top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Teuku Hasan Yang Terpaksa Jadi Gubernur

    BILAMANA musim pemilihan kepala daerah (Pilkada) bersemi, para politisi berbondong mencalonkan diri. Entah itu jadi gubernur atau bupati. Cara yang ditempuh guna menarik pemilih pun beragam. Mulai dari kampanye obral janji hingga menggelontorkan uang untuk meraup suara. Praktik demikian berbeda halnya pada masa awal kemerdekaan. Gubernur pertama Sumatera terpilih secara musyawarah. Bermula dari pembicaraan antara dr. Mohammad Amir dan Mr. Mohammad Hasan. Keduanya adalah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sama-sama mewakili Sumatera. Amir berasal dari Minangkabau sedangkan Hasan berasal dari Aceh. Namun keduanya lebih dikenal sebagai orang terkemuka dari kota Medan. Amir dikenal sebagai dokter pribadi Sultan Langkat. Sementara Hasan merupakan pegawai pemerintahan di masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Pada 18 Agustus 1945, sidang PPKI menetapkan dasar negara serta memilih Sukarno-Hatta sebagai presiden dan wakilnya. Malam harinya, Amir dan Hasan berbincang di kamar Hasan di Hotel des Indes, Jakarta. Amir mengatakan bahwa dia duduk sebagai anggota panitia kecil yang akan memberikan pertimbangan kepada Presiden Sukarno tentang beberapa hal. Salah satu bahasan yang akan diajukan kepada Sukarno adalah siapa yang akan menjadi Gubernur Sumatera. Hasan menyambutnya dengan menyebut Amir sebagai calon yang pantas sebagai gubernur. Alasannya, Amir adalah seorang intelektual yang pernah membukukan pemikirannya dalam karangan bertajuk Bunga Rampai (1940). Amir menolak karena merasa  dirinya hanya seorang psikiater dan tidak memahami apa-apa soal pemerintahan. “Lalu saya menyebut Saudara Mr. Abdul Abbas, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dari Sumatera sebagai calon Gubernur Sumatera,” kata Hasan dalam memoarnya Mr. Teuku Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa . Amir tidak setuju dengan Abbas. Menurutnya Abbas yang seorang advokat itu kurang mengetahui soal pemerintahan. Hasan kembali mengusulkan agar dipilih dari kalangan demang (kepala distrik) Sumatera yang berpengalaman. Dia menyebutkan nama Mangaradja Soangkupon yang pernah menjadi anggota Volksraad dan juga beberapa nama demang lainnya. Amir masih belum setuju. “Demang baru itu berpendidikan menengah, belum berpendidikan tinggi, bukan sarjana,” kata Amir. Menurut Amir calon Gubernur Sumatera harusnya berpendidikan tinggi, sarjana, dan berpengalaman dalam pemerintahan. Amir lantas menjatuhkan pilihannya kepada Hasan. Pertimbangannya, Hasan pernah telah bekerja pada kantor “Gouvernor van Sumatera (Kegubernuran Sumatera)” pada masa Hindia Belanda. Pengalaman itu seyogianya dapat membantu dalam menjalankan pemerintahan di Sumatera. Akhirnya, Amir menanyakan kesediaan Hasan menjalankan tugas sebagai pejabat sipil tertinggi di Sumatera. “Jika sekiranya saya diangkat menjadi Gubernur, terpaksa menerima jabatan ini untuk melaksanakan urusan kemerdekaan tanah air, meskipun belum pernah memegang jabatan itu,” ujar Hasan menjawab panggilan tugas. Selesai pembicaraan, Amir kembali ke kamarnya. Keesokan harinya, setelah wilayah Indonesia ditetapkan, penunjukkan Hasan sebagai Gubernur Sumatera disetujui Presiden Sukarno. Hasan menjadi satu dari delapan gubernur pertama Indonesia yang memimpin di daerah-daerah. Mereka antara lain: Soetardjo (Jawa Barat), Soeroso (Jawa Tengah), Soerjo (Jawa Timur), Pangeran M. Noor (Kalimantan), Samuel Ratulangi (Sulawesi), I Gusti Ktut Pudja (Sunda Kecil), dan Johannes Latuharhary (Maluku). “Hasan menerima ajuan itu semata-mata karena cita-citanya demi mengabdi kepada Indonesia merdeka,” tulis Raisa Kamila dalam Gubernur Pertama di Indonesia . Ketika diangkat pada 22 Agustus 1945, sebutan untuk jabatan Hasan adalah pemimpin besar untuk seluruh Sumatera. Dengan adanya pengakuan pemerintah, Dwi Purwoko dalam biografi Dr. Mr. T.H. Moehammad Hasan: Salah Seorang Pendiri Republik Indonesia dan Pemimpin Bangsa menyebut Hasan berkuasa penuh untuk melaksanakan segala keputusan PPKI di wilayah yang dipimpinnya. Setelah itu, Hasan leluasa bergerak ke seluruh penjuru Sumatera menyatakan kemerdekaan dan seruan untuk berpihak kepada Republik. Beberapa kota yang dikunjunginya antara lain: Jambi, Bukit Tinggi, Tarutung, Medan, dan Pematang Siantar. Baru pada 29 September 1945, Hasan resmi menjadi Gubernur Sumatera setelah mendapat persetujuan Komite Nasional Indonesia (KNI) Sumatera. Amir sendiri, yang mengajukan Hasan sebagai Gubernur Sumatera, pada Desember 1945 ditunjuk mendampingi Hasan sebagai wakil gubernur. Inilah awal dua sekawan tersebut bergerak secara resmi mempersatukan rakyat Sumatera untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI.

  • Sirkuit Jalanan Lintas Zaman

    EUFORIA bercampur rasa penasaran begitu terasa di hati begitu satu per satu mobil Formula One (F1) menampakkan diri di depan mata saya, yang duduk di tribun Nicoll Highway, menjelang start Grand Prix Singapura 2014. Itu kali pertama saya menyaksikan langsung balapan F1, 21 September 2014. Perasaan itu masih bertahan di lap - lap awal. Para pembalap masih sengit saling beradu skill di balik kemudi mobil masing-masing. Tapi beberapa lap kemudian, utamanya saat jarak masing-masing mobil melebar, kantuk mulai menyerang mata. Rasa kantuk itu baru buyar kala pembalap tim Sauber Adrian Sutil bertabrakan dengan pembalap tim Force India Sergio Pérez, tepat di depan mata. Para penonton lain di tribun tak kalah kaget. Selain jadi debut menyaksikan balapan F1 secara langsung, itu juga jadi momen pertama saya merasakan atmosfer balapan malam di Marina Bay Circuit. Arena balap ini merupakan sirkuit jalanan yang disediakan pemerintah Singapura untuk masuk kalender F1 sejak 2008. “Anda harus punya dukungan penuh dari pemerintah. Kalau pemerintah tidak aktif bergerak, akan sulit bisa membawa F1 ke Indonesia,” kata Fiona Smith, asisten Direktur Media dan Komunikasi GP Singapore PTE. Ltd,kala berbincang di executive box Sirkuit Marina Bay pada malam sebelum race. Kendati mesti bermodal besar, kata Fiona, ajang F1 jadi investasi menguntungkan buat perekonomian negerinya. “GP Singapura sangat berperan besar secara signifikan untuk meningkatkan pelancong (mancanegara, red ) datang ke sini. Begitupun dengan perekonomian negara. Contoh singkat, hotel-hotel di sini hampir semua pasti penuh ketika F1 dan mereka tentu pasang harga dua atau tiga kali lipat dari biasanya,” sambungnya. Indonesia sedianya pernah ingin menggelar F1 dengan mem bangun Sirkuit Sentul pa da 1990-an , namun batal. B elakangan , upaya mengikuti jejak Singapura mencuat. Mengutip Kumparan , 14 Juli 2019, Pemprov DKI Jakarta siap membawa ajang balap mobil Formula ke ibukota. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) saat mengunjungi race Formula E di New York (Foto: Twitter @aniesbaswedan) Bukan F1 memang yang akan dibawa ke ibukota, melainkan Formula E aliasajang balapan mobilbertenaga listrik internasional. Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan, pihaknya sudah bernegosiasi dengan FIA selaku badan yang menaungi ajang-ajang balapan dunia. Perwakilan Formula E juga sudah datang untuk mengecek area-area yang akan disiapkan untuk jadi sirkuit jalanan pada 8-9 Juli 2019. Dua rute yang disiapkan yakni di seputaran tenggara Silang Monas dan Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Kendati begitu, dilansir Motorsport edisi 14 Juli 2019, FIA Formula E menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap pembicaraan serius. Pun begitu mereka belum bisa menyampaikan pengumuman resminya. Sirkuit Jalanan Tertua Jika Formula E jadi dihelat, Indonesia bakal mengikuti atau bahkan menyaingi Singapura sebagai satu-satunya pemilik sirkuit jalanan dan balapan malam di Asia. Sirkuit jalanan merupakan pengalihfungsian sementara waktu jalur lalu lintas untuk arena balapan. Lazimnya, sirkuit jalanan berada di kota-kota metropolitan. Alasannya, untuk mendongkrak turisme. S irkuit jalanan tertua yang masih digunakan untuk balapan jet darat adalah Circuit de Monaco yang berad a di Monako, negeri seluas 202 hektar di selatan Prancis yang benderanya sama dengan Indonesia . Esksistensi balap jalanan sendiri dimulai pada akhir abad ke-20. Umumnya, trek balap jalanan itu antarkota. Paris-Amsterdam-Paris Race yang diadakan Automobile Club de France (ACF) pada 1898, contohnya. Ada pula Eifelrennen, yang dihelat sejak 1922,dengan treknya membentang dari kota Nideggen-Wollersheim-Vlatten-Heimbach-Hasenfeld di Pegunungan Eifel, Jerman. Namun, balapan di jalanan itu belum tergolong balap di sirkuit jalanan. Jika menyebut sirkuit jalanan resmi pertama, Circuit de Monaco-lah tempatnya. Arenanya yang membentang sepanjang 3,145 kilometerdi areal metropolitan Monte Carlo, menurut Malcolm Folley dalam bukunya Monaco: Inside F1’s Greatest Race , memang dipersiapkan oleh Automobile Club de Monaco (ACM). “Gagasannya muncul dari Antony Noghès yang ingin mengadakan balapan di jalanan Monaco, di mana jalannya masih berupa jalanan batu. Di beberapa seksi jalannya juga masih beriringan dengan rel trem. Ide itu dimunculkannya saat rapat umum luar biasa, seiring pergantian nama dari Sport Automobile Vélocipédique de Monaco (SAVM) menjadi Automobile Club de Monaco, 29 Maret 1925.” Antony Noghès merupakan putra dari bos rokok Alexandre Noghès. Antony sejak 1925 menggantikan ayahnya sebagai presiden ACM. Disokong bantuan Pangeran Monaco, Louis II, Noghès memprakarsa Grand Prix Monaco pertama pada 14 April 1929. Hanya 16 pembalap undangan yang berkompetisi di balapan untuk memperebutkan hadiah 100 ribu franc itu. Dari 100 lap , pembalap tim Bugatti T35B asal Inggris William Grover-Williams jadi pemenangnya. Gelaran balap di Circuit de Monaco pada 1929 (Foto: Repro Monaco: Inside F1's Greatest Race) Dari penggunaan awalnya tahun 1929 sampai 2019, treknya hanya mengalami perubahan panjang trek sekira 200 meter. Kendati begitu, Sirkuit Monako begitu ikonik lantaran punya ketinggian berbeda-beda dan treknya sempit dengan sejumlah belokan tajam dan berbahaya. “Ibarat naik sepeda di ruang keluarga,” ujar eks pembalap F1 Nelson Piquet kepada Motorsport , 24 Mei 2011. Jika tak benar-benar mahir , siap-siap didatangi insiden. Dari sejumlah kecelakaan,  ada empat pembalap yang mesti tutup karier dan usia di sirkuit itu. Se telah y a ng pertama Norman Linnecar pada 1948, ada Luigi Fagioli pada 1952, Dennis Taylor pada 1962 , dan Lorenzo Bandini pada 1967. Kendati disebut sirkuit yang menakutkan, Monaco tetap dianggap sebagai sirkuit terbaik oleh pembalap F1 Lewis Hamilton. “Seperti naik rollercoaster yang paling menakutkan. Memang menakutkan tapi karakter treknya keren dan membuat Anda merasakan semua emosi menjadi satu,” ujarnya, dikutip The Telegraph , 23 Mei 2014.

  • Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa

    BAGI anak muda kini, penyakit pes terdengar asing. Padahal, penyakit itu pernah mematikan di awal abad ke-20, terutama di Jawa. Jauh sebelum pes menyerang Jawa, penyakit ini jadi ancaman di Eropa. Orang-orang menyebutnya dengan The Black Death. Nama yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra mortem ini muncul dari gejala yang dialami penderita. Kulit mereka menghitam, biasanya di bagian jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung. Kehitaman itu muncul akibat adanya jaringan yang mati. Ketika mewabah pada abad ke-14, Black Death membunuh 50 juta orang. Dengan kata lain, mengurangi 60 persen populasi Eropa. Pes disebabkan oleh bakteri yersinia pestis yang terdapat dalam kutu tikus, khususnya tikus hitam yang suka tinggal di dekat manusia. Sebagian kalangan berpendapat bahwa pes di Eropa terbawa masuk lewat perdagangan di jalur sutra. Pendapat ini dibantah sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow dalam bukunya The Black Death, 1346-1353. Menurutnya, pes tidak masuk lewat Tiongkok namun muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia (kini masuk wilayah Ukraina), pada musim semi 1346. Pes kemudian menyebar ke barat lewat migrasi tikus-tikus coklat Rusia yang punya daya tahan tubuh lebih kuat dibanding tikus hitam. Namun, kutu-kutu di tikus kemudian juga menghinggapi tikus hitam di tempat migrasinya. Tikus yang terkena pes umumnya bertahan sepuluh sampai empat belas hari, lalu mati. Kematian massal tikus membuat gerombolan kutu bingung mencari tempat hinggap. Setelah tiga hari puasa, kutu-kutu kelaparan itu pun bersarang di tubuh manusia sebagai pengganti tikus. Persebaran pes juga terjadi lewat kapal dagang Italia. Tikus-tikus berkutu ikut naik kapal, menyusup di antara karung dan keranjang barang. Dalam perjalanan laut itu, banyak tikus terinfeksi pes yang mati. Namun, kutu-kutu tetap bertahan hidup. Para kutu lalu mencari tikus baru begitu mendarat. Kutu tikus punya daya tahan hidup lebih tinggi dibanding kutu rambut. Mereka mampu beradaptasi di sarang barunya. Mulanya, kutu tikus akan menempel di baju, lalu menular dari satu orang ke orang lain. Kapal-kapal dagang Italia itu mengangkut banyak muatan dari beberapa kota, seperti Venice, Genoa, London, dan Bruges. Di London dan Bruges, perdagangan Italia terhubung dengan Jerman dan Norwegia. Dari jalur perdagangan inilah pes menyebar ke segala penjuru Eropa. Di Inggris, wabah pes meluas sampai ke daerah selatan London, kemudian berlanjut hingga ke Eropa Utara. Pes sampai di Oslo pada musim gugur 1348 lewat kapal dagang Inggris yang berlayar ke arah  timur dan tenggara. Black Death di Norwegia masuk lebih cepat dibanding ke Jerman dan Belanda. Namun, lantaran tersebar melalui kutu tikus, pes di Eropa hanya muncul ketika suhu menghangat  dan menghilang ketika musim salju. Di Norwegia misalnya, sepanjang 1349 hingga 1654 tidak pernah ada wabah pes ketika musim dingin. Biasanya, epidemi merebak lagi begitu musim semi. Tingginya angka kematian akibat pes amat mengagetkan di Eropa. Mereka menganggap Black Death adalah kutukan Tuhan yang menimpa para pendosa. “Tapi ketika ada seorang beriman yang mati terkena black death, orang-orang jadi yakin kalau penyakit ini bukan dari kutukan Tuhan tapi dari udara busuk,” kata Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry, yang pernah meneliti penyakit pes untuk tesisnya, kepada Historia . Kendati memakan banyak korban jiwa, banyak orang berhasil bertahan dari wabah pes. Mereka yang bertahan ini membentuk imun tubuh yang kuat sehingga lebih sulit terjangkiti. Kondisi ini bertahan cukup lama. Profesor WJ Simpson dalam A Treatise On Plague menjelaskan bahwa di Eropa Barat selama abad ke-18 dan 19 wabah pes sudah menurun, bahkan jarang.   Epidemi ini tercatat baik dalam sejarah kesehatan Eropa dan menigggalkan trauma mendalam. Alhasil, ketika pes masuk ke Jawa pada 1910, orang-orang Belanda panik. Kebijakan yang sangat intensif pun dibuat untuk menanganinya. “Walaupun kita sebelumnya pernah terserang penyakit cacar, tapi cara-cara penanganannya tidak segencar penyakit pes yang tidak hanya lewat pemberian vaksin tapi juga isolasi dan bumi hangus desa,” kata Martina.

