top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bobotoh, Suporter Militan yang Patut Dicontoh

    SORE itu, hawa di sekitar Stadion Persib di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 252 masih sejuk meski Bandung sudah tak lagi musim hujan. Tiga pria paruh baya asyik bercakap-cakap di depan pintu utama stadion yang pada 1930-an merupakan milik klub Sidolig (Sport in de Openlucht is Gezond) itu. Iwan, Soni, dan Budi, ketiga pria paruh baya itu, merupakan anggota Bobotoh, suporter loyal Persib Bandung, sejak 1980-an. “Ya katakanlah kita sudah kepala lima (usia 50-an). Kita mah dari zaman masih SMP-lah sudah sering nonton Persib. Ya kita simpatisan, pendukung di mana pun Persib main. Ya dari 1980-an udah sering dukung dan sering jadi bolos sekolah, hahaha ...,” kata Iwan berkelakar pada Historia. Soni tak jauh beda. Dia mengaku jadi Bobotoh juga sejak muda. Fanatismenya terhadap Persib kian menjadi setelah jadi menantu mantan kiper Persib Yusuf Hasan. “Ya kadang saya mengoordinasikan bawa pendukung dari tingkat RT, RW, kecamatan. Ya saya membawa nama bapak (mertua) untuk galang dukungan, ajak mereka nonton,” kata Soni menimpali. Di depan Stadion Persib itu, menurut Budi, dulu sering jadi titik kumpul para Bobotoh jika hendak mendukung Persib bertanding ke luar kota. “Dulu Bobotoh itu massa-nya start dari sini. Ya bisa dibilang sekretariatnya di sini. Pembagian tiket juga di sini,” sahut Budi. Kiri-kanan: Budi, Iwan dan Soni, tiga Bobotoh senior yang ditemui di Stadion Persib Sidolig (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Soal militansi, Bobotoh tak kalah dari Bonek (fans Persebaya). “Kalau main di luar kota, kita naik kereta itu di atas (gerbong). Tidak sedikit yang saya dengar kena kecelakaan. Ada yang kena kabel listriknya, ada yang sampai jatuh dari atas gerbong,” kata Iwan. “Dapat atau enggak dapat tiket, dulu saya harus tetap nonton. Pas masih SMP, saya panjat pohon di stadion (Siliwangi) karena enggak punya tiket. Sampai digebukin, disentrum tentara, disuruh turun,” Soni menimpali. Persib sudah jadi harga mati untuk Bobotoh. “ Persib nu Aing! ” sebutannya sekarang. Militan tanpa Tawuran Betapapun militannya Bobotoh, tak satupun dari ketiga anggota Bobotoh tadi yang punya pengalaman tawuran dengan suporter tim lain. Karena, menurut anggota Bobotoh yang juga peneliti hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto, “Bobotoh lahir dari kecintaan masyarakat Jawa Barat (tidak hanya Kota Bandung) terhadap Persib sejak 1930-an.” Bobotoh lahir dari istilah bahasa Sunda yang artinya mendukung sesuatu yang baik atau positif. “Jadi kata-kata Bobotoh sebenarnya relevan juga diterapkan (menyebut pendukung) di olahraga lain, seperti basket, bulutangkis. Bahkan, juga di musik atau kompetisi cerdas cermat, misalnya. Ya orang Sunda bilangnya mau ngabobotoh tim ini, tim itu,” lanjut pegawai Kementerian Hukum dan HAM RI itu kepada Historia . Istilah Bobotoh untuk mengartikan suporter setia Persib sudah eksis ketika Persib juara Perserikatan 1937. Di final yang dimainkan di Stadion Sriwedari Solo, 16 Mei, Persib menang 1-0 atas tuan rumah Persis Solo. “Ketika Persib pulang, mereka disambut banyak pendukung dalam acara penyambutan di Stadion Persib. Mungkin enggak seheboh kemarin (juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015). Tapi ya jumlahnya sudah cukup banyak juga ketika itu. Walau hujan turun pun, mereka tetap di sana. Acaranya simple , hanya syukuran dan makan-makan di antara mereka,” imbuh Eko. Yang mesti ditekankan, kata Eko, Bobotoh bukanlah sebuah organisasi pendukung. Oleh karena itu, anggota Bobotoh tak pernah diketahui jumlah pastinya. Pun sekretariat resmi atau kostum, Bobotoh tak pernah punya. Ia tumbuh beriringan dengan alunan cinta masyarakat Bandung kepada Persib. Bobotoh & pengamat hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Kecintaan itu membuat mereka pernah menyesaki Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) pada final Perserikatan, 23 Februari 1985. “Dulu pas terjadi rekor penonton di Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno), pelakunya kan juga Bobotoh. Sampai 150 ribu orang dan membludak sampai ke pinggir lapangan,” tambahnya. Meski begitu, Bobotoh tak sok jagoan. Jumlah besar ditambah kekalahan Persib 2-3 dari PSMS tak sedikit pun memancing emosi mereka untuk ricuh. “ Alhamdulillah enggak ada ribut-ribut dengan (suporter) PSMS. Paling saya kegencet-gencet aja di tribun itu saking sesaknya. Sepulangnya aman, walau saya sempat nyasar waktu keluar stadion untuk cari bus yang bawa kita dari Bandung ke Jakarta,” tutup Soni yang turut datang mendukung Persib di Senayan kala itu.

