top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Makanan Kesukaan Sultan Yogyakarta

    Keluarga bangsawan Yogyakarta punya tradisi menyajikan makanan kesukaan raja-raja pada peringatan hari lahir atau wafatnya. Misalnya, sugengan haul dalem  Sri Sultan Hamengkubuwono VII setiap malam Jumat Kliwon. Haul Hamengkubuwono VIII setiap bulan puasa tanggal 9 malam Minggu Kliwon. Haul Hamengkubuwono IX setiap malam Senin Wage 21 Sapar. Dan haul K.G.P.A.A Mangkubumi, adik kandung Hamengkubuwono VII, setiap malam Senin Kliwon 2 Jumadilakhir. “Memperingati hari lahir atau wafat sesepuhnya melalui doa disertai kegiatan memasak dan menghidangkan masakan kesukaan para raja itu. Misalnya keturunan Hamengkubuwono VII akan menyajikan kersanan dalem  HB VII, begitu juga keturunan raja lainnya,” kata Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Kebiasaan itu membuat kuliner tradisional bangsawan di Yogyakarta dapat terjaga. “Jadi, mengapa budaya kuliner Yogya di lingkungan masyarakat keraton masih eksis, itu karena keturunannya memelihara apa yang disuka para leluhurnya,” kata Murdijati. Murdijanti menambahkan, masakan kegemaran para sultan itu biasanya dibuat dari bahan berkualitas prima kalau tidak bermuatan filosofis. Ini berbeda dengan makanan raja pada era Jawa Kuno yang bisa dibilang aneh dan tak biasa bagi orang sekarang. Hanya untuk Raja Arkelog UGM Tjahjono Prasodjo menjelaskan, pada era Jawa Kuno dikenal istilah rajamangsa , artinya makanan yang khusus disediakan untuk raja. Berdasarkan data prasasti, rakyat bisa mencicipi masakan VIP itu jika mendapat anugerah berupa hak istimewa dari raja. Tjahjono menyebut rajamangsa banyak jenisnya. Namanya aneh-aneh, seperti wdus gunting . “Ada yang mengatakan ini seekor kambing yang belum keluar ekornya, ada yang bilang kambing yang sudah dikebiri. Ada juga asu tugel . Aneh-aneh namanya,” kata Tjahjono. Dalam Prasasti Rukam (907 M), Prasasti Sarwwadharmma dari masa Singhasari (1269 M), dan Prasasti Gandhakuti (1043 M) disebutkan nama-nama rajamangsa ,yakni badawang, wdus gunting , karung pulih , dan asu tugel. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, karung pulih adalah babi hutan aduan. Sedangkan menurut arkeolog dan dosen sejarah UNM, Dwi Cahyono, karung pulih adalah babi yang dikebiri. “Ini yang membuat kita susah menerjemahkan istilah kuliner dari Jawa Kuno yang kita dapat dari data prasasti dan naskah,” kata Tjahjono. Kuliner Asli dan Akulturasi Yogyakarta memiliki kuliner asli dan hasil akulturasi dengan budaya lain, seperti pengaruh kuliner Belanda, Tionghoa, dan Timur Tengah. “Bakpia Yogya yang terkenal, warung-warung sate gulai tongseng kambing, ini salah satu contoh pengaruh kuliner Tionghoa dan Timur Tengah,” kata Murdijati. Kuliner hasil akulturasi juga nampak pada kuliner di lingkungan keraton. “Makin ke arah sekarang makin banyak pengaruh Eropa,” kata Murdijati . Murdijati menyontohkan makanan asli Jawa adalah dendeng age . Cara membuatnya daging berkualitas primadicincang, ditata di atas jepitan dari bambu, lalu diguyur santan yang berbumbu bawang putih, bawang merah, ketumbar, dan daun salam. “Ini berkali-kali dilakukan. Kemudian dipanggang, diturunkan, ditambah bumbu terus menerus sampai bumbunya sangat meresap,” kata Murdijati. Makanan asli lain seperti blebet bebek , glendoh piyik , dan tolo tawon alias sarang lebah yang masih ada larvanya. Makanan ini bernilai tinggi untuk kesehatan. “Coba lihat propolis dari lebah , satu tetes harganya berapa, tapi dulu disajikan sebagai makanan istimewa untuk raja,” kata Murdijati. Menu utama kegemaran para raja adalah dhahar ijem , yakni nasi yang ditanak dengan ekstrak daun pandan; dan bethak ayam , yakni nasi yang ditanak dengan bawang merah, daun salam, dan ayam. Untuk memenuhi makanan di lingkungan keraton, termasuk untuk sultan dan keluarganya, keraton Yogyakarta memiliki empat dapur ( pawon ) yang masih aktif hingga kini. Yaitu Pawon Gebulen dan Pawon Sekulanggen digunakan secara bergantian untuk menyediakan kebutuhan sesaji. Pawon Ageng Prabeya menyediakan masakan khusus untuk raja atau disebut dhahar dalem . Makanan wajib untuk dhahar dalem adalah lodeh kluwih . “Kenapa lodeh kluwih selalu dimasak dan disajikan. Masyarakat keraton punya filosofi sayuran itu dinamakan kluwih karena hanya pantas disajikan kepada poro linuwih atau yang punya kelebihan, yang linuwih ya sang raja,” kata Murdijati. Menu ini selalu dihidangkan setiap hari bersama teh yang disajikan di dalam cangkir di atas baki berlapis emas. Upacara ini masih berjalan hingga hari ini setiap pukul 11.00. Pawon Gedhong Patehan menyediakan minuman untuk rajasetiap hari dan menyediakan teh bagi semua abdi dalem . Makanan Sultan Jadi Makanan Rakyat Beberapa kuliner keraton tak dikenal oleh masyarakat luar keraton, seperti dendeng age . Namun, banyak juga makanan yang akhirnya merembes keluar keraton. Menurut Murdijati, 61 persen dari makanan yang tadinya hanya dimasak untuk raja juga beredar di masyarakat Yogyakarta. Salah satunya gudeg Yogyakarta, makanan favorit Hamengkubuwono IX. “Ini hidangan luar keraton yang masuk keraton. Lalu brongkos, ini juga kesukaan HB IX,” ujar Murdijati. Kemudian sayur lodeh yang memiliki riwayat legendaris. Berdasarkan catatan Murdijati, menu ini menjadi kersanan dalem Sultan Hamengkubuwono VIII. Di sisi lain, lodeh punya arti tolak bala. “Kenapa? Karena sayur lodeh luwes. Secara ekonomis apa saja bisa dimasak jadi sayur lodeh. Berapa pun uangnya bisa jadi sayur lodeh,” jelas Murdijati. Murdijati menyayangkan nihilnya catatan kuliner di lingkungan keraton. “Untungnya masih ada narasumber yaitu anggota keluarga keraton, antara lain keturunan Hamengkubuwono VI, VII, VIII, dan IX,” katanya. Ketiadaan pencatatan tradisi kuliner ini juga terjadi pada masa Jawa Kuno. Menurut Tjahjono, dalam prasasti dan naskah kesusastraan kuno tak ada yang secara khusus menjelaskan soal kuliner maupun bumbu-bumbu masakan. “Tak ada penjelasan seperti resep masakan misalnya,” kata Tjahjono. Jikapun ada prasasti yang menyebut soal makanan, itu hanya data sampingan. Biasanya disebutkan pada bagian pesta dalam upacara Sima. “Itu pun banyak istilah kuliner dan rempah yang belum diketahui pandangan dan artinya,” kata Tjahjono. Menurut pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno dalam kata pengantar buku Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta karya menantu Sultan Hamengkubuwono IX, Nuraida Joyokusumo, sebenarnya masih banyak abdi dalem di Pawon Ageng Keraton yang punya resep masakannya. Namun, mereka tak mencatat. Kenyataan ini membuktikan bahwa selama ini seni boga tak pernah dianggap sebagai suatu yang serius. “Keraton yang merupakan pusat budaya Jawa pun tidak memiliki catatan tentang seni boga,” kata Bondan. Karenanya hanya sedikit resep kesukaan Hamengkubuwono VII dan VIII yang berhasil dicatat. “Hal yang sama juga terjadi di keraton-keraton Nusantara lainnya, yakni absennya catatan resep masakan keraton masa lalu,” kata Bondan.

