top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Panji di Thailand

    SEJAK pertengahan abad 17 hingga awal abad 18, Kerajaan Ayutthaya di Thailand melakukan perdagangan dengan Jawa. Beras diekspor dari Thailand. Sementara secara reguler, kuda dibeli dari Jawa. Komunitas Jawa pun terbentuk di sana. Di Thailand, Kisah Panji pertama kali disusun oleh dua putri Raja Borommakot (1733-1758) dari Ayutthaya. Kedua putri itu mendapatkan Kisah Panji versi Jawa lewat pelayan mereka yang berasal dari tanah Melayu. Masing-masing putri kemudian menyusun cerita versi mereka sendiri ke dalam dua bentuk yang digunakan untuk drama tari, yaitu  Dalang  dan  Inao . “Kisahnya (Panji, red. ) hampir berkompetisi dengan kisah Ramayana . Adegan percintaan selalu lebih menarik dibanding adegan peperangan melawan kera dan raksasa,” kata Rujaya Abhakorn, direktur Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Archaeology and Fine Arts (SEAMEO SPAFA), dalam Seminar Internasional Panji/Inao, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta. Raja Rama I (1782-1809) dari Dinasti Chakri kemudian merevisi cerita  Dalang . Sementara putranya, Rama II (1809-1824) mempopulerkan cerita  Inao.  “Kelangsungan hidup dan ekspansi Kisah Panji berutang kepada raja-raja Thailand,” lanjut Rujaya. Inao kemudian lebih populer dibanding  Dalang  bahkan dianggap sebagai karya agung puisi Thailand, terutama sebagai teks  lakon  (sendratari). Rujaya mengatakan saat ini di Perpustakaan Nasional Thailand ada lebih dari 500 manuskrip yang berkaitan dengan kisah  Inao . Sementara yang berkaitan dengan  Dalang  hanya 140 manuskrip. “Menurut para peneliti di Thailand, teks  Hikayat Panji Semirang  adalah sumber dari kisah  Dalang, ” katanya. Thaneerat Jatuthasri, peneliti dari Chulalongkorn University menambahkan, Kisah Panji versi Thailand kian populer sebagai pementasan Lakhon Nai, yaitu tarian hiburan di istana yang umumnya ditampilkan oleh penari perempuan. Tariannya berdasarkan empat cerita  Ramakien, Unarut, Dalang,  dan  Inao, yang terdiri dari musik, tari, dan drama. Narasinya dinyanyikan dengan lagu tradisional. “Beberapa peneliti Thailand menduga kata ‘Lakhon’ juga pengaruh Jawa dari kata ‘Lakon’ dalam istilah pewayangan atau sendratari,” kata Thaneerat.  Thaneerat menjelaskan masa keemasan Lakhon Nai Inao pada era Rama II. Sang raja memilih Kisah Panji karena plot dan temanya dapat diterima secara universal. Potret dua tokoh utamanya pun cocok dengan tradisi Lakhon Nai.  Inao  telah menjadi inspirasi terciptanya banyak karya sastra dan seni. Dalam penyajiannya, plot dan cerita  Inao  tak beda jauh dengan Kisah Panji Jawa. Hanya saja, pasangan Inao di sana bernama Butsaba.  Lydia Kieven, peneliti Kisah Panji dari Jerman, menjelaskan Butsaba mengandung unsur Busba yang berasal dari kata Sansekerta “puspa”.  “Puspa berarti bunga atau sekar dalam istilah Jawa. Di Jawa kita kenal tokoh pahlawan Kisah Panji bernama Sekar Taji,” kata Lydia.  Karakter Inao juga sama dengan Kisah Panji: tokoh heroik tampan sempurna, ksatria besar, menarik di hadapan perempuan, dan petualang. Dalam penyamarannya dia dikenal sebagai Panyi.  Beberapa aspek budaya Jawa lainnya yang ada dalam Kisah Panji Thailand yaitu ritual di gunung suci, ritual bela atau sati, kebiasaan tokoh menggunakan keris, sabuk, menonton wayang, dan penggunaan istilah-istilah Jawa.  Di Thailand, Kisah Panji juga diwujudkan dalam lukisan mural di kuil Buddhis abad 19 di Bangkok. Lukisan itu merefleksikan cinta Raja Rama IV kepada istri pertamanya, Ratu Somanat yang meninggal setelah melahirkan pada 1852. Isinya adalah adegan populer dari versi  Inao  Rama II yang dipentaskan di istana. “Mungkin ini (lukisan Panji, red .) menjadi satu-satunya di kawasan Asia,” kata Rujaya. Secara umum, Kisah Panji mudah diterima di Thailand karena berisi banyak upacara dan ritual yang merefleksikan kehidupan nyata. Kisahnya juga relevan dengan kehidupan istana khususnya tentang tradisi kremasi dan upacara pernikahan kerajaan. Namun, Kisah Panji tetaplah berkaitan dengan mitologi Jawa dan sejarah yang tidak dikenali Kerajaan Thailand pada abad 18. Ia muncul dari konteks budaya Jawa yang berbeda dengan dunia Hindu-Buddha di Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja, atau pun dunia Islam-Melayu, di mana ada batas penerimaan perilaku dari karakter utama Kisah Panji. “Karena tidak memahami tradisi Jawa, Panji dalam dunia Hindu-Buddha mungkin hanya dianggap sebagai figur menarik yang punya kecakapan duniawi,” kata Rujaya. Kisah Panji di Kamboja dan Myanmar Thailand bukanlah satu-satunya yang mengadopsi Kisah Panji. Dalam Kisah Panji versi Kamboja dikenal Inav-Panyi. “Peneliti Thailand menduga Kisah Panji versi Kamboja yang ditemukan di Thailand dan di Prancis mungkin adalah hasil terjemahan dari teks  Inao  milik Raja Rama II,” kata Rujaya. Namun, masyarakat Kamboja banyak yang percaya bahwa Inav dibawa dari wilayah Arab. “Ada kecenderungan umum untuk mengelompokkan Jawa dan Arab dalam konteks Muslim yang lebih umum, sama seperti orang menuding apapun yang dari Barat, asalnya dari Prancis,” kata Rujaya.  Anggapan itu, kata Lydia Kieven, datang dari interpretasi berdasarkan toponimi dalam Kisah Panji. “Sebagian memang ada yang menginterpretasi nama tempat di Kisah Panji itu merujuk pada daerah di Timur Tengah, seperti Daha, pernah dianggap sebagai Doha,” ujarnya. Sejak keruntuhan Ayutthaya pada 1767, setidaknya 12 judul teks lakon, termasuk  Inao , dibawa ke Myanmar. Teks itu diterjemahkan ke dalam bahasa Myanmar oleh tawanan Thailand yang bekerja untuk penyair dan dramawan istana di Myanmar. Sebelum Mindon, raja Burma (1853-1878), teater  Inao  di istana berkembang menjadi lebih dari 200 pementasan. Namun, Raja Mindon yang taat kepada Buddha, tidak begitu menyukai Kisah Panji karena tema percintaannya. Dia lebih mendukung pagelaran Ramayana .  “Dalam tradisi Buddha, obsesi cinta, sama seperti semua nafsu, merupakan kebodohan yang akan membawa kepada penderitaan,” kata Rujaya.  Sayangnya, setelah pendudukan Inggris di Myanmar dan runtuhnya sistem monarki pada 1885, Kisah Panji dilupakan hingga kini.

