top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kala Ibu Bersatu

    SEMENTARA para anggota Suara Ibu Peduli (SIP) lain berdiri di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Karlina (Leksono) Supelli dan dua rekannya membagikan bunga kepada prajurit-prajurit ABRI yang berjaga. Aksi pada 23 Februari 1998 itu merupakan aksi protes terhadap tingginya harga kebutuhan pokok, terutama susu. SIP memprotes pemerintah yang tak memperhatikan rakyat kecil. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, desak SIP, mestinya jadi perhatian utama pemerintah. “Dulu itu yang menginisiasi perempuan kelas menengah, bikin Suara Ibu Peduli untuk demo di Bundaran HI. Waktu itu ada teman-teman dari Jurnal Perempuan, Kalyanamitra, Karlina Leksono, Gadis Arivia, dan saya,” kata Julia Suryakusuma, juru bicara aksi, kepada Historia . Bermula dari Latihan Aerobik Ide untuk melakukan demonstrasi dimulai sejak November 1997. Menurut Gadis Arivia dalam makalah “Politik Representasi Suara Ibu Peduli”, ide awal muncul ketika dia berdiskusi dengan Nur Iman Subono, Karlina, dan seorang rekan asal Korea Eun Sook. Untuk merealisasikan ide itu, mereka mengundang rekan-rekan aktivis perempuan ke Kantor Yayasan Jurnal Perempuan, Gedung BOR Megaria, 13 Februari 1998. Sekira 15 perempuan ikut dalam pertemuan itu. Antara lain, Myra Diarsi, Julia Suryakusuma, Tati Krisnawaty, Salma Safitri, Umi Lasminah, dan Robin Bush, mahasiswa asal Amerika Serikat. Mereka menggunakan kode aerobik untuk menghindari endusan aparat keamanan; kode terus digunakan setiap mereka akan mengadakan pertemuan. Pertemuan pertama itu membahas tentang keinginan berdemonstrasi untuk melawan rezim Orde Baru, menjatuhkan Soeharto. Untuk mengelabui penguasa, yang cenderung simpatik kepada kegiatan ibu-ibu seperti Dharma Wanita, mereka menggunakan istilah ibu. Segala hal menyangkut rencana demonstrasi mendapat pembahasan detil dalam rapat “aerobik” itu. Meski SIP tak punya masalah dengan kenaikan harga susu bayi, menurut Gadis, isu susu bayi dipilih untuk menarik simpati publik karena masalah itu dirasakan semua orang. Susu bayi merupakan kamuflase terbaik karna berkaitan langsung dengan perempuan sebagai ibu. Bundaran HI dipilih karena merupakan tempat strategis di mana para kelas pekerja lalu-lalang. “Puncaknya, perempuan bisa bersuara meski harus dengan cara-cara politis, seperti turunkan harga susu. Jadi seolah-olah itu ibu-ibu yang demo, mencerminkan ibuisme juga. Jadi strategi demonya begitu,” kata Mariana Amiruddin, komisioner Komnas Perempuan, pada Historia. Meski sempat ada kemungkinan siaga satu, tembak di tempat, para perempuan tak gentar. Demonstrasi tetap berjalan. Para perempuan melakukan orasi dan membagikan bunga kepada prajurit ABRI dan orang-orang yang lewat selama aksi damai itu. Aksi itu terjadi beberapa bulan sebelum demonstrasi mahasiswa pecah. “Ada penyelewengan sejarah kalau dikatakan bahwa reformasi dimulai oleh mahasiswa. Sebetulnya, yang pertama demo itu SIP. Demo mahasiswa kan baru Mei 1998,” kata Julia. Meski aksi berlangsung hanya 30 menit, aparat tak tinggal diam. Karlina Supelli, Gadis Arivia, dan Wilasih asal Salatiga langsung diangkut ke truk aparat usai aksi. Aparat, yang mencurigai mereka ditunggangi kaum oposisi, menanyakan ada-tidaknya keterlibatan ideologi komunis dalam aksi tersebut.   Setelah ditahan selama 23 jam, ketiga aktivis itu dimejahijaukan meski kasusnya kemudian berhenti akibat Reformasi. Toh, represi penguasa tak menciutkan nyali mereka. Aksi mahasiswa yang muncul kemudian, mereka dukung. SIP kembali menggunakan kamuflase ibu “peduli” untuk mendukung aksi mahasiswa dari 19 Mei hingga 23 Mei. “Para perempuan yang ikut dalam SIP mendukung aksi demo mahasiswa dengan membagikan nasi bungkus. Melakukan taktik dengan menunjukkan peran sebagai ibu,” kata Mariana.

