Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sang Pembawa Peluru
KAKI Gunung Mananggel, Cianjur pada Desember 2019. Lelaki tua itu berjalan terseok-seok dengan tongkatnya. Saat akan melewati jalan menurun, dua remaja mendekatinya lantas menuntun sang kakek hingga di jalan yang rata. Sejenak mereka berbincang akrab dan tertawa bersama. “ Barudak (anak-anak) itu, selalu baik kepada saya…” ungkapnya. Atmah nama lelaki tua itu. Sehari-hari bekerja sebagai petani kecil. Orang-orang di Desa Pawati mengenalnya sebagai orang tua miskin. Namun tak banyak orang tahu di balik kemiskinannya itu dia merupakan manusia yang kaya akan pengalaman hidup. Termasuk pengalamannya menjadi petempur di era perang melawan Belanda tengah berkecamuk di Indonesia. “Padahal saat itu saya masih anak-anak, baru 11 tahun,” kenangnya. Bagaimana dia bisa menjadi seorang bocah perang? Ceritanya, pada 1948, satu kelompok pasukan lasykar rakyat pimpinan Sersan Kentjoeng datang ke kampungnya yang terletak di wilayah Ciranjang. Sejak itulah, nyaris tiap sore Atmah kerap menonton latihan baris berbaris pasukan tersebut di lapangan desa. Suatu hari, saat dia duduk di pinggir lapangan, tetiba Sersan Kentjoeng mendekatinya. Sambil menatap, sang komandan seksi tersebut lantas menepuk pundak Atmah kecil. " Jang ! Mulai sekarang kamu ikut pasukan saya ya?!" Atmah kaget. Kendati sangat mengagumi para pejuang republik yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta itu, namun tak terlintas dalam pikirannya untuk bergabung dengan mereka saat itu. Karenanya, dia agak ragu dan merasa terkejut saat Sersan Kentjoeng mengajaknya (lebih tepat memerintahkannya). "Jangan ragu-ragu, Jang . Kalau ragu-ragu, nanti saya …Euhhh," kata Sersan Kentjoeng sembari mengacungkan jari jempol dan tulunjuknya, memperagakan bentuk pistol, ke kepalanya sendiri. Atmah menyatakan bahwa ia tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan tersebut. Selain tidak memiliki bekal yang cukup, dia pun masih memiliki orangtua yang harus dimintai izin. “Soal bekal tidak usah dipikirkan, kalau masalah izin orangtua, saya akan urus,” kata Sersan Kentjoeng. Dengan diantar sang sersan, dia lantas menemui orangtuanya untuk mohon izin. Melihat tampang Sersan Kentjoeng yang menyeramkan, orangtua Atmah juga tak bisa apa-apa. Sang ibu hanya bisa menangis sedangkan sang ayah hanya bisa terdiam dalam kebimbangan. "Ya pada akhirnya secara terpaksa mereka melepas saya berangkat ke front. Sambil menangis, mereka hanya berpesan kepada saya: jangan pernah menyakiti orang yang sudah tak berdaya" kenang Atmah . Kisah selanjutnya, resmilah sudah bocah Atmah "terperangkap" dalam kegilaan perang di wilayah Ciranjang dan sekitarnya. Sebagai komandan, Sersan Kentjoeng “mendidiknya” secara sungguh-sungguh untuk menjadikan Atmah kecil seorang petarung. Tak aneh dalam usia sangat muda, Atmah mahir memegang berbagai senjata. Dari Lee Enfileld buatan Inggris hingga pistol semi otomatis Luger Parabellum buatan Jerman, pernah dia pegang dalam beberapa pertempuran. "Tapi karena saya ingat pesan orangtua, senjata-senjata itu tak pernah saya tembakan, kecuali kalau dalam posisi terdesak," ujanya. Kentjoeng tentu saja kesal dengan ulah Atmah. Dia lantas “menurunkan” peran Atmah hanya sebagai pembawa sekaligus pelayan pembagian peluru dalam setiap pertempuran. Tugas ini dalam kenyataannya jauh lebih berbahaya dibanding sebagai petempur biasa. “Pokoknya kalau ada suara memanggil “pelor! pelor!” saya harus bergegas menuju suara tersebut sambil membawa amunisi, tak peduli pertempuran sedang berlangsung sehebat apapun,” kenang lelaki kelahiran Ciranjang 81 tahun lalu. Sangat wajar, jika dikatakan saat itu Atmah sangat akrab dengan bau mesiu dan kenyang akan penderitaan di medan laga. Dalam suatu pertempuran, dia bahkan pernah nyaris gugur saat sebutir peluru musuh menghantam paha kanannya. “Walau saya sudah terjatuh tapi peluru kan harus tetap saya sampaikan, makanya saya paksakan terus untuk tetap bergerak dengan cara merayap kendati saya ingat waktu itu banyak kotoran kerbau bertebaran di sekitar saya dan saya merasakan sakit luar biasa di paha kanan,” katanya sambil tertawa. Kendati pantang menyerah, dan kukuh dalam melaksanakan tugas, Atmah tetap seorang anak yang patuh kepada orangtua. Kepada siapa pun, dia tak pernah berusaha untuk berlaku brutal termasuk kepada para musuhnya yang sudah tak berdaya. Pernah dalam suatu penghadangan, pasukan Sersan Kentjoeng berhasil menghancurkan satu seksi pasukan musuh dan menawan 12 tentara Belanda. Mereka dibawa ke markas di wilayah Gunung Halu untuk diperiksa. Selama dalam tawanan, para prajurit itu diperlakukan secara kasar oleh para anak buah Sersan Kentjoeng: dipukuli, ditendang dan diludahi. Saat itulah, Sersan Kentjoeng memanggil Atmah. Seraya tertawa, dia kemudian memerintahkan sang bocah untuk menampar satu persatu para serdadu Belanda yang sudah tak berdaya tersebut. Mendapat perintah itu, darah muda Atmah mendidih. Ada dorongan dalam dirinya untuk memperlihatkan keberaniannya di depan komandan dan kawan-kawannya. Tapi pesan orangtuanya untuk tidak menyakiti orang yang sudah tak berdaya, terngiang-ngiang di telinganya. Dengan tegas dia pun menolak perintah Sersan Kentjoeng itu. "Saat saya tolak, komandan langsung menggampar dan menjewer saya sekuat tenaga. Ya apa boleh buat, saya terima saja, saya lebih takut kualat kepada orangtua jika melakukan itu…" ujar Atmah. Akhir 1949, perang pun usai. Atmah menolak ketika ditawari untuk menjadi serdadu. Dia lebih memilih kembali pulang ke rumah dan memutuskan menjadi petani saja. Suatu cita-cita yang sejak kecil ingin didalaminya. Kini bersama lima putra-putrinya, Atmah hidup sangat sederhana di lereng Gunung Mananggel tepatnya di Desa Pawati. Meskipun dia pernah berjuang, tak sepeser pun di masa tuanya Atmah mendapat tunjangan pensiun. Apakah dia tidak berusaha untuk mendapatkan hak-nya itu? "Ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin keterlibatan saya di masa perang memang sudah menjadi suratan takdir saya. Bukankah takdir dan rezeki itu sudah ditentukan oleh Gusti Allah? " katanya. Tawanya terkekeh memperlihatkan giginya yang tinggal beberapa lagi. Atmah memang selalu riang, walau bisa jadi kehidupannya sangat susah.
