Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tank Leopard yang Layu Sebelum Berkembang
SEPANJANG Oktober hingga Desember 2019, sebuah kawasan di Situbondo, Jawa Timur bergejolak. Dentuman-dentuman menggelegar di kulit bumi. Deru mesin-mesin perang darat, laut, maupun udara mengguncang. Antara lain dari salah satu alutsista tercanggih dunia, MBT (Main Battle Tank/tank tempur berat) Leopard 2 milik TNI AD. Kegaduhan itu dalam rangka latihan gabungan “Dharma Yudha”, kegiatan kolosal tutup tahun, yang resmi ditutup pada 12 Desember 2019. Tank Leopard 2 terlibat di dalamnya. TNI AD menurunkan 13 unit tank buatan Jerman itu. Leopard 2 dimiliki TNI AD sejak dipesan 2016 lalu. Per 2019, TNI AD sudah punya 103 unit yang terdiri dari dua varian: 41 unit Tank Leopard 2A4+ dan 61 Tank Leopard 2 RI. Jumlah ini berandil dalam menempatkan Indonesia di urutan ke-16 dari 137 negara berdasarkan kekuatan militernya, sebagaimana data Global Fire Power2019. Barisan tank Leopard 1 Jerman yang jadi pendahulu Leopard 2 (Foto: Bundesarchiv) Leopard 2 oleh banyak pengamat militer diyakini berkualitas jempolan. Tank buatan Krauss-Maffei Wegmann dan Maschinenbau Kiel itu merupakan penerus Leopard 1 yang didesain pada 1979. Mengutip Frank Lobitz dalam “Technical Data-Leopard 2 MBT” yang dimuat di Leopard 2 Main Battle Tank Development and German Army Service, spesifikasi awal Leopard 2 ditenagai mesin diesel turbo ganda V12 buatan MTU yang mampu melarikan tank berbobot 68 ton tersebut dengan kecepatan maksimal 68 km/jam. Senjata utama tank berkru empat personil itu meriam L/44 Rheinmetall 120mm, yang ditemani sepasang senapan mesin MG3A1. Pada varian 2A4 yang dimiliki Indonesia, senapan mesinnya sudah di-upgrade dengan senapan mesin MG 87, dilengkapi pendingin udara alias AC, dan alat komunikasinya lebih canggih. Leopard 2 hanyalah penerus dua tank Leopard Jerman di era Perang Dunia II. Mesin Perang dan Hewan Predator Ferdinand Porsche, pendiri Porsche AG yang kini populer sebagai produsen mobil sport mewah, punya peran penting dalam kelahiran tank-tank Jerman. Dia lazim memberi nama tank-tank itu dengan nama-nama hewan predator: Tiger I, Tiger II, dan Elefant. Para koleganya dari pabrikan lain pun turut memakai nama-nama predator lain untuk menamakan tank mereka, semisal tank medium Panther (MAN AG) atau Leopard. “Namun nama-nama seperti Tiger, Panther dll. bukan nama resmi. Nama resminya Panzerkampfwagen VI dan seterusnya. Tapi biasanya diberikan perancang atau pabrikan supaya lebih diingat dan mengesankan kekuatan,” ujar pengamat militer Jerman Nazi Alif Rafik Khan kepada Historia. “Sebagai contoh, nama Tiger diberikan Ferdinand Porsche, meskipun kemudian produksinya lebih banyak oleh Henschel. Selain nama-nama kucing, nama binatang lain yang tak kalah sangar juga digunakan, seperti Elefantdan Nashorn (gajah dan badak, red.),” lanjut penulis 1000+Fakta Nazi Jerman itu. Menurut Richard A. Posner dalam Public Intellectuals, orang-orang Nazi memang gemar memburamkan garis batas antara sifat manusia dan hewan. Baik macan, macan kumbang, kucing hutan (luchs), gajah, hingga badak, identik dengan hewan buas nan pemberani, ibaratnya orang-orang Nazi menggangap diri mereka ras Arya sebagai manusia dengan ras tertinggi. “Mereka mendeskripsikan orang Yahudi sebagai hama. Di sisi lain mereka membanggakan spesies yang punya sifat gagah perkasa seperti elang untuk Kehlsteinhaus atau ‘Sarang Elang’ yang jadi vila musim panas Hitler, serta macan dan macan kumbang untuk tank-tank mereka,” ujar Posner. Tank Leopard VK30.01 (P) Dalam periode ekspansif Jerman di akhir 1939, para petinggi militer di Waffen Prüfen 6 (Wa Prüf 6/lembaga alutsista Jerman-Nazi) mulai butuh tank-tank baru sebagai kekuatan inti blitzkrieg (serangan kilat). Porsche sebagai ketua Panzerkommission (Komisi Tank) di lembaga itu, menjawabnya dengan merancang desain tank medium VK30.01 atau kadang disebut Porsche Type 100. Menukil Kenneth W. Estes dalam German Heavy Fighting Vehicles of the Second World War: Front Tiger to E-100, rancangan Porsche lantas menelurkan purwarupa (prototype) pada 1940. Lantaran rancangan itu belum dilengkapi turret, pabrikan Krupp lalu menawarkan desain turret dengan meriam L-56 88mm yang basisnya dari meriam anti-udara. Dari dua sasis purwarupa yang dibuat, hanya satu yang dilengkapi turret buatan Krupp itu untuk diujicoba. Spesifikasinya punya bobot 30 ton, berdimensi panjang 6,58 meter; lebar 3,05m; tinggi 2,8m, dan ditenagai dua mesin Porsche V10 yang bisa memacu tank dengan kecepatan maksimal 60km/jam. Leopard itu juga dilindungi lapisan baja setebal 80mm, selain diperkuat meriam Krupp 88mm dan senapan mesin MG-34. Lima kru yang mengawakinya meliputi komandan, sopir, operator radio, penembak, dan pengisi amunisi.Leopard ini juga didesain Porsche sebagai tank tempur pertama yang menggunakan steering atau kendali elektrik serta mesin yang menggunakan air-cooled system pada mesin berbahan bakar bensinnya. Namun saat tank itu sudah siap untuk diinspeksi Hitler, situasi kampanye front timur mengubah segalanya. Hitler mendapat laporan bahwa pasukannya dihadang tank-tank berat Uni Soviet macam tank T-34 dan KV-I. Hitler tentu ingin punya tandingannya. Maka dia