  • Balada Meriam Hasan

    MEMASUKI tahun 1947, serbuan tentara Belanda makin menggila di Medan Area. Hampir setiap hari pesawat pemburu mereka mondar-mandir keliling kota Medan. Tembakan dari udara menghujani kubu-kubu pasukan Republik, khususnya yang berada di front barat. Di sini, banyak orang-orang Aceh yang tergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) . “Pada tanggal 5 Januari 1947, mereka membom serta menghujani Sungai Semayam dengan tembakan dan serangan-serangan dari udara. Serangan udara Belanda datang secara bertubi-tubi tanpa mengenal ampun,” ujar Nukum Sanany kepada penulis B. Wiwoho dalam Pasukan Meriam Nukum Sanany . Serangan udara Belanda mengakibatkan korban berjatuhan. Dua orang luka-luka berlumuran darah dan seorang lainnya tewas. Prajurit yang gugur itu bernama Kopral Suparman yang berasal dari Batalion IX. Kapten Nukum Sanany, komandan pasukan meriam RIMA memutuskan memindahkan basis pertahanan dari Sungai Semayam ke Kampung Lalang. Untuk menghindari serangan udara musuh, kubu pertahanan diperkuat dengan membuat parit-parit dan benteng. Pada saat-saat demikian, terjadilah suatu lelucon di tengah perang. Seorang prajurit bernama Hasan Cumbok bikin ulah. Pangkatnya sersan satu dan bertugas sebagai komandan meriam ukuran pucuk 13 ponder. Sebagaimana dicatat Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area , sebelum bergabung dengan pasukan meriam, Hasan pernah menjadi pasukan Heiho di zaman Jepang.  Prajurit Aceh asal Pidie ini berpendidikan rendah namun wataknya keras nan berani. Sekali waktu Hasan Cumbok nekat membawa meriam ukuran 18 ponder kaliber 7,5 ke Sungai Sikambing.  Tanpa instruksi komandannya, Hasan langsung melepaskan sebanyak dua kali dengan jarak maksimal. Hasan menargetkan markas tentara Belanda akan hancur lebur kena hantam meriamnya. Menurut Nukum Sanany, Hasan belum begitu lama mengikuti latihan menembak meriam sehingga kurang menguasai sepenuhnya teknik pengoperasiannya. Dalam aksi solonya itu, Hasan mengabaikan berbagai hal, mulai dari cara bidik, mengukur jarak tembak, elevasi, dan koordinat tembakan. Tidak ayal, tembakannya melampaui sasaran. Alih-alih mengenai tentara Belanda, tembakan Hasan malah nyasar ke kawan sendiri. Peluru-peluru meriam jatuh di kota Matsum dan Tembung. Dua kawasan ini merupakan kubu pertahanan Republik yang berada di front Medan Timur. “Sebagai Komandan, bukan alang kepalang marah saya menyaksikan kelancangannya. Namun demikian saya berusaha menahan sabar seraya memaklumi kegelisahan anak-anak anggota pasukan yang belum terlatih betul,” kenang Nukum Sanany. Laporan dari komandan seksi Hasan menyebutkan bahwa Hasan ingin membalas dendam karena menyaksikan rekan-rekannya diterjang peluru pesawat pemburu Belanda. Dia tidak peduli perintah komandan, tidak peduli koordinasi, tak peduli strategi dan taktik. Emosinya yang meluap menyingkirkan akal sehat.  “Yang penting hutang nyawa dibayar nyawa, hutang darah dibayar darah. Kalau lawan bertolak pinggang kita pun harus melakukan hal yang sama,” kata Amran Zamzami sang komandan seksi. Pada 8 Januari 1947, persiapan parit-parit dan kubu pertahanan pasukan meriam di Kampung Lalang rampung. Namun kisah Hasan dan meriamnya tetap menjadi pembicaraan yang menggelikan di kalangan pasukan meriam.  Di kemudian hari, apa yang dilakukan Hasan Cumbok ini menjadi bahan tertawaan dan ejekan terhadap Pasukan Artileri RIMA.

  • Frank Lampard Legenda Bermental Baja

    TRIBUN Stadion Stamford Bridge lengang. Tiada keriuhan fans seperti biasa ketika Chelsea menjamu lawan-lawannya. Hanya beberapawartawan foto dan staf klub yang terlihat pada Sabtu, 6 Juli 2019, itu. Begitulah suasana kemunculan kembali Fran Frank Lampard ke markas klub yang pernah dibelanya selama 13 tahun itu.Lampard kembali muncul ke publik untuk diperkenalkan sebagai pelatih anyar Chelsea FC dengan durasi kontrak tiga tahun ke depan. Dia menggantikan Maurizio Sarri yang di depak di akhir musim lalu. Sepanjang kariernya sebagai pemain (2001-2014),Lampardmenjadi anak emas kesayangan fans dan tim, mengungguli pemain senior lainsemisal John Terry. Lampard juga jadi orang Inggris pertama yang menukangi The Blues , julukan Chelsea, sejak dua dekade silam. Tapi, apakah penunjukannya tepat?Fans Chelsea sendiri terbelah. Sebagian sangat suportif, lainnya pesimis bahwa penunjukannya hanya akan jadi “euforia” sementarasebagaimana comeback Ole Gunnar Solskjær ke Manchester United dari pemain menjadi pelatih, musim lalu. Biar waktu yang menjawab nanti. “Pemilihan Lampard menurut saya pilihan menarik. Sebagai pelatih dia masih muda. Memiliki history yang kental dengan Chelsea. Tapi Lampard harus lebih kerja keras untuk Chelsea, khususnya pada pemain karena tim ini berbeda situasinya. Tugasnya lebih sulit untuk menemukan pola permainan yang kini tanpa (eks-bintang yang dibeli Real Madrid, Eden) Hazard,” tutur Irfan Sudrajat, Wakil Pemred TopSkor , kepada Historia . Pengalaman Lampard sebagai pelatih profesional memang masih minim.Portfolionya baru terisi pengalaman melatih klub Derby County, yang tidak diselesaikan penuh dari kontraknya selama tiga tahun. Ia gagal membawa The Rams promosi dari kasta Champions League ke Premier League. “Saya masih ragu musim depan Chelsea bisa sukses. Untuk bisa ke posisi empat lagi pun mungkin butuh perjuangan keras. Manajemen Chelsea harus mendukung penuh. Setidaknya baru bisa dilihat dari dua musim ke depan. Bagi Lampard, ini peluang bagus dan soal tekanan, saya nilai dia sudah bisa mengatasinya dari pengalaman di Derby. Kiranya perlu dua musim juga untuk Lampard membangun Chelsea dengan situasi ini,” sambung Irfan. Tekanan bukan hal asing bagi Lampard.Kariernya yang berujung pada gelar “anak emas” dirintisnya sejak 1995 dengan modal kegigihan melewati tekanan demi tekanan. Mental yang Ditempa Sejak Belia Frank James Lampard dilahirkan di Romford, kota kecil di timur laut London, pada 20 Juni 1978 dari pasangan Frank Richard George Lampard dan Patricia Harris.Sejak bayi, ia sudah dikenalkan dengan bola oleh ayahnya yang juga eks pesepakbola West Ham United dan timnas Inggris seangkatan Bobby Moore. Lampard kecil tak pernah merasakan hidup susah sebagaimana pesepakbola legendaris lain. Hidupnya berkecukupan secara materi lantaran sang ayah sukses berbisnis properti usai pensiun dari sepakbola. Kendati amat menyukai sepakbola, olahraga itu bukan pilihan pertama Lampard ketika memutuskan merintis karier. Lampard lebih dulu menjajal kriket. Jurnalis senior Inggris Douglas Thompson dalam FrankLampard: The Biography mengungkap, saat Lampard sekolah di Brentwood School, banyak guru dan pelatihnya membicarakan potensinya jadi atlet kriket profesional. Lampard diprediksi mungkin bisa jadi pemain nasional Inggris. Ayah dan anak: Frank Lampard Jr. & Frank Lampard Sr. (Foto: Repro Frank Lampard: The Biography) Pada akhirnya, Lampard lebih memilih sepakbola karena “paksaan” ayahnya. Baginya sepakbola bukan lagi opsi, melainkan jalan hidup yang disiapkan sang ayah. Tiada yang lebih diinginkan Frank Sr. terhadap putranya selain mengikuti jejaknya. Maklum, Lampard merupakan anak laki-laki pertama.Kedua kakaknya perempuan. Lampard setengah terpaksa merintis nama sejalur dengan ayahnya , dengan bergabung ke dalam Youth Training Scheme (YTS), sekolah sepakbola di bawah naungan West Ham United , klub tempat ayahnya mengabdi sejak 1967-1985 , pada 1 Agustus 1992. “Saya hampir bergabung ke Spurs (Tottenham Hotspur, red . ) atau Arsenal. Tapi pada akhirnya saya memilih West Ham. Klub yang sejak kecil saya dukung,” u jar Frank Jr. Terus berkembangnya permainan Lampard membuatnya terpilih masuk tim muda West Ham dua tahun berselang. Pada 1995, Lampard teken kontrak profesional pertamanya kendati dirinya lantas dipinjamkan ke klub Swansea City selama semusim. Namun, memiliki ayah populer di dunia sepakbola justru menambah berat langkah Lampard dalam membangun karier profesionalnya. Tekanan psikis yang diterimanya tak ringan seiring bermunculannya nada-nada sumbang. Paling kentara adalah isu nepotisme bahwa ia pemain “titipan”. Maklum, pada 1992 itu pamannya, Harry Redknapp,menjadi asisten pelatih tim senior klub. Belum lagi ayahnya, Frank Sr., comeback ke klub sebagai pencari bakat dan pelatih tim akademi. Tekanan mental berat itu pada akhirnya membuat Lampard harus berlatih dan bekerja ekstra demi memberi bukti bahwa ia bukan pemain “titipan”. Hal itu pula yang dipesankan sang ayah kepadanya. “Jawablah dengan permainan sepakbola. Saya bilang padanya, semua pemain pernah menderita, bahkan Bobby Moore pun pernah. Yang terpenting bagaimana mengatasinya,” ujar Frank Sr. memberi nasihat. Rumor nepotisme sejatinya bukan barang baru bagi Lampad . Saat masih bermain untuk tim sekolah pun isu itu sudah m enghinggapinya lantaran Frank Sr. juga ikut melatih tim sekolahnya. Namun, tekanan psikis di level profesional tentu jauh berbeda.Utamanya, saat Lampard kembali dari masa pinjaman dan menjalani debutnya untuk tim senior The Hammers di laga resmi, 31 Januari 1996, pada usia 17 tahun. Kala itu West Ham menjamu Coventry City. Beberapa penonton di tribun Upton Park menyorakinya, yang masuk sebagai pemain pengganti John Moncur. “Saya masih belia saat menjalani laga pertama itu. Sulit di usia saat itu menerima sorakan itu karena belum punya pengalaman. Anda berupaya tak peduli tapi tetap sakit rasanya. Banyak sorakan dan cemoohan yang terdengar dan itu mengecewakan. Sambutan mereka membuat saya ingin pergi dari klub,” kenang Lampard. Namun, kegigihan membuat Lampard bertekad pantang mundur. Hal itu membuatnya jadi pribadi yang lebih kuat. Ia berlatih dua kali lebih keras dari rekan-rekannya. Rio Ferdinand, sahabat yang seangkatan sejak akademi, jadi salah satu sosok penting yang membuat Lampard bisa melalui masa-masa sulit itu. “Dengan Rio Ferdinand menjadi sahabat, sangat membantu putra saya dalam perkembangannya,” kata Frank Sr. Frank Lampard (tengah) semasa meniti karier di West Ham United (Foto: whufc.com) Soal isu nepotisme, sang ayah dan sang paman Harry Redknapp jelas membantah. Dalam bukunya, Harry Redknapp: My Autobiography, Harry mengatakan: “Saya kecewa pada beberapa fans di tribun tertentu yang memberinya kesempatan dan kepercayaan di awal-awal penampilan Frank Jr. Penonton juga mengarahkan cemoohannya pada saya dan Frank Sr. Situasinya juga sama dengan saya dan Jamie. Tapi saya percaya bahwa keputusan saya memainkan Frank Jr. adalah tepat secara profesional.” Butuh waktu hampir dua musim bagi Lampard untuk bisa melalui “siksaan” itu dan mengubahnya jadi pujaan fans. Hingga 2001, total ia tampil dalam 148 laga dengan 24 gol. Bintangnya kian benderang ketika ia kemudian bergabung ke klub elite Chelsea. “Sebelum saya bisa membuktikan diri, publik sangat skeptis. Ragu apakah saya ada di sini karena koneksi keluarga. Yang saya dapatkan hanya tuduhan bahwa saya bisa bermain hanya karena ayah dan paman saya. Sorakan itu hadir baik laga kandang maupun tandang. Sering terdengar komentar, ‘Anda tak sebagus ayah Anda.’‘Untuk mengikat tali sepatu saja Anda belum pantas.’Sakit rasanya dan menumpuk jadi tekanan,” sambung Lampard.

