Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Data CIA tentang Milisi Asing ISIS
SETELAH menjadi polemik, akhirnya pemerintah Indonesia memutuskan tidak akan memulangkan warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan ISIS atau foreign terroris fighter (FTF) dari Suriah. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut berdasarkan data dari CIA, terdapat 689 WNI yang bergabung dengan ISIS.
- Yang Pertama di Oscar
Academy Award atau Oscar merupakan ajang penghargaan bergengsi dalam industri film Amerika Serikat. Film terbaik pertama di ajang ini adalah Wings yang berkisah tentang pilot-pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I.
- Para Jago di Barat Jawa
JULI 1948. Matahari nyaris di atas ubun-ubun. Teriknya membekap jalur Cianjur-Bandung, ketika sebuah sedan meluncur dari arah Jakarta. Di Kampung Belendung, tetiba tujuh anggota polisi NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) menghentikan mobil yang berisi lima orang Belanda (salah satunya seorang perempuan). Begitu mobil berhenti, para polisi gadungan itu langsung berupaya melakukan peringkusan. Alih-alih menyerah, para penumpang sedan tersebut (yang ternyata anggota militer Belanda) malah melakukan perlawanan. Terjadilah pergumulan dan tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya keempat lelaki Belanda itu. Sedangkan yang perempuan ditawan dan tak ada yang mengetahui bagaimana nasib dia selanjunya. “Orang-orang yang menyamar sebagai polisi itu tak lain adalah Koim dan gerombolannya,” ungkap Raden Makmur (93), salah seorang anggota Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) di Cianjur. Koim adalah salah satu jagoan yang sangat ditakuti di wilayah utara Cianjur pada masa revolusi. Selain dikenal sebagai pejuang, dia pun kerap menjalankan praktek-praktek teror dan kriminalitas guna memenuhi kebutuhan pasukannya. Sebagai target, Pasukan Koim memilih orang Belanda dan orang-orang Indonesia yang dianggap pro Belanda (sipil maupun militer) . “Saat melakukan penjarahan, dia tak segan-segan berlaku kejam kepada para korbannya,” ujar Makmur. Kebrutalan Pasukan Koim, membuat militer Belanda geram. Mereka lantas mengirimkan satu unit Baret Hijau dari KST (Korps Pasukan Khusus) untuk memburu kelompok tersebut. Pada Agustus 1948, Koim berhasil diringkus di Purwakarta. Dia kemudian dibawa ke Penjara Cianjur dan baru pada 1950 menghirup udara bebas. Baru beberapa hari menikmati udara luar penjara, dia diundang untuk menghadiri sebuah pertemuan. Saat menuju tempat pertemuan itulah, di Jembatan Mande tetiba seorang lelaki mendekatinya lalu menembak kepalanya dengan supucuk pistol. Maka tamatlah riwayat Koim, sang jagoan dari Cianjur utara. Di Cibarusa (beberapa puluh kilometer dari tempat Koim beroperasi) usai proklamasi muncul seorang jagoan bernama Pak Macan. Begitu pula di Karawang ada figur Camat Nata dan Pak Bubar, dua tokoh dunia hitam yang karena kebutuhan revolusi “terpaksa” diangkat sebagai pejabat pemerintahan (camat dan bupati). “Malah Pak Macan dilantik sebagai kepala keamanan di Cibarusa oleh Presiden Sukarno sendiri saat dia sedang berkampanye melewati wilayah itu pada akhir 1945,” ungkap sejarawan Robert B.Cribb kepada Historia. Menurut peneliti sejarah Indonesia John R.W. Smail, sejatinya istilah “jago” diambil dari “ayam jago”. Kata itu mengacu kepada karakteristik seorang lelaki yang senang berkoar, garang dan bersenjatakan golok. “Haruslah dipahami bahwa jago tidak lebih dari sekadar penjahat pedesaan, sejenis dengan bandit di Eropa,” ungkap Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946 (diterjemahkan menjadi Bandung Awal Revolusi, 1945-1946 ). Namun kelompok jago adalah institusi sosial yang diakui, kendati menyimpang. Mereka memiliki mitos-mitos yang dapat dibuktikan kebenarannya, misteri yang diyakini secara kolektif dan para pemimpin kharismatik, meskipun cakupannya terbatas. Semua itu memang sengaja diciptakan sebagai alat teror guna menuntut ketaatan dan penciptaan situasi eksploitatif terhadap rakyat. “Kasus-kasus seperti itu juga terjadi di Bandung, Cimahi dan Padalarang,” ungkap Smail. Umumnya para jago juga memiliki hubungan baik dan simbiotik dengan lasykar-lasykar besar seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan LRDR (Lasykar Rakjat Djawa Barat). Pada Desember 1945, tersebutlah seorang jago bernama Soma. Dia mengangkat dirinya sebagai camat setelah merebut kekuasaan dari seorang pamongparaja di Cisarua, sebuah kawasan perbukitan yang terletak di utara Cimahi. Setelah berkuasa, Soma menyebarkan rumor bahwa dirinya ada untuk membagikan kekayaan para hartawan kepada rakyat. Gerombolan Soma kemudian merajalela sedikit ke barat. Di Padalarang, mereka mengambilalih suatu pusat misionari Katholik untuk dijadikan markas besar dan menciptakan sejenis “republik jago” di kawasan tersebut. Demi menghindari para jago itu, para pamongpraja yang sebelumnya berkuasa terpaksa menyingkir ke