Hasil pencarian
Search this site
9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Si Bung Dikira Tukang Kebun
Mendiang Kolonel (Purn.) Maulwi Saelan menjadi saksi bagaimana Presiden Sukarno amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, setiap hari Bung Karno selalu meluangkan waktu untuknya. “Itu pohon beringin yang di Istana dia yang tanam,” ujarnya kepada Historia beberapa tahun lalu. Kegiatan berkebun Bung Karno biasa dimulai pada pagi setelah sarapan. Kolonel KKO Bambang Widjanarko menjadi salah satu yang sering diminta Bung Karno menemaninya keliling memperhatikan tanaman di taman-taman Istana. Bambang menyatakan dalam Sewindu Dekat Bung Karno , Bung Karno akan marah bila mendapati ada pohon yang tak terawat atau rusak. Biasanya tukang kebun yang kebagian jatah merawat pohon yang kedapatan tak terawat akan langsung dipanggil dan diperintahkan untuk segera membenahi pohon itu. Berkebun merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai dan rutin dilakukan Bung Karno. Sewaktu menjalani pembuangan di Ende, Flores, Bung Karno bersama Inggit istrinya menanami pekerangan rumahnya dengan sayuran. Dengan begitu Bung Karno bisa membunuh kejemuan di tempat pembuangan yang sepi sekaligus mencukupi kebutuhannya di tengah melompongnya kantong. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Kegiatan itu terus berlanjut ketika Bung Karno tinggal di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Pohon-pohan yang ditanam dan dirawat bersama Ibu Fatmawati saban hari diperhatikan Bung Karno. Tukang kebun yang diupah membantu akan kena marah bila tak merawat pohon-pohon dengan serius. Pernah suatu kali Bung Karno memarahi tukang kebun karena kedapatan tak menuruti arahannya sehingga membuat pohon menjadi merana. Kebiasaan berkebun Bung Karno tetap berlanjut ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta pada 1946. Pun ketika mengalami pembuangan di Berastagi, Sumatera Utara. Di sana, Bung Karno sempat menanam pohon beringin di tempat pembuangannya. Setelah pemerintahan kembali ke Jakarta, berkebun kembali dilakukan Bung Karno di kompleks istana. Namun, kegiatan itu tak hanya dilakukan Bung Karno di istana Jakarta. Istana Tampaksiring di Bali pun tak luput jadi tempat berkebun Bung Karno. Hal itu disaksikan antara lain oleh Horst Henry Geerken, perwakilan perusahaan Telefunken di Jakarta, yang sering diundang Bung Karno. Geerken menuliskannya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . “Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istanan dengan tangannya sendiri,” kata Geerken. Karena berkebun itu pula Bung Karno suatu hari mendapat sial. Suatu pagi ketika langit masih gelap, Bung Karno melihat sebuah kebun yang tak mendapat perawatan semestinya. Masih dengan pakaian seadanya, dia pun tergerak menanganinya. Namun di tengah aktivitas itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya disertai suara seorang pria. “Hei, itu tanah saya!” kata pria bernama Made Galang itu yang diwawancara Geerken saat berusia 82 tahun. Bung Karno yang kaget lalu menoleh. Begitu mata kedua pria itu saling bertemu, Made langsung syok. Dia tak menyangka tukang kebun yang diperingatinya ternyata presidennya. Bung Karno tak sedikitpun marah dan hanya mengatakan, seperti dikutip Geerken, “Saya mau tolong saja.” Namun tetap saja hal itu membuat Made amat malu dan merasa bersalah.
- Ketika Ali Sastroamidjojo Diajak Fidel Castro ke Daerah Terpencil
Kamis, 1 Januari 1959, Republik Kuba memasuki fase baru. Akibat serangan terus menerus dilakukan oleh para gerilyawan revolusiener pimpinan Fidel Castro, Presiden Fulgencio Batista hengkang ke Republik Dominika. Sejak itulah Kuba secara resmi jatuh ke tangan para revolusiener. Namun tak semua negara di dunia mengakui kekuasaan Castro, terutama negara-negara Barat dan para sekutunya. Pengakuan total justru datang dari negara-negara yang berafiliasi ke Blok Timur dan sebagian negara-negara yang pernah terlibat dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Salah satunya adalah Republik Indonesia (RI) yang menugaskan Ali Sastroamidjojo (diplomat senior sekaligus Duta Besar Tetap RI untuk PBB) untuk merintis hubungan RI dengan Kuba. “Jadi sebelum Presiden Sukarno bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada 1960, eyang saya-lah yang terlebih dahulu mengondisikan rencana pertemuan antara Castro dengan Bung Karno,” ungkap Tatiek Kemal, salah seorang cucu Ali Sastroamidojojo. Dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali Sastroamidjojo menyatakan bahwa kunjungannya ke Kuba adalah salah satu misi diplomatik yang paling penting dan mengesankan dirinya. “Kunjungan itu saya lakukan dengan persetujuan Kementerian Luar Negeri di Jakarta yang memberikan tugas pula supaya saya menyampaikan pesan Menteri Luar Negeri RI kepada Menteri Luar Negeri Kuba bahwa Pemerintah RI sudah siap melaksanakan tukar menukar perwakilan diplomatik pada tingkat duta besar….” ungkap Ali. Rombongan utusan RI terdiri dari Ali Sastroamidjojo, Titi Roelia (istri Ali Sastroamiodjojo) dan Sekretaris Pertama bernama Masfar. Mereka tiba di di Havana (ibu kota Kuba) pada 16 Desember 1959. Begitu mendarat di Bandara Jose Marti, rombongan kecil Ali Sastroamidjojo langsung disambut oleh Menteri Luar Negeri Kuba Dr.Raul Roa. Sambutan meriah dilangsungkan oleh para pejabat Kuba. Dr. Roa secara khusus mengadakan resepsi bagi rombongan Ali di Kementerian Luar Negeri dengan dihadiri oleh semua kepala perwakilan diplomatik di Havana dan para menteri kabinet Castro serta para pejabat militernya. Guna menghormati tamu-tamu dari Indonesia, selama kunjungan empat hari itu khusus di atas gedung Kemenlu Kuba dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih. Namun anehnya, saat melihat jadwal acara utusan khusus RI selama di Kuba, Ali sama sekali tak menemukan agenda untuk bertemu dengan pemimpin revolusi sekaligus perdana menteri Kuba, Fidel Castro. “Saat menyampaikan pesan dari Menlu RI, saya singgung soal keheranan saya itu. Saya katakan, mengunjungi Kuba tanpa berjumpa dengan Fidel Castro rasanya agak ganjil,” ujar Ali. Ditanyakan soal tersebut secara langsung oleh tamunya membuat Dr.Roa gelagapan. Sambil sedikit agak rikuh, dia mengatakan bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengatur pertemuan antara Ali Sastroamidjojo dengan Fidel Castro tetapi hingga detik itu belum juga berhasil karena Dr. Roa sendiri sama sekali tidak tahu di mana Fidel Castro berada hari-hari itu. Fidel, lanjut Roa, selalu sibuk dan tak pernah berada di kantornya. Dia sangat rajin berkeliling dan turba ke daerah-daerah tanpa memberitahu sebelumnya ke mana dia akan pergi. “Tetapi Menlu Roa berjanji akan terus mengusahakan agar saya bertemu dengan Castro dan akan memberi kabar kepada saya dalam waktu 24 jam,” kenang Ali. Dua hari kemudian, Ali mendapat undangan makan malam dari Che Guevara pada jam 20.00. Di undangan jamuan makam itulah, dia baru mendapatkan kepastian bisa bertemu dengan Castro. Maka berangkatlah Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar malam itu ke Gedung Bank Sentral Nasional, tempat Che Guevara berkantor. Begitu sampai di tempat acara, semua pejabat sudah hadir termasuk Guevara dan Roa. Anehnya saat acara makan malam akan dimulai, tempat duduk Castro tetap kosong. Ali melihat wajah Roa mulai gelisah, namun tidak demikian dengan Che Guevara. “Dia terlihat tenang-tenang saja, mungkin sudah terbiasa dengan sikap Castro tersebut,” ungkap Ali. Begitu acara makan malam akan berakhir dan akan ditutup dengan acara minum kopi bersama, tetiba Castro datang dalam pakaian perjuangan lengkap dengan pistol di pinggang kanan-nya. Tanpa menghiraukan aturan protokoler, Castro langsung mendatangi Ali dan menjabat erat tangannya. Acara minum kopi kemudian berpindah ke ruangan lain. Castro berbicara akrab dengan para tamunya dari Indonesia itu. Dalam suatu kesempatan, dia bertanya kepada Ali mengenai kesan-kesan terhadap Kuba dan rakyatnya. Ali menjawab bahwa dirinya belum memiliki kesan apapun, karena selama di Kuba dia hanya melihat situasi di Havana saja. Castro paham. Secara spontan, dia lantas mengajak Ali untuk ikut serta dengan dia melihat daerah-daerah di luar Havana. Ajakan itu langsung diiyakan oleh Ali karena dirinya mengira kunjungan itu akan dilakukan besok hari. Ternyata dugaannya salah. Pemberangkatan ke daerah itu akan dilakukan pada malam itu juga. “Padahal waktu sudah menunjukan jam 12 malam,” kenang Ali. Singkat cerita, Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar mengikuti rombongan Castro. Perjalanan panjang pun dimulai dengan kawalan para prajurit berambut gondrong. Setelah mengunjungi sebuah pabrik gula dan minum kopi di sana, seorang pejabat memberitahu bahwa mereka ditunggu oleh Castro di suatu tempat. Castro menerima rombongan Indonesia ketika dia sedang sibuk memberikan petunjuk kepada para pekerja dan sopir-sopir truk yang tengah sibuk menggarap tanah di tepi suatu danau besar bernama Zapata. Castro menjelaskan kepada Ali bahwa pekerjaan yang tengah dikerjakan itu merupakan suatu proyek pembangunan perumahan kepariwisataan. Bukan untuk para wisatawan asing melainkan untuk rakyat Kuba sendiri yang selama rezim Batista belum pernah menikmati istirahat di tempat yang indah dengan biaya murah. Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, di luar agenda, rombongan Indonesia “diculik” oleh Castro untuk menuju sebuah pulau kecil di tengah danau. Di sanalah berada tempat peristirahatan Castro jika melepas penat seusai turba. Tak sampai setengah jam sampailah mereka di pulau tersebut. Ali mengenang rumah peristirahatan yang ditempati Castro lebih menyerupai “benteng persembunyian” dibanding suatu villa mewah. Rumahnya sederhana sekali namun tetap dilengkapi sebuah tempat pendaratan untuk helikopter. “Saya juga melihat beberapa antena tinggi untuk mengirim dan menerima berita-berita radio…” ungkap Ali. Ketika sudah tiba waktunya makan siang, Castro meminta disediakan makanan buat dia dan para tamunya. Tetapi di dapur, yang tersedia ternyata hanya tinggal nasi saja, karena lauk pauknya sudah habis. Marahkan Castro? Alih-alih kesal, dia malah mengajak Ali dan seorang pejabat untuk memancing ikan di danau. Sambil memancing Castro bercerita tentang segala hal mengenai sendi dan misi dari revolusinya. Beberapa jam memancing, banyaklah ikan yang didapat. Castro meminta para pengawalnya untuk menggoreng ikan-ikan hasil pancingan itu. Jadilah kemudian mereka makan sore hanya dengan menu ikan goreng, kecap dan sejenis cabe rawit. “Bagi mereka hal semacam itu biasa saja, karena rupanya Castro dan kawan-kawannya biasa juga makan seperti itu selama bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan,” ungkap Ali.
- Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop
Artis Indonesia Pertama yang Berani Vulgar Nurnaningsih mulai tenar saat membintangi flm Terang Bulan (1937) besutan sutradara Albert Balink. Penampilan vulgarnya diawali pada 1954 setelah tampil setengah telanjang dalam flm Harimau Tjampa karya D. Djajakusuma. Dia juga membiarkan sebuah foto dirinya yang berpose berani di sebuah kalender iklan. “Pers segera menjadikannya perkara, dengan nada sungguh-sungguh mempertanyakan batas antara seni dan pornograf, kata yang pada saat itu baru, dan perlu dijelaskan dengan padanannya: kecabulan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-batas Pembaratan . Setelah aksi beraninya itu, Nurnaningsih kemudian dikenal dengan semboyannya, “Kalau mau maju harus berani.” [Martin Sitompul]. Perempuan Indonesia Pertama Tampil di majalah Playboy Ratna Assan lahir pada 16 Desember 1954 di Torance, California, Amerika Serikat, dari pasangan Indonesia Ali Hasan dan Soetidjah. Ibunya Soetidjah lebih dikenal sebagai Dewi Dja, seorang penari yang tampil dalam film-film produksi Holywood. Nama Ratna Assan melejit ketika membintangi film Papillon bersama Steve McQueen dan Dustin Hoffman pada 1973. Papillon menjadi film termahal (12 juta dolar) yang diproduksi pada masanya. Ratna berperan sebagai Zoraima, gadis Indian yang menolong seorang pelarian kriminal Prancis bernama Henri Charriere “Papillon” (Steve McQueen). Penampilannya yang memukau dan wajahnya yang eksotis menarik Playboy untuk menampilkan Ratna dalam rubrik pictorial setahun kemudian. “Ratna Assan si ‘ butterly girl ’ bukan nama yang akrab, tapi penampilannya bersama Steve McQueen di Papillon menjadikan wajah dan figurnya begitu familiar,” tulis Playboy edisi Februari 1974. [Martin Sitompul]. Film Indonesia Pertama Bertema Homoseksualitas Istana Kecantikan (1988) disebut-sebut sebagai film Indonesia pertama yang mengangkat isu homoseksualitas dalam bingkai drama keluarga. Film yang disutradarai Wahyu Sihombing ini bercerita tentang Nico (Mathias Muchus), seorang gay, yang dipaksa berpura-pura menikahi Siska (Nurul Arifin) untuk memenuhi kehendak orang tua. Nico akhirnya menyeleweng dengan seorang pria dan membawa cerita ke ranah hubungan homoseksual yang kompleks. Dari semua film bertema homoseksualitas yang diproduksi pada masa Orde Baru, Istana Kecantikan adalah film dengan alternatif tema seksual yang paling diingat dan didiskusikan karena isunya yang khas dan mendobrak. “Hal ini bisa terjadi karena mulai muncul pandangan yang lebih toleran baik dari penonton maupun pekerja film, juga pengetahuan akan konstruksi identitas seksual alternatif dalam sinema Barat, Asia, dan Amerika Latin secara keseluruhan,” tulis Ben Murtagh dalam Genders and Sexualities in Indonesian Cinema . Istana Kecantikan mendapatkan enam nominasi dalam Festival Film Indonesia 1988 dan memenangi satu yaitu Aktor Terbaik untuk Mathias Muchus. [Rahadian Rundjan]. Film Terbaik Pertama Ajang Oscar Academy Award atau Oscar merupakan ajang penghargaan bergengsi dalam industri film Amerika Sertikat. Oscar kali pertama diselenggarakan pada 16 Mei 1929. Seremoni berlangsung di Hotel Roosevelt, Los Angeles, yang dihadiri 270 peserta dan tidak disiarkan radio maupun televisi Pemenang perdana untuk film terbaik adalah film bisu berjudul Wings . Film ini disutradarai William A. Wellman dan diproduksi Paramount Pictures. Berdurasi 139 menit, Wings mengisahkan pilot-pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I dengan menyelipkan bumbu percintaan di dalamnya. Meski film bisu, Wings menjadi film yang dibuat dengan biaya produksi termahal pada zamannya. [Martin Sitompul]. Film India Pertama Sukses Internasional Film Awaara , rilis tahun 1951, dengan Raj Kapoor sebagai produser, sutradara, dan pemeran utamanya. Komposisi musik digarap tim Shankar Jaikishan. Soundtrack -nya dianggap inovatif dan penggambaran lagunya luar biasa, sehingga disebut-sebut sebagai mahakarya di era keemasan film India. Selain di dalam negeri, film ini meraih sukses di Timur Tengah, Afrika, bekas Uni Soviet, dan Asia Timur, bahkan menjadi box office di Afro-Asia dan Timur Tengah. Para pemain dan lagu-lagunya jadi populer. Menurut Sangita Gopal dan Sujata Moorti dalam “Travels of Hindi Song and Dance”, pengantar dalam buku Global Bollywood , Awaara memang bukan satu-satunya film India yang beredar di luar negeri tapi ia adalah yang pertama meraih popularitas berkat lagu-lagunya. Sukses Awaara diikuti oleh film Aan (1952), Mother India (1957), dan beberapa film yang belakangan tayang. [Aryono]. Di Manakah Bioskop Pertama? Bioskop berasal dari bahasa Yunani, bios yang berarti hidup dan skopeein yang berarti melihat. Kehadiran bioskop tak bisa dilepaskan dari Athanasius Kircher, seorang Italia. Pada 1640, dia memulai langkah memanipulasi gambar sehingga tampak bergerak. Temuannya itu disebut magia catotrica atau lentera ajaib. Setelah temuan itu, Simon Ritter von Stampfer mengkreasi stroboscope , gambar tembus pandang yang bisa dibersitkan cahaya pada 1853. Perkembangan menjadi lebih cepat selepas itu. Puncaknya terjadi pada pertunjukan di Paris, 28 Desember 1895. Adalah Lumiere bersaudara yang menyediakan gedung tertutup untuk melihat gambar bergerak. Pertunjukan itu terjadi di kedai kopi. Orang harus membayar jika ingin melihat pertunjukan itu. Sebelumnya, pertunjukan demikian telah diputar di Atlanta, Amerika Serikat, pada 1895 dan Berlin pada 1 November 1895. Namun, orang tak perlu membayar untuk melihatnya. Karena itu, pertunjukan di Paris tetap dianggap sebagai bioskop pertama. Di Manakah Drive-in-Theatre Pertama? Drive-in-theatre adalah konsep menonton bioskop di luar ruangan, mirip layar tancap di Indonesia, namun penontonnya berada di dalam mobil. Jadi, seperti sebuah tempat parkir dengan fasilitas layar lebar. Drive-in-theatre diperkenalkan di Las Cruces, New Mexico, Amerika Serikat, pada 11 Juni 1914 ketika Airdome Theater dibuka. Film pertama yang diputar adalah For Napoleon and France karya sutradara Enrico Guazzoni. The Airdome Theater kemudian ganti nama jadi Movieland Theater sebelum tutup pada Oktober 1926. Masih di Las Cruces, Theatre de Guadlupe dibuka pada April 1915. Ia tutup lebih cepat dari pendahulunya, yakni pada Juli 1916. Drive-in-theatre kemudian mewabah di Amerika Serikat. Konsep drive-in-theatre dipatenkan Richard M. Hollingshead, Jr. di Chamden, New Jersey, pada 6 Juli 1933 setelah dia membuka drive-in-theatre di depan rumahnya setahun sebelumnya. [Arief Ikhsanudin].
