top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • E.S. Pohan dari PID ke PRRI

    KANTORNYA berada pada salah satu bangunan di belakang gedung Raffles Place, Singapura. Untuk sampai ke sana harus melalui trotoar sempit yang ditaburi noda merah dari ludah sirih seorang penjaga Sikh, bau debu, saluran pembungan, dan air seni. Di sanalah, James Mossman, menemui E.S. Pohan, “duta besar” pemberontak di Asia.

  • Cerita dari Front Bandung

    HARI ke-6 Desember 1945 adalah awal mula neraka mengunjungi pasukan Divisi ke-23 tentara Inggris di Bandung. Tertiuplah sebuah kabar bahwa beberapa tank berjenis M4 Sherman bergerak dari kawasan Hotel Homan. Mereka dikawal oleh truk-truk pengangkut pasukan infanteri dari Batalyon Gurkha Rifles 3/3. “Tujuan mereka adalah Tuindorp dan Ciateul, dua kamp interniran berisi orang-orang Belanda, Minahasa, Maluku dan Cina yang menjadi tawanan tentara Jepang,” ungkap Aleh, lelaki berusia 93 tahun. Namun baru sampai di Jalan Cikawao, konvoi pasukan Inggris itu harus kehilangan sebuah truk-nya yang melindas ranjau darat. Begitu kendaraan militer tersebut meledak, dari kiri dan kanan jalan para pejuang Indonesia dari Batalyon Soemarsono, Batalyon Achmad Wiranatakusumah, Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah pimpinan Husinsyah memberondong dengan tembakan gencar rombongan pasukan Inggris itu. Di tengah kepanikan prajurit-prajurit Divisi ke-23, tetiba seorang pejuang muda Hizbullah bernama Agus berlari ke arah salah satu tank Sherman tersebut. Dengan tak henti berteriak “allahu akbar”, dia kemudian menaiki Sherman itu, membuka kanopi-nya dan langsung meloncat ke dalam tank sambil memegang dua granat yang siap pakai. Glaarrr! Monster berkulit besi itu pun roboh bersama orang-orang yang berada di dalamnya. “Agus tercatat sebagai kawan kami yang pertama gugur dalam penghadangan itu,” kenang Aleh yang merupakan eks pejuang Hizbullah itu. Selanjutnya, pertempuran di front Bandung tersebut berlangsung secara brutal. Tidak cukup dengan peluru, para petarung dari dua pihak pun terlibat dalam perkelahian satu lawan satu yang sangat seru. Darah memuncrat di sana-sini. Teriakan takbir bersanding dengan teriakan khas para prajurit Gurkha yang sebagian bertarung dengan menggunakan khukri (senjata khas orang Gurkha). Insiden penghadangan yang lebih dikenal sebagai Pertempuran Lengkong itu nyatanya banyak memakan korban, terutama di pihak pejuang Indonesia. Ada 16 pejuang Hizbullah lainnya yang tercatat kemudian menyusul Agus ke alam baka. Mereka rata-rata masih sangat muda, berusia antara 17-19 tahun. “Dari kantong salah seorang korban, kami menemukan sebungkus garam dan cabe rawit. Terharu sekali kami, karena walaupun hanya dengan bekal makanan itu, dia tetap rela berjuang,” ujar salah seorang anggota Palang Merah bernama Upi Suyar dalam buku karya R.J. Rusady W., Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Selain para pejuang laki-laki, front Bandung pun tersohor dengan sejumlah maung bikang (macan betina). Mereka rata-rata tergabung dalam Laskar Wanita Indonesia (Laswi). Salah satunya bernama Soesilowati. Laiknya pejuang lelaki, dia tak sungkan-sungkan untuk bertarung satu lawan satu dengan prajurit musuh. Salah satu korban dari kegarangannya adalah seorang letnan dari kesatuan Gurkha Riffles. Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda , Jenderal TNI (Purn) A.H. Nasution mengisahkan pada suatu pagi di tahun 1946, markasnya di Jalan Kepatihan, Bandung didatangi oleh seorang perempuan muda yang datang dengan menunggang seekor kuda. Begitu sampai di depan pintu, perempuan yang tak lain adalah Soesilowati itu, masuk dan langsung menemui Nasution. Tanpa banyak cakap, dia menyodorkan sebuah bungkusan di atas meja Kepala Staf Panglima Komandemen Jawa Barat tersebut. Begitu Nasution membukanya, nampak kepala seorang perwira Gurkha lengkap dengan pita-pita tanda kepangkatannya. “Wajahnya simpatik dan nampak ia masih sangat muda namun sayang harus menjadi korban pergolakan politik negeri orang lain yang tak memiliki hubungan apapun dengan negaranya,” ujar Nasution. Sejak itulah Nasution paham akan keberanian para mojang Bandung. Ia tak ragu lagi melibatkan mereka dalam setiap tugas dan pertempuran. Soesilowati sendiri, kata Nasution,  secara sukarela kadang menjadi pengawal Nasution dalam setiap kegiatan komandemen. “Saya ingat kebiasaan dia jika tengah melakukan pengawalan: duduk  tegap di atas kap mobil,” kenang sang jenderal. Selain Soesilowati, satu lagi anggota Laswi yang dikenal sebagai tukang penggal kepala tentara Gurkha yakni Willy Soekirman. Dalam buku Saya Pilih Mengungsi  karya Ratnayu Sitaresmi dkk, disebutkan nyaris pada setiap pertempuran kota di Bandung, Willy yang menggunakan sebilah pedang kecil sering terlibat perkelahian satu lawan satu dengan prajurit Gurkha yang bersenjata khukri dan uniknya selalu berhasil memenggal kepala lawannya. “Saya selalu tak sadar jika sedang memenggal kepala musuh. Tahu-tahu aja ada darah segar mengalir di tangan saya dan kawan-kawan di sekitar berteriak histeris menyemangati saya…” ungkapnya.*

