top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jenderal Orba Rasa Korea

    Akhir tahun 2023 lalu, film 12.12 The Day dirilis di Korea Selatan (Korsel). Kisahnya seputar para jenderal di sekitar Kudeta 12 Desember 1979 di Korea Selatan. Tiga tahun sebelumnya, Korsel juga merilis sebuah film tentang para jenderal mereka dalam The Man Standing Next (2020). Meski berbeda kisah, kedua film itu menggambarkan pula kenekatan para jenderal-jenderal Korsel.

  • Glorious Days of a Dutch Shipping Company

    THE LIGHTS in the house on Jalan Pegangsaan Timur No. 56 were fully lit on the night of December 2, 1957. Over a cloud of cigarette smoke, the leaders of the Functional Group argued about the plan to nationalize all Dutch companies in Indonesia. The order to confiscate Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), a Dutch-owned shipping company, was ready to be signed by all those present. However, the meeting was deadlocked. Through its representative, the cabinet didn't support the move.

  • Lika-liku Quick Count yang Krusial

    HASIL quick count jadi yang paling dinanti publik selepas Pemilihan Umum (Pemilu) pada Rabu (14/2/2024) lalu. Kendati penentuan pemenang resminya masih harus menunggu real count atau penghitungan manual dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), quick count tetap yang paling diandalkan. Selain lebih cepat, hasilnya juga takkan jauh berbeda dari penghitungan manual. Margin of error hitung cepat terbilang kecil jika dibandingkan dengan hitung manual resmi KPU. Pada Pemilu 2004, hitung cepat yang dilakoni Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) dan National Democratic Institute (NDI) menyuguhkan angka pasangan pemenang Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) sebanyak 62,2 persen, sementara hasil real count KPU berada di angka 60,62 persen. Pun pada Pemilu 2009 hingga 2019, di mana lebih banyak lembaga survei yang latah menggelar metode quick count, pun margin of error-nya juga tipis dari real count KPU. Adapun untuk Pemilu 2024 ini, untuk membandingkan lagi keakuratannya, masih menunggu hitung manual KPU pada medio Maret 2024 mendatang. Kendati begitu, berbagai lembaga survei rata-rata sudah menyajikan angka quick count untuk pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sudah di atas 55 persen, yang berarti menang telak satu putaran. Lantas, apa itu quick count? “Quick count adalah proses menghimpun informasi yang dikumpulkan oleh ratusan atau bahkan ribuan relawan. Semua informasi atau data berasal dari pengamatan langsung dalam proses pemilu. Para pengamat mengamati otoritas pemilu seiring mereka bertugas dalam proses pemungutan suara dan menghitung surat suara. Mereka merekam informasi, termasuk hasil riil pemungutan suara dengan berkas-berkas yang distandarisasi dan menyampaikan temuan-temuan mereka kepada pengumpulan (informasi) pusat,” tulis peneliti NDI Melissa Estok, Neil Nevitte, dan Glenn Cowan dalam The Quick Count and Election Observation: An NDI Guide for Civic Organizations and Political Parties. Baca juga:Electoral College dan Pilpres Amerika Quick count termasuk metode statistik dengan pengambilan data sampel, seperti halnya survei atau exit poll atau riset opini politik sebagian pemilik hak suara. Ia berbeda dari real count KPU, yang termasuk metode statistik dengan mengambil data sensus atau populasi total. Kendati begitu, quick count sama sekali berbeda dari survei atau exit poll karena metode quick count tidak mendasarkan pengumpulan datanya dengan bertanya kepada pemilik hak suara sebagaimana dua metode tadi. Oleh karenanya data yang terkumpul dan kemudian diolah dalam quick count bisa lebih cepat memberikan hasil, meski tidak imun terhadap manipulasi data statistik. “Statistik tidak pernah berbohong tapi yang bohong (adalah) orang yang pegang kendali pada data statistiknya,” kata Muhammad Fakhruddin, praktisi statistik cum dosen Universitas Negeri Jakarta, kepada Historia dalam salah satu kuliahnya. Baca juga: Buka-Tutup Sistem Pemilu Indonesia Dari Filipina ke Indonesia Adalah National Citizens’ Movement for Free Elections (NAMFREL), organisasi masyarakat pemantau pemilu Filipina, yang merintis penggunaan quick count di Pemilu 1986. NAMFREL yang didirikan Jose S. Concepcion Jr. pada 1983 merupakan suksesor yang meneruskan tongkat estafet organisasi serupa pada 1960-an, New Voters Registration Committee. Tujuan berdirinya NAMFREL sederhana, yakni memastikan hasil pemilu yang jujur dan adil, mengingat seringnya kecurangan pemilu di Filipina sejak 1960-an. Menjelang Peemilihan Presiden (Pilpres) 1986, Commission on Elections (Comelec) Filipina turut memberi akreditasi untuk NAMFREL guna membantu “Operation Quick Count” dengan memobilisasi 500 ribu relawan non-partisan. Pilpres 1986 itu menghadirkan masing-masing dua calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres). Mereka adalah petahana Ferdinand Marcos yang diusung Partai Pergerakan Masyarakat Baru (KBL) dan Corazon Aquino dari Partai UNIDO (Organisasi Nasionalis Demokratik Bersatu). Sedangkan di kontestasi cawapres, yang bertarung adalah Salvador Laurel dari Partai UNIDO dan Arturo Tolentino dari Partai KBL. Baca juga: Dinasti Marcos Kembali Masuk Istana Hari-H pemilu dibuka pada pukul 7 pagi 7 Februari 1986. Hasil yang dirilis Comelec menyatakan Marcos sang diktator sebagai pemenangnya dengan meraup 10.807.197 suara (53,62 persen), sedangkan Aquino di angka 9.291.761 suara (46,10 persen). Namun, hasil itu berbeda dari hasil yang dikeluarkan NAMFREL dengan metode quick count-nya. Kebalikan dari Comelec, NAMFREL justru menyuguhkan hasilnya memenangkan Aquino dengan 7.158.679 suara, sementara Marcos hanya 6.532.362 suara. Maria Corazon "Cory" Sumulong Cojuangco-Aquino (kiri) & Presiden Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr. (malacanang.gov.ph) Hasil itu mengindikasikan adanya dugaan manipulasi dan penggelembungan suara untuk petahana yang sudah 26 tahun mempertahankan rezimnya. Indikasi itu makin kuat lantaran dua hari pasca-pemilu, sejumlah teknisi komputer Comelec mengundurkan diri. “Dalam aksi mogok yang dramatis terhadap (dugaan) manipulasi dalam Pilpres Filipina, 30 operator computer-terminal dan data processor mengundurkan diri seiring hasil yang memenangkan Presiden Ferdinand E. Marcos. Mereka juga sampai mengungsi ke gereja Katolik terdekat, di mana sekitar 300 pendukung calon oposisi Corazon Aquino menjaga mereka,” tulis suratkabar LA Times edisi Februari 1986. Baca juga: Lima Walikota Jadi Gubernur dan Presiden Sejumlah perwakilan International Observer Delegation yang turut jadi pengamat juga menyatakan Pilpres 7 Februari 1986 itu tidak dilaksanakan secara jujur dan bebas karena tekanan dari Presiden Marcos. Mereka menyatakan deklarasi kemenangan Marcos tidak sah. Skandal itu lantas bereskalasi menjadi gejolak politik. Revolusi Kekuatan Rakyat yang berlangsung pada 22-25 Februari 1986 akhirnya melengserkan Marcos. Corazon Aquino yang ayahnya, senator Benigno Aquino Jr., dibunuh tiga tahun sebelumnya pasca-dipenjara rezim Marcos, akhirnya resmi dilantik menjadi Presiden Filipina ke-11 pada 25 Februari 1986. “Quick count juga berperan dalam plebisit Chile 1988 yang menolak perpanjangan masa jabatan Presiden (Jenderal Augusto) Pinochet dan mencegah manipulasi data Pemilu Panama 1989 oleh Presiden Manuel Noriega,” sambung Estok dkk. Baca juga: Cerita di Balik Pasangan SBY-JK di Pilpres 2004 Seiring waktu, metode quick count juga hadir di Indonesia. LP3ES yang merintis percobaannya pada Pemilu 1997, di Provinsi DKI Jakarta semata. Lantas pada Pemilu 1999, LP3ES mengujicobakannya lagi khusus di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal yang sama juga dilakukan Forum Rektor Indonesia (FRI) di seluruh wilayah dengan ratusan relawan mahasiswa. “Pada pemilu bebas pertama dalam sejarah Indonesia itu, quick count yang dilakukan FRI terbukti krusial. Pasalnya luasnya geografi dan terbatasnya infrastruktur di wilayah urban nyaris membuat kolaps mekanisme penghitungan suara,” tandasnya. Baca juga: Serba-serbi Politik Gentong Babi