  • Cuma Manis di Atas Kertas

    SAKIT perut sampai ke punggung, pusing, lemas, keringat dingin, mual, dan muntah menjadi pengalaman rutin bagi sebagian perempuan ketika hari pertama atau kedua haid. Kalau sudah begitu, jangankan bekerja, mengambil makanan di dapur pun mereka tak sanggup. Tak semua perempuan haid mengalami itu, memang. Masing-masing perempuan punya “corak” haid sendiri. Namun, yang cilaka adalah perempuan yang terpaksa bekerja meski sakit karena haid. Mereka melakukan itu karena tak mengetahui hak cuti haid, takut kena PHK, atau perusahaan tidak memberi hak cuti haid. Padahal, hak untuk istirahat selama sehari-dua ketika haid diatur dalam pasal 81 Undang-Undang (UU) Nomor 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. Sementara, “Pasal 93 nomor 2 huruf  B berbunyi bila pekerja  mengambil cuti haid karena merasakan sakit akan tetap mendapatkan upah,” kata Kepala Bagian Biro Humas Kementerian Tenaga Kerja Sahat Sinurat kepada   Historia . Bagi pihak pemberi kerja yang tidak memberikan hak cuti haid bila buruh merasakan sakit pada hari pertama, akan dikenakan sanksi. “Perusahaan yang tidak memberikan cuti haid bagi pekerja yang merasa sakit akan dikenai sanksi sesuai Pasal 185, sanksi pidana,” kata Sahat. Dalam kenyataannya, hak cuti haid buruh perempuan hanya manis di atas kertas. Diah Pratiwi dalam skripsinya tentang pelaksanaan cuti haid di PT. Lintas Marga Sedaya Majalengka menulis, pada 2017 pekerja perempuan di perusahaan tersebut tidak diberikan izin untuk cuti haid. Pengalaman serupa juga dialami beberapa buruh perusahaan garmen yang diwawancara Sasmito pada akhir 2017 untuk buku Perempuan di Dunia Kerja. Alih-alih mendapat cuti haid, mereka justru kena marah atasan begitu mengajukan cuti haid. Buruh lain bahkan dipindahkerjakan ke bagian yang lebih berat karena hal itu. Bukan hanya perusahaan garmen, hotel-hotel mewah dan restoran elit juga banyak yang tak memberlakukan cuti haid untuk pekerja mereka. Menurut Linda, sekretaris Serikat Pekerja PT Amos Indah Indonesia (perusahaan garmen), dia dan kawan-kawan serikat mengaku lebih mudah memberi penyadaran hak cuti haid kepada perempuan pekerja daripada berharap pada pemerintah. Padahal, pemberian hak cuti haid sudah diatur sejak lama melalui UU Nomor 12 Tahun 1948 tentang Kerja. UU ini diperbarui pemerintah lewat UU Nomor 1 tahun 1951 yang mengatur tentang cuti haid selama dua hari bagi perempuan pekerja. Tetap saja, beberapa perusahaan tak memberikan cuti haid kepada perempuan pekerja yang merasakan sakit. Hal itu membuat banyak organisasi perempuan dan serikat buruh pada 1950-an menyerukan agar perusahaan-perusahaan swasta menyediakan tempat kerja ramah bagi perempuan. Pada 1953, Gerwani menuntut pemberlakuan cuti haid bagi semua penyedia kerja. Perempuan yang mengalami nyeri haid membutuhkan cuti tersebut untuk istirahat.  Menurut Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan PerempuanIndonesia, tahun 1950-an Ketua Biro Wanita SOBSI Sri Ambar dan rekan-rekan buruhnya kerap berdemonstrasi untuk memperjuangkan hak buruh yang sudah diatur dalam undang-undang. “Aksi-aksi itu kami tujukan pada Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah…. Kami menuntut hak-hak kaum wanita yang sudah ditetapkan Undang-Undang, termasuk dua hari cuti haid,” kata Sri Ambar yang diwawancara Saskia tahun 1983. Sri Ambar juga menceritakan, kampanye memperjuangkan cuti haid mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk organisasi perempuan. Yetty Noor dari Kowani, misalnya, menolak pelaksanaan cuti haid lantaran baginya merugikan pemerintah. Pemerintah sendiri lebih condong melindungi kepentingan perusahaan swasta. Lewat Kementerian Perburuhan, pemerintah mengkritik UU Nomor 1 tahun 1951. Menurut instansi plat merah itu, peraturan ini justru merugikan perempuan. “Peraturan ini membuat minat perusahaan untuk mempekerjakan perempuan semakin berkurang,” seperti dikutip Cora Vreede de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia. Perjuangan menuntut cuti haid makin berat ketika Orde Baru. Tuntutan pemberlakuan cuti haid jarang terdengar lantaran pingsan oleh represi penguasa. Cuti haid –di samping tuntutan kenaikan gaji dan pemenuhan hak-hak buruh lainnya– paling terdengar saat Marsinah, buruh PT Catur Surya Perkasa (PT CPS), melakukan demonstrasi pada 5 Mei 1993. Itu pun tak mendapat tanggapan dan Marsinah malah tewas.

  • Yang Melaporkan dari Medan Perang

    Jurnalis legendaris Indonesia almarhum Rosihan Anwar pernah berkisah kepada saya. Di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), bukan hanya kaum pemanggul senjata yang ikut berperang, tetapi juga para kuli tinta dari kedua kedua negara yang tengah berkonflik ikut turun ke gelanggang. “Salah satu jurnalis Belanda yang pernah berpolemik dengan saya adalah Alfred van Sprang,” ungkap Rosihan. Van Sprang merupakan jurnalis perang terkemuka yang pernah bertugas di Indonesia (1946-1949). Dia tercatat sebagai jurnalis yang bekerja untuk kantor berita Amerika Serikat,  United Pers . Sebagai warga negara Belanda, Sprang memiliki akses istimewa dalam setiap gerakan militer Belanda di Indonesia. Rekaman reportasenya selama melekat pada Divisi 7 Desemberdi Jawa, dia catat dalam sebuah buku berjudul  Wij Werden Geroepen  (Kami yang Dipanggil). Pada saat Aksi Polisional I (pihak Indonesia menyebutnya Agresi Pertama), Sprang mengikuti pergerakan pasukan Belanda dari Klender menuju Karawang. Dia melaporkan jalannya pertempuran antara pejuang Indonesia dengan tentara Belanda nyaris dari front ke front. Salah satu laporannya yang paling impresif adalah saat dia menjadi saksi mata bagaimana keuletan pasukan HMOT (milisi bumiputera yang direkrut dari kalangan penjahat dan eks pejuang Indonesia) saat bertempur melawan sebuah batalyon TNI bernama Beruang Merah. Selain Sprang, Belanda juga menurunkan para jurnalis fotonya. Setidaknya ada dua nama fotografer perang mereka yang aktif di palagan Indonesia: Hasselman dan Charles Brejer. Nama terakhir adalah fotografer yang paling banyak menghasilkan foto-foto human interest  mengenai situasi-situasi perang di Jawa, termasuk penderitaan para penduduk sipil. Fotografer asal Prancis Henri Cartier Bresson juga termasuk ciamik merekam situasi-situasi Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan salah satu essai foto-nya di Majalah  LIFE  berjudul  ‘Young Men Are Both The Peril and The Hope’  termasuk salah satu laporan paling legendaris mengenai Indonesia era revolusi. Akses Bresson ke kubu Republik juga termasuk kuat. Dia pernah beberapa kali mewawancarai sekaligus mengambil gambar Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tak mau kalah dengan para jurnalis tersebut, pada 1948 majalah terkemuka  National Geographic  (NG) menurunkan jurnalis Ronald Stuart Kain untuk meliput gejolak perang di tanah Jawa. Saya pernah membaca tulisan Kain itu di majalah  NG  edisi 93 Mei 1948. Pemaparannya sangat detail dan sungguh memukau. Secara detail dan deskriptif, dia  menuliskan situasi sosial politik yang terjadi selama perang kemerdekaan berlangsung di tanah Jawa: para pengungsi yang berdesakan di kereta api, lasykar-lasykar pribumi berambut gondrong yang menikmati peran mereka sebagai tentara, serta para serdadu muda yang muak akan perang dan rindu pulang ke kampung mereka di Belanda. Selain jurnalis-jurnalis dunia asal United Pers , Reuters , ANETA , LIFE , Time dan National Geographic , ada juga para kuli tinta dari Swis, India, Australia dan negara-negara lainnya. Tak boleh dilupakan,  para jurnalis Indonesia pun hadir untuk meliput setiap kejadian-kejadian dari medan perang. Selain  Rosihan Anwar, ada jurnalis kawakan Mochtar Lubis serta para fotografer IPPHOS : Frans Mendoer, Alex Mendoer, J.K. Oembas, Alex Mamoesoeng, F.F. Oembas, Abdul Rachman dan M.Jacob. Jika Rosihan dan Mochtar sangat aktif melaporkan situasi perang yang terjadi di Jakarta, Surabaya, Tangerang, Batavia, Karawang, Bekasi dan Yogyakarta (Rosihan bahkan merupakan jurnalis pertama yang bisa mewawancarai Panglima Besar Soedirman), maka Alex Mendoer cs menghadirkan gambar-gambar dari medan perang. Mereka bertebaran nyaris di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera.