  • Aryono, Ayutthaya, dan Adelaide: Testimoni untuk Aryono

    Pagi itu, Selasa, tanggal 15 September, berita sedih yang dikirim dari Bonnie Triyana muncul di telepon saya, yang memberitahu tentang meninggalnya teman baik, Aryono, yang juga seorang periset arsip andal dan ulung dari Historia.id  di Jakarta. Berita ini membuat saya meneteskan air mata dan menambah jumlah kepergian menjadi tiga belas teman di Indonesia yang mendahului kita semua di masa pandemi ini. Terakhir, pada bulan Desember 2019, saya bertemu dengan Aryono di Le Chocolat Lounge di lobby Hotel Pullman di Jakarta, sambil menitipkan oleh-oleh dari Adelaide untuk dia dan Bonnie. Sebetulnya, pertemuan saya yang lebih intensif dengannya terjadi ketika ia dan Bonnie mengunjungi Adelaide selama sepuluh hari pada bulan September 2019 untuk melakukan riset arsip tentang pemberontakan Tiga Daerah milik sejarawan Anton Lucas  yang diwakafkan di Perpustakaan Flinders University, Adelaide, Australia Selatan. Di antara kesibukannya melihat dan meneliti arsip sejarah revolusi sosial di wilayah Pantura, Jawa Tengah, saya juga berdiskusi panjang dengan Aryono, Bonnie, dan Wahyu Susilo (yang juga berada di Adelaide untuk konferensi) mengenai jejak-jejak masa lalu jalur perdagangan antara kota tua Ayutthaya di Muangthai dengan pusat perdagangan yang lainnya di kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda saat itu, seperti Banten, Batavia, Lasem, dan Makassar. Dalam diskusi dengan teman-teman ini, saya bertanya mengapa tidak ada ahli sejarah atau sejarawan dari Indonesia yang sudah belajar dan studi sejarah Muangthai secara serius, khususnya tentang sejarah jalur perdagangan masa lalu antara, misalnya, Ayutthaya dan Batavia? Jika tidak ada, perlukah kita mempersiapkan studi tour ke Ayutthaya dengan membawa sejarawan muda dari Historia.id  atau peneliti muda sejarah Asia Tenggara dari Indonesia? Bangunan bersejarah peninggalan Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Ketertarikan saya dengan Ayutthaya ini bermula setelah saya mengunjungi kota bersejarah ini lebih dari lima kali sejak kunjungan pertama di akhir tahun 1990 dan yang paling terakhir kalinya adalah bulan Desember 2018 yang lalu. Ayutthaya berada sekitar 90 kilometer disebelah utara Bangkok. Dalam sejarahnya, Ayutthaya adalah bekas ibukota kedua (setelah Sukothai) di Muangthai dan berdiri tahun 1350 dan mengalami zaman keemasan dari abad 14 hingga 18 dimana Ayutthaya menjadi pusat peradaban Hindu dan Buddha, menggantikan posisi keberadaan peradaban Angkor di Kamboja yang mulai runtuh pada abad 13. Di samping itu , Ayutthaya juga menjadi pusat perdagangan maritim yang penting di Asia Tenggara. Dengan lokasinya yang strategis yaitu di sebuah pulau kecil di tengah tiga sungai yang mengelilinginya , yaitu Chao Praya, Lopburi , dan Pasak, Ayutthaya didatangi oleh para pedagang dari Asia Tenggara, Cina, India, Arab dan juga belakangan, dari Eropa. Sayangnya, Ayuthaya dihancurkan hingga luluh lantak oleh serangan tentara dari pihak Burma tahun 1767. Dengan segala warisan sejarah yang unik dan kaya inilah yang hingga kini, Ayutthaya juga diakui sebagai salah satu kota bersejarah yang penting di dunia oleh UNESCO . Pengakuan dari UNESCO inilah yang mengundang banyak perhatian dari para sejarawan Muangthai sendiri untuk kembali melakukan penelitian arsip-arsip mengenai Ayutthaya yang berada di Cina, Portugis, Inggris, Prancis, dan juga didalam negeri. Sejarah masa lalu yang gemilang ini mengundang banyak perdebatan bagi para sejarawan di Muangthai. Salah satu tokoh sejarawan Muangthai yang gigih mengajak sejarawan muda lainnnya untuk meriset kembali Ayutthaya sebagai pusat perdagangan maritim yang terpenting di Asia Tenggara adalah Charnvit Kasetsiri. Ia menerbitkan bukunya yang berjudul The Rise of Ayudhya (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1976) dan buku ini merupakan hasil dari disertasi doktoral di Cornell University, Amerika Serika, pada 1973. Buku ini sangat berpengaruh bagi sejarawan Muangthai dan Barat yang ingin melakukan riset tentang pentingnya jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara. Peninggalan VOC di Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Pada 2017, terbit juga buku baru yang berjudul A History of Ayutthaya , yang ditulis oleh dua akademisi/sejarawan yaitu Chris Baker dan Pasuk Phongpaichit. Buku ini memperkuat gagasan sebelumnya yang mengatakan bahwa ketika itu, Ayutthaya, bisa disetarakan sebagai “Venice” di Asia Tenggara. Bahkan bisa dikatakan Ayutthaya merupakan pusat perdagangan maritim terbesar di Asia Tenggara dari abad 14 hingga 18 yang menghubungkan Cina, Asia Tenggara, dan Eropa. Setelah berkali-kali mengunjungi Ayutthaya, saya selalu tertarik dengan aneka ragam kuliner dan adanya kampung Islam/Makassar. Beragam kuliner di Ayutthaya juga dipengaruhi cita rasa dari India, Cina, Melayu, Portugis, Jepang,dan Belanda. Beberapa contoh kuliner tersebut adalah foi tong, gulai gaeng, gulai masaman dan juga sup tahu, dan panggang babi dan bebek. Keberadaan kampung Islam/Makassar juga masih nampak unik dimana menunjukkan nenek moyang mereka yang datang dari Arab, Persia, India dan juga Makassar (yang berasal dari pelaut Bugis dan elitenya yang merantau atau lari setelah Perang Makassar di abad 17). Seperti yang saya diskusikan dengan Aryono, Bonnie , dan Wahyu, namun yang paling unik dan penting dari kunjungan terakhir saya ke Ayut t haya adalah menemukan dan mengunjungi Baan Hollanda yang terletak di pinggiran sungai Chao Praya. Lokasinya adalah tanah bekas didirikannya kantor perwakilan VOC ( Venerigde Oost-Indische Compagnie ) di Ayut t haya yang mulai beroperasi di tahun 1608. Menurut buku yang ditulis oleh Baker and Pasuk (2017:120-121) Ayutthaya mulai berkembang pesat dibawah kepemimpinan Raja Ekathotsarot (1605–1620) dimana ia mengundang banyak perwakilan perdagangan maritim asing untuk beroperasi dan berdagang rempah dan komoditas lainnya secara besar-besaran. Di kota tua inilah perwakilan VOC memperkuat dominasi dan kekuataan perdagangan maritim di Asia Tenggara. Jejak-jejak masa lalu Muangthai dan Nusantara inilah yang saya bisa pelajari dan teliti ketika saya mengunjungi Baan Hollanda yang juga menyajikan informasi dan arsip lama dari Belanda secara padat namun juga interaktif. Para pengunjung diajak masuk ke berbagai ruang dengan disertai peta dan informasi lengkap mengenai sejarah berdirinya perwakilan VOC di Ayutthaya ( baanhollanda.org ). Semua informasi tersaji dengan detail dan runtut mengikuti runtutan abad dan peristiwa-peristiwa penting yang menjadikan perwakilan VOC berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi perdagangan maritim di Muangthai ketika itu. Priyambudi Sulistyanto, dosen senior Flinders University, dan Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care, di depan patung gajah di Museum Nasional hadiah Raja Chulalongkorn. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Yang paling penting untuk saya adalah mengapa para sejarawan Indonesia belum atau tidak tertarik melakukan studi atau riset arsip tentang hubungan perdagangan maritim antara Muangthai dan Nusantara? Sebaliknya, sejarawan muda Muangthai, Kannikar Sartraprrong, menerbitkan bukunya yang berjudul A True Hero, King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871 (Bangkok: Institute of Asian Studies, Chulalongkorn Univeristy, 2008). Buku ini menceritakan mengenai kunjungan Raja Chulalongkorn (1868-1910) dari Muangthai ke Pulau Jawa (Batavia, Bogor, Yogya, Semarang , dan Surabaya) berkali-kali yaitu tahun 1871. Dari kunjungan ini, Raja Chulalongkorn bertemu dengan pihak Belanda dan raja-raja di Jawa dengan misi untuk belajar dan studi mengenai aspek perdagangan, pemerintahan, budaya, kuliner, dan bahasa. Sebagai apresiasinya, Raja Chulalongkorn memberikan hadiah patung gajah ke pemerintah Hindia Belanda dan sekarang masih berada di depan gedung Museum Nasional di Jakarta. Sebagai ketertarikan atau langkah strategis, Raja Chulalongkorn mengunjungi Nusantara lagi pada 1891 dan 1901. Semoga tulisan singkat ini yang merupakan sebuah testimoni pendek untuk Aryono bisa mengingatkan kita semua dan juga mendorong generasi sejarawan Indonesia untuk mau membuka kembali lembaran sejarah lama yang gemilang dan unik yang menghubungkan Muangthai dan Nusantara. Salam hangat dari Adelaide, 23 September 2020. Dr. Priyambudi Sulistyanto adalah dosen senior Flinders University,  Adelaide, Australia Selatan .

  • Peran Adam Malik di PBB

    PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual dalam Sidang Umum PBB pada Rabu, 24 September 2020. Ada yang menilai pidato itu baik sehingga Jokowi layak jadi Sekretaris Jenderal PBB. Warganet pun menanggapinya sehingga "Sekjen PBB" jadi trending topic. Saat ini, sejak 1 Januari 2017 jabatan Sekjen PBB dipegang oleh Antonio Guterres dari Portugal. Dia adalah Sekjen PBB kesembilan. Sekjen PBB sebelumnya antara lain Trygve Lie (Norwegia), Dag Hammarskjöld (Swedia), U Thant (Myanmar), Kurt Waldheim (Austria), Javier Pérez de Cuéllar (Peru), Boutros Boutros-Ghali (Mesir), Kofi Annan (Ghana), dan Ban Ki-moon (Korea Selatan). U Thant adalah Sekjen PBB pertama dari Asia dan Asia Tenggara. Dia menggantikan Dag Hammarskjöld yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Zambia pada 18 September 1961.

  • Cerita Lahirnya Kota Bandung

    “ Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” “ Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. ” Jika berkunjung ke Kota Bandung, dua tulisan di atas dapat dijumpai di Jalan Asia Afrika, dekat Gedung Merdeka dan Masjid Agung Bandung. Tulisan pertama dibuat oleh seorang filsuf, cum budayawan berkebangsaan Belanda bernama M.A.W. Brouwer. Sementara tulisan kedua lahir dari tangan Pidi Baiq, novelis asal Kota Bandung yang terkenal berkat seri novel remaja “Dilan”. Coretan dinding itu cukup melekat dengan image Kota Bandung dan menjadi salah satu spot foto yang tidak boleh terlewat. Kota Bandung memang memiliki banyak sekali julukan, mulai dari Paris van Java, surga kuliner, hingga Kota Kembang. Ingat Bandung, ingat suasana yang sejuk, beragam jenis clothing , serta pusat segala macam kuliner. Banyak hal bisa ditemukan di ibukota Provinsi Jawa Barat ini. Lantas bagaimana Bandung lahir? Menemukan Bandung Dilihat dari sudut pandang orang-orang Belanda, wilayah Bandung sekarang ditemukan secara tidak sengaja. Itu karena pemerintah Belanda tidak menaruh perhatian lebih ke negeri di sebalah timur Batavia tersebut. Mereka hanya sekedar tahu bahwa di sana berdiri sebuah pemerintahan. Negeri itu sejak awal memang tidak masuk dalam rancangan pembangunan pemerintah Belanda. Sedangkan bagi masyarakat pribumi, Bandung sudah lama berdiri. Dahulu dikenal dengan sebutan Tatar Ukur, yang kekuasaannya ada di bawah Banten dan Mataram. Baca juga:  Mengapa Bandung Dijuluki Parijs van Java? Dijelaskan Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, perhatian Belanda kepada negeri ini baru muncul saat penguasa Tata Ukur, Wangsanata (Dipati Ukur), ikut terlibat dalam peristiwa penggempuran benteng VOC di Batavia yang diperintahkan oleh Sultan Agung dari Mataram. Akibatnya pemerintah Belanda mulai menaruh curiga atas wilayah Tatar Ukur. Tanah yang mereka anggap 'daerah tak bertuan' itu dikhawatirkan menjadi sarang para pemberontak, yang dikemudian hari bisa mengancam kedudukan kompeni di Batavia. Wilayah perkebunan Bandung. ( nationaalarchief.nl ). Untuk itu, pemerintah Belanda pada 1641 menempatkan seorang Mardijker –sebutan untuk bekas budak Portugis di Asia dan Afrika yang dimerdekakan oleh bangsa Belanda– bernama Juliaen de Silva di Tatar Ukur sebagai mata-mata. Dia ditugasi memantau pergerakan orang-orang di Tatar Ukur dan perkembangan negeri tersebut. “Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah,” tulis Silva dalam laporannya kepada pemerintah Belanda di Batavia, seperti dikutip Haryoto Kunto. Peneliti sejarah Nandang Rusnandar dalam “Sejarah Kota Bandung dari Bergdessa (Desa Udik) menjadi Bandung Heurin ku Tangtung (Metropolitan)” dimuat Patanjala Vol. 2, Juni 2010, menyatakan bahwa penyebutan wilayah Tatar Ukur setelah abad ke-17, berdasar laporan Silva, mulai diubah oleh pemerintah Belanda menjadi Negorij Bandong atau West Oedjoeng Broeng . Wilayah itu pun semakin mendapat perhatian lebih markas pusat di Batavia. Baca juga:  Bandung Ibukota Kerajaan Belanda? Sekira tahun 1712, Abraham van Riebeek mendarat di Wijnkoopsbaai (Pelabuhan Ratu). Dia merupakan orang pertama yang membawa benih tanaman kopi ke Pulau Jawa. Kedatangan Riebeek ke Tatar Bandung dimaksudkan untuk penjelajahan mencari belerang (sulfur). Dia diketahui membangun bisnis senjata dan mesiu. Belerang menjadi komponen terpenting bisnisnya. Tahun berikutnya, Riebeek berhasil mendaki gunung Papandayan dan Tangkuban Parahu. Dia mendapat sumber belerang yang dicarinya. “Lewat catatan-catatan van Riebeek, barulah Kompeni Belanda menyadari akan potensi wilayah Tatar Ukur (Bandung),” tulis Kunto. Membuka Bandung Sampai pertengahan abad ke-18, menurut Haryoto Kunto, orang-orang dari Batavia biasanya naik perahu atau rakit, melewati Sungai Citarum dan Cimanuk, jika ingin pergi ke Bandung. Mereka harus melewati pedalaman hutan Priangan. Baru pada 1786, jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai dibuat untuk menghubungkan Batavia-Bogor-Bandung. Keberadaan jalan setapak, meski kecil, amat penting bagi kegiatan ekonomi Belanda. Sebab perkebunan kopi di sekitar Gunung Tangkuban Parahu milik Pieter Engelhard telah dibuka sejak 1789. Kopi miliknya menjadi salah satu pemasukan terpenting pemerintah Belanda. Selain itu, menurut Yan Daryono dalam R. Dewi Sartika 1884-1947: Sebuah Biografi Pahlawan Nasional , berkat adanya jalan setapak juga membuat akses orang-orang Belanda menuju Bandung yang berudara segar menjadi lebih mudah. Terbukti dengan cukup semaraknya kota itu pada penghujung abad ke-18. Baca juga:  Rezim Kopi di Priangan Melonjaknya keinginan penduduk Eropa di Batavia memasuki kawasan Bandung menarik perhatian pemerintah Belanda. Mereka mulai merancang pembuatan akses jalan yang lebih layak, yang tidak hanya menghubungkan Batavia-Bandung saja, tetapi seluruh daerah di Pulau Jawa. Pembangunan jaringan jalan yang amat luas itu baru benar-benar terlaksana tatkala Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Jalan Raya Pos. (Troppenmuseum). “Keberadaan Jalan Raya Pos berhasil merubah wajah Bandung, dari sebuah kampung di tengah hutan belantara menjadi sebuah kota yang terus berkembang hingga menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Sebuah kota yang jika dipandang dari berbagai aspek kehidupan memiliki nilai strategis, terutama secara ekonomi, politik, dan militer,” tulis peneliti Balai Arkeologi Bandung, Iwan Hermawan dalam Bandung Sebagai Ibukota Hindia Belanda . Jaringan raksasa “Grote Postweg” (Jalan Raya Pos) dari Anyer sampai Panarukan ini rupanya tak hanya difungsikan sebagai akses jalan, tetapi juga benteng pertahanan. Daendels mendapat tugas dari Raja Belanda untuk memperkuat pertahanan Belanda di Jawa dari kemungkinan serangan Inggris. Hal itu dilakukan demi menjaga kedudukan Belanda di Nusantara. Baca juga:  Sepuluh Fakta di Balik Pembangunan Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan Tatkala pembangunan jalan memasuki kawasan Tatar Bandung, Daendels memerintahkan Bupati Kabupaten Bandung dan Bupati Parakanmuncang agar memindahkan ibukotanya masing-masing ke tepi jalan raya. Bupati Kabupaten Bandung R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) lantas memindahkannya dari Karapyak (Dayeuh Kolot), yang berjarak kurang lebih 11 km dari jalan raya, ke daerah Alun-alun sekarang. Kemudian di suatu tempat di dekat jalan raya, seberang Hotel Savoy Homan di Jalan Asia-Afirka sekarang, Daendels menancapkan sebuah tongkat kayu dan berkata: “Zorg, dats als ik terug kom hier een stad is gebouwd! ” (coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota!). Di tempat itulah orang kemudian membuat patok yang menandakan lokasi “Kilometer Nol”, sebagai batas awal kota Bandung. Tugas pendirian kota lalu diberikan kepada Wiranatakusumah II. Maka tidak heran jika banyak literatur yang akhirnya menyebut Daendels sebagai perancang kota Bandung. Baca juga:  Daendels Napoleon Kecil di Tanah Jawa Namun berdasar hasil penelitian sejarawan S. Sobana Hardjasaputra dalam “Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906”, dimuat Jurnal Sosiohumaniora Vol. 5, Maret 2003, pendirian kota Bandung sebenarnya dilakukan atas kehendak R.A. Wiranatakusumah II sebagai Bupati Bandung ke-6. Akan tetapi dalam proses pendiriannya kehendak sang bupati tersebut secara kebetulan sejalan dengan keinginan Daendels. Perintah sang gubernur jenderal-lah yang mempercepat keinginan Wiranatakusumah II. “Lewat perintah yang keluar dari mulut Daendels itulah, kemudian orang bergegas membangun Kota Bandung, hingga akhirnya menemukan bentuknya seperti yang sekarang,” ungkap Kunto. Peresmian kota Bandung, kata Sobana, dilakukan oleh Daendels berdasarkan surat keputusan ( besluit ) tanggal 25 September 1810. Tanggal inilah yang kemudian dianggap sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