- Bob Hasan di Lintasan
MULAI atletik hingga catur, dari angkat besi sampai panahan dan senam, nama Bob Hasan begitu harum di dalam cabang-cabang olahraga itu. Dunia olahraga Indonesia begitu kehilangan ketika pengusaha berjuluk “Raja Hutan” itu wafat pada 31 Maret 2020 di usia 89 tahun. Konglomerat yang menggurita lewat bisnis-bisnisnya yang moncer itu dikenal pro aktif mengangkat derajat negara lewat olahraga, utamanya atletik sejak 1970-an. Satu warisannya yang masih populer adalah olahraga lari. Cabang atletik ini bahkan kian beken dengan bertaburannnya event-event lari 5-10K (5-10 kilometer). Tren lari nomor itu belakangan digandrungi banyak kalangan. Terlebih, menyediakan hadiah yang tak sepele. Bob Hasanlah yang mempeloporinya pada 1987 dengan menggelar “Bob Hasan Bali 10K”. “Jasa beliau sangat luar biasa untuk olahraga Indonesia, khususnya cabor atletik. Setelah tiga hari dilantik menjadi Menpora, saya mendatangi tempat pelatnas atletik yang sedang persiapan SEA Games Filipina. Di situ saya ngobrol lama dengan Pak Bob,” kata Menpora Zainudin Amali mengenang, dikutip laman Kemenpora , 3 Maret 2020. “Kesan saya ketika itu, bahwa hebat orang tua ini. Sudah seusia yang sepuh seperti itu, beliau masih mau tiap hari ke lapangan Stadion Madya Senayan menemani pelatih, atlet, dan pengurus cabor. Kalau bukan panggilan jiwa beliau dan dedikasi yang luar biasa untuk olahraga, tidak mungkin beliau ada di lapangan,” sambungnya. Bob Hasan (kanan) kala bersua Menpora Zainudin Amali di Stadion Madya (Foto: kemenpora.go.id ) Nakhoda di Lintasan Atletik Menukil Leo Suryadinata dalam “Mohammad Bob Hasan: Timber King, Soeharto’s Cabinet Minister, Promoter of Sports” yang dimuat di Southeast Asian Personalities of Chinese Descent , keterlibatannya dalam olahraga Indonesia adalah hal yang tak disengaja. Ia mulai gandrung terhadap olahraga lari setelah ia sering menderita sakit punggung pada awal 1970-an. “Sejak saat itu ia mulai sering lari setidaknya lima kilometer sehari. ‘Jika saya tidak lari, semua badan saya sakit-sakit’,” katanya dikutip Leo. PB PASI kemudian jadi wadah untuk Bob Hasan menyalurkan hobi sekaligus merintis dedikasinya dalam olahraga. Ia mulai masuk kepengurusan PB PASI sejak induk atletik Indonesia itu dipimpin eks Jaksa Agung Letjen (Purn) Soegih Arto (1973-1976) dan bekas Dubes RI untuk Jepang Letjen (Purn) Sajidiman Soerjohadiprodjo (1976-1978). Pada 1978, Bob Hasan menakhodai PB PASI sebagai ketua umum “abadi” hingga empat dekade berikutnya. Termasuk ketika ia tengah mendekam di penjara tak lama usai Orde Baru rontok. “Hal pertama yang ia lakukan adalah menggenjot popularitas olahraga lari. Ia akui bahwa atlet-atlet Indonesia masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Ia mengusulkan atletik masuk kurikulum sekolah dengan harapan bisa menghasilkan atlet-atlet kelas dunia,” sambung Leo. Bob Hasan mengomando PB PASI sebagai ketum sejak 1978 (Foto: Instagram @m.bobhasan) Sebagai konglomerat kelas kakap yang intim dengan keluarga Cendana, Bob sering merogoh kocek sendiri untuk mengirim atlet-atlet berlatih di luar negeri atau menyewa pelatih asing. Bob juga tak segan sowan ke Asian Athletic Association (AAA). Hasilnya, Bob sukses melobi AAA untuk menggelar Kejuaraan Atletik Asia 1985 di Stadion Madya, Jakarta kurun 25-29 September 1985. Hasil yang ditorehkan para atlet Indonesia memang belum menggembirakan. Dari puluhan nomor dan kategori, tuan rumah Indonesia hanya mampu menyabet masing-masing dua perak (M. Purnomo 100 dan 200 meter putra) dan perunggu (Emma Tahapary 400 meter putri dan Iece Magdalena Siregar 10.000 meter jalan cepat putri). Meski begitu, Bob Hasan tak kecewa. Sejak sejumlah atletnya dikirim ke Olimpiade Los Angeles 1984 sekaligus berlatih di Amerika, ia memang merasa atlet-atlet Indonesia belum waktunya untuk unjuk gigi di level Asia. “Itu belum cukup mengejar ketertinggalan kita. Kita baru mulai. Sabar saja dulu. Tak menang, ya menonton saja dulu,” kata Bob berkelakar dalam Kiprah Sarengat, Purnomo dan Mardi Lestari Pelari Legendaris Nasional. Kendati para atletnya gagal memetik emas, hikmah yang diambil Bob adalah masyarakat Indonesia lebih aware akan olahraga atletik. Maklum, pada 1980-an atletik masih kalah pamor ketimbang sepakbola dan bulutangkis. Perlahan tapi pasti, publik mulai menengok olahraga atletik. Sementara untuk para atletnya, hikmah dari kegagalan itu jadi pengalaman dan pelajaran meski pahit. “Biar mereka tahu apa gunanya saya marah-marah selama ini dan terus menekan mereka agar terus berlatih sekeras-kerasnya,” tambahnya. Untuk mempopulerkan atletik, khususnya lari jarak 10 kilometer, Bob di bawah bendera PB PASI memulainya dengan menggelar