top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • A Harrowing Time for the Dutch in Indonesia

    THE VIEW in Menteng Pulo Cemetery in South Jakarta is quite exceptional. There, thousands of white cross-shaped headstones line up neatly, perfectly spaced from one another. Some headstones are smaller in size. The names inscribed on the stones were not only Dutch names, but also names of Minahasans, Moluccans, and Chinese.

  • Dalam Bayang-bayang Unitarisme

    SETELAH berdebat mengenai beberapa pilihan bentuk negara, Sukarno yang memimpin rapat Panitia Hukum Dasar pada 11 Juli 1945 menghitung ada 24 orang mengusulkan bentuk kesatuan. Empat orang –Radjiman Wedyodiningrat, Maria Ullfah, Sukiman Wirjosandjojo, dan Johannes Latuharhary– mendukung bentuk federal. Sementara Abdoelrahim Pratalykrama menghendaki bentuk statenbond yang terdiri atas kerajaan-kerajaan kecil.

  • Memenuhi Panggilan Suci

    ALLAH telah menitahkan bahwa tempat suci Makkah akan dikunjungi gelombang manusia yang tak akan pernah surut. Di sana, ada Ka’bah yang menjadi kiblat salat umat Islam. Karena itu, setiap muslim mendambakan dapat menunaikan rukun Islam kelima (berhaji) ke Makkah. Tak terkecuali umat Islam Indonesia. Praktik berhaji muslim Nusantara telah tercatat sejak abad ke-16. Semangat berhaji terus meningkat pada masa kolonial Belanda, sekalipun dibatasi berbagai peraturan. Semangat menggebu membuat mereka melakukan apa saja: ada yang menabung bertahun-tahun, menggadaikan harta benda, sampai bekerja di Singapura untuk membayar utang demi bisa memenuhi panggilan Ilahi. Pengorbanan mereka tak sampai di situ. Perjalanan ke Makkah menggunakan kapal memakan waktu lama, di mana ganasnya gelombang dapat saja mengkaramkan kapal. Saat beralih ke pesawat, kecelakaan pun pernah terjadi. Namun, semua itu adalah ujian dan kematian di jalan Allah adalah tujuan. Maka, jangan heran jika banyak jemaah haji dari Indonesia yang tua renta: menutup hidup dengan berhaji.* Berikut ini laporan khusus sejarah haji muslim Indonesia. Mula Haji Nusantara Resolusi Membatasi Haji Agen dan Calo Haji Haji Kiblik vs Haji NICA Jatuh Bangun Kelola Haji Tenggelamnya Arafat Bukan Sekadar Perjalanan Rohani Haji dan Akomodasi Politik Telantar di Makkah Berakhir di Perawan Tujuh Tragedi yang Terulang Kudeta Berdarah di Makkah

  • Pulau Onrust Pulau Tanpa Istirahat

    KEPULAUAN Seribu, yang meliputi gugusan pulau di Teluk Jakarta, menjadi objek wisata yang ramai ditawarkan melalui media sosial maupun platform penyedia jasa travel. Tak hanya menikmati keindahan alam yang memesona, wisatawan juga dapat menemukan berbagai peninggalan sejarah di beberapa pulau, salah satunya di Pulau Onrust.

  • Sisi Lain Perjalanan Wallace

    DI usia 25 tahun, Alfred Russel Wallace, yang berasal dari keluarga miskin di Inggris, memilih meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti dorongan hati untuk berkelana memuaskan hobi mengoleksi spesimen serangga, burung, dan binatang lainnya. Terinsipirasi Vestiges of the Natural History of Creation karya Robert Chamber, dia menyusuri sungai Amazon dan Rio Negro selama empat tahun.

  • The Javanese in the Land of White Elephants

    EVERYTHING looks immaculately organized in the Suvarnabhumi Airport, Thailand. The long queue at the immigration office is over in only a few minutes. You can also find similar orderliness in the Bangkok Mass Transit System (BTS) or Skytrain, a mass transportation system that connects to the airport. In Skytrain stations, passengers wait patiently before boarding their train. The atmosphere is also pleasant and comfortable.

