top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Qatar di Gelanggang Sepakbola

    KENDATI dikucilkan saat datang ke Piala Asia 2019 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), tim Qatar mampu tampil cemerlang. Negeri itu dikucilkan gara-gara krisis diplomatik dengan negara-negara di Teluk Persia lain sejak 2017. Alhasil, Almouz Ali dan kawan-kawan berlaga nyaris tanpa dukungan suporter. Namun, Al-Annabi (julukan timnas Qatar) justru bikin geger. Untuk kali pertama, Qatar pulang dengan trofi Piala Asia. Skor kemenangan 3-1 di final kontra Jepang juga jadi satu-satunya momentum jebolnya gawang Qatar sepanjang turnamen. Prestasi itu menjadi pemanasan apik bagi Qatar jelang Piala Dunia 2022 di negeri sendiri. Dalam persepakbolaan Asia, nama Qatar memang kalah mentereng dibandingkan Arab Saudi, Iran, Korea Selatan, atau Jepang. Nama Qatar paling banter terdengar jika bersinggungan dengan sponsorship terhadap klub raksasa Spanyol Barcelona dan pemilik klub kaya Prancis, Paris Saint-Germain (PSG). Penyebab kekurangtenaran Qatar apalagi kalau bukan prestasi. Namun, itu bisa dimaklumi mengingat negeri itu telat mengenal sepakbola. Yang pasti, dengan menjuarai Piala Asia 2019, negeri kaya minyak dan gas alam yang merdeka pada 3 September 1971 itu berhasil membuktikan dirinya bukan “anak bawang” lagi. Mula Qatar Mengenal Sepakbola Jika tak ditemukan ladang minyak di Dukhan dan Doha, mungkin Qatar akan sangat telat mengenal sepakbola. Pasalnya, dari para ekspatriat Inggris dan India yang bekerja di perminyakan itulah sepakbola diperkenalkan ke Qatar, bermula pada 1948. Sebelumnya, masyarakat lokal hanya mengenal beragam olahraga tradisional, salah satunya balapan unta. Wartawan Inggris Anthony Haywood mengorek kisahnya dari Tom Clayton, mantan insinyur perminyakan British Petroleum (BP) yang ikut proyek eksplorasi minyak di Qatar pasca-Perang Dunia II. Clayton tiba di Qatar pada 1948 bersama sejumlah pekerja asal India yang didatangkan Iraq Petroleum Company (IPC), konsorsium perminyakan milik sejumlah perusahaan besar seperti Anglo-Iranian Oil Company (AIOC). AIOC pada 1954 berubah nama menjadi BP. “Awalnya yang bermain hanya para pekerja India dan beberapa insinyur produksi asal Inggris. Para insinyur itu juga yang mulanya mengajari aturan sepakbola kepada para pekerja India,” ujar Clayton kepada Haywood, dimuat di Daily Mail , 22 November 2018. Lama-kelamaan, orang-orang lokal yang turut dipekerjakan di kamp pengeboran minyak mulai tertarik sepakbola walau hanya sekadar menonton. “Kami tak pernah tahu olahraga semacam itu, namun masyarakat kami sangat menikmati permainan yang buat kami masih asing dan aneh itu,” kenang anggota Komite Olimpiade Qatar, Ibrahim al-Muhannadi. Sepakbola di Qatar mulanya digelar sederhana, dimainkan di lahan berpasir dengan karung-karung sebagai gawangnya. Seiring pesatnya perkembangan sepakbola yang mulai menular ke masyarakat lokal, klub-klub pun bermunculan. Ben Weinberg dalam Asia and the Future of Football menulis, klub tertua Qatar adalah Al-Najah Sports Club (kini Al-Ahli SC) yang lahir pada 1950. Kompetisi pertama di Qatar adalah turnamen Izz al-Din, yang diikuti sejumlah klub di bawah naungan perusahaan-perusahaan minyak di Qatar. Dukhan SC, klub jawara liga yang digagas Petroleum Development Qatar pada 1950-1951 (Foto: Daily Mail) Pada 1950-1951, Petroleum Development Qatar membuat kompetisi bertipe liga di mana juara pertamanya adalah Dukhan Sports Club. Naiknya animo masyarakat terhadap sepakbola kemudian melahirkan induk sepakbola, Qatar Football Association, pada 1960 QFA. Liga resmi Qatar mulai bergulir tiga tahun berselang. Pertandingan-pertandingannya berlangsung di Doha Sports Stadium, stadion pertama Qatar yang dibangun pada 1962 dan menjadi satu-satunya lapangan yang beralaskan rumput sebelum adanya Khalifa International Stadium pada 1975. Selesai dengan urusan liga, Qatar serius membangun timnas sejak 1969. Adalah Taha Toukhi, pelatih asal Mesir yang jadi pembesut pertamanya. Hingga kini, Qatar lebih sering menggunakan pelatih asing. Data RSSSF menyebut hanya empat pelatih lokal yang menangani timnas Qatar: Mohammed Daham (1988), Abdul Mallalah (1993), Saeed al-Misnad, Fahad Thani (2013-2014). Tampil di Peta Sepakbola Dunia QFA melamar ke FIFA pada awal 1970 dan diterima tahun itu juga. Qatar melakoni laga internasional resmi pertamanya di ajang Arabian Gulf Cup (kini Gulf Cup of Nations) kontra tuan rumah Bahrain, 27 Maret 1970. Qatar keok 1-2 di turnamen yang hanya diikuti empat negara itu (Bahrain, Kuwait, Qatar dan Arab Saudi). Di tingkat benua, Qatar pertamakali eksis di kualifikasi AFC Cup pada 1975, namun gagal lolos ke putaran final yang digelar 1976. Pun di kualifikasi Piala Dunia 1977, Qatar gagal lolos ke Piala Dunia 1978. Pun begitu, Qatar telah menegaskan identitas mereka di peta sepakbola dunia. Tim junior mereka bahkan pernah bikin kejutan di Piala Dunia Junior (kini Piala Dunia U-20) di Australia, 3-18 Oktober 1981. Setelah lolos dari Grup A, Qatar menyingkirkan Brasil 3-2 di perempatfinal dan Inggris 2-1 di semifinal. Sayang, kejutan Qatar terhenti di final kala Badr Bilal dkk. kalah 0-4 dari Jerman Barat. “Momen melawan Inggris tak diragukan lagi jadi momen terhebat dalam karier saya,” kenang Bilal yang mencetak gol kemenangan Qatar atas Inggris di semifinal. Timnas Qatar di final Piala Dunia Yunior 1981 kontra Jerman Barat (Foto: fifa.com) Prestasi itu berulang 11 tahun berselang di Olimpiade Barcelona 1992. Qatar, yang ditukangi pelatih legendaris Brasil Evaristo de Macedo, melaju sampai perempatfinal. Laju mereka baru berhenti setelah dikalahkan Polandia 0-2 di Camp Nou.  Di tahun yang sama, Qatar untuk kali pertama juara Gulf Cup di negeri mereka sendiri. Prestasi itu mereka ulangi tahun 2004 dan 2014. Walau pelan, kemajuan sepakbola Qatar berjalan konstan. Penyebabnya, pemerintah Qatar punya perhatian besar di sektor olahraga. Terlebih, setelah Qatar National Vision 2030 dicetuskan pemerintah pada Oktober 2008. Selain banyak membangun infrastruktur sepakbola, Qatar membangun para atletnya secara serius lewat Aspire Academy, yang dibuat Emir Qatar lewat dekrit Nomor 16 Tahun 2004. Qatar juga terus menyempurnakan liganya dengan mendatangkan banyak pemain asing untuk diambil ilmunya. “Timnas yang bagus itu hasil dari liga profesional yang bagus. Liga yang bagus bahan bakunya ya dari akademi. Makanya akademi harus dijalankan secara profesional. Jangan melihat investasi akademi itu sebagai beban,” kata pengamat sepakbola Timo Scheunemann kepada Historia , Oktober 2018. Upaya serius Qatar akhirnya membuahkan hasil di AFC U-19 2014 di Myanmar. Kesuksesan itu tak lepas dari komposisi tim, yang berisi atlet-pelajar jebolan Aspire Academy. Untuk mengatasi kekurangan pemain mengingat kecilnya jumlah penduduk, Qatar belakangan mengisi timnasnya dengan pemain naturalisasi, yang juga juga bertujuan agar lebih kompetitif. “Satu-satunya cara Qatar bisa kompetitif adalah mengimpor pemain dan menaturalisasi mereka,” ungkap Jesse Fink dalam 15 Days of June: How Australia Became a Football Nation .