event lari pertama yang hingga kini masih digemari banyak kalangan, yakni Bali 10K. Bagi Bob, program semacam itulah yang jadi salah satu faktor pendorong kesuksesan prestasi atletik di negara-negara maju. “Lomba lari 10K merupakan lomba lari paling bergengsi di dunia. Di Indonesia mulai dipertandingkan pada 1987 yang dikemas PB PASI dengan nama ‘Bob Hasan Bali 10K’. Lomba internasional itu mendapat sambutan baik dari pelari nasional maupun mancanegara, sehingga PB PASI menjadikan lomba itu sebagai kalender tahunan PB PASI,” sebagaimana dikutip dari Majalah Gatra edisi 16 Desember 2009. “Lomba lari ‘Bob Hasan Bali 10K’ berlanjut hingga 1989. Lalu pada 1990 dipindahkan ke Yogyakarta dengan nama ‘Bob Hasan Borobudur 10K’ hingga 1992. Setelah itu giliran Jakarta, di mana puncaknya terjadi pada 1995, ketika juara dunia maraton asal Ethiopia memecahkan rekor dunia lomba lari 10K,” lanjut ulasan tersebut. Lomba lari dan pembinaan yang serius berbekal sokongan dana yang lebih dari cukup itu berbuah manis. Selama empat dekade menakhodai PB PASI, sejumlah jagoan atletik yang diakui dunia dilahirkan Indonesia. Purnomo Yudhi, Mardi Lestari, Maria Londa, Triyaningsih, Suryo Agung Wibowo, hingga penerusnya di era kekinian, Lalu Muhammad Zohri, merupakan di antara bintang-bintang yang dilahirkan itu. Triyaningsih, salah satu andalan atletik putri Indonesia asuhan Bob Hasan (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Tidak hanya dalam atletik, Bob Hasan juga mengasuh beberapa cabang olahraga lain lewat induk organisasinya seperti Percasi (catur), PB PABBSI (angkat besi dan binaraga), Persani (senam), dan Perpani (panahan). Di olahraga panahan bahkan Bob punya “saham” dalam raihan medali olimpiade pertama Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Kala itu medali perak dipersembahkan trio srikandi Kusuma Wardhani, Lilies Handayani, dan Nurfitriyana Saiman. "Saat Indonesia mendapat perak di panahan, saya langsung ditelepon Bob Hasan (ketua Pembina PB Perpani, red ). Hal ini tentu tidak terlepas dari hubungan baik antara olahraga dan antarlembaga kala saya menjabat asisten Menpora sejak Maret 1988," ungkap Mangombar Ferdinand Siregar dalam biografinya yang dituliskan Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani, Matahari Olahraga Indonesia. Prestasi tersebut diapresiasi Presiden Soeharto dengan mengundang ketiga srikandi dan pelatih mereka Donald Pandiangan ke Bina Graha pada 10 Oktober 1988. Mereka datang ditemani Bob Hasan dan M. F. Siregar. Ketiga srikandi panahan itu juga dihadiahi beasiswa Supersemar. Aktivitas segudangnya di beragam gelanggang itu jadi bukti sahih bahwa olahraga jadi hal tak terpisahkan dari diri Bob Hasan dalam segala keadaan. Kala ia mendekam di LP Salemba, Batu, hingga Nusakambangan sejak 2001 akibat kasus korupsi pemetaan hutan, Bob banyak mengisi waktunya dengan beraneka kegiatan olahraga. Selain demi menjaga kebugaran, juga untuk menjaga kewarasan di balik tembok penjara. “Saya bisa menjalani hidup di penjara dengan tingkat stres yang minim karena saya membuat kesibukan juga untuk penghuni LP. Saya memang tidak bisa diam, ada saja yang saya pikirkan untuk membuat keadaan di LP itu menjadi sehat,” tulisnya dalam salah satu bab testimoni di buku Pak Harto, Sisi-Sisi yang Terlupakan yang disusun OC Kaligis, dkk. “Awalnya saya belikan beberapa set meja pingpong (tenis meja, red. ), lantas gotong royong dengan napi yang lain membuat lapangan bulutangkis, juga lapangan futsal. Kalau dulu saya bisa memberikan bonus ratusan juta rupiah untuk atlet berprestasi, maka hadiah dari saya untuk LP adalah keceriaan dan keringan para napi yang bercucuran setelah mereka berolahraga, sehingga bisa terbuang racun-racun depresi yang mengendap di tubuhnya,” lanjutnya. Meski usianya sudah kepala delapan Bob Hasan tetap getol mengurusi atletik (Foto: Instagram @m.bobhasan) Begitu menghirup udara bebas, Bob Hasan yang statusnya masih ketum PB PASI, kembali sering nongol untuk mengawasi langsung para atletnya berlatih. Itu berjalan hingga hari-hari terakhirnya. Sikap itu menjadi bukti nyata Bob selaku pemimpin induk olahraga tak hanya duduk anteng di belakang meja menanti laporan menggembirakan tanpa mau “berkotor-kotoran”. “Bob Hasan mendedikasikan diri di dunia atletik selama lebih dari 40 tahun. Ia telah berkontribusi menggelar sejumlah kompetisi (atletik) tingkat Asia, ketika tak satupun mau menjadi tuan rumahnya. Persaudaraan atletik Asia akan selalu mengenang jasa-jasanya. Oleh karenanya kami turut berbelasungkawa. Semoga arwahnya bisa beristirahat dengan tenang,” tutur Presiden AAA Dahlan al-Hamad dalam pernyataan resminya terkait wafatnya Bob Hasan, di laman resmi AAA.
