Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian II – Habis)
MESKI terkesan brutal, tinju jadi salah satu olahraga kontak fisik yang disukai banyak pemimpin dunia. Dari Adolf Hitler, Theodore Roosevelt, Idi Amin, hingga Nelson Mandela. Bahkan, tiga dari empat nama ini pernah berkiprah di tinju amatir. Kendati tak pernah naik ring, Hitler menuangkan kekagumannya pada tinju di beberapa halaman di manifesto politiknya, Mein Kampf . “Salah satu olahraga yang tak boleh dilupakan, walau dianggap brutal: tinju. Tidak ada olahraga seperti ini yang mempromosikan spirit agresif dengan kekuatan yang sama, membutuhkan determinasi secepat kilat, dan membangun fisik sekuat baja. Jika dua pemuda menyelesaikan perdebatan dengan tinju tidaklah lebih brutal ketimbang mereka saling pukul dengan tongkat besi,” tulisnya. Baca juga: Anggar untuk Hitler Mandela, tokoh anti-apartheid di Afrika Selatan, pernah terjun ke dunia tinju amatir di masa mudanya. Namun, kariernya di ring tinju tak pernah melesatkan reputasinya secemerlang karier politiknya. “Meski saya pernah bertinju saat di Fort Hare, di Johannesburg, saya tak pernah jadi petinju berprestasi di kelas berat. Saya tak punya keunggulan power, kecepatan, dan bahkan tak menikmati sisi kekerasannya. Saya hanya tertarik bagaimana seseorang bisa melindungi tubuhnya sendiri dengan menggunakan strategi untuk menyerang dan menghindar,” katanya dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom. Prestasi Theodore Roosevelt, presiden Amerika Serikat ke-26 (1901-1909), di atas ring tinju amatir nyaris setali tiga uang. Kecintaannya pada tinju tumbuh semasa Roosevelt masih kuliah di Universitas Harvard hingga berkarier di Kepolisian Kota New York. Ketika sudah jadi presiden pun Roosevelt masih hobi bertinju untuk menjaga kebugarannya. Pada 1904, ia terpaksa “gantung sarung tinju” gegara mata kanannya terluka parah kena bogem mentah seorang kapten artileri yang jadi sparring partner -nya. Baca juga: Presiden Jago Tinju, Gulat Hingga Jiu-Jitsu Sedangkan Idi Amin “Sang Jagal Uganda”, karier tinju amatirnya sedikit lebih gemilang. Idi Amin muda tumbuh jadi pribadi yang atletis dan menaruh minat pada olahraga renang, rugby, hingga tinju. Kesempatannya mengembangkan diri terjadi sejak masuk King’s African Rifles (KAR) atau tentara kolonial Inggris di Afrika Timur. Di sana ia bisa memanfaatkan banyak fasilitas olahraga. Dengan tubuh kekar dan postur setinggi 193 cm, Kopral Idi Amin memasuki tinju amatir di kelas berat-ringan di awal 1950. Setahun kemudian, ia sudah melingkarkan pinggangnya dengan sabuk juara nasional yang ia pertahankan hingga pensiun pada 1960. “Ayah tak pernah suka berlama-lama untuk menganvaskan lawan di kejuaraan kelas berat (ringan). Dia lalu jadi juara nasional selama sembilan tahun berturut-turut dan gantung sarung tinju dengan catatan tak terkalahkan. Seperti Sonny Liston dan Mike Tyson, dia paling senang jika bisa meng-KO lawan,” kata Jaffar Amin, putra sang diktator, dikutip Mark Leopold dalam Idi Amin: The Story of Africa’s Icon of Evil. Baca juga: Pencarian Islam Muhammad Ali Sebagaimana Roosevelt, saat sudah jadi presiden Idi Amin masih hobi bertinju. Ia bahkan pernah ingin menantang Muhammad Ali dengan imbalan bayaran USD500 ribu. Itu terjadi usai Ali menjalani pertarungan “Rumble in the Jungle” kontra George Foreman di Zaire pada 1970. Ali diundang Idi Amin mampir ke Uganda. “Ali dan beberapa rekannya terbang ke Uganda untuk bertemu Idi Amin, diktator yang lebih sadis dari (diktator Zaire, Sese Seko) Mobutu. Tapi kali ini Ali bilang: ‘Orang ini (Idi Amin) gila. Kita pergi saja dari sini.’ Idi Amin ingin naik ring melawan Ali dan Ali mengatakan: ‘Tidak mau. Jika saya mengalahkan dia, saya akan dibunuh. Jika saya tak mengalahkannya, saya bisa terbunuh. Kita pergi saja,’” ungkap Jonathan Eig, penulis biografi Ali, dalam Ali: A Life . Betapapun, reputasi mereka di dunia tinju tak sebanding dengan reputasi mereka di dunia politik. Hobi dan kiprah mereka di dunia tinju hanya diketahui setelah kiprah politik mereka yang –terlepas dari baik-buruk– umumnya populer di pentas internasional. Langkah mereka mungkin menginspirasi banyak petinju generasi-generasi setelah mereka untuk terjun ke dunia politik pasca-“garung sarung tinju”. Manny “Pacman” Pacquiao asal Filipina atau Chris John asal Indonesia di antaranya. Hanya saja, kedua nama terakhir tak seberuntung mereka di dalam dunia politik. “Pacman” kalah dalam pemilihan presiden Filipina 2022, sementara Chris John kalah saat mencalonkan diri menjadi legislator dalam Pemilu 2019. Berikut empat petinju profesional lain yang juga pontang-panting di arena politik untuk merebut jabatan publik : Nikolai Valuev Nikolai Sergeyevich Valuev kini jadi anggota parlemen negara bagian Duma (Twitter @Russia) Posturnya yang besar dengan tinggi 213 cm membuat petinju kelahiran St. Petersburg, Rusia, 21 Agustus 1973 ini dijuluki “Beast from the East” atau kadang “The Russian Giant”. Namun di balik keunggulan posturnya, Valuev mengaku beberapa kali merasa insecure lantaran pandangan banyak orang terhadap fisiknya yang merupakan keturunan genetis kakek-moyangnya, seorang “raksasa” bernama Vasily, yang merupakan turunan langsung bangsa Tartar. “Saya bukan seonggok daging. Saya bukan pertunjukan sirkus. Saya manusia normal, punya perasaan. Saya punya keluarga yang harmonis. Saya punya banyak teman. Saya suka musik klasik dan membaca buku. Kadang orang-orang tak memperlakukan saya sebagaimana mestinya karena tubuh saya. Mereka membuat sensasi. Saya mencoba tak memasukkannya ke hati walau terkadang saya juga merasa sakit hati,” aku Valuev, dikutip Thomas Hauser dalam The Greatest Sport of All: An Inside Look at Another Year in Boxing . Terlepas dari itu, Valuev berhasil masuk ke tinju profesional kelas berat pada 1993 setelah malang-melintang di kelas berat tinju amatir. Petinju bergaya ortodoks itu memulai debutnya pada 15 Oktober 1993 di Sporthalle, Schöneberg, Jerman, melawan John Morton. Ia menang TKO. Baca juga: Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian I) Nama Valuev di tinju internasional mulai terukir sejak memenangi sabuk juara nasional Rusia pada 1999. Setelah itu, satu per satu gelar internasional, mulai dari PABA Interim hingga WBA Inter-Continental, sukses direbutnya. Prestasi puncak diraih Valuev di usia 32 tahun. Itu terjadi kala ia mengalahkan John Ruiz dalam perebutan gelar dunia WBA di Max-Schmeling-Halle, Berlin, Jerman, 17 Desember 2005 lewat keputusan kontroversial. “Valuev menang angka atas John Ruiz untuk mengklaim titel WBA. Salah satu juri memberi angka yang imbang, sementara dua lainnya memenangkan Valuev 116-114 dan 116-113. Hasil itu menuai siulan mengejek dari para penonton,” lanjut Hauser. Selepas itu, karier Valuev naik-turun. Sempat kehilangan gelar WBA yang direbut Ruslan Chagaev pada 2007, Valuev merebutnya lagi kala melakoni rematch kontra Ruiz pada 2008. Pada 7 November 2009, gelar itu lepas lagi setelah direrbut David Haye. Tiga hari berselang, Valuev menyatakan pensiun dengan alasan medis. Menurut dokter pribadinya, Valuev mengalami masalah pada tulang dan persendiannya. Baca juga: Ronde Terakhir Roger Mayweather Valuev lalu menjajal dunia hiburan dengan menjadi cameo di film produksi Jerman, 7 Zwerge: Der Wald ist Nicht Genug (2006) dan tampil jadi pemeran utama di film Stonehead (2008). Pada 2010, ia lebih serius menekuni dunia politik. Di masa itu, perpolitikan Rusia sedang “demam” selebritis terjun ke politik. “Popularitas mereka memberi pengaruh tersendiri ke publik melalui media. Dari tiga golongan politisi Negara Bagian Duma, satu golongannya terdiri dari para pemula di karier politik. Nikolai Valuev (petinju), Stanislav Govorukhin (sutradara film), Svetlana Zhurova (peseluncur es), Maria Kozhevnikova (aktris), dan Alina Kabaeva (pesenam ritmik),” tulis Svetlana Akhmatnurova dkk. dalam New Trends in Russian Political Mentality Putin 3.0. Menjelang Pemilu 2011, Valuev berganti “kendaraan” politik dengan bergabung ke Partai Yedinaya Rossiya (Partai Rusia Bersatu). Partai ini berhasil menang 50 persen di Duma meski di beberapa negara bagian menelan kekalahan. Alhasil, Valuev masuk ke Parlemen Negara Bagian Duma sebagai perwakilan Partai Rusia Bersatu. Vitali Klitschko Vitali Volodymyrovych Klitschko jadi Walikota Kyiv usai pensiun ( wbaboxing.com/wbcboxing.com ) Sama-sama bertinju dengan adiknya, Wladimir Klitschko, Vitali Klitschko termasuk salah satu rival Valuev di kelas berat. Hanya saja duel Valuev-Vitali yang digembar-gemborkan sejak 2009 tak pernah terwujud dengan dalih buntunya negosisasi terkait pembagian fulus. Lahir di Bolovodskoye, Kirgistan, pada 19 Juli 1971, Vitali punya banyak ketertarikan pada olahraga beladiri sejak muda. Ia menggeluti banyak olahraga kontak fisik, mulai dari karate, kickboxing, judo, SAMBO, gulat bebas hingga gulat Greco-Romawi. Namun, larangan tampil di muka publik yang dikeluarkan pemerintah Uni Soviet terhadap kegiatan olahraga-olahraga beladiri itu pada 1985 memaksa Vitali memilih tinju sebagai jalan hidupnya. Pasca-runtunya Uni Soviet, olahraga-olahraga itu diperbolehkan lagi dimainkan di ruang publik. Vitali menyambi karier tinju amatirnya dengan karier kickboxing. Tak hanya di level domestic, Vitali sering menyambangi turnamen-turnamen tinju amatir luar negeri, bahkan sampai ke Indonesia. Baca juga: SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi Menurut situs Strefa , Vitali ikut dalam rombongan tujuh petinju Ukraina yang berpartisipasi di Kejuaraan Internasional Amatir Piala Presiden 1994 di Jakarta. Di kelas +91 kg, pengagum Muhammad Ali dan Mike Tyson itu langsung mendapat spot di perempatfinal berhadapan dengan Said Ahmed el-Sayed (Mesir) pada 6 Februari 1994. Empat hari usai menang angka atas El-Sayed, Vitali menghadapi Christophe Mendy. Vitali harus mengakui kekalahannya dari petinju asal Prancis tersebut. Ia pulang dari Jakarta membawa oleh-oleh medali perunggu. Dua tahun kemudian, Vitali menembus tinju profesional berbekal gelar juara kelas berat-super di World Military Games 1995 dan medali perak Kejuaraan Dunia 1995. Bersama sang adik Wladimir, Vitali “merantau” ke Jerman untuk bergabung ke promotor tinju Universum demi bisa mewujudkan mimpinya. “Sangat penting buat kami untuk punya mimpi dan membuat mimpi itu jadi nyata,” kenang Vitali kepada National Public Radio , 22 Oktober 2011. Baca juga: Ada Trump di Sudut Ring Mike Tyson Karier Klitschko Bersaudara melesat kendati mereka harus menyambinya dengan kuliah. Yang lucu, keduanya berkomitmen –yang dipegangnya hingga pensiun–takkan saling adu jotos di atas ring. Baik Vitali maupun Wladimir hanya akan selalu hadir di luar ring mendukung satu sama lain. “Alasannya karena kami juga sudah berjanji pada ibu kami agar tidak saling bertarung,” kata Wladimir. Dominasi Klitschko Bersaudara di tinju dunia kelas berat periode 2006-2015 membuat periode tersebut kondang disebut sebagai “Era Klitschko”. Klitschko Bersaudara juga masuk catatan Guiness Book of Record pada 2011 sebagai petinju bersaudara yang paling banyak memenangkan sabuk dunia kelas berat (30 titel). Usai pensiun pada 2013, hanya Vitali yang mengayunkan langkah kakinya memasuki dunia politik. Padahal, sejak 2004 Klitschko Bersaudara sudah mulai “menjajal” dunia politik. Vitali bahkan ditunjuk Presiden Viktor Yushchenko sebagai penasihatnya, sebagai “balas jasa” atas dukungannya. Baca juga: Menanti Reuni Tyson vs Holyfield Dengan dukungan presiden, Vitali menjajal peruntungannya ke dalam Pemilihan Walikota Kyiv tahun 2006 kendati masih berkarier sebagai petinju. Namun Vitali kalah dalam perolehan suara dari walikota terpilih, Leonid Chernovetskyi. Setelah pensiun, Vitali lebih serius masuk politik dengan kendaraan politik Partai UDAR (Aliansi Demokratik Ukraina untuk Reformasi). Ia mendaki karier politik dari anggota dewan kota Kyiv, kepala administrasi kota Kyiv, hingga memenangkan Pemilihan Walikota Kyiv 2014 dengan perolehan suara 57 persen. Hingga kini, Vitali menjadi walikota Kyiv dengan masa jabatan terlama. Setelah invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022, Vitali bersama adiknya meneladani Presiden Volodymyr Zelenskyy yang tetap bertahan dan bahkan angkat senjata. Bermodalkan popularitasnya di kancah internasional, Vitali dan Wladimir diikutkan pula dalam serangkaian misi diplomatik di luar Ukraina. Terakhir, Vitali dan Wladimir turut serta dalam rombongan Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba untuk bicara tentang kondisi Ukraina