top of page

Hasil pencarian

9845 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno dan Trauma PRRI

    UNTUK kesekian kalinya sentimen terkait Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat mengorbit lagi. Disebutkan budayawan Minang Edy Utama yang dikutip BBC News Indonesia , Selasa (8/9/2020), luka lama itu menganga setelah Presiden Sukarno memerintahkan pasifikasi militer lewat “Operasi 17 Agustus”. Implikasinya hingga sekarang merembet kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), parpol penguasa pemerintahan saat ini yang dianggap representasi dari Sukarno. Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pengarahan pasangan calon Pilkada, 2 September 2020, masih mempertanyakan mengapa rakyat Sumbar (Sumatera Barat) belum menyukai PDIP. Namun, kerunyaman muncul setelah muncul pernyataan Ketua DPP PDIP yang merangkap Ketua DPR RI Puan Maharani di hari yang sama. “Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila,” kata Puan. Sontak sejumlah nada sumbang dari para aktivis dan politisi Minang menerjang PDIP. Hal tersebut membuat PDIP Sumbar memutuskan urung terjun ke pertarungan pemilihan gubernur (pilgub) Sumbar. Pernyataan Puan jadi bola liar lantaran tak disusul klarifikasi langsung. Ia membangkitkan lagi trauma PRRI yang disebutkan Edy berawal dari operasi militer yang dikerahkan Sukarno. Pernyataan Edy mendorong kita pada pertanyaan, benarkah luka lama PRRI itu gara-gara operasi militer perintah Sukarno? Baca juga: Kemenangan "Tentara Sukarno" di Hari Lebaran Sejarawan cum peneliti senior LIPI Profesor Asvi Warman Adam mempertanyakan fakta yang terkesan memojokkan Sukarno tersebut saat dihubungi Historia . “Saya ingin mempertanyakan kenapa semua kesalahan ditimpakan pada Sukarno? Mereka kan ditangkap itu dengan surat penangkapan dari (Jenderal AH) Nasution. Di sini ada PKI yang membuat (permainan politik) dan ada Angkatan Darat juga. Jadi jangan semua ditimpakan bahwa Hamka ditangkap Sukarno. Ada juga pihak-pihak yang bermain di bawahnya, kekuatan politik lain seperti Angkatan Darat dan PKI,” ujar Asvi . Pernyataan Asvi menunjukkan detail-detail dalam politik nasional era 1950-an tidak banyak diketahui publik saat ini. Akibatnya, opini yang berkembang di masyarakat cenderung “pukul rata” bahwa semua kesalahan ada di pundak Sukarno. “Tapi memang mereka bersikap negatif terhadap Sukarno. Memang PRRI berdampak sampai ketika orang-orang Sumbar tak punya kesempatan memimpin di Sumbar. Menimbulkan trauma bagi orang di Sumbar dan jelas kemarahan terhadap pemerintah pusat diidentikkan dengan Sukarno. Saat kecil, saya juga merasakan hal itu, bahkan dikatakan Jawa dan Sukarno adalah pemerintah pusat yang menghancurkan PRRI,” imbuh Asvi yang kelahiran Bukittinggi 65 tahun lampau itu. Kolonel Ahmad Husein (pojok kiri) dengan para petinggi Dewan Banteng, Desember 1956 (Foto: nationaalarchief.nl ) Senada dengan Asvi, George McTurnan Kahin dalam Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia menyatakan, keputusan mengerahkan kekuatan bersenjata untuk meredam PRRI di bawah Kolonel Achmad Husein sejatinya adalah hasil dari percampuran permainan politik pihak-pihak di sekitar Sukarno. Keputusan memilih opsi penggunaan militer sebagai solusi non-kompromis terhadap PRRI adalah buah dari tekanan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution dan Perdana Menteri (PM) Djuanda Kartawidjaja. “Sukarno berada di bawah tekanan dari beberapa penasihat terdekatnya dan dari para pemimpin PKI untuk tak mengambil jalan kompromi. Baik PM Djuanda dan KSAD Nasution juga meninggalkan cara-cara untuk rekonsiliasi dan mendesak aksi militer terhadap PRRI,” ungkap Kahin. Baca juga: Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI Kesaksian bahwa opsi militer dalam penyelesaian PRRI tidak pernah dikeluarkan Sukarno juga dikatakan pengusaha asal Minang Hasjim Ning. Hasjim, yang merupakan keponakan Bung Hatta sekaligus sahabat Sukarno, dua kali diutus Sukarno ke Padang untuk menemui Ahmad Husein. Namun dua upayanya itu semua gagal. Oleh karena itu, sehari sebelum memulai safari luar negerinya pada Februari 1958, Bung Karno menyempatkan mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian kasus PRRI. Menurut Hasjim, Hatta menyarankan agar penyelesaian PRRI hendaknya tidak dilakukan dengan penggunaan kekerasan dan itu dituruti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang. PM Djuanda, yang dituntut mundur kabinetnya oleh PRRI, mengambil tanggung jawab aksi militer setelah upaya damai pemerintah pusat berbalas proklamasi berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958, sebagai perwujudan ultimatum dalam Piagam Perjuangan untuk Menyelamatkan Negara. Ultimatum berisi: pemerintah pusat didesak dalam lima hari sejak 10 Februari agar PM Djuanda mengembalikan mandat kabinetnya kepada Sukarno dan agar Sukarno membentuk sebuah Zaken Kabinet Nasional yang bersih dari unsur-unsur anti-Tuhan. Ultimatum itu, lanjut Kahin, seolah jadi penolakan menohok bagi upaya-upaya Sukarno mendinginkan persoalan lewat cara persuasif. Dikatakan PM Djuanda kepada Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones, ultimatum itu sebagai penolakan PRRI menjadikan Sukarno pasrah menyetujui langkah represif sebagaimana desakan pihak-pihak di sekitarnya. Baca juga: Pesawat CIA dalam PRRI/Permesta Di sisi lain, manuver PRRI di Sumatera juga dibekingi Amerika Serikat. Oleh KSAD Nasution, fakta tersebut dicap sebagai pemberontakan, bukan sekadar gejolak daerah yang menuntut otonomi lebih luas. “Ada ultimatum, ada pergerakan bersenjata. Bahwa gerakan besenjata itu ada ditambah bantuan asing dari Amerika, itu jelas pemberontakan, tidak bisa dibantah lagi. Di situ juga ada perwira militer, ada Achmad Husein, ada Dahlan Djambek juga dan dibentuk Dewan Banteng. Jadi bahwa ada juga persoalan antara pimpinannya tentara di daerah dengan di pusat,” sambung Asvi. Nasihat Ninik-Mamak Tak Didengar Ultimatum PRRI membuat KSAD mengerahkan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk memadamkan pergolakan tersebut pada 17 April 1958 lewat “Operasi 17 Agustus” yang dikomandani Kolonel Ahmad Yani. Klimaks perang saudara di Sumatera Tengah itu disesalkan banyak tokoh pendiri bangsa asal Minang seperti Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta. Sjahrir sempat mengingatkan Sumitro Djojohadikusumo agar tak keliru mengambil sikap dalam mendukung PRRI. Sementara, Hatta sejak awal menentang opsi pasifikasi secara militer. Hal itu diwanti-wantinya kepada Jenderal Nasution. “Saya tidak setuju, bahwa tentara bisa melancarkan serangan terhadap para pemberontak. Itu adalah langkah yang salah,” kata Hatta, dikutip Dubes Howard Jones dalam bukunya, Indonesia, The Possible Dream. Hatta sendiri dua kali mengirim utusan untuk membujuk Husein agar tidak melanjutkan gerakannya itu. Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Husein adalah keliru. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti dengan penyelesaian politik. Bukan militer,” kata Hatta sebagaimana dikutip Hasjim Ning yang meminta masukan sesaat sebelum berangkat ke Padang diutus Presiden Sukarno menemui Husein. Pasukan Angkatan Perang Repubik Indonesia (APRI) dalam pasifikasi militer terhadap PRRI (Foto: Perpusnas RI) Sebagaimana Hasjim yang dua kali gagal membujuk Husein, dua utusan Hatta –yakni Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil– pun semua gagal. Djalil bahkan sempat ditahan pasukan Husein. Sementara, Bachtar Lubis yang diutus KSAD Nasution justru berbalik mendukung PRRI. Akibatnya, pemerintahan Djuanda-KSAD Nasution memilih opsi militer dalam penyelesaian soal PRRI. “Orang Minangkabau, biasanya sebelum berbuat apa-apa, bertanya kepada ninik - mamak (nenek-ibu). Tetapi apa yang dilakukan Ahmad Husein dan kawan-kawannya? Kata dan nasihat mamak sendiri tidak didengar, tetapi justru mamak Sumitro, mamak Syafruddin (Prawiranegara, PM PRRI), mamak (Kolonel Zulkifli) Lubis dan mamak (Kolonel Maluddin) Simbolon yang didengar. Inilah akibatnya,” kata Hatta menyesali penggunaan aksi militer untuk menumpas PRRI, dalam suratnya kepada Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto, dikutip Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik. Baca juga: Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI Surat Hatta tertanggal 2 Mei 1962 itu turut menggambarkan situasi, stigma, dan trauma yang melekat di masyarakat Minang sebagai imbas berdirinya PRRI dan aksi militer penumpasannya. Selain mengakibatkan penangkapan beberapa tokoh yang dianggap terlibat, penguasa militer di Sumbar mengetatkan aturan militer. Bahkan, ekses dari penumpasan PRRI menimpa orang-orang Minang di perantauan seperti yang dialami Hasjim. “Perang yang berlangsung di tanah kelahiranku menimbulkan banyak ekses yang macam-macam terhadap putra daerah Minangkabau yang menetap di Jakarta. Banyak di antara mereka yang ditahan dan diperiksa karena ada sangkaan bahwa mereka pendukung PRRI. Ada tindakan itu yang mempunyai dasar. Tapi banyak juga karena alasan dendam pribadi. Kejadian-kejadian tersebut menimbulkan juga berbagai persoalan bagiku. Banyak di antara mereka atau keluarga mereka yang datang mengadu kepadaku agar mengupayakan perlindungan. Sebaliknya, aku terkena juga oleh ejekan dan senda gurau yang memerahkan telingaku. Teman-teman yang bersimpati pada PRRI datang membawa ejekan,” kata Hasjim. Walau kemudian aturan-aturan militer itu perlahan hilang, sentimen dan trauma yang dialami orang Minang tidak seketika musnah. Sentimen dan trauma yang mengendap itu, menurut Asvi, kemudian ditimpakan kepada Sukarno dan di masa kini kepada PDIP sebagai representasi Sukarno. Solusi Menurut Asvi, jasa-jasa besar orang Minang terhadap berdirinya republik menjadi sejarah tersendiri yang tak bisa ditawar. Tan Malaka, misalnya, sudah menerbitkan buku tentang republik meski sedang terasing di luar negeri. Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta turut membidani kelahiran republik dan merawatnya ketika masih bayi lewat partisipasinya dalam kabinet dan parlemen. Namun, jalannya sejarah itu kemudian berubah. “Titik baliknya memang sejak 1956 ketika Hatta mundur sebagai wakil presiden dan dua tahun kemudian meletus PRRI. Mereka kemudian lebih banyak di luar pemerintahan, menjadi oposisi. Ketika Prabowo menjadi calon presiden (capres) tahun 2014 dan 2019, trauma PRRI itu dibangkitkan lagi. Prabowo anak Profesor Sumitro, tokoh PRRI. Dua kali orang Minang di Sumbar itu kalah. Kalau terantuk di lubang jangan sampai dua kali,” sambung Asvi. Baca juga: Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Solusinya, kata Asvi, orang Minang mesti terlibat di pemerintahan dan harus melepas stigma dan trauma PRRI itu. “Penting untuk menghilangkan trauma PRRI ketimbang memelihara atau bahkan menghidupkan kembali seperti kasus Prabowo waktu ikut Pilpres dua kali berturut-turut. Saya sendiri melakukan otokritik sebagai orang Minang yang tak berdomisili di Sumbar. Kenapa dua kali kalah dengan menggunakan sentimen PRRI?” paparnya. “Ketika Hatta mundur, praktis orang-orang Minang keluar dari pemerintahan. Mestinya orang Minang masuk kembali, jangan hanya jadi pemilik rumah makan (Padang). Jadi harus ikut kembali di pemerintahan, di partai politik yang besar. Jangan di luar yang bisanya hanya mencemooh,” tandas Asvi.

