Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bung Karno dan Buku
RACHMAWATI Soekarnoputri acapkali melihat pemandangan ganjil saat masih tinggal di Istana Negara. Kamar tidur ayahnya, Presiden Sukarno, penuh dengan buku-buku. Buku menjejali tiap sudut ruang. Tempat tidur, kursi, dan kamar mandi berubah fungsi menjadi perpustakaan. “Bapak sangat kaya pengetahuan karena membaca,” kenang Rachma dalam memoar Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi . Tak melulu buku bertema berat. Bung Karno juga melahap bacaan populer semisal majalah terbitan Amerika macam Vogue hingga Nugget . Dokter pribadi Mahar Mardjono turut menyaksikan kegandrungan Sukarno terhadap buku. Mahar pertama kali memasuki Istana pada awal Agustus 1965. Ketika itu kondisi kesehatan Sukarno mulai menurun. Mahar dipanggil untuk mengobati Sukarno yang sedang pusing, sempoyongan, dan kerap muntah. Mahar berada di serambi Istana yang penuh dengan buku-buku berbagai bidang. Di serambi belakang Istana, tempat Sukarno bercelana pendek dan berbaring di atas tempat tidur, Mahar melihat berbagai surat kabar dan majalah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. “Dari keterangan Mahar Mardjono, disimpulkan bahwa Presiden Sukarno sangat berminat membaca dan mengoleksi sejumlah buku,” tulis sejarawan Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi . Kutu Buku Ketertarikan Sukarno membaca buku berawal dari perkenalannya dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin organisasi Sarekat Islam. Takala menempuh pendidikan HBS (setara SMA) di Surabaya, Sukarno mondok di kediaman Tjokroaminoto. Di bawah gemblengan Tjokro, pengembangan intelektual Sukarno terpupuk. “Aku duduk dekat kakinya (Tjokroaminoto) dan diberikannya kepadaku buku-bukunya, diberikannya kepadaku miliknya yang berharga,” tutur Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Selain pengaruh figur Tjokro, kemiskinan jadi pintu masuk bagi Sukarno menggumuli dunia literasi. Perpustakaan theosofi di Surabaya adalah tempat yang kerap disambangi Sukarno untuk menghabiskan waktu melahap buku politik. Kemudahan memperoleh bacaan di perpustakaan tersebut karena ayahnya, Raden Sukemi adalah seorang anggota perkumpulan theosofi. Di sana, dia mendapat kepuasan pengganti kondisi kekecewaan dalam pergaulan melalui bacaan. “Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira, ” ujar Sukarno. Menurut Peter Kasenda, kesenangan Sukarno membaca mengantarkannya berbincang secara mental dengan pemikiran bermacam ideologi. Mulai dari paham kebebasan ala Barat Thomas Jefferson hingga kesadaran kelas yang didengungkan Karl Marx. Sementara dalam kehidupan nyata, Sukarno menyaksikan negerinya yang miskin dan terhina karena terjajah. Bacaannya secara tak langsung membawa Sukarno ke gelanggang pergerakan. “Sukarno mulai memperbincangkan antara perdaban yang megah dari pikirannya dan tanah airnya sendiri yang sudah bobrok. Pemikiran ini akhirnya menyadarkan Sukarno menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala,” ujar Peter Kasenda. Dari membaca Sukarno menuangkan gagasan menjadi beberapa artikel untuk majalah Oetusan Hindia. Dalam berkala milik Sarekat Islam itu, Sukarno mengambil nama tokoh pewayangan Bima yang artinya “Prajurit Besar” sebagai nama pena. Menurut pengakuannya, Sukarno telah menulis lebih dari 500 karangan. Penulis Buku Data selanjutnya tentang kegemaran membaca buku Sukarno dapat dilihat berbagai buku karangannya. Sepanjang hidupnya, Sukarno tergolong penulis produktif yang membukukan buah pikirannya. Beberapa diantara seperti Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Lahirnya Pancasila (1945), Sarinah (1951), dan yang terpenting kumpulan tulisannya dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 (1959) dan Jilid 2 (1960). Dalam buku-buku tersebut, Sukarno selalu memberikan rujukan, baik nama pengarang maupun judul bukunya. Suyatno, kepala Perpustakaan Proklamator Bung Karno, mencatat, dalam Sarinah ditemukan 153 orang laki-laki dan 71 orang perempuan yang pendapatnya digunakan sebagai rujukan. “Berarti jumlah pengarang/penulis yang dikutip Sukarno dalam buku Sarinah sebanyak 224 orang baik laki-laki maupun perempuan,” ujar Suyatno dalam Buletin Perpustakaan Bung Karno Vol. 2/2014. Berapa jumlah koleksi buku Bung Karno? Ketika diasingkan pemerintah Belanda ke Bengkulu jelang kedatangan Jepang, Sukarno memiliki 12 peti buku koleksi. Dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno , rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu menyimpan sebanyak 400 buku. Seluruhnya berbahasa Belanda meliputi genre politik, seni, agama, sastra, dan kesehatan. Pada 1968, Sukarno dipaksa rezim Orba meninggalkan Istana. Kolonel Maulwi Saelan, salah seorang ajudan Sukarno, melakukan inventarisasi terhadap koleksi buku di Istana. Dalam buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa , Maulwi mencatat koleksi buku Sukarno yang berjumlah hampir seribu buah.*
- Dari Kilang Jadi Kolak
KOLAK merupakan menu buka puasa yang paling sering disajikan. Karena identik dengan Ramadan, ada yang berpandangan penganan ini punya arti lebih dari sekadar menu berbuka. Sebagaimana kuliner yang berkenaan dengan ritual Islam, seperti apem dan kupat, sebutan kolak juga dikaitkan dengan bahasa Arab. Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang, mengutip pendapat Kyai Hasbullah dari Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, bahwa kata kolak berasal dari bahasa Arab, yaitu kullaka artinya makanlah, untukmu. Pendapat lain dari kata khala atau kholaqo . Kata ini bisa diturunkan menjadi kholiq atau khaliq yang berarti pencipta, pencipta alam semesta yang menunjuk kepada Allah Swt. “Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Dwi. Unsur-unsur kolak pun dikaitkan dengan ajaran Islam. Pisang kepok yang paling umum digunakan merujuk pada kapok, dalam bahasa Jawa berarti jera. Penganan ini mengingatkan agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah Swt. Isian lainnya, ubi, dalam bahasa Jawa disebut telopendem . Filosofinya manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Ada juga yang menghubungkan dengan kematian. Kolak adalah media pengingat, suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur ( dipendem ). Unsur lain dalam kolak adalah santan. Dalam bahasa Jawa disebut santen , kependekan dari pangapunten . Orang Jawa menggunakan kata ini sebagai permohonan maaf. Kolak pun menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya. Dwi menilai, etimologi dan tafsir terhadap penganan kolak semacam ini merupakan ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. “Namun, bukan berarti bahwa muasal kolak dari bahasa Arab. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan,” ujar Dwi. Pasalnya, menurut Dwi, jika didasarkan pada keserupaan istilah padanan kata serupa ditemukan pula dalam bahasa Jawa Kuno. Kata kula dalam bahasa Jawa Kuno berarti kawanan, pasukan, kumpulan, orang banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul. Jadi, kula sebagai kumpulan berarti kolak adalah penganan yang terdiri dari sekumpulan bahan makanan, seperti ubi dan pisang, yang dicampur di dalamnya. Dengan membuat asal-usul kolak dari bahasa Arab, penganan ini kemudian diyakini berasal dari Timur Tengah. “Alasannya karena orang Timur Tengah suka makanan manis, maka mungkin kolak dari sana,” lanjut Dwi. Padahal, masyarakat Nusantara sudah mengonsumsi minuman manis sejak masa Hindu-Buddha. Menurut arkeolog senior Puslit Arkenas, Titi Surti Nastiti dalam “Minuman Pada Masyarakat Jawa Kuno” termuat di PertemuanArkeologiV , keterangan soal minuman masa Jawa Kuno muncul dalam naskah maupun prasasti. Dalam prasasti jenis minuman umumnya disebut pada bagian yang menuliskan tentang upacara peresmian sima. Setelah upacara sima selesai, biasanya diadakan pesta dengan menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman untuk dinikmati oleh hadirin. Di antaranya, ada yang disebut juruh , yaitu minuman yang terbuat dari tanaman jenis palem. Ada pula kilang , minuman dari sari tebu, yang disukai rakyat hingga bangsawan. Dwi menguraikan kilang disebut dalam Prasasti Watukura (902 M) dan Prasasti Alasantan (939 M). Dalam naskah Jawa Kuna dan Tengahan, minuman ini muncul dalam kitab BrahmandaPurana , Sumanasantaka , Arjunawijaya , Nagarakrtagama , Partayajna , SubhadraWiwaha , KidungHarsawijaya , KidungMalat , dan WangbangWideya . Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren atau tal yang direbus. Bila direbus terus menerus, teksturnya akan mengental, kemudian bisa dijadikan gula merah. Adapun pemanis berupa gula, dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan disebut gendis . “Ini telah lama digunakan, jadi kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa,” jelas Dwi. Di samping pemanis, santan pun sudah biasa dipakai untuk memasak. “Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak,” lanjutnya. Kuah kolak dibuat dari campuran santan dan gula merah direbus hingga mendidih. Kemudian dimasukkan buah-buahan, biji-bijian atau bahan makanan lainnya. “Terbayang bahwa kegemaran mengonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang ,” kata Dwi. Sebutan kolak memang tak dijumpai dalam sumber tertulis masa Hindu-Budha. Ia mungkin baru muncul pada masa yang lebih modern. Dengan kreativitas, penganan itu diterjemahkan dalam bahasa yang bisa membuatnya menjadi media dakwah.
- Dari Perbaikan Kampung sampai Kampung Pelangi
Kampung pelangi. Begitu sebutan kampung elok berwarna-warni di Malang, Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Kampung-kampung itu tadinya kumuh dan suram. Tapi prakarsa warga, penggiat kota, pemerintah, dan perusahaan swasta mengecat segala isi kampung mengubahnya jadi lebih bersih dan ceria. Bahkan menarik banyak orang datang berekreasi. Pengecatan kampung menjadi salah satu upaya memperbaiki keadaan kampung. Upaya ini tidak bermula dari kemarin sore, melainkan bertapak pada masa kolonial. Mohammad Husni Thamrin, anggota Dewan Kota Batavia, meminta pemerintah kota mencurahkan perhatiannya untuk memperbaiki kondisi kampung kumuh pada 1920-an. “Ia menyarankan untuk memperbaiki pengelolaan distribusi beras, mengadakan fasilitas drainase yang layak serta pasokan air bersih ke kampung-kampung,” tulis Bob Hering dalam Mohammad Hoesni Thamrin . Pemerintah Kota Batavia mengiyakan permintaan Thamrin. “Program perbaikan kampung pun berlangsung dengan dana patungan dari pemerintah pusat dan kota,” tulis Freek Colombijn dalam Under Construction: The Politics of Urban Space and Housing during Decolonization of Indonesia 1930-1960. Program perbaikan kampung ( kampongs verbetering ) mewujud di tiga kota besar: Batavia, Semarang, dan Surabaya. Perbaikan menyentuh kualitas jalan, gang, selokan, dan pembangunan fasilitas mandi dan kakus umum. Tapi perbaikan kampung berjalan setengah hati. Thamrin memandang program ini hanya menyentuh segi fisik dari kampung. Belum sampai meresap ke dalam perbaikan kualitas hidup warga kampung. Laporan Komisi Perbaikan Kampung pada 1939 turut menyimpulkan program perbaikan kampung telah gagal. “Diduga biang keladi kegagalan program tersebut adalah karena pesatnya pertambahan jumlah penduduk,” tulis Amir Karamoy dalam “Program Perbaikan Kampung: Harapan dan Kenyataan”, termuat di Prisma , No. 6, 1984. Zaman pendudukan Jepang menghentikan kampongs verbetering . Masa ini penghuni kampung-kampung kumuh justru jadi sasaran eksploitasi Jepang menjadi romusha. Setelah Indonesia merdeka, upaya memperbaiki kampung muncul lagi seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perluasan kampung-kampung kumuh di kota-kota besar Indonesia. Di Jakarta, Walikota Sjamsuridjal mengupayakan pembelian tanah-tanah partikelir yang dihuni oleh pemukim liar. Mereka mendirikan gubuk-gubuk reot dengan jarak yang rapat satu sama lain. Pendudukan tanah nganggur ini bermula pada masa Jepang dan terus berlanjut pada 1950-an sehingga kawasan tersebut menjadi kampung kumuh ilegal. Pembelian tanah partikelir merupakan langkah awal bagi Sjamsuridjal untuk memperbaiki kampung. Langkah kedua berupa pembongkaran bangunan-bangunan liar. “Kemudian akan dilakukan pembangunan dalam arti perbaikan