Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Makam Plumbon Jadi Situs Memori CIPDH-UNESCO
PADA 1980-an, sebuah makam dengan tumpukan batu di hutan Plumbon, Semarang hanyalah sebuah tempat bagi orang-orang yang mencari peruntungan nomor togel. Sesekali ada orang berziarah, namun tak dikenal siapa mereka. Pasca Reformasi, tepatnya pada 2000, Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) yang diketuai Sulami, mantan Sekretaris Jenderal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), sempat mengidentifikasi keberadaan makam yang diduga berisi kerangka korban-korban pembunuhan massal 1965 tersebut. Namun, tak ada kelanjutan dari indentifikasi kala itu, hingga pada 2014, sekelompok aktivis yang membentuk Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) mulai membuka memori masa silam dari makam di tengah hutan jati itu. PMS-HAM memerlukan waktu 7,5 bulan untuk melakukan penelitian mengenai identitas para korban serta melakukan pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah. “Jadi kami mencari kolega korban, keluarga korban, kemudian minta izin dari RT, RW, lurah, camat sampai walikota, Polsek, Polres, Polda, Koramil, sampai Kodam, dan kami tembuskan juga ke Mabes TNI,” ujar Yunantyo Adi Setiawan, Koordinator PMS-HAM kepada historia.id. PMS-HAM kemudian berhasil mengidentifikasi delapan nama dari 24 korban yang diperkirakan dikubur di makam tersebut. Mereka adalah Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid, dan Soerono. Moetiah adalah guru TK Melati dan anggota Gerwani di Patebon, Kendal. Soesatjo adalah patih yang merangkap pengurus PKI Kendal. Joesoef adalah carik di Desa Margorejo dan anggota PKI di Cepiring. Soerono adalah anggota PKI dari Kedungsuren. Sachroni adalah anggota PKI dari Mangkang. Sedangkan, Darsono, Soekandar, dan Doelkhamid , merupakan anggota Pemuda Rakyat. Yunantyo menyebut kedelapan korban dan belasan lainnya dibunuh tanpa proses hukum yang jelas. “Tidak ada pengadilannya. Baru dicurigai tapi sudah dibunuh. Jadi,sebagai upaya kemanusiaan kita waktu itu, rekonsiliasi dalam bentuk memanusiakan makam mereka,” terangnya. Awalnya PMS-HAM hendak melakukan penggalian terhadap makam tersebut. Namun, karena Komnas HAM tidak merespons permohonan izin yang diajukan, maka dipilih opsi pemasangan nisan. PMS-HAM juga berkaca dari peristiwa di Wonosobo pada 2000. Kala itu YPKP65 melakukan ekskavasi kuburan massal di Hutan Kaliwiro, Wonosobo. Ketika hendak dimakamkan ulang di daerah Kaloran pada 2001, terjadi penolakan dari Forum Ukhuwah Islamiyah Kaloran (FUIK). Beberapa kerangka bahkan dibakar. Maka untuk pemasangan nisan makam Plumbon, PMS-HAM melakukan dialog dengan Pemuda Pancasila dan Front Pembela Islam (FPI) terlebih dahulu. “Kita hanya bicara kemanusiaan saja , tidak bicara konflik masa lalu,” terangnya. Doa lintas agama pada acara pemasangan nisan makam korban pembunuhan massal 1965 di Plumbon, Semarang, 1 Juni 2015. (Dok. Yunantyo Adi Setiawan). Pada 1 Juni 2015, acara pemasangan nisan dilangsungkanbersamaan dengan Hari Lahir Pancasila. Dengan mengundang warga, tokoh lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat dan ormas, acara dapat berjalan dengan lancar. PMS-HAM juga melibatkan pemerintah daerah, pimpinan Perhutani Kendal selaku pemilik lahan hutan, serta pihak kepolisian dan TNI. Akhirnya, sebuah batu nisan dari marmer bertuliskan delapan nama korban pembunuhan berhasil didirikan. “Intinya waktu itu kita resmikan dengan doa bersama lintas agama bersama warga bahwa tempat itu mulai 1 Juni 2015 menjadi tempat terbuka sebagai upaya kemanusiaan terhadap korban itu,” jelas Yunantyo. Nisan ini menjadi monumen pertama korban pembunuhan masal 1965 yang didirikan secara resmi atas izin pemerintah. Acara ini juga sekaligus menjadi peristiwa rekonsiliasi kultural bagi korban, masyarakat dan pemerintah. Pada 1 Mei 2019, Yunantyo mendapat surel dari The International Center for the Promotion of Human Rights (CIPDH) yang berada dibawah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), yang meminta materi terkait makam Plumbon tersebut. CIPDH-UNESCO kemudian menetapkan makam itu sebagai situs memori terkait pelanggaran HAM berat. CIPDH-UNESCO didirikan pada 2007 di Buenos Aires, Argentina, untuk meningkatkan kesetaraan dan nondiskriminasi melalui program-program yang mempromosikan kesetaraan gender, keberagaman dan antarbudaya. CIPDH-UNESCO mengandalkan potensi pendidikan warisan budaya dan sejarah sebagai elemen penting dalam membangun identitas kolektif. Selain itu,CIPDH-UNESCO juga memprioritaskan pendidikan HAM sebagai pendorong untuk mempromosikan budaya koeksistensi demokratis dan akses yang setara terhadap HAM. Untuk itu, CIPDH-UNESCO berupaya memvisualisasikan situs-situs terkait dengan memori pelanggaran HAM berat di seluruh dunia sebagai bagian dari warisan budaya kolektif komunitas dalam bentuk peta interaktif. Proyek ini juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana masyarakat berurusan dengan masa lalu mereka, kebijakan publik apa yang diberlakukan untuk menjaga memori dan untuk mengumumkannya, serta kesepakatan dan konsensus apa yang memungkinkan ingatan ini dikenal. Proyek ini mendata berbagai warisan meliputi arsip, warisan budaya tak benda, monumen, museum dan situs dengan tema perbudakan, genosida dan atau kejahatan massal, konflik bersenjata, dan persekusi politik. Makam Plumbon masuk dalam kategori situs persekusi politik bersama kuburan massal Priaranza del Bierzo di Spanyol dan Space for Memory and for the Promotion and Defense of Human Rights (Former ESMA) di Argentina. Selain makam Plumbon, CIPDH-UNESCO juga memasukan Aksi Kamisan dalam peta mereka. Aksi dengan pakaian dan payung hitam di depan Istana Negara itu masuk dalam kategori warisan budaya tak benda dengan tema persekusi politik.
- Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda
MUSEUM Nasional kini tengah melakukan kajian konten dan kajian konservasi terhadap 1.499 benda bersejarah hasil repatriasi dari Belanda. Sebagian besar benda memang belum memiliki data provenance (asal usul) yang lengkap. Beberapa data bahkan baru berupa perkiraan dari pihak Museum Nusantara, Delf. "Banyak koleksi yang belum jelas provenance-nya (asal usulnya). Perlu kajian khusus untuk memperdalam informasi koleksi itu sendiri," jelas Nusi Lisabila Estudiantin, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional Indonesia. Nantinya, kata Nusi, benda-benda tersebut akan diklasifikasikan dalam tujuh kelompok, yakni prasejarah, etnografi, arkeologi, numismatik dan heraldik, geografi, keramik dan sejarah. Berikut ini sepuluh dari 1.499 benda bersejarah yang diperoleh dari situs resmi Museum Nusantara (collectie-nusantara.nl): 1. Model Perahu dari Cengkeh Model perahu yang disusun dari kuncup-kuncup cengkeh. (collectie-nusantara.nl). Model perahu dengan pendayung dan tiga tiang ini terbuat dari susunan cengkeh. Tiap-tiap kuncup cengkeh disatukan dengan cara dijahit menggunakan benang. Benda berukuran 19 x 39,5 x 9 cm ini berasal dari paruh pertama abad ke-20. Terdapat dua model kapal dengan bentuk berbeda serta satu model bentuk set peralatan merokok dan satu set peralatan minum teh. Semuanya berasal dari Ambon, Maluku. 2. Ukiran Tanduk Rusa Tanduk rusa dengan ukiran dari Bali. (Fernando Randy/Historia). Dua tanduk rusa sepenuhnya dihiasi dengan ukiran. Ukiran-ukiran merepresentasikan pangeran, putri, raksasa, dan garuda dan lain sebagainya tersebar pada dua tanduk. Data Museum Nusantara menyebut ukiran tanduk ini "berkualitas tinggi". Dua tanduk tersebut kemungkinan merupakan tanduk rusa Jawa atau rusa Timor (Cervus timorensis syn. Rusa timorensis) yang dibuat atau dibawa dari Bali. Kedua tanduk ini diperkirakan berasal dari abad 19–20. 3. Kapak Batu Kapak batu berasal dari 5.000-1.000 SM. (collectie-nusantara.nl). Sebuah kapak terbuat dari batu yang diperkirakan berasal dari 5.000-1.000 SM. Kapak ini berbentuk cembung memanjang. Sementara bagian depannya datar dan bagian sisinya sempit dan rata. Data Museum Nusantara menyebut kapak berukuran 3 x 9 x 5,5 cm ini berasal dari Pulau Kalimantan. 4. Peralatan Perak Batak Beragam peralatan perak dari Batak. (collectie-nusantara.nl). Terdapat 12 objek berbeda yang digantung dengan rantai yang disatukan oleh cincin logam. Berisi berbagai peralatan seperti pembersih telinga, penjepit rambut, tusuk gigi, kotak tembakau hingga kotak kapur. Peralatan terbuat dari perak ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1890). Kemungkinan dibuat atau dibawa dari Karo, Sumatra Utara. 5. Liontin Ikan Berkepala Naga Liontin ikan berkepala naga dari Jawa Timur. (collectie-nusantara.nl). Sebuah liontin berbentuk ikan dengan kepala naga berukuran 10,5 x 13 x 0,4 cm. Liontin ini kemungkinan juga digunakan sebagai jimat keberuntungan. Liontin ini terbuat dari tembaga dan perak dan berasal dari paruh pertama abad ke-20. Kemungkinan berasal dari kebudayaan Peranakan di Jawa Timur. Liontin sejenis disebut sebagai "kalung baderan" atau kalung ikan mas. 6. Gayor Gong Gayor gong yang dibuat oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono. (collectie-nusantara.nl). Gayor gong atau stand gong ini menurut data Museum Nusantara diproduksi pada 1925 oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono dari Yogyakarta. Sementara gongnya disebut dibuat di Bogor dari perunggu. Gayor gong dihiasi ukiran dengan karakter dua orang penjaga dengan pedang di bagian atas. Terdapat pula karakter naga di kedua sisi. Bagian tengah berupa lubang bundar untuk gong. Kemudian pada bagian atas merupakan pahatan karakter merak dengan ekor mengembang. Gayor gong ini berukuran 173,5 x 140 x 27 cm. 7. Laci Perhiasan Piramida Laci perhiasan berbentuk piramida. (collectie-nusantara.nl). Laci berbentuk piramida ini merupakan kotak perhiasan pernikahan. Namun, ada kemungkinan juga merupakan kotak obat. Laci berukuran 43 x 39 x 38 cm ini diperkirakan berasal dari Bali atau Jawa Timur. Dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. Terdapat satu lagi laci berbentuk piramida yang berasal dari Palembang. 8. Sisir Sisik Penyu Sisir yang terbuat dari cangkang penyu sisik. (collectie-nusantara.nl). Sisir dekoratif ini dibuat dari cangkang penyu sisik (Eretmochelys Imbricata). Bagian atas sisir melengkung dan memiliki motif cut-out. Di bagian tengah terdapat bentuk sebatang pohon kehidupan. Sementara di kedua sisi berupa ayam jantan yang berdiri di atas seekor rusa. Sisir dekoratif lainnya menunjukan motif garuda di bagian tengah, kuda poni dan seorang gadis. Sisir berukuran sekitar 15 x 13,5 x 5 cm ini kemungkinan berasal dari Sumba, dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. 9. Jas Hujan Sabut Kelapa Jas hujan sabut kelapa dari Belitung. (collectie-nusantara.nl). Benda ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1895). Jas hujan berdimensi 125 x 120 cm ini berasal dari daerah Dendang, Pulau Belitung (dulu Biliton). Jas hujan yang dibuat dari sabut kelapa ini berasal dari kebudayaan China dan menurut data Museum Nusantara, jas hujan ini memang digunakan oleh penambang China di Pulau Belitung. 10. Model Rumah Adat dan Perahu Model perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. (Fernando Randy/Historia). Terdapat setidaknya 16 model perahu serta 12 model rumah dan masjid yang tururt dikembalikan. Model-model perahu mewakili bentuk perahu dari Bugis, Makassar, Sangihe, Bacan, Jawa, Madura, hingga Sumatra. Model perahu paling besar berupa perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. Model perahu berukuran 197 x 53 cm bahkan memiliki dua atap. Diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-19. Sementara model rumah, masjid, dan lumbung merepresentasikan berbagai kebudayaan di Nusantara. Sebagian besar dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh kedua abad ke-19. Selain benda-benda di atas, masih ada ratusan tekstil, mata uang, litograf, perabot rumah, perhiasan, dan senjata. Pihak Museum Nasional telah menyiapkan gedung baru berlantai tiga yang akan difungsikan sebagai storage di belakang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kedepan, juga akan dilakukan berbagai kegiatan penunjang penelitian dan konservasi museum di storage baru ini. "Nanti akan ada untuk pelatihan konservasi, sekolah konservasi, untuk museum-museum di Indonesia dari sana. Semacam workshop," ujar Siswanto, Kepala Museum Nasional. Setelah kajian konten dan konservasi selesai, Museum Nasional rencananya akan menggelar pameran benda-benda hasil repatriasi pada Juni mendatang.
