top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Islamisasi di Tanah Ternate

    Kejayaan Ternate sebagai salah satu bandar niaga terkemuka di wilayah Timur Nusantara telah membawa perubahan besar bagi sebagian rakyatnya. Di bawah pimpinan Sida Arif Malamo (1322-1331), Ternate menjadi pintu masuk utama perniagaan Maluku, mengungguli saudaranya, Tidore. Para pedagang dari Cina, Arab, dan Gujarat pun berlomba menarik hati rakyat di daerah penghasil cengkih raja (cengkih kualitas terbaik) itu untuk menjalin hubungan dagang dengan negeri mereka. Di tengah aktivitas niaga tersebut, ajaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab mulai dikenal rakyat Ternate. Keinginan untuk memperdalamnya pun mulai dirasakan sebagian dari mereka, terutama yang sering bersinggungan dengan orang-orang Arab itu. Namun hingga pertengahan abad ke-15, proses Islamisasi di sana belum sepenuhnya dapat diterima rakyat Ternate. Tidak adanya dukungan dari para penguasa membuat Islam sulit berkembang kala itu. Baca juga:  Berebut Rempah di Maluku Barulah pada masa pemerintahan Marhum (1431-1486), di akhir kekuasaannya, ajaran Islam mulai mendapat tempat dan diterima banyak penguasa Ternate. Perkembangannya saat itu cukup intens. Bahkan, menurut M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 , Marhum membawa Islam ke lingkungan terdalam istana. “Putra Marhum, Zainal Abidin, memperoleh didikan Islam sejak kanak-kanak hingga dewasa di bawah bimbingan juru dakwah terkenal, Datu Maulana Husein, yang dapat dianggap sebagai pembawa Islam ke Maluku, khususnya ke Ternate,” ungkap Adnan. Juru Dakwah dari Gresik Menurut Mundzirin Yusuf dalam Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Datu Maulana Husein berasal dari Minangkabau. Dia datang ke Ternate pada 1465 sebagai pedagang dan juru dakwah dari Gresik. Datu Maulana Husein berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan Marhum. Berkat itu, dia mampu menyebarkan ajaran Islam di lingkungan istana Ternate. “Dia pandai membaca Al-Qur’an dan suaranya amat merdu. Hampir setiap malam dia membaca kitab suci itu dengan tilawah yang baik dan menarik pribumi Ternate. Akibatnya, banyak pribumi Ternate datang ke rumahnya sekedar mendengar tilawah Al-Qur’an, dan jumlahnya semakin membengkak dari hari ke hari,” kata Adnan. Baca juga:  Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional dari Ternate Dengan cara tersebut Maulana Husein mampu menarik minat rakyat Ternate untuk mengenal Islam. Di antara mereka juga banyak yang meminta diajarkan cara membaca Al-Qur’an. Di kediamannya, Maulana Husein lalu membuka pengajian dan sekolah untuk mengajarkan ajaran Islam secara lebih dalam kepada siapapun yang ingin mempelajarinya. Masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi Maulana Husein untuk menjadi seorang muslim. Di lingkungan istana, setelah berhasil mengislamkan Marhum, Maulana Husein memberikan pengajaran Islam kepada seluruh keluarga istana dan pejabat istana. Dia mengajarkan tata cara shalat, membaca Al-Qur’an, dan ajaran Islam lainnya. Raja juga memerintahkan semua orang untuk memeluk Islam. Menurut Adnan, Marhum menjadi raja pertama Ternate yang dimakamkan secara Islam. Murid Sunan Giri Zainal Abidin meneruskan takhta Ternate setelah ayahnya, Marhum, wafat pada 1486. Dia ditetapkan sebagai sultan pertama negeri tersebut. Di bawah pemerintahannya, Islam menjadi agama resmi kerajaan Ternate. Zainal Abidin melakukan perubahan-perubahan besar di Ternate, di antaranya: gelar Kolano yang digunakan raja berubah menjadi Sultan; Ternate secara resmi menjadi kesultanan; mempertegas kedudukan agama Islam di pemerintahan; dan membentuk Lembaga Jolebe yang bertugas membantu tugas harian Sultan di bidang agama (jolebe berjubah putih) dan pemerintahan (jolebe berjubah hitam). “Perubahan struktur dan kelembagaan Kesultanan Ternate telah membawa pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku. Kerajaan-kerajaan seperti Tidore dan Bacan, akhirnya juga terpengaruh dan menerapkan struktur dan kelembagaan kerajaannya mengikuti struktur dan kelembagaan baru yang diintroduksi Ternate,” tulis Adnan. Baca juga:  Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis Dasar pendidikan agama yang diperoleh Zainal Abidin selain berasal dari gurunya, Datu Maulana Husein, juga berasal dari salah seorang Wali Songo, yakni Sunan Giri. Pada 1495, dengan didampingi Maulana Husein, Zainal pergi ke Gresik untuk memperdalam Islam di madrasah milik Sunan Giri. Menjadi murid seorang Wali Songo memang menjadi cita-cita Zainal Abidin sejak remaja. Berkat cerita yang selalu disampaikan gurunya, dia selalu membayangkan sosok para penyebar ajaran Islam di tanah Jawa tersebut. Zanal Abidin menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari seorang Wali Songo. Di sekolah teman-temannya memberi nama kecil untuk Zainal Abidin, yakni Sultan Bualawa (Sultan Cengkih). Dikisahkan H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , Zainal Abidin dikenal handal dalam berpedang. Pernah suatu hari, dia bertemu seorang pemuda yang mengamuk dan hendak menyerang Sunan Giri. Dengan sigap, Zainal Abidin mencabut pedangnya dan dengan satu tebasan membelah kepala orang tersebut. De Graaf juga menyebut ada kisah yang menyebut keahilan berpedangnya dapat membelah sebuah batu karang. Baca juga:  Pengabdi VOC dari Ternate Selama di Giri, Zainal Abidin menjalin hubungan baik dengan penguasa dan orang-orang berpengaruh lainnya. Ketika hendak pulang ke tanah airnya, dia mengajak sejumlah ahli agama ke Ternate untuk mengajarkan agama dan budaya Islam. Satu yang cukup terkenal di antara mereka adalah Tuhubahahul. Para ulama tersebut diberi tugas sebagai guru agama, mubaligh, dan imam di Kesultanan Ternate. Pada 1500, Zainal Abidin wafat. Dia digantikan oleh Bayanullah, yang di kalangan orang Barat dikenal dengan nama Sultan Boleif atau Abu Lais. Pada masa pemerintahannya, aturan-aturan yang bertujuan memantapkan syairat Islam di segala segi kehidupan masyarakat Ternate dibuat. Dan para pelanggar aturan tersebut akan diganjar hukum berat. Baca juga:  Islamisasi Minangkabau Beberapa peraturan yang dibuat Bayanullah, di antaranya: pembatasan poligami, larangan pergundikan, pemangkasan biaya pernikahan yang berlebihan, dan peraturan berpakaian bagi perempuan. Peraturan lain yang dikeluarkan untuk mempertegas kedudukan Islam adalah kewajiban memeluk agama Islam bagi semua rakyat Ternate. “Setelah Zainal Abidin, Bayanullah dapat dipandang sebagai tokoh paling berjasa dalam penyebaran agama Islam, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate. Di samping itu, Bayanullah merupakan sultan yang paling signifikan jasanya dalam implementasi prinsip-prinsip Islam ke dalam struktur dan lembaga-lembaga Kesultanan Ternate. Dia juga sukses mengeluarkan rakyatnya dari politeisme ke moniteisme Islam,” ungkap Adnan.

  • Ketika Presiden Soeharto Dijahili Pangeran Kamboja

    Presiden Soeharto pernah kecele di negeri orang. Sewaktu kunjungan kenegaraan ke Kamboja, panitia penyambutan salah putar lagu. Niatnya ingin memberikan kesan seperti di rumah sendiri. Tapi siapa sangka, berkumandanglah lagu “Gendjer-Gendjer” mengiringi kedatangan rombongan Soeharto. Lagu itu terlarang karena lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibasmi oleh rezim Soeharto.

