Hasil pencarian
Search this site
9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dari Sekolah Liar hingga Anarkisme
PARTAI Komunis Indonesia (PKI) tidak serta-merta berdiri. Lewat Sarekat Islam (SI), organisasi bumiputra terbesar saat itu, aktivis PKI bergerak dan melakukan konsolidasi anggota di tingkat basis. Pada kongres 1921, SI melarang keanggotaan rangkap. Akibatnya, para aktivis PKI mesti keluar. Organisasi terbagi menjadi dua: SI Putih dan SI Merah. SI Putih dipimpin Haji Agus Salim dan Abdoel Moeis (di Yogyakarta), sementara SI Merah dipimpin Semaoen dan Alimin (di Semarang).
- Alfiah Muhadi, Pendakwah Perempuan yang Peduli Nasib Kaumnya
ALFIAH Muhadi sedang hamil tua kala clash II terjadi di Yogyakarta. Lantaran tidak bisa ikut berjuang langsung, ia sebisanya membantu para gerilyawan dengan mengumpulkan bekal untuk bertahan di pedalaman. Bersama suami ia beberapakali menyamar sebagai penjual buah atau pedagang sayur. Namun karna rumahnya hanya berjarak 300 meter dari pos tantara Belanda, kegiatannya tercium. Rumah Alfiah digerebek, suaminya ditangkap dan ditahan bersama pejuang lain. Alfiah tak tahu di mana suaminya ditahan. Ia berusaha mencari tahu agar upaya pembebasan suaminya bisa dilakukan. “Namun usahaku sia-sia. Baru setelah Yogyakarta dapat direbut kembali dan suasana sudah tenang, kami dapat berkumpul kembali,” kata Alfiah dalam kumpulan memoar perempuan, Sumbangihku Bagi Ibu Pertiwi. Kebersamaan yang kembali terjalin itu hanya bertahan selama empat tahun. Pada 1953 suaminya meninggal. Alfiah lantas membesarkan anaknya seorang diri sembari terus aktif dalam gerakan perempuan. Memperjuangkan nasib perempuan menjadi ketertarikan Alfiah sejak kecil. Alih-alih mendaftar sebagai guru selulusnya dari Sekolah Guru Muhammadiyah (Mualimat) Yogyakarta pada 1937, perempuan kelahiran Karanganyar, Kebumen itu malah masuk organisasi perempuan Aisyiyah dan Pemuda Putri Indonesia (PPI). Kala itu, banyak perempuan masih buta huruf dan keadaan sosial-ekonomi mereka memprihatinkan. Menurut Alfiah, penjajahan yang begitu lama tidak memberi kesempatan bagi perempuan rakyat bawah untuk memperbaiki keadaan. “Hubungan antara perempuan kalangan biasa dengan perempuan kaum atas hampir tak ada. Kalaupun ada, hubungan itu bersifat feodal,” kata Alfiah. Alfiah menganggap kultur feodal itu juga membuat perempuan sulit mengembangkan diri. Ia pun berusaha menguarangi masalah ini. Alfiah kemudian bekerjasama dengan Wanita Taman Siswa untuk mengajar perempuan di Yogyakarta agar terbebas dari buta huruf dan sikap rendah diri akibat hidup di lingkungan feodal. “Sedikit demi sedikit terlihat hasilnya, meskipun tidak secara total. Yang penting pula timbul rasa menghargai antar sesama,” kata Alfiah. Kepeduliannya pada nasib perempuan juga ia suarakan kala mengisi pidato pada Kongres ke-28 Aisyiyah di Medan. Pidato Alfiah berjudul “Harapan Dunia Kepada Kaum Wanita”. Menurutnya, negara akan menjadi baik bila kaum perempuannya baik dan terdidik. Alfiah ditugasi Aisyiyah mengisi ceramah di cabang-cabang Aisyiyah, khususnya wilayah Kedu dan Banyumas. Pada 1939 ia pernah berdakwah di daerah Banyumas bersama Jendral Sudirman yang kala itu merupakan pemimpin Hizbul Wathon, organisasi kepanduan Pemuda Muhammadiyah. Didampingi istri Surdirman, beberapakali ia naik dokar keluar-masuk desa untuk memberikan ceramah. “Dakwahku di Banyumas seiring dengan keluarga Sudirman,” kata Alfiah. Untuk dakwahnya di daerah Kedu, Puworejo, dan Kutoarjo, Alfiah seringkali bersama Sarbini dan istrinya, Juffrow Salami, yang bekerja sebagai guru di HIS Muhammadiyah Kutoarjo. Dalam setiap dakwahnya Alfiah selalu menyampaikan tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Bahwasannya perempuan dan lelaki sama-sama hamba Allah yang hadir di muka bumi dengan tanggung jawab masing-masing. “Mengapa hal itu kutekankan, karena pada saat itu masyarakat mempunyai anggapan bahwa perempuan hanya menjadi kanca wingking , teman di belakang suaminya,” kata Alfiah. Selain aktif berdakwah dan terjun langsung dalam upaya pemberantasan buta huruf, Alfiah juga terlibat dalam mengelola majalah Suara Aisyiyah bagian Karanganyar bersama rekannya Hayinah Mawardi. Namun aktivitas itu berubah semasa pendudukan Jepang lantaran semua organisasi perempuan yang ada harus dilebur dalam Fujinkai. Setelah kemerdekaan, Alfiah pindah ke Yogyakarta mengikuti suaminya. Mereka tinggal di Ngadiwinatan. Pada 1957, Alfiah bergabung dengan Balai Kesejahteraan Rumah Tangga di Yogykarta. Ia bertugas memberikan penyuluhan tentang perkawinan menurut ajaran Islam bahwa suami tidak semestinya berlaku sewenang-wenang terhadap istri dan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Di samping itu, ia juga memberikan kursus keterampilan pada anak perempuan. Ketika Menteri Agama mendirikan Badan Penyuluh Pernikahan dan Penasihat Perceraian (BP4), Alfiah menjadi salah satu pengurus di Yogyakarta. Alfiah duduk sebagai seksi penerangan ketika Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB) didirikan pada 1957. Meski beberapa golongan agama Islam menolak KB, Alfiah berusaha menjelaskan tiga faktor yang menentukan baik tidaknya KB, yakni niat penggunaan, alat yang dipakai, dan syarat penggunaannya. Ia terus duduk di posisi seksi penerangan hingga kemudian PKB berubah menjadi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Atas keaktifannya di bidang sosial, pemerintah menganugerahinya penghargaan Satya Lancana Kebaktian Sosial berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 120/TK/Tahun 1996. Suara Aisyiyah Vol. 74 tahun 1997 menulis, penghargaan itu diserahkan Gubernur Kepala Daerah DIY Sri Pakualam VIII di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY pada 15 Agustus 1997.*
- Melacak Sejarah Halalbihalal di Masa Kolonial
HALALBIHALAL adalah salah satu tradisi penting umat Islam Indonesia saat merayakan Idul Fitri. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mengartikan halalbihalal sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang’. Menariknya, contoh kalimat yang dipakai untuk memudahkan pemahaman pembaca juga menekankan betapa Indonesianya tradisi ini bahkan dalam perspektif tradisi Muslim global: ‘--merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia’. Walau dalam tata bahasa Arab istilah halalbihalal tidak dikenal, istilah ini sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia dan berasosiasi dengan hari Lebaran.