kampung sebagaimana layaknya untuk tempat manusia merdeka sekarang ini,” tulis Sjamsuridjal dalam Karya Jaya . Pada masa Sudiro, Soemarno, dan Henk Ngantung menjabat kepala daerah Jakarta, perbaikan kampung tak banyak dilakukan oleh pemerintah. Menurut Amir Karamoy, masa-masa itu perbaikan kampung lebih sering berasal dari inisiatif warga. “Pemerintah kota hanya membantu penyediaan sebagian dana atau fasilitas. Baru sekitar tahun 1966, program perbaikan kampung dimulai lagi secara lebih terorganisir di Jakarta, ketika Ali Sadikin baru saja menjadi gubernur DKI Jakarta,” catat Amir. Ali Sadikin menaruh prioritas tinggi pada upaya memperbaiki kampung-kampung kumuh. Sebab di kampung-kampung kumuh itulah pertaruhan Jakarta sebagai ibukota negara. “Di mana martabat bangsa dipertaruhkan di dalamnya,” tulis Djaja , 15 Februari 1969. Ali menamakan program ini “Proyek Muhammad Husni Thamrin” untuk mengenang ikhtiar Thamrin mengupayakan perbaikan kualitas hidup penghuni kampung kumuh pada masa kolonial. Prinsip dan langkah perbaikan kampung termaktub dalam Surat Keputusan Gubernur No. Ab. 13/1/2/1969 tanggal 17 Januari 1969. Prinsip dasarnya ialah pemerintah kota membantu penghuni kampung kumuh dalam menciptakan lingkungan kehidupan yang sehat agar mendorong pertumbuhan kegiatan sosial, ekonomi, dan spiritual. Muara program ini terletak pada maujudnya kesejahteraan semua warga kota. Langkah perbaikan kampung antara lain memperbaiki jalan, jembatan, listrik, irigasi, drainase, sanitasi, penyediaan balai pengobatan, sumur air, fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) umum, bak sampah, dan rehabilitasi fasilitas pendidikan. Ali Sadikin membagi kampung-kampung kumuh dalam ukuran tertentu. Dia mendahulukan perbaikan pada kampung paling kumuh di antara kampung-kampung kumuh. Kriteria kampung terkumuh antara lain terlihat dari kondisi lingkungan terburuk, kepadatan penduduk yang tinggi, potensi dinamika penduduk untuk melanjutkan dan memelihara hasil perbaikan kampung, usia kampung, dan pengaruh perbaikan suatu kampung dengan kegiatan kota secara keseluruhan. “Atas dasar kriteria tersebut di atas dipilihlah kampung-kampung yang akan diperbaiki. Selama Pelita I (Pembangunan Lima Tahun) mencakup 87 kampung, umumnya terdiri dari kampung-kampung yang dibangun sebelum tahun 1956,” tulis Ali Sadikin dalam Gita Jaya . Luas area perbaikan kampung tahap pertama mencapai 2.400 hektar. Area seluas itu menampung sekira 1.2 juta penghuni kampung kumuh. Sebagian besar mereka menyambut baik program perbaikan kampung. “Hal ini ditunjukkan dengan partisipasi mereka di dalam pembuatan jalan-jalan. Misalnya tanah yang diperlukan untuk pembuatan jalan, mereka serahkan umumnya secara sukarela tanpa mendapatkan ganti rugi,” ungkap Ali. Tapi program perbaikan kampung bukan tanpa hambatan dan kritik. Hambatan terbesar berupa dana. Kas pemerintah kota tidak mampu membiayai perbaikan kampung kumuh di seluruh wilayah Jakarta. Maka dana perbaikan digenjot dari pajak judi dan hiburan malam. “Dan buntutnya dari segi uang pembiayaan tak pernah sepi dari gugatan,” tulis Ekspres , 5 April 1971. Masalah pembiayaan perbaikan kampung mulai terpecahkan ketika lembaga internasional seperti Persatuan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia memberikan nilai positif. Bank Dunia bahkan mengucurkan kredit berjangka 15 tahun untuk membiayai perbaikan kampung. “Bantuan Bank Dunia meliputi 50% dari biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan tahap berikutnya, yang meliputi pelaksanaan perbaikan selama 5 tahun,” tulis Ali. Hingga akhir masa jabatannya pada 1977, Ali menghitung bahwa perbaikan kampung telah mencakup area seluas 4.694 hektar dengan penghuni sebanyak 1.9 juta orang. “Tinggalah kini kewajiban dari masyarakat untuk dapat memelihara keadaan perkampungan yang telah diperbaiki,” pesan Ali. Gubernur Jakarta selepas Ali Sadikin berupaya melanjutkan program perbaikan kampung. Mereka melengkapi kekurangan program sebelumnya seperti pembangunan sarana bermain anak, penyediaan penerangan jalan, dan perawatan hasil perbaikan. Sekarang perbaikan kampung diwujudkan secara berbeda melalui inisiatif konsep kampung warna-warni. Tapi semangatnya tetap sama: perbaikan kualitas hidup penghuni kampung kumuh.
- Dari Dalam Kampung Kumuh Ibukota
BANYAK kampung kumuh di beberapa kota besar Indonesia berubah jadi warna-warni selayak pelangi. Mengecat kampung kumuh jadi tren untuk mengubah citra kampung yang muram dan kusam. Bagaimana sebenarnya citra itu berkembang? Kemunculan kampung-kampung kumuh di kota-kota besar Indonesia bukan hal baru. Kampung-kampung kumuh telah ada sejak masa kolonial pada 1910-an. Amir Karamoy dalam “Program Perbaikan Kampung: Antara Harapan dan Kenyataan” termuat di Prisma No. 6, 1984, menyebut dua publikasi orang Belanda yang menggambarkan kampung kumuh di sejumlah kota Hindia Belanda. Publikasi pertama berasal dari Westerveld pada 1914. “Di situ gubuk-gubuk sangat tidak layak disebut tempat tinggal manusia,” tulis Westerveld ketika mendeskripsikan kampung kumuh di kota-kota Hindia Belanda, sebagaimana dikutip Amir. Publikasi kedua berasal dari Hendrik Freek Tillema pada 1920-an. Dia menyatakan kota-kota di Jawa perlu banyak perbaikan. Mulai segi kesehatan, sanitasi, penataan daerah padat, saluran tanah, pembuangan kotoran, sampai penerangan. Zaman telah masuk masa merdeka, tapi kampung-kampung kumuh di kota tetap bertahan. Di Jakarta, misalnya, kampung-kampung kumuh itu tersebar di banyak wilayah. Kampung-kampung kumuh itu terbagi dua jenis: legal ( slums area ) dan liar ( squatters area ). Tapi keduanya memiliki ciri-ciri yang sama. Antara lain padat, kotor, jorok, dan kurang fasilitas. “Jalan-jalannya tidak diaspal, sehingga musim kemarau berdebu dan di musim hujan sukar dilalui karena becek dan berlumpur, di sana-sini terdapat comberan yang baunya menusuk hidung,” tulis Sjamsuridjal, walikota Jakarta 1951-1953 dalam Karya Jaya. Ajip Rosidi, sastrawan sohor Sunda yang pernah tinggal di Jakarta pada 1950-an, menggambarkan keadaan kampung kumuh Jakarta masa itu