  • Azis Taba Prajurit Perang Sekaligus Pemikir

    Reputasi pejuang yang bergerilya masuk hutan hingga kini tetap mulia di banyak kepala orang Indonesia.  Sementara, mereka yang ikut gerakan bawah di kota untuk melawan tentara Belanda masih sulit mendapat predikat mulia. Hal itu sudah dipikirkan Zulkifli Lubis, komandan Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI), sejak awal kemerdekaan Indonesia. Irawan Sukarno dalam Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut Intelijen  mencatat, doktrin Zulkifli Lubis tentang prajurit perang fikiran. “Sebagai Prajurit Perang Fikiran aku bekerja dan berjuang di mana saja aku berada; Sebagai Prajurit Perang Fikiran aku ‘hilang’,” ajar Lubis. Baca juga:  Intel Liar Kolonel Zulkifli Lubis Hilang berarti tak tampak. Prajurit perang pikiran jelas seorang prajurit tak terlihat yang jika mati tak dikenang dan jika berhasil tak mendapat penghargaan. Biasanya, perjuangan mereka kerap tidak diakui. Di zaman revolusi kemerdekaan Indonesia, banyak dari mereka berada di wilayah lawan bahkan tidak sedikit yang bekerja untuk Belanda, namun hati mereka tetap cenderung ke Republik Indonesia yang miskin. Satu dari sekian banyak pejuang tipe itu adalah Anang Acil di Balikpapan. Sopir  yang bekerja untuk jawatan militer Belanda itu memimpin para pemuda Indonesia dalam penyerangan terhadap tentara Belanda. Pejuang tipe “senyap” itu ada di berbagai daerah. Di Makassar, yang diduduki tentara Belanda, juga ada pemuda macam Anang Acil. “Seorang pemuda yang bekerja pada bahagian pengangkutan KNIL, bemama Azis Taba dapat mempengaruhi anggota-anggota KNIL yang bersedia digerakkan untuk gerakan 1 Januari,” catat Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan Pahlawan-Pahlawannya: Sejarah Perjuangan Kemerdekaan . Baca juga:  Ketika Eks KNIL Menyerang Markas APRIS Gerakan 1 Januari yang dimaksud merupakan Gerakan 1 Januari 1949. Gerakan tersebut merupakan upaya perlawanan para pejuang untuk membuat kekacauan di Makassar dengan tujuan politis antara lain mengimbangi upaya penangkapan dan penawanan para pemimpin republik di Yogyakarta oleh Belanda. Dalam gerakan itulah Azis Taba berperan penting. Azis Taba merupakan pemuda kelahiran Palopo sekitar tahun 1930. Menurut catatan Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII , Azis Taba tumbuh besar di Bantaeng, Jeneponto, dan Makassar. Dia pernah sekolah di Taman Siswa, sebelum kursus tata buku dan telegrafi. Antara 1945 dan 1946, dia bergabung dengan laskar RI di Pangkajene dan Makassar. Ketika itu tentara Belanda belum kuat di Makassar. Namun sejak 1946, dia kemudian bekerja menjadi supir KNIL. Meski begitu, dia tetap berhubungan dengan gerakan bawah tanah. Azis diserap oleh pejuang macam Arif Rate dan Mobile Batalyon Ratulangie (MBR). Di sanalah perannya mendukung RI banyak terjadi namun tidak dilihat banyak orang. Baca juga:  Zaman Australia di Makassar “Apapun  bantuannya secara diam-diam kepada kaum gerilyawan yang mungkin telah diberikannya, dalam pandangan umum ia tidak akan dipersamakan dengan mereka (yang bergerilya),” kata Barbara Harvey. Pada 1950, Azis Taba menjadi komandan kompi dalam MBR. Pada 1951 MBR kemudian masuk dalam Corps Tjadangan Nasional (CTN) yang hendak tidak diaktifkan dalam ketentaraan. Dia menuruti perintah Kahar Muzakkar untuk memimpin MBR masuk hutan. Azis Taba tidak lama di hutan. Meski orang Palopo, dia tidak dekat dengan Kahar Muzakkar. Dia juga bukan bangsawan yang membuatnya akan dihormati di daerah. Di antara anggota CTN yang ikut Kahar masuk hutan, Azis Taba termasuk buruk posisinya. “Azis Taba mungkin paling lemah posisinya dibanding komandan batalyon lainnya untuk disebut pejuang,” catat Barcabara Harvey (1989:194). Ini terkait posisinya sebagai supir KNIL. Tempat terbaik untuk orang biasa yang pintar seperti Azis Taba kala itu adalah di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di zaman Kolonel Gatot Subroto menjadi panglima Tentara dan Teritorium VII Wirabuana yang membawahi seluruh Indonesia Timur, Azis Taba dan ratusan bekas pejuang lain masuk TNI. Baca juga:  Nasution dan Lubis Akur, Gatot Subroto Senang Azis Taba yang pintar itu pada 1952 diberi kesempatan ikut pelatihan militer di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Jawa Barat. Setelah pulang, dia tidak lagi memimpin bekas anak buahnya atau pasukan lainnya. Tak ada lagi jabatan menterang macam komandan disandangnya. Namun dia tetap menjadi orang berguna di militer. Dari 1953 hingga 1956, dia hanya menjadi staf di markas Wirabuana di Makassar. Pada 1956-1959, dia menjadi kepala staf di Kesatuan Reserve Umum (KRU) Hasanuddin ketika komandan Kodam-nya M Jusuf. Lalu pada 1959-1961, Azis menjadi kordinator pendidikan dan latihan di Kodam Hasanuddin. Pernah pula dia menjadi Asisten 2 (operasi) di Kodam tersebut.  Pangkat terakhirnya di TNI adalah Kolonel. Ketika M Jusuf jadi menteri perindustrian, Azis ditugaskan pula ke departemen tersebut.

