dua rekannya karena masih menyimpan pisau lipat di sakunya.Pisau itu lalu dimanfaatkannya untuk mencari ikan kendati sempat dikhawatirkan Dixon pisau itu akan mengenai perahu karetnya. Namun alih-alih mendapat ikan segar berukuran kecil, pisau Aldrich justru menghujamseekor hiu. “Dengan pisaunya, Gene (Aldrich) menusuk badan hiu yang menggelepar hingga melompat ke perahu. Tony (Pastula) ikut memeganginya hingga tikaman berikutnya yang membuatnya mati. Setelah 10 menit bergulat dengan hiu, akhirnya kami bisa memotong-motongnya,” sambung Dixon. Trio Dixon-Pastula-Aldrich yang bertahan hidup 34 hari di Samudera Pasifik sebelum akhirnya mencapai daratan (National Museum of the US Navy) Kendati hanya bisa disantap mentah-mentah, daging ikan hiu itu bisa memperpanjang hidup mereka. Beberapa bagian daging laludisimpan di dalam kaus kaki yang dibasahi air laut agar bisa awetselama beberapa hari. Selain daging hiu, menu lain yang sempat mereka nikmati adalah daging burung albatros. Pada suatu pagi, burung itu hinggap di salah satu ujung perahu. Burung malang itu segera dimangsa peluru pistol M-1911 yang ditembakkan Pastula. Begitu mati dan tercebur ke laut, burung itu diambil Dixon yang buru-buru nyemplung untuk menghindari jadi mangsa hiu yangmasih banyak di sekitar perahu mereka. Entah di hari ke berapa, Dixon tiba-tiba teringat pada skema peta sebelum pesawat mereka jatuh. Peta itu ikut hilang bersama persediaan makanan dan air, namun tidakdengan kompasyangmasih dikantongi Dixon. Lantaran mulaiingat skema peta yang didapat dari briefing sebelum misi, Dixon menggambarnya ulang dengan pensil di atas jaket pelampung. Ia pun mulai memperkirakan posisi mereka dan posisi kepulauan terdekat yang bisa mereka capai. “Saya sudah mempelajari peta-petanya dan kemudian ingatan saya kembali tentang di mana saja posisi-posisi pulau-pulau di peta itu. Ke arah barat dan utara dari posisi (jatuh) kami adalah Kepulauan Jepang. Tentu saya ingin menghindari mereka. Ke timur adalah kepulauan tak berpenghuni. Harapan kami hanya bermanuver ke arah selatan dan timur, letak kepulauan yang lebih bersahabat, sembari berharap kami berjumpa sebuah konvoi kapal Amerika,” imbuhnya. Dixon, Aldrich, dan Pastula lalu berusaha mengarahkan perahu dengan memanfaatkan angin. Mereka juga membuat jangkar darurat dari jaket pelampung dan kawat, dan menggunakan sol sepatu sebagai dayung. Mereka berusaha mengarungi 30-40 mil setiap harinya. Mereka terus berusaha meski berhari-hari menahan rasa lapar, haus, serta terik matahari saat siang dan badai tropis kala malam.Pada hari ke-34, Aldrich dengan tenaga tersisa berteriak kepada atasannya. “Pak, saya melihat ladang jagung yang indah. Saya melihatnya dengan jelas, Pak. Saya melihat sesuatu dari kejauhan!” teriak Aldrich, dikutip Stephen W. Sears dalam World War II: Carrier Way. Upacara penganugerahan medali Navy Cross kepada Harold Dixon oleh Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester William Nimitz ( Life , 6 April 1942) Perjuangan mereka yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan itu akhirnya berbuah manis. Daratan yang dilihat Aldrich adalah Atol Pukapuka di gugusan karangKepulauan Cook, 750 mil dari lokasi jatuhnya pesawat mereka. Bagi mereka itu suatu mukjizat. Pasalnya di belakang mereka sudah berkerumun lagi awan hitam dan angin yang mulai berhembus kencang. Pertanda badai bakal kembali menerjang, seperti halnya beberapa hari sebelum mereka melihat daratan, di mana mereka nyaris mati dihempas badai tropis. “Kami melihat daratan itu di waktu yang kritis. Jika ditambah satu hari lagi (di laut) mungkin badai akan menuntaskan apa yang gagal dilakukan oleh rasa lapar, haus, angin, matahari dan hiu,” kenang Dixon lagi. Dengan tenaga tersisa, mereka mendayung perahu menuju Pukapuka.Ketika sampai di perairan dangkal, mereka turun dan dengan tertatih-tatih mencapai daratan. “Kemudian mereka ditemukan dan dirawat penduduk asli pulau itu. Setelah seminggu dirawat dan pulih, mereka bisa membuat isyarat untuk bisa dideteksi sebuah pesawat Amerika. Tak berapa lama, Dixon, Pastula, dan Aldrich dievakuasi oleh para kru kapal penyapu ranjau USS Swan ,” tandas Sears. Setelah pulih dan kembali ke USS Enterprise yang berlabuh di Pearl Harbor pada 17 Maret 1942, mereka disambut Laksdya Halsey dan Panglima Armada Pasifik Laksamana Chester Nimitz. Atasketeguhan jiwa dan fisik mereka, Nimitz menganugerahkan medali Navy Cross pada Dixon dan piagam Presidential Commendations pada Aldrich dan Pastula. Kisah mereka diangkat ke layar lebar pada 2014 oleh sineas Brian Falk bertajuk Against the Sun.