  • Virus Kaum Hippies

    Demonstrasi antiperang marak di Amerika Serikat medio 1960-an. Kaum muda turun ke jalan, memprotes invasi Amerika Serikat ke Vietnam. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga ( flower generation ). Mereka kemudian memimpikan sebuah tatanan kebudayaan baru, yang disebut hippies. Ciri-ciri mereka berambut gondrong, berpakaian urakan, hidup nomaden, kerap melakukan seks bebas, dan menggunakan obat bius. Pandangan kebebasan yang mereka impikan seolah ingin meruntuhkan tembok mapan peradaban Barat yang dianggap munafik. Menurut W.J. Rorabaugh dalam American Hippies, tahun 1967 menandai puncak gerakan hippie. Saat itu terjadi sebuah fenomena sosial The Summer of Love, di mana ribuan hippies, mayoritas remaja putus sekolah, menyemut di Haight Ashbury, San Fransisco, Amerika Serikat. Di sana mereka berkumpul untuk mendengarkan musik, berhubungan seks, dan menggunakan narkotik. Festival musik akbar Woodstock di Middlefield, Connecticut, Amerika Serikat, pada 1969 menjadi puncak perayaan budaya kaum hippies . Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya. Menurut Ekspres, 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya sebatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin. Kota besar di Indonesia yang paling cepat menyerap gaya hippies adalah Bandung. Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik menulis, di sana gadis-gadis sekolah ikut-ikutan melakukan seks bebas namun ujung-ujungnya menjadi pelacur-pelacur tanggung. Sebutan populer bagi mereka adalah gongli , singkatan dari bagong lieur , bahasa Sunda babi hutan yang pening . Pengaruh hippies pun menular ke dunia musik tanah air. Bandung pula yang berada di barisan terdepan. Dalam buku otobiografinya, Living in Harmony, Fariz RM menyebut The Prophecy yang anggotanya campuran multibangsa sebagai grup musik hippies asal Bandung. Grup musik ini hanya berdiri selama setahun, 1973-1974. Sementara Japi Tambajong menyebut Flower Power sebagai propagandis hippies pada awal 1970-an. Semangat Flower Power bahkan sempat membuat resah orang-orang tua. “Bandung di kalangan anak muda waktu itu tidak lagi disebut Parijs van Java , tapi San Fransisco of Java ,” tulis Japi. Di Jakarta, kaum muda berharap bisa menikmati konser ala Woodstock. Keinginan itu terpenuhi melalui konser musik besar bertajuk Summer 28– akronim dari Suasana Menjelang Kemerdekaan ke-28 – yang digelar di Ragunan, Pasar Minggu, pada 16 Agustus 1973. Konser ini rencananya berlangsung selama 12 jam, dari pukul 17.00 hingga 05.00, dan menampilkan sekira 20 grup band dari berbagai genre dan subgenre musik, dari Koes Plus hingga God Bless. Dalam artikel berjudul “40 Tahun Summer’28”, pengamat musik Denny Sakrie menyebut Summer’28 sebagai pesta euforia kebebasan bermusik anak muda Indonesia yang sebelumnya dibelenggu aturan-aturan pemerintah. “Inspirasi dari gerakan generasi bunga Summer of Love kemudian dicampurbaurkan dengan semangat kebebasan dalam bermain musik,” tulis Sakrie. Sayangnya, konser harus berakhir lebih cepat. Sekira pukul tiga dini hari terjadi kerusuhan. Konon, karena band rock AKA dari Surabaya batal tampil. Pemerintah pun resah dengan pengaruh hippies pada generasi muda, menganggapnya sebagai ancaman bagi keamanan dan ketertiban. Beberapa upaya pun dilakukan, salah satunya melalui aturan dilarang gondrong.

  • Dari Daur Ulang ke Bantar Gebang

    JALAN Thamrin di Jakarta pernah tak elok dilihat pada dekade 1960-an. Sampah berhamburan di atas tanah merah pembatas jalan itu. “Tidak jauh dari kemegahan Hotel Indonesia, tidak jauh pula dari kehebatan Bank Indonesia di Jalan Thamrin merajalelalah gunung-gunung sampah di tengah-tengah perumahan manusia,” catat F. Bodmer dan Moh. Ali dalam Djakarta Djaja Sepandjang Masa untuk menggambarkan keadaan Jalan Thamrin pada dekade 1960-an.

  • Peran Perempuan Jawa Kuno

    DALAM sejarah kuno Indonesia, perempuan bisa menjabat kedudukan tertinggi di kerajaan hingga desa. Meski begitu bukan berarti kesetaraan gender bisa ditemukan di setiap kehidupan masyarakat pada masa itu. “Terus terang pada masa Jawa Kuno tidak selalu setara,” kata Titi Surti Nastiti, peneliti senior Puslit Arkenas, dalam diskusi yang diadakan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (26/4). Titi menjelaskan, dari akar katanya, wanita dan pria memiliki arti yang sejajar dalam bahasa Sanskerta. Wanita berasal dari vanita. Akar katanya, van yang berarti tercinta, istri, perempuan, anak gadis. Pria berasal dari kata priyá. Artinya, yang tercinta, kekasih, yang disukai, yang diinginkan, dan sebagainya.