  • Sevilla Jawara Sepakbola dari Andalusia

    PELATIH datang dan pergi. Prestasi di gelanggang domestik tapi tetap terseok-seok. Namun setidaknya di pengujung musim 2022-2023 ini, Sevilla FC masih punya sesuatu untuk dibanggakan. Klub berjuluk Los Rojiblancos  itu menambah rekornya di gelanggang Eropa. Sumber kebahagiaan itu datang dari partai puncak Europa League yang digelar di Puskás Aréna Budapest, Hungaria, Rabu (31/5/2023) malam waktu setempat atau dini hari 1 Juni 2023 WIB. Sevilla bersua wakil Italia, AS Roma, dalam laga yang berlangsung sengit dan menghasilkan skor imbang 1-1 hingga usai dua kali 15 menit perpanjangan waktu. Laga pun terpaksa berlanjut ke adu tendangan 12 pas. Di sinilah Bono alias Yassine Bounou, portero  (kiper) Sevilla berpaspor Maroko yang namanya dinyanyikan fans Sevilla, jadi pahlawan. Bono mementahkan dua eksekutor AS Roma sekaligus menentukan kemenangan 4-1 Sevilla dalam perjudian tos-tosan itu. “Kami tahu dia kiper yang sangat hebat. Kami sangat mempercayai dia di bawah mistar. Saya tahu ketika kami menuju adu penalti, dia akan membuat penyelamatan-penyelamatan besar,” ujar gelandang Sevilla, Fernando Reges, di laman UEFA , Kamis (1/6/2023). Baca juga: Bono Pahlawan Tim Singa Atlas di Piala Dunia Laga sengit di final Sevilla vs AS Roma ( uefa.com ) Itu bukan sekadar kemenangan gemilang buat klub asal wilayah Andalusia itu. Kemenangan itu membuat Sevilla kian menambah rekornya sebagai spesialis titel pentas Eropa kasta kedua di bawah Champions League itu. Sevilla jadi pemilik gelar terbanyak: tujuh trofi. Tujuh kali masuk final, tujuh kali pula mereka sukses membawa pulang gelarnya di musim 2005-2006, 2006-2007, 2013-2014, 2014-2015, 2015-2016, 2019-2020, dan 2022-2023 . Pesaing terdekatnya Liverpool, Juventus, Inter Milan, dan Atlético Madrid yang masing-masing punya koleksi tiga trofi semata. Padahal, musim ini jadi musim yang sulit bagi Sevilla. Perlu gonta-ganti entrenador  (pelatih) –yakni Julen Lopetegui yang dilepas manajemen pada Oktober 2022, Jorge Sampaoli yang dipecat pada Maret 2023– dan baru di tangan José Luis Mendilibar akhirnya Sevilla meraih titel Europa League ketujuh buat klub. Di pentas domestik, Sevilla tergopoh-gopoh di papan tengah. Mereka berkubang di posisi ke-11 dengan menyisakan satu partai terakhir di La Liga musim ini. Posisi itu jelas takkan kebagian jatah kompetisi Eropa musim depan. Tetapi karena Sevilla akhirnya sukses jadi kampiun Europa League, otomatis tetap akan bisa tampil, bahkan di Champions League berkat jalur juara “Liga Malam Jumat”. Perjuangan Sevilla  sampai di final berbuah manis lantaran lawan-lawan yang dihadapi juga bukan tim kaleng-kaleng: menyingkirkan Manchester United (5-2 agregat) di perempatfinal dan membekap Juventus (3-2 agregat) di semifinal. “Kami sekelompok pemain yang berjuang luar biasa dan kami tunjukkan itu di Europa League. Kami menghadapi tim-tim besar dan kami mengalahkan mereka semua. Saya juga sangat bahagia untuk pelatih (Mendilibar). Ini Europa League pertamanya dan dia laik mendapatkan pujiannya,” tandas Fernando yang juga pernah menjuarai ajang serupa bersama FC Porto pada musim 2010-2011. Yassine Bounou alias Bono, kiper Sevilla asal Maroko yang jadi pahlawan Sevilla ( uefa.com ) Rojiblancos  dalam Sejarah Sepakbola Spanyol Nama Sevilla Fútbol Club SAD memang tidak sebesar Real Madrid atau FC Barcelona. Meski begitu, Sevilla yang lahir pada tahun 1890 tetap diakui sebagai klub pertama sekaligus tertua di Spanyol yang dikhususkan untuk sepakbola. Memang sebelumnya sudah duluan lahir satu klub pada 1889, Huelva Recreation Club (kini Real Club Recreativo de Huelva), tapi perkumpulan itu menampung para anggota dari beberapa cabang olahraga reakreasi selain sepakbola. Suratkabar Dundee Courier  edisi 17 Maret 1890 dalam salah satu artikelnya, “First Football Match in Spain”, mengisahkan, Club de Football de Sevilla didirikan enam ekspatriat muda asal Skotlandia yang bermukim di kota Sevilla pada 25 Januari 1890. Salah satu tokohnya adalah Edward Farquharson Johnston, petinggi perusahaan MacAndres & Co. Perusahaan perkapalan itu jadi andalan transpotasi laut untuk mengangkut hasil pertanian yang berbasis di kota Sevilla yang merupakan ibukota wilayah otonomi Andalusia. Johnston kemudian terpilih jadi persiden klub pertama Sevilla. “Kira-kira enam pekan lalu beberapa pemukim muda asal Inggris mengadakan pertemuan di sebuah kafe untuk mengajukan rencana memulai sebuah perkumpulan sepakbola. Lewat pembicaraan yang tidak berlangsung lama dan konsumsi bir dengan jumlah terbatas, Club de Football Sevilla dibentuk. Mereka juga memutuskan akan mengadopsi peraturan-peraturan sepakbola (modern) Inggris,” tulis suratkabar tersebut. Baca juga: Santiago Bernabéu "Bapak Real Madrid" Para pengurus klub juga memutuskan untuk tidak eksklusif. Pintu terbuka untuk penduduk lokal yang ingin bergabung. Artikel suratkabar itu juga mengisahkan pertandingan pertama Sevilla. Pengurus klub mengirim undangan ke klub Recreativo de Huelva dan disambut baik. Laga itu pun digelar pada 8 Maret 1890 di Hipódromo de la Sociedad de Carreras de Caballos, sebuah arena pacuan kuda di kota Sevilla yang disewa dan dimodifikasi lebih dulu menjadi lapangan sepakbola. Duel bersejarah ini kemudian tercatat sebagai pertandingan sepakbola resmi pertama di Spanyol. “Pertandingan itu dilakukan pukul 5 petang dan wakil konsulat Inggris di ibukota Andalusia bertindak sebagai wasitnya. Laga itu digulirkan dua kali 35 menit yang berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Sevilla,” tulis suratkabar itu. Edward Farquharson Johnston (kiri) dan laga