Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Empat Tipe Perempuan Jawa Kuno
KEN Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar. “Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton. Perempuan Jawa Kuno memiliki tipe-tipe tertentu, dari paling utama sampai paling buruk. Setidaknya ada empat tipe perempuan yang dibagi bukan hanya dari segi fisik, tapi juga perangainya.
- Dari Riset Sampai Kebijakan Pangan
PADA 1899, Koloniaal Museum, Haarlem menginisiasi sebuah riset bahan makanan di Hindia Belanda. Sama seperti riset-riset pangan abad ke-19, riset yang digawangi Asisten laboratorium Koloniaal Museum Dr. J Sack dan farmasis JJ van Eck itu berupaya mengelompokkan bahan makanan dalam beberapa kategori. Namun, riset kali ini lebih dalam karena meneliti persentase nutrisi yang terkandung dalam tiap bahan. Sack dan Van Eck meneliti nilai nutrisi sekira 200 bahan makanan yang lazim dikonsumsi di Hindia. Sebelum menentukan nilai nutrisinya, yang diukur melalui kemerataan komposisi tujuh unsur dalam masing-masing bahan, terlebih dulu mereka meneliti kandungan protein, karbohidrat, lemak, nitrogen, serat, hidrat arang, dan air pada tiap bahan makanan. Hasil riset itu antara lain menunjukkan bahwa jagung memiliki nilai nutrisi lebih baik dibanding makanan pokok lain seperti beras, sagu, atau mie. Selain itu, riset itu juga menginformasikan kandungan protein berbagai hewan air dapat mencukupi kebutuhan nutrisi harian penduduk Hindia. Riset Sack dan Van Eck berperan penting melepaskan masyarakat dari jebakan persepsi dalam memilih bahan makanan. Riset itu hanyalah satu dari riset-riset soal pangan dan nutrisi di Hindia Belanda yang kian intens memasuki abad 20. Tumbuh-subur dan meluasnya fokus riset itu berangkat dari kemajuan sains dan teknologi di tanah jajahan. Meski upaya inventarisasi bahan makanan dan kandungan gizinya masih tetap berjalan, mengingat luas dan kayanya tanah Hindia, uji kandungan nutrisi dan kimiawi bahan makanan dikerjakan lebih terperinci lagi. “Penyelidikan secara ilmiah memang lebih eksak menilai bahan makanan mana yang memiliki kandungan nutrisi lebih baik dibandingkan dengan penilaian lawas yang cenderung menilai kualitas berdasarkan gengsi semata –seperti bagaimana sebelumnya daging sapi dinilai lebih baik daripada kerbau,” tulis sejarawan Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia . Hasil riset Sack dan Van Eck mendorong dokter Cornelis Leendert van der Burg untuk mendalami. Dokter yang sejak akhir abad ke-19 menekuni persoalan kesehatan dan higienitas di Hindia Belanda ini menerbitkan dua buku berkepala De Voedings in Nederlandsch-Indie dan Atlas met Graphische Voorstellingen van de Chemiche Samenstelling van 267 Voedingsmiddelen in Nederlansch-Indie pada 1904. Van der Burg berupaya memberikan penjelasan kualitatif terhadap hasil uji kimiawi Sack dan Van Eck. Salah satu poin terpentingnya, upaya untuk memanfaatkan pengetahuan pangan bumiputra dan memadukannya dengan pengetahuan modern. Dia melambari perspektif kimiawi yang eksak dengan penjelasan antropologis dan memperhatikan bagaimana aturan-aturan agama yang dianut penduduk Hindia Belanda dalam memilih dan mengolah bahan makanan. Menurut Fadly, praktik riil dari pendapat tersebut dapat dilihat jejaknya dalam pemaduan bahan makanan. “Contohnya bisa kita lihat pada selat Solo. Itu semacam salad ala Eropa yang di sini bahannya mengalami penyesuaian. Kalau orang Eropa menggunakan daging untuk asupan protein hewaninya, di Jawa diganti dengan telur. Ciri Eropa juga masuk lewat bahan kentang dan wortel dan buncis,” kata Fadly kepada Historia. Van der Burg juga menyajikan perbandingan kebutuhan protein, lemak, dan karbohidrat antara orang Eropa dan bumiputra. Dari kalkulasinya diketahui bahwa orang Eropa nisbi berimbang asupan protein, lemak, dan karbohidratnya, sementara bumiputra cenderung dominan asupan karbohidratnya dibanding lemak dan protein. Riset yang lebih masif lagi dilakukan oleh JE Quintus Bosz dan Karel Heyne, kepala Konservatorium Museum voor Technische en Handelsbotanie (Museum Teknik dan Urusan Botani) Buitenzorg. Pada 1911, Bosz menerbitkan laporan risetnya yang menghasilkan analisis kandungan nutrisi 550 bahan makanan. Riset Bosz lebih detil, dengan memisahkan antara nilai kandungan nutrisi bahan makanan mentah dengan bahan-bahan yang telah diolah atau dimasak. Tapi riset Karel Heyne mungkin merupakan riset dengan skala terbesar. Secara bertahap, antara 1913 hingga 1917, dia menerbitkan serial ensiklopedia bertajuk