  • Pandemi Tuntut Pemaknaan Ulang Nasionalisme

    Nasionalisme bukanlah gagasan yang statis. Sepanjang sejarah, nasionalisme mengalami berbagai perubahan dan perkembangan makna. Dari satu gagasan abstrak yang dibayang-bayangkan para tokoh pergerakan, nasionalisme kini menuntut pemaknaan baru untuk menjawab tanda-tanda zaman yaitu pandemi. Ide tentang nasionalisme Indonesia muncul pada dekade 1920-an. Kala itu, orang Indonesia mulai memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Kesamaan nasib, musuh, bahasa, dan cita-cita kemudian menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan yang bersifat nasional, bukan lagi kedaerahan. Dari gerakan-gerakan nasional itu, ide untuk bersatu dalam sebuah negara muncul. Tonggaknya, Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945. Namun setelah itu, Indonesia yang dibayang-bayangkan ternyata masih dinamis sebagai sebuah ide. Menurut sejarawan Andi Achdian, dalam Dialog Sejarah “Memaknai Ulang Nasionalisme di Era Pandemi” di kanal Youtube  dan Facebook Historia  pada Selasa, 12 Januari 2021, pada awal terbentuknya negara-bangsa Indonesia, nasionalisme bersifat progresif. “Dia maju. Dia merupakan sebuah antitesa terhadap kolonialisme dan imperialisme,” kata Andi. Memasuki dekade 1960-an, sambung Andi, nasionalisme berubah menjadi apa yang disebut sebagai office nasionalism atau nasionalisme resmi. Nasionalisme resmi ini seringkali diwujudkan pada upacara, baris-berbaris, dan hal-hal yang bersifat opresif atau menekan. “Menjadi mundur sebenarnya, dalam artian praktik dari nasionalismenya tidak membebaskan,” jelas Andi. Kemunduran makna nasionalisme makin jauh ketika Orde Baru berkuasa. Menyambung Andi, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia Budiman Sudjatmiko menyatakan bahwa Orde Baru mengembalikan ciri pemerintahan kolonial Belanda. Bahkan, kolonialisme itu dikawinkan dengan feodalisme Nusantara sehingga melahirkan patrimonialisme, dan masih ditambah militerisme pada era Orde Baru. “Orde Baru itu selama 32 tahun mempraktikkan sisa-sisa kolonial, cara berpikir kolonial yang memanipulasi loyalitas tradisi dalam wadah birokrasi modern, namanya patrimonialisme, ditambah militerisme,” ujar mantan aktivis reformasi ini. Budiman mencontohkan, nasionalisme progresif yang seharusnya juga menghancurkan sisa-sisa struktur ekonomi feodalisme ternyata juga gagal menyusul lengsernya Sukarno. Sisa-sisa sistem ekonomi tradisional yang timpang itu justru dihancurkan oleh kapitalisme industri yang dibangun oleh Orde Baru. Orde Baru memang kemudian runtuh juga. Namun Indonesia memiliki segudang pekerjaan rumah untuk membersihkan warisan-warisannya. Kini, pandemi menambah tantangan itu. Bagaimana Indonesia bisa menggunakan modal nasionalisme untuk menghadapinya? Dalam sejarah nasionalisme Indonesia, Andi menyebut bahwa satu temuan paling mendasar adalah organisasi. Organisasi merupakan senjata utama bangsa Indonesia membebaskan diri dan mewujudkan ide tentang nasionalisme itu sendiri. Hal ini juga yang membedakan gagasan era Kartini, misalnya, dengan gagasan-gagasan dekade 1920-an yang melahirkan banyak organisasi dari serikat buruh, organisasi kemasyarakatan, hingga partai politik. Rezim Orde Baru, jelas Andi, memahami hal ini dan penghilangan hak-hak berorganisasi adalah hal pertama yang dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan. Selama 32 tahun, tradisi berorganisasi bangsa Indonesia kemudian luntur. Kehilangan tradisi berorganisasi itu kemudian melemahkan bangsa Indonesia. Ide-ide besar muncul, tetapi mewujudkannya melalui kerjasama dalam organisasi tidak terjadi. Hal yang sama juga terjadi dalam masa-masa kritis seperti pandemi. “Kita bingung kan, gitu kan. Harus bagaimana untuk merespon ini? Bagaimana melakukannya? Beda dengan masyarakat yang punya tradisi berorganisasi yang lebih kuat ya,” jelasnya. Dalam pandangan Andi, bentuk-bentul lama berorganisasi itu kembali muncul ketika pada masa awal pandemi, warga mengisolasi kampung-kampung dari orang luar. Namun tindakan alamiah ini masih terbatas karena memang tidak memiliki sistem organisasi yang kuat. “Kenapa VOC yang cuma berapa gelintir orang bisa berkuasa di Nusantara? Satu jawabnya, mereka punya organisasi modern. Mereka membuat sebuah manajemen dalam menguasai imperium yang luas itu, di samping ada senjata dan lain sebagainya,” terang Andi. Tradisi organisasi inilah yang harus kembali dibangun untuk menjawab tantangan-tantangan baru di tengah pandemi, jelas Andi. Tanpa tradisi berorganisasi, bayangan tentang masyarakat yang lebih maju akan selalu rentan. Menimpali Andi, Budiman menekankan bahwa prinsip organisasi adalah kerjasama. Orang Indonesia, menurutnya, telah teruji selama ratusan tahun dalam kerjasama yang sifatnya tolong-menolong. Namun, Indonesia melum teruji dalam kerjasama untuk saling menguntungkan. Ini dapat dilihat dari gagalnya Indonesia membangun koperasi. Koperasi yang seharusnya menjadi wadah kerjasama produktif dan sama-sama menguntungkan, kini hanya menjadi bunyi-bunyian kosong. “Bangsa Indonesia belum cukup teruji untuk kerjasama berorganisasi, berkolaborasi, dan berkoperasi untuk sesuatu yang produktif dan menghasilkan keuntungan,” ungkap Budiman. Budiman mengingatkan bahwa generasi saat ini harus bisa berikir seperti Sukarno, Hatta hingga Tan Malaka dalam melihat tanda-tanda zaman. Untuk merdeka dari Belanda, mereka tidak berusaha untuk menghidupkan kembali Kerajaan Demak atau Kerajaan Majapahit, melainkan mengimajinasikan satu republik bernama Indonesia. “Bisakah kita sekarang ini bergotong royongnya itu bukan sekadar bergotong-royong kembali ke masa lampau, sekadar menolong orang supaya tidak mati, tapi juga bergotong royong supaya sama-sama waras bareng , pinter bareng , sugih bareng ?” Budiman melontarkan pertanyaan. Sampai kuartal kedua 2020, Budiman menambahkan, hanya ada dua sektor yang pertumbuhannya positif: sektor digital dan pertanian. Dua sektor inilah, desa dan data, yang harus dikonsolidasikan untuk menjawab tantangan pandemi. “Kalau kalangan startup digital ini menyatu dengan orang desa, merekalah pemilik masa depan peradaban. Pemilik masa depan negeri,” kata aktivis 1998 yang banyak memperhatikan sektor pedesaan itu.

