top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kursk, Kisah Getir di Laut Barents

    DI pagi yang cerah 12 Agustus 2000, ia lepas jangkar di Pangkalan Angkatan Laut (AL) Rusia Vidyayevo, Murmansk. Lambaian tangan sejumlah bocah yang kagum akan keperkasaannya melepas kepergiannya menuju Laut Barents. Tapi siapa sangka, penampakannya pagi itu sebelum menyelam akan jadi penampakan terakhir Kapal Selam Nuklir K-141 Kursk. Letnan Mikhail Averin (Matthias Schoenaerts) dengan antusias melakoni tugasnya sebagai kepala unit turbin di kompartemen tujuh di buritan. Kapal selam canggih yang baru berusia enam tahun itu bakal jadi salah satu bintang dalam latihan bersama Armada Utara Rusia untuk kali pertama dalam 10 tahun terakhir. Tetapi belum juga sepenuhnya bergabung bersama sekira 30 kapal perang Rusia lain, bencana sudah menghantui Kursk. Berulangkali dua rekan sekaligus sahabat Averin di ruang torpedo, Anton Markov (August Diehl) dan Pavel Sonin (Matthias Schweighöfer), memberi peringatan kepada Kapten Shirokov (Martin Brambach) soal masalah teknis di sistem torpedo dummy yang akan dipakai latihan, namun justru diabaikan. Akhirnya, sebuah ledakan terjadi di kompartemen torpedo yang membuat kapal selam itu menghantam dasar laut. Satu ledakan lebih besar meletup sesaat kemudian dan membuat sebagian besar kru Kursk tewas. Situasi kian kritis lantaran haluannya hancur. Sutradara Thomas Vinterberg tak berlama-lama menggambarkan kengerian itu. Ia ingin langsung menyajikan inti film bertajuk Kursk itu kepada penonton. Pasalnya Vinterberg dan penulis skenario Robert Rodat bukan sedang menyuguhkan film action. Kenyataan Getir Tersisa 23 kru yang masih hidup dari total 118, Averin mati-matian menuntun 22 rekannya untuk mengevakuasi diri di Kompartemen 9 di buritan. Mereka berjuang mempertahankan hidup dengan keterbatasan oksigen dan suhu dingin akibat merembesnya air laut di ruangan evakuasi itu. Namun, para kolega mereka di berbagai kapal perang lain di permukaan belum menyadari Kursk hilang dari radar. Justru AL Inggris yang –turut memantau latihan itu– duluan insyaf. Kolonel David Russel (Colin Firth) dari markasnya mencoba mengontak Panglima Armada Utara Rusia Laksamana Vyacheslav Grudzinsky (Peter Simonischek), namun nihil hasil. Salah satu adegan para penyintas Kapal Selam Kursk yang bertahan hidup dalam kondisi kritis. (Belga Productions) Grudzinsky baru sadar belasan jam kemudian bahwa Kursk mengalami masalah dan tumbang ke dasar laut. Sementara kapal penyelamat lamban bereaksi, para keluarga awak Kursk sudah mendengar desas-desus bencana itu. Pun begitu, AL Rusia masih menolak memberi informasi. Kendati berulangkali kapal selam penyelamat gagal mencapai para penyintas Kursk, Grudzinsky dengan pede -nya menyatakan armadanya mampu menyelamatkan mereka. Tawaran bantuan dari militer Barat dengan peralatan canggih pun terus mengalami penolakan. Berkejaran dengan waktu, para keluarga menuntut penjelasan dan upaya lebih dari AL Rusia. Keributan pun pecah saat Laksamana Vladimir Petrenko (Max von Sydow) diprotes massa yang dipicu tuntutan Tanya Averina (Léa Seydoux), istri Letnan Averin. Seorang perawat AL Rusia sampai harus membius paksa salah satu ibu yang mencela Petrenko. Di dasar laut, kondisi 23 penyintas kian kritis setiap waktu. Bahkan, korban jiwa bertambah saat pemantik generator oksigen meledak secara tak sengaja di hari keempat. Baru pada pagi di hari keempat para penyelam sipil Norwegia dan Inggris diperkenankan membantu. Namun, itu jelas terlambat. “Kursk menyimpan banyak rahasia militer. Rusia menolak penghinaan publik dengan menerima bantuan asing,” ujar Russel dalam salah satu adegan pasca-tawarannya ditolak Petrenko. Dramatisasi Tragedi Meski bukan film action , efek visual Kursk begitu halus. Iringan tata suara garapan Alexandre Desplat turut membangun suasana tegang di beberapa adegan, utamanya kala Averin menyabung nyawa untuk menyelam ke kompartemen lain yang sudah dipenuhi air demi mengambil stok pemantik generator oksigen. Namun, bukan keterpukauan penonton akan adegan-adegan frontal yang dicari Vinterberg selaku sineas. Vinterberg dan Rodat lebih ingin mempertontonkan betapa ada getir dalam gengsi yang dipertahankan pemerintah dan para petinggi AL Rusia. Demi mempertahankan gengsi dan kebanggaan itu, mereka secara tidak langsung menelantarkan ke-23 penyintas. Rusia seolah memilih meninggalkan mereka mati ketimbang malu dibantu pihak asing. “Di saat-saat akhir film terdapat momen tanpa harapan yang membuat kita dihantui kesedihan dan kemarahan. Film yang mengiris hati tentang para pelaut yang nyawanya secara kejam tidak diprioritaskan. Diakhiri adegan melankolis yang dibakar amarah para keluarga, serta meninggalkan luka yang mungkin takkan pernah pulih,” sebut Benjamin Lee dalam ulasannya di The Guardian , 7 September 2018. Adegan para keluarga penyintas kapal selam Kursk yang marah pada otoritas Angkatan Laut Rusia yang menolak bantuan penyelamatan dari pihak asing Film yang sedianya tayang pertamakali di Festival Film International Toronto, 6 September 2018 ini baru akan beredar di Amerika Serikat pada 21 Juni 2019. Belum ada kabar apakah juga akan tayang di Indonesia dan diragukan akan naik tayang di Rusia. Menariknya, film ini merupakan proyek gabungan beberapa negara –kecuali Rusia. Maka, dialog-dialognya pun berbahasa Inggris. Uniknya, tak sekali pun Vinterberg menggambarkan reaksi Putin yang sedang liburan di pesisir Laut Hitam ketika musibah terjadi. Jangankan penggambaran Putin, dari deretan pemeran utama, hanya Artemiy Spiridonov yang –berperan sebagai Misha Averin– orang Rusia. Satu hal lagi yang menegaskan bahwa film ini didramatisir, adalah nama-nama karakternya yang nyaris semua disamarkan produser Ariel Zeitoun. Pengecualian hanya Kolonel David Russel yang diperankan Colin Firth, merupakan sosok asli. Sisanya bukan karakter tulen sebagaimana catatan sejarahnya. Seperti karakter utama Mikhail Averin yang aslinya bernama Dmitri Kolesnikov; panglima armada Laksamana Grudzinsky yang aslinya bernama Laksamana Vyacheslav Alekseyevich Popov; serta Panglima AL Rusia Laksamana Vladimir Petrenko yang karakter aslinya adalah Laksamana Vladimir Kuroyedov. “Ada banyak rumor di internet (soal nama-nama fiksi), bahwa kami terintimidasi otoritas Rusia. Itu omong kosong. Saya tidak ingin film ini tentang menunjuk hidung siapa yang salah tapi lebih kepada sisi kemanusiaannya. Makanya saya pikir akan lebih baik jika mengganti nama-namanya dan meniadakan sosok Putin,” terang Vinterberg, mengutip The Hollywood Reporter , 21 Oktober 2018.  Pun begitu jalannya kisah merupakan fakta sejarah lantaran Rodat selaku penulis skenario menggarap naskahnya berdasarkan catatan riset jurnalis Inggris Robert Moore yang dibukukan, A Time to Die: The Untold Story of the Kursk Tragedy . Salah satu catatan yang dipercaya paling akurat terkait tragedi itu.