De nuttige planten van Nederlandsch-Indie (Tanaman Bermanfaat dari Hindia Belanda). Dalam empat jilid ensiklopedianya, Heyne menghimpun sekira 3.000 jenis tanaman berikut data terperinci dari segi etnobotani, sifat-sifat, pembudidayaan, hingga sisi ekonomis dan historisnya. Ensiklopedia Heyne segera menjadi rujukan penting di kalangan botanis. Kebijakan Riset-riset pangan itu menyediakan keberlimpahan data untuk perbaikan kualitas hidup dan kesehatan fisik penduduk Hindia meski belum ada manfaat nyata bagi bumiputra. Keterbacaannya nisbi hanya di kalangan orang Eropa yang tinggal di Hindia. Namun, mengemukanya Politik Etis pada awal abad 20 yang membawa pergeseran motif pemerintahan kolonial, perlahan ikut mengubah nasib pribumi. “Mereka terbelah dalam kubu humanis dan kubu pragmatis. Kaum humanis menganggap ini memang tugas mereka untuk menyejahterakan masyarakat. Sementara kubu pragmatis melihat bahwa pemulihan kondisi kesehatan dan peningkatan kualitas kesejahteraan itu untuk mendukung program-program ekonomi dan politik kolonial,” kata Fadli. Seiring dengan riset-riset itu, pemerintah menginisiasi beberapa program dan upaya sosialisasi terkait pengetahuan gizi kepada masyarakat bumiputra. Salah satunya, dengan membentuk Voedingsmiddelen Commissie (Komisi Bahan Makanan). Komisi yang dibentuk pada 1914 itu bertugas meneliti kesehatan, ambang batas kandungan kimia dalam makanan dan obat, kelayakan konsumsi, serta memberi penerangan kepada industri makanan dan masyarakat umum. Upaya itu juga merupakan respon pemerintah terhadap berkembangnya fabrikasi makanan pada awal abad 20. Komisi makanan antara lain mengeluarkan beberapa peraturan soal makanan fabrikasi yang diedarkan, seperti aturan kadar asam asetat dan pengasinan makanan, aturan pengemasan margarin, terigu, dan mentega. “Kehadiran komisi ini turut memengaruhi kebiasaan makan di Hindia yang cukup gemar menggunakan bahan-bahan makanan dalam kemasan seperti mentega, margarin, dan terigu,” ujar Fadli. Sementara, upaya sosialisasi pola hidup dan makanan sehat dilakukan melalui terbitan-terbitan Balai Pustaka . Botanis JJ Ochse, yang punya perhatian khusus pada persoalan pangan rakyat, merupakan salah satu ilmuwan yang gencar menerbitkan penelitiannya untuk masyarakat umum dan terus berupaya mengedukasi bumiputra tentang tanaman bermanfaat sebagai makanan dan cara pembudidayaannya. Ochse menilai rakyat bumiputra umumnya tak acuh dan rendah pengetahuannya soal pengolahan bahan makanan. Realitas itu mendorongnya menyusun dan menerbitkan Tropische Groenten (1925) dan Indische Vructen (1927). Buku-buku itu menyajikan pengetahuan tentang sayuran dan buah yang kaya nutrisi disertai gambar untuk tiap lemanya. “Ochse dibantu Kepala Kantoor voor de Volkslectuur ( Balai Pustaka ), Mr. T. Lekkerkerker dalam hal penerbitan sekaligus penjualan bukunya. Buku itu dijual murah sehingga terjangkau harganya oleh banyak kalangan dan terdistribusikan secara luas ke seluruh wilayah Hindia, sesuai keinginan Ochse,” tulis Fadly. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga membuka sekolah-sekolah pertanian di desa-desa, tempat pengetahuan budidaya tanaman dan pengembangan varietas tanaman baru disebarkan. Buku-buku Ochse juga didistribusikan melalui sekolah-sekolah ini. Usaha-usaha tersebut perlahan memperbaiki kesejahteraan penduduk. “Sampai tahun 1930-an ada penurunan statistik kelaparan massal. Pengetahuan gizi masyarakat juga meningkat. Dari pernyataan dokter-dokter di lingkungan masyarakat Jawa terlihat bagaimana masyarakat pribumi mulai sadar akan pengetahuan seputar gizi,” ujar Fadly.
- Sriwijaya Genjot Pajak
TANGGAL 5 paro terang bulan Asadha, 16 Juni 682, di sebuah tempat, Dapunta Hiyang mendirikan perkampungan, dan Sriwijaya menang. Begitulah akhir gemilang dari ekspedisi militer Dapunta Hiyang, saat mulai mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Sejak itu, Sriwijaya mulai bergerak, membangun diri menjadi sebuah imperium di wilayah Sumatra. “Sriwijaya menjadi imperium yang kuat tepatnya tidak diketahui. Boleh jadi sejak abad ke-8 karena pada abad ke-7 mulai membangun kekuasaan,” ujar arkeolog Bambang Budi Utomo, kepada Historia. Satu per satu bandar-bandar di sepanjang selat Malaka mulai jatuh ke pelukan Sriwijaya. Mulai dari bandar Lamuri –ujung pintu masuk Selat Malaka (sekarang Banda Aceh)–, Pulau Kampe (Kampai), Kota Cina di Sumatra Utara, hingga bandar Jambi di sisi tenggara selat Malaka. Sriwijaya pun masyhur sebagai kampiun di lautan sejak abad ke-8.