  • Kontestasi Ideologi dalam Pakaian Perempuan Indonesia

    Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, upaya pencarian identitas kebangsaan menjadi isu penting di banyak sektor. Kaum perempuan juga tak luput dari tugas-tugas “revolusioner” itu. Pakaian menjadi salah satu senjatanya. Sejarawan University of Michigan Charley Sullivan menjelaskan mengenai dinamika perempuan Indonesia dalam berpakaian tersebut dalam dialog sejarah “Pakaian Perempuan Indonesia dari Masa ke Masa” di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa 8 September 2020. Pada masa awal Indonesia berdiri, terang Charley, muncul pertanyaan bagi kaum wanita tentang bagaimana menjadi modern tetapi tetap menjadi bangsa Indonesia yang “timur”. Dari pertanyaan itu, mode kemudian membentuk sejarahnya sendiri. Charley menyebut, sejarah mode bukan hanya tentang busana dan make up atau bahkan bukan karena pilihan perempuan itu sendiri. Tetapi, terkait pula dengan makna sosial yang lebih umum dan posisi serta tingkat sosial wanita sebagai kaum. “Dan in relationship to the state . In relationship ke negaranya,” jelas Charley. Dalam disertasinya, Years of Dressing Dangerously: Modern Women, National Identity and Moral Crisis in Sukarno’s Indonesia, 1945-1966 , Charley menyebut bahwa majalah-majalah perempuan saat itu memiliki peranan penting dalam hal ini. Wacana mengenai pakaian apa yang pantas serta mewakili citra Indonesia menjadi diskusi terbuka di media-media tersebut. Diskusi tersebut misalnya, penggunaan kain batik pada era Sukarno terus dikonstruksi media sebagai simbol modernitas, kebanggaan kulturil dan sumber berkembangnya ekonomi nasional. Batik dan kemudian kebaya selain dianggap modern juga menjadi negasi dari gaya busana Barat. Charley menyebut, saat itu perempuan memiliki tugas berat yang beriringan dengan politik anti-kolonialisme dan imperialisme Sukarno serta era konfrontasi yang memuncak di tahun 1960-an. Pakaian perempuan menjadi salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat, khususnya Amerika Serikat. “Dalam hal-hal mode pakaian, kecantikan ini, (perempuan) sudah punya duty . Satu pekerjaan yang sangat keras dan yang sangat sulit pada kaum wanita,” kata Charley. Tetapi memasuki era Orde Baru, makna-makna itu berubah. Cara berpakaian tidak lagi terkait dengan hal-hal revolusioner. Rezim Soeharto cenderung mengembalikan peran perempuan ke ranah domestik. Gaya berpakaian kemudian diatur dalam kerangka stabilitas negara. Aktivis gerakan perempuan Tunggal Pawestri menyebut bahwa Orde Baru, meski berbeda visi, juga menjadikan tubuh perempuan sebagai arena pertarungan ideologi. Contohnya adalah pelarangan penggunaan jilbab di Indonesia. “ Ada pelarangan jilbab dengan alasan katanya membatasi pengaruh fundamentalisme Islam dan gelombang arabisasi. Dan juga ada stereotype negatif yang dibangun bahwa, dan ini jelas klaim Barat juga, penggunaan jilbab itu sebagai salah satu ciri dari ekstremisme,” jelas Tunggal. Meski cukup berhasil, sambungnya, pelarangan itu juga memunculkan perlawanan. Di era 1980-an, menggunakan jilbab merupakan satu bentuk perlawanan terhadap Orde Baru. Senada dengan Tunggal, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Neng Dara Affiah menyebut bahwa tiap ada pelarangan, muncul pula perlawanan. Pada masa Orde Baru, memakai jilbab adalah protes terhadap narasi tunggal tentang identitas kebangsaan. Namun hal ini berbalik pasca-reformasi ketika pemakai jilbab mendominasi. “Pemakaian kebaya sekarang ini justru protes dan pengimbangan terhadap dominasi orang-orang yang memakai jilbab,” kata Neng. Zaman dulu dapat dilihat dengan jelas bagaimana orang berpakaian menunjukkan identitasnya. Misal, dari kalangan santri memakai jilbab, sedangkan di luar santri ada yang tidak berjilbab dan ada yang berkerudung terbuka. Namun, sambung Neng Dara, hal itu kini berubah. Jilbab tidak lagi hanya menunjukkan identitas keagamaan. Jilbab juga telah dipakai untuk kepentingan politik praktis. “Bahkan pola masyarakat yang tadinya dijuluki abangan, priyayi dan santri, sekarang itu sudah sumir sekali perbedaannya,” jelas Neng Dara. Neng Dara menyebut bahwa perubahan cara berpakaian di dalam masyarakat dari satu generasi ke generasi selalu berubah-ubah. Perubahan itu berkaitan dengan banyak hal, baik perubahan sosial di masyarakat itu sendiri maupun perubahan politik tingkat nasional maupun global. “Ada dinamika sosial yang tidak stagnan. Dia berubah-ubah, tentang pakaian dan identitas atau makna di saat kaum perempuan berpakaian itu. Makna dalam kaitan identitas keberagamaan, makna dalam identitas kebangsaan atau jati diri bangsa,” katanya. Dinamika tersebut, menurut Tunggal, kemudian menjadi faktor munculnya permasalahan baru di masa kini. Dari tahun ke tahun semakin banyak peraturan daerah (perda) yang diskrimintaif terkait pakaian perempuan. Hingga 2012, ada 342 perda diskriminatif dan 72 di antaranya mengatur pakaian perempuan. Angka terus naik di tahun 2019 menjadi 421 perda diskrimintaif, termasuk di dalamnya peraturan tentang cara berpakaian perempuan. Perda-perda tersebut selain mengatur cara berpakaian juga mengatur hal-hal terkait aktivitas perempuan. Semua peraturan tersebut dibuat berbasis interpretasi tunggal ajaran agama. “Hal menarik juga belakangan selain ada state yang mencoba mengatur cara berpakaian perempuan, tapi juga ada kelompok-kelompok lain yang mencoba melakukan pengaturan cara berpakaian perempuan,” jelas Tunggal.

  • Kolonel Jepang di Medan Area

    Aceh, pertengahan 1946. Kota Lhok Nga dibekap sunyi. Tak ada sama sekali bulan atau bintang hadir di langit malam itu. Dari arah pemukiman penduduk, beberapa bayangan manusia mengendap-endap. Mereka tak lain para gerilyawan Indonesia pimpinan Pawang Leman, Alamsyah dan seorang pembelot Jepang bernama Kolonel Kuroiwa. Tim kecil pejuang Aceh itu tengah mengadakan operasi kontra sabotase yang akan dilakukan tentara Jepang. Dari informasi yang didapatkan dari Kuroiwa dikabarkan bahwa sebelum meninggalkan markas besar mereka di Lhok Nga, tentara Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu dan akan dikembalikan ke tanah airnya itu, akan meledakkan ribuan bom. “Bom-bom yang sengaja ditimbun oleh para tentara Jepang itu akan diledakkan melalui suatu knop yang dikendalikan oleh aliran listrik,” ungkap jurnalis senior Medan, Muhammad TWH. Aliran listrik dialirkan melalui perantara kabel panjang dan tersembunyi. Begitu semua tentara Jepang sudah menaiki kapal laut di pelabuhan, maka knop akan langsung ditekan dan meledaklah sebagian Lhok Nga. Begitulah kira-kira rencana jahat yang terbetik di kepala para tentara Jepang tersebut. Namun karena jasa Kuroiwa, rencana jahat itu pada akhirnya gagal total. Dengan dibimbing oleh Kuroiwa sendiri, gerilyawan Aceh berhasil memutus kawat utama yang menghubungkan knop dengan bom-bom itu. Bisa dibayangkan jika bom-bom itu berhasil diledakan, bukan hanya para gerilyawan namun juga penduduk sipil yang tak tahu apa-apa akan menjadi korban. “Orang-orang Lhok Nga sudah semestinya berterimakasih kepada Kolonel Kuroiwa,” ujar Muhammad TWH kepada saya. Kuroiwa lantas menjadi salah satu pemimpin gerilya yang sangat disegani di Aceh. Bekas perwira intelijen sekaligus artileri militer Jepang itu kemudian masuk Islam dan merubah namanya menjadi Mohammad Ali. Begitu kuat karisma kepemimpinan Kuroiwa hingga orang-orang Aceh menjulukinya sebagai “Geuchik Ali” yang artinya Lurah Ali. Menurut TWH yang pernah mewawancarai Kuroiwa, sebagai perwira intel, lelaki Jepang itu sangat mafhum betapa kuatnya tekad orang-orang Indonesia untuk merdeka. Secara pribadi dia juga menyesalkan Jepang yang gagal menunaikan janji memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. “Karena itu setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, dia tidak ragu-ragu memberikan segala-galanya untuk bangsa Indonesia,” ungkap TWH dalam bukunya Sumatera Utara Bergolak. Kuroiwa kemudian terlibat aktif dalam pengaturan pertahanan pejuang Indonesia terutama di wilayah-wilayah pantai Aceh. Bahkan saat ditugaskan ke palagan Sumatera Utara, dia tersohor sebagai pembimbing unit artileri paling tangguh yakni Pasukan Meriam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) pimpinan Letnan Dua Nukum Sanany. Di Sumatera Utara, Pasukan Meriam RIMA ditempatkan di front Medan Barat, tepatnya di Kampung Lalang. Menurut TWH, militer Belanda sendiri mengakui bahwa pertahanan pasukan di Kampung Lalang itu sangat kuat dan sulit ditaklukan. Itulah sebabnya pasukan Belanda yang hendak bergerak ke barat untuk masuk ke wilayah Aceh selalu gagal. Sebagai pelaksana lapangan, Kuroiwa kerap mengandalkan dua eks anggota pasukan artileri Jepang yakni Letnan Dua O. Higuchi alias Rusli dan Sersan Mayor Sawada alias Muhammad Sawada. Merekalah yang memimpin Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan pasukan Belanda di kota Medan. Ada suatu kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Kuroiwa jika usai membimbing Pasukan Meriam RIMA menghajar kedudukan militer Belanda. Dengan cara menyamar, dia akan masuk ke kota Medan dan pergi ke titik-titik yang menjadi sasaran unit artilerinya. “Sekadar untuk memastikan peluru-peluru yang ditembakan anak buahnya jatuh ke sasaran yang betul atau tidak. Selain itu dia pun melakukan hal tersebut juga untuk memata-matai secara langsung situasi pertahanan Belanda di Medan,” ujar TWH. Namun ada sisi gelap Kuroiwa yang mungkin tak diketahui oleh TWH. Itu disebutkan oleh sejarawan Jepang Aiko Kurasawa. Menurut Aiko, sejatinya Kuroiwa adalah anggota Polisi Istimewa Jepang (bukan anggota pasukan artileri dan intelijen) yang dikenal bengis dan kejam. Sewaktu kekuasaan Jepang sedang kuat-kuatnya, banyak penduduk Aceh yang dibunuh atas perintah Kuroiwa. “Meskipun ada banyak tindakannya yang sadis pada zaman Jepang, penduduk (Aceh) sudah tidak mempermasalahkan hal itu kemudian,” demikian laporan seorang penyidik pusat bernama Kapten Machmud yang dinukil oleh Kurasawa dalam bukunya, Sisi Gelap Perang Asia . Kuroiwa sendiri kemudian mengidap penyakit TBC yang sangat parah. Dia kemudian dipindahtugaskan ke suatu pabrik senjata milik Republik di Aceh. Tahun 1953, pemerintah Jepang memanggilnya pulang dan dia mematuhi panggilan itu. Ema, istri Kuroiwa yang warga Indonesia menolak untuk ikut hijrah ke Jepang. Dia lebih memilih untuk membesarkan anak-anaknya di Indonesia.