  • Antara Perempuan dan Politik

    PROKLAMASI mengubah konfigurasi politik. Ketiadaan musuh bersama membuat lelaki menjadi makin dominan dalam bidang politik sementara perempuan disingkirkan dan dianggap lebih layak bergerak di bidang sosial. Organisasi perempuan yang bercorak keagamaan, misalnya, kebanyakan berjalan dengan pembagian kerja model ini. Kecenderungan seperti itu dikritik para aktivis perempuan, salah satunya Supeni. Cora Vreede-de Stuers dalam Sejarah Perempuan Indonesia menyebut Supeni menolak keras pemisahan perempuan dan partai politik. Menurutnya, perempuan harusnya dianggap setara dan disamakan statusnya dengan lelaki untuk ikut andil dalam urusan-urusan politik. Pendapat Supeni tak asal bunyi. Di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan dan kesibukan mengatur organisasi perempuan, pada 1946 Supeni mendaftarkan diri ke PNI. Posisinya di PNI dan gerakan perempuan pun tak sepele. Supeni menjabat ketua Kowani pada 1948 di mana Maria Ullfah duduk sebagai wakilnya. Pada 1949, Supeni diangkat menjadi anggota dewan partai PNI. “Partailah yang dapat mendidik dan memimpin rakyat menuju transformasi masyarakat dari dijajah menjadi merdeka,” kata Supeni dalam memoarnya Supeni Wanita Utusan Negara. Sejak remaja, Supeni sudah aktif dalam gerakan. Di usia 14 tahun, Supeni sudah melahap bermacam bacaan politik dan ikut mendengarkan ceramah politik. Ia lalu menjabat sebagai wakil ketua Indonesia Muda merangkap Keputrian Indonesia Muda cabang Blitar. Posisi itu mengharuskan Supeni menjadi pembicara di forum-forum pemuda nasionalis. Keaktifan Supeni dalam gerakan pemuda nasionalis ini mengakibatkannya dinas intelijen politik kolonial, PID, dan menjadi sorotan guru-gurunya di Holandsche Indische Kweekschool Blitar. Supeni ingat perkataan gurunya bahwa ia tak pantas menjadi guru karena membahayakan pendidikan. “Di kota Blitar aku berkenalan dengan Supeni. Seorang gadis lincah aktivis Indonesia Muda. Nantinya ia menjadi aktivis PNI yang andal,” kata Lasmidjah Hardi, rekan seperjuangan Supeni, dalam Perjalanan Tiga Zaman. Supeni juga aktif dalam gerakan perempuan dengan ikut mendirikan Persatuan Wanita Madiun usai Jepang kalah perang. Namun, organisasi ini tak bertahan lama dan dilebur menjadi Perwari lewat putusan Kongres Perempuan Indonesia 1945 di Klaten. Berbekal mengikuti organisasi sejak remaja itulah Supeni bisa menjadi salah satu elite PNI. Ia terpilih menjadi ketua Departemen Pendidikan dan Sosial PNI di samping terpilih menjadi anggota Dewan Pimpinan partai pada 1959. Ketika terjadi perpecahan di tubuh PNI pada minggu pertama Agustus 1965, Supeni sedang dinas ke luar negeri. Sekembalinya ke Jakarta, ia menemukan kondisi partai yang penuh konflik akibat kebijakan DPP PNI menskorsing beberapa anggota yang dianggap tidak loyal. Orang-orang yang dianggap PNI gadungan berencana mendirikan PNI tandingan. Supeni, yang khawatir akan kondisi perpolitikan makin memanas, pun menemui Presiden Sukarno untuk meminta bantuan. “Saya minta kepada Bung Karno untuk memerintahkan Mas Ali (Sastroamidjojo, Ketum PNI, red .) supaya segera menyelenggarakan Kongres Luar Biasa untuk menyelesaikan masalah penggadungan karena kalau tidak cepat-cepat, saya khawatir Hardi CS akan mengadakan PNI tandingan,” kata Supeni. Kendati mulanya menolak karena bukan lagi bagian dari PNI, Sukarno akhirnya tak kuasa menolak permintaan Supeni. “Ya, saya akan perintahkan kepada Ali (Sastroamidjojo, red .) tapi kau saya minta juga untuk mencegah Hardi jangan sampai membuat PNI tandingan,” jawab Sukarno. Supeni pun menemui Hardi untuk menyampaikan pesan Sukarno. Ali yang kemudian ditemui Sukarno pun akhirnya sepakat untuk mengadakan kongres darurat selepas ia kembali dari perjalanan dinas ke Tiongkok. Namun, belum lagi PNI sempat meredam potensi perpecahan di tubuhnya, G 30 S keburu terjadi. PNI tandingan yang dipimpin Osa Maliki pun muncul ke permukaan. Nasib PNI yang terpecah menjadi dua tak bisa dibiarkan oleh Iskaq Tjokroadisuryo, salah satu pendiri PNI pada 1927. Dia mengajak Supeni untuk membuat Panitia Penegak PNI. Sayangnya, usaha ini gagal.