  • Harun Kabir, Penyelamat Keluarga Bung Karno

    SUATU senja di bulan September 1945. Hetty Kabir masih ingat beberapa mobil berhenti depan rumahnya di Jalan Ciwaringin No. 33 Bogor. Dari salah satu kendaraan tersebut, keluarlah Achmad Subardjo, Chaerudin Achyar, Presiden Sukarno beserta keluarganya (Fatmawati, Guntur Sukarnoputra, mertua Bung Karno: Hasan Din dan Siti Chadijah). Sebagai tuan rumah, sang ayah Harun Kabir menyambut hangat para tamu penting itu. Tak perlu waktu lama, dari perbincangan singkat antara Bung Karno dengan ayahnya, putri kedua Harun Kabir itu langsung paham bahwa sang presiden akan menitipkan Guntur (putra mereka yang belum berusia 1 tahun), Hasan Din dan Siti Chadijah di rumahnya selama waktu yang tak bisa ditentukan. “Mereka bertiga akan tinggal  bersama kami karena saat itu situasi Jakarta sangat tidak aman,” kenang almarhum Hetty Kabir dalam suatu wawancara yang dilakukan pada 2016. Cerita Hetty itu terkonfirmasi dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I , karya Fatmawati. Istri Sukarno kelahiran Bengkulu itu membenarkan jika keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Istana Bogor yang sudah dikuasai oleh para pemuda. Kepindahan tersebut terjadi karena di Jakarta teror tentara NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan H.J. van Mook) mulai merajalela. Namun ketika di Istana Bogor pun, Fatmawati merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan “situasi revolusiener” di sekitar istana yang banyak melibatkan para jago dan pemuda-pemuda setempat. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor, bersama keluarga Harun Kabir,” ungkap Fatmawati. Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Pemerintah Jawa Barat mengakui sosok Harun Kabir sebagai tokoh pejuang di era revolusi. Namanya bahkan tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir). Namun sejatinya Harun Kabir bukanlah berasal dari Bogor, Cianjur atau Sukabumi, seperti banyak diyakini oleh beberapa peneliti sejarah di Jawa Barat. Aslinya dia adalah menak Bandung dan putra tunggal dari Raden Kabir Natakusumah, keturunan langsung dari Bupati Bandung ke-5 Raden Wiranatakusumah I (1769-1794). “Ayah saya lahir di Kapatihan pada 5 Desember 1910,” ungkap almarhum Hetty Kabir (putri ke-2 pasangan Harun Kabir dan R.A. Soekrati). Menjelang pemerintah Hindia Belanda runtuh, Harun Kabir menjabat sebagai Asisten Residen Bogor. Ketika militer Jepang berkuasa (1942—1945), dia ditempatkan sebagai pejabat di Zaimubu  (Departemen Keuangan), Jakarta. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Harun lantas mendirikan Lasykar 33 yang memakai rumahnya sebagai markas besar.  “Saya ingat beliau sempat menjadi komandan saya di Lasykar 33,” ungkap Sukarna, veteran pejuang kemerdekaan kelahiran 1921. Pada awal 1946, Lasykar 33 dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Dinas Sejarah Kodam III, beberapa bulan kemudian, Divisi Siliwangi mendapuk Harun Kabir sebagai Kepala Staf Brigade Surjakantjana, dengan pangkat mayor. Namun kemudian karena ada pembenahan struktur dari Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta, semua pangkat perwira diturunkan menjadi satu tingkat. Harun pun turun pangkat menjadi kapten. Sebagai kepala staf brigade yang membawahi Bogor, Cianjur dan Sukabumi, mobilitas Kapten Harun begitu tinggi. Kendati awalnya dari dunia sipil, Kapten Harun dikenal sebagai sosok perwira yang sangat disiplin dan loyal kepada Republik. “Harun Kabir adalah perwira yang sangat cakap,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, eks Komandan Brigade Surjakantjana Divisi Siliwangi (1946-1947). Kesaksian soal itu terlontar pula dari mulut Hetty Kabir. Dia masih ingat bagaimana sang ayah sering jarang pulang ke rumah karena selain sibuk bertugas juga menghindari pengawasan intelijen militer Belanda. “Ayah memang menjadi incaran tentara Belanda. Begitu kritisnya situasi itu, hingga kami harus diungsikan ke rumah kerabat di Garut ” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. November 1947, Harun Kabir dan keluarga menyingkir ke wilayah selatan Cianjur. Mereka kemudian diamankan di sebuah bukit yang merupakan ladang huma. Bukit Cioray namanya. Karena pengkhianatan orang terdekatnya, persembunyian Harun Kabir lantas terendus oleh pasukan khusus Belanda. Tanpa memberikan kesempatan untuk diadili. Harun Kabir beserta dua pengawalnya kemudian dihukum mati di depan istri dan ketiga putrinya.*

  • Riwayat Pertapaan di Lereng Gunung Ungaran

    HUTAN pinus, hawa sejuk, udara yang bersih, jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan yang ruwet. Di kawasan semacam itulah Kompleks Candi Gedongsongo berada. Secara berkelompok candi-candi dibangun di atas bukit dan mengikuti kontur lereng Gunung Ungaran. Jika hari cerah, Gunung Telomoyo, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro terlihat di kejauhan. Kompleks Candi Gedongsongo terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, dan Desa Jubelan, Kecamatan Sumowono, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat, yang dapat diartikan sebagai rumah ( gedong ) yang berjumlah sembilan ( songo ). Keberadaan candi-candi ini diungkapkan kali pertama oleh Joan Gideon Loten, pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), pada 1740. Th. Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java  mencatat kompleks tersebut dengan nama “Gedong Pitoe” karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Penelitian yang dilakukan para arkeolog Belanda awal abad ke-20 menemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo. Saat ini hanya lima kelompok candi yang masih utuh. Letaknya berpencar. Dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah sampai Candi Gedong V yang tertinggi. Semua kelompok candi didirikan di puncak-puncak bukit yang berbeda. Keberadaannya dibagi menjadi dua oleh ngarai sedalam 50 m. Di sanalah mengalir mata air panas belerang. Gedong I, II dan III terletak di sisi timur ngarai. Sementara kelompok candi lainnya berada di sebelah baratnya. Candi-candi Gedongsongo ini bersifat Hindu-Siwa. Sebuah yoni masih ditemukan di ruangan Candi Gedong I. Yoni melambangkan Dewi Uma atau Parwati yang merupakan pasangan dari Dewa Siwa. Arca Durga Mahisasuramardini juga masih bisa dilihat di relung utara candi. Ada pula arca Ganesa di relung sebelah timur dan Agastya di relung selatan Candi Gedong III. Kendati tak ada prasasti yang menyebutkan masa pembangunan candi, berdasarkan ciri-ciri arsitekturnya, Candi Gedongsongo mempunyai Gaya Klasik Tua atau disebut pula Gaya Mataram Kuno. “Candi Gedongsongo diperkirakan dibangun pada abad ke-8, sedikit lebih muda dari Candi Dieng, yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno,” sebut Edi Sedyawati dkk dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Tempat Bagi Para Pertapa Arkeolog Veronique Myriam Yvonne Degroot dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains” berpendapat, ada alasan kuat untuk bilang bahwa Candi Gedongsongo, dan juga Candi Dieng, tidak berdiri di tengah permukiman. Areanya begitu luas. Wilayahnya berada di ketinggian yang tak cocok untuk budidaya padi basah. Sudah begitu letaknya terpencil. Degroot menyimpulkan, lingkungan di sekitar Gedongsongo lebih cocok sebagai tempat semedi bagi para pertapa dan atau tempat ziarah. Lydia Kieven, arkeolog asal Jerman, dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit menulis keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. “Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapaan guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. Degroot punya alasan lain kenapa Gedongsongo layak sebagai tempat semedi. Dia mencermati ada beberapa tahapan pembangunan percandian ini. Berdasarkan orientasi, denah, dan dimensinya, Candi Gedongsongo III, IV, dan VI adalah yang paling awal dibangun. Sementara Gedongsongo I dibangun pada masa berikutnya. “Gedongsongo II dalam hal ini tidak pasti. Secara denah dan dimensi jelas berbeda dari Gedongsongo I, tetapi tidak serupa pula dengan Gedongsongo III, IV dan VI,” jelas Degroot. Tak ada pola yang jelas dalam perencanaan pendirian kompleks percandian ini. Hubungan antarbangunan tampak longgar atau, paling banter, tidak terencana. Sangat mungkin tempat-tempat ini berkembang secara organik dari inti bangunan asli, berbeda dari kompleks candi yang berpola konsentris seperti Kompleks Candi Prambanan yang seluruhnya direncanakan sejak awal. Selain itu, candi-candi Gedongsongo memiliki masa huni yang sangat lama. “Sebuah prasasti abad ke-14 lebih jauh memberi kesaksian bahwa Gedongsongo masih digunakan kala itu,” kata Degroot. Penanaman pohon di area Candi Gedongsongo lewat program Candi Darling. (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Rawan Longsor Suasana hening di lereng gunung memang mendukung pelaksanaan ritual yang sempurna.Namunsayangnya, karakteristik kawasan Gedongsongo merupakan ekosistem Gunungapi Ungaran yang punya permasalahan, yaitu rawan longsor. Bencana ini juga mengancam bagi keberadaan candi-candi di sana. Menurut Asmara Dewi Balai, peneliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dalam “Implementasi Manajemen Risiko dalam Konservasi Kawasan Cagar Budaya (Studi Kasus Kawasan Candi Gedongsongo)” dimuat Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur Vol. 9 No. 2, Desember 2015, selain rawan longsor, kawasan ini rentan oleh perubahan status hutan produksi menjadi hutan wisata dan pertanian yang tak sesuai kemampuan lahan. Sayuran wortel, kol, rumput gajah merupakan tanaman musiman di sana. “Pemanfaatan pertanian musiman oleh warga setempat yang sebenarnya tidak dibolehkan karena tidak sesuai karakteristik lingkungannya,” lanjut Asmara. “Perlu penyesuaian jenis tanaman dengan memperhatikan teknik penanaman dan jenis tanah.” Deddy Erfandi, peneliti Badan Litbang Pertanian pada Balai Penelitian Tanah, dalam “Sistem Vegetasi dalam Penanganan Lahan Rawan Longsor pada Areal Pertanian”, dimuat pada Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan , menjabarkan soal penanganan longsor melalui pengelolaan vegetasi. Tanaman keras yang dijadikan sebagai pagar pada pertanaman semusim bisa menghambat aliran permukaan dan erosi. Perakarannya juga bisa menjadi pengikat struktur tanah. Upaya pelestarian kawasan Kompleks Candi Gedongsongo pernah dilakukan oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan). Lewat program Candi Sadar Lingkungan (Candi Darling),mereka menanami areal Candi Gedong I dengan bambu jepang, hujan mas, pucuk merah, tabebuia rosea , pinus, cemara, puspa, serta akar wangi. Lalu di kawasan Candi Gedong IV ditanami pinus, cemara, puspa, dan akar wangi. Euthalia Hanggari Sittadewi, peneliti Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana (PTRRB), dalam “Peran Vegetasi dalam Aplikasi Soil Bioeningeering ” di Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 12 No. 2, Desember 2017,mencatat lereng yang tertutupi vegetasi seperti rumput dan bambu membuat lapisan tanah paling atasnya terlindungi. “Untuk kasus tertentu, di mana lereng sangat curam sulit ditanami tanaman besar, maka untuk menstabilkan lereng masih dapat dilakukan dengan penanaman tanaman perdu atau semak kecil,” katanya. Menurutnya, tanaman akar wangi atau rumput vertiver merupakan salah satu yang dapat mengendalikan erosi. Akar wangi mempunyai sistem penetrasi akar yang dalam dan kemampuan mengikat tanah yang baik dan dapat hidup pada berbagai jenis tanah. Dengan begitu apa yang dilakukan gerakan Candi Darling di Gedong Songo kala itu diharapkan bisa mengedukasi, khususnya kepada generasi muda, untuk bisa ikut merawat dan menjaga lingkungan. Salah satunya dengan menghijaukan situs-situs bersejarah warisan leluhur. Gerakan ini telah mengajak 250 mahasiswa ikut serta merawat Kawasan Gedong Songo. Mereka berasal dari 54 universitas di Indonesia, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, dan Universitas Negeri Semarang. Bagaimanapun, seperti misalnya diCandi Gedongsongo, situs bersejarah dan lingkungan sekitarnya merupakan kesatuan yang tak terpisah. Bukan hanya candi yang harus dijaga. Kawasannya juga mesti dipelihara. Program penghijauan kawasan candi, karenanya, patut dilanggengkan.Tentunya demi mencegah suasana yang dulu dibangun para pembuat candi-candi Gedongsongo itu sirna.