- Semaun Si Propagandis
Sneevliet menemukan Semaun sebagai seorang pemuda berani yang berbakat memimpin kaum buruh. Dalam sebuah suratnya Semaun memanggil Sneevliet, “Mijn Goeroe” (guruku).
- Mencari Jejak Kejayaan Blambangan
ALKISAH, Tawangalun pergi menyepi. Ia bersembah semedi di pertapaan kaki Gunung Raung. Sudah tujuh hari ia melakukan laku pembersihan diri. Sampai kemudian ia mendengar suara gaib menggema berbicara kepadanya. “Pulanglah Gusti Prabu.” Tawangalun diminta agar berjalan ke arah timur. “Jika kau bertemu dengan Macan Putih, tunggangilah.” Maka, Tawangalun turun dari pertapaannya. Ia tempuh perjalanan berhari-hari ke arah matahari terbit. Sampai kemudian dilihatnya sesosok macan putih menghadang. Teringat suara gaib dalam semedinya, ia mendekati macan itu lalu menungganginya. Mereka mengelilingi hutan yang luas hingga sampai ke tengah rimba Sudimara. Seakan tahu di situlah tujuan mereka, Tawangalun turun dari punggung macan. Binatang gaib itu pun tiba-tiba lenyap, tak berbekas. Pahamlah Tawangalun bahwa di tempat itulah ia harus membangun negerinya. Begitulah ia kemudian membuka Hutan Sudimara. Menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Blambangan yang baru, berjuluk Macan Putih. Kisah para penguasa di Macan Putih itu kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Babad Tawang Alun. Tawangalun adalah moyang para penguasa di Macan Putih di tanah pedalaman Banyuwangi. Sejarawan Belanda, H.J de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa mencatat kalau di sinilah tempat asal banyak bupati Banyuwangi dari abad ke-18 hingga ke-19. Kini sebuah desa bernama Macan Putih, di Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, dikaitkan dengan kisah itu. Sri Margana dalam disertasinya Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c. 1763-1813 menulis kalau pada 1805, beberapa puing bata masih dapat dilihat. Bekas bangunan kuno itu tadinya masih dilingkupi belantara. “Macan Putih, yang berlokasi di Dusun Malar (salah satu dusun di Desa Macan Putih, red. ), utara Rogojampi, kini tidak lebih dari gundukan tanah dan puing-puing batu bata. Bekas rumah Macan Putih dikelilingi oleh dinding bata besar,” catatnya. Kata Margana, puing itu bisa mengindikasikan kalau pada masa pemerintahan Tawangalun, Blambangan tumbuh dengan sejahtera. Banyak bangunan kota dan kuil didirikan, sebelum akhirnya dihancurkan Mataram. Penguasa Tawangalun Nama mirip dengan Tawangalun muncul dalam catatan seorang pertapa Sunda Kuno, Bujangga Manik. Pada sekira abad ke-14 atau awal abad ke-15, Bujangga Manik melakukan perjalanan melintasi Pulau Jawa dan Bali. Catatan perjalanannya dibahas J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa. Diceritakan dalam perjalanannya dari Gunung Raung, Bujangga Manik pergi ke Balungbungan. Di sana ia tinggal, melakukan tapa, hingga lebih dari setahun. Seusainya, Bujangga Manik pergi ke tepi pantai. Ia melihat sebuah kapal yang akan berlayar ke Bali. Artinya, Balungbungan letaknya tak jauh dari laut. Kata Noorduyn, Balungbungan yang tertulis di sana adalah Pelabuhan Blambangan yang ketika itu sudah terkenal. “Balambangan atau Balangbangan terletak di sebelah selatan Banyuwangi sekarang, di Teluk Pangpang,” katanya. “Pelabuhan ini tetap menjadi pelabuhan yang terpenting di pantai timur Jawa sampai 1774 dan kemudian diganti menjadi Banyuwangi.” Sekembalinya dari Bali, Bujangga Manik menumpang kapal besar. Kapal itu berlayar dari Bali ke Balungbungan. Dalam perjalanan pulang itu, Bujangga Manik melewati rute sepanjang pantai selatan Jawa. Ia pun melalui Padangalun. “Sebuah nama yang jelas mengingatkan pada Tawangalun, bandingkan bahasa Jawa padang yang berartiterang, terbuka, dan tawang, yang berarti terbuka, tidak terhalang,” jelas Noorduyn. Kata sejarawan Jember Zainollah Ahmad lewat bukunya Tahta di Timur Jawa , penyebutan itu pun memperkuat dugaan kalau nama Tawangalun diambil dari nama tempat ia memerintah. “Atau mungkin sebaliknya,” kata dia. Simpang Siur Tawangalun kalau menurut de Graaf dan Pigeaud adalah tokoh setengah legenda. Ia diperkirakan hidup pada abad ke-17. Pada masanya Kerajaan Blambangan dipercaya mencapai era kedamaian dan kejayaan. Sayangnya, kata Margana, tak banyak informasi yang ditemukan dalam arsip-arsip Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) soal kondisi Blambangan pada masa Tawangalun. Kecuali tahun-tahun terakhir pemerintahannya, yakni tepat sebelum kematiannya pada 1691. Untungnya sedikit manuskrip lokal, yang disusun setengah abad setelah kematiannya, masih tetap tersimpan dengan baik. Dapat dilihat pada Babad Blambangan. Babad Blambangan bukanlah satu manuskrip utuh, melainkan tersusun dari beberapa babad yang ditulis pada tahun berbeda-beda. Di dalamnya terdiri dari Babad Sembar, Babad Tawang Alun, Babad Mas Sepuh, Babad Bayu, dan Babad Notodiningratan. Aksara yang dipakai adalah aksara Jawa, Bali, Pegon, dan Latin. “Seperti dalam babad Jawa lainnya, perhatian utama penyusun adalah mencatat peristiwa politik dan informasi silsilah tentang dinasti yang berkuasa,” jelas Margana. Dalam Babad Blambangan, nama Tawangalun memiliki urutan silsilah yang tak sama antara sumber yang satu dan lainnya. Tidak sinkronnya penyebutan nama-nama penguasa di Blambangan dan peristiwa yang terjadi membuat penyusunan silsilah menjadi semakin sulit. Dalam penelusuran Zainollah Ahmad, Tawangalun disebut sebagai anak Minak Lumpat atau Sunan Rebut Payung. Keratonnya di Lamajang dan