  • Masuknya Islam ke Selandia Baru

    Aksi terorisme terjadi di Selandia Baru pada Jumat, 15 Maret 2019. Pelaku utamanya, Brenton Tarrant, pria kulit putih berusia 28 tahun kelahiran Australia, menembaki kaum muslim di dua masjid di Christchurch. 50 orang meninggal, satu di antaranya warga negara Indonesia. Aksi biadab itu menjadi peristiwa kelam bagi warga muslim di Selandia Baru yang telah berusia lebih dari seabad. Muslim pertama yang masuk ke Selandia Baru berasal dari Cina. Mereka datang untuk bekerja di pertambangan emas. Mereka disebut dalam sensus tahun 1874. Sensus itu, menurut Erich Kolig dalam New Zealand's Muslims and Multiculturalism, mendaftar 17 “ Mohamatans” atau “Mahometans", semuanya laki-laki, di antaranya 15 orang Cina yang bekerja di tambang emas Otago di Dunstan dekat Dunedin. Kegiatan beragama mereka tidak dicatat atau dikomentari. Sehingga tidak diketahui apakah mereka taat beribadah, dengan cara apa mereka menyembah, atau bagaimana mereka mengekspresikan kesalehan mereka atau sebaliknya. Tidak diketahui apakah mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal secara permanen atau kembali ke Cina. Juga tidak diketahui apakah mereka, atau beberapa dari mereka, membangun keluarga di Selandia Baru dan meneruskan keyakinannya kepada anak-anaknya. “Yang terakhir tampaknya agak tidak mungkin karena tidak ada informasi muslim di antara komunitas Cina-Selandia Baru saat ini. Masa kehadiran muslim Cina pun berlalu tanpa meninggalkan jejak,” tulis Erich. Sementara itu, Panji Masyarakat, No. 598 Tahun XXX, 1-10 Januari 1989, melaporkan di antara Cina muslim ada yang menjadi kaya dan kembali ke Cina, dan ada yang pindah ke negara lain. Banyak pula yang meninggal tanpa keturunan. Sehingga orang-orang Cina muslim itu menghilang dari Selandia Baru dan tidak ada bekasnya lagi. Pada permulaan abad ke-20, lanjut Panji Masyarakat , seorang pangeran dari Ethiopia bernama Amir Ali dengan keluarganya pindah ke Selandia Baru. “Karena mereka satu-satunya keluarga Islam dan tidak ada pembinaan, maka keturunannya menjadi Kristen walaupun tetap memakai nama semacam nama Islam.” Menariknya, muslim pertama yang dimakamkan di Selandia Baru berasal dari Jawa. “Catatan (sensus) itu juga menyebutkan muslim pertama yang dimakamkan di Selandia Baru seorang pelaut Jawa bernama Mohamed Dan, yang meninggal di Dunedin pada 1888,” tulis Erich. Informasi ini bersumber dari Muslims in New Zealand (2005), buklet ulang tahun ke-25 Federation of Islamic Associations of New Zealand. Dengan demikian, menurut Erich, kemungkinan ada beberapa pelaut muslim dari Asia Tenggara atau Asia Selatan yang memutuskan tinggal di Selandia Baru secara permanen atau sementara. Erich menyebut imigran muslim pertama yang riwayatnya diketahui dengan baik adalah Ismael Ahmed Bhikoo dari Gujarat, India, yang tiba di Selandia Baru pada 1909. Awalnya dia menuju Fiji, tetapi memutuskan tinggal di Selandia Baru. Dia membangun toko di Auckland dan kemudian membawa putra-putranya –menurut sumber lain, saudara-saudaranya– dari India untuk membantu usahanya. Setahun setelah Bhikoo, Essop Moosa juga dari India tiba dan tinggal di Auckland. Tak lama setelah itu, Muhammad Suleiman Kara memilih Christchurch sebagai tempat tinggal barunya. Bhikoo dan Moosa mempertahankan hubungan dengan keluarganya di India selama bertahun-tahun. Menantu Moosa dan Bhikoo masing-masing datang pada 1936 dan 1940. Pada 1981, setidaknya ada 44 keturunan Bhikoo dan Moosa di Selandia Baru. “Bhikoo dan Moosa diakui sebagai bapak pendiri komunitas muslim di Selandia Baru. Mereka akhirnya membawa istri dan kerabat dari India dan, dan keturunan mereka masih menjadi inti dari komunitas muslim saat ini,” tulis Erich. Bukan Bhikoo, Canterbury Muslim Association dalam Muslims in New Zealand (2005) menyebut muslim pertama yang tiba di Canterbury adalah Sheikh Mohamed Din dari Punjab, India. Dia diyakini tiba pada 1890 bersama gelombang imigran muslim Punjabi lainnya. Pada 1905, orang Turkmenistan, Saleh Mohamed, dan ayahnya, Sultan, menetap di Christchurch. Kemudian Ismail Kara tiba pada 1907. Pada 1920, pemerintah menerapkan kebijakan imigrasi "White New Zealand" yang menghalangi secara signifikan imigrasi dari Asia selama bertahun-tahun. Sampai usai Perang Dunia II, populasi muslim di Selandia Baru masih kurang dari seratus. Pada 1951, sekitar 50 orang muslim dari Balkan (Albania dan Bosnia), Turki, dan negara-negara tetangganya,tiba di Selandia Baru. Jumlah muslim pun meningkat dari 67 pada 1945 menjadi 205 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 260 orang. Mayoritas laki-laki sehingga secara bertahap muslim perempuan mulai berdatangan. Jumlah muslim yang dilaporkan dalam sensus antara tahun 1961 dan 1971 berlipat tiga, dari 260 menjadi 779. Pertumbuhan yang relatif cepat berlanjut pada 1970-an dan 1980-an dengan jumlah muslim, sebagaimana dicatat dalam sensus, mencapai 2.500 pada 1986. Meskipun jumlahnya masih kecil, peningkatannya hampir sepuluh kali lipat dalam dua puluh tahun terakhir, dan lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Peningkatan yang cepat tercermin dalam sensus tahun 2001, jumlahnya mencapai 23.500 orang. Menurut sensus terakhir tahun 2006, umat Islam mencapai 36.000 orang atau hampir satu persen dari populasi. Bahkan, para tokoh muslim memperkirakan jumlahnya di atas jumlah sensus, yaitu 40.000 hingga 45.000. Mayoritas muslim, antara 25.000 hingga 30.000, tinggal di daerah Auckland, sebagian besar sisanya tinggal di Wellington. Komunitas muslim yang lebih kecil berada di kota Hamilton, Christchurch, dan Dunedin. Komunitas muslim sebagian besar berasal dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, dan Fiji), dengan orang-orang Fiji yang paling menonjol. Namun kini mencakup setidaknya 35 bahkan mungkin 40 bangsa. Gelombang imigrasi yang lebih baru termasuk orang-orang Arab dari Timur Tengah dan Maghreb (Afrika Utara), Malaysia, Indonesia, Iran, Afghanistan, Somalia dan Afrika sub-Sahara, serta orang-orang dari Balkan yang melarikan diri dari kekacauan politik baru-baru ini. Ada juga beberapa mualaf yang jumlah pastinya masih spekulasi . Tulisan ini diperbarui pada 18 Maret 2019.