di pertemuan tahunan WEF (Forum Ekonomi Dunia) di Davos, Swiss, 23 Mei 2022. “Saya punya pesan untuk semua politisi di Eropa, terutama di Davos dan juga di seluruh dunia. Jika ada yang menilai perang ini terjadi jauh dari mereka, tidak tersentuh secara personal, mereka salah besar. Perang ini bisa mendestabilisasi situasi di segenap kawasan. Perang ini merusak semua orang di Eropa. Oleh karenanya sekarang kami butuh dukungan semua negara. Itu akan jadi kunci bagi perdamaian,” tandas Vitali, dikutip Sky News , 24 Mei 2022. Érik Morales Érik Isaac Morales Elvira, dulu dan kini (Twitter @terrible100) Sebagai anak dari José Morales, petinju Meksiko, Érik Morales punya kesempatan lebih awal untuk belajar tinju. Bocah kelahiran Tijuana pada 1 September 1976 itu sejak usia lima tahun sudah belajar tinju langsung kepada sang ayah. Alhasil Erik tumbuh jadi petinju belia dengan karier amatir cukup mengkilap. Dari total 114 kali bertanding di kelas bantam, super bantam, hingga kelas bulu, Morales mencatatkan 108 kemenangan dan hanya enam kali kalah. Sebelas 11 gelar juara junior nasional diraihnya sebelum beranjak ke tinju profesional saat usianya genap 16 tahun. Di bawah promotor kondang Bob Arum, karier petinju berjuluk “El Terrible” itu berkembang pesat sejak debutnya pada 1993. Dari 1993-2001, Morales mencatatkan 41 kemenangan, termasuk ketika memenangkan sabuk WBC kelas super bantam usai menganvaskan Daniel Zaragoza di El Paso, Texas, Amerika Serikat, 6 September 1997. Baca juga: Sudut Ring Leon Spinks Sepanjang kariernya, Morales punya dua musuh bebuyutan yang berujung pada trilogi pertarungan sengit. Yang pertama dengan sesama petarung Meksiko, Marco Antonio Barrera. Promotor kedua belah pihak mempertemukan dua jawara dunia kelas super bantam WBC dan WBO itu untuk pertamakali pada 19 Februari 2000 di Las Vegas. Morales berhasil menang angka sekaligus merebut sabuk WBO dari tangan Barrera. “Publik menginginkan pertarungan hebat. Kami memberikannya kepada mereka. Dia (Barrera) petinju dengan pukulan terbesar yang pernah saya hadapi. Saya memperkirakan pertarungan sengit dan itulah yang terjadi. Dia sangat berani dan memukul sangat keras,” ujar Morales, dikutip Los Angeles Times , 20 Februari 2000. Hingga 2001, tak sekalipun Morales keok di atas ring. Tetapi pada rematch, 22 Juni 2002, saat sudah beralih ke kelas bulu, Morales kalah angka mutlak dari Barrera. Selain menerima kekalahan pertamanya, Morales juga kehilangan gelar WBC kelas bulunya. Nasib serupa kembali dialami Morales di laga ketiganya di kelas super bulu pada 27 November 2004. Sabuk WBC bulu super Morales melayang ke tangan Barrera. Trilogi Morales dengan Pacquiao bermula pada 2005 di kelas bulu super. Morales yang mengubah gaya bertarung dari ortodoks ke southpaw (kidal) menang angka mutlak sehingga merebut gelar IBA dan WBC International. Namun pada laga rematch, Januari 2006, dan laga ketiga pada November di tahun yang sama, Morales di-KO Pacquiao. Baca juga: Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan Hingga pensiun pada Maret 2013, Morales memegang rekor 61 tanding pro dengan 52 kemenangan (36 KO) dan sembilan kali kalah. Ia meninggalkan ring tinju sebagai petinju Meksiko pertama yang pernah merengkuh gelar dunia di empat kelas berbeda: kelas super bantam (WBC), kelas bulu (WBC), kelas bulu super (WBC dan IBF), dan kelas welter ringan (WBC). Setelah pensiun, Morales kembali bertemu Pacquiao pada 2019. Namun bukan di atas ring, melainkan sebagai sesama politikus. Morales yang memilih mengabdi lewat jalur politik dengan kendaraan politik koalisi Juntos Haremos Historia, memenangkan satu kursi di Camara de Diputados (Parlemen Negara Bagian Baja California) pada Pemilu 2018 dengan perolehan suara 65 persen. Morales dan Pacquiao, yang saat itu menjabat senator Filipina, bereuni lagi di Los Angeles, Amerika Serikat pada 3 Juli di sela-sela latihan Pacquiao. Tiada lagi tatapan tajam dan tukar pukulan, melainkan saling bertukar senyum dan pelukan hangat sebagai mantan musuh bebuyutan. “Senang bisa bertemu teman baik Erik Morales. #MoralesPacquiao4? Orang ini petarung hebat di atas ring,” puji Pacquiao di akun Twitter -nya, @MannyPaqcuiao, 3 Juli 2019. Ruslan Provodnikov Ruslan Mikhailovich Provodnikov ( wboboxing.com ) Lahir di lingkungan yang keras di Beryozovo, Siberia Barat, Rusia pada 20 Januari 1984, Provodikov tumbuh jadi anak yang bengal dan pembuat onar. Nyaris tiada hari ia pulang ke rumah tanpa luka-luka akibat berkelahi di jalan. Ayahnyalah yang lantas menggiring Provodnikov, bocah berusia 10 tahun, ke sasana tinju. “Jika saya tidak jadi petinju, mungkin Anda takkan pernah mendengar ada orang bernama Ruslan Provodnikov. Mungkin saya akan mendekam di penjara atau bisa jadi saya sudah mati. Atau mungkin saya hanya akan jadi pemabuk. Karena seperti itulah orang-orang di lingkungan saya tinggal. Tinju menyelamatkan hidup saya,” kata Provodnikov kepada World Liberty TV , 20 Mei 2010. Karier amatir Provodnikov terbilang impresif. Ia memenangkan 130 dari 150 pertarungannya di kelas welter ringan dan welter. Ia mengaku punya satu kebiasaan yang menurutnya membuatnya jadi lebih kuat saat bertarung hingga dijuluki “Siberian Rocky”, merujuk petinju fiktif Rocky Balboa. “Saya terbiasa hidup susah. Yang bisa kami makan hanya yang tumbuh dari tanah dan ikan mentah dan rusa. Saya masih makan hati rusa mentah. Itu yang membuat saya kuat,” aku Provodnikov kepada ESPN , 7 Juni 2014. Baca juga: Khabib Nurmagomedov Sang Elang Dagestan Provodnikov beranjak ke tinju pro di bawah naungan promotor Arthur R. Pelullo pada 2006. Di kelas welter ringan, Provodnikov sudah merebut gelar WBO Inter-Continental dan WBO Inter-Continental pada 2012. Pada 19 Oktober 2013, ia merebut sabuk WBO welter ringan usai mengalahkan Mike Alvarado. Provodnikov mesti merelakan gelarnya kepada Chris Algieri pada 14 Juni 2014 setelah kalah angka tipis. Dua tahun berselang, ia pensiun dari tinju pro dengan rekor 30 tanding (25 kemenangan, 5 kekalahan). Dari ring tinju, Provodnikov masuk arena politik dan sampai saat ini masih duduk di parlemen Negara Bagian Khanty-Mansi. Kendati begitu, Provodnikov masih mendapat banyak tawaran untuk comeback dari masa pensiunnya. Mantan manajernya, Vadim Kornilov, berharap Provodnikov tak kembali ke atas ring. “Kami punya proposal untuk dipertimbangkan terkait potensi pertarungan. Menurut saya, Ruslan tak semestinya balik (bertinju). Dia sudah banyak melakukan hal-hal yang signifikan buat negara, bekerja di arena politik dan dia punya potensi mengembangkan karier politiknya. Walau tentu saja Ruslan sendiri yang akan memutuskan,” tandas Kornilov, dikutip Boxing Scene , 29 April 2020. Baca juga: Ring Kehidupan Max Schmeling
- Tujuh Petinju Beralih Pejabat (Bagian I)
SUDAH keluar ongkos hampir 130 juta peso (setara Rp35 miliar), Manny Pacquiao harus legawa. Popularitasnya sebagai eks-petinju profesional yang bergelimang gelar dunia tak bisa menjaminannya menang di pemilihan presiden (Pilpres) Filipina 2022. Di pilpres Filipina pada 9 Mei 2022, Pacquiao yang –berasal dari partai PROMDI–berpasangan dengan cawapres Lito Atienza mesti gigit jari. Hasil penghitungan suara hanya menempatkannya di urutan ketiga dengan perolehan 3,6 juta suara (6,81 persen). “Sebagai petinju dan atlet, saya mengerti bagaimana menerima kekalahan. Saya hanya berharap bahwa, meskipun saya kalah dalam pertarungan ini, rakyat Filpina yang telah menderita akan mendapatkan kemenangan,” ungkap Pacquiao, dikutip Marca , 11 Mei 2022. Baca juga: 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian I) Sosok kelahiran Kibawe, 17 Desember 1978 itu sepanjang kariernya hampir selalu membanggakan buat negerinya. Di tinju profesional, dia punya catatan 62 kemenangan (39 KO), delapan kali imbang atau no contest , dan dua kali kalah. Tak hanya jadi kebanggaan Asia, Pacquiao bahkan dianggap sebagai petinju kidal terbaik sepanjang masa versi media Ranker pada 2020. Selain memenangkan 12 gelar dunia, figur berjuluk “PacMan” itu juga jadi satu-satunya petinju yang pernah juara di delapan divisi atau kelas berbeda dalam sejarah tinju dunia: kelas terbang (WBC 1998), kelas super bantam (IBF 2001), kelas bulu (The Ring 2003), kelas super bulu (WBC dan The Ring 2008), kelas ringan (WBC 2008), kelas welter ringan (The Ring 2009), kelas welter (WBO 2009) dan (WBA 2019), dan kelas menengah ringan (WBC, 2010 dan WBO, 2014). Momen Manny Pacquiao meraih gelar WBC, WBO, dan WBA ( wbcboxing.com/wboboxing.com/wbaboxing.com ) Saat masih berkarier tinju, Pacquiao pernah menyandang pangkat militer di pasukan cadangan Angkatan Darat Filipina. Sejak masuk unit cadangan dengan pangkat kehormatan sersan pada 2006, Pacquiao sudah promosi sampai pangkat kolonel pada 2017. Sebelum gantung sarung tinju pada Oktober 2021, Pacquiao dengan kendaraan Partai PDP-Laban yang berhaluan demokratik-sosialis terjun ke dunia politik. Semenjak 2010 ia jadi wakil rakyat di Parlemen Filipina mewakili (dapil) Sarangani. Namun, Pacquiao harus tumbang setelah “di-KO” anak diktator Filipina. Pacquiao hanya satu dari sekian petinju yang loncat arena ke politik. Ia juga nyaris jadi petinju profesional pertama dunia yang mencapai posisi pejabat publik tertinggi: presiden. Beberapa petinju yang masuk ke politik lazimnya sekadar jadi anggota parlemen, walikota. Yang tertinggi menteri. Berikut enam di antaranya: Chris John Momen Yohannes Christian 'Chris' John saat pensiun pada 2013 (Randy Wirayudha) Lain Pacquiao, lain pula dengan Chris John, sesama petinju Asia Tenggara yang punya nama di pentas tinju dunia. Di antara petinju legendaris Indonesia, Chris John dianggap salah satu yang paling sukses di level profesional. Petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah pada 14 September 1979 itu sudah mengenal tinju sejak usia lima tahun. Ia beranjak ke tinju profesional pada 1998 dan langsung melesat dalam dua pertarungan perdananya. “Pertarungan saya yang terbesar terjadi di awal-awal karier (pro). Saat itu saya ingat di tahun 1999 ketika Kejuaraan Nasional, saya menghadapi (almarhum Muhammad) Alfaridzi. Di ronde-ronde awal kena pukulan telak hingga hidung saya patah. Setelah itu saya ingat kata-kata ayah, untuk kemudian bisa bangkit,” kenang Chris John dalam konferensi pers pensiunnya, dikutip Okezone , 19 Desember 2013. Baca juga: 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian II – Habis) Sebelum pensiun pada Desember 2013 dan mengakhiri karier dengan kekalahan dari Simphiwe Vetyeka, petinju berjuluk “Sang Naga” itu memegang rekor petinju Indonesia yang paling awet mempertahankan gelar dunia. Total 16 kali ia mempertahankan sabuk dunia di kelas bulu WBA dalam kurun 2003-2013. “Di pertarungan terakhir, saya sudah merasa kondisi saya tak lagi seperti dulu. Akhirnya pensiun jadi pilihan terakhir. Saya sendiri yang ingin pensiun dan sudah berkonsultasi dengan pelatih. Kalau saja saya menang melawan Vetyeka, mungkin saya masih akan melanjutkan karier saya,” sambungnya . Selain masih eksis di pentas tinju nasional sebagai promotor, Chris John terjun ke kancah politik. Ia masuk Partai Demokrat pada Februari 2018. Enam bulan berselang, ia pindah ke Partai Nasional Demokrat lewat Dapil X Jawa Tengah jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, di mana ia mesti menerima kekalahan. Kendati kiprahnya di dunia politik belum semoncer kariernya di dunia tinju, bukan Chris John namanya jika langsung mengibarkan bendera putih. Menjelang Pemilu 2024, Chris John berniat “nyaleg” untuk Pemilu 2024. Harapannya masih sama: mengembangkan tinju profesional lewat kebijakan-kebijakan di parlemen sebagai wakil rakyat. “Kalau ada yang dukung mungkin saja (‘nyaleg’ 2024), asal tidak keluar uang sendiri. Repot. Kalau nanti ada yang dukung dan serius, kenapa enggak?” tutur Chris John, dilansir CNN Indonesia , 17 Juni 2019. Alexis Argüello Alexis Argüello, jawara tinju dunia asal Nikaragua yang lantas jadi Walikota Managua ( wbaboxing.com/Wikipedia ) Lahir di lingkungan yang keras di kota Managua, Nikaragua, 19 April 1952, Argüello tumbuh jadi pribadi yang keras pula. Di usia belia, 13 tahun, Argüello sudah jadi tulang punggung keluarga dengan merantau ke Kanada pasca-ayahnya bunuh diri. Sembil bekerja serabutan, Argüello menumbuhkan minat pada tinju setelah saudarinya, Marina, dipersunting seorang petinju amatir. Di usia 16 tahun Argüello mulai meniti karier di level amatir. “Akan tetapi tinju amatir tak mendatangkan banyak uang, jadi Argüello merasa harus beralih ke (tinju) profesional. Debut