Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perampokan Javasche Bank dan Kisah Resort Gentisville
“…Sjahdan pada soeatoe hari/ Kira lohor, liwat tengari/ C.M. Gentis sigra berlari/ Baroe Ketaoean dia Pentjoeri…” Itulah petikan dari Sjair Java Bank Dirampok yang ditulis oleh Ferdinand Wiggers sekira 1902–1903. Syair tersebut diterbitkan oleh Khong Tjeng Bie & co. pada 1922. Selain Wiggers, syair setema pun ditulis dalam aksara Jawi oleh Ahmad Beramka pada 1909. Judulnya: Sair Tuan Gentis di Betawi. Nyatakah kisah itu?
- Dulu Clackers Kini Latto-latto
“Tak…tak…tak” begitulah bunyi yang terdengar saat dua bola plastik berbobot padat keras yang diikat seutas tali berbenturan saat dimainkan. Permainan bernama latto-latto ini kini tengah digandrungi anak-anak di Indonesia. Sejak akhir tahun 2022, latto-latto seakan menjadi topik yang tak habis dibahas oleh warganet. Tak hanya membahas sejarah permainan ini, ada pula warganet yang membagikan tutorial cara bermain latto-latto. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang melahirkan berbagai macam permainan virtual, latto-latto seakan memberi pengalaman unik tersendiri bagi anak-anak masa kini. Latto-latto mengalihkan mereka dari gadget. Latto-latto dianggap sebagai permainan yang mampu mengasah ketangkasan dengan mengandalkan keterampilan fisik. Cara memainkan latto-latto terkesan mudah dan sederhana, namun membutuhkan keahlian dan konsentrasi. Cara memainkannya yakni jari tangan diselipkan pada cincin yang berada di ujung tali. Selanjutnya kedua bola plastik yang digantungkan diayunkan secara seimbang hingga keduanya beradu. Yang menarik, bunyi benturan dari dua bola yang beradu tersebut dapat menghasilkan suara yang beragam. Namun, untuk mendapatkan beragam suara itu dibutuhkan kemampuan mengetahui ritme permainan latto-latto. Bila merunut sejarahnya, latto-latto yang kini banyak dimainkan anak-anak di Indonesia, juga pernah digandrungi anak-anak di Amerika Serikat dan Eropa tahun 1970-an. Permainan itu bernama clackers atau klik klaks. Masuk ke Indonesia pada awal 1970-an, clackers disebut nok-nok. Baca juga: Membangkitkan Kasti yang Mati Suri Menurut Christopher Byrne dalam Toy Time! From Hula Hoops to He-Man to Hungry Hungry Hippos: A Look Back at The Most-Beloved Toys of Decades Past , clackers mulanya dikembangkan sebagai senjata –bersama dengan yo-yo dan bumerang. “Penggunaan aslinya adalah untuk melumpuhkan hewan kecil saat berburu,” tulisnya. Ada pula yang menyebut clackers versi kayu telah digunakan pada abad ke-19 untuk menakut-nakuti maupun mengusir burung dari area persawahan. Serupa dengan latto-latto, clackers terdiri dari dua bola akrilik berwarna yang digantung pada seutas tali. Cara memainkannya pun dengan menggerakan tali ke atas dan ke bawah untuk membuat bola berbenturan sehingga menimbulkan suara yang nyaring. Oleh karena itu, nama permainan ini juga populer dengan sebutan klik klak karena suara yang dihasilkan dari benturan kedua bola tersebut menghasilkan suara “klak…klak…klak”. Byrne menyebut pemain yang ahli dapat membuat bola melaju cukup cepat sehingga saling memukul di atas dan di bawah tangan –semuanya dalam gaya sentripetal. Baca juga: Jejak Permainan Congklak Tak butuh waktu lama bagi clackers untuk menjadi permainan favorit anak-anak di awal tahun 1970. Ukurannya yang compact karena muat di kantong celana membuat banyak anak-anak membawa permainan ini ke mana-mana seperti ke sekolah. Mereka tak jarang berlomba saling menunjukkan kemampuan dalam bermain clackers . “Kemahiran menganugerahkan status besar pada mereka yang