  • Tahun Baru Nahas di Stadion Ibrox

    CUACA di kota Glasgow pada awal tahun 1971 masih dingin menggigit. Namun pada 2 Januari 1971, puluhan ribu suporter yang menyesaki Stadion Ibrox bisa menghangatkan suasana hati John Hodgman, asisten editor Suratkabar Daily Express  yang fans berat Glasgow Rangers . Dua hari sebelumnya, saat pergantian tahun, Ibrox tengah menjadi tempat duel tim sekota bertajuk “Derby Old Firm” antara Rangers vs Glasgow Celtic. Dua klub tersebut acap berseteru berdasarkan agama: Katolik dan Protestan. “Rangers belum berubah. Sudah menjadi kebanggaan bagi mereka dengan memasuki 1970-an tanpa sekalipun merekrut pemain Katolik dalam 100 tahun. Di sisi lain, Celtic   justru dilatih seorang Protestan (Jock Stein, red. ),” kata   Hodgman (72)   mengenang kejadian itu lewat kolomnya di The Guardian , 3 Desember 2020. Di babak pertama, Hodgman menyaksikan duel itu di sektor fans Celtic untuk keperluan reportasenya. Namun saat laga turun minum, Hodgman beralih ke tribun timur, basis fans Rangers. Ribuan fans Rangers tampak bosan sepanjang babak kedua   hingga tiba menit ke-89. Dari tempatnya, Hodgman melihat di sektor seberang fans Celtic bereuforia seiring   Jimmy Johnstone melesakkan gol 1-0 buat Celtic. Raut wajah kecewa tampak di antara beberapa fans Rangers yang memilih untuk meninggalkan tribun menuju “Tangga 13” di sisi timur laut stadion lantaran laga sebentar lagi berakhir. Namun, di menit terakhir tendangan bebas Colin Stein berhasil mengubah skor, 1-1,  yang lantas diikuti histeria ribuan penonton yang masih bertahan di tribun. Histeria itu lantas menular kepada ribuan penonton yang sudah bergerak di Tangga 13, tangga keluar yang sempit dan hanya terdiri dari tujuh jalur. “Para penonton yang seperti saya yang tengah berhimpitan dengan punggung orang lain menuju tangga keluar, tiba-tiba berhenti dan berbalik arah untuk melihat lagi. Saat Stein mencetak gol, suasananya sudah seperti bom yang meledak. Semua tribun basis penonton Rangers bersorak. Skor 1-1 sudah seperti kemenangan buat kami,” imbuhnya. Momen Colin Anderson Stein mencetak gol penyama kedudukan 1-1 ( thecelticstar.com ) Lima menit pasca-wasit meniup peluit panjang tanda laga berakhir, bencana   dimulai. Hodgman tak bisa mengingat apa yang menyebabkan ribuan orang berdesakan di “Tangga 13” tiba-tiba bertumbangan seperti susunan domino berjatuhan. Hodgman sedikit beruntung. Dia berada di salah satu sisi pagar kayu dan mengamankan dirinya dengan duduk di atas pagar kayu itu. Hal nahas dialami suporter Rangers Andy Ewan (71). Ia yang saat itu masih berusia 23 tahun ikut tumbang dan terjebak di tengah tumpukan manusia laiknya piramida   setinggi enam kaki. Tetapi sebelum kejadian   bertambah parah, Ewan berhasil diselamatkan. “Bagian bawah tubuh saya terjebak dan tak bisa bergerak. Di sekitar saya terdengar banyak teriakan dan tangisan. Seperti saya, mereka kesulitan bernafas. Jika tidak ada seorang polisi yang datang dari bawah dan menarik saya…siapa yang tahu (jika saya masih akan hidup),” ujar Ewan kepada The Herald , Selasa (29/12/2020). Puluhan fans lain   tak