  • Santapan Aneh Para Raja

    Pada masa lalu di Jawa, tak semua orang bisa makan daging. Rakyat dan kalangan kerajaan memiliki perbedaan tingkat konsumsi daging. Sementara raja memiliki hak istimewa dalam menyantap daging bahkan makanan yang tidak biasa, seperti kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih, babi liar matinggantungan, dan anjing yang dikebiri. “Kadang kalau orang sekarang mikir itu makanan menggelikan. Tapi itu dulu dimakan. Misalnya asu buntungan, anjing yang tak punya buntut. Lalu cacing. Itu dibuat masakan,” kata Lien Dwiari Ratnawati, peminat kuliner, arkeolog, dan kepala Subdirektorat Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam berbagai sumber teks kuno, makanan tak biasa bagi raja disebut rajamangsa. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan sebutan rajamangsa terdiri atas dua kata, yaitu raja dan mangsa . Kata raja mendapat serapan dari bahasa Sanskreta, rajya . Secara harfiah berarti raja, yang bekuasa, pemimpin. Adapun mangsa atau mansa juga dari bahasa Sanskreta, artinya daging, mangsa, makanan, pemakan daging, menghabiskan, melahap. “ Rajamangsa secara harfiah berarti makanan raja, makanan yang khusus disediakan untuk raja,” kata Dwi. Rajamangsa diperuntukkan bagi penguasa tertinggi kerajaan, baik di kerajaan pusat (maharaja) maupun di kerajaan bawahan (raja).  Selain dalam kitab Purwadigama dan Siwasasana , kata rajamangsa juga ditemukan dalam prasasti. Transkripsi prasasti milik H. Kern (VG VII.32f dan VIIIa), ahli epigrafi Belanda, menyebut wangang amangana salwir ning rajamangsa, badawang baning, wedus gunting, asu tugel, karung pulih .  “ Wedus gunting artinya kambing yang belum keluar ekornya; baning itu penyu, kura-kura; karung itu babi hutan, diberi sebutan karung pulih, kata pulih bisa jadi menunjuk pada babi dikebiri,” kata Dwi. Dalam transkripsi prasasti milik epigraf lainnya, A.B. Cohen Stuart, dengan kode CSt 7 disebutkan karung mati ring gantungan . Kemudian pada kumpulan transkripsi prasasti milik J.L. Brandes terdapat sebutan lain asu ser . Karung mati ring gantungan , kata Dwi, mungkin menunjuk pada babi yang ditangkap mati dalam jerat. Asu tugel artinya anjing yang dikebiri atau dengan sebutan asu ser. Kata ser mungkin artinya sama dengan sor, yang berarti dikebiri, yang ditandai dengan memotong ekornya ( asu buntung ). Dalam Prasasti Rukam (907 M), Prasasti Sarwwadharmma dari masa Singhasari (1269 M), dan Prasasti Gandhakuti (1043 M), juga disebut makanan yang hanya boleh disantap oleh raja: badawang, wedus gunting, karung pulih, asu tugel. Arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, dalam makalahnya, “Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi-Sejarah Abad IX-X Masehi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV , menerjemahkan wedus gunting sebagai kambing muda yang belum keluar ekornya. Sedangkan karung pulih adalah babi hutan aduan. Kendati rajamangsa dikhususkan untuk raja, dalam beberapa kesempatan orang di luar lingkungan istana juga bisa mencicipi santapan itu. Mereka adalah penerima anugerah ( waranugraha ) dalam upacara sima. Arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa menulis, hak mengonsumsi makanan itu umumnya dijumpai pada prasasti yang memuat pemberian hak istimewa yang dikeluarkan sejak masa Mpu Sindok hingga masa Majapahit. “Anugerah berupa hak istimewa, dia dan keluarganya diperkenankan untuk menyantap menu khusus raja itu,” kata Dwi.

  • Benarkah Khonghucu Memerintahkan Perayaan Tahun Baru Imlek?

    DALAM surat edaran tertanggal 23 Januari 2019 yang belakangan viral, Forum Muslim Bogor menyeru agar “seluruh Umat Islam ... tidak menghadiri dan mengikuti” serangkaian perayaan tahun baru Imlek “yang dimulai di hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas [di bulan yang sama].”

  • Feng Shui dari Makam sampai Nasib

    PADA 1980, Denys Lombard mengunjungi tempat seorang pemahat nisan di Surabaya dan menyaksikan sebuah kompas Cina ( luopan ) yang masih baru dan diimpor dari Taiwan. Luopan  biasa dipakai untuk menunjuk arah, sedangkan untuk ukuran dipakai penggaris khusus dengan panjang 43 sentimeter. Kedua alat ini dipakai dalam ilmu ruang Cina atau fengshui . “Teknik-teknik itu telah diperkenalkan di Jawa paling tidak sejak abad ke-17,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya. Fengshui didasari gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos, khususnya aturan-aturan pembangunan rumah. Stephen Skinner dalam The Living Earth of Manual Feng Shui mencatat, eksistensinya berasal dari zaman Tao pada 1300 SM. Dalam Feng Shui: Chinese Vaastu for Better Living and Prosperity, Bhojraj Dwivedi menulis, awalnya fengshui digunakan untuk menentukan letak makam. Orang Tionghoa meyakini bahwa roh orangtua atau leluhur dapat mengalirkan chi yang dapat memberikan pengayoman, perlindungan, dan berkah kepada keturunannya. Itulah kenapa makam orang Tionghoa rata-rata bagus, bahkan mewah, dan berada di tempat yang nyaman. Biasanya, tanah-tanah untuk makam itu dimiliki Kongkoan atau dewan yang terdiri dari para mayor, kapten, dan letnan cina. “Tanah dengan fengshui baik biasanya dijual kepada anggota masyarakat yang berada, sedangkan yang sisanya diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu secara cuma-cuma,” tulis Myra Sidharta dalam pengantar buku Riwayat Semarang karya Liem Thian Joe. Dari makam, fengshui merambah ke rancangan rumah atau ruko dan kota. Sekarang engshui bahkan merambah sampai ke soal cinta, logo, dan peruntungan di tiap tahun.

