Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nobar Film Pengkhianatan G30S/PKI untuk Generasi Muda yang Mana?
SETELAH sempat dihentikan penayangannya semenjak September 1998, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan agar film Pengkhianatan G30S/PKI besutan sutradara Arifin C. Noer kembali diputar di berbagai tangsi militer dan sekolah-sekolah di Indonesia. Gagasan tersebut memicu kontroversi, bukan hanya karena persoalan akurasi sejarahnya, melainkan pula karena komentar eksentrik panglima atas pro-kontra pemutaran film itu: “Emang gue pikirin?!” Melalui telegram nomor ST/1192/2017, panglima menyebutkan dasar pemutaran film itu merupakan bentuk “kewaspadaan terhadap bakal maraknya pemutaran film The Look of Silence, diskusi tragedi 1965 dan kegiatan propaganda pemutarbalikan sejarah.” Telegram yang sama juga menyebutkan bahwa pemutaran film tersebut untuk “mengingatkan kembali peristiwa pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, khususnya bagi generasi muda yang tidak mengerti tentang PKI dan bahaya latennya.” Pertanyaannya, seberapa efektifkah film tersebut menggalang solidaritas anti-komunis di kalangan generasi muda zaman milenial ini? Mampukah film tersebut meraih sukses untuk merawat trauma massa atas komunisme dan melanggengkan hegemoni ingatan penguasa atas warganya sebagaimana yang pernah terjadi di masa pemerintahan Soeharto?
- Komentar Pers Arab tentang Pengangkatan Soeharto
PADA 9 Februari 1967, sidang paripurna DPR-GR mengeluarkan dua resolusi yaitu memberhentikan Presiden Sukarno dari jabatan Presiden/Mandataris MPRS yang menurut pendirian DPR-GR terbukti dengan nyata kesalahannya (sesudah pendirian ini dibenarkan oleh MPRS), dan memilih/mengangkat pejabat presiden sesuai Pasal 3 Ketetapan No.XV/MPRS/1966; serta memerintahkan Badan Kehakiman yang berwenang untuk mengadakan pengusutan, pemeriksaan dan penuntutan secara hukum. Kabar pelantikan Soeharto sebagai pejabat presiden pada Maret 1967 dan pengadilan terhadap Sukarno mendapat perhatian internasional. Bukan hanya menjadi berita di media-media Barat, namun juga mengisi lembaran rubrik di beberapa koran dari dunia Arab (Timur Tengah). Reaksi masing-masing koran beragam.
- Jalan Berliku Lembaga Bantuan Hukum
Gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dikepung massa pada Minggu (17/09) hingga Senin (18/09). Gegaranya, LBH menyelenggarakan acara yang berkaitan dengan peristiwa 1965. Melalui rilisan pers yang diterima Historia, LBH Jakarta menulis, “Massa meneriakkan ancaman mengerikan, melakukan stigma dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar, serta mencoba masuk, melempari dengan batu dan melakukan provokasi, serta mencoba membuat kerusuhan.” Padahal, YLBHI saat itu sedang menyelenggarakan acara yang menampilkan pertunjukan seni dengan nama #AsikAsikAksi. Ancaman terhadap LBH sesungguhnya tidak hanya terjadi pada hari ini saja. Pada era Orde Baru (Orba), ancaman dan tekanan juga pernah mereka alami. Kendati pada awal pembentukannya, LBH didukung pemerintah namun belakangan pemerintah Soeharto menunjukkan ketidaksukaannya kepada LBH. Demikian menurut Adnan Buyung Nasution dalam Demokrasi Konstitusional: Pikiran & Gagasan. Buyung menyebutkan, pada 1974 Ali Moertopo pernah memerintahkan untuk menangkap dirinya saat terjadi peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari). Buyung lantas ditahan selama dua tahun tanpa proses peradilan karena dituduh sebagai dalang Malari. “Semua pengacara LBH masuk dalam daftar hitam pemerintah. Kantor, rumah, dan kendaraan mereka sering dirusak. Bahkan ada yang diancam akan ditahan,” ungkap Buyung. LBH sendiri merupakan lembaga bantuan hukum yang digagas Buyung pada 1969. Dalam otobiografinya, Adnan menceritakan tentang awal mula pendirian LBH. Dia bercerita bahwa pada mulanya ide tentang pendirian LBH dia kemukakan dalam kongres Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) III pada 18-20 Agustus 1969. Ternyata, ide ini didukung oleh kongres kemudian ditindaklanjuti oleh Adnan. Selain dukungan politis dari Peradin, Buyung juga mendapat dukungan moril dari mahasiswa dan cendekiawan. Agar LBH "tidak digebuk", Buyung melakukan "siasat ala Jawa" untuk sekadar kulonuwun kepada pemerintah dengan menemui Ali Murtopo untuk meminta persetujuan pendirian LBH. Secara personal, Buyung mengenal Ali sejak aktivis-aktivis kesatuan aksi pengganyangan PKI sering berkumpul di markas Kostrad. Pangkostrad Kemal Idris memperkenalkan Ali sebagai orang kepercayaannya. “Wah saya gembira sekali, saya akan mendukung,” kata Ali. Tidak cukup sampai Ali Moertopo, Buyung juga menyiapkan uraian tertulis mengenai pembentukan LBH untuk Presiden Soeharto. “Pak Harto sudah baca, katanya bagus, teruskan ide ini,” kata Ali kepada Buyung. Setelah mendapat persetujuan dari pemerintah, Buyung mencari dukungan dari pemerintah DKI Jakarta yang dipimpin Gubernur Ali Sadikin. Buyung mengenal Ali Sadikin sebagai orang yang mendukung para seniman dan budayawan dengan membangun Taman Ismail Marzuki. Buyung optimis mendapat dukungan dari Ali Sadikin. Dalam otobiografinya, Buyung menulis bahwa Ali Sadikin memiliki peran besar dalam pembentukan LBH. Bersama seorang aktivis sosial Nani Yamin, Buyung menemui Ali Sadikin di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo. Sekretaris Gubernur Kris Hutapea ikut dalam pertemuan tersebut. “Negara hukum tidak bisa ditegakkan hanya dengan pidato, tapi dengan tindakan nyata, yaitu membela rakyat. Supaya rakyat sadar akan hak dan kepentingan hukumnya... Ini