ahli bermain clackers ,” kata Byrne. Meski populer di kalangan anak-anak, clackers nyatanya tak mendapat sambutan yang baik dari sejumlah orang dewasa, khususnya para pendidik. Salah satu penyebabnya karena tak jarang anak-anak terluka maupun cedera karena terlalu kencang mengayunkan bola. Oleh sebab itu, banyak sekolah kemudian melarang anak-anak muridnya membawa clackers ke sekolah. Menurut David Mansour dalam From Abba to Zoom, A Pop Culture Encyclopedia of the Late 20th Century , pada 1971 clackers mulai dilarang setelah pemerintah mengeluarkan peringatan karena bola pada permainan ini diduga dapat pecah dan serpihan pecahan itu dikhawatirkan berterbangan di udara sehingga dapat melukai anak-anak. “Ditambah anak-anak sering menggunakan mainan ini sebagai senjata,” sebutnya. Sejumlah insiden yang terjadi akibat clackers mendorong dilakukannya penyelidikan terkait keamanan permainan ini. Pertimbangan keamanan membuat sejumlah orang tua melarang anak-anak mereka memainkan clackers . Akibatnya, popularitas clackers lambat laun kian memudar. Baca juga: Cita-Cita Favorit Anak-Anak Tiap Zaman Menurut Alwyn W. Turner dalam Crisis? What Crisis? Britain in the 1970s , beberapa waktu setelah dilakukannya penyelidikan terkait keamanan clackers , popularitas permainan itu berakhir secara tiba-tiba meninggalkan produsen clackers , James of England dengan 400 ribu clackers- nya di gudang. Di sisi lain, menurut Byrne, demi menarik kembali minat masyarakat terhadap permainan ini sejumlah perusahaan mencoba memproduksi clackers dengan menggunakan bola plastik yang lebih aman namun tidak pernah berhasil, sebagian besar karena tidak bekerja dengan baik, dan yang lebih penting tidak menghasilkan bunyi “klak...klak...klak” seperti clackers . Clackers yang sempat menjadi mainan favorit anak-anak di Amerika Serikat dan Inggris pada awal tahun 1970-an, kemudian hanya menjadi kenangan di ingatan orang-orang yang sempat memainkannya, hingga permainan serupa, yakni latto-latto, muncul kembali dan menghebohkan anak-anak di Indonesia di masa kini.*
- Ibnu Battuta Singgah di Samudra Pasai
SETELAH berlayar 25 hari, kami mencapai Pulau al-Jawa. Itu pulau dari mana kemenyan Jawa mendapatkan namanya. Kami melihat pulau itu dari jarak yang jauhnya setengah hari berlayar. Pohonnya banyak. Itu termasuk kelapa, palem, cengkeh, gaharu, papaya, jeruk manis, dan kapur barus.
- Cerita Liem Swie King Terobos Banjir
HUJAN deras di pengujung tahun 2022 mengakibatkan sejumlah daerah di wilayah Semarang terendam banjir. Banjir yang sempat merendam stasiun di kota Semarang itu, ramai disorot publik di awal tahun 2023, karena menyebabkan keterlambatan jadwal kereta api selama beberapa jam. Banjir yang melanda wilayah Semarang di awal tahun 2023 ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 1976 banjir besar juga merendam sejumlah wilayah di pantai utara Jawa Tengah. Dampak banjir besar itu dirasakan Liem Swie King. Robert Adhi Ksp dalam Panggil Aku King mengisahkan perjuangan legenda bulutangkis Indonesia itu saat terdampak banjir ketika hendak mengikuti pelatnas (pemusatan latihan nasional) All England di Jakarta di awal tahun 1976. Menurut pria kelahiran Kudus, 28 Februari 1956 itu banjir besar merendam wilayah pantai utara di awal 1976 hingga mengganggu lalu lintas Kudus-Demak-Semarang. Akses yang sulit dilalui akibat banjir membuat aktivitas masyarakat di wilayah tersebut menjadi terganggu. Meski begitu banjir tak mengendurkan semangat Liem Swie King untuk berangkat ke pelatnas di Jakarta. Baca juga: Boikot All England “Tekadku sudah bulat,” kata King. “Semangatku menguat. Aku tidak ingin terlambat masuk pelatnas seperti tahun-tahun sebelumnya.” Liem Swie King berangkat dari Kudus ke Demak menggunakan bus umum. Setibanya di Demak, jalan menuju Semarang terputus oleh banjir. Tak mungkin menunggu banjir surut, King kemudian menggunakan rakit yang dibuat penduduk untuk melintasi Demak-Semarang yang terputus sepanjang 5 kilometer. “Dengan rakit itu, aku membawa satu koper pakaian untuk tinggal di pelatnas. Ini untuk kali pertama aku menggunakan rakit. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupku. Pengalaman berkesan pada saat awal aku memutuskan memilih dunia bulutangkis sebagai masa depanku,” kata King. Banjir menyebabkan jalan yang menghubungkan wilayah Demak dengan Semarang tampak lengang. Tak ada satu pun mobil yang lewat di sana. Kesibukan justru terlihat dari beberapa orang yang juga menaiki rakit untuk beraktivitas di tengah banjir. Baca juga: All England dari Masa ke Masa Setelah melintasi banjir sepanjang 5 kilometer, Liem Swie King kemudian menumpang truk militer bersama warga untuk menembus Semarang. Sebab, kondisi jalan yang masih tergenang banjir sulit dilalui mobil-mobil kecil. Akibat banjir, perjalanan dari Kudus menuju Semarang, yang biasanya ditempuh dalam satu jam,menjadi lebih lama bahkan sampai enam jam. Sesampainya di Semarang, Liem Swie King langsung menuju kantor KONI Jawa Tengah untuk mengurus sejumlah hal terkait keberangkatannya ke pelatnas All England di Jakarta. “Aku langsung mendapatkan tiket pesawat ke Jakarta, dan akhirnya dapat bergabung di pelatnas All England bersama pemain-pemain lainnya,” kata King. Liem Swie King terlambat dua minggu masuk pelatnas di Jakarta yang dimulai sejak 5 Januari 1976. Selain terdampak banjir, King juga sempat bimbang memutuskan antara kuliah atau bulutangkis. Mengikuti keinginan ayahnya, King sempat mengikuti tes masuk Fakultas Teknik Universitas Diponegoro di Semarang. Namun,akhirnya King memutuskan untuk menekuni bulutangkis. Baca juga: Indonesia dan Kejayaan All England Keputusan tersebut membuat Liem Swie King giat berlatih dan bertekad menjadi atlet yang berprestasi. Sejumlah pertandingan pun diikutinya, salah satunya All England. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia menulis, Liem Swie King yang memulai debut di All England 1974 sempat menjadi runner up All England 1976 dan 1977. King dikalahkan Rudy Hartono Kurniawan dan Flemming Delfs. Nama Liem Swie King melambung setelah menjuarai All England sebanyak tiga kali , yakni tahun 1978 mengalahkan Rudy Hartono; tahun 1979 mengalahkan Flemming Delfs; dan tahun 1981 mengalahkan Prakash Padukone. Selain berlaga di All England, King juga menjadi bagian dari Tim Piala Thomas Indonesia tahun 1976, 1978, 1982, 1984, dan 1986. King sukses menjadi juara tunggal putra Piala Dunia 1982, juara ganda putra Piala Dunia 1984, 1985, dan 1986. Dengan sederet prestasi yang berhasil diraih, Liem Swie King tercatat sebagai salah satu legenda bulutangkis Indonesia yang namanya akan selalu dikenang. *
- Catatan Ibnu Battuta tentang Wabah Mematikan
Tatkala Ibnu Battuta tengah menikmati pertemuan dengan para ulama di Aleppo pada pertengahan tahun 1348, datang para musafir dari selatan. Mereka membawa kabar tentang penyakit yang merebak di Gaza, di perbatasan Mesir.
- Kisah Perjalanan Musafir Terbesar
IBNU BATTUTA mengembara dengan keledainya meninggalkan kota kelahirannya di Tangier, Maroko. Ia pergi seorang diri ke arah timur di sepanjang wilayah Afrika Utara, melewati lembah sungai dan daratan-daratan kering yang diapit serangkaian pegunungan.