seberuntung Hodgman atau Ewan. Sebanyak 66 suporter Rangers meregang nyawa. Sementara 200 lainnya luka-luka. Hari itu jadi bencana terburuk dalam sepakbola di Inggris Raya   sebelum Bencana Hillsborough di Sheffield, Inggris terjadi pada 1989. Dari 66 orang yang tewas mengenaskan, 31 di antaranya masih di bawah umur. Yang termuda, Nigel Patrick Pickup, berusia sembilan tahun. Satu perempuan, Margaret Ferguson, yang berusia 18 tahun turut jadi korban tewas. Petaka Ibrox Salah Siapa? Tragedi itu bukan yang pertama terjadi di Ibrox, kandang Rangers sejak 1887. Petaka di Ibrox pertamakali terjadi pada 5 April 1902 kala Skotlandia menjamu Inggris dalam turnamen British Home Championship 1901-1902. Robert Sheils mengungkapkan dalam “The Fatalities at the Ibrox Disaster of 1902” yang dimuat dalam The Sports Historian ,   25 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka dalam tragedi itu. Tragedi tersebut disebabkan oleh dinding belakang di tribun barat ambruk. Lapisan dindingnya yang terbuat dari material kayu ternyata sudah keropos akibat hujan deras pada malam sebelum pertandingan. Kejadian serupa tragedi “Tangga 13” tahun 1971 terjadi pula 10 tahun sebelumnya.   Hodgman masih ingat tragedi pada 16 September 1961 itu lantaran menjadi salah satu korban. Dua orang tewas dan delapan terluka akibat bencana itu. Para korban "Tragedi Ibrox" yang dievakuasi ( thecelticstar.com ) Meski sempat terjatuh dan terhimpit, Hodgman yang saat itu berusia 14 tahun bisa selamat. Dia hanya terluka di bagian rusuk. “Tidak ada orang yang bisa bergerak. Saya panik. Rasanya seperti berada di dalam air terlalu lama. Paru-paru saya kosong dan berusaha keras mendapatkan udara. Betapapun berusaha bergerak, namun sikut saya terhimpit rusuk saya sendiri. Saya menangis dan mengumpat. Setelah beberapa orang bisa melepaskan diri, saya mendapati celah untuk bergerak dan menjauh dari tumpukan manusia itu,” sambung Hodgman. Pada 1969, petaka kembali terjadi di “Tangga 13”.Meski tidak ada korban tewas, sebanyak 13 penonton terluka dalam kejadian ini. Kendati kejadian pahitsudah beberapakali menghampiri Ibrox, pengelola stadion dan manajemen Rangers belum punya kesadaran untuk mengambil tindakan lebih baik terhadap “Tangga 13”. Stadion Ibrox pada 1970-an ( rangers.co.uk ) Graham Walker dalam “The Ibrox Stadium Disaster of 1971” yang dimuat dalam Soccer and Disaster  menguraikan, spekulasi terhadap penyebabnya mengemuka seiring penyelidikan resmi klub, Fatal Accident Inquiry (FAI), dan pemerintah Inggris Raya. Petaka itu intinya terjadi akibat bentrokan arus penonton yang hendak turun dan penonton yang spontan berbalik badan dan naik lagi untuk merayakan gol Colin Stein. “Dua arus besar penonton itu bertubrukan dan hasilnya kejadian mematikan itu. Colin Stein, 20 tahun berselang mengaku ikut merasa bersalah atas tragedi itu. Teori itu juga didalami FAI dari sejumlah saksi mata. Di sisi lain, beberapa keluarga korban sampai mengajukan Rangers Football Club ke muka pengadilan,” tulis Walker. Pengajuan itu bertolak dari fakta bahwa klub dan pengelola stadion hingga waktu kejadian sama