  • Pejabat Harus dapat Membuat Puisi

    Setiap orang terdidik diharapkan dapat menulis puisi. Keahlian berpuisi merupakan bagian dari pendidikan umum yang harus diikuti oleh setiap pegawai istana pada masa lalu. Pakar kesusastraan Jawa Kuno, P.J. Zoetmulder menerangkan, pejabat istana yang ideal, apalagi seorang raja, pangeran, atau bangsawan bukan hanya harus dapat menikmati keindahan puisi dan membawakannya. Mereka juga harus dapat menulis puisi sendiri dan mengekspresikan perasaannya tanpa kesukaran secara spontan. Kedudukan penyair dan puisinya dalam kebudayaan Jawa Kuno, khususnya dalam kehidupan keraton, begitu terpandang. Hal itu pun digambarkan dalam berbagai kisah fiksi pada masa itu. “Tak mungkin membayangkan tokoh-tokoh utama dalam kisah-kisah fiksi epik yang justru dimaksudkan untuk menampilkan tokoh idaman, tidak sungguh terdidik dalam bidang puisi,” tulis Zoetmulder dalam Kalangwan. Misalnya, dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit, disebutkan seorang pangeran muda suka bergaul dengan para kawi agar dapat menjadikan mereka teladan dalam membuat syair ( pralapita). Ada pula tokoh Panji. Dalam penggambaran sastra kidung, dia begitu digilai perempuan. Bukan hanya karena daya tariknya yang tak tertahankan, melainkan juga karena Panji pandai menulis puisi dan menabuh gamelan. Lalu dalam suatu bagian panjang dari Kakawin Sumanasantaka menyajikan kisah sayembara Putri Indumati. Kisah yang sama, juga dijumpai dalam Raghuvamsa karangan Kalidasa. “Sampai di sini syair Jawa dan India berjalan paralel, tetapi yang tak disebut dalam versi India, ialah reaksi khas dari para pelamar yang ditolak,” jelas Zoetmulder. Raja Angga, misalnya, mencoba mencari pelipur lara dalam sebuah palambang yang terdiri atas dua bait yang ditulis pada pegangan takhtanya. Di sampingnya, Raja Awanti menyatakan cintanya kepada sang putri dengan menuangkannya ke dalam papan tulis dan kepandaiannya dalam menggerakan alat tulis berupa tanah yang lancip. “Dia dapat mengungkapkan cintanya dalam syair-syair yang demikian sempurna, sehingga sesuai dengan sebuah lambang,” kata Zoetmulder. Namun, ketika Raja Awanti juga ditolak, dia menyatakan rasa putus asanya dalam sebuah syair bhasa yang mengharukan. Itu ditulisnya pada sarung kerisnya. Raja lainnya, Pratipa pun kemudian mencatat tiga bait dari sebuah kakawin di atas sebuah pudak . Itu untuk sekadar menyalurkan rasa malunya ketika sang putri lewat tanpa tergerak sedikit pun. “Dengan mengubah cerita dari India itu sedemikian rupa, terbuktilah dengan terang, betapa kepandaian seorang pangeran sebagai seorang penyair dihargai dalam kehidupan keraton di Jawa pada zaman dulu,” jelas Zoetmulder. Tak hanya dalam karya fiksi, Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama mengisahkan Hayam Wuruk yang melakukan perjalanan ke Lumajang sempat mencatat keindahan yang dilihatnya dalam bentuk syair bhasa dan kidung. Kemudian dalam epilognya di Bharatayuddha, Mpu Panuluh mengisahkan sedikit Raja Jayabhaya. Syair-syair sang raja begitu indah dan manis tanpa cacat. Dia seorang penyair yang tak ada tandingannya. Pantas dipilih sebagai guru dan sebuah sumber bagi inspirasi puitis. Adapun Mpu Monaguna, yang menggubah Sumanasantaka , juga menceritakan hal serupa pada akhir syairnya. Sri Baginda Warsajaya, pernah menjadi gurunya dalam seni puisi dan membimbingnya dengan penuh kesabaran seperti layaknya seorang raja. Ada juga Jayakatwang, pangeran Kadiri yang menyerang Singhasari. Menurut Pararaton , dia pernah menggubah sebuah kidung menjelang ajalnya dalam tawanan. Judulnya, Wukir Polaman. Apakah hasil karya mereka juga pantas ditempatkan dalam sastra Jawa Kuno? Menurut Zoetmulder ini masalah lain. Pasalnya, di antara syair-syair Jawa Kuno yang sampai pada masa kini tak ada satu pun yang menyebutkan seorang raja atau pangeran sebagai penciptanya. “Berlainan dengan sastra Jawa di kemudian hari, yaitu periode Surakarta (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 M, red . ), yang dapat menunjukkan raja-raja di antara para penyairnya, seperti Pakubuwono III dan IV,” jelas Zoetmulder. Bukan cuma bagi para pangeran dan raja. Kemampuan dan pengalaman dalam aneka cabang kesenian juga sangat dihargai untuk dimiliki para dayang yang melayani seorang putri raja. Dalam Sumanasantaka diketahui mereka diberikan penghargaan sesuai dengan kemajuannya. Bila mereka sampai pada tingkat seorang kawi dan mahir dalam setiap bentuk kegiatan artistik, mereka dihadiahi sebuah cincin. Kendati begitu, penggambaran seorang kawi atau penyair tak selalu positif. Itu terkait cap ketidaksetiaan yang melekat dalam diri seorang penyair. Mpu Tanakung dalam Wrttasancaya mengisahkan seorang penyair dan kekasihnya yang terpisah sementara karena sang penyair berkelana di tengah hutan untuk mencari ilham. Namun di sisi lain penyair itu disindir, bahwa keindahan seorang perempuan yang menyebabkan dia tak setia dan memikatnya sehingga dia jauh dari istrinya yang sah.