  • Tangan Dingin Moon Jae-in

    Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berhasil membuat masing-masing rakyatnya dan dunia internasional bisa bernapas lebih lega. Jumat (27/4/2018) lalu, keduanya menandatangani Deklarasi Panmunjom. Deklarasi bernama lengkap Panmunjom Declaration for Peace, Prosperity and Unification of the Korean Peninsula itu menjadi tonggak sejarah baru dalam mengakhiri Perang Korea secara permanen. Dari rezim ke rezim di Korsel, baru sekarang wacana rekonsiliasi dua Korea nampak realisasinya. Di luar gedung pertemuan, keduanya bergandengan tangan. Era dan harapan baru memancar dari wajah keduanya. “Saya sangat yakin era baru perdamaian akan tercipta di semenanjung, di mana kedua Korea meredam tensi militer dan membangun kepercayaan,” ujar Presiden Moon, dimuat Korea.net , media milik Badan Kebudayaan dan Informasi Korsel (KOCIS), Senin, 30 Maret. Anak Pengungsi Pembawa Harapan Unifikasi Upaya kedua pemimpin Korea itu menjadi jawaban penting dari harapan banyak rakyat Korea, Selatan maupun Utara. Seorang pejabat Kedutaan Besar Korsel di Jakarta yang enggan disebut namanya mengatakan dalam obrolan santai pada medio April 2016, unifikasi Korea sejak lama didambakan olehnya dan mayoritas publik negerinya. “Kami menginginkannya. Kami punya bahasa yang sama, juga budaya yang sama. Sudah seperti saudara. Kami satu negara (kerajaan) selama ribuan tahun,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia terbata-bata kepada Historia . Harapan itu kini tinggal beberapa pijakan anak-tangga berkat tangan dingin Presiden Moon. Serangkaian langkah jitunya, dimulai dari pemberian izin para atlet Korut tampil di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchan pada Februari 2018,membuat Korut “tersentuh” dan berhasrat mengiyakan ajakan damai. Moon man of the match dalam game ini. Usut punya usut, Moon ternyata pemimpin Korsel yang lahir dari anak pengungsi Korut. Orangtua Moon termasuk di antara belasan ribu penduduk Korut yang melarikan diri dari Hungnam antara 15-25 November 1950. Mereka dievakuasi Amerika Serikat (AS) menggunakan kapal SS Meredith Victory ke Busan, Korsel. Dari Busan, orangtua Moon menetap di Geoje, kota tempat Moon dilahirkan pada 24 Januari 1953. Sebagaimana lazimnya keluarga pengungsi Korut, Moon hidup dalam keterbatasan. Terlebih setelah ayahnya terlilit utang akibat bisnis kaus kakinya mandek. Kendati begitu, Moon tetap jadi pelajar teladan dengan nilai-nilai tinggi di Sekolah Menengah Kyungnam, hingga menerima beasiswa studi hukum di Universitas Kyunghee. Moon Jae-in saat masih wamil di Pasukan Khusus Korea Selatan. (Kantor Berita Yonhap) Wajib Militer Menghadapi Korut Gara-gara mendalangi demo mahasiswa menentang Konstitusi Yusin, Moon ditahan dan di-DO kampusnya. Moon lantas menebus masa hukumannya dengan menjalani wajib militer (wamil) di satuan khusus Angkatan Darat Korsel. Wamil ini membawa Moon “bersentuhan” dengan negara kelahiran ortunya. Moon yang sudah menyandang baret hitam, ditugaskan dalam Operasi Paul Bunyan. Operasi psywar itu merupakan balasan terhadap aksi pembunuhan dua prajurit Amerika, Kapten Arthur Bonifas dan Lettu Mark Barrett, oleh serdadu Korut di Panmunjom, 18 Agustus 1976. Menurut Reed R. Probst dalam Negotiating with the North Koreans: The U.S. Experience at Panmunjom , insiden itu berawal dari sebuah misi pimpinan dua prajurit AS yang ikut dalam penjagaan DMZ di Panmunjom, untuk menebang sederetan pohon di antara pos jaga UNC (Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Korut di kawasan perbatasan. Misi itu kepergok 15 serdadu Korut dan berujung pada pembunuhan Kapten Bonifas dan Lettu Barrett. Moon dan rekan-rekannya berhasil menjalankan Operasi Bunyan dengan lancar. Mereka kembali ke zona mereka tanpa desingan peluru dari Korut. Selepas wamil pada 1979, Moon mengulang studi hukumnya. Dia kemudian bermitra dengan Roh Moo-hyun menjadi pengacara HAM. Karier Moon melejit berbarengan naiknya Roh ke kursi Korsel 1 (2003-2008). Moon dipercaya Roh jadi Sekretaris Senior Presiden Bidang Kemasyarakatan. Moon juga masuk ke parlemen di Pemilu 2012 dengan kendaraan Partai Persatuan Demokratik. Pasca-pemakzulan Presiden Park Gyun-hye pada 2017, Moon mencalonkan diri sebagai presiden dan menang. Meski pernah dituduh sebagai simpatisan Korut, Moon tetap mendapat 41,08 persen kepercayaan rakyat Korsel. Moon berhasil menjawab kepercayaan itu dengan membawa Korsel ke era baruuntuk bisa kembali berangkulan dengan saudara mereka dari Utara. “Saya sangat senang karena pertemuan ini terjadi di tempat bersejarah. Dan saya tergerak melihat Anda mau menerima saya di Garis Demarkasi Militer Panmunjom. Mungkin kini saat yang tepat buat Anda (bergantian) datang ke wilayah Utara,” tandas Kim Jon-un kepada Presiden Moon, disitat Time , 27 April 2018.