  • Empat Burung Besi yang Dikandangkan

    KATA orang, naik pesawat adalah cara terbaik dalam berperjalanan. Beragam statistik membuktikan kebenaran ungkapan itu. Penerbangan lebih aman ketimbang aneka transportasi darat dan laut. Namun, berbagai kecelakaan penerbangan mengerikan tetap bikin ngeri. Otoritas penerbangan berbagai negara bahkan sampai menyangkarkan pesawat-pesawat tertentu. Seperti yang terjadi pada pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 baru-baru ini. Pesawat versi kedua varian 737 MAX dengan ciri khas split-tip winglet di kedua sayapnya itu jadi sorotan setelah dua kecelakaan fatal terjadi padanya di Indonesia dan Ethiopia. Dua tragedi tersebut menandakan ada masalah besar dalam pesawat yang terbang pertamakali pada 22 Mei 2017 itu. Belum dua tahun sejak penerbangan perdananya, Boeing 737 MAX 8 sudah mengalami kecelakaan. Pada 29 Oktober 2018, pesawat bernomor penerbangan JT610 milik maskapai Lion Air dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang. Total 189 orang, kru maupun penumpang, kehilangan nyawa. Pesawat sejenis milik Ethiopian Airlines bernomor penerbangan ET302 menambah catatan daftar hitam pada Minggu, 10 Maret 2019. Pesawat dengan rute Addis Ababa (Ethiopia)-Nairobi (Kenya) itu jatuh di sebuah desa di Bishoftu, Ethiopia dan  menewaskan 157 orang, penumpang maupun kru. Sehari setelah kecelakaan Ethiopian Airlines itu, sejumlah negara dan maskapai penerbangan memutuskan mengandangkan Boeing 737 MAX 8 mereka hingga jangka waktu tertentu. China mempelopori aksi boikot itu dan diikuti Ethiopia, Maroko, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, Australia, dan Indonesia. Sepanjang sejarah, ini bukan kali pertama ada jenis pesawat yang disangkarkan alias dilarang terbang oleh otoritas penerbangan. Ada empat jenis pesawat yang pernah dikandangkan, baik karena tragedi maupun masalah teknis namun belum sampai terjadi kecelakaan, sebagaimana diuraikan di bawah ini: McDonnell Douglas DC-10 McDonnell Douglas DC-10 milik maskapai American Airlines (Foto: Wikipedia) Pesawat bermesin tiga ini pernah dikandangkan selama 10 bulan oleh Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (AS) FAA pada 1979. Keputusan FAA itu keluar setelah DC-10 milik American Airlines bernomor penerbangan N110AA jatuh di Des Plaines, Illinois, 25 Mei 1979. Laporan investigasi Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS bertajuk “Chicago DC-10 Accident Findings” tertanggal 21 Desember 1979 mengungkap, pesawat dengan rute Chicago-Los Angeles itu jatuh akibat kerusakan teknis. “DC-10 mengalami gagal mesin, terguling dan jatuh karena rangka sayap kiri rusak dan kehilangan sistem peringatan dua kokpit.” Akibatnya, 271 orang yang di pesawat dan dua orang lain di darat tewas. Hasil investigasi NTSB menunjukkan, ada kelalaian pemeliharaan. American Airlines pun didenda 500 ribu dolar Amerika plus sertifikat DC-10 ditarik sementara pada 6 Juni 1979. Penarikan sertifikat itu otomatis meng- grounded total 138 DC-10 dari sejumlah maskapai di AS serta melarang 132 DC-10 lain dari maskapai asing masuk ke AS. Larangan terbang yang ternyata hanya sampai 38 hari itu mengakibatkan kerugian jutaan dolar. “Kerugian (masing-masing maskapai) rata-rata lima juta dolar Amerika per harinya,” ungkap Gary R. Halford dalam Fatigue and Durability of Structural Materials. McDonnell Douglas MD-80 Delta Airlines juga pernah terpaksa mengandangkan pesawat McDonnell Douglas MD-80 (Foto: Delta Airlines) Pada 2008, ratusan pesawat jenis MD-80 milik beberapa maskapai di AS terpaksa di- grounded FAA. Inspeksi dan audit keselamatan besar-besaran FAA dilakukan pada 26 Maret-12 April 2008 gegara temuan laporan tidak layak terbang dari 43 pesawat milik Southwest Airlines, yang akhirnya didenda FAA 10 juta dolar. Larangan itu berimbas pada maskapai-maskapai lain yang armadanya bertulangpunggungkan MD-80. Antara lain, American Airlines dan Delta Airlines, yang ternyata juga kedapatan mengoperasikan beberapa pesawat tidak layak terbang. “Semua 300 pesawat MD-80 American Airlines juga di- grounded oleh FAA sebagai hasil dari audit keselamatan (FAA) dan dinyatakan tidak layak terbang,” ungkap Ted dan Dan Reed dalam American Airlines: US Airways and the Creation of the World’s Largest Airline . Akibat larangan itu, American Airlines terpaksa membatalkan 5.700 jadwal penerbangan dalam rentang Maret-April dan kena denda 24,2 juta dolar Amerika. Sementara, Delta Airlines urung menggulirkan 275 jadwal penerbangan namun tidak didenda lantaran lebih dulu berinisiatif menginspeksi armadanya tanpa harus ditegur FAA. Airbus A380 Pesawat Airbus A380 milik maskapai Qantas Australia (Foto: qantas.com) Setidaknya enam pesawat super-jumbo Airbus A380 milik Qantas Airways terpaksa dikandangkan pada akhir 2010 atas perintah otoritas transportasi Australia. Putusannya berhulu dari insiden pesawat Qantas QF32 (London-Sydney) pada 4 November, yang untungnya tak menyebabkan adanya korban jiwa. Laporan Biro Keselamatan Transportasi Australia ATSB bernomor AO-2010-089 yang rilis 27 Juni 2013 mengungkap, pesawat A380 itu mengalami gagal mesin saat menembus 7.000 kaki selepas take off dari Bandara Changi, Singapura pasca-transit. Mesin nomor dua rusak, sementara tangki bahan bakar di mesin nomor satu terbakar. Beberapa puing bagian mesin yang rusak bahkan jatuh di perairan Batam, Kepulauan Riau. Beruntung, pesawat yang membawa 469 (penumpang dan kru) orang itu bisa kembali untuk mendarat darurat di Changi. Akibatnya, tidak hanya enam pesawat Qantas yang harus di- grounded sampai April 2012, maskapai Lufthansa dan Singapore Airlines juga mengandangkan unit-unit A380 mereka selama beberapa waktu. A380 yang bermasalah dan akhirnya di- grounded ternyata hanya yang memakai mesin Rolls-Royce Trent 900 sebagaimana milik Qantas. Pesawat A380 yang memakai mesin Engine Alliance GP7200 seperti milik Fly Emirates dan Air France tidak kena larangan. Alhasil, Rolls-Royce merugi dan mesti membayar kompensasi 95 juta dolar Australia kepada Qantas. Boeing 787 Dreamliner Pesawat Boeing 787 Dreamliner yang pernah pula terpaksa di-grounded lantaran masalah teknis (Foto: Arizona State University) Rangkaian masalah yang terjadi pada Dreamliner milik beberapa maskapai pada 2013 memaksa FAA memerintahkan grounded total. Insiden pertama terjadi pada Dreamliner milik Japan Airlines (JAL), 8 Januari 2013. Pesawat itu mengalami problem elektronik pada baterainya sehingga mengakibatkan kebakaran pada tangki bahan bakar. Kendati tak ada korban dalam insiden itu, pesawat terpaksa batal takeoff dari Boston menuju Tokyo. Pada 13 Januari 2013, problem pada Dreamliner milik JAL kembali ditemukan. Otoritas Bandara Narita, Tokyo menemukan kebocoran pada tangki bahan bakar kala menginspeksi pesawat itu. Insiden-insiden itu memaksa FAA meng- grounded semua pesawat jenis Dreamliner. All Nippon Airlines (ANA) menjadi perusahaan paling banyak menderita kerugian akibat larangan itu lantaran jadi pemesan pertama dan bertulangpunggungkan 17 unit Dreamliner. “Kerugian ANA setelah di- grounding mencapai 1,1 juta dolar Amerika per hari. FAA baru mencabut sanksi pada 19 April 2013. Dikalikan 50 Dreamliner di semua maskapai, total kerugiannya mencapai 270 juta dolar Amerika,” sebut Richard L. Nolan dalam Executive Team Leadership in the Global Economic and Competitive Environment.