  • Bisnis Penyu Tempo Dulu

    PENYU menjadi satu dari ribuan spesies hewan yang menghiasi wilayah laut Indonesia. Tetapi hewan yang mampu hidup puluhan tahun, bahkan konon ratusan tahun ini selalu menjadi target perburuan liar. Setiap tahun pemerintah Indonesia berjibaku mengagalkan penyelundupan penyu-penyu yang akan dikirim ke luar negeri. Dilansir dari laman kkp.go.id , hanya tersisa 7 spesies penyu di dunia, dan Indonesia menjadi rumah bagi 6 spesies di antaranya. Pemerintah pun telah mengatur pelarangan perburuan hewan laut ini dalam UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem, serta UU No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Namun siapa sangka, hewan yang masuk dalam kategori terancam punah dan dilindungi itu pernah diperjualbelikan secara legal di Indonesia. Banyak Dicari Pada pertengahan abad ke-17, pelabuhan-pelabuhan di Makassar ramai dengan aktivitas dagang berskala internasional. Terlebih setelah VOC berhasil menguasai Maluku dan mengandalkan Sulawesi sebagai salah satu basis pengiriman rempah-rempah mereka. Adalah wajar jika kemudian Makassar menjadi tempat berkumpul kongsi dagang dari berbagai negara, seperti India, Tiongkok, dan Portugis. Namun dari banyaknya kelompok dagang yang ada, para pedagang Tiongkok memiliki pengaruh yang kuat. Mereka memegang kendali penuh atas sejumlah komoditi. Salah satunya barang mewah yang untuk ukuran sekarang tak lazim dijual, yakni tempurung penyu. Tempurung penyu dari Nusantara telah menjadi primadona bagi kekaisaran Tiongkok. Raja-raja yang berhubungan baik dengan kaisar telah menghadiahi tempurung penyu sejak berabad-abad lalu. Catatan pelaut Tiongkok menyebut penyu selalu menjadi bagian dari upeti kerajaan Nusantara, dan para kaisar sangat menyukainya. “Raja kemudian menunjuk utusan untuk membawakan sepucuk surat dan upeti yang berupa mahkota, penyu, merak, kapur barus, kamper, dan kain dari barat,” tulis W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa . Orang-orang Tionghoa menggunakan tempurung penyu untuk bahan membuat berbagai macam obat dan aksesoris yang sangat bernilai. Masyarakat, termasuk kaisar, percaya bahwa penyu dapat menjadi obat panjang umur dan kebahagiaan. Sehingga tidak heran jika pedagang Tiongkok sangat ketat menjaga transaksi barang mewah tersebut. Namun ternyata tidak hanya orang-orang Tionghoa saja yang terpikat dengan tempurung penyu dari Sulawesi ini. Para pelaut Inggris dan Portugis juga berusaha mendapatkannya sebagai bahan perdagangan ke wilayah India dan Eropa. Persaingan pun tidak terhindarkan di antara pedagang asing ini. Berdasarkan catatan-catatan pelaut Portugis yang dimuat Trade, Court, and Company: Makassar in the Later Seventeenth and Early Eighteenth Centuries karya H.A. Sutherland diketahui bahwa kegiatan perdagangan tempurung penyu ke Malaka, yang nantinya tersebar ke Eropa, bukanlah hal baru di Sulawesi. Kegiatannya telah dimulai sejak pertengahan abad ke-14. Barulah pada awal abad ke-17, permintaan komoditi ini meningkat pesat. Wilayah Gujarat, India, tiba-tiba mengajukan pembelian tempurung penyu dari Nusantara dalam jumlah yang besar. Permintaan dari Gujarat itupun akhirnya melibatkan orang-orang Eropa di dalamnya. “Keuntungan yang didapat dari perdagangan ini menarik minat para pedagang Inggris untuk juga turut ambil bagian,” tulis Yerry Wirawan dalah Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 hingga ke-20 . Belanda Ambil Bagian Pada 1616, kamar dagang Belanda menjadi distributor utama penjualan tempurung penyu dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera khusus untuk kawasan Eropa. Demi memuluskan jalannya, mereka menjalin hubungan baik dengan orang-orang Tionghoa karena saat itu para pedagang Tionghoa di Sulawesi sudah membentuk serikat dagang untuk menguasai komoditi kegemaran kaisar ini. Edward L. Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim  mengatakan pedagang Tionghoa tidak dianggap sebagai ancaman oleh VOC. Kepentingan pedagang Tionghoa atas beberapa produk, terutama produk laut, tidak mengancam monopoli rempah-rempah mereka. Oleh karena itu pedagang Tionghoa dirangkul sebagai mitra. Hingga tahun 1617, diperkirakan Belanda telah mampu menjual antara 4.000 sampai 5.000 tempurung penyu setiap tahunnya. Jumlah itu sangat besar jika dibandingkan dengan negara manapun yang menjadi pesaing dagangnya. Sekitar tahun 1650 sampai 1660, para pedagang Tionghoa menjadi pengatur proses jual beli penyu antara masyarakat sebagai pemburu, dengan orang Belanda sebagai pembeli. Keduanya tidak boleh bertemu secara langsung. Transaksi harus dilakukan melalui kelompok pedagang Tionghoa. “Pedagang Inggris mengeluhkan bahwa mereka tidak bisa membeli barang dagangan ini langsung dari para pengumpulnya dan harus melewati orang Tionghoa sebagai pedagang perantara,” kata Yerry. Untuk proses pengumpulan tempurung penyu, pedagang Tionghoa memanfaatkan kemampuan masyarakat Bugis. Peran suku pesisir itu begitu besar dalam perburuan hewan laut ini. Tempurung penyu dari familia Cheloniidae, seperti penyu sisik,menjadi yang paling banyak diburu saat itu. Banyak cara bisa dilakukan untuk melepas tempurung dari tubuh penyu. Orang-orang Bugis melakukannya dengan cara memukul kepala penyu hingga mati. Kemudian penyu-penyu itu dibiarkan membusuk agar tempurungnya mudah dilepas. Dalam salah satu artikelnya, berjudul “Pluralism and Progress in Seventeenth-Century Makassar”, Anthony Reid menyebut orang-orang Bugis membuat kontrak dengan orang Tionghoa untuk proses perdagangan tersebut. Namun tidak secara langsung, tetapi melalui penguasa Makassar. Sehingga keterlibatan masyarakat Bugis dalam perburuan tempurung penyu secara tidak langsung disebabkan oleh hubungan baik para penguasa yang memerintah di tempat tinggal mereka dengan pedagang Tionghoa.