  • Penyebaran Pandemi Ribuan Tahun Lalu

    Para arkeolog mengungkap bagaimana caranya penyakit menular pada masa prasejarah dapat menyebar dan menjadi pandemi. Mereka mengemukakan pula konsekuensinya jika pandemi dibiarkan terus meluas. Penelitian bioarkeologi terbaru dari Universitas Otago, Selandia Baru, menunjukkan kemungkinan penyakit menular telah menyebar sejak 4.000 tahun yang lalu. Para peneliti mempelajari sisa-sisa kerangka dari situs arkeologi Man Bac di Provinsi Ninh Binh, Vietnam. Mereka menemukan tanda-tanda infeksi bakteri treponema. Treponema adalah nama genus bakteri. Subspesiesnya yang terkenal adalah penyebab penyakit sifilis dan frambusia atau patek. Disebutkan dalam laman phys.org  (21/09/2020) , situs arkeologi Man Bac digali pada 2005 dan 2007. Hasilnya menunjukkan peran Man Bac selama peralihan dari masa berburu-mengumpulkan makanan ke masa bercocok tanam di Asia Tenggara daratan. “(Hasil penggalian, red. ) Sekarang disimpan di Institut Arkeologi Hanoi, sisa-sisa itu telah dipelajari dengan baik tetapi belum dianalisis untuk mencari bukti adanya frambusia,” kataMelandri Vlok,salah satu peneliti dari Departemen Anatomi, Universitas Otago,sebagaimana dikutip  phys.org . Supervisornya, ahli biologi terkenal, Prof. Hallie Buckley, melihat kemungkinan gejala frambusia pada foto sisa-sisa rangka di situs itu. Buckley kemudian bergabung dengan tim peneliti yang terdiri dari Vlok dan ahli asal Vietnam. Penelitian di situs Man Bac dimulai pada 2018. Para peneliti pun mengonfirmasi kecurigaan Buckley. Belakangan, Vlok menemukan contoh kedua dari penyakit itu. Jejak Lesi Pada Rangka Vlok dkk. menerbitkan hasil penelitiannya, "Two Probable Cases of Infection With Treponema pallidum during the Neolothic Period in Northern Vietnam (ca. 2000-1500 BC)",dalam jurnal  Bioarchaeology International Volume 4 . Mereka tidak mendiagnosis jenis treponema pada rangka yang ditemukan karena sulit diketahui hanya dari kondisi tulangnya.Namun,berdasarkan konteks epidemiologi, sosial, dan lingkungan, mereka menduga manusia di situs itu telah mengenal penyakit frambusia. “Secara iklim, Vietnam berada pada batas garis lintang di mana penyakit frambusia telah terdokumentasi secara historis,” tulis Vlok. Frambusia adalah endemik di Vietnam. WHO melakukan pemberantasan frambusia pada 1950-an. Penyakit ini masih menunjukkan riwayatnya hingga 1990-an. Berdasarkan usia, penyebaran penyakit bukan lewat hubungan seksual . Sebab, lesi (kerusakan jaringan atau tubuh) pada tulang sebagian besar ditemukan pada rangka anak-anak . Infeksi frambusia paling sering terjadi antara usia dua dan 15 tahun. Penyakit ini pada anak-anak menyebabkan lesi kulit yang menular serta memengaruhi tulang dan tulang rawan.Penyebarannya melalui kontak fisik. Kendati penyakit ini mudah disembuhkan pada tahap awal, tapi kalau sudah mengalami kerusakan tulang,tak akan bisa disembuhkan. “Karena itu, frambusia merupakan kandidat yang mungkin untuk penyakit treponema yang ada di Man Bac,” jelas Vlok. Perpindahan Manusia dan Kontak Fisik Bukti arkeologi di Man Bac digunakan untuk melihat penyebaran penyakit ketika populasi yang berbeda bertemu untuk pertama kalinya. Vlok menyebutnya “zona pergesekan”.Di Man Bac, manusia pendukung kebudayaan bertani awal bertemu dengan para pemburu dan pengumpul. “Ini penting, karena situs arkeologi tersebut diperkirakan berusia 4.000 tahun,” jelas Vlok, sebagaimana dilansir Express.co.uk (22/09/2020). Penelitian itu menunjukkan frambusia diperkenalkan ke pemburu-pengumpul di Vietnam oleh populasi petani yang pindah ke selatan dari Tiongkok. Populasi pemburu-pengumpul itu adalah keturunan orang pertama yang keluar dari Afrika, yang bermigrasi ke Asia. Mereka ini yang juga akhirnya mendiami kawasan New Guinea, Kepulauan Solomon, dan Australia. Komunitas pendukung pertanian sudah berada di Tiongkok setidaknya selama 9000 tahun. Namun baru sekira 4000 tahun yang lalu pertanian diperkenalkan ke Asia Tenggara. “Bisa jadi perpindahan orang ini membawa penyakit, termasuk frambusia, pada saat bersamaan,” ujar Vlok. Hipotesisnya, transisi demografis mengakibatkan ketidakstabilan nutrisi. Ini memungkinkan masuknya penyakit menular baru lewat migrasi, dengan konteks sosial dan lingkungan Man Bac yang cocok untuk penyebaran treponema. Sementara itu, percampuran dengan para penjelajah di Vietnam utara memungkinkan penularan lebih lanjut penyakit treponema di seluruh Asia Tenggara daratan. Meskipun demikian, hingga kini belum ada bukti penyakit treponema masa prasejarah pada rangka-rangka yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara. “Meski kami menyadari bahwa tidak adanya bukti, bukan berarti tidak ada. Penyakit treponema yang ada di Asia Tenggara daratan mungkin terjadi sebelum transisi ke masa bertani,” jelas Vlok. Pun tak ada indentifikasi penyakit menular lainnya, seperti TBC atau kusta, sebelum era ini di kawasan Asia Tenggara daratan. Padahal penelitian bioarkeologi sudah intensif dilakukan. “Bukti penyakit menular di Asia Tenggara daratan meningkat pesat dari zaman perunggu dan besi,” lanjut Vlok. Kini, frambusia sudah berhasil diberantas di sebagian besar dunia. Namun,frambusia masih lazim di wilayah Pasifik Barat yang menginfeksi sekira 30.000 orang. “Meskipun frambusia tidak lagi menjadi masalah medis di sebagian besar dunia, frambusia tetap lazim di Pasifik Barat, memengaruhi ribuan orang,” kata Vlok. Para arkeolog percaya lamanya penyakit berjangkit di suatu wilayah penting untuk diketahui. Artinya penyakit ini sulit diberantas. “Ini penting, karena mengetahui lebih banyak tentang penyakit ini dan evolusinya, itu mengubah cara kita memahami hubungan orang-orang dengannya,” jelas Vlok. Menurut Vlok, jika suatu penyakit menular sudah berjangkit selama ribuan tahun, mungkin penyakit itu sudah begitu berkembang dan menjadi cocok dengan manusia. Seperti dalam kasus penyakit frambusia.Ini pelajaran berharga dari masa lalu, mengingat kini dunia tengah menghadapi penyakit menular Covid-19. “Arkeologi adalah satu-satunya cara untuk mendokumentasikan berapa lama suatu penyakit telah bersama dan beradaptasi dengan kita,” ujar Vlok. Sekarang, kata Vlok, virus Covid-19 begitu hebat beradaptasi dengan manusia. Padahal treponema sudah lebih lama bersama dengan manusia. Karenanya penelitian ini bisa menunjukkan apa yang akan terjadi jika tidak ada tindakan berarti terhadap suatu penyakit menular. “Ini adalah pelajaran tentang apa yang penyakit menular dapat lakukan pada suatu populasi jika dibiarkan menyebar secara luas,” tegas Vlok. Vlok pun meny ebut pentingnya segera intervensi karena penyakit dapat sangat cepat beradaptasi dengan manusia dan menyebar.