sekali belum punya pedoman dan standar keamanan untuk penonton di dalam stadion. Mereka abai dan tak memperhatikan keamanan dalam desain “Tangga 13”. Padahal, akses ini jadi salah satu akses keluar-masuk favorit para penonton. “(Manajemen) Rangers dan pihak kepolisian sudah tahu bahwa ‘Tangga 13’ adalah akses paling populer di stadion. Pasalnya akses ini paling dekat dengan fasilitas transportasi publik. Diperkirakan ada 20 ribu penonton yang menggunakan akses ini di laga ‘Old Firm’ 2 Januari 1971,” tambahnya. Kolase suasana "Tangga 13" di Stadion Ibrox pascatragedi ( rangers.co.uk ) Untuk menyantuni para keluarga korban, manajemen Rangers mendirikan Ibrox Disaster Fund. Dari para dewan direksinya terkumpul sumbangan mencapai 50 ribu poundsterling.Hodgman yang juga mengikuti perkembangan kasusnya, menyatakan bahwa pada akhirnya pihak klub tak ditimpakan kesalahan atas tragedi itu. Wheatley Report, hasil laporan final investigasi FAI yang keluar pada 1973 dan dipimpin hakim Lord Wheatley, menyimpulkan, kejadian disebabkan oleh satu atau dua orang yang tiba-tiba atau tak sengaja jatuh di tengah kerumunan ribuan suporter yang tengah turun via “Tangga 13” dan menghadirkan efek berantai bak susunan domino. Sosoknya sampai sekarang tak teridentifikasi. Dari pemeriksaan medis jenazah oleh ahli patologi Profesor Giles Forbes, 60 dari korban meninggal setelah mengalami sesak nafas akibat dada mereka terhimpit, dan enam lainnya mati lemas karena kekurangan oksigen. “Isu keamanan hampir tak tersentuh dari laporan itu. Memang Lord Wheatley menyimpulkan bahwa prosedur keamanan di stadiontidak layak, namun fokus laporanlebih kepada rekomendasi bahwa prosedur itu harus ditingkatkan klub, ketimbang menyalahkan klub karena abai akan prosedur itu. Laporan itu kemudian jadi pegangan yang mendasari lahirnya Undang-Undang Keamanan Arena Olahraga 1975 oleh pemerintah,” sambung Hodgman. Setiap 2 Januari pihak klub menggelar peringatan "Ibrox Disaster" ( rangers.co.uk ) Sejak saat itu, hampir setiap tahun pihak klub bersama warga kota dan segenap warga Skotlandia memperingati tragedi itu. Penyanyi legendaris Matt McGinn bahkan sampai menciptakan lagu “The Ibrox Disaster” di tahun yang sama. Plakat duka lalu dipasang di salah satu sudut stadion.   Pada peringatan ke-30 tahun, 2 Januari 2001, pihak klub mempersembahkan monumen peringatan di dekat stadion, antara Tribun Bill Struth dan Tribun Copland Road. Di monumen itu terpahat ke-66 nama korban tewas. Khusus tahun ini, peringatan ke-50 tahun kejadian,   peringatannya akan digelar berbeda   mengingat pandemi COVID-19 belum reda. Pada   November 2020 pihak klub menyatakan, kali ini momen itu akan diperingati secara terbatas yang, kebetulan, juga sekaligus menghadirkan duel “Old Firm” Rangers vs Celtic di matchday  ke-22 Premiership Skotlandia. “Kami ingin mengundang siapapun yang punya kaitan personal terhadap peringatan (tragedi Ibrox) untuk menghubungi klub. Sangat penting buat kami melibatkan mereka untuk merefleksikan keinginan keluarga yang kehilangan pada hari nahas itu,” demikain pernyataan klub di laman resminya .