Argüello dilakoni pada 1 Agustus 1968 melawan ‘Cachorro’ Amaya di León, Nikaragua. Sayangnya debutnya (di kelas bulu) itu tak tercatat karena kurangnya pengorganisasian di asosiasi Nikaragua,” tulis jurnalis tinju Christian Guidice dalam Beloved Warrior: The Rise and Fall of Alexis Argüello. Baca juga: Konflik Kehidupan Roberto Durán dalam Hands of Stone Kendati mengalami beberapa kekalahan menyesakkan, mental baja Argüello membuatnya tetap bertahan di level pro hingga kemudian dia bergelimang sabuk gelar juara dunia kelas bulu WBA pada 1974, kelas bulu super WBC pada 1978, dan kelas ringan WBC pada 1981. Argüello yang menyadari usianya beranjak tua, gantung sarung tinju pada 1995. Argüello lalu serius memijak dunia politik. Sedianya kiprahnya di dunia politik telah dirintisnya pada 1980-an saat masih berkarier di tinju. Argüello bergabung dengan partai sosialis FSLN (Front Nasional Pembebasan Sandinista). Dia sudah berpolitik saat Revolusi Nikaragua (1961-1990) berkecamuk. “Meski mendukung revolusi dari jauh di Miami, kemudian Argüello malah keluar dari Sandinista karena rekening bank-nya dibekukan, propertinya diambilalih, dan salah satu adiknya terbunuh. Argüello sempat vakum di tinju hanya untuk balik ke Nikaragua untuk bergabung ke Contras, salah satu gerakan anti-Sandinista. Usai ikut angkat senjata bergerilya di pedalaman hutan, ia kembali ke Amerika melanjutkan karier tinjunya,” ungkap Ian C. Friedman dalam Latino Athletes. Usai pensiun pada 1995, Argüello merapat lagi ke Partai Sandinista. Ia bahkan sukses di pemilu 2008 dengan memenangkan kursi wakil walikota Managua. Empat tahun berselang, setelah berganti kendaraan politik ke Partai PLC (Partai Liberal Konstitusionalis), Argüello terpilih jadi walikota Managua pada 9 November 2008. Akan tetapi baru beberapa bulan menjabat, Argüello ditemukan tergeletak tak bernyawa di kediamannya pada 1 Juli 2009. Kepolisian menyatakan Argüello bunuh diri dengan menembakkan pistol ke jantungnya. (Bersambung) Baca juga: Pencarian Islam Muhammad Ali
- Pilot Bumiputra Pertama
Awalnya pesawat di Hindia Belanda hanya dioperasikan oleh militer, baik Angkatan Laut atau Koninklijk Marine (KM) maupun Angkatan Darat atau Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL). Namun, ancaman perang di Eropa dan kurangnya jumlah penerbang mendorong pemerintah kolonial memberikan kesempatan kepada pemuda bumiputra untuk belajar menjadi penerbang. Dalam buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945– 1950, Irna H.N. Hadi Soewito, dkk. menyebut bumiputra pertama yang direkrut menjadi penerbang adalah Wardiman Wiryosaputro sebagai navigator ( waarnemer ). Irna tidak menjelaskan kapan Wardiman direkrut. Sutrisno dalam biografi Marsekal TNI Suryadi Suryadarma menyebut bahwa pada 1932 hanya seorang bangsa Indonesia asli yang tercatat sebagai siswa pengintai pada Waarnemerschool (sekolah navigasi) yaitu Kapten Wardiman. Beberapa tahun kemudian barulah Suryadi menjadi siswa penerbang pada Desember 1937, siswa sekolah navigator (pengintai) pada Juli 1938, dan lulus pada Juli 1939. Setelah Indonesia merdeka, Suryadi menjadi Kepala Staf TNI AU pertama. “Tetapi rupanya Wardiman tidak menyelesaikan pendidikan ini,” tulis Sutrisno. Jadi, Wardiman bukan belajar menjadi penerbang tetapi navigator. Baca juga: Burung Besi Pertama Buatan Hindia Belanda Bataviaasch Nieuwsblad , 2 Juli 1924, melaporkan bahwa Kapten Wardiman Wiryosaputro mengajukan diri untuk berhenti dengan hormat dari KNIL. Pria kelahiran 29 Oktober 1890 itu, menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit , menjadi perwira sejak 1910 setelah lulus Militaire School di Jatinegara. Sejak 7 Mei 1921 dia sudah kapten. Bouman juga menyebut dari 1922 hingga 1923, Wardiman ikut kursus navigator udara. Jika jawatan penerbangan KNIL, Militaire Luchvaart (ML), hanya memberi kesempatan untuk navigator, maka jawatan penerbangan KM, Marine Luchtvaart Dienst (MLD), memberi kesempatan lebih kepada pemuda bumiputra untuk menjadi penerbang. “Sekarang mulai ada juru terbang ( vliegenier ) bumiputra. Adapun yang mendapat kehormatan memperoleh nama vliegenier itu yang pertama-tama ialah tuan Jacob Johannes, orang Ambon, Inlandsch sergeant schrijver (sersan juru tulis bumiputra). Sekarang bumiputra tidak saja turut terbang, tetapi telah turut memegang setir ( stuur ) di udara,” tulis Pandji Poestaka , 24 Januari 1928. Baca juga: Jan Hilgers, The Flying Dutchman Pertama Pandji Poestaka menerangkan, Jacob Johannes lahir di Ambon pada 1901. Setelah lulus Sekolah Kelas II, dia kemudian memperoleh pengajaran bahasa Belanda. Pada umur 16 tahun, dia masuk sekolah pelayaran Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen (KIS) di Makassar. Setelah tamat, dia memulai kariernya di Angkatan Laut sebagai kelasi kelas tiga di kapal perang. Dia dinilai sebagai seorang pekerja keras sejak masih sekolah. Mulai akhir tahun 1921, setelah lulus ujian pekerjaan administrasi, Jacob bekerja pada beberapa macam kapal dan kantor di darat sebagai schrijver (juru tulis). Dalam pekerjaan itu, dia naik menjadi korporaal-schrijver (kopral juru tulis) dan akhirnya sergeant-schrijver (sersan juru tulis) . Baca juga: Bob Freeberg, Pilot Berhati Lembut Pada 1925, ketika ada tawaran belajar menjadi penerbang kepada perwira Angkatan Laut bumiputra, Jacob mengajukan diri. Setelah badannya diperiksa dengan saksama dan ternyata baik, dia mulai mendapat pelatihan pendahuluan pada awal 1927. Jacob belajar terbang di pangkalan Angkatan Laut Morokrembangan, Surabaya, pada akhir Agustus 1927. Pengajarnya adalah Letnan Laut Kelas Satu Tetenburg. Beberapa bulan kemudian, pada Desember 1927, dia sudah bisa menerbangkan pesawat sendiri. Jacob mendapat bravet terbang internasional pada Januari 1928. Artinya, dia sudah diakui sebagai penerbang. Dia melanjutkan pelajarannya di Morokrembangan untuk mendapat Marine-vlieg-brevet atau diploma untuk jadi juru terbang Angkatan Laut. “Seorang bumiputra lulus ujian vliegenier (penerbang) dan yang dididik untuk dijadikan vliegenier Angkatan Laut, baru sekali ini adanya,” tulis Pandji Poestaka. Baca juga: Nurtanio, Patriot Udara Indonesia Jacob tak lancar dalam pelatihan terbangnya. De Militair , 4 Februari 1928, menyebut dia mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan ketika akan mengambil bravet penerbang Angkatan Laut di Surabaya. Dia mengalami luka tapi masih hidup. Setelah lukanya pulih, dia terbang lagi. “Seperti orang yang pertama-tama, pembuka jalan, tentu banyak kesukaran yang akan diderita tuan Johannes, tetapi dengan kekerasan hati dan dengan pimpinan guru-gurunya, kesukaran itu mudah-mudahan dapat dilangkahi dengan selamat juga,” tulis Pandji Poestaka . Sayangnya, tidak ada kabar lagi tentang Jacob Johannes. Sementara itu, jumlah pemuda Indonesia yang dilatih menjadi penerbang terus bertambah karena Belanda terlibat dalam Perang Dunia II. Di antaranya yang terkenal adalah Adisoetjipto dan Hubertus Soejono yang kemudian menjadi pendiri Angkatan Udara Republik Indonesia.
- Marsose Membungkam Rakyat Ende
Ende di Flores, Nusa Tenggara Timur, merupakan daerah bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan. Ende dikenal sebagai tempat pengasingan Sukarno selama empat tahun (1934–1938). Jauh sebelum Sukarno dibuang ke sana, rakyat Ende di bawah pimpinan Mari Longa telah melakukan perlawanan terhadap Belanda. Mereka memberontak karena menolak penerapan pajak sebagaimana pemberontakan di daerah-daerah lain. Mari Longa lahir sekitar tahun 1885 di desa Watunggere, Lio Utara. Ayahnya bernama Longa dan ibunya bernama Kemba Kore. Mari Longa bersama pasukan Ana Fua mengadakan perlawanan terhadap Belanda dari tahun 1893 sampai 1907 dalam lima kali peperangan yang disebut Perang Koloni I sampai V. “Perang Koloni V pada 1907 Mari Longa akhirnya gugur dalam pertempuran di depan Benteng Watunggere,” tulis F. X. Sunaryo dalam Sejarah Kota Ende. Baca juga: Ende dan Perenungan Bung Karno Untuk menghadapi perlawanan rakyat Ende, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan pasukan khusus yang dipimpin Kapten Hans Christoffel, veteran Perang Aceh yang terkenal kejam. Kapten Christoffel dan pasukannya tiba di Ende pada 10 Agustus 1907. Selama dua minggu dia menghadapi perlawanan rakyat Ende: ke utara menyerang pasukan Rapo Odja dari Woloare dan rakyat Mosolaki Mari Longa dari Watugggere; ke timur menyerbu rakyat Ndori dan Lise; ke barat menggempur rakyat Watusipi. Rapo Odja ditahan di kampung Warowajo. “Oleh karena dahsyatnya pasukan Christoffel yang terkenal dengan sebutan angin topan, musuh-musuh dapat dilumpuhkan hanya dalam waktu dua minggu,” tulis Sunaryo. Baca juga: Aksi Brutal KNIL di Enrekang Setelah selesai memadamkan perlawanan di Ende, KaptenChristoffel melanjutkan operasi militernya ke Flores bagian barat, yaitu daerah Ngada dan Manggarai. Di Ngada juga terjadi beberapa perlawanan terhadap Belanda. Di antaranya yang cukup terkenal dipimpin oleh Panglima Nipa Do yang keberaniannya tidak kalah dengan Baranuri, Mari Longa maupun Rapo Odja. Manggarai berhasil ditaklukkan oleh Belanda pada 10Desember 1907. Sementara Kapten Christoffel dengan pasukannya mengadakan operasi militer di daerah Flores bagian barat, ternyata di Ende terjadi serangan lagi. “Serangan berasal dari rakyat Woloare di bawah pimpinan Mosolaki Mari Longa,” tulis Sunaryo. Baca juga: KNIL dari Eropa ke Bumiputera Kehadiran pasukan Kapten Christoffel telah membantu pasukan Letnan Satu De Vries yang memimpin pasukan KNIL(Koninklijk Nederlandsche Indische Leger). Mereka tak dapat melupakan pertempuran di benteng Watunggere, daerah asal Mari Longa. De Vries memimpin sekitar 50 orang serdadu bersenjata karaben (senapan pendek) untuk menyerang Watunggerepada 11 Desember 1907. Pasukannyadibagi tiga kesatuan di bawah pimpinan Sersan Van Rijen, seorang sersan Ambon, dan Kopral Katuuk. Pasukan ini dibantu orang hukuman ( strapan ) yang menyiapkan makanan dan mengangkut perbekalan militer. Dalam kesatuan Sersan van Rijen terdapat pemuda berusia 25 tahun bernama Willem Constantinus Ferdinandus. Ketika berada di Ende,dia baru tiga tahun jadi serdadupasukan khusus Marsose. Baca juga: Marsose dari Eropa sampai Perang Aceh De Vries dan pasukannya sudah bersiap sejak pukul 10 malam pada 11 Desember 1907 , kemudian diam-diam mendekati benteng Watung g ere. Mereka masuk dari sisi barat yang ternyata banyak musuh. Mereka bergerak pada pagi 12 Desember 1907. “Marsose Ferdinandus naik pertama di benteng itu, dimana ada lagi terdapat musuh,” tulis majalah Trompet No. 72 Januari 1940. Sersan Van Rijen mengikuti gerak maju Ferdinandus yang menewaskan tiga orang Ende dan sisanya lari. Dalam penyerbuan ini Mari Longa dan saudaranya terbunuh. Ferdinandus pun jadi pahlawan dalam serangan itu. Dia dianugerahi bintang voor Moed en Trouw (keberanian dan kesetiaan). Baca juga: Bintang untuk Sanin Pemuda kelahiran Saparua, Maluku, 19 Februari 1883 itu masuk KNIL pada 1 Maret 1905. Semasa berdinas di KNIL, dia pernah bertugas di Sulawesi Selatan (1906) dan Aceh (1911–1917). Ferdinandus paling sering dikirim ke daerah Nusa Tenggara Timur. Dia pernah bertugas di Flores, Timor, dan pulau lainnya. Penugasannya ke daerah-daerah berbahaya bagi pemerintah kolonial membuatnya punya banyak bintang selain bintang voor Moed en Trouw . Namun, Ferdinandus tergolong lambat naik pangkat. Pada 20 Desember 1912, dia menjadi infanteri kelas satu yang biasa disebut spandrig (garis tiga). Dia baru dipromosikan menjadi kopralpada 30 Juni 1918 kemudian sersan kelas duapada 24 Desember 1921. Ketika Jenderal Van Heutsz meninggal pada 1927, Ferdinandus termasuk prajurit KNIL yang dikirim ke Negeri Belanda untuk menghadiri pemakaman resmi sang jenderal yang menakluk k an Aceh itu. Dia pensiun pada 17 Maret 1930 setelah 25 tahun berdinas. Dia menjalani masa pensiunnya di Yogyakarta.
- Bintang untuk Sanin
PEMERINTAH kolonial Hindia Belanda memberlakukan berbagai jenis pajak yang memberatkan rakyat. Perlawanan rakyat pun terjadi di berbagai daerah, seperti di Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Pada November 1914, rakyat menyerang pemimpin daerah Larantuka dan pegawai pajaknya di pos mereka di Watu, Distrik Kea Watung, Solor. Pemberontakan disebabkan karena Gezaghebber (Letnan Gubernur) Flores Timur dan Solor, G. L. ‘t Sas menerapkan peraturan pemerintah Belanda mengenai pembayaran pajak dan kerja paksa. “Gerakan di atas merupakan konsekuensi dari kebijakan tersebut,” tulis Ketut Ardhana dalam Penataan Nusa Tenggara Pada Masa Kolonial 1915–1950.