dalam sajaknya, “Jembatan Dukuh”, termuat di Tjari Muatan . “Ada daerah bersesakkan gubug-gubug, gelap dan melarat dari bocah-bocah yang tersita daerah mainnya, menghitung jam di jari-jari tangannya, gosong, dan terasing,” ungkap Ajip. Kebanyakan penghuni kampung-kampung kumuh berlatar belakang ekonomi dan pendidikan rendah. Mereka bekerja sebagai buruh kasar, penarik becak, dan pedagang kecil. Sebagian mereka telah menempati kampung itu beberapa lama. Lainnya baru datang dari desa di luar Jakarta. Kedatangan mereka menambah kepadatan kampung. Para penghuni kampung kumuh biasanya membangun hunian dari kayu, tripleks murah, atau kardus bekas. Pokoknya segala bahan yang mudah terbakar. Jarak satu hunian dengan lainnya begitu rapat. Ketika kebakaran melanda, tak satupun hunian mereka selamat. Majalah Kotapradja , Januari 1953, melaporkan bahwa kebakaran yang melanda Jakarta ratusan kali dalam rentang 1951-1953 sebagian besar terjadi di kampung-kampung kumuh. Kebakaran terbesar terjadi pada 28 Juli 1952 di Krekot Bunder. Kebakaran menghanguskan 600 hunian dalam wilayah seluas 60.000 meter persegi. Sekira 10.000 orang kehilangan hunian dan mencari tempat hunian baru. Beberapa wilayah yang sebelumnya lengang dan penuh pohon mulai berubah menjadi kampung-kampung padat dengan hunian sederhana dan berjarak rapat. “Wilayah ini dapat dijumpai di Pedurenan, tepatnya di selatan Jalan Kawi,” tulis Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an . Kebakaran terus mengancam penghuni kampung-kampung kumuh. Misalnya pada 7 Desember 1954, kebakaran melalap tiga kampung di Kecamatan Sawah Besar. Kotapradja , Desember 1954, menyebut ribuan rumah hangus dan 10.000 penghuni kampung kumuh terancam menggelandang. Saking seringnya kebakaran melanda kampung-kampung kumuh di Jakarta, Ajip Rosidi mengabadikannya dalam sajak. Pengalaman para penghuni kampung kumuh berhadapan dengan kebakaran pada 1950-an terekam dalam Djakarta dalam Puisi . “...Kami bicara tentang kebakaran Ibu hangus ayah tertembak Kampung habis dan kota kepadatan Namun kami tak menangis Kan menangis air mata habis ...” Selain lingkungan yang tidak sehat, fasilitas yang kurang mendukung hidup layak, dan kebakaran, para penghuni kampung kumuh juga kenyang dengan ancaman pembongkaran dari pemerintah. Pembongkaran oleh pemerintah tidak hanya berangkat dari pandangan soal legalitas, melainkan juga dari pandangan bahwa kampung kumuh merupakan sumber penyakit sosial di kota seperti pelacuran, pengangguran, dan kriminalitas. Biasanya pembongkaran lebih menyasar area kampung kumuh yang liar, yang di atasnya berdiri gubuk-gubuk tanpa izin, ketimbang kampung kumuh legal. Misalnya pembongkaran gubuk-gubuk di daerah Senen pada Februari 1954. Tak ada ganti rugi dan relokasi bagi penghuni gubuk. Mereka dibiarkan terkatung-katung. Tapi pada 1960-an, Gubernur Soemarno mulai menimbang kepentingan dan kebutuhan para penghuni permukiman kumuh ilegal sebelum membongkarnya. “Pembongkaran-pembongkaran tidak nanti akan kami lakukan begitu saja... Living mereka akan kami perhatikan dan sekali-kali tak boleh dihentikan. Juga soal pemindahannya senantiasa akan kami perhatikan,” kata Soemarno dalam Star Weekly , 4 Februari 1961. Pembongkaran-pembongkaran kampung kumuh terus berlangsung pada tiap dekade. Sebab kekumuhan di Jakarta terus meluas. Dalam Gita Jaya , Ali Sadikin, gubernur Jakarta 1966-1977, menyebut 60 persen penduduk Jakarta tinggal di kampung kumuh nan padat. Sementara Wiyogo Atmodarminto, gubernur Jakarta 1987-1992, menulis dalam Catatan Seorang Gubernur , “Pertumbuhan daerah-daerah kumuh, yang luasnya mencapai 40% dari seluruh daerah permukiman, akhirnya menimbulkan masalah-masalah sosial. Jakarta is a big village .” Sekarang kampung-kampung kumuh masih tersua di sudut-sudut Jakarta, di tengah-tengah ambisi Jakarta menjadi megapolitan terbesar kedua di dunia pada 2045.
- Asal-Usul si Kocak Deadpool
SUPERHERO berbalut kostum tactical merah ketat is back ! Setelah sukses dengan film perdana Deadpool (2016) yang masih dalam lebensraum -nya semesta Marvel, Ryan Reynolds kembali memerankan pahlawan konyol tapi mematikan dalam Deadpool 2 . Sekuel kali ini digarap sutradara David Leitch (Deadpool 2016 disutradari Tim Miller), menampilkan petualangan lanjutan mutan kocak yang punya kelebihan bisa menyembuhkan diri dari berbagai luka. Di film yang rilis perdana 10 Mei 2018 ini, nyaris 119 menit durasinya berisi beragam adegan kocak yang akan membawa penonton terpingkal-pingkal sekaligus terpukau dengan akhir cerita nan mind-blowing yang mungkin melebihi Avengers: Infinity War. Jalannya cerita terbilang sederhana, namun tak mudah ditebak. Fokusnya ada pada sang Deadpool yang –ber-alter ego Wade Wilson– ngotot menyelamatkan seorang bocah mutan lain, Firefist/Russell Collins (Julian Dennison), jadi target pembunuhan mutan lain yang datang dari masa depan, Cable (Josh Brolin). Firefist ternyata memporak-porandakan dunia sebagai penebusan dendam gara-gara di masa kecil acap disiksa di rumah rehabilitasi mutan yatim piatu. Cable kembali ke masa lalu demi melenyapkan Firefist dengan harapan anak-istrinya bisa hidup kembali jika mencegah Firefist tumbuh dewasa dan jadi bencana di masa depan, di mana salah satu korbannya adalah keluarga Cable. Sementara, Deadpool membentuk tim X-Force yang berisi sejumlah mutan lain seperti Domino (Zazie Beetz), Shatterstar (Lewis Tan), Zeitgeist (Bill Skarsgard), Vanisher (Brad Pitt), Yukio (Shioli Kutsuna), Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand), dan Colossus (Stefan Kapicic). Nama kedua terakhir ‘ cabutan ’ dari X-Men. Selain sekuel kali ini lebih kocak, nyeleneh dan konyol, Rhett Reese, Paul Wernick, dan Ryan Reynolds yang juga tergabung di tim penulis skenario, tak segan-segan menyelipkan beberapa scene hingga dialog yang nyerempet film-film lain macam X-Men, karakter Wolverine (Hugh Jackman), hingga menyindir karakter Green Lanter dari DC Comics yang notabene pernah pula diperankan Reynolds pada 2011. Soal efek CGI (Computer-Generated Imagery), Deadpool 2 cukup halus dan keren. Terlebih saat