- Petualangan Evertsen, dari Arktik hingga Arafura
JANUARI hari ke-15, TNI AL rutin memperingati Hari Dharma Samudera, hari ketika Insiden Laut Arafura terjadi 58 tahun lampau. Insiden tersebut menewaskan Deputi I KSAL Komodor Yosaphat Sudarso setelah kapalnya, KRI Matjan Tutul, dikaramkan kapal perang Belanda Hr. Ms. Evertsen. Evertsen merupakan kapal fregat Koninklijke Marine (KM) atau angkatan laut Belanda bernomor lambung F-803. Hingga saat ini Evertsen tercatat sebagai kapal terakhir yang memuntahkan peluru dalam pertempuran resmi yang melibatkan Belanda. Setahun setelah Pertempuran Laut Arafura atau yang oleh Belanda disebut “Vlakke Hoek Incident”, Evertsen dipensiunkan dan dibesituakan. Keputusan tersebut mengakhiri petualangan Evertsen sejak Perang Dunia II, Perang Korea, hingga Irian Barat. Mulanya, Evertsen merupakan kapal perusak dari kelas-S milik Royal Navy (Inggris). Namanya HMS Scourge. Menukil H. T. Lenton dalam British & Empire Warships of the Second World War, kapal itu dibuat galangan kapal Cammel Laird di Birkenhead pada 1941 dan rampung tahun berikutnya. Kapal dengan nomor lambung G-01 itu dinamai HMS Scourge saat masuk kedinasan sebagai bagian dari Armada Teritorial Inggris pada 14 Juli 1943. Dua mesin uap Admiralty 3-drum boilers-nya mampu melajukan kapal sepanjang 110,6 meter, lebar 10,9 meter, dan bobot 1.740 ton itu hingga kecepatan maksimal 36 knot. Kapal perusak HMS Scourge G01 milik AL Inggris sebelum berpindah tangan ke AL Belanda mulai 1946 (Foto: Imperial War Museum) Scourge dipersenjatai empat meriam 120mm Mark XII, sepasang meriam Bofors 40mm, empat pasang meriam Oerlikon 20mm, 16 tabung torpedo 21 inci, serta empat pelontar depth charge (bom dalam) berkapasitas 70 bom. Tugas pertamanya di luar perairan Inggris terjadi pada Desember 1943. Scourge turut serta dalam “Konvoi JW 55B”. Konvoi itu merupakan upaya Sekutu mengirim bantuan untuk Uni Soviet yang punya musuh sama dengan Sekutu: Jerman Nazi. Konvoi yang membawa 19 kapal dagang itu dilindungi 32 kapal perang beraneka jenis dari AL Inggris, Amerika, Kanada, dan Norwegia, di mana Scourge termasuk. Setahun berselang, Scourge turut serta dalam invasi Sekutu ke Normandia (D-Day), 5-6 Juni 1944. Scourge bagian dari Gugus Tugas-S, yang bertugas melindungi konvoi Sekutu menyeberangi Selat Inggris dan menyokong pembomban jelang pendaratan. Setahun usai Perang Dunia II, Evertsen diambil-alih Belanda. Beberapa sumber menyebutkan, Evertsen dibeli, bukan dihibahkan. “Hr. Ms. Evertsen adalah salah satu kapal perang yang diambil-alih oleh AL kerajaan (Belanda, red.) dari AL Inggris. Sebelumnya sebagai HMS Scourge, kapal itu terlibat dalam konvoi bantuan Sekutu menuju Murmansk. Evertsen di bawah pimpinan Letnan Laut I G. P. Küller pada 21 April tiba di Tanjung Priok dan disambut Panglima AL Belanda di Hindia Belanda Laksamana Madya A. S. Pinke,” sebut suratkabar Het Dagblad, 24 April 1946. Dipermak jadi Fregat Saat baru berpindah tangan ke AL Belanda, Scourge diganti namanya menjadi Hr. Ms. (di beberapa sumber disebut HNLMS) Evertsen dengan nomor lambung D-802. Nama itu untuk kelima kalinya digunakan Belanda untuk menamai kapal perangnya sejak abad ke-19. Nama Evertsen diambil dari nama dua kakak-beradik pelaut yang dianggap Belanda sebagai pahlawan di abad ke-17, Johan dan Cornelis Evertsen. Kala Belanda kembali ke Indonesia, Evertsen berbasis di Modderlust, Surabaya dan ikut dalam serangkaian patroli di Laut Jawa. Hingga 1949, ia juga beberapakali memulangkan para bekas interniran dan tawanan Jepang ke Eropa. Para awak Hr. Ms. Evertsen D802 kala bertugas di Perang Korea (Foto: NIMH) Setahun berselang, Evertsen ikut andil menyokong Sekutu di Perang Korea, sebagai bagian dari Gugus Tugas-96 di Armada ke-7 AL Amerika. Tugasnya memblokade jalur suplai musuh di Laut Kuning dan memberi sokongan salvo dari laut ke pasukan darat PBB. Usai Perang Korea, Evertsen kembali ke Belanda dan pada Oktober 1957 diubah menjadi fregat di galangan kapal Den Helder. Hal itu sebagai dampak kebijakan Belanda yang hendak memperkuat militernya di Irian Barat sekaligus “membesituakan” sejumlah kapal perang tuanya. “Hr. Ms. Evertsen, Piet Hein, dan Kortenaer yang sebelumnya bertugas sebagai kapal perusak, telah dirombak. Kapal-kapal itu kini telah menjadi fregat pada 1 Oktober karena masih dibutuhkan armada kerajaan,” sebut suratkabar De Tijd, 14 Oktober 1957. Awal 1960, Evertsen yang sudah diubah menjadi fregat dan digganti nomor lambungnya menjadi F-803, berangkat dari Amsterdam ke Hollandia (kini Jayapura) via Terusan Panama. Ia jadi satu dari tiga kapal perang untuk memperkuat perairan Irian Barat, selain fregat Kortenaer dan kapal perusak Utrecht. Ketiga kapal inilah yang menghantam KRI Matjan Tutul pada malam 15 Januari 1962 di Laut Arafura. Dari ketiganya, Evertsen yang maju duluan dan melepas salvo pertama ke tiga kapal ALRI. Suratkabar De Volksrant, 6 April 1960 memberitakan, Evertsen sudah sering berpatroli di perairan Irian dan dikomandani Kapitein-luitenant (setara letnan laut) J.A. van Beusekom. “Pukul 22.07 Evertsen pertama kali memuntahkan peluru meriamnya kepada Matjan Tutul karena diduga akan mengadakan serangan torpedo karena haluan yang mengarah padanya. Pukul 22.10 sebuah tembakan Evertsen tepat mengenai buritan Matjan Tutul. Pada 22.30 tembakan tepat Evertsen mengenai bagian tengah…pukul 22.35 tembakan Evertsen tepat kena anjungan Matjan Tutul,” sebut Julius Pour dalam biografi Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan. KRI Matjan Kumbang dan KRI Harimau jelang Pertempuran Laut Aru/Laut Arafura (Foto: Repro "Mengatasi Gelombang Kehidupan") Setelah KRI Matjan Tutul tenggelam 15 menit berselang, Evertsen sebetulnya ingin mengejar dua MTB lain milik ALRI (kini TNI AL) namun Gubernur Nieuw Guinea Belanda Dr. Pieter Johannis Platteel memerintahkan Evertsen, Kortenaer, dan Utrecht kembali ke Hollandia. Setelah tugas di Irian, Evertsen dilelang seperti kapal-kapal perang lain yang sudah renta. Pada 12 Juli 1963 atau sehari setelah mengakhiri masa tugasnya di AL Belanda, ia dibesituakan. “Kemarin, kapal ini dipensiunkan AL kerajaan dan kemudian dilelang secara terbuka oleh inspektorat wilayah setempat (Hendrik-Ido-Ambacht, red). Setelah dibongkar, 2,5 ton besi tuanya dibeli seharga 245.555 gulden oleh Frank Rijsdijk dalam pelelangan itu,” sebut suratkabar De Volksrant, 13 Juli 1963. Nama Evertsen tetap digunakan AL Belanda. Setelah kapal fregat F-803 itu, Belanda menggunakannya lagi untuk frigat kelas-Van Speijk, HNLMS Evertsen F-815, yang dipakai sejak 1967 tapi dijual ke Indonesia –dan dinamai KRI Halim Perdanakusuma 355– pada 1989. Setelah itu, nama Eversten dipakai oleh sebuah fregat kelas-De Zeven Provinciënbernomor lambung F-805, HNLMS Evertsen, yang digunakan sejak 2005 sampai sekarang.
- Agen KGB di Indonesia Dieksekusi Mati
SALAH satu operasi rahasia CIA (Dinas Intelijen Pusat Amerika Serikat) yang paling sukses terhadap Uni Soviet dilakukan di Indonesia. Operasi bersandi HABRINK ini berhasil mendapatkan informasi dari pejabat militer Indonesia mengenai alutsista dan persenjataan Uni Soviet yang dijual kepada Indonesia, termasuk sistem rudal, kapal selam, kapal perusak, kapal penjelajah, dan pesawat pembom.
- Apa Kabar Michael Schumacher?