  • Kaiin Meregang Nyawa di Tangerang

    KAMPUNG Pangkalan, Teluk Naga, Tangerang ramai pada 10 Februari 1924. Hari itu, Kaiin Bapak Kayah –disebut demikian karena ayah Kaiin bernama Bapak Kayah– menggelar pesta sunatan anak tirinya. Tamu yang datang jumlahnya banyak, bukan hanya penduduk setempat atau orang kampung sebelah. Maklum, Kaiin merupakan tokoh yang dipandang di Pangkalan meski dia hanya petani. Pesta itu tak semata untuk merayakan sunatan anak tirinya, Kaiin menjadikan momen untuk menggalang massa. Di pesta itu pula Kaiin akan mengumumkan hal penting yang akan menentukan nasib penduduk setempat, yang umumnya miskin, dan orang-orang yang senasib. Merebut tanah “leluhur” Lahir tahun 1884 di Kampung Pangkalan, Kaiin datang dari keluarga biasa. Seperti umumnya anak-anak Betawi, penghuni mayoritas Pangkalan, saat kanak-kanak Kaiin belajar mengaji sekaligus main pukulan (baca: silat). Bocah pendiam itu merupakan anak yang taat kepada orangtuanya. Seperti lelaki sebaya di kampungnya, begitu beranjak dewasa Kaiin bertani. “Status petaninya sebagai bujang sawah (buruh) dan pernah menjadi petani bagi hasil,” tulis Suhartono W. Pranoto dalam Bandit-Bandit Pedesaan di Jawa: Studi Historis 1850-1942 . Dia tinggal di gubuk sederhananya yang didirikan di tanah sewaan kakaknya, Maiah. Berbeda dari kakaknya yang secara teratur membayar sewa tanah kepada sang pemilik Lie Kim Liong, Kaiin seringkali telat membayar kompenian , uang yang harus dibayar penduduk untuk membiayai ronda, perbaikan jalan, dan jembatan. Beruntung, Lie seorang yang baik dan dermawan sehingga Kaiin tak diusir. Kaiin dikenal saleh dan jago main pukulan. Seorang tuan tanah Tionghoa lalu mempekerjakan Kaiin jadi mandor di perkebunan miliknya. Namun, Kaiin yang amat muak pada ketidakadilan dan terobsesi menolong si lemah, tak tahan melihat pemerasan yang dilakukan tuan tanah sehingga mengundurkan diri. Kaiin kemudian merantau ke Teluk Naga dan bekerja sebagai pembantu polisi. Pekerjaan ini tak lama dijalaninya. Pada 1913, Kaiin merantau ke Batavia dan bekerja sebagai opas seorang komisaris polisi. Lantaran tak betah, Kaiin pulang ke Pangkalan. Dia kemudian menghidupi dirinya dengan menjadi pembantu seorang dalang di Mauk. Dari situlah Kaiin belajar mendalang hingga akhirnya berhasil menjadi dalang populer di daerah Kebayoran. “Saat menjadi dalang ini pola kehidupan Kaiin Bapak Kayah mengalami transformasi menjadi tokoh paham nativisme, terlebih setelah berguru kepada Sairin alias Bapak Cungok dari Cawang tentang elmu kawedukan dan elmu keslametan ,” tulis G.J. Nawi dalam Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi . Kaiin tak hanya belajar kepada seorang guru. Kyai Mohammad Santri di lereng Gunung Salak juga kerap dikunjunginya. Kaiin menganggap kyai itu bisa melindungi rencananya. Sebaliknya, sang kyai menganggap Kaiin sebagai jelmaan Pangeran Alibasah yang dipercaya sebagai pembebas atau imam mahdi. Penilaian sang guru menguatkan keyakinan Kaiin untuk mewujudkan gerakan merebut tanah-tanah yang dikuasai para tuan tanah Tionghoa dan mengembalikan ke para petani. Memanfaatkan popularitasnya, Kaiin lalu  menanamkan pemikirannya kepada teman-temannya agar mendukung gerakan merebut tanah Pangkalan. Tanah itu menurut Kaiin merupakan milik mereka yang diwariskan dari leluhur. Untuk itulah, tulis Suhartono, “pengikutnya harus mencari ilmu sakti dan kebal pada guru sakti dan keramat.” Berbeda dari pemikiran para pemimpin gerakan serupa, Kaiin tak anti-pemerintah. Gerakan untuk merebut tanah Pangkalan perlu bantuan petinggi pemerintah di Buitenzorg (kini Bogor), bila perlu dari ratu Belanda. Di tengah pergulatan batinnya, Kaiin melepas masa lajangnya dengan menikahi janda Tionghoa kaya, Tan Teng Nio pada 1922. Meski janda yang kemudian masuk Islam itu mencukupi kebutuhan materinya, hasrat Kaiin untuk membantu kaum tertindas dan merebut kembali tanah Pangkalan makin besar. “Setelah tahun 1922, ia berubah menjadi seorang pendiam dan serius. Tanah Pangkalan adalah milik mereka sejak leluhurnya, karena itu orang Cina harus diusir dan tanahnya dirampas,” tulis Suhartono. “Tanah-tanah perkebunan yang dikuasai para tuan tanah dari etnis Cina harus dikembalikan kepada para petani sebagai pemilik awal keturunan Pangeran Blorong dan Ibu Mas Kuning,” tulis GJ Nawi. Dalam sebuah pertunjukan wayang di Parangkurad, Kaiin yang membawakan lakon "Penggiring Sari" dan "Soklawijaya" mengalami trance di tengah pertunjukan. Di tengah ketidaksadarannya itu dia menyebut dirinya keturunan raja-raja Sunda dan akan dinobatkan sebagai Ratu Rabulalamin. Di waktu hampir bersamaan, Sairin guru Kaiin melakukan ziarah dan ritual dengan membagikan jimat serta ilmu kebal kepada para pengikut Kaiin. Kepada mereka Sairin memerintahkan agar mengenakan pakaian putih dan topi anyaman, bambu atau pandang, Tangerang ketika melakukan gerakan. Gerakan yang diimpikan Kaiin perencanaannya dimantapkan saat dia menyunatkan anaknya, 10 Februari 1924, di mana tamu yang hadir amat banyak dari bermacam tempat. “Kaiin Bapak Kayah mengusung pola gerakan yang memanfaatkan gerakan protes dan pertentangan golongan petani terhadap golongan tuan tanah,” lanjut GJ Nawi. Dalam rapat itu ditetapkan, gerakan akan dimulai pada Selasa, 19 Februari, dengan sasaran awal tanah partikelir Pangkalan. Kaiin di rapat itu juga mengumumkan akan menghapuskan cuke (pajak) dan kompenian bila berhasil menjadi raja di Pangkalan dan Tanah Melayu. Dia juga berjanji akan mengusir orang Tionghoa. “Yang berjanji akan pulang ke negerinya, dibebaskan,” tulis Suhartono. Maka ketika tanggal 19 Februari tiba, Kaiin dan 39 pengikutnya (empat di antaranya perempuan) yang berpakaian serba putih dengan membawa bermacam senjata pun bergerak menyerang rumah-rumah tuan tanah dan kantor Kongsi. Selain menghancurkan bangunan dan membakar arsip-arsip, mereka menangkap para tuan tanah Tionghoa. Seorang pemilik warung Tionghoa diancam dan seorang mandor Jawa diserang. Komplotan selanjutnya melanjutkan gerak-maju ke Tangerang untuk kemudian ke Buitenzorg. Sebelum ke Tangerang, mereka singgah ke rumah Asisten Wedana Teluk Naga R. Toewoeh. Kaiin memberitahukan niatnya hendak menyerang Batavia dan sebelum ke Batavia mereka memerlukan ke Buitenzorg menggunakan kereta api dari Tangerang untuk mendapatkan izin mengusir orang Tionghoa dari petinggi kolonial. “Ia harus pergi ke Bogor karena ayahnya, Prabu Siliwangi, telah mendatanginya dalam mimpi dan memintanya untuk naik ‘takhta’,” tulis Marieke Bloembergen dalam Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan . Toewoeh berusaha tenang menangani masalah itu. Sambil menunggu aparat keamanan tiba, dia mengulur waktu dengan mengajak Kaiin minum teh dan memberi mereka rokok. Sekira pukul 9.30, delapan agen polisi berkuda tiba di rumah itu. Dengan perlindugnan polisi bersenjata, kontrolir mencoba membujuk Kaiin agar mengurungkan niatnya. Upaya itu gagal. Pada tengah hari, Asisten Residen Van Helsdingen dan tiga mobil berisi rombongan pejabat kepolisian dan marsose tiba di lokasi. Keengganan Helsdingen menggunakan kekerasan membuat upaya penaklukan Kaiin berjalan lambat. “Setelah gagal memisahkan Kaiin dari rombongan pengikutnya, Van Helsdingen memutuskan untuk menjalankan tindakan alternatif, yaitu untuk membuat rombongan ini kelelahan dan mencari kesempatan terbaik untuk melucuti mereka tanpa kekerasan,” tulis Marieke. Para personil keamanan pun menyertai perjalanan komplotan Kaiin menuju Tangerang. Di dekat Tanah Tinggi, Helsdingen meminta Kaiin agar memerintahkan pengikutnya beristirahat di kebun kelapa di selatan jalan. Kaiin sendiri lalu ke mobil asisten residen yang diparkir di utara jalan. Di sana sudah menunggu Scheepmaker (komandan reserse) dan May yang sudah diplot akan melucuti Kaiin. Di antara mobil dan pengikut Kaiin, Kapten Marsose Reterink menempatkan pasukan Marsose dan Polisi Lapangan.   Belum lagi masuk ke mobil, Kaiin keburu ditangkap Scheepmaker dan May. Mengetahui hal itu, seorang perempuan pengikut Kaiin langsung melompat dan berteriak. Para pengikut Kaiin yang lain pun langsung bangkit dari duduk. Salvo tembakan dan tebasan kelewang dan beragam senjata tajam lain langsung meramaikan lokasi. Pertarungan tak imbang yang berjalan hanya sekira lima menit itu akhirnya mewaskan Kaiin dan 19 pengikutnya serta melukai 17 lainnya. Aparat kolonial menderita kerugian dua korban jiwa: Scheepmaker yang tewas tertebas senjata tajam di punggung, dan personil Polisi Lapangan Darsono.  Insiden tersebut mengguncang masyarakat maupun para pejabat di pemerintahan pusat. Sejumlah anggota Volksraad mengecam aparat keamanan dalam aksi berdarah tersebut. RAA Said mempertanyakan mengapa pejabat bumiputra tak diikutsertakan dalam penangangan peristiwa itu. Padahal, katanya, dengan pengetahuan dan kewibawaan atas masyarakat bumiputra, pejabat bumiputra dapat mencegah memburuknya situasi. “Kenyataan bahwa kemunculan pergerakan ini tidak dapat dicegah oleh Polisi Lapangan Tangerang padahal mereka melakukan patroli harian secara rutin menunjukkan bahwa kinerja kepolisian modern sebagai sarana beradab dan seharusnya efisien sangatlah buruk,” tulis Marieke.