- Cornel Simanjuntak, Komponis yang Bertempur
Merantau dari Pematang Siantar ke Magelang, Cornel Simanjuntak awalnya mengambil pendidikan guru. Tapi di sekolah, ia justru memperdalam kemampuan bermusiknya. Ia kemudian menjadi komponis andal sekaligus pejuang. Pemuda kelahiran tahun 1921 ini belajar musik ketika menempuh pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK) St. Xaverius College, Magelang. Melalui ekstrakulikuler musik, ia bergabung dengan paduan suara, memimpin orkes, dan mulai menciptakan lagu. Ia belajar dari Pastor J. Schouten. Kemampuan di bidang musik di kemudian hari menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari Cornel. Ia terus mencipta lagu dan bermusik ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tahun-tahun tak menentu pasca Proklamasi kemerdekaan. Di Bawah Jepang Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, kehidupan di Magelang menjadi kacau. Kegiatan sekolah dihentikan dan para pastor ditawan Jepang. Cornel hendak melaksanakan ujian dianggap sudah lulus. Cornel sempat menjadi guru di Magelang tapi tak lama. Ia berhenti dan sempat tak ada kabar. Binsar Sitompul, adik kelasnya di Xaverius College, menyebut bahwa suatu ketika ia mendengar lagu-lagu yang disiarkan oleh Jepang begitu mirip dengan lagu-lagu gubahan Cornel. Ternyata benar, lagu-lagu itu ciptaan Cornel. Awalnya Binsar heran, mana mungkin Cornel mau tunduk dan bekerja untuk kepentingan propaganda Jepang. Belakangan ia tahu bahwa Cornel memanfaatkan Jepang untuk tetap berkarya. “Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanyalah untuk menjaga agar kesempatan mencipta tetap terbuka, sesuai dengan keinginannya sendiri. Selain itu juga agar tetap terbuka saluran baginya untuk menyiarkan hasil-hasil karyanya kepada masyarakat luas melalui radio,” tulis Binsar dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang . Selain itu, Cornel juga memanfaatkan paduan suara yang mendapat subsidi pemerintah Jepang. Ia menerima imbalan dari lagu-lagu yang dibuatnya untuk keperluan hidup pada masa sulit itu. Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan bagian musik. Pada masa ini pula, ia banyak berkesenian dengan tokoh-tokoh sezaman. Ia bergabung dengan perkumpulan sandiwara Maya bersama Usmar Ismail, Chairil Anwar, Rosihan Anwar, hingga S. Sudjojono. “Melalui lakon-lakon yang dipentaskan, tampak jelas warna sebenarnya perkumpulan ini, yaitu cita-cita kemerdekaan, bebas dari penjajahan,” sebut Binsar. Turut Bertempur Merujuk J.A. Dungga dan Liberty Manik, Ensiklopedia Musik Volume II menyebut bahwa kerja-kerja Cornel sebagai komponis setidaknya bisa ditinjau dalam tiga masa kreatif. Pertama, Cornel membuat lagu-lagu yang menggunakan melodi baru namun dengan interval yang sederhana. Komposisi ini dapat didengar dari lagu Asia Sudah Bangun dan Indonesia Merdeka yang lebih dikenal dengan judul Sorak-Sorak Bergembira . Kedua, masa ketika Cornel berkompromi dengan selera radio yang lagunya berpola setengah klasik dan setengah hiburan. Lagu seperti Citra dan Mekar Melati yang penah menjadi lagu untuk festival film nasional masuk dalam masa ini. Ketiga, masa di mana Cornel semakin diakui kredibilitasnya sebagai komponis. Lagu seperti O, Angin , Kemuning , dan Pinta Lagi yang berangkat dari puisi yang dimusikalisasi termasuk dalam masa ini. Pasca Proklamasi, Cornel bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Pada akhir Desember 1945, ia turut bertempur melawan serdadu Belanda di Tangsi Penggorengan. Cornel juga disebut memimpin pasukan di daerah Tanah Tinggi. Menurut Binsar, ketika baku tembak di daerah Senen, peluru menembus paha Cornel sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Selang beberapa hari, tersiar kabar Belanda hendak menggeledah rumah sakit dan menangkap pemuda-pemuda yang terluka. Cornel lalu mengungsi ke Karawang, kemudian pindah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, kesehatan Cornel menurun dan mulai mengidap penyakit paru-paru. Meski demikian, ia tetap menulis tentang musik dan menciptakan lagu. Setelah delapan bulan dirawat, Cornel meninggal dunia pada 15 September 1946. Cornel mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1962.
- Arti Ibu Pertiwi hingga Pekik Merdeka
Istilah Ibu Pertiwi Ibu Pertiwi merujuk pada personifikasi nasional negara Indonesia. Ibu Pertiwi sudah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha di Nusantara sebagai dewi bumi dan lingkungan hidup, atau Dewi Prthvi dalam bahasa Sanskerta saat itu. Seiring perkembangan zaman, Ibu Pertiwi menjadi kata kiasan untuk menyebut tanah air tempat lahirnya bangsa Indonesia. Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan prosa perjuangan, seperti lagu “Ibu Pertiwi” dan “Indonesia Pusaka”. Kata Ibu Pertiwi juga kerap digunakan di media untuk menyebut Indonesia secara kiasan atau dalam kalimat yang berkonteks puitis. [Rahadian Rundjan] Sebutan Puitis untuk Nusantara Insulinde. Berasal dari bahasa Latin, insula (pulau) dan Inde (India). Istilah ini diperkenalkan Multatuli dalam romannya yang berjudul Max Havelaar pada 1860. Multatuli, yang bernama asli Eduard Douwes Dekker, menyebut Indonesia sebagai “Kerajaan Insulinde yang megah melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud.” Pernyataan bernada ironi ini dimaksudkan untuk menyindir bangsa Belanda yang menjajah, memeras, dan berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk asli Hindia Belanda. Pada 1913, Insulinde digunakan sebagai nama partai untuk menggantikan Indische Partij setelah para pemimpinnya, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Ernest Douwes Dekker, diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda. [Martin Sitompul]. Nama Indonesia Pertama Kali Muncul Jauh sebelumnya, ada banyak sebutan untuk Indonesia. Yang paling umum adalah Nusantara; nusa artinya pulau, antara adalah lain atau seberang. Kata ini dipakai Majapahit untuk menyebut semua wilayah taklukkannya, yang membentang antara benua Asia dan Australia. Sebutan ini tersua dalam naskah-naskah Jawa Kuno pada abad ke-14. Memasuki abad ke-17, kepulauan penghasil rempah ini biasa disebut Hindia Timur ( Oost Indische ). Ada pula sebutan Kepulauan Timur ( The Eastern Islands ), Kepulauan Hindia ( Indian Arciphelago ), Lautan Timur ( The Eastern Seas ), dan Pulau-Pulau Hindia ( Insulinde ). Pada 1850, George Samuel Windsor Earl, seorang pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, menggagas kata Indonesia untuk mewakili sekelompok ras manusia (Polinesia) yang menghuni kepulauan Hindia (etnografis). Sejawatnya, James R. Logan, seorang etnolog, berpendapat kata itu lebih baik dimasukkan dalam istilah geografis karena pemendekan dari Kepulauan Hindia. Sedangkan untuk menyebut penduduknya, Logan mengusulkan kata Indonesian . Belanda Memilih Nama Hindia Belanda Alternatif nama Hindia Belanda pernah diangkat pada 1919. Volksraad (Dewan Rakyat) mendiskusikan usulan empat nama: Indonesie, Insulinde, Hindia Belanda, dan OostIndie. Dalam pemungutan suara tanggal 26 April 1919, nama Insulinde menang dengan 16 suara. Namun, beberapa hari kemudian, keputusan itu dipersoalkan, dan sebagai gantinya Hindia dipilih tanpa perdebatan dengan alasan sudah dikenal dengan baik. Pada Oktober 1920, Komisi Negara hendak mengubah konstitusi Hindia Belanda. Setelah disetujui pemerintah, pasal 1 itu berbunyi: “Kerajaan Belanda meliputi Belanda, Hindia Belanda, Suriname, dan Curacao…” Pasal itu didiskusikan dalam Volksraad di Batavia pada 26–29 April 1921. Sebelumnya, pada awal tahun, Dirk van Hinloopen-Labberton, seorang guru yang tersentuh gerakan dan partai-partai yang muncul di Jawa, mempersiapkan amandemen yang mengusulkan nama Indonesia. Dia mempersiapkannya dengan Ch. Crammer dan Th. Vreede, sehingga dikenal sebagai amandemen Labberton-Cramer-Vreede. Amandemen ini ditolak sehingga tak dibahas dalam sidang Volksraad pada April 1921. Beberapa orang di Volksraad meremehkannya sebagai “baru pantas bagi nama sebuah jenis cerutu.” Sejak awal, pemerintah sudah menekankan bahwa sebutan Hindia Belanda secara esensial mempunyai arti dalam hukum internasional. Second Chamber dari parlemen di Belanda mendiskusikannya pada 1 November 1921. Terinspirasi amandemen Labberton-Cramer-Vreede, W. van Ravesteyn, wakil dari komunis, menekankan sebutan Indonesia. Nasibnya juga sama. Amandemennya ditolak. Indonesia sebagai Identitas Politik Cerdik-cendekia bumiputra yang menempuh studi di Negeri Belanda mengubah nama perkumpulan mereka, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang berdiri pada 1908 menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1925. Kata Indonesia digunakan untuk merujuk sebuah cita-cita negara baru, sebuah identitas politik. Dalam Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, dekat Paris, pada Agustus 1926, untuk kali pertama nama Indonesia diperkenalkan. Mohammad Hatta mewakili PI dalam pidatonya mengutarakan perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan nasionalnya. Atas penggunaan nama itu dalam arti politik, pemerintah Belanda melarang pemakaian nama Indonesia di Hindia Belanda. Tapi tak ada yang bisa membendungnya. Garuda Menjadi Lambang Negara Kala Sukarno telah merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945, dia menginginkan konsepnya divisualisasikan. Visualisasi itu akan dipakai sebagai lambang negara. Namun, lambang itu tak kunjung dibuat hingga lima tahun setelahnya. Barulah pada 1950, Sukarno secara resmi mengeluarkan sayembara lambang negara. Pada 10 Januari 1950, Sukarno membentuk sebuah panitia yang bertugas menyeleksi lambang negara. Koordinatornya adalah Sultan Hamid II, menteri negara zonder portofolio. Terpilih dua karya terbaik. Masing-masing dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin. Keduanya bergambar garuda. Dua karya itu lalu diajukan ke DPR Republik Indonesia Serikat (RIS). Mereka lebih menerima karya Sultan Hamid II lantaran karya Mohammad Yamin dianggap mencitrakan pengaruh Jepang dengan penyertaan sinar-sinar matahari. Kemudian lambang itu diperlihatkan ke Sukarno pada 8 Februari 1950. Setelah melalui beberapa penyempurnaan, gambar garuda itu akhirnya diterima sebagai lambang resmi negara RIS pada 11 Februari 1950. Sukarno kemudian memperkenalkannya kepada publik kali pertama pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes. Pada 20 Maret 1950, lambang itu disempurnakan kembali oleh pelukis istana, Dullah. Melalui Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951, lambang itu secara resmi digunakan. Dari Mana Asal Garuda Garuda merupakan nama umum untuk seekor elang mitologis. Burung ini terdapat dalam relief-relief di Candi Dieng (abad ke-9). Bentuk kepalanya seperti manusia, namun berparuh. Relief di Candi Prambanan dan Panataran juga memuat gambaran burung ini. Selain dalam relief, garuda digunakan dalam lambang dan stempel kerajaan-kerajaan di Jawa. Dalam khazanah pewayangan, garuda dikenal sebagai sosok yang penuh keberanian, setia, dan terhormat. Gambaran ini tersua dalam cerita Mahabharata yang diadopsi untuk lakon wayang. Nama burung itu Jatayu. Citra perkasa burung itu melekat hingga Indonesia merdeka. Pekik Merdeka Mengkhalayak Kata “merdeka” berasal dari bahasa Sanskerta, maharddhika . Kata ini tersua dalam naskah kakawin Nitisastra bertitimangsa abad ke-15. Artinya, telah bebas dari soal keduniawian. Kata ini lambat laun diucapkan “merdeka”. Kata "merdeka" beroleh pengertian baru selama masa pergerakan kebangsaan (1908–1945). Sejumlah koran di Hindia Belanda memuat kata ini dalam pengertian “bebas dari penjajahan”. Usai Proklamasi, Bung Karno kerap memberi salam dengan memekik “merdeka!” Bersama itu, tangannya terkepal dan diangkat setinggi bahu. Karena dilakukan seorang tokoh, salam ini lekas mengkhalayak. Pemerintah bahkan menetapkan pekik “merdeka” sebagai salam nasional melalui Maklumat Pemerintahan 31 Agustus 1945. [Hendaru Tri Hanggoro].