Kedawung. Di atas Minak Lumpat, secara berurutan dalam silsilah, ada Minak Lampor, Minak Gadru, dan Boma Koncar. Yang teratas adalah Lembu Miruda atau Panembahan Brahma (Bromo). Disebutkan pula ada dua Tawangalun, I dan II. Ada Pangeran Kedhawung dan Mas Kembar yang disebut Tawangalun I. Lalu Minak Sumendhi disebut Susuhunan Tawangalun II. “Dalam hal ini posisi silsilah Tawangalun sama dengan yang disebutkan dalam Babad Sembar ,” katanya. Sementara berdasarkan versi Babad Tawang Alun, Tawangalun disebutkan sebagai anak dari Tanpa Una (Pangeran Kedhawung I) atau Ki Mas Kembar. Menurut versi ini hanya ada satu Tawangalun, yaitu yang disebut dengan Pangeran Kedhawung II. Sementara Mas Wila (adik Tawangalun) dikenal pula sebagai Pangeran Kedhawung III. Saat menjadi raja, Tawangalun memiliki nama Susuhunan Macan Putih dan Mas Sanepa. Mas Sanepa inilah yang kemudian memerintah Keraton Macan Putih. Gelarnya Susuhunan Gusti Prabu Tawangalun. “Padahal gelar ini biasanya dipakai oleh raja atau wali dalam tradisi Islam. Sementara Tawangalun menganut ajaran Hindu,” kata Zainollah. Babad Tawang Alun dibuat pada 1832-1841. Ditulis pada masa Suranegara menjadi bupati di Surabaya. Namun keterangan lain, yaitu menurut Winarsih Arifin dalam Babad Blambangan , menyebut kalau Babad Tawang Alun dibuat antara 1826-1827. Ditulisnya di Banyuwangi. Masa Kejayaan Sebagaimana dijelaskan dalam Babad Tawang Alun, daerah asal Tawangalun adalah Kedawung. Moyangnya adalah Ki Mas Tanpa Una. Ki Mas Tanpa Una pun bergelar Pangeran Kedawung. Pemerintahan Ki Mas Tanpa Una berlangsung sekira 1651-1665. Ia bergelar Pangeran Kedawung dengan pusat pemerintahan di Kedawung. Menurut Zainollah, kini letaknya masuk wilayah Jember. Menurut Babad Tawang Alun, dari tahun ke tahun kekuasaan Ki Mas Tanpa Una, kehidupan rakyat membaik. Muncul kemudian generasi dari Pangeran Kedawung dengan putra sulungnya Raden Mas Tawangalun (1665-1691), Mas Wils, Mas Ayu Tanjung Sekar, Mas Ayu Melok, dan Mas Ayu Gringsing Retna. Ketika Ki Mas Tanpa Una wafat, Tawangalun sang Putra Mahkota menggantiakannya sebagai penguasa Blambangan di Kedawung. Saudaranya yang termuda, Mas Wils, diberinya jabatan sebagai patih. Namun empat tahun berikutnya, ia berontak terhadap kakaknya. Tawangalun pun lari dari istana dan mengungsi ke Bayu. Tempat yang kata Margana, 100 tahun kemudian menjadi markas para pemberontak Blambangan, Rempeg atau Jagapati. Di sana Tawangalun membangun sebuah keraton baru dan mendapatkan dukungan dari rakyat Blambangan. Namun, gangguan dari adiknya tak berhenti. Enam tahun kemudian, Mas Wils membawa pasukan menyerang dan mengepung Bayu. Buntutnya, Mas Wils yang harus tewas. Pusat pemerintahan pun dipindahkan kembali. Kali ini ke Macan Putih. Sejak itu, Blambangan kian maju pesat. Kekuasaannya menyatu hingga Lumajang. Tawangalun pun menguasai seluruh Kerajaan Blambangan. Sejak abad ke-16 pengaruh eksternal di kekuasaan Blambangan semakin kuat. Hingga pada akhir abad itu, kata Sri Margana, Blambangan jatuh ke dalam kekuasaan Raja Bali Gelgel. C. Lekkerkerker pun meyakini bahwa setelah tahun 1600, raja-raja Blambangan memiliki darah Bali. Pada waktu yang bersamaan, Kesultanan Mataram mulai menunjukkan kekuatannya di Jawa Timur. Pada 1625, Sultan Agung (1613-1646) mengirim ekspedisi militer ke Blambangan. 20.000 hingga 30.000 prajurit dilibatkan. Belum lagi VOC yang kemudian menancapkan pengaruhnya di Blambangan. Makin seringlah terjadi pergolakan perebutan takhta. Sepanjang 42 tahun, sejak 1655 sampai 1697, terjadi empat kali pemberontakan dan empat kali perpindahan ibukota. “Kedudukan istana di Kedawung dipindahkan ke Bayu pada 1655, lalu ke Macan Putih dan akhirnya ke Kutha Lateng,” jelas Zainollah. Kata dia, kuatnya pengaruh eksternal yang selalu mencampuri urusan suksesi Blambangan menyebabkan perang terus-menerus. Namun pada 1676, Tawangalun akhirnya memutuskan untuk membebaskan diri dari Mataram. “Ia menghentikan pemberian upeti serta kunjungan tahunannya ke Mataram,” kata Margana. Dalam kisah, Tawangalun dikenal memiliki wawasan luas. Ia merupakan penganut Hindu yang taat. Kendati begitu, ia tak melarang komunitas Islam berkembang. Ia hanya berkeinginan kuat untuk membendung dominasi asing yang makin kuat. Sepak terjang Tawangalun ini tercatat dalam arsip-arsip Belanda. Khususnya masa-masa terakhir kekuasaannya. Arsip Belanda misalnya mencatat prosesi pembakaran jenazah Prabu Tawangaun yang meninggal pada 1691. Proses ini juga direkam dalam Babad Blambangan. Berdasarkan penuturan babad, setelah tubuh Tawangalun dikubur di belantara Plecutan pada 1691 atau 25 hari sejak kematiannya, mayatnya dikremasi dalam sebuah acara ritual pengorbanan diri ( sati ) secara besar-besaran. Disebutkan sebanyak 271 orang dari 400 istri Tawangalun ikut bela sati. “Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki banyak istri, selir dan keturunannya yang kemudian tersebar,” kata Zainollah. Dalam waktu relatif singkat, Kerajaan Blambangan di bawah Tawangalun mencapai puncak kejayaannya. “Tampaknya, tidak ada satu hal pun yang membuat nama Tawangalun ternoda dalam pandangan rakyat Blambangan,” jelas Margana.
- Sukarno dan Islam
Siapa meragukan ke-Islaman Sukarno? Sedari muda akrab dengan Ahmad Hassan dari Persis, pernah akan syahid ketika salat Idul Adha, dan naik haji setelah sukses melaksanakan Konferensi Asia Afrika
- Henk Sneevliet yang Ulet
Peletak dasar komunisme di Hindia Belanda dan dihukum mati oleh NAZI.