pun membahasnya dengan perwakilan Porsche AG dan Henschel & Sohn pada 26 Mei 1941. “Dia (Hitler, red.) dengan program empat tahunnya menginginkan tank berat yang harus punya lapisan baja depan setebal 100mm dan harus punya meriam besar, setidaknya 75-88mm. Dia pun menghapus semua proyek-proyek (Porsche dan Henschel) sebelumnya,” tulis Estes. Proyek tank medium Leopard itupun ditinggalkan. Sebagai gantinya, pabrikan Henschel & Sohn ditunjuk mengeksekusi proyek pengembangan tank berat baru Panzerkampfwagen VI (PzKpfw/kendaraan tempur). Ferdinand Porsche sebagai ketua Komisi Panser lalu memberi nama tank itu Tiger I, yang mulai diproduksi pada 1941 dan digunakan di tahun berikutnya. Tank Leopard VK1602 Belum lama Porsche mendesainVK30.01Leopard, pabrikan Maschinenfabrik Augsburg-Nürnberg (MAN) juga membuat rancangan tanknya dengan nama serupa pada 1942. Namun, rancangan MAN bukan tank berat, melainkan tank intai tempur. Mengambil dasar desain dari tank medium Panther yang juga tengah mereka kembangkan, MAN menghasilkan tank dengan sasis lebih kecil, VK1602 yang lalu dinamai Leopard. Selain lebih kecil, beda Leopard dengan Panther adalah lapisan baja depan yang dirancang landai dan lebih tebal, yakni 80mm (baja Panther setebal 60mm). Namun, ungkap Peter Hamberlain dan Hilary L. Doyle dalam Encyclopedia of German Tanks of World War Two, pengerjaan Leopard diserahkan pada dua pabrikan lain, Mühlenbau und Industrie Aktiengesellschaft (MIAG) dan Daimler-Benz. Pasalnya, Wa Prüf 6 kemudian memilih MAN untuk lebih memfokuskan pada pengembangan dan produksi Panther agar bisa dikirim lebih cepat mengingat situasi sengit di front timur. “Pengembangannya didiskusikan dengan Hitler pada Maret dan Juni 1942. MIAG lalu dipercayakan mengambil alih untuk konstruksi sasisnya dan Daimler-Benz untuk turret-nya. Semua desainnya sudah harus siap pada akhir Oktober 1942,” sebut Hamberlain dan Doyle. Dalam rancangannya, MIAG dan Daimler-Benz menyiapkan spesifikasi VK1602 Leopard dengan dua versi purwarupa. “Versi pertama lebih ringan, lebih cepat dengan bobot 18 ton dan versi yang lebih lambat lajunya dengan bobot 26 ton. Tetapi di fase awal versi pertama batal dikerjakan karena ternyata terdapat ketimpangan antara bobot dan lapisan bajanya,” sebut Bob Carruthers dalam Panzers I & II: Germany’s Light Tanks. Purwarupa versi kedua lebih dulu dirilis dengan bahan kayu untuk diperlihatkan pada Hitler pada Mei 1942. Hitler memerintahkan produksi sebanyak 105 unit yang harus selesai pada akhir 1943 dan produksi lanjutan sebanyak 150 unit pada musim semi 1944. Spesifikasi Leopard yang diproduksi berupa, dimensi panjang 4,74m; lebar 3,1m; tinggi 2,6m. Lapis baja dideknya setebal 16mm, 30mm di kedua sisi, dan 50mm di lapisan baja depan yang landai dengan kemiringan 50 derajat. Tank intai berawak empat personil yang ditenagai mesin Maybach HL 157P ini mampu berlari hingga 45-60km/jam. Desain turret-nya yang dikerjakan Daimler-Benz mengambil dasar desain turret ranpur Sonderkraftfahrzeug (SdKfz) 234 Puma dengan meriam 50mm KwK 39/1, dilengkapi sepucuk senapan mesin MG-42. Adolf Hitler bersama menteri persenjataan Albert Speer (kanan) meninjau salah satu pabrik tank untuk persiapan perang (Foto: Repro "German Heavy Fighting Vehicles of the Second World War") Sialnya, pada 13 Oktober 1942 Hitler berubah pikiran setelah rapat dengan Albert Speer, menteri persenjataan dan perang. Michael Sowodny dalam German Armored Rarities: 1935-1945 menyatakan, Speer memberi masukan berdasarkan kebutuhan pasukan di lapangan, bahwa yang lebih dibutuhkan adalah tank intai yang lebih lincah dan ringan. Alhasil, Hitler memerintahkan MIAG dan Daimler-Benz mencanangkan lagi Leopard versi 18 ton yang sebelumnya disingkirkan Hitler. Speer pun mengusulkan beberapa Panther yang masih dalam tahap produksi, dibuat varian tank intai dengan bobot lebih ringan. Proyek Leopard VK1602 dianulir secara resmi pada 3 Januari 1943 saat purwarupanya belum rampung. Belakangan, proyek Panther versi intai itupun batal dikerjakan.
- CIA Bikin Film Porno Mirip Sukarno
SUATU hari, hampir setahun setelah kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat (16 Mei–3 Juni 1956). Mantan agen FBI (Federal Bureau of Investigation), Robert Aimé Maheu, menerima telepon dari Kolonel Sheffield Edwards, Kepala Kantor Keamanan CIA. Dia terdengar agak gugup, dan ingin tahu apakah dia bisa mampir ke rumahnya. Saat itu, Maheu tinggal di Falls Church, Virginia. Mereka bertemu di ruang hiburan. Area luas yang dirancang untuk pesta, dengan motif bahari: sebuah bar yang terbuat dari separuh sekoci sungguhan, lampu yang terbuat dari kayu apung, dan dinding yang dilengkapi fasilitas memasak untuk makan malam. Yang paling penting, ruangan itu memberi mereka privasi penuh. Sheffield memberikan sedikit latar belakang maksud kedatangannya. Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Sukarno dengan Amerika Serikat terus memburuk. Pada saat yang sama, aliansi yang dibentuknya dengan Uni Soviet semakin matang. Sukarno awalnya hanya mentolerir kehadiran komunis di Indonesia. Dan sekarang nampaknya berkembang menjadi dukungan yang sungguh-sungguh. Semua perubahan itu seiring dengan perjalanan Sukarno ke Uni Soviet.