  • Empat Pilpres Kontroversial Amerika

    FILM dokumenter Dirty Vote bikin geger perpolitikan Indonesia. Pasalnya film berdurasi 1 jam 57 menit itu dirilis tiga hari jelang Pemilu 2024 yang ditengarai rawan kecurangan. Digarap rumah produksi Watchdog dengan sutradaranya Dandhy Dwi Laksono, Dirty Vote menyajikan pendekatan eksplanatori dari tiga ahli hukum tata negara sebagai narasumbernya: Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti. Filmnya dirilis di tiga akun Youtube : Dirty Vote , PSHK Indonesia , dan Refly Harun sejak 11 Februari 2024. Dirty Vote tidak sekadar menyuarakan kekhawatiran akan potensi rusaknya tatanan demokrasi lewat penggunaan instrumen kekuasaan demi memenangi pemilu. Sedikit-banyak film ini juga menyuguhkan pendidikan politik bagi penontonnya, khususnya soal sistem pemilu. Pakar hukum Universitas Andalas Feri Amsari, misalnya, mengungkapkan bahwa kemenangan pemilu pemilihan presiden (pilpres) hanya bisa dicapai jika dalam sebaran wilayah, satu pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) bisa mendulang 50 persen plus 1 suara dari seluruh total suara, menang di 20 dari total 38 provinsi, serta menang lebih dari 20 persen suara di setiap provinsi. “Sebaran wilayah tentu saja sangat menentukan. Saya ingin mengambil contoh kasus Pemilu (pemilihan) Presiden Amerika di tahun 2016. Semua orang tahu bahwa dalam pemilu itu Hillary Clinton memenangkan suara terbanyak popular vote tetapi Hillary tidak menang di jumlah sebaran. Bandingkan dengan kemenangan sebaran wilayah yang didapat Donald Trump,” ungkap Feri. Baca juga: Joe Biden dan Pemimpin Gagap Pilpres Amerika Serikat (AS) memang unik. Sejak pertama kali digelar pada 1789, sistem kemenangan dalam pilpresnya diraih lewat electoral college atau suara elektoral. Pada praktiknya, setiap warga punya hak memilih lewat popular vote atau pencoblosan rakyat, tetapi penentuan pemenangnya tetap melalui suara elektoral. Di setiap masa, jumlah suara elektoral AS kian meningkat seiring masuknya koloni-koloni menjadi negara bagian di AS. Pada Pemilu terakhir di 2020, tercatat 538 total suara elektoral berdasarkan 435 wakil rakyat dan 100 senator dari 50 negara bagian plus tiga suara elektoral khusus dari ibukota Washington DC. Untuk bisa menang, seorang capres minimum harus meraup 270 suara elektoral. “Sebanyak 32 negara bagian menominasikan para pemilih (elektoral) lewat konvensi-konvensi negara bagian. Di lima negara bagian lain dan (Washington) District of Columbia, komite pusat masing-masing partai yang menominasikannya. Tiga (negara bagian) lainnya menerapkan aneka metode untuk memilih pemegang suaranya, di antaranya dengan memercayakan keputusannya kepada otoritas partai, nominasi dari gubernur lewat rekomendasi komite partai, serta melalui pemilu negara bagian,” tulis George C. Edwards III dalam Why the Electoral College Is Bad for America, Third Edition. Sebaran kemenangan suara elektoral Donald Trump di Pilpres Amerika 2016 (Tangkapan Layar Youtube Dirty Vote) Jika dalam popular vote pemilihnya adalah setiap warga negara, lantas siapa pemegang hak pemilih dalam suara elektoralnya? “Konstitusi menyatakan bahwa pemilik suara elektoral (yang dinominasikan) tidak boleh berasal dari kalangan senator, wakil rakyat, atau pejabat di dalam pemerintahan. Para pendiri bangsa ingin mencegah anggota kongres dan pejabat federal memiliki peran dalam memilih presiden –setidaknya dalam fase awal pemilihan, untuk menghindari suap dan intrik-intrik tertentu yang memengaruhi hasilnya,” lanjutnya. Menariknya, dari 59 pilpres hingga 2020, tercatat ada empat pilpres di mana seorang capres yang kalah dalam popular vote bisa menang dalam suara elektoral hingga akhirnya menjadi presiden terpilih. Berikut empat pilpres kontroversial AS: Baca juga: Presiden Amerika Mengintip Jeroan Lawan Politik Pilpres 1876 Pilpres 1876 dengan mempertemukan Rutherford B. Hayes (Republik) melawan Samuel J. Tilden (Demokrat) menjadi kasus pertamanya. Kendati Tilden unggul dengan 4,2 juta suara popular vote (41,4 persen), Hayes yang memenangi 185 dari 369 suara elektoral. Dia pun menjadi presiden Amerika ke-19. Tilden sempat protes lantaran menuding adanya manipulasi dan kecurangan. Terlebih Hayes menang tepat di ambang batas suara elektoral (185), sementara Tilden hanya mendapatkan 184 suara elektoral. “Di negara bagian Oregon terdapat satu suara elektoral yang dinyatakan tidak sah oleh Gubernur La Fayette Grover. Ia mengklaim salah satu pemilik suara elektoral, John Watts, dianggap tidak sah karena Watts masih menduduki sebuah jabatan federal,” ungkap Andrews E. Benjamin dalam History of the United States. Baca juga: Enam Pelaut Amerika yang Menjadi Presiden Ending pilpres paling kontroversial dalam sejarah Amerika itu diselesaikan dengan kompromi demi mencegah konflik seperti Perang Saudara (1861-1865). Lewat Kompromi 1877, komisi elektoral “memaksa” pihak Demokrat menerima hasil pilpres dengan “imbalan” penarikan pasukan federal dari negara bagian South Carolina dan Louisiana yang diduduki sejak berakhirnya Perang Saudara. “Saya bisa pensiun dari kehidupan publik dengan kesadaran bahwa saya akan menerima pengakuan telah memenangkan posisi tertinggi yang diberikan rakyat tanpa hak dan kewajiban dalam pemerintahan,” tukas Tilden dikutip Aaron T. Walter dalam Dirty, Rotten, Scandalous: U.S. Presidential Elections Throughout History. Pilpres 1888 Pada Pilpres 1888, petahana Grover Cleveland (Demokrat) meraup 5,5 juta popular vote (48,6 persen) dan 168 suara elektoral. Tetapi yang terpilih jadi presiden justru Benjamin Harrison (Republik) yang mengantongi 5,4 juta suara (47,8 persen) dan meraup 233 dari 401 suara elektoral. “Pilpres 1888 merupakan salah satu persaingan (capres) paling ketat dalam sejarah Amerika. Juga salah satu pilpres yang paling kotor dalam kampanyenya,” tulis Larry Sabato dan Howard R. Ernst dalam Encyclopedia of American Political Parties and Elections. Baca juga: Kala Presiden Amerika Terpapar Virus Influenza Dikatakan kotor karena Partai Republik menggencarkan kampanye negatif bahwa Cleveland adalah pengecut karena tidak pernah berperan dalam Perang Saudara. Kampanye hitam lainnya adalah digembar-gemborkannya opini duta besar Inggris yang memihak Cleveland via suratkabar-suratkabar. Kala itu sentimen anti-Inggris sebagian masyarakat Amerika masih kuat gegara isu perdagangan bebas. “Hal terburuknya adalah Cleveland tak mampu mengusung kampanye kontra narasi yang efektif. Wakil presidennya, Allen Thurman pun tak sanggup total ikut berkampanye karena masalah kesehatan,” imbuh Sabato dan Ernst. Pilpres 2000 Dalam Pilpres 2000, Partai Republik diwakili capres George W. Bush. Sementara, Demokrat mengusung Al Gore. Mereka saling berebut 538 suara elektoral (minimum 270 suara elektoral). Dalam kontestasi yang begitu ketat, Al Gore mengantongi nyaris 51 juta suara (48,4 persen) tapi hanya meraup 266 suara elektoral. Sedangkan Bush mendapatkan 50,5 juta suara (47,9 persen) namun mengantongi 271 suara elektoral. Dari 50 “medan pertempuran”, penentuan pemenangnya jatuh pada negara bagian Florida dengan 25 suara elektoral. Bush dinyatakan komisi pemilihan Florida sebagai pemenangnya lewat penghitungan ulang. Gore pun menggugatnya ke meja hijau karena menganggap ada puluhan ribu surat yang tak terbaca di mesin suara. Akan tetapi gugatan Gore untuk melakukan penghitungan ulang ditolak Mahkamah Agung. Baca juga: Obituari George Bush Sr. Pilpres 2016 Hillary Clinton sejatinya unggul dalam popular vote sebanyak 65,8 juta (48,2 persen), namun capres Demokrat itu hanya mengantongi 227 suara elektoral. Sebaliknya, capres Republik Donald Trump dalam hal sebarannya memenangi 304 dari 538 suara elektoral meski hanya meraup 63 juta popular vote (46,1 persen) namun. Kemenangan Trump itu mengejutkan banyak pihak lantaran Trump cenderung rasis terhadap golongan-golongan minoritas dalam sejumlah kampanyenya. Maka protes anti-Trump pun meledak di mana-mana. Trump kemudian juga didera isu pelecehan seksual. “Donald Trump melanggar hampir semua aturan dalam politik untuk memenangkan nominasi capres Republik. Disusul kemenangan yang mengejutkan semua orang dari Hillary Clinton dalam pilpres,” ungkap Larry J. Sabato, Kyle Kondik, dan Geoffrey Skelley dalam Trumped: The 2016 Election That Broke All the Rules. Baca juga: Trump

  • Teror dari Asia

    SEWAKTU dalam perjalanan ke New York untuk menjalani tugas barunya sebagai kepala Perwakilan Tetap RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ali Sastroamidjojo menyempatkan diri mampir ke Kairo pada awal Juni 1957. Dia hendak menyambangi Gamal Abdel Nasser, presiden Mesir.