  • Proses Lahirnya Konsep Pengembangan Jabotabek

    TIM perancang Rencana Induk Jakarta ( Master Plan ) 1965-1985 merampungkan pekerjaannya pada akhir 1965. Mereka serahkan Rencana Induk ke Gubernur Soemarno. Tapi Soemarno tak bisa langsung menggarapnya karena belum disahkan DPRD Jakarta. Sebab, Jakarta lagi riuh oleh Peristiwa G30S. Ali Sadikin naik jadi gubernur di tengah situasi kacau Jakarta oleh demo-demo mahasiswa anti-Sukarno pada April 1966. Sejak awal menjadi gubernur, dia telah menekankan bahwa pemerintah daerah harus punya pedoman besar untuk memperbaiki, membangun, dan mengembangkan sebuah kota. Pedoman itu berupa Rencana Induk yang memuat rencana peruntukan tanah dan ruang. Kehadiran Rencana Induk diharapkan dapat menyambung hidup warga kota dan menjaga lingkungan kota dari pertumbuhan di luar kendali. “Landasan ini diwujudkan dengan diajukannya Rencana Induk Kota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong pada saat itu untuk disahkan,” ungkap Ali Sadikin dalam Gita Jaya , laporan pertanggungjawabannya sebagai gubernur Jakarta. Hari untuk melaksanakan Rencana Induk Jakarta tiba pada 3 Mei 1967. Sidang DPRD Gotong Royong mengesahkan Rencana Induk melalui Surat Keputusan No. 9/DPRD-GR/P/1967. Rencana Induk memuat 40 peta Jakarta masa itu dan masa depan untuk rentang 20 tahun. Peta-peta tersebut menunjukkan pengembangan Jakarta ke tiga wilayah Jawa Barat: Bogor di selatan, Tangerang di barat, dan Bekasi di timur. Ali Sadikin memperkenalkan Rencana Induk saat gubernur se-Jawa dan menteri dalam negeri bertemu di balaikota pada suatu malam di bulan Mei 1967. Dia sadar pelaksanaan Rencana Induk Jakarta tak bisa berhasil melalui peran satu pihak saja, melainkan juga perlu dukungan dari banyak pihak seperti pemerintah pusat dan gubernur Jawa Barat yang turut menghadiri pertemuan.   “Pelaksanaan daripada penggarapan Rencana Induk yang menyangkut perluasan wilayah DKI Jakarta masih harus dipecahkan lebih lanjut dengan pemerintah daerah yang bersangkutan: pemerintah DKI Jakarta, pemerintah daerah tingkat I Jawa Barat, dan pemerintah pusat sampai terwujudnya UU mengenai perluasan wilayah DKI Jakarta,” tutur Ali Sadikin dalam “Approach Gubernur Ali Sadikin mengenai Kemungkinan Perluasan Wilayah”, termuat di Djaja , 13 Mei 1967. Ali Sadikin juga mengemukakan bahwa Rencana Induk masih merupakan kerangka besar. “Masih harus diuraikan dan digarap lagi menurut tahap-tahap yang telah digariskan sampai menjadi rencana detail untuk dapat dilaksanakan,” lanjut Ali Sadikin. Pemerintah Jakarta telah mengeluarkan rencana turunan pada 1966, satu tahun setelah Rencana Induk rampung. Bernama Rentjana Regional Metropolitan Djakarta, rencana ini memaklumatkan pembentukan daerah pertumbuhan baru melalui penyebaran industri, permukiman, dan fasilitas umum di wilayah sekitar Jakarta (Botabek).    “Dengan terbentuknya daerah-daerah pemusatan baru, diharapkan ia dapat berkembang menjadi semacam counter magnet dengan daya tarik yang positif,” tulis Djaja , 26 Maret 1966. Maksudnya ialah agar Jakarta tak lagi sebagai satu-satunya pusat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, beban Jakarta lambat-laun berkurang. Para perancang Rentjana Regional Metropolitan Djakarta telah menargetkan beberapa wilayah sekitar Jakarta agar menjadi pusat pertumbuhan baru. Wilayah itu antara lain Cibinong dan Citereup di Bogor. Cibinong sebagai pusat perdagangan buah, sedangkan Citereup menjadi industri. Sebuah jalan raya akan tersedia guna mendukung pembangunan di Cibinong dan Citereup. Jalan raya itu bernama Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi). “Jalan itu sendiri lebarnya 100 meter. Kiri-kanan jalan Jagorawi diapit oleh jalur hijau, masing-masing selebar 1.000 meter,” tulis Djaja . Memasuki dekade 1970-an, rencana menambah pusat pertumbuhan baru di Jakarta kian gencar. Wilayah calon pusat pertumbuhan baru juga menjadi lebih jelas. Ini tak lepas dari laporan kursus tenaga-tenaga perencana dari Kabupaten Bogor, Tangerang, dan Bekasi pada 1973. Kursus itu melibatkan tenaga ahli planologi (ilmu perencanaan) kota dari Belanda dan bertujuan menjabarkan pengaruh perkembangan fisik Jakarta terhadap daerah sekitarnya. Wujud penjabaran kursus itu tertuang dalam laporan berjudul Jabotabek: a Planning Approach of its Absorption Capacity for New Settlements within the Jakarta Metropolitan Region. Laporan mengandung proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk Jabotabek dari 1973 hingga 2000. Selain itu, terdapat pula pemetaan industri dan pembangunan infrastruktur pendukungnya.  Kemudian laporan itu masuk ke instansi pemerintahan seperti pemerintah DKI Jakarta, departemen dalam negeri, dan pemerintah daerah Jawa Barat, lalu menjadi pembicaraan dan pertimbangan banyak pihak untuk menyusun rencana pengembangan Jabotabek jangka panjang. Inti laporan itu menggali lebih dalam konsep Jabotabek sebagai langkah dekonsentrasi planologis untuk mendukung Rencana Induk Jakarta. Dekonsentrasi Planologis berarti menyebarkan kegiatan-kegiatan baru dan sebagian yang sudah ada ke pusat-pusat perkembangan baru di daerah sekitar Jakarta. “Dengan demikian diharapkan pusat-pusat perkembangan baru ini akan menarik pertambahan penduduk kota Jakarta untuk bermukim di pusat-pusat ini,” tulis Hendropranoto Suselo dalam “Tinjauan Singkat Perkembangan Jabotabek” termuat di Prisma, 5 Mei 1977. Harapan mewujudkan konsep Jabotabek menjadi lebih konkret ketika pemerintah pusat mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 151 tahun 1975 tentang perubahan dan pembulatan batas wilayah DKI Jakarta. “Di mana sebagian dari wilayah provinsi Jawa Barat dimasukkan dalam wilayah DKI Jakarta dan sebagian wilayah DKI Jakarta dimasukkan dalam wlayah provinsi Jawa Barat,” lanjut Hendropranoto. Pemerintah daerah Jakarta menyambut SK tersebut dengan memaparkan rencana jangka panjang pengembangan Jabotabek. Ali Sadikin menyebut karakteristik wilayah Jabotabek terbagi tiga: wilayah perkotaan, perdesaan, dan peralihan dari desa ke kota.   Menurut Ali Sadikin dalam Gita Jaya , pengembangan Jabotabek akan melalui tiga tahap. Tahap pertama (1975-1980) menyasar pengembangan Tangerang, Depok, dan Bekasi sebagai permukiman dan industri. Berikut dengan pembangunan fasilitas pendukung seperti listrik, sekolah, jalan raya, dan pasar. Tahap kedua (1980-1990) menekankan pengembangan daerah industri di Cibinong, Bogor, Tangerang, dan Cikarang. Dalam tahap ini juga ada pembangunan daerah hijau di sekitar Jakarta dan upaya meningkatkan daya tampung Tangerang, Bogor, dan Cikarang menjadi masing-masing 250 ribu jiwa. Sarana pendukungnya antara lain jalan lingkar luar Jakarta dan jalur rel tunggal kereta api Depok-Bogor yang akan ditingkatkan menjadi jalur rel ganda kereta api. Tahap ketiga (1990-2000) berupa peningkatan daya tampung Bogor sebesar 500 ribu jiwa, Tangerang sebanyak 250 ribu jiwa, dan Cikarang sekira 400 ribu jiwa. Tahap ini juga menyasar pengembangan Ciputat, Ciledug, Cileungsi, dan Cibinong menjadi permukiman. Lalu juga ada pengembangan wilayah industri di selatan Tangerang, jalan Cibinong-Bogor, dan sebelah timur Cikarang. Konsep pengembangan Jabotabek telah terwujud. Tapi pengembangan sesungguhnya baru dimulai selepas masa Ali Sadikin menjabat gubernur.