  • Kala Amerika Serikat Merambah Hindia Belanda

    Petualngan orang-orang Amerika Serikat (AS) menuju jaringan pelayaran dunia sekurang-kurangnya baru dimulai pada dekade terakhir abad ke-18. Setelah melalui konflik yang panjang dengan Inggris, AS akhirnya mampu turut meramaikan jalur perdagangan ke belahan bumi bagian timur. Mereka menjadi pesaing terberat bangsa-bangsa di barat Eropa. Sebagai bangsa yang baru merdeka, terbukanya jaringan dagang tersebut menjadi kunci orang-orang AS membangun negeri mereka. Menurut Jeremy Osborn dalam “India and the East India Company in the Public Sphere of Eighteen-Century Britain” dimuat The Worlds of the East India Company , informasi tentang perdagangan di wilayah Asia sudah lama diketahui AS dari berita dan laporan-laporan pemerintah Inggris. Begitu revolusi usai, para pedagang AS segera mengembangkan layar, tanda dimulainya penjelajahan menelusuri jalur perdagangan menuju Hindia Timur. “Dalam membina hubungan dengan kekuatan kolonialis-kolonialis dunia ketika itu, meski AS menentang prinsip kolonialisme sesuai dengan pengalaman sejarahnya, tidak ada usaha-usaha resmi dari pemerintah AS untuk membebaskan wilayah-wilayah kolonial yang ada,” tulis Yuda B. Tangkilisan dalam “Ekonomi Politik dan Diplomasi: Studi Pendahuluan Mengenai Persetujuan Awal antara Amerika Serikat dan Belanda” dimuat Kongres Nasional Sejarah 1996 . Sikap itu juga ditunjukkan AS ketika tiba di Hindia Belanda. Meski praktek kekejaman tepat berada di depan mata, pemerintahannya tidak menunjukkan niat mencampuri urusan negeri-negeri koloni milik para adidaya Eropa. Terlebih kepentingan AS di koloni  Belanda itu tidak lebih hanya untuk persinggahan dalam menjalin hubungan dagang dengan jaringan pasar di Timur Jauh, terutama Kanton yang merupakan target utama mereka. Sambutan Dingin Hindia Belanda Dicatat James T. Collins dalam Sejarah Bahasa Melayu: Sulawesi Tengah , kapal dagang AS, Hope , yang berlayar dari New York tiba di pelabuhan Batavia pada 1786. Kapal mengangkut cukup banyak saudagar AS, termasuk seorang penumpang penting Samuel Shaw, konsul AS di Kanton. Pada kesempatan itu, pemerintah Hindia Belanda memberi akses kepada orang-orang AS ke seluruh pelabuhan Batavia, dengan syarat AS tidak melakukan transaksi gelap dengan para saudagar di sana. Namun pada kedatangan kapal dagang yang kedua di Hindia Belanda sekira tahun 1790 rupanya AS tidak lagi dianggap penting oleh pemerintah Hindia Belanda. Malah sambutannya saat itu terkesan dingin. Oleh para saudagar pelabuhan, perwakilan AS diberitahu bahwa keistimewaan terhadap mereka telah dicabut. AS tidak diizinkan melakukan bongkar muat di Batavia. Kondisi itu, kata Yuda, sangat jauh berbeda dengan wilayah koloni Inggris. Di sana, para utusan AS memperoleh banyak kemudahan. Mereka bahkan diperlakukan sebagai bangsa yang paling disukai. Sementara di Hindia Belanda, para utusan itu menemui kesulitan-kesulitan dalam menjalin hubungan ekonomi. “Di Hindia Belanda mereka harus menghadapi kenyataan bahwa di koloni Belanda tidak ada privilege semacam itu. Mereka diperlakukan sama seperti pedagang-pedagang asing lainnya,” tulis Yuda. Akibatnya, sempat terjadi ketegangan antara AS dengan pemerintah HIndia Belanda. Para pedagang AS menuntut perlakuan layak, sementara Hindia Belanda tidak bisa mudah mengabulkannya sebab AS sendiri tidak memiliki nilai lebih di mata mereka dalam urusan perdagangan. Komoditas yang dibawa AS kebanyakan tidak laku di pasaran. Untuk menyelesaikan perselisihan itu, kedua pihak sepakat mengadakan perundingan. Meski tetap saja pihak AS ada dalam kondisi tidak menguntungkan. Konsul Shaw lalu melaporkan perlakuan itu ke atasannya di Washington. Protes pun langsung dilayangkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah AS menagaggap Hindia Belanda telah melanggar kesepakatan tentang kebijakan perdagangan internasional. Namun pihak Belanda menyangkal, dengan mengatakan kondisi serupa juga dialami bangsa asing lainnya di Batavia, tidak hanya AS. “Sebenarnya kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan dagang VOC yang mulai merosot menjelang akhir abad ke-18,” ungkap Yuda. Tragedi Dagang di Aceh Terbukanya jalur perdagangan untuk AS di Hindia Belanda terjadi saat orang-orang Belanda mulai terdesak oleh kehadiran armada Inggris. Juga saat VOC menghadapi kehancurannya pada awal abad ke-19. Para pedagang AS lalu membuka kesempatan menguasai perdagangan di tanah Sumatera, di beberapa daerah yang belum sepenuhnya dikuasai Belanda. Pada 1790, seorang pelaut AS membawa pulang sekapal penuh muatan lada dari Sumatra. Dia meraup keuntungan lebih dari 700%. Lada memang menjadi komoditas utama pelabuhan Sumatra. Pada 1803, sebanyak 21 kapal AS merapat di wilayah Kuala Batu, Aceh. Mereka datang untuk menguasai jaringan perdagangan lada di sana. “Monopoli itu memungkinkan kapal-kapal AS untuk memperoleh keuntungan yang besar, yang mana tampak sejak tahun 1820 sekitar 40 kapal AS dengan muatan masing-masing mencapai 200 ton setiap tahunnya berlayar ke dan dari Kuala Batu,” tulis Yuda. Keberadaan AS di Kuala Batu berujung tragedi. Pada 1830-an antara penduduk setempat dan pelaut AS terlibat pertempuran. Banyak orang menjadi korban. Dicatat David Foster Long dalam Gold Braid and Foreign Relations: Diplomatic Activities of U.S. Naval Officers 1798-1883 , sebanyak 450 warga Kuala Batu, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas. Sementara jumlah korban di pihak Amerika tidaklah banyak. Serangan AS itu merupakan peringatan bagi penduduk Kuala Batu yang dianggap mengganggu kepentingan dagang mereka. Padahal, menurut Robeth Booth dalam Death of an Empire: The Rise and Murderous Fall of Salem, America’s Richest City , ketegangan terjadi karena banyak pemimpin Kuala Batu yang dicurangi oleh para pedagang AS. Setelahnya, arus kapal-kapal dagang dari Salem ke Aceh kian masif dilakukan untuk meraup seluruh lada di tempat itu.

  • Feminisme dalam Enola Holmes

    ENOLA Holmes (diperankan Millie Bobby Brown) sudah jadi anak yatim sejak balita setelah ditinggal mati sang ayah. Dibesarkan sendiri oleh sang ibu, Eudoria (Helena Bonham Carter), Enola tak hanya dididik intelektualitasnya dengan beragam literasi, namun juga ditempa kemampuan fisiknya dengan berlatih tenis, pertarungan pedang, hingga beladiri tangan kosong jujitsu . Adik detektif partikelir kondang Sherlock Holmes itu juga diajarkan banyak hal tentang pemecahan teka-teki, utamanya kode-kode terenkripsi dari kata-kata acak. Ia “dilatih” sang ibu untuk dibentuk jadi Sherlock perempuan. Semua yang diajarkan sang ibu ternyata sangat penting ketika Enola ditinggal pergi Eudoria kala usianya baru genap 16 tahun. Scene-scene informatif di atas dikombinasikan dengan klip-klip komikal digulirkan sineas Harry Bradbeer dengan cepat dalam lima menit, menjadi preambul film misteri dan dark comedy bertajuk Enola Holmes . Film ini diadaptasi dari salah satu seri novel detektif The Enola Holmes Mysteries karya Nancy Springer. Alur cerita lantas beringsut pada kepulangan kedua kakak Enola ke Ferndell Hall dari London. Kedua kakak itu adalah si sulung Mycroft Holmes (Sam Claflin), yang menjadi pejabat pemerintah, dan Sherlock Holmes (Henry Cavill), detektif yang sedang melejit kariernya. Sejak itu hidup Enola berubah. Baca juga: The Two Popes , Dua Paus dalam Sejarah Kelam Mycroft yang jadi wali Enola menghendaki Enola tumbuh menjadi perempuan terhormat dengan masuk sekolah kepribadian pimpinan seorang guru “killer” Nona Harrison (Fiona Shaw). Enola jelas berontak. Selama ini ia dididik sang ibu bukan untuk hidup jadi perempuan terkekang sebagaimana perempuan lain. Enola yang lebih berambisi bertualang sembari mencari ibunya yang menghilang lalu kabur dari rumah berbekal sejumlah petunjuk yang ditinggalkan ibunya. Dalam perjalanannya, Enola bersua Marquess of Basilwether (Louis Partridge), bangsawan muda yang juga tengah kabur dari wajib militer Viscount Tewksbury. Lantas? Lebih baik Anda tonton sendiri seperti apa keseruan petualangan investigasi Enola yang bahkan bakal menandingi kejeniusan sang kakak Sherlock. Enola Holmes sudah tersedia di layanan streaming daring Netflix sejak Rabu, 23 September 2020. Adegan Enola Holmes dilatih beragam ketangkasan oleh sang ibu, Eudoria. ( legendary.com / netflix.com ). Hak Kesetaraan Perempuan Dengan diiringi scoring musik dari komposer Daniel Pemberton, keseruan aksi-aksi dalam Enola Holmes begitu terasa. Pun ketika plot film dibawa ke dalam adegan-adegan sendu dan sentimentil macam saat Enola dan kedua kakaknya maupun beberapa adegan jenaka kala Enola bersama Lord Tewksbury. Lewat adegan per adegan, sutradara Bradbeer berupaya mengajak penonton masuk ke dalam aksi-aksi investigasi Enola terkait isu kesetaraan gender dalam hak politik. Bradbeer memang tak menerangkan titimangsa latarbelakang Kerajaan Inggris saat itu, namun sedikit demi sedikit penonton bisa menebak eranya adalah kurun 1880-an di mana gerakan feminis sudah mulai muncul. Dua petunjuk kentara soal