- Muhammad Khan Mengikuti Jejak Shahrukh Khan
LEWAT karya Kucumbu Tubuh Indahku (selanjutnya disebut Kucumbu), Garin Nugroho berusaha menampilkan peleburan sifat maskulin dan feminine lewat tubuh seorang penari bernama Juno. Kisah hidup Juno yang berpindah-pindah dan penuh trauma menjadi pemandu bagi pemirsanya untuk memahami keberagaman seksualitas dan gender dalam budaya Indonesia. Namun, karya Garin itu sempat mengalami pencekalan oleh kelompok konservatif karena dianggap mengkampanyekan LGBT. Bahkan, sempat muncul petisi online untuk memboikot Kucumbu. Ibarat permata yang dibenamkan dalam lumpur namun tak kehilangan sinarnya, Kucumbu pada akhirnya mendapat apresiasi yang semestinya. Film ini memborong delapan penghargaan sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penata Musik Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Busana Terbaik, serta Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Tak lupa pula, film ini juga mengantarkan Muhammad Khan memenangkan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Kemenangan ini menjadi pencapaian besar Khan mengingat Kucumbu merupakan film panjang pertamanya. Sebelumnya, Khan lebih banyak bermain di teater dan film pendek ketika masih kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Khan bernama asli Nurdiyanto. Ia lahir di Jepara, 28 Maret 1991. Nama Muhammad Khan ia pakai sebagai nama panggung karena kekagumannya pada Nabi Muhammad dan aktor Bollywood Shahrukh Khan. Pasalnya, cita-cita masa kecil Khan untuk menjadi aktor bermula dari kekagumannya pada sang idola. “Aku sangat mengagumi Shahrukh Khan sejak kelas IV SD. Dia panutanku. Shahrukh Khan dapat best actor pertama di usia 28, aku ingin mengikuti jejaknya itu,” kata Khan pada Historia. Sejak itu, ia menelusuri karya-karya Shahrukh Khan dan belajar akting dari film-filmnya. Begitu masuk SMA, Khan aktif di Teater Biassukma di Jepara dan menjadi ketua selama dua tahun. Setelah lulus SMA pada 2009, ia masuk ke jurusan teater dan fokus pada akting di ISI Yogyakarta. “Waktu kuliah aku juga ikut Saturday Acting Club, kelas akting yang digagas Rukman Rosadi. Dia itu dosenku di ISI. Waktu film Kucumbu dia yang jadi acting coach-nya,” kata Khan. Setelah lulus, Khan bekerja di sebuah homestay di Yogyakarta hingga naik menjadi supervisor lantaran tak mendapat pekerjaan sebagai aktor. Pada titik itu ia berpikir, kalaupun tidak menjadi aktor, ilmu keaktoran amat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dan memahami beragam karakter manusia. Sebelum bermain di Kucumbu, Khan pernah mengikuti casting film Garin sebelumnya, Mata Tertutup. Namun sayang, ia tak lolos. Begitu ada kabar Garin mau buat film tentang penari, Khan tertarik untuk ikut casting. Pada audisi pertama Garin memberi Khan PR. “Mas Garin minta kamu belajar tari lengger,” kata salah seorang kru. “Lho memang aku keterima?” kata Khan. “Ya belum sih.” Sebagai aktor, Khan tak ambil pusing dengan homofobia yang masih menjamur di masyarakat Indonesia. Ia percaya pada kualitas Garin. Maka begitu diberi kabar bahwa ia mendapatkan peran Juno remaja, Khan amat gembira. “Ya bayangkan saja. Waktu itu aku kerja di homestay. Lalu dapat peran di filmnya Mas Garin Nugroho. Apa pun perannya aku mau,” kata Khan. Khan mengaku bukan peran feminine Juno yang membuatnya agak khawatir. Ia merasa agak tertekan karena menjadi pemeran utama dalam film Garin. Ia tak ingin mempermalukan atau membuat Garin berpikir salah pilih pemain. Dus, Khan membawa nama almamater ISI Yogyakarta. “Kalau mainku jelek, aku bisa dimaki-maki satu jurusan. Masak anak teater mainnya kayak gitu,” kata Khan. Bagi Khan, memerankan tokoh adalah memahami manusia dengan segala kompleksitasnya. Lewat ilmu akting itu, ia merasa lebih menghargai hidup dan lebih dekat dengan tuhan. “Tiap memerankan tokoh kan kita perlu riset, mempelajari ilmu baru, semacam wisata karakter,” katanya. Muhammad Khan, pemenang piala citra di film pertamanya. (Fernando Randy/Historia). Aktor Terbaik dalam Film Bertema Homoseksual Kemenangan Khan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik FFI semacam mengulang sejarah. Di masa lalu, ada pula aktor yang menang penghargaan dalam film bertema homoseksualitas. Dialah Mathias Muchus, yang memenangkan aktor terbaik pada FFI 1988 lewat Istana Kecantikan. Film yang rilis pada 1988 itu menjadi film pertama bertema homoseksual di Indonesia. Istana Kecantikan disutradari Wahyu Sihombing dengan Asrul Sani sebagai penulis naskahnya. Kisahnya dibuka oleh Nico (Mathias) seorang gay yang didesak untuk segera menikah oleh orangtuanya. Ia akhirnya menikahi Siska (Nurul Arifin) meskipun Nico sejatinya tak punya hasrat sama sekali pada perempuan. Menurut Ben Murtagh dalam artikelnya “Istana kecantikan: the First Indonesian Gay Movie” yang dimuat South East Asia Research, Istana Kecantikan bisa dilihat sebagai gambaran reflektif tentang isu gay yang sedang hangat pada 1980-an. Film menceritakan tentang kesulitan Nico untuk hidup sebagai seorang gay di tengah masyarakat yang heteronormatif (hanya hubungan lelaki-perempuan yang dianggap normal). Meski demikian, beberapa tokoh terdekat Nico yang mulanya kecewa mengetahui bahwa dia gay, perlahan mengerti dan simpatik. Mathias Muchus dalam wawancara dengan Ben Murtagh menyebut keinginan Wahyu Sihombing dan Asrul Sani mengangkat tema homoseksual karena merupakan