  • Gaung Maung di Pentas Sejarah

    BELUM lagi laga Persib kontra Persija dihelat, psywar kedua kubu mengenai pertandingan Liga 1 di Stadion Gelora Bung Karno 28 April 2018 mendatang itu sudah ramai. Bak Tom & Jerry, kedua klub merupakan musuh bebuyutan sejak lama. Walau pada akhirnya duel klasik di pengujung pekan ini mesti ditunda hingga 30 Juni 2018. Padahal, di masa pergerakan kemerdekaan, Persib dan Persija (kala itu masih bernama Voetbalbond Indonesia Jacatra/VIJ) bersama Vortenlandsche Voetbalbond Sala (kini Persis Solo), Persatoean Sepakbola Mataram (PSIM Yogyakarta), Indonesische Voetbalbond Magelang (PPSM Magelang), Madioensche Voetbalbond (PSM Madiun) dan Soerabajasche Indonesia Voetbalbond (Persebaya) bahu-membahu mendirikan PSSI pada 19 April 1930. Persib dan Persija berbeda usia lima tahun. Cikal-bakal Persib berdiri tahun 1923 dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB). Klub yang diketuai Mr. Syamsudin ini dibentuk untuk menyaingi Bandoengsche Voetbal Bond (BVB), klub di bawah naungan Belanda yang lahir pada 1914 dan berganti nama jadi Voetbalbond Bandoeng en Omstreken (VBBO) pada Desember 1935. BIVB sempat diasuh R. Atot, putra tokoh perempuan nasional Dewi Sartika. Markas pertama BIVB bertempat di Lapangan Tegallega. BIVB, sebagaimana ditulis Mohammad Achwani dalam Catatan Lintasan Sejarah Persib 14 Maret 1933-1993, kemudian berganti nama menjadi PSIB (Persatoean Sepakbola Indonesia Bandoeng). Perubahan itu tak lepas dari pengaruh Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Para tokohnya memilih menggunakan nama yang berbahasa Indonesia. Kebetulan, di Bandung kala itu eksis juga klub nasionalis lain, NVB (National Voetbalbond). “PSIB dan NVB kemudian dipersatukan pada (tanggal 14) bulan Maret 1933 dan bond baru ini diberi nama Persib (Persatoean Sepakraga Indonesia Bandoeng),” terang mantan Komisaris PSSI Jawa Barat R. Ibrahim Iskandar dalam buku Pasang Surut 40 Tahun Persib . Namun, mereka masih menggunakan nama PSIB dalam kompetisi Perserikatan 1933. Majalah Pandji Poestaka terbitan 1934, misalnya, mencatat nama PSIB masih menjadi bagian dari 15 anggota PSSI. Terlepas dari persoalan nama, para pengurus Persib di bawah pimpinan Anwar St. Pamoentjak lalu membujuk 11 klub lokal (Diana, HBOM, JOP, Malta, Matahari, Merapi, OVU, RAN, Siap, Singgalang, Soenda) agar bersedia bernaung di bawah Persib. Upaya yang didukung tokoh nasional Oto Iskandar Dinata itu bertujuan untuk mengatasi kendala pemain dan dana dalam rangka menghadapi kompetisi. Namun di sisi lain, upaya perekrutan itu memicu persaingan keras antara sepakbola bumiputra (Persib) melawan sepakbola Belanda (VBBO) dalam merebut hati publik Bandung. Perlahan tapi pasti, minat penonton pindah ke Persib. Pertandingan-pertandingan VBBO pun sepi penonton. VBBO lantas vakum di zaman pendudukan Jepang (1942-1945) karena Jepang melarang semua yang berbau Belanda. Era Jepang dan Kemerdekaan Sempat vakum karena masuknya Jepang, Maret 1942, Persib malah mendapat wewenang Jepang untuk mengelola sepakbola di Bandung di bawah IGB (Ikatan Gerak Badan). Suratkabar Tjahaja 25 Desember 1942 mencatat, Ketua Persib Anwar St. Pamoentjak dipercaya menduduki jabatan Urusan Lapang dan Sepakraga. Pada 1943, IGB Persib digabungkan dengan GELORA (Gerakan Latihan Olahraga). “Sesuai dengan kehendak pimpinan Gelora supaya di tanah Jawa dan Madura sebaiknya hanya terdapat satu perkumpulan olahraga saja, maka pengurus IGB Persib sudah memutuskan untuk melebur IGB Persib kemudian dijadikan Gelora bagian sepakraga,” tulis Tjahaja , 3 Juni 1943. Semasa Revolusi (1945-1949), Persib di bawah asuhan Dr. Musa, Munadi, H. Alexa, dan Raden Sugeng kembali “perang” melawan VBBO yang coba dihidupkan kembali oleh NICA. Persib menang lantaran masyarakat Bandung sudah kadung cinta Persib. Revolusi juga membuat markas Persib berpindah-pindah hingga ke ibukota Yogyakarta, tempat Kompetisi Perserikatan 1948 dihelat. Last Team Standing Persib bisa pulang kampung tahun 1950. Kekuatannya bertambah dengan masuknya klub Young Men’s Combination Chung Hua, Unitspanning Na Inspanning (UNI), dan Sport in de Open Lucht is Gezond (Sidolig). Mereka menyeberang ke Persib menyusul bubarnya klub Persatuan Sepakraga Bandung dan Sekitarnya (PSBS) yang merupakan kelanjutan dari VBBO. Menjelang Indonesia Super League (ISL) 2009-2010, yang mengharuskan tiap klub memiliki badan hukum, Persib berganti status dari amatir menjadi profesional. Dana APBD tak lagi menghidupi Persib. Situs resmi klub, persib.co.id, menyebutkan, mulai 2009 Persib berada di bawah naungan PT Persib Bandung Bermartabat pimpinan H. Umuh Muchtar. Kini, Persib berada di tangan konglomerat Glenn Sugita. Dialah yang mendatangkan dua bintang mahal musim lalu: Michael Essien dan Carlton Cole. Essien digaji Rp11 miliar setahun dan Cole sebagai marquee player digaji sekitar Rp5 miliar. Rangkaian Prestasi Sejak masih bernama BIVB dan kemudian PSIB, Persib berada di bawah bayang-bayang Persija. Di kompetisi Perserikatan 1933, Persib hanya runner-up di bawah Persija. Baru tahun 1937 klub kebanggaan Kota Bandung itu merengkuh gelar juara pertamanya. Prestasi itu baru bisa diulangi di musim 1961. Di turnamen “tak resmi”, Persib sempat juara pada September 1950. Di final kejuaraan dalam perayaan Kongres PSSI itu Persib mengalahkan Persebaya 2-0. Prestasi Persib terbilang labil. Klub ini bahkan sempat terdegradasi ke Divisi I alias gagal masuk lima besar Divisi Utama Perserikatan gegara kalah 1-2 dari Persiraja di laga playoff , 27 Januari 1978. “Dengan kemenangannya ini, Persiraja berhak maju ke Kejuaraan Nasional Utama PSSI bersama-sama dengan Persija, Persebaya, PSM, dan PSMS Medan. Sedangkan Persib harus mulai lagi dari tingkat bawah,” tulis  Pikiran Rakyat , 28 Januari 1978. Hanya bisa menjadi raja runner-up pada 1980-an, Persib berhasil mencapai masa keemasan di era 1990-an. Setelah menjuarai Perserikatan musim 1990, Persib kembali juara pada 1994 sekaligus mencatatkan namanya sebagai penutup juara Perserikatan. Pada 1995, Persib menjadi pencicip pertama juara Liga Indonesia –gabungan kompetisi Perserikatan dan Galatama. Di era ISL sampai Liga 1, Persib baru mengoleksi gelar pada 2014. Di mancanegara, Persib baru bisa membawa pulang satu trofi, Sultan Brunei Cup, pada 1986.