titimangsa itu adalah kala Enola kabur dengan menaiki Benz Patent-Motorwagen. Kendaraan bermotor ciptaan Karl Benz itu merupakan mobil produksi massal pertama di dunia, 1885. Mobil itu diciptakan Karl Benz dan istrinya, Bertha Benz. Bertha pada Agustus 1888 menjadi pionir perempuan dalam industri otomotif sebagai pengemudi mobil jarak jauh. Dia berhasil berkendara 105 kilometer dengan rute Mannheim-Heidelberg-Wiesloch-Pforzheim. Bertha juga jadi penemu kampas rem, yang digunakan di mobil Benz Patent-Motorwagen. Baca juga:  Kisah Ken Miles di Balik Ford v Ferrari Petunjuk lain adalah artikel di sejumlah koran dan pamflet yang ditemukan Enola, di mana turut termaktub artikel tentang isu Reform Bill/Representation of the People Act yang tengah diperdebatkan dalam House of Lords (Parlemen Kerajaan Inggris). Tokoh Lord Tewksbury jadi sosok sentral soal isu ini lantaran punya pemikiran politik baru bagi Inggris. Dia berulang-kali diselamatkan Enola dari upaya pembunuhan. “Film ini membuat kita melihat lagi (isu) feminisme di masa-masa awal dari era 1840-an hingga 1880-an. Saya sendiri senang bisa menggali lagi akar sejarah pergerakan feminisme awal dan bagaimana perkembangannya. Dengan cara ini saya merasa bisa membawa dimensi lagi soal ketertarikan saya tentang gerakan-gerakan feminis,” ujar Bradbeer dalam wawancaranya via Zoom dengan PTI , dikutip The Week , Selasa (22/9/2020). Bertha Benz dengan mobil Benz Patent-Motorwagennya ( mercedes-benz.com ). Gelombang pertama gerakan feminisme di Inggris (1839) bertolak dari tragedi yang menimpa Caroline Norton. Ia tak punya hak menggugat cerai suaminya dan tak diizinkan mendapat hak asuk ketiga anaknya dari sang suami yang seorang anggota parlemen, George Chapple Norton. Menukil Until They Are Seven, The Origins of Women’s Legal Rights karya John Wroath, Caroline melancarkan protesnya kepada parlemen lewat sejumlah pamflet dan puisi. “Pamflet-pamflet yang disebarkan Caroline berisi argumentasi bahwa para ibu punya hak dasar terhadap anak-anaknya, hingga menimbulkan perdebatan di kalangan politisi parlemen,” tulis Wroath. Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Kampanye-kampanye Caroline akhirnya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Custody of Infants Act of 1839 atau Undang-Undang (UU) Hak Asuh Anak di Bawah Umur tahun 1893. Itu jadi “kemenangan” tersendiri bagi gerakan feminisme awal. Dalam UU tersebut, perempuan berhak menggugat cerai dan pihak ibu diizinkan mendapat hak asuh anak, setidaknya hingga sang anak berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, gerakan feminisme kian menjamur menuntut kesetaraan gender di bidang edukasi, lapangan pekerjaan, hingga hak properti untuk perempuan. Bagaimana dengan hak perempuan dalam demokrasi dan memiliki hak suara dalam politik? Adegan Enola bersama Viscount Tewksbury, Marquess of Basilwether saat memecahkan investigasi upaya pembunuhannya. ( netflix.com ). Petunjuk soal itu dalam Enola Holmes berpusar pada sosok sang ibu, Eudoria, yang bersama sejumlah aktivis perempuan berencana mewujudkan rencana berbau kekerasan. Di akhir cerita, Bradbeer menguraikan bahwa figur Lord Tewksbury kemudian jadi aristokrat penting di balik lolosnya Representation of the People Act (UU Perwakilan Rakyat). Namun jika dicocokkan dengan setting waktunya, maksud dari lolosnya UU itu adalah UU Perwakilan Rakyat yang dikeluarkan pada Juni 1884. Perubahan radikal dalam UU tersebut adalah diberikannya hak pilih bagi para buruh tani di seantero Inggris dan Wales, baik di kota-kota besar maupun kota-kota kecil, sebagai perluasan UU serupa pada 1867. Baca juga: Sepakbola Tanpa Batas Gender Dalam UU Perwakilan Rakyat sebelumnya, hak pilih hanya diberikan kepada pemilik properti di kota-kota besar dengan nilai minimal 10 poundsterling dan penyewa properti dengan nilai sewa tahunan juga 10 pounds. UU Perwakilan Rakyat 1884 itu digalang para politisi oposisi liberal pimpinan Joseph Chamberlain. “UU ini adalah revolusi terbesar yang pernah dijalani negara ini,” kata Chamberlain usai UU itu disahkan, dikutip Norman Lowe dalam Mastering Modern British History. Organisasi feminis Women’s Social and Political Union pada tahun 1910. ( museumoflondon.org.uk ). UU Perwakilan Rakyat 1884 melejitkan jumlah pemilih hingga 60 persen dari sebelumnya. Namun, UU itu belum bersifat universal lantaran hak pilih perempuan masih dikesampingkan. Perkara itulah yang jadi misteri, di mana Bradbeer memberi kesempatan pada para penonton untuk menelaah pengaruh UU tersebut lewat adegan penutup Enola Holmes berupa pertemuan kembali Enola dengan ibunya walau hanya untuk sesaat. Sang ibu masih punya obsesi memperjuangkan apa yang disisihkan para politisi parlemen dalam UU Perwakilan Rakyat 1814. Para aktivis feminis yang sebelumnya masih bergelut dengan hak-hak buruh perempuan, mulai menengok hak pilih mereka dalam politik. Women’s Social and Political Union (WSPU) yang dibidani Emmeline Pankhurst dan kedua putrinya, Christabel dan Sylvia, sejak 10 Oktober 1903 mempelopori  upaya tersebut. Selain menggalang pendukung dari para perempuan lewat pertunjukan-pertunjukan teater dan aksi mogok makan, WSPU beberapakali bikin onar dan bertindak vandalis seperti melempari kaca jendela-jendela gereja atau membakar kotak-kotak pos dalam perjuangan tuntutannya. Aksi-aksi menggegerkan itu diharapkan bisa membuat tuntutan-tuntutan politik mereka didengar. Baca juga: Lyudmila Pavlichenko Sniper Kondang Uni Soviet Bagi sejarawan Martin Pugh, kekerasan-kekerasan macam itu justru dianggap menodai tujuan mulia mereka. “Militansi macam itu jelas merusak tujuan utama. Efek dari militansi itu malah jadi langkah mundur dari tujuan politik untuk perempuan memiliki hak pilih,” tulis Pugh dalam State and Society: A Socual and Political History of Britain Since 1870 . Masyarakat dan aparat yang resah lalu membuat perhitungan kala sekitar 300 aktivis perempuan WSPU berdemonstrasi dan melakukan longmarch dari Caxton Hall menuju Gedung Parlemen pada Jumat, 19 November 1910. Di depan gedung parlemen, para demonstran WSPU dicegat barisan aparat polisi. Ketegangan terjadi dan 300 demonstran feminis itu diserang, dipukuli dengan tongkat-tongkat polisi. Sejumlah pria yang kebetulan berada di lokasi turut serta menyerang para demonstran. Emmeline Pankhurst (kiri) pelopor WSPU & Ada Wright (kanan) saat dipukul polisi dalam headline   The Daily Mirror  edisi 19 November 1910 kala terjadi Insiden "Black Friday". ( museumoflondon.org.uk ). Sebanyak 112 demonstran lantas ditangkapi. Puluhan korban pihak demonstran mengaku juga sempat mengalami pelecehan seksual. Namun tuntutan untuk penyelidikan tentang kebrutalan polisi dan pelecehan seksual dalam peristiwa yang dikenal sebagai Black Friday itu ditolak Menteri Dalam Negeri Winston Churchill. Selain WSPU, kelompok feminis yang memperjuangkan hak perempuan adalah National Union of Women’s Suffrage Societies (NUWSS). Kelompok yang didirikan Millicent Fawcett pada 1897 ini memilih jalan konstitusional dalam perjuangannya. NUWSS berjuang dengan lobi-lobi politik di parlemen meski sempat vakum akibat Perang Dunia I (28 Juli-11 November 1918). Sepuluh bulan jelang Perang Dunia I berakhir parlemen akhirnya mulai melunak soal tuntutan hak pilih untuk perempuan. Keputusan itu berangkat dari fakta kaum perempuan terbukti menjadi “tulang punggung” dalam upaya militer Inggris menghadapai Kekaisaran Jerman dalam medan perang. Saat banyak warga laki-laki dimobilisasi, kaum perempuanlah yang berjibaku dalam pertanian untuk logistik pasukan di berbagai wilayah. Mereka juga bekerja di pabrik-pabrik persenjataan, bahkan turun di medan perang sebagai perawat dan juru masak di markas-markas militer. Baca juga: Bukan Churchill Biasa Upaya para aktivis perempuan akhirnya membuahkan hasil pada 6 Februari 1918 dengan dikeluarkannya Representation of the People Act 1918 (UU Perwakilan Rakyat 1918) sebagai perluasan UU 1884. Dalam UU baru, semua pria berusia 19 tahun, termasuk prajurit dan pelaut, serta perempuan berusia minimal 30 tahun punya hak memilih dan dipilih. “Reform Bill Passed: Women’s Vote Won,” demikian judul berita suratkabar Manchester Guardian edisi 7 Februari 1918. “UU Perwakilan Rakyat yang telah menggandakan jumlah pemilih, memberi parlemen tambahan suara sekitar enam juta pemilih perempuan,” demikian potongan beritanya. UU tersebut jadi tonggak pertama hak kesetaraan gender dalam politik. Lantas lewat Pemilu 14 Desember 1918, Countess Constance Markievicz, anggota NUWSS, jadi perempuan pertama yang duduk di Parlemen Inggris dengan daerah pemilihan Dublin St. Patrick’s. Data Film Judul: Enola Holmes | Sutradara: Harry Bradbeer | Produser: Mary Parent, Alex Garcia, Millie Bobby Brown, Paige Brown | Pemain: Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Helena Bonham Carter, Sam Claflin, Fiona Shaw, Frances de la Tour, Louis Partridge | Produksi: Legendary Pictures, PCMA Productions | Distributor: Netflix | Durasi: 123 Menit | Rilis: 23 September 2020 (Netflix).