  • Misteri Kerajaan Panai di Sumatra

    Paṇai yang dialiri sungai diabadikan dalam Prasasti Tanjore yang berasal dari 10 abad yang lalu. Negeri ini menjadi salah satu yang digempur Rajendracola I setelah pemimpin wangsa Coḷa dari India itu menghabisi Sriwijaya yang makmur. Tiga abad setelahnya Mpu Prapanca seakan mengingatkan keberadaan negeri itu. Dia menyebut Pane sebagai salah satu dari negara-negara Melayu yang dibidik dalam rencana diplomasi Majapahit dan kemudian mendapat pengaruhnya. Paṇai pun seperti menjadi incaran negara-negara besar. Ia mungkin dulunya adalah sebuah negeri yang potensial. Namun kini keberadaannya masih misteri. Padahal sudah beberapa ahli memperkirakan letaknya. Keberadaan Kerajaan Panai seolah ditegaskan dengan ditemukannya Prasasti Panai di Kompleks Percandian Biaro Bahal, PadangLawas, Sumatra Utara. Sayangnya banyak tulisan dalam prasasti ini tak terbaca karena kondisinya aus. "Menurut hasil penelitian kami pada baris ke-10 prasasti tersebut terdapat bacaan Paṇai," kata Lisda Meyanti, peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Lewat tulisan "Prasasti Panai: Kajian Ulang Tentang Lokasi Kerajaan Paṇai" dalam Jurnal AMERTA, Lisda menjelaskan terdapat penyebutan kata kuṭi  dalam prasasti itu. Kemungkinan ini ada kaitanya dengan bangunan suci Buddha, berupa candi yang oleh masyarakat setempat disebut biaro. Adapun gelar haji yang menyertai kata kuti menunjukkan di daerah itu terdapat kerajaan kecil yang dipimpin seorang haji . Ia kemudian didharmakan dengan sebuah candi. Artinya, Panai mungkin merupakan kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar haji . Sebagian wilayahnya berupa padang dengan sungai yang oleh penduduknya dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari. Raja yang memimpin Paṇai menganut agama Buddha. Prasasti Panai Lisda menulis, kendati jelas disebutkan kata "Paṇai" dalam prasasti itu, masih belum cukup untuk menunjuk tempat penemuannya sebagai lokasi kerajaan. "Prasasti itu merupakan artefak bertulis yang dapat dipindahkan. Ada kemungkinan Prasasti Paṇai tidak berasal dari daerah tempat prasasti itu ditemukan," jelasnya. Bila mencermati Prasasti Tanjore di India, kemungkinan Kerajaan Panai terletak di Sumatra. Sebab,  Kakawin Nagarakṛtagama  menyebut Paṇai merupakan salah satu kerajaan kecil di bawah naungan Kerajaan Malayu (Sumatra). Lebih spesifik lagi, George Coedès dalam Asia Tenggara Masa Hindu Buddha , menunjuk pantai timur Sumatra yang berhadapan dengan Malaka sebagai lokasi Paṇai.  Sedangkan Kéram Kévonian, sejarawan Armenia dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (EHESS) Prancis, dalam tulisannya "Suatu Catatan Perjalanan di Laut Cina dalam Bahasa Armenia" termuat di  Lobu Tua: Sejarah Awal Barus , menyimpulkan kalau Paṇai adalah nama sebuah pelabuhan di pantai timur Sumatra Utara. Lokasi tepatnya di Labuhan Bilik sebagai muara akhir Sungai Barumun. Nama Panai masih dijumpai hingga kini. Lisda menjelaskan, di daerah Sumatra Utara, banyak daerah yang menggunakan nama Panai. Di Kabupaten Labuhanbatu terdapat Kecamatan Panai Tengah, Kecamatan Panai Hulu, dan Kecamatan Panai Hilir. Ketiganya berada di pesisir timur pantai Sumatra, dekat dengan Malaka. Ada juga sungai yang dikenal dengan nama Sungai Batang Pane, anak Sungai Barumun. Di dekat Sungai Batang Pane, terdapat kecamatan dengan nama sama, Batang Pane. Wilayah ini masuk ke dalam Kabupaten Padang Lawas di mana Prasasti Panai ditemukan. Di sana banyak sumber daya arkeologi yang berasal dari abad ke-11–14 M. Di antaranya bangunan keagamaan berupa kompleks candi yang oleh masyarakat setempat disebut biaro . Melihat itu Kawasan Padang Lawas mungkin bisa dipertimbangkan sebagai lokasi Kerajaan Panai. Ini dukung pula dari keterangan Prasasti Tanjore mengenai keadaan geografi Kerajaan Paṇai bahwa kerajaan ini diapit oleh sungai-sungai dan dipagari oleh pegunungan. "Asumsinya, Paṇai adalah sebuah wilayah yang memiliki dermaga sungai dan pegunungan," kata Lisda. Prasasti Panai pun memberikan petunjuk dengan memuat kata-kata seperti naik  dan  turun . Beberapa kata menggambarkan wilayah berair, seperti sungai , perahu , mengalir , hilir , ikan , dan sawah . Itu cocok dengan kondisi alam tempat ditemukannya Prasasti Paṇai di Padang Lawas, berupa daratan yang dipagari oleh gunung dan diapit oleh dua sungai: Sungai Batang Pane dan Sungai Barumun. "Kemungkinan besar Panai adalah nama asli Padang Lawas. Panai seharusnya terletak di kawasan Padang Lawas," jelas Lisda. Padang Lawas pun strategis karena memiliki dua gerbang pelabuhan, Barus di barat dan Labuhan Bilik di timur. Ini memberi gambaran ramainya kawasan itu pada masanya. Ditambah lagi, menurut Lisda, kemungkinan pada masa lampau Padang Lawas lebih subur dibandingkan sekarang. Karenanya Kerajaan Paṇai sangat kaya akan hasil hutan, khususnya kapur barus dan ternak. Belum lagi hasil perut buminya seperti emas. “Hanya masyarakat yang kaya dan makmurlah yang mampu membangun candi,” kata Lisda. Akhirnya, seperti kata Kéram Kévonian, Kerajaan Paṇai menjadi penting karena memiliki komoditas utama yang diperebutkan di pasar internasional. Barang itu diperdagangkan di pelabuhan bertaraf internasional yang terletak di pantai barat, Barus maupun di timur, Labuhan Bilik.