  • Kisah Jenderal Soemitro vs Kolonel Muammar Khadafi

    SEKALI waktu pada tahun 1973, Jenderal Soemitro menerima panggilan dari Presiden Soeharto. Rupanya, Mitro diminta  untuk mendampingi  Menteri Luar Negeri Adam Malik ke Aljazair dalam Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok di Aljazair. Sebagai panglima Kopkamtib yang bertanggung jawab atas keamanan di dalam negeri, Mitro merasa aneh dengan penugasan ke luar negeri. “Mengapa Pak Harto tidak berangkat sendiri memimpin delegasi ini?” kata Mitro seperti dicatat Heru Cahyono dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974. Menurut Mitro, “mungkin dari segi security  dianggap belum aman bila Presiden meninggalkan Indonesia.” Maka mau tidak mau jadilah Mitro terbang ke Aljazair. Konferensi diselenggarakan dari tanggal 5 sampai 9 September 1973. Mitro berkedudukan sebagai wakil ketua delegasi Indonesia. Sepeninggal dirinya, Mitro melimpahkan kepemimpinan Kopkamtib kepada wakilnya yakni Laksamana Soedomo.    Di Aljazair, Mitro mendapat pengalaman tidak terlupakan berurusan dengan pemimpin Libya, Kolonel Muammar Ali Khadafi. Saat itu, Khadafi baru berkuasa di Libya setelah melengserkan pemerintahan Raja Idris lewat kudeta. Dengan revolusi yang dijalankannya, Khadafi disebut-sebut pula sebagai pemimpin negara Islam di Afrika. Ketika konferensi berlangsung, Khadafi hadir lewat korespondensi jarak jauh. Pada saat itulah, Khadafi tetiba bertanya kepada delegasi Indonesia. Suatu pertanyaan yang bagi Mitro  sangat menyakitkan dan tidak akan pernah terlupakan. “Apa benar di Indonesia ada sekitar dua ratus ribu orang Islam dipaksa menjadi Kristen?” demikian Khadafi bertanya dalam courtesy call  kepada delegasi Indonesia. Sontak saja delegasi Indonesia terkejut mendengarnya. Mitro sendiri memendam dongkol dalam hati. “Anak kemarin sore, kurang ajar begini,” pikir Mitro. Adam Malik yang mendegar ucapan Khadafi langsung melirik ke arah Mitro. Dia berharap Mitro yang akan menjawab. “Anak masih muda begini, politikus kemarin sore, sudah kurang ajar mencampuri urusan dalam negeri orang lain,” Mitro membatin. Dalam emosi yang terkendali, Mitro bertanya dari mana Khadafi menerima informasi itu. Mitro menyampaikannya dalam bahasa Indonesia sebab ada penerjemah. Namun Khadafi tidak bersedia menjawab. Untuk mengklarifikasi berita yang diterima Khadafi, Mitro memberikan penjelasan. Katanya, Indonesia bukanlah negara Islam. Rakyat Indonesia terdiri dari berbagai pemeluk agama. Walaupun mayoritas beragama Islam tetapi di daerah tertentu seperti Batak Tapanuli, Manado, dan Maluku kebanyakan masyarakatnya beragama Kristen. “Bagaimana Tuan Khadafi menyalahkan seorang bayi yang lahir di lingkungan Kristen, sehingga otomatis ia menjadi Kristen? Dia tidak bisa dan tidak boleh dipaksa menjadi Islam. Itu bukan pula berarti Kristenisasi,” ujar Mitro. Lagi, Soemitro menyarankan agar Khadafi datang langsung ke Indonesia untuk melihat sendiri dari dekat, bukan hanya melihat dari jarak jauh. Khadafi meresponnya dengan bungkam. Di akhir penjelesannya, Mitro mengatakan, “Ini urusan dalam negeri kami, Tuan tidak usah campur tangan.” Penyataan ketus itu terucap lantaran Mitro kepalang tersinggung dengan Khadafi. Setelah konferensi berakhir, delegasi Indonesia kembali ke wisma. Pada malam hari, penerjemah Khadafi mendatangi Mitro untuk minta maaf. Dari penerjemah itu, Mitro kemudian mengetahui informasi yang diterima Khadafi berasal dari Indonesia sendiri. “Dari mana?” tanya Mitro. “Dari Opsus,” jawab si penerjemah tanpa ragu. Opsus sendiri merupakan lembaga intelijen tidak resmi pimpinan Mayjen Ali Moertopo yang kerap menggelar operasi khusus. Dalam benaknya, Mitro bergumam, “Mana mungkin Opsus berbuat setolol itu.” Tidak lama kemudian, Mitro mengundurkan diri karena peristiwa kerusahan Malapetaka 15 Januari 1974. Sementara itu, kebenaran kabar burung yang dilontarkan Khadafi itu belum sempat dikonfirmasi Mitro kepada Ali Moertopo. Sudah menjadi rahasia umum kala itu jika kedua jenderal tersebut mememiliki rivalitas yang kuat. Mitro wafat pada 1998, dan dikenal sebagai jenderal berpengaruh di masa awal Orde Baru. Khadafi sendiri baru lengser pada 2011 setelah gelombang revolusi “Arab Spring” menumbangkan diktator di suatu negara yang terletak di Afrika tersebut. Peristiwa itu pula yang mengakhiri hidup Khadafi di tangan rakyatnya sendiri.*

  • Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika

    SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Di hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu. Schmeling dag-dig-dug. Ia sengaja berperjalanan hampir tujuh ribu kilometer dari Hamburg hanya untuk bisa bertemu sang tuan rumah. “Tak lama kemudian saat pintu terbuka muncullah sosok bertubuh besar yang biasa dijuluki ‘Brown Bomber’. Dialah Joe Louis. Posturnya lebih gemuk dan rambutnya tak selebat dulu, seingat sang tamu,” ungkap Patrick Myler dalam Ring of Hate: Joe Louis vs Max Schmeling. Pertemuan Maximilian Adolph Otto Siegfried Schmeling (kiri) & Joseph 'Joe' Louis Barrow saat reuni pada 1954 (Foto: Library of Congress) Louis terkejut melihat Schmeling duduk di ruang tamu rumahnya dan kemudian berdiri. Namun, sekejap kemudian dua musuh lama itu saling mengumbar senyum tulus. Louis sontak menjatuhkan tas golfnya lalu mendekat untuk memeluk erat Schmeling. “Max, betapa senangnya bisa bertemu Anda lagi,” cetus Louis yang yang terakhir kali bertemu Schmeling 16 tahun sebelumnya. Bedanya, pertemuan ketiga di antara dua petinju legendaris itu tak terjadi di atas ring dan tidak dengan suasana penuh kebencian untuk saling “membunuh” gegara dikompori isu politik. Representasi Paman Sam vs Swastika Sebagaimana Muhammad Ali-Joe Frazier, Mike Tyson-Evander Holyfield, atau Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr., rivalitas antara Joe Louis dan Max Schmeling adalah cerita perseteruan terbesar di atas ring tinju. Faktor penyebabnya  adalah isu politik antara Jerman Nazi dan Amerika sebagai tanah kebebasan pada 1930-an. Rivalitas bermula dari petualangan Schmeling pada 1928 untuk merintis reputasi di Amerika, kiblat tinju profesional. Pesatnya prestasi Schmeling membuahkan sabuk gelar dunia pertama kelas berat versi NBA (kini WBA) dua tahun berselang. Namun,  pada 1932 ia kehilangan gelar itu usai dikalahkan Jack Sharkey. Pertemuan perdananya dengan Louis tak lepas dari ambisi Schmeling merebut gelar lagi yang pada 1936 tengah dipegang James Braddock. Untuk jadi penantang utama Braddock, Schmeling mesti lebih dulu berhadapan dengan Louis yang juga membidik gelarnya. “Pertarungan keduanya mengimplikasikan masa depan terkait relasi ras dan prestis dua negara kuat. Setiap petarung menanggung beban lebih daripada atlet lainnya di pundaknya,” tulis David Margolick dalam Beyond Glory: Joe Louis vs Max Schmeling, and a World on the Brink. “Louis merepresentasikan demokrasi dalam bentuk paling murni: bocah Negro yang meretas jalan menuju juara dunia dengan mengesampingkan ras atau warna kulit. Schmeling merepresentasikan sebuah negara yang tak mengakui gagasan dan idealisme itu,” tambahnya. Satu dari sekian ilustrasi promosi duel Louis vs Schmeling di suratkabar New York Evening Journal edisi 15 Juli 1935 Pertarungan itu lalu diwujudkan oleh Joe Jacobs, manajer Schmeling asal Hungaria yang berdarah Yahudi. Kesepakatannya dicapai pada 1935 dan laga dijadwalkan pada 19 Juni 1936 di Yankee Stadium, New York. Louis yang tengah berada di puncak kariernya, mengumbar kepercayaan diri mengingat statistik Schmeling yang sudah punya catatan tujuh kali kalahsepanjang karier profesionalnya. “Saya rasa dia tak terlalu tangguh. Dari foto-fotonya tampak dia bisa memukul dengan kedua tangannya tapi saya pikir meski ia bisa melayangkan pukulan, setidaknya takkan terlalu menyakiti saya,” tutur Louis, dikutip David L. Hudson Jr. dalam Boxing in America: An Autopsy. Dalam persiapannya di kamp milik Madame Bey di Lakewood, New Jersey, Schmeling tak hanya menggenjot fisik tapi juga mempelajari setiap gerakan Louis dari sejumlah rekaman film laga-laga Louis. Schmeling berupaya mencari celah dan kelemahan yang jarang dicermati lawan-lawan Louis sebelumnya. “Setiap kali setelah Joe melepaskan hook kiri pendeknya yang berbahaya, seringkali itu juga dia menurunkan tangan kirinya. Hal itu hampir luput dari pengamatan kecuali jika dipelajari dengan pengamatan yang sistematik. Kebiasaan ini berarti untuk sepersekian detik, sisi kiri wajah Louis akan terbuka untuk pukulan tangan kanan,” kata Schmeling dalam Max Schmeling: An Autobiography. Butuh 12 ronde bagi Max Schmeling menganvaskan Joe Louis pada duel jilid I pada 1936 (Foto: max-schmeling-stiftung.de ) Sementara, Louis yang over-‘pede’ justru tak berlatih sekeras Schmeling. Dalam Joe Louis: The Life of a Heavyweight, Lew Freedman menyebutkan Louis malah lebih sering main golf yang jadi hobi barunya ketimbang menguras keringat dengan pelatih Jack Blackburn di kamp latihannya. “Louis terlena dengan puja-puji yang dituliskan di koran-koran, bahwa dia petinju yang tak terkalahkan, seorang Superman-nya ring tinju. Untuk pertamakali dalam kariernya Louis tak mendengarkan pelatihnya. Tak banyak berdoa seperti sebelumnya. Kamp latihannya malah seperti kamp musim panas,” tulis Freedman. Dua Pukulan KO Hari-H duel Schmeling-Louis, 19 Juni 1936, di Yankee Stadium. Tiket terjual habis untuk 40 ribu penonton. Pertarungan 12 ronde yang dipimpin wasit Arthur Donovan itu mulanya berjalan monoton. Schmeling melancarkan taktik counter-attack dan berusaha sabar menanti kans-kans di celah pergerakan Louis untuk melepaskan serangkaian jab yang diselingi pukulan cross ke dagu Louis. Ronde demi ronde, taktik Schmeling membuahkan luka di salah satu mata Louis. Di ronde ke-12, Louis mulai jadi bulan-bulanan Schmeling. Nafsu Louis untuk membalas kemudian justru menguras energinya. Walau stamina keduanya sudah menurun, Schmeling melihat satu kesempatan untuk menghabisi rivalnya. “Ketika Louis tengah mencoba melepaskan hook kirinya, Schmeling melontarkan pukulan ke sisi kanan tubuh Louis dan disusul pukulan kanan lagi ke rahang Louis. Louis terlempar ke tali ring tinju, Schmeling melepaskan pukulan lagi bertubi-tubi hingga Louis tersungkur ke kanvas,” lanjut Freedman. Hitungan ke-10 wasit Donovan di menit kedua lebih 29 detik pada ronde ke-12 menandai berakhirnya duel sengit tersebut dengan kemenangan KO Schmeling. Publik Jerman bereuforia. Schmeling pulang sebagai pahlawan. Sementara imbas kekalahan Louis meninggalkan kepedihan hebat di seantero Amerika yang memperparah situasi depresi ekonominya. “Kekalahannya (Louis) menjadi duka nasional. Di jalan-jalan saya melihat pria-pria dewasa menangis seperti anak-anak, para wanita terduduk di trotoar dengan menundukkan kepala. Di seluruh negeri di malam ketika Joe kalah KO, semua menangis,” kenang aktivis Afro-Amerika Langston Hughes yang menonton langsung duel itu dalam otobiografinya, The Collected Works of Langston Hughes. Bagi Schmeling, kemenangan itu mestinya jadi penentu bahwa dia berhak jadi penantang utama gelar melawan Braddock. Namun lantaran Schmeling diperalat Adolf Hitler sebagai simbol supremasi ras Arya Jerman Nazi, New York State Athletic Commission berpikir ulang untuk memberi lampu hijau duel Schmeling kontra Braddock di Amerika. Yankee Stadium yang berkapasitas 70 ribu penonton, venue duel Louis vs Schmeling pada 1936 dan 1938 (Foto: Repro "War in the Ring") Kalkulasi ekonomis juga jadi faktor yang jadi pertimbangan. Kian gencarnya anti-semitisme di Jerman terhadap Yahudi, duel Braddock-Schmeling bakal dihadapkan pada boikot lantaran sekira 75 persen penonton setia tinju di New York adalah orang Yahudi. Schmeling yang marah berupaya dengan segala cara untuk bernegosiasi agar Braddock mau bertarung di Jerman. “Promotor Walter Rothenburg juga menawarkan Braddock dan (manajer Joe) Gould uang pertarungan USD350 ribu di rekening bank non-Jerman, hak siar film dan radio, hak memilih wasit dan juri-juri Amerika. Namun Gould melunjak dan meminta bayaran lebih dan kebijakan yang lebih setara untuk orang-orang Yahudi di Jerman,” ungkap Randy Roberts dalam Joe Louis. Tuntutan balik manajer Braddock itu jelas ditolak promotor yang merupakan kolega dekat Menteri Propaganda Nazi Joseph Goebbels. Akhirnya, Schmeling gagal berebut gelar dan Louislah yang akhirnya mendapat kans merebut gelar dari Braddock. Langkah Schmeling di jalur hukum juga tak membuahkan hasil. “Setelah kegagalan (melawan) Braddock, sudah jelas bagi saya. Seorang juara dunia Jerman di tahun 1931 mungkin masih bisa ditoleransi, namun juara dunia dari Jermannya Hitler tak bisa diterima oleh siapapun,” tutur Schmeling yang murka. Max Schmeling sempat protes lantaran tak mendapat haknya menjadi penantang gelar (Foto: ushmm.org ) Louis sukses menganvaskan Braddock di ronde kedelapan dalam duelnya pada 22 Juni 1937. Meski sudah melingkarkan sabuk gelar kelas berat NBA di pinggangnya, Louis mengaku belum bisa berpuas diri. Dia masih menyimpan dendam terhadap Schmeling. “Saya tak ingin siapapun menyebut saya seorang juara sampai saya bisa mengalahkan Schmeling,” kata Louis dikutip Hudson Jr. Baru setelah dua kali meladeni dua pertarungan wajib mempertahankan gelar, Louis bisa berkesempatan satu ring lagi dengan Schmeling. Pertarungan yang oleh sejumlah media disebut sebagai “Pertarungan Abad Ini” itu dijadwalkan dihelat 22 Juni 1938 di Yankee Stadium. Duel jelang Perang Dunia II itu sudah sarat politik. Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt sampai mengunjungi kamp latihan Louis. “Joe, kami semua mengandalkan otot-otot Anda demi Amerika,” kata Roosevelt. Dukungan Roosevelt membuat Louis paham bahwa duel itu takkan sekadar jadi duel tinju. “Seluruh negeri ini bergantung pada saya. Saya tak hanya bertarung demi dendam yang menodai rekor saya, namun juga demi Amerika terhadap penyerbu asing, Max Schmeling. Duel ini tak sekadar antara Joe Louis melawan Max Schmeling; duel ini adalah pertarungan USA melawan Jerman,” tutur Louis. Jika di duel pertama dimenangi Schmeling, pada pertarungan keduanya di 1938 dimenangi Louis dengan KO di ronde pertama (Foto: wbaboxing.com/loc.gov ) Schmeling juga insyaf bahwa kali ini teror publik di Yankee Stadium bakal lebih intimidatif terhadapnya. Maka Schmeling menyiapkan mentalnya lebih keras. Begitu hari-H, saat Schmeling masuk dari lorong ke ring, ia dilempari sampah dari tribun-tribun penonton. Mimpi buruk Schmeling dilengkapi dengan kekalahannya ketika ronde pertama baru bergulir dua menit empat detik. Louis sejak detik pertama yang terus menekan dan mencecar, mendapati salah satu pukulannya dengan telak mengenai ginjal Schmeling. Sontak Schmeling kolaps dan tak mampu bangkit lagi. Kemenangan KO tercepat di masa itu tersebut sekaligus jadi penebusan Louis. Setahun berselang, Perang Dunia II pecah. Louis mengajukan diri jadi sukarelawan di Angkatan Darat Amerika, sedangkan Schmeling masuk wajib militer jadi pasukan payung di Angkatan Udara Jerman Nazi sebagai ganti penolakannya masuk anggota Partai Nazi. Merenungi masa lalunya yang dibayang-bayangi panji swastika, Schmeling mengakui dia bersyukur kalah dari Louis. “Bayangkan jika saya kembali ke Jerman dengan kemenangan. Saya tak punya hubungan apapun dengan Nazi, tetapi mereka akan memberi saya medali. Setelah perang mungkin saya akan dianggap sebagai penjahat perang,” kenang Schmeling. Di Perang Dunia II, Louis mengabdi di AD Amerika & Schmeling di pasukan payung AU Jerman (Foto: National Archives/Bundesarchiv) Sejak saat itu mereka tak pernah lagi bersua hingga pada 1954 ketika Schmeling memberanikan diri mengunjungi kediaman Louis di Chicago. Setelah saling berpelukan, Schmeling dan Louis pun larut dalam perbincangan cair dan hangat sambil menyeruput kopi dan berlanjut makan malam bersama di sebuah restoran. “Schmeling ingin mengklarifikasi bahwa sejumlah pernyataan di media-media Jerman menyoal duel pada 1936 dan 1938 bukanlah pernyataan dari mulutnya, melainkan rekayasa propaganda Nazi. Seperti pernyataan ‘Orang kulit hitam akan selalu gentar menghadapi saya. Dia (Louis) petinju inferior,’ atau pernyataan ‘Hitler mengirim Schmeling ke Amerika untuk menghancurkan Louis berkeping-keping’,” sambung Myler. “Louis kemudian merespon untuk menenangkannya. ‘Lupakan semua itu. Sejak lama banyak orang mencoba hal yang sama. Mungkin saat itu saya percaya apa yang dituliskan di media. Namun sekarang saya lebih paham’,” lanjutnya. Seperti janji mereka saat makan malam itu usai, Schmeling dan Louis beberapakali lagi bereuni di luar ring tinju. Persahabatan yang terjalin kian hangat dan erat. Schmeling bahkan acap menyokong Louis kala tertimpa masalah finansial dan kesehatan. Persahabatan itu baru berakhir kala Louis wafat karena serangan jantung pada 12 April 1981, di mana pemakamannya di Arlington National Cemetery dibiayai penuh oleh Schmeling.