  • Jejak Sejarah Pelukis Dullah

    NAMA pelukis Dullah memang tak lebih populer dibanding nama “Dullah” lain: Sudjono Abdullah, Basuki Abdullah, apalagi Abdullah Suriosubroto yang lebih senior. Dullah yang satu ini memang terpinggirkan dari wacana seni lukis Indonesia sejak Orde Baru mulai mempreteli pengaruh Sukarno.

  • Tantangan Riset Sejarah di Era Milenial

    PENYUGUHAN sejarah secara populer yang selama ini dilakukan majalah Historia.id lewat artikel. Namun, untuk turut menjawab tantangan era digital, diversifikasi produk ditambah dengan infografis, video, dan galeri foto. Tetap saja, semua sajian itu berlandaskan arsip dan data lain. Sayangnya di Indonesia semua sumber itu masih berserakan. Butuh ketekunan untuk bisa merapikan, mengelola, hingga menyulamnya jadi sajian. Mendiang Aryono merupakan tulang punggung Historia untuk urusan yang satu itu. “Di Indonesia itu pencarian arsip bukan sesuatu yang mudah, tidak seperti di luar negeri yang sudah banyak didigitalisasi. Di Indonesia setengah mati mencarinya. Saya belum melihat ada pelimpahan data yang membuat kita sulit memilahnya karena bagi saya, sumber arsip masih terbatas. Kalaupun melimpah, kita harus memilahnya dan itu pekerjaan lain yang enggak mudah juga,” tutur Redaktur Pelaksana Historia Budi Setiyono dalam Webinar bertajuk “Riset Sejarah di Era Digital: Tribute to Aryono”, Senin (21/9/2020) malam. “Menurut saya itulah pentingnya sosok seperti Aryono. Proses itu juga masih berlangsung karena kita punya cita-cita besar untuk mendirikan pusat data sejarah di Historia. Karena kita tahu betul sulitnya mencari arsip. Mau enggak mau kita harus memproduksi arsip dari foto dan segala macam. Juga datang ke keluarga (pelaku sejarah, red .) yang punya arsip, dari narasumber itu juga menjadi arsip yang penting dan membantu kita untuk penulisan sejarah,” imbuhnya. Kepala riset Historia.id , (alm) Aryono. ( Historia.id ). Mendiang Aryono sejak 2012 berkarier di majalah Historia sebagai penulis, hingga kepala divisi riset. Namun kabar duka datang ketika ia mengembuskan napas terakhirnya pada 15 September 2020 di usia 38 karena mengalami pendarahan otak. Oleh karenanya tujuan diskusi webinar Historia tak hanya untuk mengenang sosok Aryono alias Arik, namun juga mengenai apa yang dikerjakannya semasa hidup, yakni riset arsip, data, dan sumber sejarah yang penting di era digital ini. “Mungkin 10, 50, atau 100 tahun ke depan arsip-arsip itu tidak lagi berbentuk kertas tua berdebu yang tersimpan di pusat-pusat arsip atau dokumentasi. Tapi bisa jadi file-file elektronik yang berserakan yang menjadi milik setiap orang. Tantangannya bagaimana kita bisa mendigitalisasi sumber-sumber sejarah yang selama ini terbengkalai, tercerai-berai, bagaimana kita memproduksi arsip yang justru sekarang jadi paperless dan tersentralisir dan bisa diakses secara mudah,” ungkap Pemimpin Redaksi Historia.id,  Bonnie Triyana. Baca juga: Aryono dalam Kenangan Selain masih dalam proses mendirikan pusat data sejarah Historia, Arik semasa hidupnya juga turut menggali arsip-arsip Anton Lucas di Flinders University, Adelaide, Australia, pada September 2019. Anton Lucas adalah sejarawan Australia yang meneliti revolusi sosial di tiga daerah di utara Jawa Tengah. Bersama Bonnie, Arik datang ke Negeri Kanguru atas undangan pengajar kajian Asia Tenggara di universitas itu, Dr. Priyambudi Sulistyanto. “Awalnya saya berinisiatif bahwa koleksi-koleksi (arsip) Pak Anton agar ditaruh sebagai Anton Lucas Special Collection, seperti Kahin Special Collection yang ada di Cornell University. Tujuannya agar di masa depan memudahkan peneliti-peneliti yang ingin studi atau menggali arsip-arsip Pak Anton di kampus kita,” ujar Priyambudi. Dr. Priyambudi Sulistyanto, senior lecturer  Flinders University. ( Historia.id ). Dari pertemuan Priyambudi dengan mendiang Arik, muncul pula ide menggali arsip-arsip yang menurutnya jarang jadi minat para peneliti dan sejarawan muda Indonesia, yakni tentang hubungan perdagangan Hindia-Belanda dengan Kerajaan Ayutthaya (kini Thailand). Bagi Priyambudi, alangkah jadi hal yang bagus jika sejarawan-sejarawan muda Indonesia bisa lebih mengembangkan wawasannya ke Asia Tenggara, selain sejarah negeri sendiri. “Dari dialog saya sama dia, dia tertarik tentang interaksi saya dengan kota tua Ayutthaya. Di sana ada perkampungan Makassar, bekas-bekas jejak orang Makassar setelah perang Belanda-Makassar dan mereka lari, salah satunya ke Ayutthaya. Dan di sana juga ada kantor VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/Kongsi Dagang Hindia Timur),” lanjutnya. “Kalau hubungan Nusantara atau Hindia Belanda dengan Ayutthaya begitu intensif di abad XV, XVI, dan XVII, berarti sebetulnya ada yang menarik tentang jejak-jejak perdagangan kala itu yang orang Indonesia sendiri kurang tahu banyak karena sejarawan Indonesia biasanya meneliti tentang Indonesia sendiri. Saya memimpikan sejarawan muda Indonesia sudah harus melihat kawasan Asia Tenggara,” tambah Priyambudi. Baca juga: Anton Lucas dan Cerita Kutilnya Priyambudi mengaku sempat mengatakan pada Arik bahwa perlu ada dorongan agar para sejarawan muda Indonesia mau mempelajarinya. Pasalnya data dan arsipnya sendiri bisa digali di sebuah situs yang dinamai “Rumah Belanda” di Thailand. Di situs itu bahkan juga sudah dibuat semacam museum interaktifnya. Kepingan sejarah itu hanya satu dari sedikit narasi sejarah yang langka untuk diminati dan kemudian digali data dan arsipnya. Selangka riset dan data tentang buruh migran dalam pusaran sejarah. Soal sejarah buruh migran ini turut disuguhkan di salah satu sudut Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Arik turut jadi sosok di belakang hadirnya display dan narasi sejarah di museum tersebut tentang buruh migran yang dibawa pemerintah kolonial Belanda dari Pulau Jawa ke Suriname. Tak hanya buruh-buruh dari Jawa Tengah yang dibawa Belanda ke koloninya di Amerika Selatan itu, namun juga dari Banten. Sejarah tentang buruh migran ini, diakui Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, sahabat Arik, hampir tak pernah diketahui. “Arik juga yang menyadarkan saya untuk kembali ke sejarah. Saya 20 tahun bekerja untuk isu buruh migran. Enggak ada itu sejarahnya (dibahas buruh migran) di Indonesia. Kita punya banyak historiografi sejarah perburuhan, tapi enggak ada tentang buruh migran. Itu yang membuat saya harus terus mencari dan di Indonesia wacana ini enggak pernah ada, baik di kalangan sejarawan karena mungkin ini sejarahnya orang kecil,” papar Wahyu. "Annah la Javanaise", film animasi tentang perdagangan manusia dan eksploitasi anak. ( annecy.org ). Padahal, menurut Wahyu, arsip dan data sejarah tentang latarbelakang buruh migran bisa jadi suntikan berarti bagi upaya-upaya advokasinya. Agar tak menjadi produk yang sama sekali tak bernilai, butuh upaya kreatif dalam penyajiannya. Wahyu merujuk pada sebuah film animasi karya anak bangsa yang diputar di Annecy International Animation Film Festival 2020, bertajuk Annah la Javanaise. “Filmnya hanya enam menit, dibuat sineas Indonesia, Fatimah Tobing Rony. Menceritakan seorang anak usia 13 tahun di akhir abad ke-19 yang dibawa seorang pelukis ke Prancis. Saya cek di buku Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 , di situ kisahnya disajikan netral saja, dianggap pionir hubungan Indonesia-Prancis,” katanya. “Tapi ketika saya melihat film itu dan saya cari lagi teks-teks terkait, ini adalah sejarah eksploitasi. Sejarah di mana perdagangan manusia juga sudah terjadi waktu itu. Anak itu dieksploitasi, kalau pagi jadi model lukisan telanjang, kalau siang dipekerjakan untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, kalau malam jadi budak seks. Jadi sebenarnya upaya-upaya kreatif melalui media digital mendorong kita kembali lagi menguji fakta-fakta sejarah dan saya rasa kita akan sangat dimudahkan dengan inisiatif digitalisasi arsip,” sambung Wahyu. Baca juga: Kisah Hidup Ibrahim Isa Digitalisasi arsip seperti yang dikerjakan Arik semasa hidupnya, menurut Ita Fatia Nadia, pengiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (RUAS), akan sangat penting untuk membuka pemahaman baru tentang sejarah para tokoh yang selama ini terpinggirkan rezim Orde Baru. Termasuk tokoh-tokoh pemuda gerakan kesetiakawanan Asia-Afrika dan tokoh-tokoh perempuan. “Suatu hari Januari 2020 Arik menelefon saya. Ia bertanya tentang gerakan Asia Afrika. Dia tertarik meneliti kembali dokumen-dokumen itu dan tentang bagaimana Pak Hersri Setiawan terlibat,” timpal Ita. “Gerakan Asia-Afrika kan juga tidak banyak dituliskan. Lebih banyak tentang konferensi (Asia-Afrika) di Bandung. Tetapi bagaimana jaringan-jaringan di dalam gerakan Asia-Afrika sebagai gerakan pembebasan nasional, di mana orang-orang muda kita terlibat, seperti Pak Hersri, Ibrahim Isa, Yusuf Ishak dll, jaringan itu tidak pernah dituliskan dan dilihat kembali,” tambahnya. Ita Fatia Nadia, pegiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (kiri). ( Historia.id ). Butuh kerja keras memang untuk menuliskan gerakan tersebut. Sebab, data dan arsip-arsipnya ada di empat lokasi di luar tanah air. Selain di Kolombo (Sri Lanka), arsip dan data tentangnya terdapat di London (Inggris), Belanda, dan Kairo (Mesir). Tantangan semacam itu acap ditemui Ita kala meneliti tokoh-tokoh perempuan. Terlebih melihat buku-buku yang ada, lazimnya bukan dihasilkan dari para penulis berlatarbelakang sejarah dan seringkali penggunaan datanya berdasarkan like dan dislike atau berdasarkan kepentingan politik. “Pembuatan bibliografi menjadi sangat penting untuk itu. Untuk mengurutkan kembali peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh yang dituliskan oleh para penulis. Dikumpulkan seluruhnya yang fokusnya pada Asia-Afrika, kemudian kita lacak kembali apa saja keterlibatan Indonesia di situ, siapa penulisnya, fokusnya apa, topiknya apa. Arik pun mengajak saya untuk membuat bibliografi tentang gerakan Asia-Afrika itu, namun sayangnya saya sedang tidak ada waktu karena lagi mengejar tulisan lain,” ujarnya. Baca juga: Ricklefs yang Tak Sempat Saya Temui Ita juga merujuk pada pusat data ICRC atau Palang Merah Internasional di Swiss. Di situ terdapat segudang arsip tentang kekerasan 1965 yang nyaris tak tersentuh penelitian. Persoalannya, data-data itu tak bisa disalin dan dipindai. “Banyak sekali (arsip) tentang pembunuhan, tentang kekerasan 1965. Bahkan sesungguhnya terjadi sejak 1963 tentang pembunuhan orang-orang Tionghoa di Bandung. Arsip ini saya bisa masuki karena saya istrinya Hersri Setiawan, yang boleh mengakses adalah orang yang namanya tercatat dan dianiaya,” papar Ita. “Saya kira itu suatu arsip yang penataannya luar biasa bagus dan setiap orang punya file -nya dan juga kasusnya kapan, sampai kepada siapa pelakunya. Komplit sekali. Tapi saya tak bisa copy , scan , tak bisa apa-apa. Saya hanya boleh duduk dan membaca. Dari sini jadi penting bagaimana arsip semacam itu bisa diakses oleh orang Indonesia supaya ini membangun suatu kesadaran sejarah baru tentang peristiwa 1965 dan kekerasan yang terjadi,” tandasnya.