- Tendangan Kungfu yang Terulang
MASIH ingat insiden tendangan kungfu Eric Cantona pada 1995? Kelakuan minus pesepakbola legendaris itu terulang lagi pada Jumat (3/11/2017) di Estadio D Afonso Henriques, Guimaraes, Portugal. Defenseur (bek) Olympique Marseille Patrice Evra, membuncahkan emosinya pada suporter dengan melayangkan tendangan kungfu dari pinggir lapangan. Insiden itu terjadi jelang pertandingan Europa League, di mana tim asal Prancis, Marseille, bertamu ke markas Vitoria de Guimaraes, wakil Portugal. Insiden itu terjadi pada sesi pemanasan, setelah sebelumnya terjadi keributan antara para pemain Marseille lainnya dengan para suporternya sendiri di tepi lapangan. Akhirnya, Patrice Evra, mantan pemain timnas Prancis dan Manchester United, tercatat dalam sejarah Europa League, sebagai pemain pertama yang dikartumerahkan sebelum kick off. Sebelumnya, perbuatan itu dilakukan pendahulu Evra, Eric Cantona, 22 tahun yang lalu. Maestro Manchester United itu kebetulan juga berpaspor Prancis dan pernah berseragam Marseille. Ketika itu, The Red Devils (julukan Manchester United) tengah melakoni matchday ke-26 Premier League musim 1994/1995, kontra Crystal Palace di Selhurst Park, 25 Januari 1995. Dalam sebuah momen, Cantona melanggar secara kasar pemain Palace, Richard Shaw. Wasit Alan Wilkie kemudian mengacungkan kartu merah. Saat berjalan lunglai keluar lapangan menuju lorong ganti, mulai terdengar gemuruh dan sorakan mengejek Cantona dari suporter Palace. Di antara suporter itu, terdapat Matthew Simmons. Suporter muda berusia 20 tahun itu disebutkan membuat mendidih emosi Cantona dengan sejumlah hinaan dan lemparan benda terhadap sang pemain. “Cantona tiba-tiba menerjang ke kerumunan suporter dengan kedua kaki setinggi dada orang dewasa. Dia juga melayangkan beberapa pukulan sebelum polisi, pihak keamanan stadion, ofisial tim dan pemain lainnya memisahkan mereka,” tulis harian The Guardian , 26 Januari 1995. Wasit Wilkie sendiri dalam pengakuannya, tak melihat kejadian itu. Saat Cantona menerjangkan tendangan kungfunya ke arah penonton, Wilkie sedang disibukkan dengan protes Andy Cole, terkait kartu merah untuk Cantona. “Setelah pertandingan, salah satu asisten saya mengatakan kejadian itu kepada saya. Namun saya baru benar-benar melihatnya jam 2 dini hari dari (siaran) CNN dan saya sangat terkejut,” ujar Wilkie. Insiden itu membuat malu klub dan mengundang tindakan dari FA (Asosiasi Sepakbola Inggris). Akhirnya, manajemen klub melayangkan denda. Suratkabar The Hour, 27 Januari 1995, menuliskan Manchester United menjatuhkan denda 20 ribu poundsterling, serta sanksi tak dimainkan sampai akhir musim 1994/1995. Sedangkan FA memvonis Cantona dengan larangan bermain di Liga Inggris selama delapan bulan (sampai 30 September 1995), serta denda 10 ribu pounds. Sedangkan FIFA, mengonfirmasi sanksi itu lebih luas, di mana sanksi takkan otomatis hilang jika status Cantona dijual atau dipinjamkan ke klub lain. Tak sampai di situ, entraineur (pelatih) timnas Prancis Aime Jacquet, ikut-ikutan menghukum Cantona dengan melucuti jabatan kapten tim Ayam Jantan. Cantona juga terpaksa menghadapi tuntutan kriminal. Pengadilan Croydon pada 23 Maret 1995, mengetuk palu untuk hukuman penjara selama dua pekan. Namun, Cantona dibebaskan dengan uang jaminan. Saat konferensi pers, Cantona melontarkan kata-kata tersohor dengan analogi ikan sardin, burung camar dan kapal nelayan. “Ketika burung-burung camar mengikuti kapal nelayan, itu karena mereka mengira ikan-ikan sardin akan dilemparkan ke laut. Terima kasih,” cetus Cantona. Tak sedikit yang heran dengan pernyataan aneh itu. Banyak pula yang menganggap ikan sardin adalah Cantona dan burung-burung camar adalah pendeskripsian dari media-media Inggris. “Itu kata-kata yang sengaja dikaburkan. Dia hanya tidak ingin berada di sini (konferensi pers) untuk menemui Anda semua dan menjawab banyak pertanyaan karena dia sudah melalui banyak hal. Saya pikir dia berada dalam tekanan yang luar biasa,” ungkap Direktur Hukum Manchester United Maurice Watkins, dilansir koran Independent , 31 Maret 1995. Hukuman untuk Cantona kemudian dialihkan menjadi hukuman 120 jam pelayanan masyarakat. Sebagian besar hukumannya itu dijalani dengan melatih sepakbola untuk anak-anak sampai akhir Mei 1995. “Selama masa pelayanan masyarakatnya, dia melatih 732 anak-anak dari lusinan sekolah dan klub-klub junior di kamp latihan Manchester,” tulis koran Lodi News-Sentinel , 31 Mei 1995. Apakah Cantona menyesal? Nampaknya tidak. Cantona begitu dendam dengan Matthews. “Seharusnya saya memukulnya dengan lebih keras. Saya bukan suri tauladan. Saya bukan guru besar yang menasihati kelakuan Anda,” ujar Cantona dalam wawancara dengan tabloid Four Four Two , 20 tahun berselang (2015).