NAMA Schumacher terpampang di kokpit mobil Formula One (F1) Scuderia Ferrari. Schumacher bahkan sudah menjajal beberapa varian jet darat Ferrari sejak 2019. Belum lama ini, ia mencicipi tiga mobil berjuluk “kuda jingkrak” itu di rangkaian sesi tes resmi musim 2020 di Bahrain. Namun, Schumacher itu bukan si legenda Michael “Schumi” Schumacher yang masih terbaring usia kecelakaan, atau Ralf Schumacher yang kembali dari masa pensiunnya. Schumacher itu ialah Mick Schumacher, anak kedua Schumi dari perkawinannya dengan Corinna Betsch. Mengutip GP Today , Sabtu (11/1/2020), Mick sebelumnya menjajal mobil Ferrari F2004 yang pernah dipakai ayahnya, mobil F2002 sebelum dilelang pihak Ferrari, serta mobil SF-90 yang dipakai duo Sebastian Vettel dan Charles Leclerc pada musim lalu. “Sulit mengatakan mana favorit saya. Mobil 2019 luar biasa. Juga bisa mengendarai F2002 dan F2004 selalu jadi mimpi saya,” ungkap Mick. Mick Schumacher, anak kedua Michael Schumacher yang mengikuti jejak ayahnya di balap mobil (Foto: formula1.com ) Apakah ini pertanda Ferrari bakal merekrutnya sebagaimana tim itu merekrut ayahnya pada 1996? Masih terlalu dini untuk menjawabnya. Usia Mick baru genap 20 tahun. Masih banyak jenjang yang mesti dilewati jebolan akademi balap Ferrari itu untuk bisa mengikuti jejak ayahnya. Mick saat ini masih mengaspal bersama tim Prema Racing di Formula 2. Schumacher yang Dirindukan Sudah enam tahun Schumacher tergolek di kamar perawatan. Koma sebagai dampak cedera trauma otak dialaminya setelah kecelakaan kala berski di Pegunungan Alpen pada 29 Desember 2013. Sempat dirawat intensif di Centre Hospitalier Universitaire de Grenoble, lantas dirujuk ke Centre Hospitalier Universitaire Vaudois, Schumi akhirnya dirawat secara privat di kediamannya di Gland, Swiss. Schumi dikabarkan sudah siuman, namun masih mengalami kelumpuhan. Sempat lima tahun tiada kabar, pada September 2019 Schumi dikabarkan dibawa lagi ke Hôpital Européen Georges-Pompidou, Paris untuk terapi stem cell atau sel punca dan Januari 2020 ini ia kembali menjalani terapi serupa. “Ada satu sampai tiga tahun rencana untuk periode regenerasi (terapi, red. ). Saya secara rutin mengunjungi Schumacher dan bicara pada keluarganya tentang kemajuan yang saya lihat dari kondisinya,” ungkap Profesor Jean-Francois Payen, dokter yang menangani Schumacher, dikutip Express , Senin (13/1/2020). Schumacher mengalami cedera trauma otak usai bermain ski di pegunungan Alpen pada Desember 2013 (Foto: Ferrari) Bagi penggila F1, nama Schumi ibarat dewa di lintasan. Tujuh gelar juara dunia yang digapainya melampaui rekor para legenda pendahulunya macam Juan Manuel Fangio (5 kali), Alain Prost (4), Jack Brabham, Niki Lauda, dan Ayrton Senna (masing-masing 3); sudah cukup banyak berbicara. Schumi memulai debutnya di F1 bersama tim Jordan pada 1992. Petualangannya dilanjutkan bersama tim Benetton. Bersama Ferrari selama satu dekade (1996-2006), Schumi mencetak banyak prestasi hingga namanya melegenda. Kariernya ditutup di tim Mercedes (2010-2012) setelah pensiun sementara pada 2006-2010. Sepanjang kiprahnya merebut tujuh gelar juara dunia (1994, 1995, 2000-2004), Schumi mencetak 68 kali pole position (posisi start terdepan) dan 91 kemenangan dari 155 kali naik podium. Namun cerita tentang Schumi bukan sekadar angka, melainkan penuh warna hingga dipuja banyak pembalap lintas generasi. Jago Balap di Usia Dini Schumi lahir di Hürth-Hermülheim, Jerman pada 3 Januari 1969 dari pasangan Rolf dan Elisabeth Schumacher. Sang ayah berprofesi sebagai pekerja bangunan yang hobi utak-atik mesin otomotif. Ayahnyalah yang memperkenalkan Schumi dengan mobil balap saat membelikan dia hadiah mainan mobil berpedal di usia empat tahun. “Mainan mobil itu dipasangi mesin motor. Sayangnya ia menabrakkannya ke sebuah pohon. Namun kejadian itu membuatnya makin senang dengan balapan. Orangtuanya membawanya ke trek go-kart di Kerpen-Horrem, untuk didaftarkan ke klub balap sebagai anggota termuda,” ungkap Jack Goldstein dan Frankie Taylor dalam 101 Amazing Facts about Michael Schumacher. Melihat Schumi tumbuh dengan bakat di lintasan, Rolf dan Elisabeth mendukung penuh putranya. Untuk itu, Rolf sampai nyambi bekerja sebagai montir go-kart. Sementara, Elisabeth membantu dengan menjadi pelayan kantin di sirkuit Kerpen. Dukungan itu berbuah manis, Schumi jadi juara termuda antarklub di usia enam tahun. Saat hendak naik ke level pro, Schumi yang butuh mesin go-kart baru seharga 800 deutschemarks, menghadapi masalah. Orangtuanya tak mampu membelikannya mesin itu. Mereka tentu bingung. Schumacher memulai kiprahnya di balapan karting (Foto: michael-schumacher.de ) Beruntung, bakat Schumi dipantau seorang pebisnis lokal, Jürgen Dilk. Dilk, kata James Allen dalam biografi Michael Schumacher , merupakan orangtua Guido, salah satu pembalap cilik yang dikalahkan Schumi pada kejuaraan itu. Dilk memberi pertolongan pada Schumi. “Saya akan membayarnya dengan trofi-trofi, di mana hal itu jadi kesepakatan yang bagus. Lalu saya disponsori olehnya untuk maju ke balapan pertama saya. Dia mendanai 25 ribu deutschemarks dan membantu saya mencari sponsor lain. Ia sosok yang sangat penting bagi saya,” ujar Schumi, dikutip Allen. Batu sandungan lain menghadang Schumi saat berusia 13 tahun. Usianya mengancamnya tak bisa mengikuti kejuaraan Karting Junior lantaran regulasi balap di Jerman mensyaratkan, untuk bisa tampil di kejuaraan Karting Junior Jerman harus punya lisensi go-kart. Lisensi itu bisa didapat setelah seseorang berusia 14 tahun. Schumi pun mencari cara untuk mendapatkan lisensi dengan menyeberang ke Luksemburg. Di sana, usia 13 sudah boleh mengajukan lisensi. Setelah mendapatkannya, Schumi kembali ke Jerman dan kemudian memenangi kejuaraan itu. Sejak saat itu, nyaris semua kejuaraan go-kart di Jerman maupun Eropa yang diikuti Schumi selalu berbuah trofi. Setelah direkrut tim Eurokart milik pebisnis otomotif Adolf Neubert pada 1987, Schumi memutuskan berhenti sekolah dan memilih menekumi dunia balap 100 persen. Hasilnya, Schumi menjuarai Formula König bersama tim Hoecker Sportwagenservice setahun berselang. Tahun berikutnya, Schumi masuk ajang Formula 3 bersama tim WTS Racing. Benetton jadi tim kedua Schumacher kala merintis kegemilangan di pentas F1 (Foto: michael-schumacher.de ) Willi Weber, pemilik tim WTS Racing, menjadi sosok penting bagi karier Schumi. Dialah yang membuka mata Schumi untuk masuk F1, hal yang sebelumnya tak pernah diimpikan Schumi. Weber ingin melihat ada pembalap Jerman berjaya di lintasan F1. Maklum, di era 1980-an itu pentas F1 masih didominasi pembalap-pembalap Brasil, Prancis, Inggris, dan Italia. “Saya sendiri balapan selama 20 tahun dan F1 selalu jadi misi saya, target utama, namun saya terlalu tua untuk jadi pembalap lagi. Jadi saya bermimpi membawa seorang pembalap muda Jerman ke F1. Michael memberikan saya firasat bahwa dialah orangnya,” kata Weber mengenang, dikutip Allen. Weber pun memasukkan Schumi ke program balapan Mercedes junior pada 1990. Kombinasi Weber dan kerja keras Schumi di beragam ajang, di antaranya World Sports-Prototype Championship dan World Sportscar Championship, membuahkan hasil ketika Schumi berhasil masuk F1 dan direkrut Eddie Jordan dari Mercedes dengan “mahar” USD150 ribu untuk pindah ke tim Jordan-Ford pada 1991. Namun debut Schumi di Belgia berjalan buruk, ia gagal finis di lap pertama. Karier Schumi di Jordan lalu sempat terhambat dokumen kontrak yang ternyata belum legal antara Jordan dan Mercedes. Schumi kemudian “dibajak” tim Benetton. Di Benettonlah Schumi memenangi balapan pertamanya, di Sirkuit Spa, Belgia pada 1992. Dari sana, kemenangan demi kemenangan pun terus dikoleksi Schumi hingga namanya melegenda.