  • Patriot Pantjasila Mengamuk di Samarinda

    BULAN Desember 1950 menjadi bulan yang tidak menyenangkan di kota Samarinda dan sekitarnya. Sebuah gerombolan bersenjata, yang menamakan diri Patriot Pantjasila, beraksi di sana. Aksi-aksi mereka menjadi bahan pemberitaan koran-koran di Indonesia, termasuk yang berbahasa Belanda. Kelompok bersenjata itu dengan berani mengincar aparat bersenjata. Java-Bode tanggal 9 Desember 1950 memberitakan Patriot Pantjasila antara malam tanggal 3 Desember ke dinihari  4 Desember 1950 menyergap aparat yang sedang berpatroli. Di tempat yang sama, aparat lain juga mereka culik. Dalam semalam setidaknya mereka telah menculik tiga aparat pemerintah RI. Keesokan harinya, 4 Desember 1950, seorang prajurit intelijen militer dan seorang prajurit infanteri dikabarkan hilang. Aksi tersebut tidak berhenti di situ. Malam tanggal 5 Desember 1950, nyali Patriot Pantjasila membesar. Sekitar 10 anggota Patriot Pantjasila dengan berani menyerang sebuah barak polisi di Samarinda. Setelah pertempuran singkat di barak polisi itu, gerombolan Patriot Pantjasila mundur. Tak ada korban jiwa di pihak polisi. Baca juga:  Sejarah Nusantara Bermula di Kutai Kartanegara Menurut koran De Locomotief (16 Desember 1950) dan Indische Courant voor Nederland (23 Desember 1950), Patriot Pantjasila mulai beraksi pada 20 November 1950. Mereka berambisi melawan prostitusi, perjudian, dan melawan mata-mata Belanda. Patriot Pantjasila tampak menginginkan keadaan yang berbeda dari yang ada. Mereka ingin sistem swapraja (pemerintahan terdiri), seperti yang ada dalam Kesultanan Kutai, dihapuskan. Pusat Kesultanan Kutai terletak di Tenggarong, sekitar 30 km dari Samarinda. Sultan Kutai kala itu adalah Sultan Parikesit, yang antara 1945 hingga 1949 tidak bersikap keras dalam melawan otoritas NICA. Selain menolak swapraja, Patriot Pantjasila menginginkan didirikannya sebuah koperasi. Upaya mengajak kelompok Patriot Pantjasila untuk berunding dilakukan pemerintah sekitar 12 Desember 1950. Namun, mereka tak pernah datang. Baca juga:  Kutai Kartanagara pada Zaman Kuno Pada 14 Desember 1950, Patriot Pantjasila  menyerang pos polisi di dekat pelabuhan. Sekitar minggu ketiga bulan Desember 1950 mereka membawa pergi perahu motor milik sultan Kutai, yang di zaman Hindia Belanda termasuk sultan terkaya di Indonesia. Tak hanya perahu saja yang dibawa gerombolan. Camat Tenggarong bernama Mas Patih dan dua polisi juga dibawa kelompok Patriot Pantjasila. Perahu tersebut lalu ditemukan di Muara Muntai oleh pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI, kini TNI).  Jarak Muara Muntai sekitar 89 km dari Tenggarong atau sekitar 120 km dari Samarinda. Di Muara Muntai itu, baku tembak antara APRI dengan gerombolan Patriot Pantjasila juga terjadi. Pengejaran Patriot Pantjasila terus lalu dilanjutkan. Namun, sekitar 20 Desember 1950 keadaan Samarinda sudah dianggap aman. Penyebabnya antara antara lain anggota Patriot Pantjasila ada yang rela berhenti. “Jam malam di Samarinda telah dicabut sejak 12 Januari, keamanan di kota telah kembali, karena masalah ‘Patriot Pantjasila’ telah teratasi,” demikian Indische Courant voor Nederland 24 Jan 1951 memberitakan. Baca juga:  Kutai Kartanegara di Era Hindia Belanda Beberapa anggota Patriot Pantjasila telah ditahan pada Desember 1950. Namun penahanan itu hanya sebentar. Sebab, sebelum tahun baru 1951, mereka sudah melarikan diri. Koran De Nieuwsgier edisi 02 Januari 1951 memberitakan bahwa Jumat malam 29 Desember 1950, 16 tahanan dari Penjara Samarinda melarikan diri. Dari 16 pelarian itu, 11 di antaranya adalah anggota Patriot Pantjasila. Seperti kebiasaan sebelumnya, mereka lari dengan membawa aparat yang mereka temui. Mereka diperkirakan kabur ke pedalaman Kalimantan Timur, tempat teraman untuk bersembunyi kelompok tersebut. Beberapa tahun kemudian, di Banjarmasin terjadi penangkapan anggota Patriot Pantjasila. Indische Courant voor Nederland tanggal 23 Januari 1954 menyebut ada laporan bahwa pemimpin Patriot Pantjasila bernama Idjuh tertangkap di ibukota Kalimantan Selatan itu. Dalam penangkapan itu, beberapa anggota kelompok tersebut ada yang kabur namun di antaranya tertembak. Laporan itu menyebut bahwa polisi menyita senjata api dan granat. Istri Idjuh juga diamankan.*