  • Selamatkan Situs Sekaran di Proyek Tol Pandaan-Malang

    PENEMUAN bangunan di Situs Sekaran yang dilalui proyek tol Pandaan-Malang punya harapan untuk selamat. Hasil peninjauan BPCB diketahui masih ada kemungkinan terusan struktur bata yang menyembul masih tersembunyi di bawah tanah. Struktur bata yang ditemukan itu merupakan bagian dari dinding kuno yang memiliki orientasi barat daya ke timur laut. Kemungkinan besar masih berlanjut mengarah pada struktur lain yang lebih luas dan besar di arah barat daya.

  • Teror di Masjid Al-Noor

    NEGERI Kiwi yang lazimnya tenang mendadak jadi sorotan dunia. Total 49 jemaah Salat Jumat di dua masjid di Kota Christchurch, Canterbury, Selandia Baru, meninggal dunia, Jumat siang, 15 Maret 2019 sekira pukul 13.40 waktu setempat. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, terpukul dan mengecam aksi terorisme itu. “Hari ini adalah salah satu hari paling kelam di Selandia Baru. Kita telah melihat kejadian yang belum pernah kita alami sebelumnya. Aksi ini hanya bisa dijelaskan sebagai serangan teroris,” kata Jacinda Ardern dalam konferensi pers dengan suasana haru, dikutip RTE , Jumat (15/3/2019). Selain 49 orang meninggal, sekira 20 lainnya terluka dan dua di antaranya Warga Negara Indonesia (WNI). “Kami berduka untuk para keluarga dan kerabat korban, termasuk dua WNI yang terluka dalam insiden itu,” cuit Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, di akunnya, @Menlu_RI . Secara biadab pelaku teroris di Masjid Al-Noor menyiarkannya secara langsung di Live Facebook Jemaah Salat Jumat itu jadi korban penembakan keji empat pelaku yang diduga simpatisan kelompok rasisme sayap kanan. Masing-masing menyerang dua lokasi dekat pusat Kota Christchurch: Islamic Centre di wilayah Linwood dan Masjid Al-Noor di Riccarton. Mula Masjid Al-Noor Masjid Al-Noor atau Masjid Cahaya dibangun pada 1982 dan diresmikan pada 1985 oleh MAC (Asosiasi Muslim Canterbury). Masjid ini tertua kedua di Selandia Baru, setelah masjid di Ponsonby yang dibangun tahun 1979. Desainnya dirancang seorang mualaf asal Australia, Martin “Rasjid” Wallen. Bangunan megah itu juga diakui sebagai salah satu masjid terjauh dari kiblat di Kabah, Makkah, Arab Saudi, setelah Masjid Dunedine di Kota Auckland. Menurut Abdullah Martin Drury, MAC mulai mengajukan usulan pembangunan masjid pertama kali pada 1979, mengingat mulai bertambahnya jumlah komunitas muslim di Canterbury, khususnya Riccarton yang sebelum 1989 masih jadi kota kecil yang mandiri dan terpisah dari Kota Christchurch. Proyek pembangunan Masjid Al-Noor pada Desember 1984 (Foto: Christchurch Star) “Di awal 1982, MAC membeli sebuah properti di Deans Avenue, Kota Riccarton seharga 80 ribu dolar Selandia Baru (NZD). Mulanya properti itu hanya sekadar istal kuda. Pada 10 Mei 1982, Dewan Kota Riccarton baru menyetujui proposal MAC untuk perizinan pembangunan,” tulis Drury dalam “Once Were Mahometans: Muslims in the South Island of New Zealand, Mid-19th to Late 20th Century, with Special Reference to Canterbury,” tesis di University of Waikato. MAC pula yang memilih Martin Wallen yang bermukim di Christchurch sejak 1965 sebagai arsiteknya, dibantu seorang mualaf lainnya, Abdul Hadi Bollard. Tidak lupa, desain interiornya dibantu Osman Mahgoub Gaafar, arsitek ekspatriat Sudan, khusus untuk mendekorasi hiasan-hiasan kaligrafinya berupa dua kalimat Syahadat dan potongan Surah al-Jinn ayat 18. “Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan 12 Juni (1982) kala bulan suci Ramadan. Salah satu donatur terbesarnya adalah Dr. Salih al-Samahy yang punya koneksi dekat dengan anggota-anggota Kerajaan Arab Saudi dengan sumbangan NZD300 ribu,” tulis Drury yang juga penulis buku Islam in New Zealand: The First Mosque . Ditambah sumbangan NZD460 ribu dalam bentuk cek dari sejumlah donatur asal Saudi, Kuwait, dan Bahrain yang disampaikan melalui Duta Besar Saudi untuk Australia, Dr. Alohaly, setelah mengunjungi situs pembangunan masjid itu pada Juli 1984. Pembangunan masjid selesai pada 1985 dan dinamai Al-Noor oleh MAC. “Masjid Al-Noor berarti Masjid Cahaya. Ungkapan dari simbol kesucian yang diharapkan menjadi sumber cahaya. Makna yang merupakan kombinasi dari cat putih dengan beberapa motif hijau, serta kubah yang juga hijau sebagai warna favorit Rasulullah Muhammad SAW,” lanjut Drury. Kubahnya kemudian tak lagi berwarna hijau, melainkan berwarna emas. Ternyata, perubahan warna itu terjadi pada 2003, seiring terjadi kisruh pemegang kepengurusan masjid. Masjid Al-Noor dalam fase pembangunan tahap akhir pada Januari 1985 (Foto: Christchurch Star) Menurut Nahid al-Kabir dalam “Muslim Minorities in Australia, New Zealand and the Neighbouring Islands” yang termuat di The Different Aspects of Islamic Culture: Volume Six, komunitas muslim di internal MAC dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) dengan muslim Arab serta Afrika, memperebutkan kepengurusan masjid untuk mendapatkan posisi yang dihormati secara politik dan sosial-ekonomi dalam masyarakat muslim di Selandia Baru. “Pada 2003 terjadi konflik kepengurusan masjid yang sejak lama dipegang kelompok muslim asal Asia Selatan di MAC. Kisruh berawal dari komunitas muslim asal Jazirah Arab dan Somalia yang ingin memegang kepengurusannya,” tulis Nahid.