hal baru dan kontroversial. Lebih jauh, pembuatan film tersebut bukan untuk membangun prasangka melainkan menghadirkan isu tentang homoseksual ke muka publik. Beberapa adegan dalam film itu kena gunting sensor, seperti dua lelaki bergandengan tangan, pesta khusus lelaki gay, dan adegan ciuman. Namun, penontonnya bejibun, ada di berbagai kota khususnya kaum gay dan waria. Berbeda dengan film Garin yang mendapat banyak pujian dari pengamat film, Istana Kecantikan dinilai kurang bagus. Menurut Salim Said dalam Pantulan Layar Putih, film arahan Sihombing itu punya banyak kekurangan. Istana Kecantikan seperti naskah yang kurang menyatu dengan lingkungannya. Lebih lanjut, Salim menyebut film ini baru sampai pada tingkat informatif, belum sampai pada taraf yang subtil. Meski secara umum filmnya kurang memuaskan, Salim amat memuji akting Mathias yang jadi penolong film. Salim menyebut permainan Mathias luar biasa. Karakter gay yang ditampilkannya tak semata fisikal namun mendalam, secara utuh, dan lentur. “Secara amat subtil dan penuh nuansa, Muchus memainkan tokoh gay yang diciptakan Asrul Sani lewat skenario dan cerita aslinya dalam film Istana Kecantikan,” tulis Salim.
- Wibawa Sukarno Mengesankan Inggris
SERANGAN Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta menjadi awal sinyal perdamaian hadir di Indonesia. Pendudukan kota selama 6 jam oleh TNI itu berhasil menyadarkan dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup. Berkat peristiwa itu dunia terus mendesak Belanda agar segera mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia. Dewan Keamanan pun meminta Belanda melaksanakan resolusi damai, tertanggal 28 Januari 1949, yang mereka buat tentang penyerahan kedaulatan kepada Indonesia sebelum 1 Januari 1950. Pihak Indonesia yang sejumlah pejabat terasnya (termasuk Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta) ditawan Belanda, membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Menurut sejarawan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia VI, pemerintah darurat ini bertugas melanjutkan perjuangan secara politik, militer, dan kenegaraan sepeninggal Sukarno-Hatta. Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai ketua, didampingi T.M. Hassan. Dalam menjalankan tugasnya PDRI juga mendapat dukungan penuh dari TNI. "Akan tetapi, hubungan dengan para pemimpin RI yang ditawan Belanda di Pulau Bangka tidak ada sama sekali. Oleh karena itulah kemudian terdapat perbedaan pendapat antara PDRI dan pihak Bangka, khususnya mengenai Pernyataan Roem-Roijen," kata Nugroho. Perundingan Roem-Roijen menimbulkan perpecahan di kalangan republik. Sukarno yang statusnya masih tahanan malah memberi kuasa kepada Mohammad Roem untuk berunding, sedangkan wewenang politik seharunya berada di tangan PDRI. Sikap Sukarno itu mendapat tentangan keras dari Partai Masjumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dikisahkan salah seorang tokoh PSI Soebadio Sastrosatomo, dalam biografinya Soebadio Sastrosatomo: Pengemban Misi Politik, Sutan Sjahrir sampai-sampai harus meminta bantuan Kolonel T.B. Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang, untuk memberi tahu orang-orang di Sumatra agar Sukarno jangan dibiarkan ikut campur dalam urusan perundingan dengan Belanda. Biar pemerintahan sementara yang bertindak atas wewenangnya sendiri. Meski begitu, tidak semua pihak menentang sikap Sukarno tersebut. Banyak kalangan yakin keputusan Si Bung dapat membawa perubahan ke arah lebih baik. Keyakinan itu ditunjukkan L.N. Palar saat dirinya mengirim salah seorang perwakilan Indonesia di Amerika Serikat, Soedarpo, untuk meyakinkan orang-orang di dalam negeri agar mendukung semua keputusan Sukarno. "Soedarpo belajar dari pengalaman dan kenyataan. Betapa hebatnya Sukarno terlihat waktu pertempuran di Semarang, Ambarawa, dan Surabaya. Inggris minta perantaraan Sukarno untuk menghentikan pertempuran. Sukarno bilang stop, ya, pertempuran stop. Begitu besar pengaruh Sukarno," kata Soebadio. Walaupun Sukarno ditahan Belanda di Bangka, kata Soebadio, dunia internasional umumnya masih menganggapnya ada. Soedarpo sendiri ketika pulang ke Indonesia langsung menghadap Sukarno di Bangka, bukan PDRI. Ia melaporkan segala perkembangan diplomasi di Dewan Keamanan dan segala bentuk dukungan terhdap RI kepada Sukarno. "Waktu itu Soedarpo memberitahukan kepada Sukarno penilaian wakil Inggris dan Prancis di Dewan Keamanan PBB yaitu mengakui besarnya pengaruh dan kewibawaan Sukarno atas rakyat Indonesia dan karena itu untuk menyelesaikan masalah Indonesia tetap harus berunding dengan Sukarno," ucapnya. Soedarpo bersikeras jika Inggris secara khusus menginginkan Sukarno selalu berada di garis depan perjuangan Indonesia. Pengalaman mereka di Ambarawa dan Surabaya benar-benar telah membuka pandangan mereka terhadap Sukarno. Namun ucapan perwakilan RI di New York itu tidak begitu saja diterima Sukarno. Si Bung malah hampir-hampir tidak percaya dengan pernyataan yang menurutnya berlebihan itu. Tapi Soedarpo meyakinkan Sukarno jika ucapan itu memang benar adanya. Inggris memang berpikir demikian. Bahkan Prancis di Dewan Keamanan pun sampai ikut mengaminkan pernyataan Inggris. "Sungguhpun demikian, Soedarpo mengatakan kepada orang-orang di Bangka supaya mereka memperhatikan PDRI sebagai faktor dalam menghadapi Belanda. Tapi mereka tidak mendengar," kata Soebadio.