kota. Kekosongan politik di tingkat kecamatan dan desa itu langsung diisi oleh para jago binaan Soma. Kentalnya suasana anti pamongpraja yang dianggap hanya sebagai bekas begundal Jepang memunculkan suatu bentuk kekuasaan yang lebih “anti feodal dan merakyat serta revolusiener”. Euforia itu terasa konkret jika melihat penampilan para kepala desa yang jauh berbeda dengan di masa kekuasaan Jepang dan Hindia Belanda. Seorang bekas pamongpraja yang diangkat sebagai camat, secara radikal merubah penampilannya menjadi lebih “revolusiener”: santai, berambut gondrong dan kerap membawa sepucuk pistol ke mana-mana. Hal itu wajib dia lakukan, karena jika masih mempertahankan “kesantunan kaum priyayi”, dia tidak bisa bertindak lugas bahkan akan segera dilibas. “Hanya dengan bergaya seperti itulah, dia dapat memelihara keteraturan sosial,” ungkap Smail. Pada perkembangan berikutnya, aksi para jago itu memunculkan kegerahan di kalangan pejabat Republik yang berkuasa di kota-kota. Segera setelah “kegaduhan” itu, mereka menugaskan satuan-satuan TKR untuk menumpas semua kekacauan tersebut ke pelosok-pelosok. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah yang kali pertama dibersihkan. Pada awal 1946, TKR meluncurkan operasi militer di Cibarusa (republik jago di kawasan perbatasan Cianjur-Bekasi) guna melibas Pak Macan dan gerombolannya. “Pak Macan sendiri mencoba kabur dari operasi yang keras itu, namun penasihat politiknya dari API (Manaf Roni) terbunuh dalam pertempuran,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries . Pak Bubar juga tak lepas dari target operasi. Dikisahkan saat berhadapan dengan para prajurit TKR, dia berupaya kabur dengan mengandalkan ilmu menghilangnya. Tetapi militer yang bermata lebih tajam segera memberondongnya dengan senapan otomatis sehingga menyebabkan sang jagoan itu tewas seketika. Di wilayah Bandung dan sekitarnya, jaringan para jago perlahan namun pasti mulai menuju kehancuran setelah Resimen Pelopor dari TKR melucuti sekaligus membubarkan API. Alasan resmi pejabat Republik menyebutkan bahwa penumpasan itu terpaksa dilakukan karena mereka memberlakukan kelompoknya sebagai “republik dalam Republik”, tidak mematuhi otoritas sipil dan militer resmi, melakukan teror dan melakukan kontak dengan pihak musuh (Belanda). Di Karawang, penumpasan terhadap LRDR oleh militer Indonesia malah memunculkan dendam yang berkarat di kalangan para anggota lasykar dan para jago. Alih-alih tunduk kepada aturan Republik, mereka malah membelot ke kubu musuh dan memasrahkan dirinya untuk dipersenjatai lalu secara bahu membahu terlibat dalam operasi militer pertama Belanda menghabisi kaum Republik.*
- Penyamaran dan Integritas J.B. Sumarlin
JOHANNES Baptista (J.B.) Sumarlin, mantan Menteri Penertiban Aparatur Negara (PAN) dan Menteri Keuangan di Kabinet Pembangunan Orde Baru, wafat pada 6 Februari 2020. Jenazahnya dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada 10 Februari 2020. Sepanjang hayatnya, Sumarlin dikenal sebagai sosok bersih, berintegritas, dan berani. “Beliau bahkan tidak segan menyamar sebagai pegawai RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam rangka membongkar praktik korupsi yang ada dan untuk mencari tahu sendiri siapa saja pelakunya,” kenang Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada wartawan dalam upacara serah terima jenazah J.B. Sumarlin di Kementerian Keuangan, Jakarta, 10 Februari 2020.
- Karpet Merah Piala Oscar dalam Sejarah
Dari sekian nominasi di Academy Awards ke-92 di Teater Dolby, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (9/2/2020) malam waktu setempat, film Joker jadi sorotan yang paling menonjol. Film yang diadaptasi dari komik itu masuk 11 nominasimeski hasilnya sekadar dua Piala Oscar, di kategori aktor utama terbaik (Joaquin Phoenix) dan musik scoring orisinil terbaik (Hildur Guðnadóttir). Film 1917 yang masuk di 10 nominasi, membawa pulang tiga Piala Oscar.Masing-masing dari kategori sound mixing terbaik (Mark Taylor dan Stuart Wilson), sinematografi terbaik (Roger Deakins), dan efek visual terbaik (Guillaume Rocheron, Greg Butler, dan Dominic Tuohy).Ia mengalahkan Avengers: Endgameyang laris dan populer. Yang menjadi kejutan adalah gemilangnya film Korea SelatanParasite,yang menyabet empat Piala Oscar sekaligus. Masing-masing dari sutradara terbaik (Bong Joon-ho), naskah orisinil terbaik, film fitur internasional terbaik, dan best picture. Hebatnya, di kategori Best Picture ia mengalahkan The Irishman, Ford v Ferrari, Jojo Rabbit, Joker, Little Women, Marriage Story, 1917, dan Once Upon a Time in Hollywood.Parasite mencetak sejarah dalam perhelatan Academy Awards,yakni sebagai film Asia pertama yang menang kategori film terbaik. Lantas, bagaimana sejarah Academy Award itu sendiri? Trofi Penyatu Industri Film Semua bermula dari berdirinya Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS)pada 11 Mei 1927. Organisasi itu dinisiasi pemilik rumah