menampilkan tokoh Colossus yang sepenuhnya tubuhnya chrome. Maka, khusus adegan-adegan yang menampilkan Colossus, diambil beberapa kali lebih banyak untuk menghadirkan efek pantulan cahaya mengingat chrome selalu memantulkan cahaya. Efek suara juga sangat digdaya, bisa membawa suasana tegang saat Deadpool terlibat pertarungan. Sebagaimana film Deadpool pertama, sekuel ini juga banyak diramaikan sisipan lagu-lagu lawas macam All Out of Love (Air Supply), Papa Can You Hear Me? (Barbra Streisand), If I Could Turn Back Time (Cher) dan lagu-lagu genre dubstep. “Setelah ini Anda pasti akan mencari tentang Dubstep di Google,” canda Deadpool di suatu adegan, seolah berinteraksi dengan penontonnya. Satu hal yang perlu diperhatikan, film ini meski menampilkan pahlawan super, bukan berarti bisa dinikmati semua kalangan, terutama anak-anak, mengingat banyaknya adegan kekerasan nan berdarah-darah. Lahirnya Deadpool Berkalang Kontroversi Deadpool 2 merupakan seri ke-11 dari “franchise” X-Men keluaran Marvel Entertainment. Karakter Deadpool sebelumnya muncul sebagai karakter ekstra di X-Men Origins: Wolverine (2009) dan X-Men: Days of Future Past (2014). Deadpool juga muncul di beragam komik. Eksistensi Deadpool pertama kali muncul di komik Marvel, The New Mutants Nomor 98 pada 10 Februari 1991. Deadpool pertama kali muncul di komik The New Mutants #98 pada 10 Februari 1991/Foto: marvel.com Karakter Deadpool lahir dari karya ilustrator komik Rob Liefeld dan penulis komik Fabian Nicieza. Awalnya, Deadpool diciptakan sebagai super-villain alias penjahat super. Dia seorang pembunuh bayaran dengan beragam skill bertarung dengan senjata tajam maupun senjata api. Kostumnya dibuat berwarna merah darah berkonsep tactical untuk menunjang sang karakter menyimpan sejumlah senjatanya. “Kenapa merah? Agar musuh-musuh tak bisa melihat saya berdarah,” tutur Wade Wilson dalam sebuah dialog di Deadpool 2016. Namun dari penciptaan itu, banyak kontroversi muncul lantaran karakternya dianggap menjiplak dua karakter lain: Spider-Man (Marvel) dan Deathstroke (DC Comics). Deathstroke (kiri) & Spider-Man dianggap jadi inspirasi penciptaan Deadpool/Foto: Youtube Liefeld akhirnya memang mengakui bahwa Deadpool terinspirasi dari karakter-karakter yang lebih dulu muncul itu. Saat Liefeld sedang melanjutkan seri komik The New Mutants , dia terinspirasi menciptakan satu karakter tambahan kala sahabatnya, Todd McFarlane, juga sedang menyelesaikan salah satu seri komik Spider-Man. “Faktanya, Spider-Man tak hanya jadi pengaruh dan inspirasi sebagai pahlawan berkostum ketat dan bertopeng. Liefeld berniat membuat Deadpool sebagai versi jahatnya Spider-Man,” ungkap Brian Cronin dalam 100 Things X-Men Fans Should Know & Do Before They Die . Tentu saja Liefeld dan Nicieza tak membuat Deadpool punya kemampuan serupa Spider-Man atau mungkin karakter Wolverine untuk dimasukkan ke seri komik The New Mutants . “Wolverine dan Spider-Man adalah dua karakter yang jadi saingan saya setiap saat. Saya harus membuat Spider-Man dan Wolverine (versi) saya sendiri,” kenang Liefeld kepada Forbes , 12 Februari 2016. Mereka memilih kemampuan yang “dicontek” dari Deathstroke, salah satu karakter DC Comics – saingan Marvel, yang diidolakan Liefeld. Ini lantas jadi kontroversi kedua yang mengiringi kelahiran Deadpool. Kemahiran Deadpool menggunakan senjata tajam dan pistol, hingga beberapa detail kostumnya, terinspirasi Deathstroke yang kemampuan andalannya jauh berbeda dari Spider-Man dan Wolverine. “Deadpool jelas-jelas menyontek karakter penjahat DC bernama Deathstroke. Tak hanya figurnya yang mirip, nama (alter ego) mereka pun nyaris serupa – nama asli Deathstroke adalah Slade Wilson dan nama asli Deadpool adalah Wade Wilson,” tulis James Egan dalam 1000 Facts about Superheroes Volume 2. Rob Liefeld, seniman di balik penciptaan Deadpool/Foto: Facebook Rob Liefeld Soal ini, Liefeld tak terima tudingan bahwa dia menyontek DC. Menurutnya, Deadpool hanya terinspirasi DC, bukan menjiplak. “Saya suka Deathstroke. Saya pun mengoleksi banyak seri komiknya. Memang perbedaan keduanya tak terlihat begitu jelas. Tapi seingat saya, (kostum) Deathstroke berwarna biru dan oranye, sementara Deadpool merah dan hitam. Lagipula Deathstroke aslinya orang tua, sementara Deadpool masih muda,” tandas Liefeld kepada Youtuber Nerdy Pop, dikutip screenrant.com pada 2 September 2016.
- Hikayat Tan Malaka, Sang Buronan Abadi
SEWINDU yang lalu, di desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, ditemukan sisa belulang atas nama Tan Malaka. Tempat itu diyakini sebagai pusara Tan Malaka yang ditembak mati atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi IV Jawa Timur, 21 Februari 1949. Kesimpulan itu dipastikan setelah para peneliti mencocokan DNA yang terkandung dalam kerangka tersebut dengan DNA keponakan Tan Malaka. “Tapi karena ada kekuatan yang tidak bisa saya mengerti, hingga hari ini Tan Malaka belum memiliki makam yang layak,” kata sejarawan Harry Poeze kepada Historia. Sebagai aktivis cum intelektual zaman pergerakan kemerdekaan, sosok Tan Malaka masih berselubung misteri. Jejak sejarahnya dikaburkan selama masa kuasa Orde Baru. Nama Tan masuk dalam kategori figur terlarang untuk diperkenalkan dalam narasi sejarah resmi. Sebabnya adalah ideologi Marxisme yang dianut Tan. Bahkan kuatnya sensitifitas ketika membicarakan sosok Tan Malaka masih berlangsung hingga kini.
- Bagaimana Islam Menyebar di Xinjiang?
SETELAH Perang Talas (751) dan Pemberontakan An Shi (755–763), Dinasti Tang perlahan lepas kendali terhadap Wilayah Barat (xiyu). Gonjang-ganjing kondisi negeri yang berlanjut pada tercerai-berainya Cina menjadi Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (907–960) sehabis Dinasti Tang bubar pada 907, semakin membuat Cina tak mampu mengurus protektoratnya (duhufu) yang sebenarnya mencakup Asia Tengah tapi kelak sejak abad ke-18 cuma tinggal dan lebih dikenal dengan nama Xinjiang itu.
- Mula Feminisme Kembali Tumbuh
Sempat dibungkam di awal Orde Baru, feminisme kembali tumbuh pada dekade 1980-an dan mencapai puncaknya kala Reformasi.