- Pionir Sarung Tangan Kiper
IBARAT belahan jiwa bagi seorang kiper, sarung tangan selalu menemani dalam segala situasi kemelut di muka gawang. Sebuah perlengkapan sepele dan jarang diperhatikan orang namun bagian tak terpisahkan dari kiper dalam sepakbola dan menarik sejarahnya, sampai PSSI mengunggah pengetahuan asal-mula sarung tangan kiper lewat berbagai akun media sosialnya. Menurut keterangan yang diunggah PSSI, kiper pertama yang menggunakan sarung tangan adalah Amadeo Carrizo, kiper River Plate dan timnas Argentina, pada tahun 1940. “Sarung tangan berbahan wol tersebut digunakan sebagai penghangat untuk menghadapi cuaca dingin. Bahkan jari tangan para penjaga gawang dapat terasa beku hingga kesulitan saat menangkap bola. Seiring berjalannya waktu, pada 1973, perusahaan sarung tangan asal Jerman menggandeng Sepp Maier, penjaga gawang timnas Jerman Barat untuk merancang sarung tangan khusus penjaga gawang sepak bola. Sarung tangan ini dirancang agar bisa membantu dan meningkatkan performa di bawah mistar gawang,” tulis PSSI di Facebook , Twitter dan Instagram-nya , Selasa (14/7/2020). Baca juga: Kiper Der Panzer Keblinger Blunder Disebutkan kiper pertama yang mengenakan sarung tangan adalah Amadeo Raúl Carrizo asal Argentina (Foto: Facebook PSSI) Entah admin PSSI mencomot sumber dari mana, informasi yang diunggah tidak tepat. Kiper sudah menggunakan sarung tangan jauh sebelum era Carrizo. Perusahaan peralatan olahraga yang pertamakali merancang sarung tangan pun bukan dari Jerman. Bukan Sekadar Penghangat Sarung tangan bukan perlengkapan kiper yang diwajibkan FIFA lewat regulasinya sampai saat ini. Dalam “Equipment Regulations” FIFA , kiper diperbolehkan memakainya, boleh juga tidak. Warna sarung tangan yang diperbolehkan adalah warna apapun kecuali warna serupa dengan jersey . Banyak kiper mencopot sarung tangannya, semisal Ricardo Pereirakiper Portugal di Euro (Piala Eropa) 2004. Untuk pemain non-kiper, sarung tangan lazimnya dikenakan sebagai penghangat ketika udara dingin. Tetapi bagi kiper, sarung tangan lebih dari sekadar penghangat. Ia merupakan pelindung terpenting selain deker di tulang kering. Oleh karenanya maka teknologi dalam sarung tangan terus dikembangkan produsen sejalan dengan sepatu bola dan jersey. Baca juga: Kiper Brasil yang Dilaknat hingga Akhir Hayat Dimulai dari berbahan wol, sarung tangan kiper terus disempurnakan dengan menggunakan bahan kulit, karet, hingga dilengkapi fitur pelindung tambahan di bagian jari-jarinya. Tujuannya mencegah jari membengkok atau patah ke arah belakang. Contohnya adalah sarung tangan evoDISC buatan Puma, produsen alat olahragaasal Jerman, yang kemunculannya pada 2017 bikin heboh ketika mulai dipakai Petr Cech, kiper klub Inggris Arsenal. Keunggulan sarung tangan evoDISC yakni bagian punggung tangannya dilapisi lateks sebagai pelindung dan di pergelangan tangan dilengkapi sistem cakram evoDISC untuk menyesuaikan ukuran tangan. Jadi untuk mengencangkan sarung tangan, tak lagi pakai velcro atau strap pelekat “kreket”. Sarung tangan buatan William Sykes pada 1885 (kiri) & yang termutakhir evoDISC buatan Puma pada 2017 (Foto: dpma.de/puma.com ) Sebagaimana sepakbola modern itu sendiri, sarung tangan kiper pertamakali dibuat dan dipatenkan desainnya di Inggris. Mengutip situs Deutsches Patent- und Markenant , adalah Wm. Sykes & Sons, pabrik peralatan olahraga asal Inggris, yang pertama mendesain dan mematenkannya pada awal 1885. Pabrik milik pebisnis Inggris William Sykes (sejak awal abad ke-20 merger menjadi Slazenger) ini mulanya memproduksi alat olahraga kriket berbahan kulit. “William Sykes mematenkan sepasang sarung tangan kulit untuk kiper. Sarung tangannya dilapisi karet India untuk perlindungan dan bantalan (tangan kiper),” tulis situs itu. Baca juga: Skandal Kiper Cile Robert Rojas demi Piala Dunia Namun, masih jadi misteri apakah saat itu sudah ada kiper yang menggunakannya di kompetisi resmi atau belum, lantaran Sykes tak memproduksi massal. Kiper pertama yang mengenakan sarung tangan yang pasti bukan Carrizo (1945) yang hanya menggunakannya kala suhu di lapangan amat dingin alias bukan saban pertandingan. Situs goalkeepersdifferent.com mengungkapkan, kiper pertama yang tercatat memakai sarung tangan adalah Archibald ‘Archie’ Pinnell. Kiper asal Skotlandia itu mulai mengenakan sarung tangan wol kala membela Chorley FC di Liga Lanchasire tahun 1894. Dokumentasi yang diunggah di laman klub menjadi bukti, Pinnell tampak mengenakannya ketika terduduk membelakangi gawang. Tidak hanya mengenakan sarung tangan, ia juga sudah melindungi kakinya dengan sepasang deker. Archi Pinnell pada 1894 (kiri) & Leigh Richmond Roose pada 1905 (Foto: Chorley FC/Repro "For Club and Country: Welsh Football Greats") Selain Pinnell, kiper yang acap mengenakan sarung tangan adalah Leigh Richmond ‘Dick’ Roose, ketika mengawal mistar gawang Stoke City pada 1905. Kiper asal Wales itu, disebutkan dalam Dictionary of Welsh Biography , merupakan kiper nyentrik dan kerap beraksi nekat demi menyelamatkan gawangnya. Roose biasanya membawa sepasang sarung tangan wol putih ke dalam lapangan. Seringkali Richmond juga mengenakan mantel wol ketika bermain di cuaca dingin. Pada 1930-an, beberapa kiper mulai mengenakan sarung tangan berbahan kulit lantaran bahan wol mudah basah ketika hujan. Selain Carlo Ceresoli (Timnas Italia/Inter Milan), ada Giampiero Combi (Italia/Juventus), dan Anders Rydberg (Swedia/IFK Göteborg) di Piala Dunia 1934. Baca juga: Lev Yashin, Raja Diraja Pengawal Mistar Dunia Meski begitu, sarung tangan wol masih lebih dominan dipilih kiper, utamanya kiper-kiper di Inggris pasca-Perang Dunia II. Pasalnya, sarung tangan wol dianggap lebih lengket ketimbang sarung tangan kulit ketika hujan dan bola basah. “Memang terasa licin ketika kondisi kering tapi Anda akan mendapat manfaat yang lebih di waktu basah (karena hujan). Saya pribadi lebih sering meninju bola tapi itupun akan lebih beresiko dan berbahaya tanpa sarung tangan di waktu hujan,” tutur Gordon Banks , kiper timnas Inggris era 1961-1972, dalam Charlie Buchan’s Soccer Gift Book. Sepp Maier sudah menggunakan sarung tangan khusus kiper di Piala Dunia 1974 buatan Reusch (Foto: fifa.com ) Pada 1973, sarung tangan khusus kiper muncul, dibuat oleh perusahaan Jerman Reusch. Bekerjasama dengan kiper Jerman Josef ‘Sepp’ Maier, Reusch mengembangkan sarung tangan dengan bantalan berbahan karet untuk pelindung telapak tangan. Pengembangan berawal dari eksperimen unik Maier. “Mulanya saya mengeringkan bola dengan handuk dan ternyata handuknya menempel ke bolanya. Jadi saya punya sarung tangan dengan bahan ini,” papar Maier dikutip Paul Simpson dan Uli Hesse dalam Who Invented Stepover and Other Crucial Football Conundrums? “Lalu Gebhard Reusch berkolaborasi dengan Maier yang hasilnya pada 1973 menghadirkan sarung tangan kiper dengan nama Maier. Di waktu yang bersamaan juga muncul eksperimen dari kiper Jerman lain, Wolfgang Fahrian. Ia bermitra dengan pebisnis alat olahraga Kurt Kränzle, di mana eksperimennya menggunakan lembaran karet yang lazimnya terdapat di raket tenis dan dilem ke sarung tangan untuk daya cengkeram bola yang lebih baik,” lanjut Simpson dan Hesse. Sejak saat itu sarung tangan kiper pun berkembang dengan beragam fitur. Besarnya pasar dan keunikannya yang mensyaratkan fitur-fitur tertentu mendorong hampir semua produsen alat olahraga di dunia terjun ke dalam bisnis sarung tangan kiper. Dengan menggandeng kiper-kiper ternama, yang namanya acap tertera di tiap sarung tangan, para produsen berlomba-lomba menyuguhkan teknologi termutakhir dibalut dengan unsur fesyen lewat sarung tangan produk mereka sehingga sarung tangan kiper “ngetren” di tiap laga sepakbola. Baca juga: Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
- Datang ke Medan Terjerat Pelacuran
