top of page

Terpaksa Ganti Uang Negara yang Dipakai Foya-Foya

Hasjim Ning pening. Uang negara yang dititipkan kepada kawannya ludes dipakai foya-foya. Terpaksa lego mobil untuk menggantinya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 17 Okt 2019
  • 3 menit membaca

BAGI petualang seperti Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia” dan sahabat Bung Karno, menjadi ajudan presiden atau birokrat di sekretariat wakil presiden sama-sama menyiksanya. Keduanya amat monoton dan membunuh dinamika kehidupannya.


Itulah yang dirasakan Hasjim di ibukota Yogyakarta pada awal 1946. “Aku sudah jemu di kota itu. Aktivitasku mandek. Dengan Ford Cabriolette-ku aku hanya mondar-mandir tanpa arti, selain mengantarkan pejabat negara sampai menteri yang mau bepergian ke luar kota,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.


Maka begitu KSAL Laksamana M. Nazir mengajaknya ikut menginspeksi pangkalan AL di Tegal dan Cirebon, Hasjim langsung mengiyakannya. “Setidak-tidaknya aku akan meninggalkan Kota Yogya yang menjemukan itu untuk beberapa hari,” sambungnya.


Menggunakan mobil pribadi Hasjim, mereka mengunjungi Tegal selama dua hari dan Cirebon juga dua hari. Darwis Djamin, panglima AL Tegal, ikut menemani ke Cirebon. Pada malam terakhir, Hasjim diajak Nazir berunding dengan Darwis. Hasjim diminta menyelundupan persenjataan, obat-obatan, spare part kendaraan, dan kain untuk kebutuhan AL di Tegal.


Sejak Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup, AL Tegal kesulitan mendapatkan barang-barang itu. Kedua perwira AL itu sepakat melakukan penyelundupan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebagaimana dilakukan pejuang lain di berbagai tempat untuk menyiasati blokade yang diterapkan Belanda.


Di AL, Laksamana John Lie merupakan nama penyelundup paling populer. Aksi John Lie bahkan sampai masuk Majalah Life. “John Lie disebut sebagai The Great Smuggler with the Bible,” tulis Julius Por dalam Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan.


Kendati sempat ragu, Hasjim akhirnya menerima tugas itu. Banyaknya kenalan yang dimilikinya, besarnya akses ke petinggi republik, dan keinginannya meninggalkan Jogja menjadi alasan penerimaan tugas itu. Berbekal surat Muhammad Said, kepala bagian logistik markas AL Tegal, kepada seorang Cina di Perusahaan Lip Seng & Co di Glodok yang biasa memasok kebutuhan AL Tegal, Hasjim memulai petualangannya ke Jakarta dengan menumpang keretaapi isitmewa yang membawa rombongan PM Sjahrir.


Segera setelah tiba di Jakarta, Hasjim ke Glodok. Dari orang Cina itu Hasjim menerima setumpuk uang Jepang yang kemudian ditolak Hasjim karena AL Tegal lebih memerlukan uang NICA yang kala itu disebut Uang Merah. Uang itu berlaku di semua tempat yang diduduki Belanda. Namun karena tidak mudah menyediakan Uang Merah, Hasjim baru memperolehnya seminggu kemudian sejumlah f10 ribu alias jauh dari yang dibutuhkan pangkalan AL Tegal.


Namun, petualangan paling menantang Hasjim sesungguhnya adalah ketika menyelundupkan senjata ke Tegal. “Mendapat barang-barang kebutuhan angkatan laut sebagaimana ia dipesankan tidak begitu sulit di Jakarta. Membawanya keluar dari Jakarta cukup sulit. Karena setiap jalan ke luar kota dijaga dengan berlapis-lapis. Penjagaan militer Inggris tidaklah masalah. Akan tetapi cegatan-cegatan serdadu NICA yang suka berpatroli sangat berbahaya,” kata Hasjim.


Hasjim pantang menyerah menghadapi rintangan. Dengan putar otak dan bantuan kenalan-kenalannya di berbagai tempat, Hasjim akhirnya sukses melakoni perannya. Mulai peluru, revolver, hingga granat menjadi suplai rutinnya ke Tegal. Terlebih ketika dia sudah diberi jalan oleh sahabatnya, pengusaha Agus Dasaad.


Namun, tetap saja Hasjim pernah gagal. Mayoritas disebabkan oleh ulah “orang-orang sendiri” yang tak amanah atau tak kuat godaan. Salah satu kegagalan itu terjadi saat Hasjim menitipkan beberapa ribu Uang Merah kepada seorang kawannya untuk diserahkan kepada Mayor Tumbelaka, petinggi AL di Jakarta. Uang itu ternyata tak sampai tujuan.


Lantaran tak ingin nama baiknya tercoreng, Hasjim langsung mencari kawan itu. Di Karawang, Hasjim hanya mendapat informasi kawan itu sudah dua hari berangkat ke Jogja. Lewat bantuan Syamsudin rekannya, Hasjim akhirnya menemui kawan itu di sebuah tempat di Jogja. Sambil marah-marah, Hasjim menanyakan kenapa uang itu tidak disampaikannya kepada Mayor Tumbelaka.


“Telah habis, Sjim. Ketika kami bersama-sama ke Solo dan Malang,” jawab kawan itu sambil ketakutan.


Hasjim pun makin naik pitam. “Bukan peluru dan granat yang aku suruh bawa padamu. Tapi uang. Kau hambur-hamburkan uang negara itu pada cabo-cabo. Dengan apa akan kau ganti? Atau aku yang harus mengganti uang yang kau foya-foyakan itu?”


Semua orang di ruangan pun terdiam ketakutan. Namun, kemarahan itu tak membuat Hasjim terlepas dari nahas. Kendati tak sedikit pun merasakan nikmat uang itu, dia tetap mesti bertanggung jawab mengganti uang negara yang ludes itu.


“Untuk mengganti uang itu, aku terpaksa melepaskan sedan Vauxhall-ku pada Mayor Tumbelaka.”

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
bg-gray.jpg
Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.
bg-gray.jpg
Jejak pertama Maria Ullfah di Batavia. Membawanya masuk ke gelanggang pergerakan nasional.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Perjuangan Soedirman masih belum usai. Ketika sebagian pasukan Sekutu ke Magelang, mereka berjanji tak akan mengusik kedaulatan Indonesia, tetapi para eks tentara Belanda berulah kembali.
Perjuangan Soedirman masih belum usai. Ketika sebagian pasukan Sekutu ke Magelang, mereka berjanji tak akan mengusik kedaulatan Indonesia, tetapi para eks tentara Belanda berulah kembali.
Pada masa senjanya NH Dini mengalami beberapa penurunan kesehatan. Namun ia tetap bangkit bahkan mendirikan pondok bacaan dengan bantuan teman-teman. Di akhir masa hidupnya NH Dini bahkan memenerima banyak sekali penghargaan yang membanggakan.
Pada masa senjanya NH Dini mengalami beberapa penurunan kesehatan. Namun ia tetap bangkit bahkan mendirikan pondok bacaan dengan bantuan teman-teman. Di akhir masa hidupnya NH Dini bahkan memenerima banyak sekali penghargaan yang membanggakan.
transparant.png
bottom of page