  • Arus Sejarah Baterai Penopang Mobil Listrik

    EMBRIO mobil listrik sudah muncul berabad-abad lalu. Bahkan pernah meraih popularitas karena tidak berisik, handal, dan kemudahan menyalakan mesin. Namun ada satu kekurangan yang membuatnya tenggelam: belum bisa digunakan jarak jauh. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: daya tahan baterai dan kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai. Hyundai Ioniq dan Kona Electric bisa tembus ratusan kilometer sekali isi penuh daya baterainya. Selain itu, mobil bisa dicas dari colokan rumah menggunakan portable charger. “Hyundai juga membekali konsumen dengan portable charger  di kendaraan sehingga pemilik bisa melakukan pengisian ulang baterai mobil listrik Ioniq Electric dan Kona Electric milik mereka di rumah atau di mana saja, tidak perlu antri, bahkan bisa sambil melakukan aktivitas lain dengan nyaman. Charger yang kami sediakan menggunakan steker yang umum di   Indonesia sehingga pengisian daya semudah mengecas baterai smartphone ,” kata Makmur, managing director PT Hyundai Motors Indonesia dalam rilis persnya . Upaya Hyundai itu merupakan satu progres signifikan dalam perjalanan sejarah baterai listrik yang gagasannya sudah eksis sejak abad ke-18. Dua mobil listrik murni pertama di Indonesia, Ioniq (kiri) & Kona (kanan) yang ditenagai baterai lithium-ion polymer. ( hyundai.com ). Mengiringi Perkembangan Teknologi Battery yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi beterai istilahnya mengambil dari “Battery of Cannon” atau sekumpulan unit artileri. Thomas P. J. Crompton mengungkapkan dalam Battery Reference Book , kata “baterai” dipinjam negarawan sekaligus polymath Benjamin Franklin pada 1748 kala menamakan alat ciptaannya yang terbuat dari kaca yang bisa menampung listrik bertegangan tinggi, Leyden Jar. Alat yang memiliki konduktor di luar maupun di dalam wadah kaca bisa berfungsi itu mengingatkan Franklin pada baterai artileri yang berfungsi bersamaan. “Definisi baterai itu sendiri adalah alat yang memiliki satu atau lebih sel elektrokimia dengan sambungan-sambungan eksternal untuk membuat alat lain bekerja,” tulis Crompton. Sebelum adanya generator listrik dan electrical grids , baterai jadi satu-satunya sumber energi semua teknologi berbasis listrik yang mengiringi perjalanan sejarah penemuan yang mengubah dunia. Dari telegraf, telepon, komputer, hingga telepon seluler. Semua itu berhulu pada inovasi ilmuwan Italia Alessandro Volta yang menciptakan baterai pertama. Menukil S. V. Gupta dalam Units of Measurement: Past, Present and Future. International System of Units , pada 1700-an listrik masih jadi fenomena yang diperdebatkan para ilmuwan. Mereka terbagi antara yang mempertanyakan apakah listrik masih berkaitan dengan fenomena alam dan terhubung dengan kehidupan manusia sebagai makhluk biologis atau listrik muncul sebagai fenomena dari reaksi-reaksi kimia. Perdebatan itu juga dilakoni Volta. Dia berdebat dengan rekannya yang pakar biologi, Luigi Galvani. “Faktanya, pada 1799 Volta pernah berdebat dan tidak setuju dengan teori Galvani terkait teori bahwa jaringan organ hewan mengandung sebuah wujud listrik. Hal itu mendorong Volta membuat sebuah alat, voltaic pile (tumpukan volt) untuk membuktikan bahwa listrik tak berasal dari jaringan biologis hewan, melainkan dihasilkan dari kontraksi logam-logam seperti besi dan kuningan dalam sebuah lingkungan yang lembab,” tulis Gupta. Voltaic Pile (kiri), baterai pertama di dunia dan sempat dipamerkan Alessandro Volta kepada Kaisar Napoleon Bonaparte. (Tempio Voltiano/New York Public Library). VoltaicPile kemudian diakui sebagai baterai pertama di dunia. Bentuknya berupa susunan pelat tembaga, seng, dan lapisan kertas garam basah berselang-seling yang ditumpuk di sebuah wadah lonjong berbahan kayu.   Kendati telah menciptakan Voltaic Pile, Volta belum paham betul tegangan listrik yang dihasilkan dari reaksi kimiawi alatnya. Ia bahkan sempat kecele karena mengira alat ciptaannya akan jadi sumber energi yang takkan ada habisnya. Padahal, setelah beberapa lama energi baterai pertama itu tandas juga. Selain itu, penggunaan Voltaic Volta belum praktis untuk alat lain berbasis listrik. Pada 1836, perkembangan perbateraian memasuki tahap lebih maju. Kimiawan Inggris Profesor John Frederic Daniell berhasil menciptakan dan mematenkan Daniel Cell, baterai praktis pertama. Daniell Cell dibuat dari tabung tembaga yang di dalamnya diisi cairan senyawa CuSO4 (tembaga sulfat) dan di dalamnya lagi menampung tabung berbahan tembikar berisi cairan H2SO4 (asam sulfat) dan pelat seng. Tabung tembikar berpori itu berfungsi sebagai penyaring agar CuSO4 bisa tetap melepaskan ion-ionnya tanpa tercampur cairan lain. Alhasil, energi yang dihasilkannya lebih awet, andal, aman, dan tak cepat mengalami korosi. Keunggulan itu membuat Daniel Cell dijadikan standar industri. Daniel Cell inilah yang mengiringi perkembangan teknologi lain, mulai telegraf hingga bel pintu, sampai 100 tahun kemudian. Daniell Cell pula yang menginspirasi kemunculan inovasi-inovasi serupa, mulai dari Bird’s Cell ciptaan Golding Birt (1837), Poros Pot Cell karya John Dancer (1838), hingga Fuel Cell buatan William Robert Grove (1839). Baterai ‘Cas’ Betapapun, energi yang dihasilkan baterai ciptaan Daniell hingga Alfred Dun dengan Dun Cell (baterai bersel asam nitro-muriatic ) bakal tandas secara permanen tanpa bisa dipulihkan kembali alias “dicas”. Padahal, zaman menuntut kemampuan lebih. Para produsen mobil, baik konvensional maupun berbasis listrik, sangat membutuhkan baterai yang bisa di -charge atau diisi ulang. Tantangan itu berhasil dijawab ilmuwan Prancis Gaston Planté pada 1859 dengan menciptakan baterai bersel timbal-asam yang bisa diisi ulang. “Planté bereksperimen dengan sistem gulungan baterai timbal-asam, di mana sel-sel yang digunakannya adalah dua pelat timbal tipis dan dipisahkan dengan lembar-lembar karet. Saat sirkulasi, arusnya mengaliri pelat positif menuju timbal dioksidan sehingga kapasitas listriknya meningkat. Proses ini masih jadi aspek yang signifikan dalam industri baterai timbal-asam sampai hari ini,” ungkap tim riset Gates Energy Products dalam Rechargeable Batteries Applications Handbook. Gaston Planté dan baterai ciptaannya. (Linda Hall Library). Penemuan Planté mendorong pengembangan lanjutan baterai isi ulang oleh banyak ilmuwan. Baterai isi ulang menggunakan zinc anode-manganese dioxide, misalnya, diciptakan Georges Leclanché pada 1866, lalu baterai sel kering pertama dari sel karbon-seng diciptakan Carl Gassner pada 1886, dan pada 1899 Waldermar Jungner menciptakan baterai dengan elektrolit alkalin pertama. Aki ( accu) yang ada saat ini merupakan kelanjutan dari baterai temuan Planté. Pada 1912, Gilbert Newton Lewis memulai eksperimen baterai lithium. Menurut Akademisi Universitas Stanford Kyle Weikert dalam artikel berjudul “Lithium Battery Dangers: Past and Present”, Lewis mencoba menggantikan baterai nikel kadmium yang banyak digunakan untuk alat listrik dengan lithium, logam paling ringan saat itu. “Lithium bisa menyimpan potensi elektrokimia dalam jumlah besar karena kepadatan materialnya. Meski begitu, logamnya secara alamiah tidak stabil dan terbukti komponen penyimpan energinya selalu bermasalah ketika diisi ulang,” tulis Weikert. Masalah itu baru terpecahkan pada 1970-an lewat kombinasi lithium-ion (Li-ion) yang dikembangkan sejumlah ilmuwan seperti John Goodenough, M. Stanley Whittingham, Rachid Yazami, dan Koichi Mizushima. Baterai li-ion pertama yang masuk pasar komersil lahir dari eksperimen tim periset Asahi Kasei pimpinan Yoshio Nishi pada 1991. Sejak itu, baterai, baik yang bertipe lithium atau bukan , jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Berangkat dari perkembangan baterai itulah Hyundai menciptakan sejarah baru di Indonesia lewat Ioniq dan Kona. Sejarah Baru Di tahun baru ini, PT Hyundai Motor Indonesia menghadirkan sejarah baru dengan meluncurkan dua mobil bertenaga listrik murni pertama di Tanah Air: Ioniq Electric dan Kona Electric. Lewat kampanye “Be Bold. Be Electric”, raksasa otomotif Korea Selatan ini menghadirkan dua tipe mobil listrik yang dipasok baterai berteknologi mutakhir lithium-ion polymer . Sedan Ioniq Electric dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh yang bisa melahirkan daya maksimal 100 kW/136 PS. Sementara SUV ( sport-utility vehicle ) Kona Electric ditenagai baterai dengan tipe serupa berkapasitas 39,2 kWh yang juga mampu mengeluarkan daya maksimal 100 kW. Tak hanya bisa mengisi ulang di SPKLU, Sedan Ioniq & SUV Kona bisa "dicas" di stop kontak rumahan. ( hyundai.com ). Langkah itu menjadi kunci sejarah baru. Dengan baterai lithium-ion polymer itu Hyundai menjadi game-changer pertama di Indonesia, satu langkah maju menuju era mobilitas masa depan. Selain lebih efisien, Ioniq dan Kona menjadi agen dalam mewujudkan kendaraan ramah lingkungan. Baterai lithium-ion polymer yang jadi sumber tenaga Ioniq dan Kona tak hanya bebas emisi sehingga ramah lingkungan namun juga dijamin keamanannya. Hyundai melengkapinya dengan tiga langkah pengamanan: desain rigid cell architecture untuk menahan benturan di bagian inti baterai, vehicle cooperative control untuk mencegah korsleting, dan active protection untuk mencegah gagal sistem kala mengisi ulang daya. Untuk lebih memudahkan pengisian ulang jika pengguna tak sempat mampir ke SPKLU (stasiun pengisian kendaraan listrik umum) atau dealer-dealer Hyundai, HMI menyediakan pengisi ulang portable ICCB ( in-cable control box ) pada setiap pengguna Ioniq dan Kona. Alat tersebut bisa membuat para pengguna mengisi daya listrik mobil menggunakan stop kontak standar rumah atau kantor.