- 31 Desember 1600: East India Company (EIC) Didirikan
Imperium perdagangan di Hindia Timur (selanjutnya Hindia Belanda) telah eksis sejak abad ke-17. Sebelum VOC berdiri pada 1602, telah hadir lebih dulu kongsi dagang Inggris bernama East India Company (EIC) yang didirikan di London pada 31 Desember 1600. Ratu Elizabeth I memberikan hak istimewa berupa izin pendirian kongsi dagang tersebut. Sir James Lancaster dipilih sebagai pemimpin pelayaran pertama EIC. Pada Juni 1602, ia tiba di Aceh yang selanjutnya berlayar menuju Banten. EIC memperoleh izin mendirikan kantor dagang di Banten yang terkenal sebagai bandar lada terkaya. Lancaster pun kembali ke Inggris dengan membawa lada berjumlah besar. Pelayaran kedua EIC dilakukan pada 1604 di bawah pimpinan Sir Henry Middleton. Ia berhasil menjangkau Ternate, Tidore, Ambon, dan Banda. Namun, EIC mengalami petaka lantaran di wilayah tersebut mendapat serangan dari VOC. Akibatnya, dimulailah persaingan antara Inggris dan Belanda dalam memperoleh rempah-rempah. Baca juga: Mata-mata Mataram Ditangkap VOC Selama tahun 1611–1617 orang-orang Inggris mendirikan kantor dagang EIC di sejumlah wilayah Hindia Belanda di antaranya Sukadana (Kalimantan Barat Daya), Makassar, Jayakarta, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jambi. Persaingan antara Inggris-Belanda kian sengit saat orang-orang Belanda menganggap cita-cita monopoli mereka telah meleset. Di sisi lain, kondisi global di Eropa pada 1620 memaksa Belanda melakukan kontak kerja sama singkat dengan Inggris. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2004 , hal tersebut dilakukan sebagai pertimbangan diplomatik di Eropa saat itu. Inggris diizinkan mendirikan kantor dagangnya di Ambon. Namun, pada 1623 terjadi pembantaian Amboyna (Ambon) yang mengubur seluruh gagasan atas kerja sama keduanya. Peristiwa tersebut mengakibatkan sepuluh orang Inggris dan sepuluh orang Jepang serta seorang Portugis dihukum mati. Baca juga: Anak Ambon dan Misi Politik VOC Meski tak sampai menciptakan peristiwa yang lebih tegang, namun pertikaian diplomatik di Eropa tak terhindari. Selain itu, Inggris sejak saat itu secara diam-diam menarik diri dari wilayah Hindia Belanda, kecuali Banten. Banten telah menjadi pusat aktivitas bagi orang-orang Inggris dalam kurun waktu lama hingga 1682. Perhatian Inggris selanjutnya lebih difokuskan pada wilayah-wilayah Asia lainnya. Mengenai EIC, The Archives of the Dutch East India Company VOC and the Local Institutions in Batavia Jakarta, koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia, menulis bahwa di awal pendiriannya EIC belum cukup mampu menandingi VOC. Kala itu EIC belum memiliki kas keuangan yang memadai, struktur organisasi yang andal, serta kurangnya dukungan dari pemerintah Inggris semakin membuat EIC tidak cukup berhasil mengungguli VOC. Meski perdagangan di Hindia Belanda masih dimonopoli oleh VOC, namun pada akhir abad ke-17 EIC tumbuh pesat sebagai pesaing VOC yang patut disegani. Sepanjang abad ke-18 EIC bahkan mampu mengungguli VOC di sejumlah bidang. Pada perkembangannya, EIC turut melakukan ekspansi bisnisnya ke sejumlah wilayah Hindia Belanda, salah satunya Bengkulu. Hubungan antara Bengkulu dan EIC bermula dari perjanjian pada 1685 antara penguasa Selebar dan EIC. Atas perjanjian tersebut, EIC mulai menjalankan kesepakatan dengan kerajaan-kerajaan di wilayah Bengkulu. Di Bengkulu, EIC mencapai keberhasilan di mana perdagangan di seluruh wilayah tersebut, termasuk Mukomuko, berhasil dipegang oleh EIC hingga tahun 1752. Pada pertengahan dekade tahun 1760, EIC menyadari akan kemajuan kongsi dagangnya. Salah