  • Kelola Sampah untuk Cegah Musnah

    PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 tahun 2018 tentang percepatan Pembangunan Instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan pada 12 April 2018. Perpres ini meminta keterlibatan sejumlah kota agar mengelola sampah menjadi lebih bernilai guna. Sebelum Perpres ini, bagaimanakah kota besar di Indonesia, semisal Jakarta, mengelola sampah?

  • Bukti Kedatangan Cola

    EKSPANSI Kerajaan Cola, dinasti Tamil di India Selatan, yang dimulai abad 10 telah mendorong para pedagang Tamil untuk datang ke wilayah Asia Tenggara. Di antaranya ke Sriwijaya yang menguasai wilayah Sumatra dan perdagangan di Selat Malaka. Selain prasasti, bukti keberadaan mereka adalah arca bergaya Tamil yang ditemukan di Sumatra Utara. Dari bukti ini dapat diketahui kalau mereka menempati daerah di pesisir barat dan timur Sumatra bagian utara. Bambang Budi Utomo mengatakan salah satu tempat yang diduduki para saudagar Tamil adalah Kota Cina, Medan, Sumatra Utara. Mereka terkait dengan serikat dagang Tamil bernama Ayyavole yang beraktivitas di Asia Tenggara sekira abad 11-14.

  • Riwayat Ratu Amplop

    Pelawak pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

  • Perempuan Ditekan, Perempuan Melawan

    NYONYA Margono gondok. Suatu hari di tahun 1967 seorang asisten sosial-politik (sospol) Departemen Pertahanan dan Keamanan (Hankam) memintanya mengubah organisasi istri pimpinan Nyonya Margono menjadi seperti organisasi istri di angkatan lain: struktur organisasi mengikuti jabatan suami. Nyonya Margono, yang juga aktif di Perwari, menolak. Dia bersikeras organisasi istri angkatan bersenjata yang dipimpinnya harus tetap otonom, punya hak untuk memilih pemimpinnya sendiri. Dia tidak ikhlas kalau organisasinya harus tunduk pada aturan Rezim Soeharto. “Saya dipilih oleh anggota. Saya harus bertanggungjawab pada mereka dan menunjukkan bahwa para anggota punya hak asasi dasar untuk memilih pemimpin,” kata Nyonya Margono, dikutip Julia Suryakusumma dalam Ibuisme Negara: Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru . Keteguhan Nyonya Margono membuatnya sampai mesti enam kali bolak-balik ke kantor Hankam. Tapi apa daya, asisten sospol Hankam tadi mengatakan kebijakan itu tidak bisa ditolak. Semua orang tak punya pilihan lain. Sejak itu, organisasi istri pimpinan Nyonya Margono kehilangan otonominya. Pengalaman Nyonya Margono merupakan akibat langsung dari agenda politik Orde Baru (Orba) dalam membatasi ruang gerak perempuan. “Di tingkat kabupaten ke atas itu semua harus masuk organisasi korporatif, maksudnya supaya dikuasai oleh negara. Hubungan negara dan masyarakat awal Orde Baru itu dibikin kayak piramida, sangat dikuasai negara,” kata Julia Suryakusuma via telepon kepada Historia . Pasca- G30S, gerakan perempuan mengalami kemunduran. Soeharto berupaya secara sistematis mematikan gerakan perempuan dengan mengkampanyekan politik perempuan sebagai sesuatu yang kotor, menjauhkan perempuan dari politik, dan mengembalikan perempuan ke dapur. Upaya itu mula-mula dilakukan dengan meniadakan anggota PKI, Gerwani, dan semua yang dianggap terkait dengan G30S. Sambil terus mencitrakan perempuan anggota Gerwani sebagai perempuan cantik namun kejam dan amoral, terutama lewat Harian Angkatan Bersendjata , pemerintah Orba terus membungkam gerakan perempuan di luar Gerwani. Perempuan yang memiliki suara atau pandangan politik dianggap perempuan banal seperti Gerwani. Berkelindan dengan trauma pembantaian masal 1965 yang membuat orang-orang takut, kampanye Orba itu berhasil menyurutkan aktivisme perempuan. Namun, Orba membiarkan adanya representasi gerakan perempuan sebatas parsipatoris-pasif agar tak militan seperti masa sebelumnya. Untuk mewadahinya, pemerintah membuat beragam organisasi perempuan. Ninuk Murniarti membagi periode gerakan perempuan era Orba menjadi dua gelombang: Pertama , 1966-1980, di mana perempuan masuk ke dalam PKK dan Dharma Wanita dengan tujuan “berpartisipasi dalam pembangunan”. Kedua , 1980-1998, gerakan perempuan terbagi ke dalam dua kelompok besar. Mereka yang ingin ikut menyukseskan program pemerintah masuk ke dalam PKK, sementara yang lain bergerak ke dalam organisasi-organisasi yang menjunjung keadilan gender. Pemerintah berhasil menggiring perempuan masuk ke dalam organisasi seperti PKK, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi yang disebut sukarela tapi diwajibkan. Sementara, organisasi-organisasi perempuan yang ada diharuskan masuk Kowani. “Gerakan perempuan di tingkat desa ke atas sangat terbatas karena semua masuk Kowani. Sementara, Kowani dikuasai Dharma Wanita dengan ideologi Pancadharma Wanita, perempuan pendamping suami. Di negara fasis seperti Jerman ada juga ideologi anak, keluarga, gereja. Mirip dengan Pancadharma Wanita,” kata Julia. Upaya menguasai organisasi perempuan secara terstruktur itu mirip model organisasi perempuan masa Jepang, Fujinkai. Soeharto memunculkan apa yang disebut Julia sebagai “ibuisme negara” untuk menekan gerakan perempuan. Perempuan baik yang dicitrakan penguasa ialah perempuan patuh, diam, dan perawat keluarga. Nasib gerakan perempuan pun berada di tangan penguasa. Kampanye “Perempuan dan Pembangunan” yang dilancarkan pemerintah Soeharto, tulis Nunuk Murniarti dalam Getar Gender, mengaburkan perjuangan gerakan perempuan. Namun, perempuan tak diam saja. Kungkungan pemerintahan represif mendorong beberapa perempuan membuat organisasi perempuan di luar Kowani. Desakan untuk melakukan gerakan perempuan alternatif muncul ketika efek buruk pembangunan mulai terasa merugikan perempuan. Tahun 1980-an, organisasi perempuan non-pemerintah bermunculan dan bergerak di bidang advokasi, litigasi, dan informasi mengenai masalah keperempuanan. “Gerakan perempuan itu tidak pernah mati dan sangat hadir, di luar bayang-bayang Kowani yang sebenarnya adalah alat negara. Meski ditekan, gerakan perempuan tetap ada melalui LSM, yayasan, atau ormas. Tapi harus kucing-kucingan, harus lihai caranya. Gerakan perempuan harus lebih lentur untuk tetap tumbuh di tengah pemerintah yang represif. Di tingkat akar padi, banyak yang bergerak sendiri, nggak minta permisi sama LKMD atau PKK. Dulu segala macam kan harus harus minta izin. Jadi banyak gerakan yang setengah ilegal ya,” kata Julia sambil terkekeh. Menurut Ninuk, kemunculan kembali gerakan perempuan independen dipelopori Yayasan Annisa Swasti (Yasanti), yang berbasis di Yogyakarta, pada 1982. Kalyanamitra dan Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita yang berbasis di Jakarta mengikuti pada 1985 dan 1986. Kemunculan organisasi perempuan di awal 1980-an ini menginspirasi perempuan lain. Pada 1990-an, gelombang kemunculan gerakan perempuan meningkat. Prisma tahun 1996 memuat beberapa nama organisasi perempuan baru seperti Forum Diskusi Perempuan Yogya (FDPY), Solidaritas Perempuan, Yayasan Perempuan Mardika, Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA), dan Lembaga Bantuan Hukum APIK. Usaha pemerintah Orde Baru untuk menundukkan perempuan dan organisasi perempuan dengan begitu tak sepenuhnya berhasil. Para perempuan berserikat, membangun kembali organisasi, dan bersama organisasi-organisasi lain menentang pemerintahan represif Suharto. “Sesuatu yang ditekan pasti ada kekuatan resistensinya, begitu juga suara perempuan,” kata Julia.