  • Tahun Baru di Tengah Deru Peluru

    MALAM pergantian tahun biasa dimeriahkan dengan kembang api atau petasan. Di pusat-pusat kota, tahun baru juga diramaikan dengan berbagai perayaan. Namun, malam tahun baru 1946 tak demikian adanya. Petasan dan kembang api tak ada, yang ada letusan-letusan peluru dan granat. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Jakarta kembali tegang karena Belanda kembali dengan serdadu-serdadu NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda). Menjelang akhir tahun, NICA dan Inggris menyerang republik secara sporadis. Dr. R. Soeharto, sahabat sekaligus dokter pribadi Sukarno, mengenang dalam Saksi Sejarah: Mengikuti Perjuangan Dwitunggal , di Jakarta suasana cukup kacau sehingga mendesak pemuda-pemuda Republik berbondong-bondong meninggalkan kota yang oleh Kabinet Sjahrir ditetapkan sebagai kota diplomasi itu. “Cecunguk-cecunguk Nica di Jakarta tak segan-segan menggedor rumah penduduk di tengah malam pada hari-hari sekitar tahun baru 1946. Ada yang pura-pura mengetuk rumah dokter malam-malam, dengan alasan meminta pertolongan. Pengacauan yang sengaja dilakukan oleh antek-antek Belanda itu bertujuan untuk melemahkan semangat kita,” tulisnya. Pengawal Sukarno, Mangil Martowijoyo, dalam tulisannya di Bung Karno dalam Pergulatan Pemikiran,  berjudul “Saya bangga sebagai pengawal Bung Karno”, telah menduga bahwa Belanda akan menggunakan segala cara untuk membuat ketegangan di Jakarta. Itu terbukti menjelang tahun baru kala ia tengah bertugas di Pegangsaan Timur 56. “Di tengah-tengah suara hingar-bingar di malam pergantian tahun itu, terdengar peluru-peluru dimuntahkan di sekitar Pegangsaan Timur 56. Bagi para pemimpin Republik, hal ini sudah bisa dijadikan pertanda bahwa Jakarta tidak aman. Maka diputuskan ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke kota Yogyakarta,” tulis Mangil. Para veteran kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) juga punya cerita sendiri yang dituangkan dalam KRIS 45: Berjuang Membela Negara . Jozef Warouw dkk. berkisah, pada malam tahun baru itu antara anggota KRIS dan pasukan Batalyon X saling memberi ‘ucapan selamat tahun baru’. Padahal, Batalyon X adalah batalyon NICA paling bengis yang mendapat julukan Andjing NICA. Mulanya, pasukan KRIS melempari granat dan menembaki asrama Batalion X di daerah Senen. Para serdadu Batalyon X langsung membalas dari dalam asrama. “’Ucapan selamat’ itu langsung mendapat sambutan lebih ‘meriah’ dari dalam, sehingga anggota-anggota pasukan KRIS harus melarikan diri. Dari daerah pinggiran kota Jakarta juga terdengar ‘sambutan’ tahun baru, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk dapat meramaikan keadaan di sekitar Batalion X,” tulis Jozef Warouw dkk. Ada juga cerita lucu di tengah malam pergantian tahun itu, yang datang dari keluarga pelukis Sudjojono. Pada malam tahun baru 1946, Sudjojono dan keluarganya mendengar suara gaduh tembakan dari arah Lapangan terbang Kemayoran. Mereka langsung panik. Namun Sudjojono justru berkelakar. “Ah, itu hanya Belanda menyambut tahun baru. Rupanya mereka kebanyakan peluru, jadi mereka hambur-hambur sebagai pengganti mercon!” kata Sudjojono seperti diceritakan Mia Bustam dalam Sudjojono dan Aku. Beda Sudjojono, beda tetangganya yang bernama Mas Sastro. Mia Bustam bercerita bahwa Sastro sangat ketakutan mendengar deru peluru itu. Ia bersama anak istrinya langsung bersembunyi di dalam lubang perlindungan. Sudjojono pun meyakinkan bahwa itu adalah suara peluru yang hanya dipakai sebagai pengganti petasan. Namun, Satro tidak percaya dan tetap mendekam di dalam lubang perlindungan. Keesokan harinya, Sudjojono bertanya kepada orang-orang yang datang dari pusat kota ihwal suara tembakan malam itu dan mendapat jawaban sama bahwa suara-sura itu untuk merayakan tahun baru. Sudjonono pun kemudian memberi tahu tetangganya. “Benar nggak kata saya? Anda kok nggak percaya!” kata Sudjojono. “Ya, ya. Soalnya suaranya menakutkan sekali!” jawab Mas Sastro percaya. Mereka pun akhirnya tertawa. Padahal, beberapa kejadian adu tembak memang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada malam tahun baru itu.*