  • Korban Granat di Front Bandung

    Ketika datang kali pertama pada Oktober 1945, militer Inggris menemukan kenyataan Jawa merupakan medan perang yang panas bak neraka. Perlawanan sangat keras hampir terjadi setiap hari hingga menimbulkan korban yang cukup banyak di kedua pihak. “Kami seolah tengah masuk ke dalam suatu gudang peluru yang siap meledak,” tulis Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam  The Fighting Cock, The Story of the 23RD Indian Division. Salah satu palagan yang membuat pasukan Inggris sibuk adalah front Bandung. Di sana, Brigade Infanteri ke-37 pimpinan Brigadir N. Mac Donald mendapatkan perlawanan seru dari para pejuang Indonesia: mulai serangan tak terkoordinasi gaya amuk hingga hujan peluru artileri dan serangan sistematis yang dipandu buku-buku pegangan tentara Jepang. “Korbannya jangan dibayangkan. Mereka yang merupakan pemenang Perang Dunia II hampir tak berdaya menghadapi orang-orang nekat,” ungkap Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, pimpinan TKR di Jawa Barat pada 1945-1946. Namun di balik kebrutalan perang di barat Jawa itu, terselip berbagai kisah lucu yang dialami oleh para pejuang Indonesia. Salah satu-nya pengalaman R.J. Rusady W dari Batalyon 33 Pelopor. Ceritanya, suatu hari Rusady bersama salah seorang kawannya bernama Ridwan, ditugaskan berjaga di perempatan Grote Postweg dan Pangeran Sumedang (sekarang Jalan Asia Afrika dan Jalan Oto Iskandar Dinata. “Saya saat itu bersama Ridwan berada di belakang tumpukan karung pasir,” kenang Rusady dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur. Saat berjaga itulah, dari arah barat muncul sebuah tank Sherman yang dikendarai oleh beberapa prajurit Gurkha. Melihat itu, Rusady cepat menyiapkan granat tangan bekas milik prajurit KNIL yang beberapa waktu sebelumnya diperoleh pasukannya dari sebuah gudang amunisi tua. Dalam hitungan detik, tank itu semakin mendekat ke arah Rusady dan Ridwan. Begitu berada dalam jarak lempar, Rusady pun langsung menyambitkannya ke kendaraan tempur baja tersebut. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Alih-alih mencapai tubuh Sherman itu, granat justru mengenai kawat listrik dan berbalik kembali ke tumpukan pasir tempat kedua prajurit TKR tersebut berlindung. Glaarrr! Meledaklah granat itu, diikuti rubuhnya Rusady dan Ridwan. Anehnya beberapa saat kemudian, Rusady merasa dia masih hidup. Namun saat  siuman dia membayangkan kondisi tubuhnya dan jadi merasa ngeri sendiri. “Yang terpikir kami pasti berantakan dibuatnya dan tak berani membuka mata,” kenang ayah dari artis Paramitha Rusady itu. Yang pertama-tama dilakukan oleh Rusady adalah menggerakan jari-jemari tangannya. Ternyata tak ada rasa sakit sama sekali. Kemudian dia menggerakan jari-jari kaki. Itu pun terasa biasa. Diberanikannya untuk membuka sebelah mata, karena tak berharap melihat pemandangan yang mengerikan dari tubuhnya. Ternyata seluruh tubuhnya normal. Tak ada yang putus atau terlepas sama sekali. Meskipun merasa aneh, Rusady dan Ridwan langsung bangkit. Mereka betul-betul tidak percaya jika granat yang mental itu tidak menyebabkan luka apapun. Mukjizat Tuhankah ini? Ternyata belakangan mereka baru tahu jika granat milik KNIL itu memang tidak ditujukan untuk membunuh. Granat tangan tersebut memang jenis yang jika digunakan hanya membuat sasaran hidup menjadi pingsan saja dan dijadikan tawanan. Hal yang lucu terkait granat juga terjadi dalam pertempuran seru di Jalan Lengkong pada Desember 1945. Menurut Aleh (93), beberapa pejuang Indonesia yang masih buta akan amunisi mesiu, melemparkan beberapa granat tanpa mencabutnya pin-nya terlebih dahulu. “Akibatnya granat dikembalikan oleh musuh dan meledak hingga menimbulkan korban yang banyak di pihak kita,” ungkap eks pejuang Hizbullah Bandung itu. Menjadi “korban granat” juga dialami oleh Soleh (92), seorang tukang dagang telur bebek. Suatu ketika seorang yang dikenalnya sangat baik di kota Bandung tetiba menitipkan sejumlah telur bebek yang sudah rapi tertata di keranjang kepadanya. Dia berpesan jika sudah sampai Majalaya, telur-telur itu harus diserahkan ke sebuah warung makan. Soleh tentu saja tidak keberatan membawa telur-telur bebek itu. Apalagi Si Penitip memberinya upah yang lumayan besar. Tanpa curiga dibawanya telur-telur itu hingga melewati beberapa pos penjagaan serdadu Inggris yang melewatkannya begitu saja. “Saya memang sering tak diperiksa oleh tentara-tentara itu karena selain saya memang sudah dikenal oleh mereka, beberapa tentara itu juga adalah langganan saya,” tutur Soleh. Bukan main terkejutnya Soleh setelah sampai di warung itu. Dia baru tahu bahwa di sela-sela telur tersebut ada sejumlah granat tangan yang sengaja dicat mirip warna telur. “Teu kabayang upami harita Abah digaradah ku Gurkha, tos pasti Abah tinggal ngaran ayeuna (Tidak terbayang jika saya saat itu diperiksa tentara Gurkha, sudah pasti saya tinggal nama saja sekarang),” ujarnya sambil terkekeh.