  • Operasi CIA di Indonesia dari Masa ke Masa

    CENTRAL Intelligent Agency (CIA) telah lama beroperasi di Indonesia. Berbagai peristiwa, mulai dari pemilihan umum pertama tahun 1955 hingga Peristiwa 1965 yang diikut penggulingan pemerintahan Presiden Sukarno, diduga turut melibatkan agen intelijen rahasia Amerika Serikat ini. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam Dialog Sejarah “Spionase CIA dari Masa ke Masa” di saluran Youtube dan Facebook Historia, Kamis, 10 Desember 2020, menjelaskan bahwa embrio CIA bermula dari Office of Strategic Services (OSS), yang dibentuk pada 1942 untuk mengumpulkan informasi-informasi dari Uni Soviet. Namun, tampaknya hampir semua operasi OSS gagal. Bahkan, OSS sendiri malah diinfiltrasi oleh agen Inggris dan Soviet. OSS kemudian beralih target dari Uni Soviet ke negara-negara yang dianggap dekat dengan Soviet maupun negara-negara yang berideologi atau condong ke komunisme dan sosialisme. Setelah OSS dirombak beberapa kali, pada 1947 Amerika Serikat membentuk CIA.

  • Angin Muson, Mesin Perkembangan Budaya

    Angin muson memungkinkan budaya dan pengetahuan berpindah tempat. Tanpa angin ini pertukaran budaya dan perdagangan maritim di Nusantara sulit terjadi. “Mesin dari perkembangan budaya itu sebetulnya angin muson,” kata Iwan Pranoto, profesor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, dalam diskusi daring Jaya Suprana Show, berjudul “Mengintip Matematika Sriwijaya-Nalanda”, Selasa (8/12/2020). Secara geografis, wilayah Asia Tenggara merupakan kawasan strategis. Letaknya di pertemuan dua lautan, Samudra Indonesia dan Pasifik. Wilayahnya berada di tengah rute pelayaran India dan Tiongkok. Faktor ini membuat perannya penting dalam sejarah hubungan perdagangan maritim antara Tiongkok dan India. “Kalau Tiongkok menggunakan narasi jalur sutra, kemudian Indonesia menawarkan jalur rempah, yang fundamental sebenarnya angin muson itu,” lanjut Iwan. Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan Universitas Diponegoro,menjelaskan soal angin muson dalam tulisannya, “Peran Masyarakat Nusantara dalam Konstruksi Kawasan Asia Tenggara sebagai Poros Maritim Dunia pada Periode Pramodern” yang terbit di Jurnal Sejarah Citra Lekha , Vol. 5, No. 1, April 2020. Menurut Singgih, angin muson memungkinkan orang-orang yang menghuni wilayah itu mengambil bagian penting dari pelayaran dan perdagangan maritim internasional. Perubahan arah angin muson sangat bisa diprediksi. Perubahan arahnya terjadi secara periodik dalam setiap tahun. Karenanya, perubahan angin muson dijadikan patokan para petani dalam menanam produk pertanian dan perkebunan. Pun oleh para pelaut dalam pelayaran, perdagangan maritim, dankepentingan migrasi. Selama musim kemarau, sekira April sampai Oktober, angin muson bergerak dari timur dan tenggara menuju ke barat. Kecepatan tertinggi terjadi pada Agustus. Di bagian selatan Asia Tenggara atau di tengah kepulauan Indonesia, khususnya di kawasan Laut Jawa, transisi dari musim hujan (muson barat) ke musim kemarau (muson timur) dimulai lebih awal , yaitu pada Maret dan April. Selama pancaroba ini arah angin sering berubah-ubah. Lalu pada Oktober, arah angin mulai berubah hingga November. Pada Desember, angin barat mulai bergerak ke arah yang konstan. Kecepatan tertingginya terjadi pada Januari dan Februari. Dalam pelayaran dan perdagangan maritim pergerakan angin muson sangat menentukan. “Aktivitas pelayaran dan perdagangan secara reguler diuntungkan dari perubahan periodik yang disebabkan oleh angin muson ini,” tulis Singgih. Bertukar Ilmu dan Budaya Lokasi geografis Asia Tenggara yang sangat strategis, tak cuma berkaitan dengan ekonomi, tapi juga politik dan budaya. “Posisi geografis yang strategis ini telah menempatkan Asia Tenggara sebagai pintu masuk vital dalam hubungan kuno pusat ekonomi, politik dan budaya antara India dan Cina,” catat Singgih. Misalnya, jalur perdagangan yang mengikutsertakan Selat Malaka dan Samudera Hindia seringkali dihubungkan dengan kemunculan kekuatan politik Melayu dan Sriwijaya. Sebagaimana pendapat sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, pelayaran yang berdasarkan angin musim inilah yang mengakibatkan lahirnya bandar-bandar perdagangan. Posisi Swarnadwipa (Sumatra) pada era Sriwijaya berjaya, sekira abad ke-7 sampai ke-12, merupakan titik yang strategis dalam pelayaran dunia. Titik temu antarnegara inilah kemudian yang membuat Sumatra menjadi tempat singgah para pelayar dari berbagai negara. Para pelayar yang melakukan perjalanan dengan rute Tiongkok-India biasanya akan singgah di Sumatra. Minimal mereka menghabiskan waktu setengah tahun. Mereka mengikuti musim angin yang berganti enam bulan sekali. Angin ini pula yang membawa I-Tsing atau Yi Jing mampir tiga kali ke wilayah yang dia sebut Laut Selatan. I-Tsing merupakan biksu asal Tiongkok dari masa Dinasti Tang yang melakukan perjalanan ziarah ke India. I-Tsing mendarat pertama kali di Fo-shi (Sriwijaya) pada 672 setelah berlayar 20 hari dari Guangzhou. Kedua kalinya dia ke Melayu yang sudah menjadi bagian dari Sriwijaya , setelah belajar sepuluh tahun (675-685) di Nalanda. Ketiga kalinya, dia kembali ke Sriwijaya dan tinggal selama lima tahun (akhir 689-695) setelah tanpa sengaja terbawa kapal ke Tiongkok pada 689. “I-Tsing itu terdampar berhenti karena badai.Pada 672 tujuan utamanya nggak ke Nalanda, nggak berencana singgah dulu ke Melayu,” jelas Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam dialog sejarah “Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi” live di kanal Youtube dan FacebookHistoria.id . Demikian halnya dengan kedatangan Atisha Dipankara Sri Jnana ke Swarnadwipa pada 1012-1024. Dia merupakan guru Buddha dari Kekaisaran Pala yang melakukan perjalanan ke Swarnadwipa dengan menumpang kapal pedagang. Tujuan Atisha adalah menerima ajaran langsung dari Sherlingpa Darmakirti, guru Buddhis dari Swarnadwipa yang tersohor pada masa itu. Melihat masanya, kata Junus Satrio Atmodjo, arkeolog yang kini menjadi bagian dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB), abad ke-11 adalah era ketika perdagangan maritim Nusantara, khususnya Sumatra, begitu ramai. “Kalau lihat banyaknya temuan keramik Tiongkok, dari Dinasti Sung, perdagangan saat itu lagi seru-serunya,” kata Junus. Karenanya dengan kembali mengutip Iwan Pranoto, embusan angin muson membuat hubungan antarkawasan menjadi cukup mudah. Khususnya dalam hal pertukaran barang, ilmu, dan budaya.