Sevilla vs Recreativo de Huelva pada 1909 ( sevillafc.es/fifamuseum.com ) Eksitensi Sevilla FC itu secara tidak langsung juga mendongkrak minat publik Andalusia mendirikan klub-klub sepakbola lain. Berangsur-angsur lahir Real Betis pada 1905, Sevilla Balompié pada 1907, Betis Football Club pada 1909, Recreativo de Sevilla dan Español de Sevilla pada 1910. Untuk menampung aspirasi klub-klub di Andalusia, pada 1913 didirikanlah Federación Novena de Football Clubes (FNFC) atau lebih dikenal dengan sebutan Federación Sur, federasi yang jadi otoritas sepakbola di wilayah otonomi Andalusia. Kelak pada 1950 federasi ini berubah nama menjadi Real Federación Andaluza de Fútbol (RFAF) setelah masuk jadi anggota RFEF atau federasi sepakbola Spanyol. Baca juga: Welcome to Wrexham , Kisah Cinderella Si Naga Merah Mulai 1915, Federación Sur menghelat kompetisi perdananya, Campeonato Regional Sur. Sevilla FC yang merupakan klub tertua di kota Sevilla langsung jadi kampiun di edisi perdananya. Dua tahun berselang, Sevilla ikut meramaikan turnamen nasional, Copa de España, namun sekadar jadi finalis. Sedangkan di kompetisi berformat liga, Sevilla baru ikut Campeonato Nacional de Liga (kini La Liga) pada musim 1933-1934. Meski sebagai klub sepakbola tertua, nama Sevilla perlahan mulai kalah mentereng dari Real Madrid dan Barcelona. Grafik prestasinya juga mengalami pasang-surut. Sevilla mulai bangkit dan jadi klub yang diwaspadai tim-tim besar lain pasca-Perang Dunia II ketika Sevilla dipimpin Presiden Ramón Sánchez-Pizjuán untuk kali kedua. Putra asli Sevilla itu eks-kiper Sevilla pada 1917-1918 yang kemudian berkarier jadi pengacara, hingga akhirnya memimpin klub pada periode 1932-1941 dan 1948-1956. “Sentuhan magis Sánchez Pizjuán terwujud enam pekan setelah ia kembali jadi presiden, di mana klub meraih trofi Copa del Generalísimo 1948. Klub asal Andalusia itu menyingkirkan duo tim asal Basque, Athletic Bilbao dan Real Sociedad sebelum menuju final di Madrid,” tulis Colin Millar dalam Frying Pan of Spain. Ramón Sánchez–Pizjuán Muñoz (kiri) yang namanya diabadikan di stadion kandang Sevilla ( sevillafc.es ) Selain prestasi, Sánchez-Pizjuán juga mewariskan stadion yang sampai kini jadi home base  klub. Sebelumnya Sevilla acap berpindah kandang. Di era awal, Sevilla acap menyewa lapangan La Trinidad Field, Mercantile Field, Lapangan Campo de la Victoria, hingga Estadio de Nervión. Sejatinya, klub sudah membeli lahan tak jauh dari Estadio de Nervión pada 1937 atau di periode pertama kepresidenan Sánchez-Pizjuán. Namun karena imbas politik yang berujung pergantian presiden, lahan itu baru bisa dibangun stadion pada 1954 ketika Sánchez-Pizjuán sudah comeback . Pembangunan stadionnya dipercayakan kepada arsitek Manuel Muñoz Monasterio yang pada 1947 juga jadi arsitek markas Real Madrid, Estadio Nuevo Chamartín (kini Estadio Santiago Bernabéu). Baca juga: Stadion Metropolitano dan Warisan Masa Lalu Namun ketika pembangunan stadionnya baru dua tahun berjalan, Sánchez-Pizjuán wafat pada 28 Oktober 1956 di usia 56 tahun. Untuk mengenangnya, ketika stadion berkapasita 42 ribu penonton itu rampung pada 1958, nama Sánchez-Pizjuán langsung digunakan untuk venue  milik klub itu, Estadio Ramón Sánchez-Pizjuán. “Ramón yang tercinta, para sahabatmu, termasuk saya, sangat terhormat untuk memberimu upacara kebaktian kematian dan menguburkanmu. Kami akan mulai bekerja dan mimpimu agar Sevilla FC memiliki stadion megah menjadi kenyataan. Ramón, pergilah dengan tenang ke surga karena keinginan-keinginanmu telah terpenuhi,” kata presiden baru Sevilla Ramón de Carranza dalam pidatonya di upacara pemakaman Sánchez-Pizjuán. Namun, pembangunan stadion megah itu berangsur-angsur membuat klub terjerat utang dari beberapa bank. Dampaknya, Sevilla terpaksa melego sejumlah pemain topnya ketika memasuki era 1970-an: Manuel Ruiz Sosa ke Atlético Madrid, Francisco Gallego ke Barcelona, dan Juan Batista Agüero ke Real Madrid. Prestasi klub, searah jarum jam: Europa League 2005-2006, UEFA Super Cup (2006), Copa del Rey 2007, Supercopa de España 2007 Seiring waktu, Sevilla tak lagi jadi tim yang disegani lantaran sekadar jadi tim medioker. Kebangkitan kembali klub tertua Spanyol itu baru terjadi di awal abad ke-21. Tepatnya ketika José María de Nido mengambil tampuk kepresidenan pada 2002 usai presiden sebelumnya, Roberto Ales, mengundurkan diri. “Fondasi kesuksesan (Sevilla) kemudian dibangun usai José María de Nido terpilih jadi presiden pada 2002. Di bawah bimbingannya, finansial klub dibenahi dan Sevilla mulai bisa unjuk gigi sebagai salah satu tim top di Spanyol. Meski kemudian sejak 2013 del Nido dipenjara karena kasus korupsi,  supremo  olahraga Ramón Rodríguez ‘Monchi’ Verdejo melanjutkan tradisi kesuksesan klub,” ungkap Leonard Jägerskiöld Nilsson dalam World Football Club Crests: The Design, Meaning and Symbolism of World Football’s Most Famous Club Badges . Kesukesan yang dimaksud yakni kesuksesan di Eropa. Pasalnya sejak abad ke-21, Sevilla baru dua kali memenangi Copa del Rey (musim 2006-2007 dan 2009-2010) dan sekali membawa pulang gelar Piala Super Spanyol pada 2007. Sedangkan di Eropa, meski sekadar di pentas “Liga Malam Jumat”, Sevilla sudah tujuh kali juara Europa League sejak 2005 dan sekali menggondol trofi UEFA Super Cup pada 2006. “Terdapat koneksi yang spesial antara Sevilla dan Europa League. Saya suka fakta ini. Seolah-olah hal itu jadi bagian dari warisan klub. Trofi ini berada di tangan yang tepat dan tim hebat. Tentu saya bahagia bisa membawanya pulang ke Sevilla, tukas gelandang Ivan Rakitić. Baca juga: Piala Super Spanyol Sarat Drama