Lagi-lagi selebriti tanah air tersandung kasus prostitusi. Seorang artis FTV berinisial HH yang juga selebgram tenar kena ciduk polisi. Sang artis kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan seorang pengusaha di kamar hotel bintang lima di kota Medan. Sejatinya jejak prostitusi di Medan dapat terlacak sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, Medan masih berupa kampung lahan perkebunan untuk tanaman tembakau Deli. Dalam panen perdananya, tembakau Deli laku keras ketika diekspor ke pasaran Eropa. Sejak itulah, permintaan pun kian meningkat. Untuk mengupayakannya tetap stabil, para tuan kebun memerlukan pasokan tenaga kerja. Mempekerjakan buruh perempuan jadi pilihan karena perempuan lebih teliti untuk pekerjaan ringan dan mau dibayar murah. Prostitusi di Perkebunan Pada 1873, para tuan kebun mendatangkan pekerja perempuan yang berasal dari Jawa. Kuli perempuan ditugaskan untuk menyortir daun tembakau atau mengambil ulat hama. Upah mereka terbilang kecil, hanya setengah dari upah yang diterima kuli laki-laki. Lagi pula, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal sehingga harus membaur dengan kuli laki-laki. Maka tidak heran, untuk memenuhi kebutuhan dasar, para kuli perempuan terpaksa melacurkan diri di lingkungan pekerja kebun. “Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20. “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.” Menurut Ann Laura Stoler dalam Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 , banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Medan karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di perkebunan, kenyataan berbicara lain. Mereka menjadi alat untuk membuat kuli laki-laki betah bekerja di kebun. Dengan demikian, para kuli bersedia memperpanjang kontraknya. Tenaga para kuli yang mengerjakan lahan perkebunan mengubah wajah kampung Medan. Memasuki abad 20, tanah rawa yang subur itu menjadi kota koloni yang ramai. Pada 1891, Sultan Deli, Makmun Perkasa Alam memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Pada 1 April 1909, Medan memperoleh statusnya sebagai gementee (kota) baru. Dalam Sejarah Medan Tempo Doeloe, Tengku Luckman Sinar mencatat, dalam sekejap saja berduyun-duyun maskapai-maskapai dan pengusaha asing meminta tanah yang baik dan subur kepada Sultan Deli agar diizinkan membuka lahan perkebunan. Sepanjang jalan raya antara Labuhan dengan Medan telah penuh dengan rumah-rumah pelacuran dan rumah-rumah judi. “Kuli-kuli yang baru gajian, sekejap mata telah kehilangan gajinya sehingga terpaksa harus menandatangani kontrak baru,” tulis Luckman Sinar. Prostitusi di perkebunan menyebabkan munculnya berbagai penyakit kelamin danpenyakit sosial seperti maraknya kelahiran “anak-anak kebon” hingga tindakan kriminal. Surat kabar Pewarta Deli 3 September 1916 memberitakan maraknya pencurian di toko-toko di Medan. Pencurian terjadi karena gaya hidup kuli perkebunan yang suka menghamburkan uang di meja judi dan pelacuran. Medan Kota Metropolitan Memasuki zaman Indonesia merdeka, kota Medan terus berbenah. Di era Orde Baru, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Lazimnya kota-kota besar, gaya hidup hiburan malam pun ikutan berkembang di Medan. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, salon kecantikan, panti pijat, sampai lokalisasi bermunculan di pusat kota. Di tempat-tempat seperti itulah praktik prostitusi acap kali terjadi. “Bioskop yang memutar film porno bermunculan. Bisnis hiburan malam, nyaris tak terkendali, bahkan ada yang berani menjajakan perawan gres. Protes-protes seakan tak digubris. Hiburan bagi pria iseng, banyak digelar di klub khusus dan salon kecantikan,” tulis majalah Matra No. 93, April 1994. Soal bursa seks, sebagaimana termuat dalam liputan khusus Matra , Medan tampaknya tidak kalah dengan Jakarta. Matra menyebutkan, banyak perempuan muda yang memiliki profesi ganda di Medan. Ada sarjana yang jadi simpanan pengusaha, para istri yang melakukan kerja sampingan untuk menambah penghasilan, para mahasiswi yang menutup kebutuhan uang kuliah dan hidupnya dengan profesi sebagai perempuan panggilan. Semua itu, agaknya bukanlah berita yang aneh lagi bagi masyarakat setempat. Beberapa kawasan yang diinisialkan Matra seperti NR, NB, JA, GP, dan K adalah tempat berkumpulnya perempuan panggilan kelas tinggi. “Kemunculan prostitusi kelas tinggi adalah konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat, peningkatan taraf hidup, dan meningkatnya kemampuan perekonomian. Dan prostitusi kelas menengah atas itu memang menjadi ciri khas kota besar,” ujar dr. Baren Ratur Sembiring, ahli kebidanan dan penyakit kandungan kepada Matra . Selain itu, prostitusi jalanan di Medan masih jadi pilihan bagi Perempuan Seks Komersil (PSK) yang tidak memiliki akses di tempat hiburan. Menurut Yuyung Abdi, jurnalis foto Jawa Pos, sebelum 2008, PSK yang menjajakan diri di pinggir Jalan Iskandar Muda dapat ditemui saat malam telah larut. Namun, setelah beberapa kali polisi pamong praja gencar melakukan razia mereka lebih nyaman menjajakan diri sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim atau Jalan Gajah Mada. “Razia pemkot tentu sangat melelahkan. Mengejar mereka tengah malam butuh biaya dan energi. Meski, jumlah keseluruhan pekerja seks di kawasan jalanan tidak masif. Tidak lebih dari 100 orang,” kata Yuyung dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia. Selama belasan tahun mereportase potret prostitusi di Indonesia, Yuyung mengatakan dari segi jumlah, tempat hiburan syahwat di Medan memang cukup banyak. Namun entah mengapa keberadaannya seolah "terpinggirkan”. Para PSK tidak banyak bermain di kota tersebut. Mereka lebih memilih Batam, yang barangkali lebih menjanjikan dari sisi lancarnya arus rezeki prostitusi. Kendati demikian, prostitusi jalanan di Medan masih tetap awet sampai saat ini.
- Ali Sastroamidjojo, Sang Diplomat Ulung
Tarida Ali Sastroamidjojo masih ingat kata-kata Mahendra Siregar (sekarang Wakil Menteri Luar Negeri RI) pada suatu hari. Dalam pertemuan yang terjadi beberapa tahun lalu itu, sang petinggi Kemenlu RI itu memuji visi Ali Sastroamidjojo (Duta Besar pertama RI untuk Amerika Serikat, 1950-1953) yang telah menginisiasi pembelian tanah yang sekarang di atasnya berdiri gedung Kedutaan Besar RI di negeri Paman Sam itu. “Beliau bilang Kedutaan Besar RI di AS merupakan kedutaan milik kita yang letaknya paling strategis dari kedutaan-kedutaan RI yang ada di dunia,” ungkap cucu Ali Sastroamidjojo tersebut. Gedung yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2020 itu memang termasuk tempat istimewa di Washington (ibu kota AS). Selain terletak di kawasan yang dikenal orang AS sebagai tempat bersejarah (eks tempat tinggal MacLean, pionir pertambangan tembaga di barat AS), juga lahan dan gedungnya sangat luas. Jauh lebih mencukupi dibanding gedung kedutaan lama yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2523. Namun itu bukan satu-satunya peran Ali selaku seorang diplomat bagi Republik ini. Tokoh legendaris Partai Nasional Indonesia (PNI) tersebut juga memiliki peran-peran penting dalam memosisikan Indonesia di kancah pergaulan internasional. Salah satunya adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurut Ali dalam otobiografinya Tonggak-Tonggak di Perjalananku , ide KAA muncul di benaknya ketika dia diundang untuk mengikuti konferensi 5 negara (Sri Langka, India, Pakistan, Burma dan Indonesia) di Colombo. Undangan itu secara langsung dilayangkan oleh Perdana Menteri Sri Langka Sir John Kotelawala pada awal 1954. “Maka timbullah gagasan di pikiran saya untuk melanjutkan dan mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika…” ungkap Ali Sastroamidjojo. Ide itu tidak serta mera diterima oleh para peserta Konferensi Colombo. Banyak yang meragukan bahwa ide yang dipuji bagus tersebut akan mulus saat dipraktekan. Perdana Menteri India J. Nehru bahkan mengkhawatirkan konferensi tersebut hanya akan meruncingkan perbedaan di antara negara-negara Asia Afrika. Ali tidak patah arang. Dia kemudian melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik kepada seluruh kepala negara peserta Konferensi Colombo. Hasilnya, seluruh peserta menyetujui diadakannya KAA dan menyepakati untuk menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan besar itu. “Waktu dibicarakannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” papar sejarawan Rushdy Hosein. Sejarah kemudian mencatat, KAA berjalan sukses. Perhelatan internasional yang diadakan di Bandung pada 18-24 April 1955 diikuti oleh 29 negara dan menghasilkan kesepakatan bersejarah yang diberi nama sebagai Dasa Sila Bandung: Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional Kepiawaian Ali selaku diplomat pun terbukti saat pada Desember 1959 dia pergi ke Havana untuk menjajaki hubungan dengan Kuba yang saat itu baru saja dipimpin oleh Fidel Castro. Karena sikapnya yang luwes, dia langsung disukai oleh Fidel dan pemimpin revolusi Kuba lainnya yakni Che Guevara. “Eyang saya sampai diundang oleh Fidel ke pelosok Kuba untuk melihat langsung bagaimana situasi rakyat Kuba sesungguhnya,” ungkap Tatiek Kemal, salah satu cucu Ali sastroamidjojo. Hasil dari dari kunjungan itu, Presiden Sukarno setuju untuk membuka perwakilan negara masing-masing di Kuba maupun Indonesia. Bahkan lebih lanjut, Presiden Sukarno berkenan mengunjungi Kuba dan bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada Januari 1960.