  • Henriëtte Sang Induk Ayam Belanda yang Tua

    Pada awal 1927, ketika Partai Nasional Indonesia (PNI) hendak lahir, Sukarno mendapat kiriman buku dari kawannya Samuel Koperberg. Meski baru membuka-buka halamannya, Sukarno sudah terkesan dengan buku De held en de schare  (Pahlawan dan Kawanan) karya Henriëtte Roland Holst itu. “Dan sekarang saya punya kesan bahwa ini buku yang bagus, ditulis oleh seseorang penuh semangat revolusioner seperti H. Roland Holst. Gairah ini sudah menyenangkan si pembaca; komunis atau sosialis, revolusioner atau konservatif. Iya kan?/bukan begitu?” tulis Sukarno dalam suratnya kepada Koperberg, 28 April 1927. Sukarno kelak membaca buku-buku lain Henriëtte seperti Kapitaal En Arbeid In Nederland  yang kini koleksinya tersimpan di Museum Kepresidenan Balai Kirti. Nama Henriëtte kemudian juga kerap disebut Sukarno seperti dalam Indonesia Menggugat  dan Sarinah . Sementara, para tokoh Perhimpunan Indonesia (PI) seperti Mohammad Hatta dan Ali Sastroamijoyo juga punya ikatan sendiri dengan Henriëtte. Politikus Militan Henriëtte Roland Holst lahir pada 24 Desember 1869 di Noordwijk, Belanda dengan nama Henriëtte Goverdina Anna van der Schalk. Ia adalah seorang sosialis militan sekaligus penyair dan penulis terkemuka pada paruh pertama abad ke-20. Pemikiran Henriëtte banyak dipengaruhi oleh Karl Marx melalui Das Kapital . Pada 1897 ia bergabung dengan Sociaal Democratische Arbeiders Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda). Henriete menjadi salah satu propagandis utama partai. Tak hanya aktif di Belanda, Henriëtte  juga malang melintang di kancah politik internasional. Ia bersahabat dengan Rosa Luxemburg dan Leo Trotsky, dua revolusioner yang kemudian dia tulis biografinya. Henriëtte  menerbitkan karya monumentalnya Kapitaal en Arbeid In Nederland (Capital and Labour) pada 1902. Meski sempat menarik diri dari politik sejak 1912, ia kembali aktif karena menentang Perang Dunia I. Henriëtte  juga ambil bagian dalam Konferensi Zimmerwald di Swiss pada 1915, tempat pertemuan sosialis internasional pertama digelar untuk menyerukan perdamaian dunia. Pada 1918, Henriëtte bergabung dengan Partai Komunis Belanda. Ia mengunjungi Russia pada 1921 dan menghadiri kongres Komunis Internasional. Namun, sejak itu ia justru mencatat kekecewaan terhadap situasi di Russia. “Sejak tahun 1918 dia memainkan peran utama dalam gerakan komunis Belanda, tetapi pada tahun 1927 dia keluar dari partai tersebut untuk mendukung sosialisme yang berwarna religius,” tulis Jaqueline Bel dalam Women’s Writing from the Low Countries 1880-2010 An Anthology. Dari Belanda, Henriëtte menaruh perhatian pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan dekat dengan para mahasiswa PI. Moh. Hatta adalah salah satu anggota PI yang cukup mengenal perempuan yang kerap disapa Tante Yet itu. Keduanya sering bertemu dalam perdebatan yang membahas kolonialisme di Indonesia. Hubungan mereka masih terjalin ketika Hatta kembali ke Indonesia dan diasingkan ke Banda Neira. Dalam suratnya kepada Johannes Eduard Post, Hatta bahkan meminta bantuan Eduard Post untuk mendapatkan buku Das Kapital jilid II dari Henriëtte. “Apakah ibu Holst bisa membantu dalam hal ini. Dia kenal seluruh karya Marx dan tidak butuh Marx lagi untuk perkerjaan dia. Buat perkerjaan teoretis saya, saya membutuhkannya,” tulis Hatta kepada Eduard Post, 8 September 1939. Ali Sastroamijoyo juga punya kesan sendiri terhadap Henriëtte. Dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali bercerita sering mendapat buku dari Henriëtte dan sering mendengar pidato-pidatonya dalam berbagai pertemuan di Belanda. “Terkenal sebagai seorang sosialis berhaluan kiri, meskipun sosialismenya berdasarkan keagamaan . Sudahsejak kamidipenjara dia menaruh simpati pada pergerakan kita. Sering saya menerima buku dari dia yang berguna sekali untuk mengisi waktu saya di sel,”tulis Ali . Ali mengenang Henriëtte sebagai seorang singa podium. Ketika berpidato di depan kaum buruh, misalnya, Henriëtte selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Ali terkesan dengan ini mengingat Henriëtte adalah seorang penyair. Penyair Sosialis Soal kepenyairan, sastrawan M.R. Dayoh punya pengalaman sendiri tentang Henriëtte. Ketika menjadi guru di Malang, ia membuat puisi-puisi bertema kelaparan dan kemelaratan. Malangnya, karena puisi-puisnya ia dimutasi dari Christelijke Kweekschool ke Ambonse School. Namun puisinya terus disebarkan di kalangan pegawai Pangreh Praja hingga sampai kepada Domine Jensen, seorang kepala gereja dan pecinta sastra. Jansen memuji puisi Dayoh yang menggunakan bahasa Belandaitu dan menyarankan Dayoh untuk menghubungi Henriëtte  agar mendapat bimbingan. Dayohpun kemudian bersurat kepada Henriëtte dan ternyata mendapat sambutan baik. “Permintaan Dayoh itu diterimanya dan Dayoh menganggap Henriëtte Roland Holst sebagai ‘ibu angkatnya’ dengan sebutan ‘Induk Ayam Belanda yang Tua’," tulis Anita K. Rustapa dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia, 1920-1950. Sejak itu, Dayoh makin dekat dengan Henriëtte melalui surat-menyurat. Dayoh kemudian mendapat hadiah buku-buku karangan Henriëtte seperti Het Eeuwige voor dan Tussen Tijd en Euwigheid. Menilik karya-karya Henriëtte, Jacqueline Bel menyebut jejak kepenyairan Henriëtte tak lepas dari pandangan politiknya. Tentu saja sosialisme menjadi topik utamanya. “Koleksinya dapat dibaca dengan sempurna sebagai produk sastra otonom, tetapi juga mencerminkan perkembangan politiknya. Dalam De Nieuwe Geboort (The New Birth), koleksi keduanya dari tahun 1902, misalnya, ia menggambarkan pelukannya terhadap sosialisme dalam puisi-puisi yang penuh harapan akan masa depan,” tulis Jacqueline Bel. Sajak-sajak Henriëtte ternyata telah menembus belantara hutan Digul, Papua, tempat para perintis kemerdekaan dibuang sejak 1926. Sajak Henriëtte muncul ketika Aliarcham meninggal. Pada sebuah papan tulis hitam, sajak Henriëtte dibubuhkan, menemani kepergian salah satu pemimpin komunis itu. Sebait sajak Henriëtte juga ditemukan dalam buku catatan di saku celana Subianto, adik ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang menjadi salah satu prajurit yang gugur dalam Pertempuran Lengkong, Tangerang (1946). Selain puisi dan naskah drama, Henriëtte menulis biografi tokoh-tokoh seperti Jean-Jacques Rousseau (1912), Leo Tolstoy (1930), Romain Rolland (1946), dan Mahatma Gandhi (1947). Selama Perang Dunia II, Henriëtte aktif dalam perlawanan terhadap Nazi terutama melalui puisi-puisinya. Henriëtte alias Tan Yet, “ Sang Induk Ayam Belanda yang Tua” itu meninggal pada 21 November 1952 di Amsterdam.

  • Serangan Udara Amerika yang Tergesa-gesa