termasuk pelayanan negara kepada rakyat yang butuh bantuan di bidang hukum... Dalam pembangunan Jakarta saya lihat bidang pelayanan hukum ini bagian yang belum digarap Bang Ali,” ujar Buyung. “Wah, saya setuju dah, setuju! Saya mau. Buyung bikin proposalnya ya,” jawab Ali Sadikin. Selain membuat proposal, Buyung juga diminta untuk melampirkan SK organisasi. Namun, Buyung tidak memiliki organisasi. Ali Sadikin lantas mengusulkan untuk melampirkan SK yang dibuat oleh Peradin untuk pendirian LBH. Permintaan Buyung tentang SK ini sempat membuat bingung Lukman Wiradinata. Lalu dia disarankan untuk pergi menemui S. Tasrif. “Ya sudah, Pak Tasrif, sekjen suruh bikin SK.” Dengan sedikit mengomel akhirnya S. Tasrif membikin SK pembentukan LBH yang dibuat Peradin. Setelah syarat pembentukan LBH lengkap, perngurus LBH dilantik pada 28 Oktober 1970 di Balai Kota oleh Ali Sadikin. Frans Hendra Winata dalam Pro Bono Publico menyebut langkah Buyung sebagai awal gerakan perkembangan bantuan hukum di Indonesia. Pada peresmian kantor LBH di Jalan Ketapang, Ali Murtopo memberikan sumbangan lima sepeda motor untuk operasional. Banyak orang-orang yang mengkritik keputusan Buyung menerima bantuan Ali Murtopo. Namun Buyung menjawab bahwa dia percaya pada itikad baik Ali Murtopo. Sayangnya, pemberian motor itu hanya bagian dari politik kosmetik pemerintah Soeharto. Dia ingin membangun citra bahwa pemerintah Orba mendukung demokrasi, hukum, dan HAM. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Hal ini bisa dilihat dari keputusan Orba untuk menahan Buyung selama dua tahun tanpa peradilan dengan tuduhan sebagai dalang Malari. Tidak hanya itu, para pengacara LBH juga sering menerima ancaman ketika menangani kasus. Kasus yang diangkat umumnya melibatkan orang kurang mampu yang terintimidasi oleh militer. Misalnya, membela orang-orang yang tanahnya diambil untuk pembangunan Simprug, kasus Tanjung Priok, pembangunan TMII, buku putih ITB, dan Kasus Waduk Kedungombo. Beragam tantangan dan ancaman terhadap LBH datang dari dulu hingga kini. Buyung menyebut bahwa tantangan paling ringan berupa upaya penyuapan hingga intimidasi dan ancaman kekerasan. “Namun, lama-kelamaan pengacara kami kebal dengan ancaman, terutama dalam kasus penting,” kata Buyung.
- Kasus Kekerasan Militer Belanda Terhadap Rakyat Sipil dalam Perang Kemerdekaan
Data Kekerasan Militer Belanda Terhadap Rakyat Indonesia Pasca Kemerdekaan
- Aturan Menyalakan Lampu Motor di Siang Hari
Anggota DPR menuding peraturan menyalakan lampu motor di siang hari karena pengaruh produsen aki.
- Riwayat Panggilan Hormat Pada Pejabat
Arteria Dahlan, anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PDIP, protes tidak dipanggil dengan sebutan “Yang Terhormat” oleh pimpinan KPK dalam Rapat Dengar Pendapat pada 11 September 2017. Dia menyebut bahwa Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal (Pol.) Tito Karnavian juga memanggil anggota DPR dengan sebutan “Yang Terhormat” bahkan Tito Karnavian terkadang menyebut “Yang Mulia.” Publik menilainya negatif dan menyebut anggota DPR “gila hormat.” Dalam sejarah Indonesia, pernah ada panggilan Paduka Yang Mulia, Yang Mulia, dan Padukan Tuan. Jenderal Polisi (Purn.) Awaluddin Jamin, mantan Kapolri (1978-1982), mengalami masa ketika sebutan tersebut digunakan dalam rapat-rapat pemerintahan. “Saya menjadi Kepala Seksi Umum dari 1955 sampai 1959, di bawah Kapolri Said Soekanto. Saya mendampinginya saat rapat, lalu mencatat apapun yang disampaikannya. Saat itu ya, kalau rapat, Soekanto dipanggil oleh anak buahnya Paduka Tuan Soekanto. Kan dulu berlaku panggilan Paduka Yang Mulia Presiden, Yang Mulia Menteri, dan Paduka Tuan. Kalau Soekanto memanggil bawahannya dengan sebutan tuan-tuan,” kata Awaluddin kepada Historia . Sejarawan Peter Kasenda yang banyak menulis buku tentang Sukarno mengatakan bahwa panggilan Paduka Yang Mulia muncul dari orang-orang di sekitar Sukarno. Hal ini berbeda dengan panggilan yang muncul pasca Demokrasi Terpimpin, yakni Pemimpin Besar Revolusi. “Pemimpin Besar Revolusi itu dari Sukarno sendiri. Dalam pidato-pidatonya dia sering bilang kalau dia adalah penyambung lidah rakyat. Tapi kalau penyebutan Paduka Yang Mulia itu menurut saya dari orang-orang sekitar istana,” kata Peter Kasenda kepada Historia . Sebutan Pemimpin Besar Revolusi disahkan melalui TAP MPRS No. II/MPRS/Mei 1963 sekaligus menetapkan Sukarno sebagai presiden seumur hidup. Namun, menurut Barlan Setiadijaya dalam 10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia , sebutan Paduka Yang Mulia dan sebagainya merupakan warisan feodalisme Jepang. Kebiasaan menambah san (tuan), kan (paduka tuan), kaka (yang mulia) digunakan sejak awal kemerdekaan. Tapi pada 6 September 1945, Presiden Sukarno membuat pengumuman di media massa terkait sebutan Paduka Yang Mulia, sebagai berikut: “Ketjoeali dalam oeroesan jang resmi-resmi benar mengenai NEGARA REPOEBLIK INDONESIA, maka saja minta didalam seboetan sehari-hari diseboet ‘BOENG KARNO’ sadja, djangan ‘PADUKA JANG MOELIA’. Djakarta, 6 September 1945. ttd. SOEKARNO.” Sebutan Paduka Yang Mulia, Yang Mulia dan Paduka Tuan digunakan selama masa Orde Lama dalam acara-acara resmi pemerintahan. Sampai-sampai Soetedjo menciptakan lagu Oentoek PJM Presiden Soekarno pada 1963 dan dinyanyikan oleh Lilis Suryani. Sebutan Paduka Yang Mulia, Yang Mulia, dan Paduka Tuan dihapuskan melalui TAP MPRS No. 31/1966 karena mencerminkan feodalisme dan kolonialisme serta tidak egaliter. Penggantinya dengan sebutan Bapak/Ibu atau Saudara/Saudari.