  • Final Fenomenal di Senayan

    Kota Medan mendadak sunyi senyap. Biasanya anak-anak muda wara-wiri di pusat kota menghabiskan malam minggu. Namun malam itu, hari Sabtu 23 Februari 1985, jalanan tampak sepi dari lalu-lalang kendaran. Tiap sudut rumah menyalakan pesawat televisi. “Apotik yang masih buka malam itu dikerumuni orang terutama pengemudi becak dayung untuk melihat siaran pertandingan bola,” demikian diwartakan Sinar Harapan 25 Februari 1985. Semua warga Medan ingin menyaksikan tim Ayam Kinantan – julukan tim PSMS – berlaga. Final kejuaraan PSSI musim 1984/1985 mempertemukan PSMS Medan dan Persib Bandung. Persib dan PSMS punya tradisi kuat sebagai tim pelanggan laga final dalam liga perserikatan PSSI. PSMS sohor sebagai jawara Sumatera. Sedangkan Persib mulai menabalkan diri sebagai kesebelasan terkuat di ranah Jawa. Kedua tim juga diperkuat oleh pemain-pemain kenamaan masa itu. Sebut saja Robby Darwis (bek), Adeng Hudaya (gelandang/kapten), dan Ajat Sudrajat (striker) yang menjadi top scorer, ada di kubu Maung Bandung – julukan Persib. Sementara itu, PSMS dikenal dengan kualitas mumpuni putra “Jadel” (Jawa Deli) nya, seperti Ponirin Meka (penjaga gawang), Sakum Nugroho (gelandang), dan Sunardi B (gelandang/kapten). Tak berlebihan jika laga kedua tim ini disebut-sebut sebagai el classico nya Indonesia. Persib Bandung tampil dengan dukungan penuh suporternya. Jarak Jakarta yang tak begitu jauh, mengundang suporter Bandung berduyun-duyun datang ke Senayan. Mereka memadati Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) yang berkapasitas 120.000 penonton. Bangku-bangku stadion berjejal manusia yang menjadikan laga ini sebagai final terbesar sepanjang sejarah. Sekira 150.000 penonton memadati seluruh tribun. “Angka tersebut merupakan rekor jumlah penonton sepanjang sejarah pertandingan sepak bola di tanah air,” tulis Suara Merdeka , 25 Februari 1985. Drama 120+ Menit Pukul 19.00 malam, wasit meniup pluit panjang tanda laga dimulai. Pertandingan berjalan seru dan sengit dalam tempo cepat. Pada babak pertama, PSMS unggul dua gol lewat kaki strikernya, M. Siddik. Di babak kedua Persib balik menekan dan mendominasi jalannya laga. Tim Maung Bandung lantas menyamakan skor 2-2 melalui Iwan Sunarya dan Ajat Sudrajat. Hingga babak perpanjangan waktu dua kali lima belas menit, angka di papan skor tak berubah. Pertandingan pun dilanjutkan dengan adu penalti. Dari lima penendang Persib, hanya Ajat Sudrajat yang mampu menjaringkan bola ke gawang Ponirin. Rupanya, ratusan ribu pasang mata penonton membuat para pemain Persib berada dalam tekanan. PSMS lebih mujur. Dua dari lima pemainnya berhasil mengeksekusi penalti. Mameh Sudiono menjadi penentu kemenangan PSMS sebagai algojo terakhir yang sukses membobol gawang kiper Persib, M. Sobur. PSMS Medan menang atas Persib Bandung dengan skor 4-3 (2-2 waktu reguler dan 2-1 adu penalti). Meski kalah, Persib menampilkan teknik bermain yang ciamik ditambah stamina yang stabil. Ketimbang PSMS, kerja sama diantara pemain Persib lebih padu. Sedangkan PSMS yang teknik sedikit di bawah Persib tampil dengan semangat fanatisme. Menurut pelatih PSMS, Parlin Siagian, anak asuhnya bermain tanpa beban. Para pemain PSMS seluruhnya bangga atas nama besar mereka di bawah naungan kesebelasan Medan. “Jadi kekuatan kami sebenarnya hanya terletak pada kebanggaan,” ujar Parlin dilansir Sinar Harapan . Suasana gegap gempita mewarnai kubu PSMS. Wakil Presiden, Umar Wirahadikusumah, menyerahkan langsung piala kemenangan kepada tim juara. Mulai dari tribun lapangan hingga penonton yang ada di Medan, sontak  memekikkan, “Hidup PSMS, PSMS Menang, Horas!” Pendukung Persib pulang dengan sedih hati namun tetap berjiwa besar. Laga akbar itu tak berakhir ricuh. Pesta Kemenangan di Medan Setibanya di Medan, tim PSMS diarak keliling kota. Sejak turun dari Bandara Polonia, penduduk kota Medan membentangkan berbagai poster ucapan selamat. Sekelompok pemuda bahkan menyerahkan seekor ayam jago Kinantan – ayam aduan khas Sumatera Utara – kepada Bawono, manajer tim PSMS. Di Lapangan Merdeka, yang menjadi alun-alun kota Medan, warga tumpah ruah menyambut tim kesayangan mereka. Para pemain disambut bak pahlawan, terutama penjaga gawang Ponirin. “Tidak pernah ada orang sebanyak itu di Lapangan Merdeka sejak Presiden Sukarno berpidato disana tahun 1962,” tulis Kompas 27 Februari 1985. Sepak bola telah menjadi pesta rakyat saat itu.

  • Pengibar Merah Putih di Lintasan Lari

    Enam manusia tercepat Indonesia. Mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.

  • Asal-Usul Kondom

    KONDOM sudah dikenal sejak berabad-abad lalu dengan beragam fungsi. Pro-kontra selalu menyertai perjalanan sejarahnya. Pada era modern, kondom dipakai untuk mencegah penularan penyakit kelamin dan mencegah kehamilan. Berikut ini perjalanan panjang sejarah kondom: 11.000 SM Grotte Des Combarrelles, gua di Prancis, memiliki lukisan di dinding yang menggambarkan kondom. Para ilmuwan meyakininya sebagai bukti awal keberadaan kondom. 1000 SM Di Mesir kuno, sejarawan percaya orang menggunakan selubung linen untuk melindungi kelamin dari serangga dan penyakit tropis. 1400 Tiongkok dan Jepang menggunakan glans condom yang berfungsi menutupi kepala penis untuk mengontrol kelahiran dan mencegah infeksi. Di Tiongkok, ia terbuat dari usus domba atau kertas sutra yang diminyaki, sementara di Jepang dari kulit kura-kura atau tanduk binatang. 1500-an Gabriello Fallopio, ahli anatomi dan dokter dari Italia, menerbitkan De Morbo Gallico tahun 1564 yang mendeskripsikan pengunaan kondom untuk pencegahan penyakit sifilis. Selubung linen direndam dalam larutan kimia dan dibiarkan mengering sebelum digunakan. Ia dipakai untuk menutupi kepala penis dengan sebuah pita. 1600 Pada abad ke-17, Dr. Condom atau Earl of Condom, dokter Raja Charles II di Inggris, menemukan alat untuk mencegah penyakit kelamin yang terbuat dari selubung usus domba. Bukti awal dari kondom ini ditemukan dalam penggalian di Kastil Dudley, West Midlands, Inggris. Nama kondom diduga berasal dari nama sang dokter. 1800-an Pada 1839, Charles Goodyear, ahli kimia dan insinyur manufaktur dari Amerika Serikat, menemukan vulkanisasi karet, yang kemudian dipakai dalam pembuatan kondom yang elastis dan lebih kuat. Namun kondom karet pertama baru diproduksi tahun 1855. 1912 Julius Fromm, seorang ahli kimia Jerman, menciptakan metode baru untuk memproduksi kondom. Dia mencelupkan cetakan kaca ke larutan karet mentah yang membentuk tekstur pada kondom. 1920-an Menyusul penemuan lateks, bermunculan kondom berbahan lateks yang lebih tipis dan kuat. Penghasil kondom lateks pertama adalah Young's Rubber Company dari Amerika Serikat. Kondom ini diproduksi secara massal dan jauh lebih murah daripada kondom linen. 1929 The London Rubber Company (LRC), perusahaan karet London mendaftarkan Durex sebagai merek. Brand kondom lateks pertama ini menjadi merek terkenal dan terdistribusi luas saat ini. Sebelumnya, pada 1915, perusahaan yang didirikan oleh L.A. Jackson ini menjual kondom impor dan perlengkapan tukang cukur. 1957 Durex menciptakan kondom dengan pelumas. 1984 Lasse Hessel, seorang dokter Denmark, menyerahkan dan kemudian mengembangkan sebuah prototipe kondom perempuan pertama. 1992 Origami Condom, sebuah perusahaan Amerika Serikat, mengembangkan Origami Anal Condom (OAC) yang dirancang untuk aktivitas seks anal. 1995 Mulai diperkenalkan kondom plastik, seperti Avanti dari Durex, yang lebih kuat, tipis, dan bisa dilapisi pelumas berbahan dasar minyak tanpa membusuk seperti karet. Belum begitu popular jika dibandingkan kondom lateks yang lebih murah. 2005 Sonetha Ehlers, seorang dokter perempuan dari Afrika Selatan, memperkenalkan kondom antipemerkosaan bernama Rape-aXe yang terbuat dari lateks. Ketika terjadi pemerkosaan, rangkaian kancing giginya akan mencengkeram penis dan hanya bisa dilepaskan seorang dokter. 2000-an Kondom berkembang lebih variatif, dari segi tekstur, ukuran, bentuk, warna, dan bahkan memiliki varian rasa. Sumber: soc.ucsb.edu/sexinfo , condom-sizes.org , The Humble Little Condom: A History karya Aine Coiller.