satu perdagangan yang dijalankan EIC ialah candu. Pada tahun-tahun tersebut, perdagangan candu antara Bengal dan Hindia Belanda mengalami kemajuan. Baca juga: Bisnis Candu Kompeni Belanda Atas kemajuan perdagangan opium EIC di Bengkulu, diresmikanlah Bencoolen Opium Society. Keberhasilan EIC di Bengkulu kian menampakkan hasilnya sebab selama tahun 1771–1779 Bengkulu berada di bawah kekuasaan EIC bukan VOC. Tak hanya di Bengkulu, EIC juga turut berperan dalam upaya monopoli perdagangan di wilayah Sumatra lainnya. Dalam sebuah laporan tahun 1840, John Anderson, seorang pegawai EIC yang menjadi duta Inggris di Penang, Singapura, dan Malaka, menulis terkait upaya menjalin kontak dagang dengan Aceh. Baca juga: 16 Desember 1931: Kolonisasi Ekonomi di Tanah Gayo Guna memenuhi kepentingan pemerintah Inggris, EIC berupaya mencari wilayah dagang di pantai timur Sumatra. EIC melakukannya dengan memperbarui hubungan dagang dengan Aceh yang sebelumnya sempat pasang surut. Aceh dipilih karena kerajaan makmur dengan posisi geografis yang sangat strategis. Sama seperti VOC, ekspansi yang dilakukan EIC di sejumlah wilayah juga bertujuan lain. Dengan mendirikan kantor dagangnya di berbagai wilayah, Inggris hendak menunjukkan kedudukan dan meneguhkan legitimasi kekuasaannya, tak hanya secara ekonomi namun juga politik.*
- Membina Rumah Tangga yang Baik ala Raja Jawa
Di masa kini, para pasangan yang akan menikah atau pasangan yang baru menikah mungkin tak perlu “setakut” zaman dulu. Kemajuan zaman membuat informasi tentang tips-tips membina rumah tangga yang baik berseliweran di laman media-media mainstream atau media sosial. Tips-tips tersebut biasanya disampaikan psikolog, motivator, atau publik figur yang “sukses” ber-rumah tangga. Dahulu, orang-orang yang akan menikah atau baru membina rumah tangga tidak memiliki informasi sekaya sekarang. Membina rumah tangga yang baik dipelajari secara turun-temurun melalui nasihat-nasihat orang tua. Para raja, kaum bangsawan, dalang, atau pujangga seringkali menulis nasihat tersebut dalam sebuah naskah. Salah satunya di Kadipaten Pakualaman, di mana Pangeran Adipati Pakualam menuliskan nasihat-nasihatnya dalam bentuk karya sastra yang diberi judul Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama . Baca juga: Tips Memilih Jodoh Ala Raja Jawa “ Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama ditujukan untuk anak-cucu Pakualam. Urutannya dari Pakualam I memberikan piwulang ke Pakualam II, kemudian Pakualam II memberikan piwulang ke anak-cucunya. Tetapi yang menarik, kebanyakan untuk perempuan. Mungkin ini ada kaitannya pula dengan Raden Ayu Rangga,” ucap Krisna, pegiat Komunitas Jagongan Naskah Nusantara, dalam diskusi Jagongan Naskah seri 46, secara daring. Raden Ayu Rangga adalah anak dari Adipati Pakualam II dengan istrinya, Ratu Ayu/G.K.R.A.A Pakualam II. Belum ditemukan atas dasar apa penulisan serat tersebut dilakukan. Ada kemungkinan ditunjukkan ketika Raden Ayu Rangga akan menikah sehingga serat ini menjadi nasihat untuk anak serta menantu Adipati Pakualam II. “ Piwulang-piwulang ini disampaikan saat anak- putu dikumpulkan dan ketika midodaren ,” kata Dosen Sastra Jawa UGM Dr. Sri Ratna Saktimulya. Midodaren merupakan salah satu ritual dalam pernikahan adat Jawa yang dilakukan satu malam sebelum akad. Baca juga: Dukungan Paku Alam pada Republik Indonesia Adipati Pakualam mengatakan bahwa rumah tangga dapat berjalan baik dan diberkahi jika didasari oleh iman. Nasihat ini berlaku secara umum baik untuk laki-laki maupun perempuan. “Beratnya orang yang berumah tangga, jika tidak beriman dalam hatinya (akan