- Kisah Loper Koran Beragam Zaman
KOPI pagi di rumah kurang lengkap tanpa kehadiran koran. Dan koran tak bisa sampai ke rumah pembacanya tanpa jasa seorang loper koran. Selama ratusan tahun, loper koran telah memainkan posisi penting dalam bisnis media cetak dan menopang perekonomian banyak keluarga miskin. Mereka menghubungkan pekerja media cetak dengan para pembacanya dan menjadi salah satu pekerjaan sambilan bagi anak-anak untuk membantu orangtuanya. Loper koran hadir kali pertama di New York, Amerika Serikat, pada 1833. Bruce J. Evensen dalam Journalism and the American Experience mencatat kerja loper koran tak lepas dari ide Benjamin Day, seorang penerbit surat kabar murah ( penny press ) bernama New York Sun . Day telah bekerja seharian untuk menyebarkan edisi perdana New York Sun pada 3 September 1833. Dia terlalu lelah untuk melakukan hal serupa pada keesokan harinya. “Maka dia pasang iklan bagi para pengangguran untuk menjajakan surat kabarnya,” tulis Bruce. Seorang anak lelaki berusia 10 tahun membaca iklan tersebut. Dia mendatangi kantor New York Sun dan mengatakan kepada Day bahwa dia berminat menjuali surat kabar murah itu. Caranya dengan membeli beberapa eksemplar. Tapi ada harga diskon baginya sehingga dia bisa memperoleh keuntungan dari selisih harga diskon dengan harga jual kembali. Nama anak itu Barney Flaherty. Dia mulai bekerja keesokan harinya. “Menjadi yang pertama dari sekian ribu loper koran yang kemudian menjajakan dagangannya sepanjang terang hari dan tidur di jalanan kota pada malam hari,” lanjut Bruce. Kemudian penerbit media cetak di Amerika Serikat mulai memperoleh pelanggan tetap. Keistimewaan pelanggan ialah mereka tak harus mencari koran di tepi jalan. Mereka hanya tinggal menunggu koran datang ke rumah. Di sini tugas loper koran mulai menyempit: tak perlu lagi menjajakan koran, melainkan mengantar koran ke rumah pelanggan. Nama-nama sohor pernah tercatat sebagai loper koran pada masa kecilnya. Antara lain Harry S. Truman, presiden Amerika Serikat 1945-1953; Martin Luther King Jr., tokoh kesetaraan; dan Warren Buffet, pebisnis ulung. NBCnews menyebut loper koran telah menjadi ritus hidup bagi sebagian besar anak-anak di Amerika Serikat. Loper Koran di Indonesia Di Indonesia, kehadiran loper koran kali pertama belum terlacak secara pasti. Tapi mereka sudah berseliweran di kota-kota besar Hindia Belanda pada 1920-an. Masa 1920-an menjadi masa tumbuh-kembang bisnis media cetak di kota-kota besar Hindia Belanda. Bisnis ini berkembang di kota lantaran orang-orang melek huruf latin lebih banyak berada di kota ketimbang di desa. Pemerintah kolonial pun lebih dulu membangun sekolah-sekolah di kota pada awal abad ke-20 ketimbang di desa. Pertumbuhan jumlah orang melek huruf latin di kota mendorong peningkatan kebutuhan terhadap informasi. Media cetak menyediakan beragam informasi. Pada sisi inilah mereka butuh orang untuk menyalurkan informasi kepada pembacanya. Sementara pada sisi lain, ada orang juga butuh pekerjaan. Termasuk anak-anak sekolah. R.H. Iskandar Suleiman, mantan murid Hollandsche Indische School (HIS) —setingkat sekolah dasar— di Batavia pada 1920, mengungkap kenangannya menyambi kerja sebagai loper koran. Dia butuh uang untuk biaya sekolah dan hidup keluarganya. Iskandar berkarib dengan Sugimin, seorang siswa Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo) —setingkat SMP— di sekitar kediamannya. Dia tahu keseharian Sugimin di luar jam sekolah. “Sugimin membiayai sekolahnya dari hasil keringatnya sendiri sebagai krantenloper (pengedar koran) Het Nieuws van den Dag tiap sore,” tulis Iskandar dalam “Dari Asuhan Nenek Sampai Berdiri Sendiri”, termuat di Prisma , No. 10, Oktober 1979. Iskandar mengatakan kepada Sugimin bahwa dia butuh pekerjaan. Dia ingin jadi krantenloper selayaknya Sugimin. Keinginannya terkabul ketika Sugimin mengajaknya ke kantor penerbitan Het Nieuws van den Dag . Di sini dia mendapat pekerjaan dari koran tersebut sebagai krantenloper . Iskandar bekerja mulai pukul 15.00, sepulang bersekolah. “Aku harus mengantarkan koran di daerah Menteng untuk 96 alamat, sebagian terbesar rumah orang Belanda,” tulis Iskandar. Dia kelar kerja pukul 20.00. Selama mengantar koran, Iskandar banyak raih pengalaman suka dan duka. “Sukanya, karena aku dapat menerima imbalan hampir 10 perak sebulan (jumlah cukup besar pada waktu itu; dan dukanya, karena sering aku mendapat gangguan anjing galak dan omelan langganan, kalau koran agak lambat diantarkan),” tambah Iskandar. Beberapa kali juga dia kena hina teman-teman sekolahnya. Iskandar tak ambil pusing soal hinaan teman-teman sekolahnya. Dia menjalani pekerjaan ini sampai duduk di bangku MULO. Fase ini jalan hidupnya mulai berubah. Seseorang menawarinya pekerjaan di percetakan. Iskandar menerimanya dan kelak membuatnya tahu seluk-beluk pers hingga bisa menjadi redaktur majalah Muhammadi , organ bulanan Muhammadiyah. Cerita pekerjaan loper koran mengubah hidup seseorang juga dialami oleh Andi Hakim Nasution, mantan rektor Institut Pertanian Bogor 1978-1987. “Dulu saya pernah jadi loper koran,” kata Andi dalam Femina Vol. 20, 1992. Dia ingat saat itu tahun 1947. Masa-masa sulit bagi banyak keluarga di Bogor lantaran situasi revolusi. Tapi dengan menjadi loper koran, dia bisa ikut membantu perekonomian keluarga. Pengalaman lain menjadi loper koran datang dari Herlina Kasim ‘Si Pending Emas’. Dia sukarelawati pembebasan Irian Barat selama 1960-1965. Di Soasiu, Maluku Utara, Herlina mengupayakan penerbitan mingguan Karya. “Mingguanku dimaksudkan sebagai alat di daerah ini untuk menggembeleng semangat rakyat menghadapi masalah Irian Barat,” tulis Herlina dalam Herlina Pending Emas . Herlina merangkap jabatan sebagai pemimpin umum dan loper. “Repot juga bagiku. Di Soasiu tidak ada nama jalan dan nomor rumah, surat kabar ku antar pada orang yang kira-kira mau berlangganan,” lanjut Herlina. Tapi Karya kurang beroleh sambutan. Makin hari, makin merosot saja peminatnya. Biarpun Karya itu media cetak gratisan. Bahkan Herlina kesulitan mencari orang yang mau menjadi loper koran. Dia membandingkan pekerjaan loper koran di Jakarta dengan di Soasiu. “Setahuku loper di Jakarta atau penjual-penjual koran mempunyai penghasilan yang baik dan merupakan kerja sambilan, ada yang sambil bersekolah,” catat Herlina. Apa sebabnya orang Soasiu tak tertarik menjadi loper koran? Herlina bilang karena pekerjaan itu tidak dibayar, melainkan kewajiban kepada bangsa dan negara untuk turut membantu penyebaran gagasan pembebasan Irian Barat. Kini loper koran berhadapan dengan persoalan baru: revolusi industri 4.0. Revolusi ini mengubah arah bisnis media dari cetak ke bentuk digital. Dan itu bakal mempengaruhi masa depan pekerjaan loper koran. Apakah mereka akan bertahan atau remuk digilas revolusi industri 4.0?