  • Memilih dengan Menulis atau Mencoblos

    PEMILIHAN umum nasional pertama di Indonesia diselenggarakan pada 29 September 1955untuk memilih anggota DPR dan 15 Desember 1955 memilih anggota Konstituante. Proses pemilihannya tak berbeda dengan pemilu di masa kini.Para pemilih yang telah menerima surat suara akan diarahkan ke bilik suara untuk memilih salah satu tanda gambar dalam surat suara. Yang menarik, selain melubangi atau mencoblos tanda gambar, pemilih juga dapat memberi tanda dengan menulis nama calon pilihannya. Surat suara dianggap sah apabila pemilih menulis nama atau nomor urut calon dengan jelas. Hal ini agar nama calon yang ditulis dapat ditemukan dalam daftar calon tetap saat proses penghitungan suara.Sedangkan penulisan nomor urut digunakan sebagai pedoman mencari nama calon tersebut dalam daftar calon tetap. Tak hanya itu, surat suara juga dianggap sah bila pemilih menulis nama atau nomor urut calon sesuai dengan daftar calon tetapdi dalam ruangan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, untuk membantu pemilih menentukan calon yang diinginkan, di dalam bilik suara ditempelkan kertas besar berisi tanda gambar, nama, dan nomor urut calon dari setiap partai. Selain itu, bila pemilih hanya menulis nama calon, tetapi tidak menulis atau salah menulis nomor urutnya, maka surat suara itu masih dianggap sah selama nama calon tersebut tertera di daftar calon tetap. Walaupun cara memilih dengan menulis nama atau nomor urut calon diperbolehkan oleh Panitia Pemilihan Indonesia, namun tata cara memilih seperti ini tidak populer di kalangan pemilih. Penyebab utamanya karena masih banyak pemilih yang tidak dapat membaca sehingga kesulitan mencari nama calon di dalam surat suara. Menurut Faishal Hilmy Maulida dalam Sejarah Pemilu yang Dihilangkan , maka tak heran bila mencoblos tanda gambar partai yang tertera di surat suara menjadi lebih populer digunakan dibanding menulis nama atau nomor urut calon karena cara ini paling mudahdilakukan, termasuk bagi orang buta huruf. Baca juga:  Manuver Politik Jelang Pemilu 1955 Seperti tata cara memilih dengan menulis nama atau nomor urut calon, proses pemungutan suara dengan mencoblos juga memiliki persyaratan agar surat suara dianggap sah.Di antaranya pemilih hanya diperkenankan mencoblos satu tanda gambar. Surat suara punmasih dinyatakan sah bila pemilih tidak mencoblos tepat pada tanda gambar, melainkan di bagian sampingnya tetapi masih di dalam kotak tanda gambarnya. Sementara itu, surat suara dianggap tidak sah bila pemilih mencoblos tepat pada garis kotak tanda gambar. Surat suara juga dianggap tidak sah bila di dalamnya terdapat tulisan (berupa paraf, tanda tangan, atau tulisan-tulisan lainnya). Seperti pemilu di masa kini, pemungutan suara pada Pemilu 1955 juga dilakukan pagi hari. Herbert Feith, Indonesianis dan profesor ilmu politik, menulis dalam Pemilihan Umum 1955 di Indonesia , pemungutan suara dimulai pukul delapan pagi dengan pembacaan seperangkat petunjuk oleh ketua Panitia Penyelenggara Pemunguan Suara dan memperlihatkan kepada umum bahwa kotak suara kosong. Setelah itu, barulah dimulai pemungutan suara. Satu per satu pemilih mendatangi dua anggota panitia yang duduk di pintu masuk tempat pemungutan suara. Anggota panitia akan memeriksa namanya pada daftar dan mempersilakannya masuk. Tidak lama sesudah itu, para pemilih mendapat giliran untuk menuju meja ketua Panitia Penyelenggara Pemungutan Suara. Di sini ia diberi kertas suara yang terlipat, yang bagian luarnya ditandatangani oleh ketua dan dua anggota panitia yang bersama-sama duduk di belakang mejanya. Baca juga:  Upah Petugas Pemilu Pertama Pemilih yang telah mendapatkan surat suara kemudian memasuki bilik suara untuk memberi tanda pada surat suara. Proses pemilihan itu dapat dilakukan dengan cara menulis nama atau nomor urut calon atau mencoblos tanda gambar. Pemilih dapat melihat nama-nama calon maupun partai-partai peserta pemilu di kertas besar yang ditempelkan pada dinding bilik suara. Setelahnya, pemilih melipat kembali surat suara dan membawanya ke kotak suara, memperlihatkannya kepada anggota panitia untuk menunjukkan bahwa tiga tanda tangan yang diharuskan sudah benar tercantum pada surat suara tersebut.Surat suara itu kemudiandimasukkan ke dalam kotak dan pemilih pun pergi meninggalkan tempat pemungutan suara. Menurut Feith, pemungutan suara ini merupakan suatu prestasi besar jika mengingat seluruh organisasi pemilu bekerja atas dasar prinsip administrasi yang baru, yakni kerjasama antara panitia-panitia multipartai dan pamong praja yang menjadi ketuanya. Panitia Penyelenggara Pemungutan suara itu sendiri merupakan badan multipartai dengan keanggotaan yang sering terdiri dari orang-orang buta huruf dan hanya punya kaitan tidak langsung dengan pemerintahan umum. “Mengutip kata-kata Irene Tinker dan Mil Walker, Indonesia berani mempertaruhkan seluruh proses pemilihan umum pada kecakapan penduduk desa buta huruf dan … taruhan itu dimenangkannya,” tulis Feith. *

  • Merpati Terbang untuk Perang

    SAAT dunia sudah di zaman nuklir dan AI (Artificial Intelligence), India masih paranoid dengan burung merpati. Lantaran itulah seekor burung merpati sampai ditahan selama delapan bulan oleh aparat keamanan India karena dituding jadi aset mata-mata China. Merpati tersebut ditangkap polisi India dekat Pelabuhan Mumbai pada Mei 2023. Lantas merpati diserahkan ke Bai Sakarbai Dinshaw Petit Hospital for Animals (BSDPHA) di Mumbai dengan alasan diperiksa kesehatannya sekaligus diinvestigasi gara-gara terdapat selembar catatan dengan tulisan mirip aksara China di sayapnya. Baru setelah organisasi non-profit People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) India mengintervensi, merpati tersebut “dibersihkan” dari tudingan mata-mata China. “Setelah berbulan-bulan, pihak rumahsakit hewan minta izin kepada kepolisian untuk melepaskan merpati itu tetapi tidak diperbolehkan. Maka itu PETA India mengintervensi dengan mengontak kepolisian dan mendapatkan surat keterangan yang diperlukan untuk melepaskan merpati itu. Pada 30 Januari pengawas BSDPHA melepaskannya,” ungkap PETA di laman resminya , 1 Februari 2024. Ini bukan kali pertama pemerintah India mencurigai seekor burung yang berujung penangkapan. Pada 2016, aparat hukum menangkap seekor burung yang membawa sebuah catatan dengan tulisan ancaman terhadap Perdana Menteri (PM) Narendra Modi. Lalu pada 