- Ketika Timnas Primavera Puasa di Italia
MENYUSUL Bundesliga Jerman, tiga liga top Eropa lain bakal menggelar kick off lagi terlepas belum sirnanya pandemi virus corona. Di sisi lain, perkara klasik bagi para pemain Muslim kembali muncul, yakni pilihan antara mempertahankan puasa atau memilih profesionalitas. Pengalaman seperti itu pernah dialami Yeyen Tumena, eks bek timnas, PSM Makassar, Persebaya, dan Persma Manado. “Saya mengalaminya langsung mulai dari Primavera ya. Sebagian besar anak-anak (Timnas Primavera) merasa ya akidah tetap akidah. Agama tetap agama, dan sepakbola adalah sepakbola,” kata Yeyen dalam obrolan live “Bolatoria: Puasa dan Sepakbola” di Youtube maupun Facebook yang dihelat Historia dan Bolalob.com pada Jumat (15/5/2020). Menurut Yeyen, titik persoalannya bukan hanya pengertian pihak klub atau pelatih, namun juga bagaimana si pemain menjaga disiplin diri seandainya memilih tetap berpuasa di tengah jadwal latihan dan pertandingan. Tantangan itu datang ketika Yeyen berusia 18 tahun, saat menjadi bagian timnas Primavera. Sebagaimana pemuda Minang yang lazimnya kehidupannya kental nilai agama, Yeyen berusaha sekuat mungkin mempertahankan imannya di bulan Ramadan sekaligus menjawab kepercayaan padanya mengingat hanya 22 pemuda Indonesia yang terpilih masuk tim Primavera. Baca juga: Sepakbola, Puasa, dan Corona Yeyen Tumena (kostum nomor 6) di Tim PSSI Primavera (Foto: Instagram @yeyen_tumena) Mengutip biografi Azwar Anas, Ketua Umum PSSI kala itu, Teladan dari Ranah Minang , proyek Primavera yang memakan dana sekira Rp8 miliar digulirkan PSSI bersamaan dengan pendidikan calon pelatih ke Eropa. Bersama 22 pemain kelompok umur 17-21 tahun, tiga pelatih juga diberangkatkan: Danurwindo dari Semarang dan Suhatman dari Padang. Proyek tersebut dicetuskan berdasarkan rangkuman rekomendasi Franz Beckenbauer, tokoh sepakbola Jerman cum pelatih Bayern Munich, yang diundang Azwar Anas ke tanah air. “Sesuai rekomendasi Beckenbauer, beberapa langkah yang diambil PSSI untuk meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia, pertama mendatangkan instruktur untuk para pelatih, pelatihan wasit-wasit, mendidik calon pelatih timnas di Eropa, serta membentuk kesebelasan Primavera dan Barreti (kelompok umur 15-17 tahun. Mereka dilatih di (akademi) klub Sampdoria,” ungkap Abrar Yusra si penulis biografi Azwar Anas. Baca juga: Parma yang Bangkit dari Kubur Timnas PSSI Primavera yang terdiri dari Yeyen cs. dikirim ke Genoa, basis akademi sepakbola Sampdoria, untuk diasuh pelatih asal Swedia Tord Grip. Tim itu disebut Timnas PSSI Primavera lantaran kemudian mereka diikutkan ke kompetisi Campionato Nazionale Primavera musim 1993-1994 guna memperebutkan Trofi Giacinto Facchetti. Kompetisi itu dioperasikan Lega Calcio dan berisi tim-tim asal akademi klub-klub Serie A. “Kita hadir di sana istilahnya dengan tim-tim pelapis Serie A, sehingga pemain-pemain yang ada di Serie A adalah pemain yang lahir di kompetisi Primavera. Semua pemain Serie A pasti melewati fase bermain di Primavera. Alessandro Del Piero, misalnya. Setelah kita kalah lawan Juventus 3-0, di mana semua gol diciptakan dari dia, minggu depannya itu pertandingan terakhir dia untuk kemudian main di Serie A,” tutur Yeyen lagi. “Juventus saat itu lagi kehilangan (Gianluca) Vialli, (Fabrizio) Ravanelli, dan Roberto Baggio. Jadi pemain Primavera yang terdekat yang naik. Debutnya lawan Reggiana sebagai pemain pengganti dan dia cetak gol. Setelah itu tak pernah lagi dia turun ke Primavera,” lanjutnya. Yeyen Tumena (kiri) saat mengawal Ruud Gullit di kompetisi Primavera (Foto: Instagram @yeyen_tumena) Kompetisi Primavera, imbuh Yeyen, juga lazim jadi ajang para pemain yang baru pulih cedera menjalani laga-laga percobaan sebelum comeback ke tim utama. Maka di kompetisi itu Yeyen tak hanya pernah bermain dan mengawal calon-calon bintang macam Alessandro Del Piero dan Francesco Totti, tetapi juga pemain-pemain kawakan macam Pietro Vierchowood hingga Ruud Gullit. “Jadi kalau bicara masa itu, waktu kita lawan Sampdoria, di skuad Primavera-nya mereka ada (Pietro) Vierchowod, (Ruud) Gullit, (Roberto) Mancini. Kurniawan (Dwi Yulianto) saat itu memang bisa bikin gol. Tetapi yang masuk koran bukan Kurniawannya. Justru saya karena saya jaga Ruud Gullit saat itu,” kata Yeyen mengenang. Puasa dan Lebaran di Negeri Pizza Pada awal di Italia, Yeyen cs. mengalami masalah dengan makanan. “Awal-awal kita kesulitan adaptasi dengan makanan di sana: pasta dan pizza,” ujarnya. Beruntung, manajemen mau mendatangkan koki dari tanah air. Maka sejak musim panas 1993, di masa awal kompetisi Primavera, mereka masih dimanjakan masakan-masakan Indonesia. “Tetapi diatur, pagi dan siang makanannya masih ala Italia, malamnya baru makan nasi, ayam goreng dll,” papar Yeyen. Dari adaptasi itu Yeyen mendapati perbedaan asupan karbohidrat, yang punya pengaruh berbeda bagi tubuh, antara dari nasi dan jenis-jenis pasta. Nasi karena mengandung gula, lebih cepat terbakar dalam pencernaan. Sementara, pasta terbilang lebih awet sebagai bahan bakar energi. Pelajaran sederhana ini ternyata berguna bagi para punggawa PSSI Primavera yang berusaha tetap berpuasa di tahun 1994, yang bulan Ramadhan-nya dimulai pada pertengahan Februari. “Memang ketika kita berpuasa, sangat berdampak pada penampilan di lapangan. Seperti kita lawan Fiorentina yang jam tandingnya siang, kita sampai kalah 6-0. Manajemen dan tim pelatih sampai memberi wejangan supaya anak-anak jangan puasa dulu kalau memang tidak mampu mengatur kondisi. Sampai didatangkan psikolog top dari Indonesia, Pak Jo Rumeser,” kata Yeyen. Tim PSSI Primavera saat diperkenalkan ke publik Italia (Foto: Instagram @yeyen_tumena) Rumeser datang untuk memberi gambaran, tetapi bukan dalam konteks memberi tekanan pemain untuk tidak berpuasa. “Kita juga sampai didatangkan ustadz dari KBRI di Roma. Artinya saat kita punya pekerjaan yang cukup berat dan berada di negara orang, kemudian ada target yang mungkin sudah disiapkan, tentu tergantung pada keimanan. Lalu juga bagaimana memenuhi nutrisi yang dibutuhkan karena kita main siang,” tambahnya. Baca juga: AS Roma, Darah Daging Fasisme Italia yang Menggebrak Eropa Setelah diberi pengertian, beberapa punggawa akhirnya memilih untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Pasalnya, menurut Yeyen, sangat tidak