  • Muasal Sub-Zero yang Diperankan Joe Taslim

    PASANG kuda-kuda, pusatkan konsentrasi terhadap lawan, Fight! Masih ingat dengan aba-aba itu? Jargon-jargon itu kondang berkat populernya video gim Mortal Kombat , gim pertarungan paling beken era 1990-an sebagai pesaing Street Fighter dan Tekken . Meski mulanya sekadar arcade game , Mortal Kombat sukses saat diangkat ke layar lebar pertamakali pada 1995. Dua tahun berselang, sekuelnya dilanjutkan dengan judul Mortal Kombat: Annihilation . Buat para penggemarnya, kini ada kabar gembira. Mortal Kombat bakal di- reboot sutradara Simon McQuoid dengan diproduseri James Wan di bawah rumah produksi Atomic Monster . Sementara Greg Russo didapuk jadi penulis naskahnya. Menariknya, mengutip The Hollywood Reporter , Selasa (9/7/2019), James sudah deal dengan aktor pertama untuk memerankan karakter Sub-Zero, yakni aktor Indonesia Joe Taslim. Sebetulnya, sempat muncul nama aktor Jepang Hiroyuki Sanada untuk memerankan Sub Zero yangbernama asli Bi-Han itu. Namun, Joe Taslim yang akhirnya terpilih memainkan petarung yang punya kekuatan pukulan es mematikan itu. “Saya menjadi (Sub) Zero karena Anda (para fans) nomor satu bagi saya! Terimakasih semua atas support- nya selalu,” ungkap Joe Taslim di akun Twitter -nya, @Jota, 10 Juli 2019. Aktor laga berusia 38 tahun yang mantan atlet pencak silat, wushu, taekwondo, dan judo itu sejak beberapa tahun terakhir laris di Hollywood selepas keterlibatannya dalam film The Raid (2011). Peraih medali emas Kejuaraan Judo Asia Tenggara 1999 dan perak di SEA Games 2007 itu berturut-turut digaet untuk membintangi sejumlah film box office , mulai dari Fast & Furious 6 (2013) hingga Star Trek Beyond (2016). Dipilihnya Joe Taslim ditengarai tak lepas dari kesuksesannya dalam seri action yang diputar di Netflix, Warrior . Joe berakting apik sebagai salah satu kombatan brutal dalam sinema laga itu. Karakter Sub-Zero dalam gim Mortal Kombat 11 (Foto: mortalkombat.com) Mortal Kombat yang akan dibintangi Joe tergolong “Rating-R” alias penuh adegan brutal dan diharamkan ditonton anak-anak. “MK ( Mortal Kombat ) akan jadi film Rating-R dan untuk pertamakali, Fatalities akan disajikan di layar lebar. Anda harus menanti apa kejutan fatalities -nya,” kata Russo di Twitter -nya, @WriterRusso, 12 Juli 2019. Namun, para penggemar dan penikmat gim serta filmnya mesti bersabar. James dkk. menetapkan waktu rilisnya medio Mei 2021. Bulan ini disebutkan proses produksinya masih dalam tahap persiapan di Australia. Beberapa karakter lainnya juga belum diresmikan kendati rumor para calon pemeran sudah menyebar sejak Juni. Situs fortressofsolitude.co.za pada 27 Juni 2019 sempat melempar sejumlah nama itu, seperti Jin Zhang dan Sung Kang untuk peran Liu Kang, dan ken Watanabe untuk Shang Tsung. Alkisah Dua Ninja Bersaudara Sebagai salah satu karakter pionir di gim Mortal Kombat milik Midway Games yang dirilis pertamakali tahun 1992, Sub-Zero lahir dari tangan desainer gimnya, John Tobias dan Ed Boon. Gagasan awal penciptaannya bermula dari kekaguman Tobias akan karakter Lin Kuei sebagai ninja versi China dalam buku The Chinese Ninja Connection karya Li Hsing. Dibantu rekan desainer lainnya, Richard Divizio, Tobias melakoni sejumlah trial and error kala menggoreskan sosoknya di sejumlah lembar kertas catatan 27 tahun lampau. Awalnya dia hanya menyebut karakter barunya itu dengan sebutan “Ninja”, sebagaimana desain awalnya berkostum perpaduan antara ninja asli Jepang dan versi China. Dalam perkembangannya sebelum ikut dimasukkan ke gim, karakter itu diberi nama Sub-Zero. Tobias juga merevisi ciri-ciri fisiknya demi membedakan dengan karakter Lin Kuei di buku Li Hsing. Untuk latar belakang karakternya, mengutip Majalah MEL edisi 26 November 2018, Tobias punya gagasan bahwa karakternya merupakan dua kakak-beradik yang dinamai Bi-Han (Sub-Zero) dan Kuai Liang (Tundra). Keduanya dikisahkan punya ambisi merebut kekuasaan dalam klan mereka dengan membunuh ayah mereka sendiri. Keduanya lantas jadi buron para anggota klan. Untuk keperluan grafis di gimnya, Tobias meminta Daniel Pesina untuk melakoni gameplay -nya. “Pertamanya ia ingin membuat cerita bahwa dua ninja bersaudara ini akan bertarung satu sama lain. Saya usulkan bahwa saudara tak boleh saling pukul. Lalu John punya ide lain bahwa ceritanya dua ninja ini akan membunuh ayahnya demi jadi pemimpin klan dan akhirnya itu yang dipakai,” ujar Pesina kepada MEL . Dalam gameplay , Pesina memainkan karakter Bi-Han/Sub-Zero dengan finishing khas berupa pukulan pemenggal kepala dan pukulan es yang membuat musuh jadi beku lantas hancur. Dalam gimnya, itu dibuat Tobias dan Boon jadi lebih brutal dan sadis demi membedakan diri dari dua pesaingnya, Street Fighter dan Tekken. Sketsa awal Sub-Zero karya John Tobias (Foto: Twitter @therealsaibot) Dalam gim pertamanya itu, nasib Bi-Han/Sub-Zero dibuat tewas dalam sebuah turnamen oleh petarung lain, Scorpion. Bi-Han lantas jadi mayat hidup dan karakternya diubah dengan nama Noob Saibot, yang namanya merupakan kombinasi dua nama belakang terbalik kreator Mortal Kombat: Boon dan Tobias. Untuk melanjutkan kisahnya, Sub-Zero digantikan adiknya, Kuai Liang, yang dikreasikan Tobias hampir mirip sang kakak namun tanpa topeng ninja. Kuai Liang sebagai Sub-Zero langsung dimunculkan dalam sekuel gimnya yang rilis 1993, Mortal Kombat II. Dalam layar perak, di mana Mortal Kombat diangkat dengan tajuk yang sama pada 1995, sosok Sub-Zero versi Bi-Han diperankan aktor laga François Petit. Sementara di sekuelnya, Mortal Kombat: Annihilation (1997), Sub-Zero versi Kuai Liang diperankan aktor blasteran Jepang-Amerika Keith Cooke. Menarik dinantikan bagaimana Joe Taslim akan memainkan peran unik ini dua tahun mendatang.

  • Soe Hok Gie dan Harta Karun Watanabe

    AGUSTUS 2000. Telepon di meja Rudy Badil berbunyi nyaring. Pada dering kedua, jurnalis senior Kompas itu lantas mengangkatnya. Terdengarlah suara lelaki berdialek Jawa di seberang sana, memperkenalkan diri sebagai wakil dari sebuah perusahaan ternama di Surabaya. Kepada Badil dia menawari sebuah pekerjaan besar: proyek pencarian harta karun peninggalan tentara Jepang senilai 82,62 trilyun rupiah! “Mereka bilang memerlukan saya sebagai konsultan. Kerjanya cuma masuk hutan sesuai arahan peta, lalu menafsirkan isi kalimat proposal dan meriset data kepustakaan guna mendukung mega proyek itu,” kenang Rudy kepada Historia . Yang paling mengagetkan Badil, proyek itu ternyata tersangku paut dengan sahabatnya, Soe Hok Gie. Menurut cerita sang empu pekerjaan, Soe waktu studi ke Kanada dan Jepang pernah mempelajari suatu naskah harta karun yang disembunyikan di Gunung Semeru oleh seorang perwira Jepang bernama Watanabe pada 1944. Dokumen Watanabe  inilah yang dibawa oleh Soe ke Puncak Mahameru pada Desember 1969. Takdir menentukan Soe harus tewas di Mahameru, puncak tertinggi Gunung Semeru. Saat proses evakuasi, dokumen itu ditemukan oleh pemimpin SAR. “Lalu entah gimana ceritanya, dokumen terjemahan itu ada di tangan seseorang, yaa sebut saja namanya A-deh. Orangnya gua kenal kok,” ungkap Rudy Badil. Sejak itulah, mulai 4 Oktober 1976, selalu ada tim khusus yang diberangkatkan ke Puncak Mahameru secara diam-diam. Namun karena masalah beaya, “rahasia” harta karun Watanabe itu kemudian dibagikan kepada perusahaan tersebut dan disetujui untuk ditindaklanjuti. Maka terbentuklah Tim Pencari Lokasi Simpanan Harta Karun Watanabe 1944. “ Gua lihat sendiri proposalnya yang berjudul “Mencari Potensi Alam dalam Rangka Menyongsong Otonomi Daerah Melalui Penggalian dan Pemanfaatan Peninggalan Jepang” tertanggal 23 Agustus 2000,” ujar penulis sakaligus fotografer itu. Disebutkan dalam proposal tersebut, berita itu bukanlah sekadar rumor belaka. Ada beberapa nama saksi di sana yang dijelaskan merupakan mantan pekerja romusha dan pegawai di era revolusi. Tentu saja tak ketinggalan dokumen Watanabe yang katanya telah diterjemahkan oleh Soe Hok Gie menjadi data-data penguat keberadaan harta karun itu. “Mereka juga bilang, bukti di lapangan juga sudah ada yakni seringnya orang-orang datang ke lokasi untuk melakukan pencarian harta karun dengan cara menggali secara manual,” tutur Badil. Situasi semakin “seru” manakala Pemda Provinsi Jawa Timur pada 24 Maret 2000 menyurati jajarannya agar meneliti dan mengecek soal harta karun itu. Mereka rupanya “ngiler” juga mendengar isi harta karun itu yang (katanya) terdiri dari perhiasan emas, emas lantakan, berlian, mutiara dan emas putih yang konon ditempatkan dalam sebuah gua rahasia.  Disebutkan pula adanya alat-alat perang (seperti senjata, tank, ranpur dan granat) yang masih tertinggal di sana. “Makanya kata mereka, bawanya harus hati-hati dan melibatkan militer, karena gua itu juga penuh dengan jebakan berupa ranjau darat dan gas beracun yang dialirkan melalui pipa. Pokoknya kayak di film-film deh,” kata Badil sambil tertawa. Secara pribadi, Badil sendiri tak pernah menganggap serius cerita itu. Selain banyak bohongnya (misalnya soal Soe yang pernah ke Jepang), dia juga tahu pasti bahwa pimpinan SAR yang disebut-sebut sebagai awal dari munculnya cerita itu tak lain adalah Herman O. Lantang, sahabat Badil dan Soe. Saat melakukan pendakian ke Semeru pada Desember 1969, mereka merupakan kawan satu tim juga. Ketika Badil memperlihatkan salinan proposal itu kepada Herman, sesepuh MAPALA UI itu hanya tertawa geli saja. “Orang banyak yang aneh-aneh saja ya. Pimpinan SAR yang tak pernah ada itu pintar menjual sensasi dan informasi tipu-tipu…” ujar Herman seperti dikutip Badil dalam buku Soe Hok Gie Sekali Lagi . Soal isu harta karun Jepang itu sebenarnya bukan soal yang asing bagi para penduduk di sekitar Lumajang dan Malang Selatan. Terlebih pada 1946-1949, wilayah Gunung Semeru dan sekitarnya,  pernah menjadi  basis sekira 30 eks tentara Jepang yang membelot ke pihak Republik Indonesia pimpinan Mayor Tatsuo Ichiki alias Abdul Rachman. “Pak Tatsuo ini adalah kawan baiknya Pak Zulkifli Lubis, yang mendrikan pertama kali lembaga intel di Indonesia,” ujar Shigeru Ono, salah satu dari 30 eks tentara Jepang itu, kepada saya pada 2013. Di antara nama-nama rekannya di Pasukan Gerilya Istimewa (kesatuan yang dibentuk oleh eks tentara Jepang tersebut), Shigeru Ono sendiri tak pernah menyebut nama Watanabe. Namun mengenai penyembunyian senjata, amunisi, logistik dan sejumlah meriam di sebuah gua di Garotan (Malang Selatan bukan Lumajang) diakui oleh Shigeru dan dikonfirmasi dalam tulisan Letnan Kolonel AL (Purn) Satmoko Tanoyo dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid V .