2020, kepolisian juga menangkap seekor burung di perbatasan India-Pakistan di Kashmir karena dicurigai mata-mata dari Pakistan. Baca juga: Konflik Kashmir Tiada Akhir Kepala Pengawas Medis BSDPHA Kolonel BB Kulkarni melepaskan merpati yang sudah diinvestigasi selama 8 bulan ( peta.org ) Aset Peperangan Penggunaan merpati untuk keperluan militer sudah terjadi sejak peradaban kuno, baik di Eropa maupun Asia. Merpati umumnya menjadi aset untuk membawa informasi tentang wilayah terjauh atau situasi musuh karena terbilang hewan yang mudah dilatih. “Sekitar tahun 500 Sebelum Masehi (SM), kaisar-kaisar China menerima pesan dari wilayahnya yang jauh dari merpati pos. Jenderal Hannibal (dari Kartago) yang melintasi Pegunungan Alpen untuk mengancam Roma sekitar tahun 219 SM menggunakan merpati untuk mengirim pesan-pesan kepada para prajuritnya. Julius Caesar juga menggunakan merpati dalam kampanye militernya di Gaul (kini Prancis) sejak 58 SM. Dan sekitar tahun 1250 M Genghis Khan dan cucunya, Kubilai Khan menciptakan jaringan besar komunikasi dengan merpati yang meliputi seperenam dunia yang ia kuasai,” tulis Connie Goldsmith dalam Pigeons at War: How Avian Heroes Changed History. Pada medio 945 M, Putri Olga dari Kerajaan Kievan Rus’ (kini Ukraina) bahkan pernah menggunakan merpati sebagai senjata untuk balas dendam. Putri Olga dendam kepada suku Drevlian pasca-kematian suaminya, Pangeran Igor, yang dibunuh saat mengumpulkan upeti dari Drevlian. “Orang-orang Drevlian lalu memohon pengampunan dan Olga menuntut masing-masing tiga ekor merpati dan burung gereja dari setiap rumah di desa Drevlian. Ketika Olga sudah menerimanya, ia menyerahkannya kepada para prajuritnya dan menginstruksikan untuk mengikatkan sekantung kain berisi sulfur di kaki setiap burung. Malamnya, semua burung itu dilepaskan dan terbang kembali ke rumah-rumahnya di desa Drevlian. Seketika seluruh desa dilalap api,” ungkap John Hinson dalam 100 Stories: The Lesser Known History of Humanity. Baca juga: Legiun Merpati untuk Komunikasi Penggunaan merpati terus berlanjut di era-era lebih modern. Pihak-pihak yang bertikai menggunakan merpati sebagai kurir. Saat Pengepungan Paris dalam Perang Prancis-Prusia (1870-1871), warga kota Paris menerbangkan banyak merpati untuk mengirim pesan ke pasukan Prancis di wilayah lain. Prusia merespons dengan melepaskan banyak burung elang untuk memburu merpati-merpati itu. Di Perang Dunia I (1914-1918) pun, sebelum penggunaan radio untuk keperluan komunikasi militer marak, merpati terus digunakan secara masif baik oleh pihak Sekutu maupun Jerman. Beberapa di antaranya bahkan punya peran vital. Seperti seekor merpati kepunyaan pasukan Korps Sinyal Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat bernama Cher Ami. Ia punya 12 “misi” sepanjang Pertempuran Verdun (21 Februari-18 Desember 1916) hingga akhirnya merampungkan misi terakhirnya pada Oktober 1918. Patung Putri Olga (kiri) & lukisan warga Paris menggunakan merpati saat dikepung Prusia (Britannica/Musée d'Orsay) Peter Gardella dan Laurence Krute dalam Wings of the Gods: Birds in the World’s Religions mencatat, Cher Ami terbang untuk misi komunikasi tiga resimen dari Divisi Infantri ke-77 AD Amerika pimpinan Mayor Charles Whittlesey yang dikepung pasukan Jerman di Hutan Argonne sejak 2 Oktober 1918. Mereka dihantam artileri dari kubu sendiri( friendly fire ) karena unit artileri tak tahu posisi mereka. “Mereka kekurangan amunisi dan yang terburuk, posisi mereka tak diketahui unit artileri. Mayor Whittlesey menyematkan pesan ke dalam kapsul perak di kaki merpatinya: ‘Kami berada di jalan paralel arah 276.4. Artileri kita membombardir posisi kami. Demi Tuhan, hentikan.’” tulis Gardella dan Krute. Baca juga: Laika Mengangkasa Sebagaimana merpati lain, Cher Ami ditembaki pasukan Jerman tapi masih bisa selamat ke unit artileri Amerika meski terluka. Berkat jasanya, Cher Ami dianugerahi medali Croix de Guerre pada 13 Juni 1919. Dalam Perang Dunia II ketika peralatan komunikasi sudah lebih mutakhir, merpati masih juga jadi aset penting. Merpati bernama G.I. Joe (Amerika) dan Paddy (Inggris) jadi dua di antara merpati yang paling berjasa. G.I. Joe, yang akhirnya dianugerahi Dickin Medal, merupakan merpati yang bertugas di Dinas Merpati AD Amerika dengan sejumlah misi komunikasi dan pengintaian di Kampanye Italia (1943-1945). Sementara, Paddy punya catatan terbang tercepat saat menyampaikan pesan seiring Invasi Normandia (D-Day) pada 6 Juni 1944. Jarak sejauh 370 kilometer ditempuhnya hanya selama empat jam 50 menit. Cher Ami (kiri) yang diawetkan & William of Orange (Smithsonian/mod.uk) Ada pula merpati milik dinas intelijen militer Inggris MI14 bernama William of Orange. Ia berjasa mengirim pesan-pesan krusial dalam Pertempuran Arnhem (17-27 September 1944). Perannya sangat besar dalam menyelamatkan sekira 2.000 serdadu pasukan payung Inggris yang dikepung Jerman via pesan-pesan yang dikirim ke London, usai radio komunikasi mereka mengalami malfungsi. Di Indonesia, penggunaan merpati juga dilakukan para pejuang dalam Perang Kemerdekaan. Sebuah merpati bahkan sampai diberi pangkat kehormatan letnan akibat jasa-jasanya dan aksi heroik di akhir hidupnya. Baca juga: Anjing Penjaga Galaksi Selain untuk komunikasi, penggunaan merpati untuk senjata pun pernah diupayakan Burrhus Frederic Skinner, pakar hewan dan teknologi, lewat Project Pigeon pada medio 1944. Idenya adalah menjadikan merpati sebagai pembawa sistem pemandu untuk bom atau roket-roket yang ditembakkan ke arah kapal-kapal permukaan musuh. “Merpati-merpatinya harus dilatih terlebih dulu, setelah itu baru bisa disiapkan untuk menavigasikan bom-bom berpandu yang dijatuhkan dari pesawat,” tulis William Wolf dalam Off Target: America’s Guided Bombs, Missiles and Drone 1917-1950. Namun, ide itu kemudian ditolak AD Amerika. Kendati begitu, dinas Laboratorium Riset Angkatan Laut (AL) Amerika menghidupkan gagasan itu dengan bekerjasama dengan Skinner lewat Project Organic Control (ORCON) pada 1948. “Pengujian-pengujian dilakukan selama lima tahun menggunakan pelatih yang mensimulasikan sebuah roket. Dari sejumlah pengujian menunjukkan bahwa merpati-merpati itu mampu memandu roket dengan memuaskan dengan syarat kondisi-kondisinya ideal. Akan tetapi Project ORCON dibatalkan pada 1953 ketika sistem pemandu elektronik dianggap lebih bisa diandalkan,” tandas Wolf. Baca juga: Panglima Besar Pelihara Ular