menjadikan) tidak kebagian manfaat dari Tuhan Yang Maha Suci, hanya akan menjadi debunya api neraka,” kata Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama . Nasihat selanjutnya, untuk perempuan, berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Perempuan yang baik harus dapat bertutur kata yang pantas. Selain itu, berpendirian teguh alias tidak mudah goyah. Perempuan dapat menjadi makhluk unggul dan dapat membangun rumah tangga jika memiliki bekal ilmu dan agama. Hal ini hanya bisa didapatkan dengan cara belajar tanpa mengenal lelah. Baca juga: Kala Sang Raja Ditolak Cintanya Kerukunan dengan keluarga merupakan hal yang harus diperhatikan oleh perempuan. Jika tidak rukun, Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama mengibaratkan, akan ditinggalkan oleh Sri-Sadana (kesuburan dan ketenteraman). Kententeraman ini juga dapat terwujud ketika kita merasa cukup, tidak mudah terayu oleh nafsu duniawi. “Jangan terbuai akan gemerlap dunia, sebab di dunia ini hanyalah fana, begitu pula yang terlihat baik atau buruk, perhatikan dahulu dengan seksama lalu pertimbangkan dengan benar,” ungkap Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama pupuh III. Keberhasilan dalam membina rumah tangga tidak hanya ditanggung oleh perempuan. Laki-laki juga bertanggung jawab akan hal tersebut. Serat Piwulang Putra Putri Bab Palakrama menyajikan pula nasihat-nasihat untuk laki-laki. Apabila laki-laki tidak dapat berbuat baik, bahkan memperlakukan perempuan dengan kasar, kata serat tersebut, ia diibaratkan seperti kerbau, sapi, dan kambing. “Pada akhirnya nasihatku ini, Nak, bahwa segenap tingkah laku dan ucapan, jangan meninggalkan pertimbangan, gunakan pikir dan rasa sebelum melakukan sesuatu, jika menerapkan lebut hati, itu menjadikan selamat dan sejahtera,” kata Serat Piwulang Putra Putri Bab “Palakrama”.
- Sisi Lain Ridwan Saidi
Sebelum tutup usia pada 25 Desember 2022 karena pendarahan di otak, Ridwan Saidi kerap dianggap budayawan Betawi dan oleh sebagian kalangan disebut sejarawan. Ia sering muncul di televisi atau panggung lainnya dengan utak-atik gatuk yang sulit diterima para peneliti sejarah. Begitulah ia kini diingat, padahal di era Orde Baru posisinya cukup unik. Ridwan Saidi adalah penikmat seni. Seleranya musik jazz. “Saya senang jazz. Pertunjukan Tjok Sinsu sampai Jack Lesmana selalu saya tonton,” kata Ridwan Saidi dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985–1986 . Waktu duduk di SMP, Ridwan Saidi pernah belajar melukis dari kawannya, Ali Shahab yang sutradara. Pelajaran melukis itu ada gunanya. Setidaknya bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ketika lambangnya belum Ka’bah seperti sekarang melainkan masih bintang sudut lima. Ridwan Saidi dianggap sebagai perancang lambang PPP di masa Orde Baru tersebut. Baca juga: Kala Orde Baru Terlibat Kudeta Partai “Proses pembuatannya hanya satu hari saja. Proses pengendapannya yang lama,” kata Ridwan Saidi terkait pembuatan lambang itu. Setelah tahun 1999, ketika jumlah partai bertambah lagi, lambang bintang itu dipakai Partai Persatuan yang diketuai Djaelani Naro. PPP adalah partai yang diarahkan rezim Soeharto untuk menghimpun kelompok-kelompok Islam di zaman Orde Baru. PPP lahir dari fusi (penggabungan) Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI) pada 5 Januari 1973. Partai ini lawan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan lawan berat daripada Golongan Karya (Golkar). Baca juga: Ridwan Saidi dan Dapunta Hyang “Ridwan Saidi sendiri mulai bergabung dengan PPP ketika ia masih menjadi anggota HMI, karena salah satu unsur dalam PPP