  • Proyek Tol Pandaan-Malang dan Kerajaan Bawahan Majapahit

    STRUKTUR bata merah kuno tersingkap di tengah pengerjaan proyek jalan tol Malang-Pandaan di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, akhir Februari 2019. Situs Sekaran itu diduga memiliki korelasi dengan wilayah kuno Kabalan dari masa Mataram sampai Majapahit. “Temuan Situs Sekaran lokasinya hanya sekitar 1 km dari wilayah Dusun Kebalon, dapat dikatakan temuan di Situs Sekaran memperkuat keberadaan wilayah kuno yang bernama Kabalan memang berada di Malang sekarang,” demikian “Laporan Tinjauan Awal Situs Sekaran” yang di susun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang dan Komunitas Jelajah Jejak Malang .

  • Permukiman Kuno di Proyek Tol Pandaan-Malang

    STRUKTUR bata merah kuno tersingkap di tengah pengerjaan proyek jalan tol Pandaan-Malang akhir Februari 2019. Beberapa bata pecah dan susunannya ambrol tak beraturan. Tak cuma bata merah kuno yang muncul akibat galian pembangunan jalan tol itu, banyak pula artefak lainnya yang ditemukan tanpa sengaja, seperti fragmen keramik, uang kepeng, benda-benda yang terbuat dari emas dan kuningan. Tak lama setelah temuan di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang itu banyak diberitakan, penggalian liar pun makin sulit dihindari. “Mereka sebagian besar adalah kolektor dan kolekdol barang-barang antikan bahkan juga masyarakat desa sekitar ikut juga mencari, demi mengambil artefak-artefak yang ada di lokasi,” ujar Devan Firmansyah, sejarawan Komunitas Jelajah Jejak Malang, melalui pesan singkat.

  • Supeni, Perempuan di Balik Kemenangan PNI

    RAPAT dibuka. Supeni yang duduk di depan para kader PNI langsung memimpin rapat strategi kampanye untuk memenangkan pemilu 1955. Tugas itu dia lakoni sebagai bagian dari tugasnya menangani pemilu 1955, tugas yang dipikulnya sejak bergabung dengan PNI pada 1946. Selain memimpin rapat-rapat, Supeni rutin berkunjung ke cabang-cabang PNI di daerah untuk memberi ceramah. Tapi tugas yang menghampiri Supeni bukan hanya dari partai. Sejak awal 1950-an, lewat panitia persiapan pemilu, Supeni ditugaskan pemerintah untuk mempelajari penyelenggaraan pemilu di berbagai negara, seperti India dan Amerika Serikat (AS). Kala itu, ia berangkat bersama tim kecil yang diketuai Subagio Reksodiputi. Selain mempelajari penyelenggaraan pemilu, tim kecil ini juga ditugaskan merancang UU pemilu. Selama dua bulan tinggal di India, Supeni menemukan kesamaan kondisi penyelenggaraan pemilu di negeri itu dan di Indonesia. Kedua negara mayoritas rakyatnya masih buta huruf, awam pada model pemilihan langsung, dan sama-sama baru keluar dari penjajahan. Saking banyaknya hal yang didapatkannya dari kunjungan ke India, Supeni sampai membukukannya dengan judul Pemilihan Umum di India, terbit 1952. Pada Oktober 1952, Supeni berangkat ke AS untuk memenuhi undangan pemerintah negeri itu mempelajari pemilihan presiden dan sistem dua partai di sana. Kunjungan selama tiga bulan itu dimanfaatkannya untuk bertemu tokoh-tokoh seperti Dr. Polock (guru besar politik Universitas Michigan), Eleanor Roosevelt, dan League of Women Voters. Kunjungan dan diskusi dengan para tokoh politik itu juga membuahkan buku yang terbit pada 1954, Wanita dan Pemilihan Umum . Setelah kunjungan ke dua negara tersebut, Supeni bersama tim kecil berkonsentrasi membuat rancangan UU pemilu yang kemudian disahkan tahun 1953. Setelah tugasnya selesai, Supeni diangkat oleh menteri Kehakiman dan menteri Dalam Negeri sebagai Ketua Penitia Pemilihan Daerah Jakarta Raya. Kecakapan Supeni dalam memahami pemilu membuatnya dipercaya sebagai Ketua Badan Pekerja Aksi Pemilihan Umum PNI (PAPU PNI). Supenilah otak di balik strategi pemenangan PNI dalam pemilu 1955. Informasi tentang penyelenggaraan pemilu di India dan Amerika dia sebarkan ke kader-kader PNI melalui ceramah dan rapat strategi pemenangan PNI. Hasilnya, luar biasa. PNI menjadi peraih suara terbesar dalam pemilihan anggota DPR. Kemenangan itu membawa Supeni duduk di DPR dan Dewan Konstituante bersama tiga perempuan lain dari Fraksi PNI. Supeni dipercaya menjadi ketua Seksi Luar Negeri di sana. Supeni pula yang ditunjuk mewakili PNI dalam Dewan Konstituante yang rapatnya dilakukan di Bandung.

  • Meluruskan Fakta Pertemuan Soeharto dan Sultan

    LANGIT Kota Yogyakarta sudah gulita. Malam itu, 13 Februari 1949, sekira pukul 11, Lettu Marsudi “menyelundupkan” Overste (letnan kolonel) Soeharto masuk kota dan keraton. Komandan Wehrkreise (WK) III sekaligus komandan Brigade X-Mataramitu dibawa menghadap Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) IX dalam sebuah pertemuan klandestin.