  • Kisah Penyintas Terlupakan di Perang Pasifik

    CAKRAWALA di atas Samudera Pasifik Selatan mulai gelap petang (16 Januari 1942) itu. Pilot Angkatan Laut Amerika Serikat Harold Dixon (diperankan Garret Dillahunt) masih sibuk dengan kompas dan peta di kokpit pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator-nya. Dia mulai kelimpungan mencari arah. Dixon terpaksa memerintahkan awak radionya, Gene Aldrich (Jake Abel), untuk membuka saluran radio ke USS Enterprise,  kapal induk basis mereka. Dengan misi mencari dan melenyapkan kapal selam Jepang sebagai bagian dari Skadron Torpedo VT-6, sebetulnya mereka dilarang membuka saluran radio ke markas demi menghindari radar musuh. Sial, upaya Aldrich membuka kontak ke USS Enterprise  hasilnya nihil. Alih-alih sambungan radio dari markas, Aldrich malah menangkap siaran radio Jepang. Buru-buru dia hentikan upayanya itu. Detik demi detik berlalu tanpa keberhasilan mendapatkan arah, Dixon memerintahkan kru pembom Tony Pastula (Tom Felton) untuk membuang torpedo demi mengurangi beban dan menghemat bahan bakar. Tetap saja harapan Dixon untuk menemukan arah kembali ke kapal induk nihil. Dixon pun memerintahkan kedua krunya menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk menyintas. Dixon melakukannya lantaran memilih mendaratkan pesawatnya di air ketimbang jatuh kehabisan bahan bakar. Adegan mati-matian Harold Dixon, Tony Pastula, dan Gene Aldrich bertahan hidup di Samudera Pasifik Selatan (The American Film Company) Adegan itu membuka drama film perang bertajuk Against the Sun garapan sineas Brian Falk. Film yang mengangkat perjuangan tiga awak pesawat pembom torpedo yang terombang-ambing di lautan luas Samudera Pasifik Selatan itu mengambil setting waktu Perang Dunia II. Adegan lalu berganti ke adegan pesawat mereka mendarat darurat di air. Dixon yang bergegas keluar kokpit segera berkutat dengan kaleng CO2-nya (karbon dioksida) yang macet. Dia harus segera membukanya demi mengembangkan perahu karet darurat buat mereka menyelamatkan diri. Di dekat Dixon, Pastula dan Aldrich nyaris tenggelam bersama pesawat karena sabuk pengaman mereka macet. Kegigihan mereka akhirnya membuat mereka bisa keluar dari kokpit sebelum dibawa pesawat yang tenggelam dengan cepat. Namun, mereka mesti merelakan perlengkapan survival, termasuksuplai makanan dan air, yang ikut tenggelam bersama pesawat . Hanya kompas, tang, gulungan kabel, dan kantong air tanpa isi yang selamat. Perjuangan mereka yang terombang-ambing di Samudera Pasifik Selatan tanpa makanan dan air selama lebih dari sebulan di bawah terik matahari dan hujan badai pun dimulai. Bagaimana akhir perjuangan mereka, apakah berhasil ataukah gagal? Anda bisa saksikan sendiri Against the Sun di aplikasi daring Mola TV . Kisah Para Penyintas dari Pasifik Kisah yang dialami Dixon, Aldrich, dan Pastula bukan kejadian langka. Dalam Perang Pasifik, banyak pelaut dan penerbang AL Amerika mengalami kejadian serupa. Presiden Amerika ke-41, George Herbert Walker Bush, salah satunya. Ia terombang-ambing di lautan selama empat jam sebelum diselamatkan kapal selam Amerika USS Finback pada 1 Agustus 1944. Wajar bila kisah mereka banyak difilmkan. Oleh karena banyaknya film bertema itu, sutradara Brian Falk menyebut Against the Sun serupa tapi tak samajika dibandingkan dengan Lifeboat (1944) besutan Alfred Hitchcock, Unbroken (2014) garapan Angelina Jolie atau film-film bertema survival dalam Perang Pasifik lain. “Akan selalu ada perbandingan di antara film-film bertema penyintas dengan perahu penyelamat di lautan terbuka. Tentu saya menonton Lifeboat sebelum menggarap film ini. Lifeboat bagus tapi itu termasuk film noir sementara Against the Sun bukan seperti itu,” ujar Falk dalam wawancaranya dengan Jared Frederick yang dimuat di blognya, 26 Januari 2015. Untuk “mengalahkan” Unbroken, yang rilis lima hari sebelum Against the Sun dan mendapat perhatian khalayak lebih luas mengingat timpangnya ongkos produksi, Falk menyiasatinya dengan memilih tiga aktor utama yang solid demi memainkan tiga karakter asli dengan apik. Penyiasatan juga dilakukan denganpenggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) yang halus dan music scoring sentimentil apik dari komposer Petr Cikhart. “ Unbroken sedikit lebih mirip tetapi sayangnya bisnis film tidaklah berdasarkan garis start yang sama (ongkos produksi, red ). Jika orang menyukai Unbroken , mereka akan menyukai Against the Sun dan sebaliknya,” sambung Falk. Pesawat pembom torpedo Douglas TBD Devastator (atas) & sosok asli trio Harold Dixon (kanan), Tony Pastula (tengah) dan Gene Aldrich (Navy National Museum of Naval Aviation) Dari segi topik, kisah yang diusung Against the Sun dalam literatur-literatur sejarah tentang Perang Pasifik masih kalah kondang dibanding Unbroken atau USS Indianapolis: Men of Courage (2016) yang dibintangi aktor kawakan Nicolas Cage. Kendati dibayang-bayangi kisah-kisah yang lebih populer, pengalaman trio Dixon-Aldrich-Pastula sarat inspirasi. “Kisahnya saya dapat dari naskah yang sudah dirangkum penulis skenario Mark David Keegan. Dalam kisahnya terdapat semangat dari pepatah para pelaut: lautan tenang takkan menciptaskan pelaut handal. Idenya adalah mengangkat sifat dan karakter terbaik dari manusia itu sendiri saat menghadapi situasi terburuk dan buat saya, itu menarik untuk dieksplorasi,” imbuhnya. Sebagaimana misi rumah produksinya yang selalu ingin mengangkat kisah nyata yang terlupakan, Falk pun selalu berusaha mericek semua naskah hingga properti sesuai eranya. Ia dibantu konsultan sejarah Robert Cressman yang pakar sejarah Angkatan Laut Amerika di Perang Dunia II. Tujuannya agar bumbu dramanya tak jauh melenceng dari fakta kisah asli Dixon dan kedua anak buahnya. Namun, Anda mesti bersiap cepat bosan. Against the Sun minim adegan-adegan action seru sebagaimana Unbroken yang ber-budget 65 juta dolar atau USS Indianapolis yang berbiaya 40 juta dolar. Unbroken menyuguhkan sejumlah adegan pertempuran kolosal di angkasa. Pertempuran itu membuat tokoh utamanya, Louie Zamperini, terdampar 47 hari di lautan sebelum ditawan Jepang. Dua film bertema serupa: Unbroken  (kiri) & USS Indianapolis: Men of Courage  (IMDb) Sementara, USS Indianapolis hadirdengan aksi tokoh utama Kapten Charles McVay III yang menakhodai kapal penjelajah berat USS Indianapolis terdampar akibat diserang Jepang pascamisi mengantarkan bom atom. Serangan itu mengakibatkan 300 dari 1.100 awak USS Indianapolis yang selamat harus mati-matian bertahan hidup. Setelah tiga setengah hari terombang-ambing di lautan, mereka akhirnya diselamatkan. Against the Sun adalah melulu soal daya tahan fisik dan mental tiga manusia minim perlengkapan survival di lautan lepas. Bagaimana mereka saling bekerjasama, mengharap kemurahan Tuhan yang lantas datang dengan hujan deras pemberi persediaan air minum mereka, dan berbagai aksi lain yang membuat mereka survive menjadi pesan utama yang disampaikan film ini. Hanya dengan dua faktor itu, ditambah pertolongan Tuhan, mereka berjuang menghadapi bahaya yang datang bukan dari pasukan lawan namun dari keganasan alam. Yang pasti, bagaimana detail perjuangan mereka dan hasil akhir yang didapatkan merupakan pesan moril amat berharga bagi siapapun dalam mengarungi lautan kehidupan, kapan dan di manapun. Data Film: Judul: Against the Sun | Sutradara: Brian Falk | Produser: Brian Falk, Kurt Graver, Mark Moran | Pemain: Garret Dillahunt, Tom Felton, Jake Abel | Produksi: American Film Company | Distributor: Goldcrest Films NYC | Genre: Drama Perang | Durasi: 99 menit | Rilis: 22 November 2014, 2020 (Mola TV)

  • CIA, PRRI, dan PSI

    SUATU hari pada Mei 1957, Sumitro Djojohadikusumo menemui Sutan Sjahrir, ketua umum Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan mantan perdana menteri, di kediamannya di Jalan Jawa, Jakarta. Dia mengungkapkan niatnya untuk bergabung dengan gerakan di daerah. Saat itu, dia giat mendorong otonomi daerah. Sejak menjadi menteri keuangan (1952–1953), dia telah merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah.