- Misteri Penamparan Soeharto
SELEBARAN gelap yang kertasnya sudah menguning itu seolah berbicara banyak. Di bawah judul "Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto" disebutkan beberapa kisah yang menyebabkan para mahasiswa Bandung menolak pencalonan kembali Jenderal TNI (Purn.) Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia periode 1978-1983.
- Menggali Balet Nasional Indonesia
DEWAN Kesenian Jakarta (DKJ) bikin hajatan seputar balet di pengujung 2019: "Ballet in Batavia" dan "Tribute to Farida Oetoyo". Hajatan pertama berupaya mengeksplorasi akulturasi tari balet dengan tari tradisional Indonesia. Hajatan kedua mengangkat perjalanan hidup maestra (perempuan) balet Indonesia, Farida Oetoyo. Dia mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perkembangan balet.
- Berebut Rempah di Maluku
Rakyat Maluku harus terlibat dalam perkelahian orang-orang Eropa di negerinya. Selalu berakhir sebagai pihak yang terjajah.
- Habis Natal Terbitlah Boxing Day
SEPEKAN liburan Nataru (Hari Raya Natal hingga tahun baru) jadi momen yang pas untuk berkumpul bersama keluarga atau dimanfaatkan untuk wisata jarak jauh. Namun tidak begitu di Inggris, yang punya tradisi Boxing Day dengan hiburannya berupa tontonan sepakbola. Untuk sepekan ini saja jadwal tim-tim elit Premier League sudah padat. Tentu membuat para pemain, pelatih, dan ofisial serta para penonton hanya akan merasakan liburan lewat menonton pertandingan sepakbola. Beberapa laga yang akan dihelat pun bakal krusial untuk perburuan gelar di momen Boxing Day, 26-28 Desember 2019: Chelsea vs Southampton, Tottenham Hotspur vs Brighton & Hove Albion, Sheffield United vs Watford, dan Liverpool vs Leicester City. Namun, apa itu Boxing Day? Merujuk Oxford English Dictionary edisi pertama keluaran 1887, makna Boxing Day adalah liburan di pekan pertama setelah Hari Natal. Di era 1830-an, di Inggris mulai marak pemberian hadiah kado (box) sebagai bentuk rasa syukur di hari peringatan kelahiran Yesus Kristus. Kado itu biasa diberikan para orangtua kepada anak-anak mereka atau dari para juragan ke para pekerja. Meski belum disebut Boxing Day, tradisi itu sudah tercatat jauh sebelum abad ke-19. Catatan pelaut dan politisi Samuel Pepys dalam Diary of Samuel Pepys salah satunya. Dalam catatannya tanggal 19 Desember 1663, disebutkannya bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk para pelayan diberi hadiah dari para majikan sekaligus diberi hari libur untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga satu hari setelah Hari Raya Natal. Di hari besar itu para pelayan sudah bekerja seperti biasanya melayani para tuan. Tradisi itu terus berlanjut hingga kini, bahkan menyebar lewat negeri-negeri koloninya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Boxing Day dan Si Kulit Bundar Meski sepakbola bukan ditemukan di Inggris, tetap diakui orang Inggrislah yang mengembangkan permainan ini dengan rupa-rupa aturannya. Maka wajar sepakbola senantiasa hadir sebagai hiburan masyarakat lintas “kelas” di banyak momen besar, semisal Natal. Inggris pula yang melahirkan klub tertua yang masih eksis sampai sekarang, yakni Sheffield FC. Ia lahir pada 24 Oktober 1857. Sheffield FC memainkan pertandingan antarklub resmi pertama melawan Hallam FC dalam tajuk “Rules Derby” di stadion Sandygate Road, 26 Desember 1860. Sebelumnya, klub-klub saat itu sekadar bermain melawan timnya sendiri. Sheffield FC menang 2-0 di momen Boxing Day itu yang stadionnya disesaki penonton. Sebagaimana yang diungkap buku perayaan satu setengah abad klub, Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club, laga itu jadi laga sepakbola pertama Boxing Day. Laga itu dirancang kedua petinggi klub untuk menegaskan semangat Natal. “Tidak ada kejadian buruk yang terjadi –permainan dilakukan dengan suasana yang baik dan dalam semangat persahabatan– dan ketika langit mulai gelap, Sheffield Club menang dua gol tanpa balas dan pulang dengan kemenangan yang memuaskan,” tulis suratkabar Sheffield Daily Telegraph, 28 Desember 1860. Sheffield FC, klub sepakbola tertua di dunia (Foto: Repro "Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club) Laga Boxing Day pertama dalam kompetisi resmi baru terjadi di Football League musim perdana, 1888-1889. Football League di musim itu diakui sebagai kompetisi resmi tertua dengan format liga dan tetap menjadi liga kelas paling atas di Inggris hingga 22 klubnya memisahkan diri dan membentuk Premier League. Sebelumnya FA Cup-lah kompetisi resmi pertama dengan format turnamen, bergulir sejak musim 1871-1872. Di laga Boxing Day 26 Desember 1888 itu, Preston North End meladeni West Bromwich Albion dan menang telak 5-0. “Di laga inilah performa terbaik Preston terjadi di musim rekor mereka. Saat wasit meniup peluit terakhir, para pemainnya diberi tepuk tangan paling meriah oleh para penonton yang datang di Boxing Day itu,” ungkap jurnalis dan sejarawan sepakbola Mark Metcalf dalam The Origins of the Football League: The First Season 1888/89. Suksesnya Boxing Day di musim pertama liga itu bikin jadwal musim berikutnya lebih gila. Seperti yang dialami Aston Villa, misalnya. Dua hari berturut-turut mereka berlaga kontra Preston pada Hari Natal 