  • Operasi Cockpit

    Sabang dihumbalang Sekutu karena pintu gerbang ke Selat Malaka dan suplier minyak Jepang,

  • Habis Konflik Terbitlah Respek

    KENDATI harus menyaksikan timnya kalah 1-2 dari tuan rumah, kunjungan terakhir Arsene Wenger sebagai pelatih ke Old Trafford (markas Manchester United/MU) pada Minggu (29/4/2018) malam memberi kebanggaan tersendiri dalam dirinya. Jelang kick off , pelatih yang di akhir musim ini akan pensiun itu mendapat hadiah trofi perak dari Sir Alex Ferguson, mantan pelatih MU yang menjadi seteru utama Wenger sejak lama. Laiknya Deklarasi Panmunjom (27 April 2018) yang mengakhiri Perang Korea, trofi perak itu menandai perdamaian antara dua pelatih yang dihormati di dunia persepakbolaan itu. Rivalitas Wenger-Ferguson (pernah) begitu sengit dan jadi bumbu tersendiri dalam kepopuleran Liga Inggris. Dari Negeri Sakura Dipandang Sebelah Mata Wenger mulai mengasuh Arsenal pada Oktober 1996 menggantikan Bruce Rioch. Sebelumnya, Les Professeur menukangi klub Jepang Nagoya Grampus Eight. Oleh karena itu, Ferguson selaku “penguasa” Liga Inggris saat itu, dengan pasukan “Setan Merah”-nya, nyinyir terhadap perekrutan Wenger oleh Arsenal. “Mereka bilang dia orang cerdas, kan ? Bisa bicara lima bahasa? Kami punya seorang bocah 15 tahun dari Pantai Gading yang bisa bicara lima bahasa,” kata Fergie, sapaan Ferguson, dalam biografinya, Fergie: The Greatest . Wenger tak membalas lantaran masih “anak bawang”. Dia baru berani melontarkan celetukan yang bikin panas kuping Fergie, terkait kebijakan otoritas liga yang menguntungkan MU, pada April 1997. “Tindakan (otoritas) Liga memperpanjang program (jadwal) yang menguntungkan Man United, di mana mereka bisa istirahat dan memenangkan segalanya adalah tindakan yang salah,” kata Wenger. Fergie yang sewot pun membalas. “Tahu apa Wenger tentang sepakbola Inggris? Dia baru sekarang ada di klub besar – well , setidaknya Arsenal pernah jadi klub besar. Mestinya dia tutup mulut. Dia kan pemula dan harusnya  bicara tentang sepakbola Jepang saja!” Dalam kesempatan lain, Fergie juga mengomentari ketidaksukaan Wenger pada alkohol –sejak datang ke Arsenal, Wenger melarang para pemainnya menenggak alkohol. “Dia tak pernah datang untuk minum (anggur) setelah pertandingan. Dia satu-satunya pelatih Liga Inggris yang begitu. Padahal bagus untuknya jika dia mau menerima tradisi semacam ini,” sindir Fergie. Wenger berkilah, dalam pekerjaannya bukan jadi tugas utamanya untuk jadi pribadi yang terbuka dan berteman dekat dengan pelatih tim lain. “Kebanyakan saya menolak (ajakan minum anggur). Apa yang nantinya jadi pembicaraan kalau kami menang? Dan jika kami kalah, saya hanya ingin pulang dan mempersiapkan pertandingan berikutnya,” tutur Wenger dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Daily Mail , Martin Samuel, 14 Agustus 2009. Insiden Pizza-gate hingga Perdamaian Konflik Wenger-Fergie tak semata perang kata-kata. Insiden “Pizza-gate” atau yang oleh media Inggris dijuluki “The Battle of the Buffet” pada medio Oktober 2004 menjadi buktinya. Insiden itu terjadi usai Arsenal kalah 0-2 dari MU di Old Trafford. Di lorong ganti pemain, keributan terjadi antara para staf dan pemain kedua tim. Saat tensi memuncak, sebuah pizza terlempar ke wajah Fergie. Belakangan, dalam wawancara dengan Sky Sports pada 5 Oktober 2017, gelandang Arsenal Fransesc Fabregas mengakui lemparan pizza itu merupakan perbuatannya. Pengakuan dosa Fabregas jelas telat. Fergie marah besar pada Wenger karena tak bisa mengendalikan emosi para pemainnya. “Sungguh memalukan. Namun saya tak berharap Wenger meminta maaf. Dia bukan tipe orang seperti itu,” ketus Fergie. Wenger, yang tak mengetahui pelaku sebenarnya, menganggap insiden itu tak pernah terjadi. Dia bahkan menganggapnya rekaan Fergie untuk mengompori situasi. Periode 1997-2009 jadi era tersengit permusuhan Arsene Wenger vs Sir Alex Ferguson (Foto: manutd.com) Konfrontasi Wenger-Fergie bikin gerah pejabat pemerintah. Menteri Olahraga Inggris Richard Caborn, Ketua FA (induk sepakbola Inggris) Geoff Thompson, Petinggi Liga Inggris Richard Scudamore, dan pihak kepolisian mulai turun tangan. Medio Januari 2005, dua perwakilan manajemen klub, David Dein dan David Gill, dipanggil. Alhasil, Wenger dan Sir Alex dibatasi dalam melontarkan komentar. Keduanya hanya diizinkan melontarkan pernyataan sebatas analisa pasca-pertandingan. FA sendiri jadi mengawasi lebih ketat. “Kami punya tanggung jawab dan kami akan memastikan hasil pembicaraan itu ditaati,” tegas Thompson, dikutip BBC , 20 Januari 2005. Langkah tersebut berhasil mengurangi frekuensi saling nyinyir keduanya. Dalam sebuah gala dinner Asosiasi Pelatih Liga Inggris pada 2008, keduanya bahkan berbeda dari sebelumnya saat bertemu.  Menurut John Cross dalam Arsene Wenger: The Inside Story of Arsenal Under Wenger , dalam perhelatan itu nampak pemandangan langka berupa jabat tangan antara Wenger dan Fergie. Fergie bahkan beberapakali tertawa begitu mendengar lelucon Wenger ketika mereka mengobrol. “Apakah sekarang kita bisa katakan bahwa kalian sudah akur dan saling menghormati?” tanya penyiar Richard Keys yang juga menghadiri gala itu pada Fergie, sebagaimana dikutip Cross. “Tentu saja – sampai di pertandingan berikutnya!” jawab Fergie. Hubungan Wenger-Fergie perlahan membaik. Di Liga Champions, usai Arsenal kalah agregat 1-4 dalam laga home-away babak semifinal melawan MU, Wenger mengundang Fergie ke ruang ganti dan memberi selamat . Hingga kini, keduanya sohib yang saling respek. Trofi perak hadiah Fergie untuk Wenger akhir pekan kemarin merupakan bukti. “Dipersembahkan untuk Arsene Wenger oleh Sir Alex Ferguson CBE dan Jose Mourinho (pelatih MU sekarang) atas nama Manchester United Football Club dan pencapaiannya di Arsenal Football Club 1996-2018,” demikian bunyi tulisan di trofi itu. “Terimakasih atas apresiasi yang indah dari Manchester United. Ini kali pertama saya mendapat trofi sebelum pertandingan. Tindakan yang sangat berkelas. Kini saya sangat ingin minum anggur merah dengan Sir Alex. Dia selalu punya anggur yang enak,” tandas Wenger, dilansir Metro.co.uk , Minggu (29/4/2018).