produksi Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) Louis Burt Mayer. AMPAS didirikan sebagai organisasi yang jadi wadah bagi penyelesaian sejumlah sengketa para pelaku film di Hollywood.Setahun kemudian, Mayer menawarkan ide apresiasi para pelaku film. “Saya menemukan cara terbaik menangani (para pekerja film) adalah dengan mengalungkan medali kepada mereka. Jika saya bisa memberikan mereka piala dan penghargaan, mereka akan ‘saling bunuh’ dalam persaingan produksi film sebagaimana keinginan saya. Itu alasannya Academy Award diciptakan,” ujar Mayer dalam biografi yang dituliskan Scott Eyman, Lion of Hollywood: The Life and Legend of Louis B. Mayer. Para petinggi AMPAS lantas memutuskan pemberian penghargaan Academy Award Merit akan diberikan kepada 17 kategori yang merepresentasikan 17 cabang AMPAS. Mulai dari kategori aktor terbaik hingga penulis naskah terbaik. Namun, baru pada 1929 Academy Awards pertama dihelat sebagai ajang apresiasi karyadan para pelakunya dalam kurun 1927-1928, di Hotel Hollywood Roosevelt. Para pemenangnya ditentukan berdasarkan voting ribuan anggota AMPAS. Nama-nama pemenang sudah diberikan ke sejumlah media cetak dan radio tiga bulan sebelum upacara penganugerahan. Namun kebijakan itu diubah setelah tahun 1930.Nama-nama pemenang baru diberikan ke media beberapa jam sebelum malam penganugerahan, untuk keperluan percetakan suratkabar. Namun, kebijakan itu rawan kebocoran.Pada Academy Awards ke-12,Los Angeles Times sudah memuat bocoran nama pemenangsebelum malam penganugerahan, 29 Februari 1940. AMPAS lalu mengubah kebijakannya untuk Academy Awards ke-13, yang berlaku hingga sekarang, bahwa nama-nama pemenang hanya akan dituliskan di dalam selember kertas tertutup amplop. Amplop itu baru akan dibuka di atas panggung malam penganugerahan. Malam anugerah Academy Awards pertama pada 1929. (oscars.org). Trofi dan Julukan “The Oscars” Simbol penghargaan Academy Award berupa trofi berlapis emas 24 karat berbobot 8,5 pon (±3,8 kilogram) dan tinggi 13,5 inci (34,3 sentimeter).Wujud trofi bergaya art deco itu berupa sosok seorang ksatria berdiri di atas gulungan film sambil memegang pedang. Trofi itu didesain Cedric Gibbons, sineas di Hollywood kala itu. “Sketsa desainnya dibuat pada saat dia bosan di rapat komite Academy (AMPAS, red). Saat dia bosan mendengarkan pidato tentang pentingnya imej yang kuat, Cedric Gibbons menggambar sesosok ksatria Perang Salib tanpa pakaian sedang menancapkan pedangnya ke sebuah gulungan pita film,” tulis Anthony Holden dalam The Oscars. Saat Mayer menggagas ajang Academy Award, dia meminta Gibbons membuat trofi apresiasinya. Untuk menyempurnakan desain dari sketsa awalnya, Gibbons menggunakan Emilio Fernández,aktor yang dikenalnyadari sang pacar Dolores del Río, sebagai modelnya. Hasil penyempurnaan sketsa Gibbons itu menjadi acuan pematung George Stanley dalam membuat trofi, dengan pengawasan Guido Nelli dari California Bronze Foundry. Trofi itu dinamai Academy Award of Merit. Sejak 1939, trofi itu lebih beken disebutThe Oscars atau Piala Oscar. Ada tiga individu yang mengklaim sebagai yang pertama mempopulerkan istilah The Oscars. Pertama adalah Bette Davis, aktris yang memenangi trofi itu lewat film Dangerous (1935)di Academy Awards 1936. Ia menyebut trofi itu sebagai Piala Oscar karena sosok ksatria telanjang di trofi itu mengingatkannya pada bokong suaminya, Harmon Oscar Nelson. Austin Cedric Gibbons (kiri) desainer trofi Academy Award of Merit/The Oscars yang lantas dibuat pematung George Maitland Stanley. (Los Angeles Magazine, Februari 2016/Dok. Keluarga Stanley). Klaim kedua berasal dari Margaret Herrick, pustakawan AMPAS. Mengutip Emanuel Levy dalam All About Oscar: The History and Politics of the Academy Awards, Herrick menyebut nama “Oscar” saat melihat patung emas itu pertamakali pada 1931, merujuk pada nama sepupunya, Oscar Pierce yang acap ia juluki “Paman Oscar”. Klaim ketiga datang dari kolumnis Sidney Skolsky. Di artikelnya yang dimuat New York Daily pada 1934, Skolsky menyematkan kata “Oscar” untuk meledektrofi itu. “Will you have a cigar, Oscar?” tulisnya. “Itu malam Academy Award saya ketika saya menjuluki trofi itu. Saya tak berusaha mengklaimnya secara hukum. Saya hanya ingin membuat trofi itu lebih humanis… Tahun-tahun berikutnya ketika merujuk penghargaan Academy, saya selalu memakai kata ‘Oscar’. Dalam beberapa tahun kemudian nama itu diterima dan diakui. Terbukti nama itu nama yang magis,” kata Skolsky dalam memoarnya yang dirilis pada 1975, Don’t Get Me Wrong, I Love Hollywood. Pada 1939, AMPAS menetapkan julukan “The Oscars” bermula dari Herrick secara tersirat. Sementara,Skolsky diakui sebagai pihak pertama yang menyebut julukan itu secara tersurat.
- Cara Lama Berlayar Ke Natuna
Natuna, di sisi barat Kalimantan, sejak lama menjadi bagian rute perdagangan. Salah satu potensinya adalah kelimpahan air tawar yang menjadi bagian penting dalam sebuah pelayaran.
