top of page

Hasil pencarian

9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jalan Panjang Menghubungkan Sumatra

    Pulau Sumatra telah menjadi primadona sektor ekonomi sejak dulu kala. Beberapa wilayah di pulau itu merupakan sentra perkebunan tanaman keras, pertambangan, hingga destinasi wisata. Dengan sumber daya tersebut, Sumatra menjadi penghasil devisa negara terbesar setelah Jawa. Itulah sebabnya, pemerintah saat ini sedang menggencarkan pembangunan infrastruktur di Sumatra dengan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Menurut proyeksinya , Jalan Tol Lintas Sumatra akan membentang dari Lampung sampai Aceh sepanjang 2700 km yang terdiri dari 24 ruas jalan. Untuk mengerjakannya, PT Hutama Karya – BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur – ditunjuk sebagai pelaksana proyek bernilai investasi 206 trilyun  ini. Dimulai pada 2014, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra diperkirakan akan rampung pada 2024 mendatang. “(Jalan Tol) Trans Sumatra penting sekali untuk menghubungkan wilayah Sumatra yang sebelumnya seperti kantung-kantung ekonomi yang berdiri sendiri,” kata Bondan Kanumoyoso. Menurut  sejarawan dari Universitas Indonesia itu, Jalan Tol Trans Sumatra merupakan kesinambungan sedari zaman kolonial. Masa Hindia Belanda Seturut dengan Bondan, sejarawan pakar Asia Tenggara Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatera: Antara Indonesia dan Dunia mencatat “jalan Trans Sumatra dibahas untuk pertama kali pada 1916, tetapi baru selesai pada 1938”. Pada masa itu, pemerintah kolonial hendak menghubungkan kota-kota penting di Sumatra: Medan, Padang, dan Palembang. Masing-masing dari ketiga kota besar ini merupakan pusat jaringan kereta dan jalan raya. Maka tidak heran bila roda perekonomian Sumatra pada awal abad ke-20 digerakkan dari trio kota tersebut. Kota Medan di utara merupakan pusat perdagangan yang hiruk pikuk. Warna Eropanya sangat kuat berkelindan dengan karakter orang Tionghoa: lekat dengan bisnis. Jaringan perdagangan Medan lebih erat interaksinya dengan Malaya Inggris ketimbang pusat-pusat dagang Belanda. Padang yang terletak di tengah adalah kota kolonial tertua tetapi paling terlelap dari antara kota-kota kolonial. Palembang menjadi kota tua dengan kekayaan baru berupa minyak bumi dan yang paling dekat ke Jawa. Pada 1917, pemerintah kolonial membangun jalan raya yang menghubungkan Kota Medan dan Pematang Siantar. Kemudian, dari Pematang Siantar disambung lagi ke Prapat, kawasan sejuk di pesisir Danau Toba. “Jalan itulah rintisan pertama dari jaringan yang belakangan disebut jalan Trans-Sumatra,” tulis budayawan Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX . Dari Prapat, pemerintah meneruskan pembangunan jalan ke Tarutung dan menghubungkannya dengan Teluk Tapiannauli di Sibolga. Mulai 1920-an, jantung Tanah Batak yaitu daerah sekitar Danau Toba, telah terbuka untuk lalulintas modern dengan angkutan bus. Lalulintas perdagangan dan penggunanaan mata uang pun meningkat. Terbukanya Toba oleh jalan raya Trans Sumatra mempercepat modernisasi di kawasan itu. Danau Toba mulai ramai dikunjungi sebagai tempat tujuan wisata. Antara Prapat dan Tarutung tumbuh perkotaan berbentuk pasar menggantikan peranan onan (pasar tradisional Batak). Porsea, Balige, dan Tarutung muncul sebagai kota kecil yang sebelumnya tidak pernah ada. Selain itu, rakyat di desa-desa terpencil dapat mengakses pendidikan maupun layanan kesehatan yang dipelopori misi z ending . Jalan raya Trans Sumatra pun disambung dengan jalan-jalan yang mencapai berbagai pelosok Toba. Pola yang sama tadinya akan dikembangkan di kota-kota lain. Namun pada 1942, balatentara Jepang keburu datang mengobarkan Perang Asia Timur Raya. Pulau Sumatra menjadi basis bagi tentara ke-25 Angkatan Darat Jepang ( Rikugun ) dengan markasnya di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Pembangunan jalan Trans Sumatra pun terhenti untuk sementara waktu. Proyek Lanjutan Hingga dekade 1950-an, pembangunan jalan Trans Sumatra masih tersendat. Situasi keamanan dalam negeri tidak mendukung pemerintah oleh sebab pemberontakan di sejumlah daerah. Di Sumatra berdiri Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang menentang pemerintah pusat di Jawa. Akibatnya, proyek pembangunan jalan di Sumatra terkendala karena sepinya minat investor. Agenda untuk melanjutkan kembali pembangunan Trans Sumatra baru mendapat tempat memasuki awal 1960. Adalah Adnan Kapau Gani – anggota MPRS dan ketua Front Nasional Sumatra Selatan – yang mengusulkannya kepada Presiden Sukarno. Disebutkan dalam biografi Dr. A.K. Gani: Pejuang Berwawasan Sipil Militer yang disusun Ruben Nalenan dkk, Gani gigih memperjuangkan terlaksananya pembangunan jalan raya Poros Sumatra ( Central Trans Sumatra Highway ). Proyek ini kemudian masuk dalam cetak biru program Pembangunan Nasional Semesta berjangka delapan tahun. Pada 1964, Presiden Sukarno membentuk  penyelenggara pembangunan “Otorita Jalan Raya Lintas Sumatra”. Setahun kemudian dimulai pembangunan. Sumatra kawasan tengah dan selatan menjadi fokus perambahan jalan. Sementara Sumatra kawasan utara memasuki proses pengaspalan. Meski pada paruh kedua 1960 rezim Sukarno berakhir, program pembangunan Trans Sumatra tetap dilanjutkan oleh Presiden Soeharto. Di masa Orde Baru, proyek jalan Trans Sumatra telah masuk dalam rencana Pembangunan Lima Tahun (Pelita) 1 (1969—1974). Pembangunannya meliputi tiga jalur sekaligus: Jalur Tengah, Jalur Timur, dan Jalur Barat. Jalur Tengah lebih dahulu dieksekusi, melintasi Sumatra Barat dari Sungai Dareh ke Jambi dan Sumatra Selatan. Sejak jalan lintas itu beroperasi, sarana transportasi darat jadi pilihan para perantau.   “Dari Sumatra Barat orang lebih suka ke Jakarta naik bus karena sehari lebih cepat dibandingkan dengan angkutan kapal sehingga para pengusaha angkutan bus penumpang naik daun,” ujar Azawar Anas, Gubernur Sumatra Barat periode 1977—1987 dalam biografi Azwar Anas: Teladan dari Tanah Minang karya Abrar Yusra. Selama tiga dekade kekuasaan Orde Baru, setiap provinsi di Sumatra telah terhubung lewat jalan Trans Sumatra. Meski demikian, dalam perkembangannya muncul sejumlah tantangan di jalur lintas tersebut. Mulai dari tambal sulam jalan rusak, kemacetan kala masa mudik, hingga praktek pungutan liar. Belum lagi ancaman dari para penjarah “Bajing Loncat” yang kerap mengganggu pengemudi, terlebih rentan bagi sopir truk muatan. Sebagai solusi mengatasi masalah di jalur lintas Trans Sumatra, pemerintah pada 2012 mencanangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Pada 17 September 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 100 tentang “Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatra”. Peraturan tersebut kemudian direvisi oleh Presiden Joko Widodo lewat Perpres No 117/2015 dengan penambahan ruas Jalan Tol Trans Sumatra dari 4 menjadi 24.   “Hasilnya dalam jangka panjang adalah terintegrasinya ekonomi Sumatra sebagai satu kesatuan yang tentu akan menjadi kekuatan pendorong ekonomi Sumatra dan Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Bondan.

  • Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit

    Hampir tengah malam. Calon Arang berjalan menuju kuburan. Ia diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar kesumatnya bisa dibalaskan. Calon Arang adalah perempuan sakti ahli sihir dari Desa Girah. Ia sudah pada puncaknya merasa terhina karena tak ada yang mau menikah dengan putrinya yang cantik, Ratna Manggali. Semua lelaki takut menjadi menantu seorang Calon Arang. Di kuburan itu mereka pun menari sambil membunyikan alat musik. Tak lama Sang Durga pun menampakkan diri bersama para pengiringnya. “Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari. “Baik, saya setuju, tetapi jangan sampai terlalu besar kemarahanmu hingga ke pusat negeri,” jawab sang Bhatari Bhagavati. Calon Arang menurut. Setelah menari sekali lagi mereka pulang ke Desa Girah. Tak lama kemudian banyak orang di desa-desa sakit hingga jatuh korban jiwa. Karena menyebabkan kekacauan, tentara raja mencoba memusnahkan Calon Arang. Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Ia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat-alat musik dibunyikan. Mereka menari. Ia mengirim kekuatan tenung hingga ke ibu kota dari empat arah mata angin. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan, mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon. Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh lalu dihidupkannya kembali. Baru juga hidup, sang penyihir langsung memotong leher si zombie hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar ia pakai untuk keramas. Ususnya dipakai untuk selempang dan kalung. Badannya dimasak untuk persembahan bagi Bhuta  dan semua yang ada di kuburan itu, terutama Bhatari Bhagavati. Maka, keluarlah Sang Bhatari. “Saya mohon izin kepada paduka Bhatari untuk membinasakan orang seluruh negara sampai di ibu kota sekalian,” kata Calon Arang. Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan banyak orang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang menyelamatkan diri ke desa-desa lain. Begitulah dahsyatnya kutukan Calon Arang ke seluruh negeri. Kisah ini ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang . Filolog R.Ng . Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya,  De Calon Arang . Poerbatjaraka menduga naskah Calon Arang ini mungkin menggambarkan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Ia menghubungkannya dengan Prasasti Sanguran ( Calcutta Stone ) dari 982 M. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sangat sakti seperti raksasi. Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan perseteruan antara Airlangga dan Calon Arang. Namun, Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya “Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi”, berpendapat bahwa cerita Calon Arang lebih pas jika ditempatkan pada masa Singhasari akhir atau Majapahit. Alasannya, nama Mpu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Terlebih lagi bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra seperti dalam cerita Calon Arang  masih sangat jarang dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara. “Sangat diragukan bahwa Calon Arang pertama kali disusun pada masa Airlangga,” katanya.   Dari kisah Calon Arang itu, menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, yang menarik untuk dicermati bahwa akibat teluh seorang ahli sihir, penduduk Daha tertimpa wabah penyakit mematikan. Di luar persoalan teluh, kemungkinan wabah penyakit memang benar pernah terjadi. “Dalam kisah itu penyakit disebabkan karena teluh Calon Arang. Apakah ini simbolik gambaran tentang pagebluk yang terjadi?” ujar Dwi kepada Historia. Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, berpendapat bahwa kisah-kisah lokal semacam itu terlalu kabur. Terutama cerita yang berkembang beberapa abad sebelum orang benar-benar mulai terbiasa mencatat. “Karena peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah pada waktu itu,” tulis Reid. Kendati begitu, kata Hariani Santiko, pada masa lalu praktik memuja Durga untuk mengusir wabah penyakit memang pernah dilakukan. Masyarakat kuno pernah mengenal beberapa dewi yang dipercaya sebagai penguasa penyakit. Mereka mudah marah dan harus dijaga kepuasannya agar wabah penyakit tak menyerang. Menenangkan Bumi Di India, beberapa dewi dianggap sebagai pelindung manusia dari penyakit. Terutama dua penyakit yang sangat ditakuti: cacar dan kolera. Kendati dianggap pelindung, mereka terkadang juga bertindak sebagai penyebar penyakit. Terutama jika sang dewi murka dan tak puas terhadap manusia. Hariani menjelaskan, di India Utara sang penguasa penyakit dikenal dengan nama Sitala Dewi. Sementara di India Selatan dikenal beberapa nama dewi yang bertugas sama. Mariamma atau Mari dianggap sebagai dewi penguasa penyakit yang sangat ditakuti. Lalu ada anak-anak Durga, berjumlah tujuh dewi. Mereka dianggap sebagai penguasa penyakit yang mengancam anak-anak kecil. Ada juga para Gramadewata, yang di antaranya dianggap sebagai penguasa penyakit. Gramadewata adalah pelindung desa atau permukiman penduduk yang juga dikenal di India Utara. Khususnya di India Selatan pemujaan kepada Gramadewata ini sangat populer dan jumlahnya ribuan. “Setiap permukiman memiliki satu Gramadewata,” ujar Hariani. Hariani menjelaskan, munculnya dewi-dewi pelindung ini berhubungan dengan kepercayaan penduduk bahwa alam semesta penuh dengan kekuatan gaib. Kekuatan ini setiap waktu dapat mencelakakan manusia. Dewi pelindung, Gramadewata, diharapkan dapat menjaga mereka dari ancaman itu. Ini adalah upaya agar penduduk terhindar dari penyakit menular, gangguan makhluk jahat, penyakit ternak yang merugikan, kegagalan panen, kebakaran, atau tidak mempunyai keturunan. Namun, Gramadewata menuntut imbalan dari manusia. Penduduk harus memberi mereka persembahan yang memuaskan. Kalau kurang, Gramadewata akan berbalik mencelakakan penduduk. Karenanya setiap permukiman biasanya memiliki kuil sederhana. Tempat suci ini dikhususkan untuk Gramadewata. Di sana akan ditempatkan arca atau benda yang menjadi lambang dewi-dewi itu. Menurut I Wayan Redig, arkeolog Universitas Udayana, pemujaan terhadap dewi beralasan karena secara makrokosmis, bumi ini adalah ibu. Di bumi, segalanya dihidupkan, dipelihara, dan mati. Karenanya, untuk urusan memelihara, menyiapkan sumber kehidupan Ibu Pertiwi, seperti juga Durga menjadi Dewi Ibu yang akan selalu dipuja di banyak tempat. “Dewi Durga menjadi Dewi Ibu yang dipuja sepanjang masa karena selama manusia perlu hidup dan kehidupan ia tidak bisa lepas dari pangkuan sang Ibu ilahi ini,” jelas Redig dalam makalah “Durga Mahisasuramardini (Pemujaan Dewi Ibu Sepanjang Masa)” yang disampaikan pada Rembug Sastra (21 Mei 2016) di Pura Jagatnata, Denpasar, Bali. Durga Sang Penguasa Penyakit Di India Utara dan Selatan, Durga sama-sama dipuja sebagai dewi pelindung dari penyakit. “Durga dan Kali adalah dewi penting yang menguasai segala segi kehidupan manusia,” kata Hariani. “Di beberapa tempat Durga berbaur dengan Gramadewata dan akan menyebarkan penyakit kepada manusia dan ternak jika marah.” Durga memiliki berbagai aspek. Tiga di antaranya sering dibicarakan dalam kitab-kitab Purana  dan Tantra , yaitu Durga sebagai pembinasa asura , Durga sebagai penguasa tanam-tanaman dan kesuburan, dan Durga sebagai penguasa penyakit menular. Durga sangat ditakuti karena bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Dalam kitab-kitab Purana, Durga seringkali dihubungkan dengan tujuh dewi pelindung anak-anak dari penyakit, yakni Kaki, Halima, Malini, Vrnila, Arya, Palala, dan Vaimitra. “Pemujaan tujuh ibu ini sangat penting di India Selatan, dan mereka dianggap sebagai saudara perempuan Durga,” kata Hariani. Karenanya, Durga Puja pun dilakukan. Menurut Hariani, berdasarkan Kitab Kalika Purana  apabila menjalankan Durga Puja pada tanggal 8 paro terang bulan Caitra  akan bebas dari segala kesusahan dan penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa sedikit berbeda. Durga dikenal dalam dua aspek saja. Ia sebagai pembinasa asura  dan penguasa penyakit. Sementara penguasa tanaman dan kesuburan lebih dikenal sebagai Dewi Sri. Aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular dalam sumber tertulis hanya ditemukan dalam kitab Calon Arang. Lebih banyak yang membicarakannya sebagai pembinasa asura . Sebagai aspek ini, ia dikenal dengan nama Durga Mahisasuramardini. Hariani mengatakan upacara yang dilakukan oleh Calon Arang dan murid-muridnya adalah upacara Tantra dengan mempergunakan ilmu gaib destruktif atau ilmu hitam. “Di sini yang dipuja adalah aspek Durga sebagai penguasa penyakit menular,” jelas Hariani. Kisah wabah penyakit akibat dendam Calon Arang itu pun berakhir setelah Mpu Bharadah membunuh dan meruwat sang ahli sihir dan Desa Girah.