  • Harem, antara Fantasi Erotis dan Kenyataan

    Dua perempuan, yang satu telanjang, yang satu setengah telanjang, tengah bersantai di sebuah permandian mewah bergaya Timur Tengah. Seorang pelayan berkulit gelap dengan pakaian menutupi seluruh tubuhnya berbicara kepada mereka. Masing-masing kedua tangannya membawa satu pipa hookah. Di belakang ketiganya terletak kolam permandian. Lima perempuan telanjang lainnya sedang bersantai di tepian kolam itu.  Adegan itu dituangkan Jean Leon Gerome (1824–1904), seniman orientalis dari Paris, dalam lukisannya yang berjudul “Pool in a Harem” pada sekira 1876. Gerome adalah salah satu dari seniman abad ke-19 yang kerap mengangkat tema negeri Timur dalam karyanya, khususnya kehidupan di dalam harem.  Sebagaimana lukisan Gerome, dalam imajinasi orang Barat, harem adalah rumah berisi banyak perempuan yang dikumpulkan dari banyak negeri oleh lelaki yang berkuasa. Harem difantasikan berisi perempuan-perempuan telanjang yang ada untuk memuaskan tuan penguasa.  Menurut Wendy M.K. Shaw, profesor sejarah seni budaya Islam di Free University, Berlin, dalam tulisannya di   Al - Jazeera , penggambaran harem semacam ini hanyalah imajinasi orientalis Barat atas dunia Timur. Itu pun baru berkembang pada sekira abad ke-19. Fantasi Erotis Shaw berpendapat, fantasi sensual orang Barat tentang harem terpicu setelah karya 1001 Malam diperkenalkan kepada orang-orang Eropa pada sekira awal abad ke-18. Orang yang bertanggung jawab adalah Antoine Galland, orientalis asal Prancis, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis. Karya ini terbit pertama kali pada 1704. Ditambah kemudian pada 1798 pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte menyerbu dan menduduki Mesir hingga 1801. Sebagaimana disebut Jennifer Meagher, senior kataloger di Departement of European Paintings, The Metropolitan Museum of Art, di New York, Amerika Serikat, bahwa kehadiran orang Eropa di Mesir pun menarik para pelancong Barat ke wilayah Timur Dekat hingga Tengah. “Banyak di antara mereka yang menuangkan kesan mereka ke dalam karya seni,” tulis Meagher dalam “Orientalism in Nieteenth-Century Art” di Heilbrunn   Timeline   of   Art   History . Baca juga:  Memahami Sejarah lewat Lukisan Pada 1809, pemerintah Prancis juga menerbitkan jilid pertama dari 24 volume Description   de   l’Égypte  (1809–22). Karya ini menggambarkan topografi, arsitektur, monumen, kehidupan alam, dan populasi Mesir. Menurut Meagher, Description   de   l'Égypte  merupakan yang paling berpengaruh dari banyak karya lainnya yang mendokumentasikan budaya Mesir.  “[ Description   de   l'Égypte ] membawa pengaruh yang mendalam pada arsitektur Prancis dan seni dekoratif periode itu, sebagaimana dibuktikan dalam dominasi motif Mesir di gaya kekaisaran,” jelas Meagher. Sementara banyak orang Eropa mengandalkan catatan perjalanan dan literatur resmi seperti Description   de   l'Égypte  dalam membangun kesan terhadap dunia Timur, para seniman justru melakukan satu atau lebih perjalanan ke wilayah tersebut. Mereka di antaranya Eugene Delacroix (1798–1863), Jean-Léon Gérôme (1824–1904), Théodore Chassériau (1819–1856), Alexandre-Gabriel Decamps (1803–1860), dan William Holman Hunt (1827–1910).  “Lukisan orientalis pada abad ke-19 sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung seniman dalam kehidupan sehari-hari di kota dan permukiman di Timur Dekat,” tulis Meagher. Baca juga:  Kisah Aneh tentang Turki Usmani di Nusantara Penggambaran tentang harem termasuk dalam beberapa adegan yang paling populer. Namun soal ini, kata Meagher, seniman pria sangat bergantung pada desas-desus dan imajinasi. Mereka mengisi interior harem dalam kanvas dengan dekorasi mewah, juga budak atau selir perempuan, yang berwajah orang Eropa, tengah berbaring telanjang atau dalam balutan pakaian bergaya Timur. Misalnya, lukisan karya pelukis Prancis, Jean Auguste Dominique Ingres (1780–1867), berjudul “The Turkish Bath”. Di sana ia menggambarkan suasana permandian dengan banyak perempuan telanjang. Ada yang sedang bermain musik, menari, dan berbaring. Semuanya lebih mirip perempuan Eropa alih-alih orang Timur Tengah. Baca juga:  Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani Dalam menciptakan karyanya itu, Ingres bahkan tak pernah melakukan perjalanan ke Timur. “Ia menggunakan latar harem untuk menuangkan angan-angan erotisnya,” jelas Meagher. Pada masa berikutnya banyak pelukis dan novelis orientalis mengembangkan repertoar harem yang lebih fantastis lagi. Ini makin meningkat terutama dengan erotisasi tari perut yang ditampilkan dalam Pameran Dunia (Exposition Universelle) di Paris pada 1889. Harem di dalam Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (MehmetO/Shutterstcok). Propaganda Imperialisme Menurut Laurel Ma, sejarawan University of Pennsylvania, penggambaran harem dalam seni lukis orientalis perlu ditelusuri. Khususnya dalam dunia Islam, lingkungan harem sangat terlarang bagi orang asing, terlebih jika itu laki-laki.  “Istilah harem berasal dari kata Arab yang dilafalkan haram, yang berarti terlarang atau suci,” tulis Laurel Ma dalam “The Real and Imaginary Harem: Assessing Delacroix’s Women of Algiers as an Imperialist Apparatus”, termuat dalam  Penn   History   Review .  Meagher menyebut ada maksud terselubung di balik lukisan orientalis pada awal abad ke-19. Itu dimaksudkan sebagai propaganda untuk mendukung imperialisme Prancis. Lukisan itu sengaja menggambarkan dunia Timur sebagai tempat terbelakang, barbar, di mana pelanggaran hukum kerap terjadi, yang kemudian oleh Prancis berhasil dicerahkan dan dijinakkan. Baca juga:  Kolonialisme Hancurkan Kedudukan Perempuan Sementara itu, Ma berpendapat, ada dua mitos yang saling menguatkan tentang harem. Pertama adalah versi harem sebagai tempat mewah di istana Turki di mana sejumlah besar selir dan budak wanita dengan cemas menunggu kembalinya tuan atau suami mereka, yakni sultan. Kedua adalah penjara di rumah tangga muslim di mana wanita tunduk pada kendali mutlak suaminya yang bertentangan dengan keinginan mereka. Mitos ini tidak hanya diterapkan pada lingkungan domestik muslim, tetapi juga kepada perempuan yang mengenakan cadar. Kebiasaan itu dipahami dan disebarluaskan oleh orang Eropa sebagai simbol penindasan di bawah suami dan masyarakat tirani mereka.  “Definisi harem bermasalah karena lebih mencerminkan fantasi seksual orang Eropa tentang perempuan Timur daripada realitas domestik yang seharusnya digambarkannya di wilayah itu,” tulis Ma. Interior di dalam Harem Istana Topkapi, Istanbul, Turki. (Tolgaildun/Shutterstock) Peran Penting dalam Politik Kenyataannya, para perempuan di harem memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur sultan atau suami secara umum. Beberapa bahkan memiliki andil dalam perpolitikan Kekaisaran Ottoman yang kuat.  Sejak 1299 hingga 1920, harem sultan Ottoman terdiri dari istri, pelayan, kerabat perempuan sultan, dan selir. Murat Iyigun menjelaskan, di kesultanan itu, harem memegang otoritas politik yang cukup besar, terutama selama periode yang dikenal sebagai “Kesultanan Wanita”, yakni sekira 1533–1656. Masa ini kemudian membawa harem kepada kekuasaan yang lebih besar dari sebelumnya.  Baca juga:  Para Sultanah di Kesultanan Aceh “Anggota harem dengan latar belakang etnis atau agama yang berbeda sering melobi sultan untuk mempengaruhi penaklukkan Ottoman,” tulis Murat dalam “Lessons from the Ottoman Harem on Culture, Religion, and Wars”, termuat dalam Economic   Development   and   Cultural   Change . Adapun Kekaisaran Ottoman memiliki pengaruh besar di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara. Itu pada puncak kekuasaannya, yakni antara 1453 dan 1699. Lingkungan harem Istana Topkapi di Istanbul, Turki. (Shyshko Oleksandr/Shutterstock). Ruang Privat dalam Rumah Tangga Bagaimanapun, kata Shaw, harem sebenarnya hanyalah bagian pribadi dari sebuah rumah tangga. Misalnya, seperti juga ditulis dalam dailysabah , pada setiap rumah orang Turki, baik di desa maupun di kota biasanya memiliki dua bagian, harem dan selamlik . Harem adalah bagian dari sebuah rumah yang diperuntukkan bagi perempuan, dan hanya kerabat laki-laki yang diizinkan masuk. Selamlik , sebaliknya, adalah tempat para tamu laki-laki dijamu. Seperti rumah tangga mana pun, bangsawan atau bukan, harem adalah ruang pendidikan, dan perempuan dari berbagai status sosial mempelajari tugas-tugas dasar rumah tangga, membaca, dan mempelajari al-Quran. Untuk perempuan di kalangan elite, mereka biasanya berpartisipasi dalam lingkungan sosial budaya yang mencakup pembacaan puisi hingga urusan administrasi warisan dan properti. Baca juga:  Perempuan-Perempuan Bersenjata Harem menjadi ruang bagi perempuan untuk mendapat akses yang sama ke pendidikan dan partisipasi publik. “Harem bukanlah seperti yang Anda pikirkan. Itu hanyalah bagian pribadi dari rumah tangga yang cukup besar, untuk membedakan antara tempat pribadi dan umum,” tulis Shaw.  Sementata di balik erotisme para seniman orientalis, adegan tentang harem juga membangkitkan rasa keindahan banyak orang Barat. Cita rasa seni budaya Timur dalam motif arsitektur, furnitur, seni dekoratif, dan tekstil, selanjutnya semakin banyak dicari oleh kalangan elite Eropa.