- Menukil Memori Sirkuit Sentul
Sampai tahun depan, Indonesia masih akan jadi penonton MotoGP. Rencana untuk bisa menghelat salah satu seri perhelatan balap motor paling bergengsi itu tahun 2017 gagal. Operator MotoGP, Dorna Sports, pada Juli 2016 menilai, Sirkuit Sentul di Bogor masih belum layak menggelar MotoGP. “Sirkuitnya bagus, tapi aspal, area run off , untuk MotoGP terlalu berisiko,” kata Marc Marquez, pembalap top tim Repsol Honda, dalam jumpa pers usai menjajal Sirkuit Sentul, 25 Oktober 2016. Rencana lain Indonesia menghelat MotoGP pada 2018 pun gagal. Thailand justru “menyalip” dengan mengantongi deal menggelar MotoGP di 2018. Nasib Sentul, yang pernah jadi sirkuit internasional satu-satunya yang bisa dibanggakan Indonesia, kian suram. Untuk jadi tuan rumah MotoGP Indonesia 2019, ia mesti bersaing dengan Sirkuit Jakabaring di Palembang, yang pembangunannya hampir rampung, dan Sirkuit Mandalika di Lombok. Padahal, sirkuit ini pernah mendapat kehormatan menggelar dua kali MotoGP Indonesia, pada 1996 dan 1997. Bukan pekerjaan mudah untuk bisa membawa Michael Doohan dkk balapan di Tanah Air saat itu. Sirkuit Sentul, dengan trek sepanjang 3,9 kilometer (kini 4,2 kilometer), awalnya dibangun atas visi putra bungsu Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto selaku Ketua Umum PB Ikatan Motor Indonesia (IMI) bersama Tinton Soeprapto dan Tunky Ariwibowo serta dukungan pemerintah. Meski peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan pada 1986, proyeknya baru berjalan pada 1990. Kesulitan sponsor menjadi penyebabnya. “(Alokasi dana, red .) dari kita sendiri (IMI), dari BP Ancol, juga dari Gaikindo. Tenaga desain lay out -nya dari FIA dan FISA yang disesuaikan dengan lahan yang ada,” ungkap Tommy Soeharto di tabloid Otomotif edisi 27 tahun 1991. Menurut rencana awal, Sentul akan punya trek sepanjang sekira 4,2 kilometer. Tommy menjelaskan, Sentul dibangun untuk balap mobil Formula 1 sehingga menggunakan desainer-desainer dari FISA dan FIA (otoritas balap Formula One-F1). Dalam perjalanan, desain trek “disunat” 40 persen, menyisakan 3,9 kilometer. Fasilitas penunjang balapan yang dipunyai Sentul juga belum memuaskan pihak FIA. F1 Grand Prix Indonesia pun batal. Sirkuit yang rampung pada 1992 dan diresmikan Presiden Soeharto pada 22 Agustus 1993 itu justru kemudian mampu menjadi tuan rumah MotoGP Indonesia pada 7 April 1996. Tentu setelah Sentul mendapatkan beberapa pembenahan, yang dilakukan pada Januari sebelumnya. Menurut Kompas 7 April 1996, butuh dana 2 juta dolar Amerika untuk menggelar seri ke-15 MotoGP 1996 itu. Hajatan berjalan lancar. Sekira 100 ribu penggila balapan dunia menyesaki tribun-tribun penonton. Balapan yang terdiri dari tiga kelas itu dimenangi “Mick” Doohan (kelas 500cc), Tetsuya Harada (kelas 250cc) dan Haruchika Aoki (kelas 125cc). Presiden Soeharto turun langsung meyerahkan trofi untuk kelas teratas. Hal itu jadi panggung politik tersendiri buat pemerintahan Soeharto. Saat itu, pemerintahannya mendapat kecaman dan kritik masyarakat Australia terkait kasus-kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Kebetulan, Doohan yang memenangi MotoGP Indonesia 1996 itu merupakan racer asal Negeri Kanguru. “Kesediaan Presiden Soeharto menyerahkan penghargaan kepada Doohan merupakan bukti sikap bersahabat Indonesia terhadap Australia,” tulis Kompas , 8 April 1996. Dukungan pemerintah terhadap perhelatan MotoGP Indonesia juga tak lepas dari niat promosi Indonesia ke dunia internasional. “Ini merupakan promosi besar-besaran tentang Indonesia ketimbang kegiatan muhibah-muhibah ke luar negeri,” tutur Menpora Hayono Isman, dikutip Kompas . Tahun berikutnya, Indonesia masih mendapat kepercayaan menggelar MotoGP Indonesia. Tadayuki Okada, Max Biaggi, dan legenda hidup yang masih aktif balapan, Valentino Rossi,
- Belanda Sembunyikan Sejarah Perbudakan di Indonesia
BELANDA semakin merenungi perbudakan. Beberapa tahun terakhir perbudakan yang dilakukannya di masa lampau ini juga sudah masuk dalam buku pelajaran sejarah, baik pendidikan dasar maupun menengah. Dan kalau pada peringatan tahunan berakhirnya perbudakan pada setiap tanggal 1 Juli juga kita perhatikan berita, sambil melihat para politisi yang berdatangan menghadiri peringatan itu, maka timbul kesan seolah-olah Belanda sudah punya kesadaran historis tinggi terhadap masa lampau perbudakannya.