  • Sultan Agung dan Wabah Penyakit

    Sultan Agung tercatat sebagai raja terbesar Kerajaan Mataram. Ia berkuasa selama lebih dari tiga dekade (1613–1646). Ia menguasai seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Ujung Timur dan Madura. Tak hanya di Jawa dan Madura, kekuasaan Sultan Agung juga diakui oleh Sukadana di Kalimantan, Palembang, Banjarmasin, dan Makassar. Memang kecuali di Sukadana, angkatan laut Mataram bukanlah kekuatan penakluk yang besar atas pulau-pulau lain. Tetapi keberadaannya telah memberi kepada Mataram suatu pengaruh yang mungkin bisa dibandingkan dengan Majapahit. Sehingga, sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200–2004 , menyebut “Sultan Agung merupakan penakluk terbesar di Indonesia sejak zaman Majapahit.” Satu-satunya kekurangan Sultan Agung adalah kegagalannya merebut Batavia dari VOC dan satu-satunya kerajaan di Jawa yang tetap merdeka adalah Banten yang terletak di ujung barat. Dalam ekspansi kekuasaannya, salah satu kendala yang dihadapi Sultan Agung adalah wabah penyakit. Seperti ketika ia menyerang Wirasaba (Mojoagung). “Setelah setengah bulan berperang, para prajurit Mataram diserang wabah penyakit pes. Banyak prajurit yang meninggal, sehingga Sultan Agung mengusulkan untuk menghentikan serangan dan pulang. Akan tetapi Tumenggung Martalaya tetap teguh. Ia minta waktu satu hari lagi untuk merebut Wirasaba,” tulis sejarawan H.J. de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Akhirnya, setelah tiga serangan hebat yang mendadak, Wirasaba bisa ditaklukkan. Sebaliknya, Sultan Agung menggunakan taktik penyakit untuk mengalahkan lawan terkuatnya, Surabaya, dengan cara membendung Kali Mas, cabang dari Sungai Brantas. Hanya sebagian dari air tersebut melewati bendungan. Air yang sedikit itu menjadi busuk karena keranjang-keranjang berisi bangkai binatang dan buah aren, yang diikat pada tonggak-tonggak di dalam kali. “Karena itu, penduduk Surabaya dihinggapi bermacam-macam penyakit: batuk-batuk, gatal-gatal, demam, dan sakit perut,” tulis De Graaf. Namun, setelah Surabaya menyerah pada 1625, kegiatan militer Sultan Agung mengalami kemunduran. “Kecuali disebabkan oleh perluasan keraton dan keletihan oleh kerja keras selama tahun-tahun sebelumnya, kemunduran ini juga akibat penyakit menular,” tulis De Graaf. Penyakit pes yang mewabah pada 1625–1627 itu membunuh 2/3 penduduk di beberapa daerah di Jawa Tengah dan 1/3 penduduk Banten. Sultan Agung memulai lagi ekspansinya pada 1628 dengan menyerang VOC di Batavia. Serangan itu gagal meskipun telah menerapkan strategi seperti ketika merebut Surabaya, yaitu membendung sungai untuk menimbulkan penyakit. Serangan kedua pada 1629 juga mengalami kegagalan. “Kurang lebih lima puluh persen angkatan perang Sultan Agung mati karena kelaparan, penyakit, kecapaian, hukuman, dan peluru Belanda,” tulis sejarawan Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta . Kekalahan itu tak menghentikan Sultan Agung. Ia menaklukan Giri, Panarukan, Blitar, dan Blambangan di Ujung Timur. Setelah itu, menurut Ricklefs, Sultan Agung melakukan langkah simbolisnya yaitu mengirim utusan ke Mekkah untuk meminta gelar sultan. Ia tak mau kalah dengan pesaingnya, raja Banten yang pertama di Jawa menerima gelar sultan dari Mekkah. Pangeran Ratu mendapatkan nama Arab, Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir. Utusan Sultan Agung kembali pada 1640 dengan membawa gelar dan nama Arab: Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani. Kesehatan Sultan Agung menurun. Ia jatuh sakit pada 1642. Sehingga yang tampil menggantikannya dalam urusan kerajaan adalah Tumenggung Wiraguna. “Sedemikian menonjol orang kuat ini tampil dalam surat-surat, sedemikian sepinya muncul berita-berita tentang rajanya,” tulis De Graaf. “Mungkinkah tindak-tanduk Tumenggung Wiraguna yang kuat ini disebabkan karena kemunduran kesehatan Sultan Agung? Pada tahun 1642, raja jatuh sakit. Penyakitnya cukup berat.” Sehubungan dengan itu, lanjut De Graaf, menurut cerita tutur dalam Serat Kandha , Nyai Loro Kidul telah meramalkan kematian Sultan Agung, yaitu ketika ia mengunjunginya di istana bawah laut. Jadi, awal tahun 1644, ia telah mengetahui atau merasa bahwa ia akan meninggal.   “Apakah pengetahuan ini didasarkan pada kesehatannya yang tidak stabil, ataukah ia sungguh-sungguh menerima wahyu ketika ia mengunjungi Gua Langse? Pengganti-penggantinya pun biasa pergi ke gua tersebut,” tulis De Graaf. Menurut Ricklefs, untuk menghadapi kematiannya, pada 1645, Sultan Agung membangun sebuah tempat pemakaman baru di puncak bukit di Imogiri, kira-kira lima kilometer di sebelah selatan istananya. Situs ini akan menjadi pemakaman bagi hampir semua penggantinya dan anggota-anggota keluarga kerajaan yang terkemuka. Akhirnya, Sultan Agung meninggal dunia pada 1646, kira-kira antara awal Februari dan awal April. “Wabah-wabah penyakit merajalela pada tahun 1640-an, dan kematian Sultan Agung mungkin sekali disebabkan oleh salah satu wabah tersebut,” tulis Ricklefs. Mengenai wabah penyakit itu, sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 , mengutip Babad ing Sangkala  bahwa pada 1643–1644 di Mataram (Jawa) terjadi “epidemi beratus-ratus mati setiap hari”. Saat Sultan Agung wafat, pintu-pintu gerbang yang menuju ke istana ditutup untuk mencegah terjadinya kudeta. Ia digantikan oleh putranya dengan gelar Susuhunan Amangkurat I.

  • Kisah Hanoman dari Kota Lama

    Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan daya tarik untuk dikunjungi. Banyak bangunan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh. Sebagian dimanfaatkan menjadi kedai-kedai minuman atau makanan dengan interior yang menarik. Tempat ini ramai saban akhir pekan atau musim liburan sebelum pandemi Covid-19 melanda. Salah satu bangunan bersejarah di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Karena ramai pengunjung, Kota Lama juga menjadi tempat mengais rezeki bagi penampil jalanan. Salah satunya Heri Sudron (46). Dia biasa tampil sebagai Hanoman, salah satu tokoh dalam wiracarita Ramayana. Dia mengenal perwayangan sejak kecil sehingga tidak asing lagi dengan berbagai tokoh wayang. Dia tampil sebagai Hanoman karena menurutnya tokoh ini menarik. Heri merias wajahnya untuk menjadi Hanoman di Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). “Sejak usia 9 tahun di Banyuwangi saya sudah sering menonton wayang, hingga akhirnya saya bergabung dengan grup kesenian yang memainkan seni Janger,” ujar Heri. Janger adalah kesenian asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum, dan gamelan Bali yang mengambil cerita rakyat Jawa sebagai lakonnya. Heri mengaku kecintaanya terhadap seni peran dan Hanoman membuat dirinya melakoni peran sebagai seorang  performance art  hingga kini. Dia memperoleh sedikit rupiah dari orang yang berfoto bersama dirinya. Heri bersiap dengan kostum Hanomannya. (Fernando Randy/Historia). Hal-hal detail seperti gelang dan lainnya juga dipersiapkan oleh Heri. (Fernando Randy/Historia). Menurut Heri Hanoman adalah karakter yang sudah melekat pada dirinya. (Fernando Randy/Historia). “Setelah menikah, saya pusing mikir mau kerja apa. Hingga akhirnya saya kembali teringat akan sosok Hanoman. Akhirnya saya merantau dan kembali menjadi Hanoman hingga saat ini," lanjut pria berambut gondrong ini.  Selama menjadi Hanoman, Heri mengalami banyak suka dan duka. Saat Kota Lama sedang ramai pengunjung, dompetnya ikut ramai. Tapi saat sepi, dompetnya sering tak berisi. "Menjadi Hanoman harus mengerti berbagai karakter masyarakat yang ingin berfoto. Ada yang hanya foto bersama, ada yang sampai naik pundak saya. Namun ya itu tadi saya adalah Hanoman yang bertugas melayani dan melindungi masyarakat,” kata Heri. Para pengunjung saat berfoto bersama sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menyaksikan sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman di Kota Lama Semarang. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung mengajak sang hanoman untuk berfoto bersama. (Fernando Randy/Historia). Heri sendiri tidak mematok berapa bayaran bagi pengunjung Kota Lama Semarang yang sekadar ingin berfoto bersama dirinya. Semuanya suka rela. “Berapa saja bayarannya. Saya tidak pernah mematok harga untuk berfoto bersama saya. Yang penting ikhlas saja,” lanjut Heri. Ikhlas adalah bayaran yang didapat oleh Heri sang Hanoman. (Fernando Randy/Historia). Sang Hanoman beraksi di tengah Kota Lama. (Fernando Randy/Historia). Puluhan tahun memerankan Hanoman, Heri mempunyai harapan bagi kesenian wayang. Dia berharap semua generasi turut andil merawat kesenian ini. “Pesan saya untuk semua, bukan hanya anak-anak, warisan leluhur seperti ini jangan sampai terlupakan. Jangan sampai tersaing dengan musik-musik Barat. Jangan sampai kita melupakan dan meninggalkan kesenian tradisional,” kata Heri. Sang Hanoman berharap kesenian tradisional seperti wayang terus dijaga oleh generasi muda. (Fernando Randy/Historia).