- Meruwat untuk Mengusir Kekuatan Jahat
Warga di Madiun, Jawa Timur, menggelar atraksi kesenian Dongkrek untuk mengusir pagebluk. Di antaranya ada yang menggunakan topeng genderuwoberwarna-warni. Dengan diringi musik, mereka berkeliling ke sudut-sudut sejumlah desa. Dalam Kesenian Dongkrek Internasilisasi Nilai dan Ketahanan Budaya , sejarawan IKIP PGRI Madiun, Muhammad Hanif, dkk. menjelaskan ritual ini sudah ada sejak 1867 dan terus berjaya hingga 1902. Kesenian ini lahir pada masa Raden Sosro Widjoyo, yang bergelar Raden Ngabehi Lho Prawiro Dipoero III menjabat sebagai Palang Caruban atau sekarang Kecamatan Mejayan. Palang setara dengan jabatan lurah kepala. Pada 1866, daerah Caruban diserang pagebluk yang menelan banyak korban. Raden Prawiro Dipoero berusaha mencari jalan keluar. Ia bermeditasi dan bertapa di wilayah Gunung Kidul Caruban. Saat bertapa, ia diganggu segerombolan genderuwo . Ia mengalahkan genderuwo itu dengan cemeti yang didapatkan nya dari seorang kakek sakti saat bertapa. Bahkan, Raden Prawiro Dipoero membuat genderuwo itu membantunya mengusir wabah penyakit. Ia bersama abdinya dan genderuwo berjalan keliling kawasan Mejayan. Mereka menggiring keluar roh halus pembawa wabah yang menyerang wilayah mereka. Setelah krisis pangan dan wabah berlalu Raden Prawiro Dipoera membuat topeng menyerupai sosok genderuwo. Ia menjadikanya topeng seremonial untuk diarak keliling kampung setahun sekali pada tengah malam. Ini sebagai ritual tolak bala atau mencegah agar wabah tak muncul kembali. Keyakinan adanya roh atau hantu jahat yang mendatangkan musibah bagi manusia sudah ada sejak lama. “Dalam prasasti ada kata hanitu atau hantu, ‘lenyaplah segala hanitu ’. Artinya sebagai suatu yang mengancam. Dalam keyakinan itu penyakit dianggap sebagai kekuatan jahat yang perlu disirnakan. Jadi nonmedis,” kata Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang kepada Historia. Mengusir Pengaruh Jahat Hari Lelono, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan dengan tujuan sama, umumnya masyarakat Jawa menggelar upacara bersih desa. Ada juga yang menyebutnya ruwatan. Bersih desa berasal dari pengertian orang Jawa yang berarti membersihkan hal buruk. Tujuannya agar manusia terhindar dari bermacam gangguan, baik alam maupun roh jahat. Sementara ruwatan berasal dari kata ruwat, artinya luwar atau lepas. “Jadi, bersih desa atau dusun dan ruwatan berarti melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor,” jelas Hari Lelono dalam “Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana” , terbit di Berkala Arkeologi Vol. 35 , 2015 . Ruwatan bisa dilakukan terhadap alam semesta sebagai tempat hidup manusia, serta segala isinya seperti bumi, sungai, laut, danau. Pun ruwatan bisa dilakukan terhadap manusia secara individu maupun kelompok. Pada masa lalu, khususnya masyarakat Jawa dan Bali,mengenal upacara bhumisuddha. Artinya upacara kurban pemberian ( suddha ) bumi dari segala pengaruh jahat. Menurut Hari, pada masa Bali Kuno, sekira abad ke-10, dikenal upacara kurban yang disebut Haywahaywan dan pamahayu, yang berarti cantik, damai, dan sejahtera. “Selanjutnya masyarakat Jawa sekarang mengenal kata-kata mutiara: mamayu hayuning bawana . Maksudnya mempercantik dunia,” kata Hari. Upacara bhumisuddha tak berbeda jauh dengan ruwatan bumi. Konsep ini kemudian berkembang menjadi bersih desa. “Bersih itu suddha, desa itu bhumi. Atau slametan sedekah bumi,” jelasnya. Ritual ini juga biasanya diiringi dengan persembahan “kurban” kepada Sang Penguasa Alam. Kurbannya berupa sesajian dengan segala macam perlengkapannya. Biasanya kegiatan ini dilakukan setelah musim panen,supaya masyarakat punya dana yang cukup untuk melakukan prosesinya. Hari menyebut masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur, biasanya melakukan upacara terpusat di Candi Sanggar, Dusun Wonogriyo. Mereka percaya di sana tempat tinggal roh-roh leluhur cikal bakal desa atau danyang . Karenanya pada waktu-waktu tertentu, mereka harus melakukan upacara menghormati para danyang. Tujuannya agar mereka selalu dijaga dan dihindarkan dari gangguan roh-roh jahat penyebab bencana. “Bencana itu baik berupa bencana alam maupun musibah seperti penyakit, kematian, dan pengaruh jahat lainnya,” jelas Hari. Roh Jahat Kegiatan menangkal roh jahat pembawa petaka pada masa kuno, dipahatkan pada pendopo Candi Panataran di Blitar, Jawa Timur. “Ada gambaran seorang tokoh memberikan sesajian yang dimaksudkan untuk menangkal gangguan yaitu hantu. Artinya ada tempat-tempat tertentu untuk menyirnakan penyebab petaka, disebut hantu jahat,” jelas Dwi. Arkeolog Setyawati Suleman dalam Batur Pendopo Panataran , menjelaskan bahwa dalam pendopo Candi Panataran itu seorang tokoh dengan tutup kepala tekes tampak sedang membawa sajian dalam bentuk tumpeng kepada Durga di pekuburan yang penuh dengan hantu. Ia berjumpa dengan hantu yang badannya setengah terkubur di tanah. Di atas relief ini terdapat tulisan yang oleh J.L.A Brandes, ahli purbakala Belanda, dibaca sebagai hanja hanja nngah . I nskripsi ini cocok dengan adegan tadi, yang berarti hantu berbadan setengah. Pada adegan ini tampak pula tangan besar yang terulur ke atas, ini adalah hantu tangan. Ia disebut dengan tetangan dalam kisah Sudhamala. Di atasnya kepala Bhuta tengah meringis. Soal hantu, ada inskripsi singkat lain yang ditemukan di relief pendopo ini. Tertulis hanja hanja kasturi. Mungkin yang dimaksud adalah hantu wangi. Kendati adegan di bawahnya tak memperlihatkan adegan yang ada hantunya. Dwi juga menyebutkan kisah Sudhamala yang ditemukan pada relief di dinding Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar dan di Candi Tegowangi di Kediri. Di sana ada adegan Sadewa, salah satu dari tokoh Pandawa, yang berhasil meruwat raksasi bernama Durga Ranini, penguasa Setra Gandamayu tempat para jin dan setan. Setelah diruwat, Ranini kembali ke wujudnya semula, Batari Uma yang canti k jelita. “Dalam Sudhamala