- Penguat Rasa Itu
KULINER Indonesia kaya akan rasa karena melimpahnya bumbu dan rempah-rempah. Tapi, demi memperkuat rasa, monosodium glutamat (MSG) atau lebih dikenal dengan sebutan vetsin pun dipakai. MSG bermula dari penemuan Karl Heinrich Ritthausen, ahli kimia Jerman, ketika mengisolasi asam glutamat pada 1866. Kemudian, ahli kimia lain mengubah asam itu menjadi garam natrium, monosodium glutamate. Dalam penelitian itu tak seorang pun tertarik pada soal rasa.
- Regulasi Membatasi Prostitusi
GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan tidak memperpanjang izin usaha Hotel dan Griya Pijat Alexis. Banyak pihak menengarai usaha spa dan pijat itu hanya kedok dari praktik prostitusi. Penanggulangan prostitusi telah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda. Pada 15 Juli 1852, Gubernur Jenderal Albertus Jacobus Duymaer van Twist mengeluarkan surat keputusan mengenai peraturan penanggulangan prostitusi. Surat keputusan ini memuat tiga hal penting.
- Indonesia, Tempat Utama Evolusi Manusia
INDONESIA akan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mendirikan pusat studi evolusi manusia. Lembaga bernama Center for Human Evolution, Adaptation and Dispersals in Southeast Asia ini akan mengkaji bagaimana manusia prasejarah sampai ke Asia Tenggara dan persebarannya. Pusat studi ini akan berkoordinasi dengan para peneliti internasional terutama di Asia Tenggara. Mereka berasal dari berbagai ilmu penunjang antara lain paleoantropologi, arkeologi, biologi, paleontologi, palenologi, juga pertanggalan. “Kita akan melakukan hubungan penelitian yang ada di Afrika Timur, Afrika Selatan, Eropa, Georgia, dan juga dengan Asia Timur. Lingkupnya adalah penelitian evolusi manusia purba, tentang fauna, budaya, dan evolusi lingkungan,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harry Widianto kepada Historia . Sejauh ini, proposal pendirian pusat studi telah diajukan ke UNESCO. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB ini, mengirimkan ahlinya ke Indonesia untuk melihat kesiapannya. Rekomendasi dari ahli itu akan dibahas di sidang umum UNESCO pada November 2017 di Paris. “Di situ tinggal diterima atau ditolak. Kira-kira sudah berjalan 90 persen,” ujar Harry. Kesiapan yang dibutuhkan adalah fasilitas, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia yang mumpuni. Sejauh ini, telah banyak ditemukan situs manusia purba terutama di Jawa. Sarana dan prasarana penelitian di Situs Sangiran dinilai telah memadai. Saat ini, ada sekira 30 peneliti bergelar doktor dan master yang dididik di luar negeri. “Jadi sumber daya manusia nggak ada masalah. Indonesia nanti yang mengkoordinir dan mengaktifkan para peneliti di Asia Tenggara dan link ke Eropa, Afrika dan Cina,” jelasnya. Tempat Utama Fosil Homo erectus (manusia purba berdiri tegak) pertama kali ditemukan di Situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur, pada 1891. Sejak itu, fosil-fosil manusia prasejarah ditemukan di situs-situs lain. Pada 1931 sebelas tengkorak Homo erectus ditemukan di Situs Ngandong di Blora. Setelah itu, fosil manusia purba ditemukan di Situs Sangiran, Sragen, pada 1934. Sangiran menjadi situs utama hingga kini karena menampilkan sendimentasi endapan mulai ketebalan 80-100 m. Situs ini pun mencirikan evolusi lingkungan mulai dari laut dalam, laut dangkal, rawa, hingga endapan daratan kontinental. Dari sisi temuannya, Situs Sangiran mewakili 50 persen populasi Homo erectus di dunia. Sebanyak 120 fosil individu ditemukan di sana yang berasal dari 1,5 juta tahun hingga 250 ribu tahun yang lalu. Sangiran juga mewakili evolusi fauna selama 1,8 juta tahun, evolusi kultural selama 1,2 juta tahun, dan evolusi lingkungan selama 2,4 juta tahun. Setelah Sangiran, pada 1936 ditemukan situs prasejarah di wilayah Mojokerto; Situs Pati Ayam ditemukan pada 1979; dan Situs Smedo di Tegal ditemukan pada 2004. “Itu semua situs-situs utama. Terutama Pulau Jawa merupakan salah satu tempat utama di dunia tentang evolusi manusia,” ujar Harry. Ahli paleontologi itu menjelaskan fosil Homo erectus juga ditemukan di Afrika Timur, Eropa, dan Tiongkok, termasuk di Situs Dmanisi, Georgia. Situs Dmanisi adalah situs utama di daerah Asia Depan terkait eksistensi Homo erectus yang bermigrasi keluar Afrika pada 1,8 juta tahun lalu. Situs ini ditemukan pada 1991. Menurut Harry kesamaan pertanggalan dengan Homo erectus yang bermigrasi keluar dari Afrika, membuktikan Asia Depan pun mempunyai spesimen Homo erectus yang kepurbakalaannya sama dengan spesimen dari Afrika. Dalam hal ini, Situs Dmanisi telah memberikan banyak spesimen Homo erectus yang paling tua. Karenanya Georgia juga dianggap sebagai pusat evolusi utama di dunia. Meski begitu, koleksi spesimen Homo erectus di Indonesia terbanyak di dunia. “Kita juga punya historis pertama kali di dunia. Sekarang dunia sangat hormat dengan proses evolusi yang terjadi di Indonesia,” lanjut Harry. Indonesia, khususnya Jawa, sebagai daerah tropis memang sangat memungkinkan untuk ditinggali manusia prasejarah. Sejak keluar Afrika, mereka terus berpindah ke Asia Tenggara hingga langsung tiba di Jawa. “Yang lain dilewati,” kata Harry. Di manapun tempat ditemukannya, Homo erectus punya ciri yang sama. Secara garis besar, ia mirip dengan Homo sapiens . Antara Homo erectus di satu tempat dengan yang lain dibedakan dari bagaimana mereka beradaptasi. “Tapi struktur tengkorak sama,” kata Harry. Homo erectus Indonesia memiliki penebalan pada terbit matanya. Di Jawa, dahinya landai dan miring. Antara penebalan torus di atas mata ( supra orbitalis ) dengan dahi tidak ada cekungan. Sementara Homo erectus di Cina, ada penonjolan pada supra orbitalis , diikuti sebuah cekungan baru bergabung dengan dahi landai juga. “Di Cina, bagian supra orbitalis sangat menonjol, di kita tidak,” jelas Harry. Bedanya dengan Homo sapiens , Homo Erectus punya tengkorak lonjong ke depan sampai belakang. Dahinya landai dengan atap tengkorak pendek. Ada penonjolan lancip pada bagian tengkorak dan lebar di daerah telinga. “ Homo sapiens sekarang kan tengkorak bundar. Dari genetika berbeda dengan yang ada di Amerika. Kita juga berbeda dengan yang di Afrika. Ada adaptasi lokal,” kata Harry.