  • Wenger dan Lima Pelatih Terawet Sejagat

    ARSENE Wenger adalah Arsenal dan Arsenal adalah Wenger. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap para legenda The Gunners lainnya, Wenger sudah ibarat orang suci bagi klub asal London Utara itu. Juni nanti, di akhir musim 2017/2018, akan jadi periode pamungkasnya membesut Arsenal. “Saya telah memberikan tahun-tahun terbaik dalam hidup saya pada klub ini. Saya datang saat berusia 46 tahun dan bekerja tujuh hari seminggu –bukan enam hari atau enam setengah hari. Tujuh (hari seminggu) selama 22 tahun! Saya merasa seperti menghadiri pemakaman saya sendiri karena semua orang bicara tentang saya,” cetus Wenger di situs klub, arsenal.com , Minggu 22 April 2018. Sepanjang kiprahnya, Wenger dijuluki Les Professeur (sang professor) lantaran beragam kebijakannya turut mengubah wajah sepakbola Inggris. Pelatih kelahiran Strasbourg, Prancis 22 Oktober 1949 itu datang ke Arsenal pada Oktober 1996 untuk menggantikan Bruce Rioch. Semusim berikutnya, perombakan yang digarap Wenger membuahkan hasil juara Liga Inggris. Hingga kini, Wenger menambah tiga titel Liga Inggris dan masing-masing tujuh trofi Piala FA dan Community Shield ke lemari gelar Arsenal. Tinta emasnya terukir dengan dua kali double winners (Liga Inggris dan FA Cup) di musim 1997/1998 dan 2001/2002. Di Liga Inggris musim 2003/2004, Arsenal menyamai rekor tak terkalahkan Preston North End pada musim 1889. Inilah warisan Wenger selama 22 tahun menukangi Arsenal. Di luar semua itu, Wenger sendiri membuat rekor sebagai salah satu pelatih terlama yang bertahan di sebuah klub. Dalam sejarah, ada lima pelatih lain yang juga tak kalah awet mengasuh sebuah klub top. Siapa saja mereka? Sir Alex Ferguson – 27 Tahun Sebelum pensiun pada 2013,arsitek Manchester United (MU) bernama lengkap Sir Alexander Chapman Fergusonini jadi musuh bebuyutan sekaligus sahabat terdekat Wenger di Liga Inggris. Sir Alex membesut The Red Devils selama 27 tahun (1986-2013). Dia berhasil mempersembahkan 13 titel Liga Inggris, lima FA Cup, empat Piala Liga, 10 Charity Shield/Community Shield, dua trofi Liga Champions, serta masing-masing satu UEFA Cup (kini Europa League), Piala Super Eropa, Intercontinental Cup dan Piala Dunia Antarklub. Sir Alexander Chapman "Fergie" Ferguson (Foto: fifa.com) Bukan hanya Inggris dan Eropa, dunia pun merasa kehilangan ketika Sir Alex pensiun. Perdana Menteri Inggris David Cameron sampai memberi sepatah-dua patah kata perpisahan. “Segala puja-puji untuk Sir Alex Ferguson. Seorang yang luar biasa dalam sepakbola Inggris dengan karier yang sukses dan menakjubkan,” ungkap Cameron dikutip The Telegraph , 8 Mei 2013. Ronnie McFall – 30 Tahun Masih di ranah Britania Raya, Ronnie McFall mencatatkan sejarahnya sendiri di klub Liga Irlandia Utara Portadown FC. Putra asli Kota Portadown bernama lengkap Ronald Joseph McFall itu menukangi klub berjuluk The Port’s pada 1986-2016 dengan total 1.483 pertandingan. Sebelum jadi pelatih, McFall merupakan bek sayap Portadow nera 1960-an dan 1970-an. Dia mendongkrak prestasi Portadown yang sebelumnya belum pernah juara Liga Irlandia Utara. Ronald Joseph "Ronnie" McFall (Foto: uefa.com) Sebagai pelatih, McFall mempersembahkan gelar liga pertamanya di musim 1989/1990.Tiga gelar lainnya menyusul di musim 1990/1991, 1995/1996, dan 2001/2002. Tiga titel lain, Irish Cup, dua Ulster Cup, enam Mid-Ulster Cup, serta masing-masing satu Charity Shield, Gold Cup, dan IFA Championship juga berhasil dipersembahkan McFall. Portadown menjalani musim 2016 dengan buruk. Terlebih, setelah disingkirkan klub kasta kedua Lurgan Celtic, 2-3, di perempatfinal Irish Cup, Maret 2016. McFall pun memutuskan pensiun.