- Hijrah yang Dibenci TNI
HUTAN Rawakalong, Sumedang pada pertengahan Januari 1948. Kapten Sentot Iskandardinata menatap tajam Letnan Muda Soedarja. Ketika perwira pertama itu menyampaikan pesan Kolonel A.H. Nasution bahwa seluruh pasukan TNI (termasuk Batalyon 27 Tarumangera yang dipimpinnya) diwajibkan melakukan gencatan senjata dengan Belanda, Sentot menyatakan ketidakpercayaannya. Terlebih sebagai konsekuensi dari Perjanjian Renville, seluruh kekuatan Divisi Siliwangi harus meninggalkan Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Yogayakarta. “Apakah kamu tidak salah mendengar perintah,Letnan?” tanya Kapten Sentot. “Jika Kapten tak percaya, ini saya bawakan koran-koran yang memuat hasil perjanjian dengan Belanda itu,” ujar Soedarja sambil menyodorkan seberkas dokumen. Alih-alih menerimanya, Sentot malah menatap kosong tumpukan-tumpukan kertas tersebut. Kekekecewaan yang sama juga dirasakan oleh Letnan Kolonel A.E. Kawilarang, Komandan Brigade II Surjakantjana Divisi Siliwangi. Ketika menerima perintah itu lewat Letnan Islam Salim, dia betul-betul terkejut luar biasa. Walau terpaksa menerimanya, hati Kawilarang tak bisa menyembunyikan kekesalannya kepada pemerintahnya. “Bukan main bencinya saya, ketika mendengar kabar itu. Seperti (mendengar) halilintar di siang bolong rasanya. Tapi kami mampu menguasai diri: tunduk kepada perintah atasan, perintah (pemerintah) pusat,” ujar Kawilarang dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH). Awal Februari 1948, para prajurit Siliwangi mulai keluar dari hutan dan gunung di seluruh Jawa Barat. Mereka bukan saja membawa diri mereka masing-masing tetapi ada juga yang mengikutsertakan seluruh anggota keluarganya. Menurut buku Hijrah Siliwangi yang diterbitkan oleh Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat, jumlah keseluruhan peserta hijrah adalah 30.000 orang. Sebagai titik temu seluruh rombongan Divisi Siliwangi dari pelosok Jawa Barat, dipilihlah Cirebon. Dari kota udang tersebut, mereka berangkat ke wilayah Republik dengan menggunakan tiga cara: diangkut dengan kapal laut menuju Rembang, menggunakan kereta api hingga Yogyakarta dan berjalan kaki hingga Wonosobo atau Gombong. Selanjutnya dari kedua kota itu, rombongan menggunakan kereta api dan truk menuju Yogyakarta dan sekitarnya. Saat menuju tempat tujuan hijrah inilah, pihak Belanda dikejutkan dengan performa prajurit-prajurit Siliwangi. Kendati berpakaian compang-compang, mereka tetap menunjukan disiplin tinggi laiknya tentara profesional. Termasuk saat seluruh prajurit harus menyerahkan senjata masing-masing guna diangkut secara terpisah, sesuai kesepakatan dengan pihak pengawas dari Komisi Tiga Negara (KTN). “Berbeda dengan penggambaran yang kerap ditulis koran-koran Belanda bahwa TNI itu sejenis kumpulan perampok dan ekstrimis, mereka justru terlihat seperti pasukan yang sangat teratur dan memiliki disiplin,” ujar Piere Heyboer dalam De Politionele Acties . Namun tak ayal, pandangan merendahkan tetap diperlihatkan oleh pasukan Belanda, terutama para serdadu yang sebelumnya kerap terlibat dalam pertempuran brutal dengan anak-anak Siliwangi. Unit KST (Korps Pasukan Khusus) dan Batalyon Andjing NICA misalnya. Saat pelaksanaan hijrah, mereka sering berlaku sinis dan menghina seperti dilakukan kepada para prajurit dari Brigade II Surjakantjana. Ceritanya, sebelum bergerak ke titik kumpul di Cirebon, pasukan Siliwangi dari wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor, yang langsung di pimpin Letnan Kolonel A.E. Kawilarang menunggu dahulu di Purabaya (suatu kawasan dekat Cimahi). Mereka dikawal secara ketat oleh satu kompi baret hijau Angkatan Darat Kerajaan Belanda (KST) pimpinan Letnan Pertama Henk Ulrici, yang merupakan tangan kanan Kapten R.P.P. Westerling. Karena merasa berlarut-larut dan tidak pasti, pada suatu kesempatan Kawilarang menanyakakan kepada Ulrichi: kapan pasukannya akan dibawa ke Cirebon? Ulrici menjawab dengan suara keras: “ Ya spoedig. Maar die gekke Kapitein Soegih Arto heft zich nog niet over gegeven en wij weten niet waar hij is” ( Ya, secepatnya, tetapi Si Gila Kapten Soegih Arto -Komandan Batalyon 22- itu belum menyerah dan kami tidak tahu di mana dia sekarang). Mendengar jawaban itu, Kawilarang berang dan langsung membentak Ulrici: “Kepergian Siliwangi tidak ada hubungannya dengan kata “menyerah”! Ini adalah atas dasar perjanjian Indonesia dengan Belanda! Letnan, kalau bicara harus hati-hati dan jangan berteriak-teriak kepada saya!”demikian seperti dipaparkan Soegih Arto dalam biografinya, Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto . Belum habis rasa marah Kawilarang, tiba-tiba seorang sersan baret hijau beretnis Minahasa (satu etnis dengan Kawilarang) melapor kepada Ulrici bahwa satu lagi kelompok “rampokers” telah datang dan siap bergabung dengan rombongan besar. Tanpa banyak cakap, Kawilarang mendekati Si Sersan itu dan langsung memakinya habis-habisan. Usai dimaki-maki, alih-alih melawan, Si Sersan itu langsung ngeloyor pergi.*
- Merahasiakan Hubungan Uni Soviet-Indonesia