- Karena Beras Pelabuhan Banyuwangi Dibom Belanda
BILA mengingat peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada awal Juli, umumnya orang mengingat usaha kelompok yang berafiliasi dengan Persatuan Perjuangan (PP) Tan Malaka untuk memaksa Sukarno agar menyetujui perubahan struktur pemerintahan yang mereka ajukan. Sebenarnya, pada permulaan Juli 1946 ada kejadian lain yang juga patut diperhatikan, walaupun jauh dari ibu kota Republik Indonesia dan sangat jarang disebut orang. Kali ini tidak hanya berkenaan dengan konflik internal di tubuh kaum Republiken, melainkan dalam konteks perang Indonesia-Belanda, dengan India yang terlibat secara tidak langsung. Peristiwa itu adalah pengeboman Belanda atas pelabuhan Banyuwangi, Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, Belanda membombardir pelabuhan itu dari laut dan udara selama tiga hari berturut-turut. Penyebabnya karena pelabuhan itu menjadi tempat penyimpanan dan pengapalan beras ke India yang menderita kelaparan. Pada April 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sebagai salah satu gestur diplomatik untuk meraih dukungan internasional, menawarkan bantuan beras kepada India sebanyak 500.000 ton. Bantuan itu disambut baik India yang menjanjikan bahan pakaian –yang sangat dibutuhkan Indonesia– sebagai balasan. “Diplomasi beras” Sjahrir ini penting bagi Republik Indonesia yang usianya belum genap setahun dan lautnya tengah diblokade oleh Belanda.
- Perubahan Peran Perempuan di Nusantara
Penelitian genetis menunjukkan kemungkinan migrasi Austronesia ke kepulauan Nusantara hingga Oceania didominasi oleh masyarakat yang menganut paham matrilineal. Ini menyiratkan bahwa perempuan berperan besar dalam kependudukan di kawasan itu. "Mereka sepertinya telah sangat mendominasi migrasi pada masa lalu. Sistem kekerabatan matrilokal atau matrilineal pun diduga mendukung fenomena itu," ujar Marlin Tolla, peneliti Balai Arkeologi Papua dalam diskusi via zoom , yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Kesimpulan itu berdasarkan sampel data DNA mitokondria yang ditemukan pada penduduk Papua. DNA mitokondria diwarisi lewat garis ibu, sedangkan DNA kromosom diwarisi dari garis ayah. Karenanya data DNA mitokondria itulah yang kemudian bisa menunjukkan adanya kontribusi perempuan dalam menciptakan dinamika demografi di wilayah persebaran para penutur Austronesia. "Berkembangnya bahasa Austronesia bisa saja adalah campur tangan sistem matrilokal," kata Marlin. Marlin menjelaskan, kependudukan manusia paling awal di Papua diperkirakan dimulai sejak 40.000-55.000 tahun lalu. Pihaknya menemukan adanya haplogroup (kelompok gen) DNA mitokondria, yakni haplogroup P, Q, dan N, tersebar sangat pesat di wilayah ini sebelum masa persebaran Austronesia. Haplogroup N diperkirakan muncul di Afrika Timur pada 55.000 hingga 67.000 tahun lalu, yangdikuatkan oleh temuan arkeologis dan genetis. " Haplogroup N adalah salah satu cikal bakal atau tertua yang ditemukan terutama di Papua hingga saat ini," kata Marlin. Tertinggi adalah haplogroup Q terutama ditemukan di dataran tinggi Papua dari sekira 28.000 tahun lalu. Didapatkan pula di dataran rendah sebagian. Sedangkan haplogroup P diperkirakan muncul sekira 45.000 tahun lalu. Persebaran terbanyak di dataran tinggi Papua. "Tentu dengan haplogroup ini berpengaruh terhadap bagaimana hubungan mereka ketika penutur Austronesia masuk ke Papua pada masa holosen," kata Marlin. Berdasarkan teori Out of Taiwan , sekira 4.000 tahun yang lalu para penutur Austronesia tiba di kepulauan Nusantara dari Taiwan, lalu menyebar hingga kepulauan Oceania. Mereka datang membawa paket budaya Neolitik, di antaranya budaya gerabah, beliung, bahasa, kemampuan berlayar, bertani, menciptakan teknologi, mengolah makanan, dan domestikasi hewan. "Sebaran penutur Austronesia kita dapatkan bahkan juga di Papua yang kita pikirkan hanya orang-orang berbahasa Papua yang hadir di sana. Nanti kita lihat dari sisi genetik," kata Marlin. Sepertinya, kata Marlin, perempuan dan komunitas yang menganut paham matrilineal merupakan cikal bakal kependudukan Austronesia di Papua. Pihaknya menemukan sebaran haplogroup B dari masa persebaran Austronesia. Adapun haplogrup B diperkirakan berasal dari Taiwan atau Cina Selatan. "Ternyata mitokondria DNA leluhur Asia sangat tinggi ditemukan sebanyak 94 persen, sementara mitokondria DNA leluhur Melanesia hanya menyusun enam persen dari garis keturunan mama yang didapat pada pemukim di Papua," kata Marlin. Adapun Y kromosom, yang menandai garis keturunan ayah, ada sebanyak 28 persen, berasal dari leluhur Asia. Kemudian 66 persennya adalah leluhur Melanesia atau penutur bahasa Papua. Artinya, kata Marlin, pengaruh perempuan Austronesia sangat kuat pada saat itu, terutama di antara penduduk Polinesia kala itu. Sebaliknya, pengaruh perempuan Melanesia sangat sedikit. "Fenomena apa ini? Apakah Austronesia perempuan sangat kuat? Kenapa laki-laki atau orang Melanesia yang berdiam di Papua sebelum kedatangan Austronesia lebih memilih mengadakan percampuran dengan penutur Austronesia perempuan yang datang?" kata Marlin. Teorinya, penutur Austronesia kemudian mewarisi sistem matrilokal atau matrilineal. Ini yang lalu mempengaruhi peranan besar perempuan dalam pengambilan keputusan, kepemilikan atas kekayaan, dan status dalam kehidupan masyarakat. Bahkan di daerah asalnya, dominasi perempuan ini tampaknya sudah ada. Ini didapati lewat temuan di situs kubur yang berada di Cina Selatan. Komunitas di sini merupakan para penutur Austronesia awal. Bekal kuburnya yang melimpah, yaitu berupa perhiasan, keramik, dan tumpukan kerang menjadi penanda status perempuan dalam komunitas itu. "Penutur Austronesia mewarisi sistem kekerabatan matrilokal atau matrilineal sebelum patrilokal terjadi seperti pada masa sekarang," kata Marlin. Pada masa kini, warisan dominasi perempuan masih bisa dilihat jelas di Papua. Misalnya, penduduk perempuan di sekitar Danau Sentani telah dikenal sebagai nelayan andal. Beberapa klan di Papua hingga Oceania juga diketahui memiliki pemimpin perempuan. Ada pula rumah adat yang diperuntukkan bagi perempuan sebagai kepala suku. Namun, karena adanya difusi budaya, respons adaptasi, gaya hidup, dan sebagainya, dalam perkembangannya dominasi semacam itu hanya dianut oleh beberapa suku di Papua dan terutama di Oceania. "Tidak ada salahnya dengan sistem patrilineal, tapi ini kadang menjadi faktor perempuan menjadi orang kedua dan tidak berperan dalam hal besar," kata Marlin. Masyarakat Agraris Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris , para antropolog telah mempelajari bahwa di masyarakat Indonesia bagian timur pembagian tugas dan kekuasaan merata antara kedua jenis kelamin. Lebih jauh, ia membandingkan perempuan yang hidup di lingkungan masyarakat agraris memang lebih bebas daripada di kota-kota niaga di pesisir. Sebagai wilayah yang juga menjadi pendaratan para penutur Austronesia, di Jawa gelar kebangsawanan juga bisa diturunkan lewat garis ibu. Ada beberapa data sejarah yang membenarkan bahwa perempuan pada masa lalu mengambil bagian besar dalam kehidupan ekonomi dan politik. Tersebutlah penguasa Ho-ling dari 674 bernama Sima (Hsi-mo) yang diyakini sebagai perempuan. Pada masa-masa berikutnya tercatat nama Sri Isanatunggawijaya dari Kerajaan Medang, sebagai perempuan pertama di atas singgasana raja yang tercatat dalam prasasti. Kemudian ada Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddhani dan Dewi Suhita dari masa Majapahit. Beberapa prasasti juga menyebut bangunan suci yang didirikan oleh para ratu ( bini-haji ). Prasasti tertua, Prasasti Teru I Tepusan (842) mencatat peristiwa dibukanya lahan persawahan milik Sri Kahulunan. "Agaknya ia adalah permaisuri raja yang berkuasa," kata Lombard. Prasasti lain menyebut peran perempuan sebagai pemilik tanah. Prasasti Taji (901) yang ditemukan di Ponorogo memberitakan pembukaan tanah untuk pembangunan candi. Tercatat nama-nama perempuan pemilik tanah yang tanahnya dibeli:Si Padas, ibunya Ni Sumeg, dan Si Mendut, ibunya Ni Mangas. Kebebasan perempuan dalam usaha juga disebut dalam prasasti. Prasasti Kinawe dari masa Kadiri (928) menyebutkan sebuah kawasan tanah milik perempuan bangsawan bernama Dyah Muatan yang ternyata penguasadari Gunungan. Dijelaskan bahwa yang bakal menjadi pewarisnya ialah putranya sendiri Dyah Bingah serta keturunan Dyah Bingah. Bukan saudara tirinya, baik laki-laki maupun perempuan, hasil perkawinan Dyah Muatan dengan