“Ronnie McFall MBE – 4 Titel Liga dan 3 Irish Cup. Terima Kasih Ronnie,” bunyi pernyataan resmi klub setelah menerima surat pengunduran diri McFall. Bill Struth – 34 Tahun Dalam sejarah Glasgow Rangers FC, William ‘Bill’ Struth berada di jajaran legenda. Pria kelahiran 16 Juni 1875 itu menjadi pelatih kedua sejak klub top Skotlandia itu berdiri 146 tahun lampau. Struth jadi patron di klub berjuluk The Gers sepanjang periode 1920-1954, melampaui rekor masa bakti 21 tahun pelatih pertama RangersWilliam Wilton (1899-1920). Foto Struth masih terpajang di lemari trofi kehormatan Rangers di Ibrox Stadium. Foto William "Bill" Struth di Hall of Fame Stadion Ibrox (Foto: Wikimedia Commons) Dalam besutannya, Rangers mengoleksi 18 titel SFL (Liga Skotlandia), 10 Scottish Cup dan sepasang trofi Scottish League Cup. Momen tersuksesnya terjadi tahun 1947, di mana Struth mempersembahkan Treble Winners (SFL, Scottish Cup dan Scottish League Cup). Nama Struth hingga kini diabadikan jadi nama salah satu tribun Ibrox Stadium. “Tribun Besar Utama dinamai Bill Struth Main Stand sebagai monumenyang disucikan untuk figur tersukses dalam sejarah sepakbola Skotlandia,” ungkap David Leggat dalam biografi Struth: The Story of an Ibrox Legend. Willie Maley – 43 Tahun Sebelum jadi pelatih, William Patrick Maley merupakan bek Third Lanark, Manchester City, dan Glasgow Celtic FC. Meniti karier sejak 1887, di tahun terakhirnya sebelum gantung sepatu (1897) Maley merangkap pemain-pelatih. Dalam sejarah The Bhoys , Maley tercatat sebagai pelatih pertama (1897-1940). Dia mengasuh Celtic selama 43 tahun dengan total 1.614 pertandingan resmi.Tim sekota Rangers itu meraup 14 titel SFL dan 14 Scottish Cup. William Patrick Maley, pelatih terlama yang menukangi Celtic FC (Foto: CelticFC405/Youtube) Nama Maley masuk jajaran Hall of Fame sepakbola Skotlandia pada 15 November 2009. Sayang, Maley mengakhiri pengabdiannya di Celtic dengan musim yang buruk. Maley memutuskan pensiun pada Februari 1940 kala Celtic berada di urutan buncit klasemen liga. “Celtic sudah menjadi hidup saya dan eksitensi saya terasa hampa tanpanya,” ujar Maley, dikutip Kevin McGarra dalam Celtic: A Biography in Nine Lives. Guy Roux – 44 Tahun Sejak 1980-an, AJ Auxerre seolah jadi tim pencetak pemain bintang Eropa asal Prancis. Sebut saja Eric Cantona, Laurent Blanc, Alain Goma, Basile Boli, Djibril Cisse, hingga Philippe Mexes. Mereka meretas kebintangannya lewat tangan dingin sang pelatih Guy Roux, mantan pemain Auxerre 1952-1961. Hingga kini,Roux masih memegang rekor pelatih terlama yang menangani sebuah klub top Eropa. Masa bakti Roux terhitung sejak 1961 hingga 2005 (44 tahun). Guy Roux melatih AJ Auxerre lebih dari empat dasawarsa (Foto: auxerretv.com) Maestro kelahiran Colmar, 18 Oktober 1938 itu sukses mempromosikan Auxerre ke kasta tertinggi Ligue 1 (Liga Prancis) di musim 1980/1981. Soal titel, selain gelar Ligue 2 1979/1980, Roux mendatangkan gelar prestisius pertama Ligue 1 pada 1995/1996 dan empat trofi Coupe de France serta satu titel Intertoto Cup. Roux memutuskan pensiun pada Juni 2005 usai Auxerre memenangkan Coupe de France. “Guy membangun Auxerre seperti sekarang nyaris dengan tangannya sendiri. Dia hidup dan bernafas untuk klub. Dia monumen hidup bagi sepakbola Prancis,” sanjung eks legenda Auxerre dan timnas Prancis, Basile Boli, dikutip The Guardian , 12 Juni 2005.