25 Desember 1899 dan meladeni Accrington di Boxing Day keesokan harinya. Itu jadi kali pertama sepakbola tercatat dimainkan di Hari Natal dengan mencatatkan sembilan ribu penonton selama dua hari itu. Baru pada 1965, FA (induk sepakbola Inggris) menetapkan tiada lagi jadwal yang diperbolehkan eksis pada Hari Natal, merujuk pengalaman di beberapa musim sebelumnya yang tak hanya kerap diganggu cuaca buruk namun juga dampak para pemainnya cedera parah. Kalaupun cuaca memungkinkan, laga hanya boleh dimainkan pada 26 Desember. “Tidak satupun klub yang boleh memainkan pertandingan pada Hari Paskah dan Hari Natal,” demikian pernyataan FA, dinukil C.W Alcock dalam The Classic Guide to Football. Sebuah laga Boxing Day di Liga Inggris 1985 Laga Boxing Day juga pernah dimainkan di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, 1914, antara serdadu Inggris dan Jerman. Mulanya kisah itu sempat diangap mitos, hingga terungkapnya sebuah surat seorang Sersan Clement Barker dari Batalyon Ke-1 Grenadier Guards, dari front barat ke keluarganya, kala terjadi gencatan senjata antara kedua kubu yang berperang di Hari Natal. “Seorang Jerman muncul dari paritnya – tidak ada tembakan – pasukan kami pun tak menembak, dan kemudian yang terjadi adalah permainan sepakbola. Lantas malam tiba dan belum juga ada tembakan. Pada Boxing Day (26 Desember) juga sama dan terus begitu sampai sekarang,” tulis Barker dalam suratnya tertanggal 29 Desember 1914 dengan tujuan kepada adiknya, Montagu Barker di Ipswich, sebagaimana dikutip Daily Mail, 23 Desember 2012. Seiring tempo menggelinding, semarak Boxing Day menular ke segenap Inggris Raya. Mulai dari Wales, Skotlandia, hingga Irlandia Utara. Pun dengan bertumbuhnya industri sepakbola di Negeri Tiga Singa, para pembuat kebijakan Liga Inggris merancang Boxing Day tak lagi antar-rival sekota atau klub yang basisnya berdekatan. “Jumlah penonton selalu lebih besar ketimbang hari biasa. Namun laga derbi mulai jarang dijadwalkan di hari itu karena mereka tahu bahwa mereka bisa selalu mengharapkan tiket habis di tanggal 26 Desember, hingga akhirnya mereka memilih laga-laga derbi yang juga menarik perhatian banyak penonton di hari lain,” kata jurnalis olahraga Nick Szczepanik dalam Pulp Football: An Amazing Anthology of True Football Stories You Simply Couldn’t Make Up. Sejak 1992, Liga Inggris mulai kebanjiran pelatih dan pemain asing. Banyak yang kaget mereka tetap harus merumput di masa-masa liburan Natal hingga tahun baru. Pasalnya, tak satupun negeri di luar Inggris Raya yang menjadwalkan pertandingan di masa liburan Nataru. Ada yang mengkritik kebijakan itu, namun tak sedikit yang menerima tradisi itu sebagai tantangan. Aloysius Paulus Maria 'Louis' van Gaal, salah satu pelatih asing yang mengkritik tradisi Boxing Day (Foto: manutd.com) Salah satu pengkritiknya adalah Louis van Gaal, pelatih Manchester United periode 2014-2016 asal Belanda. “Tidak ada jeda musim dingin dan saya rasa itu hal terburuk dari budaya ini. Sebenarnya tidak baik buat sepakbola Inggris, buat klub atau timnas. Inggris belum pernah memenangkan apapun dalam beberapa tahun terakhir, kan? Itu karena para pemainnya kelelahan di akhir musim,” ujarnya kepada The Guardian, 23 Oktober 2015. Keluhan lain juga disampaikan bek Liverpool periode 1999-2009 asal Finlandia, Sami Hyypiä dalam otobiografinya, From Voikkaa to the Premiership. “Bahkan kami latihan di Hari Natal. Bukan rahasia bahwa Liga Inggris punya jadwal di musim dingin dan saya sadar telah memilih karier ini dengan risiko naik-turunnya performa,” tulisnya. Namun pandangan lain dilontarkan pelatih Arsenal 1996-2018 Arsène Wenger yang menganggap, tradisi Boxing Day adalah hal unik yang tak ditemukan di belahan bumi manapun. “Itu adalah daya tarik dan kegilaan sepakbola Inggris. Jelas Boxing Day berkontribusi mempromosikan Liga Inggris. Semua orang di negeri lain yang sedang libur dan bosan, takkan lagi merasakan kebosanan setelah melihat pertandingan Liga Inggris,” cetusnya, dikutip Ian Ridley dalam There’s Golden Sky: How Twenty Years of Premier League Has Changed Football Forever. Melihat suksesnya sepakbola Inggris dari masa ke masa dengan tradisi Boxing Day-nya, Lega Calcio selaku operator Serie A Liga Italia mencoba menyontek konsepnya pada musim 2018-2019. Niatnya memang untuk mendongkrak finansial. Maklum sejak skandal bola terbesar di Italia pada 2006, pamor sepakbola Italia menukik tajam. Stadion-stadion tak lagi terisi penuh seperti sebelumnya. Sayang eksperimen itu gagal. Dari rapat evaluasi pada April 2019 setelah melihat hasil Boxing Day Liga Italia pada Desember 2018-Januari 2019, tak menampilkan grafik signifikan. Jadwal laga-laga Boxing Day tak lagi ditetapkan untuk musim ini (2019-2020).
- Agen Lokal CIA di Sumatra
SUATU pagi, pengusaha Hasjim Ning menemani Presiden Sukarno sarapan di Istana Merdeka. Selagi makan, Sukarno menyuruh Hasjim untuk pergi ke Padang menemui Letkol Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng dan Komandan Resimen IV. Sebagai bentuk protes terhadap pemerintah pusat, Husein mengambil alih pemerintahan sipil dari Gubernur Sumatra Tengah, Ruslan Muljohardjo, dan mengangkat dirinya sebagai Ketua Daerah.