DESEMBER 1949. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Mohammad Hatta menerima telegram dari Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky. Bunyinya: “Atas nama pemerintah Uni Soviet, saya dengan hormat menginformasikan kepada Anda, sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda, pemerintah Uni Soviet memutuskan mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia dan akan membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia.” Pada 3 Februari 1950, Hatta memberi balasan kepada pemerintah Uni Soviet. Ia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menerima keputusan pengakuan dari Uni Soviet dan merencanakan hubungan diplomatik dengan negara yang wilayah mencakup Asia dan Eropa tersebut. Saling berbalas telegram itu merupakan bukti hubungan diplomatik kedua negara secara resmi. Namun jika dilihat ke belakang, hubungan Indonesia dengan Uni Soviet sebenarnya telah dirintis sejak 1947. Melalui seorang tokoh muda komunis bernama Suripno, Indonesia telah lama mengincar pengakuan politik negara adidaya ini. Meski hubungan yang dijalin saat itu tidak mendapat pengakuan resmi pemerintah, bahkan terkesan ditutupi dari pemberitaan di dalam negeri. Diplomasi Rahasia Pertengahan 1947, Suripno meninggalkan Indonesia untuk menghadiri kegiatan kongres pemuda sedunia, World Federation of Democratic Youth (WFDY). Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan , menyebut jika Suripno mulai menetap di Praha begitu kongres selesai. Ia ditunjuk oleh Menteri Luar Negeri Agus Salim sebagai wakil Indonesia di Eropa Timur. Ia diberi wewenang menjalin hubungan dengan pemerintah Uni Soviet. Sementara menurut berita Pelita Rakjat, 3 Juni 1948, mandat yang dibawa Suripno di Uni Soviet datang dari Sukarno. Presiden menunjuknya sebagai wakil resmi Indonesia. NJF Zandstra, direktur surat kabar De Vrij Pers di Surabaya, pernah menemukan sepucuk surat bukti mandat untuk membuka hubungan diplomatik dengan Uni Soviet di kediaman Suripno di Yogyakarta. “Ditemukan surat jalan, lengkap dengan stempelnya buat perjalanan Suripno dan sepucuk surat yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno, di mana diberikan kewajiban kepada Suripno untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan negara Eropa Timur dan Uni Soviet. Ditemukan juga sepucuk surat balasan dari Rusia yang ditulis dalam bahasa Roes,” tulis Pelita Rakjat , 30 Desember 1948. Rupanya di dalam negeri, hubungan dengan Uni Sovet itu harus dirahasiakan oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin. Hal itu dilakukan agar hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) tetap terjaga baik. Mengingat pada 1947-1948, sedang berlangsung perundingan antara Indonesia dan Belanda yang ditengahi oleh pihak AS. “Selaku ketua delegasi, Amir Sjarifuddin segan melukai pihak Amerika, yang memimpin perundingan. Lagi pula, delegasi Republik Indonesia mengharapkan bantuan pihak Amerika dalam menghadapi delegasi Belanda. Oleh karena itu, hubungan Uni Soviet-Indonesia tersebut tidak diumumkan,” tulis Muljana. Tidak hanya masa Amir Sjarifuddin, pada periode Kabinet Hatta pun hubungan Uni Soviet-Indonesia tetap dirahasiakan. Hatta pun segan dengan Amerika. Ia tidak ingin keputusan mengumumkan secara terang-terangan hubungan mereka dengan Soviet malah menjadi bumerang bagi usaha di dalam negeri. Apalagi hubungan dengan Soviet masih belum tentu arahnya. Namun melalui Suripno, kata Muljana, usaha diplomatik dengan Uni Soviet akhirnya menjadi jelas, Pemerintah Indonesia sepakat membuka hubungan konsuler pada awal tahun 1948. Diberitakan harian Pelita Rakjat , 28 Mei 1948, kesepakatan kedua negara baru benar terjadi pada 19 Mei 1948. Siaran resmi stasiun radio Moskow menyebut jika penandatanganan perjanjian hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet telah selesai. Pemberitahuan itu mengejutkan Kabinet Hatta. Suripno akhirnya dipanggil pulang dari Praha untuk memberikan keterangan terkait kesepakatan tersebut. Suripno tiba di Yogyakarta pada 11 Agustus 1948. Setelah memberikan keterangan kepada menteri luar negeri, Suripno didampingi sekertarinya Suparto menghadap Sukarno. Rupanya si sekertaris adalah Muso, salah satu tokoh PKI, yang mengasingkan diri ke Moskow pada 1926. Ia menggunakan nama Suparto demi memelihara keamanannya selama di Indonesia. Rahasia Bocor Setelah pertemuan dengan Sukarno, Suripno dan Muso memberikan ceramah di Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. Keduanya menceritakan perjalanan hidupnya di Eropa. Tidak lupa mereka memuji-muji Uni Soviet, yang dirasa memfasilitasi keduanya dengan baik. Dalam kesempatan tersebut, Muso mengakui dirinya berandil besar dalam melancarkan proses pengakuan Uni Soviet kepada Indonesia. “Pengakuan itu sangat penting karena Uni Soviet adalah satu-satunya negara yang ditakuti Amerika Serikat,” ucap Muso. Demikianlah, hubungan Uni Soviet-Indonesia yang sekuat tenaga dirahasiakan Kabinet Amir Syarifuddin dan Kabinet Hatta, begitu saja dibocorkan Suripno dan Muso. Dalam waktu singkat, rahasia itu menjadi konsumsi publik. Pihak oposisi, yang banyak beraliran kiri, tidak membiarkan begitu saja kesempatan tersebut, Melalui pers mereka, berbagai tuduhan terhadap pemerintah dilayangkan. Hatta dianggap antek AS. Ia juga dituduh tidak konsisten memberantas imperialisme. Pers Belanda tidak ketinggalan menyebut Indonesia telah terpengaruh komunisme. Pada 22 Agustus 1948, Muso berbicara di alun-alun Yogyakarta. Kegiatan itu dihadiri oleh ribuan masyarakat dan beberapa mahasiswa Uni Soviet. Muso kembali menyebut Uni Soviet sebagai pihak yang berjasa. Ia menyudutkan pemerintahan Hatta dengan menyebut pilihannya dalam menjalankan perundingan Renville adalah kesalahan. “Intinya, Muso membakar hati rakyat dan mengobarkan antipati terhadap Kabinet Hatta,” tulis Muljana. Akibat bocornya informasi terkait hubungan Uni Soviet-Indonesia dari mulut Suripno dan Muso, tuntutan pelaksanaan persetujuan keduanya semakin gencar di masyarakat. Banyak yang menganjurkan, terutama dari golongan kiri, agar Indonesia memihak blok Uni Soviet dalam menghadapi Belanda. Menanggapi hal tersebut, Menlu Agus Salim dalam sidang KNIP menegaskan jika pemerintah tidak menutup pengakuan dari pihak manapun. Pemerintah juga tidak berencana membatalkan persetujuan yang telah disepakati. Mereka hanya perlu menimbang pilihan terbaik demi kepentingan kedaulatan Republik Indonesia.*