- Syariat dalam Batu Bersurat
Telah lama batu itu diletakkan di depan masjid. Ia digunakan sebagai pijakan untuk masuk ke dalam masjid. Setiap orang yang akan masuk masjid menyeka kakinya sehingga merusak beberapa bagian batu itu. Melihat tulisan pada batu itu, imam masjid menyuruh orang-orang untuk memindahkannya ke sungai. Pada 1889, seorang pedagang Arab dan peneliti timah, Sayid Husain Ibn Ghulam al-Bukhari menemukan batu itu di Sungai Teresat, dekat Kuala Berang, sekira 32 km dari muara Sungai Terengganu. Dia mempersembahkan batu kepada Sultan Zainal Abidin I, pendiri kembali Kesultanan Terengganu pada paruh pertama abad 18. Sekarang, batu yang disebut Batu Bersurat itu tersimpan di museum negara Terengganu. Penelitian terbaru dilakukan Ludvik Kalus, profesor dari Universitas Paris IV-Sorbonne. Dia melontarkan pendapat yang mengejutkan bahwa dilihat dari model tulisannya, Batu Bersurat berasal dari Kairouan, Tunisia, yang dibawa para pedagang Muslim sebagai jangkar kapal. Menurut Ayang Utriza Yakin, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, penemuan Batu Bersurat menunjukkan bahwa Islam telah ada dan mapan di Kesultanan Terengganu. Dua sumber menyebut Islam masuk ke Terengganu dari Samudera Pasai atau Champa. Batu Bersurat menjadi salah satu penemuan terpenting di Asia Tenggara dan contoh paling tua tulisan Arab-Melayu (Jawi). Ia juga menunjukkan telah ada tradisi menulis di Terengganu. “Kalau ada orang mengatakan hukum Islam tanpa melampirkan sumber bukti, kayanya hanya mimpi di siang bolong. Kita sebagai sejarawan harus bicara sumber. Hampir semua sejarawan sepakat bahwa Batu Bersurat merupakan bukti tertulis tertua mengenai hukum pidana Islam di Nusantara,” kata Ayang yang merampungkan master dan doktor di bidang sejarah, filologi, dan hukum Islam dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Prancis. Dia membahas Batu Bersurat dalam bukunya, Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX . “Hal paling penting dari Batu Bersurat itu adalah dekrit seorang raja Muslim yang memberlakukan hukum Islam kepada para penduduknya,” tulis Ayang. “Kita mungkin dapat mengatakan bahwa raja itu sangat berambisi untuk menyebarkan keyakinan barunya.” Hukuman Bagi Pezina Ayang melakukan alih aksara dari Jawi ke Latin dan membagi Batu Bersurat ke dalam tiga bagian: pembukaan (muka A), hukum yang diundangkan (muka B dan C), dan penutup (muka D). Pada bagian pembukaan, Raja Mandalika yang membuat undang-undang memerintahkan kepada Sri Paduka Tuhan untuk membangun dan memelihara keteraturan di Terengganu. Hukum yang diundangkan (muka B dan C) terdiri dari sembilan pasal: pasal 1-3 hilang, pasal 4-5 tentang hukum utang-piutang, pasal 6-7 tentang hukum zina, pasal 8 tentang saksi palsu dengan hukuman denda, dan pasal 9 tentang klausul umum untuk penghentian pembayaran denda. Pada bagian penutup (muka D), undang-undang menuntut kepatuhan semua penduduk Terengganu. Barang siapa yang tidak patuh akan dilaknat oleh Allah. Undang-undang tersebut diberlakukan pada 4 Rajab 702 H atau 22 Februari 1303 sebagai undang-undang negara. “Berdasarkan tarikh yang tercatat pada buku itu juga menunjukkan bahwa negeri Terengganu merupakan negeri terawal yang mempunyai undang-undang Islam secara tertulis,” tulis Zaini Nasohah dalam Pentadbiran Undang-undang Islam di Malaysia: Sebelum dan Menjelang Merdeka . Menurut Ayang, Batu Bersurat menunjukkan kepada kita adanya mata rantai hukum, yaitu Dewata Mulia Raya (Allah), Raja Mandalika, dan sepuluh hukum. Mandalika kemungkinan besar adalah salah satu dari keturunan Raja Telanai yang pernah memerintah Terengganu. Nama Mandalika masih terus eksis hingga awal abad 16. Dari sepuluh hukum hanya pasal 6-7 yang paling jelas yaitu hukum tentang zina. Ada dua jenis zina, yaitu muhsan dan gayru muhsan . Muhsan yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang telah menikah dengan orang merdeka, sedangkan gayru muhsan yaitu zina yang dilakukan oleh orang yang belum menikah atau budak. Setiap orang yang melakukan zina dihukum dengan hukuman hadd , yaitu sanksi atas perbuatan yang dilarang yang hukumannya telah ditentukan di dalam Alquran. Perbuatan tersebut dilihat sebagai kejahatan melawan agama. Keempat mazhab hukum Islam Suni (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali) sepakat bahwa hadd zina bagi muhsan adalah dirajam dengan batu atau apa pun hingga mati. Sementara hadd bagi gayru muhsan adalah 100 cambukan bagi orang merdeka dan 50 cambukan bagi budak. Hukuman tersebut berdasarkan Alquran dan Hadis. Terkait hukuman rajam untuk muhsan , Nabi Muhammad Saw. bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “…Jika ia mengaku telah