adalah Parmusi yang merupakan gabungan dari beberapa organisasi Islam dan HMI termasuk di dalamnya,” catat Ali Akbar dan Ridwan Saidi dalam Biografi Politikus dan Budayawan Ridwan Saidi . Ridwan Saidi pernah kuliah ilmu publisitas di Universitas Padjadjaran Bandung dan ilmu sosial di Universitas Indonesia. Menurut catatan Pemilihan Umum Tahun 1982 Volume 15 , Ridwan Saidi menjadi anggota HMIsejak 1963. Antara 1974 hingga 1976, ia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI, sebuah organisasi yang didirikan Lafran Pane. Sebelum menjabat Ketua Umum,ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal dan Ketua Satu. Ridwan Saidi, yang pernah menjadi Ketua Departemen Organisasi dan Pemilu DPP PPP, pernah pula menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPP/MPR) dari 1977 hingga 1987. Ia dianggap mewakili anak Betawi. Baca juga: Kenaikan Harga BBM Masa Orde Baru Ridwan Saidi cukup kritis ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik pada Januari 1983.Ia pun mempertanyakan semangat Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang dulu dikoar-koarkan Angkatan 66, kawan-kawan seperjuangannya yang merontokkan Sukarno dari kursi kepresidenan. “Elite Angkatan 66 mencoba berpokrol-bambu tentang arti tura (turunkan harga), dengan mengaburkan pengertian-pengertian yang asli,” kata Ridwan Saidi yang kecewa pada kawan-kawannya itu. Berpokrol bambu maksudnya adalah bersilat lidah. Sebagian kawan-kawan Angkatan 66-nya ada yang duduk di Golkar. Ridwan Saidi di era 1980-an melihat kurangnya kesadaran berorganisasi dari anak-anak muda Indonesia. Ia juga melihat banyak organisasi tidak memungut iuran pada anggotanya, yang menurutnya adalah bentuk tanggungjawab kepada organisasi, dan banyak organisasi jika butuh uang kegiatan biasanya akan mencari sponsor. Ridwan Saidi mencium bahaya dari keadaan semacam ini. Baca juga: Ridwan Saidi dan Bahasa Armenia Sebagai anggota DPR, pria kelahiran 2 Juli 1942 ini menjalani hidup dengan sederhana yang mengandalkan gaji saja. Ia suka naik bis kota meski memiliki skuter bajaj. Ketika masih jadi anggota dewan, ia pernah tinggal di Jalan Talempang, Kelapa Gading, Jakarta Utara, sebelum akhirnya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Tak banyak yang tahu, Ridwan Saidi yang barangkali dicap tidak ilmiah di media adalah orang yang mampu berpikir ilmiah. I a bisa menjadi lawan bicara menarik jika tidak di depan kamera atau di atas panggung. Dalam diskusi sejarah , ia bisa bicara dengan sumber sejarah yang jelas. *
- Pesona dari Desa Penglipuran
Bila kita bicara tentang destinasi wisata di Indonesia tentu saja tidak akan lepas dari Bali. Beragam wisata ada disana, mulai dari wisata alam hingga budaya semua ada di sana. Salah satu tujuan wisata itu adalah Desa Adat Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli. Menurut catatan sejarah, desa ini sudah ada sejak masa pemerintahan Dewa Gede Putu Tangkeban III pada abada ke-14. Dikisahkan, masyarakat Bangli sering menggunakan jasa orang-orang dari Desa Bayung Gede berkaitan dengan kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan bela diri. Masyarakat Bangli menyediakan tempat istirahat bagi orang-orang dari Bayung Gede di tempat yang dikenal sebagai Desa Panglipuran. Seorang warga saat melintas di kawasan Desa Penglipuran Bali. (Fernando Randy/Historia.ID). Menurut salah satu warga yang dituakan di Desa Panglipuran, Made (51), nama Panglipuran berasal kata "pengeling pura". “Jadi pengeling atau eling itu artinya ingat dan pura artinya tanah leluhur jadi kita harus selalu ingat pada tanah leluhur serta harus selalu patuh pada