- Pesan Damai di Hari Natal
HARAPAN itu muncul tepat di malam Natal 1947. Usaha perdamaian telah membuahkan hasil. Indonesia yang sejak mengumandangkan kemerdekaan terus terjerat ambisi Belanda kembali menguasai negeri akhirnya dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya Panitia Jasa-Jasa Baik (Committee of Good Offices) yang dibentuk atas dasar Resolusi Dewan Keamanan menyatakan kesediaannya membantu menengahi masalah kedua negara yang tengah berselisih itu. Lantas apa alasan Dewan Keamanan bersedia membantu menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda tersebut? Berdasarkan penuturan Frank P. Graham, wakil Amerika Serikat (AS) dalam Panitia Jasa-Jasa Baik, Dewan Keamanan ingin negara-negara di Asia Tenggara yang baru merdeka, termasuk Indonesia, menjadi negara bebas. Mereka juga meminta agar Indonesia dan Belanda segera menghentikan segala bentuk tindakan-tindakan permusuhan. “Dewan Keamanan memutuskan memberikan jasa-jasa baiknya kepada kedua pihak untuk membantuk menyelesaikan sengketanya secara damai, sesuai dengan paragraf b dari resolusi Dewan Keamanan tanggal 1 Agustus 1947: menjelaskan sengketanya dengan arbitrasi atau dengan cara damai lainnya dan senantiasa memberitahukan kepada Dewan Keamanan tentang kemajuan dari usahanya,” tulis Alastair M. Taylor dalam Indonesian Independence and The United Nations. Resolusi itu diterima oleh keduanya. Sesuai kesepakatan, baik Indonesia maupun Belanda harus menunjuk satu negara sebagai perwakilan mereka di dalam Panitia Jasa-Jasa Baik. Belanda lalu memilih Belgia sebagai wakil, sementara Indonesia memilih Australia, sedang AS ditunjuk sebagai anggota ketiga. Maka terbentuklah anggota Komisi Tiga Negara (KTN), yang selanjutnya menjadi dewan penengah dalam persoalan diplomasi ini. Namun meski menerima usulan Dewan Keamanan, Belanda menunjukkan sikap kurang kooperatif dalam setiap perundingan. Mereka secara terang-terangan meminta agar Dewan Keamanan tidak ikut campur dalam sengketa di Indonesia. Baginya soal ini adalah urusan dalam negeri, yang berarti Belanda masih mengakui Indonesia bagian dari negaranya. Belanda begitu gigih menentang berbagai upaya Dewan Keamanan. Menurut Nugroho Notosusanto, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, dari hasil pengamatan Dewan Keamanan, Belanda masih melakukan aksi militernya ketika proses diplomasi sedang berlangsung. Mereka bahkan membuat kebijakan sepihak dengan menentukan garis batas kekuasaan mereka di Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Garis Van Mook. Di belakang garis itu nantinya akan berdiri wilayah milik Belanda. Walau pada kenyataannya daerah-daerah di sana masih dikuasai Republik dan masih banyak pejuang yang melakukan perlawanan. Tidak hanya soal wilayah, Belanda juga mempersulit berbagai upaya perundingan anggota KTN. Hingga akhirnya AS terpaksa turun tangan dengan meminjamkan kapal perangnya yang saat itu sedang merapat di Tanjung Priok. Pada 8 Desember 1947, secara resmi upaya perdamaian secara politik dimulai dimulai lagi dari Renville. Karena Belanda senantiasa mengadakan siasat mengulur waktu, dengan pendirian yang bukan-bukan, maka baikpun dalam bidang militer, maupun perundingan politik pada akhir Desember tahun 1947, belum tercapai sesuatu kemajuan. Berkah Hari Natal Tanpa terasa perundingan telah sampai pada usaha yang ke-49 kali, tepat pada 25 Desember 1947. Diceritakan Mohamad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, saat itu panitia sepakat menyerukan satu pesan sebagai bagian dari perayaan Natal, yakni “Pesan Hari Natal”. Pesan perdamaian itu menjadi harapan tersendiri bagi seluruh anggota perundingan yang ingin perselisihan segera berakhir dari kedua pihak. Pewakilan Belanda dan Indonesia diajak melihat kembali seluruh persoalan secara nyata dan lebih terbuka. Mereka diminta untuk menilai dampak dari perselisihan itu jika terus dilanjutkan. Banyak persoalan kemanusiaan yang pada akhirnya akan terabaikan dari situasi serba tegang tersebut. Hal itu juga akan merusak tujuan dari Dewan Keamanan dalam usahanya mendamaikan dunia. “Dalam pesan itu diingatkan dengan segala tekanan akan tanggung jawab kedua pihak untuk melaksanakan resolusi-resolusi Dewan Keamanan, kepada bahaya yang terkandung dalam pengangguhan lebih lama,” tulis Roem. Pesan Hari Natal memuat sedikitnya 12 usul untuk mencapai kesepakat politik antara Indonesia dan Belanda, di antaranya menerima garis Van Mook sebagai batas pemisah; menghentikan segala aktifitas yang berhubungan dengan pembentukan negara-negara di Jawa, Sumatera, dan Madura; menghentikan tindakan-tindakan agresif yang memicu perang, dan sebagainya. Mengetahui usulan itu, Belanda kembali melayangkan penolakan yang keras. Bagi mereka Panita Jasa-Jasa Baik sudah keterlaluan karena sebenarnya mereka tidak punya wewenang apapun. Kecuali kedua pihak setuju meminta panitia membuat usulan seperti itu. Terutama usulan untuk mengentikan pendirian negara-negara di Jawa dan Sumatera. Karena bagi mereka mendirikan negara boneka adalah siasat terbaik untuk menguasai kembali Indonesia. Ternyata tidak hanya Belanda yang kecewa dengan usulan itu, perwakilan Republik juga merasakan hal yang sama. Pihak Indonesia kecewa dengan usulan panitia karena dirasa tidak sesuai dengan keadilan dalam resolusi Dewan Keamanan. Terutama jika harus menerima genjatan senjata yang wilayahnya dibatasi oleh garis Van Mook. Bagi mereka garis itu dibuat satu pihak saja sehingga tidak adil rasanya jika menerima keputusan tersebut. Terlebih garis Van Mook memaksa Indonesia melepaskan daerah-daerah penting, yang didiami oleh kurang lebih 25 juta penduduk. Namun pihak Indonesia sendiri menerima usulan tersebut dengan syarat dipelajari terlebih dahulu. Sementara Belanda hanya menyutujui beberapa poin saja dan mengajukan konta usul kepada panitia. Salah satunya tetap memperbolehkan pembentukan negara-negara di dalam Republik. Perundingan pun berakhir dengan disetujuinya pembentukan negara bawahan Belanda. Seperti kita tahu, pada tahun-tahun berikutnya muncul negara-negara baru, seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. “Dalam pandangan panitia, Pesan Hari Natal merupakan sebuah kesatuan yang terjalin dan seimbang. Mutlak bagi penyelesaian terakhir sengketa,” kata Roem.