- Anomali Kamerun yang Menggegerkan Dunia
STADION Giuseppe Meazza di Milan, Italia, pada 8 Juni 1990 jadi saksi bisu salah satu sejarah kejutan terbesar di Piala Dunia. Venue yang juga kondang disebut Stadion San Siro pada petang itu disesaki sekitar 73 ribu penonton. Sorak-sorai mereka seketika menggema begitu wasit asal Prancis Michel Vautrot meniup peluit kick off partai perdana Grup B yang juga menjadi laga pembuka Piala Dunia: Argentina versus Kamerun . Semua penikmat bola, terutama di masa itu, tentu mengenal Argentina. Tim asuhan Carlos Bilardo itu merupakan juara bertahan yang berisi jagoan-jagoan lapangan macam Claudio Caniggia, Jorge Burruchaga, Sergio Batista, Oscar Rugeri, Abel Balbo, Néstor Sensini, dan sang megabintang Diego Armando Maradona. “Maradona kembali untuk yang ketiga kalinya di Piala Dunia dan tengah menikmati masa kejayaannya. Di masa itu kariernya di Italia bersama (klub) Napoli sedang sukses besar. Ia membantu Napoli memenangkan titel (liga) pertamakali bagi sejarah klub pada 1984 dan titel Eropa (UEFA Cup, kini UEFA Europa League). Mereka jadi favorit juara bersama Jerman Barat, Inggris, Belanda, dan Brasil. Namun mereka gagal menunaikan ekspektasinya,” tulis jurnalis Argentina Fernando Fiore dalam The World Cup: The Ultimate Guide to the Greatest Sports Spectacle in the World. Baca juga: Europa League Tempo Doeloe Sementara, Kamerun sebagai lawannya tidak banyak dikenal orang. Roger Milla sebagai pemain andalan sekaligus paling populernya sudah mulai “uzur” dengan usia 38 tahun. Prestasi Kamerun di tingkat regional pun sedang melorot, bahkan gagal lolos dari babak grup Piala Afrika 1990. Mentalitas tim jelang Piala Dunia juga sedang anjlok sebagai hasil kristalisasi banyak faktor. Pelatih asal Uni Soviet Valery Nepomnyashchy, yang baru dua tahun menukangi Kamerun, juga acap bentrok dengan kepentingan politis pejabat federasi dan pemerintah. “Semua orang berasumsi Kamerun akan gagal sejak laga pertama di Piala Dunia 1990, bahwa pertandingan mereka praktis hanya akan jadi karpet penyambut malam pembuka bagi juara bertahan, Argentina, dan kapten mereka yang ternama, Diego Maradona. Oleh para bandar taruhan, peluang Kamerun sukses di turnamen itu hanya 500-1,” ungkap Andy Mitten dalam The Rough Guide to Cult Football. Partai pembuka Piala Dunia 1990: Argentina vs Kamerun ( fifa.com ) Benar saja, pertandingan berjalan tanpa gol hingga babak kedua dimainkan. Di menit ke-61, Argentina mendapat keuntungan besar setelah gelandang Kamerun André Kana-Biyik dikartu merah gegara menekel dengan kasar Caniggia. Namun, Argentina gagal memanfaatkan keuntungan itu. Pada menit ke-65, bek Argentina Néstor Lorenzo justru membuat blunder dengan mengganjal gelandang Cyrill Makanaky yang coba membangun serangan ke sisi kanan pertahanan Argentina, tak jauh dari kotak penalti. Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan Kamerun mendapat tendangan bebas di menit ke-67. Dari tendangan bebas itu, Emmanuel Kundé menyepak umpan dengan kaki kirinya, bola mengarah ke tengah kotak penalti. “Kundé mestinya tak menendang dengan kaki kiri. Saya tahu dia tak pernah mengumpan dengan kaki kiri, dia pemain berkaki kanan. Memang kadang dalam latihan dia pakai kaki kiri tapi sebelumnya ia tak pernah menggunakan kaki kiri dalam pertandingan,” kenang Emmanuel Kessack Maboang, gelandang Pelita Jaya yang menjadi rekan Kundé di timnas Kamerun 1990, kepada ESPN , 19 Mei 2019. Umpan dari Kundé lantas disundul Makanaky yang membuat bola melambung lebih tinggi ke belakang, tempat François Omam-Biyik berada. Bomber berpostur 185 cm itu pun meloncat lebih tinggi lagi untuk membebaskan diri dari kawalan Sensini yang cuma 178 cm. Gol tunggal François Omam-Biyik ke gawang Nery Alberto Pumpido ( fifa.com/El Grafico) Bola tandukan Omam-Biyik sejatinya tak mengalir deras. Hanya saja kiper Nery Pumpido sedang tidak siap. “Saat melihat dia (Omam-Biyik) melompat seperti itu, Anda merasa bolanya pasti akan masuk. Saat itu saya menebak, kiper (Pumpido) akan melakukan blunder karena sepanjang pertandingan dia nyaris santai. Saya merasa dia akan melakukan kesalahan karena sebelumnya ia tak melakukan apa-apa,” lanjutnya. Bola yang mengarah ke sela tangan dan lutut kanan Pumpido mengalir begitu saja ke dalam gawang. Pumpido hanya bisa menatap datar tanpa ekspresi. Stadion San Siro gempar. Skor 1-0 untuk Kamerun. Baca juga: Diego Maradona dalam Kenangan Hingga wasit meniup peluit pamungkas pun, Maradona cs. gagal menyelamatkan muka. Skor 1-0 untuk Kamerun, kendati dua menit jelang waktu normal berakhir (menit ke-88), Kamerun hanya bermain dengan 10 orang usai bek Benjamin Massing menerima kartu kuning kedua. Pelatih dan ofisial Kamerun langsung berkerumun dalam kegembiraan. Mereka mengukir sejarah. Kamerun jadi tim Afrika Sub-Sahara pertama yang menang di putaran final Piala Dunia. Mereka juga jadi tim Afrika pertama yang menjungkalkan juara bertahan di partai pembuka. Di akhir turnamen, Kamerun menjadi tim Afrika pertama yang mencapai perempatfinal Piala Dunia, capaian yang belum bisa disamai oleh tim “Benua Hitam” manapun. Mental Pemberontak hingga Pemain Titipan Dilihat dari track-record Kamerun jelang Piala Dunia 1990, tak salah bila banyak orang meragukan tim berjuluk “Indomitable Lions” itu. Terlebih tim itu dibangun tanpa persiapan matang hasil program jangka panjang. Dari sisi pelatih saja, misalnya, Nepomnyashchy tak pernah terdengar punya prestasi meski punya pengalaman melatih dua dekade. Sebelum menukangi timnas senior Kamerun, sosok kelahiran Slavgorod, 7 Agustus 1943 itu sekadar punya pengalaman menakhodai klub Kolhozchi Ashkabad (kini FC Köpetdag) dari Liga Turkmenistan. Kiprahnya di timnas Kamerun pun tak lain lewat program bantuan pemerintah Uni Soviet. “Uni Soviet masa itu aktif membantu negara-negara Afrika di berbagai bidang olahraga. Contohnya, ada seorang pelatih voli Soviet di Kamerun dia membuat mereka jadi tim terkuat di Afrika. Saya sebenarnya hendak diikutkan dalam misi antara ke Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Meski sudah meneken beberapa dokumen, atas beberapa alasan segalanya tak berjalan lancar,” kata Nepomnyashchy, dikutip Michael Yokhin dalam “The Indomitability of Lions: In 1990 Cameroon Overcame Shambolic Preparations to Shock the World” yang termaktub dalam buku The Blizzard: The Football Quarterly. Baca juga: Sepakbola Soviet Era Stalin Kesempatan Nepomnyashchy berkarier di Kamerun tiba pada awal November 1968. Dia ditemani asistennya, Leo Brovarsky. Rencananya Nepomnyashchy dan Brovarsky akan menangani tim-tim muda di Kamerun sesuai spesialisasi dalam resumenya sebagai salah satu peletak fondasi akademi dan timnas junior Turkmenistan. “Tetapi nyatanya pihak Kamerun butuh pelatih kepala timnas. Saya mendarat pada 2 November dan pada 8 November turnamen Afrika Barat sudah dimulai dengan enam peserta. Kami menang dan kemudian saya mendapat tawaran melanjutkan jabatan itu dengan status permanen,” sambung Nepomnyashchy. Valery Kuzmich Nepomnyashchy menukangi Timnas Kamerun periode 1988-1990 (ITAR-TASS/nike.com) Uniknya, kontrak itu datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Kamerun, bukan dari Feca Foot/CAF (induk organisasi sepakbola Kamerun). Dalam kontrak ia digaji USD3 ribu per bulan. Namun karena via perantara Kedutaan Uni Soviet, Nepomnyashchy hanya menerima upah bersih USD700 dan sisanya untuk pemerintah Soviet. Mulanya, Nepomnyashchy disambut hangat baik oleh pihak federasi maupun Menpora Joseph Fofé. Namun, guliran waktu kemudian mengubah keadaannya. Selain di samping hambatan bahasa dan fasilitas, Nepomnyashchy mesti menghela nafasnya lebih dalam gegara culture shock , terutama terhadap mentalitas pejabat-pejabat pemerintah dan federasi. “Jujur, mulanya saya syok dengan mentalitas orang Kamerun. Sebelumnya saya mengalami alam kedisplinan Soviet yang ketat dan saya tak membayangkan ada banyak disorganisasi di sini. Terhadap satu masalah, mereka selalu bilang problemnya akan dibicarakan ‘besok.’ Besok kapan? Kapan tepatnya? Saya benar-benar tak terbiasa pada kenyataan di mana segalanya tak pernah ada rencana yang ajeg ,” kata Nepomnyashchy kesal dikutip laman FIFA , 23 November 2015. Baca juga : Kenapa Sepakbola Indonesia Kalah Melulu Sebelum masuk ke soal program secara teknis, Nepomnyashchy sudah direpotkan persoalan bahasa antara bahasa Rusia dan Prancis. Padahal, dia sudah disediakan penerjemah dadakan oleh pemerintah Kamerun, bernama Galius. “Masalahnya dia tak pernah benar-benar belajar bahasa Rusia. Pengalamannya dengan kata-kata (bahasa) Rusia hanya berasal dari masa-masa dia pernah berlatih bersama petinju Rusia, Stanislav Stepashkin. Bahasa Rusianya tak lebih baik dari bahasa Prancis saya! Namun ia bisa dengan cepat menyerap permainan sepakbola, duduk tenang dengan membuka mata lebih lebar. Alhasil saya tetap bisa menyampaikan instruksi kepada pemain melalui Galius,” tambahnya. Selama dua tahun, Nepomnyashchy bertahan dengan strategi dan formasi favoritnya, 4-3-3. Hasilnya getir di Piala Afrika, Maret 1990. Karena itulah dalam persiapan di kamp latihan di Yugoslavia, lalu di kualifikasi Olimpiade dan laga-laga pemanasan Piala Dunia, Nepomnyashchy menjajal formasi ke 4-4-1-1 dengan satu bek di belakang bertindak sebagai libero. Albert Roger Milla (jersey putih) di senjakala karier bermain untuk JS Saint-Pierroise (Wikipedia/ipreunion.com) Tetapi yang bikin pusing Nepomnyashchy bukan tren hasil buruk di masa-masa persiapan itu, melainkan soal pemain titipan dan kambuhnya mentalitas pemain lain. Padahal pemerintah, bukan CAF, membebankan ekspektasi besar ke pundak Nepomnyashchy demi meredam gejolak politik dalam negeri. Melalui Menpora Joseph Fofé, Presiden Kamerun Paul Biya sampai memerintahkan agar Roger Milla diikutkan dalam persiapan timnas pada saat “ injurytime ”. Padahal saat itu Milla sudah berusia 38 tahun dan sejak 1988 sudah pensiun dari timnas. Saat itu Milla juga baru dilepas klub Prancis Montpellier HSC dan turun level ke klub amatir JS Saint-Pierroise. “Tuan (Menpora) Fofé menyambangi kamp dan bilang bahwa Presiden meminta saya mengikutsertakan Milla di skuad untuk mencegah gejolak besar di dalam negeri. Katanya, tuntutannya juga datang dari rakyat Kamerun. Saya bilang bahwa, boleh saja asalkan saya harus melihat dulu dia bermain,” lanjut Nepomnyashchy. Baca juga: Fasisme Kontra Komunisme di Final Euro Milla akhirnya datang ke kamp di Yugoslavia dua hari jelang tenggat waktu pengiriman daftar skuad ke FIFA. Nepomnyashchy mengaku terkesan lantaran skill Milla belum habis saat latihan. Catatannya hanya Milla mesti meningkatkan lagi kebugaran dan staminanya. Segalanya jadi lebih lancar karena Milla juga mau menuruti Nepomnyashchy, meski beberapa rencana taktis Nepomnyashchy tak sepenuhnya melibatkan Milla sebagai pemain utama. Problem justru muncul dari soal mental tak bisa diatur yang ada pada dua dari tiga kiper yang dipilih: Thomas N’Kono dan Joseph-Antoine Bell. Masing-masing mengklaim sebagai kiper terbaik. Joseph-Antoine Bell (kiri) & Thomas N'Kono ( sanktpauli.fr/fifa.com ) N’Kono dan Bell punya gaya berbeda. Nepomnyashchy mengaku lebih cocok dengan N’Kono ketika memainkan sistem bek libero, baik di formasi 4-3-3 maupun 4-4-1-1. Namun, ada tekanan dari luar tim pelatih untuk tetap memprioritaskan Bell. Dari 11 pemain yang diambil dari klub Eropa, hanya Bell yang tampil di klub utama (Girondins Bordeaux). Sisanya dari klub-klub liga kasta bawah. Akibatnya, jelang berangkat ke Italia N’Kono ngambek dan mengancam balik ke klubnya, Espanyol, ketimbang bertahan di pelatnas. “Saya mendapat telepon dari tim dan mengadakan rapat, di mana mereka menginginkan saya jadi kiper kedua, bukan kiper utama. Jelas saya mempertanyakan. Karena pelatih bilang ingin mengubah sistem dan saya bisa bermain dengan sistem libero. Espanyol memang saat itu masih di divisi kedua tapi saya kaptennya. Saya bilang pada pelatih, lebih baik saya balik ke (kota) Barcelona. Pada akhirnya mereka bisa meyakinkan saya bertahan di (kamp) di Yugoslavia,” kata N’Kono dikutip Yokhin. Baca juga: Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur Toh, N’Kono tetap jadi kiper utama saat Piala Dunia dimulai. Pemilihan itu gara-gara Bell berulah seenaknya saat diwawancara media Prancis, France Football , usai latihan beberapa hari jelang partai pembuka kontra Argentina. Tanpa menyaring kata-kata, Bell menyatakan bahwa timnas tak punya persiapan matang. Ia juga menginformasikan kondisi kamp latihan yang buruk. Nepomnyashchy pun meradang. Dia segera mengerahkan tim pelatih untuk membeli semua majalah hasil wawancara itu di sekitar kamp agar pemain-pemain lain tak membacanya. Ia lantas menegur Bell. Mendapat “perlawanan” dari Bell yang mengancam tak mau bermain, Nepomnyashchy lantas mengadu pada federasi. Hasilnya, Bell didemosi dari kiper utama jadi kiper ketiga. N’Kono otomatis jadi kiper utama dan Jacques Songo’o sebagai kiper ketiga langsung promosi jadi kiper kedua. “Untuk mencegah