- Supratman sebagai Buronan
MELIHAT beberapa rekannya semangat menyerukan perjuangan kemerdekaan di sebuah gudang pabrik di Makassar, Wage Rudolf Supratman (Rendra Bagus) tergerak untuk membantu mereka secara finansial. Bantuannya terhadap pergerakan ini diselidiki polisi setempat. Tak ingin keluarganya, Van Eldick (Wouter Aweers) dan Roekiyem (Putri Ayudya), terancam, dia memutuskan pindah ke Jawa. Di Jawa, Supratman bekerja sebagai wartawan dan penulis. Dia berteman dengan beberapa tokoh pergerakan. Dia juga bertemu dengan Fritz (Teuku Rifnu Wikana), polisi Belanda yang mengejarnya dan selalu mencari kesalahannya. Gambaran inilah yang ditampilkan John de Rantau dalam film Wage yang dirilis serentak pada 9 November 2017. John tak ingin menyebut film ini sebagai biopic melainkan noir . Meski film menceritakan perjalanan hidup Supratman sebagai pencipta lagu Indonesia Raya , inti cerita ada pada pengejaran seorang polisi Belanda bernama Fritz dengan buronannya, Wage. “Saya membuat film tentang penjahat yang dikejar-kejar polisi,” ujar John. Untuk membuat film berdasarkan kisah hidup tokoh sejarah, John mempersiapkan riset film ini secara on-off selama beberapa tahun belakangan dan terlaksana pada tahun kelima risetnya. “Saya melakukan riset pustaka, tidak mewawancarai narasumber. Yang dengan narasumber para pemain,” kata John. Jauh sebelumnya, pada 1980-an Perusahaan Film Negara (PFN) berencana membuat film tentang Supratman. Umar Nur Zain ditunjuk sebagai penulis naskah dan rencananya diterbitkan oleh PT Sinar Harapan. “Sayangnya, rencana ini tidak terealisasi karena PFN mengeluarkan film yang dianggap lebih penting untuk dibuat, yakni Pengkhianatan G 30 S PKI,” kata Asvi Warman Adam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Asvi mengapresiasi usaha John karena tak hanya membuat film tentang tokoh sejarah, tetapi juga pelurusan sejarah. Misalnya, tempat kelahiran Supratman di Desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah, bukan Jatinegara. “Tempat kelahiran Supratman sebenarnya di Purworejo. Bapaknya memang tugas di Jatinegara, biasanya tempat kelahiran ditulis seusai tempat tugas bapaknya,” kata Asvi. John menampilkan Supratman tak hanya sebagai tokoh pencipta lagu tapi juga seorang wartawan Sin Po dan penulis novel. John mengaku berusaha menghindari kontroversi seputar kehidupan Supratman. Misalnya, soal istri. Ada sumber yang menyebutkan Supratman menikah dengan Salamah, namun pihak keluarga membantahnya. John hanya menampilkan Supratman sempat menjalin hubungan dengan seorang gadis. Film yang didanai Pondok Pesantren Majma’ul Bahroin Hubbul Wathon Minal Iman Siddiqiyah ini, tak luput dari kritik. Salim Said, guru besar ilmu politik Universitas Pertahanan sekaligus mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta, mengkritik adegan ketika perumusan Sumpah Pemuda. Para peserta kongres menolak usulan Sumpah Pemuda ketiga yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Padahal, di masa tersebut bahasa Indonesia sudah cukup luas digunakan, terbukti dari adanya terbitan berbahasa Indonesia. “Sulit menerima bahwa orang Jawa tidak mau menerima Sumpah Pemuda soal bahasa karena rata-rata elite politik Jawa sudah mengerti bahasa Melayu,” kata Salim. John juga melewatkan detil-detil dalam film. Misalnya, para perempuan bumiputra yang mengenakan baju terusan. Padahal, di tahun itu masih banyak dan lumrah perempuan bumiputra mengenakan kebaya. Justru memakai pakian ala barat yang tidak lumrah. Bangunan-bangunan bergaya Eropa yang rusak padahal seting film tahun 1920-an. Casting para pemain juga jadi catatan. John barang kali punya asalan, tapi sangat sulit rasanya melihat Teuku Rifnu Wikana, terlepas dari aktingnya yang patut diacungi jempol, memerankan seorang Indo-Belanda. Dialog-dialog dalam film juga terasa tidak natural. Meski demikian, film ini patut diapresiasi lantaran menampilkan tokoh sejarah tanpa terjebak heriosme dan tak menampilkan Belanda sebagai pihak yang melulu jahat.