melakukan zina, maka rajamlah.” Adapun bagi gayru muhsan berdasarkan Alquran: “Bagi pezina perempuan dan pezina lelaki, cambuklah masing-masing 100 kali cambukan.” “Di sini kita melihat bahwa hukum yang ke-6 dari Batu Bersurat itu benar-benar merujuk pada hukum Islam,” tulis Ayang. Kendati demikian, Ayang menegaskan bahwa undang-undang itu membedakan antara orang biasa dan bangsawan, seperti keluarga raja. Tampaknya hukum Islam diterapkan hanya untuk orang-orang biasa, sementara untuk kelas elite, maka hukum adat yang diterapkan. Hukuman zina untuk masyarakat umum adalah cambuk dan rajam, sementara untuk bangsawan dan keluarganya hanyalah hukuman denda. “Hukuman di dalam Batu Bersurat jelas diambil dari hukum adat, yaitu membayar denda, yang tidak ditemukan sama sekali contoh hukuman seperti itu di dalam hukum Islam. Dengan demikian, batu itu menandakan peralihan dari hukum lama, yaitu hukum adat yang dipengaruhi Hindu-Budha ke hukum adat dan hukum Islam,” tulis Ayang. Bukti Penting Dalam Batu Bersurat terlihat jelas adanya diskriminasi dalam penerapan hukum Islam. Ayang melihatnya dalam konteks politik bahwa penerapan hukum Islam itu harus perlahan. Mungkin saat itu keluarga kerajaan baru menerapkannya untuk masyarakatnya tidak untuk kalangan bangsawan. Sebab, kalau ia diterapkan untuk kalangan bangsawan akan terjadi kekacauan di tengah kerajaan yang dapat berujung pada usaha menumbangkan kekuasaan. Batu Bersurat merupakan contoh terbaik dari sebuah hukum yang diundangkan oleh masyarakat Terengganu pada abad 14. Hukum tersebut merujuk pada dua hukum, yaitu hukum adat dan hukum Islam. “Hukum Islam tampak hanya sebagai pelengkap hukum adat dan hukum alternatif,” kata Ayang. Ayang memang tidak menemukan bukti adanya pengaruh Batu Bersurat terhadap undang-undang di Nusantara seperti Undang-Undang Malaka pada abad 15. Namun, yang ingin dia tunjukkan bahwa Batu Bersurat merupakan bukti penting penerapan hukum Islam. “Walaupun undang-undang itu pendek, namun ia merupakan contoh sangat penting untuk sejarah hukum Islam di Nusantara,” pungkas Ayang.
- 12 Sepatu Bola yang Hilang
Sebagai cabang olahraga paling populer, sepakbola menjadi bahan obrolan orang di berbagai tempat, mulai televisi hingga warung kopi. Tak hanya jadwal plus hasil pertandingan dan para bintang lapangan, beragam hal lain seputar sepakbola juga menjadi “sorotan”. Sepatu bola tak ketinggalan, menjadi bahan obrolan di banyak tempat meski tak diobrolkan seluas topik obrolan seputar pemain. Sama seperti permainan dan para pemain sepakbola, sepatu bola juga terus mengalami kompetisi, evolusi, regenerasi. Meski sekarang praktis hanya Adidas, Nike, dan Puma yang mendominasi lapangan-lapangan, merek lain macam Asics, Diadora, Lotto, atau Mizuno tetap masih mewarnai berbagai pertandingan yang ada. Realitasnya agak berbeda dari masa lalu, ketika bisnis sepakbola belum sekuat sekarang. Merek-merek kecil macam Admiral, Cheetah Sport, Kronos, Penalty, Pony, Topper, atau Quassar di masa lalu ikut meramaikan pasar bisnis sepatu bola. Meski Adidas dan Puma sudah besar kala itu, merek-merek kecil tetap mendapat tempat dan bahkan bintang pemakai. Berikut ini 12 sepatu bola yang pernah jaya tapi kini sudah hilang dari lapangan. Admiral Sepatu bola Admiral memang kalah tenar dibanding jersey-nya. Jersey Admiral tak hanya jadi sponsor resmi tim nasional Inggris sejak 1974 hingga Piala Dunia 1982, tapi juga banyak klub liga Inggris hingga awal 1990-an. Admiral ikut mempelopori replika kaos pemain untuk dijual ke para fans. Prestasi itu memang tak bisa dicapai sepatu bola Admiral. Di Inggris saja, sepatu bola Admiral kalah jauh dari Umbro atau Mitre. Pemain-pemain Liga Inggris yang menggunakan sepatu bola Admiral hanya pemain-pemain biasa, bukan bintang top. Di luar Inggris, hampir tak ada pemain bintang yang mengenakan sepatu buatan mantan jurnalis Bert Patrick itu. Tapi, keberadaan sepatu ini di Liga Inggris membuktikan bahwa persaingan bisnis sepatu bola di masa lalu masih memungkinkan pemain kecil bersaing dengan raksasa-raksasa macam Adidas atau Puma. Begitu persaingan bisnis sepatu bola makin ketat sejak paruh kedua 1980-an, Admiral dan banyak merek lain harus tersingkir. Di Piala Dunia Mexico 1986, sepatu Admiral sudah tak lagi terlihat. Bintang pengguna: John Fashanu (Inggris). Cheetah Sport Pecinta sepakbola saat ini mungkin sedikit yang tahu sepatu bola satu ini. Selain mungkin namanya terdengar lucu, sepatu bola Cheetah Sport sudah lama menghilang. Pada pertengahan 1990-an saja, hanya beberapa pemain liga Eropa yang masih terlihat mengenakannya. Muncul pada tahun 1960-an, Cheetah Sport menjadi pilihan banyak pemain mulai kiper