  • Jalan Panjang Sofia

    Usai diberlakukannya Perjanjian Renville pada Januari 1948, Bandung yang ada dalam kontrol Negara Pasundan, situasinya agak tenang. Kondisi seperti itu membuat penduduknya bisa melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari, termasuk Sofia yang fokus mengelola restoran kecil milik sang mertua. Menjelang keluar dari dinas ketentaraan, Sofia sejatinya pernah dekat dengan seorang anggota FP Yogyakarta yang tengah ditugaskan di palagan Karawang-Bekasi. Namanya Wagino Dachrin Mochtar. Namun karena Sofia belum bisa lepas dari bayangan kematian Edi dan kondisi revolusi yang serba tak menentu, hubungan itu pun tak berlanjut. “Tak ada pikiran  untuk menikah lagi saat itu,”ungkap Sofia kepada jurnalis Yoyo Dasrio. Masuk Dunia Film Suatu hari restoran Sofia kedatangan rombongan kru Fifi Young Taneelkunst, perusahaan pementasan sandiwara milik aktris kenamaan saat itu. Usai menikmati hidangan masakan di restoran Sofia, para kru rupanya cocok dan memutuskan untuk menjadikan tempat makan mereka selama mengadakan pentas di Bandung. Tak disangka Sofia, Nyoo Sheong Seng, suami dari Fifi Young, ternyata mengenal dirinya dan mengajak perempuan Bandung itu untuk ikut terlibat lagi dalam dunia akting bersama Fifi Young Taneelkunst. Gayung bersambut. Sofia mengamini permintaan Nyoo Sheong. Maka berangkatlah dia mengadu peruntungan ke Jakarta. Selama di Jakarta, dua kali Sofia ikut menjadi pemain sandiwara dan aktingnya banyak menuai pujian dari penonton. Saat merasa rindu kepada anak-anaknya dan berniat kembali ke Bandung, tetiba aktor kenamaan Ramli Rasjid mengajaknya untuk ikut bermain dalam  Air Mata Mengalir di Tjitarum , sebuah film yang diproduksi oleh Tan Wong Bross dan Java Industrial Pictures. “Melihat penampilan Sofia selama bersama Fifi Young Taneelkunst, kedua perusahaan film itu sangat yakin dia bakal mampu menggantikan peran Miss Rukiah yang keburu meninggal dunia,” ujar Yoyo Dasrio. Desember 1948, Sofia mulai ikut syuting. Dalam film karya Roestam Palindih tersebut, dia beradu akting dengan Raden Endang, sang pemeran utama. Saat Air Mata Mengalir di Tjitarum edar tayang, kawan-kawan seperjuangan Sofia selama di Garut  banyak yang kaget bercampur bangga. Termasuk salah satu sahabat almarhum suami pertamanya, H.E. Rustama. “Pak Rustama kaget waktu tahu Bu Sofia jadi bintang film dan merasa ikut terharu karena jalan cerita Air Mata Mengalir di Tjitarum mirip sekali dengan kisah hidup Bu Sofia dan Pak Edi,” kata Yoyo. Jadi Sutradara Air Mata Mengalir di Tjitarum melejitkan nama Sofia. Namanya semakin meroket saat dia diperistri oleh S. Waldy, lelaki Indo Jerman yang berprofesi sebagai sutradara sekaligus pelawak. Sejak itulah dia menambah namanya menjadi Sofia Waldy dan malang melintang di jagad perfilman nasional. Tercatat ratusan film yang sudah dibintanginya, di antaranya: Dendang Sajang, Mutiara Dalam Lumpur dan Badai Selatan . Tidak puas dengan hanya memiliki kemampuan berakting, Sofia merambah ke dunia penulisan skenario, tata kamera, proses dubbing, editing film dan penyutradaraan. Itu semua dilakukannya secara otodidak dan berhasil. Kali pertama menjadi sutradara dijalani oleh Sofia saat dipercaya menggarap film Badai Selatan pada 1960. Hasilnya, tiga tahun kemudian Badai Selatan berhasil menyabet penghargaan khusus bidang ketelitian penyutradaraan di Festival Film Berlin, Jerman dan menjadikan Sofia Waldy sebagai sutradara perempuan kedua Indonesia setelah Ratna Asmara yang membuat film Sedap Malam pada 1950. Badai Selatan pun ikut mempertemukan kembali Sofia dengan Wagino Dachrin Mochtar yang ternyata terjun pula ke dunia film. Namun karena posisi Sofia yang masih memiliki suami, hubungan mereka tak lebih sebagai sahabat dan mitra kerja semata. Tahun 1962, S.Waldy mangkat. Setahun kemudian, Wagino yang lebih dikenal sebagai W.D. Mochtar, melamar mantan pacarnya tersebut dan diterima. Sejak itulah Sofia yang memiliki dua anak  menabalkan dirinya sebagai Nyonya W.D. Mochtar atau lebih dikenal sebagai Sofia W.D. Bersama W.D. Mochtar, Sofia lantas mendirikan Libra Musical Show (promotor pertunjukan para penyanyi kondang ke seluruh Indonesia) dan PT. Libra Film yang memproduksi film-film laga. Tercatat film-film yang pernah lahir dari Rahim PT. Libra Film adalah Si Bego Dari Muara Tjondet, Singa Betina Dari Marunda dan Si Bego Menumpas Kutjing Hitam . Tahun 1974, Libra Film berubah nama menjadi PT. Dirgahayu Film. Dari perusahaan ini diproduksi film-film seperti Menerjang Badai yang pernah menyabet gelar aktor harapan di perhelatan The Best Actor/Actrees yang diadakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jakarta Raya Seksi Film. Dimakamkan di Kalibata Kiprah Sofia sebagai sutradara dan aktris kian bersinar dari waktu ke waktu. Ibarat kelapa, semakin tua santannya malah semakin baik. Banyak film yang dibintanginya diganjar dengan penghargaan, salah satunya Mutiara Dalam Lumpur yang mendapat penghargaan pemain watak terbaik bagi Sofia dalam Piala Citra 1973. Kendati sudah malang melintang di dunia film, tidak menjadikan Sofia melupakan masa-masa perjuangan revolusi yang pernah dilaluinya. Bahkan pada 1986, dia pernah berencana membuat film Gong Tengah Malam yang berkisah tentang masa-masa perjuangannya dahulu selama di Garut. Sayangnya, seniman pejuang itu keburu menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung pada 22 Juli 1986. Dunia perfilman Indonesia pun berduka. Banyak yang kaget sekaligus bersedih saat mendengar bahwa Sofia W.D. telah mangkat. Buana Minggu edisi 27 Juli 1986 melukiskan bagaimana para handai tolan, rekan dan orang-orang yang bersimpati kepada Sofia berduyun-duyun mengantarkan jenazah sang seniman pejuang itu menuju persemayaman terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. “Tante Sofia harus dicatat sebagai tokoh perempuan yang memberikan andil besar dalam perkembangan perfilman nasional,” ujar aktor sekaligus pelawak Benyamin Sueb  kepada Buana Minggu .