ada Ranini penguasa Setra Gandamayu, yang digambarkan sebagai kekuatan jahat. Lalu setelah diruwat, murkanya diredakan,” jelas Dwi. Ada pula relief Angling Dharma pada dinding Candi Jago di Malang. Angling Dharma pada ujung cerita meruwat seorang resi dari wujudunya yang seperti raksasa. Kondisinyakembali stabil saat sang resi mendapatkan wujudnya yang suci dan diangkat ke surga. Paling Mudah Dicerna Dwi mengatakan segala bencana yang terjadi pada masyarakat kuno selalu dianggap sebagai murka alam atau murka ilahi. Karenanya masyarakat perlu meredakan murkanya. “Karena berkaitan dengan keyakinan jadi dilakukannya juga berdasarkan keyakinan tertentu,” jelas Dwi. Pada perkembangannya, menurut sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, kemarahan roh-roh orang mati yang tak puas tetap merupakan penjelasan yang lebih cepat dan lebih mudah bagi suatu bencana yang terjadi. Itu bila dibandingkan dengan pandangan tentang kejahatan dari kitab-kitab suci yang ada. “Sekalipun agama-agama kitabiah berhasil mengurangi pengaruh roh-roh halus, orang tetap saja ada yang sakit, sial, dan mati,” katanya. Bagaimanapun, kata Hari Lelono, kepercayaan mempunyai fungsi salah satu n ya untuk mengurangi kegelisahan. “Dengan religi manusia bisa mendapat ketenangan untuk menghadapi hal-hal di luar jangakauan pikirannya, seperti kematian, penyakit, bencana, dan lainnya,” katanya.
- Krisis Barang pada Zaman Jepang
PANDEMI Covid-19 menyebabkan beberapa barang langka di pasaran. Contohnya masker dan cairan pembersih tangan. Belakangan barang kebutuhan pokok semisal gula ikut langka. Kekhawatiran muncul dari masyarakat terhadap ketersediaan barang kebutuhan pokok. Tapi pemerintah meyakinkan tidak akan ada kelangkaan barang kebutuhan pokok.
- Presiden Soeharto Becanda di Papua
AWAL Maret 1973, Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Papua. Itu adalah kali kedua Soeharto datang ke provinsi yang masih bernama Irian Barat itu, setelah kunjungan perdananya tahun 1969. Dalam kunjungan tersebut, Soeharto membawa sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Salah satu diantaranya ialah Jaksa Agung Soegih Arto.
- Muasal Logo Dolar
PANDEMI corona atau Covid-19 mengakibatkan perekonomian dunia kacau. Kebijakan lockdown yang diambil banyak negara dan pemerintahan di bawahnya untuk memutus penyebaran wabah corona mengakibatkan aktivitas ekonomi berjalan amat lambat. “Covid-19 adalah ujian terbesar bagi kita sejak pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini adalah kombinasi antara penyakit yang menebar ancaman dan dampak ekonomi yang menyebabkan resesi dalam skala yang tidak bisa dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com, 2 April 2020. Dampak pandemi bagi perekonomian juga amat kentara dalam perekonomian Indonesia. “Resesi yang semakin pasti, bahkan mungkin sudah terjadi, membuat investor menerapkan ‘social distancing’ dari aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Seretnya arus modal ke pasar keuangan Tanah Air membuat Rupiah melemah,” sambungnya.
- Nasib Nahas Lukisan Vincent van Gogh
BUKAN hanya warga Belanda yang menjadi korban pandemi virus corona (SARS-COV-2) dengan di- lockdown , sebuah lukisan berharga karya pelukis Vincent van Gogh pun turut jadi “korban”. Lukisan yang dipajang di Museum Singer Laren itu hilang dicuri pada Senin (30/3/2020) dini hari waktu setempat atau tepat di peringatan ke-167 kelahiran sang seniman. “Saya merasa marah dan sedih. Utamanya di masa-masa sulit seperti ini, saya merasa bahwa benda seni bisa jadi penenang untuk menginspirasi dan menyembuhkan kami,” tutur Direktur Museum Jan Rudolph de Lorm kepada The New York Times , Senin (30/3/2020). Lukisan karya Van Gogh yang dicuri itu bertajuk De pastorie in Nuenen in het voorjaar atau Taman Pendeta di Musim Semi. Lukisan berdimensi 25 cm x 57 cm itu tengah dipinjam Museum Singer Laren sejak 14 Januari dalam rangka pameran “Mirror of the Soul” yang mestinya bergulir hingga 10 Mei 2020. Pameran dan museum itu terpaksa ditutup menyusul kebijakan lockdown dikeluarkan pemerintah Belanda sejak 13 Maret 2020. Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring itu dipinjam Museum Singer Laren dalam rangka pameran dari Museum Groninger sebagai pemiliknya sejak 1962. Lukisan itu dikembalikan pada 2023 dalam sebuah tas terpal IKEA. Lukisan di Awal Kiprah Van Gogh The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang dibuat dengan pena dan cat minyak di atas kertas pada papan kayu itu dikerjakan pada medio Mei 1884. Saat itu merupakan masa awal karya Van Gogh dikenal publik sejak ia menekuni seni rupa tiga tahun sebelumnya. “Lukisannya berasal dari masa-masa awal, sebelum ia berperjalanan ke Arles dan Paris. Jadi lukisannya memang lebih gelap dan belum terlalu dikenal sebagai salah satu mahakarya Van Gogh,” sambung Direktur Museum Groninger, Andreas Blühm, dikutip The New York Times. Van Gogh membuat The Parsonage Garden at Neunen in Spring setelah pindah dari Den Haag, Sien Hoornik, Drenthe, dan tinggal bersama orangtuanya di Neunen, dekat Hervormde Kerk (Gereja Reformasi) tak jauh dari kota Eindhoven pada Desember 1883. Usianya baru 30 tahun ketika Van Gogh pindah. Ayahnya merupakan pendeta di gereja tersebut. Sejak tinggal di Neunen, Van Gogh banyak menciptakan lukisan bertema taman. Salah satunya, The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang ia buat sekira Mei 1884 atau enam bulan sejak pindah ke Neunen. Van Gogh merupakan sosok penyuka taman dan hobi berkebun. “Dia sangat menyukai taman pendeta di tempat ayahnya dan ketika ia hanyut dalam pengaruh impresionisme, dia menuliskan dalam catatannya betapa banyaknya taman yang dia kunjungi selama 10 tahun masa-masa produktifnya. Termasuk juga taman rumahsakit Arles, taman pertanian Provençal dekat Arles, Taman Puisi di Arles, taman rumahsakit jiwa Saint-Paul, taman bunga milik Dr. Paul Gachet di Auvers, dan taman mawar milik seniman Charles