  • Akhir Perlawanan Dandara

    KETENANGAN permukiman Cerca do Macaco di pedalaman Serra da Barriga, Pernambuco (kini Alagoas), Brasil pada dini hari 6 Februari 1694 pecah saat pasukan Portugis menyerang dengan membabi-buta. Bersama 200 anak buahnya, Dandara (diperankan Zezé Motta) dan suaminya, Zumbi (Antônio Pompêo), terus memberi perlawanan sampai titik darah penghabisan kendati terdesak mundur. Saat waktu berganti pagi, Zumbi yang terluka masih sempat melarikan diri. Akan tetapi Dandara dikepung serdadu Portugis sampai ke tepi tebing. Oleh komandan Portugis, Dandara diperingatkan agar menyerahkan diri. Namun sorot matanya mengisyaratkan penolakan. Seketika Dandara melangkah mundur lalu berbalik badan. Ia memilih bunuh diri dengan melompat dari puncak tebing ketimbang kembali diperbudak. Begitulah klimaks yang tersaji dalam film drama sejarah Quilombo (1984) garapan sineas Brasil Carlos Diegues. Film ini mengisahkan perlawanan quilombo atau komunitas kulit hitam merdeka pimpinan Dandara dan Zumbi –yang merupakan Raja Quilombo dos Palmares di pedalaman Pernambuco– terhadap perbudakan dalam kolonialisme Portugis. Baca juga: Harriet Pembebas Budak Berontak Menolak Kompromi Di suatu siang pada abad ke-17 dekat perkebunan tebu di Pernambuco, Dandara (diperankan Luiza Maranhão) menemani tuan dan nyonya pemilik tanah dalam sebuah perjalanan. Rombongan itu tetiba disergap prajurit Angola Janga alias Quilombo dos Palmares yang bersenjatakan tombak dan panah. Setelah sang tuan tanah dan istrinya yang bersenjatakan pistol sudah tumbang, Dandara dan dua budak lain yang melarikan diri juga nyaris terbunuh. Namun sosok Zambi, jenderal prajrit Angola Janga, muncul dan melarang anak buahnya mengeksekusi Dandara. Selebihnya, Dandara justru disambut Raja Ganga Zumba (Antônio Pitanga) untuk hidup bebas dari perbudakan di quilombo -nya. Itu merupakan secuplik gambaran asal-usul Dandara dalam film drama sejarah Ganga Zumba (1963) yang juga merupakan karya Digues. Dramatisasinya karena sebagaimana kisah kematiannya dalam film versi 1984, asal-usul sosok Dandara pun masih jadi misteri karena minimnya sumber-sumber yang terverifikasi. Baca juga: Konflik Perbudakan Belanda-Portugis dari Mata João Hingga kini pun belum ada catatan yang menyebutkan kepastian kapan dan di mana Dandara lahir. Mengutip riset antropolog Univeritas Bahia Prof. Maria de Lourdes Siqueira, Habeeb Akande dalam Illuminating the Blackness: Blacks and African Muslims in Brazil menyatakan bahwa Dandara masih keturunan bangsawan Jeje Mahin di Afrika Barat (kini Benin). Beberapa sumber lain menyebutkan, orangtuanya dikirim sebagai budak dan Dandara lahir di salah satu perkebunan di Brasil. Ketika menginjak usia remaja, ia baru pindah ke (Quilombo) Palmares dan dipersunting Zumbi, keponakan Raja Ganga Zumba. Peta Capitania de Pernambuco dan Quilombo de Palmares ( brasilianaiconografica.art.br ) Quilombo dos Palmares mulai eksis menjadi komunitas kulit hitam merdeka di pedalaman Serra da Barriga pada 1605. Seiring waktu, komunitas Palmares menjadi “suaka” yang berkembang pesat karena pelarian budak yang datang terus bertambah. Mereka sulit dicegah karena sulitnya akses lantaran lebatnya hutan yang sukar ditembus para prajurit kolonialis Belanda dan Portugis. “Palmares bukan sekadar satu komunitas, melainkan terdiri dari sejumlah mocambos (desa) yang bersatu dan membentuk sebuah kerajaan neo-Afrika. Beberapa penduduknya berasal dari Afrika Barat, semisal Angola. Palmares kemudian tidak hanya menyambut pelarian budak tapi juga orang-orang pribumi, mulatto (campuran Afrika-Eropa) dan juga orang kulit putih,” tulis Erica Lorraine Williams dalam artikel “Dandara of Palmares” di buku The Dictionary of Caribbean and Afro-Latin American Biography. Baca juga: Pemberontakan Budak 17 Agustus, Menang atau Mati! Karena lokasinya yang berada di antara pedalaman pegunungan Serra da Barriga dan pesisir laut, masyarakatnya berusaha mencukupi kebutuhan secara mandiri. Mayoritas dengan bertani menanam jagung, kacang, kentang, tebu, dan singkong. Beberapa lainnya menjadi nelayan. “Palmares juga merupakan tempat yang indah dengan pantai-pantai pasir putih, laguna-laguna yang airnya jernih, namun keadaan itu jadi ancaman bagi para penjajah Eropa. Oleh karenanya masyarakatnya mengembangkan seni beladiri capoeira. Dandara juga dikenal mahir capoeira untuk memberi perlawanan sengit saat tensi dengan penjajah Belanda dan Portugis bereskalasi,” ungkap Kate Mosse dalam Warrior Queens & Quite Revolutionaries: How Woman (Also) Built the World. Perang gerilya tak terelakkan, utamanya antara Raja Ganga Zumba dan Gubernur Pernambuco Pedro Almeida. Sang gubernur sampai harus melancarkan ekspedisi pasukan bandeirantes pimpinan Domingos Jorge Velho dan Bernardo Vieira de Melo. Ekspedisi itu berujung perjanjian antara Gubernur Pernambuco dengan Raja Ganga Zumba pada 1678. Baca juga: Budak yang Merdeka dan yang Melawan Perjanjian itu berisi kesepakatan damai dengan beberapa poin kompromi. Di antaranya, lanjut Williams, masyarakat Palmares tetap diakui sebagai orang-orang merdeka tapi harus direlokasi ke Lembah Cucaú. Poin berikutnya, masyarakat Palmares tidak boleh lagi menampung pelarian budak dan mereka yang mencari suaka kepada masyarakat Palmares wajib dikembalikan ke pemerintah kolonial. “Meski beberapa kali bertempur bersama Ganga Zumba, Dandara menentang kesepakatan perjanjian itu. Ia meyakinkan Zumbi, suaminya, untuk menentangnya juga. Zumbi pun menantang Ganga Zumba dan memimpin pemberontakan. Setelah Ganga Zumba terbunuh oleh salah satu anak buahnya, Zumbi mengklaim dirinya sebagai penerus pemimpin Palmares,” tambah Williams. Selama 16 tahun berikutnya, Dandara dan Zumbi bersama para pengikutnya bergerilya bak tokoh suami-istri Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dalam Perang Aceh (1873-1904). Mereka kemudian mendirikan basisnya di Cerca do Macaco. Namun pada Januari hingga awal Februari, situasi mulai mendesak Dandara dan Zumbi. Perlawanan Dandara berakhir namun Zumbi yang melarikan diri terus bergerilya dengan sisa-sisa pengikutnya. Baca juga: Tjoet Nja’ Dhien Petarung Konsisten Zumbi akhirnya dikhianati salah satu anak buahnya, di mana dalam serangan Portugis pada 20 November 1695, Zumbi tewas. Kepalanya yang dipenggal lalu dipamerkan dengan tombak untuk menakuti para budak lainnya. Seiring waktu, masyarakat Brasil merayakan tanggal 20 November sebagai Hari Kesadaran atau Hari Kebangkitan Afro-Brasil sebagai penghargaan terhadap perjuangannya. Namun, faktanya kematian Dandara hingga kini masih jadi misteri. Beberapa sumber memang menyebutkan bahwa perlawanan Dandara berakhir setelah ia lompat untuk bunuh diri. Namun, sejumlah sumber lain menyebutkan Dandara tewas menjadi martir dalam pertempuran di hari itu. “Terdapat inkonsistensi dalam sejumlah literatur akademik mengenai kematian Dandara. Terlepas dari pada itu, sampai hari ini Zumbi dan Dandara menjadi simbol tradisi perlawanan kulit hitam di Brasil, utamanya dalam isu-isu rasisme dan kesetaraan sosial,” tukas Williams. Baca juga: Wally Bereaksi, Wally Dieksekusi Patung dada (kiri) & lukisan Zumbi karya Antônio Parreiras (Agência Brasil/Museu Antônio Parreiras)