mudah menyesuaikan rutinitas fisik agar tak kekurangan nutrisi untuk tubuh yang harus digenjot jadwal latihan dan pertandingan di tengah ibadah puasa. “Kalau main siang, artinya nutrisi yang dikumpulkan dari malam harus diatur, apa yang dimakan saat berbuka puasa. Kemudian sahur kan harus bangun sebelum Subuh, kemudian tidurnya jadi agak telat. Dari bimbingan mereka, kita mencoba mengambil dua garis besar. Ketika berniat puasa, kita harus disiplin dengan apa yang dibutuhkan,” ujar Yeyen. “Misal, saya butuh 3.500 kalori untuk bertanding. Kemudian saya butuh tiga liter air. Kebutuhan itu apakah sudah kita penuhi ketika berbuka dan sahur? Kalau tak bisa terpenuhi, kita harus berpikir, saya memaksakan main dengan kondisi tidak fit atau saya berhutang puasa. Jadi dua hal itu yang pribadi kita (tentukan, red .), antara mau puasa atau tidak,” tuturnya. Yeyen Tumena (kanan) berbagi pengalaman berpuasa dan Lebaran di Italia dalam obrolan live "Bolatoria" Ketika bulan Ramadan usai, para anggota timnas Primavera yang Muslim mesti shalat ied (Hari Raya Idul Fitri). Seingat Yeyen, saat itu kompetisi tak diliburkan. “Di Italia itu kompetisi tetap jalan, termasuk ketika Idul Fitri. Masjidnya di Genoa itu butuh perjalanan darat tiga jam. Sementara di tim kan tidak semuanya Muslim, dan kita tetap ada jadwal latihan pas Lebaran itu. Sehingga tim pelatih mencoba penyesuaian jadwal di- mix and match ,” ujar Yeyen. “Jadi (pemain-pemain) yang Muslim diantar dulu ke masjid, tapi yang non-Muslim tetap di hotel dan apartemen. Ketika yang Muslim sudah selesai (shalat ied) dan langsung berangkat lagi ke lapangan, teman-teman yang non-Muslim bergerak juga ke lapangan, jadi ketemu di lapangan. Karena kalau yang Muslim ke hotel/apartemen lagi, enggak efisien waktunya.” Baca juga: Balada Klub Antah Berantah Como 1907
- Buto Menari di Banyuwangi
SEORANG lelaki datang diiringi empat rekannya yang masing-masing membawa kuda dari kulit kerbau, cemeti, dan kepala buto. Tak lama setelahnya ia terduduk di tengah lapangan, berdoa, sembari menyanding kemenyan yang terbakar. Sejurus kemudian ia menari dengan cemeti yang ia lecutkan sekali dua. Lelaki yang membawa kuda dari kulit kerbau maju, mengasapi kudanya dengan kemenyan, lantas menemani si lelaki cemeti menari. Lelaki yang membawa kepala buto menyusul kemudian. Begitu ritual pembuka selesai dilakukan, sebanyak 234 buto masuk ke lapangan Krandenan, Purwoharjo. Gelombang pertama yang masuk ialah buto prajurit, diikuti patih, dan terakhir raja. Dengan wajah merah bertaring, rambut gimbal, dan mengapit replika kuda mereka menari ramai-ramai ( flashmob ) dalam Festival Jaranan Buto Millenial , yang masuk agenda Banyuwangi Festival, pada 8 Maret 2020. Para penari buto yang pentas malam itu merupakan murid SD-SMA di Banyuwangi. Suara gamelan, seperti bonang, gong, kempul, seruling, kecer, dan kendang mengiringi tarian perang mereka. Dua kubu saling hadap, berbalas tarian dan lecutan cemeti. Baca juga: Kuda Lumping Gaya Banyuwangi Ada tiga karakter dalam tarian Jaranan Buto, yakni raja, patih, dan prajurit. “Iya butonya juga memiliki nama, rajanya bernama Dosomuko, patihnya bernama Kumbokarno, dan prajuritnya bernama Patih Sekipu,” kata Setro Asnawi, pencipta tari Jaranan Buto Banyuwangi. Setro jadi salah satu seniman tari Jaranan Buto yang mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dikabarkan Banyuwangi.go.id dalam kesempatan tersebut Abdullah menyampaikan terima kasihnya kepada Setro, Kayid, dan Jumar yang terus melestarikan Jaranan Buto sebagai kesenian khas Banyuwangi. Penciptaan Setro Asnawi pindah dari Trenggalek ke Banyuwangi pada 1963. Kala itu usianya 23 tahun. Tahun pertama di Banyuwangi ia habiskan untuk bergaul dengan para seniman tari tradisional di Desa Cluring. “Saya mengamati daerah Banyuwangi tentang keseniannya. Di situ saya mempunyai ide ingin menambah kesenian di Banyuwangi,” kata Setro kepada Annisa’ul Fitriyah yang mewawancarainya untuk skripsi “Mitos Dalam Kesenian Tarian Jaranan Buto ‘Sekar Dhiyu’ Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi”. Baca juga: Masjid di Jantung Banyuwangi Menurut Setro, jaran kepang di berbagai wilayah relatif sama. Maka ia punya ide untuk menjadikan tokoh Minak Jingga yang punya akar kuat dalam sejarah Banyuwangi sebagai lakon dalam tari jaranan ciptaannya. “Minak Jinggo, yang dulunya ganteng dan bagus setelah bertempur dengan Kebomarcuet jadinya menjadi seperti buto. Jadi menurut saya jika saya menciptakan suatu kesenian jaranan bergambar buto sangat cocok berkembang di daerah Banyuwangi,” kata Setro. Kesenian Jaranan Buto ia ciptakan dari hasil perpaduan kesenian Trenggalek dan Banyuwangi. Banyak orang Osing, suku asli Banyuwangi, tinggal di Kecamatan Cluring. Sementara kecamatan Gambiran yang berbatasan dengan Cluring mayoritas penduduknya keturunan Mataram. Masyarakat Osing mengenal Minak Jingga sebagai pahlawan dari Kerajaan Blambangan, bahkan ada upaya penggambaran ulang sosok Minak Jingga sebagai ksatria tampan dan gagah. Namun dalam kisah Damarwulan, Minak Jingga digambarkan jahat dan berwujud buto. Kisah inilah yang lebih dominan hidup di masyarakat Jawa. Dari kedua cerita rakyat tersebut, Setro menciptakan tarian Jaranan Buto yang menggambarkan pertarungan dan perwujudan Minak Jingga sebagai buto. Baca juga: Ketika Orang Mandar Berlabuh di Banyuwangi “Jaranan Buto itu banyak berkembang di daerah Banyuwangi Selatan yang basisnya memang masyarakat Mataraman. Jadi Jaranan Buto itu akulturasi antara budaya masyarakat Mataraman dan idiom masyarakat Osing,” kata Hasan Basri, budayawan Banyuwangi kepada Annisa. Setro menyebut gerakan dalam Jaranan Buto sebagai lincak gagak, lantaran mirip burung gagak yang melompat-lompat. Gerakan tarinya lebih fokus pada kaki dan para pemain saling berhadapan, seolah siap baku hantam. Setro juga memberi sentuhan pada jaranan yang digunakan. Ia membuatnya dari kulit lembu (bukan anyaman bambu) dan berwujud kuda buto. Wujud itu ia ambil dari wayang buto. Pada awal penciptaannya, orang yang menaiki jaranan merupakan ksatria, sehingga tak boleh berhias seperti buto. Namun pada perkembangan selanjutnya, para penari berhias seperti buto untuk alasan seni. “Buto ini kebanyakan jahat, namun ada juga buto yang memiliki kemanusiaan, dan sebenarnya dulu itu yang menaiki adalah ksatria, bukan buto,” kata