hingga penyerang. Bintang-bintang top 1970-an macam kiper legendaris Inggris Peter Shilton atau kiper legendaris Italia Dino Zoff merupakan para pengguna sepatu asal Inggris ini. Pada 1980-an makin banyak bintang lapangan yang mengenakan sepatu Cheetah Sport, terutama di Liga Italia. Bek Italia asal Inter Milan Guiseppe Bergomi merupakan salah satu penggunanya. Popularitas sepatu ini terus menanjak. Di awal 1990-an striker andalan Uruguay yang bermain di Inter Milan Ruben Sosa juga menjadi pemain yang dikontrak Cheetah Sport. Namun, paruh pertama 1990-an seperti menjadi klimaks bagi sepatu ini. Setelah Ruben Sosa, Cheetah Sport hampir tak terlihat lagi di kaki para bintang lapangan hijau. Bintang pengguna: Dino Zoff, Eraldo Pecci, Giancarlo Marocchi, Guiseppe Bergomi, Loris Boni, Mozzini, Paolini Pulici, Peter Shilton, Roberto Cravero, Ruben Sosa, dll. Dunlop Nama Dunlop mungkin lebih akrab di telinga para pecinta otomotif. Atau kalau pun akrab di telinga pecinta olahraga, Dunlop lebih familiar bagi para penyuka tenis ketimbang sepakbola. Dunlop memang fokus terjun ke cabang olahraga raket (tenis, badminton, squash). Tapi Dunlop juga tak ingin ketinggalan menggali laba dari bisnis sepakbola. Selain membuat bola sepak, Dunlop juga memproduksi sepatu bola. Para pecinta Liga Inggris hingga awal 1990-an mungkin tak asing dengan sepatu Dunlop. Banyak pemain liga tertua di dunia itu yang menggunakan atau bahkan mendapat kontrak eksklusif sepatu buatan Inggris ini. Awal 1990-an masih banyak pemain bintang Liga Inggris yang menggunakan sepatu bola Dunlop. Kiper legendaris Liverpool Bruce Grobbelaar salah satunya. Namun, Dunlop sepertinya tak mampu bersaing dengan para pemain lain di bisnis sepatu bola yang makin kemari makin adu kuat finansial. Setelah kedatangan Nike, praktis Dunlop menjadi merek yang tersingkir. Bintang pengguna: Bruce Grobbelaar, Graeme Souness, Terry McDermott, Trevor Brooking, Trevor Stevens, Zico, Gola Sebagai produsen tertua sepatu bola (1905), Gola menjadi merek yang dikagumi banyak pecinta bola. Pemain bintang banyak yang mengenakan sepatu buatan Inggris ini, beberapa di antara mereka kemudian mendapat kontrak eksklusif. Perkembangan sepakbola dan bisnis yang mengikutinya, berjalan beriringan dengan kemajuan sepatu Gola. Pada 1970-an hingga awal 1980-an, sepatu Gola menjadi pesaing berat Adidas ataupun Puma, yang usianya lebih muda. Gola antara lain menjadi pilihan bintang-bintang Liverpool dan beberapa tim di Liga Inggris. Hingga awal 1990-an, sepatu Gola masih ikut mewarnai lapangan-lapangan di berbagai liga Eropa. Mantan kapten Chelsea Dennis Wise, yang mulai melakukan debut pada awal 1990-an, juga lama menjadi pengguna sepatu ini. Namun, ketatnya persaingan dari para pendatang baru macam Nike dan Reebok membuat Gola akhirnya hilang dari lapangan. Bintang pengguna: Alan Whistle, Alec Lindsay, Dennis Wise, Ian Callaghan, Terry McDermott. Hummel Flemming Povlsen dan kawan-kawan berhasil menekuk Jerman di final Piala Eropa 1992. Kemenangan itu bukan hanya menggembirakan pemain plus ofisial dan rakyat Denmark saja tapi juga orang-orang di perusahaan Hummel. Kostum tim juara plus mayoritas sepatu yang dikenakan pemain Denmark saat itu bermerek Hummel. Alhasil, momen tersebut dimanfaatkan betul oleh produsen alat olahraga asal Denmark itu untuk mempromosikan produknya dan menggenjot penjualan. “Itu adalah bisnis yang bagus. Direktur pengelola Hummel, yang tampil dalam peluncuran versi kardigan kaos Meksiko, menghitung penjualan domestik saja bisa menghasilkan sepuluh juta kroner (£1 juta) . ‘Itu adalah kemenangan pemasaran,’ kata ahli fesyen Klaus Berggreen . ‘ Sungguh mengerikan saat Anda melihatnya sekarang, tapi sebagai publisitas, itu sangat fantastis’,” lanjutnya sebagaimana dikutip Lars Eriksen, Mike Gibbons, dan Rob Smyth dalam Danish Dynamite: The Story of Football’s Greatest Cult Team. Bagi para penggemar tim “dinamit” Denmark atau bintang asal Denmark seperti Soren Larby atau Morten Olsen, sepatu berlogo dua busur panah ini mungkin tak asing. Sebagai salah satu produsen sepatu bola tertua, muncul pada 1923, Hummel bertebaran di lapangan-lapangan berbagai liga Eropa. Selain liga lokal Denmark, pengguna Hummel terutama berasal dari Liga Inggris dan liga-liga negara-negara tetangganya. Meski kuat, sepatu bola Hummel punya kelemahan di harga: mahal. Jurnalis penggila bola Tim Lovejoy ingat betul di antara sekian banyak sepatu bola koleksinya, sepatu Hummel yang termahal. “Saya punya Pantofola d’Oros, Valsport Greenstars, dan ada masanya saya bermain dengan menggunakan sepasang Hummel Professionals berwarna mutiara seharga £280 yang menjadikannya sepatu termahal di