  • Ulah Sukarni Akibatkan Soewarsih Diburu Aparat Kolonial

    DUDUK dalam lembaga yang sama membuat Saifuddin Zuhri (menteri agama periode 1962-1967) menjadi dekat dengan Sukarni. Kendati telah saling kenal sejak masa pendudukan Jepang, Saifuddin dan Sukarni baru mulai dekat setelah sama-sama menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada paruh kedua 1960-an. Kedekatan itu membuat Saifuddin tak segan mengajak Sukarni, yang disegani dalam pentas politik nasional, bercanda. Dalam sebuah kesempatan, Saifuddin sengaja melontarkan pertanyaan pada Sukarni yang selama ini membuatnya penasaran. “Dengan nada kelakar saya tanyakan, ‘Apakah peci merah yang dikenakan di atas kepalanya itu lambang identitasnya yang antiimperialis, antimodal asing?’” kata Saifuddin dalam testimoninya untuk Sukarni, “Pejuang yang Nyaris Terlupakan”, dimuat dalam buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya.

  • Pesan dari Kamp Interniran

    MELALUI kartu pos, ibu ingin berkabar kepada ayah bahwa kami telah diangkut ke kamp interniran khusus keturunan Yahudi. Kartu pos yang tetap kami simpan itu penuh berisi sandi untuk menghindari sensor ketat; sebagai pengirim, ibu jelas tidak pernah tahu apa alasan balatentara pendudukan Jepang kalau sampai tidak mengirim kartu pos ini. Kamp yang ibu, kakak, adik dan saya tinggalkan adalah kamp interniran kaum perempuan Kramat, di jantung Batavia lama, ibu kota Hindia Belanda yang pada 1942 diduduki Jepang. Kami sempat menghuni kamp Kramat selama setahun dan selama itu kami tidak pernah mendengar kabar tentang ayah yang jauh berada di kamp pria.