  • Dari Vila Buitenzorg ke Istana Bogor

    Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo, iseng membeli pakaian ke akun yang diduga melakukan penipuan. Kaesang memberikan alamat pengiriman ke Istana Kepresidenan Bogor. Warganet pun menanggapinya sehingga Istana Bogor menjadi trending topic . Kaesang meminta maaf sambil beralasan kalau dikirim ke rumah pribadi, tidak ada orang karena tidak ada yang menempati. “Maaf pak saya baru tau kalo saya gak boleh kirim paketan ke Istana Bogor. Lain kali saya marahin ibu saya karena beliau sering kirim kerupuk dari Solo ke Istana Bogor,” cuit Kaesang ( @kaesangp , 7/9/2020). Istana Bogor merupakan salah satu dari enam istana kepresidenan. Sejarahnya bermula ketika Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (menjabat 1743–1750) merasa gerah dengan panasnya Batavia. Ia jalan-jalan ke Bogor dan terpana oleh kawasan sejuk yang mengingatkan pada tempat kelahirannya. “Imhoff lalu menamakan daerah ini Buitenzorg, rangkaian kata buiten  dan zorg  yang artinya ‘keluar (dari zona) peduli’,” tulis Agus Dermawan T., kritikus dan kurator seni rupa, dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden . Sementara itu, sejarawan Saleh Danasasmita (1933–1986) memberikan penjelasan berbeda bahwa Imhoff sebenarnya tidak pernah merencanakan bangunan permanen di tempat itu.Ia merencanakannya di Cipanas. “Bangunan sederhana yang didirikannya pada lokasi Istana Bogor mulanyadimaksudkan untuk singgah beristirahat dalam perjalanan dari benteng Batavia ke Cipanas,” tulis Saleh dalam Sejarah Bogor Bagian 1 . Istana Bogor tahun 1971. (Arsip Nasional Belanda/Wikimedia Commons). Saleh menyebut Imhoff termasuk tipe kaum elite terpelajar Eropa Barat yang cenderung kepada liberalisme Prancis dan menganut romantisme ajaran filsuf Jean Jacques Rousseauyang menganjurkan manusia kembali ke alam. Oleh karena itu, mereka mencari daerah yang sebisa mungkin belum terjamah peradaban. “Mereka mencari tempat-tempat yang sepi dari urusan, mencari persembunyian di mana kesibukan tidak mungkin mengejarnya,” tulis Saleh. Mereka membangun vila sederhana yang mungil dan serasi dengan alam. Tempat-tempat semacam itu dinamakan sanssouci , sebuah kata Prancis yang berarti “tanpa kesibukan” atau “tanpa urusan”.Orang-orang Belanda menerjemahkannya menjadi buitenzorg . “Demikianlah bangunan sederhana yang didirikan Van Imhoff pada lokasi Istana Bogor yang sekarang diberinya nama Buitenzorg menurut mode yang sedang musim di negaranya,” tulis Saleh. Para gubernur jenderal sangat suka dengan Vila Buitenzorg itu sebagai tempat beristirahat darikesibukan, kesesakan, dan kepengapan udara benteng Batavia. Dengan Surat Keputusan Dewan Direksi VOC di Amsterdam tanggal 7 Juni 1745, Imhoff mengusulkan lahan di sekitar Buitenzorg sebagai eigendom dan para gubernur jenderal selanjutnya in officio . “ Dengan demikian tanah Buitenzorg itu dijadikan semacam tanah bengkok yang harus dibeli oleh tiap g ubernur jenderal baru kepada pejabat lama yang diganti,” tulis Saleh. Namun, penjelasan Agus Dermawan menunjukkan bahwa Vila Buitenzorg bukan bangunan sederhana. “Imhoff merancang bangunan di lahan seluas hampir 30 hektar.Sketsa planologi dan bentuk gedung ia buat sendiri. Bangunan yang digarap ditengarai meniru arsitektur Blenheim Palace, Istana Adipati (Duke, red .) Malborough di dekat Oxford, Inggris,” tulis Agus Dermawan. Namun, ada yang mengatakan bahwaImhoff mengadopsi arsitektur Sanssouci di Potsdam, dekat Berlin, Jerman, lantaran ia punya darah Jerman. “Sanssouci adalah nama istana Kaisar Frederick Agung di Jerman. Tentunya, si tuan tanah ingin hidup seperti seorang kaisar,” tulis Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe. Sanssouci, istana musim panas Kaisar Prusia Frederick Agung di Potsdam, Berlin, Jerman, sekitar tahun 1900. (Library of Congress/Wikimedia Commons). Menurut Agus Dermawan, Imhoff tak sempat menikmati hasilnya karena meninggal pada 1750. Proyeknya diteruskan Gubernur Jenderal Jacob Mossel. Gedung cantik itu pun berdiri. Konsep Imhoff yang menstatuskan Vila Buitenzorg sebagai tempat istirahat dipertahankan. Itu sebabnya para gubernur jenderal yang berkuasa di Batavia berturut-turut memakai gedung ini sebagai tempat mengaso. Vila Buitenzorg mengalami perkembangan baik fisik maupun fungsi seiring pergantian gubernur jenderal. Pada 1809, Herman Willem Daendels memperluas dan menjadikannya istana resmi gubernur jenderal.   Agus Dermawan menyebut ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa di Jawa (1811–1816), ia merenovasi sejumlah bangunan. Ia juga mendatangkan enam pasang rusa yang biasa hidup di perbatasan dari Nepal. Rusa-rusa itu beranak pinak jadi sekitar 700 ekor.Bahkan, ia membuka lahan baru berupa hutan buatan yang ditanami ribuan jenis pohon sebagai tempat penelitian botani, selain sebagai paru-paru kota. Hutan ini kemudian disebut Kebun Raya Bogor . Rusa yang bebas berkeliaran di Istana Bogor. (Wikimedia Commons). Renovasi istana itu berikutnya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Van der Capellen pada 1818. Sayangnya, istana itu hancur karena gempa bumi besar pada 1834. “Pada 1850, bekasnya direnovasi dengan gaya arsitektur neoklasik, yang memakai barisan tiang tebal dan fronton segitiga. Bangunan megah yang dikelilingi taman hijau yang luas dan menghadap ke utara ke arah Batavia ini tetap berfungsi sebagai rumah dinas gubernur jenderal Hindia Belanda,” tulis Olivier. Menurut Agus Dermawan ketika Jepang menduduki Indonesia dan Jenderal Imamura berdiam di istana itu, seluruh dinding luarnya dicat cokelat dan hitam agar tak terlihat pesawat musuh. Kolam-kolamnya dikeringkan agar tidak memantulkan cahaya. Tanaman dibiarkan tumbuh liar sebagai kamuflase seperti ladang tak terurus. Hikmahnya, ladang liar itu menyelamatkan rusa-rusa dari kematian. Presiden Sukarno mewarisi istana itu pada 1949. Ia mulai merenovasinya pada 1952. Sambil dibenahi, ia mengisi sudut-sudut ruangan dengan patung-patung keramik. Dinding-dindingnya dihiasi koleksi lukisan-lukisannya yang berkualitas hebat. “Spirit Sukarno ini dipertahankan sampai sekarang,” tulis Agus Dermawan. “Karena itu, mengunjungi Istana Bogor seperti memasuki istana seni dengan dominasi tema perempuan. Sukarno memang meneruskan konsep Imhoff.”

  • Kolonel Djati Nyaris Ditembak Anak Buah "Benny" Moerdani

    Setelah menolak tawaran menjadi wakil KSAD dari KSAD Mayjen AH Nasution, Kolonel Djatikusumo mendapat tugas khusus pada akhir 1957. Tugas tersebut terkait dengan kekisruhan di Sumatera menyusul perampasan jabatan gubernur Sumatera Tengah oleh Kolonel Ahmad Husein dari tangan Ruslan Muljohardjo pada Desember 1956. “Pada waktu itu saya adalah Direktur Zeni AD. Untuk mengatasi Sumatera, maka Nasution (sebagai KSAD, pen.) memerlukan seorang senior. Karena harus mengatasi Jamin Gintings, Simbolon, dan Ahmad Husein. Akhirnya saya dijadikan Koordinator Operasi-operasi militer di Sumatera. Jabatan ini tanpa besluit , karena resminya saya masih menjabat Direktur Zeni,” ujar Djatikusumo kepada Solichin Salam yang menuliskannya dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo, Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Selain mendapat tugas sebagai koordinator operasi militer di Sumatera, Djati juga mendapat tugas khusus lain. “Saya diberi tugas khusus membawa pasukan dari Medan ke Bukittinggi, mendampingi Mayor Raja Syahnan,” sambungnya. Djati pun bertolak ke Sumatera pada 1957 dengan membawa serta beberapa taruna Atekad. Keputusannya untuk memberi pengalaman tempur pada para taruna itu sempat mengundang pertanyaan dari KSAD. KSAD akhirnya memaklumi setelah diberi penjelasan. Di antara taruna Atekad yang ikut serta adalah Try Sutrisno (kelak menjadi wakil presiden). Try amat terkesan dengan model penugasan yang dibuat Djati. “Praktik lapangan yang paling berkesan adalah pelibatan para taruna Atekad dalam tugas operasi Sumatera Barat. Dari situ kami para taruna dapat menerapkan ilmu dan seni kepemimpinan prajurit, maupun merasakan dan menghayati secara langsung dinamika pelaksanaan operasi, dalam situasi dan kondisi yang sebenarnya. Penugasan operasi semasa taruna di dalam periode kepemimpinan Pak Djati merupakan pengalaman langka dan sangat berharga,” kata Try dalam testimoninya, “Pak Jati di Mata Saya”.   Namun kehadiran Djati di Sumatera beriringan dengan makin menguatnya komplotan perwira daerah penentang pusat yang berujung pada pembentukan PRRI (Februari 1958). Maka ketika pasukan yang dipimpin Mayor Boyke Nainggolan menguasai Medan, Djati terpaksa menyingkir ke Pelabuhan Belawan. Keadaan genting itu membuat KSAD mengirim jawaban dengan melancarkan Operasi Tegas, Maret 1958, di bawah pimpinan Letkol Kaharuddin Nasution. Operasi tersebut berintikan tiga kompi, salah satunya Kompi A RPKAD di bawah pimpinan Letda “Benny” Moerdani yang beberapa hari sebelumnya berhasil merebut Lanud Simpang Tiga, Pekanbaru. Dalam operasi merebut Medan, TNI hanya mengerahkan dua kompi: satu, Kompi Benny, satu lagi kompi PGT AURI. Penerjunan dilakukan siang hari dan kedatangannya sengaja dibocorkan. Namun karena pembocoran itulah mungkin pasukan Boyke menyingkir. Maka ketika mengangkut Kompi Benny untuk penerjunan itu, pilot Kapten Udara Pribadi bingung melihat kota Medan sepi. Keadaan berbeda terlihat di Belawan dari udara. Di sana aktivitas berjalan ramai. Keretaapi masih beroperasi. Karena itulah Benny meminta diterjunkan di sana. Sebelum terjun, dia memberi perintah kepada anak buahnya agar menembak siapapun yang terlihat mengenakan baju hijau. “Dia tidak berani mengambil risiko. Sebab dia sadar, kali ini kemungkinan besar musuh sudah menghadang di bawah,” kata Julius Pour dalam biografi LB Moerdani, Tragedi Seorang Loyalis . Benar saja, ketika Benny dan pasukannya terus turun mendekati stasiun, tampak seorang pria mengenakan baju hijau sedang melambaikan tangan. Benny menajamkan pandangannya dan mendapatkan pria itu mengenakan seragam militer. Shooter Kopral Sihombing segera membidiknya. Namun, pelatuk senapan belum kunjung ditekan Sihombing. Seiring makin rendahnya parasut-parasut yang mengangkut pasukan Benny, sasaran semakin jelas terlihat. Benny buru-buru memerintahkan Sihombing agar jangan menembak. “Sekilas dia baru sadar, lelaki kurus dengan wajah bersih yang sedang melambai tersebut justru Kolonel Djatikusumo,” sambung Julius Pour. Maka selamatlah Djatikusumo.