  • Aryono dalam Kenangan

    “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda,” demikian Soe Hok Gie menulis dalam buku hariannya,  Catatan Seorang Demonstran . Gie seolah meramal takdirnya sendiri: mati muda pada usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969. Aryono (Arik), kawan kami yang baru saja wafat Selasa subuh, 15 September 2020, tak pernah terdengar mengucapkan atau mengutip kalimat Soe Hok Gie tersebut. Nyawanya tak terselamatkan setelah pingsan pada Senin malam dan sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Dia mati muda seminggu setelah merayakan ulang tahun yang ke-38. “Tiap generasi,” demikian sejarawan Amerika Henry Morse Stephens, “menulis sejarahnya sendiri.” Gie lulus dari UI pada 1964, menulis skripsi mengenai gerakan komunis yang bermetamorfosis dari Sarekat Islam di Semarang, diterbitkan dengan judul Di Bawah Lentera Merah . Sementara Arik lulus 2009 dari Universitas Diponegoro, Semarang dengan skripsi berjudul Jalan Mendaki Menuju Reformasi: Gerakan Mahasiswa di Semarang Tahun 1990–1998 . Arik memang tertarik pada sejarah aktivisme dan terlibat secara praksis pada kegiatan aktivisme. Semenjak kuliah aktif di dalam berbagai forum diskusi, bergiat di ranah kebudayaan dan terlibat kegiatan riset. Salah satu pekerjaan riset yang pertama kali saya lakukan dengannya adalah pengumpulan kisah-kisah penyintas peristiwa 1965 di Jawa Tengah. Saat itu, Arik belum lagi lulus kuliah, rambutnya masih gondrong urakan, penampilan khas aktivis mahasiswa yang agak sedikit nyeniman. Pada pertengahan 2012, tiga tahun setelah lulus kuliah, Arik melamar ke majalah Historia . Lamarannya diterima. Dia kemudian datang ke kantor redaksi di Jl. Wahid Hasyim, Tanah Abang. Penampilannya sudah berbeda dari waktu terakhir saya temui saat melakukan penelitian: rambutnya tak lagi gondrong dan tubuhnya jauh lebih gemuk. Sebelum mulai resmi bekerja, saya yang mewawancarainya. Pada akhir wawancara dia bertanya: “Jadi kapan saya mulai kerja, mas?” “Sekarang juga!” kata saya. Sejak hari itu, Arik bekerja di Historia , mengawali kariernya sebagai reporter. Arik selalu menunjukkan keseriusannya bekerja, walau kemampuan menulisnya kadang-kadang masih kedodoran, dia terbilang anak yang tambeng alias cuek dan terus belajar. Budi Setiyono, redaktur pelaksana yang juga instruktur kelas pelatihan jurnalisme sastra di Yayasan Pantau pernah beberapa kali mengembalikan naskah karya Arik untuk diperbaiki. Seorang reporter lain malah pernah dibabat sebelas kali bolak-balik revisi. Arik tak sampai sebelas kali tapi lumayan membuatnya pucat. Setelah beberapa kali evaluasi, melihat kinerja Arik, kami memutuskan untuk memindahkan Arik ke bagian riset. Bukan apa-apa, dia rajin melakukan penelitian dan banyak menemukan bahan, namun masih kurang piawai meramu bahan temuannya menjadi naskah yang ciamik. Di bagian riset, Arik seperti menemukan jodohnya: klop! Seiring waktu dan karena sifat uletnya, Arik berhasil mengembangkan diri tak hanya jadi periset andalan tapi juga penulis yang piawai meramu bahan temuan riset dengan reportase. Dalam artikel “Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah” dia menunjukan keterampilannya memadukan reportase dan riset sejarah. Setelah peristiwa 1965, tari topeng Indramayu mengalami kesulitan pentas karena tuduhan terkait dengan aktivitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Arik merekam kegiatan sanggar tari topeng maestro Mimi Rasinah yang kini dikelola Aerli, cucu Rasinah. Arik memang trengginas. Kecuali pada masa pagebluk corona, dia rajin ke lapangan baik untuk reportase maupun riset arsip dan pustaka ke kantor Arsip Nasional atau Perpustakaan Nasional. Tugasnya sebagai kepala bagian riset juga meliputi pengumpulan dokumentasi sejarah yang tercecer di berbagai lokasi untuk disimpan secara digital di hard disk komputer di kantor. Rencananya, kami akan membangun pusat data digital sejarah di Historia.id , Arik salah satu motor penggeraknya. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, kami merintis proyek seri dokumentasi aktivisme masa Orde Baru. Rencananya kesaksian aktivis dari semua angkatan mulai 1974 sampai 1998 akan direkam dan disimpan di dalam bank data yang terbuka untuk digunakan oleh para peneliti. Dua tahun lalu kami telah memulai melakukan pendokumentasian terhadap beberapa aktivis yang terlibat gerakan anti-Soeharto di era 1990-an. Arik yang spesialis sejarah gerakan mahasiswa berperan penting di dalam proyek tersebut. Kemampuan Arik melakukan riset sejarah memang jempolan. Selain memahami seluk beluk kearsipan, dia juga menguasai bahasa Belanda sebagai sumber secara pasif. Selama bergabung dengan Historia.id , Arik terlibat di dalam beberapa proyek penting, mulai dari riset konten Museum Multatuli, pameran Surat Pendiri Bangsa dan riset proyek Asal-Usul Orang Indonesia (ASOI) yang menggunakan tes DNA. Bekerja dengan Arik selalu penuh riang dan canda tawa. Dia tak pernah terdengar mengeluh sekalipun pekerjaan terus bertumpuk setiap hari. Acapkali dia terlihat tidur mendengkur di kursi kerjanya di kantor. Hal serupa juga terjadi ketika kami berdua menjadi peneliti tamu di Flinders University, Adelaide, Australia September 2019. Kesunyian ruang koleksi khusus pecah oleh suara dengkuran Arik yang ketiduran saat memindai dokumen. Ajaibnya, dia tertidur sementara tangannya masih terus bekerja menggerakan pemindai. Sembari bergurau saya bilang padanya kalau dia sudah dapat karomah Gus Dur karena tetap bisa bekerja sambil terlelap. Arik dan saya diundang untuk membongkar arsip-arsip milik sejarawan Anton Lucas yang tersimpan di seksi koleksi khusus perpustakaan Flinders University. Anton meneliti sejarah di pantai utara Jawa Tengah untuk disertasinya yang sudah diterbitkan, Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi . Intuisi dan wawasan yang dimilikinya terlihat dari caranya memilah arsip yang memberikan petunjuk pada peristiwa penting di masa lalu. Di ruangan koleksi khusus itu Arik berbisik kepada saya, “Pak… MMC nih, Pak. MMC.” Merapi Merbabu Complex atau disingkat MMC adalah milisi kiri yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Pasca peristiwa Madiun 1948, mereka menjadikan wilayah lereng gunung Merapi dan Merbabu sebagai basisnya. MMC terdiri dari para laskar merah yang kecewa atas kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) pemerintah terhadap Tentara Nasional Indonesia. Arik paham peristiwa penting ini belum banyak diketahui publik, dia pun bergegas mencatat dan memindai beberapa dokumen penting itu. Sebagai peneliti sejarah yang sadar situasi, Arik juga mafhum jika penulisan sejarah gerakan kiri di Indonesia, terutama mengenai peristiwa 1965 masih diliputi trauma. Cara pandang sejarah yang traumatis dan terbebani stigma negatif itu menjadi penghalang bagi ikhtiar pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan bagi para korban dan penyintas peristiwa 1965. Perhatiannya pada isu 1965 terwujud di dalam beberapa artikelnya antara lain tentang penemuan 16 titik kuburan massal di Purwodadi, Jawa Tengah, “Operasi Penumpasan PKI di Surabaya” dan “Pembersihan Mahasiswa IPB dan UI”, mengisahkan operasi penangkapan mahasiswa yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S 1965. Ketika Simposium Nasional Tragedi 1965 berlangsung di hotel Aryaduta, Jakarta, 18–19 April 2016, Arik adalah penulis yang setiap hari bertugas meliput acara tersebut. Selain mencintai pekerjaannya, Arik juga selalu menunjukkan sikap solidaritasnya pada kawan. Suatu kali seorang penulis Historia.id menghadapi persoalan akibat menyebut aparat militer terlibat melarang diskusi bertemakan peristiwa 1965 di sebuah kampus di Malang. Danrem Malang melalui Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) mencari-cari penulis muda yang gugup itu. Arik pasang badan, dia menenangkannya seraya melayani sanggahan perwira Korem Malang melalui telepon. Di kemudian hari kisah tersebut diceritakan kembali dengan bumbu guyon dan jadi bahan tertawaan. Kadang-kadang selalu saja ada kelakuan nyeleneh almarhum. Kali lain, dalam sebuah perhelatan pesta di kampus Flinders University, kami menikmati suguhan makanan. Saya, Direktur Migrant Care Wahyu Susilo dan Arik mencomot makanan dan menenggak minuman apapun yang dibawa oleh pramusaji. Rupanya ada satu jenis makanan yang kami bertiga sukai dan ingin tambah lagi, namun pramusaji berjalan cepat ke tengah kerumunan menawarkan makanan itu untuk yang lain. Arik tak sabar. Dia pun berteriak memanggilnya, “Mbakk….mbakkkk… kesini mbaakk..,” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya. Jangankan datang, menengok pun tidak. Saya dan Wahyu Susilo tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah Arik. Dalam bertugas, Arik tak pernah mengeluh dan mengatakan tidak atau menolak penugasan. Saya selalu meminta tolong agar dicarikan dokumen penting sebagai sumber tulisan, baik di kantor ANRI maupun di Perpusnas RI. Terakhir kali saya memesan kepadanya agar dicarikan pidato Bung Karno tentang pertahanan dan keamanan serta arsip-arsip Departement van Financien era kolonial. “Oke, Pak. Beres, nanti saya carikan,” katanya. Senin sore, 14 September 2020, Arik masih terlihat sekelebat melintasi ruang kerja saya yang terbuka pintunya. Saya menyapanya setengah berteriak, “Rik, piye ? Beres?” “Beres, Pak! Aman!” katanya sambil berlalu ke arah ruangan kerjanya. Tanpa disangka itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Kurang dari empat jam kemudian, pukul 19:40, Arik jatuh pingsan di kantor. Kami segera membawanya ke UGD RS Pelni, Petamburan, Slipi yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor. Setelah sempat dirawat secara intensif semalaman, Arik mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa pukul 04:50 subuh. Menurut tim dokter yang menanganinya, dia mengalami pendarahan otak dan kecil kemungkinan untuk diselamatkan. Anak muda yang baik hati dan periang itu wafat dalam tugasnya sebagai sejarawan dan periset sejarah andalan kami. Pada kaos yang dikenakannya saat-saat terakhir hidupnya tertera kalimat, We are not the makers of history, we are made by history . Arik memang bukan pencipta sejarah, tokoh besar sebagaimana dimaksud oleh sejarawan Jerman, Leopold von Ranke. Namun kerja-kerja Arik semasa hidupnya: menelusuri sumber sejarah dan mencatat kisah-kisah masa lalu merupakan pekerjaan besar yang menyadarkan kita akan pentingnya sejarah dalam membentuk pengalaman hidup kita sekarang dan masa yang akan datang. Selamat jalan, Arik. Kami jaga api semangatmu dan teruskan kerja-kerjamu... Kumpulan tulisan Aryono bisa dibaca di sini

  • Menjaga Marwah Pendidikan Sejarah

    RENCANA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran pilihan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) menuai kritik. Sebagaimana diatur dalam Kurikulum 2013, sejarah seharunya menjadi salah satu mata pelajaran wajib seluruh siswa di jenjang SMA, baik jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maupun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun tahun depan hal itu tidak berlaku. Diberitakan CNN Indonesia , Kemendikbud berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib bagi siswa SMA/SMK sederajat. Tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021, sejarah untuk kelas 10 akan digabung dengan mata pelajaran IPS. Sementara untuk kelas 11 dan 12, sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang sifatnya tidak wajib. “Saya berharap itu sekedar wacana dan akan dikaji lebih mendalam dari kementerian, perwakilan guru, maupun akademisi,” tutur Faizal Firdaus, guru sejarah SMA Negeri 3 Jakarta kepada Historia . “Menurut saya jika diganti menjadi mata pelajaran pilihan, generasi muda selanjutnya akan kehilangan salah satu akses untuk mengenal bangsanya, membangun jiwa nasionalisme maupun kesempatan belajar dari masa lampau,” lanjutnya. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) memberikan reaksi terkait rencana tersebut dengan membuat sebuah petisi. Dilansir Change.org , hingga Jumat (18/09/2020), sudah lebih dari 12 ribu orang menandatangani petisi “Kembalikan posisi mata pelajaran sejarah sebagai mapel wajib bagi seluruh anak bangsa” yang diajukan AGSI kepada Presiden Joko Widodo. Dalam petisi itu AGSI menyebut jika bangsa yang tidak mengenal sejarah bisa diibaratkan sebagai seorang yang pikun atau sakit jiwa, yang akan kehilangan identitas atau kepirbadiannya. Menurut AGSI mata pelajaran sejarah merupakan media paling ampuh dalam proses penguatan jati diri dan karakter manusia, juga menjadi alat pemersatu sebuah bangsa. Sementara guru sejarah adalah ujung tombak, sekaligus benteng peradaban. “Bagaimana memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya ditransformasikan melalui pembelajaran serta keteladanan di ruang-ruang kelas,” tulis AGSI di dalam petisinya. “Mari kita selamatkan generasi muda kita dari amnesia sejarah, mari kita selamatkan bangsa ini dari gerbang kehancuran. Sesungguhnya belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan, bukan merupakan pilihan!”. Rencana Kemendikbud itu pun menjadi perbincangan hangat masyarakat di jagat maya. Banyak yang menilai keputusan itu tidak tepat. Mereka khawatir jika sejarah menjadi mata pelajaran yang tidak wajib diajarkan, generasi muda akan kehilangan pengetahuan sejarah bangsanya. Mereka amat menyayangkan jika kisah-kisah heroik para pahlawan bangsa ini harus hilang. Merespons hal itu, Kemendikbud menegaskan bahwa rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan masih terus dikaji dengan berbagai pihak guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Melalui Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No. 264/Sipres/A6/IX/2020, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah keluar dari kurikulum tidak benar. Pelajaran sejarah, ujar Totok, akan tetap diajarkan dan diterapkan di setiap generasi. “Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang,” ucapnya. “Sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa.” Membangun Identitas Bangsa Menanggapi rencana Kemendikbud tersebut, Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan webinar berjudul “Matinya Sejarah: Kritik atas Rancangan Kurikulum 2020” pada Kamis (17/09/2020). Di sana berkumpul para akademisi yang mengkritisi rencana pemerintah terhadap pendidikan sejarah di Indonesia. Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI, yang juga Ketua Tim Pengembang Kurikulum 2013 Said Hamid Hasan mengatakan bahwa banyak alasan yang menjadikan pembelajaran sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Di antaranya sejarah bisa menjadi alat untuk mengembangkan jatidiri bangsa, menjadi wadah bagi ingatan kolektif berbagai peristiwa yang pernah dilalui masyarakat Indonesia, membangun nasionalisme, serta memberi teladan dari perjuangan para tokoh. Menurut Said, sejarah bisa memberi inspirasi. Dengan mempelajarai berbagai peristiwa sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana para tokoh berjuang, dan cara menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hal itu juga nantinya akan mengembangkan kepedulian sosial bangsa dalam menghadapi beragam peristiwa. “Para guru sejarah harus sadari dari apa yang sudah mereka (para pahlawan) lakukan bisa mengembangkan kreativitas kita sehingga dalam menghadapi peristiwa sekarang ini kita bisa menyelesaikannya,” ujar Said. Menurut Edy Suparjan dalam Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa , dalam proses pengembangan karakter keberadaan sejarah amat penting. Sejarah bisa menjadi media untuk mewarisi seluruh akhlak baik para pendahulu bagi kemajuan dan pembentukan mental bangsa. Melalui kisah-kisah heroik para pahlawan di masa perjuangan, generasi muda bisa belajar soal pentingnya hak asasi manusia, patriotisme, persamaan, kebebasan, dan keadilan. “Selain pengetahuan kesejarahan, pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk pembentukan kesadaran sejarah, kepibadian bangsa, dan sikap,” tulis Suparjan. Membangun Minat Sejarah Upaya bangsa Indonesia dalam menjaga identitas melalui sejarah sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1950-an. Secara resmi para akademisi yang menaruh fokus pada sejarah berkumpul. Di Yogyakarta tahun 1957, kegiatan formal itu mencoba menghasilkan pada yang disebut sebagai “sejarah nasional Indonesia”, yang berisi kisah-kisah sejarah milik bangsa Indonesia. “Permasalahan sudut pandang dalam kaitannya dengan wawasan kebangsaan menjadi masalah mendesak, yang pada waktu itu masih dihadapkan pada kenyataan dominannya peredaran tulisan-tulisan mengenai sejarah berbagai kerajaan di Indonesia oleh para sejarawan Belanda, yang secara sengaja ataupun tidak sering kali menampilkan visi kolonial dalam melihat sejarah kita,” tertulis dalam Kongres Nasional Sejarah 1996 . Tahun 1970, para akademisi kembali berkumpul di Yogyakarta untuk mengadakan acara Seminar Sejarah Nasional II. Melalui kepemimpinan sejarawan Sartono Kartodirdjo, didirikan organisasi profesi bagi sejarawan. Pada kesempatan itu pula permasalahan periodisasi sejarah Indonesia dibahas secara khsus. Usaha nyata dilakukan dengan perencanaan pembuatan buku yang menjadi referensi utama sejarah Indonesia, yang diterbitkan beberapa tahun setelahnya.*