  • Enam Pelari Terbaik Indonesia

    RABU (11/7/2018) petang itu di trek lari Retina Stadium, Kota Tampere di selatan Finlandia angin semilir mengiringi delapan pelari yang tengah bersiap di start block masing-masing. Di sisi paling kanan, lajur kedelapan, pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri berkonsentrasi penuh. Begitu tanda start , Zohri sekuat tenaga mengayunkan kakinya menuju garis finis yang terletak 100 meter dari garis start . Detik-detik akhir amat menegangkan. Dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison, sama-sama terdepan sebagaimana Zohri. Sepersekian detik kemudian, kedelapan pelari menembus garis finis. Dalam tayangan ulang, kaki kanan Zohri menyentuh garis lebih dulu. Zohri jadi yang tercepat dengan waktu 10, 18 detik. Dia memecahkan rekor junior nasional. Zohri girang bukan main, lalu ber- standing ovation sambil diiringi aplaus riuh rendah dari beberapa penonton di tribun. Sujud syukur tak lupa dilakukan Zohri di tengah trek. Namun sedihnya, dia celingak-celinguk bingung lantaran tak seorang pun memberinya bendera untuk dibanggakan. Maka ketika menuruti permintaan fotografer untuk difoto, Zohri berpose diapit dua pelari peraih urutan dua dan tiga dengan bendera Amerika mereka. Baru beberapa menit kemudian Zohri mendapatkan bendera merah-putih. Prestasi dari nomor 100 meter putra Kejuaraan Dunia U-20 IAAF itu awalnya tak banyak diketahui publik tanah-air. Perhatian masyarakat Indonesia hampir tersedot seluruhnya ke Piala Dunia dan Piala AFF U-19. Padahal, prestasi dari cabang atletik, khususnya lari, di panggung dunia bukan barang baru buat Indonesia. Berikut ini para pendahulu Zohri yang berprestasi: Mohammad Sarengat Bicara cabang atletik nomor lari, haram hukumnya jika tak menyebut nama sprinter legendaris Mohammad Sarengat. “Bertahun-tahun nama Sarengat melegendaris di dunia atletik, dan selalu dikenang oleh bangsa Indonesia,” tulis buku  Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah 1945-1965. Atlet kelahiran Banyumas, 28 Oktober 1940 itu jadi “pemecah kebuntuan” prestasi Indonesia di cabang atletik. Sebelum Sarengat, tak pernah ada pelari Indonesia yang bergelar juara atau bermedali emas. Sarengat mengguncang Asia di perhelatan Asian Games 1962 dengan dua emas di nomor 100 meter dan 110 meter lari gawang, serta tambahan perunggu di nomor lari 200 meter. Rekor lari 100 meternya dengan catatan waktu 10,40 detik itu baru terpecahkan dua dekade berselang oleh Purnomo M. Yudhi di Olimpiade Los Angeles 1984. Gurnam Singh Selain Sarengat, Indonesia patut berbangga memiliki pelari yang tak kalah legendaris bernama Gurnam Singh. Pelari berdarah Punjab, India yang berjuluk pelari tercepat Asia ini merebut tiga emas Asian Games 1962 di nomor 5000, 10.000, dan maraton putra. “Di masa jayanya, pemegang rekor lari 5 ribu meter dengan kecepatan 14 menit 24 detik dan 10 ribu meter dengan kecepatan 30 menit 47,2 detik. Sedangkan jarak maraton 42 kilometer ditempuhnya dalam tempo 2 jam 27 menit 21 detik,” tulis buku  Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 . Purnomo Yudhi Dari lahan tani ke lintasan lari, Purnomo mengharumkan nama Indonesia di beragam ajang dunia dan Asia. Pada 1984 di Olimpiade Los Angeles, Purnomo jadi wakil Asia pertama di semifinal 100 meter putra. Kendati tak meraih medali, pria asal Purwokerto kelahiran 12 Juli 1962 ini mematahkan rekor idolanya, Sarengat, dengan catatan waktu 10,30 detik. Setahun sebelumnya, di Kejuaraan Dunia IAAF di Helsinki 1983, Purnomo juga jadi satu-satunya wakil Asia di final 100 meter putra. Purnomo finis di urutan keempat. Prestasi tertingginya diraih di Kejuaraan Atletik Asia 1985 di Jakarta: dua emas di nomor 100 dan 200 meter putra. Afdiharto Mardi Lestari Mardi Lestari jadi sprinter top nasional pada 1980-1990-an. Acap merajai Pekan Olahraga Nasional (emas 1989, 1993), pelari kelahiran Binjai 1 Juli 1968 itu, sebagaimana ditulis laman IAAF, mampu menaklukkan negeri jiran dengan dua emas dari nomor 100 (10,41 detik) dan 200 meter putra (21 detik) di SEA Games Kuala Lumpur 1989. Torehan prestasi itu dia tambah di SEA Games Manila 1991 dan SEA Games Singapura 1993 dengan masing-masing satu emas di nomor 100 meter. Mardi yang dijuluki manusia tercepat di Asia itu menjadi satu-satunya wakil Asia di semifinal Olimpiade Seoul 1988. Sayang dia gagal merebut medali. Suryo Agung Wibowo Ngadiman, begitu kadang pria ini dipanggil. Dia dijuluki sebagai manusia tercepat di Asia Tenggara berkat prestasi di dua ajang SEA Games. Situs IAAF mencatat, Suryo  merebut sepasang emas di SEA Games Vientiane 2007 dan SEA Games Nakhon Ratchasima 2009 dari dua nomor: 100 meter dan 200 meter putra. Di dua ajang itu, dia juga meraih masing-masing sekeping perak dan perunggu di nomor 4x100 meter putra SEA Games 2007 dan 2009. Khusus di SEA Games 2007, Suryo dengan modal waktu 10,20 detik, memecahkan rekor nasional nomor 100 meter putra yang sebelumnya dipegang Mardi Lestari. Selepas pensiun di atletik, sejak 2014 Suryo beralih cabang ke sepakbola dengan memperkuat Persikab Bandung.