  • Horor Warsawa dari Mata Lensa Pewarta

    SERIBU kata mungkin takkan cukup untuk menggambarkan horor di Polandia pada 13 September 1939. Namun satu gambar saja sudah berbicara ribuan makna. Julien Bryan percaya itu. Sambil menahan pedih sejauh mata memandang di sebuah perkebunan kentang di pinggiran Warsawa, Bryan susah-payah menekan nuraninya untuk membuka lensa kameranya. Di perkebunan dekat Jalan Ostroroga itu, mata Bryan menangkap sesosok jasad wanita. Darah kental mengucur dari dadanya. Sementara gadis cilik di sampingnya histeris tak tahu harus berbuat apa selain mencoba membangunkannya. Tangisnya begitu menusuk hati Bryan. Bryan insyaf tragedi semacam itu akan jadi pesan sangat kuat untuk para pemimpin di dunia Barat agar bertindak lebih dari sekadar menyatakan perang terhadap Jermannya Adolf Hitler. Sambil menguatkan hatinya, Bryan pun mengarahkan lensa kamera Leica-nya ke arah mereka. “Saat kami (Bryan dan penerjemah Stefan Radlinski serta dua perwira pengawal Polandia) berkendara ke perkebunan kecil di tepi kota (Warsawa), kami hanya terlambat beberapa menit untuk menjadi saksi mata kejadian tragis. Tujuh perempuan tengah memanen kentang saat tetiba pesawat-pesawat Jerman menjatuhkan bom-bomnya hanya 200 yard dari sebuah rumah kecil,” Bryan mengisahkan dalam bukunya, Siege . “Dua wanita di rumah itu tewas. Para pemanen kentang lainnya tiarap berharap tak terdeteksi (pesawat Jerman). Namun setelah mereka kembali bekerja, para pilot Nazi yang tak puas kembali lagi menyapu daratan dengan senapan mesinnya. Dua dari tujuh wanita itu tewas. Saat saya memotret jasad-jasad itu, seorang gadis kecil berlari dan mendekati salah satu jasad korban,” tambahnya. Kolase foto Kazimiera Mika yang meratapi kematian kakaknya di ladang kentang yang dijepret Julien Bryan. ( ushmm.org / ipn.gov ). Di kemudian hari, identitas sang gadis diketahui sebagai Kazimiera Mika. Sementara perempuan yang tergolek tak bernyawa di rerumputan dan tubuhnya sudah memerah adalah Andzia Mika, kakak Kazimiera. Dari ledakan tangisnya, Kazimiera diasumsikan Bryan tak pernah mengalami kengerian seperti hari itu sebelumnya. Saat Bryan mendekat, Kazimiera menatap Bryan dengan tatapan kosong walau air matanya tak berhenti mengalir. “Sang gadis melihat kami dengan kebingungan. Saya spontan merangkulnya erat, berusaha menenangkannya. Dia terus menangis. Saya pun dan dua perwira Polandia yang ikut bersama saya ikut menangis,” kenang Bryan. Baca juga: Josef Mengele Dokter Keji Nazi Keguncangan yang dialami Kazimiera hanya satu dari kengerian yang dialami anak-anak dan warga Warsawa lainnya di pekan kedua September itu. Sejak 1 September 1939, mesin-mesin perang Jerman Nazi menerobos perbatasan Polandia. Tidak hanya dengan 66 divisi di daratan, namun juga lebih dari dua ribu pesawat turut dikerahkan. PK. Ojong dalam Perang Eropa Jilid I menguraikan, Jerman untuk pertamakali melancarkan Blitzkrieg (serangan kilat) dengan skema menjepit dengan dua sayap pasukannya. Dari jurusan Prusia ada Heeresgruppe Nord (Angkatan Darat/AD Grup Utara) pimpinan Generaloberst (Kolonel-Jenderal) Fedor von Bock yang mengandalkan Tentara AD ke-3 dan ke-4. Dari jurusan Silesia ada Grup AD Selatan yang dikomando Generaloberst Gerd von Rundstedt. Adapun Reichsmarschall Hermann Goering mengirim ribuan pesawatnya untuk menguasai angkasa Polandia sebagai penyempurna Blitzkrieg. Adolf Hitler memantau invasi ke Polandia dari tepi Sungai Vistula. (Bundesarchiv). “Setelah hampir semua tentara Polandia terkurung, nasib Warsawa sudah nyata: jatuhnya soal waktu saja. Hitler memberi titah membombardir ibukota yang sudah tak berdaya itu. Hitler hendak mencapai suatu tujuan politik. Dia tak sudi melihat kota itu jatuh ke tangah Soviet Rusia (Uni Soviet, red .),” tulis Ojong. Nahas bagi Polandia. Pada 17 September, Soviet latah menginvasi Polandia dari timur. Sekira 800 ribu Tentara Merah membanjiri wilayah-wilayah timur Polandia yang otomatis menghanguskan Pakta Perdamaian Riga (1921) dan Pakta Non-Agresi Polandia-Soviet (1932). Dikeroyok Jerman dan Soviet, Polandia pun bertekuk lutut pada 6 Oktober. Akibatnya, Polandia ibarat kue yang dibagi dua oleh Berlin dan Moskow. Jurnalis Asing Satu-satunya Gambaran di atas merupakan garis besar yang jadi pengetahuan para pemimpin Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Namun mereka belum mengetahui kengerian yang tertinggal saat terjadinya dan setelah invasi Jerman itu. Ketidaktahuan mereka itu baru “lunas” setelah melihat foto-foto jepretan Bryan. Jurnalis foto perang asal Amerika yang sejak Perang Dunia I sering berkeliling Eropa itu kebetulan pada 1 September 1939 sedang berperjalanan dengan keretaapi dari Venezia (Italia) dan tiba di Warsawa 7 September 1939. Setibanya di Warsawa, Bryan menemukan kekacauan di mana-mana. Warga sipil, para diplomat negara-negara asing, dan bahkan para wartawan asing melarikan diri. Bryan tergerak mencari tahu lebih detail ke Kedutaan Amerika di Warsawa namun kantor kedutaan sudah kosong. Para stafnya sudah kabur hampir berbarengan dengan para pejabat pemerintahan pusat Polandia. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Presiden Polandia Ignacy Mościcki dan Panglima Pasukan Polandia Marsekal Edward Rydz-Śmigły menyingkir ke Zaleshiki dekat perbatasan Rumania sejak 6 September. Akibatnya, kekacauan sporadis terjadi di Warsawa yang hanya dijaga aparat kepolisian dan pemerintah kota. “Sejauh mata memandang, ada ratusan orang berjalan kaki, dengan sepeda, mendorong gerobak, dan bahkan kereta bayi yang diisi barang-barang pribadi dan makanan. Setiap pukul 5.30 petang Nazi selalu mengirimkan pesawat-pesawat pembom dan setiap pagi ada saja sudut kota yang dihancurkan. Mungkin semestinya saya juga berusaha keluar dari Warsawa secepatnya,” kata Bryan. Kehancuran kota Warsawa oleh pemboman pesawat-pesawat Luftwaffe (AU Jerman). ( nac.gov.pl ). Bryan akhirnya memilih bertahan untuk sementara di Warsawa. Selain para jurnalis propaganda Jerman, tiada jurnalis asing yang mau merelakan nyawa guna mendokumentasikan kebrutalan Jerman Nazi terhadap Warsawa dan warganya. Maka dari kedutaan, Bryan segera menemui Walikota Warsawa Stefan Starzyński dengan bermodalkan kamera foto Leica dan kamera video Bell & Howell. “Gambar-gambar yang Anda ambil mungkin bisa jadi bukti bahwa ini peristiwa penting. Agar dunia tahu apa yang telah terjadi di sini,” ujar Walikota Stefan kepada Bryan, dikutip Roger Moorhouse dalam Poland 1939: The Outbreak of World War II . Baca juga: Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani Selain memberikan surat izin untuk mengambil gambar jika di lapangan ditanya polisi dan tentara Polandia, Starzyński juga menyediakan sebuah mobil Adler Trumpf beserta sopir dan seorang penerjemah. Nyaris di setiap sudut yang terdapat objek memilukan, Bryan memerintahkan sopir untuk menghentikan mobil guna mengambil gambar foto maupun video. Kisah Kazimiera dan para wanita korban kekejaman pesawat Jerman di perkebunan kentang salah satunya. Horor-horor nirmanusiawi itu merupakan buah kebiadaban Hitler. Awalnya, beberapa jenderal Jerman hanya ingin mengepung Warsawa dan membiarkan kota itu menyerah tanpa pertumpahan darah. Aliran-aliran gas, listrik, dan air pun sempat diputus. Namun, Hitler memutuskan kota itu harus diluluhlantakkan. Maka pada 9 September mesin-mesin perang Jerman menyerang Warsawa dan melakukan pengepungan total pada 13 September. Julien Bryan saat memfilmkan situasi horor saat pengepungan Warsawa walau nyawa taruhannya. ( ushmm.org ). Teror dari pesawat-pesawat Jerman tak hanya datang dari tembakan senapan mesin secara acak, namun juga dari ratusan ton bom yang dijatuhkan. Pembom tukik Junkers Ju 86 “Stuka” jadi momok yang paling ditakuti. Bunyi lantang “siulan” mesinnya kian menambah teror bagi para korban. “Jasad-jasad tak bernyawa jadi pemandangan tak mengenakkan. Saya tak bisa lupa melihat para wanita yang tubuhnya hancur dan kadang tanpa kepala, tangan, atau kaki. Dalam fotografi biasanya kami memikirkan komposisi akan keindahan suatu pemandangan. Tapi tidak ada keindahan di sini,” ungkap Bryan. “Wanita dan anak-anak jadi korban bom-bom musuh. Saya tidak sedang membuat catatan perjalanan. Suka atau tidak, saya berada di Warsawa, membuat rekaman bersejarah tentang apa yang terjadi dalam perang modern. Orang-orang mungkin takkan percaya cerita saya jika lewat kata-kata. Namun semua orang akan percaya dengan gambar-gambar saya,” sambungnya. Baca juga: Reinhard Heydrich, Jagal Nazi Berhati Besi Selama mengambil gambar, Bryan berdiam di kantor Konsulat Jenderal Amerika bersama warga Amerika dan warga negara-negara asing netral. Itu berlangsung hingga 21 September, saat militer Jerman menetapkan gencatan senjata sementara untuk mengizinkan warga-warga negara netral keluar dari Warsawa. Momen itu jadi kesempatan Bryan untuk keluar. Namun, sebelum keluar ia lebih dulu menyembunyikan rol-rol film foto di kaleng masker gas dan rol-rol video di dadanya dengan direkatkan melingkar dan ditutupi pakaian berlapis. Pasalnya, jika tidak begitu, film-film itu akan disita militer Jerman yang hanya membolehkan para pengungsi warga asing keluar dari Warsawa dengan bawaan satu koper. “Ketika rombongan kami (pengungsi) mengarah ke utara, kami melewati lalu-lalang yang ramai dari dua arah: kebanyakan konvoi kendaraan senjata, amunisi dan truk-truk berisi tentara menuju Warsawa. Kami melintasi desa-desa Polandia yang sudah rata dengan tanah. Para serdadu Jerman berjaga-jaga di tempat-tempat itu,” papar Bryan yang dikutip Glenn Kurtz dalam Three Minutes in Poland. Kolase potret memilukan yang ditangkap mata kamera Julien Bryan dan dimuat di media-media di Amerika. ( ushmm.org ). Truk yang membawa Bryan dan para warga asing lain lantas diturunkan di Stasiun Nasielsk, 45 kilometer di utara Warsawa. Beruntung, sekira 300 dokumentasi penting Bryan tak ditemukan saat pemeriksaan oleh serdadu Jerman. Kondisi film-film itu aman hingga sampai di Königsberg, Prusia Timur (kini Kaliningrad, Rusia). Medio Oktober 1939, Bryan akhirnya menjejakkan kakinya di New York setelah melalui perjalanan panjang via Swedia dan Norwegia. Jutaan pasang mata publik Amerika akhirnya menyaksikan sendiri bukti kebrutalan invasi Jerman ke Polandia lewat puluhan foto Bryan yang dimuat Majalah Life edisi 23 Oktober 1939 dan majalah Look , 5 Desember 1939. Sementara, dokumentasi video pada 1940 digarap Bryan menjadi film berdurasi 10 menit bertajuk Siege . Di tahun yang sama, Bryan turut memperlihatkan dokumentasi film utuh berdurasi 80 menit kepada Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt. Meski begitu, Amerika baru menyatakan perang terhadap Jerman Nazi pada 11 Desember 1941, bersamaan dengan deklarasi perang terhadap Jepang. Baca juga: Kolberg , Film Perang di Tengah Perang