  • Syarat Perempuan Bertahta

    SIAPAPUN, baik perempuan maupun laki-laki bisa jadi raja, asalkan dia anak pertama dari seorang permaisuri. Sebaliknya, biarpun seorang raja memiliki anak laki-laki, jika bukan putra permaisuri, dia bukan pilihan pertama untuk menggantikan posisi raja. Begitulah sistem suksesi yang tak banyak berubah pada masa Mataram Kuno hingga Majapahit. Hal ini berakar pada budaya yang tidak membedakan hak waris bagi laki-laki maupun perempuan di semua kalangan. “Sistem ini pun kemudian mempengaruhi konsep domestik dan publik di dalam masyarakat kala itu,” kata Titi Surti Nastiti, arkeolog senior Puslit Arkenas saat diskusi yang diselenggarakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di Perpusnas, Jakarta. Sejak era Mataram Kuno sekira abad abad 8 M hingga Majapahit berakhir pada abad 16 M, tercatat ada 52 raja yang bertahta. Hanya tiga di antaranya yang merupakan perempuan. “Kita jangan bicara jumlah ya, tapi ada (perempuan yang menjadi raja, red. ),” lanjutnya. Dalam Perempuan Jawa, Titi menulis keberadaan ratu di Jawa sudah tercatat dalam berita Tiongkok. Sumber Dinasti Tang (618-906 M) mencatat pada 674 M rakyat Kerajaan Ho-ling (Jawa) menobatkan seorang perempuan bernama Hsi-mo (Sima) menjadi ratu. Sayangnya, kisah lebih lanjut mengenainya belum banyak diketahui. Berita lebih jelas muncul ketika masa Mataram Kuno. Sri Isanatunggawijaya adalah perempuan pertama yang menduduki singgasana raja. Sebelum menjadi ratu, dia merupakan putri mahkota. Isanatunggawijaya diketahui dari dua prasasti, Silet (1019 M) dan Pucangan (1041 M), dari masa pemerintahan Airlangga. Dia sendiri tak pernah mengeluarkan prasasti. Dalam dua prasasti itu, dia disebut sebagai putri Pu Sindok. Setelah Isanatunggawijaya, tak dijumpai lagi data tekstual soal raja perempuan. Hal ini terjadi sampai masa Majapahit. Pada masa Majapahit ada dua perempuan yang menjadi ratu. Mereka adalah Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddhani dan Dewi Suhita. Tribhuwanattunggadewi merupakan putri Kertarajasa dan Gayatri, putri bungsu Krtanagara. Dia menjadi ratu Majapahit pada 1328 M. Sang putri menggantikan kakaknya, Jayanegara yang meninggal tanpa keturunan. Sebelum menjadi ratu, dia dipercayai lungguh di Kahuripan. Karenanya dia dikenal pula sebagai Bhre Kahuripan. Adapun Dewi Suhita terkenal dengan sebutan Prabhu Stri atau raja perempuan. Keterangan mengenai dirinya hanya didapatkan dari teks Pararaton. Dewi Suhita bukanlah anak sulung, melainkan anak kedua dari Wikramawarddhana. Sebagai anak kedua sebenarnya dia tak berhak atas takhta. Namun kakaknya, Bhra Hyang Weka Sing Sukha atau Bhre Tumapel meninggal ketika masih kecil. Suhita pun menggantikannya menjadi ratu Majapahit pada 1429 hingga 1447 M. Ada juga kisah di mana putri mahkota tak naik takhta menjadi ratu. Namun, ini bukan terjadi hanya pada putri mahkota. Berdasarkan data tekstual, dari 16 orang yang diketahui pernah menjabat sebagai putra dan putri mahkota hanya delapan yang lanjut naik takhta. Enam yang batal adalah Uttejana, Pramodhawarddhani, Dyah Sahasra, Sanggramawijaya, Sri Kusumawarddhani, dan Dyah Sawitri Mahamisi. Alasannya macam-macam. Nama Uttejana muncul dalam Prasasti Kanjuruhan (760 M). Dia merupakan anak perempuan Gajayana yang memerintah Kerajaan Kanjuruhan di Malang sekarang. Namun, kerajaan ini tak bertahan lama karena menjadi bawahan Mataram Kuno. Adapun Pramodawarddhani tak menjadi ratu setelah menikah dengan Rakai Pikatan. Dia menyerahkan kekuasaannya pada sang suami. Hal ini nampak dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan sejak itu. Alih-alih olehnya, prasasti justru dikeluarkan oleh Rakai Pikatan sebagai Raja Mataram. Pada kasus Isanatunggawijaya, sebelum sang putri lahir sebenarnya Dyah Sahasra yang menjadi putra mahkota pada masa Pu Sindok. Awalnya, Dyah Sahasra disebut sebagai rakryan mapatih I hino . Kemudian, jabatannya turun menjadi rakryan mapatih I halu. “Mungkin jabatan putra mahkota disandang ketika Pu Sindok masih belum memiliki anak dari permaisuri,” kata Titi. Adapula kisah putri mahkota Dharmmawangsa Tguh yang menikah dengan Raja Airlangga, penguasa Kahuripan. Namun, bukan karena ini dia tak naik singgasana raja. Sebelum bertakhta, dia diperkirakan keburu tewas akibat peristiwa pralaya, yaitu penyerbuan Wurawari ke istana Dharwammawangsa pada awal abad 11 M . “Inilah salah satu sebab mengapa Airlangga hanya bergelar sebagai rakryan Mahamantri I halu meski telah dinobatkan menjadi raja, karena yang menyandang rakryan mahamantri I hino adalah putri Dharmmawangsa Tguh,” jelas Titi. Gagalnya seorang putri mahkota naik tahta ini terjadi juga pada Sanggramawijaya, putri sulung Raja Airlangga. Padahal jabatan putri mahkota telah dia genggam selama 16 tahun, sejak 1021-1037 M. Namun, pada 1037 M sang putri mengundurkan diri dan menyerahkan kedudukannya pada Samarawijaya. Samarawijaya diduga merupakan putra Dharmmawangsa Tguh. Dia adalah adik putri mahkota Dharmmawangsa yang tewas dari peristiwa pralaya. Sepertinya, ketika peristiwa itu terjadi dia masih kecil. Samarawijaya kemudian menuntut haknya setelah dewasa. Ini kemudian berbuntut pada pembagian kerajaan menjadi dua oleh Airlangga. Pangjalu untuk keturunan Samarawijaya. Janggala untuk putra-putra Airlangga. “Pada kenyataannya perang saudara tetap terjadi, seperti yang dikatakan dalam Prasasti Garaman (1052 M),” ujar Titi. Selanjutnya Kusumawarddhani, putri mahkota pada masa Kerajaan Majapahit. Dia bukan putri sulung Hayam Wuruk sebagaimana dibilang Prasasti Bunur B (1367 M). Namun, dia lahir dari permaisuri. Karenanya dia diangkat sebagai putri mahkota. Kendati demikian setelah menikah dengan sepupunya, Wikramawarddhana, dia tak lanjut menjadi ratu, melainkan suaminya yang dimahkotai. Soal alasannya, sama dengan yang terjadi pada Pramodhawarddhani, tidak diketahui dengan pasti. Apakah mereka menganggap dirinya tidak mampu, sehingga memberikan haknya kepada suami mereka. Ataukah di bawah tekanan suami, mereka merelakan takhta yang menjadi haknya. “Sayangnya, sejauh ini data tekstual belum bisa menjawab pertanyaan itu,” jawab Titi. Sementara Dyah Sawitri Mahamisi yang disebut dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M) tak menjadi ratu meski anak sulung. Alih-alih dirinya, Singhawikramawarddhana yang kemudian meneruskan tampuk pemerintahan Bhre Wengker. Padahal, menurut Prasasti Trowulan III Singhawikramawarddhana adalah putra bungsu Bhre Wengker. “Diperkirakan Dyah Sawitri Mahamisi telah meninggal sebelum ditahbiskan menjadi ratu,” lanjut Titi. Titi pun lalu menilai, kenyataannya selama berabad-abad yang lalu sebenarnya tak ada batasan khusus yang bisa mencegah perempuan untuk duduk di singgasana sebagai penguasa kerajaan. Kalaupun kemudian terlihat kalau Majapahit lebih banyak memunculkan raja perempuan, itu karena kebetulan nama mereka yang ada di urutan suksesi pemerintahan. “Perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama, yang penting dia anak pertama permaisuri. Sudah itu saja, dan tentunya juga tergantung pada kemauan,” tegasnya.