  • Mati Mendadak karena Penis Menyusut

    SEORANG laki-laki mengeluh kelaminnya menyusut. Panik bukan kepalang, dia buru-buru ke dokter diantar rekan-rekannya. Menurut dokter, kondisinya baik-baik saja, dia tak menderita apa pun sehingga dia disuruh pulang oleh dokter itu. Tapi beberapa waktu kemudian, lelaki itu meninggal. Teman-temannya yang penasaran lantas menengok jenazah lelaki itu. “Karena saking penasarannya, mereka memeriksa alat kelamin temannya yang sudah meninggal. Mereka pikir kelaminnya benar-benar menyusut karena tidak sebesar harapan mereka,” kata David Mitchell, dokter ahli jiwa sekaligus peneliti antropologi medis, pada Historia sambil terkekeh. Mitchell mendapatkan cerita itu kala berkunjung ke Sulawesi Selatan. Mitchell tertarik meneliti koro sejak tahun 2000-an. Koro merupakan penyakit psiko-sosio-kultural yang tersebar di Malaysia, Singapura, Tiongkok Selatan, India, dan Indonesia. Pasien yang menderita koro akan menerima serangan panik karena takut terhadap penyusutan penis. Mereka percaya bila penis sudah menyusut sampai masuk ke dalam perut, mereka bisa mati mendadak. Dari penelusuran Mitchell dalam artikelnya “Curing Koro, The Shrinking Penis Disease”, koro pertama tercatat di pedesaan dekat Pelabuhan Makasar pada 1859. Dalam catatan JC Blonk, Geneeskundige Tijdschifte voor Nederlandsch Indie, koro adalah kondisi akut yang menyerang pasien dengan tiga ciri khas sindrom: serangan panik, keyakinan bahwa penis menyusut, dan takut penisnya akan hilang di dalam perut lalu menyebabkan kematian. Kata koro sendiri berasal dari Bugis dan Makasar meski ada beragam versi tentang asalnya. Fisikawan Belanda PM van Wulfften Palthe, seperti dikutip Ronald C Simons dalam The Culture-Bound Syndromes, menulis koro berasal dari kuro atau kura-kura. Orang Malaysia dan Tiongkok menyebut kura-kura sebagai padanan penis menyusut karena kepala kura-kura yang bersembunyi ke dalam cangkangnya mirip dengan penis mengerut yang seolah masuk ke perut. Namun pada dasarnya, koro dalam bahasa Bugis berarti menyusut atau mengecil. Orang-orang menyebut laso koro yang berarti “penis mengecil” supaya maksudnya jelas. Sementara, di Tiongkok Selatan penyakit ini dikenal dengan suo-yang , di Thailand disebut rook-joo , di Mindanao lannuk e laso , dan di India sebagai jhinjhini . Keributan tentang penyakit koro segera menarik perhatian orang Eropa. Pada 1935, JA Slot meneliti penyakit ini dengan mewawancara pasien dan dukun bernama Daeng Rahing. Para mantan pasien mengaku kalau penis mereka mengecil secara mendadak dan Daeng Rahing berhasil menyembuhkannya. Dari Daeng Rahing, Slot mendapat ciri penderita koro: ketakutan, keringat dingin, kram, loyo, dan tidak sadar. Namun, Slot tidak yakin penyusutan penis benar-benar terjadi mengingat ciri penyakit lebih mirip gejala gangguan mental, pun obat yang diberikan dukun sebatas ramuan dari tanaman obat biasa. Hina Panjarra, dukun di Sumba yang ditemui Mitchell, mengatakan dirinya menyaksikan penis mengecil dan mengembalikannya ke ukuran normal. Selain itu, penduduk desa juga percaya penis laki-laki yang pingsan dan mati mendadak memang tampak menyusut. “Jelas lebih kecil dari biasanya,” kata Mitchell menirukan ucapan penduduk desa. Mitchell melanjutkan, di Sumba penyakit ini dianggap keadaan alamiah, kondisi tubuh saja. Namun, di Flores, yang menyebut koro dengan ru’u pota , orang percaya bahwa koro adalah tulah sebagai akibat dari ilmu magis yang sengaja dipasang untuk melindungi tanaman atau kebun. Orang yang terkena koro bisa jadi habis mencuri tanaman. “Tapi biasanya mereka mengaku hanya lewat saja,” kata Mitchell. Di Sulawesi Selatan, koro merupakan cara istri menghukum suami yang selingkuh. Bila seorang istri menganggap suaminya selingkuh, dia akan menambah beberapa ramuan penyusut penis, semisal kencur yang ditakuti lelaki Sulawesi Selatan, ke dalam makanannya. “Si istri akan menaruh sedikit kencur di makanan suaminya untuk mencegah suaminya melakukan kegiatan ‘itu’ dengan selingkuhanya. Karena penisnya menyusut, si lelaki jadi batal untuk selingkuh, ha-ha-ha,” sambung Mitchell. Para suami yang takut kalau istri mereka mengetahui perselingkuhan itu biasanya pergi ke dukun untuk mencegah penyakit koro. Sementara para dukun menerima semua keluhan koro pada pasien mereka, para dokter di layanan medis kolonial tidak memercayai adanya penyusutan penis. Para dokter memasukkan koro ke dalam ganggguan kejiwaan. Mereka mendiagnosis pasien terkena serangan panik ditambah delusi bahwa penis mereka menyusut padahal sebenarnya penis mereka tidak menyusut samasekali. Ketakutan itu didasari oleh pandangan masyarakat yang menjunjung tinggi maskulinitas. Tak ada simbol maskulinitas yang lebih kuat dari phallus atau penis. Jadi menurut para dokter, koro disebabkan oleh ketakutan mendalam akan lunturnya maskulinitas dalam diri seorang lelaki. Pengagungan maskulinitas dalam diri lelaki dipahami betul oleh para pasien. Akibatnya, yang muncul ke permukaan adalah delusi akan penyusutan penis. Karena itu lah orang-orang di Sulawesi menjadikan koro sebagai ejekan kepada lelaki. “Tapi mereka tidak peduli mau itu penyakit mental atau santet, sebab mereka sudah ketakutan kalau penisnya mengecil dan terus mengomel soal itu. Ha-ha-ha,” kata Mitchell tertawa jahil. Mitchell sendiri tidak yakin penis benar-benar mengecil karena belum menelitinya lebih dalam. Penelitian sebelumnya yang dilakukan sarjana Eropa menduga para pasien merasa sembuh setelah berobat ke dukun karena kecemasannya berkurang. Dukun tidak benar-benar mengembalikan penis ke ukuran semula, melainkan hanya mengatasi kecemasan pasien. “Saya belum pernah lihat dan punya bukti. Tapi mungkin saja benar-benar mengecil atau bisa jadi hanya imajinasi. Sejauh ini, koro masih dikategorikan sebagai gangguan mental,” kata Mitchell.