- Seniman Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki
Awan tebal menggelayut. Matahari tak kelihatan. Hampir turun hujan. Para pekerja berhelm proyek dan berompi oranye bergegas. Mereka meneriakkan aba-aba kepada rekannya di dalam ekskavator. Lengan ekskavator bergerak, menghantam dua bangunan di dekatnya. Gedung Galeri Cipta I dan Graha Bhakti Budaya roboh pelan-pelan menjadi puing. Alat berat saat merobohkan gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki. (Fernando Randy/Historia). Para seniman Ibukota resah. Tempat yang membersamai mereka sedari dulu, kini satu per satu hilang. Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, tengah direvitalisasi. Proyek ini sudah dimulai sejak tahun 2019 dan terus berlanjut hingga Februari 2020 meski protes dari seniman mengalir deras. Para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM melakukan silent action di trotoar TIM. (Fernando Randy/Historia). Salah satu protes datang dari para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM. Mereka merasa ada kejanggalan dalam proses revitalisasi TIM sejak awal. “Dari awal, kami seniman TIM, tidak pernah diajak diskusi mengenai rencana revitalisasi ini. Pemerintah terkesan sembunyi-sembunyi,” ujar Tatan Daniel (48), perwakilan seniman Graha Bhakti Budaya ketika dirobohkan oleh alat berat. (Fernando Randy/Historia). Aksi salah satu seniman saat memprotes revitalisasi Taman Ismail Marzuki. (Fernando Randy/Historia). Menurut Tatan, seniman bernama besar seperti Nano Riantiarno dan Putu Wijaya juga tak pernah didengarkan. Kedua seniman itu besar bersama TIM. Kekecewaan terbesar mereka adalah adanya rencana pembangunan hotel mewah. Perwakilan Forum Seniman Peduli TIM Tatan Daniel usai melakukan unjuk rasa di TIM. (Fernando Randy/Historia). Tatan menyebut hotel itu akan membuat TIM jadi komersial. Tapi hal tersebut dibantah oleh Pemerintah Provinsi Jakarta selaku penanggung jawab proyek revitalisasi TIM. Mereka bilang hanya ingin mendirikan wisma untuk seniman. Para pekerja saat merenovasi gedung Graha Bhakti Budaya di komplek TIM. (Fernando Randy/Historia). Tatan tak percaya bantahan itu. “Kalau memang nantinya akan dibangun wisma untuk seniman, kami mau fungsi dan bentuk benar benar wisma, jangan seperti hotel mewah,” lanjut Tatan. Para seniman masih terus menggelar aksi tolak komersialisasi TIM. Bentuknya “Silent Action”. Aksi itu berlangsung tiap Jumat sore di depan pelataran TIM. Para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM melakukan silent action di trotoar TIM. (Fernando Randy/Historia). Salah satu seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM melakukan kritik lewan karya seni di trotoar TIM. (Fernando Randy/Historia). Para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM melakukan silent action di trotoar TIM. (Fernando Randy/Historia). Kritik terhadap revitalisasi juga keluar dari mulut Yayu Unru (57), aktor senior sekaligus dosen pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia mengaku kecewa pada keputusan Gubernur DKI Jakarta dan resah jika TIM nanti berubah fungsi menjadi pusat komersial. “Kalau TIM sudah dikomersialkan, bagaimana kita mau berkarya? Nantinya TIM hanya mementaskan karya-karya yang laku di pasaran. Karya yang mengikuti pasar. Bukan karya-karya yang bagus. Itu tidak benar,” kata Yayu. Alat berat saat merobohkan gedung Graha Bhakti Budaya TIM. (Fernando Randy/Historia). Suasana gedung Graha Bhakti Budaya usai di robohkan. (Fernando Randy/Historia). Suasana revitalisasi di depan gedung Planetarium TIM. (Fernando Randy/Historia). Protes para seniman terhadap revitalisasi tidak kunjung usai. Tapi tak tampak pula upaya dari Pemerintah Provinsi Jakarta untuk duduk bersama berdiskusi dengan mereka. Ini berbeda dari cara Ali Sadikin, Gubernur Jakarta dulu, dalam menyikapi segala hal menyangkut TIM dan seniman di dalamnya. Para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM melakukan silent action di trotoar TIM. (Fernando Randy/Historia).
- Cerita Awal Taman Ismail Marzuki
REVITALISASI kompleks Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) berlanjut ke tahap baru pada awal Februari 2020. Gedung Graha Bhakti Budaya dan Galeri Cipta I mulai dibongkar. Dua gedung ini tadinya merupakan bioskop, tempat pameran lukisan, pertunjukan teater, kantor Dewan Kesenian Jakarta, dan kantor pengeloka PKJ-TIM.
- Empat Penjelajah Muslim Awal
Ada sebuah nasihat yang dinggap berasal dari Nabi Muhammad Saw.: “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina”. Kendati bukan hadis sahih, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Abdullah, menyebut pesan itu tetap bisa diterima sebagai gambaran tingkat pengetahuan geografis dunia Islam pada awal kelahirannya. “Apakah mungkin menyebut keunggulan negeri Cina, kalau adanya wilayah itu belum diketahui,” katanya. Pada awal perkembangan Islam di abad ke-7, para pengembara dan pedagang Arab sudah mengenal negeri sejauh Tiongkok. Dalam perjalanannya hubungan antara Arab atau wilayah Timur Tengah secara umum dengan Tiongkok pun makin akrab. Hingga pada abad ke-10, penguasa Tiongkok mulai melarang kehadiran kapal-kapal dari Timur Tengah berlabuh di Kanton, pelabuhan terbesar Tiongkok. Dalam “Secercah Kisah: Ibn Battuta Sang Penjelajah Muslim Tanpa