  • Kartu Merah Bagi Kaum Hippies

    Bali kerap disebut sebagai sorga terakhir di bumi. Di sana Anda bisa mereguk kedamaian, kebebasan, dan cinta. Hal itu pula yang mendorong kaum hippies dari Amerika, Eropa, dan Australia menyerbu Bali. Para hippies itu mengarus ke Bali sejak 1969. Sejak itu, kawasan Pantai Kuta yang tadinya sepi berubah jadi ramai. Orang berjemur di sepanjang pantai tanpa sehelai benang alias bugil. “Akibatnya, kawasan ini pun ‘dijajakan ke investor’ untuk dijadikan kawasan wisata pantai. Wisata kaum hippies,” tulis Putu Sastra Wingarta dalam Bali-ajeg . Bali kemudian menjadi destinasi wisata unggulan. Jumlah wisatawan meningkat. Pemerintah, yang tengah mengenjot sektor pariwisata, tentu senang melihat peningkatan jumlah wisatawan ke Bali. Namun, pemerintah juga kuatir terhadap dampak buruk dari kedatangan para hippies , yang mengganggu turis asing betulan dan meresahkan masyarakat. Ekspres edisi 25 Januari 1971 menulis, para hippies perempuan kerap membuat masalah. Mereka, bila memerlukan uang, dengan gampangnya meminta ditiduri siapapun, demi mengisi kocek. Kaum hippies juga dianggap membawa penyakit kelamin. Pemerintah pantas cemas. Terlebih, saat itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menata anak-anak muda untuk berpenampilan baik, tidak gondrong dan tidak mengikuti gaya hidup yang kebarat-baratan. Pemerintah daerah di Bali akhirnya ambil tindakan, mengeluarkan kebijakan mengusir hippies pada 1971. Kantor Dirjen Imigrasi di Jakarta jadi sibuk. Mereka kelimpungan mengurus laporan dan pemulangan para kaum hippies dari Bali. “Selain uang yang mereka bawa sedikit, sehingga tidak bisa membeli apa-apa di sini. Kadang-kadang mereka menjual tiketnya sehingga menyulitkan pemerintah yang harus mengurus pemulangannya,” kata Soebyakto, kepala Humas Dirjen Imigrasi, kepada Ekspres edisi 25 Februari 1972. Alih-alih pulang kampung, bule-bule asing tak bermodal itu hijrah ke Jawa. Pemerintah pusat pun meradang. Pada Agustus 1971 keluar instruksi bersama antara Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan/Ketua Sektor Laut Pariwisata, dan Kepala Kepolisian RI. Isinya, menolak masuknya dan keberadaan orang-orang yang disebut hippies ke dalam wilayah Indonesia. Di dalam instruksi bersama dinyatakan, yang disebut hippies adalah laki-laki atau perempuan yang berpakaian dan berdandan tak teratur dan tak sopan, kebiasaan hidup tak teratur, mengganggu perasaan susila, tak mempunyai penginapan yang pasti, serta mempergunakan dan membawa obat bius. Setelah itu, keluar instruksi kawat dari Dirjen Imigrasi kepada perwakilan-perwakilan mereka di dalam dan luar negeri untuk tak memperpanjang visa yang sudah diberikan , serta tak mengeluarkan visa baru kepada terduga kaum hippies yang mau masuk ke Indonesia. Namun, bila hanya dilihat dari ciri berpakaian, pemerintah mengalami kesulitan untuk mengenali mana kaum hippies asing atau yang betulan turis. Sebelum masuk ke Indonesia, mereka terkadang berpakaian rapi dan di pasport tertulis sebagai mahasiswa. “Tetapi setelah masuk ke Indonesia, ternyata mereka melakukan kegiatan seperti yang dilakukan hippies pada umumnya,” kata Soebyakto. Pihak imigrasi pernah teledor . Suatu hari, mereka menindak orang asing berambut gondrong di dekat lapangan Monas, Jakarta, mencabut pasportnya, dan memerintahkannya menghadap ke kantor imigrasi. “Yang disangka hippies itu, sebenarnya adalah seorang ahli musik dari Amerika,” kata Soebyakto, geleng-geleng kepala. Namun, dengan segala kebijakan pemerintah tadi, kaum hippies asing perlahan bisa ditangkal dan dideportasi.