  • Sisi Lain dan Anomali Alexander

    GEMURUH badai pasir di Gurun Sahara pada suatu hari di bulan Februari tahun 331 Sebelum Masehi (SM) itu akhirnya berlalu. Raja Makedonia Alexander III (diperankan Buck Braithwaite) bisa menghela nafas lega usai berlindung di balik untanya. Beratnya perjalanan ke barat melewati lautan pasir di Mesir tersebut membuahkan hasil. Segala lelah Alexander terbayar lunas. Dari sebuah bukit, ia memandang sebuah oasis dengan sebuah kuil di hadapannya dengan mata berbinar-binar. Bersama pasukan kecilnya, Alexander melangkah menuju Oasis Siwa dan Kuil Amun itu. Oasis dan kuil keramat itu dicari oleh banyak penakluk tapi umumnya mereka gagal di perjalanan, termasuk Raja Persia Cambyses (530-522 SM) yang 50 ribu prajuritnya ditelan badai pasir. Pencapaian Alexander jadi salah satu momen penting yang ditonjolkan trio sutradara Hugh Ballantyne-Stuart Elliott-Mike Slee pada episode 3 serial dokumenter-drama (docudrama) Alexander: The Making of God . Berbeda dari film feature epik atau dokumenter lain yang dikagumi banyak tokoh macam Mehmed II (1432-1481) dan Napoleon Bonaparte (1769-1821), dokudrama anyar ini memberi porsi besar pada sisi lain Alexander ketimbang dramatisasi percintaan atau taktik militer lewat enam episode. Tentu dengan menyesuaikan keakuratan fakta sejarahnya. Baca juga: Napoleon yang Sarat Dramatisasi Alasannya, bicara apapun tentang Alexander, masih sangat relate bahkan sampai sekarang. Tim produksi mengombinasikan alur dramanya dengan penampakan kota Alexandria, tepatnya di situs ekskavasi pimpinan Kalliopi Limneos-Papakosta. Direktur Hellenic Institute for the Research of Alexandrian Culture itu merupakan arkeolog ternama yang masih mencari makam atau sarkofagus Alexander yang hingga kini tetap jadi misteri. Dipercaya, makam Alexander terkubur di Alexandria, kota terbesar kedua di Mesir yang didirikan Alexander pada 331 SM usai menguasai Mesir. Dalam alur cerita dramanya, Alexander menguasai Mesir mulai Desember 332 SM setelah merebut kota-kota pesisir di Timur Tengah dari tangan Persia. Keputusan Alexander itu menjadi anomali tersendiri karena ia memilih “rute penaklukan” yang berbeda dari para pendahulunya. Oasis Siwa dan Kuil Dewa Amun (Netflix) Alexander menandai momentum kampanyenya dengan kemenangan di Pertempuran Granicus pada Mei 334 SM. Ambisi Alexander yang sebelumnya disepelekan Persia mulai jadi perhatian serius penguasa Kekaisaran Persia Darius III (Mido Hamada) pasca-Pengepungan Halicarnassus (September 334 SM). Didampingi jenderal dan calon menantunya, Mazaeus (Alain Ali Washnevsky), Darius III memimpin sendiri pasukannya untuk bentrok di Pertempuran Issus pada November 333. Meski hanya membawa 37 ribu prajurit, Alexander dengan taktik pertempurannya yang inovatif mampu membuat 100 ribu prajurit Persia berantakan. Saking daruratnya, penasihat kekaisaran Bessus (Waleed Elgadi) sampai memaksa Darius melarikan diri meninggalkan pasukannya sekaligus istrinya, Stateira (Agni Scott), dan putrinya, Barsine (Nada el-Belkasmi). Istri dan putrinya akhirnya ditawan Alexander. Baca juga: The Old Guard , Misteri Ksatria Abadi dalam Lorong Sejarah Namun bukannya langsung mengejar Darius dan terus bergerak ke timur menuju pusat Kekaisaran Persia di Babilonia (kini Hillah, Irak), Alexander memutuskan bergerak lebih dulu ke selatan merebut Damaskus, Gaza, Pelusium (kini Port Said, Mesir), Memphis, hingga mendirikan Alexandria. Tidak hanya dengan mudah menguasai orang-orang Mesir lantaran punya musuh bersama, yakni Persia, Alexander bahkan dinobatkan sebagai Firaun dan titisan putra Dewa Amun. Namun ia merasa belum lengkap dijuluki putra Dewa Amun jika tidak lebih dulu melakukan perjalanan ke Kuil Amun di Siwa. Apa yang terjadi ketika Alexander bersua sang peramal dan bagaimana pula kelanjutan penaklukannya? Saksikan sendiri dengan lebih detail di dokudrama Alexander: The Making of a God yang sudah mulai tayang di platform daring Netflix mulai 31 Januari 2024. Darius III dengan pasukan Persianya yang lebih besar jumlahnya (Netflix) Kepercayaan Takhayul Alexander Secara sinematografis, dokudrama ini diracik sederhana dengan pencahayaan terang dan music scoring opera yang memang tak semenggelegar film-film Sikandar (1941) atau Alexander the Great (1956). Adegan pertempuran-pertempuran besarnya pun tidak seepik Alexander (2004). Namun dokudrama ini memberi sajian yang berbeda meski tidak dibintangi aktor-aktor ternama: mengedepankan fakta-fakta sejarah berdasarkan catatan-catatan yang ada. Terlepas dari sesaknya efek visual, penonton tetap diberikan variasi penjelasan para sejarawan yang mendalami kisah Alexander dan para arkeolog yang meneliti tentang peninggalan-peninggalannya. Seperti arkeolog Limneos-Papakosta, Prof. Lloyd Llewellyn-Jones (sejarawan Cardiff University), dan Dr. Salma Ikram (sejarawan American University of Cairo). Penjelasan mereka banyak mengungkapkan sisi lain Alexander yang jarang diketahui atau dibicarakan di ruang-ruang publik. Salah satunya tentang orientasi seksualnya. Dokudrama ini tak segan menampilkan adegan sensual Alexander, tidak hanya dengan Stateira namun juga adegan seksual sesama jenis dengan jenderal kepercayaannya, Hephaestion. “Hubungan seksual sesama jenis terbilang biasa terjadi di dunia (peradaban) Yunani. Orang Yunani di masa itu tidak punya kata untuk homoseksualitas atau gay. Tidak ada istilah untuk itu. Yang ada hanya hubungan seksual,” terang Prof. Llewellyn-Jones dalam dokudrama itu. Alexander, kata Dr. Ikram, memang punya hubungan seksual dengan banyak perempuan dan laki-laki. Di era sekarang disebut “biseksual”. Ia mengungkapkan, “Hephaestion tidak hanya sahabat yang dirangkul dan disayangi tapi juga mungkin cinta sejatinya (Alexander).” Baca juga: Nestapa Sabaya Situs ekskavasi di Alexandria dengan efek visual mausoleum Alexander (Netflix) Alexander juga digambarkan tidak hanya seorang jenius dalam militer, filsafat, serta sastra, dalam beberapa catatan rupanya ia juga seorang yang percaya pada takhayul. Seperti yang ditampilkan pada episode 1, di mana ia percaya perkataan ibunya, Olympias, bahwa ia adalah putra Dewa Zeus. Atau di episode 2 jelang Pertempuran Granicus, di mana Alexander lebih dulu “ziarah” ke Kuil Achilles di kota Troy. Achilles sang pahlawan Perang Troya (sekitar abad ke-12 atau ke-13 SM) diidolakan Alexander berkat narasi syair Illiad karya Homer yang dibacanya sejak muda. Alexander bahkan mengambil baju zirah Achilles untuk dikenakannya di Pertempuran Granicus dengan sugesti bahwa spirit Achilles bersama dirinya. Partha Sarathi Bose dalam Alexander the Great’s Art of Strategy: The Timeless Leadership Lessons of History’s Greatest Empire Builder menulis, sebelum memulai kampanyenya ke timur, Alexander lebih dulu menyambangi kota Troy pada Mei 334 SM. Ia lalu membawa sepasukan kecil untuk memanjat sebuah tebing di mana kuil Achilles berada. “Alexander memasuki kuilnya, menanggalkan baju zirah yang ia kenakan dan mempersembahkannya sebagai hadiah untuk dewa-dewi. Di dinding kuil ia melihat perisai dan baju zirah Achilles. Menurut beberapa saksi, baju zirah Achilles itu kemudian dikenakan Alexander. Baju zirah itu selalu ia bawa ke mana-mana, termasuk sampai ke Pertempuran Mallian (kini Multan, 325 SM) di India,” tulis Bose. Baca juga: Brutal dan Primitifnya Sejarah Roma dalam Romulus Mozaik Alexander melawan Darius dalam Pertempuran Issus (Museo Archeologico Nazionale di Napoli) Masih di episode 2, pasca-mengunjungi Troy, Alexander beralih ke Gordium, situs tempat Simpul Gordian berada. Waldemar Heckel dalam The Conquests of Alexander the Great mengungkapkan, Alexander percaya bahwa siapapun yang mampu menguraikan sebuah simpul kuno yang masih terikat di sebuah gerobak di situs itu akan ditakdirkan menguasai segenap Asia. “Akan tetapi bagi siapapun yang gagal (menguraikan simpulnya), dipercaya akan membawa nasib buruk. Namun Alexander dengan sinisnya mencabut pedangnya dan memotong simpulnya. Lagi pula tidak ada syarat yang spesifik bahwa simpul itu harus terurai dengan tangan,” ungkap Heckel. Alexander kemudian melakukan perjalanan mencapai Kuil Amun di Oasis Siwa. Dalam dokudrama itu, Alexander dikisahkan menjadi pribadi yang berbeda usai bersua dengan sang peramal. “Menurut Arrian (Nicomedia, 146-160 M) dalam Anabasis Alexandri , Alexander berkonsultasi dengan sang peramal di Siwa dan mendapatkan jawaban yang memuaskan; akan tetapi Arrian tidak menerangkan pertanyaan dan jawaban itu. Plutarch (46-119 M) mengungkapkan sang peramal menyambut Alexander sebagai putra (dewa) Zeus-Ammon dan menyampiakan bahwa kekaisaran dunia (Persia, red .) akan dijaga untuknya dan para pembunuh Raja Philip (ayah Alexander) akan dihukum,” tulis Leonides V. Landicho dalam Alexander the Great in Bible Prophecy. Baca juga: Kala Napoléon Dianggap Putra Nabi Alexander yang digambarkan sebagai penguasa dan Firaun Mesir (Netflix) Sementara, versi sejarawan dan filsuf Romawi Quintus Curtius Rufus yang menulis Historiae Alexandri Magni pada abad ke-1 Masehi menyebutkan, peramal itu menyapa Alexander sebagai putra Dewa Ammon. Alexander menjawab bahwa tubuhnya membuatnya lupa bahwa ia adalah putra dewa dan ia memerlukan wilayah kekuasaan di seluruh dunia dan akan menentukan nasib pembunuh ayahnya. “Setelah mengunjungi peramal di Siwa, Alexander diabadikan dalam koin bergambar dirinya dengan tanduk kambing di kepalanya. Ini adalah simbol Dewa Zeus-Ammon dan diyakini pula sebagai simbol bahwa Alexander mengampanyekan keilahiannya. Itu juga menjadi kampanye politiknya bahwa ia sudah terlegitimasi sebagai penguasa di Mesir dan wilayah lain di Timur Tengah,” tukasnya. Deskripsi Film: Judul: Alexander: The Making of a God| Sutradara: Hugh Ballantyne, Stuart Elliott, Mike Slee | Produser: Sana El Kilali, Lucy van Beek, Nick Catliff, Tony Mitchell, Malcolm Scerri-Ferrante, Emma Falkus | Pemain: Buck Braithwaite, Mido Hamada, Nada El Belkasmi, Alain Ali Washnevsky, Will Stevens, Dino Kelly, Agni Scott, Jadran Malkovich, Waleed Elgadi | Produksi: LionTV, Tailfeather Productions | Distributor: Netflix | Genre: Dokumenter-Drama | Durasi: 37-44 menit (6 Episode) | Rilis: Netflix 31 Januari 2024.

  • The Fight of Semarangese Against the Japanese

    NEWS of Indonesia's proclamation of independence sparked euphoria among the youth in Semarang, Central Java. They immediately took control of civilian installations. Mr. Wongsonegoro, a Semarangese official who was later appointed governor of Central Java, tried to bridge the demands of the youth and Badan Keamanan Rakyat (the People's Security Agency or BKR) to disarm the Japanese army.