  • CIA, Filipina, dan Permesta

    KETIKA bekerja di atase pers dan kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Manila, Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, berteman dekat dengan beberapa jurnalis Filipina. Salah satunya Benigno “Ninoy” Aquino yang bekerja di The Manila Times sebagai koresponden perang termuda dalam Perang Korea pada 1950 dan koresponden asing di Indo-China sampai 1954. Des Alwi mengajak Aquino dan tiga jurnalis ke Manado menjelang meletusnya Permesta. Mereka bertemu dengan Letkol Ventje Sumual, pemimpin Permesta. “Gara-gara ini saya dituduh mendukung pemberontakan Permesta,” kata Des Alwi dalam memoarnya di majalah Tempo, 25 November 2007. “Saya menetap di Malaysia setelah dituduh mendukung gerakan Permesta di Sulawesi Utara.”

  • Sukarno Menyingkap Kejombloan

    TAHUN baru atau saban hari lebaran kerap jadi ajang pertemuan keluarga besar. Pada momen itulah tali persaudaraan dipererat dengan mengunjungi kediaman sanak famili. Silahturahmi pun terjalin dengan saling bertanya kabar. Bagi orang tua kepada kerabat yang muda-mudi, lazim pula terlontar pertanyaan, “kapan menikah?” atau “siapa pacarnya sekarang?” Pertanyaan itu bisa jadi agak mengganggu bagi mereka yang masih betah melajang alias jomblo. Perihal kejombloan ternyata telah memantik perhatian Sukarno sejak dulu kala. Bung Karno membedah kegelisahan itu ketika dirinya menulis risalah berjudul Sarinah  pada 1947. Siapa nyana, menurut sang presiden, hubungan sepasang insan yang tidak berujung pernikahan penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah kapitalisme. “Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin,” ujar Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Belenggu “Pintu Belakang” Kapitalisme menurut Sukarno adalah suatu pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Sementara itu, sektor-sektor produksi bertumpu kepada si pemilik modal. Dengan demikian, kapitalisme menyebabkan nilai tambah tidak jatuh kepada buruh atau kelas pekerja melainkan ke tangan kaum majikan. Dalam pidato pembelaannya berjudul “Indonesia Menggugat” tahun 1930, Sukarno mengatakan kapitalisme merupakan cikal bakal imperialisme modern; penindasan manusia atas manusia. Sementara itu, dalam Fikiran Ra’jat  1932, Sukarno menyebut kapitalisme menuju kepada Verelendung , yakni menyebarkan kesengsaraan. “Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan-tarif, peperangan, -- pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang ini,” tulis Sukarno dalam “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” termuat di Fikiran Ra’jat  terbitan 1932 yang dikutip dari Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 . Lantas, bagaimana mungkin kapitalisme dapat menjadi benalu dalam percintaan? Sukarno menjawab bahwa pencaharian nafkah dan perjuangan hidup dalam masyarakat begitu berat. Banyak pemuda karena kekurangan nafkah tidak berani kawin ataupun kesulitan kawin. Perkawinan seolah hak istimewa bagi mereka yang punya kemampuan finansial mapan. “Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun,” kata Sukarno dalam Sarinah . Padahal, menurutnya pada periode itu seksualitas seseorang sedang menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak jiwa. Kesukaran menunaikan hasrat kodrati itu, lanjut Sukarno, bikin perjaka masygul terlena mencari jalan keluar lewat “pintu belakang”. Mereka akan tersesat dalam perzinahan dengan sundal ataupun perbuatan keji lainnya. Bagi laki-laki, laku amoral tersebut dianggap lazim atau lumrah. Tapi, perbuatan serupa mendatangkan celaka bagi kaum hawa. Cap buruk dan hujatan akan melekat pada dahi perempuan yang terjebak di “pintu belakang”. Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja namun tidak menunjuk kepada laki-laki; tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Begitu kira-kira pemikiran Sukarno. Berat di Ongkos Dalam Sarinah , Sukarno membayangkan kondisi masyarakat yang dia cita-citakan. Disitu, tiap-tiap lelaki bisa mendapat istri. Dan sebaliknya, tiap-tiap perempuan bisa mendapatkan suami. Namun, menurut Sukarno kapitalisme merintangi imaji itu. “Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalistis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali struggle for life  bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan,” kata Sukarno. Sukarno merujuk keadaan di beberapa tempat. Di Batak, Sukarno mengutip tradisi uang “mangoli” atau disebut juga dengan “sinamot”. Di Lampung berlaku istilah adat “jujur” sedangkan di Bengkulu disebut adat “kulo”. Di Flores tradisi ini bernama uang “belis”. Semua itu pada hakikatnya adalah adat jual-beli perempuan. Di Sumatra Selatan misalnya. Sukarno menyaksikan gadis-gadis tua yang tidak mendapat jodoh. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25, 30, atau 35 tahun. Jodoh yang tidak kunjung tiba lantaran adat yang memasang banyak penghalang, seperti uang hantaran yang selalu terlalu mahal. Adapun penyebab “muka tua” itu menurut Sukarno karena mereka terpaksa hidup sebagai gadis tua; “tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alami.” “Alangkah baiknya sesuatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah!,” demikian harapan Sukarno yang ditulisnya dalam Sarinah . Bung Karno sendiri dalam perjuangannya sedari zaman pergerakan hingga menjadi presiden Indonesia senantiasa memusuhi kapitalisme. Dalam berbagai pidato, sistem itu disebutnya sebagai penjajahan dalam bentuknya yang baru. Seperti disebut sejarawan Ong Hok Ham dalam “Sukarno: Mitos dan Realitas yang termuat di Prisma , 8 Agustus 1977, kapitalisme bagi Sukarno berarah ke pemiskinan. Dan selain itu, tentu saja, mempersulit orang untuk menikah karena terkendala biaya.*