  • Ulah Sukarno Pasca Dibui

    SETELAH bebas dari penjara, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) dikabarkan rehat dari panggung politik. Ada yang bilang, mantan gubernur DKI Jakarta ini kembali pada profesi lamanya, yakni pengusaha. BTP juga disebut-sebut akan mencoba peruntungan baru di dunia hiburan dengan membuat gelar wicara bertajuk “BTP Show” sekaligus menjadi seorang video blogger. Namun yang menjadi perbincangan banyak orang adalah kabar seputar rencana BTP untuk menikah lagi pada 15 Februari mendatang.

  • Resep Sebuah Pengalaman

    KLINIK Tong Fang pernah menjadi topik pembicaraan dan bahan guyonan di dunia maya. Namun, jangan tertawa dulu. Klinik pengobatan ala Tiongkok ini bukanlah fenomena kemarin sore. Ia sudah eksis sedari dulu. Dokumentasi pertama pengobatan tradisional Tiongkok tertulis pada kitab Huangdi Neijing atau Pertanyaan Dasar mengenai Penyakit Dalam. Ada beragam pendapat tentang asal buku ini, antara 200 dan 800 SM. Namun yang jelas, ia kemudian jadi pedoman dan rujukan pengobatan, termasuk ramuan dan akupunktur. Teknik pengobatan ini terbawa ke Nusantara bersama gelombang kedatangan imigran Tiongkok yang kemudian tinggal, menetap, dan berbaur dengan penduduk. Umumnya bahan yang digunakan berasal dari Tiongkok, kendati tak jarang pula dicampur dengan bahan lokal. Sebaliknya, bahan-bahan dan tekniknya mempengaruhi pengobatan tradisional di Indonesia. Menurut Liesbeth Hesselink dalam Healers on The Colonial Market , karena pembatasan yang ketat di masa kolonial, orang-orang Tionghoa memiliki fasilitas medis sendiri: sinse, apotek, dan rumah sakit. Dokter-dokter Eropa tak mengakui keberadaan mereka, kendati diam-diam mencoba mempelajari dan menerapkan untuk pasiennya.  Sementara para sinse selalu merahasiakan resep mereka; kadang mereka mau menjual dengan harga mahal, kadang tidak. Terjadilah persaingan. Tak jarang ada sinse yang menipu demi mendapatkan banyak uang. Ada pula yang gagal mengobati pasien. Namun banyak pula yang ikut berperan dalam memerangi beragam penyakit kala itu. Pengobatan tradisional ini mampu melewati waktu, hingga kini. Beberapa kampus mulai mempelajarinya, terutama akupunktur.