- Ketika DI Tak Terkendali
MISBACH (75) masih ingat kejadian itu. Suatu hari di tahun 1976, ia tengah berjalan di tengah kota Medan ketika suatu ledakan mirip suara petasan besar menghentak khalayak. Tak lama kemudian situasi menjadi ricuh. Banyak orang bergerak ke arah sumber ledakan untuk mendapatkan kepastian apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Saya sendiri ikut bersama mereka dan jadi tahu bahwa yang dibom itu ternyata Apolo”, ungkap lelaki Jawa tersebut seraya menyebut nama bar yang lumayan besar di Medan saat itu. Tahun 1976 memang merupakan tahun penuh teror bagi kota Medan. Selain bar Apolo, Bioskop Ria menjadi target peledakan pula.Bahkan selanjutnya bukan hanya tempat hiburan, para pelaku teror pun membom sejumlah gereja dan masjid serta melakukan penggranatan terhadap acara MTQ (Musabaqoh Tilawatul Qur’an). “Morev alias Momok Revolusiener mengklaim berada di balik aksi-aksi itu,” ungkap Ken Conboy dalam Intel (Bagian II): Medan Tempur Kedua . Perjuangan Jilid Dua Menurut Ken Conboy, Morev merupakan sel baru yang dibentuk oleh para aktivis DI (Darul Islam) di Sumatera Utara. Anggota Morev mayoritas terdiri dari anak-anak muda yang tak memiliki hubungan apapun sebelumnya dengan DI. Peneliti DI Solahudin mengkonfirmasi pendapat Conboy. Namun secara rinci ia menambahkan bahwa Morev memang dibentuk sebagai organ teror oleh salah seorang tokoh DI di Sumatera yakni Timsar Zubil, asisten tokoh DI terkemuka Gaos Taufik. Istilah itu sendiri didapat setelah Timsar berdiskusi dengan Abdullah Umar (aktivis DI Medan) yang merupakan rekan seperguruan Timsar di Pesantren Gontor, Jawa Timur. “Momok itu sendiri diambil dari kata Momoc, singkatan dari Mobile Moment Comande, nama pasukan khusus DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Sulawesi Selatan pimpinan Sanusi Daris,” ujar peneliti yang juga jurnalis itu. Sebenarnya pasca Ikrar 1962, para tokoh DI memilih untuk mengambil jalur kompromi dengan pemerintah RI. Bahkan pada 1965-1967, mereka dilibatkan secara aktif buat menghabisi PKI dan orang-orang Sukarno. Kerjasama erat itu berlanjut saat mereka dimanfaatkan oleh Opsus (Operasi Khusus) pimpinan Ali Moertopo guna menggembosi perolehan suara parta-partai Islam dalam Pemilihan Umum 1971. Lantas apa yang menyebabkan para aktivis DI kembali mengangkat senjata? Rupanya jalan kerjasama dengan Opsus hanyalah salah satu taktik politik para aktivis DI. Berkaca pada kasus Perjanjian Hudaibiyyah yang melibatkan kaum kafir Quraisy dengan umat Islam di era Nabi Muhammad Saw, kerjasama dengan pihak pemerintah RI diperlukan untuk mengkondisikan perlawanan lebih matang lagi terutama dalam soal pengumpulan logistik dan dana perang. Setelah merasa kuat, maka perjuangan jilid kedua pun wajib dilakukan kembali. Aksi-aksi teror pun kemudian dilaksanakan. Tidak hanya di Medan tapi juga di Bukittinggi, Aceh, Sulawesi Selatan, Riau dan Jawa. Dengan memanfaatkan jaringan lama seperti Tengku Daud Beureh di Aceh, DI coba kembali membangun berbagai sel perlawanan. Salah satu sel mereka diberi nama Komando Jihad. Opsus Berlepas Diri Menurut Solahudin dalam NI Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia , sejak awal BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) sudah mengetahui bahwa para aktivis eks DI akan melakukan tindakan subversif. Setidaknya itu bisa disimpulkan dengan membiarkan Adah Djaelani dan kawan-kawannya menghidupkan kembali DI. “Mereka secara sengaja menunggu gerakan para eks DI ini membesar dan memulai aksi-aksi teror baru setelah itumengadakan penangkapan-penangkapan terhadap mereka,” ungkap Solahudin. Analisa Solahudin dikuatkan oleh Busyro Muqodas dalam Hegemoni Rezim Intelijen . Dalam kasus Komando Jihad, kata Busyro, unsur rekayasa politik yang dilakukan Opsus terlihat jelas dengan adanya penyalahgunaan aparat Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di tingkat pusat dan Pelaksanaan Khusus Daerah (Laksusda). Namun, pendapat-pendapat itu dibantah keras oleh Aloysius Sugiyanto. Menurut mantan orang kepercayaan Ali Moertopo itu, BAKIN dan Opsus sama sekali berlepas diri dari situasi yang melanda DI pada pertengahan tahun 1970-an. Alih-alih merencanakan sebuah jebakan politik, Opsus justru menginginkan para eks anggota DI melupakan sama sekali cita-cita mereka untuk mendirikan suatu negara Islam di wilayah Republik Indonesia. “Mereka menjadi tak terkendali setelah Opsus dibubarkan. Jadi jika ada orang mengatakan itu ulah Opsus ya tidak benar. Saya tidak tahu kalau mereka disusupi kepentingan lain atau kekuatan lain setelah Opsus tidak ada,” ungkap Aloysius kepada Historia .*
- Kelincahan Kaki Yaris Riyadi
SEDARI zaman kuda gigit besi, Persib Bandung nyaris tak pernah absen melahirkan bintang yang turut menjadi tulang punggung tim nasional (timnas) Indonesia. Bila di barisan depan Persib pernah menyumbang Adjat Sudrajat dan di barisan belakang ada Robby Darwis, di sektor tengah Persib punya Yusuf Bachtiar. Gelandang inilah yang jadi idola Yaris Riyadi, bintang Persib era 2000-an. Sejak kecil, Yaris amat mengagumi Yusuf. “Sejak lama ada cita-cita pingin main sama Kang Yusuf,” kata Yaris kepada Historia . Mimpi bermain bareng idola itu terus menyemangati Yaris menempa diri di lapangan hijau. Yaris kecil menimba ilmu di sekolah sepakbola UNI (Uitspanning Na Inspanning). Turnamen demi turnamen diikutinya bersama UNI. Prestasi gelandang lincah itu terus meningkat. Pada 1995, dia direkrut Persib. Di musim pertamanya, Yaris langsung ikut membawa Persib menjuarai Liga Indonesia II. Yang membuatnya tak kalah senang, Yaris bisa main bareng Yusuf Bachtiar. “Bangga bisa sempat main bareng. Dia yang memberi wejangan, bahkan sebelum Yaris masuk Persib. Sepanjang karier, dia sering kasih nasihat, jangan sampai patah semangat karena saingannya di gelandang (di Persib dan timnas) banyak sekali,” tandasnya. Seiring waktu berlalu, pemain yang dijuluki “Si Ucing” (kucing) karena kelincahannya itu kian matang. Aksi-aksi ciamik dan konsistensinya membuat pelatih timnas Nandar Iskandar kepincut lalu memasukkan nama Yaris ke skuad timnas untuk Piala Kemerdekaan 2000. “Bangga luar biasa ya bisa dipanggil timnas. Saking bangganya saya sering menangis saat nyanyi lagu Indonesia Raya. Ya karena persaingannya (untuk masuk timnas) itu kan dari seluruh Indonesia dan waktu itu sudah cukup lama juga enggak ada pemain dari Persib di timnas,” imbuh