  • Harga untuk Kemerdekaan Indonesia

    PADA Selasa sore yang panas, 23 Agustus 1949, delegasi Republik Indonesia, beserta Serikat Federasi Indonesia (BFO) dan Belanda, berkumpul mengelilingi meja besar berbentuk oval di “Room of Knights” (Ridderzal) di Den Haag, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dipelopori oleh diplomat Amerika Merle Cochran.

  • Kebrutalan Pertempuran Surabaya

    DALAM Perang Dunia II, pasukan kavaleri Inggris dan Amerika Serikat menurunkan M4 Sherman di setiap palagan. Tank berwujud raksasa itu terbukti memang sukses memenangkan berbagai pertempuran terutama saat pihak Sekutu berhadapan dengan Jerman di palagan Afrika dan Eropa. Kegaharan Sherman dilukiskan secara ciamik dalam film Fury (2014) yang dibintangi oleh aktor kawakan Brad Pitt. Di film tersebut dikisahkan bagaimana Sherman dapat mengatatasi Tiger I, tank milik militer Jerman yang disebut-sebut memiliki tingkat kecanggihan luar biasa di zamannya. Namun tidak selamanya kisah Sherman adalah melulu kisah tentang kejayaan. Di palagan Surabaya, banyak Sherman dan para awaknya justru menjadi bulan-bulanan para pejuang Indonesia.

  • Pergi ke Gereja pada Masa VOC

    SEBUAH gereja menjulang tinggi. Tujuh jendela besar tampak pada bagian muka bangunannya. Tanah lapang di sekitarnya penuh dengan orang. Para budak, pembesar dan pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), dan orang-orang mardjikers atau budak yang dimerdekakan baru selesai beribadah pada hari Minggu.

  • Senjata CIA untuk PRRI

    SETELAH pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada Januari 1958, Sumitro Djojohadikusumo dan Letkol Ventje Sumual pergi ke Singapura. Ketika sedang makan di sebuah restoran, seorang asing mendekati mereka. Dia menawarkan senjata dengan cuma-cuma.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page