    Kemarin, 4 Desember, 37 tahun silam, ada yang tak biasa di langit Bikfaya, 15 mil timur Beirut, Lebanon pada pagi. Dari rumahnya, Joe Cherabie melihat langit lebih terang dan berisik dari biasanya. Situasi mencekam. “Langit penuh dengan asap bola api dan tembakan anti-pesawat. Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan,” ujarnya sebagaimana dimuat The New York   Times , 5 Desember 1983.  Apa yang dilihat Joe merupakan pertempuran udara antara pesawat-pesawat AL Amerika Serikat (AS) melawan senjata-senjata anti-pesawat yang ditembakkan milisi-milisi Muslim yang didukung militer Syria. Pertempuran dibuka oleh AS sebagai pembalasan atas serangan bom terhadap barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut pada 23 Oktober 1983.  Kebaradaan pasukan AS di wilayah itu –sejak Agustus 1982– sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pasukan perdamaian itu dibentuk pada 19 Maret 1978 untuk memastikan penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon sehingga bisa memulihkan perdamaian. Lima hari sebelumnya, 14 Maret, militer Israel menginvasi Lebanon Selatan dengan alasan untuk memulihkan keamanan akibat seringnya dijadikan sasaran serangan oleh PLO. Sejak akhir 1960-an, militer Israel dan milisi PLO saling serang di Lebanon Selatan. Intensitas konflik meningkat setelah Israel memutuskan mendukung milisi Katolik Maronite dan milisi Kristen lain untuk merebut kekuasaan di Lebanon Selatan. Dengan dukungan itu Israel berharap dapat mengusir PLO dan mengeliminasi pengaruh Syria agar dapat mendudukkan Bachir Gemayel, pemimpin milisi Kristen, ke kursi penguasa Lebanon. Dengan begitu, Lebanon pro-Israel akan terbentuk. Namun, PLO yang disokong Syria –sekutu Uni Soviet– di samping Hezbollah dan milisi Islam lain tak pernah menghentikan perlawanan. Perang saudara di Lebanon pun berjalan mengerikan dengan banyak korban sipil. Bahkan milisi Druze, Syiah, dan Amal sepakat bahwa Amerika harus pergi dari wilayah konflik. Pasukan perdamaian PBB pun tak dapat berfungsi efektif. Banyak personil pasukan perdamaian malah jadi korban serangan baik dari kubu pasukan Israel maupun lawannya. Pada pagi 23 Oktober 1983, bom yang diangkut truk milisi Muslim Lebanon menghancurkan barak Marinir AS di Bandara Internasional Beirut. “Bom tersebut, menghasilkan kawah sedalam delapan kaki di lantai beton bertulang, menewaskan 220 Marinir dan 21 personil medis AL dan puluhan personil lain yang ditugaskan sebagai pasukan pendarat,” tulis Robert W. Love dalam History of the US Navy: 1942-1991 . Serangan terhadap pasukan AS berhenti sampai situ saja. “Sepanjang November, posisi Marinir AS di Bandara Internasional Beirut menjadi sasaran serangan penembak jitu serta serangan mortir, artileri, dan roket,” tulis David Locke Hall dalam The Reagan Wars: A Constitutional Perspective on War Powers and The Presidency . Meski begitu, militer AS tetap memilih bertahan. Berbeda dari militer Prancis yang sampai mengusulkan kepada AS untuk membentuk pasukan gabungan guna menyerang barak Baalbek, AS hanya memindahkan sebagian pasukannya ke kapal-kapalnya yang berlabuh di lepas pantai Beirut. Saat opsi serangan udara balasan sudah dikeluarkan Presiden Ronald Reagan pun, militer AS tetap berupaya menentangnya. Gabungan Kepala Staf maupun sejumlah jenderal lapangan, terutama panglima Marinir Jenderal Kelly yang khawatir pasukannya akan jadi sasaran lebih jauh, beranggapan bahwa serangan balasan hanya akan membuat pasukan AS di Lebanon dijadikan sasaran lebih jauh. Opsi pembalasan Reagan dikeluarkan setelah sebuah pesawat F-14 AL AS yang melakukan pengintaian rutin di atas Lebanon hampir dimangsa tembakan anti-pesawat dan rudal SA-7 milik Syria. Meski sempat ditentang sejumlah jenderalnya, opsi itu akhirnya dilanjutkan. Skema serangan udara itu pun dibuat dengan tergesa-gesa. “Diberitahu sebelumnya bahwa perintah serangan mungkin akan turun setiap saat, komandan udara angkatan laut di tempat kejadian, Laksamana Muda Jerry Tuttle, di atas kapal induk USSIndependence memulai perencanaan serangan menggunakan pesawat baik dari Independence maupun USSJohnF. Kennedy dengan target waktu maksimal pukul 11.00 waktu setempat keesokan paginya,” tulis Benjamin S. Lambeth dalam The Transformation of American Air Power . Sempat diinterupsi oleh European Command AS –bermarkas di Stuttgart, Jerman Barat– agar misi serangan udara dimulai pada pukul 06.30 pagi, serangan udara AS akhirnya dijalankan berdasarkan skema yang dibuat Tuttle dan Deputy Chief of Naval Operation Laksamana Madya James Lyons namun dengan waktu yang dimajukan. Menjelang pukul 8.00 waktu setempat, 28 pesawat –terdiri dari A-6 Intruder  dan A-7 Corsair – dari kapal induk USS Independence dan USS Kennedy berangkat menuju sasaran. Target mereka adalah situs radar Syria di dekat Beirut dan dua titik tempat dikerahkanya hampir 30 peluncur rudal mobil Syria. Sepanjang perjalanan menuju target, pesawat-pesawat mendapat beragam tembakan anti-pesawat dari darat. “Pesawat-pesawat AS melaporkan tembakan anti-pesawat dan peluncuran rudal SA-7 dan SA-9,” tulis David Locke. Tak satupun dari mereka yang tersentuh peluru lawan. Sebaliknya, pesawat-pesawat serbu AS itu berhasil mengebom situs pertahanan anti-serangan udara di Pegunungan Shuf dan Metu, timur-laut Beirut. Satu tempat penyimpanan amunisi, satu situs anti-pesawat, dan sebelas target lainnya juga berhasil dihancurkan. Yang terpenting, tulis Robert W. Love, “Serangan itu telah merusak situs radar dan melumpuhkan dua baterai rudal, tetapi Syria berhasil memperbaiki radar itu dan beroperasi dua hari kemudian.” Namun, dalam perjalanan kembali ke kapal induk, pesawat-pesawat itu mendapat serangan lebih hebat. Saksi mata Zouk Mikhael mengatakan bahwa sepasang pesawat AL AS yang hendak kembali usai menyelesaikan misi di pegunungan timur Beirut terus memuntahkan bola api ( flare ) agar membingungkan rudal-rudal pencari panas yang ditembakkan Syria. Perlawanan terhadap pesawat-pesawat AS juga disaksikan Joe Cherabie dari rumahnya di Bikfaya. “Saya bisa mendengar bom meledak di kejauhan. Mereka melakukan setidaknya dua kali melewati sasaran di belakang pegunungan. Ketika pesawat-pesawat itu kembali menuju laut, salah satunya terkena rudal, mulai berasap dan jatuh ke arah Beirut,” ujarnya sebagaimana dikutip The New York Times. Pesawat yang jatuh di dekat Pelabuhan Beirut itu merupakan pesawat A-7 Corsair yang dihantam rudal SA-7 saat hendak kembali ke USSIndependence . Pilotnya, Commander Edward T. Andrews, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar dan kemudian diselamatkan seorang nelayan sebelum dijemput helikopter AL yang membawanya ke Independence .   Pesawat AL kedua yang menjadi korban adalah A-6 Intruder kursi ganda yang berpangkalan di USS John F. Kennedy . Baik pilotnya, Letnan Mark Adam Lange, maupun navigatornya, Letnan Robert Goodman, berhasil keluar dari cockpit menggunakan kursi lontar saat pesawat mereka dihantam rudal. “Namun parasut Lange malfungsi dan dudukan kursi lontarnya mengamputasi kakinya ketika dia menyentuh tanah,” tulis Robert Love. Akibatnya, Lange kehabisan darah dan meninggal di tengah kepungan milisi lawan. Sementara, Goodman ditawan milisi tersebut dan dijadikan bahan propaganda oleh Syria di Lebanon. Goodman dibebaskan sebulan kemudian setelah kandidat presiden dari Demokrat Jesse Jackson berkunjung ke Lebanon dan menegosiasikan pembebasannya.

  • Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)

    SUDAH tujuh dasawarsa Formula One (F1) bergulir sejak ajang perdananya pada 1950. Sejak itu pula bermunculan regenerasi pembalap dari ayah ke anak yang meramaikan pentas balap mobil kasta teratas itu. Ada 13 pasang ayah-anak yang membalap di lintasan F1. Mick Schumacher jadi yang teranyar. Mick adalah putra Michael Schumacher, pemilik tujuh gelar dunia F1 (1991-2012). Rekor itu belum bisa dipecahkan pembalap manapun saat ini. Namun, tim Haas F1 memastikan perekrutan Mick pada musim 2021 bukan semata untuk jadi bayang-bayang sang ayah. “Mick memenangkan banyak balapan, mengoleksi raihan podium dan membuktikan punya bakat luar biasa pada 2020 (di Formula 2, red. ). Saya yakin dia pantas mendapatkan kesempatan balapan di Formula 1 berdasarkan performanya sendiri dan saya sangat menantikan kontribusi Mick di dalam maupun di luar trek,” ujar team principal Haas F1 Guenther Steiner di laman resmi tim , Selasa (1/12/2020). Dari ke-13 pasangan ayah dan anak di pentas F1, tak semuanya punya kiprah cemerlang baik si ayah maupun si anak. Empat pasang ayah-anak dengan karier tak moncer adalah Manfred (1980-1985) dan Markus Winkelhock (2011-2012), Jonathan 1983-1989) dan Jolyon Palmer (2016-2017), Satoru (1987-1991) dan Kazuki Nakajima (2007-2009), serta Jan (1995-1998) dan Kevin Magnussen (2014-2020). Sisanya, sembilan pasang ayah-anak, punya tinta emas dalam sejarah F1. Sebelumnya sudah diuraikan empat pasang ayah-anak pembalap F1 nan gemilang. Berikut empat lainnya: Wilson dan Christian Fittipaldi Wilson Fittipaldi Júnior (kiri) & Christian Fittipaldi. ( formula1.com / forzaminardo.com ). Seperti halnya keluarga Brabham atau Schumacher, nama Fittipaldi juga turut menggurita di kancah F1 lantaran hampir semua anggota keluarganya bersentuhan dengan dunia balap. Wilson Fittipaldi Jr. yang lahir di Hari Natal tahun 1943 di São Paulo, Brasil, jadi pionirnya. Olahraga balap sejak kecil bukan barang baru baginya mengingat sang ayah, Wilson Fittipaldi Sr., merupakan jurnalis dankomentator balap motor dan mobil. Namun, karier Wilson di F1 sepanjang 1972-1975 bersama tim Brabham dan Copersucar –yang didirikannya sendiri– justru berada di bawah bayang-bayang sang adik Emerson Fittipaldi. Emerson dua kali merebut gelar juara dunia F1, musim 1972 dan 1974. Satu-satunya podium yang dicicipi Wilson hanya juara ketiga di Grand Prix Brasil pada musim 1972. Meski begitu, putranya, Christian Fittipaldi, bisa jadi kebanggaan buat Wilson yang pensiun sejak 1976. Lahir pada 18 Januari 1971 di kota yang sama dengan Wilson, Christian beruntung punya dua mentor hebat, ayahnya dan pamannya, untuk meniti kariernya yang dimulai di ajang gokar. Debut Christian di F1 dilakoni pada musim 1992 bersama tim Minardi. Ian C. Friedman dalam Latino Athletes menuliskan, Christian bisa promosi ke F1 setelah menjadi pembalap termuda yang lulus dan mendapatkan FIA Formula One Super License pada usia 18 tahun. Tetapi sialnya beberapa kali problem teknis mobil dan kecelakaan yang mengakibatkannya patah kaki membuat kiprah Christian di F1 tak berumur panjang. Seiring pulih dari cedera, Christian beralih ke ajang lain pada 1994 dan menunjukkan tajinya di ajang balap Championship Auto Racing Teams (CART) sepanjang 1995-2004. Dia juga menjadi pembalap non-Amerika Serikat pertama di NASCAR pada 2002, menjuarai 24 Hour Daytona 2004 di tim Bell Motosports, dan mempopulerkan ajang Stock Car di Brasil pada 2005-2010, serta dua kali kampiun WeatherTech Sports Car pada 2014 dan 2015. “Dengan berbagai alasan, saya memang tak punya kesuksesan besar sebagaimana yang saya harapkan (di F1 dan NASCAR, red. ). Tetapi saya senang punya kesempatan di Brasil di mana kini semua orang mengenal balapan Stock Car yang berkembang pesat,” tutur Christian dikutip Friedman. Gilles dan Jacques Villeneuve Joseph Gilles Henri Villeneuve (kanan) & Jacques Joseph Charles Villeneuve. ( formula1.com / redbull.com ). “Takkan ada yang mengingat juara dua.” Ungkapan familiar di beragam kompetisi itu untuk beberapa saat jadi tekanan bagi Gilles Villeneuve. Lahir di Sain-Jean-sur-Richelieu, Quebec, Kanada pada 18 Januari 1950, Gilles bersama sang adik, Jacques-Joseph Villeneuve, sudah menggilai balap mobil sejak muda. Gilles menembus F1 pada 1977 dengan direkrut tim Marlboro McLaren. Sebelum datangnya Niki Lauda, Gilles jadi saingan terberat pembalap legendaris Inggris James Hunt. Di luar trek, Gilles dikenal sebagai pribadi santun dan ramah. Tetapi ketika sudah masuk kokpit jet darat, ia berubah jadi sosok nekat sebagaimana James Hunt. “Dia (Gilles) pembalap tergila dan ternekat yang pernah saya temui di Formula 1. Padahal faktanya, pribadinya punya karakter yang sensitif dan menyenangkan di luar trek dan tak terlihat seperti pembalap nekat, tetapi itu yang membuatnya jadi seseorang yang unik,” kenang Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back . Musim 1979 jadi puncak karier Gilles bersama Ferrari. Hampir sepanjang musim dia bersaing ketat dengan Jody Scheckter untuk berebut gelar. Sial, Gilles harus puas sebagai juara dua. Kesialan puncak Gilles tiba beberapa musim kemudian. Di GP Belgia, 8 Mei 1982, Gilles mengalami kecelakaan hebat yang kemudian merenggut nyawanya. Kala Gilles wafat, Jacques, putranya, baru berusia 11 tahun. Ia tumbuh jadi pemuda yang juga menyenangi balapan di bawah bimbingan sang paman, Jacques Sr., hingga melakoni debutnya di F1 pada 1996 bersama tim Williams. Seperti ayahnya, Jacques tipe pembalap yang cepat namun selalu berusaha tampil elegan. Meski Jacques paling anti melakoni manuver-manuver kontroversial, tetap saja dia kena sial mobilnya jadi korban manuver kotor Michael Schumacher di GP Eropa musim 1997. Jacques bahkan sampai bertengkar dengan Schumi gara-gara itu . Musim 1997 itu juga jadi musim di mana Jacques akhirnya juara dunia.Gelar itu menjadikannya pembalap Kanada pertama yang mampu jadi kampiun F1. “Ayah pembalap yang sangat cepat. Dia penyuka kecepatan dan adrenalin, selalu terburu-buru ingin menyalip pembalap lain. Dan dia mengalami kecelakaan hebat. Sulit mengatakan kemampuan saya didapat dari ayah tapi yang pasti saya punya perasaan kecepatan dan kemampuan itu darinya,” kenang Jacques, dikutip Gerald Donaldson dalam Gilles Villeneuve: The Life of the Legendary Racing Driver. Nelson dan Nelson Piquet Jr. Nelson Piquet Souto Maior (kiri) & Nelson Angelo Tamsma Piquet Souto Maior Jr. ( sfcriga.com / nascar.com ). Nelson Piquet merupakan satu dari lima pembalap F1 yang punya tiga koleksi juara dunia. Ia juga pembalap legendaris Brasil kedua yang juara dunia setelah Emerson Fittipaldi. Lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada 17 Agustus 1952, Piquet terjun ke dunia balap karena terinspirasi Fittipaldi yang dua kali juara dunia F1. Tiga gelar Piquet masing-masing diraih saat memiloti kokpit Brabham pada musim 1981 dan 1983, serta mobil Williams di musim 1987. “Untuk jadi juara dunia Anda butuh banyak keberuntungan di mana itu hal terpenting. Ada banyak pembalap hebat yang jadi juara dunia. Namun Anda juga butuh mobil, mesin, pilihan ban dan tim yang tepat. Saya memiliki itu semua,” jelas Piquet sebagaimana dikutip Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 70 Years of Legendary F1 Drivers. Selepas Piquet pensiun dari F1 pada 1991, baru 17 tahun berselang nama Piquet kembali nongol di grid F1. Nama itu disandang putranya, Nelson Piquet Jr. Mobil dan dunia balap baru jadi hobi Piquet Jr. di usia delapan, usia di mana dia baru mengenal ayahnya. Ayah dan ibunya berpisah saat Piquet Jr. masih bayi dan ia dibawa tinggal bersama ibunya, Sylvia Tamsma, di Monaco. Saat umur delapan, dia pindah tinggal dengan ayahnya di Brasil. Meski begitu, Piquet Jr. mengaku awal kariernya tak di bawah bimbingan sang ayah. Piquet Sr. hanya menyokong dana saat Piquet Jr. memulai kariernya dari ajang gokar pada 1993. Debutnya di F1 baru terjadi pada 2008. “Saya memang menyandang namanya. Tetapi saya selalu berusaha sendiri. Ayah hanya sekadar melihat saya balapan namun saya tak pernah bergantung padanya, terlepas dari sisi finansial. Semua hal teknis, hanya bergantung pada saya dan para mekanik,” terang Piquet Jr. kala diwawancara The Guardian , 5 Oktober 2005. Akan tetapi, Piquet Jr. gagal menyamai apalagi melewati reputasi sang ayah. Menduduki kokpit tim Renault di musim 2008 dan 2009, Piquet Jr. hanya mampu sekali naik podium sebagai runner-up di GP Jerman 2008. Pada GP Singapura di musim yang sama, Piquet Jr. bahkan jadi sorotan komisi disiplin FIA setelah diduga menabrakkan mobilnya sendiri demi memberi kesempatan rekan setimnya, Fernando Alonso, untuk menang. Piquet Jr. mengakuinya lantaran ia diperintahkan bos timnya dan itu jadi titik konfliknya dengan tim Renault. Pada musim 2009, Piquet Jr. hanya bertahan hingga paruh musim. Beralih dari F1, Piquet Jr. memilih ajang NASCAR hingga Formula E dan keluar sebagai juara dunia di musim 2014/2015 bersama tim China Racing/NEXTEV. Jos dan Max Verstappen Johannes Franciscus 'Jos' Verstappen (kanan) &  Max Emilian Verstappen. ( formula1.com / redbull.com ). “Jos the Boss” julukannya. Salah satu maestro balap asal Belanda yang malang-melintang di F1 sepanjang 1994-2003. Sebagaimana pembalap kebanyakan, Johannes Franciscus ‘Jos’ Verstappen yang lahir di Montfort, 4 Maret 1972 itu memulainya di ajang gokar sejak usia delapan tahun. Namun, kegemilangan di F1 hanya terjadi di musim perdananya ( 1994). Dia dua kali berdiri di podium sebagai juara ketiga di GP Hungaria dan Belgia. Selebihnya ia bak pembalap penggembira di hampir setiap seri hingga pensiun pada 2003. Seperti para seniornya, ia pun menurunkan bakat balapnya ke putra sulungnya, Max Verstappen. Max yang lahir di Hasselt, Belgia, 30 September 1997, bersentuhan dengan dunia balap sejak dini mengingat sang ibu, Sophie Kumpen, juga pembalap gokar semasa mudanya. Meski kemudian ayah dan ibunya berpisah dan Max tinggal dengan Sophie di Maaseik, kota perbatasan Belgia dengan Belanda, hampir setiap hari dia menghabiskan waktu bersama ayahnya di seberang perbatasan. “Sebenarnya saya tinggal di Belgia hanya menumpang tidur. Seharian saya selalu ke Belanda ke tempat ayah dan menemui teman-teman saya. Saya dibesarkan sebagai orang Belanda dan hingga sekarang itu yang saya rasakan,” ujar Max, disitat GP Fans , 3 Juli 2019. Berangsur-angsur Max membangun kariernya dari Formula Renault pada 2013, Formula Three setahun berselang. Puncaknya, dia mendapatkan kursi di F1 bersama tim Scuderia Toro Rosso juga pada 2014 selepas lulus dari tim junior Red Bull. Debutnya dilakoninya musim 2015. Sedikit demi sedikit dia melejit hingga jadi salah satu pesaing serius langganan juara Lewis Hamilton, utamanya setelah Max dipromosikan ke tim utama Red Bull pada 2016. Pada musim 2019 ia mencuat jadi juara tiga. Kini di musim 2020 yang menyisakan dua seri, Verstappen di posisi yang sama masih sikut-sikutan dengan Valtteri Bottas untuk berebut status runner-up lantaran Hamilton di puncak klasemen takkan terkejar. Namun peluang Verstappen untuk punya capaian melebihi sang ayah –juara dunia F1– masih terbuka di musim 2021.

  • Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I)

    SUDAH delapan tahun lamanya nama Schumacher tak lagi menghiasi kontes Formula One (F1). Mulai musim 2021 nanti, nama Schumacher bakal muncul lagi di grid  lintasan F1. Namun Schumacher yang bakal muncul bukanlah Michael Schumacher, melainkan Mick Schumacher, putra Schumi –sapaan akrab Michael Schumacher. Mick bakal menyambung keterikatan nama keluarga besarnya dengan F1. Selain sang ayah, di keluarganya ada Ralf Schumacher (1997-2007) sang paman yang pernah mengaspal di F1. Mick terjun ke F1 musim 2021 pasca-menjuarai Formula 2 musim ini (2020) bersama tim Prema Racing. Di pentas F1, Mick mendapat kursi di tim Haas dengan kontrak berdurasi setahun. “Prospek menuju Formula 1 tahun depan membuat saya sangat bahagia dan tak bisa berkata-kata. Terima kasih kepada tim Haas F1, Scuderia Ferrari dan Akademi Pembalap Ferrari yang memberi saya kepercayaan. Saya juga ingin menyampaikan cinta kepada orangtua saya – saya tahu telah berutang segalanya,” ujar Mick sebagaimana dilansir laman resmi F1 , Rabu (2/12/2020). Capaian itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama fans. Mick pun menyatakan terimakasihnya kepada mereka. “Saya selalu percaya bahwa saya pasti bisa memenuhi mimpi saya balapan di Formula 1. Terima kasih teramat besar kepada semua fans balap yang selalu mendukung sepanjang karier saya. Seperti biasa, saya akan memberikan usaha maksimal dan saya menantikan perjalanan bersama mereka dan tim Haas F1,” imbuhnya. Mick dan Michael Schumacher hanyalah salah satu dari delapan pembalap yang mengikuti jejak ayah mereka di F1. Berikut empat di antaranya: Jack dan David Brabham Sir Arthur John 'Jack' Brabham (kanan) & David Brabham. ( formula1.com ). Jack Brabham yang lahir pada 2 April 1926 di Hurtsville, New South Wales, Australia, sempat jadi mekanik di Angkatan Udara Australia pada masa Perang Dunia II sebelum terjun ke dunia balap. Setelah memulainya di ajang balapan mobil midget pada 1946, pembalap berjuluk “Black Jack” itu menembus pentas F1 pada 1955 di kokpit mobil Cooper. Sepanjang kiprahnya di F1 (1955-1970), tiga kali Jack mendulang gelar juara dunia. Dua titelnya (1959 dan 1960) disabet bersama tim Cooper, gelar ketiganya (musim 1966) direngkuh Jack dengan tim Brabham Racing Organization yang didirikannya pada 1962. Tiga anak hasil pernikahannya dengan Betty Evelyn Beresford mengikuti jejak ayahnya. Namun, hanya dua yang mencuat hingga level F1. Jack tak pernah memperlakukan ketiga anaknya secara istimewa. Jack tetap seorang pendiam yang sukar berbagi saran, nasihat, tips, dan trik balapan sebagaimana semasa ia aktif membalap. “Suatu ketika ayah menatap kokpit mobil (Australian Formula Ford) saya dan dia hanya bilang: ‘Oke, itu ada rem, ada pedal gas, ada setir; jika kamu menabrak, jangan kembali!’ Sepanjang karier saya, dia tak pernah memberi saya nasihat selain itu,” kenang Geoff, dikutip Tony Davis dalam Brabham: The Untold Story of Formula One and Australia’s Greatest Ever Racing Driver. Pengalaman serupa dialami Gary, putra kedua Jack yang menembus F1 bersama tim Life Racing pada 1990 tanpa sekalipun pernah menang. Pun dengan David, putra ketiganya yang dua musim mengaspal di F1 bersama tim Brabham (1990) dan tim MTV Simtek Ford (1994) dengan capaian tertinggi finis urutan ke-10 di Grand Prix Spanyol musim 1994. “Ayah hanya menyarankan: ‘untuk melaju cepat, kamu hanya perlu mengurangi pengereman dan lebih sering injak gas’,” tandas David. Graham dan Damon Hill Norman Graham Hill (kiri) & Damon Graham Devereux Hill. ( grandprixhistory.org / redbull.com ). Sebagaimana Jack Brabham mentornya, pembalap legendaris Inggris kelahiran Hampstead, London, 15 Februari 1929 ini juga lebih dulu mengabdi di militer Inggris, tepatnya sebagai kru mekanik kapal penjelajah ringan HMS Swiftsure semasa Perang Dunia II. Sempat mencicipi ajang balap motor, Graham Hill akhirnya beralih ke roda empat pada 1954 setelah melihat iklan Universal Motor Racing Club yang menawarkan bayaran lima shilling di setiap satu lap yang dijalani. Graham meniti kariernya di F1 dari mekanik di tim Lotus sampai menduduki kokpitnya lewat debut di Grand Prix Monaco 1958. Perkembangan pesatnya baru dijalani selepas kepindahannya ke tim Owen Racing Organization pada 1960. Dua tahun berselang Graham merebut gelar pertamanya. Gelar keduanya diraih empat tahun kemudian. Graham pensiun pada 1975. Damon Hill, putra Graham yang lahir pada 17 September 1960 di kota yang sama dengannya, mengikuti jejak ayahnya bahkan sejak usia dini. “Saya lahir di kokpit. Melihat foto-foto masa kecil saya, hampir selalu berada dalam pose bersama mobil kecil atau mobil balap. Saya punya ayah yang terkenal. Lalu siapa yang kemudian tak ingin jadi pembalap seperti sang ayah? Beranjak usia, saya selalu ditanyakan pertanyaan serupa oleh orang-orang: ‘Apakah kamu akan jadi pembalap terkenal seperti ayahmu saat besar nanti?’,” ujar Damon dalam otobiografinya, Watching the Wheels. Damon memulainya di balap motor Clubman’s Championship kelas 350cc pada 1981. Tetapi karena kekhawatiran ibunya, Bette Hill, Damon kemudian beralih ke roda empat dan masuk Winfield Racing School pada 1983. Berangsur-angsur karier Damon Hill tak kalah moncer dari sang ayah sejak memulai debutnya di F1 bersama tim Brabham pada 1992. Empat tahun berselang, gelar juara dunia hadir ke pelukannya. Dia pun mencatatkan sejarah: dia dan ayahnya jadi pasangan ayah-anak pertama yang punya gelar juara dunia F1. Selepas pensiun pada 1999, Damon meneruskan tongkat estafet balapnya ke putranya, Joshua Damon Hill. Mario dan Michael Andretti Mario Gabriele Andretti (kanan) & Michael Mario Andretti. ( formula1.com ). Nama keluarga Andretti jadi salah satu nama keluarga di arena balap paling dikenal, Tak hanya di ajang F1, namun juga IndyCar dan NASCAR. Dinasti Andretti dimulai oleh Mario Andretti, pembalap legendaris Amerika berdarah Italia kelahiran Montona d’Istria (kini Motovun, Kroasia), 28 Februari 1940. Mario mengaspal di arena balap NASCAR pada 1966, F1 pada 1968-1982, dan IndyCar 1979-1994. Masa kejayaannya di F1 terjadi pada musim 1978, saat Mario bersama tim Lotus menyabet gelar juara dunia. Setelah beralih ke IndyCar, Mario pun tak kalah moncer hingga puncaknya juara PPG IndyCar World Series 1984 bersama tim Newman/Haas Racing. Kedua putranya, Michael dan Jeff, serta keponakannya, John Andretti, turut terjun ke dunia balap mengikuti jejak Mario. “Saya tumbuh dengan sering menyaksikan ayah saya balapan. Sejak saat saya masih kecil, satu-satunya hal yang saya inginkan hanyalah balapan,” ungkap Michael dalam otobiografinya yang dituliskan bersama Douglas dan Robert Carver, Michael Andretti at Indianapolis. Meski banyak keluarga Andretti yang mengaspal, hanya Michael yang paling gemilang dalam mengikuti karier ayahnya di pentas F1. Sayangnya, Michael gagal mengejar prestasi sang ayah. Michael hanya terjun satu musim (1993), bersama tim Marlboro McLaren. Hasil terbaiknya hanya berdiri di podium ketiga GP Italia. Keke dan Nico Rosberg Keijo Erik 'Keke' Rosberg (kiri) & Nico Erik Rosberg. ( formula1.com ). Finlandia yang berada di ujung utara benua Eropa juga kondang melahirkan banyak pembalap beken macam Mika Häkkinen dan Kimi Räikkonen. Namun sebelum keduanya mengharumkan “negeri seribu danau” itu, sudah ada Keijo Erik ‘Keke’ Rosberg. Lahir di Solna pada 6 Desember 1948, Keke jadi pembalap Finlandia ketiga di pentas F1 setelah Leo Kinnunen (1974) dan Mikko Kozarowitzky (1977). Namun, Keke pembalap Finlandia pertama yang mengecap gelar juara dunia F1. Gelar itu diraihnya di musim 1982 –atau empat tahun setelah debutnya–  bersama tim Williams. Sayangnya, banyak yang menganggap gelar juara Keke itu tak lebih dari suatu kebetulan. Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 17 Years of Legendary F1 Drivers mengungkapkan, banyak kecelakaan yang dialami para saingan Keke hingga akhirnya sering absen karena cedera atau gagal menyelesaikan balapan gegara mobilnya mengalami masalah, seperti Alain Prost, Niki Lauda, atau Nelson Piquet. Banyaknya kecelakaan mengakibatkan musim itu sampai memunculkan 11 juara berbeda. Di mobil Williams pun Keke sering mendapatkan masalah teknis. Hanya saja Keke lebih hoki lantaran hanya tiga kali gagal finis. Maka meski hanya sekali naik podium tertinggi di GP Swiss, Keke keluar sebagai juara dunia. “Musim di mana saya juara merupakan musim yang tak bisa dipercaya. Semua hal terjadi dalam semusim, dari pemogokan para pembalap hingga sejumlah keputusan diskualifikasi, hingga pemuncak klasemen (Didier Pieroni) yang kemudian cedera serius. Dan saya hanya menang di satu seri. Itu musim pertama saya bersama Williams dan saya dari zero menjadi hero ,” papar Keke dikutip Hamilton. Selepas Keke pensiun pada 1986, ajang F1 tak pernah diisi nama “Rosberg” lagi hingga pada 2006. Kala itu Nico Erik Rosberg, putra Keke, melakoni debutnya bersama tim Williams meengikuti jejak sang ayah di F1. Debut Nico dijalani setelah melalui penentangan dari kedua orangtuanya yang mengharapkannya sebagai anak semata wayang tak mengikuti jejak ayahnya menyabung nyawa di lintasan balap. Namun melihat putranya bersikeras, Keke akhirnya mendukung Nico memulai balapan di ajang gokart, tempat Nico berkawan dan bersaing dengan Lewis Hamilton. Sepanjang musim 2013-2016, keduanya yang tergabung di tim Mercedes bersaing keras hingga menimbulkan perpecahan di internal tim. Nico hinggap ke puncak kariernya, merebut gelar juara dunia, pada 2016 bersama tim Mercedes. Ia lantas mencatatkan diri jadi sepasang ayah dan anak kedua yang juara dunia F1 setelah Graham dan Damon Hill.

  • Arnold Mononutu dan Peci Palsu

    Arnold Mononutu atau yang akrab disapa Oom No punya peran penting dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Penguasaan bahasa Inggris, Belanda, dan Prancisnya membuatnya dipercaya menjadi jembatan komunikasi antar-cabang PI. Mononutu menjabat sebagai wakil ketua ketika PI dipimpin Sukiman. Menurut Sudiyo dalam buku Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda,  Mononutu bersama Ahmad Subardjo gigih mencari nama-nama yang menunjukkan identitas keindonesiaan. Selain nama organisasi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia, nama majalah yang sebelumnya Hindia Poetra  juga diubah menjadi Indonesia Merdeka . “Sebenarnya untuk mengubah nama majalah ini telah dilakukan sejak tahun 1924, namun pada kepemimpinan Sukiman juga diulang lagi dan dinyatakan secara resmi,” tulis Sudiyo. Di Belanda, Mononutu awalnya masih sering dipanggil Wilson. Pasalnya, menurut Abdul Kadir dalam “In Memoriam Oom No (87 Tahun) Pejuang dari Indonesia Timur” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur, nama asli Mononutu adalah Arnold Izaac Zacharias Wilson. Sementara Mononutu adalah nama marga kakeknya yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. “Ia tukar namanya Arnoldus Izaac Zacharias degan Arnold Mononutu dan sejak ia kembali ke Indonesia lebih terkenal dengan Oom No hingga sekarang ini. Dan kartu namanya berisi: Arnold Mononutu, Pejuang,” tulis Abdul Kadir. Penggunaan nama Mononutu terkait pula dengan kesadaran identitas keindonesiaan-nya. Sebelumnya, dia dikenal sebagai mahasiswa parlente yang tidak berminat pada politik, suka dansa-dansi dan hidup berkecukupan. Kawan sejawatnya di Belanda, Sunario yang pernah mengunjungi kediaman Mononutu di Den Haag, menyebut bahwa kamarnya “serba lux untuk seorang student.” Pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa progresif dalam Indiche Vereeninging ternyata mengubah Mononutu. Jika dulu ia merasa dirinya sama seperti orang Belanda, ia lalu sadar bahwa dirinya adalah bagian dari bangsa Indonesia yang tengah berjuang menuju kemerdekaan. Mononutu ternyata juga tak hanya ikut-ikutan dalam PI. Ia termasuk salah satu orang yang keras prinsipnya. Ketika Noto Suroto, seorang seniman anggota PI, bersikap pro Belanda dan memuji Jenderal Van Heutz, Mononutu bertindak sebagai penuntut umumnya. Noto Surotopun akhirnya dipecat dari PI. Gara-gara aktivitasnya di PI, ayah Mononutu bahkan sampai mengirim surat ke Belanda yang mengatakan bahwa Mononutu harus mundur dari PI atau uang kiriman untuknya dihentikan. Padahal, dalam sebulan ia mendapat kiriman f 300 yang cukup untuk banyak hal. Namun, ia memilih tetap bergabung dengan PI dan tak peduli pada uang kiriman. Sunario dalam “Mengenang Saudara Arnold Mononutu (Oom No) dan Cita-citanya” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur punya cerita menarik tentang Mononutu di Den Haag. Tak lama setelah pengurus PI di Belanda dipilih, mereka hendak mengabadikan dengan potret bersama. Tapi sebelum itu, mereka harus memakai peci yang telah disepakati untuk menunjukan identitas keindonesiaan. Padahal, tidak semua orang punya peci saat itu. Mayoritas yang memiliki peci adalah mereka yang berasal dari Sumatra seperti Mohammad Hatta. Maka mereka mencari akal. Mereka mancari topi vilt, topi dengan pinggiran melingkar, untuk dikorbankan. Pinggiran topi dipotong sedemikian rupa dan dipakai menggantikan peci. Hasilnya, peci palsu pun tampak seperti sungguhan di dalam potret. “Oom No yang beragama Kristen Protestan pun memakai pici palsu. Inilah asalnya sampai sekarang pici dipakai di Indonesia sebagai kelengkapan pakaian resmi oleh semua menteri, gubernur, duta besar dan lain-lain, meskipun di antara mereka ada yang beragama Kristen, Hindu, dan lain sebagainya,” tulis Sunario.