adat istiadatnya," ujar Made. Desa Panglipuran sendiri memiliki beberapa keunikan yang sayang dilewatkan apabila kita berkunjung ke Bali. Salah satunya adalah soal kebersihan. Desa Panglipuran saat ini terkenal sebagai desa paling bersih se-Indonesia. Bahkan, desa yang mencapai 112 hektar ini menjadi yang terbersih ketiga di dunia setelah Desa Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Memasuki Panglipuran kita bukan hanya disambut oleh udara sejuk dan bersih, namun juga senyum ramah para warga desa. Potret salah satu warga yang tinggal di Desa Penglipuran. (Fernando Randy/Historia.ID). Salah satu patung yang ada di Desa Penglipuran. (Fernando Randy/Historia.ID). Zona Utama Mandala yang merupakan tempat suci berisi pura sebagai tempat memuja dewa. (Fernando Randy/Historia.ID). Keunikan lainya adalah bentuk tata ruang Desa Panglipuran yang masih menganut konsep Tri Mandala di mana lahan dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama disebut Utama Mandala, yaitu tempat suci berisi pura sebagai tempat memuja para dewa. Kemudian ada zona kedua, yaitu Madya Mandala yang merupakan tempat tinggal manusia, dalam hal ini warga desa. Terakhir, ada zona Nista Mandala yang merupakan pemakaman desa. Dengan berbagai pesona tersebut, wajar apabila Desa Panglipuran selalu ramai dikunjungi baik oleh wisatawan asing maupun lokal. Walau jaraknya cukup jauh dari Denpasar, sekitar 45km, namun tempat ini merupakan salah satu tujuan favorit banyak pemuda dan pemudi yang ingin melakukan sesi foto pre-wedding, termasuk Inri (25) dan Steve (26). “Karena sering ke Bali dan ingin salah satu lokasi fotonya bukan di pantai, kami memilih Panglipuran. Selain karena kita tahu bahwa lokasinya bagus dan bersih, yang bikin kita makin takjub adalah ternyata orang-orang disini ramah banget sama wisatawan,” kata Inri. Tampak Desa Penglipuran yang menganut konsep tradisional Tri Mandala. (Fernando Randy/Historia.ID). Potret salah satu warga asli Desa Penglipuran. (Fernando Randy/Historia.ID). Buah salak yang menjadi ciri khas Bali pun bisa ditemui saat berkunjung ke Desa Penglipuran. (Fernando Randy/Historia.ID). Dengan semua pesona yang ada di Panglipuran, tentu saja kita berharap bahwa tradisi di sini tetap lestari. Itu juga yang menjadi harapan Wayan bagi para generasi muda desa ini agar tetap melanjutkan adat dan istiadat mereka. “Saya sangat berharap bahwa generasi muda mampu menyaring setiap pengaruh dari luar. Jadi secara mental mereka mampu terus menjaga dan mewarisi tradisi kami agar tidak hilang dan punah,” ungkap Wayan. Salah satu warga Penglipuran saat menyapu halaman jalan dan rumah mereka. (Fernando Randy/Historia.ID). Tampak halaman rumah yang asri dan bersih di Desa Penglipuran. (Fernando Randy/Historia.ID). Desa Penglipuran yang saat ini menjadi desa terbersih ketiga di dunia. (Fernando Randy/Historia.ID).
- Dokter Mata Bung Besar
SEORANG lelaki berusia 76 tahun mendapat pertanyaan dari platform Quora, “Siapa Liang-Hai Sie dan bagaimana dia bisa sampai ke Belanda?” Sie Liang Hai, namanya, menjawab bahwa ia adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Ghent, Belgia, ketika Gerakan 30 September 1965 meletus di Indonesia.
- Musim-musim Rina Hassim
SIANG itu, langit di kawasan elite lawas di sebelah barat arena pacuan kuda Pulomas (Jakarta International Equestrian Park Pulomas) teduh. Sesosok perempuan anggun menyapa di muka pagar rumahnya. Dia mengenakan dress motif batik Manado bercorak kuning-cokelat gelap. Senyumnya hangat nan ramah. Kendati usianya sudah menginjak 75 tahun, pesona dan kharismanya belum sepenuhnya hilang.





