  • Di Balik Sepakbola di Lapangan Merah

    TERIK mentari Kota Moskva siang 28 Juni 2018 tak mampu menghentikan Presiden Vladimir Putin menikmati permainan si kulit bundar. Ditemani Presiden FIFA Gianni Infantino, Putin justru acap tersenyum. Permainan eksebisi yang digelar di lapangan buatan di Lapangan Merah itu dihelat sebagai salah satu agenda perayaan Piala Dunia 2018. Eksebisi menghadirkan laga antara tim cilik FC Totem melawan tim berisi para legenda macam Iker Casillas, Lothar Matthäus, Ronaldo, Carles Puyol, dan para legenda Rusia seperti Alexey Smertin dan Dmitry Bulykin. “Ini (Lapangan Merah, red. ) adalah jantung Rusia dan untuk dua bulan ini menjadi jantung dunia dan dunia sepakbola,” sebut Infantino, dikutip laman FIFA, 28 Juni 2018. Presiden Rusia Vladimir Vladimirovich Putin (tengah) sedang menggiring bola di arena buatan di Lapangan Merah (Foto: kremlin.ru) Lapangan Merah atau Krásnaya Plóshchad dalam bahasa Rusia merupakan alun-alun besar di timur (Istana) Kremlin dan dibangun pada akhir 1400-an di masa Tsar Ivan III. Lapangan Merah hingga kini acap dijadikan tempat untuk berbagai parade budaya dan militer. Namun, ia hampir tak pernah dijadikan tempat bermain sepakbola. Eksebisi untuk Stalin Semasa Uni Soviet, Lapangan Merah punya cerita lain. Ia tak hanya jadi tempat parade militer dan budaya, namun juga olahraga. Di sanalah Physical Culture Day atau Parade Hari Budaya Olahraga yang eksis sejak 1931 berlangsung. Di masa itu, “Pembersihan Besar-besaran” (1936-1938) masih berlangsung. Semua tokoh berlomba untuk bisa dekat dengan Stalin dengan harapan nyawa mereka aman. Nikolai Starostin, pendiri Spartak Moskva dan Aleksandr Kosarev, pemimpin Komsomol (Liga Pemuda Komunis Soviet), juga ikut dalam “perlombaan” itu. Berbeda dari tokoh lain, Starostin dan Kosarev memilih sepakbola sebagai wahana untuk memenangkan hati Stalin. Maka, pada 1936 laga eksebisi tim Spartak Moskva dihelat di Lapangan Merah. Robert Edelman dalam Spartak Moscow: A History of the People’s Team in the Workers’ State menguraikan, parade pada 1936 itu ingin dijadikan “panggung” tersendiri oleh Kosarev dan Starostin. Makanya dengan beragam intrik, mereka berupaya mengundang semua pejabat Soviet, tentu termasuk Stalin untuk bisa menyaksikan laga bola Spartak. Untuk persiapannya, sekira 300 atlet Spartak (dari berbagai cabang di bawah organisasi Spartak Moskva) dikerahkan untuk membuat karpet hijau berukuran lapangan bola guna menutupi Lapangan Merah sebagai arena sepakbola buatan. Para pejabat Soviet dan Stalin diberikan tempat khusus di Mavzoléy Lenina atau Mausoleum Lenin. Starostin dan Kosarev mati-matian meyakinkan seorang jenderal yang, identitasnya hingga kini tetap tak diketahui, khawatir hajatan itu bisa menimbulkan kesan negatif di mata Stalin. “Orang yang harus diyakinkan Starostin adalah seorang jenderal dari kepolisian rahasia yang awalnya sangat skeptis. Dia tak ingin ada pemain cedera di hadapan Stalin pada hari besar itu,” tulis Edelman. Setelah berhasil meyakinkan Kosarev, Starostin menginstruksikan kepada para pemainnya agar tak boleh melancarkan banyak tekel dan mesti sigap menghindari tekel. Bila ada yang kena tekel, mereka tak boleh memperlihatkan rasa sakit di hadapan Stalin. Satu lagi, bola jangan sampai terlontar liar mengenai tribun Stalin. Pertandingan akhirnya digelar pada 6 Juli 1936, mempertemukan dua tim asal Spartak: tim utama melawan tim cadangan. Dinamo tak mereka undang dalam eksebisi itu. Selain rivalitas, mereka tak ingin menyediakan panggung buat anak-anak asuh Lavrentiy Beria, sekretaris Partai Komunis Uni Soviet yang menjadi pengasuh Dinamo Moskva. Laga eksebisi tim utama vs tim cadangan Spartak Moskva di Lapangan Merah dalam rangka Physical Culture Day 1936 (Foto: Moscow House of Photography) Untuk menjaga mood Stalin, yang bukan penggemar sepakbola dan sangat jarang nonton bola, Kosarev duduk di sebelah Stalin dan selalu siap dengan sapu tangan putihnya. Kosarev akan melambaikannya jika melihat Stalin nampak bosan. Itu merupakan kode untuk Starostin yang ada di pinggir lapangan. Dengan kode itu, Starostin akan memerintahkan timnya untuk tampil lebih atraktif. Laga eksebisi yang resminya dua kali 15 menit itu berjalan 13 menit lebih lama di babak kedua. Tim utama Spartak menang 4-3. Kosarev dan Starostin beserta “anak-anak” mereka girang. Beberapakali Stalin tampak sumringah dan selalu memberi tepuk tangan setiap kali gol tercipta. Lebih lega lagi buat Kosarev dan Starostin, tak ada bola yang melayang liar ke arah tribun kehormatan tempat Stalin berada. Reaksi girang Stalin jadi kemenangan politis buat Kosarev.

  • Upaya Berarti di Saumlaki

    BULAN ini, Juli, 76 tahun silam. Sersan KNIL Julius Tahija mendapat tugas memimpin pasukan berlayar ke Maluku dari markas pengasingan mereka di Australia. Dia belum tahu tujuan pasti dan misi yang diembannya karena surat perintah yang diterimanya baru boleh dibuka di tengah perjalanan. Dia hanya tahu, tugasnya merupakan bagian dari upaya ABDACOM/Sekutu menahan gerak-maju pasukan Jepang yang menggunakan strategi lompat katak, yakni menduduki satu pulau untuk pijakan menduduki pulau berikutnya. Meski tak siap menghadapi invasi Jepang, KNIL tak ingin kedatangan Jepang ke Hindia Belanda berjalan mulus. Sejak mengebom Pearl Harbor pada akhir 1941, Jepang dengan cepat menduduki daerah-daerah di selatan. Di Maluku, kabar akan datangnya Jepang sudah tersiar sejak akhir 1941. “Berita radio mengabarkan tidak lama lagi musuh akan datang. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari,” tulis Roger Maynard dalam Ambon: The Truth About One of the Most Brutal POW Camps in World War II and the Triumph of the Aussie Spirit . Penduduk berbondong-bondong mengungsi. Sebuah serangan terhadap bandara dan Pelabuhan Darwin pada 19 Februari, menewaskan 240 orang, merisaukan ABDACOM (American-British-Dutch-Australia Command) akan datangnya serangan Jepang ke Australia. Untuk mengantisipasinya, mereka menyusun rencana perlawanan guna menggagalkan taktik lompat katak Jepang. ABDACOM lalu mengirim tim-tim kecil berisi 10-1000 personil ke berbagai pulau di tiga jalur utama menuju Australia dari utara. Namun, upaya itu justru menjadi blunder karena banyak personil Sekutu itu ditawan dan dibunuh Jepang. Seruan dari lapangan agar langkah tersebut dihentikan, tak mendapat perhatian. Pengiriman tim-tim kecil tetap berjalan. Tahija dan pasukannya berangkat pada awal Juli 1942. “Saya memimpin salah satu kelompok yang terdiri atas 13 tentara Hindia Belanda,” kata Tahija dalam otobiografinya, Julius Tahija Melintas Cakrawala . Mereka berlayar menggunakan kapal tua Griffioen yang hanya punya senapan dek ringan tapi tak dilengkapi radio komunikasi. “Begitu sampai di laut, saya membuka surat perintah. Kami harus pergi ke Desa Saumlaki di Pulau Jamdena di Kepulauan Tanimbar, 350 mil utara Darwin.” Mereka tiba di pulau berpenduduk 5000-an jiwa itu pada sebuah malam setelah melewati laut yang tak bersahabat. Kala itu, satu-satunya akses untuk memasuki pulau hanya dermaga kecil yang menjorok ke laut, tempat Griffioen bersandar. Dengan bantuan seorang inspektur polisi beserta 26 bawahannya plus penduduk setempat, Tahija dan pasukannya membuat parit perlindungan di sekitar dermaga untuk menyambut kedatangan musuh. “Jadi parit pertahanan kami tempatkan di pantai. Ini taruhan. Kalau saya salah, atau kalau Jepang mendarat di siang hari, kapal perangnya akan menghancurkan kami dalam waktu beberapa detik saja,” ujarnya. Pada pukul 11 malam 29 Juli, Tahija pamit tidur kepada seorang pendeta yang mengajaknya ngobrol. Setelah tidur dan memimpikan sang pendeta, Jean istrinya, dan perang, Tahija terkaget-kaget karena dibangunkan prajurit jaga. Prajurit itu memberitahu dua kapal Jepang baru saja masuk Teluk Jamdena. Tahija langsung ke ujung dermaga untuk memastikannya. Dia lalu mendapati dua kapal perang Jepang itu sedang menurunkan para prajurit bersenjata lengkap ke sekoci-sekoci yang akan membawa ke dermaga. Setelah kembali ke markas, Tahija dan pasukannya langsung bersiap di posisi masing-masing untuk menyambut kedatangan para serdadu Jepang. Tahija amat khawatir keputusannya salah. Sementara, keyakinan bahwa Saumlaki tak dijaga membuat pasukan Jepang maju tanpa curiga sehingga tak sedikitpun melakukan pengecekan. “Dari parit persembunyian kami kini tinggal kira-kira 45 meter; berarti sudah masuk dalam jangkauan tembakan kami. Pada saat itulah saya menerikkan aba-aba dalam bahasa Belanda: ‘ vuren !’,” kenang Tahija. Puluhan serdadu Jepang langsung tumbang. Mereka kocar-kacir, suasana dermaga gaduh. Semangat tempur Sekutu melonjak. Para serdadu Jepang yang masih hidup langsung memberi tembakan balasan. Meriam-meriam kapal perang Jepang memberi tembakan bantuan tak lama kemudian. Rombongan kedua pasukan Jepang, yang menjadikan jasad teman-teman mereka yang tewas sebagai tameng, datang membantu. Tembakan-tembakan Jepang mulai banyak memakan korban. Tahija sendiri kena pecahan peluru kaki kirinya. “Tindakan yang paling realistis adalah mundur ke hutan,” kata Tahija. Setelah mempersiapkan segalanya, termasuk membakar dokumen dan memilih penduduk yang akan diajak, Tahija memerintahkan pasukannya mundur. Sayang, mereka tak berbarengan. Akibatnya, Tahija mesti menunggu anak buahnya sampai dua hari di hutan. Begitu lengkap, mereka menyusuri jalan setapak hutan ke arah barat. Mereka akhirnya tiba di bagian paling ujung pulau. Penduduk setempat menyambut hangat mereka dengan mencukupi kebutuhan hidup selama di sana. Penduduk juga memberi perahu yang digunakan pasukan Tahija untuk menyisir pantai hingga akhirnya mendapatkan bantuan sebuah kapal Bugis dari penduduk desa lain. Dengan kapal itulah mereka kembali berlayar menuju Darwin. Pelayaran pulang tak kalah membahayakan dari pertempuran di darat. Mereka mesti ke utara untuk mengelabui Jepang, lalu berbalik ke selatan menuju Darwin. Mereka terus bersiaga karena khawatir bertemu kapal perang Jepang. Ketika daratan Australia muncul di pelupuk mata, kapal terdampar di karang. Beruntung, pasang air laut datang beberapa jam kemudian sehingga kapal bisa kembali berlayar. Mereka akhirnya mencapai Kepulauan Bathurst. Tahija langsung mendapat laporan bahwa radio Tokyo telah menyiarkan keberhasilan pasukan Jepang yang tinggal selangkah lagi dan gerak maju mereka hanya tertahan sebentar di Saumlaki. Tahija dan sisa beberapa anakbuahnya akhirnya selamat mencapai tanah Australia. “Atasan militer Belanda, yang tahu bahwa sayalah yang melakukan perlawanan tersebut dengan 13 anak buah, mengajukan usul agar saya dianugerahi bintang kehormatan militer tertinggi –secara anumerta karena mengira saya gugur– Militaire Willmes-Orde,” ujar Tahija.