  • Indonesia Week dalam Momentum 60 Tahun Indonesia-Jepang

    NAGOYA, Jepang selama tiga hari (28-30 April 2018) bakal disemarakkan gelaran Indonesia Week. Perhelatan ini bertepatan dengan perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang. Beragam kebudayaan Indonesia akan ditempilkan, mulai dari fesyen, tari tradisional, pertunjukan pencak silat hingga sajian musik. Perhelatan dalam kerangka festival kolaborasi ini awalnya digagas sebuah simpul kolaborasi, Be Indonesia. Ini jadi gelaran kedua setelah tahun lalu diadakan di Osaka. Dalam rilis yang diterima Historia , Windu Widjaya selaku direktur Be Indonesia menyatakan, gelaran ini diharapkan bisa jadi momentum Indonesia, agar siap bersaing dalam hal promosi potensi produk kreatif dan pariwisata dengan negara-negara lain. Oleh karenanya, acara ini juga menggandeng sejumlah pihak. Mulai dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kementerian Pariwisatan RI, Kementerian Perdagangan RI, Indonesian Trade Promotion Center (IPTC) Osaka, Kedutaan Besar RI Tokyo, Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), Indonesia Ceative Cities Network (ICCN), Pemprov Jawa Barat dan Sumatera Selatan, Pemkab Cianjur dan Bekasi, Ikatan Pengusaha Kenshuusei Indonesia (IKAPEKSI), IPI Jepang, hingga PPI Nagoya. Sektor ekonomi sedari awal sudah mengiringi keterikatan Indonesia-Jepang sejak meresmikan hubungan diplomatik pasca Perang Dunia II tepatnya 20 Januari 1958. Tentu bukan hal mudah dua bangsa ini rujuk setelah apa yang dialami di masa perang. Benih hubungan Indonesia dengan Jepang bermula dari Treaty of San Francisco pada 8 September 1951. Salah satu isi traktatnya membuahkan pampasan Jepang kepada Indonesia sebesar USD220.080. Kendati begitu Jepang berupaya bernegosiasi. Satu yang paling vital, mereka berharap para nelayan mereka diizinkan mencari ikan di perairan Indonesia. “Jika Indonesia berkenan bekerjasama dengan Jepang dalam membangun Asia yang baru, Jepang bersedia menambah pampasan perang 200-300 juta dolar Amerika, namun Jika Indonesia menolak, Jepang takkan membayar sepeser pun pampasan perang,” cetus Perdana Menteri Jepang Shigeru Yoshida, sebagaimana dikutip Masashi Nishihara dalam  Japanese and Sukarno’s Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations 1951-1966 . Niat Jepang untuk “rujuk” dengan Indonesia menguat pada 1952 hingga 1957, terutama setelah PM Jepang dijabat Nobusuke Kishi. “Tidak seperti para pendahulunya, Kishi ingin menjalin integrasi ekonomi dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kishi kemudian jadi PM Jepang pertama setelah perang yang mengunjungi Asia Tenggara pada Mei 1957,” tulis  Indonesian Economic Decolonization in Regional and International Perspective . Presiden Sukarno dengan harapan bisa menjadikan Jepang sebagai mitra potensial membangun perekonomian nasional, menyepakati sebuah kerjasama dengan PM Kishi pada 28 November 1957. Perjanjian yang berisi bantuan pembangunan sebesar USD400 juta itu baru diumumkan 8 Desember 1957. Pembangunan dalam hal proyek transportasi, komunikasi, pengembangan tenaga kerja, industri, pertanian, perikanan, pertambangan serta jasa. Sebuah momentum laiknya peletakan batu pertama hubungan Indonesia-Jepang. Baru pada 20 Januari 1958 resmi dibuka hubungan diplomatik kedua negara dan sebulan setelahnya, Presiden Sukarno bertamu ke Jepang. Sementara kesepakatan sebelumnya yang diteken Sukarno dan Kishi dalam kerangka “Perjanjian Damai dan Pampasan Perang”, baru disahkan DPR pada 13 Maret 1958 dan diundangkan pada 27 Maret 1958. Sampai sekarang, Jepang senantiasa jadi satu dari sekian mitra terpenting ekonomi Indonesia. Mengutip situs Kementerian Luar Negeri RI 17 Desember 2017, Jepang merupakan investor terbesar kedua Indonesia dengan nilai investasi pada 2016 mencapai USD5,4 miliar. Ini merupakan realisasi kesepakatan Strategic Partnership for Peaceful Prosperous Future sejak 2006 dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement sejak Agustus 2007.