- Pesta Petasan Memakan Korban
LEDAKAN gudang petasan di Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Kamis (26/10/2017), memakan korban tewas 48 orang dan 46 luka bakar, sisanya berhasil diselamatkan warga dengan membobol tembok gudang. Jumlah karyawan PT Panca Buana Cahaya Sukses itu sebanyak 103 orang. Penyebab ledakan adalah percikan api dari las. Polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Insiden ledakan petasan yang memakan banyak korban juga pernah terjadi pada 1 Januari 1971 di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Perayaan tahun baru itu mestinya suka cita malah jadi duka cita. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menghelat pesta petasan. Berton-ton petasan berbagai jenis disediakan sebagai penanda pergantian tahun. Sejak 31 Desember 1970 siang, disiapkan lima tiang gantungan petasan setinggi lima meter. Koran Kompas, 4 Januari 1971, melaporkan Bang Ali menyiapkan sampai empat peti petasan impor dari Tiongkok dan Singapura. Tepat pukul 00.00, petasan-petasan itu disulut. Serentetan dentuman dan warna warni kembang api menghiasi langit ibukota. Nahasnya, pesta petasan itu memakan korban. “Dari catatan yang dikumpulkan petugas sampai jam 02.00 (1 Januari 1971) itu tercatat 11 korban petasan, lainnya terdapat dua orang yang mendapat luka-luka agak parah. Seorang anak 11 tahun mendapat luka parah pada tangan dan perutnya dan yang lainnya luka-luka pada mata dan kupingnya,” tulis Kompas. Adapun Tempo, 13 November 1971 melaporkan terdapat 50-60 orang menjadi korban, baik meninggal atau luka-luka termasuk seorang warga asing asal Amerika Serikat. Petaka petasan itu jadi perhatian Presiden Soeharto. Sejumlah aturan dikeluarkan jelang Hari Raya Idulfitri. Perayaan Lebaran sebagaimana perayaan-perayaan lainnya, sering digemuruhkan dengan pesta petasan. Pada Sidang Kabinet Paripurna 12 Oktober 1971, Presiden Soeharto menegaskan instruksi dan larangan soal petasan. Pabrik-pabrik petasan dalam negeri hanya diperbolehkan memproduksi petasan jenis “cabe”. Sementara impor petasan disetop. “Presiden menginstruksikan pada instansi-instansi yang berwenang, seperti polisi dan sebagainya agar mengawasi dan menertibkan pembuatan serta penjualan mercon. Diputuskan mulai sekarang impor petasan dari luar negeri dilarang,” tulis Kompas, 13 Oktober 1971. Instruksi Soeharto itu dijalankan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud dengan mengirim telegram kepada seluruh gubernur terkait pembatasan produksi petasan yang tak boleh lebih panjang dari 8 cm, diameter tak boleh lebih dari 1 cm, dan bobotnya tak boleh lebih berat dari 10 gram. Kemendagri juga menyetop izin impor petasan. Sedangkan Kapolri Komjen Pol. Moh. Hasan mengirim instruksi ke setiap Polda agar menertibkan produksi petasan. Lewat radio dan koran-koran, kaum ulama memberi pencerahan agar tak buang-buang uang demi petasan. Sayangnya, petasan masih jadi primadona masyarakat di setiap hari raya. Permintaan pasar yang tinggi membuat petasan impor masuk secara ilegal. Pabrik-pabrik petasan juga tak semuanya patuh. Mereka diam-diam menjual petasan berukuran besar lantaran pengawasan yang longgar.
- Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
HARI ini, 90 tahun lalu, para pemuda berkumpul untuk mengadakan Kongres Pemuda II di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda. Pemiliknya seorang Tionghoa, Sie Kong Liong, yang menyewakan rumah itu kepada para pemuda yang kelak menjadi tokoh penting, seperti Amir Sjarifuddin (perdana menteri), Muhammad Yamin (menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan), dan Mr. Assat (pejabat presiden Republik Indonesia). Mengingat jasanya memfasilitasi Kongres Pemuda II, Sie Kong Liong pernah diusulkan mendapatkan penghargaan. “Ada informasi tambahan dari Remy Silado (sastrawan, red .), salah satu peserta Sumpah Pemuda Jo Masdani dari Minahasa mengusulkan pada Sukarno pada 1959 supaya memberikan penghargaan pada Sie Kong Liong,” kata Didi Kwartanada, sejarawan yang menekuni sejarah Tionghoa, ketika ditemui di kantornya, Yayasan Nabil, Jakarta. Selain Sie Kong Liong, empat pemuda peranakan Tionghoa juga menghadiri Kongres Pemuda II. Kwee Thiam Hong anggota Jong Sumatranen Bond (JSB) kelahiran Palembang. Pelajar Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) berusia belasan itu mengajak sahabatnya Oey Kay Siang, John Liauw Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Mereka aktif sebagai anggota kepanduan. Sebagai anggota kepanduan, kata Didi, selain mengajarkan keterampilan di luar ruangan, mereka juga biasanya mengajarkan semangat nasionalisme dan patriotisme. “Sayangnya, mereka hanya tercatat nama saja. Bagaimana riwayatnya sekarang, keluarganya di mana belum ada yang menemukan,” ujar Didi. Namun, menurut Didi, berdasarkan wawancara Kwee dengan Kompas 25 Oktober 1978, tak ada yang memandang aneh keterlibatan Kwee dan teman-temannya. Dia yang kemudian berganti nama menjadi Daud Budiman merasa tidak melihat ada yang kurang senang dengan adanya pemuda etnis Tionghoa. “Keterlibatannya dalam nasionalisme Indonesia ini dipengaruhi oleh pidato H.O.S Tjokroaminoto dan Sukarno,” kata Didi. Di luar Kongres Pemuda II, suratkabar berbahasa Melayu-Tionghoa, Sin Po, yang pertama kali memuat lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman. Lagu dan notasi Indonesia Raya muncul di mingguan itu pada edisi No. 293 tanggal 10 November 1928. Kwee Kek Beng, pemimpin redaksi Sin Po, menyebutkan hubungan pemimpin pergerakan Indonesia dengan pers Tionghoa, terutama Sin Po, memang sangat baik. “Bukan cuma kebetulan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikarang dan dibikin lagu oleh tuan Wage Rudolf Soepratman dimuat pertama kali bersama notnya dalam weekblad Sin Po.” Selain mencetak, Supratman juga meminta Sin Po untuk menjual dalam bentuk partitur lepas. Padahal, pemuatan maupun percetakan lagu Indonesia Raya melanggar aturan pemerintah kolonial Belanda. Kendati begitu, ada juga pengusaha Tionghoa yang berani mencetak Indonesia Raya dengan terang-terangan. Pengusaha rokok kretek Moro Seneng di Tulungagung, Jawa Timur, memuat utuh syair lagu dalam buku peringatan lima tahun perusahaan kreteknya. Supratman juga menyebarluaskan lagunya dalam bentuk piringan hitam yang menjadi primadona di kalangan terpelajar. Dia menawarkan kepada perusahaan asal Eropa dan Tio Tek Hong, pengusaha di Pasar Baru yang memiliki perusahaan rekaman, namun ditolak. Dia kemudian meminta bantuan temannya, Yo Kim Tjan, yang berhasil mencetaknya dalam piringan hitam. Titik Tolak Sumpah Pemuda bisa dikatakan titik tolak dari sikap Indonesia yang etnonasionalis menjadi melebur menjadi satu. Sebelumnya, pemerintah kolonial Hindia Belanda memisahkan masyarakat Indonesia menjadi tiga golongan. Selain masyarakat Eropa, lainnya dimasukkan dalam golongan timur asing dan inlander (pribumi). Hal itu pun berdampak pada pergerakan politik masing-masing kelompok etnis. “Jadi, memang awal abad 20 masyarakat Indonesia terbagi berdasarkan garis warna dalam masyarakat kolonial,” jelas Didi. Hal itu bisa dilihat pada 1908 ketika Budi Utomo berdiri hanya untuk orang Jawa. Kemudian ada banyak organisasi pemuda daerah, seperti Jong Sumatranen Bond dan Jong Celebes, yang hanya mewakili etnis tertentu. Menurut Didi masyarakat golongan timur asing pun tersingkir dalam orientasi politiknya. Misalnya dalam organisasi Tiong Hoa Hwee Koan yang lahir pada 1900 sebelum Budi Utomo. “Jadi yang muncul pada awal abad 20 itu organisasi etnosentris, etnonasionalisme, bukan nasionalisme dalam arti modern, persamaan nasib, persamaan cita-cita dan sebagainya. Jadi masih sangat tersegregasi,” lanjut Didi. Ironisnya, Didi melanjutkan, partai yang dipimpin Sukarno, Partai Nasional Indonesia (PNI), hanya menerima etnis Tionghoa sebagai anggota luar biasa. Hal itu pun dimasukkan dalam AD/ART partai. “Partai ini hanya menerima golongan pribumi kala itu,” tambahnya. Menurut Didi, justru yang menjadi pelopor kesetaraan dalam organisasi politik adalah Indische Partij. Sayangnya, partai ini tak bertahan lama. Berdiri Desember 1912, partai ini sudah bubar pada 1913. “Indische Partij itu sebenarnya embrio dari sikap Indonesia untuk keluar dari sikap etnonasionalisme. Hindia untuk orang Hindia. Siapa orang HIndia itu? Bumiputra, Tionghoa, Indo, Arab bisa jadi anggotanya,” jelas Didi. Pada 1920, Partai Komunis Indonesia berdiri dan terbuka dalam menerima keanggotaan. Begitu pula dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) pada 1937 yang mengakomodasi seluruh etnis di Indonesia. Menurut Didi, pemberontakan PKI pada 1926 membuat pemerintah kolonial makin bersikap keras. Hal ini memunculkan perasaan senasib sebagai sesama masyarakat terjajah. Hingga akhirnya melebur dalam Kongres Pemuda II. “Sumpah Pemuda,” kata Didi, “bisa dikatakan sebagai penggorengan yang pertama. Tonggak pergerakan nasional yang ada sebelumnya belum secara inklusif merangkul seluruh etnis yang ada. Sumpah Pemuda representasi kebhinekaan Indonesia saat itu.”*





