  • Bonnie dan Clyde, Pasangan Kriminal Kharismatik

    SEPASANG suami-istri terpidana kasus terorisme di Australia, Sameh Bayda dan Alo-Bridget Namoa, akan dibebaskan bersyarat oleh Mahkamah Agung Negara Bagian New South Wales (MA NSW), Australia. Keduanya pernah dengan bangga menyebut diri mereka sebagai Bonnie dan Clyde-nya muslim. Tiga tahun lalu, pasutri muda itu ditangkap Kepolisian Sydney lantaran merencanakan serangan teror di malam pergantian tahun 2016 walau akhirnya urung dilakoni. Keduanya juga terbukti memiliki dokumen berbahasa Arab terkait pembuatan bom dan kepemilikan bendera ISIS. Bayda dan Namoa baru divonis pada Oktober 2018. Bayda divonis empat tahun penjara dipotong masa tahanan dan Namoa tiga tahun sembilan bulan penjara dipotong masa tahanan. Lantaran masa tahanan non-pembebasan bersyaratnya sudah kadaluarsa sejak 25 Januari 2019, MA NSW memperbolehkan keduanya dibebaskan bersyarat. Sameh Bayda & Alo-Bridget Namoa yang menjuluki diri mereka sendiri sebagai Bonnie dan Clyde-nya muslim (abc.net/facebook). Dikutip dari kantor berita ABC , Kamis (31/1/2019), Hakim Des Fagan menyatakan sejak di masa tahanan, keduanya juga sudah mulai direhabilitasi. Semenjak Desember 2018 Namoa sudah tak lagi berhijab, bahkan sudah beralih kepercayaan dari Islam ke Kristen. Dia tak lagi fanatik dan membanggakan diri bahwa dia dan suaminya ibarat Bonnie dan Clyde versi muslim. Meski membanggakan diri dengan menganalogikan sebagai Bonnie dan Clyde versi muslim bukan perbuatan melawan hukum, Bayda dan Namoa terlalu jauh jika dibandingkan dengan Bonnie dan Clyde, sepasang kriminal paling ternama dalam sejarah di Amerika Serikat (AS). Satu contoh, Bonnie dan Clyde tak pernah melakoni kejahatan atas nama agama. Siapa Bonnie dan Clyde? Lahir di Rowena, Texas, AS pada 1 Oktober 1910, Bonnie Elizabeth Parker sudah jadi anak yatim sejak usia empat tahun. Bonnie kecil hidup sederhana. Ibunya, Emma Krause-Parker, menghidupi diri dan anaknya dengan menjadi tukang jahit. John Neal Phillips dalam Running with Bonnie & Clyde: The Ten Fast Years of Ralph Fults menulis, Bonnie menikah di usia 15 tahun, dengan Roy Thornton. Tapi tak lama setelah pernikahan itu, sang suami dipenjara lantaran kasus pembunuhan. Sejak Januari 1929, Bonnie dan Roy berpisah walau tak pernah bercerai. Bonnie memilih kembali tinggal dengan ibunya. Clyde Chestnut (Champion) Barrow & Bonnie Elizabeth Parker. (US Library of Congress). Awalnya, Bonnie punya pekerjaan normal, sebagai pelayan sebuah kafe di Dallas, Texas. Hidupnya segera berubah saat bersua Clyde Chesnut Barrow (di dokumen FBI ditulis Clyde Champion Barrow) setahun berselang. Clyde merupakan pria kelahiran Ellis County, Texas pada 24 Maret 1909. Anak kelima dari tujuh bersaudara itu berasal dari keluarga miskin. Sejak belia, Clyde sudah jadi kriminal. Pada 1926, Clyde bersama saudaranya, Buck Barrow, ditahan Kepolisian West Dallas setelah mencuri beberapa kalkun. Aksi kriminal pertama Clyde itu membuatnya dipenjara beberapa minggu. Namun alih-alih insyaf, Clyde justru lebih penasaran untuk kembali jadi maling. Sepanjang 1928-1929, berulang-kali Clyde keluar-masuk penjara sampai akhirnya dibui di penjara berkeamanan medium, Eastham Prison Farm, pada April 1930. Bersatu dalam kriminalitas Kendati banyak versi mengenai kapan dan di mana Bonnie dan Clyde pertamakali bersua, yang paling dipercaya adalah memoar keluarga yang ditulis Emma Krause-Parker, Nell Barrow Cowan, dan Jan I. Fortune, The True Story of Bonnie and Clyde. Memoar itu menyebutkan, Bonnie dan Clyde pertama bertemu pada 5 Januari 1930 di rumah Clarence Clay, salah satu teman Clyde di West Dallas. Bonnie saat itu sedang di sana untuk membantu merawat temannya yang juga istri Clay, pasca-mengalami patah tulang tangan. Sejak itu, keduanya saling suka kendati Bonnie masih berstatus istri orang. Sayang, cinta mereka kembali dipisahkan oleh jeruji besi. Clyde meringkuk di penjara lantaran terlibat pencurian. Sempat kabur dari penjara pada 11 Maret 1930 berbekal senjata yang diselundupkan Bonnie, Clyde tertangkap lagi sepekan kemudian dan dikirim ke Penjara Eastham Prison Farm yang terkenal brutal. Di Eastham, medio April 1930, Clyde tercatat melakukan pembunuhan pertama. Menggunakan potongan pipa, Clyde membunuh seorang tahanan lain yang acap melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Pun begitu, Clyde tak mendapat hukuman tambahan. Sementara, demi menghindari kerja paksa di ladang, Clyde meminta rekan tahanan lain untuk membacok dua jari kakinya menggunakan kapak. Upayanya berhasil, tapi seumur hidup Clyde mengalami kepincangan. Meski divonis awal empat tahun, pada Februari 1932 Clyde sudah bebas bersyarat. Tapi bukannya tobat, Clyde berulah lagi jadi perampok. Tidak hanya mengajak geng-nya (Ray Hamilton, W. D. Jones, Buck Barrow, Blance Barrow, Henry Methvin), Clyde juga mengajak Bonnie. Medio Maret 1932 jadi “debut” Bonnie ikut aksi perampokan Clyde dkk ke sebuah toko di Kaufman, Texas. Sayang, upaya itu sedikit kacau dan Bonnie tertinggal sehingga ditahan polisi walau akhirnya dilepaskan karena tak cukup bukti. Sejak itu, Bonnie senantiasa ikut Clyde dalam beragam aksi perampokan dengan kekerasan. Tidak hanya di Texas, perampokan mereka sampai ke Minnesota, Indiana, hingga Louisiana. Catatan FBI bernomor: I.C. #26-31672 (Biro Penyelidikan Federal AS) tertanggal 14 Desember 1934 menyatakan, setidaknya geng Bonnie dan Clyde membunuh 13 orang dalam serangkaian aksi perampokan dan penculikan mereka. Perburuan oleh FBI baru menemui titik terang pada 21 Mei 1934, saat FBI bersama sejumlah polisi Louisiana dan Texas mengetahui tempat persembunyian Bonnie dan Clyde di Black Lake, Louisiana. Meski begitu, mereka baru berhasil menyergap Bonnie dan Clyde pada 23 Mei 1934. Mobil Bonnie & Clyde yang penuh bekas tembakan jadi tontonan masyarakat setempat. (fbi.gov). “Barisan pagar betis polisi dari Louisiana dan Texas, termasuk seorang Texas Ranger, Frank Hamer, bersembunyi di semak-semak di sebuah jalan dekat Sailes, Louisiana, sejak dini hari 23 Mei 1934. Bonnie dan Clyde baru muncul dengan mobil pagi harinya. Saat mencoba kabur, para polisi membuka tembakan. Bonnie dan Clyde tewas di tempat,” demikian dimuat sebuah dokumen FBI. Teror perampokan geng Bonnie dan Clyde pun berakhir. Kendati begitu, kisah cinta berkalang kriminal mereka justru sohor, sampai beberapa kali diangkat ke layar lebar: The Bonnie Parker Story (1958), Bonnie and Clyde (1967), Bonnie and Clyde vs Dracula (2008). Kisah mereka juga diangkat ke pentas teater dan miniseri sejarah di Gibsland, Louisana, acap digelar The Bonnie and Clyde Festival.