Bandingan” yang disampaikan di Borobudur Writers and Cultural Festival 2018, Taufik menjelaskan penguasa Tiongkok mulai khawatir terjadi persaingan ekonomi antarpedagang. “Sejak itu, kapal-kapal yang berasal dari Timur Tengah mengganti tujuan mereka ke arah wilayah kepulauan yang kini disebut Indonesia,” kata Taufik. Hingga kini, sejarah mencatat penjelajah muslim ke Nusantara paling terkenal mungkin adalah Ibn Batutta. Bahkan, ia dijuluki “Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa”. Namun, Ibn Batutta bukan penjelajah muslim satu-satunya di dunia yang tercatat sejarah. Berikut ini penjelajah muslim yang catatannya memuat informasi tentang Nusantara pada masa lalu: Sulaiman al-Tajir Sulaiman adalah pedagang Persia yang melakukan beberapa pelayaran pada tahun 851. Ia satu di antara banyak orang dari Timur Tengah yang pada abad ke-8–10 berlayar ke timur hingga ke pasar-pasar besar di Tiongkok. Catatannya memuat rute dari Persia ke Tiongkok. Jeong Su-Il, sejarawan spesialis jalur sutra asal Korea Selatan dalam The Silk Road Escyclopedia menjabarkan, pelayaran Sulaiman dimulai dari mengambil muatan di Basra, Iraq atau Oman, kemudian berlabuh di Siraf, melewati Sohar dan Muscat di timur laut Pantai Oman. Setelah sebulan berlayar, kapal sampai di Kollam, Kerala, India. Dari sini, mereka melewati Sarandip atau Sri Lanka, Kepulauan Andaman, Kepulauan Nikobar, Lambri di Sumatra, sampai di Kalah atau sekarang Kedah, Malaysia. Setelahnya kapal berlayar selama 20 hari ke Champa, melewati Zhanghai dan sampai di Guangfu atau Guangzhou. “Ia menjelaskan perjalanan dari Siraf ke Guangzhou memakan waktu 130 hari dan melewati total 13 negeri,” tulis Jeong Su-Il. Termasuk kerajaan di pulau bernama Zabag. Sudah sejak abad ke-7, pulau ini muncul dalam tradisi penulisan para geograf Arab. Mereka menyebut Zabag untuk Pulau Sumatra. Catatan Sulaiman juga menyebut raja di Pulau Zabag yang bergelar maharaja. Pun kehidupan masyarakatnya. Salah satu kekayaan negeri ini berupa emas memberikan kesan mendalam kepada Sulaiman. Sayangnya, catatan perjalanan asli berbahasa Arab yang ditulis Sulaiman hilang. Kisahnya kemudian dikenali melalui karya seorang ahli bumi muslim bernama Abu Zayd Hasan dari Siraf di Persia berjudul Rihalatu Sulaiman al-Tajir . Karya yang memodifikasi dan melengkapi karya Sulaiman itu terbit pada 916. Tabula Rogeriana atau Kitab Rudjdjar (Kitab Roger) adalah peta dunia yang digambar oleh pakar geografi Arab, Al-Sharif al-Idrisi pada 1154. Peta itu dibuat untuk Raja Roger II dari Sisilia, setelah delapan belas tahun al-Idirisi menetap di istananya. Buzurg bin Shahriyar al-Ramhurmuzi Seorang kapten sekaligus ahli navigasi muslim. Ia mengumpulkan catatan pelaut-pelaut muslim awal yang berisi pengalaman aneh mereka dan menarasikannya dalam Ajaib al-Hind (Keajaiban India). Karyanya itu menjadi salah satu sumber penting Timur Tengah yang aslinya berbahasa Persia. Sejarawan S.Q. Fatimi dalam Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East , menyebut Al-Hind yang dimaksud al-Ramhurmuzi mencakup tak hanya anak benua India, melainkan juga Asia Tenggara maritim. Catatan yang ia kumpulkan di antaranya kisah pelaut tentang Kawlam (Kollam) di Pantai Malabar, Sarandib (Sinhaladvipa) yaitu Sri Lanka, Lanjabalus (Nakkavaram) yaitu Kepualaun Nikobar, Lamuri (Lambri), Fansur, Siribizah (Sriwijaya) di Sumatra, Kalah (Kalang) di pantai barat Semenanjung Malaya, dan tentang EI Dorado yang legendaris di laut selatan. Menurut Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-XVIII , kitab yang ditulis sekira tahun 390 H (1000 M) itu, juga merupakan catatan Timur Tengah paling awal tentang Nusantara. Karya ini meriwayatkan kunjungan para pedagang muslim di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya). Catatannya mengisyaratkan pula adanya sejumlah penganut Islam dari kalangan penduduk asli. Ibn Battuta Abu Abdullah Muhammad Ibn Battuta lahir di Maroko tahun 1304 M pada masa Dinasti Marinid. Ia pengelana pertama yang mengunjungi seluruh dunia Islam yang dikenal waktu itu. Mulai dari Maghribi di Afrika, Tangiers di Maroko ke Jazirah Arab, sampai ke Asia Kecil di wilayah yang disebut para pelacong Barat sebagai Bulan Sabit yang Subur, lalu ke anak benua India, dan ujung Pulau Sumatra hingga ke Tiongkok. Sejarawan Taufik Abdullah menjelaskan, Ibnu Battuta bukanlah orang Arab pertama yang memberitakan Nusantara. Ketika dia berkunjung, pengetahuan para ahli geografi dan pelayar Arab tentang wilayah Kepulauan Nusantara telah cukup memadai. Umpamanya, Pulau Zabag. Meski sudah dikenal para geograf Arab, hanya Ibnu Battuta yang menceritakan hasil kunjungannya sendiri. Sebelumnya hanya berdasarkan cerita para pedagang. Karyanya, Rihla (perlawatan) tetaplah berdiri sendiri sebagai catatan perjalanan muslim tentang Asia Timur. Ibn Battuta menjelajah kurang lebih 29 tahun dengan mencapai 120.700 km. Ibn Muhammad Ibrahim Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe dari Marco Polo Sampai Tan Malaka menulis, pada 1685, Syekh Persia, Sulaiman, mengirimkan utusan ke Raja Narai di Siam. Itu dalam upaya yang sia-sia untuk meningkatkan peranan penting muslim Syiah dari Persia dan India di kerajaan itu. Dalam perjalanannya, para utusan sempat berhenti di Aceh beberapa waktu. Mereka meninggalkan catatan tentang kekuasaan para ratu di sana. Penulisnya Ibn Muhammad Ibrahim. Ia menulis dengan gaya prosa bersajak dalam bahasa Persia. Gaya penulisannya berbeda dibandingkan penjelajah Eropa masa itu. Saat itu yang sedang memerintah adalah ratu ketiga, Inayat Shah Zakiat ad-Din (1678-1688).