  • Jenderal yang Disalahkan

    Bandung, 9 Februari 1978. Pagi baru saja menyeruak ketika Maria mendengar suara letusan senjata memecah keheningan. Beberapa saat kemudian dari arah kampus ITB, puluhan mahasiswa terlihat berlarian dalam wajah panik. Sementara di belakang, para serdadu berbaret hijau dengan senjata lengkap mengejar mereka bak binatang buruan. “Di Jalan Trunojoyo pas dekat rumah saya, dua mahasiswa berhasil ditangkap dan langsung dipukuli dengan popor senjata,” tutur perempuan asli Bandung berusia 71 tahun itu. Tak ada yang menolong mereka. Masyarakat yang saat itu ada di jalanan pun tak bisa berbuat apa-apa. Alih-alih menolong, mereka hanya bisa menonton saja pemandangan brutal di depan mata tersebut. Dari halaman rumahnya, Maria masih sempat melihat seorang serdadu berteriak garang. “Ngapain kalian menonton kami! ABRI bukan ketoprak!” Pada waktu yang sama serentetan tembakan menghantam bagian depan rumah Profesor Iskandar Alisyahbana di kawasan Tamansari. Hamburan pelurunya tidak saja berhasil memecah kaca jendela namun juga membuat seluruh penghuninya ketakutan. Keesokan harinya, Iskandar mendatangi rumah Pangdam Siliwangi Mayor Jenderal Himawan Soetanto. Dalam wajah masam, dia meminta penjelasan dan tanggungjawab terkait peristiwa tersebut. “Hoe kunnen jullie zo laf zijn?” tanya Iskandar, kurang lebih artinya mengapa pihak tentara bisa bersikap begitu pengecut kepada dirinya. Awalnya Himawan hanya bisa bengong saja. Namun dengan tegas dia menolak tuduhan Iskandar bahwa prajuritnya yang melakukan tindakan tersebut. Kepada Rektor ITB itu, Himawan menjamin bahwa para prajurit Siliwangi sudah dia perintahkan untuk bertindak persuasif terhadap para mahasiswa. “Saya pastinya menolak jika pelaku penyerbuan dan penembakan itu adalah prajurit Siliwangi, tapi saya tak bisa membantah jika pelakunya adalah tentara. Serakan selongsong peluru kaliber 45 di sekitar rumah Pak Iskandar membuktikan itu,”ujar Himawan dalam suatu wawancara di tahun 2009. Dianggap Lamban Pasca Pemilu 1977, kampus-kampus di Bandung mulai memanas. Aksi menolak pencalonan kembali Jenderal Soeharto sebagai presiden nyaris setiap hari dilakukan oleh para mahasiswa. Seruan untuk mogok kuliah pun mulai menggema. Secara resmi, Rektor ITB pun menganggap aksi-aksi mahasiswanya masih dalam batas kewajaran. Iskandar menyebut demonstrasi mahasiswa sebagai gerakan moral yang sebenarnya bagus untuk mengingatkan pemerintah untuk terus berpihak kepada rakyat. “Yang mencolok di kampus ITB ya cuma banner sepanjang lima meter itu yang isinya menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden,” ujar Iskandar seperti dikutip Daud Sinjal dan Atmadji Sumarkidjo dalam Himawan Soetanto Menjadi TNI. Pihak Kodam VI Siliwangi sendiri seperti sependapat dengan Iskandar. Itu dibuktikan dengan seruan Pangdam VI Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto yang memerintahkan anak buahnya untuk menangani aksi mahasiswa lewat cara yang persuasif. “Saya ketika itu memang menyikapi gerakan mahasiswa dengan wajar-wajar saja...Sikap mereka merupakan bagian dari dinamika dan kontrol sosial,” ungkap Himawan. Sikap Himawan tersebut dalam kenyataannya ditentang keras oleh para petinggi ABRI di Jakarta. Kepada jurnalis senior Jopie Lasut, Himawan sempat curhat bahwa saat dipanggil ke Jakarta pada awal Januari 1978, dirinya sempat dimarahi oleh Kaskopkamtib Laksamana Sudomo. “Dia dianggap lamban dalam soal menyelesaikan masalah demonstrasi mahasiswa di Bandung,” ungkap Jopie Lasut dalam Kesaksian Jurnalis Anti ORBA; MALARI Melawan Soeharto dan Barisan Jenderal ORBA. Bahkan kepada Pangkowilhan II Jawa-Madura Letnan Jenderal Widjojo Sujono, Sudomo secara khusus memerintahkan untuk mengawasi Himawan. Digunting dalam Lipatan Kendati sudah dipanggil dan diingatkan beberapa kali, Himawan seolah “enggan” menjalankan perintah Jakarta untuk bersikap tegas terhadap mahasiswa. Dia beranggapan selama aksi-aksi mahasiswa terjadi di dalam kampus dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat Bandung maka tak ada alasan baginya untuk bertindak represif. Tentu saja sikap “mbalelo” Himawan ini menjadikan Sudomo murka. Tanpa melibatkan Himawan, dia kemudian membuat sebuah gerakan yang diberi sandi: Operasi Kilat. Untuk Bandung, hari H-nya adalah 25 Januari 1978. Operasi Kilat berhasil membungkam untuk sementara gerakan mahasiswa Bandung. Disebutkan Himawan 164 aktivis mahasiswa berhasil diciduk dan kampus-kampus diduduki oleh tentara. Namun beberapa hari kemudian, aksi-aksi mahasiswa seolah bangkit kembali. Beberapa dari mereka bahkan berani menyebarkan selebaran gelap dan memasang spanduk “gantung Soeharto” di beberapa sudut kampus. Limabelas hari kemudian, tentara kembali menyerbu kampus-kampus di Bandung. Lagi-lagi Himawan sebagai panglima daerah digunting peranannya melalui Asintel-nya yakni Kolonel Samalo, yang sesuai perintah Sudomo langsung memimpin penyerbuan. “Jadi ini out of control karena saat bergerak ke kampus-kampus yang diberlakukan adalah komando intelijen...Jadi gerakan pasukan itu memang tidak dalam kontrol Pangdam,” kata Himawan saat diwawancarai oleh Jopie Lasut. Himawan juga menyangkal jika pasukan yang terlibat dalam operasi-operasi penyerbuan kampus merupakan anak-anak Siliwangi. Dia menyebut bahwa ada pasukan tak jelas yang secara sengaja berpura-pura sebagai pasukan Siliwangi dari unit Kudjang lengkap dengan baret hijaunya. Ketika dikonfirmasi oleh Jopie kepada seorang yang dekat dengan As Intel Hankam Mayor Jenderal L.B.Moerdhani, soal ini dibenarkan. Menurutnya pasukan yang terlibat dalam penyerbuan kampus ITB adalah dari Kopasandha (sekarang Kopassus). Bahkan beberapa di antaranya ada yang baru saja pulang dari palagan Timor-Timur (kini Timor Leste). Tidak Menyesal Pada saat tengah gencar-gencarnya para serdadu menyerbu kampus-kampus di Bandung, terbetik berita dari Radio Australia bahwa Himawan Soetanto sudah dinon-aktifkan sebagai Pangdam VI Siliwangi. Kendati berita tersebut ternyata tidak benar, namun diakui oleh Himawan sendiri bahwa penolakannya terhadap perintah Laksamana Sudomo itu memang telah menjadikan citranya sangat buruk di hadapan Jakarta. “Dalam suatu kesempatan, saya pernah menjelaskan semuanya langsung kepada Pak Harto, beliau cuma mantuk-mantuk tapi tidak berkomentar,” kenang Himawan. Lantas menyesalkah dia? Tentu saja tidak. Dalam biografinya, Himawan menyebut bahwa tidak ada niat sedikit pun dalam dirinya untuk tidak mematuhi perintah Jakarta kala itu. Namun sebagai pemimpin teritorial dia merasa akan terjadi kerusakan yang berkepanjangan jika dirinya menjalankan tindakan militer terhadap para mahasiswa tersebut. Himawan tak mau rakyat memendam kebencian terhadap tentara sesudahnya. “Jika itu dilakukan, Siliwangi akan sulit dimaafkan oleh rakyat Jawa Barat. Sebagai Panglima Siliwangi, kepada saya dipertaruhkan keselamatan rakyat Jawa Barat sekaligus keselamatan citra TNI,” ungkapnya. Secara karir, Himawan pun akhirnya harus puas hanya sebatas menyandang pangkat Letnan Jenderal dan jabatan Kepala Staf Umum ABRI. Laiknya jenderal-jenderal lurus yang pernah “berdosa” kepada pemerintah Orde Baru, dia kemudian harus menerima ganjaran sebagai tentara yang diasingkan. Pada 1984, Presiden Soeharto menjadikannya duta besar di Malaysia.