- Panglima Doyan Ngebut
JENDERAL M. Jusuf dikenal sebagai panglima yang perhatian kepada prajurit. Hari-harinya selama menjabat sebagai Menhankam/Pangab di kabinet Pembangunan III lebih banyak dihabiskan di lapangan untuk meninjau langsung kesiapan pasukan dan persenjataan atau kondisi kehidupan para prajurit beserta keluarga mereka. Kebiasaan itu telah dilakukan Jusuf jauh sebelum dia menduduki kursi nomor satu ABRI. Namun selain hobi memperhatikan prajurit, Jusuf juga hobi ngebut menggunakan jip. Kebiasaannya sejak masih perwira pertama itu dilakukannya untuk inspeksi mendadak ke lapangan. Ketika sudah menjabat sebagai Pangdam Hasanuddin, kebiasaan itu tetap dilanjutkannya. “Menurut cerita ajudannya waktu itu, meskipun menjabat panglima, Jusuf sering menyetir mobil jipnya sendiri ke daerah-daerah yang masih rawan atau untuk meninjau pasukannya,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit. Baca juga: Jenderal Takut Kepergok Merokok Bila sudah mengendarai jipnya, Jusuf akan memacu laju mobil sekencang mungkin, tak peduli keamanan daerah yang dilaluinya maupun ganasnya medan. Hal itulah yang membuat Mayor Himawan Soetanto (dan Yon 330 Siliwangi, di kemudian hari menjabat sebagai Kasum ABRI) dan Letda TB Silalahi (dan Ki kavaleri, di kemudian hari menjabat menteri Pendayagunaan Aparatur Negara) kagum terhadapnya. Himawan mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Jusuf terjadi ketika Jusuf melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pare-Pare, tempat Himawan bertugas Jusuf datang tanpa ajudan dan pengawal. Pengawalan bukannya tak pernah digunakan Jusuf ketika melakukan sidak. Namun, jumlah yang besar membuat laju pengawal tak bisa cepat. Jusuf tak betah berlambat-lambat. Biasanya, kalau sudah begitu Jusuf akan berjalan duluan. “Pokoknya kalau panglima sudah menghidupkan lampu dim, artinya dia mau lebih cepat. Kalau sudah begitu, pengawal di mobil depan minggir,” kata sang ajudan. Silalahi pernah kewalahan ketika, dalam tugasnya menumpas gerakan Andi Selle, mendapat tugas mengawal Jusuf. Pasalnya, Jusuf acapkali menghilang menggunakan jipnya. Hal itu membuat Silalahi dan regu pengawal ketar-ketir. Alih-alih mendengarkan keluhan dari Silalahi dkk. kemudian, Jusuf justru dengan enteng menjawab, “Habis, panser kalian jalannya terlalu pelan.” Kesukaan pada kecepatan itu membuat Jusuf kerap memilih jalur yang lebih pendek untuk mencapai tujuan kendati jalur itu jauh lebih berbahaya. Bila berkunjung ke Bone, Jusuf lebih suka melewati jalur memotong gunung yang dipenuhi semak dan kanan-kirinya jurang. Suatu kali, dia mengajak seorang pengawal. Sambil memacu jipnya, Jusuf menceritakan ada sebuah mobil yang masuk ke jurang ketika melewati jalur itu. Sang pengawal yang ketakutan sejak awal pun terus berpegangan pada bagian mobil alih-alih mendengarkan keterangan Jusuf. Baca juga: Pelajar Makassar Bernyali Besar Hal itu pula yang dialami Himawan ketika diminta Jusuf menemaninya napak tilas ke Barru. Saat itu tahun 1983, Jusuf sudah menjadi menhankam/Pangab dan Himawan sudah menjadi Kasum ABRI dengan tiga bintang di pundak. Himawan diminta duduk di samping Jusuf yang berada di balik kemudi. Jip Jusuf berada di urutan ketiga, di belakang sebuah sedan Volvo dari Polri dan mobil pembuka jalan dari POM ABRI. Dalam perjalanan, Jusuf tak tahan lagi dengan iring-iringan yang melaju lambat. Pedal gas pun di injaknya lebih kuat. Dalam sekejap, mobil POM ABRI dan kemudian sedan Volvo Polri pun disalipnya. “Wah, payah mobil si Awaluddin ini,” kata Jusuf mengomentari sedan Volvo Polri, yang kala itu Kapolrinya Jenderal Awaluddin Djamin. Alhasil, Jusuf telah selesai minum dan ngobrol dengan pejabat di Barru saat rombongan baru tiba 40 menit kemudian. Usai kunjungan, Himawan kembali harus menahan nafas lantaran harus kembali merasakan kengerian ngebut disupiri panglima ABRI. Kendati jalan menuju Bandara Hasanuddin berliku, Jusuf justru makin “gila”. Laju jipnya dia geber dengan kecepatan rata-rata 140km/jam. Hal itu membuat Himawan kian kencang menggenggam pegangan di bagian depan mobil. Dia tak ingat lagi apa saja yang dikatakan Jusuf ketika dalam perjalanan banyak bercerita. Konsentrasi Himawan hanya tertuju pada keselamatan. Himawan baru lega ketika jip tiba di bandara. Kepada Kolonel Sintong Pandjaitan, orang yang diminta Jusuf menyediakan jip, dan Kasdam Brigjen Bachtiar, Himawan pun mengeluhkan perjalanan yang baru dialaminya. “Wah, Pak Jusuf itu gila betul menyetirnya. Kalau terbalik gimana ya?” kata Himawan yang langsung disambut tawa Sintong dan Bachtiar. Yang disebut terakhir hanya berkomentar singkat, “Ya begitulah beliau itu. Dulu malah jalannya belum sebagus sekarang, tapi ngebutnya sama juga.” Menurut Jusuf, kegemarannya ngebut bukan tanpa alasan. “Kalau kau membawa oto secara cepat, biasanya yang mau mencegat kita berpikir dulu. Paling tidak, susah untuk dijadikan sasaran sniper,” katanya. Hobi Jusuf itu kerap “memakan korban”. Himawan hanya satu di antaranya. Korban paling parah adalah seorang yang dikisahkan mantan komandan Jusuf, Mayjen Andi Mattalatta. Dalam otobiografinya, Meniti Siri’ dan Harga Diri, Mattalatta mengisahkan kejadian itu berlangsung saat Jusuf hendak menghadiri resepsi pernikahannya di Barru, 5 Oktober 1951. Baca juga: Cerita dari Stadion Andi Mattalatta Karena baru tiba dari Jakarta, Jusuf berupaya buru-buru ke Barru menggunakan jip. Mengetahui hal itu, Nyonya Alimbachri yang sangat ingin menghadiri resepsi Mattalata, segera menumpang Jusuf. Jusuf mengizinkan, perjalanannya ke Barru tak sendirian. “Makassar-Barru yang jauhnya 100 km, ditempuhnya kurang dari sejam. Di belakang duduk sendirian Nyoya Alimbachri. Setelah Kapten TNI Andi Jusuf tiba di tempat resepsi, barulah beliau menoleh ke belakang melihat penumpangnya. Tiba-tiba beliau heran, karena tidak ada orang yang duduk di belakang. Ternyata, penumpangnya sudah pingsan dan terjatuh di lantai mobil. Memang Kapten TNI Andi Jusuf senang ngebut. Sampai beliau berbintang empat, masih senang ngebut,” kata Mattalatta.