dunia,” kenangnya dalam Lovejoy on Football: One Man’s Passion for the Most Important Subject in the World . Tetap saja, sepatu Hummel sepatu legendaris. Selain bintang-bintang asal Denmark sendiri, bintang top dunia macam Glenn Hoddle (Inggris) atau Osvaldo Ardiles (Argentina) merupakan para pengguna sepatu Hummel. Hanya saja, popularitas Hummel kemudian merosot setelah persaingan bisnis sepatu bola makin ketat. Pertengahan 1990-an hampir pemain-pemain Denmark saja yang masih mengenakan sepatu ini. Selepas timnas Denmark tak lagi memperpanjang kontrak kostum mereka dengan Hummel, jersey apalagi sepatu Hummel pun hilang dari pandangan. Bintang pengguna: Soren Larby dan mayoritas pemain tim nasional Dermark hingga akhir 1990-an, Glenn Hoddle, Lee Dixon, Osvaldo Ardiles, Paul Gascoigne, Nico Claesen, dan Vinny Samways. Kronos Saat mengantar Barcelona menjuarai Piala Champions tahun 1992, “begundal” Hristo Stoichkov namanya langsung meroket. Banyak klub Eropa langsung menaruh minat pada striker asal Bulgaria itu. Para produsen produk olahraga juga menaruh minat yang sama. Dengan mengontrak seorang bintang, mereka berharap produknya makin laris. Tapi Stoichkov tetap teguh memakai sepatu Kronos. Entah apa sebabnya, sepatu buatan Italia itu terus menjadi pilihan Stoichkov hingga akhir kariernya. Meski bukan merek top, yang dipakai bintang di masa puncak karier, sepatu Kronos pernah mewarnai lapangan-lapangan di berbagai liga Eropa dan Amerika Latin. Liga Italia sebagai pemakai terbanyak. Meski hanya Stoichkov dan Abel Balbo (Argentina) yang mengenakannya saat namanya sedang berkibar, sepatu berlogo sabit terbalik itu menjadi pilihan banyak pemain-pemain top saat awal merintis karier profesional di berbagai liga Eropa. Sayangnya, persaingan bisnis sepatu bola yang makin ketat membuat Kronos akhirnya tersingkir. Setelah Stoichkov, tak ada lagi bintang yang memakai sepatu berbasis di Vicenza itu. Pada paruh kedua 1990-an sepatu Kronos sudah mulai jarang terlihat di liga-liga Eropa. Bintang pengguna: Abel Balbo (sebelum kontrak dengan Diadora), Gabriel Batistuta (sebelum kontrak dengan Reebok), Hristo Stoichkov, Kjektil Rekdall, Maurizio Ganz, Paolo Sousa (sebelum kontrak dengan Kappa), Roberto Mancini (sebelum Asics). Le Coq Sportif Sampai Piala Dunia Mexico 1986 usai, logo ayam dengan bingkai segitiga masih bertebaran di kaos ataupun sepatu pemain sepakbola di berbagai liga Eropa maupun Amerika. Le Coq Sportif, pemilik logo itu, merupakan produsen peralatan olahraga asal Prancis. Mulai populer pada 1970-an, sepatu bola Le Coq Sportif tak hanya menjadi pilihan pemain-pemain di Liga Prancis tapi juga liga-liga lain di dunia. Bintang-bintang pada masa itu juga banyak yang mengenakan sepatu ini. Namun, hal itu tak berlanjut terus. Awal 1990-an sepatu Le Coq Sportif –dan juga jersey-nya– mulai jarang terlihat di berbagai gelaran pertandingan sepakbola. Kini, meski masih diproduksi, sepatu bola Le Coq Sportif tak lagi terlihat di liga-liga Eropa apalagi dunia. Bintang pengguna: Gary Stevens, Glenn Hoddle, Osvaldo Ardiles (sebelum Hummel), Pat Van Den Hauwe, Roger Mila, Zico. Line 7 Sebagai pemain yang ikut mengantar Jerman Barat menjuarai Piala Dunia 1990, Stefan Reuter menjadi incaran banyak klub besar setelah ajang sepakbola terbesar sejagat itu selesai. Juventus beruntung mendapatkan dia bersama beberapa pemain Jerman lain. Seakan tak ingin kalah dengan klub, produsen-produsen alat olahraga pun berburu bintang-bintang untuk dikontrak. Produsen sepatu bola Prancis Line 7 berhasil mengontrak pemain dengan posisi bek kanan itu. Wajah Reuter tampil dalam lembaran-lembaran media yang mengiklankan sepatu Line 7. Di masa 1990-an awal itu, sepatu Line 7 telah mencapai popularitas meski baru berusia sekira 10 tahun. Banyak pemain di liga-liga besar Eropa mengenakannya. Zenedine Zidane bersama Bixente Lizarazu dan Cristoph Dugarry merupakan pemain-pemain profesional yang di awal karier mereka mengenakan sepatu berlogo angka 7 itu. Sayangnya, sepatu Line 7 tak berhasil adu kuat dalam persaingan dalam bisnis peralatan olahraga. Pada akhir 1990-an, sepatu Line 7 sudah jarang terlihat di liga-liga Eropa. Jangankan bintang, pemain-pemain yang dulu mengenakannya pun sudah beralih ke sepatu-sepatu lain yang produsennya lebih berduit. Bintang pengguna: Alberigo Evani, Andy Todd, Brian O’Neill, Paul Stewart, Stefan Reuter. Patrick Sebagai dua bintang yang bersinar pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Michel Platini dan Kevin Keegan bersaing ketat baik di level klub maupun negara. Tapi Platini lebih sukses dalam prestasi. Selain menjadi motor ketika Prancis sukses menjuarai Piala Eropa 1984, Platini