Daubigny di Auvers,” tulis Derek Fell dalam Van Gogh’s Gardens. Vincent Willem van Gogh di usia antara 17-19 tahun (Foto: Van Gogh Museum) Lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring hanya satu dari sedikitnya empat lukisan bertema taman dekat gereja tempat ayahnya menjadi pendeta di Neunen yang ia buat. Pasalnya Van Gogh melukiskan taman itu di masing-masing musim sepanjang tahun. “Salah satunya menggambarkan taman yang tertutup salju, menegaskan garis perspektif yang diciptakan oleh dinding yang membatasi taman dan lingkungan sekitarnya. Latar belakangnya terdapat menara gereja berwarna gelap yang menyembul dari lanskap yang datar di bawah langit berwarna gradasi biru dan kuning terang,” lanjut Fell menerangkan karya Van Gogh bertajuk The Parsonage Garden at Neunen in the Snow (1885). Dalam The Parsonage Garden at Neunen in Spring, Van Gogh mendeskripsikan seorang wanita berpakaian gelap di tengah taman yang di belakangnya terdapat sisa bangunan menara gereja tua. Van Gogh melukiskannya dengan palet hijau dan coklat gelap, serta sedikit sentuhan gradasi warna merah, sebagai indikasi bahwa musim semi telah tiba menggantikan musim dingin. Selama dua tahun tinggal di Neunen, Van Gogh menciptakan delapan lukisan bertema taman gereja itu, termasuk The Parsonage Garden at Neunen in Spring yang jadi karya ketiga sejak pindah pada Desember 1883. Di masa itu, ia mendapat tekanan emosional lantaran dalam kurun dua tahun itu, sering tercipta tensi tinggi antara dirinya dengan sang ayah dan sang adik, Theo, yang tinggal di Paris. “Sejak 1884 ia sering bersurat kepada Theo, bahwa dia akan mengirimkan lukisan-lukisannya untuk menebus pinjaman uang sebelumnya. Dia berharap Theo mau menjualkan lukisan-lukisannya di Paris dan hasilnya untuk membayar pinjaman uang, serta berharap ada keuntungan lebih yang juga bisa didapat Van Gogh,” tulis Susie Hodge dalam The Great Artists: Vincent van Gogh. Nahas, lukisan-lukisan Van Gogh itu tak laku. Para pedagang barang seni enggan membelinya lantaran belum terlalu mengenal nama Van Gogh. Sayangnya riwayat lukisan The Parsonage Garden at Neunen in Spring di kemudian hari tak begitu terang. Hanya disebutkan pada 1927, lukisan tersebut dimiliki seorang kolektor J.A. Fruin dan dipajang di Galeri Seni Oldenzeel, Rotterdam, sebelum dibeli Museum Groninger pada 1962. Lukisan yang nilainya berkisar 1-6 juta euro (Rp18-108 miliar) itu kemudian dicuri orang atau kelompok tak dikenal tepat di peringatan ulang tahun ke-167 Van Gogh. Itu bukan kali pertama terjadi pencurian terhadap lukisan Van Gogh. Pada 1991, Museum Van Gogh di Amsterdam dibobol maling yang membawa kabur 20 lukisan sang seniman. Total kerugiannya mencapai sekira USD500 juta (Rp8,3 triliun). Hingga kini, kabarnya masih gelap. Lalu pada 2002, museum yang sama kecolongan lagi dua lukisan, namun kemudian ditemukan di Napoli setelah kepolisian Italia menggerebek sarang pengedar narkoba.
- TTS Pernah Mewabah
Teka Teki Silang berasal dari kotak kata, sebuah kelompok kata yang diatur secara mendatar dan menurun.
- Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit
Hampir tengah malam. Calon Arang berjalan menuju kuburan. Ia diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar kesumatnya bisa dibalaskan. Calon Arang adalah perempuan sakti ahli sihir dari Desa Girah. Ia sudah pada puncaknya merasa terhina karena tak ada yang mau menikah dengan putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Semua lelaki takut menjadi menantu seorang Calon Arang. Di kuburan itu mereka pun menari sambil membunyikan alat musik. Tak lama Sang Durga pun menampakkan diri bersama para pengiringnya. “Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari. “Baik, saya setuju, tetapi jangan sampai terlalu besar kemarahanmu hingga ke pusat negeri,” jawab sang Bhatari Bhagavati. Calon Arang menurut. Setelah menari sekali lagi mereka pulang ke Desa Girah. Tak lama kemudian banyak orang di desa-desa sakit hingga jatuh korban jiwa. Karena menyebabkan kekacauan, tentara raja mencoba memusnahkan Calon Arang. Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Ia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat-alat musik dibunyikan. Mereka menari. Ia mengirim kekuatan tenung hingga ke ibu kota dari empat arah mata angin. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan, mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon. Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh lalu dihidupkannya kembali. Baru juga hidup, sang penyihir langsung memotong leher si zombie hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar ia pakai untuk keramas. Ususnya dipakai untuk selempang dan kalung. Badannya dimasak untuk persembahan bagi Bhuta dan semua yang ada di kuburan itu, terutama Bhatari Bhagavati. Maka, keluarlah Sang Bhatari. “Saya mohon izin kepada paduka Bhatari untuk membinasakan orang seluruh negara sampai di ibu kota sekalian,” kata Calon Arang. Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan banyak orang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang menyelamatkan diri ke desa-desa lain. Begitulah dahsyatnya kutukan Calon Arang ke seluruh negeri. Kisah ini ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang . Filolog R.Ng . Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya, De Calon Arang . Poerbatjaraka menduga naskah Calon Arang ini mungkin menggambarkan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Ia menghubungkannya dengan Prasasti Sanguran ( Calcutta Stone ) dari 982 M. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sangat sakti seperti raksasi. Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan perseteruan antara Airlangga dan Calon Arang. Namun, Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya “Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi”, berpendapat bahwa cerita Calon Arang lebih pas jika ditempatkan pada masa Singhasari akhir atau Majapahit. Alasannya, nama Mpu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Terlebih lagi bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra seperti dalam cerita Calon Arang masih sangat jarang dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara. “Sangat diragukan bahwa Calon Arang pertama kali disusun pada masa Airlangga,” katanya. Dari kisah Calon Arang itu, menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, yang menarik untuk dicermati bahwa akibat teluh seorang ahli sihir, penduduk Daha tertimpa wabah penyakit mematikan. Di luar persoalan teluh, kemungkinan wabah penyakit memang benar pernah terjadi. “Dalam kisah itu penyakit disebabkan karena teluh Calon Arang. Apakah ini simbolik gambaran tentang pagebluk yang terjadi?” ujar Dwi kepada Historia. Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, berpendapat bahwa kisah-kisah lokal semacam itu terlalu kabur. Terutama cerita yang berkembang beberapa abad sebelum orang benar-benar mulai terbiasa mencatat. “Karena peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah pada waktu itu,” tulis Reid. Kendati begitu, kata Hariani Santiko, pada masa lalu praktik memuja Durga untuk mengusir wabah penyakit memang pernah dilakukan. Masyarakat kuno pernah mengenal beberapa dewi yang dipercaya sebagai penguasa penyakit. Mereka mudah marah dan harus dijaga kepuasannya agar wabah penyakit tak menyerang. Menenangkan Bumi Di India, beberapa dewi dianggap sebagai pelindung manusia dari penyakit. Terutama dua penyakit yang sangat ditakuti: cacar dan kolera. Kendati dianggap pelindung, mereka terkadang juga bertindak sebagai penyebar penyakit. Terutama jika sang dewi murka dan tak puas terhadap manusia. Hariani menjelaskan, di India Utara sang penguasa penyakit dikenal dengan nama Sitala Dewi. Sementara di India Selatan dikenal beberapa nama dewi yang bertugas sama. Mariamma atau Mari dianggap sebagai dewi penguasa penyakit yang sangat ditakuti. Lalu ada anak-anak Durga, berjumlah tujuh dewi. Mereka dianggap sebagai penguasa penyakit yang mengancam anak-anak kecil. Ada juga para Gramadewata, yang di antaranya dianggap sebagai penguasa penyakit. Gramadewata adalah pelindung desa atau permukiman penduduk yang juga dikenal di India Utara. Khususnya di India Selatan pemujaan kepada Gramadewata ini sangat populer dan jumlahnya ribuan. “Setiap permukiman memiliki satu Gramadewata,” ujar Hariani. Hariani menjelaskan, munculnya dewi-dewi pelindung ini berhubungan dengan kepercayaan penduduk bahwa alam semesta penuh dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini setiap waktu dapat mencelakakan manusia. Dewi pelindung, Gramadewata, diharapkan dapat menjaga mereka dari ancaman itu. Ini adalah upaya agar penduduk terhindar dari penyakit menular, gangguan makhluk jahat, penyakit ternak yang merugikan, kegagalan panen, kebakaran, atau tidak mempunyai keturunan. Namun, Gramadewata menuntut imbalan dari manusia. Penduduk harus memberi mereka persembahan yang memuaskan. Kalau kurang, Gramadewata akan berbalik mencelakakan penduduk. Karenanya setiap permukiman biasanya memiliki kuil sederhana. Tempat suci ini dikhususkan untuk Gramadewata. Di sana akan ditempatkan arca atau benda yang menjadi lambang dewi-dewi itu. Menurut I Wayan Redig, arkeolog Universitas Udayana, pemujaan terhadap dewi beralasan karena secara makrokosmis, bumi ini adalah ibu. Di bumi, segalanya dihidupkan, dipelihara, dan mati. Karenanya, untuk urusan memelihara, menyiapkan sumber kehidupan Ibu Pertiwi, seperti juga Durga menjadi Dewi Ibu yang akan selalu dipuja di banyak tempat. “Dewi Durga menjadi Dewi Ibu yang dipuja sepanjang masa karena selama manusia perlu hidup dan kehidupan ia tidak bisa lepas dari pangkuan sang Ibu ilahi ini,” jelas Redig dalam makalah “Durga Mahisasuramardini (Pemujaan Dewi Ibu Sepanjang Masa)” yang disampaikan pada Rembug Sastra (21 Mei 2016) di Pura Jagatnata, Denpasar, Bali. Durga Sang Penguasa Penyakit Di India Utara dan Selatan, Durga sama-sama dipuja sebagai dewi pelindung dari penyakit. “Durga dan Kali adalah dewi penting yang menguasai segala segi kehidupan manusia,” kata Hariani. “Di beberapa tempat Durga berbaur dengan Gramadewata dan akan menyebarkan penyakit kepada manusia dan ternak jika marah.” Durga memiliki berbagai aspek. Tiga di antaranya sering dibicarakan dalam kitab-kitab Purana dan Tantra , yaitu Durga sebagai pembinasa asura , Durga sebagai penguasa tanam-tanaman dan kesuburan, dan Durga sebagai penguasa penyakit menular. Durga sangat ditakuti karena bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Dalam kitab-kitab Purana, Durga seringkali dihubungkan dengan tujuh dewi pelindung anak-anak dari penyakit, yakni Kaki, Halima, Malini, Vrnila, Arya, Palala, dan Vaimitra. “Pemujaan tujuh ibu ini sangat penting di India Selatan, dan mereka dianggap sebagai saudara perempuan Durga,” kata Hariani. Karenanya, Durga Puja pun dilakukan. Menurut Hariani, berdasarkan Kitab Kalika Purana apabila menjalankan Durga Puja pada tanggal 8 paro terang bulan Caitra akan bebas dari segala kesusahan dan penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa sedikit berbeda. Durga dikenal dalam dua aspek saja. Ia sebagai pembinasa asura dan penguasa penyakit. Sementara penguasa tanaman dan kesuburan lebih dikenal sebagai Dewi Sri. Aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular dalam sumber tertulis hanya ditemukan dalam kitab Calon Arang. Lebih banyak yang membicarakannya sebagai pembinasa asura . Sebagai aspek ini, ia dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini. Hariani mengatakan upacara yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya adalah upacara Tantra dengan mempergunakan ilmu gaib destruktif atau ilmu hitam. “Di sini yang dipuja adalah aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular,” jelas Hariani. Kisah wabah penyakit akibat dendam Calon Arang itu pun berakhir setelah Mpu Bharadah membunuh dan meruwat sang ahli sihir dan Desa Girah.