konflik di ranah publik, kami mengarang cerita bahwa perlengkapan kami diponsori Adidas, sementara Bell punya kontrak pribadi dengan Reusch. Kami mengatakan bahwa Bell menolak bermain dengan sarung tangan Adidas, oleh karenanya dia tak bisa bermain. Itu versi yang dipercaya semua pemain sepanjang Piala Dunia,” terang Nepomnyashchy. Baca juga: Pionir Sarung Tangan Kiper Skuad Kamerun di Piala Dunia 1990 ( africatopsports.com ) Menjawab Penghinaan dengan Sejarah N’Kono berhasil menjawab kepercayaan itu dengan menjaga keperawanan gawangnya dari dibombardir Maradona dkk. sepanjang 90 menit laga. Berbeda dari Pumpido di bidang pertahanan lawan, N’Kono pontang-panting menggagalkan bola-bola berbahaya dari Maradona dan kawan-kawannya. Terlepas dari taktik kasar dan sistem bertahan klasik racikan Nepomnyashchy, Kamerun memenangkan laga itu dengan memanfaatkan kejumawaan lawan. “Karena pada latihan terakhir pra-pertandingan (kontra Argentina), kami memiliki video latihan Argentina berdurasi 15 menit. Para pemain kami melihat bahwa Maradona dan para pemain bintang lainnya sangat santai dan sering bercanda. Para pemain kami menganggap hal itu sebagai penghinaan, bahwa Argentina tak menghormati mereka, jadi kami memutuskan untuk bermain memaksimalkan kondisi fisik sebaik mungkin,” tambahnya. Selebrasi Timnas Kamerun usai memecundangi Argentina ( fifa.com ) Kemenangan atas Argentina menaikkan mental para pemain Kamerun. Itu berlanjut di laga-laga berikutnya sehingga membuktikan bahwa kemenangan di laga pembuka bukan kebetulan apalagi hoki. Kendati sempat dibantai Uni Soviet 4-0, Kamerun berhasil menjuarai Grup B sehingga lolos ke babak 16 besar dan berhadapan dengan Kolombia. Kendati laga mesti dilalui lewat perpanjangan waktu lantaran skor tetap 0-0, Kamerun berhasil memanfaatkan Milla yang awalnya duduk di bangku cadangan. Milla memang memecah kebuntuan pada menit ke-106 tapi gol keduanyalah (menit ke-108) yang meninggalkan rasa pahit buat Kolombia, terutama buat kiper nyentriknya yang hobi “keluyuran”, René Higuita. “Anda boleh saja tak percaya tapi sebelum laga itu, Roger bilang pada saya: ‘Saya akan menghukum orang ini.’ Dia tahu gaya bermain Higuita dan menunggu kesempatan itu datang. Itu membuktikan kejeniusan Roger,” kata Nepomnyashchy. Baca juga: Kiper Keblinger Blunder Gol kedua Milla berawal dari blunder Higuita. Pada menit ke-108, Higuita menerima backpass dari rekannya lalu menggocek bola dengan maksud mengerjai Milla. Sial, Milla mampu mencuri bola sehingga bisa berlari cepat ke gawang Kolombia yang sudah melompong. Sekuat tenaga Higuita menguber Milla sampai berupaya menekelnya dari belakang sebagai upaya terakhir, namun gagal. Milla sudah keburu mendorong bola ke gawang. Kamerun akhirnya mengatasi Kolombia, 2-1, dan berhak main di perempatfinal kontra Inggris. Roger Milla (kiri) kala mencuri bola dari kaki José René Higuita Zapata ( fifa.com ) Di perempat final, Kamerun berhasil membuat Inggris mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjaga diri agar tidak pulang lebih awal. Pertandingan berlangsung seru dan alot hingga menghasilkan skor 2-2 ketika waktu normal habis. Namun, Kamerun sial pada menit ke-105. Upaya N’kono menghalau laju Gary Lineker di kotak penalti justru menjatuhkan Lineker. Inggris dihadiahi penalti dan sukses dikonversi menjadi gol dengan apik oleh Lineker. Baca juga: Klenik di Balik Final Italia vs Brasil Kendati Kamerun kalah 2-3, mereka pulang dengan kepala tegak. Sejarah baru telah mereka ukir, terlepas dari Nepomnyashchy mengaku sebagai penanggung jawab kekalahan itu. “Kekalahan itu seperti pisau yang menghujam jantung saya. Itu kesalahan saya secara profesional karena saya tak bisa mengatur re-group pemain di saat dibutuhkan untuk bermain bertahan. Mestinya kami bisa bermain lebih disiplin. Terlepas dari itu, saya harus bilang para pemain kami sangat berbakat. Saya hanya membawa 11 pemain profesional, sisanya amatir. Sejak saat itu level pemain Afrika berkembang sangat pesat dan lihat saja mereka kini bermain di mana-mana,” tandas Nepomnyashchy. "Dongeng" Kamerun yang berakhir di tangan Inggris pada perempatfinal ( fifa.com/thefa.com )
- Pewarta Foto Historia.id Meraih Penghargaan APFI
Pewarta foto Historia.id , Fernando Randy, meraih penghargaan Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2022 yang digelar di Merdeka Walk, Medan, Sumatra Utara, Jumat, 3 Juni 2022. Nando, sapaan akrabnya, meraih trophy berbentuk kamera itu untuk kategori Sports melalui fotonya yang berjudul “Jatuh Demi Medali”. Ajang tertinggi pewarta foto di Indonesia ini melibatkan juri-juri ternama seperti Adek Berry, Ati Nurbati, Ferdy Siregar, Priyambodo R.H, dan Oscar Motuloh. Foto Fernando Randy diseleksi bersama 2.892 karya dari 236 pewarta foto lainnya. Hasilnya dipilih 15 foto terbaik dari 6 kategori single dan essay , serta kategori citizen journalist dan general news untuk non-anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI). “Foto tersebut langsung memikat hati juri karena action dan ekspresi atlet yang membuat foto menjadi kuat. Jelas pemotret memiliki kecepatan reaksi dan feeling saat memotret momen tersebut,” kata Adek Berry, Ketua Dewan Juri APFI 2022 kepada Historia.id . Baca juga: Pewarta Foto Historia Mendapat Penghargaan APFI Adek menjelaskan bahwa memotret olahraga bukan perkara mudah. Kesiagaan terhadap momen tak terduga menjadi penting bagi fotografer olahraga. Foto Fernando Randy yang berhasil menangkap momen salah satu atlet tim D'Riders ketika gagal melewati halang rintang menjawab tantangan itu. “Serpihan pasir yang beterbangan, kontrol exposure yang baik dan komposisi yang pas membuat juri memberi nilai tinggi, sehingga memenangkan foto tunggal terbaik APFI 2022 untuk kategori Sports ,” kata Adek. Baca juga: Cerita di Balik Rekor MURI untuk Historia Selain peka terhadap momen, menurut Nando, fotografer harus menguasai teknik fotografi seperti panning atau freezing yang diperlukan pada momen-momen cepat. “Foto olahraga kan genrenya unik. Sama kayak (genre) sejarah. Kalau mau motret sejarah, kita nggak cuma motret untuk hari ini. Jadi untuk beberapa tahun mendatang pun harus bisa dinikmati,” kata Nando. Ini merupakan penghargaan kedua yang diraih Fernando Randy setelah tahun lalu ia juga meraih penghargaan dalam kategori Foto Esai Terbaik. Dalam artikel “ Perjuangan Bangsa di Stadion VIJ ,” Nando merekam sejarah sepakbola tanah air melalui Stadion VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra) di Jakarta Pusat. Baca juga: Historia Raih LINE Indonesia Awards Jika memotret olahraga butuh penguasaan teknik dan kepekaan momen yang tinggi, maka dalam memotret tema sejarah, Nando menjelaskan bahwa pewarta foto perlu melakukan riset terlebih dahulu. Pengetahuan mendalam mengenai obyek yang akan dipotret membuat pewarta foto bisa memunculkan foto yang bercerita. “Itu membuat (obyek) foto yang tadinya biasa, yang tadinya hanya kita lewati, ternyata jadi luar biasa,” ungkapnya. Foto-foto esai sejarah karya Nando bisa dinikmati di rubrik galeri Historia.id .
- Santiago Bernabéu "Bapak Real Madrid"
KONON katanya 13 angka sial. Tetapi Real Madrid mampu melaluinya dengan bawa pulang titel Liga Champions ke-14 usai puasa gelar prestisius itu selama empat tahun. Sebutir gol Vinícius Jr. sudah cukup mengunci kemenangan 1-0 raksasa Spanyol tersebut atas Liverpool di Stade de France di pinggiran utara Paris, Prancis, 28 Mei 2022. Sebagaimana tradisi klub, trofi bergengsi itupun diarak keliling ibukota Spanyol, Madrid, sehari setelahnya. Melewati Plaza de Cibeles yang jadi ikon kota Madrid, iring-iringan berakhir di stadion kebanggaan mereka yang mengabadikan nama tokoh yang jadi “Bapak Real Madrid”: Santiago Bernabéu de Yeste. Di luar kompetisi domestik yang acap dijuarainya, Los Blancos – julukan Real Madrid – jadi momok di kompetisi Eropa. Pada 1930-an, El Real mulai jadi klub yang ditakuti. Namun satu dekade berikutnya hancur lebur akibat Perang Saudara Spanyol. Lantas pada awal 1980-an, prestasinya kembali menukik. Adalah Lorenzo Sanz, presiden klub ke-14, yang melecut kebangkitannya dengan menggagas akademi muda La Fábrica. Maka ketika Florentino Pérez memimpin di awal 2000-an, ia punya barisan Los Galacticos yang amat memukau dunia. Reputasi Real Madrid jelas takkan dihormati seperti saat ini tanpa peran “Bapak Real Madrid” Bernabéu. Dialah yang meletakkan fondasi kejayaan Real Madrid dari puing-puing kehancuran gegara perang. Baca juga: Adiós Lorenzo Sanz! Perayaan trofi Liga Champions di Plaza de Cibeles (atas) & Estadio Santiago Bernabéu ( realmadrid.com ) Hidup Mati untuk Real Madrid Lahir di Almansa, kota kecil di Provinsi Albacete, Spanyol pada 8 Juni 1895, Bernabéu merupakan satu dari lima anak pasangan José Bernabéu Ibáñez dan Antonia Yeste Núñez. Keluarganya merupakan keluarga kaya karena ayahnya tuan tanah sekaligus pengacara. Sementara, Antonia berdarah Kuba. Mata Bernabéu kecil berbinar-binar begitu melihat si kulit bundar. Itu mulai dialaminya sejak keluarganya pindah ke kota Madrid dan dia sering diajak ayahnya menonton langsung pertandingan Madrid FC (sebutan Real Madrid sebelum 1920). Saat itu Madrid FC berbasis di sebuah lapangan sederhana di Calle de O’Donnell. Tak ayal di usia dini sepakbola sudah menjangkiti Bernabéu meski ia harus membagi waktu dengan pendidikan dasarnya di Agustinos de El Escorial dan kemudian berlanjut ke tingkat menengah atas di Cardenal Cisneros Institute. Namun di saat ia membuka jalan bagi karier di lapangan hijau, cobaan berat menghinggapinya. “Kematian ibunya saat ia masih kecil membekaskan kepedihan. Ayahnya juga meninggal saat ia masih sangat muda. Tetapi pada 1910 ia sudah bisa masuk tim yunior Madrid FC dan bahkan pada 1912 sudah menembus tim utama. Meski saat itu ia dan rekan-rekannya mesti lebih dulu merapikan rumput, membersihkan bebatuan, memasang pagar, dan mengecat sendiri tiang gawangnya,” tulis jurnalis cum sejarawan Félix Martialay dalam Una Historia de la Selección Española de Fútbol (1977-1978). Baca juga: Stadion Metropolitano dan Warisan Masa Lalu Lantaran sepakbola belum bisa dijadikan mata pencaharian dan Bernabéu sudah jadi yatim-piatu, ia mesti “patungan” dengan empat saudaranya untuk bisa menyambung hidup dan melanjutkan pendidikan. “Dia melanjutkan studi hukum pada 1915. Ia juga terpaksa absen dari Madrid (FC) karena harus bekerja di Oviedo. Sebelum kembali ke Madrid (FC), ia bekerja di pabrik peralatan makan perak,” lanjutnya. Don Santiago semasa bermain untuk Real Madrid ( realmadrid.com ) Setelah itu Bernabéu comeback untuk bermain hingga 1926. Pada musim 1920-1921, Bernabéu sempat “membelot” ke klub sekota, Athletic Madrid (kini Atlético Madrid). Menukil laman resmi klub , Bernabéu –yang bermain di posisi gelandang dan penyerang– punya keunggulan pada fisiknya dan komitmennya sebagai team player . Dari 80 partai resmi bersama Real Madrid sebelum gantung sepatu, Bernabéu punya catatan impresif, yakni 70 gol. “Antara 1927 dan 1935 dia tetap di Real Madrid dan bahkan memegang rangkap jabatan di klub, seperti asisten pelatih, pelatih kepala, manajer, sekretaris, hingga direktur delegasi tim,” tulis harian ABC dalam kolom obituarinya edisi 3 Juni 1978. Baca juga: Piala Super Spanyol Sarat Drama Semasa mengurus klub, Bernabéu tak terpengaruh suasana politik yang memanas pada 1930-an akibat perseteruan kalangan nasionalis dan republik. Relasinya dengan sejumlah kolega dari dua kutub politik tetap ia pertahankan dan itu pula yang menyelamatkan nyawanya kala Perang Saudara Spanyol meletus pada 1936. “Bernabéu selalu jadi oposan presiden (klub) Rafael Sanchez Guerra menyoal perang. Ia pernah bilang: ‘saya tak pernah sekalipun menjadi kader partai politik, baik itu merah maupun facha (fasis).’ Terlepas sebenarnya Bernabéu pernah datang ke rapat yang dipimpin José María Gil Robles dari partai sayap kanan CEDA. Saudaranya, Antonio merupakan wakil parlemen (fraksi) CEDA,” ungkap jurnalis Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona, Real Madrid, and the World’s Greatest Sports Rivalry. Sempat apatis terhadap politik, Bernabéu pada akhirnya menggabungkan diri ke militer sayap kanan (/Dokumenter Bernabéu /Fundación Nacional Francisco Franco) Situasi perang kemudian mengubah segalanya. Saat perang berkobar hebat, Bernabéu terpaksa bersembunyi gegara semua fasilitas klub direbut para kombatan sayap kiri. Bermodalkan identitas palsu sebagai perawat, ia mencari suaka ke kedutaan Prancis. “Saat itu kota Madrid sempat terkepung. Bernabéu diselamatkan Alonso, seorang sekretaris klub pro-komunis. Dia selamat dari penangkapan dan eksekusi berkat intervensi duta besar golongan republik untuk Prancis yang merupakan pendukung klub. Bernabéu pun bersembunyi di Kedutaan Prancis dan diselundupkan ke wilayah Prancis. Dua pemain bintang, (Ricardo) Zamora dan (Josep) Samitier juga diselamatkan dari anarkisme milisi republik,” tulis Mihir Bose dalam The Spirit of the Game: How Sport Made the Modern World. Baca juga: Politik Dua Kaki Francisco Franco Tak lama setelah berlindung di Prancis, Bernabéu kembali ke negerinya dengan menyandang senjata. Ia menggabungkan diri ke pasukan Cuenca pimpinan Jenderal Muñoz Grandes. Ia turut dalam kampanye pasukan yang merebut Basque dan kota Barcelona pada Maret 1939. “Saya memilih satu pihak di perang saudara dan di kemudian hari saya menyesalinya. Saya tak begitu suka membicarakannya, terutama setelah sekian lama dan tak lagi mengetahui mana pihak yang baik dan mana yang buruk. Kesimpulannya, saya memilih pihak yang salah,” sambung Bernabéu dikutip Lowe. Don Santiago (kanan) bersama Generalísimo Francisco Franco Bahamonde (Fundación Nacional Francisco Franco) Usai perang dengan tiga keping medali penghargaan: Cruz de Mérito Militar, Cruz de Guerra, dan Cruz de Campaña, Bernabéu balik kandang dengan harapan bisa membangkitkan klub yang mati suri. Kepengurusan lama sudah lenyap lantaran banyak pengurusnya tewas maupun hilang dalam perang. Fasilitas klub setali tiga uang. Estadio Chamartín yang jadi kandang Real Madrid sejak 1924 porak-poranda. Sejumlah trofi klub hilang entah ke mana. Baca juga: Memori Stadion San Siro Bernabéu mesti pontang-panting merestrukturisasi klub. Tantangan terbesarnya adalah memanggil kembali para pemain, direktur, dan anggota klub yang masih hidup usai perang. Kendati berada di belakang barisan Franco semasa perang, Bernabéu tak serta-merta mendapat dukungan fulus dari pemerintahan. Justru Atlético Aviación (nama lama Atlético Madrid) yang lebih mendapat perhatian. “Setidaknya kemudian ia bisa menarik dukungan dan kemudian mengangkat Letjen Eduardo Saénz de Buruaga, salah satu kolega terdekat Franco, untuk menjadi presiden kehormatan. Tak heran kemudian dewan direksi klub banyak ditempati perwira militer,” tambah Lowe. Pembangunan Estadio Nuevo Chamartín (kiri) dan pemain bintang Alfredo Stéfano Di Stéfano Laulhé ( realmadrid.com ) Presiden resmi klub hingga 1940 pun ditempati militer, yakni Adolfo Meléndez, dan kemudian disambung Antonio Santos Peralba hingga 1943. Kondisi itu perlahan oleh Bernabéu dimanfaatkan untuk memakai koneksi di lingkaran Franco guna membangun stadion anyar di samping yang utama membangun tim. Terlebih setelah ia memegang tampuk kepresidenan klub mulai 11 September 1943. Bernabéu menduduki jabatan presiden setelah Peralba dipaksa melepas jabatannya. Penurunan paksa itu berawal dari terjadinya kerusuhan antar-pendukung pada sebuah laga el clásico kontra Barcelona –yang notabene musuh dalam perang– pada 1943. Pemerintahan Franco yang masih dipusingkan oleh pembangunan pasca-perang, mengambil jalan pintas: memaksa kedua presiden klub mengundurkan diri. “Di awal rezim Bernabéu, Real langsung kembali menjuarai gelar pada 1943; yang lebih penting adalah kejeniusan Bernabéu dan koneksinya dengan rezim baru dalam membangun stadion baru (Nuevo Chamartín). Dibantu (Jenderal José) Moscardo, Real Madrid bangkit di rezim Franco dengan membelokkan aturan, di mana pemain asing diperbolehkan, merekrut pemain jenius asal Argentina, Alfredo Di Stéfano. Real Madrid pun meretas kejayaannya pada 1950-an,” imbuh Bose. Baca juga: Mula Turnamen Para Juara Saat itu pula Bernabéu menakhodai Real Madrid ke arah profesional dalam pengelolaan. Ia membangun sejumlah sektor baru dengan masing-masing tim teknis independen, serta membuka diri bagi orang-orang yang punya visi baru untuk mengembangkan klub. Begitu neraca keuangan mulai stabil dan bahkan menggemuk, Bernabéu mulai belanja pemain berkelas, asing maupun lokal, selain Di Stefano. Mulai dari Luis Molowny, Paco Gento, Emilio Santamaría, Raymond Kopa, Ferenc Puskás, José Pirri, hingga Carlos Santillana. Hasilnya, 16 titel La Liga, tujuh Copa del Rey, dan enam trofi European Cup (kini Liga Champions) sukses diraih semasa 35 tahun rezim Bernabéu. Guna menghormati jasanya, rapat umum klub pada 1955 menetapkan penggantian nama stadion Nueva Chamartín dengan Estadio Santiago Bernabéu. Markas Real Madrid, Estadio Santiago Bernabéu ( realmadrid.com ) Simpati untuk Manchester United Bernabéu memegang jabatannya hingga hembusan nafas terakhirnya pada 2 Juni 1978. FIFA yang saat itu tengah menggelar Piala Dunia di Argentina, menetapkan tiga hari berkabung. Pun dengan sejumlah klub rival domestik maupun Eropa, termasuk Manchester United (MU). Meski rival di lapangan, Bernabéu mengaku respek dan kagum pada MU. Utamanya terhadap prestasi dan peran Matt Busby, pelatih yang pernah coba dibajak Bernabéu untuk pindah ke Madrid. “Pada 1956, tepat setelah United memenangkan gelar liga ke sekian, dia (Busby) ditawari melatih di Real Madrid. Presiden Madrid Santiago Bernabéu bilang padanya banyak melatih klubnya seperti mengelola surga. Matt merespons dengan penolakan dan menggambarkan Manchester sudah seperti surga pribadinya,” ungkap John Maguire dalam Busby’s United. Baca juga: Berkabung untuk Setan Merah Alih-alih tersinggung, Bernabéu justru makin respek pada Busby dan MU. Sebaliknya, MU takkan pernah melupakan simpati, perhatian, dan bantuan Bernabéu kala tim itu goyah pasca-Tragedi Munich 1958. Bernabéu sampai menawarkan beberapa pemain Real Madrid, salah satunya Di Stéfano, untuk dipinjam MU yang kehilangan banyak pilar utamanya. “Setelah tragedi itu, Bernabéu menemui Di Steféno. Dia berkenan pergi (ke Manchester) sampai akhir musim, Manchester dan Madrid sama-sama membayar setengah gajinya. Akan tetapi FA (induk sepakbola Inggris) melarangnya karena mengancan potensi pemain Inggris. Akhirnya Madrid membantu dengan cara-cara lain,” ungkap John Ludden dalam bukunya, A Tale of Two Cities: Manchester and Madrid 1957-1968. Di antara bantuan Real Madrid adalah membuat umbul-umbul dan bendera penghormatan bertuliskan “Champions of Honour”. Nama-nama korban Tragedi Munich diterakan di sana. Umbul-umbul dan bendera dijual dan hasilnya disumbangkan kepada MU. Ilustrasi laga persahabatan Manchester United vs Real Madrid ( manutd.com ) Bantuan lain berupa tawaran paket liburan cuma-cuma ke fasilitas mewah di Spanyol. Tujuannya untuk pemulihan jiwa para korban luka yang terguncang. Last but not least, dua laga persahabatan untuk menggalang dana. “Usai tragedi itu United bahkan tak pernah membayangkan prestasi Eropa, lebih kepada bagaimana bisa bertahan di First Division. Jadi, harapan Busby (di duel persahabatan) itu adalah untuk menghidupkan kembali mimpi Eropa ke depannya. Pertandingan melawan para pemain sekelas Puskás dan Di Stéfano bisa melecutkan mimpi Eropa fans dan para pemain,” lanjut Ludden. Laga perdananya digelar di Old Trafford pada Oktober 1959 dan dipadati 80 ribu suporter. Real Madrid dengan mudah menggasak tuan rumah, 6-1. Di laga kedua di Madrid sebulan kemudian, MU mampu mengimbangi kendati tetap kalah, 5-6. Pendapatan dari tiket di dua laga itu disumbangkan kepada MU. Sementara, fee buat Real Madrid lain soal. “Biasanya Real Madrid mematok tarif 12 ribu poundsterling untuk pertandingan persahabatan. Tetapi Bernabéu mengatakan kepada (manajemen) United: ‘bayar saja semampunya,’” tandasnya. Baca juga: Kiper Manchester Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
- Tangan Zionis Berlumuran Darah Jurnalis
KORBAN nyawa akibat laku zionis Israel di Palestina seperti tak pernah ada habisnya. Orang sipil, dari perempuan dan anak-anak hingga kalangan jurnalis, terus berjatuhan. Shireen Abu Akleh menambah daftar hitam kematian jurnalis. Dunia internasional gempar lantaran jurnalis Al Jazeera itu punya dwi-kenegaraan, Palestina dan Amerika Serikat (AS). Tak ayal tragedi itu memancing kecaman banyak pihak. PBB, negara-negara Arab, Inggris, Prancis, bahkan AS mendorong adanya upaya investigasi independen dari pihak di luar Israel dan Palestina. “Kami menyatakan kepedihan dan sangat mengecam pembunuhan terhadap jurnalis Amerika Shireen Abu Akleh di Tepi Barat. Investigasinya harus dilakukan sesegera mungkin dan menyeluruh dan para pelakunya harus bertanggungjawab. Kematiannnya adalah penghinaan terhadap kebebasan media di manapun,” ucap juru bicara kementerian luar negeri Amerika Ned Price, dikutip Al Jazeera , 11 Mei 2022. Baca juga: Aksi-Aksi Zionis Israel Menodai Masjid Al-Aqsa Baik Israel maupun otoritas Palestina punya versi berbeda atas kematian Shireen pekan lalu, 11 Mei 2022 di Jenin, Tepi Barat, Palestina. Kronologinya bermula dari Shireen yang ditemani sejawatnya, Ali al-Samoudi dan Shatha Hanaysha, bertugas meliput Kamp Pengungsi Jenin. Akan tetapi tetiba datang serangan dari IDF (Tentara Pertahanan Israel) yang kemudian memojokkan posisi Shireen dan Ali, kendati keduanya mengenakan identitas rompi anti-peluru bertuliskan “PRESS”. Ali terluka di bagian punggung walau nyawanya selamat. Sementara, Shireen tak seberuntung Ali. Kepala Shireen tertembus timah panas. Kendati sudah dilarikan ke Rumahsakit Ibn Sina, wartawati berusia 51 tahun itu dinyatakan tewas. Hasil otopsinya oleh para pakar patologi Universitas Nasional Al-Najah menyatakan Shireen tertembak peluru kaliber 5.56x45 mm yang lazim terdapat di senapan serbu M16 atau M14. Kedua senjata itu juga digunakan baik oleh IDF maupun kombatan Palestina. Pihak zionis membantah personil mereka sengaja menargetkan para jurnalis itu., Lewat akun Twitter -nya, @naftalibennett , Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett menuding kelompok bersenjata Palestinalah yang membunuh Shireen. Cuitannya juga disertai unggahan video yang menggambarkan baku tembak para militan Palestina. Grafiti dan mural untuk mengenang Shireen Abu Akleh ( wafa.ps ) Sontak pernyataan itu dibantah pihak Palestina. Terlebih sudah lebih dulu ada pernyataan saksi mata para sejawat mendiang Shireen di TKP bahwa yang menembak adalah militer Israel. “Kami ada empat jurnalis dan semuanya memakai rompi dan helm. Tentara pendudukan (Israel) tidak berhenti menembak setelah ia (Shireen) tumbang. Saya bahkan tak bisa menarik tubuhnya karena terus-menerus ditembaki,” aku Shatha, dinukil Al Jazeera , 11 Mei 2022. Baca juga: Duka Desa Tantura di Palestina Ali juga mengungkapkan hal serupa. Ia membantah balik pembelaan pihak Israel dan menyatakan tidak ada konfrontasi antara kelompok bersenjata Palestina dengan IDF di kamp pengungsi tersebut. “Mulanya kami ingin memfilmkan operasi tentara Israel dan tiba-tiba mereka menembaki kami tanpa meminta kami pergi atau berhenti merekam. Peluru pertama mengenai (punggung) saya dan peluru kedua mengenai Shireen…tidak ada baku tembak dengan kelompok Palestina di TKP,” timpal Ali. Perbedaan koordinat TKP baku tembak kelompok Palestina-Israel (bawah) dan TKP pembunuhan Shireen Abu Akleh (atas) ( btselem.org ) Kesaksian Ali diperkuat dokumentasi hasil riset B’Tselem, lembaga HAM Israel di wilayah pendudukan. Di laman resminya , 11 Mei 2022, B’Tselem membongkar kebohongan perdana menteri Israel, di mana video baku tembak dengan kelompok Palestina yang ditunjukkannya ternyata berlokasi berbeda dari TKP pembunuhan Shireen. “Dari koordinat GPS dua lokasi itu, juga dari foto udara yang ada, keduanya menunjukkan bahwa penembakan seperti yang digambarkan dalam video (otoritas Israel, red .) tidak mungkin menjadi (video) baku tembak yang mengenai Shireen Abu Akleh dan koleganya,” bunyi pernyataan B’Tselem. Baca juga: Prahara Yerusalem Diusik Amerika Bukannya mengklarifikasi, dua hari berselang aparat Israel justru merecoki prosesi pengusungan jenazah mendiang Shireen. Mereka memukuli para pengusung jenazah Shireen saat jenazahnya hendak dibawa ke Katedral Anunsiasi Perawan Maria/Katedral Yunani-Melkit di kota tua Yerusalem. “Kami, Patriark Yunani Yerusalem, Patriark Latin Yerusalem beserta para uskup, mengecam tindakan kekerasan Kepolisian Israel terhadap prosesi pemakaman mendiang jurnalis Shireen Abu Akleh yang hendak dibawa dari Rumahsakit St. Joseph ke Katedral Yunani-Melkit,” kata para pemuka gereja Yunani dalam pernyataan bersama yang dimuat di laman Latin Patriarchate of Jerusalem , 16 Mei 2022. Kolase para pengusung jenazah Shireen Abu Akleh yang diserang polisi Israel ( wafa.ps ) Jurnalis Pertama yang Dibom Mossad Mendiang Shireen sudah 25 tahun terakhir meliput aksi-aksi kekerasan dan konflik Israel-Palestina. Mengutip Kantor Berita dan Informasi Palestina WAFA, perempuan kelahiran Yerusalem, 3 Januari 1971 itu jadi korban ke-86 dalam daftar kematian jurnalis di tangan zionis Israel sejak 1972. Dari 86 korban, 50 di antaranya terjadi di lepas tahun 2000. Jauh sebelum Shireen, ada nama Ghassan Kanafani yang disebut sebagai jurnalis Palestina pertama yang jadi target pembunuhan Israel, yakni pada 8 Juli 1972. Sejak Kanafani hingga Shireen, belum sekalipun ada pelaku pembunuhan yang diseret ke meja hijau. Lahir di Akka, 8 April 1936, Kanafani sudah mendalami politik sejak mengenal mentornya, George Habash, pada 1953. Kala itu Kanafani masih kuliah di Jurusan Sastra Arab Universitas Damaskus, Suriah. Sebagaimana mentornya, Kanafani hanyut dalam arus politik kiri di bawah naungan organisasi Harakat al-Qawmiyyin (Gerakan Nasionalis Arab/MAN) dan kemudian Al-Jabhah