juga menjadi tulang punggung Juventus ketika merebut Piala Champions untuk kali pertama. Sementara, Keegan dan Inggris tak mampu berbuat banyak. Persaingan kedua bintang juga merambat ke produk-produk komersil di mana banyak perusahaan mulai minuman hingga mobil menggunakan jasa Platini maupun Keegan sebagai bintang iklan mereka. Namun, ada satu yang membuat keduanya akur: sepatu bola Patrick. Sepatu berlogo dua garis vertikal sejajar di bagian tumit itu dibuat pertamakali oleh Patrice Beneteau pada 1892. Sejak akhir 1970-an, Patrick berada di jajaran atas merek sepatu bola. Keegan dan Platini hanya dua dari banyak bintang yang mendapat kontrak dari Patrick, dan hanya sedikit dari sekian banyak pesepakbola yang menggunakan sepatu buatan Prancis itu. Namun, bintang terang sepatu Patrick tak berlangsung lama. Pertengahan 1990-an sepatu itu tak lagi banyak terlihat. Setelah bintang Denmark Michael Laudrup gantung sepatu, tak terlihat lagi sepatu Patrick di pertandingan-pertandingan sepakbola Eropa maupun dunia. Bintang pengguna: Frank Vercauten, Georges Grun (Belgia); Jean Marie Pappin, Michel Platini (Prancis); Kevin Keegan, Steve Staunton, Ray Wilkins (Inggris); Michael Laudrup (Denmark); Mark Lawrensen (Rep. Ireland). Pony Meski skandal suap sempat hampir menamatkan karier Paolo Rossi, bintang Juventus itu akhirnya berhasil menjawabnya dengan prestasi pada Piala Dunia 1982 di Spanyol. Rossi tak hanya menjadi pencetak gol terbanyak, tapi juga ikut mengantar Italia menjadi juara. Bintang Rossi kembali bersinar. Tak hanya publik Italia, produsen alat olahraga Pony pun ikut gembira. Banyak anggota tim Italia saat itu yang menggunakan sepatu Pony. Tapi, Rossi punya pesona tersendiri. Wajar saja jika wajahnya yang terpampang di berbagai media sebagai bintang iklan sepatu bola Pony. Pada 1980-an itu, sepatu Pony mencapai puncak popularitasnya. Meski tak sebanyak dekade sebelumnya, banyak pemain top baik di Liga Italia maupun liga-liga lain di Eropa yang menggunakan sepatu bola Pony. Di kejuaraan antarnegara atau Piala Dunia pun sepatu bola Pony umum terlihat hingga Piala Dunia 1982. Namun, pada paruh kedua 1980-an sepatu itu mulai jarang terlihat. Para pemain yang mengenakannya pun hanya di liga-liga. Praktis pada 1990-an sepatu Pony jarang terlihat lagi, kecuali jersey-nya yang sempat digunakan beberapa klub Inggris seperti Tottenham Hotspur. Bintang pengguna: Antonio Carbrini, Billy Hamilton, Lee Sharpe, Martin O’Neill, Paolo Rossi, Radomir Antic, Roberto Bettega. Stylo-Matchmakers Bagi para pecinta sepakbola saat ini, sepatu bola buatan Inggris ini mungkin hanya bisa dibayangkan. Hingga paruh pertama 1960-an, pengguna sepatu ini masih terbatas di Inggris dan beberapa negara Eropa saja. Popularitas Stylo-Matchmakers baru meroket pada 1960-an setelah bintang Manchester United asal Irlandia Utara George Best menggunakannya. Selain mengontrak ekslusif Best, produsen Stylo-Matchmaker menggenjot penjualan dengan promosi dan mengeluarkan produk baru. “Georgie Best erat bekerjasama dengan produsen, Stylo Matchmakers International Ltd. untuk mengembangkan sebuah sepatu (Stylo-Matchmakers baru – red .),” tulis Rubber Journal Vol. 152. Namun, pada awal 1980-an sepatu ini sudah jarang terlihat. Seperti terkena gempa dahsyat, sepatu-sepatu Stylo-Matchmakers akhirnya tak lagi terlihat di lapangan. Jangankan bintang, pemain-pemain biasa pun tak ada lagi yang memakainya. Gemerlap sepakbola Inggris –dan dunia– yang makin terang pada akhir 1980-an tak lagi diikuti Stylo Matchmakers. Bintang pengguna: George Best, Zico (sebelum Le Coq Sportif) Valsport Valsport juga merupakan satu dari sedikit sepatu bola awal, berdiri pada 1920, yang bertahan hingga beberapa dekade. Dari semula terbatas digunakan pesepakbola Italia saja, seperti Fabio Capello (kemudian menjadi pelatih top), Valsport terus bertahan dan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Valsport menangguk untung dari kedigdayaan Liga Italia. Saat “Dream Team” AC Milan merajai sepakbola Eropa, setidaknya empat pemain inti klub itu merupakan pengguna –dengan kontrak ekslusif– sepatu Valsport. Meraka adalah Mauro Tasotti, Alessandro Costacurta, Daniel Massaro, dan Gianluigi Lentini. Namun, paruh kedua 1990-an mulai membawa pergeseran pada sepatu Valsport. Ia mulai jarang terlihat kecuali di Liga Italia. Meski Stefano Fiore masih mengenakannya pada awal 2000, pemain-pemain lain hampir tak ada lagi yang mengenakan sepatu Valsport. Dan kini? Silahkan Anda cari tahu sendiri. Bintang pengguna: Alberigo Evani, Alessandro Costacurta, Daniel Massaro, Fabio Capello, Gianluigi Lentini, Julio Cesar, Mauro Tasotti, Michel Padovano, Stefano Fiore.