  • Enam Nomor yang Dipensiunkan di Lintasan

    NICKY Hayden memang tak menjalani masa-masa akhir kariernya di MotoGP sebagaimana pembalap pada umumnya lantaran ajal keburu menjemputnya. Namun, bukan berarti pentas balapan kuda besi paling populer itu tak menganggapnya sebagai legenda. Pihak MotoGP akan memensiunkan nomor keramatnya, 69, untuk menghormati mendiang racer asal Amerika Serikat itu. “Hayden salah satu aset terbesar di paddock (MotoGP) dan teladan yang fantastis sebagai seorang pembalap, baik di dalam maupun di luar lintasan. Suatu keistimewaan buat saya menghormati warisannya dan memastikan nomor 69 tetap milik seorang legenda dan seorang juara,” tutur Carmelo Ezpeleta, bos Dorna Sports yang menaungi MotoGP, sebagaimana dimuat situs resmi MotoGP, 26 Januari 2019. Secara resmi, penghormatan itu akan dihelat berbarengan dengan seri ketiga musim 2019 di Sirkuit Red Bull Grand Prix of The Americas, Austin, Texas, 14 April 2019 mendatang. Earl Hayden sang ayah tersanjung mengetahui mendiang putranya akan dihormati di negerinya. “Untuk saya pribadi, penghormatan ini begitu spesial karena nomor 69 juga pernah saya pakai saat masih balapan dulu dan saya bangga Nicky memakainya ketika ia juga balapan. Atas nama keluarga, saya sangat berterimakasih pada Dorna yang menghormati Nicky dengan cara istimewa ini,” ujar Earl Hayden. Nicky yang lahir di Owensboro, Kentucky, pada 30 Juli 1981, berasal dari keluarga pembalap. Puncak prestasi dipetik Nicky di musim 2006 bersama tim Repsol Honda, dia tampil cemerlang sepanjang musim dan menutupnya dengan gelar juara MotoGP. Satu dekade berselang jadi momen terakhir pembalap berjuluk “The Kentucky Kid” itu di MotoGP, karena dia pindah ke pentas Superbike. Namun tragis, pada 17 Mei 2017, Hayden ditabrak mobil saat sedang bersepeda dekat Kota Rimini, Italia. Meski dirawat intensif di Rumah Sakit Maurizio Bufalini, Cesena, Hayden meninggal pada 22 Mei 2017, di usia 35 tahun. Sosoknya dihormati lantaran prestasi dan perangainya. Hayden tak pernah tersandung skandal. Dia dianggap para pesaingnya sebagai pembalap paling ramah dan rendah hati. Tak heran, sosoknya sangat dihormati dan nomor keramatnya akan dipensiunkan sebagaimana lima legenda MotoGP lain. Berikut mereka yang nomornya diabadikan: Kevin Schwantz – #34 Kevin Schwantz saat merayakan gelar juara MotoGP 1993 (Foto: motogp.com) Di era 1980-an, MotoGP “diinvasi” para pembalap Amerika Serikat. Satu di antaranya Kevin Schwantz yang kini dianggap salah satu legenda hidup paling dihormati di MotoGP. Di awal 1990-an, pembalap tim Lucky Strike Suzuki itu acap terlibat perseteruan sengit di lintasan dengan sesama racer AS, Wayne Rainey dari tim Marlboro Yamaha. “Keseruan persaingan mereka berakhir setelah Rainey kecelakaan di Misano, GP Italia 1993,” tulis Jeffrey Zuehlke dalam Motorcycle Road Racing . Schwantz yang sepanjang kiprahnya dijuluki “The Texan Lion”, mengukir klimaks kariernya di MotoGP musim 1993 dengan merebut titel juara dunia kelas 500cc. Schwantz pensiun dua tahun berselang, pasca-serangkaian kecelakaan pada 1994 hingga awal 1995. Majalah American Motorcyclist edisi Maret 1996 menulis, pada gelaran FIM Prize Giving Ceremony, medio Februari 1996, Schwantz dianugerahi FIM Motorcycle Merit Silver Medal. Penganugerahan itu sekaligus meresmikan pensiunnya nomor 34 yang –berasal dari nomor keramat pamannya, Darryl Hurst, eks pembalap motor dirt-track– selalu dipakai Schwantz saat balapan. Loris Capirossi – #65 Loris Capirossi saat menunggangi motor tim Ducati Marlboro (Foto: motogp.com) Kendati namanya tak sementereng Randy Mamola, Max Biaggi, atau Valentino Rossi, Capirossi merupakan satu dari skrup penting roda perubahan yang terjadi di MotoGP. Sejak debutnya di MotoGP (kelas 125cc) pada 1990 hingga pensiun di kelas 500cc pada 2011, pembalap berjuluk “Capirex” itu sudah mencicipi lima motor berbeda: Honda, Yamaha, Aprilia, Ducati, dan Suzuki. Kendati bergonta-ganti motor, nomor yang digunakannya tetap 65. “Saat saya mulai balapan, otoritas (FIM/Federasi Balapan Internasional) memberi saya nomor 65 dan saya langsung menang di balapan perdana saya. Semenjak itu nomor itu tak pernah saya ganti,” ujar Capirossi saat diwawancara motorsport.com . Sepanjang kariernya di MotoGP, Capirossi memenangi 29 dari 328 seri yang dijalaninya. Dua kali ia juara dunia MotoGP kelas 125cc (1990, 1991), sekali juara kelas 250cc (1998), dan dua kali juara tiga kelas teratas MotoGP. Capirossi pensiun pada 2011. MotoGP lantas memensiunkan nomornya, 65. Setelah pensiun, Capirossi langsung digandeng otoritas MotoGP (FIM dan Dorna Sports) untuk dijadikan anggota panel Race Direction dan penasihat keselamatan balapan. Daijiro Kato – #74 Daijiro Kato, rising star Jepang yang tragisnya meninggal di usia muda (Foto: motogp.com) Dari sekian pembalap MotoGP asal Jepang, nama Daijiro Kato jadi satu yang paling dihormati. Kato memulai balapan profesionalnya pada 1993 di All Kyushu Area Championship. Bakat dan kerja keras membawa racer kelahiran Saitama, 4 Juli 1976 itu ke MotoGP pada 1996 di mana dia bergabung dengan tim Honda di kelas 250cc. Musim 2001 jadi momen terbaiknya, Kato juara dunia kelas 250cc dan semusim berselang promosi ke kelas 500cc. Tapi malang buat Kato kala baru menjalani seri pertama musim 2003, di GP Jepang yang dihelat di Sirkuit Suzuka pada 6 April. Kato, menurut laporan Daijiro Kato Accident Investigation Committee yang dirilis November 2003, kehilangan kendali atas motornya di lap ketiga hingga menabrak dinding pembatas. Tubuhnya terpental dan mendarat dengan wajah menghantam aspal. Meski sudah dirawat intensif di Mie Prefectural General Medical Center, nyawa Kato tak tertolong dan dinyatakan meninggal pada 20 April 2003. Untuk menghormatinya, FIM memensiunkan nomor 74 dan dilarang dipakai pembalap di kelas manapun. Shoya Tomizawa – #48 Shoya Tomizawa yang sempat punya prospek cerah, namun ironisnya bak bunga yang gugur sebelum berkembang (Foto: motogp.com) Namanya masuk buku sejarah MotoGP sebagai pemilik pole position pertama dan peraih podium tertinggi Moto2 pada seri pertama GP Qatar yang digelar di Sirkuit Losail, 11 April 2010. Momen itu menandai diluncurkannya kelas Moto2 sebagai pengganti kelas 250cc dan Moto3 sebagai pengganti kelas 125cc di MotoGP. Ironisnya, beberapa bulan setelah itu Tomizawa mengalami kecelakaan hebat di lap ke-12 saat mengikuti GP San Marino di Sirkuit Misano pada 5 September 2010. Menukil Moto Matters , 5 September 2010, Tomizawa yang tergelincir dari trek dan terhantam motor Alex de Angelis dan Scott Redding yang tak mampu menghindar. Tomizawa dilarikan ke rumah sakit di Riccione, namun nyawanya tak tertolong dan dinyatakan tewas di hari yang sama. Segenap stakeholder MotoGP berduka untuk racer tim Suter Technomag-CIP berusia 19 tahun itu. Dua pekan berselang di GP Aragón, dihelat hening cipta untuk mengenangnya. FIM dan Dorna juga memensiunkan nomor 48 khusus di kelas Moto2. Di akhir musim 2010, semua pembalap mem- voting nama Tomizawa sebagai pemilik Trofi Michel Métraux, penghargaan yang diberikan setahun sekali untuk pembalap terbaik Moto2. Redding mengenang sosoknya dengan membuat tato nomor 48. “Ini nomor miliknya (Tomizawa), jadi kami akan selalu bersama melaju ke arah yang sama. Dia bersama saya, mendukung saya dan kami akan selalu balapan bersama,” ujar Redding, dikutip Reuters , 27 Maret 2014. Marco Simoncelli – #58 Marco Simoncelli sempat digadang jadi penerus Valentino Rossi (Foto: motogp.com) Selain nyentrik, Marco Simoncelli punya bakat menjanjikan. Pembalap berambut kribo itu digadang-gadang sebagai pengganti Valentino Rossi. Nahas, pembalap yang sering nekat saat bermanuver di lintasan itu justru keburu tewas di usia muda, 24 tahun. “Super Sic”, julukan SImoncelli, tewas di Sirkuit Sepang saat GP Malaysia, 23 Oktober 2011. Tragedi itu bikin geger. Ucapan duka juga mengalir dari gelanggang Formula One hingga arena sepakbola Serie A Italia. Pembalap tim San Carlo Honda Gresini bernomor 58 itu tergelincir di lap kedua, kepala dan tubuhnya terhantam motor Rossi dan Colin Edwards. Race Direction di situs MotoGP, 24 Oktober 2011, menyatakan nyawa Simoncelli tak tertolong meski sudah dilakukan beragam upaya selama 45 menit di klinik Sirkuit Sepang. “Ia mengalami trauma hebat di bagian kepala, leher, dan dada. Kami harus menyatakan ia tewas pada pukul 16.56,” kata Michele Macchiagodena, anggota tim dokter FIM. Untuk menghormatinya, Dorna Sports memensiunkan nomor 58 khusus di kelas MotoGP, medio September 2016, atau lima tahun setelah peresmian pengabadian nama Simoncelli di Sirkuit Misano menjadi Misano World Circuit Marco Simoncelli. “Nomor ini (58) mulai sekarang milik keluarga Simoncelli. Kami tidak akan menggunakannya untuk siapapun, kecuali keluarga memutuskan seseorang diberi keistimewaan menggunakan nomor ini,” ujar Carmelo Ezpeleta, CEO Dorna Sports, dikutip Fox Sports , 9 September 2016.