  • Cerita Impor Kedelai di Indonesia

    Masyarakat Indonesia mendapat kejutan pada awal tahun baru 2021. Tempe dan tahu menghilang dari pasaran. Musababnya pembuat tempe dan tahu kesulitan mengolah kacang kedelai. Harga kedelai impor naik pesat. Padahal lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai Indonesia berasal dari impor. Belakangan, pembuat tempe dan tahu mulai berproduksi kembali. Tapi harga tempe dan tahu naik. Harga kedelai naik pesat bukanlah cerita baru. Sejarah menunjukkan Indonesia sulit lepas dari ketergantungan impor kedelai. Impor ini telah bermula sejak masa Hindia Belanda. Menurut William Shurtleff dan Akiko Aoyagi dalam History of Tempeh and Tempeh Products (1815–2011), Hindia Belanda menjadi salah satu pengimpor besar kedelai di dunia pada 1920-an. “Setiap tahun, Jawa membutuhkan jumlah kedelai yang cukup banyak. Sekitar setengahnya berasal dari impor,” ungkap Shurtleff dan Aoyagi, mengutip catatan D.F. Blokhuis dalam Over de Beteekenis van de Sojaboon als Handelsproduct (Arti Pentingnya Kacang Kedelai Secara Komersial Sebagai Komoditas) terbitan 1932. Jumlah impornya mencapai 200 ribu ton untuk kebutuhan 35 juta penduduk. Dari 200 ribu ton kedelai impor, 95 ribu ton lebih berasal dari Manchuria. Kedelai impor itu digunakan untuk membuat tempe, tahu, dan kecap. Blokhuis menyebut sebenarnya kedelai lokal sama cocoknya untuk digunakan sebagai bahan utama pembuatan tiga jenis makanan tersebut. “Tetapi para pembuat tempe dan tahu memilih menggunakan kedelai impor sebagai bahan utama pembuatan tempe dan tahu karena kedelai impor lebih memuaskan,” sebut Blokhuis. Ukuran kedelai impor lebih besar daripada kedelai lokal. Selain itu, pasokannya juga lebih stabil. Masa itu, pasokan kedelai lokal terbanyak di Hindia Belanda berada di Jawa Tengah dan Timur. Di sini para pembuat tempe dan tahu memilih kedelai lokal. Tapi di Jawa Barat justru kebalikannya. Sebab lahan kedelai di Jawa Barat lebih sedikit daripada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedikit lahan mengakibatkan sedikitnya produksi kedelai. Buntutnya pasokan tak stabil dan kurang. Karena itulah, kedelai impor sangat laku di Jawa Barat. Memasuki masa kemerdekaan, impor kedelai menurun. Saat bersamaan, kebutuhan terhadap kedelai juga stagnan. Masa-masa setelahnya sampai era Demokrasi Terpimpin Sukarno, data produksi tempe sangat minim. Tak diketahui secara pasti berapa nilai impor dan produksi tempe dalam negeri ketika itu. Yang pasti, tempe saat itu termasuk menjadi menu andalan bersama jagung untuk Revolusi Menu yang dicanangkan Sukarno pada 1964. Sebab tempe telah dikenal memiliki kandungan protein tinggi. Bahkan Institut Teknologi Bandung memproduksi tempe dengan kandungan gizi lebih tinggi daripada telur. Data impor dan produksi tempe muncul kembali pada 1970-an. Menurut Anes Rachman dkk. dalam Ekonomi Kedelai di Indonesia, Indonesia mengimpor kembali kedelai pada 1972. Jumlahnya 183 ton. Relatif kecil dibandingkan dengan produksi dalam negeri yang mencapai 518.229 ton. Sementara kebutuhan kedelai saat itu berada pada angka 515.357 ton untuk 131 juta penduduk. Angka tersebut menunjukkan Indonesia surplus kedelai sehingga mampu mengekspor kedelai sebesar 3.055 ton. Tapi cerita manis ini berubah memasuki 1976. Nilai konsumsi kedelai Indonesia naik sedikit menjadi 692.969 ton. Begitu pula dengan produksi. Ada kenaikan menjadi 521.777. Tetapi kenaikan ini tak sebanding dengan kebutuhan. Defisit konsumsi tersebut tak tertutup oleh pembukaan keran impor kedelai secara besar-besaran. Tercatat saat itu nilai impor kedelai naik drastis hingga 171.746 ton. Anes Rachman mencatat, defisit tersebut terjadi karena beberapa hal seperti penurunan areal produksi, peningkatan jumlah penduduk, dan kelambanan perubahan teknologi. Karena itulah, pemerintah meminta Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk mengurangi defisit kebutuhan kedelai nasional. BULOG memegang monopoli impor kedelai dan harus menjaga harga kedelai lokal agar tetap bisa bersaing dengan kedelai impor. Untuk urusan ini, BULOG bekerja sama dengan Koperasi Pengusaha Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) yang berdiri sejak 1979. Radius Prawiro dalam Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi Pragmatisme dalam Aksi menyebut BULOG mencatat peran penting dalam swasembada beras di Indonesia pada 1980-an. Tetapi dalam kasus kedelai, BULOG tak berperan banyak.Beberapa program BULOG yang sukses diterapkan dalam program swasembada beras seperti Bimbingan Masyarakat, gagal pada ranah kedelai. Dalam urusan penentuan harga kedelai pun, BULOG tak berdaya menghadapi tekanan hukum permintaan dan penawaran. “Harga komoditas kedelai hampir tidak tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Harga kedelai sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, yang tergantung pada permintaan dan penawaran ( demand and supply ),” catat Tahlim Sudaryanto dan Dewa K.S. Swastika dalam “Ekonomi Kedelai di Indonesia” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Kondisi tersebut membuat harga kedelai impor selalu lebih rendah daripada kedelai lokal. Petani menjadi tak begitu tertarik untuk memproduksi lebih banyak kedelai. Sebab, tak banyak untung dari memanen kedelai. Mereka lebih memilih menanam jagung karena harganya lebih kompetitif dan menguntungkan. Sementara itu, angka perbandingan pertumbuhan produksi dan konsumsi kedelai sepanjang dekade 1970–1990 juga jomplang. Angka konsumsi selalu lebih tinggi daripada angka produksi. Tahlim Sudaryanto mengungkapkan tingkat produksi kedelai Indonesia sebenarnya pernah mengalami penurunan beberapa kali sejak 1992 hingga puncaknya pada 1998. Tetapi penurunan konsumsi itu terjadi karena penurunan ketersediaan kedelai impor. “Turunnya volume impor kedelai secara otomatis menurunkan volume persediaan (penawaran) dalam negeri. Konsumsi pun menyesuaikan dengan ketersediaan kedelai di dalam negeri,” ungkap Tahlim. Untuk mengatasi itu, pemerintah mengakhiri monopoli impor kedelai di tangan BULOG pada 1998. Sejak itulah, swasta ikut berperan dalam menentukan tinggi rendahnya jumlah impor kedelai. Produksi kedelai nasional tak kunjung mampu mencukupi kebutuhan kedelai. Sejak itulah pemerintah menerapkan bea impor nol persen. Kebijakan liberalisasi ini membuat kedelai impor kian membanjiri Indonesia. Sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Kemudian pada 2004, pemerintah menghapus subsidi dan kredit lunak untuk palawija termasuk kedelai. “Menyebabkan biaya produksi kedelai di dalam negeri meningkat, sehingga daya saing usaha tani kedelai semakin lemah,” tulis Dewa K.S. Swastika dkk. dalam “Perdagangan Internasional Kedelai” termuat dalam Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangan. Hingga hari ini, Indonesia masih terbelit lingkaran setan produksi kedelai nasional.