  • Hubungan Aneh Belanda-Aceh

    HUBUNGAN antara Aceh dan Belanda memang aneh. Dalam sejarah, kedua pihak tak jarang terlibat dalam bentrokan besar, yang tentunya merugikan (terutama secara ekonomi) bagi Belanda maupun Aceh. Bahkan untuk menguasai wilayah paling ujung Sumatera tersebut, Belanda perlu menerapkan strategi khusus yang  belum pernah dilakukannya di negeri manapun juga.  Namun Aceh dan Belanda pernah sama-sama tertarik menjalin hubungan dagang dan birokrasi. Itu terjadi pada paruh pertama abad ke-17. Aceh adalah pandangan pertama Belanda ketika akan memulai menguasai perdagangan Nusantara. Mereka tahu bahwa Aceh telah menjalin hubungan yang sangat luas dengan India, Pesia, dan Timur Tengah. “Kontak awal dengan Aceh jauh daripada menguntungkan bagi orang Belanda karena mereka bergantung pada kemauan baik Raja Aceh,” tulis Cees van Dijk dalam “Utusan, Budak, Seorang Pelukis, dan Beberapa Siswa” dimuat Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 . Belanda memerlukan banyak siasat untuk menarik hati Sultan Alauddin Riayat Syah. Tetapi tidak mudah karena Portugis saat itu masih menjadi favorit sang sultan. Usaha pertama Belanda terjadi pada 1599, ketika mengirim dua bersaudara, Corenelis dan Frederick de Houtman. Namun mereka gagal meyakinkan sultan Aceh. Cornelis tewas dalam pertempuran, sementara Frederick ditawan selama dua tahun. Dua perjalanan selanjutnya juga mengalami kebuntuan. Barulah pada usaha yang keempat, sultan mulai tergerak untuk membuka diri kepada Belanda. Pada 1601, Belanda mengirim empat buah kapal ke Aceh. Kali ini mereka tidak datang dengan tangan kosong. Ada sepucuk surat dari Pangeran Maurits, lengkap dengan hadiah berupa ribuan keping emas, senjata berlapis emas, cermin, dan barang mewah lainnya. Di dalam suratnya, Pangeran Maurits mengatakan bahwa sultan telah disesatkan oleh omongan-omongan bangsa Portugis tentang Belanda. Pangeran Belanda itu bahkan menawarkan bantuan militer untuk melawan musuh-musuh Aceh. “Akibat surat itu, dan tentunya beberapa hadiah, telah terjadi titik balik yang menguntungkan Belanda. Selain berkat sikap angkuh orang Portugis yang mendesak membangun sebuah benteng Portugis,” kata Cees. Setelah menerima niatan baik Belanda itu, sultan kemudian memutuskan untuk mengirim utusan ke negeri Belanda. Ia ingin memberikan beberapa hadiah sebagai balasan, dan melihat keadaan di kerajaan yang akan menjadi kawannya itu. Utusan dari Aceh terdiri dari tiga orang, yakni duta besar Aceh Tuanku Abdul Zamat (Abdul Hamid), Laksamana Raja Seri Mohmat (Sri Muhammad), dan seorang kemenakan sultan Meras San (Mir Hasan). Mereka berangkat dengan didampingi beberapa orang pembantu, pedagang Arab, dan penerjemah. Perjalanan yang dilakukan dengan menumpang kapal Belanda itu memerlukan waktu yang sangat panjang dan tidak mudah. Pada 1602, setelah menjauhi Tanjung Harapan, di dekat Pulau Saint Helena, kapal-kapal Belanda yang membawa utusan itu dihadang oleh kapal Portugis. Setelah kejar-kejaran selama beberapa hari, akhirnya kapal Belanda berhasil ditawan. Walau nyaris celaka, tetapi para utusan akhirnya dapat sampai ke negeri Belanda. Namun pada 9 Agustus 1602, ketika berada di Middleburg Abdul Zamat meninggal dunia dalam usia 71 tahun. Dengan tata cara syariat Islam, ia pun dimakamkan di belakang pekarangan gereja Saint Pieters, Middleburg. “Dalam upacara yang khidmat itu, Middleburg maupun Vlissingen menjadi kosong karena penduduknya menyaksikan peristiwa yang berlum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Cees. Setelah prosesi pemakaman, para utusan kembali melanjutkan perjalanannya menemui Pangeran Maurits. Karena saat itu Belanda sedang berperang dengan Spanyol, para utusan dari Aceh secara tidak langsung ikut merasakan atmosfir pertempuran antar negara besar di Eropa kala itu. Saat para utusan tiba, Pangeran Maurits sedang mengepung kota Grave sehingga tidak bisa menemui mereka di Middleburg. Akhirnya para utusan Aceh memutuskan mendatangi sang pangeran di medan perang. Setelah sampai, mereka segera dikawal oleh pasukan berkuda menuju kediaman pangeran. Di sana, para utusan disambut dengan baik. Usai jamuan makan, pangeran Maurits mengundang para pembesar kerajaan untuk beraudiensi dengan Seri Mohmat dan lainnya. Sebagai pengganti duta besar, Seri Mohamat ditugasi memberikan dua pucuk surat dan beberapa hadiah dari Sultan Aceh. Mereka membawa sebilah belati yang gagangnya dilapisi emas, piring emas, sebuah bola kayu berisi tiga cawan emas, dan sebuah piala emas. Masing-masing cawan telah diisi kamper dari Kalimantan, yang sangat disukai orang-orang Eropa. “Hadiah lain yang tidak disebutkan dalam daftar itu adalah seekor kakatua merah, yang menurut cerita dapat berbicara bahasa Arab,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 . Setelah beberapa bulan tinggal di kediaman Pangeran Maurits, para utusan Aceh bertolak ke Amsterdam. Mereka tidak langsung kembali ke tanah air. Di sana, para utusan tinggal cukup lama untuk menikmati kota-kota di Belanda dan negara sekitar. Praktis para utusan Aceh itu tinggal selama 15 bulan di negeri Belanda, dengan biaya seluruhnya ditanggung oleh pemerintah Belanda yang mendapat bantuan dana dari VOC. Pada Desember 1603, Seri Mohamat dan lainnya memulai perjalanan pulang ke Aceh dengan menggunakan kapal Belanda. Kurang lebih setahun kemudian, mereka tiba di hadapan sultan untuk menceritakan pengalamannya selama di negeri kincir angin itu.