  • Keributan di Kongres Perempuan

    MARIA Ullfah, perempuan Indonesia pertama yang jadi menteri sosial, tak pernah lupa perdebatan sengit yang mewarnai Kongres Perempuan Indonesia (KPI) II di Jakarta, Juli 1935. Perdebatan itu dipicu oleh silang pendapat antara pihak pro poligini dan pihak anti poligini. “Wah, itu ramai sekali. Istri Sedar kan fanatik menentang poligini, baru belakangan akhirnya mau ikut kongres. Tapi di kongres itu ada juga Ratna Sari dari organisasi wanita Islam yang jadi pembicara. Jadi ini kesalahan panitia yang mengatur pembicara,” kata Maria Ullfah dalam rekaman arsip sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia. Ratna Sari merupakan wakil dari organisasi perempuan sayap Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang menjadi pembicara dalam kongres tersebut. Dalam pidatonya yang berapi-api, dia menjelaskan tentang poligini dan kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan Islam dari sudut pandang yang ortodoks. Ratna, tulis Gadis Rasyid dalam Maria Ullfah Pembela Kaumnya , seolah-olah mendukung poligini dan menganjurkan perempuan untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Pidato Ratna kontan membuat panas suasana kongres. Suwarni Pringgodigdo, pemimpin Istri Sedar dan wakil pemimpin kongres, marah karena isi ceramah Ratna sangat bertentangan dengan pendirian organisasinya. Istri Sedar mulanya enggan bergabung dengan KPI lantaran terlalu beragamnya pandangan dalam KPI akan menyulitkan gerakan perempuan sendiri. Atas desakan Sri Wulandari (Nyonya Mangunsarkoro), pemimpin KPI II, Istri Sedar akhirnya mau hadir dalam kongres. Suwarni bahkan duduk sebagai wakil pemimpin kongres. Maka begitu Suwarni mendapat gilran pidato, dia langsung mendebat pernyataan Ratna. Menurutnya praktik poligini sangat merendahkan perempuan. “Kaum laki-laki tindak-tanduknya seperti ayam jago,” kata Suwarni menggambarkan tindak-tanduk lelaki yang beristri banyak. Ucapan itu membuat beberapa lelaki yang menghadiri kongres menanggapinya dengan serentak berteriak “Kukuruyuuk!” tiap Suwarni mengatakan ayam jago. Alhasil, suasana makin ribut dan kacau karena peserta perempuan tak bisa menahan tawa. Melihat beberapa peserta kongres riuh menirukan suara ayam sambil tertawa, Suwarni merasa diledek. Dia tak terima. Di akhir pidato, Suwarni menyatakan Istri Sedar keluar dari KPI. Pemimpin kongres Sri Wulandari pun berusaha menenangkan peserta yang kadung panas. Maria Ullfah yang duduk sebagai penasihat kongres mengusulkan agar prasaran dari Ratna Sari tidak dibahas lagi. “Lebih baik tidak dibahas lagi dan jangan ambil keputusan. Lagipula kalau kita ambil keputusan dan terjadi perpecahan, Belanda akan senang,” kata Maria Ullfah. KPI II kemudian menganjurkan para anggotanya memperlajari hukum perkawinan dan lebih banyak membahas tentang nasib buruh perempuan dan angka buta huruf. Mereka mengeluarkan program untuk menyelidiki kesejahteraan buruh perempuan lewat Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan Indonesia (BPPPI). Sementara untuk pengentasan buta huruf, ditargetkan bisa mengajari baca-tulis-hitung pada 5000 perempuan dewasa dalam tiga tahun. Masalah poligini dan hak perempuan dalam pernikahan dibahas mendalam di luar kongres untuk menghindari kericuhan. Masalah perkawinan yang dibahas antara lain ketiadaan hak dan jaminan keselamatan bagi perempuan dalam ruang paling privatnya. Tidak adanya pencatatan pernikahan membuat perempuan tidak bisa menuntut haknya. Perempuan yang ditinggal pergi suaminya untuk kemudian menikah lagi dengan perempuan baru menjadi hal yang jamak ditemui saat itu. Mbok Iman (Darsiyah), misalnya. Perempuan asal Yogyakarta ini ditinggal kabur suaminya yang pamit untuk berperang saat revolusi. Alih-alih benar-benar terjun ke medan tempur, si suami rupanya malah menikah lagi dengan perempuan di desa sebelah sampai mempunyai dua anak. Galuh Ambar Sasi dalam Gelora di Tanah Raja menyebut, hati Mbok Iman hancur, menuntut pun tak bisa sebab tak ada pencatatan perkawinan. Mbok Iman hanya satu dari sekian perempuan yang bernasib buruk dalam perkawinan. Padahal, itu bukan satu-satunya masalah. Di lapangan, masalah jauh lebih banyak, seperti poligini sewenang-wenang, talak yang hanya bisa dijatuhkan oleh lelaki sementara perempuan tidak bisa menolaknya, belum lagi masalah perkawinan anak dan perkawinan paksa. Dua tahun setelah KPI II, para perempuan mendirikan Komite Perlindungan Kaum Perempuan dan Anak-anak (KPKPAI) yang diketuai Sri Wulandari. KPKPAI bertugas menyosialisasikan penghapusan perkawinan anak dan perkawinan paksa. Mereka juga mengajukan tuntutan pada Raad Agama agar para penghulu menolak menikahkan anak di bawah umur. Di bawah KPKPAI, menurut buku Sejarah Setengah Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, dibentuk pula Biro Konsultasi yang diketuai Maria Ullfah. Tugas Biro Konsultasi selain mempelajari hukum perkawinan Islam, Kristen, dan agama-agama lain adalah menerima keluhan dari para perempuan dalam perkawinan. Mayoritas pengadu ingin cerai lantaran dimadu dan meminta Biro Konsultasi untuk membantu mengurus prosesnya. Meski kegiatan Biro Konsultasi tidak mendapat protes dari gerakan perempuan Islam, kegiatannya tak disenangi para ulama. Pasalnya, penghasilan ulama kala itu datang dari mengurusi kawin-cerai, bukan gaji bulanan. “Para anggota Raad Agama sebetulnya tak begitu senang…. Dengan segala macam sikap mereka memperlihatkan ketidaksenangannya dan membikin Maria Ullfah sebal dan sakit hati,” tulis Gadis Rasyid.

  • Sang Orator Keluar dari Penjara

    BASUKI Tjahaja Purnama (BTP) akhirnya bebas setelah menjalani masa kurungan penjara dua tahun. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini jadi terhukum karena didakwa melakukan penistaan agama. Kebebasan BTP disambut sukacita oleh para pendukungnya. Namun dari sekian banyak yang menanti kebebasan BTP, tak tampak sang istri Veronica Tan. Keduanya memutuskan bercerai ketika BTP masih dalam penjara.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page