  • D.I. Pandjaitan Bernatal di Tengah Hutan

    DI masa revolusi kemerdekaan, berada di rumah berkumpul bersama keluarga adalah kesempatan langka yang sangat mahal. Hal seperti inilah yang dialami Kapten Donald Isaac Pandjaitan ketika Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Waktu itu Pandjaitan menjabat sebagai kepala staf umum yang mengurusi logistik Komandemen Sumatra. Pada 24 Desember 1948, Pandjaitan mengadakan misi ke Riau. Panglima Komandemen Sumatra Kolonel Hidayat Martaatmadja menugaskan Pandjaitan mencari senjata untuk persiapan perang gerilya. Pandjaitan disertai beberapa orang stafnya. Mereka  antara lain Letnan Pieter Simorangkir, Letnan Sumihar Siagian, Sersan Mayor G.G. Simamora, dan Bustami -Wali Negeri Rao- sebagai penunjuk jalan. Pukul 06.25 pagi, rombongan Pandjaitan berangkat dari Rao, Pasaman, Sumatra Barat. “Mereka berlima menelusuri jalan tikus, memasuki rimba raya di lereng-lereng Bukit Barisan. Bustami yang mengenal wilayah gawat itu berjalan di depan,” tutur istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br, Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Setelah lima jam menerobos hutan, menuruni lembah, dan mendaki bukit, perjalanan mendekati perkampungan. Setibanya di Kampung Pintu Padang, rombongan Pandjaitan singgah sebentar untuk makan siang. Penduduk menerima dan menjamu mereka dengan baik. Atas sambutan hangat itu, Pandjaitan sekalian mengajak rakyat setempat untuk ikut berjuang dalam perang gerilya. Diterangkannya bagi mereka yang tidak memanggul senjata, dapat menyiapkan makanan dan mengirimkannya ke garis depan. Ajakan Pandjaitan bersambut. istri pemuka setempat memberikan perhiasan miliknya untuk biaya perjuangan. Setelah minta diri dan mengucapkan terima kasih rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya Desa Rumbai yang berjarak sekira 36 km dari Pintu Padang. Kurang dari lima jam, mereka sudah sampai. Karena hari telah petang, mereka beristirahat di sebuah kedai yang di atasnya difungsikan sebagai penginapan. Setelah berbaring hingga pukul 20.45, Pandjaitan belum dapat tertidur. Pandjaitan menyadari bahwa saat itu adalah malam Natal. Sebagai seorang Kristiani, saat demikian lazimnya mengadakan misa diikuti dengan kebaktian di gereja pada keesokan pagi bersama keluarga. Pandjaitan teringat pula dengan istri dan anaknya yang sedang mengungsi pasca agresi. Tetiba Pandjaitan bangkit dan mengambil dua buku bersampul hitam: Kitab Injil dan Kidung Pujian. Dia menatap Siagian, Simorangkir, Simamora yang masih terjaga. Ketiganya Kristen. Sementara Bustami yang beragama Islam, sudah tertidur pulas. “ Gentlemen ,” kata Pandjaitan, “Tidak seorang pun di antara kita yang menduga akan sampai di tempat ini. Hal ini disebabkan oleh panggilan tugas. Justru inilah yang saya sebut sebagai kehendak Tuhan.” Kendati jauh dari keluarga dan gereja, Pandjaitan membesarkan hati para stafnya. Sebagai wujud syukur, Pandjaitan memimpin mereka melantunkan kidung pujian. Dengan pelan-pelan namun khidmat, mereka melantunkan lagu Malam Kudus . Pandjaitan menutup ibadah itu dengan doa, selanjutnya mereka saling bersalaman. Selamat hari Natal! Pagi-pagi tanggal 25 Desember, rombongan Pandjaitan melanjutkan perjalanan menuju Riau. Mereka terjaga dengan tubuh yang lebih segar setelah berisitrahat semalam. Setelah sarapan, mereka berangkat pukul 06.20 pagi. Menurut Marieke perayaan Natal 1948  di desa kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara itu sungguh amat terkesan di hati Pandjaitan. Dia selalu ingat peristiwa yang sangat mengharukan itu. Di tengah perjuangan gerilya, Pandjaitan menjalani kewajiban terhadap negara dan sekaligus terhadap Tuhan. “Hari yang suci itu dialaminya selagi bangsa dan negara dalam ancaman penjajahan, apalagi isteri dan anak-anak yang masih kecil tengah dalam pengungsian,” kenang Marieke.  Pandjaitan kelak menjadi Atase Militer Republik Indonesia untuk Jerman Barat. Dia mencapai puncak karier militernya sebagai Asisten IV/Logistik Menteri Panglima AD. Setelah gugur dalam Insiden 30 September 1965, namanya kemudian lebih dikenal sebagai salah satu dari pahlawan revolusi.*

  • Orang-orang Rawagede

    HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai kala disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang yang terletak dekat pantai, kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Dari dalam, seorang perempuan uzur muncul. Tertatih-tatih dia menyambut saya. Tubuhnya gemetaran karena pengaruh usia. “Kita bicara di luar saja ya, di dalam gelap,” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti nama perempuan tua itu. Dia adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di Dusun Rawagede  pada 1947. Bersama seorang korban, anak korban dan tujuh janda korban Rawagede lainnya, pada 2011 dia menggugat pemerintah Belanda ke Pengadilan Tinggi di Den Haag. Setelah melalui jalan berliku, upaya mereka berhasil. Namun apakah itu menjadikan hidup mereka lebih baik? Selasa, 9 Desember 1947. Orang-orang Rawagede dikejutkan oleh suara  stengun  dan  brengun  yang menyalak tiba-tiba dari arah timur pagi itu. Demi mendengar tembakan-tembakan tersebut, kontan para laki-laki  yang belum sempat berangkat ke sawah berhamburan ke arah Kali Balong sedang kaum perempuan dan anak-anak justru memilih bertahan di rumah. Wanti yang saat itu tengah hamil tua memilih bersembunyi di bewak  (bekas lubang perlindungan zaman Jepang) yang ada di bawah rumah panggungnya. Begitu juga dengan nenek dan kakeknya. Saat berlindung tetiba dia teringat Sarman, suaminya yang beberapa jam lalu  sudah pergi sawah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi penuh ketegangan, tetiba seorang tentara Belanda berseragam loreng masuk ke lingkungan rumah Wanti. Sambil membawa senjata, dia langsung membuka pintu bewak dan membentak dalam bahasa Melayu: “Kemana laki-lakinya?” “Tidak ada Tuan,” jawab Wanti dalam nada gemetar. “Pergi ke mana?!” “Ke sawah, Tuan.” Serdadu bule itu kemudian menunjuk dua orang tua yang saat itu tengah sembunyi di kolong meja. “Ini siapa?” "Ini kakek saya, Tuan. Itu nenek saya, Tuan.” Setelah menggeledah seluruh sudut ruangan, sang serdadu pun berlalu. Sementara itu di tempat lain, Telan melakukan langkah seribu ke arah Kali Balong. Pemuda yang dikenal sebagai anggota Lasykar Hizbullah itu lantas berjalan menyisir tepi kali untuk mengamankan diri ke arah Desa Mekarjaya, yang bertetangga dengan Dusun Rawagede. “Suasana sangat mencekam kala itu. Suara tembakan terdengar diringi jeritan kaum perempuan dan anak-anak kecil,” ujar lelaki kalahiran Rawagede itu. Beberapa waktu kemudian, rombongan serdadu-Belanda berpakaian macan tutul memasuki Rawagede. Mereka adalah anggota Yon  3-9-RI Divisie 7 December , sebagian kecil prajurit   1e Para Compagnie  dan  12 Genie Veld Compagnie  (keduanya merupakan brigade cadangan dari pasukan parakomando  Depot Speciale Troepen ) pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Begitu memasuki dusun, mereka langsung beraksi. Sebagian berjaga-jaga di mulut dusun, sedang sebagian lagi menyebar, mendobrak pintu rumah (termasuk rumah Wanti) dan memerintahkan secara kasar agar para penghuninya keluar. “Para perempuan dan anak-anak mereka biarkan begitu saja, tapi kaum lelaki yang tak sempat lari dikumpulkan dalam beberapa kelompok,” kenang almarhum Sai, salah seorang penduduk Rawagede yang belakangan lolos dari maut. Satu kelompok yang  yang berisi 15 laki-laki lantas dijejerkan. Seorang sersan berkulit putih lantas menanyai satu persatu orang-orang tersebut dalam nada membentak. "Ekstrimis ya?!”  “Bukan, Tuan.” “Kamu tahu di mana itu Laskar?! Kamu tahu Lukas?!” “Tidak tahu, Tuan." Mendengar jawaban kompak para lelaki yang tertangkap, tanpa banyak bicara lagi, seorang serdadu Belanda yang berdiri di bagian belakang para tawanan lantas mengokang senjatanya. Darah pun berhamburan, mengental merah mewarnai bumi Rawagede. Beberapa jam setelah pembantaian itu. Langit Rawagede dibekap mendung. Suara ratusan burung gagak mengoak, bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar. Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda. Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah,” kenangnya. Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Telan, masih menyaksikan Tong Wan (pemuda Tionghoa yang bergabung dengan Hizbullah) sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “Sebelum ditembak, ia sempat berteriak: merdeka!" ujar lelaki tua yang meninggal pada 2019. Hawa panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih  melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia, salah satu putrinya yang tersisa. Dia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya. “Hingga sekarang, Emak tak pernah mengerti mengapa suami Emak dibunuh. Dia hanya seorang petani, bukan tentara atau laskar,” ujar Wanti dalam nada lirih. Sebagai konsekuensi dari kekalahannya di Pengadilan Tinggi Den Haag, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp240.000.000,00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka? “Ya sampai. Walaupun saya hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi  Alhamdulillah  saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek dari beberapa cucu itu. Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Dia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan (ketika awal 2019 saya ke Pantai Sedari, rumah Wanti sudah hancur dimakan abrasi). Bagi  salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan dihantui rasa trauma sejatinya tak bisa terbayar oleh uang sebanyak apapun. “Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih,” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air bening meleleh di kulit pipinya yang keriput. Tulisan ini dibuat untuk mengenang Bu Wanti dan Pak Telan, yang beberapa waktu lalu baru saja mangkat.