- Piala Super Spanyol Sarat Drama
AHAD (12 Januari 2020) malam, duel tim sekota antara Real Madrid kontra Atlético Madrid bakal tercipta di final Supercopa de España alias Piala Super Spanyol. Trofi itu sebelumnya diperebutkan oleh tim jawara La Liga dan kampiun Copa del Rey atau Piala Raja. Gelaran musim ini akan menandai untuk pertamakalinya laga Piala Super dimainkan di luar Spanyol, yakni di Arab Saudi. Itu mengikuti jejak Piala Super Italia 2018 yang dimainkan di King Abdullah Sport City, Jeddah, negeri yang sama. Mengutip Daily Mail, Rabu (8/1/2020), kesepakatan antara federasi sepakbola Spanyol (RFEF) dan pemerintah Saudi terjadi pada November 2019. Deal kedua pihak dimuluskan dengan “fulus” senilai total 120 juta euro yang berlaku tiga tahun. Selain soal jumlah partisipan yang ditambah menjadi empat, jadwal pun diubah dari Agustus, saat jeda kompetisi musim panas, ke Januari saat jeda liburan musim dingin. “Uang yang kami dapatkan bukan untuk membangun vila mewah. Uangnya akan disalurkan ke sepakbola putri dan klub-klub di Segunda B dan Tercera (dua kasta bawah sepakbola Spanyol, red.). Tentu uang itu penting, siapa yang menyangkal? Uang sangat penting namun uangnya akan mengalir pada kebutuhan yang tepat,” ujar Presiden RFEF Luis Rubiales. Kendati empat partisipan, yakni Real Madrid, Atlético Madrid, Valencia, dan Barcelona tutup mata dan mulut, sejumlah kritik mencuat. Selain soal mendobrak tradisi, kritik menganggap kesepakatan itu sebagai bentuk dukungan pada kebijakan diskriminatif pemerintah Saudi terkait sejumlah isu politik, mulai dari kebebasan berpendapat dan pers, hingga soal isu hak-hak perempuan. Sementara Presiden La Liga Javier Tebas mengkritik soal hak siar yang diambil pihak Saudi, kolumnis Joan Poqui mengecam lewat tulisannya di suratkabar ElMundo (6/1/2020). “Ini turnamen yang mestinya hanya dipertandingkan Barcelona dan Valencia sebagai pemenang liga dan Piala Raja. Ini bukan Supercopa dan laganya bukan di Spanyol. Ini kejuaraan yang telah dilacurkan demi uang,” tulisnya. Amnesti Internasional mengkritik bungkamnya para bintang lapangan hijau yang jauh-jauh terbang lebih dari 4.000 mil dari Spanyol ke Saudi demi mendongkrak imej Saudi, terutama soal imej pemerintah yang gemar menangkapi aktivis HAM. “Di bawah Mohammed bin Salman (putra mahkota dan wakil perdana menteri, red.), giat-giat olahraga bertaraf internasional digalakkan dengan kencang, bahkan saat putra mahkota memimpin sendiri pemadaman pergolakan HAM terhadap aktivis hak perempuan, aktivis hukum dan kaum minoritas Syiah. Tidak ada keadilan terhadap pembunuhan Jamal Khashoggi (wartawan Saudi, red.) dan koalisi militer di Yaman pimpinan Saudi masih menyasar pasar-pasar, permukiman sipil, dan rumahsakit,” ujar Ketua Kampanye Amnesti Internasional Inggris Felix Jakens. Kendati dihujani kritik, Piala Super Spanyol tetap bergulir dan resmi akan dihelat dua edisi berikutnya. Toh, sejarah Piala Super Spanyol juga sarat drama sejak awal. Pentas Adu Jawara di Masa Lampau Kendati kompetisi adu kampiun liga dan Piala Raja bernama resmi Supercopa de España hadir baru pada 1982, pentas sejenis sudah eksis sejak 1940 kala Spanyol masih dipimpin diktator fasis Generalísimo Francisco Franco. Kompetisi di luar liga itu dinamai Copa del Generalísimo. Mengutip situs RFEF, ajang itu merupakan buah gagasan Leopoldo García Durán, presiden RFEF periode 1931-1936.Durán mencanangkannya untuk digulirkan pada 1936. Namun, Perang Saudara Spanyol (1939-1939) menunda rencana itu. Gagasan yang tertunda itu baru terwujud pada 1940. Laga yang memperebutkan trofi Copa de los Campeones de España itu berformat dua leg atau tandang-kandang. Atlético Aviación (kini Atlético Madrid) merebut trofi pertama laga para jawara antarkompetisi, Copa Campeones 1940. (El Mundo, 28 Agustus 1940). Atlético Aviación (kini Atlético Madrid) jadi juara pertamanya. Sebagai juara liga musim 1939-1940, Atletico meladeni RCD Espanyol yang merupakan jawara Copa del Generalisimo. Pertandingan dihelat pada 1 September 1940, di markas Espanyol, Estadio de Sarriá, dan pada 14 September di Campo de Fútbol de Vallecas, stadion pengganti darurat karena markas Atlético Estadio Metropolitano rusak berat akibat perang. Dalam drama dua laga final itu tercipta 14 gol. Atletico keluar sebagai kampiun setelah menang agregat 10-4. Akan tetapi Copa Campeones hanya sekali bergulir dan bahkan panggung sejenis sempat vakum hingga 1945. Usai Perang Dunia II, baru perebutan trofi antara jawara liga dan copa digagas dengan tajuk Copa de Oro Argentina, merujuk pada persahabatan antara pemerintahan Francisco Franco dengan Argentina. “Pertandingannya diinisiasi federasi sepakbola Katalan dan Konsul Argentina di Barcelona, Don Alfredo de Molina, pada 1945. Trofinya sendiri disediakan atas sumbangan orang-orang Argentina yang bermukim di Katalan,” sebut Juan Expósito Bautista dalam Organización del Fútbol Mundial. Dalam duel di stadion Camp de Les Corts, 23 Desember 1945, itu FC Barcelona, kampiun liga musim 1944-1945, menang 5-4 atas jawara copa Athletic Bilbao. Tetapi seperti pendahulunya, event itu hanya sekali itu saja dihelat. Pentas anyar hadir pada 1947. Mengutip Heinz Duthel dalam biografi klub, FC Barcelona, kompetisinya cenderung lebih berbau politis meski masih ada benang merahnya dengan Argentina yang kebetulan saat itu Franco bersahabat dekat dengan pemimpin sayap kanan Argentina, Juan Perón. “Turnamennya Copa Eva Duarte de Perón yang digulirkan RFEF secara rutin, sebagai penghormatan kepada Presiden Argentina Juan Perón dan istrinya Eva Perón. Sejak 1947 hingga 1953 digelar antara bulan September dan Desember,” tulis Duthel. María Eva Duarte 'Evita' de Perón saat tiba di Spanyol pada Juni 1947. (Wikimedia). Bukan sembarang persahabatan yang tercipta antara Argentina dan Spanyol saat itu. Spanyol dengan pemerintahan fasisnya tengah diembargo ekonomi oleh Amerika dan negara-negara sekutunya di Eropa. Krisis pangan pun melanda Spanyol. “Banyak rakyat Spanyol yang kelaparan. Peron datang membantu dan mengirim 400 ribu ton gandum, 120 ribu ton jagung, 20 ribu ton daging beku, hingga 50 ribu peti telur ke Spanyol. Oleh karenanya segenap pelosok Spanyol menganggap pasangan Perón sebagai penyelamat mereka,” ujar Joanne Mattern dalam biografi Eva Peron. Trofi turnamen Copa Eva Duarte de Perón disumbangkan langsung oleh Evita Perón saat mengunjungi Spanyol guna memenuhi undangan pemerintah setempat yang sangat berterimakasih, 8 Juni 1947. Sistem turnamennya, semua menampilkan satu laga, kecuali pada 1950 yang menampilkan dua leg. Pada 1952 dan 1953, Barcelona meraih trofi secara otomatis tanpa bertanding lantaran di dua musim itu memenangi double winners (liga dan copa). Turnamen itu mati seiring wafatnya Evita Perón, yang membuat rakyat Spanyol juga berduka. Turnamen serupa baru dibuat RFEF kembali pada 1982, yang diajukan Presiden FC Barcelona Luís Nuñez. Baik regulasi maupun format, tiada berubah dari turnamen sebelumnya. Trofi yang diperebutkan pun masih menggunakan trofi yang sama, meski kemudian menggunakan nama baru: Supercopa de España. Aturan yang diubah sekadar pemenang double winners. Sebelumnya, pemenang La Liga dan Copa del Rey otomatis mendapatkan trofi Supercopa. Namun mulai 1996, pemenang double winners akan tetap diadu lagi dengan runner-up Copa del Rey. Aturan itu masih berlaku hingga sekarang.