- Kisah Anak Langgar dan Mantri Galak
SAIFUDDIN Zuhri, mantan menteri agama era pemerintahan Sukarno, memiliki pengalaman pahit berurusan dengan pihak keamanan. Sewaktu usianya 12 tahun, Zuhri terlibat cekcok dengan seorang mantri polisi –sebutan untuk penjaga ketertiban di pedesaan yang dipekerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda– karena permasalahan sepele. Peristiwa itu terjadi pada 1931 di tempat kelahirannya: Kawedanan Sokaraja, Banyumas. Selepas mengikuti pelajaran Qiraat Al-Qur’an di Pesantren Musri, Zuhri memutuskan menghabiskan malam di langgar bersama teman-temannya. Dikisahkan Zuhri di dalam biografinya Saifuddin Zuhri: Berangkat dari Pesantren , kegiatan seperti itu memang rutin dilakukannya ketika malam Jumat tiba. Mereka biasa mengisi waktu di langgar dengan menghafal Al-Qur’an, meski lebih sering habis karena keasyikan berbincang. Sekira pukul 10 malam, saat semua orang telah bersiap untuk tidur, sorotan cahaya tetiba memecah kegelapan di langgar tersebut. Zuhri dan kawan-kawannya terkejut dengan sinar yang amat menyilaukan itu. Mereka yang sedang berbaring serentak terbangun sambil membetulkan letak sarungnya. “Hei, matikan sorot lampu itu!” teriak Ahmad Sadeli, jagoan pencak silat di kelompok itu. “Jangan kurang ajar ya!” yang lain ikut berteriak. Cahaya yang ternyata berasal dari lampu senter itu akhirnya dipadamkan. Setelah diperhatikan jelas, orang yang datang ke langgar itu adalah Ndoro Tuan Mantri Polisi. Penduduk kampung mengenalnya sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah) Hindia Belanda. Menurut Zuhri mantri polisi ini mempunyai perangai yang keras, lambang kekuasaan yang tak mengenal rakyat. Di kalangan anak-anak muda ia dijuluki “mantri galak”. “Apakah jalan ini menuju ke rumah Karminem?" tanya mantri polisi itu dalam bahasa Jawa. Karminem adalah perempuan pendatang di kampung itu. Ia menyewa rumah di Kauman, sekitar 150 meter dari langgar tempat Zuhri bermalam. Dari kabar yang beredar Karminem merupakan janda muda yang sering menerima tamu laki-laki ke rumahnya. Ia sudah sering dilaporkan ke lurah setempat karena aktifitasnya itu meresahkan. Warga pun pernah melempari rumahnya dengan batu dan memintanya keluar dari Kauman. “ Embuh ora weruh ,” jawab Ahmad Sadeli menyatakan ketidaktahuannya. Mendengar jawaban itu, Si Mantri Polisi naik pitam. Mantri polisi menganggap jawaban Ahmad Sadeli itu tidak sopan karena menggunakan bahasa Jawa ngoko (bahasa sehari-hari) untuk orang yang derajatnya lebih tinggi seperti dirinya. “Haaahh? Ora iso boso ya ?” hardiknya. Boso mengacu pada bahasa Jawa yang lebih sopan. “Kalau seorang mantri polisi sendiri tidak bisa boso apalagi saya yang cuma orang biasa,” jawab Ahmad Sadeli. Mantri Polisi terkejut. Pernyataan Ahmad Sadeli seolah memukul mentalnya. Tanpa berkata-kata, ia balik badan dan berjalan menuju jalan utama. Sorot lampu senternya mengarah ke rumah Karminem. Zuhri tidak tahu apakah ia berhasil menemukan rumah yang dicari atau tidak. Seketika gelak tawa pecah di antara anak-anak di langgar itu. Mereka saling berpelukan, seperti telah memenangkan suatu pertandingan. Namun suasana gembira itu tidak berlangsung lama. Mereka mulai khawatir dengan konsekuensi dari tindakan mereka mempermalukan seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda. Zuhri takut akan ada balasan dari Si Mantri Polisi. Di tengah kekhawatiran itu, Kiai Hudlari, salah seorang guru Zuhri, keluar dari rumahnya yang berada tidak jauh dari langgar. Ternyata ia diam-diam mengikuti peristiwa barusan. “Ahsantum, ahsantum… bagus, bagus…” Kiai Hudlari mendekat. “Maafkan sikap saya tadi kepada Mantri Polisi,” ujar Ahmad Sadeli memberanikan diri. “Tak usah minta maaf,” ucap Kiai, “Bersikap sombong terhadap orang yang sombong itu sedekah. Orang sombong selamanya menganggap bahwa bersikap sombong itu benar. Dia tidak mengerti apa arti sopa santun. Mengira bahwa bersikap sopan itu tanda kelemahan.” “Kepada orang sombong kita dibolehkan sedikit sombong. Sikap ini memperlihatkan suatu ketegasan sambil menangkis kesombongan orang,” lanjut Kiai Hudlari. “Bersikap sedikit sombong pada orang yang sombong itu sedekah artinya memberi pelajaran. Bersikap sombong terhadap orang yang rendah hati adalah kurang ajar; bersikap rendah hati terhadap orang yang sombong adalah kelemahan. Adapun bersikap sopan kepada orang yang sopan santun itu perbuatan utama.” “Tapi dia seorang mantri polisi,” kata salah seorang anak yang masih dibayangi rasa khawatir. “Biar saja. Seorang kadang-kadang tidak mau dinasihati dengan cara baik-baik. Tetapi dia akan ketanggor dinasihati oleh pengalaman buruknya.” Kiai berusaha menenangkan. “Jangan-jangan Mantri Polisi itu tidak akan tinggal diam begitu saja,” Zuhri nyeletuk. “Kalian tidak usah khawatir. Kalian toh tidak bersalah. Jika kalian mempunyai perasaan khawatir, gelisah atau takut, Mantri Polisi itu juga diliputi perasaan yang sama. Apalagi dia terang bersalah. Dia tentunya juga diliputi kegelisahan karena perbuatannya yang tidak terpuji ini. InsyaAllah tidak apa-apa. Semua hati manusia digerakkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Maha Kuasa mengubah pikiran tiap orang disebabkan karena berubahnya isi hati,” tegas Kiai Hudlari. Kekhawatiran Zuhri dan kawan-kawannya ternyata benar-benar terjadi. Dua hari setelah kejadian itu, 14 anak Kauman ditahan di kantor Asisten Wedana. Mereka lalu dihadapkan ke depan Mantri Polisi yang tampak geram melihat anak-anak itu. Tiba-tiba Si Mantri Polisi berteriak. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat dalam bahasa Belanda yang tidak dimengerti. Namun Zuhri yakin ucapannya itu adalah caci maki dan hardikan bagi anak-anak Kauman. Setelah masing-masing anak mendapat satu kali sepakan kaki dari Si Mantri Polisi, mereka digiring ke halaman depan kantor. Zuhri dan kawan-kawannya disuruh mencabuti rumput, menyapu halaman, dan membakar sampah. Tepat tengah hari, anak-anak itu diperbolehkan pulang. “Aku dan teman-temanku kan anak jajahan. Orang terjajah selamanya diperlakukan 'salah' dan 'kalah' meskipun berada di pihak yang benar,” ungkap Zuhri.*





