  • Armada Portugis Membuka Gerbang Dominasi Asia

    DARI basisnya di Cochin (kini Kerala), Dom Francisco de Almeida mengumpulkan kapal-kapal perangnya. Setelah transit di Dabul dan Bombay, kota pelabuhan Diu di timur laut India yang dituju sudah terlihat oleh armada gubernur Portugis India saat petang 2 Februari 1509.  Dom Francisco membawa Armada da Índia berkekuatan lima kapal kerakah besar, empat kapal kerakah, enam karavel, dua kapal galai, dan satu kapal brig. Armadanya juga diperkuat 800 pelaut dan prajurit Portugis serta 400 orang Nair India. Dom Francisco sendiri ikut terjun langsung dengan berada di kapal komandonya, Flor de la Mar , yang dinakhodai Kapten Nuno Vaz Pereira. Kedatangan mereka menarik perhatian. Lantas sekira selusin kapal galai Kesultanan Gujarat dari pelabuhan mencoba mendekat. Namun meriam-meriam armada Portugis sukses mengusir mereka. Usai kapal-kapal Gujarat itu mundur dan menghilang di kegelapan malam, Dom Francisco memanggil para kaptennya untuk briefing jelang pertempuran. Sejarawan Portugal José Virgílio Amaro Pissarra dalam Chaul e Diu, 1508 e 1509: O Domínio do Índico mencatat, kepanikan perlahan melanda kota Diu. Gubernur Diu, Meliqueaz alias Malik Ayyaz, sampai meninggalkan kota. Tampuk kepemimpinan komando pertahanan diserahkan kepada koleganya, Mihir Hussain al-Kurdi yang merupakan gubernur Jeddah dan penguasa Laut Merah dari Kesultanan Mamluk (Mesir, red .). Baca juga: Senjakala Monarki di Sri Lanka Hussain dibantu Kunjali Marakkar mengomando armada gabungan Mamluk-Gujarat-Kozhikode (Kalikut) yang sebagian besar masih bersandar di pelabuhan Diu. Kekuatannya berupa enam kapal galai besar, empat kerakah, 30 galai ringan, dan sekitar 150 perahu perang. Koalisi ini juga diperkuat sekira 5.450 pelaut dan prajurit Mamluk-Gujarat. Bagi koalisi itu, bentrokan dengan armada Portugis kali ini punya arti vital sebagai momen menjaga jalur perdagangan di Samudera Hindia tetap berada di tangan kaum Muslim. Dalam hal ini Kesultanan Mamluk, Kesultanan Gujarat, dan Kerajaan Kalikut. Saking pentingnya, Kesultanan Mamluk sampai meminta bantuan dari Republik Venezia dan rivalnya sesama penguasa Islam, Kekaisaran Utsmaniyah. Pasalnya intervensi Portugis mulai mengganggu dominasi mereka terhadap jalur perdagangan Samudera Hindia. Terutama sejak Kekaisaran Portugis mendirikan koloni di Cochin, India pada 1505. “Venezia juga terganggu oleh serangan-serangan ‘orang-orang Franks’ (Portugis) dan mendukung sekutunya, Sultan Mamluk untuk bertindak. Sultan juga mengirim pesan kepada rivalnya, Utsmaniyah dan dua kekuatan muslim lainnya (Gujarat dan Kalikut) untuk setuju bekerjasama. Jadilah terkumpul kekuatan maritim yang terkonsentrasi di Diu,” ungkap William Weir dalam 50 Battles That Changed the World: The Conflicts That Most Influenced the Course of History. Dom Francisco de Almeida dan ilustrasi kapalnya,  Flor de la Mar (Palácio Do Correio Velho) Sebaliknya bagi Portugis, ini jadi momen paling dinanti untuk merebut dominasi itu demi memperluas penjelajahan mereka ke timur, baik China maupun Nusantara yang kaya rempah. Momentumnya karena para pesaing Eropanya masing-masing sibuk sendiri sejak 1508. Spanyol masih menjelajah bumi belahan barat dan Afrika, Inggris sibuk dengan konflik usai transisi Gereja Katolik ke Gereja Inggris, Italia sedang dihebohkan dengan karya-karya Leonardo da Vinci dan Michaelangelo, serta Austria dan Italia sibuk bersekutu lewat Liga Cambrai untuk memerangi Venezia. Momen ini juga jadi momen Dom Francisco untuk menuntaskan dendamnya. Pasalnya pada Pertempuran Chaul (Maret 1508), putranya Lourenço de Almeida ikut tewas di tangan armada gabungan Hussain-Malik Ayyaz. Menjelang berangkat ke Diu, Dom Francisco dan Malik Ayyaz juga sempat bertukar surat. Malik Ayyaz mengungkapkan ia berharap tidak terjadi pertumpahan darah lagi dan para tawanan Portugis diperlakukan dengan baik. Namun dalam surat balasannya Dom Francisco bersikeras untuk menuntut balas atas kematian putranya. “Saya gubernur (Portugis) mengatakan kepada Anda, Meliqueaz yang terhormat, kapten (kota) Diu, bahwa saya berangkat membawa para ksatria saya menuju kota Anda untuk mencari orang-orang yang membunuh putra saya dan saya datang membawa harapan dari Tuhan di surga untuk membalas dendam kepada mereka dan pihak yang membantu mereka dan jika saya tidak menemukan mereka (maka) saya akan merebut kota Anda dan mencari Anda karena telah membantu mereka di Chaul,” tulis Dom Francisco dalam potongan suratnya kepada Malik Ayyaz, dikutip James F. Hancock dalam Spices, Scents and Silk: Catalyst of World Trade. Baca juga: Konflik Perbudakan Belanda-Portugis dari Mata João Sengit di Pertempuran Diu Seiring matahari mengusir kegelapan langit pada pagi, 3 Februari 1509, pengintai Portugis dari tiang pandang kapal mendapati konsentrasi armada Hussain mengambil posisi dekat pelabuhan dan benteng. Kekuatan lawan memang lebih besar namun kapal-kapal Dom Francisco punya kelebihan yang tak dimiliki lawannya: manuver dan daya gempur meriamnya. “Kekuatan angkatan laut Muslim (Mamluk-Gujarat) menerapkan taktik yang familiar bagi para pelaut Muslim dengan taktik menabrakkan kapal dan menaiki kapal musuh. Dibantu panah seiring serangan mereka tapi kapal-kapal mereka hampir mustahil bisa diperkuat misil berat (meriam). Kalaupun (meriam) bisa dimuat akan memengaruhi pergerakan mereka dan akan fatal akibatnya jika diserang galai-galai cepat,” tulis William H. McNeill dalam artikel “The Age of Gunpowder Empires, 1450-1800” di buku Islamic & European Expansion: The Forging of A Global Order. Armada Mamluk-Gujarat hanya akan efektif di pertempuran jarak dekat. Sedangkan Portugis unggul dalam pertempuran jarak jauh. Inilah yang coba dimanfaatkan Dom Francisco ketika membagi kekuatan armadanya menjadi empat grup: tiga grup untuk bermanuver dan membombardir lawan dari samping dan satu grup lagi khusus untuk mendekat dan menaiki kerakah-kerakah lawan. Baca juga: Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis Faktor angin juga berada di tangan Dom Francisco. Oleh karena itulah sekitar pukul 11 pagi, bendera kekaisaran dikibarkan dari tiang kapal komando Flor de la Mar dan meriam-meriam Portugis mulai menyalak. Pertempuran Diu dimulai. “Dengan kondisi gelombang yang tenang, armada Portugis menerapkan taktik penembakan inovatif: menembak langsung ke arah air untuk memantulkan peluru meriam. Serangan (meriam) dari sisi kerakah Santo Espírito sukses mengenai sejumlah kapal lawan yang langsung tenggelam,” sambung Pissarra. Diagram Pertempuran Diu (Wikipedia) Kapal Flor de la Mar sendiri menghadapi galai-galai kecil Gujarat dan sekira 100 perahu Kalikut. Adapun galai-galai besar Portugis menyerang lima galai kecil Mamluk dari samping. Sedangkan tiga kerakah, termasuk kapal komando Hussain, dibombardir lalu dipepet Santo Espírito dan tiga kerakah Portugis lain. Pertempuran sengit tak terelakkan. “Perlahan tapi pasti, armada Portugis merebut hampir semua kerakah lawan. Kapal komando Hussain rusak berat dan banyak krunya melompat ke laut. Galai-galai lawan juga lumpuh, sementara karavel-karavel Portugis memblokade para penyintas lawan yang berusaha menyelamatkan diri ke daratan,” tambahnya. Baca juga: Misi Gagal Spanyol-Portugis Mengusir Belanda dari Nusantara Akhirnya, hanya beberapa kapal dan perahu kecil, serta satu kerakah terbesar Mamluk yang tersisa. Kerakah terbesar itupun dihujani tembakan-tembakan meriam hingga akhirnya ikut karam menjelang petang sekaligus mengakhiri pertempuran. Portugis kehilangan 332 pelaut dan prajuritnya tapi tidak satupun kapalnya tenggelam. Sementara armada Mamluk-Gujarat-Kalikut kehilangan lebih dari 1.500 pelaut dan prajuritnya tewas serta empat kerakah Gujarat direbut Portugis. “Pasca-pertempuran, Malik Ayyaz mengembalikan tawanan Portugis yang ditahan sejak Pertempuran Chaul. Dom Francisco menolak merebut Diu karena merasa akan menghabiskan banyak uang untuk mengurusi kota baru. Akan tetapi ia menandatangani perjanjian perdagangan dengan Ayyaz dan membuka feitoria (pos perdagangan) di kota itu,” ungkap Saturnino Monteiro dalam Portuguese Sea Battles, Volume I: The First World Sea Power. Ilustrasi Pertempuran Diu (Biblioteca Nacional de Portugal) Meski begitu, Dom Francisco memperlakukan tawanan, utamanya pelaut dan prajurit Mamluk, dengan brutal. Mereka digantung, dimutilasi, atau diikat di moncong meriam atas nama pembalasan dendam atas kematian putranya. Sejak saat itu juga para pedagang dan pelaut Portugis menguasai jalur perdagangan Samudera Hindia. Meski Mamluk dan Utsmaniyah mencoba melakukan serangan lagi beberapa tahun berselang, tetap tak mampu merebut kembali dominasinya di jalur perdagangan Asia yang kelak sampai Perang Dunia II tetap di tangan orang-orang Eropa. “Saat permulaan abad ke-15, Islam hampir siap mendominasi dunia. Prospek itu tenggelam di dasar Samudera Hindia di Diu. Portugis memang akhirnya kehilangan kendali atas lautan tapi mereka dikalahkan Belanda yang diikuti Inggris dan Prancis. (Jalur) perdagangan Hindia yang kaya akan sumber alamnya hilang dari genggaman Islam selamanya,” tandas Weir. Baca juga: Hari ini Portugis Menyerah kepada VOC

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page