Yaris. Masuknya Yaris mengakhiri kevakuman Persib menyumbang pemain untuk timnas sejak pensiunnya Robby Darwis usai SEA Games 1997. Yaris bersama Imam Riyadi menyambung tradisi itu tahun 2000. “ Alhamdulillah sedari tahun 2000 sampai 2005 di timnas. Tentu bangga sekali karena setiap pemain kan mimpinya ke sana ya (membela timnas),” tutur Yaris . Sebagaimana dengan Persib, Yaris menuai sukses di debutnya dengan timnas. Indonesia berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan 2000. Pahit Gelar juara di Piala Kemerdekaan itu sayangnya jadi satu-satunya prestasi termanis Yaris bersama timnas. Di Piala Asia 2000, Piala Tiger (kini Piala AFF) 2000 dan 2002 timnas gagal juara. Kekalahan-kekalahan itu jadi pengalaman tersendiri bagi Yaris. Terlebih, kekalahan di final Piala Tiger 2002, menjadi pengalaman terpahit baginya. Di partai puncak dengan dukungan sekira 100 ribu suporter di Stadion Gelora Bung Karno, 29 Desember 2002 itu, Yaris sempat mendongkrak asa Indonesia yang tertinggal dua gol dari Thailand. Di menit 46, Yaris menyumbang satu gol. Gol Gendut Doni kemudian memperpanjang nafas Indonesia hingga adu penalti. Sayang, Indonesia akhirnya kalah 2-4.“Sedih bukan main. Apalagi Yaris juga sempat bikin gol,” ujar Yaris mengenang. Di klub, Yaris dan rekan-rekannya juga terpukul ketika Persib gagal lolos ke semifinal Liga Indonesia 2001. Mereka kalah 0-1 dari Persebaya Surabaya di laga terakhir Grup A babak 8 besar di Medan. “Padahal kalau seri saja, kita masuk semifinal. Saya juga baru berapa menit main, sudah harus ditandu keluar (karena cedera). Waktu itu dihajar (dilanggar) sama Mursyid Effendi. Saya membelakangi lawan, bola belum datang, saya sudah dihajar. Ya kecewa karena enggak bisa kasih yang terbaik. Tapi memang saya sudah enggak tahan. Biasanya kalau enggak sakit-sakit banget, saya maksain,” sambungnya. Itu jadi musim terakhir Yaris bisa tampil bareng idolanya. Yusuf Bachtiar pensiun setelah musim itu selesai. Yaris sendiri setelah berseragam Persib merantau ke Pelita Krakatau Steel, Persikab Bandung, PSIS Semarang, Bandung FC,dan terakhir di PSGC Ciamis.
- Cantik Putih Masih Berkuasa
PEREMPUAN berkebaya dan rambut bersanggul itu tersenyum lepas. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Meski hanya karikatur, perempuan itu membawa pesan terselubung: kecantikan. Kecantikan bisa diwujudkan dengan menggunakan produk yang dipakainya. Konon, produk itu bisa menghaluskan kulit. Pesan itulah yang hendak disampaikan iklan bedak Purol yang dimuat Majalah Wanita terbitan 1957. Perempuan berkebaya dalam iklan produk kecantikan. Penggambaran sosok perempuan berkebaya yang berafiliasi dengan nilai budaya Jawa atau Indonesia, muncul dalam iklan sejak pra-kemerdekaan. Iklan-iklan semasa kolonial acap menampilkan sosok perempuan berkebaya. Namun, mereka jarang ditemukan dalam iklan produk kecantikan. Mereka lebih banyak muncul dalam iklan lampu, Post Telegram Telefon, atau mentega. Iklan produk sabun mandi di Pandji Poestaka tahun 1940 mewakili sedikit kemunculan perempuan berkebaya dalam promosi produk kecantikan. Dalam iklan itu, Mia menyarankan Roos, yang sama-sama berkebaya, untuk memakai produk tersebut. Namun, iklan itu memampang wajah aktris Hollywood Jean Arthur sebagai patron kecantikannya, bukan perempuan bumi putera. Pesannya, cantik itu seperti Jean yang ber-ras Kaukasia. Pasca-kemerdekaan, wacana kecantikan berubah. Bila sebelumnya wacana kecantikan diidentikkan dengan perempuan dari ras kaukasia, sosok perempuan berkebaya kemudian menggantikan. Perempuan berkebaya muncul dalam iklan berbagai produk kecantikan sebagai bagian dari pembentukan wacana kecantikan baru. Iklan bedak Purol di Wanita pada 1957, iklan perempuan berkebaya Sunsilk, dan keputusan Lux mengganti modelnya menjadi perempuan Indonesia pada akhir dekade 1950-an menandai perubahan itu. “Ketika kita mulai merdeka, gagasan tentang perempuan cantik berubah menajdi Indonesianwhitebeauty . Ketika pemerintahan berganti, penguasa berganti, gagasan kecantikannya juga berganti. Tapi tetap saja yang dianggap cantik yang kulitnya putih,” kata Luh Ayu Saraswati, dosen kajian perempuan Universitas Hawaii, kepada Historia . Lebih jauh Ayu menjelaskan, selain usaha untuk menumbuhkan wacana kecantikan baru, era Sukarno yang anti-Barat juga berpengaruh pada wacana kecantikan yang berkembang di masa tersebut. Cantik versi Indonesia adalah perempuan Indonesia berkulit terang, biasanya disebutkan berkulit kuning langsat. Namun Ayu mengkritik wacana kecantikan yang digaungkan merujuk pada perempuan Jawa, bukan perempuan Ambon atau Papua yang kebanyakan berkulit lebih gelap. Pembentukan gagasan kecantikan tersebut masuk melalui afek atau emosi. Iklan produk kecantikan memancing afek dan perasaan suka pemirsa melalaui narasi dan model yang ditampilkan. “Menilai sesuatu itu cantik bukan sekadar melihat perempuan berkulit putih. Kecantikan itu bukan sesuatu yang kita lihat tapi yang kita rasakan. Jadi iklan-iklan itu membangun emosi dan kesuakaan pemirsanya,” kata Ayu. Memasuki zaman Soeharto, patron kecantikan kembali berubah. Kedekatan hubungan dengan Barat kembali membaik, khususnya di bidang ekonomi. Film-film Hollywood, majalah gaya busana, dan produk-produk Barat masuk ke Indonesia. Iklan-iklan pun menampilkan produk kecantikan yang menawarkan perawatan kelas dunia. Model-model dalam produk kecantikan ikut berubah menjadi perempuan Indonesia dengan wajah agak bule dan tentu yang berkulit terang. Ira Wibowo, misalnya, aktris keturunan Jawa-Jerman ini menjadi model sebuah sabun mandi pada 1986. Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1997, penjualan produk pemutih kulit tak pernah mati. Para produsen menyiasatinya dengan membuat produk pemutih kemasan kecil dan beberapa produk perawatan kecantikan kemasan saset. Terobosan itu membuat kepentingan mereka yang berkantong cekak tapi ingin membeli produk yang konon bisa mempercantik diri bisa terakomodir. Sementara, larisnya produk kecantikan tersebut menjadi penanda masih kokohnya wacana bahwa cantik adalah putih. Wacana kecantikan ideal yang dikampanyekan terus-menerus sejak era kolonial membuatnya sulit ditumbangkan. Meski dewasa ini beberapa produk memasang model berkulit gelap, wacana cantik putih masih mendominasi. “Kalau hitam tidak pernah dibilang cantik, tapi dibilang manis. Kalau putih dia digambarkan cantik,” kata Ayu.
