  • Seorang Menak di Garis Depan

    SEJARAWAN Rushdy Hoesein mengenang Achmad Wiranatakusumah sebagai sosok yang menyenangkan. Sebagai narasumber sejarah, Achmad hampir tak pernah menyimpan rahasia tentang segala sesuatu yang pernah dialami dalam hidupnya. Terutama yang terkait dengan kiprah menak Sunda itu di era revolusi. “Saya ingat sebulan sekali dia kerap mengundang saya untuk sekadar sarapan pagi sambil bercerita di sebuah hotel di Jakarta,” ujar Rushdy. Kendati seorang priyayi, Achmad dikenal sebagai seorang egaliter. Lahir di Bandung pada 11 Oktober 1925, putra pertama dari Dalem Bandung R.A.A. Haji Muharam Wiranatakusumah dengan Raden Ayu Sangkaningrat itu sejak remaja bergaul dengan siapa saja tanpa memilah-milah kasta. Bisa jadi itu disebabkan oleh pengaruh sang ibu yang seorang nasionalis sekaligus tokoh perempuan Sunda yang merakyat. “Dia cerita kepada saya bahwa kebenciannya kepada kolonialisme karena cerita-cerita ibunya,”ungkap Rushdy. Membentuk Pasukan Menginjak usia remaja, Achmad bersama saudara dan kawan-kawannya mendirikan sebuah organisasi kepanduan bernama PJT (Padjadjaran Jeugd Troep). Berbeda dengan organisasi kepanduan lainnya di era itu, PJT lebih mengutamakan ketrampilan militer bagi para anggotanya. Secara rutin, PJT mempelajari  cara menggunakan senjata, taktik pertempuran dan survival. “Achmad menyewa seorang sersan Belanda bernama Schouten untuk melatih kemiliteran,” tulis Aam Taram, R.H. Sastranegara, Iip D. Yahya dalam Letjen TNI (Purn) Achmad Wiranatakusumah: Komandan Siluman Merah . Saat militer Jepang menyerang Jawa pada Maret 1942, PJT diperbantukan sebagai pasukan bantuan. Tugas utama mereka adalah memantau pergerakan tentara Jepang di sekitar Bandung. Saat itulah, Achmad sempat memergoki sepasukan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang sudah putus asa dan membuang senjata-senjata itu ke sungai. “Setelah prajurit-prajurit KNIL itu pergi, Achmad dan kawan-kawannya kemudian mengambil senjata-senjata tersebut dan kemudian menyembunyikannya di beberapa gua dan sebagian dikubur di tempat-tempat tersembunyi,”tutur Rushdy. Singkat cerita, pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada militer Jepang. Achmad sendiri sempat ditahan oleh Bepang, sejenis unit intelijen militer Jepang, karena ketahuan menyembunyikan senjata. Untunglah senjata-senjata tersembunyi yang diketahui militer Jepang itu hanya sebagian kecil saja. Sebagian besar tetap ada di tempat aman. Senjata-senjata itu baru dibongkar oleh Achmad ketika militer Jepang sudah bertekuk lutut kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Bermodalkan senjata-senjata itulah, Achmad membentuk sebuah pasukan di Ciwideuy pada 7 Oktober 1945, lengkap dengan seragamnya yang terbuat dari karung goni “kualitas terbaik”. Karena seragam unik itulah ketika pasukan Achmad berbaris menuju Soreang, Bandung, orang-orang menjulukinya sebagai “Pasukan Karung”. Sejarah mencatat Pasukan Karung kemudian banyak terlibat dalam kontak senjata melawan tentara Jepang dan tentara Sekutu di Bandung. Akhir 1946, saat proses evakuasi para prajurit Jepang dan masalah para interniran (tawanan Jepang) sudah selesai, pasukan ini juga terbilang aktif menyerang kedudukan pasukan Belanda. Termasuk ketika mereka menyandang nama baru: Batalyon 26 Brigade Guntur Divisi Siliwangi. Batalyon Siluman Merah Selaku seorang komandan, Achmad tak pernah absen di garis depan. Kendati sangat dekat dengan para prajuritnya, namun layaknya saat memimpin PJT, tradisi disiplin tetap berlaku tanpa kompromi. Karena itu tak heran jika Batalyon 26 yang dipimpin Mayor Achmad Wiranatakusumah diperhitungkan oleh militer Belanda. Para serdadu Belanda mengenal batalyon yang dipimpin Achmad sebagai suatu pasukan yang tak pernah terdeteksi ketika akan menyerang. Pada saat lengah, secara mendadak mereka muncul dengan serbuan yang dasyat dan mematikan. Namun sebelum pasukan Belanda sadar dan bisa berkoordinasi, anak buah Achmad sudah menghilang. Itulah yang menyebabkan militer Belanda menjuluki pasukan Achmad sebagai pasukan siluman. Menghadapi gerakan Batalyon 26 di wilayah Soreang dan sekitarnya, militer Belanda tak mau lagi kecolongan. Mereka lantas berinsiatif memburu kedudukan pasukan Achmad dengan dukungan banyak pasukan dan persenjataan lengkap nan mutakhir. Akibatnya, Batalyon 26 harus mundur ke Gunung Sadu. Di Gunung Sadu, Achmad lantas menasbihkan nama pasukannya dengan nama “Siluman Merah”. Kata “merah” ditambahkan oleh Achmad dari Red Devil. Itu nama kesatuan baret merah resimen pasukan para Inggris. Sebagai lambang, dipilih gambar kepala siluman berwarna merah dengan dasar bintang kuning dan latar hijau. Ster (lambang bintang) mengikuti lambang 2rd Infantry Division Indianhead. Bedanya simbol kesatuan itu yang berupa kepala ketua suku Indian diganti dengan kepala siluman merah yang digambar oleh seorang prajurit Batalyon 26 bernama Oyo Kartawilaya. (Bersambung).