  • Bali Sebelum Dikuasai Majapahit

    Sebelum balatentara Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada datang, Bali telah diperintah oleh banyak raja. Mereka silih berganti memberi pengaruh yang kuat. Banyak perubahan yang dibawa oleh mereka, termasuk sistem pemerintahan yang sebelumnya tidak dikenal oleh rakyat Bali. Dinasti Marwadewa menjadi penguasa paling termasyhur di Bali. Keturunannya mampu mempertahankan kekuasaan selama lebih dari satu abad, hampir tanpa konflik internal. Tetapi jauh sebelum dinasti itu berkuasa, Bali telah membangun bentuk kenegaraan di bawah pimpinan Singha Mandawa. Singa Mandawa adalah sebuah kerajaan yang ada di wilayah Panglapuan. Pada eranya, seluruh rakyat Bali menyatakan tunduk dan menghamba. Walau kekuasaannya tidak terlalu lama, yakni hanya 60 tahun, tetapi pengaruhnya cukup besar.  Prasasti Dinaya di Jawa Timur dan Prasasti Canggal di Jawa Tengah yang dibuat pada pertengahan abad ke-8 menceritkan asal-usul kerajaan Singha Mandawa itu. Dikisahkan ada seorang utusan dari Sriwijaya yang datang ke Jawa. Mereka dikenal sebagai masyarakat Gaja Yana, karena dalam prasasti tidak disebutkan nama kerajaannya, dan tinggal di wilayah Jawa Timur. “Ada pendapat yang mengatakan bahwa nama raja-raja yang ada dalam Prasasti Dinaya merupakan keluarga Raja Sanjaya yang diperintahkan datang ke Jawa Timur atas desakan Kerajaan Sriwijaya dari Dinasti Sailendra,” tulis Narendra Pandit Shastri dalam Sejarah Bali Dwipa . Mereka cukup lama membangun kekuasaan di timur Jawa. Namun setelah pertengahan abad ke-8, tidak ada lagi prasasti yang menjelaskan mengenai kerajaan tersebut. Narendra Pandit Shastri, seorang terpelajar dari India yang memperdalam kebudayaan Bali, meyakini keadaan itu terjadi akibat masyarakat Gaja Yana diserang oleh kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayah kekuasaannya. Mereka kemudian memilih pergi menyelamatkan diri ke sebuah pulau di sebelah timur, yang sekarang dikenal sebagai Bali. Keberadaan Gaja Yana di Bali diperkuat dengan adanya tokoh bernama Gaja Wahana pada naskah Usana Bali . Dalam Babad Usana Bali Paulina: Singamandawa-Bedahulu-Gelgel yang ditulis I Nyoman Kanduk Supatra, Gaja Wahana digambarkan sebagai seorang raja yang baik, perhatian, serta benar-benar mencintai rakyatnya. Bila diperhatikan, kata Wahana memiliki arti yang sama dengan Yana , yakni “kendaraan”. Sehingga jelas bahwa kedua nama itu menunjuk pada satu tokoh yang sama. Kemudian di Bali berdiri sebuah pemerintahan, “Singha Mandawa”, yang namanya diambil bukan dari bahasa Bali Kuno, melainkan Sanskerta. “Mungkin sekali nama itu diambil dari nama Dewa Singha, ayah Raja Gaja Yana. Lain dari pada itu, prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Kerajaan Singha Mandawa sama sifatnya dengan prasasti-prasasti Dinaya,” tulis Narendra. Dari hasil penelitian, ada tujuh prasasti yang pernah dikeluarkan Kerajaan Singha Mandawa. Seluruhnya ditulis antara tahun 882 hingga 914. Di antara tujuh prasasti itu tidak memuat nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya sehingga agak sulit menentukan siapa raja termasyhur pada masa tersebut. Prasasti-prasasti itu lebih banyak menceritakan perhatian kerajaan terhadap kehidupan spiritual dan kesejahteraan masyarakat Bali. Seperti pembangunan tempat-tempat ibadah dan tempat tinggal para brahmana. Atau penghapusan pajak untuk beberapa kelompok masyarakat. Namun sayang tidak disebutkan letak pusat pemerintahannya. Hanya disebutkan bahwa wilayah Singha Mandawa meliputi Bali utara hingga ke Bangli dan Tampaksiring. Setelah berkuasa cukup lama di Bali, pemerintahan Singha Mandawa pun digantikan oleh kekuasaan Dinasti Warmadewa. Runtuhnya Kerajaan Singha Mandawa tidak dijelaskan dalam prasasti manapun. Namun ada sebuah pilar batu yang menyebut seorang tokoh bernama Kesari Warmadewa. Dia digambarkan sebagai seorang raja yang berkuasa atas raja lain setelah berhasil menaklukkan banyak wilayah. Sehingga besar kemungkinan wilayah Singha Mandawa berhasil ditaklukkan oleh Kesari Warmadewa. “Raja-raja dari dinasti ini berkuasa di Bali paling sedikit selama satu abad. Kesari Warmadewa sendiri berhasil menaklukkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Suwal,” tulis I Wayan Ardika, dkk. dalam Sejarah Bali: Dari Prasejarah Hingga Modern . Lokasi Gurun dan Suwal sendiri belum diketahui hingga sekarang. Namun dari catatan-catatan yang ada, para ahli menyimpulkan bahwa Gurun menunjuk pada Pulau Lombok, sementara Suwal merupakan nama Bali pada masa itu. Dinasti Warmadewa diyakini berasal dari Kerajaan Sriwijaya, yang diutus oleh rajanya untuk menaklukkan wilayah Jawa. Nama “Warmadewa” sendiri sering dipakai raja-raja di Sriwijaya, misal Mauli Bhusana Warmadewa, atau Senggrama Wijaya Tungga Warmadewa. Perlu diingat bahwa pada masa itu ada dua kerajaan besar yang bersaing menyebarkan pengaruhnya di seluruh Nusantara, yaitu Sriwijaya dan Wangsa Sanjaya. Kerajaan Sriwijaya lebih unggul dari pesaingnya karena telah berhasil menguasai Kalimantan, Sumatra, Jawa bagian barat, bahkan hingga ke luar wilayah Indonesia sekarang. Sehingga tidak heran jika pengaruh Sriwijaya disebutkan sampai di Pulau Bali dan sekitarnya. Keberadaan Kesari Warmadewa sebenarnya serupa dengan Gaja Yana yang menjadi leluhur Kerajaan Singha Mandawa. Keduanya sama-sama utusan raja Sriwijaya. Keturunan Gaja Yana yang mendirikan pemerintahan di Bali dianggap telah keluar dari kekuasaan Sriwijaya sehingga kerajaan besar Sumatra itu pun menaklukannya. Kesari Warmadewa berhasil mendirikan pemerintahan baru di Bali. Dia pun dinobatkan sebagai pendiri sekaligus raja pertama Dinasti Warmadewa, dengan gelar Raja Sri Wira Kesari Warmadewa. Raja Kesari Warmadewa dikenal sebagai raja yang bijaksana dan cerdas. Dia mampu membangun kerajaan yang stabil di lereng Gunung Agung, di sekitar desa Besakih sekarang ini. Raja termasyhur lainnya dari Dinasti Warmadewa adalah Sri Udayana. Dia memerintah pada 989, dengan gelar Sri Dharma Udayana. Pada masanya, Kerajaan Warmadewa sangat dicintai oleh rakyat. Kerajaan menerapkan nilai pajak yang rendah untuk semua orang. Kesejahteraan pangan pun sangat diperhatikan. Sri Udayana dikaruniai tiga orang putra, yakni Airlangga, Marakata, dan Walaprabu alias Anak Wungsu. Putra pertamanya, Airlangga, dijodohkan dengan putri Sri Darmawangsa Teguh dari Kerajaan Medang, Diah Kili Suci. Namun saat acara pernikahan berlangsung, terjadi kerusuhan di Medang. Raja tewas dalam kejadian itu, sementara Airlangga dapat melarikan diri dan mendirikan kerajaan Kahuripan. Dia pun dikaruniai dua putra, Sri Jayasabha dan Sri Jayabaya, yang masing-masing ingin menjadi raja. “Karena ditakutkan ada perselisihan akhirnya diusulkan salah satu di antara keduanya akan menjadi raja Bali. Namun ditolak karena Bali telah memiliki calon raja, yakni Anak Wungsu,” tulis Tjokorda Raka Putra dalam Babad Dalem: Warih Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan . Pada masa pemerintahan Sri Jaya Kesunu, keturunan Anak Wungsu, Bali mengalami kehancuran. Sang raja membiarkan negara hancur karena dia takut dengan mitos di kerajaannya yang menyebut bahwa siapapun yang berkuasa pasti berumur pendek dan tidak akan bahagia. Dia pun memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan bertapa dan melupakan urusan pemerintahan. Akibatnya banyak bangunan suci yang rusak, dan tidak ada perhatian dari pemerintah untuk kegiatan-kegiatan keagamaan yang sebelumnya telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Bahkan kejahatan pun dibiarkan terjadi. Kehancuran kerajaan Warmadewa pun tampak semakin nyata. “Tidak ada kesujudan manusia pada Dewata, tidak ada tapa-brata, tidak berlaku tata tertib, dan tidak ada niat untuk mewujudkan kebaikan,” tulis Tjokorda Raka Putra. Sri Jaya Kesunu kemudian digantikan putranya, Sri Jaya Pangus. Raja baru ini berhasil menjalankan kembali upacara-upacara yang sebelumnya ditinggalkan. Pemerintahannya mampu membawa keamanan di Bali. Sri Jaya Pangus memindahkan pusat kerajaannya dari Gunung Agung ke Bedahulu Gianyar. Pada 1286, Bali diserang oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari. Bali yang diperintah raja putri Adhi Dewalancana mengalami kekalahan dan sang raja dibawa ke Jawa. Untuk mengisi kekosongan, diangkatlah Kryan Demung dari Singhasari. Memasuki tahun 1324, pemerintahan raja dari Singasari berakhir setelah kerajaan itu mengalami keruntuhan. Pemerintahan di Bali pun diambil alih oleh Sri Walajaya Kertaningrat. Setelah wafat, singgasana Bali diberikan kepada Sri Asta Sura Bhumi Banten pada 1337. Walau singkat, pemerintahan Sri Asta Sura Bhumi Banten dianggap sebagai raja terkuat di Bali. Ia didampingi dua orang patih yang terkemuka, yakni Ki Pasung Gerigis dan Ki Kebo Iwa. Saat Majapahit menyerang, keduanyalah yang membuat pasukan besar dari Jawa itu kerepotan. Setelah Sri Asta Sura Bhumi Banten dikalahkan oleh pasukan Gajah Mada, kekuasaan di Bali diambil alih oleh keturunan Majapahit, dan dikenal sebagai kerajaan Bali Baru.

bottom of page