  • Antropolog Swiss dan Polisi RI Cincai

    SETELAH dua hari mengarungi pelayaran sulit, antropolog asal Swiss Reimar Schefold akhirnya sampai di rumah Helmut Buchholz, kawannya yang berkebangsaan Jerman dan berprofesi sebagai penginjil di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Selain untuk mengurus perpanjangan visa, kepergian Reimar dari pesisir barat ke Muara Siberut pada akhir dekade 1960-an itu adalah untuk membicarakan surat dakwaan yang diterimanya terkait dugaan pembelaannya terhadap masyarakat Sakuddei. “Aku langsung menemui dan berbicara kepada Helmut setelah kedatanganku di pos penginjilan itu. Selain itu ia juga ingin mengetahui apa makna sebenarnya dari: tindakanku sebagai ‘kepala suku orang-orang kafir.’,” ujar Reimar dalam memoar berjudul Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai. Kepolisian setempat mendakwa Reimar karena menganggap riset Reimar di pedalaman Mentawai dengan tinggal bareng masyarakat Sakuddei sejak 1967 sebagai dukungan terhadap masyarakat itu dalam melawan “modernisasi” yang digulirkan pemerintah sejak era Presiden Sukarno dan dilanjutkan pada era Soeharto. Dalam “modernisasi” itu, pemerintah memperkenalkan dan mengajak suku-suku terbelakang untuk mengadaopsi hal-hal modern dan meninggalkan hal-hal “primitif” seperti kehidupan berburu, bertato, berambut gondrong, dan lain-lain. “Di Mentawai, pamongpraja menyuruh cukur rambut orang lelaki yang panjang, demi moderninsasi suku Mentawai, sedang di Jakarta dan kota-kota besar, laki-laki, tua dan muda memangjangkan rambut mereka! Di Pulau Fiki orang setengah telanjang ke sekolah itu modernisasi! Di Irian Jaya koteka dibuang, di Jakarta tari telanjang di nightclub.  Sikap feodal ini juga langsung berakar pada sikap manusia Indonesia terhadap kekuasaan,” kata Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia . Modernisasi yang dilancarkan pemerintah itu pula yang kerap menimbulkan gesekan dengan orang-orang Mentawai, terutama masyarakat Sakuddai tempat Reimar menumpang. Lantaran mendukung prinsip hidup masyarakat Sakuddai untuk melestarikan hutan tempat hidup mereka dan budaya leluhurnya, Reimar dicap melawan modernisasi oleh pemerintah. Hal inilah yang coba dinselesaikannya dengan Nico, kepala polisi RI setempat. Saat Helmut esoknya memimpin misa Minggu di gereja penginjilannya, Reimar melihat Nico duduk di barisan depan. Dia langsung mengampirinya dan meminta membicarakan surat dakwaannya secara empat mata di kantor polisi. Keduanya pun sepakat untuk membicarakannya pada keesokan harinya di tempat penginjilan itu sesuai permintaan Nico. Keduanya langsung masuk ke pokok pembicaraan ketika keesokan harinya bertemu. “Anda mungkin sudah mendengar cerita yang mereka katakan tentang Anda. Aku ingin sekali mendengar sendiri dari Anda tentang kebenarannya,” kata Nico, dikutip Reimar. Setelah Reimar menjelaskan pandangannya, keduanya pun terlibat dalam perdebatan. Nico bertahan pada pendapatnya yang mendukung pandangan pemerintah Indonesia. “Ide-ide primitif seperti itu harus dilarang. Dan bila Anda ingin tahu kenapa: mereka menghambat kemajuan. Aku tidak akan menghalangi Anda untuk itu. Akan tetapi apabila ini berakibat membuat orang-orang berpaling dari kemajuan, maka aku akan tampil dan melawannya. Itulah mengapa aku memintamu datang kemari,” kata Nico.  Perdebatan itu akhirnya selesai dengan pandangan solutif yang dikeluarkan Reimar. “Orang-orang seperti orang-orang Sakuddei itu pertama-tama harus mendapatkan kesempatan untuk mengerti mengapa mereka harus berubah dan kemudian ikut menentukan apa yang ingin mereka ambil alih. Bila tidak maka mereka diperlakukan sama saja seperti di bawah kekuatan kolonialisme.” Suasana persahabatan kembali melingkupi keduanya. Nico menutup pertemuan dengan perintah agar Reimar melihat arloji Rolex yang dipakainya. Arloji itu rusak dan karena tak ada orang di sana yang bisa memperbaikinya, arloji itu terus dipakainya dalam keadaan mati. “Aku akan dengan senang hati menolong Anda, tetapi barangkali Anda juga bisa menolongku. Kulihat Anda memakai Omega. Jadi begini: kuberikan Anda Rolex-ku; yang akan Anda bawa pulang untuk diperbaikin dan Anda memberikanku Omega itu sebagai gantinya,” kata Nico. Keduanya pun sepakat. “Anda adalah teman orang Indonesia. Aku akan menolong Anda selama Anda ingin tinggal di sini,” sambungnya. Ketika Helmut masuk ke ruangan sesaat kemudian, pembicaraan sudah selesai. “Ketika aku bercerita kepadanya bahwa Niko akan menolongku dalam memperpanjang visaku, Helmut terbelalak,” kata Reimar.