  • Cabai dari Amerika ke Nusantara

    Dikenal sebagai bahan pemedas dalam makanan, cabai menyebar ke seantero dunia.

  • Tentang Anjay dan Kata-kata Umpatan

    WARGANET ramai-ramai mencuit kata "anjay" sehingga menjadi trending topic . Mereka merespons siaran pers dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang mengajak untuk menghentikan penggunaan kata "anjay". Kata "anjay" biasa digunakan dalam percakapan di antara teman sepergaulan untuk menunjukan suasana keakraban. Namun, menurut Komnas PA, jika kata "anjay" atau "anjing" digunakan kepada orang yang tidak dikenal dan lebih dewasa bisa mengandung unsur kekerasan verbal ( bullying ) dan merendahkan martabat seseorang, sehingga dapat dilaporkan sebagai tindak pidana. Seperti zaman Majapahit saja yang menghukum orang yang melakukan penghinaan atau caci maki ( wakparusya ). Pada umumnya dihukum denda berupa uang kecuali wakparusya  yang dilakukan seorang candala  kepada brahmana (pendeta), diancam dengan hukuman mati. Candala  adalah masyarakat dari lapisan sosial paling rendah, di bawah sudra , jadi tergolong paria  atau tanpa kasta. Susanto Pudjomartono, mantan wartawan dan diplomat, dalam tulisan bahasa berjudul "Bangsat" di majalah Tempo , 2 Juni 2002, membagi kata-kata umpatan dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah kata-kata umpatan yang paling sering dipakai yaitu nama binatang yang dianggap rendah atau nista. Dalam kategori ini, anjing tidak sendirian. Binatang-binatang yang senasib dengan anjing di antaranya babi, monyet, kunyuk, bangsat (kutu busuk), kambing, kucing, kerbau, kampret, dan lain-lain; belakangan buah dari persaingan politik, umpatan kampret punya lawan yaitu cebong. Tidak puas dengan hanya umpatan binatang itu, manusia menambahkan predikat tertentu, misalnya "(dasar) tampang monyet", "kerbau dungu", "kambing congek", dan "kucing kurap" (koreng). "Umpatan babi dan anjing paling populer, mungkin karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, yang menganggap kedua binatang tersebut najis," tulis Susanto. Sastrawan Hasif Amini dalam tulisannya "Fauna Bahasa" di majalah Tempo , 12 Februari 2017, menambahkan bahwa kata "binatang" sendiri dalam beberapa pemakaian berkonotasi negatif, misalnya "binatang ekonomi" dan "binatang politik". Begitu pula kata "hewan" yang terasa lebih ilmiah dan netral, tak jarang menunjuk kualitas negatif, misalnya dalam frasa "sifat-sifat hewani". Konotasi positif atau negatif bisa berbeda-beda antara satu lingkungan budaya dan yang lain. Hasif menyontohkan kata dog  tak menjadi umpatan yang lazim dalam Bahasa Inggris karena dalam lingkungan itu, anjing umumnya binatang piaraan yang patuh, setia, dan disayangi. Bahkan, kata dog  mengandung makna positif, misalnya dalam ungkapan working like a dog yang berarti kerja keras tak kenal lelah. Kalau di Indonesia, belakangan muncul ungkapan "kerja keras bagai kuda" yang sepertinya diambil dari lirik lagu Koes Plus berjudul "Ku Jemu". Dog  memang tidak lazim jadi kata umpatan, tapi dalam Bahasa Inggris (slang) ada kata bitch (jalang) yang secara harfiah artinya "anjing betina". Kata umpatan ini digunakan untuk merendahkan perempuan. Menurut Oxford English Dictionary , istilah bitch berasal dari kata Inggris Kuno, bicce  atau bicge , yang berarti "anjing betina". Leluhur kata itu kemungkinan dari Bahasa Norse Lama atau Bahasa Skandinavia Kuno, yaitu bikkja , yang juga berarti "anjing betina". Akar sejarah bagaimana anjing digunakan untuk merendahkan perempuan dapat dilacak sampai zaman Yunani Kuno. Kategori kedua adalah kata-kata umpatan yang berhubungan dengan seks. Misalnya, kata umpatan khas Jawa Timuran, jancuk  atau jancok  dari kata diancuk  ( ancuk  artinya bersetubuh). Karena dirasa kasar, jancuk  atau jancok  kemudian dipelesetkan menjadi jangkrik. Ada yang percaya kalau jancuk atau  jancok berasal dari kata "Jan Cox" yang tertulis pada badan sebuah tank ketika Belanda berusaha menduduki kembali Indonesia. Padahal, menurut penelusuran komunitas Surabaya Tempo Dulu+ , Jan Cox adalah nama seniman Belanda yang dijadikan nama tank Stuart M3 yang merupakan kendaraan Kapten Nix, komandan Eskadron 1 Vechwagens KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Eskadron ini mulai beroperasi pada 1946 di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Sebelumnya, ketika Belanda masih menguasai Indonesia, orang-orang Belanda menyamakan orang pribumi dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, biasa tertulis: Verboden voor Honden   en Inlanders  (dilarang masuk untuk anjing dan pribumi). Kategori ketiga adalah kata-kata umpatan yang berasal dari sesuatu yang dianggap hina atau merugikan, seperti setan, laknat, bajingan, goblok, bodoh, sialan, dan lain-lain. Saat kata-kata umpatan dirasa kasar, maka dibuatlah pelesetannya. Susanto menyontohkan sastrawan Danarto yang dikenal santun selalu menulis "siwalan" (buah lontar) sebagai pelesetan dari "sialan". Bacalah di bukunya, Catatan Perjalanan Haji Danarto, Orang Jawa Naik Haji : "Tiba-tiba sepercik pikiran menyelinap di benak: ingin saya mencuri Alquran. Habis, bergeletak bertumpuk-tumpuk begitu banyak. Saya pikir bagus sekali untuk kenangan, Alquran curian dari Masjid Nabi, hmmm, nggak  apa deh biar buta huruf juga. Saya pikir, pikiran ini muncul akibat pergaulan buruk di Taman Ismail Marzuki, yang seenak udelnya saja mengarang-ngarang fatwa: mencuri buku adalah seindah-indahnya perbuatan. Siwalan bener! (He, he, he, orang lain disalah-salahin...)." Bila Danarto memelesetkan "sialan" jadi "siwalan", bukankah anak-anak muda juga memelesetkan "anjing" jadi "anjay". Barangkali tak ada binatang yang dijadikan umpatan selain anjing yang paling banyak pelesetannya. Dengan mengubah tiga huruf terakhir dari kata anjing, lahirlah kata anjir, anjim, anjrit, anjrot, dan lain-lain. Jadi, bila "anjay" dilarang, penggantinya masih banyak.*