Setro. Baca juga: Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi Setelah berhasil menciptakan Jaranan Buto, Setro bergabung bersama Darni Wiyono dan beberapa seniman lain untuk mendirikan organisasi Jaranan Buto Sekar Dhiyu pada akhir 1963. “Tahun 1967 Jaranan Buto dirintis kembali dengan nama Sekar Dhiyu Baru Muncul. Raja Blambangan Minak Jinggo memang wujudnya seperti raksasa namun jiwanya seperti ksatria,” kata Darni. Makna Lain Buto Minak Jingga dalam tarian Jaranan Buto digambarkan sebagai seorang raksasa yang melawan Kebomarcuet. Karena itulah, gerakan tari didominasi adegan pertarungan antara dua raja dan pasukannya. Dalam kisah, Raja Majapahit membuka sayembara untuk memburu Kebomarcuet. Pemenang sayembara akan mendapat imbalan, diangkat anak bila perempuan dan menjadi mantu bila lelaki. Minak Jingga, atau sebelumnya dijuluki Joko Umbaran, mengikuti sayembara itu. Ia tidak digambarkan sebagai buto yang ganas, melainkan pemuda tampan, gagah, dan sakti, patih terbaik di Majapahit. Berkeliling Jawa, ia berkelana mencari Kebomarcuet, siluman berbadan manusia dan berkepala kerbau yang dianggap berbahaya bagi Kerajaan Majapahit. Baca juga: Menak Jingga yang Ganteng Pertempuran dengan Kebomarcuet amat sengit. Joko Umbaran berhasil mengalahkan musuh dan mengambil tanduknya. Tanduk ini kemudian diubah menjadi gada ( godho ). Dipercaya, kekuatan Kebomarcuet tersimpan di tanduknya sehingga siapa pun yang memiliki tanduk tersebut akan mendapat kedigdayaan. Meski berhasil mengalahkan siluman kerbau itu, Joko Umbaran mendapatkan luka di sekujur tubuhnya lantaran diseruduk Kebomarcuet. Kemenangannya harus dibayar dengan rusaknya wajah. Joko Umbaran kehilangan ketampanannya. Akibatnya, ia kehilangan kesempatan mempersunting anak Raja Majapahit. Sang putri menolak diperistri karena ngeri melihat wajah pemenang sayembara. Joko Umbaran sakit hati. Namun Sang Raja berusaha menenangkan dengan mengganti imbalan sayembara. Baca juga: Dwarapala Berwajah Ramah Joko Umbaran diberi kuasa untuk memerintah di Jawa bagian timur. Wilayah ini kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Blambangan, yang kini meliputi Karesidenan Besuki, termasuk Banyuwangi. Sejak itu ia disebut sebagai Prabu Minak Jingga yang berwajah seperti buto. Meski Prabu Minak Jingga mempunyai wujud seperti raksasa, jiwa ksatrianya tak hilang. Bagi rakyat Banyuwangi, ia dikenal sebagai sosok raja bijaksana dan sakti mandraguna. “Buto juga tidak selalu identik dengan orang yang menyeramkan. Buto juga memiliki arti lain, yaitu nyebuto . Nyebuto berarti kembali kepada tuhan, bahwa semua yang ada di bumi ini adalah ciptaan,” kata Setro.
- Ketika Orang Mandar Berlabuh di Banyuwangi
ORANG Mandar, seperti para tetangganya, Bugis, Makassar, dan Bajau, memiliki tradisi sebagai orang laut yang hebat. Mereka lihai sebagai nelayan dan penjelajah laut yang berlabuh di berbagai pesisir Nusantara. Kampung-kampung orang Mandar kemudian muncul di luar Sulawesi. Salah satunya di Banyuwangi. Pada masa kolonial, Banyuwangi memiliki jalan bernama Boomstraat. Jalan sepanjang satu kilometer itu menghubungkan alun-alun di pusat kota di ujung barat dengan pelabuhan di ujung timur. Jalan ini menjadi salah satu ciri kota pelabuhan di Pulau Jawa seperti Banyuwangi. Menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe , rumah-rumah Eropa dibangun di sepanjang Boomstraat . Toko serba ada yang menjual kartu pos bergambar Banyuwangi juga didirikan di jalan ini. Terdapat pula kampung-kampung nelayan seperti Kampung Melayu dan Kampung Mandar. “Dahulu, di sepanjang Boomstraat ini banyak terdapat permukiman nelayan dari luar, misalnya Kampung Melayu tersebut dan Kampung Mandar (orang Sulawesi) yang terletak sekitar 500 meter ke arah lurus sebelah kiri jalan,” tulis Johannes Raap. Kampung Mandar, seperti namanya, merupakan permukiman orang-orang Mandar yang datang dari Sulawesi bagian barat. Mereka mulai berdatangan ke Banyuwangi, yang dulu disebut Blambangan, sejak abad ke-18 dan terus berlangsung hingga abad ke-19. Tujuan utamanya untuk berdagang. Selain berasal dari kampung halaman mereka, orang-orang Mandar di Banyuwangi berasal dari orang Mandar yang telah bermigrasi ke berbagai daerah. Beberapa di antaranya adalah mereka yang sebelumnya pindah ke pulau-pulau di Sulawesi bagian selatan seperti Pulau Baranglompo. “Dari Pulau Baranglompo ini, selanjutnya banyak orang Mandar yang pindah ke Pasuruan, Panarukan, Banyuwangi,” tulis Mukhlis dkk dalam Persepsi Sejarah Kawasan Pantai . Kawasan Penting Orang Mandar awalnya mendiami pesisir Ulupampang, yang sekarang bernama Muncar, bersama berbagai komunitas pendatang lainnya seperti Bugis, Melayu, Tionghoa, dan Arab. Mereka memainkan peranan penting dalam aktivitas ekonomi dan perdagangan. Bahkan terlibat dalam perlawanan Blambangan melawan Belanda. Wijkenstelsel, kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengharuskan permukiman dipisah berdasarkan etnis, membuat mereka harus pindah. Menurut Lisa Dwi Wulandari dan Chairul Maulidi dalam Topologi Lanskap Pesisir Nusantara: Pesisir Jawa ,karena bermata pencaharian sebagai nelayan, orang-orang Mandar pindah ke pesisir Boom dan membentuk Kampung Mandar yang sekarang. Di Kampung Mandar, mereka membangun rumah panggung sebagaimana rumah orang Mandar di kampung halaman mereka di Sulawesi. Tiang-tiang yang menyangga rumah panggung berfungsi untuk menghindari banjir ketika air laut sedang pasang. Dalam perkembangannya, ketika tanggul-tanggul penahan air laut dibangun, kolong-kolong rumah panggung ditutup. Dinding bata dibangun di bagian bawah dan menyatu dengan bangunan kayu di atasnya. Wilayah Kampung Mandar di Banyuwangi meliputi pesisir yang mengelilingi Teluk Boom. Di tengahnya terdapat sebuah pulau kecil. Wilayah ini secara administratif merupakan satu kelurahan sendiri yakni Kelurahan Kampung Mandar. “Teluk Boom yang ada di timur kota Banyuwangi merupakan kawasan teritorial penting, sebagai salah satu simpul pelayaran yang terhubung ke Sulawesi dan Bali,” sebut Wulandari dan Maulidi. Sebelum pelabuhan Ketapang dibangun, dermaga Teluk Boom terkenal sebagai penghubung Jawa dan Bali. Pada masa kolonial, pengaturan dan pengelolaan Teluk Boom dipercayakan kepada seorang tokoh lokal dari suku Mandar yang bergelar Datuk Kapiten. Tradisi Khas Kampung Mandar hari ini tidak hanya