- Pemain American Football Jadi Agen CIA di Indonesia
DARI 25 tahun kariernya di CIA, dua tahun di antaranya di Indonesia. Ralph Walter McGehee bertugas di Jakarta pada 1964-1966, periode berdarah dalam sejarah Indonesia. Atas pengabdianya, CIA menganugerahkan penghargaan Career Intelligence Medal.
- Empat Siti Soendari dalam Sejarah Kaum Putri*
DI hadapan para hadirin dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama di Mataram, Siti Soendari menyampaikan pidatonya yang amat progresif di masanya. Pidato itu tentang kedudukan perempuan dalam perkawinan. Namun, ada dua Siti Soendari di kongres tersebut. Pertama, Siti Soendari Sudirman dari Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Kedua, Siti Soendari Darmobroto dari organisasi Putri Indonesia. Nama Siti Soendari terbilang jamak di era tersebut. Dalam sejarah Indonesia, ada empat Siti Soendari yang namanya sering disebut. Lantas, Siti Soendari mana yang membawakan pidato progresif dalam kongres tersebut? Siti Soendari Darmobroto Siti Soendari Darmobroto merupakan putri dari Wirio Darmobroto, bangsawan Ponorogo yang bekerja sebagai kepala sekolah. Soendari juga membuka sekolah di Pacitan, Jawa Timur. Namanya banyak disebut dalam sejarah gerakan perempuan. Ia amat peduli pada isu pentingnya pendidikan bagi perempuan. Harry A Poeze mengisahkan dalam Di Negeri Penjajah, Soendari Darmobroto hadir menyuarakan pendidikan bagi para gadis pribumi di Kongres Pengajaran Kolonial Pertama di Den Haag, Agustus 1916. Siti Soendari Darmobroto. (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah). Susan Blacburn dalam Women and The State in Modern Indonesia menyebut Soendari Darmobroto inilah yang menjadi kontributor Putri Hindia dan mendirikan Wanito Sworo pada 1913, bukan Soendari istri Mohammad Yamin. Lewat terbitan berbahasa Jawa itulah Soendari menyuarakan ide-idenya tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat. Saat kongres perempuan, Soendari Darmobroto hadir mewakili Putri Indonesia yang punya cabang di Bandung, Mataram, dan Surabaya. Pidatonya berjudul “Kewajiban dan Cita-Cita Putri Indonesia” amat progresif, berisi tentang kesetaraan peran lelaki dan perempuan dalam pernikahan. Baca juga: Keributan di Kongres Perempuan “Sudah lama kaum laki-laki menjadi raja dalam pergaulan hidup dan terkadang juga dalam rumah tangga kita,” kata Soendari dalam pidatonya yang dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang. “Kalau Indonesia ingin maju dan harum, haruslah kita semua berada dalam persamaan dengan kaum laki-laki,” sambungnya. Siti Soendari Sudirman Prestasi penting Soendari Sudirman ialah berhasil menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Surabaya setelah perjuangan panjang para perempuan pribumi untuk mendapat hak pilih. Soendari merupakan aktivis perempuan yang mendirikan Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Amat sulit menelusuri masa kecil Soendari Sudirman. Ia menikah dengan R. Soedirman, residen Surabaya yang juga wakil pengurus besar Parindra di kota tersebut. Soendari Sudirman merupakan tokoh lama dalam gerakan perempuan. Sama seperti Soendari Darmobroto, Soendari Sudirman juga hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama dan menjadi pembicara. Pidato Soendari Sudirman berjudul “Pergerakan Perempuan, Perkawinan, dan Perceraian”. Di masa itu, isu kedudukan perempuan dalam perkawinan sedang jadi fokus pembahasan para aktivis. Tak heran jika mayoritas materi pidato kongres pertama berkutat pada soal perkawinan. Baca juga: Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama Pidatonya membahas tentang nasib perempuan dalam perkawinan sekaligus mengkritik ketiadaan hak perempuan dalam beragam aspek. “Hak menolak, hak bersuara sesuai dengan pendapat sendiri, apalagi hak kawin sesuai dengan kehendak sendiri sebagaimana laki-laki memilih istri yang disukainya, tidak dimiliki kaum perempuan,” kata Soendari dalam pidatonya. Oleh karena itu, organisasi yang dipimpin Soendari, Putri Budi Sejati, bergerak di bidang pemajuan dan pendidikan perempuan. Dalam Konferensi Putri Budi Sejati tahun 1937, Soendari mengatakan bahwa organisasinya tidak ikut dalam soal politik namun memberi kelonggaran pada anggotanya bila ingin bergerak di jalur politik. Soendari Sudirman kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Kota Suarabaya pada 1938. Artikel “De Gemeenteraad Van Soerabaia” di De Indische Courant edisiSabtu, 24 September 1938, menyebut pengangkatan Soendari sebagai anggota Dewan Kota Surabaya merupakan momen bersejarah lantaran ia perempuan pertama yang berhasil masuk menjadi anggota Dewan Kota Surabaya. Siti Soendari Adik dr. Soetomo Banyaknya nama Siti Soendari dalam sejarah Indonesia membuat banyak pihak acapkali terkecoh, termasuk Historia. Dalam artikel “Soendari Gigih Lawan Poligami”, Historia membuat kesalahan dengan menggabungkan kisah Siti Soendari Darmobroto dan Soendari adik dr. Soetomo. Soendari adik dr. Soetomo merupakan teman kuliah dan indekos Maria Ullfah saat mengambil jurusan hukum di Universitas Leiden. Semasa kuliah, Soendari mengikuti Perhimpunan Mahasiswa Perempuan Universiats Leiden (Nederlandse Vereeniging voor Vrouwelijke Studenten Leiden, VVSL) dan menjadi anggota Perhimpunan Indoensia (PI). Mulanya, PI hanya wadah untuk berkumpul mahasiswa Indonesia. Namun seiring derasnya gerakan politik di tanah air, PI ikut berpolitik menentang penjajahan Belanda. (Solita Sarwono dan Santo Koesobjono, Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo). Ia lulus dari Universitas Leiden pada 1934 dan kembali ke tanah air. Soendari kembali tinggal satu kontrakan dengan Maria Ullfah di kawasan Salemba. Di Jakarta, ia bekerja di Departemen Kesehatan Umum dan sempat bergabung dengan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Dalam biografi Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo, disebutkan bahwa Soendari kemudian hari bekerja sebagai direktur Bank Nasional Malang. “Pernah ikut Perwari waktu tinggal di Semarang. Bu Soendari itu bukan tipe orang yang aktif dan tidak menonjol. Kalau kakaknya (Sri Oemiyati) atau Maria Ullfah itu memang aktif dalam kegiatan organisasi,” kata Solita Sarwono dan Santo Koesobjono (anak Soendari) pada Historia. Siti Soendari Istri Mohammad Yamin Siti Soendari Mertoatmodjo, bersama Moh. Yamin (kanan) dan anak mereka. (Sutrisno Kutoyo, Prof. H Muhammad Yamin, S.H). Tak banyak catatan tentang Siti Soendari istri Moh. Yamin. Dalam biografi Mohammad Yamin yang ditulis Sutrisno Kutoyo hanya disebutkan bahwa Yamin memperistri perempuan bangsawan Jawa asal Kadilangu, Demak bernama Siti Soendari Mertoatmodjo. Tahun pernikahan mereka pun tidak jelas. Kutoyo menulis mereka menikah tahun 1934, sumber lain menyebut mereka menikah tahun 1937. Lantaran namanya sama, ada penulis biografi yang mengira Soendari Mertoatmodjo merupakan pendiri Wanito Sworo. Padahal, seperti disinggung sebelumnya, pendiri Wanito Sworo merupakan Siti Soendari Darmobroto dari Jawa Timur. * Artikel ini merupakan koreksi atas artikel berjudul “Soendari Gigih Lawan Poligami”. Dalam artikel tersebut, Historia melakukan kesalahan berupa tercampurnya kisah Soendari Darmobroto dan adik dr. Soetomo. Artikel ini ditulis dengan menelusuri nama-nama Soendari dalam sejarah Indonesia.
- Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok
Sejak mendirikan Dinasti Yuan, Khubilai Khan mulai menebar kekuasannya.Ia menuntut bakti dari penguasa-penguasa yang sebelumnya mengakui kekuasaan kaisar-kaisar Dinasti Sung. Jika menolak, mereka akan diserang. Salah satunya penguasa di Jawa. Khubilai Khan mengirim utusan ke Jawapada 1280, 1282, dan 1286.Raja Singhasari, Kertanegara dengan percaya diri merusak muka utusan terakhir, Meng Qi pada 1289, karenatelah menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara. Sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakrtagama, bahwa seluruh Jawa, Sunda, dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara. Ia mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu, serta menaklukkan Bali dan memboyong rajanya sebagai tawanan pada 1284. Ia juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara, dan Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan. Dalam Prasasti Camundi dari 1292 disebutkan Kertanegara puas dengan kemenangan-kemenangannya di semua tempat. Ia menjadi payung pelindung seluruh dwipantara atau Nusantara. Sejarawan Malang, Suwardono dalam Krtanegara dan Misteri Candi Jawi, menjelaskan Prasasti Camundi memberikan petunjuk tentang hubungan Kertanegara dengan kawasan Asia Tenggara bagian selatan dan kepulauan. Itu pula yang dimaksud dalam Nagarakrtagama. Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan bukan berarti ada pertempuran. "Kalau ada (pertempuran) itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang," ujarnya. Khususnya ekspedisi ke Malayu pada 1275. Untuk mempererat hubungan dengan Malayu, pada 1286 Kertanegara mengirimkan hadiah berupa arca Buddha Amoghapasa. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat pejabat tinggi dari Jawa. Menurut Dwi itu bukan ekspedisi militer melainkan untuk merekut mitra sejajar. "Menurut saya ini semacam MoU (memorandum of understanding). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan dapat mengontrol Selat Malaka dan menghadapi musuh bersama,khususnya menghadapi serangan Mongol," kata Dwi. Selain di kawasan Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Kerajaan Champa. Tujuannya sama: untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307). Kerjasama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan mengirim pasukan pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkardi pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Apalagi selama berlayar ke Jawa, mereka menghadapi banyak kesulitan. Shi Bi, salah satu komandan ekspedisi dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan, menyebut angin selama pelayaran bertiup sangat kencang. Lautan begitu bergelombang membuat kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak makan selama berhari-hari. Ditambah lagi, menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian itu tidak mengikuti rute biasanya yang menyusuri pesisir Malaka dan Sumatra. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani atau mungkin nekat mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya. Akibatnya, dari ribuan kapal, yang berhasil sampai Jawa Timur hanya sebagian kecilnya. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit. "Mongol itu tidak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan," kata Dwi. Supremasi Tiongkok Banyak yang yakin ekspedisi Khubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Namun, David W. Bade, ahli perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century, menjelaskan bahwa saat itu Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Apalagi pengaruh Sriwijaya,yang berhubungan baik dengan Tiongkok, sudah pudar. "Kemungkinan invasi Mongol ke Jawa hanya karena hasrat Khubilai Khan mengirimkan angkatan lautnya dan juga amarahnya setelah Meng Qi dilukai, masih terus dipertanyakan," tulis Bade. Morris Rossabi, sejarawan Queens College dan Columbia University, salah satu yang meragukan ekspedisi Mongol ke Jawa hanya untuk menghukum orang asing yang melukai utusannya. "Sementara banyak sekali yang harus dipertaruhkan dalam ekspedisi ini," tulis Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times. Jika dilihat secara umum, menurut Groeneveldt, penguasa di Tiongkok selalu digerakkan oleh karakter superioritas mereka. Kala itu, supremasi Tiongkok terhadap negara-negara lain adalah dogma nasional yang begitu tertanam, bahwa kaisar ditunjuk Langit untuk menjadi penguasa dunia. Sejak masa awal sejarah Tiongkok, mereka selalu mencatat kedatangan penguasa asing yang memberikan penghormatan kepada kaisar. Para penguasa dari negara-negara yang lebih kecil di Asia sering melakukan perdagangan hingga ke Tiongkok, sambil membawa hadiah untuk mengambil hati penguasanya. Bahkan, cara ini diikuti para pedagang swasta yang menyamar sebagai utusan dari negeri jauh. Dengan memberikan sedikit barang dagangan, mereka berharap mendapat fasilitas perdagangan atau akses hingga ke ibukota. "Keuntungan utama hubungan ini adalah kesempatan bagi para penguasa di negara-negara lain agar bisa berdagang di Tiongkok," tulis Groeneveldt. Sejak dulu Tiongkok dipandang tinggi, khususnya oleh negara-negara di Asia. Budayanya tinggi, istananya mewah dan luas. Kekayannya membuat kagum bangsa-bangsa di Asia. Karenanya para penguasa merasa mendapat kehormatan jika bisa menjalin hubungan dengan Tiongkok. Sementara bagi kaisar, semua negara harus tunduk kepada bangsa yang dipilih Langit, yaitu Tiongkok. Jika ada yang memberikan hadiah (upeti), walaupun sedikit harus diterima dengan tangan terbuka dan dibantu sesuai dengan kebutuhannya. "Bangsa Tionghoa bahkan menjadikan upaya kontak dagang biasa menjadi pengakuan atas superioritas mereka," tulis Groeneveldt. Terlebih lagi kekuasaan Tiongkok di era Dinasti Mongol. Menurut sejarawan Inggris, John Man dalam Kubilai Khan, ambisi utama Sang Khan adalah membuat dunia mengakui kejayaannya. "Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya," tulis John Man. Oleh karena itu, menurut Suwardono, Kertanegara berusaha untuk menyatukan seluruh Nusantara karena adanya bahaya dari luar yang mengancam, yaitu pasukan Mongol.
- Ketika Balet Dianggap Menghina Islam
TUJUH perempuan penari masuk panggung gelap. Pakaiannya putih menyerupai mukena untuk salat. Mukena menutup bagian kepala sampai ke lutut. Tapi lengan tangan terbuka. Bagian lutut sampai kaki dibungkus oleh leotard (sejenis legging senam). Lampu-lampu panggung menyorot para penari. Suara azan terdengar. Dilafazkan oleh perempuan. Bersahut-sahutan dalam bahasa Arab dan Indonesia.
- CIA dan Daftar Anggota PKI yang Dihabisi
SETELAH peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi pembunuhan massal terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Jumlah korbannya mencapai ratusan ribu orang. Dan Amerika Serikat berperan dalam memberikan daftar orang-orang komunis itu untuk diburu dan dihabisi. Wartawan Kathy Kadane mengungkapnya untuk pertama kali di washingtonpost.com, 21 Mei 1990. Kepada Kathy, mantan pejabat urusan politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert J. Martens, mengakui memberikan daftar orang-orang PKI, dari tokoh atas hingga kader bawah, kepada tentara Indonesia untuk diburu dan dibunuh. Analis yang berpengalaman dalam soal komunis itu mengepalai kelompok pejabat di kedutaan dari Departemen Luar Negeri dan CIA untuk menyusun daftar itu selama dua tahun. Daftar itu memuat lebih dari 5.000 nama.





