  • Sepak Terjang Spion Melayu

    ICHIKI Tatsuo , teman Zulkifli Lubis semasa pendidikan Pembela Tanah Air (Peta), berkata kepada Rahmat Shigeru Ono , sesama orang Jepang yang memihak Republik Indonesia: “Zulkifli Lubis adalah salah satu murid terbaik Peta, dia sangat pintar segala macam. Jika Indonesia merdeka Zulkifli Lubis pasti akan menjadi presiden pertama di Indonesia.” Sejarah berkata lain. Lubis dituding terlibat Peristiwa Cikini, sebuah upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Dia pun menjadi buronan dan bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sebagai koordinator militer. Baca juga:  Momentum Zulkifli Lubis Setelah mendekam di penjara karena terlibat dalam PRRI, Lubis dibebaskan penguasa Orde Baru. Dia menolak tawaran kembali ke militer. Setelah sempat berkiprah kembali dalam intelijen pada masa Orde Baru, Lubis kemudian menjadi pengusaha. Akhirnya, dia kecewa dengan pemerintahan Soeharto yang dinilai tidak demokratis. Terlepas dari perjalanannya yang kompleks dalam militer, Lubis dikenang sebagai peletak dasar intelijen di Indonesia. Berikut ini laporan khusus Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia. Kifli “Bule” Pintar Aljabar Bapak Intelijen Didikan Jepang Intel Liar Kolonel Zulkifli Lubis Seteru Saudara Sepupu Hari Tua Seorang Mata-mata