al-Sha’biyyah li-Taḥrīr Filasṭīn atau Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP). Baca juga: Darah dan Air Mata Palestina Dari meja redaksi, Kanafani aktif menghujamkan “peluru” lewat artikel-artikelnya di suratkabar Al-Hurriya yang jadi corong politik MAN. Ia lantas jadi editor yang mengasuh rubrik “Filastin” di suratkabar Mesir Al Muharrir dan Al Anwar. Setelah kian aktif di PFLP sebagai juru bicara, Kanafani yang sering menggunakan nama pena Fares Fares atau A.F (Abu Fayez) balik kandang untuk mengasuh mingguan Al Hadaf yang juga jadi corong PFLP dan majalah Lotus yang didanai otoritas Mesir dan Uni Soviet. “Pada 1963 ia juga menerbitkan novel laris pertamanya, Men in the Sun , yang hingga kini diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan bahkan diadaptasi ke layar kaca. Karya-karyanya kemudian diakui sebagai karya inovatif yang menyertakan kesadaran sosial terkait kondisi Palestina. Ia memenangkan Lebanese Literature Prize (untuk novel All That’s Left to You) pada 1966 dan kemudian Afro-Asian Writers’ Conference Lotus Prize pada 1975 setelah kematiannya,” tulis sejarawan Universitas Columbia Philip Mattar dalam Encyclopedia of the Palestinians. Ghassan Kanafani, jurnalis dan sastrawan Palestina yang berkecimpung dalam politik kiri ( arablit.org ) Terkait kematiannya, Kanafani sudah jadi target intelijen Israel, Mossad, sejak keterkaitannya dengan Pembantaian Bandara Lod (kini Bandara Internasional Ben Gurion) di Tel Aviv, Israel, 30 Mei 1972. Pengeboman oleh tiga aktivis komunis Jepang itu memakan 25 korban jiwa dan melukai 79 lainnya. “Ghassan Kanafani, penulis dan jurnalis Palestina yang menjabat juru bicara PFLP, mengklaim bahwa merekalah yang bertanggungjawab atas serangan tersebut atas nama organisasi. Foto-foto dirinya dan tiga teroris Jepang kemudian dikirim ke sejumlah suratkabar di Beirut. Publik Israel murka atas penerbitan foto-fotonya,” ungkap sejarawan Universitas Texas Profesor Ami Pedahzur dalam The Israeli Secret Services and the Struggle Against Terrorism. Israel pun bikin perhitungan. Lewat rencana yang matang, sejumlah agen Mossad mulai memuat daftar target pembunuhan terhadap aktivis-aktivis PFLP hingga setahun berikutnya. Baca juga: Serangan Aktivis Kiri di Bandara Lod Israel Setelah memata-matai rutinitas Kanafani, Mossad melakoni aksinya pada 8 Juli 1972. Bom plastik ditanam Mossad di bawah bumper depan mobil Austin 1100 milik Kanafani yang terparkir di depan rumahnya di sekitar Beirut. “Ketika ia (Kanafani) menyalakan mesinnya, sebuah granat yang terhubung ke saklar pemicu meledak. Granat itu menjadi detonator untuk bom yang mengandung tiga kilogram bahan peledak plastik. Mobilnya meledak dan hangus terbakar. Menewaskan kedua penumpang di dalamya. Itu menjadi aksi pertama (Mossad) dalam serangkaian pembunuhan pada 1972 dan 1973,” kata Pedahzur. Terlepas dari aktivitasnya dalam gerakan perlawanan bawah tanah sayap kiri di PFLP, kematian Kanafani meninggalkan duka mendalam bagi kalangan pers dan sastrawan, utamanya di Palestina, Lebanon, dan Suriah. “Ia penulis, aktivis intelektual, jurnalis, novelis, satiris, serta analis politik dan sejarah Palestina paling kondang. Misi utamanya adalah mengonstruksi sebuah bahasa yang bisa menangkap inti dari eksistensi bangsa Palestina sebagai sebuah simbol manusia yang utuh. Suratkabar Beirut, The Daily Star, dalam obituarinya menuliskan: ‘Ia seorang prajurit komando yang tak pernah menembakkan senjata. Senjatanya hanyalah pena dan arenanya adalah halaman-halaman suratkabar. Dan dia bisa lebih menyakiti musuh ketimbang satu barisan pasukan elit komando,’” kata Naomi Wallace dan Ismail Khalidi dalam Returning to Haifa. Baca juga: Nasib Tragis Desa Palestina yang Dibantai Zionis Massa simpatisan yang menghadiri pemakaman Ghassan Kanafani (Twitter @FatennMostafa)
- Docmart, Sepatu Dr. Martens
Docmart trending topic setelah akun twitter nayla !!!! @mlkyIatte mencuit pada 14 Mei 2022: “buat orang yg bilang docmart sepatu nyaman pls STOP LYING”. Cuitan ini menarik perhatian banyak warganet bahkan sampai menjadi bahan keributan. Memang apa saja bisa jadi bahan war di twitter . Kali ini sepatu Docmart. Docmart, disebut juga Dr. Martens, Doc Martens, Docs atau DM, merupakan merek sepatu yang belakangan sedang tren di kalangan perempuan muda. Sepatu ini diciptakan oleh Klaus Maertens, dokter tentara Nazi-Jerman selama Perang Dunia II. Setelah perang pada 1945, ketika dia berusia 25 tahun, kakinya patah saat bermain ski. Karena sepatu bot tentara Jerman tidak nyaman dipakai saat kakinya dalam masa penyembuhan, dia membuat sepatu botnya sendiri, meniru sepatu bot tentara dengan menggunakan karet dari ban truk untuk solnya (alas sepatu). Baca juga: Perjalanan Sepatu dari Zaman Batu Dalam situs drmartens.com disebutkan, saat dalam masa pemulihan dari patah kaki, Maertens menciptakan sol berbantalan udara yang unik (bukan sol kulit keras tradisional) untuk membantu pemulihannya. Dia membuat prototipe sepatu dan menunjukkannya kepada seorang teman lama di universitas dan insinyur mesin, Dr. Herbert Funck. Sementara menurut Margo DeMello dalam Feet and Footwear: A Cultural Encyclopedia , karena sepatu buatannya masih belum cukup nyaman untuk dipakai berjalan, Maertens meminta bantuan seorang teman lama tentara dan seorang insinyur bernama Herbert Funck. Funck menggunakan PVC yang dicetak sedemikian rupa sehingga udara tertahan di kantong karet. Penemuan Funck kemudian dilekatkan pada sepatu menggunakan proses di mana satu sol dijahit ke sepatu, dan sol kedua disegel panas ke lapisan pertama. Dr. Klaus Maertens (kanan) bermain ski dan prototipe sepatu buatannya. ( drmartens.com ). Dipakai Wanita Tua Maertens dan Funck menilai sepatunya potensial dijual. Mereka menjalin kemitraan dengan menggunakan perlengkapan militer bekas untuk memproduksi sepatu uniknya. Mereka mulai menjual sepatu dengan nama Dr. Maertens pada 1947. “Pelanggan awal adalah tentara Jerman yang terluka dalam perang, diikuti oleh ibu rumah tangga,” tulis DeMello. Drmartens.com menambahkan, dalam satu dekade bisnis mereka berkembang pesat, kebanyakan menjual sepatu kepada wanita tua. Sol yang nyaman disukai ibu rumah tangga, sehingga 80% penjualan dalam dekade pertama kepada wanita di atas usia 40 tahun. Dalam Kreativitas dalam Public Relations , Andy Green mengatakan bahwa temuan-temuan hebat sering kali berasal dari keberuntungan, bukan dari ide besar. Temuan disempurnakan oleh perbaikan selangkah demi selangkah, dan tiap langkah itu sendiri merupakan penemuan. “Coca-Cola awalnya merupakan obat penghilang pengaruh alkohol di pagi hari. Sedangkan sepatu bot Dr. Martens awalnya dipandang sebagai sepatu ortopedik bagi wanita-wanita tua Jerman,” tulis Green. Baca juga: Kisah Coca-Cola di Bawah Panji Nazi Dr. Klaus Maertens (kanan) dan iklan sepatu Dr. Martens AirWair yang diproduksi R. Griggs & Company dari Northamptonshire, Inggris. ( drmartens.com ). Pada 1952, Maertens dan Funck membuka pabrik di Munich untuk melayani pasar Jerman yang sedang berkembang. Tujuh tahun kemudian, mereka mengiklankan penemuan sepatu revolusionernya di majalah luar negeri untuk memperluas distribusi. Akhirnya, mereka dihubungi oleh produsen sepatu R. Griggs & Company dari Northamptonshire, Inggris. “Griggs pernah membuat sepatu bulldog yang dipakai oleh tentara Inggris,” tulis DeMello. Saat itu, perusahaan Griggs dijalankan oleh generasi ketiga, yaitu Bill bersama saudara laki-lakinya, Ray dan Colin dan putranya Max. “Saat memindai halaman-halaman majalah perdagangan sepatu, mata Bill terpikat oleh iklan Jerman untuk sol bantalan udara yang inovatif,” tulis drmartens.com. Baca juga: Siong Vo, Legenda Sepatu Bola di Indonesia Griggs memperoleh lisensi eksklusif dan melakukan beberapa perubahan penting, termasuk perubahan tumit, bagian atas yang bulat namun sederhana, jahitan bilur kuning yang khas, tepi sol beralur dua warna, dan pola sol yang unik.Sepatu bot itu diberi merek “AirWair” dengan slogan “With Bouncing Soles”. Griggs merilis sepatu pertama yang diberi nama 1460 karena diproduksi pada 1 April 1960. 1460 adalah Docmart yang ikonik; sepatu bot kulit merah atau hitam dengan jahitan kuning di sekitar sol karet. “Griggs mengubah nama dari Dr. Maertens menjadi Dr. Martens,” tulis DeMello. Dr. Klaus Maertens dan temannya sedang membuat sepatu pada 1945. ( drmartens.com ). Sepatu Kelas Pekerja Sepatu bot Docmart lahir pada dekade gelombang perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ide-ide baru, pergolakan budaya, dan revolusi sosial. Awalnya sepatu Docmart dipakai oleh tukang pos dan pekerja pabrik. Beberapa tahun pertama keberadaannya sangat mirip dengan sepatu bot pekerja seharga £2. “Kemudian sesuatu yang luar biasa mulai terjadi,” tulis drmartens.com. Docmart tiba-tiba dipakai oleh para skinhead yang dengan bangga memperjuangkan gaya kelas pekerja Inggris. “Pada 1960-an, para punk dan skinhead Inggris mulai memakai sepatu bot, menyukai penampilan militer dengan sepatu bot hitam 1460. Mod Inggris, di sisi lain, mengenakan sepatu bot merah,” tulis DeMello.Mod adalah subkultur dalam musik dan mode yang dimulai di London dan menyebar ke seluruh Inggris Raya dan tempat lain. Baca juga: Skinny Jeans, Punk, dan Rock & Roll Musisi Pete Townshend menjadi orang pertama dari kalangan atas yang memakai sepatu Docmart. ( drmartens.com ). Tak lama setelah itu, musisi Pete Townshend dari The Who menjadi orang pertama dari kalangan atas yang memakai Docmart sebagai simbol kebanggaan kelas pekerja dan sikap pemberontakannya. “Dengan begitu, skinhead generasi pertama dan Townshend mengubah arah sejarah merek, mengubah bot pekerja fungsional ini menjadi subkultur penting,” tulis drmartens.com. Docmart kemudian dipakai oleh banyak musisi paling terkenal pada zamannya, seperti Sid Vicious, Billy Bragg, Joe Strummer, dan Morrissey, kemudian Sinead O’Connor, Cyndi Lauper, dan Kurt Cobain. Baca juga: Kurt Cobain, Montase Seorang Ikon Menurut DeMello, karena terhubung dengan skinhead , banyak orang mengasosiasikan Docmart dengan kekerasan, pemberontakan, dan anarki, meskipun polisi, pekerja pabrik, dan pekerja pos menyukainya. “Bahkan Paus Yohanes Paulus II mengenakan Docmart putih,” tulis DeMello. Pada dekade berikutnya, muncul subkultur baru seperti glam , punk , two tone (genre musik), dan goth (dikembangkan oleh penggemar rock gothic ). Docmart tetap menjadi pilihan bagi sebagian besar gerakan anti-kemapanan . “Sepatu bot telah menjadi simbol ekspresi diri di jantung budaya pemuda Inggris,” tulis drmartens.com. Baca juga: Semarak Konser Musik Rock di Indonesia DeMello mencatat, selama tahun 1980-an, Docmart menyebar dari kancah musik punk ke new wave , kemudian ke grunge , dan dari sana ke budaya arus utama. Docmart banyak dipakai oleh orang-orang muda, pria dan wanita, terutama di Amerika Serikat, dan salah satu sepatu uniseks (tidak terkait jenis kelamin tertentu) pertama tahun 1980-an.Sepatu itu juga populer di kalangan lesbian. Docmart masuk ke Amerika pada 1980-an setelah musisi hardcore yang melakukan tur ke Inggris pulang membawa Docmart, sehingga secara tidak sengaja subkultur Amerika mulai mengadopsinya. Sepatu Docmart identik dengan festival musik. ( drmartens.com ). Docmart dan Musik Ketika muncul genre musik baru, seperti nu-metal dan emo, juga mengadopsi bot. Merek Docmart pun menjadi identik dengan budaya festival musik. “Tanpa musik, Docmart akan tetap menjadi sepatu pekerja,” tulis drmartens.com. Menyadari dunia musik yang membesarkan Docmart, perusahaan pun bekerja sama dengan musisi merilis CD kompilasi pada 1995 yang menampilkan lagu-lagu band New Order, Suede, dan Blur. Album selanjutnya menyusul. Perusahaan juga mensponsori acara festival musik seperti Lollapolooza sepanjang tahun 1990-an. Pada 1999, Docmart merilis sepatu bot 1460 khusus dengan logo band ska Madness. Baca juga: Para Penyemir Sepatu Cilik Pada 1990-an, perusahaan menambahkan warna dan gaya baru pada Docmart, termasuk motif bunga, polkadot, dan warna neon. Tak lama setelah ulang tahun merek yang ke-40, penjualan Docmart turun secara dramatis, sehingga semua pabrik kecuali satu pabrik di Inggris harus ditutup untuk mencegah kebangkrutan. DeMello menyebut bahwa perusahaan menutup pabriknya di Inggris pada 2003 dan mengalihkan produksinya ke Cina dan Thailand.Docmart masih diproduksi oleh Griggs dan sekarang dipasarkan hanya melalui anak perusahaannya, AirWair. Baca juga: Awal Mula Demam Sepatu Roda Saat ini, Docmart dibuat dalam berbagai gaya, termasuk sepatu kets, sepatu hak tinggi, dan sepatu bot setinggi lutut, tetapi 1460 masih menyumbang setengah dari penjualan perusahaan. “Sementara Docmart tetap menjadi sepatu bot remaja di mana-mana, setelah memengaruhi perkembangan sepatu bot lain seperti Timberlands, Docmart tidak pernah mendapatkan kembali popularitas yang dicapai dari tahun 1960-an hingga 1990-an,” tulis DeMello. Docmart mulai tren di Indonesia pada 1990-an dan kini kembali digandrungi muda-mudi.