  • Captain Marvel, Antara Nostalgia dan Isu Feminisme

    KEKALUTAN mengacaukan sebuah misi rahasia. Alih-alih menyelamatkan mata-mata, Vers (Brie Larson) dan rekan-rekan militer bangsa Kree justru disergap. Vers sempat ditangkap dan diinterogasi Talos (Ben Mendelsohn), pemimpin bangsa Skrull, tapi lantas bisa melarikan diri meski harus terdampar ke planet C-53 alias bumi. Adegan itu jadi pilihan duet sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck untuk membuka film bertajuk Captain Marvel . Keduanya ingin lebih dulu menghadirkan asal-usul sang jagoan yang superhero perempuan terkuat di Marvel Cinematic Universe (MCU) yang berpusar pada rentang masa 1995. Kedatangan Vers di bumi tak pelak menarik perhatian bos agen SHIELD, Nick Fury (Samuel L. Jackson). Walau harus melewati “perkenalan” rumit, Vers dan Fury akhirnya bisa akur dan bertandem untuk meladeni Talos dan anak-anak buahnya yang juga mengejar Vers ke bumi.  Seiring petualangan menghadapi Talos dkk., Vers dan Fury lamat-lamat mendapati pemahamanbahwa apa yang dilakukannya bersama pasukan Kree pimpinan Yonn-Rogg (Jude Law) dalam memerangi bangsa Skrullternyata tak seperti dugaannya. Sepanjang perjalanannya, Vers juga mengetahui bahwa dirinya bukanlah bangsa asli Kree, melainkan bangsa manusia asal bumi bernama Carol Danvers yang sebelumnya merupakan pilot tempur Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS). Untuk lebih detail tentang keseruannya, jauh lebih baik menyaksikannya langsung di bioskop-bioskop tanah air, di mana produksi ke-21 MCU ini sudah tayang sejak 6 Maret 2019. Di film ini juga Anda akan tahu sedikit-banyak tentang mua sal “Avengers Initiative” yang jadi core seri-seri “Avengers”. Jangan pula segera beranjak dari kursi bioskop saat film usai lantaran ada dua adegan post-credit di pengujung film yang akan berkelindan dengan produksi MCU berikutnya yang juga patut dinanti – Avengers: Endgame. Selain apiknya efek visual, film berdurasi 124 menit itu juga akan membawa Anda sedikit-banyak bernostalgia dengan sejumlah hal di era 1990-an. Era 1990-an hadir mulai dari musicscoring , suasana,hingga teknologinya. Eksistensi komputer jadul dengan loading yang leletkala Vers dan Fury mencoba mengakses sebuah CD ( compact disc ),misalnya. CD sudah beredar sejak 1982 meski baru jadi perangkat penyimpanan populer menggantikan floppy disc alis disket pada 2000-an. Di beberapa adegan lain, penonton yang tumbuh di era 1990-anakan dimanjakan selipan-selipan lagu sohor era itu, seperti “Come as You Are” (Nirvana), “Only Happy When It Rains” (Garbage), “Man on the Moon” (REM) hingga “Just a Girl” (No Doubt). Di sisi lain, beberapa pembeda akan sangat terasa ketimbang 20 produksi MCU terdahulu. Selain tetap ada selingan-selingan komedi yang menyegarkan dan menjadi film terakhir dengan (mendiang) Stan Lee sebagai cameo , Captain Marvel sarat akan isu feminisme. Sarat Agenda Feminisme Di negara asalnya, AS, Captain Marvel baru resmi rilis pada 8 Maret 2019, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Bukan kebetulan, lantaran jadwal rilis Marvel semula 2 November 2018. Captain Marvel juga menjadi film superhero perempuan solo pertama dari MCU, yang tak mau kalah dari DC Entertainment yang lebih dulu menelurkan Wonder Woman (2017). MCU selama ini hanya menghadirkan para jagoan perempuan macam Black Widow, The Wasp, Shuri, Scarlet Witch , atau Valkyrie sebagai sidekicks . Dalam 20 produksi sebelum Captain Marvel, MCU juga belum pernah mempercayakan penggarapannya pada sineas perempuan. “(Captain Marvel) ini jadi film pertama dengan karakter utama jagoan perempuan dan yang pertama digarap sutradara perempuan (Anna Boden). Tentu ini pertaruhan yang besar tapi film ini sangat layak dinanti. Paketan dua jam tentang pemberdayaan perempuan dengan kekuatan visual yang Anda harapkan dari sebuah blockbuster Marvel,” ungkap Patricia Puentes dalam ulasannya di CNET , Minggu (10/3/2019). Dalam salah satu adegan, Anna Boden menggambarkan bagaimana diskriminasi gender pernah dialami Carol Danvers dalam masa lalunya saat menjalani orientasi untuk menjadi pilot perempuanAU AS. Dalam riset dan pendalamannya, Brie Larson, pemeran Carlon Danvers, berkonsultasi langsung dengan para pilot tempur AU AS dan Brigjen Jeannie Leavitt, perempuan pilot AS pertama yang mendobrak hegemoni kaum adam pada 1993. Para pemeran film Captain Marvel bersama Brigjen Jeannie Leavitt (Foto: defense.gov) “Saya sangat respek tentang betapa seriusnya dia (Brie Larson) mendalami perannya. Dalam film, mereka bekerjasama sebagai sebuah tim dan itu yang kami lakukan di AU. Memiliki teladan yang positif, seseorang yang bekerja keras dan berjibaku demi kebebasan dan keadilan, itu yang kami lakukan di AU dan Captain Marvel menjadi role model yang patut dicontoh para pilot muda kami,” ujar Brigjen Leavitt di situs Kemenhan AS, defense.gov , 8 Maret 2019. Satu dari Sekian Versi Karakter Captain Marvel merupakan karya mendiang Stan Lee dan ilustrator Gene Colan. Sosoknya pertamakali dimunculkan dalam komik Marvel Super-Heroes edisi ke-12 pada Desember 1967. Tom DeFalco dan Gilber Laura dalam Marvel Chronicle: A Year by Year History mengungkapkan, versi pertama Captain Marvel bukanlah seorang manusia bernama Carol Danvers, melainkan pahlawan alien laki-laki yang dijuluki Captain Mar-Vell. “Captain Mar-Vell adalah perwira militer Kree yang dikirim sebagai mata-mata ke bumi. Tetapi kemudian oleh Kree dia dianggap pengkhianat dan seterusnya bertarung melindungi bumi dari segala ancaman jahat dari lain semesta.” Hingga kini, setidakada tujuh versi Captain Marvel. Khusus di film ke-21 MCU, karakter yang diambil adalah versi Carol Susan JaneDanvers yang aslinya punya julukan Ms. Marvel, buah karya penulis Roy Thomas yang didampingi ilustrator Gene Colan. Carol Danvers muncul pertamakali di komik Marvel Super-Heroes edisi ke-13 pada Maret 1968, sebagai kepala keamanan pangkalan udara AU Cape Canaveral. Danvers mendapatkan kekuatannya setelah DNA-nya terpapar ledakan peralatan teknologi yang sedang dikembangkan Dr. Walter Lawson alias Captain Marvel, ilmuwan alien Kree yang menyamar di bumi. Captain Marvel edisi awal (1968) dengan seragam superhero berwarna perak dan hijau ciptaan Roy Thomas Tapi seperti yang diketahui bersama, produser tim penulis (Nicole Perlman dan Meg LeFauve) justru membawa karakter Danvers sebagai Captain Marvel itu sendiri meski basis ceritanya tetap mengacu pada versi Carol Danvers ciptaan Roy Thomas. Terkait improvisasi ini, Roy Thomas mengaku tak keberatan. “Saya mengenalkan sosoknya (Carol Danvers) sebagai kepala keamanan di Cape Canaveral, namun identitasnya (dalam film) sebagai pilot tempur masih masuk akal. Mulanya aneh melihat karakter yang saya ciptakan bersama Gene Colan dikembangkan setelah 50 tahun oleh orang-orang berbakat, sampai dia menjadi pahlawan utama Marvel. Tapi mereka patut dipuji dan saya senang bisa memberi sesuatu (karakter Carol Danvers) untuk bisa mereka kembangkan,” tutur Roy Thomas saat diwawancara Majalah Trip Wire , 13 Februari 2019.

bottom of page