- Universitas Leiden Resmikan Koleksi Asia Terbesar di Dunia
UNIVERSITAS Leiden sejak lama terkenal sebagai salah satu pusat kajian Asia dengan koleksi pustaka terlengkap di dunia. Kajian Indonesia (Indologi) di Univeritas Leiden bahkan telah dimulai sejak dua dekade awal abad ke-19 sebagai bagian dari dominasi kolonial atas Indonesia (dulu Hindia Belanda). Calon-calon pegawai yang akan dikirim bertugas ke Hindia Belanda terlebih dahulu mendapatkan pendidikan di jurusan Indologi Universitas Leiden untuk memahami kehidupan masyarakat jajahan. Pelajaran yang mereka terima meliputi sejarah dan kebudayaan sampai dengan penguasaan bahasa. Sebagai bagian dari upaya itu dan pula pengembangan ilmu pengetahuan, para Indolog (ahli kajian Indonesia) telah memiliki tradisi mengumpulkan berbagai ragam kepustakaan dari negeri-negeri koloni Belanda. Hari ini, Kamis, 14 September pukul 10:00 pagi waktu Belanda, Ratu Maxima, permaisuri Raja Willem membuka secara resmi pusat koleksi pustaka Asia di gedung Pieterskerk, kota Leiden. Rektor Universitas Leiden Prof. Dr Carel Stolker dalam sambutan persnya mengatakan pusat koleksi Asia di perpustakaan universitasnya itu merupakan hasil kerjasama berbagai lembaga yang juga menyimpan koleksi kepustakaan Asia. “Selama tiga tahun terakhir Perpustakaan Universitas Leiden mengambil alih tanggungjawab mengumpulkan berbagai koleksi Asia Universitas Leiden dan dari lembaga lainnya untuk berada di bawah satu atap,” kata dia. Rangkaian acara pembukaan, selain dihadiri oleh Ratu Maxima, juga akan dibuka dengan pidato kunci sejarawan Univeritas Oxford Prof. Peter Frankopan. Penulis buku The Silk Roads: A New History of the World itu menyampaikan materi bertema Asia dan riwayat pembentukan dunia modern. Selain Frankopan, puluhan akademisi ahli Asia lainnya akan tampil di berbagai forum yang diselenggarakan dalam rangka pembukaan ini. Selama seharian Universitas Leiden dipenuhi kegiatan diskusi, pameran, tur perpustakaan, serta pemutaran film bertema Asia. Pada bagian koleksi Indonesia, Marije Plomp dan Dick van der Meij akan mempresentasikan materi mengenai manuskrip-manuskrip bersejarah yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Berbagai manuskrip yang tersimpan di sini dikumpulkan oleh para Indolog yang datang ke Hindia Belanda dan ini menjadi alasan kenapa sejak ratusan lalu Leiden menjadi tujuan penting bagi mereka yang ingin mempelajari Indonesia di negeri bekas penjajahnya itu.
- Ketika Soeharto Melihat Atlet Tak Bersepatu
KENDATI gagal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tadinya direncanakan akan menggowes sepeda pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 2017 di Kota Magelang, Jawa Tengah. Rute yang akan dilalui: dari Lapangan Secaba hingga Stadion Moch Soebroto.
- Burma dan Kemerdekaan Indonesia
KRISIS kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar menuai protes dan kecaman dari berbagai pihak. Massa berdemonstrasi di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta sampai membakar bendera Myanmar. Muncul juga desakan menarik duta besar Indonesia dari Myanmar, bahkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Myanmar. “Masalah yang terjadi di Myanmar bukan masalah bilateral antara Indonesia dan Myanmar. Selama ini hubungan antarnegara baik-baik saja dan tidak pernah ada benturan apapun. Oleh karenanya memanggil pulang Dubes Indonesia di Myanmar bukan suatu tindakan tepat,” kata Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Persahabatan Indonesia dan Myanmar (dulu Burma, Birma) sudah terjalin sejak awal Indonesia merdeka bahkan Burma belum merdeka secara penuh. Pada 30 Oktober 1946, Jenderal Aung San, kepala pemerintahan sementara Burma, mengirim kawat kepada Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Sutan Sjahrir.
- Tentang Mawie, Lili dan Romansa Perang Burma
TIGA generasi berkumpul pada rumah yang terletak di jantung kota Almere itu. Sebagian besar berbahasa Indonesia, sedikit di antaranya terdengar bercakap-cakap dalam berbagai bahasa: Belanda, Cina dan bahkan Rusia. Hari itu, Sabtu 9 September yang lalu, mereka berkumpul memperingati enam bulan wafatnya seorang suami, ayah, kakek juga kawan yang selalu bersama di dalam hari-hari terang maupun kelam hidup berpuluh tahun jauh dari tanah air. Mawie Ananta Jonie, seorang penyair sekaligus wartawan yang dikenang hari itu, berpulang pada 1 Maret yang lalu. Mungkin namanya tak banyak dicatat dalam narasi utama sejarah di Indonesia yang seringkali hanya mengisahkan tokoh-tokoh besar beserta drama kehidupannya. Tapi Mawie punya kisahnya sendiri. Terlahir sebagai anak Minang dua tahun sebelum Jepang datang menduduki Indonesia. Malang melintang sebagai aktivis Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), penyair dan wartawan. Pada 1964 berangkat ke Tiongkok untuk tugas belajar namun prahara politik 1965 mengubah jalan nasib dari benderang menjadi remang. Semenjak itu dia meniti jalan hidup sebagai orang terhalang pulang, mengembara mulai dari negeri Tiongkok, Burma dan sejak 1989 bermukim di Belanda.





