suaminya sekarang. "Sebab tanah milik itu bukan kepunyaan rakryan suaminya," kata Lombard. Di luar itu, dikenal pula tokoh perempuan dalam pewayangan Jawa yang menonjol karena keberaniannya. Srikandi, salah seorang istri Arjuna, selalu siap sedia menyambar musuh dengan busurnya. "Seperti juga Srikandi, di kalangan perempuan Jawa masih tetap ada segi jantan dan semangat juangnya," kata Lombard. Diketahui juga kalau raja-raja Jawa mempunyai pasukan pengawal yang terdiri dari perempuan perkasa. Di antaranya yang terkenal adalah korps perempuan dari keraton Jawa, prajurit estri Mangkunegaran. Pengaruh yang Mengubah Lombard berpendapat kecenderungan untuk membatasi kebebasan perempuan dan mengawasi segala gerak-geriknya muncul bersamaan dengan perkembangan bandar-bandar dan agama Islam. "Bahkan di Jawa Tengah, para priyayi mengembangkan suatu kesusastraan sok moralis yang sangat seksis sifatnya dengan tujuan menampilkan perempuan sebagai makhluk yang tak pernah dewasa," kata Lombard. Lombard mengutip pepatah terkenal wong wadon iku suargane nunut, nerakane katut. Artinya perempuan itu, baik ke surga maupun ke neraka selalu mengikuti suaminya. "Mereka boleh dikatakan disisihkan dari kehidupan politik yang sebelumnya menjadi ajang mereka berkiprah," lanjut Lombard. Menurut Lombard, tak seorang pun perempuan bertakhta ketika Mataram Islam atau kota-kota di pesisir Jawa naik ke atas panggung sejarah. Terkecuali adalah Ratu Kalinyamat yang menguasai pelabuhan Jepara pada abad ke-16. Terlepas dari pendapat Lombard, ketika perkembangan budaya India di Nusantara pun kedudukan perempuan tak selalu setara dengan laki-laki. Kedudukan perempuan yang lebih rendah, salah satunya, muncul dalam praktik sati, di mana perempuan harus mengikuti suaminya hingga ajal menjemput. Jika tidak ia bukanlah istri setia. Namun, kebiasaan yang ditemukan di Jawa sedikit berubah dari asalnya di India. Menurut Titi Surti Nastiti, epigraf Puslit Akenas, dalam berita Portugis disebutkan sati tidak hanya dilakukan perempuan. Laki-laki bangsawan diketahui melakukan bunuh diri sebagai tanda setia kepada rajanya. Ada lagi anggapan kalau perempuan pada masa Jawa Kuno sering kali dijadikan hadiah untuk raja. Misalnya, dikisahkan dalam naskah Nagarakrtagama , Raja Majapahit Hayam Wuruk bersuka cita menikmati gadis-gadis ketika mampir di suatu desa dalam lawatan agungnya bekeliling negeri. Soal ini, kata Titi, konteks zaman haruslah diperhatikan. Perbuatan Hayam Wuruk kala itu belum tentu dipandang buruk. Justru mungkin ia akan dianggap sebagai raja yang dicintai. Apalagi jika mengingat Mpu Prapanca sebagai penulis Nagarakrtagama , tak akan mungkin menuliskan hal buruk tentang rajanya. Sementara itu, sejarawan Peter Carey pernah berpendapat saat acara bedah bukunya, Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Pada Abad ke XVIII dan XIX, bahwa tatanan perempuan berubah 180 derajat setelah Perang Jawa. Pada masa Hindia Belanda (1818-1942) yang menandai era kolonial sesungguhnya, Jawa mengadopsi sistem patriarki. Ini terasa pada masa berkuasanya Herman Willem Daendels (1808-1811). "Daendels mengumumkan bahwa 'perempuan tidak punya tempat dalam penghormatan umum, dengan perempuan hanya ada urusan pribadi'," kata Carey. Pilihan sebagai Manusia Modern Ayu Utami, sastrawan yang banyak mengangkat tema feminisme, dalam diskusi yang diadakan PuslitArkenas itu, berpendapat perlunya melihat apa yang membedakan kondisi dulu dengan kini. Khususnya soal apa yang membuat struktur masyarakat yang tadinya memberi peran besar kepada perempuan kemudian bergeser ketika masuknya pengaruh dari India, Arab, dan Barat? “Masyarakat Asia Tenggara memberi peran lebih besarkepada perempuan. Lalu bagaimana pergeserannya dari struktur Asia Tenggara tadi ketika bertemu dengan pengaruh India, Arab, dan Barat?” kata Ayu. Yang jelas, lanjut Ayu, kini ada hal istimewa yang dimiliki oleh masyarakat modern, yaitu kesadaran akan hak asasi manusia. Dulu, mungkin tak ada kesadaran itu sehingga bisa menjadikan perempuan tak dilihat sebagai manusia yang berdiri sendiri. Mereka dianggap dalam perlindungan tuan, suami, atau ayahnya. “Kita mendukung emansipasi, mendukung siapapun manusia mengaktualisasi dirinya tanpa diskriminasi. Itulah kesadaran modern, juga kesadaran yang dimungkinkan sistem masyarakat modern yang sudah mengakui hak asasi manusia,” kata Ayu. Menurut Ayu, dalam kehidupan modern di mana ada perlindungan langsung dari negara, pandangan lama tentang perempuan semacam itu harus diubah. “Masalah kita sekarang bagaimana menggunakan hasil penelitian tadi kepada pilihan modern atau pilihan kita hari ini. Bagaimana hasil penelitian ini mempengaruhi sikap kita dan mutu argumentasi kita dalam membuat pilihan, baik politik maupun sehari-hari,” kata Ayu .
- Kisah Sunyi Ali Sastroamidjojo
Mendung membekap Jakarta senja itu. Matahari malas menampakan diri. Di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sunyi terasa ketika beberapa laki-laki dan perempuan berdoa pada sebuah makam. Wajah-wajah syahdu tefekur dalam diam, memandang lurus nisan putih bertuliskan: Ali Sastroamidjojo SH, eks Wakil Ketua MPRS. Sejatinya hidup Ali Sastroamidjojo adalah kisah sunyi yang nyaris tak tersampaikan. Terlalu sempit sumbangsih-nya jika hanya dibatasi sekadar jabatan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Terlebih dalam sejarah Indonesia, namanya lekat sebagai pejuang empat zaman dan ikut membidani kelahiran bayi Republik Indonesia. “Pak Ali itu satu angkatan dengan Bung Karno. Pada zaman pergerakan, mereka sama-sama aktif di PNI (Partai Nasional Indonesia) dan bahkan dia pernah dipenjara pula oleh pemerintah Hindia Belanda karena kegiatan politiknya,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Pernyataan Rushdy tentunya bukan isapan jempol semata. Dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (ditulis Cindy Adams), Sukarno beberapa kali menyebut nama Ali Sastroamidjojo dan memanggilnya secara akrab sebagai “kawan lama”. Ali sendiri mengenang nama Sukarno sudah ada di benaknya saat dia belajar ilmu hukum di Belanda. Namun secara pribadi, dia kali pertama berkenalan dengan Sukarno pada akhir 1928 di Yogyakarta. Saat itu sebagai anak muda berusia 25 tahun, dia menyaksikan langsung bagaimana Sang Singa Podium beraksi. “Saya sangat terpukau oleh cara dan kata-kata yang digunakannya…”ungkap Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Sejak itulah Ali bersahabat dengan Sukarno yang usia-nya lebih tua dua tahun darinya. Bahu membahu mereka membangun PNI dan menjadikannya alat untuk melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akibat kegiatan politik itulah, Ali sempat masuk penjara. Ali tidak lama ditahan di penjara. Dia kemudian dibebaskan dengan syarat tidak terlibat aktif lagi dalam kegiatan politik. Syahdan, tak lama setelah pembebasan itu, Ali diajak Sukarno untuk hadir dalam pidato umumnya di Madiun. Entah bagaimana ceritanya, tetiba Sukarno menawarkan Ali untuk menyampaikan pidato pokok. “Tidak Bung. Bung tahu saya baru keluar dari penjara. Saya harus menjaga gerak-gerik saya…” tolak Ali. Singkat cerita, tibalah waktu Sukarno bicara di depan khalayak. Seperti biasa, sebelum pidato, dia memanjatkan doa. Kemudian setelah meminum seteguk air putih, barulah dia melangkah ke atas mimbar dan berteriak lantang: “Saudara-saudara! Di sebelah saya duduk salah seorang dari saudara kita yang baru saja keluar dari penjara, tidak lain karena dia berjuang demi cita-cita. Tadi dia menyampaikan kepada saya keinginannya untuk menyampaikan beberapa pesan kepada saudara-saudara…” Ali tentu saja terhenyak. Dia sadar telah “dikerjain” oleh sahabatnya itu. Namun menurut Sukarno dalam otobiografinya, hal tersebut dia lakukan justru demi mengangkat mental Ali dan memberinya kepercayaan diri kembali. Selain itu, dia ingin memberi contoh kongkret kepada rakyat tentang perlawanan kepada kaum kolonialis yang tak mengenal kata berhenti. “Aku tidak mau menjerumuskannya dalam kesukaran. Akan tetapi secara psikologis hal ini penting buat yang hadir, supaya mereka bisa melihat wajah salah seorang dari pemimpinnya yang telah meringkuk dalam penjara karena memperjuangkan keyakinannya dan masih saja mau mencoba lagi.” Menolakkah Ali? Tentu saja tidak. Dia pun berpidato di depan khalayak. * Bisa dikatakan Ali sangat setia dengan jalan nasionalisme. Itulah yang kemudian menjadikannya kembali aktif di PNI pasca Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Lewat partai lamanya