  • Pemberontakan Terhadap Majapahit

    PARA pengikut Kertarajasa yang setia dan berjasa dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit diberi kesempatan untuk menikmati hasil pengabdiannya. Sebagai balas jasa, mereka diangkat menjadi pejabat tinggi dalam pemerintahan. Namun, satu per satu memberontak. Sebagian nama pengikut Kertarajasa itu dijumpai dalam beberapa prasasti. Prasasti Kudadu (1294 M) menyebutk Wiraraja sebagai mantri mahawiradikara. Prasasti Sukamrta (1296 M) menyebut Mpu Tambi (Nambi) sebagai rakryan mapatih dan Mpu Sora sebagai rakryan apatih di Daha. Dalam hierarki Majapahit, Nambi memperoleh kedudukan yang tinggi sedangkan Sora mendapat tempat kedua. Sumber lain, Kidung Ranggalawe, menyebut Wenang atau Lawe sebagai amanca nagara di Tuban dan adhipati di Datara. Adapun tokoh yang pernah memimpin pasukan Singhasari ke Malayu dijadikan panglima perang dan mendapat nama Kebo Anabrang.

  • Asal Usul Pakaian

    MANUSIA masa lalu melindungi tubuhnya hanya menggunakan bulu hewan, kulit hewan, daun, ataupun rumput yang diikatkan. Kini setiap orang melindungi tubuhnya dengan potongan kain yang terjahit dengan benang. Modelnya beragam. Kita juga tak lagi menjadikan pakaian sebagai pelindung, tapi sebagai kebutuhan gaya hidup yang memperlihatkan status dan kelas sosial, bahkan identitas etnis dan agama. Produksi pakaian yang mulanya memakan waktu lama menjadi industri massal. Tak heran industri pakaian semakin hari semakin tak terkendali karena hasrat manusia untuk memiliki banyak pakaian dengan banyak gayanya. Kain Tenunan atau rajutan atau benang adalah tekstil yang kemudian menjadi kain, pembuat pakaian. Kain bisa digunakan setelah melalui proses panjang pemotongan, perendaman, pencelupan, penjemuran, dan lain-lain. Pada 5.000 SM peradaban dunia mulai menggunakan kain, termasuk untuk pakaian, yang berasal dari serat alami. Peradaban Mesir dan India memperkenalkan jerami dan katun yang terbuat dari serat-serat tanaman. Terdapat pula wol yang berasal dari bulu hewan, seperti sapi dan domba. Sementara itu, di Tiongkok terdapat sutra yang terbuat dari serat ulat sutra. Memasuki era modern dan berkembangnya pengetahuan manusia, kain pada abad ke-20 kemudian dapat dibuat dari mineral atau serat sintetis. Maka, kini kita dapat melihat berbagai warna, motif, ketebalan, atau suhu kain. Jenis-jenis kain yang sekarang kita kenal untuk membuat pakaian antara lain rayon, asetat, nylon, akrilik, polyester, dan spandex. Kerah Biasanya pakaian resmi identik dengan kerah. Diyakini kerah merupakan perkembangan dari ruffle , yakni lipatan kain atau pita pada bagian leher pakaian. Sejak abad ke-16 kerah dikenal memiliki bentuk yang tegak, terlipat, dan dalam perkembangannya terdapat pula kerah dengan bentuk lain. Saku Pada abad ke-17 sampai 18, orang Eropa mulanya menggunakan saku sebagai kantong atau tas kecil terpisah yang menggantung di bagian pakaian atau celana. Kini, saku menjadi bagian yang menyatu dengan pakaian atau celana dengan bentuk yang umumnya menyerupai amplop. Terletak di dalam atau di luar pakaian dan berfungsi sebagai kantong atau hanya sebagai hiasan. Kancing Bukti tertua penggunaan kancing oleh manusia ditemukan berasal dari peradaban Lembah Indus 2000 SM. Kancing tersebut terbuat dari cangkang kerang yang dilubangi dan dijahit di pakaian. Selain di Lembah Indus, kancing juga telah digunakan peradaban Tiongkok dan Romawi Kuno. Kancing mulai difungsikan sebagai bagian dari pakaian pada abad ke-13 di Jerman, lantas menjadi industri yang pusat terbesarnya berada di kota Birmingham, Inggris. Kancing kini diaplikasikan dalam pakaian, juga sebagai hiasan. Bahkan kancing menjadi salah satu benda seni yang berasal dari berbagai material, digambar maupun diukir. Ritsleting Ritsleting adalah pengunci pada pakaian yang telah ada sejak abad ke-19. Elias How pada 1851 sebenarnya telah mendapatkan paten untuk salah satu teknologi pakaian ini, namun dia tak mengembangkannya. Mulanya ritsleting berukuran besar dan tebal. Barulah pada 1913 Gideon Sunbäck menyempurnakan ritsleting. Kancing kemudian terus berkembang hingga berbentuk ritsleting modern yang kini kita kenal. Ritsleting modern ini dapat ditemui dengan desain tipis maupun tebal, terbuat dari logam maupun plastik. Tak hanya diaplikasikan dalam pakaian, celana, atau jaket, kini ritsleting terdapat pula pada tas, dompet, dan lain-lain. Ikat Pinggang Ikat pinggang menjadi salah satu bagian aksesoris dalam berpakaian. Ia juga dapat berfungsi sebagai pengencang celana yang longgar. Pada zaman perunggu ikat pinggang diyakini telah digunakan manusia. Biasanya ikat pinggang terbuat dari kulit, kain tebal, ataupun logam, misalnya berbentuk menyerupai rantai. Sejak 1900-an, ikat pinggang diaplikasikan pada blus.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page