- Perancang Agresi Militer
Keturunan residen Surakarta yang menjadi perancang dua kali operasi militer atas Indonesia.
- Kontemplasi Nan Sunyi di Gereja Sacrè-Coeur
Berbicara tentang Prancis tak akan bisa lepas dari kota Paris. Kota ini memberikan kesan kuat bagi para pelancong. Musik, kultur, seni, dan sepakbola bersatu di kota ini. Suasana kotanya romantis. Banyak pasangan ucap janji setia di menara Eiffel, Sungai Seine, dan Jembatan Ponts de Art. Sudut lain kotanya tak kalah ciamik. Bangunan bersejarah berlimpah. Salah satu bangunan bersejarah itu Gereja Sacrè-Coeur. Letaknya di Montmartre, daerah berbukit di pinggiran utara kota Paris. Saya harus melalui berbagai jalan sempit untuk menuju Sacrè-Coeur. Kanan dan kiri jalan sempit itu sesak oleh berbagai kafe untuk minum kopi, makan, dan menenggak wine. Ribuan wisatawan mengunjungi Sacrè-Coeur setiap harinya. (Fernando Randy/Historia). Setelah melewati jalan sempit, saya bertemu ratusan anak tangga dan harus menapakinya pelan-pelan. Cukup melelahkan. Tapi ketika sampai di puncak bukit, lelah itu sirna. Pemandangan Paris terhampar jelas. Gereja Sacrè-Coeur berdiri dengan megah di atas ketinggian 130 meter. Suasana jalan menuju ke Sacrè-Coeur di Montmarte Paris. (Fernando Randy/Historia) Sacrè-Coeur berusia lebih dari satu abad. Pembangunannya dimulai pada 1875. Tak lama setelah kekalahan Prancis dari Prusia pada 1871 dan revolusi Komune Paris pada tahun yang sama. Dua peristiwa ini begitu memukul orang Katolik Prancis. Mereka merasa peristiwa itu muncul tersebab dosa-dosa keseharian mereka. Sebagai bentuk pertobatan, mereka berikhtiar mendirikan sebuah gereja dan meminta Paul Abadie, seorang arsitek, untuk merancangnya. Gambar-gambar pada dinding Gereja Sacrè-Coeur. (Fernando Randy/Historia). Pembangunan Sacrè-Coeur selesai pada 1914. Kemudian gereja ini dikuduskan pada 1919, setelah Perang Dunia I berakhir. Kekhasan Sacrè-Coeur terletak pada pemilihan warnanya. Semuanya putih bersih. Simbolisasi dari arti namanya, Hati Suci. Warna putih dihasilkan dari penggunaan batu Château-Landon. Batu ini mengeluarkan zat kapur yang berfungsi sebagai pemutih alami dan sanggup bertahan lama sehingga membuat gereja ini terlihat putih bersinar. Berbagai patung umat Kristiani menghiasi Gereja Sacrè-Coeur di Paris. (Fernando Randy/Historia). Saat memasuki gerbang Sacrè-Coeur, saya dapat merasakan kekuatan arsitekturnya. Situasi di sana memang ramai, tapi nuansa ketenangan begitu kuat. Ramai di luar gereja, damai di dalam hati. Di dalam gereja tinggi menjulang itu terdapat berbagai patung tokoh umat Kristiani. Selain itu juga tersua lukisan dinding yang sangat indah berupa Yesus terbang. Menambah kuat kesan spiritual selama berada di Sacrè-Couer. Para wisatawan mengambil foto kota Paris dari atas Sacre-Coeur Paris. (Fernando Randy/Historia). Pesan-pesan yang teringgal di Sacrè-Coeur. (Fernando Randy/Historia). Sacrè-Coeur terbuka luas untuk semua penganut agama. “Wisatawan dari semua negara, dari agama apapun, bebas masuk ke dalam sini. Yang terpenting adalah sopan dan saling menghargai, karena ini adalah tempat ibadah,” ujar Adrien Rene (34), salah satu penjaga gereja. Lukisan Yesus Kristus di atap Gereja Sacrè-Coeur Paris. (Fernando Randy/Historia). Setelah menyelami kedalaman arsitektur Sacrè-Coeur, saya keluar gereja dan melihat berbagai atraksi kreatif para seniman Paris di sekitar gereja. Dari pemusik, pelukis jalanan, hingga pesulap. Mereka menggantungkan hidup pada gereja dan berharap berkatnya selalu terlimpah kepada mereka. Jules seorang pesulap saat mempertontonkan keahlianya di sekitar Sacrè-Coeur Paris. (Fernando Randy/Historia). Jules (25), seorang wanita pesulap di sekitar Sacrè-Coeur, mengatakan bahwa dia belum lama menggelar pertunjukan di sekitar gereja. "Namun Sacrè-Coeur selalu memberikan berkat melimpah kepada saya dalam setiap kepingan euro wisatawan." Para wisatawan menikmati sore hari di Sacrè-Coeur. (Fernando Randy/Historia).





