  • Selayang Pandang Lily Suhairy

    Saat ini Erwin Gutawa, Addie MS, dan Ananda Sukarlan merupakan nama besar komponis Indonesia. Dahulu, ada nama beken macam WR Supratman dan Ismail Marzuki. Nama komponis Lily Suhairy mungkin terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Lily lahir di Bogor pada 23 Desember 1915. Saat usianya masih kanak-kanak, dia menetap di Sumatra Utara. Lily ahli bermain biola. Menurut Hadely Hasibuan di dalam otobiografinya Memoar Mantan Menteri Penurunan Harga, Lily adalah murid Francois de Haan, seorang violis Belanda yang mengajarkan bermain biola di Medan pada akhir 1930-an. Namun hal itu dibantah Koko Hendri Lubis, penulis dan peneliti sejarah Kota Medan. Menurut Koko, sewaktu usia Lily masih tujuh tahun dan tinggal di Brastagi, guru musiknya orang Jerman. “Sewaktu tinggal di Medan sejak 1930, dia belajar main biola dengan Boris Mariev, guru biola kenamaan di Medan asal Rusia. Dia pimpinan musik tonil Bolero,” kata Koko kepada Historia . Pada usia 19 tahun, Lily bekerja di perusahaan rekaman His Master’s Voice di Singapura. Dia menciptakan lagu pertamanya, “Hatiku Patah”, ketika ditolak seorang gadis. Tiga tahun merantau, Lily kembali ke Medan. Mulailah dia berkarya. Karier Lily sebagai musisi profesional menanjak saat pendudukan Jepang. Hadely menyebut, dia menjadi salah seorang pemimpin sandiwara Asia Raya. Menurut buku Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Sumatera Utara, di masa pendudukan Jepang, dia menciptakan lagu-lagu yang menyindir kehidupan di zaman Jepang seperti “Makan Sirih” dan “Aras Kabu” . Keberaniannya ini bukan tanpa risiko. Menurut Koko, dia pernah ditangkap Jepang gara-gara lagu “Bayangan” , karena liriknya dinilai menyindir pemerintah pendudukan Jepang. Saat masa revolusi, Lily membuat lagu perjuangan berjudul “Pemuda Indonesia” . Lagu itu menggelorakan semangat publik. Akibat lagu tersebut, dia pernah ditahan dan disiksa Belanda. Menariknya, justru di masa-masa sulit itulah Lily produktif berkarya, antara lain menelorkan lagu “Bunga Tanjung”, “Bunga Teratai”, “Selendang Pelangi”, dan “Rayuan Kencana”. Lagu Berlanggam Melayu Sebagai musisi dan komponis, Lily bukan hanya dikenal di Medan. Tapi juga sohor di Malaysia dan Singapura. Bahkan banyak lagu ciptaannya dijiplak musisi Malaysia. Dalam Vista, 28 Februari 1970, penulis Sori Siregar menulis dia sempat menanyakan hal itu kepada Lily. Apa jawabannya: “Tidak apa. Mereka toh kawan-kawan saya.” Mayoritas lagu ciptaan Lily berlanggam Melayu. Salah satu yang populer pada 1950-an adalah lagu “Selayang Pandang”. Pada 1970, lagu ini pernah masuk dalam album piringan hitam The Rollies dengan nama pencipta disebut anonim. Lily protes. Pihak perusahaan rekaman mengaku tak tahu Namun, Lily bukan hanya menciptakan lagu berlanggam Melayu. Dia juga membuat lagu “Memori” , berdasarkan puisi Z. Pangaduan Lubis. Lagu dan syair ini diciptakan untuk mengenang penyair Chairil Anwar. Selain itu, ada lagu “Marilah Sayang” , berdasarkan puisi Aldian Aripin yang termuat dalam kumpulan puisinya Oh, Nostalgia. “Unsur kemelayuan tak terdengar di lagu-lagu itu,” ujar Sori. Lebih Baik dari Ismail Marzuki? Kepiawaiannya bermusik tak membuat hidup Lily makmur. Semasa hidupnya, selama 25 tahun, Lily bertugas sebagai pemimpin Orkes Studio Medan di RRI Nusantara III. Meski honornya terbilang kecil, dia tak pernah mengeluh. Sori Siregar mengisahkan keadaan ekonomi Lily jauh dari cukup. “Rumah saya sudah jelek, tapi rumah Lily lebih jelek lagi dan dia sudah beberapa bulan tidak sanggup membayar rekening listrik rumahnya,” kata Sori. “Saya dan penyair Z. Pangaduan Lubis, selalu dimintainya uang untuk ongkos becak pulang,” lanjut Sori. Sebenarnya, nasib Lily mungkin bisa berubah jika saja dia mau ikut hijrah ke Malaysia saat diajak sahabatnya, Ahmad Djafar. Atau memenuhi panggilan sebuah penerbit di Jakarta. Namun, dia tak beranjak dari Medan. “Saya ingin menjadi saksi dari penderitaan kawan-kawan di sini. Saya tidak akan bahagia di sana (Malaysia atau Jakarta),” kata Lily, dikisahkan Sori. Lily wafat pada 2 Oktober 1979 dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Menurut Harian Bukit Barisan, 4 Oktober 1979, Lily dimakamkan pada 3 Oktober 1979 di Taman Bahagia Makam Pahlawan Medan. Berkat dedikasinya, Lily pernah mendapatkan penghargaan dari PWI Cabang Medan pada 1975 dan Departemen P & K pada Maret 1979. Namanya diabadikan menjadi nama taman di Jalan Palang Merah, Medan. Namanya kini nyaris dilupakan. Padahal, menurut Hadely yang didengarnya dari para pakar musik, kualitas Lily sebagai komponis mungkin melebihi Ismail Marzuki. Bahkan, kata Koko, Lily bisa membuat notasi musik (not balok) kalau mendengar pesawat lewat. Koko menyebut, Lily sudah menciptakan lebih dari 200 lagu semasa hidupnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page