  • Riwayat Bumbu dan Budak di Jambi

    Sejak abad ke-16 wilayah Jambi tercatat telah mampu menghasilkan lada untuk keperluan dagang dengan para saudagar yang melewati wilayah mereka. Daerah yang pernah ada di bawah kuasa Malaka ini awalnya tidak menjadikan rempah itu sebagai komoditi utama perdagangan. Namun sejak dimulainya hubungan dengan orang-orang Eropa, penguasa Jambi mulai melirik tanaman ini dan menjadikannya bahan dagangan utama. Dicatat Tome Pires dalam Suma Oriental , Jambi berada di bawah kekuasaan Demak ketika para penjelajah Portugis itu datang ke wilayah tersebut. Para penguasa di sana dijadikan “gubernur”, yang bertugas mengamankan seluruh wilayah kekuasaan Demak di Jambi. Meski menjelang pertengahan abad ke-16 pengaruh dari Jawa itu masih cukup kuat, para penguasa Jambi telah melakukan kegiatan dagang secara mandiri. “Tanah Jambi tersebut menghasilkan kayu yang mengandung obat-obatan, emas, dan barang dagangan dari Tongkal, serta dari tempat lainnya. Dan di sana sudah lebih banyak bahan-bahan makanan. Negeri ini ada di bawah Pate Rodim, penguasa Demak. Rakyat Jambi lebih banyak menyerupai orang-orang Palembang, Jawa dan Melayu,” tulis Pires. Setelah pengaruh Jawa melemah, para penguasa Jambi membangun sebuah pemerintahan mandiri yang mengatur segala urusan kenegaraan, termasuk keperluan dagang dan pengembangan lada untuk komoditi internasional. Kesultanan Jambi pun memulai persaingan dengan pelabuhan dagang di wilayah Sumatera lainnya. Memasuki abad ke-17 perdagangan lada semakin ramai. Bergabungnya kamar dagang Belanda, Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), membuat lonjakan permintaan lada di pasar. Penguasa Jambi pun menggencarkan produksi rempah itu dan menjadikannya komoditi utama. Rakyat di wilayah yang besar mulai terlibat dalam penanamannya. “Lada di pelabuhan Jambi tak hanya datang dari daerah Hulu Jambi, tapi juga dari daerah wilayah yang termasuk daerah penyangga Kesultanan Jambi. Lada yang masuk ke Jambi datang dari berbagai daerah di Sumatera, terutama dari Minangkabau,” ungkap Dedi Arman dalam Dari Hulu ke Hilir Batanghari: Aktivitas Perdagangan Lada di Jambi Abad XVI-XVII . Meski begitu kebutuhan lada untuk perdagangan tetap saja tidak terpenuhi. Permasalahan mulai muncul pada 1625, kata Arman, tatkala para petani lada Minangkabau di hulu enggan menjual hasil panennya ke Pelabuhan Jambi. Alasannya, kerugian selalu mereka alami ketika bertransaksi di wilayah Jambi. Selain karena keberadaan perompak yang dibiarkan berkeliaran, penguasa Jambi pun selalu mematok harga rendah untuk hasil panen para petani ini. Barbara Watson Andaya dalam Hidup Bersaudara Sumatera Tenggara Abad XVII dan XVIII, juga menyebut adanya larangan penjualan langsung dengan pedagang Tiongkok dan Eropa yang begitu merugikan. Pihak kesultanan pun dibuat pusing oleh persoalan tersebut. Mereka akhirnya mengambil tindakan lain, yakni ekspansi ke daerah hulu (pedalaman) agar memperoleh akses terdepan dalam pengumpulan tanaman lada. Di sinilah para budak menjalankan perannya.  Wilayah hasil ekspansi penguasa Jambi itu nantinya akan diisi oleh para budak tersebut agar penduduk hulu tidak melakukan perlawanan. “Kesultanan Jambi menambah jumlah penduduk yang nantinya menjadi kekuatan. Ketersediaan budak tak hanya menjadi tambahan tenaga untuk bekerja dan berperang, tapi juga untuk prestise. Kemampuan Jambi dalam persaingan pembelian budak semakin meningkat seiring meningkatnya kekayaan istana Jambi dalam perdagangan lada,” tulis Arman. Pertengahan abad ke-17, peraturan baru diberlakukan penguasa Jambi. Tekstil mulai digunakan sebagai alat tukar lada di Jambi oleh pihak penguasa. Keputusan itu mendapat pertentangan dari para petani. Mereka ingin mata uang real  tetap menjadi alat tukar untuk hasil pertaniannya. Jika tidak bisa dipenuhi, para petani meminta budak sebagai bayarannya. Para penguasa dan bangsawan di Jambi memiliki budak yang cukup banyak. Mereka bersaing dalam kepemilikan budak, terutama budak perempuan dari India, Bali, Jawa, Makassar, dan daerah lainnya. Para penguasa itu juga memperoleh budak dari hasil tukar dengan lada. Budak perempuan yang cantik bisa dijadikan pelacur, sehingga menguntungkan para pemiliknya. Jika budak laki-laki dipakai untuk kepentingan militer serta pembukaan lahan baru pertanian lada, para budak perempuan digunakan untuk membantu keperluan sehari-hari, seperti mengangkut air, mengumpulkan kayu bakar, dan membantu perdagangan. “Orang lokal cenderung malas dalam mengerjakan pekerjaan yang berat, seperti membuka lahan untuk kebun baru,” ungkap Arman. Tidak hanya didapat dari jual-beli, para budak milik penguasa Jambi didapat dari perburuan di perairan timur Jambi. Mereka mempekerjakan Orang Laut untuk perburuan ini. Dalam melakukan aksinya, penguasa Jambi mengerahkan sekitar 20 perahu dengan perolehan tiap perjalanannya mencapai 100 budak. Akhir abad ke-17, sekitar 2.500 budak berhasil ditangkap penguasa Jambi. Mereka banyak dijadikan tenaga kasar untuk berbagai keperluan. Setiap budak dihargai sekitar delapan real . Budak berusia muda menjadi yang paling banyak diburu karena kemampuan fisik mereka bisa lebih banyak dimanfaatkan, ketimbang orang tua dan perempuan.