  • Pemulung Sampah dalam Sejarah

    SEBUAH beko di puncak bukit sampah. Lengan seroknya merasuk ke timbunan sampah, lalu mengangkat timbunan itu dalam satu serokan, kemudian membuangnya ke arah lain. Belasan pemulung lekas menghampiri buangan sampah itu, mencari-cari sampah yang punya nilai ekonomis. Begitulah pemandangan keseharian di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

  • Kolonialisme Hancurkan Kedudukan Perempuan

    PEREMPUAN Jawa cuma jadi konco wingking . Istilah yang dikenal dalam budaya Jawa ini seakan menggambarkan perempuan hanya sebagai teman di dapur dan kasur. Namun, bukti prasasti dan artefaktual memperlihatkan bahwa perempuan punya kesempatan menjadi pemimpin, mulai dari tingkat desa hingga kerajaan. Sejak kapan konsep gender yang menimpa perempuan di Nusantara berubah? “Kita punya akar budaya yang tidak membedakan perempuan dan laki-laki. Tapi berkembang kemudian perempuan Jawa harus dipingit. Ini pengaruh darimana?” kata Titi Surti Nastiti, arkeolog senior Puslit Arkenas, dalam diskusi yang diadakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta. Memang, dalam budaya Jawa Kuno pun perempuan tak selalu bisa dianggap setara dengan laki-laki. Contohnya, mereka mengenal kebiasaan bela atau sati. Kebiasaan ini mengharuskan sang istri ikut mati ketika sang suami mati. Mereka biasanya menerjunkan diri ke dalam kobaran api untuk menunjukkan kesetiaannya. Kendati demikian, budaya ini bukanlah budaya Jawa, melainkan diadopsi dari India. Pada praktiknya, perempuan tidak langsung menerjunkan diri ke dalam kobaran api, sebagaimana kebiasaan di India. Di Jawa, perempuan yang melakukan bela akan menikam jantungnya dengan pisau terlebih dahulu. “Kalo di Jawa lebih manusiawi, menusuk diri dulu baru masuk ke api, jadi mati dulu sebelum merasakan panasnya api,” kata Titi. Kebiasaan ini juga bukan hanya untuk perempuan. Laki-laki juga melakukannya untuk menunjukkan kesetiaannya pada raja yang meninggal dunia. Dalam masalah hukum pun, sanksi yang dijatuhkan kepada peleceh seksual ( paradara ) lebih berat daripada aturan di India. Walaupun perundang-undangan Jawa Kuno bersumber dari kitab-kitab India. Bedanya, kata Titi, seperti disebutkan dalam Prasasti Bendosari dan Parung, masyarakat Jawa Kuno telah mempunyai hukum adat yang dijadikan dasar pertimbangan. “Pernah menjadi pertanyaan saya, setelah saya pelajari. Mungkin masa Islam ya (konsep gender berubah, red. )? Ternyata tidak juga,” kata Titi. Dia pun mengingatkan soal sultanah, raja-raja perempuan yang pernah bertahta di Kerajaan Aceh. Peter Carey, sejarawan Inggris, pernah mengemukakan bukti-bukti kalau perempuan Jawa, setelah Islam masuk masih terus memiliki peran penting. Dalam bukunya, Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX yang ditulis bersama Vincent Houben, sejarawan Jerman, Cerey menyebutkan sebelum meletusnya Perang Jawa (1825-1830), peran perempuan elite sangat menentukan di berbagai bidang. Termasuk dalam politik, perdagangan, militer, budaya, keluarga, dan kehidupan sosial istana Jawa tengah selatan. Pada era Perang Giyanti misalnya, ada laskar perempuan bernama Korps Srikandi. Mereka berperang bersama Mangkunegara I (1757-1795). Lalu ada Nyi Angeng Serang yang kemasyhurannya dikenal selain sebagai anggota keluarga Sunan Kalijaga juga sebagai pejuang. Dia disebut sebagai perempuan pertapa yang punya pengaruh penting bagi penduduk daerah asalnya, Serang, Demak, sampai Perang Jawa berakhir pada 28 Maret 1830.     “Jika menoleh ke belakang dengan pengaruh Polinesia yang sangat kuat, kita akan mendapatkan banyak petunjuk kalau sebelum masa kolonial perempuan Jawa pernah mengambil peran signifikan dalam urusan politik dan masyarakat,” catat Carey. Carey berkesimpulan, setidaknya sampai akhir Perang Jawa, priayi dan perempuan kelahiran keluarga kerajaan di Jawa tengah selatan, menikmati kebebasan dan kesempatan yang jauh lebih luas. Ini dibandingkan dengan perempuan yang lahir pada akhir abad 19. “Kita hanya perlu membandingkan kisah Raden Ayu Serang pada bagian awal abad 19 dengan Raden Ajeng Kartini,” tulis Carey. Katanya, pasca Perang Jawa, kebudayaan Jawa seakan dijinakkan menjadi semacam kebudayaan museum.

  • Kisah Muslim Komunis Jadi Pahlawan Nasional Cina

    BIARPUN “selama ini orang menganggap bahwa Marxisme-Leninisme atau lebih mudahnya komunisme, berada dalam hubungan diametral dengan Islam,” Gus Dur dalam esainya, “Pandangan Islam Tentang Marxisme-Leninisme” yang dimuat Persepsi No.1, 1982, “menghendaki adanya kajian lebih mendalam tentang hubungan Islam dan Marxisme-Leninisme, yang akan membawa kepada pemahaman yang lebih terinci dan pengertian lebih konkret akan adanya titik-titik persamaan yang dapat digali antara Islam sebagai ajaran kemasyarakatan dan Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page