- Pertempuran Meriam di Sibolga
Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947. Salah satu kesepakatannya Belanda mengakui kekuasaan de facto Republik Indonesia di Jawa, Madura, dan Sumatra. Perjanjian ini memberikan kesempatan kepada para pejuang untuk istirahat sejenak. Di Sumatra dalam masa gencatan senjata ini disepakati garis demarkasi. Belanda hanya menguasai daerah di dalam garis demarkasi yang melingkari kota Medan. Di luar garis itu, Republik Indonesia yang berkuasa. Namun, Belanda melakukan provokasi yang mengakibatkan bentrokan senjata. Seperti terjadi di pelabuhan Teluk Sibolga, Tapanuli, Sumatra Timur, yang sering dikunjungi kapal-kapal dagang dari Singapura. Jenderal TNI (Purn.) Maraden Panggabean dalam memoarnya, Berjuang dan Mengabdi mengatakan, sejak Proklamasi sebagian besar keperluan Tapanuli akan pakaian, kebutuhan sehari-hari, bahkan senjata banyak diperoleh dari Singapura dengan barter melalui pelabuhan Sibolga. Jalur lain memperdagangkan beras, karet, dan senjata ke daerah Riau yang lebih gampang memasukkan barang dari Singapura melalui celah-celah puluhan pulau. “Barter dengan Singapura ini sangat menolong kehidupan rakyat dan perjuangannya,” kata Panggabean yang menjabat panglima ABRI (kini, TNI) pada masa Orde Baru. Baca juga: Panggabean Dua Kali Kerampokan Saat Perang Kemerdekaan Teluk Sibolga dan pelabuhannya antara tahun 1910 dan 1920. (Tropenmuseum). Oleh karena itu, Belanda berusaha menangkap kapal-kapal dagang yang dituduh melakukan penyelundupan dari Singapura ke Tapanuli. Pada 3 Mei 1947, kapal perang Belanda, HMS Danckaerts berkode JT-I menyeret satu kapal dagang yang berlabuh di Teluk Sibolga. Rakyat Sibolga menyebut kejadian dengan kapal perang Belanda itu sebagai “peristiwa JT-I”. Nana Nurliana S. dalam biografi Dr. Ferdinand Lumban Tobing menyebut bahwa dalam kapal dagang itu terdapat beberapa anggota ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Beruntung mereka dapat kembali ke pantai dengan selamat. Baca juga: Cara Panggabean Permalukan Gerombolan Pengacau Keamanan “Mengetahui adanya perbuatan kapal perang Belanda itu, maka Residen Tapanuli dr. F.L. Tobing mengirim surat kepada komandan kapal Belanda yang berisi peringatan bahwa tindakannya itu telah melanggar Perjanjian Linggarjati, yaitu memasuki perairan Republik Indonesia yang berdaulat,” tulis Nana. F.L. Tobing juga meminta kapal perang Belanda segera meninggalkan perairan Republik Indonesia. Pada malam hari, kapal perang Belanda itu meninggalkan pelabuhan Sibolga. Maraden Panggabean (duduk tengah) bersama perwira staf Batalyon 104 Waringin sebelum meninggalkan Pematangsiantar. (Repro Berjuang dan Mengabdi ). Pertahanan Menurut Panggabean, ketika kapal perang Belanda itu kembali muncul pada 6 Mei 1947, residen Tapanuli memprotes melalui Komandan Pangkalan Besar ALRI di Sibolga, Mayor Achmad Husin Lubis. Dengan menumpang sekoci ALRI, Mayor Husin disertai Letnan Togatorop, Letnan Oswald Siahaan, dan Letnan Sari Gunung Pohan, dengan hanya bersenjatakan pistol berhasil menyampaikan protes itu. Kapal perang Belanda memenuhi permintaan residen Tapanuli dan meninggalkan pelabuhan Sibolga. Namun, pada 10 Mei 1947, kapal perang Belanda muncul lagi. Kali ini, Kepala Staf Pangkalan Besar ALRI di Sibolga, Kapten Jetro Hutagalung, dengan beberapa orang stafnya mendatangi kapal perang Belanda itu dengan membawa perintah agar mereka datang ke darat untuk berunding. “Sikap Belanda menjadi kasar, kapal yang ditumpangi Kapten Jetro Hutagalung tampaknya hendakdiapit oleh dua kapal motor Belanda untuk memaksanya ikut ke kapal perang,” kata Panggabean. Baca juga: Perintah Receh Jenderal Panggabean Kapten Jetro Hutagalung segera memutarkapalnya menuju daratan. Tentara Belanda melepaskan tembakan yang dibalas oleh rombongan Kapten Jetro Hutagalung dengan tembakan pistol. Seorang prajurit ALRI, Kopral Gunung Silitonga gugur. Kapal perang Belanda kemudian meninggalkan pelabuhan. Menanggapi kejadian itu, residen Tapanuli selaku ketua Dewan Pertahanan Daerah Tapanuli, meminta agarTRI (Tentara Republik Indonesia) bertindak tegas jika kapal perang Belanda muncul kembali. Sebenarnya sebelum permintaan itu, komandandivisi telah memerintahkan Mayor Maraden Panggabean, komandan Resimen I Brigade XI Tapanuli, untuk mengkoordinir perlawanan danpertahanan terhadap kapal perang Belanda. Inti pertahanan TRI antara lain Batalion I Resimen I di Sibolga di bawah Kapten Oloan Sarumpaet dibantu satuan-satuan ALRI dan Mobile Brigade (kini, Brimob), yang mengerahkan meriam kecil dan senapan antipesawat terbang. Resimen II Divisi VI di Tarutung turut menyumbangkan satu pucuk meriam yang langsung dipimpin oleh KomandanResimen II Letnan Kolonel J. Siahaan. Baca juga: Umpatan Serdadu Belanda di Danau Toba Dalam keadaan pertahanan TRI siap siaga, tinggal menunggu komando tembak saja, kapal perang Belanda muncul lagi pada 11 Mei 1947. Nana menyebut bahwapihak Belanda melalui seorang nakhoda perahu pencalang yang ditangkapnya, mengirim surat meminta pemerintah Indonesia menyerahkan dua orang awak kapal dagang yang dituduh penyelundup. Pihak Indonesia membalas surat itu bahwa tidak tahu tentang awak kapal dagang itu dan meminta kapal perang Belanda meninggalkan perairan Sibolga sebelum jam 10.00 tanggal 12 Mei 1947. Belanda mengabaikan permintaan itu. Pertempuran pun tidak terhindarkan. Ledakan di pelabuhan Sibolga oleh meriam kapal perang Belanda. (Repro Perdjuangan Rakjat Tapanuli Sumatra Timur) Pertempuran Sementara itu, menurut Panggabean, kapal perang Belanda tersebut meminta kepada residen untuk membebaskan dua orang awak kapal Australiayang berada di daratan. Residen menyetujui permintaan mereka, tetapi dengan ultimatum kapal perang Belanda harus meninggalkan pelabuhan Sibolga sebelum pukul10.00 tanggal 12 Mei 1947. “Dengan geram saya menahan diri untuktidak memberikan komando tembak terhadap kapal keparat itu yang sekarang untuk kesekian kalinya sedang meninggalkan pelabuhan. Akan tetapi baru esok harinya tanggal 12 Mei 1947, kegeraman sayadapat dilampiaskan,” kata Panggabean. Baca juga: Pertempuran Berdarah di Bukit Mardinding Pada pukul 10.00 pagi, kapal perang Belanda muncul kembali di Teluk Sibolga dan mendekati pantai. Tampaknya sengaja untuk menantang ultimatum. Tanpa menunggu komando, dari segala penjuru Teluk Sibolga dimuntahkan tembakan ke kapal perang Belanda. “Meriam-meriam pantai Indonesia yang sudah dipersiapkan ternyata bekerjanya kurang efektif karena kekurangan amunisi,” tulis Nana. Bahkan, meriam yang dioperasikan oleh KomandanResimen II Letnan Kolonel J. Siahaanmacet pada saat hangatnya pertempuran. “Kalau tidakkapal Belanda itu mungkin dapat ditenggelamkan atau rusak berat,” kata Panggabean. Baca juga: Teror Van der Plank di Tanah Karo Sebaliknya, kapal perang Belanda membalas dengan tembakan meriam secara bertubi-tubi. “Untuk pertama kalinya saya melihat bagaimana peluru meriam dapat memotong pohon besar seperti memotong dahan kecil saja. Sebelum mengenai sasarannya, suara peluru itu menyayat udara secara sangat mengerikan. Demikian pula kalau peluru tersebut dengan suara gemuruh meledak sewaktu menyentuh tanah dan meninggalkan bekas berupa lubang,” kata Panggabean. Baca juga: Van der Plank dan Kejahatan Perang di Sumatra Belanda mengarahkan tembakannya ke posisi senjata otomatis dan senjata berat TRI serta kampung Bonandolok, yang terletak 11 kilometer dari Sibolga, dan sangat strategis di atas bukit yang menguasai jalan Tarutung-Sibolga. Panggabean melihat banyak prajurit yang untuk pertama kalinya mendengar dentuman meriam, gemetar dan pucat pasi.Akan tetapi mereka tetap berada di tempat dan setelah lewat perasaan takut, malahan terus-menerus melepaskan tembakan senapan ke arah kapal, walaupun tembakan itu mungkin tidak efektif. Pejuang Indonesia dalam pertempuran melawan kapal perang Belanda. (Repro Perdjuangan Rakjat Tapanuli S.[umatra] Timur ). Korban Tembakan meriam dari kapal perang Belanda berlangsung sampai pukul 13.15. Sambil melepaskan tembakan, kapal perang itu mengundurkan diri. Sejak hari itu tidak ada lagi gangguan kapal perang Belanda terhadap kota Sibolga. Sehabis pertempuran, Panggabean berkeliling meninjau pos-pos pertahanan. Banyak pohon dan ranting-ranting besar berceceran di jalan. Di tempat-tempat pos pengawalan dan senjata berat terdapat lubang-lubang bekas ledakan peluru meriam. Senjata-senjata berat TRI sendiri selamat. Baca juga: Butet, Nyanyian Pilu di Tengah Revolusi di Tapanuli Dapur umum juga selamat dan para petugas sedang membagikan makanankepada para pejuang. Sedangkan di pos Palang Merah masih ada prajurit yang sedang dirawat. Namun, banyak rumah yang bobol. Sebuah los pasar dan daerah perkampungan Tionghoa diratakan dengan tanah. “27 rumah penduduk Tionghoa hancur ditembaki oleh meriam Belanda,” tulis Perdjuangan Rakjat Tapanuli S. Timur . Pertempuran meriam membuat rakyat Sibolga mengungsi. “Demikian juga tunangan saya. Dia mengungsi ke Sibuhuan dan ketika tembakan dari kapal perang Belanda itu semakin gencar, mengungsi lagi ke Pearaja di Tarutung,” kata Panggabean. Baca juga: Uji Nyali Pejuang di Sumatra dengan Pistol Berludah Buku terbitan Djabatan Penerangan RI itu menyebut kerugian di pihak Belanda diakibatkan oleh tembakan meriam dari Pesindo yang “menghancurkan cerobong kapal JT-I dan memusnahkan beberapa orang tentara Belanda di antaranya seorang opsir (perwira).” Sebuah gambar memperlihatkan opsir Belanda yang luka parah diangkut ke perahu untuk dibawa ke kapal terbang Catalina. Sementara di pihak Indonesia yang gugur adalah Letnan S.G. Lase, Letnan Laut Alimun Hutagalung, dan Kopral Buyung. Beberapa orang luka parah. Bahkan, “Seorang anggota polisi terlempar ke atas pohon dan meninggal dunia pada hari itu juga,” kata Panggabean. Walapun jatuh korban dan banyak kerugian, namun Panggabean merasa puas karena pasukan dan rakyat sudah mendapat “ baptisan tembakan ” ( vuurdoop ) yang membuat mereka bakal tidak begitu takut atau panik lagi jika tiba saatnya berhadapan dengan Belanda .
- Menguber Uber Cup
Dua dekade lebih Indonesia puasa gelar Uber Cup. Indonesia baru tiga kali menjuarai Uber Cup (1975, 1994, dan 1996) dan tujuh kali menjadi runner-up . Hingga kini, Uber Cup masih didominasi oleh China dengan 15 kali juara, disusul Jepang dengan enam kali juara. Tim bulutangkis putri Indonesia kembali gagal di Uber Cup 2022. Juaranya Korea Selatan untuk kedua kalinya. Sebagaimana Thomas Cup lahir dari keinginan Sir Thomas, Uber Cup lahir dari mimpi pebulutangkis Inggris yang mengoleksi 13 gelar All England, Elizabeth “Betty” Uber. “Berbekal pamor internasionalnya, Betty Uber mengajukan pembentukan turnamen beregu khusus putri pada awal tahun 1950 dengan dukungan (tokoh bulutangkis) Nancy Fleming dari Selandia Baru,” tulis Jean-Yves Guillain dalam Badminton: An Illustrated History . Baca juga: Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis Upaya Betty tak mulus. Saat proposalnya dibawa ke International Badminton Federation (IBF), dewan federasi itu tak memberi lampu hijau kendati tertarik pada proyek Betty. IBF beralasan tidak ada dana untuk menggelar turnamen serupa Thomas Cup untuk putri. IBF baru membahas lagi usulan Uber itu pada 1953. Dua tahun berselang, turnamen bernama Women’s Team World Cup itu disetujui IBF dan ditetapkan sebagai turnamen tiga tahunan. Turnamen perdana digelar 1956–1957 dengan format mirip Thomas Cup –sistem kualifikasi Inter-zone– dan putaran finalnya dihelat di Lanchashire, Inggris pada 18 Maret 1957. Menurut IBF Handbook 1958-1959 , dari sebelas negara peserta, tiga negara lolos ke putaran final: Amerika Serikat (AS), India, dan Denmark. Tim terakhir ini diuntungkan dengan undian bye sehingga langsung ke final. Sementara, setelah menghajar India 7-0, Amerika Serikat digdaya di partai puncak dengan mengubur Denmark 6-1. Betty Uber (kanan) mengucapkan selamat kepada Daphne Young, juara tunggal All England 1938. (Wikimedia Commons). Trofi Dambaan Sebagai pemenang perdana, Amerika Serikat mendapat kehormatan membawa pulang trofi Uber Cup. Trofi itu merupakan donasi dari Betty Uber kepada IBF pada 1955. Dalam biografi Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia Menuju Olimpiade disebutkan, trofi yang jadi lambang supremasi bulutangkis putri dunia itu dibuat oleh perusahaan perhiasan asal London, Mappin & Webb. Desain trofi berbahan perak setinggi 20 inci itu berupa globe tiga dimensi dengan topping shuttlecock dan figur pebulutangkis putri di puncak. Baca juga: Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat Awalnya, trofi itu bernama The Ladies International Badminton Championship Challenge Trophy. Beberapa waktu kemudian, untuk mengabadikan nama Betty Uber, nama trofi itu diganti menjadi Uber Cup. Sejak 1984, penyelenggaraan Uber Cup selalu bersamaan dengan Thomas Cup. Tim bulutangkis putri Indonesia terakhir kali merebut Uber Cup pada 1996. ( pbdjarum.org ). Indonesia baru ikut meramaikan Uber Cup pada 1963 di Wilmington, Amerika Serikat. Tetapi baru pada 1975 saat menjadi tuan rumah Indonesia berhasil merebut piala itu. Di final, 6 Juni 1975, tim bulutangkis putri Indonesia menang 5-2 atas tim bulutangkis putri Jepang. Hingga kini, Jepang telah enam kali menjuarai Uber Cup. Baca juga: Minarni Soedarjanto, Nona Manis Jagoan Bulutangkis “Pasangan Indonesia Minarni dan Regina membuat surprise di mana Piala Uber secara resmi berada di pihak Indonesia dengan perincian set pertama 15-8 dan set kedua 15-11 atas pasangan Jepang (Mika) Ikeda/(Hiroe) Yuki,” tulis Media Indonesia , 7 Juni 1975. Namun, prestasi tim bulutangkis puri Indonesia di Uber Cup kalah jauh dibandingkan tim bulutangkis putra di Thomas Cup (14 kali juara).





