  • Sejarah Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS

    Pandemi Covid-19 berdampak pada perekonomian Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat jatuh dari tingkat Rp13.000-an ke Rp16.000-an per dolar AS selama minggu terakhir Maret 2020. Pelemahan ini berkait dengan sikap pesimistis pelaku bisnis dan ekonomi terhadap kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani Covid-19. Untuk meyakinkan kembali pelaku bisnis dan ekonomi, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sejumlah stimulus ekonomi. Bank Indonesia turut melengkapinya dengan kebijakan di bidang moneter untuk memperkuat rupiah. Hasilnya, rupiah menguat kembali pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2020. Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas rupiah demi mendukung keseimbangan perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19. Dalam rentang sejarah, menjaga nilai rupiah susah-susah gampang. Masalah nilai rupiah bukan hanya saat terlalu rendah, tapi juga ketika ia bisa terlalu tinggi ( over-valued ) terhadap mata uang lain. Ini bergantung pada situasi yang dihadapi dan sistem nilai tukar yang diterapkan. Indonesia tercatat kali pertama menggunakan sistem kurs tetap, tak lama setelah merdeka. Sistem ini muncul dari pertemuan 44 negara di Bretton Woods, AS, pada Juli 1944. Melalui pertemuan ini, negara-negara peserta pertemuan sepakat mengaitkan nilai mata uangnya kepada dolar AS. Sebab mereka tidak punya cadangan emas memadai untuk menjaga nilai mata uangnya. Inilah awal periode banyak negara menggantungkan nilai tukarnya pada dolar AS, termasuk Indonesia. Sedangkan AS mengaitkan nilai mata uangnya pada emas tersebab mereka memiliki cadangan emas yang cukup untuk menjaga nilai mata uangnya. Kurs tetap mensyaratkan adanya cadangan devisa terkontrol suatu negara. "Dengan pengontrolan devisa, maka ruang gerak pelaku pasar untuk menyerang nilai tukar dapat dibatasi," catat Iskandar Simorangkir dan Suseno dalam Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar . Tapi saat itu Indonesia baru merdeka. Cadangan devisa masih sedikit dan uang beredar sangat banyak. Bukan hanya dari sisi nominalnya, tapi juga dari jenis mata uangnya. Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) harus bersaing dengan mata uang Hindia Belanda dan Jepang. Perdagangan valuta asing pun belum ada sehingga masalah utama pemerintah bukanlah ruang gerak pelaku pasar.   Kurs Tetap Keadaan tadi membuat pemerintah harus menerapkan sistem nilai tukar tetap untuk mempermudah transaksi. "Sebagai dasar penukaran, di Pulau Jawa dan Madura ditetapkan f.50 (uang Jepang) sama dengan uang satu rupiah ORI, sedangkan bagi daerah di luar Pulau Jawa dan Madura: f.100 (uang Jepang) disamakan dengan satu rupiah ORI," ungkap Oey Beng To dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945 – 1958). Perang selama periode revolusi (1945–1949) telah merusak stabilitas ekonomi, menyebabkan gangguan produksi, distribusi, perdagangan, dan menghantam aktivitas ekonomi lainnya. Kebutuhan perang mendorong pemerintah mencetak uang lebih banyak. Harga barang menjadi mahal. Inflasi pun naik. Nilai tukar ORI kelewat tinggi sehingga ikut membuat harga barang ekspor terlalu mahal. Alhasil penjualan ekspor menurun. Imbasnya devisa kian berkurang. "Sebagai satu langkah untuk mengatasi permasalahan ekonomi tersebut, dari sisi kebijakan nilai tukar, pemerintah pada 7 Maret 1946 mendevaluasi nilai tukar rupiah sebesar 29,12% dari Rp1,88 per dolar AS menjadi Rp2,65 per dolar AS," ungkap Iskandar dan Suseno. Devaluasi adalah kebijakan pemerintah menurunkan nilai mata uang terhadap mata uang asing. ORI tak bertahan lama di pasaran. Stabilitas nilainya sulit dipertahankan. Pemerintah berkeputusan menarik ORI pada Maret 1950 dan menggantinya dengan uang baru. Ini seiring bergantinya bentuk negara dari negara kesatuan menjadi serikat atau federal sejak Desember 1949. Bersama keluarnya uang baru, pemerintah menerapkan nilai tukar rupiah sebesar Rp3,80 per dolar AS. Secara umum, keuangan pemerintah belum membaik. Bahkan hingga kembali menjadi bentuk negara kesatuan, defisit anggaran terus terjadi. Cadangan devisa jauh dari harapan. Uang beredar justru makin banyak. "Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah kembali mendevaluasi nilai tukar rupiah pada Februari 1952 sebesar 66,7%, yaitu dari sebesar Rp3,80 menjadi Rp11,40 per USD," tambah Iskandar dan Suseno. Selanjutnya pemerintah bergerak menerapkan nilai tukar mengambang untuk pelaku ekonomi tertentu pada 20 Juni 1957. Keputusan ini bertujuan menghidupkan kembali ekspor di sejumlah bidang seperti perkebunan. Nilai tukar mengambang meminimalkan peran pemerintah dalam menentukan besaran nilai mata uang domestik terhadap mata uang asing. Penentuannya terletak lebih besar kepada kekuatan pasar melalui mekanisme permintaan dan penawaran terhadap mata uang itu sendiri. Tetapi secara umum, Indonesia masih menerapkan nilai tukar tetap di banyak bidang usaha ekonomi. Indonesia mengubah sistem nilai tukarnya saat memasuki awal era Orde Baru. Masa ini rezim Orde Baru berhasil memangkas angka inflasi dari 635% pada 1965 menjadi 9,90% pada 1969. Penurunan angka inflasi membuat perekonomian menjadi lebih stabil. Saat itulah pemerintah mengeluarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Repelita memuat targetan pemerintah dalam banyak bidang. Salah satunya berupa stabilitas ekonomi dengan menambah devisa melalui kebijakan pro modal dalam negeri dan luar negeri. Juga beragam upaya untuk meningkatkan angka ekspor. Tapi masalahnya laju inflasi Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan dengan negara mitra dagang utama. Kurs Mengambang Terkendali Tingginya laju inflasi berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah yang kelewat tinggi terhadap dolar AS. Ini sangat mengganggu rencana pemerintah meningkatkan ekspor sebab harga barang ekspor akan naik dan mahal. Akibatnya negara mitra dagang mencari barang lebih murah. Selain itu, sistem kurs tetap warisan pertemuan Bretton Woods pun mulai ditinggalkan negara mitra dagang Indonesia. Sebab sistem kurs tetap rentan mengganggu neraca perdagangan. Pertimbangan itulah yang membuat pemerintah menempuh kebijakan berbeda terhadap sistem nilai tukar Karena itu, pemerintah menerapkan nilai tukar mengambang terkendali. Artinya, pemerintah hanya ikut campur bila nilai tukar rupiah bergerak melebihi batas atas dan batas bawah. Interval antara kedua batas ini disebut rentang intervensi. Di rentang inilah campur tangan pemerintah diperlukan. "Penentuan nilai tukar sangat penting karena mempengaruhi perkembangan neraca perdagangan. Karena neraca perdagangan merupakan sebagian besar dari neraca pembayaran, maka perkembangan neraca perdagangan juga mempengaruhi kedudukan neraca pembayaran," catat Iskandarsjah dalam "Sistem Moneter Indonesia Menganut Kurs Mengambang yang Terkendali", termuat di Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia: Perkembangan Pemikiran 1965 – 1981 . Pemerintah berharap keseimbangan nilai tukar rupiah akan terjaga melalui mekanisme pasar sehingga membuat harga ekspor turun. Dan pada gilirannya, itu akan meningkatkan angka ekspor yang berujung pada penambahan devisa. Tapi perekonomian Indonesia menghadapi ujian berat pada dekade 1980-an. Harga minyak dan gas (migas) dunia jatuh. Padahal perekonomian Indonesia sejak 1970-an bertumpu pada ekspor migas. Kejatuhan harga minyak mempengaruhi cadangan devisa Indonesia. Dalam keadaan tipis devisa, pemerintah kesulitan untuk ikut campur jika nilai tukar rupiah menjadi terlalu tinggi terhadap dolar AS. Maka seiring kebijakan deregulasi berbagai sektor ekonomi sejak 1983, pemerintah mendevaluasi nilai tukar rupiah untuk meningkatkan daya saing barang ekspor di luar migas. Melalui dua kali devaluasi pada 30 Maret 1983 dan September 1986, nilai rupiah turun sebesar 38 persen dan 45 persen. Langkah ini terbukti berhasil menggairahkan sektor ekspor. Arus modal asing pun turut meningkat. Kurs Mengambang Bebas Stabilitas nilai tukar rupiah berlangsung hingga Juli 1997. Saat itu Rp2.350 seharga satu dolar AS. Selepas Juli, keadaannya mulai berubah. Nilai tukar rupiah mengalami penurunan akibat mekanisme pasar (depresiasi). "Pemicunya adalah Thailand ketika pada 1996 kepercayaan investor asing tergerus oleh penurunan tajam pertumbuhan ekspor, terutama ekspor sektor padat karya serta membesarnya defisit transaksi berjalan," ungkap Thee Kian Wie dalam "Krisis Ekonomi Indonesia Pada Pertengahan 1960-an dan Akhir 1990-an: Suatu Perbandingan", termuat dalam  Dari Krisis ke Krisis. Para spekulan ikut bermain dalam depresiasi ini. Depresiasi Baht kemudian menular ke mata uang Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan akhirnya Indonesia.  Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menahan depresiasi. Tapi semuanya gagal. "Pada pertengahan Januari 1998 rupiah jatuh menjadi Rp17.000 per dolar AS, hanya sepertujuh dari nilai sebelum krisis," lanjut Thee. Untuk mencegah cadangan devisa habis karena menahan depresiasi, pemerintah akhirnya mengubah sistem kurs mengambang terkendali menjadi mengambang bebas. Sistem kurs ini berlaku hingga sekarang.

  • Mitos dan Tetenger Wabah Penyakit

    Dahulu orang percaya ada hantu pembawa maut berwujud bola arwah. Terkadang ia muncul sebagai rombongan prajurit ganas yang bisa membunuh manusia ketika mereka tertidur. Hantu bernama Lampor itu kerap menimbulkan suara gaduh. Suaranya berasal dari iringan kereta kuda dan derap kaki pasukan. Beberapa masyarakat Jawa mempercayai kalau mereka adalah pasukan Nyi Roro Kidul yang tengah bergerak dari Laut Selatan ke Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Sementara masyarakat di Jawa Timur percaya kalau Lampor muncul bersamaan dengan wabah penyakit. Lampor mencari korbannya seringkali di bulan Sapar pada malam hari. Korban dicekik lalu dibawa dengan keranda. Jika itu terjadi, mereka bakalan mati seketika. Namun, Lampor punya kelemahan. Konon, ia tak bisa duduk atau jongkok. Jadi orang-orang akan memilih tidur di bawah dipan atau di lantai agar Lampor tak mencekik mereka. Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan kalau isu setan Lampor semacam itu marak di Jawa Tengah dan Timur sampai pada 1960-an. Lambat laun cerita itu menghilang. Desas-desus seputar Lampor kemungkinan muncul manakala banyak terjadi wabah penyakit pada masa lampau. Jika ia datang orang bisa mati dalam tidurnya. "Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu Lampor," kata Dwi kepada Historia . Terkadang dalam percakapan, kata lampor disandingkan dengan kata pagebluk , menjadi pagebluk lampor . Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur . Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit. Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi pagebluk yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya pagebluk ini, ada perkataan dalam bahasa Jawa Baru yang populer. " Isuk loro, sore mati , ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati," ujar Dwi. Kata-kata itu dijumpai dalam kisah  Babad Tanah Jawi. Jadi, setelah Amangkurat I wafat, Mataram tertimpa musibah. banyak orang sakit. Negara rusak. Udara tidak baik. Makanan mahal. Hujan tak turun, sehingga udara begitu panas. Negara Mataram seperti terbakar. Banyak orang meninggal. Pengemis tersebar di sepanjang jalan atau sungai. Banyak penderita sakit borok, kudis,  pathek,  bubul, dan sejenisnya. Orang yang sakit di waktu pagi, sorennya meninggal.  "Jadi dari situ kita melihat bahwa pada masa lalu ada gambaran tentang bencana penyakit," lanjut Dwi. Lewat Tetenger Alam Mungkin saking menakutkannya dampak pagebluk, orang Jawa pun mulai mencari pertanda atau tetenger sebelum wabah datang. Pada zaman Mataram Islam misalnya, pagebluk dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus . Menurut tradisi mereka, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk. "Memang umumnya penampakkan komet dimaknai sebagai membawa ‘hal yang kurang baik’, kecuali apabila muncul di arah barat," jelas Dwi. Berdasarkan buku Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu yang ditulis R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, Dwi menjelaskan bila komet muncul di arah timur tandanya ada raja yang sedang berbela sungkawa. Lalu rakyatnya bingung. Desa pun banyak yang mengalami kerusakan dan kesusahan. Harga beras dan padi murah, tetapi emas mahal harganya. Bila bintang berekor muncul di tenggara menandakan ada raja yang mangkat. Orang desa banyak yang pindah. Hujan jarang. Buah banyak yang rusak. Ada wabah penyakit yang membuat banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual. Apabila komet muncul di arah selatan tandanya ada raja mangkat. Para pembesar susah. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah. Beras, padi, kerbau, dan sapi dihargai murah. Orang desa merana, karenanya mereka pun mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci. Kalau komet muncul di barat daya artinya ada raja mangkat. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah. Hasil kebun berlimpah. Tapi kerbau dan sapi banyak yang mati. Jika komet muncul di barat tandanya ada penobatan raja. Para pembesar dan orang desa senang. Beras dan padi pun murah. Apa yang ditanam berbuah subur dan cepat menghasilkan. Hujan akan turun deras dan lama. Apapun barang yang dijual-belikan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan. Lalu kalau bintang kemukus muncul di barat laut, itu pertanda ada raja yang berebut kekuasaan. Para adipati juga berselisih, berebut kekuasaan. Sementara warga desa bersedih hati. Kerbau dan sapinya banyak yang mati. Hujan dan petir terjadi di musim yang salah. Kekurangan makin meluas dan berlangsung lama. Beras dan padi mahal, namun emas murah. Apabila ada komet muncul di utara, maknanya ada raja yang kalut pikiran lantaran kekeruhan di dalam pemerintahannya. Timbul perselisihan yang semakin berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal. Namun harga emas murah. Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan. Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati. Itu disebutnya aratan . Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut. "Ada pertanda alam yang di masa lalu dipersepsi sebagai tengara tentang adanya kematian," jelas Dwi. "Lampor itu juga merupakan keyakinan lokal sebenarnya tidak secara langsung bicara tentang penyakit tapi ada dampak yang berhubungan dengan penyakit." Cara Memotong Rantai Penularan Karenanya musibah yang terjadi akibat wabah penyakit bisa disebut sebagai malapetaka. Dwi menjelaskan, secara harfiah, dalam konteks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan kata mala berarti kotor, cabul, najis secara fisik dan moral, noda, cedera, cacat, dan dosa. Kata itu bisa juga berarti penyakit. "Terlihat bahwa pada mulanya malapetaka bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacam bencana," ujar Dwi. Dengan pengertian itu, seringkali wabah penyakit, yang termasuk ke dalam malapetaka tadi, disembuhkan tidak lewat penanganan medis. "Ini kan suatu isu penyakit kemudian membias ke hal yang di luar penyakit," kata Dwi. Misalnya, ada masyarakat yang membuat tumpeng untuk mengatasi serangan pagebluk. Seperti dijumpai pada masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Mereka punya Tumpeng Pras. Namanya berkenaan dengan cara tumpeng itu diperlakukan. Setelah diupacarai, puncak tumpeng akan dikepras. Diyakini, pemotong ini salah satunya untuk menghilangkan penyakit. "Jadi secara simbol tumpeng dan praktik social distancing ini sama prinsipnya. Memotong rantai penularan," jelas Dwi. Ketika wabah terjadi biasanya di wilayah masyarakat Tengger terjadi penyimpangan yang bersifat makrokosmos. Tandanya seperti ada harimau yang masuk kampung. Ini menyimpang karena perkampungan penduduk bukanlah habitat harimau. "Ini isyarat akan ada penyimpangan di dunia manusia. Misalnya banyak anak mati secara beruntun. Pagebluk itu tadi. Menghilangkannya dengan membuat tumpeng pras. Memang digunakan untuk kepentingan ini,” jelas Dwi. Secara umum, menurut Bani Sudardi, dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta, dalam "Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa", terbit di jurnal HumanioraVol. 14/2002 , orang Jawa percaya kemungkinan mereka sakit bergantung pada kualitas hubunganya dengan lingkungan. Mereka yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis. Itu mengapa, sebagaimana menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris, ritual-ritual pedesaan seperti oleh masyarakat Tengger tadi, banyak dilakuan demi menjaga keserasian semesta. Antara desa dan kosmos harus seimbang agar kehidupan tak bergoyang. Sementara wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya kekacauan di mikrokosmos. Adapun kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda adanya krisis pada makrokosmosnya. "Komet itu kan penyimpangan. Dalam kondisi normal komet akan tetap di garis orbitnya. Ini seringkali dipercayai akan diikuti dengan penyimpangan mikrokosmos, pagebluk,” jelas Dwi.