  • Puisi Cinta Soe Hok Gie

    ALMARHUM Rudy Badil pernah bercerita. Suatu hari Soe Hok Gie mengajak seorang adik kelas yang dia pacari untuk berkemah di Mandalawangi (sebuah lembah di bawah puncak Gunung Pangrango) bersama kawan-kawan Soe Hok Gie lainnya. Sebagai sahabat, Rudy tentu saja gembira. Dia kemudian “mengondisikan” agar Soe Hok Gie bisa terus berdua-dua-an dengan  sang kekasihnya tersebut, termasuk mengupayakan agar mereka berada dalam satu tenda saat malam tiba. Semua kawan-kawan Soe Hok Gie mendukung ide Rudy itu. Paginya Rudy langsung menarik Soe Hok Gie ke tempat agak sepi. Sambil tersenyum nakal, Rudy menanyakan apa yang dilakukan Soe Hok Gie bersama sang pacar selama tidur setenda tadi malam. Soe Hok Gie menatap Rudy sembari tersenyum kecil. “ Enggak ada , gue   enggak  melakukan apapun selain tidur,” jawab Soe Hok Gie. “Jadi lu kagak  apa-apain dia? Lu  cium , gitu ?” tanya Rudy dalam nada kaget. “Ya enggaklah , gue aja  tidurnya agak jauh-jauhan dari dia.” Pada akhirnya Rudy mafhum, Soe Hok Gie bukanlah lelaki kebanyakan. Kendati dia seorang yang sangat galak saat mengeritik kekuasaan dan nekat ketika menjadi seorang demonstran (dia pernah membaringkan diri di hadapan tank baja yang sedang melaju dalam suatu demonstrasi menentang Presiden Sukarno), namun mengenai cinta, dia benar-benar seorang pemalu dan agak puritan. Rudy yakin Soe Hok Gie memang mencintai perempuan itu. Begitu juga sebaliknya. Namun bagi lelaki Tinghoa tersebut, cinta bukanlah soal saling membutuhkan namun lebih dari itu: ada  saling pengertian, tanggungjawab dan kemerdekaan menyatakan keinginan, termasuk keinginan untuk mencintai itu sendiri. Soal terakhir itu memang menjadi masalah buat Soe Hok Gie, mengingat hubungan mereka yang tak direstui orangtua sang gadis. “Mereka selalu dihalangi untuk bertemu,” kenang Arief Budiman (kakak Soe Hok Gie) dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demosntran  (catatan harian Soe Hok Gie). Soe Hok Gie bukannya tidak berupaya meyakinkan orangtua sang gadis. Menurut Arief, sudah beberapa kali Soe Hok Gie bicara dengan ayahnya, seorang pengusaha kaya di Jakarta. Sebagai seorang yang tidak setuju dengan berbagai ketidakberesan di Indonesia saat itu, ayah sang gadis menyatakan kekagumannya kepada Soe Hok Gie yang selalu berani melakukan kritik di koran-koran terhadap para pejabat yang dianggap tidak benar. “Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar resikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya,” curhat Soe Hok Gie kepada Arief. Keresahan Soe Hok Gie semakin bertambah saat dia sendiri tak melihat ketegasan hati dari sang kekasih. Mungkin karena usianya masih muda dan sudah terbiasa hidup nyaman, sang kekasih tak memiliki keberanian untuk melawan pendirian orangtuanya itu. “Saya katakan bahwa soal ini soal berat, karena ia harus bertempur sendirian di rumah. Kalau ia tak berani bertempur untuk hal tadi maka soalnya menjadi sulit.  I can only give my support.  Kemungkinan kedua adalah kita memutuskan hubungan sebelum semuanya berkembang menjadi terlalu jauh,” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bertanggal 4 April 1969. Takdir memutuskan keduanya memilih mengkandaskan hubungan cinta mereka. Karena merasa sudah terlambat untuk menjadi “dua sahabat”, keduanya lantas sepakat untuk saling menjauhkan diri. “Si Gie pastinya sedih. Walau dia tak ngomong apa-apa ke gue , tapi gue tau  pada hari-hari itu dia sedih,” kenang Rudy. Soe Hok Gie bisa jadi tak memiliki kawan yang banyak untuk dia curhati. Namun dia memiliki buku harian yang senantiasa “setia mendengar keluhannya”. Pada awal April 1969, sejatinya Soe Hok Gie telah menulis Sebuah Tanya,  satu puisi yang menyatakan perasaan terakhirnya  untuk sang kekasih. akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. apakah kau masih berbicara selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku. (kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi. kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin) apakah kau masih membelaiku selembut dahulu ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat. (lampu-lampu berkerlipan di Jakarta yang sepi kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita) apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta (haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti seperti kabut pagi itu) manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru. “Soal ini telah lama saya sadari. Tetapi pada waktu itu datang sebagai kenyataan, rasanya pedih sekali. Tetapi saya tak menjadi emosional. Saya pikir, saya jauh lebih tenang dan dewasa,” tulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bertanggal 5-6 April 1969. Sejarah mencatat, keduanya memang tak pernah tersatukan. Soe Hok Gie meninggal di Puncak Mahameru pada 16 Desember 1969 sedangkan sang kekasih beberapa tahun kemudian menikah dengan lelaki lain dan tinggal di luar negeri hingga kini.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page