  • Musibah Kris Biantoro Seketika Berubah Hadiah

    Kris Biantoro, penyanyi legendaris tanah air, akhirnya lega. Masa penantian yang tiada kepastian akhirnya usai. Pencanangan Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda menandakan akan dimulainya perjuangan bersenjata ke pulau di ujung timur tersebut. Sebagai sukarelawan, itu artinya Kris akan diberangkatkan ke palagan. Latihan dasar kemiliteran yang selama ini diikuti pun jadi tak sia-sia. “Kami senang bukan main karena akhirnya kami akan berangkat ke medan pertempuran setelah menanti selama berbulan-bulan. Kami pun melompat-lompat saking gembiranya,” kenang Kris dalam otobiografi berjudul Manisnya Ditolak . Kris akhirnya berangkat ke Papua. Tugasnya bukan memanggul senjata dan menembak lawan, tapi menyanyi di hadapan para prajurit karena ia tergabung dalam tim kesenian. Tim itu diketuai Arif Suratno, mantan Tentara Pelajar. Baca juga:  Papua dan Ambisi Presiden Pertama Kris yang akhirnya kembali ke ibukota dengan selamat itu memang penyanyi. Masa ketika ditugaskan ke Papua itu merupakan masa Kris merintis karier di dunia musik. Dia tinggal di ibukota menumpang di rumah salah satu kakaknya demi mewujudkan mimpinya sebagai penyanyi. “Dunia nyanyi-menyanyi itu nikmat sekali,” ujarnya. Kendati harus membagi waktu antara bekerja, kuliah, dan bernyanyi, kegiatan yang terakhir tetap diseriusi Kris selama di Jakarta. Ia kerap manggung di berbagai tempat bersama berbagai band yang dikenalnya. Baca juga:  Elvis Menyanyi Dangdut “Band-band yang paling sering saya ikuti adalah Blowing Wild, Surunala, dan kemudian Lokananta. Dengan membonceng band sana atau band sini, saya sibuk mentas. Saya dan rekan-rekan manggung di mana-mana, di kampung-kampung tak masalah, di emperan-emperan toko pun jadi. Lantas banyak duitkah saya? Tidak. Ketika itu, honor belum jadi mode. Kami sudah girang kalau, sesudah bermain, diberi makan pakai telur,” sambung Kris. Namun, pengalaman mengerikan pernah menghamipirinya ketika sedang bernyanyi. Kejadiannya berlangsung di tempat manggung favorit Kris, Wisma Nusantara. “Gedung Wisma Nusantara masa itu adalah wilayah gedung tua dekat Istana Negara, yang dulu bernama Gedung Harmoni. Gedung itu belakangan dibongkar menjadi halaman kompleks Sekretariat Negara. Letaknya tepat di pojok halaman SekNeg. Pada masa tempo dulu, gedung itu adalah tempat pertemuan orang Belanda untuk bersantai. Di situ terdapat permainan bilyard, dsb,” tulis sineas Misbach Yusa Biran dalam   Kenang-kenangan Orang Bandel . Baca juga:  Dansa-dansi di Harmonie Gedung itu pula yang kerap didatangi Syafei atau yang beken dipanggil Bang Pi’i untuk menikmati musik. Pi’i merupaan jagoan Senen yang dijuluki “Raja copet”. Pada 1966 ia dijadikan Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet “100 Menteri” Dwikora II. Pi’i itulah yang mendatangkan pengalaman mengerikan pada Kris ketika sedang pentas di Wisma Nusantara. Pi’i datang dalam kondisi mabuk. Setiap orang yang hapal karakter Pi’i, termasuk Kris, biasanya ketakutan bila si “tokoh” sedang mabuk. Pi’i bakal berbuat seenaknya tanpa ada yang berani mencegah atau menghentikannya. Dengan kondisi mabuk berat, Pi’i meminta Kris menyanyikan lagu “Seroja” ciptaan Said Effendi. Dipesankannya agar Kris membawakan lagu itu dengan merdu dan cara berdendang yang mesti pas. Baca juga:  Aksi Beken Jagoan Senen Mendapat perintah dari “jagoan”, Kris hanya bisa mengiyakan. Jangankan menolak, menguasai diri pun bagi Kris saat itu merupakan urusan pelik lantaran jantungnya telah berdetak kencang. Salah sedikit, urusannya nyawa. Benar saja. “Baru saja saya bersiap-siap akan menyanyi, Sapei sudah mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke arah saya. Pucuk senjata ini berada persis di pelipis saya. Ini rupanya cara dia memastikan bahwa saya akan melantunkan lagu Seroja  dengan benar,” kenang Kris.   Kris hanya berusaha sebaik mungkin untuk membawakan “Seroja” agar sesuai kemauan Bang Pi’i. Suasana hatinya kacau lantaran terbelah antara takut bila nyanyiannya mengecewakan Pi’i dan hadiah yang bakal diterimanya bila berhasil menyenangkan si “jago”. Kris akhirnya lega. Tak sedikitpun komplain datang dari Pi’i. Sebaliknya, lantaran performanya berhasil menyenangkan Pi’i, Kris pun mendapat hadiah. Baca juga:  Sekamar dengan Letkol Untung Sjamsuri “Saya menyanyikan lagu Seroja  dengan baik sekali sehingga saya dapat persen. Dengan uang dari Sapei inilah saya kemudian membeli sepeda jengki untuk kuliah,” sambung Kris.