didiami orang-orang Mandar melainkan juga Jawa, Madura, Osing, sedikit keturunan Tionghoa dan Arab. Sebagian besar bekerja sebagai pengusaha skala kecil, nelayan, dan buruh. Namun tradisi dan kebudayaan khas Mandar yang diwariskan nenek moyang mereka masih dijalankan, seperti tradisi saulak , manten kurung , dan hadrah angguk . “Tradisi saulak adalah upacara pra-nikah, sebagai bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang, berkumpul bersama keluarga besar, dan memohon keselamatan. Kembang telon selalu ada di setiap upacara tradisi Mandar, yang di akhir acara kembang dilarung ke laut,” tulis Wulandari dan Maulidi. Di Kampung Mandar, kita akan menjumpai orang-orang berjualan garek atau cacing tambang sebagai umpan memancing. Pantai Boom yang kini tengah dikembangkan pemerintah turut membangun kembali masyarakat Kampung Mandar. Mereka mendirikan warung-warung yang menjual ikan bakar dan menyewakan kuda tunggangan untuk menyusuri pantai. Lanskap Gunung Agung Bali menjadi latar utama pemandangan Pantai Boom yang menawan. Berbagai festival digelar di pantai berpasir hitam ini seperti Beach Jazz Festival, Gandrung Sewu, dan Fish Market Festival. Mandar Fish Market Festival digelar untuk mempromosikan potensi perikanan ekaligus mengangkat kawasan nelayan Kampung Mandar sebagai salah satu ekowisata bahari. Mandar Fish Market Festival ini masuk dalam agenda tahunan Banyuwangi Festival.*
- Blambangan dan Kuasa di Ujung Timur Jawa
Raja Blambangan, Menak Jingga, menolak mengakui kedaulatan Majapahit. Namun, ia ingin menikahi Ratu Majapahit, Kencanawungu. Sang ratu menolak dan mengirim Damarwulan untuk membunuhnya. Damarwulan berhasil membunuh Menak Jingga. Kepalanya dipersembahkan kepada ratu. Setelah mereka menikah, sang ratu mengangkat Damarwulan ke singgasana. Perang antara Menak Jingga dan Damarwulan dalam kisah Damarwulan itu mirip dengan salah satu episode kekacauan dalam sejarah Majapahit. Dalam Serat Pararaton , episode ini dicatat sebagai peristiwa paregreg. J.L.A. Brandes, filolog berkebangsaan Belanda, dalam Verslag over een Babad Balambwangan, mengasosiasikan Menak Jingga dengan Bhre Wirabhumi. Anak selir ( rabihaji) Hayam Wuruk ini tak berhak menggantikan ayahnya. Maka, ditunjuklah Kusumawarddhani dan suaminya, Wikramawarddhana, untuk naik ke singgasana. Wirabhumi diberi kekuasaan memerintah di wilayah timur kerajaan. Sementara Kusumawardhani mendapat bagian barat dan berkedudukan di pusat Majapahit. Wirabhumi tidak menerima keputusan itu. Ia menentang pemerintahan saudari tirinya dan Wikramawardhana. Serat Pararaton mengisahkan Wikramawardhana atau Bhra Hyang Wisesa dari Kadaton Kulon , akhirnya mengalahkan Kadaton Wetan. Wirabhumi melarikan diri tapi tertangkap dan kepalanya dipenggal. Meski baru dikenal pada abad ke-16 atau awal abad ke-17, yang kemudian menyebar dalam berbagai versi, riwayat Damarwulan dapat memantik pencarian awal mula keberadaan Kerajaan Blambangan di ujung timur Jawa. Kendatiinformasi tentang kerajaan ini lebih banyak tercampur dengan mitos dan legenda. Cikal Bakal Sejarawan Sri Margana dalam disertasinya, "Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan, c. 1763-1813",menyebut banyak sejarawan yang yakin tak lama setelah kejatuhan Tumapel (Singhasari) dan berdirinya Majapahit pada akhir abad ke-13 (1293), kerajaan baru didirikan di sebelah timur Jawa. Kerajaan ini memakai nama Blambangan. "Pendiri kerajaan ini dan lokasi ibu kotanya yang tepat sangat sulit ditentukan," tulis Margana . Meskipun demikian, pada awal Majapahit berdiri, wilayah ujung timur Jawa punya posisi yang spesial. Ini dimulai dari janji Kertarajasa Jayawardhana kepada Bupati Sumenep, Arya Wiraraja, untuk membagi dua kekuasaannya sebagaimana dikisahkan dalam Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton. P endiri Majapahit yang populer dengan nama Raden Wijaya itu membalas jasa kepada Wiraraja yang membantunya membangun Majapahit dan menumpas Jayakatwang dari Glang Glang. Janji itu baru lunas setelah pecah pertempuran dengan Rangga l awe pada 1295. Menurut Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit , Wiraraja mendapat bagian kerajaan di sebelah timur, terus ke selatan sampai pantai yang memuat TigangJuru . Sejak itu, ia berdiri sendiri sebagai raja di Lamajang dan tak lagi menghadap raja. "Wiraraja kembali ke Lamajang Tigang Juru, karena janji Raden Wijaya akan membagi dua Pulau Jawa, mendapat anugerah daerah Lamajang Utara, selatan, dan Tigang Juru ," catat Pararaton. Berdasarkan perjanjian Wiraraja dan Wijaya, maka Lamajang dan TigangJuru berada di bawah pemerintahan Wiraraja. Belakangan Lamajang menjadi basis perlawanan Nambi, yang menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya , adalah putra Wiraraja. Nambi mengangkat senjata terhadap pemerintahan Jayanegara, pengganti Wijaya. Nambi dan pendukungnya ditumpas pada 1316. Setelah peristiwa Nambi, wilayah timur kerajaan kembali di bawah kendali Majapahit. Pada masa inilah diduga nama Blambangan mulai dikenal. Muncul sebuah prasasti yang diduga menyebut nama lama Blambangan. "Menyapu bersih pemberontakan di Marlambangan ," catat prasasti itu berdasarkan terjemahan Mohammad Yamin dalam Tatanegara Madjapahit Parwa II. Dalam prasasti yang diperkirakan ditulis pada masa Jayanegara itu disebutkan Marlambangan , yang diterjemahkan menjadi Blambangan, dianugerahi status sima. Alasannya karena berbakti membantu tegaknya kedudukan raja di singgasana. Sementara itu, menurut sejarawan Jember, Zainollah Ahmad dalam Tahta di Timur Jawa: Catatan Konflik dan Pergolakan pada Abad ke-13 sampai ke-16, prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan selesainya penumpasan pemberontakan Nambi. Hal itu juga diisyaratkan dalam Nagarakrtagama . Dalam perjalanan kenegaraannya pada 1359, Hayam Wuruk mengunjungi Lamajang dan beberapa daerah di timur Jawa.Selain para pejabat Patukangan(Panarukan), tiga pejabat dari Bali, Balumbun, dan Madura, juga menghadap Hayam Wuruk. Zainollah mengaitkan Balumbun sebagai Blambangan. Menurut Zainollah, wilayah Lamajang dan TigangJuru tidak berkaitan secara historis dengan berdirinya Kedaton Wetan yang cikal bakalnya pada masa Hayam Wuruk. Meskipun memang ada kesamaan wilayah kekuasaan. "Adalah penyesatan sejarah untuk mengidentikan Lamajang dan TigangJuru yang didirikan Wiraraja dengan Kedaton