  • Di Balik Kelanggengan Pemerintahan Shinzo Abe

    MATA Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berkaca-kaca. Selepas merampungkan pidato terakhirnya, Jumat (28/8/2020), ia membungkuk dengan khusyuk ke hadapan kamera di depannya untuk pamit kepada 126 juta rakyatnya. Sebagai PM dengan masa pemerintahan terlama, Abe mundur dengan alasan kesehatan. “Kesehatan yang buruk tak semestinya memengaruhi keputusan-keputusan politik dan karena saya tak bisa memenuhi ekspektasi rakyat Jepang, saya memutuskan bahwa saya tak bisa terus menjadi perdana menteri dan akan mundur. Selama tujuh tahun saya sudah berusaha yang terbaik, namun saya menderita penyakit dan saya butuh perawatan,” ungkapnya, dikutip The Guardian , Jumat (28/8/2020). Baca juga: Tetsu Nakamura Sang Samurai Kemanusiaan Masa pemerintahan Abe sejatinya baru akan kedaluarsa pada 2021. Namun sejak delapan tahun silam Abe mengidap penyakit radang usus besar kronis. Penyakit ini juga sempat jadi penyebab Abe mundur pada 2007. Petinggi Partai LDP (Partai Liberal Demokratik) itu total menakhodai negeri “Matahari Terbit” selama tujuh tahun 247 hari. Abe pertamakali terpilih jadi PM Jepang pada 2006, PM termuda dalam sejarah Jepang. Sempat mundur, Abe kembali maju ke pemilihan dan menang pada pemilu 2012, 2014, dan 2017. Ia mewariskan “Abenomics”, semacam strategi stimulus perekonomian Jepang, sejak 2012. Shinzo Abe PM Jepang dengan masa pemerintahan terlama. ( kantei.go.jp ). Tiga poin terpenting Abenomics adalah pelonggaran moneter besar-besaran, pengeluaran fiskal, dan reformasi struktural. Untuk jangka pendek, Abenomics berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan hasilnya booming pariwisata hingga tersedianya lapangan kerja. Namun, pandemi corona menggoyahkan Abenomics dan perekonomian Jepang berada di bibir jurang resesi walau secara ekonomi masa pemerintahan Abe bisa dibilang sebagai era yang stabil. Sejak 2013, PM Abe juga mewariskan Hari Restorasi Kedaulatan pada setiap 28 April sebagai peringatan hari terakhir pendudukan Amerika Serikat atas Jepang (28 April 1952). Namun, kontroversi terkait perkara bersifat historis tak pernah luput dari pemerintahannya. Maklum, sebagai politikus konservatif sayap kanan, Abe juga anggota Nippon Kaigi (Konferensi Jepang), organisasi ultra-konservatif sayap kanan yang sejak berdiri pada 1997 acap menuntut revisi Undang-Undang No.9 tahun 1947 tentang larangan perang sebagai penyelesaian sengketa dengan negara lain. Undang-undang tersebutlah yang membuat Jepang tak memiliki angkatan bersenjata pasca-Perang Dunia II. Jepang hanya diizinkan memiliki pasukan bela diri yang beroperasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in Abe termasuk perdana menteri Jepang yang senantiasa menyanggah keterkaitan negerinya terhadap jugun ianfu (budak seks perempuan) di semua wilayah yang diduduki Jepang semasa perang. Abe juga acap disorot lantaran sering menyambangi Kuil Yasukuni untuk menghormati para prajurit Jepang di masa perang. Dua hal tersebut kerap jadi pemicu ketegangan dengan negara-negara yang jadi korban pendudukan Jepang di masa perang, utamanya RRC dan Korea Selatan. Semua warisan itu merupakan buah manuver-manuver politik Abe yang diarungi sejak 1982 dan tak lepas dari sokongan keluarga besar yang reputasinya tak sembarangan. Abe yang lahir di Tokyo pada 21 September 1954 dari suami-istri Yoko Kishi dan Shintaro Abe hidup di keluarga yang berada dalam lingkaran politik dan pemerintahan. Silsilah “dinasti politik” itu turun-temurun di pihak ibu dan ayahnya. Para Pendahulu yang Berpengaruh Dari pohon keluarga, figur berpengaruh teratas yang teridentifikasi adalah kakek canggah dari garis ayahnya, Shishaku (wakil tinggi kaisar) Ōshima Yoshimasa. Yoshimasa merupakan gubernur jenderal Kwantung pertama (1905-1912) setelah wilayah di Semenanjung Liaodong itu disewa Kekaisaran Jepang dari Dinasti Qing. Sebagai perwira militer, Jenderal Yoshimasa acap memetik kegemilangan. Perang Boshin (1868-1869) atau perang saudara antara Aliansi Satchō yang pro-Kaisar Meiji dengan Keshogunan Tokugawa, Perang Sino-Jepang I (1894-1895), dan Perang Rusia-Jepang (1904-1905) semua meningkatkan reputasinya. Baca juga: Konflik Keluarga dalam Perang Dunia “Di Perang Rusia-Jepang, Ōshima yang memimpin Divisi Ke-3 Angkatan Darat (AD) Kekaisaran Jepang, ikut mendorong kemenangan Tentara AD Ke-2 di Pertempuran Liaoyang, Pertempuran Shaho, dan Pertempuran Mukden. Sedari Oktober 1905 menjabat Gubernur Jenderal Kwantung dan di masa pemerintahannyalah dibangun fondasi pasukan terbesar Jepang, Tentara Kwantung,” ungkap Rotem Kowner dalam Historical Dictionary of the Russo-Japanese War. Jenderal Ōshima Yoshimasa. ( sekiei.nichibun.ac.jp ). Dari pihak ayah Abe juga ada Kan Abe sang kakek, politikus Diet Nasional (parlemen) dari faksi antiperang di Kabinet PM Hideki Tojo yang alumnus jurusan politik Universitas Kekaisaran Tokyo (kini Universitas Tokyo). Hebatnya, sebagaimana disitat Dong-A Ilbo , 28 Oktober 2018, ia bisa masuk parlemen sebagai calon independen setelah menang di Prefektur Yamaguchi dalam Pemilu 1937. Di masa akhir perang, Kan beraliansi dengan sejumlah politisi liberal penentang perang dan berhasil melengserkan PM Tojo. Namun, Kan tak bisa melihat pemilu pertama Jepang pascaperang lantaran keburu wafat (30 Januari 1946) karena TBC kala ikut membantu persiapan pemilu. Baca juga: Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II Sementara, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu, Nobusuke Kishi, punya haluan politik bertolak belakang dari kakek pihak ayah. Kishi sejak muda mengagumi “Bapak Fasis Jepang” Ikki Kita. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Kekaisaran Tokyo, pada 1920 Kishi masuk pemerintahan sebagai pegawai Kementerian Pemasaran dan Industri. Kishi jadi satu dari sedikit figur ekonomi yang inovatif. Dia berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan mencontek sejumlah kebijakan di Eropa, seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Uni Soviet, kebijakan kartel industri lewat kemajuan teknologi Jerman Nazi, dan teori-teori manajemen buruh Frederick Winslow Taylor di Amerika Serikat. Kan Abe, kakek Shinzo Abe dari garis ayah. (Shimonoseki City Board of Education). Diungkapkan Sterling dan Penny Seagrave dalam The Yamato Dynasty , Kishi selalu membayangkan Manchuria bisa menjadi pusat industri besar Jepang di luar kepulauan. Maka ketika Tentara Kwantung sukses mencaplok Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo pada September 1931, Kishi sering berperjalanan ke Manchukuo. Pada 1935, ia didapuk menjadi Wakil Menteri Pembangunan Industri Manchukuo dan berkawan baik dengan Tojo yang kelak jadi  perdana menteri. Tetapi sejak itulah julukan “Shōwa no yōkai” (Iblis Shōwa) tersemat padanya. Selain menerapkan sejumlah kebijakan berbau nepotisme, masuknya Nissan Group yang dipimpin pamannya Kishi ke Manchukuo, membuat Kishi turut mengeksploitasi pekerja paksa China. Bibit-bibit pemberontakan di antara para buruh sudah jauh-jauh hari diantisipasinya dengan teror mafia Yakuza yang diberi imbalan jalur perdagangan opium. Baca juga:  Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS. Setelah Tojo menjadi perdana menteri, pada Oktober 1941 Kishi yang naik menjadi menteri Perlengkapan Perang juga mengatur perbudakan lebih dari enam ratus ribu orang Korea dan 41 ribu orang China. Oleh karenanya, di ujung perang Kishi ditangkap Sekutu dan ditahan di Penjara Sugamo sebagai penjahat perang Kelas A. Namun pada akhirnya, Kishi tak pernah diajukan ke Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh dan dilepaskan pada 1948 setelah datang lobi dari Dewan Amerika untuk Jepang. Dewan berisi mantan duta besar dan konsul jenderal AS itu minta Kishi dibebaskan karena dianggap orang yang tepat membangun kembali Jepang. Petualangan politik Kishi pascaperang berlanjut sebagai anggota parlemen dan pendiri Partai Demokratik Jepang. Partai ini pada 1955 merger dengan Partai Liberal menjadi Partai LDP dan jadi tunggangan politik Kishi. Setelah menjadi menteri luar negeri pada 1956, ia berhasil menjadi perdana menteri (1957-1960). Nobusuke Kishi, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu. ( loc.gov ). Di era pemerintahan Kishi Jepang membangun kembali persahabatannya dengan negara-negara bekas jajahanya dengan negosiasi ganti rugi. Selain Indonesia, ada Myanmar, Filipina, dan Thailand. Tokoh penting lain dari dinasti politik Shinzo Abe adalah ayahnya, Shintaro Abe, putra Kan Abe. Shintaro merupakan musuh politik Tojo dan Kishi. Namun Shintaro tak mengikuti jejak ayahnya dalam hal haluan politik, melainkan justru berkembang di bawah ketiak Kishi. Terutama setelah Shintaro menikahi putri Kishi, Yoko Kishi, alias ibu Shinzo Abe, pada 1951. “Sebelum masuk ke politik, (Shintaro) Abe selepas lulus SMA pada 1944 masuk akademi Angkatan Laut untuk berlatih menjadi sukarelawan pilot Kamikaze (serangan bunuh diri, red .). Tetapi perang keburu berakhir sebelum Abe menyelesaikan latihannya,” tulis Patrick Hein dalam “Leadership and Nationalism: Assessing Shinzo Abe” yang dimuat di Asian Nationalisms Reconsidered. Baca juga: Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang Pascaperang, Shintaro melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Tokyo dan selepas lulus pada 1949 ia bekerja jadi wartawan politik di suratkabar Mainichi Shimbun . Pada 1956, ia meninggalkan karier jurnalistiknya untuk menjadi sekretaris pribadi mertuanya saat Kishi menjabat menteri luar negeri. Shintaro Abe (kanan), ayah Shinzo Abe semasa menjabat menteri luar negeri. ( reaganfoundation.org ). Shintaro terus menjadi sekretaris pribadi ketika Kishi naik jadi perdana menteri. Setahun kemudian, dengan tunggangan politik yang sama dengan ayahnya, Partai LDP, Shintaro masuk parlemen setelah menang di daerah Prefektur Yamaguchi dalam pemilu 1958. “Sejak saat itu dia terus terpilih selama delapan kali (dalam pemilu) dan pada November 1974, ia ditunjuk PM Takeo Miki masuk kabinet sebagai Menteri Pertanian dan Kehutanan. Tuan Abe juga kemudian menjabat berbagai pos di kabinet dan menjadi salah satu pemimpin berpengaruh di partai penguasa, LDP. Seperti jabatan Ketua Komite Kebijakan LDP di Parlemen, Ketua Sekretaris dan Ketua Dewan Pertimbangan Kebijakan LDP,” tulis Japan Report , laporan pusat informasi Konsulat Jenderal Jepang di New York, edisi Januari 1982. Baca juga: Jepang-RI: Enam Dasawarsa Bersama Saudara Tua Shintaro gagal mengikuti jejak mertuanya menjadi perdana menteri –jabatan tertinggi yang dipegang Shintaro adalah menlu (1982-1986). Pasalnya, pada 1988 Shintaro bersama sejumlah anggota parlemen dan PM Noboru Takeshita terseret kasus korupsi perdagangan saham ilegal yang melibatkan perusahaan SDM, Recruit Holdings Co., Ltd. Akibatnya, Shintaro dipaksa mundur dari posisi Sekjen LDP dan sejak itu karier politiknya tak pernah pulih. Dinasti politiknya kemudian diteruskan Shinzo Abe, putra keduanya. Putra pertamanya, Hironobu Abe, menggeluti karier di perindustrian, yakni di Mitsubishi Shoji Packaging. Shinzo Abe meninggal dunia setelah ditembak ketika sedang kampanye pada 8 Juli 2022. Baca juga:  Kudeta Perwira Muda Negeri Sakura

  • Jejak Archbold di Papua

    Orang Amerika penasaran dengan tanah Papua. Mereka mengirim ilmuwan dan peneliti yang didanai perusahaan minyak.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page