  • Lyudmila Pavlichenko Sang Bidadari Pencabut Nyawa

    LYUDMILA Pavlichenko tak habis pikir. Dalam perjalanannya di kota-kota besar Amerika Serikat sepanjang September 1942, letnan Uni Soviet berparas anggun itu tak henti-hentinya dihujani pertanyaan dari wartawan-wartawan Amerika. Baginya itu konyol. Maka sekuat tenaga ia menahan diri supaya tak “meledak” yang bisa mengacaukan misi yang diembannya dari diktator Soviet Josef Stalin. Pavlichenko datang ke Amerika pada akhir Agustus 1942. Perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang ditempuhnya dari Moskow ke Kairo lalu Miami, Florida. Dari Miami ke Washington DC perjalanannya dilakukan menggunakan keretaapi ekspres. Sejak Juni 1942, Lyuda, panggilan Pavlichenko, ditarik dari medan perang untuk mengemban misi propaganda. Tujuan utamanya agar Amerika mau membuka front kedua di Eropa demi mendesak Jerman Nazi. Maka dikirimlah delegasi mahasiswa Soviet bersama Pavlichenko sebagai primadonanya. Namun, di Amerika Lyuda benar-benar keheranan. Entah ketika di Washington DC, New York, atau Chicago, dia lebih sering ditanya wartawan Amerika hal-hal yang baginya sangat sepele. “Saya terkesima tentang pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan perempuan di Washington. Mereka menanyakan hal-hal konyol seperti apakah saya memakai bedak, pemerah pipi, cat kuku, dan apakah saya mengkritingkan rambut. Seorang reporter bahkan berani mengkritik rok panjang saya dengan mengatakan perempuan Amerika biasanya mengenakan rok pendek dan seragam saya membuat saya tampak gemuk,” kata Lyuda kepada Time , 28 September 1942. “Itu semua membuat saya marah. Saya mengenakan seragam saya secara terhormat. Seragam yang tersemat (medali) Order of Lenin yang sering tertutup bercak darah di pertempuran. Sangat jelas bagi perempuan Amerika lebih mementingkan apakah mereka memakai celana dalam sutera di balik seragam mereka. Namun mereka belum mengerti makna dari seragam itu sendiri,” sambungnya. Terlepas dari komentarnya yang sarkas, Lyuda menjalani tur ke Amerika dengan sukses. Selain akhirnya Sekutu membuka front kedua bagi Jerman lewat Afrika Utara lalu ke Italia, Lyuda juga membawa pulang oleh-oleh persahabatan dengan Eleanor Roosevelt. Ibu negara Amerika itu sempat mempersilakan Lyuda dkk. menginap di Gedung Putih selama kunjungan di Washington DC. Mahasiswa Sejarah Jago Tembak Kecantikan tak pernah masuk dalam kamusnya. Lingkaran hidupnya yang sarat pergulatan membuatnya jadi sosok yang dingin. Semasa muda, cewek tomboy kelahiran Bila Tserkva, Ukraina, 12 Juli 1916 itu sembari bersekolah juga mesti menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik senjata di Kyiv. “Karena tak punya skill , awalnya butuh waktu setengah tahun bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di pabrik dan mendapatkan pertemanan dengan para buruh lain. Saya juga kemudian diterima masuk di Liga Pemuda Komunis,” kenang Lyuda dalam memoarnya, Lady Death: The Memoirs of Stalin’s Sniper . Di pabrik senjata itulah Lyuda mulai mengenal senjata dan menjajal menembakkannya. Orang pertama yang mengajari dan mengetahui ternyata Lyuda punya “bakat alam” dalam menembak adalah Fyodor Kushchenko. Ia anggota Liga Pemuda Komunis yang jadi salah satu instruktur dalam uji tembak senapan di pabrik itu. “Fyodor memberi saya sepucuk senapan TOZ-8 buatan Pabrik Senjata Tula yang diproduksi antara 1932-1946. Senapan sederhana dengan amunisi 5,6x11 milimeter yang tak hanya biasa disuplai untuk militer, namun juga untuk olahraga menembak dan untuk berburu,” ujar Lyuda. Lyudmila 'Lyuda' Pavlichenko dari mahasiswi sejarah, anggota Liga Pemuda Komunis hingga kombatan Tentara Merah. ( loc.gov /Repro Lady Death ). Sebelum memegang senapan itu untuk kali pertama, Lyuda mendapat briefing singkat tentang cara memegang, mengarahkan, dan membidik sasaran dari Kushchenko. Usai briefing , Kushchenko mengecek semuanya dan memasukkan amunisinya. Dor! Saat Lyuda menekan picunya, ia terkejut bukan main. Tak hanya oleh bisingnya suara letusan senapan yang belum familiar di telinganya, namun juga popor senapan yang menghentak lengannya. “Kushchenko tersenyum melihat saya. ‘Itu karena Anda belum terbiasa. Tembak lagi! Anda pasti bisa,’ katanya. Lalu saya mengunci pundak dengan lebih erat dan menembak tiga kali lagi. Saat melihat kertas yang jadi sasaran, ia terkesan. ‘Untuk seorang pemula, hasilnya lumayan bagus. Jelas Anda punya bakat’,” ungkapnya. Sejak saat itu, setiap Sabtu Lyuda selalu berlatih menembak dengan instrukturnya selepas jam kerja. Mulai 1936 Lyuda menyambung sekolahnya ke Universitas Kyiv lewat program pendidikan Liga Pemuda Komunis. Sesuai minatnya pada sejarah, ia masuk jurusan Sejarah Arkeologi dan Etnografi Uni Soviet. Di pandai di kelas, Lyuda mahasiswa yang cakap dalam olahraga baik sebagai sprinter maupun pelompat tinggi. Lyuda turut dalam program sekolah sniper Tentara Merah pada 1939. Pendidikan ini berisi kelas politik, latihan baris-berbaris, pertarungan tangan kosong, dan 220 jam kelas latihan menembak, di mana 30 jam di antaranya latihan menembak taktis. Lyuda juga diperkenalkan senjata-senjata baru macam Simonov AVS-36 dan Tokarev SVT-38 dengan teleskop PE 4x. Salah satu potret propaganda tentang heroisme Lyuda di front Timur. ( Majalah Smena , No.12 tahun 1942). Namun ketika kuliahnya di Universitas Kyiv menginjak tahun keempat, Jerman  menginvasi Uni Soviet lewat Operasi Barbarossa (Juni 1941). Sebagai anggota Liga Pemuda Komunis, Lyuda pun mengajukan diri masuk Tentara Merah. Ia bersikeras ingin masuk infantri dan menolak ditugaskan sebagai perawat hanya karena dia perempuan. Tetapi setelah menunjukkan surat-surat dan sertifikat sekolah menembaknya, Lyuda diizinkan masuk unit infantri di Resimen Senapan ke-54 “Stenka Razin”, Divisi ke-25 Tentara Merah. Ia jadi satu di antara dua ribu kombatan perempuan yang diterima masuk ke infantri. Namun karena minimnya pasokan senjata, Lyuda pertamakali maju ke medan perang di front Odessa hanya dibekali sebutir granat. “Sungguh membuat frustrasi hanya bisa memantau pertempuran dengan sebutir granat di satu tangan. Tetapi getir rasanya menunggu rekan di samping Anda terluka agar senapannya bisa diberikan kepada Anda. Pada akhirnya sebuah pecahan bom melukai seorang kolega yang sedang berlindung di parit dan memberikan saya senapannya karena dia terlalu terluka untuk bisa menggunakannya,” kenangnya. Hingga Mei 1942, Lyuda punya catatan konfirmasi "kill" sebanyak 309 walau diyakini angkanya lebih dari itu. ( orlova-center.ru ). Medio Agustus 1941 jadi momen “pembaptisan” Lyuda menewaskan musuh dengan senapannya. Kala itu, ia yang sudah memegang senapan, turun dalam kubu pertahanan di sebuah bukit di Odessa. Mulanya ia hanya bertugas untuk mengintai dan hanya boleh menembak sesuai perintah atasannya. “Saya melihat pasukan Rumania (Sekutu Jerman Nazi) sedang menggali parit hanya berjarak 300-400 yard dari tempat persembunyian saya. Kami dilarang keras komandan untuk menembak tanpa perintah. Saya pun mengirim pesan: ‘Bolehkah saya menembak?’ Saya menunggu dengan sabar, hingga akhirnya komandan membalas: ‘Anda yakin bisa mengenai mereka?’ Saya jawab dengan yakin, ‘Iya.’ Lalu komandan menjawab: ‘Kalau begitu, tembaklah!’” tulis Lyuda dalam catatan bertajuk “Kill the Enemy”, termuat di buletin informasi Kedutaan Besar Uni Soviet untuk Amerika, Volume II tahun 1942. “Lalu saya menenangkan diri dan berhati-hati kala membidik dan tembak! Sasaran pasukan Rumania saya tumbang. Rekannya yang mencoba menolong juga saya bidik dan kena. Juga satu lagi tewas oleh peluru saya. Tetapi tiga orang dalam ‘pembaptisan’ saya hanya terhitung tembakan percobaan, walau kemudian mulai saat itu saya dimasukkan di unit sniper ,” tambahnya. Pada Oktober 1941 Lyuda dipindah ke Sevastopol. Di sinilah, pada Pengepungan Sevastopol (30 Oktober 1941-Juli 1942), Lyuda mencetak kelegendarisannya. Hingga Mei 1942, Letnan Lyuda yang berjuluk “Lady Death” mencatatkan angka kill resmi sebanyak 309 nyawa, 36 di antaranya penembak runduk pasukan Axis. Nestapa di Balik Kebanggaan Lyuda dijadikan alat propaganda kesayangan Stalin untuk menyuntik moril jutaan serdadu Soviet di berbagai front. Pada Juni 1942, ia terluka akibat terkena pecahan mortir. Stalin pun memilih menariknya dari medan pertempuran. Setelah Lyuda pulih, Stalin menjadikannya “duta perang” keliling Amerika hingga Inggris sepanjang Agustus-November 1942. Lyuda mengemban misi agar Sekutu lekas membuka front baru agar perang di Eropa tak hanya ditanggung Soviet. “Hadirin. Usia saya 25 tahun dan saya telah membunuh 309 penyerbu fasis. Apakah hadirin tak merasa bahwa kalian sudah terlalu lama bersembunyi di balik punggung saya?” kata Lyuda dalam pidatonya fenomenalnya di Chicago yang mengundang decak kagum ribuan orang. Sontak ia jadi primadona di Amerika. Ia menjalin persahabatan dengan Ibu negara Eleanor Roosevelt dan namanya bahkan diabadikan dengan lagu karangan Woody Guthrie bertajuk “Miss Pavlichenko”. Sekembalinya ke Soviet, Lyuda dipromosikan dengan pangkat mayor sebagai imbalan kesediaannya untuk tetap di garis belakang. Lyuda berkontribusi sebagai instruktur penembak runduk hingga berakhirnya Perang Dunia II. Usai perang, Lyuda melanjutkan studi sejarahnya di Universitas Kyiv sampai 1953. Setelah lulus, ia menunaikan cita-citanya sebagai sejarawan sembari jadi asisten peneliti di markas Angkatan Laut Soviet. Eleanor, sahabatnya yang mantan ibu negara Amerika, dua kali mengunjunginya di Moskva, pada 1957 dan 1958. Lyuda (tengah) saat bersua Anna Eleanor Roosevelt (kanan) pada 1942 dan terus bersahabat sampai akhir hayat. ( loc.gov ). Sebagai perempuan, Lyuda berusaha jadi ibu yang baik untuk Rostislav, putra semata wayangnya. Dia amat bangga Rotislav mengikuti jejaknya menjadi perwira. “Rostislav seorang anak yang baik dan karakternya mirip ayah saya. Tinggi, rambut gelap, dan bermata coklat. Dia melanjutkan tradisi di dinas militer. Slava lulus dengan baik dari Fakultas Hukum Universitas Moskva dan Sekolah KGB (Intelijen Soviet). Dia menyandang pangkat perwiranya dengan kehormatan. Saya bangga padanya,” tutur Lyuda dalam memoarnya. Namun di balik kebanggaan itu, terpendam nestapa. Di sisa hidupnya, Lyuda menderita Post-Traumatic Stress Disorder atau kelainan jiwa yang banyak diderita veteran perang. Akibatnya, Lyuda menjadi alkoholik hingga tutup usia karena stroke pada 10 Oktober 1974 di usia 58 tahun.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page