Wetan di bawah Bhre Wirabhumi," kata Zainollah. Wilayah TigangJuru dimaknai berbeda-beda oleh para sejarawan. Zainollah menjelaskan wilayah Lamajang adalah batas barat. Sedangkan wilayah TigangJuru adalah wilayah utara, timur, dan selatan yang berbatasan dengan Lamajang. "Jadi wilayah TigangJuru adalah wilayah yang sekarang meliputi wilayah Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi," jelas Zainollah. "Ini adalah wilayah yang akhirnya juga diklaim sebagai wilayah Kerajaan Blambangan." Sementara itu, Hasan Djafar memperkirakan wilayah Wirabhumi terletak di ujung timur Majapahit, mencakup wilayah Lamajang dan Blambangan. Lebih jauh Zainollah menyebut kekuasaan Wirabhumi meliputi Banger di Probolinggo, Panarukan di Situbondo, hingga jazirah Blambangan. Pusatnya di Lamajang. "Wilayah Wirabhumi meliputi kawasan Lamajang dan TigangJuru yang pernah ada di masa Arya Wiraraja," lanjutnya. Kerajaan Blambangan yang muncul belakangan pada era Islam dan kolonial memiliki wilayah dari Lumajang (Gunung Bromo) sampai jazirah Blambangan sebagaimana diuraikan dalam Babad Blambangan. Status Politik Blambangan Jika wilayah kekuasaan Wirabhumi dianggap sebagai cikal bakal Kerajaan Blambangan, pada awalnya ia berstatus sebagai bawahan Majapahit. Walaupun agak ambigu jika menilik sumber Tiongkok. Berita dari masa Dinasti Ming (1368-1643) mencatat pada 1403 Kaisar Ch’eng-tsu mengirim utusan ke Jawa, yaitu ke raja "bagian barat", Tu-ma-pan, juga ke raja "bagian timur", yakni Put-ling-ta-hah atau p’i-ling-da-ha. Laksaman Cheng Ho kemudian memimpin armada ke Jawa. Setahun setelah tiba, ia menyaksikan dua raja Jawa saling berperang. Kerajaan di timur kalah dan dirusak. Waktu itu utusan Tiongkok berada di kerajaan bagian timur. Arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit Girindrawarddhana dan Masalahnya menyebut wilayah Wirabhumi atau yang disebut Kedaton Wetan dalam Pararaton sebagai negara daerah. Epigraf Boechari pun melihat peperangan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan bukannya antara dua kerajaan yang berbeda. Dalam "A Preliminary Note on the Study of the Old-Javanese Civil Administration", termuat dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, Boecharimengatakan bahwa wilayah kekuasaan Wirabhumi adalah salah satu daerah bagian Majapahit. Hal itu berdasarkan KakawinNagarakrtagama, Prasasti Waringin Pitu (1447), dan Prasasti Trowulan III (Pertengahan abad ke-15). Mereka yang memimpin dipanggil dengan gelar Bhra ( Bhre ) atau Bhatara. Bhre Wirabhumi salah satunya. Masing-masing kepala daerah memiliki hak otonomi. "Contohnya Bhre Wirabhumi yang mendapat wilayah di ujung timur Jawa, bisa mengirim utusannya sendiri ke Tiongkok. Karenanya, catatan Tiongkok pun mengira kalau ada dua kerajaan di Jawa Timur," kata Boechari. Namun, seperti kata Zainollah, lahirnya Kedaton Wetan mengakibatkan Kerajaan Majapahit terbelah menjadi dua faksi politik. "Keluarga yang tidak puas, jelas mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dengan mendukung Kedaton Wetan," jelasnya. Selepas Wirabhumi Wirabhumi dari Kedaton Timur yang menentang Majapahit akhirnya tewas. Namun, kata Hasan Djafar, konflik keluarga itu bukannya reda. Sayangnya, bahkan Serat Pararaton tak memberi banyak petunjuk mengenai nasib Blambangan setelah kematian Bhre Wirabumi pada 1406. Sementara itu, Babad Blambangan menyebut setelah kematian Menak Jingga, Raja Brawijaya di Majapahit, menunjuk Menak Dadaliputih, anak Menak Jingga, sebagai penguasa baru Blambangan. Menurut Zainollah, ada yang menafsirkan Menak Dadaliputih adalah Bhre Pakembangan,salah satu anak Wirabhumi. Namun, Menak Dadaliputih juga dibunuh raja. Sang raja mengetahui penguasa baru Blambangan itu telah mencuri pusaka Majapahit yang terkenal, keris Kyai Semelagandring. "Menak Dadaliputih ini adalah putra Bhre Wirabhumi yang oleh raja Majapahit diberi haknya kembali, tapi kemudian tewas dalam peperangan melawan Majapahit," kata Zainollah. Kalaupun ini menjadi petunjuk, susah pula dipahami. Sang penulis babad tiba-tiba melompat menuju peristiwa yang terjadi satu setengah abad berikutnya di Blambangan. Ditambah lagi dalam salah satu bagian Babad Blambangan, yakni Babad Sembar dikisahkan versi yang sangat berbeda mengenai dinasti penguasa Blambangan. Menurut babad ini,Lembu Miruda, anak Brawijaya,adalah raja pertama Blambangan. Menurut Margana dalam disertasinya, penulis babad seolah menyatakan, setelah pembunuhan Menak Dadaliputih, penguasa Majapahit memilih untuk tidak mengangkat seorang penguasa baru di Blambangan dari dinasti Bhre Wirabumi yang pemberontak. Namun anaknya, Lembu Miruda yang ditunjuk menempati jabatan itu. "Dengan kata lain, penulis Babad Sembar melacak dinasti penguasa Blambangan hanya dari garis Raja Brawijaya yang secara genealogis bersambung dengan para penguasa Blambangan abad ke-18," tulis Margana. Dalam perkembangannya sejarah Blambangan tak pernah sepi dari konflik dan peperangan. Terutama pada abad ke-16, ketika wilayah itu berada di antara dua faksi politik yang berbeda antara Mataram Islam di barat dan Bali di timur. Di tambah lagi pada abad ke-17, kedatangan Belanda dan Inggris ikut mengadu kekuatan politik dan ekonomi di kawasan itu. Margana mengatakan Kerajaan Blambangan memiliki sejarah panjangnya sendiri. Ia telah berkembang bersamaan dengan kerajaan Hindu terbesar di Jawa, Majapahit. "Pada masa keruntuhan Majapahit abad ke-15, ia berdiri sebagai satu-satunya kerajaan Hindu di Jawa, mengontrol bagian terbesar wilayah ujung timur Jawa," tulis Margana.
- Jejak Sikh di Indonesia
SEJAK pertengahan abad ke-19, orang-orang Sikh mulai berdiaspora ke berbagai penjuru dunia. Dari Eropa, Asia Tenggara, Australia hingga Amerika Utara, komunitas-komunitas Sikh berkembang selama era kolonial. Orang Sikh bermigrasi sebagai buruh, pasukan keamanan, petani hingga pedagang. Di Asia Tenggara, Malaya menjadi pendaratan pertama orang-orang Sikh. Mereka dibawa oleh Inggris ke tanah Melayu itu pada 1873. Tujuan awalnya untuk memerangi pemberontak Tionghoa di pertambangan timah di Perak. Menurut Darshan Singht Tatla dalam The Sikh Diaspora, The Search for Statehood, mereka kemudian direkrut dalam dinas pemerintah dan membentuk pasukan keamanan dalam kendali Inggris. Pemerintah Inggris merekrut langsung orang-orang Sikh dari Punjab.





