  • Mula Restoran All You Can Eat

    TEMPAT makan yang menyajikan konsep buffet all you can eat menjamur di kota-kota besar di Indonesia. Tak hanya menyasar masyarakat menengah ke atas, restoran dengan konsep makan sepuasnya ini juga menawarkan paket harga ekonomis agar terjangkau konsumen dari berbagai lapisan. Restoran dengan konsep buffet all you can eat mulai populer di Amerika Serikat pada 1950-an. Jauh sebelum itu, dalam The SAGE Encyclopedia of Food Issues disebutkan bahwa konsep tersebut diperkirakan berasal dari smörgåsbord yang dikenal sebagai warisan kuliner orang Swedia sejak abad ke-16. Konsep makan buffet ini mulai mencuri perhatian di wilayah Eropa pada abad ke-19 seiring perkembangan sistem kereta api. Tak berhenti di Eropa, konsep buffet all you can eat kemudian merambah wilayah Amerika Serikat. Menurut Andrew F. Smith, penulis dan pengajar sejarah kuliner, dalam Food and Drink in American History<3 volumes>: A “Full Course” Encyclopedia , orang-orang Skandinavia yang tiba dan menetap di Negeri Paman Sam sejak abad ke-17 berperan besar dalam mengenalkan smörgåsbord ke Amerika Serikat. “Salah satu warisan kuliner yang dibawa oleh orang-orang Skandinavia ini adalah smörgåsbord yakni sebuah tradisi mengisi meja dengan berbagai hidangan pembuka atau appetizer di mana orang-orang dapat sepuasnya mengambil makanan yang mereka sukai,” tulis Smith. Baca juga:  Hidangan Favorit Napoléon Senada dengan Smith, Justine J. Reel,profesor di College of Health and Human ServicesUniversity of North Carolina di Wilmington, dalam Filling Up: The Psychology of Eating menyebut smörgåsbord diyakini diperkenalkan ke Amerika Serikat pada 1930-an oleh orang Swedia di New York. Smörgåsbord ditampilkan di Pameran Dunia New York 1939 untuk memamerkan berbagai makanan Swedia.Seiring berjalannya waktu konsep buffet all you can eat kemudian berkembang dan tak hanya menjadi tradisi orang-orang Swedia di Amerika Serikat. “Gaya penyajian makanan prasmanan ini dapat ditemukan di kafetaria sekolah dan asrama serta restoran. Format ini juga dapat ditemukan di institusi militer dan penjara,” sebut Reel. Sementara itu, konsep buffet all you can eat dalam bentuknya saat ini kemungkinan berasal dari restoran di sebuah kasino di Las Vegas pada 1950-an. Restoran itu menyediakan beragam makanan dengan jumlah staf yang sedikit, sehingga pengunjung bebas memilih dan mengambil makanan yang ingin dinikmati. “Gaya prasmanan ‘makan sepuasnya’ ini diperkenalkan pada 1956 oleh pengusaha Las Vegas, Herbert McDonald, sebagai lambang kemewahan dengan hiasan patung es, aneka pilihan daging, serta beragam hidangan makanan laut yang mahal,” tambah Reel. Baca juga:  Kuliner Kesukaan Der Führer Hitler Kehadiran restoran dengan konsep buffet all you can eat dinilai menjadi daya tarik dan memiliki manfaat tambahan untuk menjaga pengunjung tetap “menghabiskan uangnya” di dalam gedung kasino. Oleh karena itu, tak heran bila kasino Las Vegas masih menjadi pilihan untuk menikmati pengalaman makan buffet all you can eat . Popularitas konsep buffet all you can eat mendorong para pengusaha restoranmenawarkan berbagai pilihan agar dapat menarik minat konsumen,seperti menawarkan prasmanan dengan tema masakan tertentu, seperti makanan laut, Asia maupun Italia. Selain itu, ada pula restoran all you can eat yang menyediakan paket prasmanan untuk sarapan makan siang hingga makan malam. Biasanya prasmanan sarapan menyajikan berbagai masakan telur dengan hidangan tambahan seperti daging asap serta kentang. Sementara prasmanan makan siang mencakup berbagai sandwich dan salad bersama beberapa pilihan makanan penutup. Sedangkan prasmanan makan malam cenderung lebih mewah dengan lebih banyak pilihan daging dan hidangan utama. Baca juga:  Ragam Kuliner Favorit Stalin Konsep buffet all you can eat tak hanya populer di Amerika Serikat tetapi juga di berbagai negara seperti Indonesia. Menurut praktisi dan penulis kuliner, Kevindra Soemantri dalam Jakarta A Dining History , konsep makanan buffet atau prasmanan kerap disajikan di sejumlah restoran yang ada di hotel-hotel ibu kota pada 1960-an, salah satunya Restoran Ramayana di Hotel Indonesia. Menu buffet di Restoran Ramayana hanya tersedia untuk dinner service setiap pukul 19.00 hingga 23.00 WIB. Memasuki tahun 1970-an, konsep prasmanan tak hanya tersedia di restoran hotel berbintang. Kevindra menyebut sebuah restoran yang menyempil di antara Hotel Indonesia dan Hotel Kartika Plaza menjadi restoran pertama di ibukota yang menyajikan buffet all you can eat di luar hotel berbintang. Nama restoran itu adalah Vic’s Viking. “Restoran Vic’s Viking tidak tanggung-tanggung menyiapkan lebih dari 50 makanan, mulai masakan Asia hingga Kontinental (Eropa),” tulis Kevindra. Baca juga:  Aneka Kuliner Favorit Diktator Korea Utara Menyusul Vic’s Viking, pada 1980-an restoran dengan konsep all you can eat lainnya mulai meramaikan bisnis restoran di Jakarta. Salah satunya adalah Hanamasa yang dikenal sebagai restoran prasmanan Jepang pertama di Indonesia. Restoran all you can eat yang berlokasi di Jalan Mahakam ini mulai beroperasi pada 1987 dengan menggandeng William Wongso, pakar kuliner terkemuka, sebagai penanggungjawab operasional restoran tersebut. Kini restoran berkonsep all you can eat semakin populer di Indonesia. Tak hanya menawarkan pengalaman makan sepuasnya, di sejumlah restoran all you can eat pun pengunjung dapat memasak sendiri makanan yang dipilih di kompor kecil yang telah disediakan di masing-masing meja makan. Dengan demikian , menyantap makanan tak lagi sek a dar mengisi perut hingga kenyang , tetapi juga menjadi tempat bersosialisasi dan berkumpul bersama keluarga atau teman d alam berbagai kesempatan. *