- Kisah Hanoman dari Kota Lama
Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik. Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). “Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri. Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang performance art hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya. Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia). Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia). Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini. Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri. Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia). Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri. Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri. Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).
- Mengulik Sejarah Pemantik
Pemantik pernah menjadi penanda status sosial, harganya mahal, bentuknya sebesar petromak.
- Orang-orang Rawagede
HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai kala disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang yang terletak dekat pantai, kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Dari dalam, seorang perempuan uzur muncul. Tertatih-tatih dia menyambut saya. Tubuhnya gemetaran karena pengaruh usia. “Kita bicara di luar saja ya, di dalam gelap,” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti nama perempuan tua itu. Dia adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di Dusun Rawagede pada 1947. Bersama seorang korban, anak korban dan tujuh janda korban Rawagede lainnya, pada 2011 dia menggugat pemerintah Belanda ke Pengadilan Tinggi di Den Haag. Setelah melalui jalan berliku, upaya mereka berhasil. Namun apakah itu menjadikan hidup mereka lebih baik? Selasa, 9 Desember 1947. Orang-orang Rawagede dikejutkan oleh suara stengun dan brengun yang menyalak tiba-tiba dari arah timur pagi itu. Demi mendengar tembakan-tembakan tersebut, kontan para laki-laki yang belum sempat berangkat ke sawah berhamburan ke arah Kali Balong sedang kaum perempuan dan anak-anak justru memilih bertahan di rumah. Wanti yang saat itu tengah hamil tua memilih bersembunyi di bewak (bekas lubang perlindungan zaman Jepang) yang ada di bawah rumah panggungnya. Begitu juga dengan nenek dan kakeknya. Saat berlindung tetiba dia teringat Sarman, suaminya yang beberapa jam lalu sudah pergi sawah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi penuh ketegangan, tetiba seorang tentara Belanda berseragam loreng masuk ke lingkungan rumah Wanti. Sambil membawa senjata, dia langsung membuka pintu bewak dan membentak dalam bahasa Melayu: “Kemana laki-lakinya?” “Tidak ada Tuan,” jawab Wanti dalam nada gemetar. “Pergi ke mana?!” “Ke sawah, Tuan.” Serdadu bule itu kemudian menunjuk dua orang tua yang saat itu tengah sembunyi di kolong meja. “Ini siapa?” "Ini kakek saya, Tuan. Itu nenek saya, Tuan.” Setelah menggeledah seluruh sudut ruangan, sang serdadu pun berlalu. Sementara itu di tempat lain, Telan melakukan langkah seribu ke arah Kali Balong. Pemuda yang dikenal sebagai anggota Lasykar Hizbullah itu lantas berjalan menyisir tepi kali untuk mengamankan diri ke arah Desa Mekarjaya, yang bertetangga dengan Dusun Rawagede. “Suasana sangat mencekam kala itu. Suara tembakan terdengar diringi jeritan kaum perempuan dan anak-anak kecil,” ujar lelaki kalahiran Rawagede itu. Beberapa waktu kemudian, rombongan serdadu-Belanda berpakaian macan tutul memasuki Rawagede. Mereka adalah anggota Yon 3-9-RI Divisie 7 December , sebagian kecil prajurit 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando Depot Speciale Troepen ) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Begitu memasuki dusun, mereka langsung beraksi. Sebagian berjaga-jaga di mulut dusun, sedang sebagian lagi menyebar, mendobrak pintu rumah (termasuk rumah Wanti) dan memerintahkan secara kasar agar para penghuninya keluar. “Para perempuan dan anak-anak mereka biarkan begitu saja, tapi kaum lelaki yang tak sempat lari dikumpulkan dalam beberapa kelompok,” kenang almarhum Sai, salah seorang penduduk Rawagede yang belakangan lolos dari maut. Satu kelompok yang yang berisi 15 laki-laki lantas dijejerkan. Seorang sersan berkulit putih lantas menanyai satu persatu orang-orang tersebut dalam nada membentak. "Ekstrimis ya?!” “Bukan, Tuan.” “Kamu tahu di mana itu Laskar?! Kamu tahu Lukas?!” “Tidak tahu, Tuan." Mendengar jawaban kompak para lelaki yang tertangkap, tanpa banyak bicara lagi, seorang serdadu Belanda yang berdiri di bagian belakang para tawanan lantas mengokang senjatanya. Darah pun berhamburan, mengental merah mewarnai bumi Rawagede. Beberapa jam setelah pembantaian itu. Langit Rawagede dibekap mendung. Suara ratusan burung gagak mengoak, bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar. Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda. Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah,” kenangnya. Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Telan, masih menyaksikan Tong Wan (pemuda Tionghoa yang bergabung dengan Hizbullah) sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “Sebelum ditembak, ia sempat berteriak: merdeka!" ujar lelaki tua yang meninggal pada 2019. Hawa panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia, salah satu putrinya yang tersisa. Dia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya. “Hingga sekarang, Emak tak pernah mengerti mengapa suami Emak dibunuh. Dia hanya seorang petani, bukan tentara atau laskar,” ujar Wanti dalam nada lirih. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya di Pengadilan Tinggi Den Haag, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp240.000.000,00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka? “Ya sampai. Walaupun saya hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi Alhamdulillah saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek dari beberapa cucu itu. Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Dia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan (ketika awal 2019 saya ke Pantai Sedari, rumah Wanti sudah hancur dimakan abrasi). Bagi salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan dihantui rasa trauma sejatinya tak bisa terbayar oleh uang sebanyak apapun. “Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih,” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air bening meleleh di kulit pipinya yang keriput. Tulisan ini dibuat untuk mengenang Bu Wanti dan Pak Telan, yang beberapa waktu lalu baru saja mangkat.





