itu, Ali yakin bisa menyumbangkan segala kemampuan terbaiknya untuk negara. Di awal era revolusi, Ali aktif sebagai orang ke-2 di Kementerian Penerangan RI setelah Amir Sjarifuddin. Sebagai Wakil Menteri Penerangan RI, tugasnya mencakup berbagai hal termasuk ikut mengurusi kelahiran tentara. Ketika Didi Kartasasmita (seorang eks opsir KNIL) menyatakan akan mengkoordinir kawan-kawannya untuk mendukung RI, Ali ikut patungan bersama Amir untuk membiayai safari Didi keliling Jawa. Hal itu diakui oleh Didi dalam otobiografinya, Pengabdian bagi Kemerdekaan (disusun oleh Tatang Sumarsono). “Saya dibekali oleh Ali Sastroamidjojo dua ribu rupiah…” Begitu pula ketika kemudian sejumlah eks perwira KNIL yang dikoordinasi Didi itu membuat petisi dukungan kepada pemerintah RI, Ali-lah yang mengusulkan kepada Amir Sjarifuddin (yang kala itu berlaku juga sebagai Menteri Pertahanan add interim ) untuk diumumkan selama 10 hari berturut-turut di Radio Republik Indonesia (RRI). Akhir 1948, ketika Yogyakarta diduduki militer Belanda, Ali juga ikut ditawan bersama Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Padahal setahun sebelumnya, dia menjadi salah satu anggota delegasi dalam perundingan Indonesia-Belanda di atas kapal perang Amerika Serikat (AS) bernama Renville. Pasca penyerahan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949, Ali ditugaskan sebagai Duta Besar RI yang pertama untuk AS. Jabatan itu pula yang kemudian mengantarkannya ke posisi sebagai perdana menteri selama dua kali pada 1953-1955 dan 1956-1957. Banyak kalangan menyebut Ali sebagai pengikut setia Sukarno. Pendapat itu tentu saja ada benarnya mengingat kedekatan Ali dengan Sukarno yang sudah berusia lama. Soal ini bahkan diakui sendiri oleh Tatiek Kemal (66), salah seorang cucu Ali Sastroamidjojo. “Kedekatan itu bahkan sampai menjadikan nenek saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ibu Fatmawati,” ujar Tatiek. Kendati demikian, tidak serta merta kedekatan itu menjadikan Ali berlaku sebagai pembebek. Alih-alih menuruti semua kata Sukarno, yang ada Ali malah pernah berselilih paham secara keras dengan sahabatnya itu. Ceritanya, saat kembali dipercaya untuk menyusun kabinet yang kedua kali-nya pada 1956, Ali tidak melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai salah satu mitra koalisi-nya. Selain sudah merasa cukup berkoalisi dengan Masyumi dan NU yang menolak berkoalisi dengan PKI, Ali pun melihat kecenderungan jika PKI dilibatkan dalam pemerintahannya maka itu sama saja memberi peluang partai komunis ke-3 terbesar di dunia tersebut akan menjadi lebih kuat pada pemilu berikutnya. Suatu hal yang tentu saja tidak dikehendaki oleh PNI. Apa yang terjadi kemudian? Bung Karno marah besar. Dia menuduh Ali telah berlaku tidak adil dan mengidap penyakit komunisto-phobi. “Saudara sebagai formatur bersikap tidak adil terhadap PKI. Bagaimana suatu partai besar yang mendapat suara dari rakyat lebih dari 6 juta itu, tidak kau ikut sertakan dalam kabinet baru? Ini tidak adil!” sergah Bung Karno. Kendati Ali mengemukakan alasan-alasan di atas kepada Si Bung Besar, namun tindakannya tetap disalahkan. Tak ada titik temu. Ali akhirnya menyarankan presiden untuk mencabut mandat yang diberikan kepadanya dan menyerahkan kepada formatur baru. “Saya tidak bisa merubah susunan kabinet karena saya sudah terikat pada kesepakatan bersama dengan partai-partai koalisi itu,” ujar Ali. “Kau menempatkan persoalan selalu dengan cara yang terlampau tajam. Saya belum mengatakan bahwa saya menolak hasil susah payah kau ini!” jawab Sukarno. Alhasil, presiden pada akhirnya mau menandatangani susunan kabinet yang disodorkan Ali. Kendati demikian Ali tahu, Bung Karno hanya setengah hati menerimanya. (Bersambung).
- Pengungsian Lena Mokoginta dari Desa ke Desa
HADIDJAH Lena Mokoginta-Soekanto lahir di Desa Kotabangon, Sulawesi pada 23 Mei 1912. Ayahnya pejabat Rijkbestuur yang dalam bahasa setempat disebut Yogugu. Sementara, ibunya merupakan putri sulung Raja Bolaang Mongondow. Lena bersekolah di HIS Kotamobagu lalu melanjutkan ke MULO di Tondano, Sulawesi Utara selama enam bulan sebelum pindah ke MULO Pasar Baru. Ketika menginjak kelas dua, Lena pindah ke Christelijke MULO di Gang Menjangan. Di sinilah Lena berkawan dengan Johanna Tumbuan yang kemudian dikenal dengan Jo Masdani. Lena juga bergabung dengan Jong Celebes yang kala itu diketuai Empu Senduk (dr. Senduk). Ketika organisasi kedaerahan itu difusikan mejadi Indonesia Muda (IM), Lena terpilih menjadi ketua peretemuan tersebut. Di IM ia akrab dengan Soenarti, yang kemudian hari menikah dengan Soelistio Wironagoro. Soenartilah yang mengenalkan Lena pada kakaknya, Soekanto. “Tadinya terjadi perang batin ketika aku hendak menentukan pilihan hati, siapa yang akan menjadi suami. Hati sudah tertambat pada Mas Kanto tapi sayang dia seorang pegawai pemerintah Belanda,” kata Lena dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi. Keraguannya terhapuskan setelah dinasihati Mr. Sartono. Kata Sartono, pilihan Soekanto justru mendapat dukungan dari para pemimpin pergerakan karena bila Indonesia merdeka kelak, mereka pasti membutuhkan personil yang ahli di bidang masing-masing. “Mendengar hal itu, mantaplah hatiku untuk memilih Mas Kanto sebagai suamiku,” kata Lena. Di masa pendudukan Jepang, Lena dan Soekanto tinggal di asrama Sekolah Kepolisian di Sukabumi. Soekanto mengajar di sana. Sementara, Lena bergabung dengan Palang Merah di Rumahsakit Bunut, membantu dr. Abu Hanifah dan mengajar baca-tulis serta keterampilan lain pada perempuan muda buta huruf. Setelah Proklamasi, Soekanto ditunjuk Bung Karno untuk membentuk polisi nasional yang disebut Jawatan Kepolisian, di bawah Kementerian Dalam Negeri. Dalam Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia yang disusun Awaloedin Djamin dan G Ambar Wulan, disebutkan, ketika ibukota pindah ke Yogyakarta, Kementrian Dalam negeri juga memindahkan kantornya, namun ke Purwokerto. Kantor Jawatan Kepolisian Negara yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri juga dipindah ke Purwokerto. Soekanto beserta staf memulai tugasnya di sana. Kebetulan, ayah dari ajudan Kepala Kepolisian Negara Toti Soebianto menjabat sebagai Patih Banyumas yang berkedudukan di Purwokerto. Raden Mochammad Poerwodirejo (ayah Toti Soebianto) kemudian menyediakan tempat untuk dijadikan markas kepolisian negara. Lena mengikuti Seokanto pindah ke Purwokerto. Seminggu sekali, Soekanto berangkat ke Yogyakarta untuk melapor pada Bung Karno dan Hatta. Pada Juli 1947, tentara Belanda membombardir Purwokerto. Penduduk kalang kabut, termasuk tantara Indonesia. Lena sendiri terpisah dari Soekanto yang sedang menghadap presiden di Yogyakarta. Lantaran tak memungkinkan bertahan di Purwokerto, ia pun berjalan kaki ke Yogyakarta dan mengungsi dari desa ke desa bersama pembantunya, Mbok Irah. “Di desa pertama yang kami singgahi aku bertemu seorang teman, Zus Do Walandouw dan suaminya yang seorang dokter hewan, setelah berjalan dua hari kami bertemu dengan Keluarga Mudang,” kenang Lena. Dalam perjalanan bersama keluarga Mudang, Lena bersimpati pada Nyonya Mudang, seorang putri Solo, yang harus meniti terjalnya tebing sungai. Namun Lena yang ingin lekas sampai ke Yogyakarta harus meninggalkan keluarga Mudang karena mereka harus beristirahat lantaran Nyonya Mudang sakit. Wajah Lena yang tak terlihat seperti orang Jawa membuat penduduk suka menanyakan identitasnya selama di perjalanan. Mbok Irah selalu pasang badan dan menjawab dalam bahasa Jawa bahwa Lena merupakan menantunya. Ketika keduanya sampai di sebuah desa, penduduk sudah mengungsi. Mereka lantas menginap di rumah lurah yang hanya dijaga oleh dua orang suami-istri lanjut usia. Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Ketika sedang beristirahat di tepi sungai, Lena dikagetkan dengan kedatangan dua orang pemuda. Karena takut, Lena berusaha sembunyi namun kemudian diteriaki dua pemuda itu. “Bu Kanto, kami disuruh Bapak mencari Ibu!” teriaknya dari jauh. Lena kemudian diantar ke Wonosobo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Magelang. Di sana sudah menanti suaminya. Begitu berkumpul lagi dengan Soekanto, Lena berangkat menuju Yogyakarta. Di Yogya, mereka tinggal di kediaman Bung Hatta yang sudah ditinggal pergi pemiliknya mengungsi ke Madiun. Lena dan Soekanto mendapat kamar di depan. Alangkah senangnya Lena karena bisa berbaring di kasur setelah beberapa hari berjalan dan tidur tidak menentu.





