  • Gerombolan As Pelor

    DI Jawa Timur ketika revolusi terdapat sebuah batalyon yang dipimpin Mayor Bambang Joewono. Namanya Batalyon Gajah Mada. Pasukan ini bagian dari tentara Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Daerah gerilyanya termasuk sekitar Mojokerto. Di bawah Mayor Joewono itu, menurut koran Nieuwe Courant edisi 21 Desember 1950, terdapat pasukan bernama Alap-alap Samber Njowo. Pemimpinnya lelaki yang dikenal sebagai As Pelor. Suatu ketika, Mayor Bambang gugur ketika bergerilya melawan tentara Belanda. Sementara, Letnan As Pelor berhasil lolos. As Pelor memiliki sekitar 150 atau 160 anggota yang kebanyakan bersenjata. Sekitar satu kompi yang cukup kuat. As Pelor dan pasukannya bergerilya di sekitar Gunung Gajah Mungkur dan Pajek di Modjokerto. Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, As Pelor dan pasukannya bukannya turun gunung malah meneruskan perang di pegunungan. Namun bukan melawan tentara Belanda, melainkan pasukan pemerintah yang tidak memberi mereka tempat di kemiliteran. Baca juga:  Gempur-menggempur di Malang Timur Rupanya, pasukan As Pelor tidak terdaftar di ketentaraan. As Pelor kecewa dibuatnya dan membuat kelompok. As Pelor kemudian kena masalah hukum. Koran Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 27 Desember 1950 menyebut As Pelor menganiaya seorang kapten yang menurutnya korup. Dia pun ditangkap Polisi Militer dan dipenjarakan di Mojokerto. Pada November 1950, As Pelor termasuk 40 tahanan yang kabur dari penjara Mojokerto. Mereka pergi dengan mengunci para penjaganya. As Pelor lalu bergabung dengan kelompoknya, bekas pasukannya sewaktu revolusi. As Pelor memimpin gerombolan yang merajalela di wilayah Anjasmoro, Gajah Mungkur, Majosari, dan Trowulan serta berlindung di pegunungan sekitar Mojokerto. Mereka berharap bisa diterima jadi tentara. Mereka bertahan hidup dari pemberian rakyat di desa sekitar. Baca juga:  Kisah Sukarno Kecil di Mojokerto Menghadapi kelompok As Pelor, pemerintah tidak serta-merta menindak dengan kekerasan senjata. Dialog menjadi pilihan untuk menyelesaikan masalah. Namun ketika perundingan sedang berlangsung, sebuah insiden terjadi. De locomotief edisi 23 Desember 1950 memberitakan, ketika As Pelor sedang melakukan perundingan di Surabaya, karyawan Valk dan dua anggota Brimob di dekat Kremboeng diserang dan terbunuh oleh anak buah As Pelor. Konon, kata anak buah As Pelor mereka melawan hingga harus ditembak. As Pelor dicap tak bisa mengendalikan anakbuahnya. Dua hari setelah peristiwa di Kremboeng itu, As Pelor datang ke komandan Militer Kota Besar Surabaya, Kapten Darsan Iroe, untuk membahas syarat-syarat dari pemerintah bersedia untuk membebaskan dia dan kelompoknya yang terdiri dari 160 orang. Dia ke Surabaya hanya bersama beberapa anak buahnya. Kebanyakan anak buah As Pelor tetap berada di pegunungan. Mereka terpencar-pencar. Baca juga:  Pasukan Meriam dalam Pertempuran Surabaya As Pelor dan kelompoknya akhirnya mau berdamai dengan pemerintah. Anak buah As Pelor menyerah kepada pemerintah lantaran pemerintah, menurut mereka, menjanjikan mereka masuk tentara. As Pelor pun menyerah. Dan pemerintah menepati janji. Menurut koran Nieuws voor Kampen edisi 10 Januari 1951, akhirnya As Pelor mondar-mandir berseragam TNI dengan bintang di pundaknya. As Pelor sendiri, kata koran Overijsselsch Dagblad edisi 12 Februari 1955, merupakan nama singkat dari Asjaad Pelor. Konon, ia bersama Batalyon Sikatan waktu menghilangkan Tan Malaka dan Mayor Sabaruddin. *

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page