  • Singgah di Rumah Dewa Siwa

    BANGUNAN untuk Dewa Siwa akhirnya memperlihatkan bentuknya. Berkat dukungan masyarakat yang ikut memberikan sumbangan, ratusan pekerja bisa merampungkan pembangunan. Bangunan itu begitu indah berkilau. Sungai yang tadinya mengaliri halaman dialihkan sehingga menelusuri sisi-sisi halamannya. Dua bangunan kecil terdapat pada pintu gerbangnya. Sejumlah bangunan kecil lainnya yang juga indah menjadi tempat bertapa. Bangunan-bangunan kecil berderet bersap-sap mengitari bangunan induk. Sama semua bentuknya. Di sebelah timur candi induk tumbuhlah pohon tanjung Ki Muhur yang baru setahun umurnya. Keindahannya menyamai pohon parijataka milik Dewata. Di sinilah tempat turunnya sang dewata. Demikianlah Prasasti Siwagrha (778 Saka/856 M) bercerita tentang pembangunan rumah bagi Dewa Siwa (Siwagrha). Para arkeolog mengaitkan kuil dalam prasasti itu dengan Kompleks Candi Prambanan. Tri Hatmadi dalam Pelapukan Batu Candi Siwa Prambanan dan Upaya Penanganannya menyebut gugusan candi, yang menurut prasasti ada di dekat sungai, mengingatkan pada Kompleks Candi Prambanan dengan Sungai Opak di sebelah baratnya. Deretan candi yang bersap sejauh ini juga cuma ada di Kompleks Candi Prambanan. Dan hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pembangunan Candi Prambanan adalah pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno. Dekat Sungai Candi Prambanan sebagaimana pula kebanyakan candi lainnya, dibangun di dekat sungai. Candi dan air punya hubungan yang akrab. Air merupakan elemen penting dalam pemujaan Hindu. Tak hanya digunakan dalam persembahan, tetapi para pendeta pun membutuhkannya untuk menyucikan diri sebelum melakukan ritual.  Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebutkan dalam kitab Manasara-Silpasastra yang berisi aturan-aturan pembangunan kuil di India, menjelaskan bahwa sebelum suatu bangunan kuil didirikan, harus lebih dahulu dinilai kondisi dan kemampuan lahannya. Kitab itu mengharuskan pula keletakan kuil berdekatan dengan air. Kitab Silpa Prakasa bahkan menekankan, lahan yang tanpa sungai harus dihindari ketika mendirikan kuil. “Karena air mempunyai potensi untuk membersihkan, menyucikan, dan menyuburkan,” jelas Mundarjito. Dijelaskan pula oleh arkeolog R. Soekmono dalam disertasinya “Candi, Fungsi dan Pengertiannya”. Jika air dari sumber alam tak tersedia maka kolam atau waduk buatan harus dibangun. “Tempat suci itu suci karena kualitas situsnya, bangunan candinya nomor dua,” tegasnya. Ibukota Baru Sementara Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, berpendapat pemilihan lokasi pembangunan Kompleks Candi Prambanan juga beriringan dengan pergeseran pemerintahan kala itu ke arah timur dataran Kedu. “Kompleks Candi Prambanan mungkin mulai dibangun paruh kedua abad ke-9,” katanya. Katanya, sekira tahun 820 (Prasasti Sragen) dan setelah 855, peninggalan candi dan prasasti mulai bermunculan di sebelah timur Prambanan. “Candi-candi besar yang lebih muda, seperti Plaosan Lor dan Prambanan dibangun, menunjukkan perluasan ke timur lingkungan pengaruh Hindu-Buddha,” jelasnya. Dalam Prasasti Siwagrha disebutkan tentang raja yang mendirikan istana baru Medang di Mamrati. “Bisa jadi teks tersebut merujuk pada pemindahan ibukota dari kawasan Muntilan ke kawasan Prambanan,” jelas Degroot. Perpindahan ke wilayah yang lebih ke timur ini, menurut Degroot, bisa dilihat sebagai langkah pertama dari perpindahan kekuasaan di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sampai kemudian pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan dipindahkan ke wilayah Jawa Timur sekarang. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya. Tapi kalau menurut arkeolog Roy Jordan dalam Memuji Prambanan , tidak mungkin candi ini dibangun dalam jangka pendek antara 855-856. Pembangunan mungkin dimulai sejak masa Rakai Pikatan, ayah Rakai Kayuwangi, atau malah pendahulunya. “Boleh jadi beberapa dasawarsa sebelumnya,” kata Jordan. Sejauh ini Prasasti Siwagrha memang hanya menginformasikan bahwa Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala merupakan raja Mataram Kuno (Medang) yang meresmikan Candi Prambanan pada 856 M. Soal siapa peletak batu pertama kuil suci bagi Siwa ini tak diketahui dengan jelas Nasib Candi Prambanan semakin tak jelas seiring perpindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur. Prambanan yang menjadi simbol masa keemasan Mataram Kuno ditinggalkan tanpa diketahui musababnya. “Adakah disebabkan kerusakan bangunan akibat bencana gempa, peperangan, ataukah kondisi politik-ekonomi-sosial yang pada akhirnya menyebabkan Prambanan tenggelam dalam sejarah selama belasan abad,” tulis Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani dalam Membangun Kembali Prambanan. Enam abad berlalu sejak peresmian Kuil Siwa oleh Rakai Kayuwangi. Kisah tentang bangunan candi yang terbengkalai di pedalaman Jawa Tengah diperdengarkan oleh Mpu Tanakung, penyair istana dari Jawa Timur pada abad ke-15. Mpu Tanakung bercerita tentang sebuah kompleks percandian dari masa purbakala yang berdiri tegak di dekat sebuah sungai yang mengalir dari sebuah gunung. Gapura-gapuranya yang berbentuk makara telah tumbang dan hancur. Tembok-temboknya hampir runtuh. “Kepala-kepala raksasa itu seolah menangis. Raut mukanya tertutup tetumbuhan yang menjalar. Patung-patung penjaga di dekat gapura-gapuranya tumbang. Rata dengan tanah, seolah tak kuat lagi dan sedih,” catatnya. Bagi arkeolog Roy Jordan, penggambaran yang ditulis Mpu Tanakung dalam karyanya, Siwaratrikalpa , memiliki banyak kesamaan dengan Candi Prambanan. “Kalau melihat relief- relief, aduh, sungguh menyayat hati…,“ kata Mpu Tanakung. “…Candi utama menjulang tinggi, tetapi rumput liar merimbun di puncaknya.” Selain harus berserah diri pada kehendak alam, Prambanan mengalami nasib buruk setelah berabad-abad tak terpelihara. Arca-arcanya dicuri. Perigi-perigi dibongkar, dijarah isinya. Tak terbilang berapa blok batu yang dimanfaatkan untuk fondasi atau pagar bangunan baru. Kegiatan penanaman kembali beberapa bibit tanaman di areal Candi Bubrah yang terletak berdekatan dengan Candi Prambanan. Turut pula menghadirkan  youtuber   Andovi da Lopez .   (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Mengembalikkan Keindahan Baru pada 1918 ada upaya mengembalikan keindahan candi yang melegenda sebagai buah karya Bandung Bondowoso. Restorasi awal dipimpin oleh orang Belanda bernama F.D.K Bosch. Lalu pada 1938, usaha yang lebih sistematis dilakukan di bawah pimpinan van Ramondt. Selama proses pembangunan kembali, sejumlah biro perjalanan wisata menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan. Khususnya untuk wisatawan Eropa. Di antaranya biro wisata dari Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Mereka menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit sekira 1900 dan 1918. Candi Prambanan atau yang mereka sebut dengan Brambanan, Brambanam, atau kadang Brambanang masuk sebagai objek yang layak dikunjungi. “Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu,” catat Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani. Kunjungan wisata ke Prambanan didukung semakin berkembangnya kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta dengan Semarang telah ada sejak 1870-an dikelola oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappi (NISM). Kini, akses menuju Prambanan semakin mudah. Setiap orang yang akan melintas dari Yogyakarta menuju Solo pasti akan melewati Candi Prambanan. Letaknya ada di perbatasan timur Yogyakarta. Akan tampak di sana Candi Siwa, yang terbesar berada di tengah sebagai pusat, diapit Candi Wisnu di sebelah utara dan Candi Brahma di sebelah selatan. Di depan ketiga candi itu ada tiga candi yang lebih kecil. Pada pintu gerbang utara dan selatan terdapat dua candi lagi. Candi Apit sebutannya. Kemudian ada candi-candi kecil yang letaknya di delapan penjuru mata angin. Beratus tahun setelah pembangunannya kembali, Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk menambah keindahan dan kenyamanan bagi pariwisata, usaha penghijauan kawasan candi pun dilakukan. Berbagai macam pohon dan bibit semak ditanam di Kompleks Candi Prambanan setahun lalu melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Paling tidak 25 varietas dari 250 pohon dan 5,000 semak berbunga ditanam serentak. Trembesi, flamboyan merah, kecrutan, tanjung, sawo manila, sawo kecik, melinjo, manga, flamboyan kuning, bodhi, nagasari, kepel, waru merah, kamboja putih, keben, maja, dan cassia javanica merupakan tanaman yang dipilih untuk menghijaukan kawasan Prambanan. Penanaman dilakukan dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Harapannya kegiatan ini bisa mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai warisan para leluhur. Menariknya beberapa pohon itu rupanya pernah pula ditanam pada masa Candi Prambanan difungsikan. Tanjung tersua dalam Prasasti Siwagrha tentang pohon tanjung yang tumbuh di timur candi induk Siwagrha. Lalu pohon mangga teridentifikasi pada relief cerita Kresnayana yang terpahat pada dinding Candi Wisnu. Itu sebagaimana yang oleh arkeolog Hari Setyawan dalam “Prasasti dan Naskah Jawa Kuno sebagai Alat Interpretasi Penggambaran Jenis Tanaman pada Relief Cerita Candi Prambanan”, Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna ketahui dari bentuk daun, arah tumbuh cabangnya, dan bentuk buahnya. Pohon mangga dan pohon waru juga terpahat di relief cerita Ramayana pada dinding Candi Siwa dan Brahma. Kini, bangunan bagi Siwa itu telah kembali sempurna, indah berkilau. Semoga ia tak lagi dilupakan, terus diingat dan dirawat sebagai bukti pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page