  • Menjadi Gila Akibat Isolasi di Digul

    Di Boven Digul, para tahanan politik memang tidak disiksa secara fisik oleh aparat kolonial. Mereka dibiarkan hidup dalam kamp yang terisolasi alam Papua. Serangan terhadap psikis sama bahayanya dengan malaria maupun diterkam buaya. Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul  menyusuri hutan bukan menjadi piihan yang menyenangkan bagi sebagian besar tahanan. Dari Tanah Merah misalnya, jika masuk hutan ke arah utara mereka akan sampai di Kamp Tanah Tinggi yang dihuni oleh orang-orang buangan yang tidak mau berdamai dengan penguasa. Tempat ini tentunya amat lebih buruk dari Tanah Merah. “Begitupun kita boleh jalan ke arah timur melalui pos missi Ninati yang terletak di Sungai Muyu. Tapi juga perjalanan ini tidak memberi hiburan! Maka kebanyakan penghuni memilih tetap tinggal 'di rumah saja', daripada bertualang yang tidak menyenangkan,” kata Chalid Salim. Akibat dari rasa terkepung oleh pagar alam yang mengerikan, muncul penyakit claustrophobia  atau rasa cemas akan ruang. Orang-orang yang mengidap penyakit ini tema obrolannya makin menyempit hingga akhirnya hanya merenung dan termenung saja atau menggumam seorang diri. Banyak juga dari para Digulis yang tiba-tiba tersentak karena melihat genderuwo muncul dari balik hutan. Orang-orang yang dulu begitu aktif badaniah dan rohaniah, semakin lama semain merosot mentalnya. “Orang-orang yang sudah biasa tinggal di pedalaman Sumatera dan Kalimantan sekalipun, menderita dari isolemen (isolasi, red .) di Digul ini,” ungkap Chalid. Koesalah Soebagyo Toer dalam Tanah Merah yang Merah menyebut bahwa penyakit gila ini termasuk penyakit paling mematikan bersama malaria hitam dan TBC. “Ketiga penyakit ini tidak terobati: begitu orang terjangkit, sukar harapan untuk sembuh kembali,” jelasnya. Rusman, seorang tahanan asal Bojonegoro dikirim ke Digul pada 10 Oktober 1927. Ia sempat bekerja di Digoelsche Openbaar Werken dan Cooperative Verbruiks Vereeniging Digoel . Suatu ketika ia menjadi gila tanpa ada yang tahu sebabnya. “Tidak jelas mengapa ia bisa sampai gila, namun ia sempat dibawa ke Ambon dan dirawat di sana untuk beberapa waktu. Sampai laporan dibuat, belum ada tanda-tanda membaik pada dirinya,” tulis Langgeng Sulistyo Budi dalam "Pendidikan bagi Tawanan di Boven Digul 1926-42", termuat di  Jurnal Sejarah Vol. 6 No. 1 Agustus 2004. Sementara itu, A. Soerjomiharjo dalam "Digul dalam Sejarah" yang termuat di Jurnal Prisma 1988, menyebut ada tahanan yang jika bertemu siapa saja akan diciumnya, baik laki-laki mapun perempuan. Ada pula tahanan yang tiba-tiba berpidato tanpa peduli apakah ada yang mendengarkannya atau tidak. Ada yang sempat dirawat, ada yang dibiarkan, ada pula yang meninggal dunia. Salah satunya, Koesnin, seorang buangan asal Salatiga. Suatu ketika Koesnin mengalami sakit panas. Pada 9 Juli 1929 malam hari, ia lari-lari dan teriak-teriak ke tangsi. Ia dikejar orang banyak lalu dihentikan penjaga di pos penjagaan. Koesnin berhasil lolos namun pagi harinya ia ditemukan sudah menjadi mayat di tepi kali Digul. Sama halnya dengan Koesno Goenoko buangan asal Madiun yang oleh Koesalah disebut sebagai "kasus gila yang monumental". Berdasarkan wawancara Koesalah dengan Darman dan Riboet (anak tahanan yang lahir di Digul), Koesno menjadi gila lalu merantai dirinya sendiri dan terjun ke Sungai Digul. Mayatnya baru ditemukan tiga hari kemudian. Penyait gila tampaknya benar-benar serius dan seringkali menjangkiti para Digulis. Mas Marco Kartodikromo mencatat, penyakit gila bahkan dimasukkan dalam Grond Reglement di Digoelsraad pasal 14 b. Yang bunyinya, "seorang yang mati atau kena penyakit gila atau yang meninggalkan Digul harus diganti oleh candidaat dari tahun itu yang mendapat suara terbanyak". Pihak pemerintah kolonial pun tak menafikan penyakit gila. Kaum militer dan sipil akan dipindahkan ke daerah lain setelah berdinas satu atau dua tahun di Digul agar tak menjadi gila. Hanya beberapa orang yang bertahan lebih lama. “Bahwa kami, kaum buangan, lambat laun pasti kan punah sebagai akibat daripada kesepian dan rindu, tidak memusingkan mereka,” ungkap Chalid Salim. Chalid menambahkan, pemerintah kolonial berencana, jika kaum buangan tidak sampai mati di Digul, sekurang-kurangnya mereka akan menjadi dungu atau sinting jika suatu ketika bebas dari Digul.

bottom of page